Image Slider

When It's Only JG & AST #23 Edisi Troli

on
Monday, December 23, 2013
Saking bencinya typo saya cek kamus dululah apa bener 'trolley' itu bahasa Indonesianya 'troli' karena kok ya tulisannya nggak enak. -_____- *TERNYATA BENER KOK TROLI NULISNYA*

***

Saya sama JG itu terhitung jarang makan mie. Indomie dan sejenisnya karena nggak sehat wtf. Enaaakkk sih tau banget, tapi tiap hari masak makanan lainlah ngapain bikin mie gitu kan. Kalau belanja bulanan paling beli mie 4-5 bungkus buat berdua dan itu pun suka nggak habis di akhir bulan.

Nah kemarin mau belanja bulanan, di rumah lagi nyatet apa aja yang mau dibeli.

Me : "mie beli nggak mie?"

JG : "ah nggak usahlah masih ada" (masih ada dua bungkus di laci)


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #21 & #22 (Versi Menua Bersama)

on
Tuesday, December 17, 2013
Kenapa ya orang makin tua makin kehilangan konsentrasi. Ih plis banget kalau saya doang yang kehilangan konsentrasi sendirian mah nggak apa-apa ya bisa saling mengingatkan. Ini mah kehilangan konsentrasi berdua JG. Seperti dua kejadian dalam dua hari berturut-turut ini.

Minggu kemarin, saya janjian sama temen saya di PIM. Cuma makan sama kangen-kangenan doang. Pas jalan menuju parkiran ngelewat Watsons. Lagi diskon gede-gedean aja loh! Nggak mungkin nggak tergoda kan yah. Alesannya ke JG "sayang sabun kita abis loh" kemudian ngeloyor masuk Watsons.

HIHGILAAAADISKONNYAAAAA. Parah-parah gitu, sampai banyak yang buy 1 get 1 free. Tapi kan tujuannya beli sabun yah, fokus fokus cari sabun yang gede biar nggak cepet abis. Mata tertuju ke sampo merek Watsons, murah deh harganya (lupa berapa), isinya 1000 ml alias seliter aja. Awetnya pasti nggak ngerti lagi ya kan. Tapi kan sampo mah serem, takut rambut kenapa-kenapa sampai mata tertuju sama botol sampo raksasa warna putih. Ih si sabun susu kambiinngggg!


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #19 & #20

#19
Saya selalu pasang alarm jam setengah 5 subuh. Bangun, solat, tidur lagi. Lama-lama badan punya alarm sendiri. Sebelum setengah 5 selalu kebangun, bengong sebentar nunggu alarm bunyi, matiin, solat.

Sampai pagi itu, beberapa minggu lalu ...

Me: *bangun* *pengen pipis* *pipis* *wudhu* *solat*

JG: *tidur nyenyak*

Me: "sayang bangun sayang, sayang bangun sayang, sayang bangun sayang"


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #16 & #17

on
Monday, December 16, 2013
#16

JG udah beberapa hari nggak cukur jenggot. cukur kumis tapi jenggot dibiarkan liar.

Me : "sayang kamu kenapa ga cukur jenggot terus ih!"

JG: "biar sayang sengaja, nanti pasti temen-temen kamu bisik-bisik ngomongin aku: 'cha, laki lo mirip david beckham!'"

WTF.



LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Mengapa Membuat Rencana Kehidupan?

on
Thursday, December 12, 2013
Ini adalah lanjutan posting Ayo Bikin Rencana Kehidupan! Kalau ada yang nggak ngerti, mungkin harus baca dulu postingan awalnya. :)

***

Waktu saya dan JG memutuskan pake financial planner, di luar dugaan reaksi orang ternyata "keras" sekali. Satu sisi ada yang penasaran dan ingin tahu, mereka ikut belajar, ikut mendapat ilmu baru, ikut terbukakan. Sisi satunya sinis luar biasa. :)))

"IH NGAPAIN PAKE PLANNER REJEKI MAH UDAH ADA YANG NGATUR!" gitu deh rata-rata orang yang sinis. Ngomongnya nggak santai bro, jutek. Lah?


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Ayo Bikin Rencana Kehidupan!

Tulisan ini tidak disponsori siapapun. Kata JG, kami adalah agent of change. Kita semua adalah agen perubahan. Ayo berubah demi kehidupan, keluarga, dan generasi yang lebih baik!

Demi misi itu, saya mau sharing soal saya, JG, dan rencana kehidupan. Baca juga part keduanya Mengapa Membuat Rencana Kehidupan :)

***

Saya follow Ligwina Hananto @mrshananto dari sekitar tahun 2009-2010 awal. Ya sejak awal main Twitter lah. Sejak saat itu sampai sekarang mata saya terbukakan. Asalnya melek jadi melotot banget kalau ngomongin keuangan diri sendiri.




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Manusia Bukan Makhluk Sederhana

Jadi hari ini rencanannya mau nulis soal QM Financial, tapi tergerak untuk nulis hal remeh ini setelah beli bubur di kantin belakang kantor.

Di belakang kantor ada tukang bubur yang setiap pagi antriannya lumayan panjang. Sampai bisa kebagian dilayani kalau sedang beruntung paling menunggu dua orang, tapi kalau panjang, bisa menunggu 5-6 orang. Padahal tukang buburnya cuma satu orang, pakai gerobak kecil biasa, tapi buburnya enak dan bersih *info penting*.

Tadi antriannya lumayan, saya menunggu tukang buburnya meracik empat mangkuk sekaligus. Keempat mangkuk itu diawasi langsung oleh mata-mata calon pemiliknya yang berdiri berjajar di belakang sang tukang bubur.

Tukang bubur: *menuangkan bubur, merica, kaldu, kecap asin, tangan siap mengangkat kecap manis*

Pembeli 1: "Saya jangan pake kecap manis!"

Tukang bubur: *menuangkan kecap manis ke tiga mangkuk lain, kasih ayam, kasih cakue, tangan siap menaburkan seledri, bawang goreng, dan kacang kedelai*

Pembeli 2: "Jangan pake kacang!"

Pembeli 3 dan 4 seperti tidak mau kalah: "Saya jangan pake seledri sama bawang goreng!"

Pembeli 1: "Saya jangan pakai sambal!"

Pembeli 3: "Saya pakai sambal tapi disebar!"

Pembeli 4: "Saya sambalnya sedikit banget aja!"

Pembeli 1: " Saya nggak usah pake emping"

Pembeli 2: "Saya emping aja nggak usah pakai kerupuk!"

YASSALAM.

Untung tukang buburnya sigap dan sabar yah. Semua dilayani dengan sempurna. Saya yang stres denger mereka semua teriak setiap tukang buburnya mau ambil sesuatu. Sampai pada giliran saya, cuma ada satu mbak-mbak mau beli juga. Tapi dia pendiam alias cuma ngomong "pak, satu dibungkus". Entah dia memang suka semua elemen di bubur itu atau memang pendiam sampai malu ngomong sama tukang bubur kalau misalnya dia nggak suka seledri gitu. -_____-

Saya menyodorkan tupperware yang saya bawa dari rumah (ogah beli bubur pake tempat styrofoam).

Saya: "Jangan pake kacang sama emping ya pak"

YASSALAM LAGI. Dan kemudian jadi nggak enak hati sendiri karena saya sama aja sama orang-orang tadi yang mau beli bubur aja repot.

Iya sih emang hak saya juga mau pake kacang atau nggak. Sayang juga kalau saya nggak bilang terus nanti ujung-ujungnya kacang sama empingnya saya buang. Tapi satu hal yang bener-bener saya sadari adalah, manusia sama sekali bukan makhluk yang sederhana. Atau bisa dengan mudah menyederhanakan diri.

Karena beli bubur ini, perang karena perbedaan jadi kerasa wajar. Beli bubur aja segitu beda-bedanya ya kan, apalagi hal lain yang lebih penting buat kehidupan kaya agama atau negara gitu. Saya kebanyakan mikir dan orang-orang yang ribut itu kurang mikir kayanya. Kalau perang mempertahankan ideologi, makan bubur nggak pake kacang juga buat saya idelogi. *sigh* Kompleks banget ya manusia. -______-

Terus tentang manusia bukan makhluk sederhana dan kompleks ini juga terasa dari kalangan yang suka ngeluh pamer.

Mengeluhkan sesuatu sambil pamer. Sebelum beli bubur itu JG cerita, temennya ada yang mengeluhkan anaknya di group whatsapp. Kurang lebih ngeluh gini:

"Aduh gimana ya anakku lebih bisa bahasa Inggris, bahasa Indonesia-nya nggak lancar"

Dibalas teman-teman dengan pujian seperti yang diharapkan sang pengeluh pamer:

"Ih pinter banget anaknya" atau "ya nggak apa-apa dong kan bagus jagoan bahasa Inggris"

Dijawab lagi dengan ngeluh pamer lain: "tapi maunya bisa dong bahasa Indonesia, masa lebih lancar bahasa Inggris"

BAHAHAHAHAHAHA. Ketawa ajah. Lah itu anak yang ngajarin bahasa juga siapa ya kan. Emak bapaknya ya kan.

Versi lain dari ngeluh pamer:

Ngetweet: "Harus beli koper baru dan packing buat keliling Eropa dua minggu tapi males banget ya ampuunnnn" --> padahal kita tau persis doi super excited dan udah merencanakan perjalanan dari jauh-jauh hari.

Kenapa manusia segitu kompleksnya sampai harus dibikin kalimat pamer tapi ngeluh. Kenapa nggak dibagi dua aja? Ngeluh ya ngeluh, pamer ya pamer. Biar auranya jelas, ngeluh ya negatif, pamer ya positif. Misal mau pamer keliling Eropa, akan lebih menyenangkan membaca Tweet:

"Horeeee, siap pergi keliling Eropa. See you in 2 weeks, Jakarta" -- auranya positif ya kan. Yang baca juga seneng. Bahagia. Aman. Sentosa. \O/

Atau yang mau pamer anaknya jago bahasa Inggris:

"Anakku dong, baru tiga tahun bahasa Inggrisnya lancar banget! Bahasa Indonesia dia malah kurang bisa. Hahahaha," -- pamer, sombong ya kesannya? Tapi itu kan tujuannya?

Ribet ya jadi manusia? Beli bubur aja ribet apalagi ingin membanggakan anaknya yang jago bahasa Inggris. Sampai dipilih kalimat muter-muter biar tidak terkesan sombong. Sampai sebuah kalimat dibuat sedemikian rupa agar kesan "bangga" nya lebih tertangkap tipis dibandingkan keluhannya. Repot.

Udah ah kebanyakan mikir.

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Kenapa Bertahan di Jakarta?

on
Tuesday, December 10, 2013
Hola! Selamat datang di posting curhat lanjutan kemarin REPOTNYA TINGGAL DI JAKARTA. Yang belum baca, baca dulu ya! Bukannya maksa, tapi biar nyambung aja. Sip?

Posting kedua ini merupakan pertanyaan yang mungkin muncul setelah baca posting kemarin. Yaitu, kalau ribet banget tinggal di Jakarta terus kenapa bertahan? Kenapa bertahan di kota ini dengan rumah kontrakan mahal dan nggak ada mobil ayah yang bisa dipinjem?

Kalau waktu single ya, jawabannya gampang: "idih, mau kerja apa di Bandung? Mending di Jakarta aja, bebas, nggak harus pulang tepat waktu, pulang pagi pun nggak ada yang nyari"

Sekarang setelah nikah, ya masa mau pulang pagi nongkrong sama temen-temen kan nggak mungkin lagi ya. Lagian temen-temen nongkrong sampai paginya pun udah pada nikah semua. Mahahahahaha. Terus punya suami yang bisa menafkahi, kasarnya nggak kerja pun pasti bisa makan. Terus kenapa atuh masih bertahan kerja di Jakarta? Kenapa suami nggak pindah kerja ke Bandung aja terus tinggal di Bandung?

Kadang, kadang kata saya juga kalau lagi khilaf, pasti kepikiran sama JG. Pindah ke Bandung aja, rumah punya, rumah orangtua di Bandung, motor lebih bagus, mobil ada, dingin, damai, nggak khawatir sama apapun karena banyak keluarga. Tapi ujung-ujungnya kalau abis mikir gitu saya sama JG selalu: YAKIN MAU PINDAH KE BANDUNG?

Jawabannya nggak. :p

Belum tepatnya, mau sih tapi nggak sekarang. Mungkin nanti kalau udah jadi juragan kost-kostan di Bandung yang artinya saya sama JG sama-sama nggak perlu kerja. Kalau sekarang maunya di Jakarta aja. Nyari apa coba? Nyari pengalaman hidup. *sok iye*

Satu hal ya yang nggak akan pernah kalian pelajari kalau belum pernah tinggal jauh dari rumah orangtua: BAYAR TAGIHAN. Kalau di rumah orangtua, tagihan apa sih yang kalian bayar? Pulsa? Internet? Cemen. XD

Kalau tinggal sendiri (termasuk yang kost), "tagihan"-nya itu bayar kostan/kontrakan, bayar listrik, internet, pulsa, galon aqua, gas, ongkos ke Bandung, dan kebutuhan rumah tangga perintilan kaya alat mandi. Kata @mrshananto juga tiap orang itu harus terbiasa bayar lunas tagihan untuk belajar tanggung jawab (terutama tagihan kartu kredit :p). Jangan dikira mengurus tagihan itu gampang, lah yang simpel aja kaya aqua yah (sebut merek karena maunya aqua nggak mau merek lain lol) kok tiba-tiba ya udah abis lagi. Kaya baru kemarin beli kok sekarang udah beli lagi. Padahal sekali beli seharga sekali makan siang di kantor. *itungan*

Jadi tinggal jauh di rumah bikin saya belajar ngatur uang dengan lebih baik lagi. Kalau tinggal di rumah orangtua mah tinggal atur ongkos sama makan doang ya kan. Pas gajian ngasih deh ke ibu buat nambahin uang sehari-hari. Simpel yah hidupnya.

Yang kedua, yang bikin saya sama JG bertahan adalah, tau rasanya hidup susah dan nggak boleh manja.

Kaya saya bilang di postingan kemarin ya (baca dulu makanya ih!), di Jakarta ke mana-mana memaksimalkan diri naik motor. Iya abisan mau beli mobil tapi masih ditabung uangnya hehehehe (DOAKAN!). Bawa apapun sebisa mungkin naik motor. Nggak manja. Kalau di Bandung ya, dijamin mau belanja bulanan doang pasti pake mobil, tinggal duduk nyaman doang. Di Jakarta saya kalau belanja bulanan, JG bawa ransel kosong dan bawa tas belanja biar bawa di motornya nggak repot sama keresek banyak. Kami orang kreatif! Bahahahahha.

Kemudian yang paling penting sedunia adalah SAYA DAN JG MASAK SELALU SETIAP HARI. Udah cerita kan ya di postingan yang tentang setelah nikah saya jadi mau masak (baca dulu kalau belum baca!). Kebayang kalau saya tetep di Bandung, idih ngapain masak? Males banget. Kan ada ibu, ada mamah yang masakannya terenak di dunia. *alah* Yang satu ini selalu bikin saya sama JG terharu sendiri terutama kalau abis masak terus masakannya enak.

JG : "WIH ENAK BANGETTTT JAGOAN MASAKNYAAAA! ORGASMICCCC!"

Saya: "Coba kalau kita di Bandung ya, mana tau aku bisa masak gini. Mau masak juga males, mending minta mamah masakin"

Saya dan JG: *merenung*

lolol

Ya kurang lebih gitu.

Selain itu, tinggal di Jakarta bikin saya dan JG punya cita-cita yang lebih tinggi.

Contoh standar newlyweds yang asli Bandung dan tinggal di Bandung:

Nikah - nabung untuk beli rumah di kompleks baru deket rumah orangtua/mertua - punya rumah - punya anak - beli mobil - sekolahin anak di TK deket rumah - pulang sekolah anaknya diurus orangtua/mertua - anak masuk SD deket rumah atau jauhan dikit pake jemputan - dan seterusnya. Hidup aman damai tenteram sejahtera. Simpel yah?

SAYA SAMA JG NGGAK BISA GITU.

Nabung buat beli rumah lagi aja pusing banget ya karena udah ada cicilan rumah sama harus bayar kontrakan (tapi kan pengen rumah kedua :p). Nabungnya jadi buat beli mobil. Kalau tinggal di Bandung jamin deh nabung buat beli mobil nggak akan jadi prioritas karena bisa minjem mobil yang available di rumah aja, ngapain repot beli?

Kedua, kalau punya anak mikir dua kali kalau mau ditinggal sama baby sitter doang di rumah kalau sayanya kerja. Kata mamah takut disiksa atau diculik. -______- IYA SIH TAPI YA. Jadi option kalau punya anak adalah nyari daycare, karena harus bawa anak ke daycare jadi harus punya mobil dulu. *ribet*

Terus sekolah anak, di Jakarta pilihan sekolah banyak bangeeetttt! Di Bandung sekolah semahal-mahalnya berapa sih. SD swasta mentok Taruna Bakti, Darul Hikam, Pribadi, Mutiara Bunda? Apa lagi ya SD yang dianggap mahal di Bandung?

FYI yah, SD-SD itu rata-rata uang masuknya per 2013 itu 20-30juta aja loh ibu-ibuuuu. :)))))) Ya kalau nggak sanggup kan masih ada SD negeri bagusan dan "bergengsi" kaya Sabang, Banjarsari, dkk yah. Masuknya paling 10 jutaan kayanya yah. Kayanya, soalnya nggak browsing-browsing SD negeri euy. Hehehehe. Kalau nggak mau SD mahal-mahal juga tinggal masukin SD deket rumah, kitanya kerja, anak dijemput orangtua atau mertua ya kan?

Kalau di Jakarta? Nggak usah ngomongin Global Jaya yah daripada stres. Cikal deh yang kedua termahal setelah Global. Biaya masuk Cikal per 2013 adalah jeng jeng jeng 64 juta ajah. HAHAHAHAHAHA. ENAM PULUH EMPAT JUTA BUAT ANAK UMUR ENAM TAHUN SEKOLAH. Itu baru uang masuk, belum ini itunya. Tau dari mana harganya segitu? Diliatin sama financial planner-nya QM Financial yang punya daftar biaya masuk sekolah se-Jakarta. :)))))))))

Ya untuk ukuran sekarang sih tau diri aja ya, bikin plan dana pendidikan juga nggak dibikin pake biaya Global atau Cikal karena nggak akan nyampe tapi siapa tau pas saya punya anak nanti, kehidupan ekonomi udah jauh lebih baik dari sekarang dan anaknya bisa sekolah di Cikal? Aamiin.

Sadar nggak sadar, Jakarta bikin saya dan JG setting cita-cita jadi lebih tinggi. :)

APA LAGI YAAAA..

Pokonya intinya untuk sekarang saya sama JG nikmatin banget hidup di Jakarta. Belum give up dan ingin pindah ke Bandung. Karena dengan di Jakarta, kami berdua jadi tahu bahwa Bandung adalah kota yang sangat ngangenin dan bikin sakau kalau lama-lama nggak ke Bandung.

Suatu hari, suatu hari pasti saya dan JG pindah ke Bandung lagi. Tapi nggak sekarang. Nanti. Nanti entah kapan. Sekarang kami masih butuh banyak pengalaman untuk hidup yang lebih baik dan lebih kuat.

:)

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Repotnya Tinggal di Jakarta

on
Monday, December 9, 2013
WARNING: INI AKAN JADI POST YANG SANGAT PANJANG KARENA ISINYA CURHAT, PEMIRSA. Tapi kalau kalian pendatang di Jakarta, ini mungkin akan jadi ajang berbagi *alah* dan mungkin akan membuat kalian bersyukur tinggal jauh dari kampung halaman. Karena ada tulisan kedua tentang "KENAPA BERTAHAN DI JAKARTA". :)

***

Jadi ...

Kenapa bertahan di Jakarta wahai kalian orang-orang Bandung padahal Bandung sekarang kayanya enak banget ditinggalin karena kepemimpinan Ridwan Kamil? Kenapa nggak pindah ke Bandung aja daripada repot banget di Jakarta jauh dari orangtua? KENAPAAAAA?

Kadang-kadang kalau lagi khilaf dan putus asa yah, saya sama JG suka merenung meratapi nasib kenapa nggak pindah ke Bandung aja. Apalagi kalau merenungnya di Bandung, di rumah, di rumah yang nggak pake kipas angin pun tidur siangnya bisa selimutan, di rumah yang kalau nggak mandi dua hari pun nggak keringetan karena dingin, di rumah yang selalu ada orang untuk bangunin buat sarapan setiap pagi (baca: ibu dan mamah), di rumah yang segala jajanan enak lewat depan rumah, di rumah dengan segala fasilitasnya. *jadi mellow* T_____T

Tapi pikiran khilaf itu biasanya nggak bertahan lama. Karena apa? Karena hidup di Jakarta bikin saya dan JG jauh lebih kuat! Iya sih menghibur diri tapi beneran, tanpa pernah hidup jauh dari keluarga, kalian nggak akan pernah merasakan susahnya hidup. *alah*

Saya sama JG nggak punya siapa-siapa di Jakarta. Ada sih kakaknya ayah, tapi rumahnya jauh dan seumur hidup selalu ketemu cuma setahun sekali pas lebaran doang jadi sama sekali nggak deket alias awkward banget kalau ketemu. Jadi nggak pernah mikirin mereka untuk jadi option penolong dalam kondisi apapun di Jakarta. Apapun.

Jadi di Jakarta, saya sama JG berdua doang plis.

Yang jadi masalah utama tinggal jauh dari orangtua adalah mempertahankan gaya hidup. Orangtua saya dan JG memang bukan orangtua kaya raya yang gampangan ngasih anaknya rumah atau minimal mobil. Tapi seumur hidup tinggal di Bandung saya nggak pernah hidup susah. T_____T

Di Bandung ke mana-mana selalu pake mobil. Di rumah nggak punya motor karena siapa yang mau naik motor juga males ya kan anak ayah cewek semua. Zaman sekolah sih pake angkot karena saya anaknya emang nggak masalah pake angkot lagian sekolahnya deket juga. TK dan SD dianterjemput, SMP naik angkot, terjauh cuma SMA yang mana 40 menit nyampe dan dua tahun dianterjemput pacar di masa itu, Nggak pernah repot harus jalan kaki atau kekurangan ongkos atau harus irit nggak jajan demi ongkos. Les ini itu selalu dijemput.

Ke kampus juga naik angkot atau banyakan nebeng sama ayah pulang pergi, naik mobil, pake supir. Waktu kuliah itu saya udah bisa nyetir, punya SIM, ada mobil available di rumah tapi nggak berani bawa ke Jatinangor karena jalannya macet luar biasa dan banyak tanjakan. Dan kalau pake mobil nggak bisa turun di kemacetan lanjut jalan kaki sampai macetnya abis terus lanjut naik angkot lagi. Kalau pake mobil nggak bisa sambil belajar dadakan di angkot wtf. Saya SELALU belajar di angkot saking parnonya kalau mau ujian takut ada yang lupa wtf. Adik saya yang kedua mah pas kuliah bawa mobil ke kampus. Memang yah manusia dengan berbagai macam tipe. *ngelantur*

Weekend jalan-jalan pake mobil. Nggak perlu mikirin harus makan apa karena makan di rumah, yang dipikirin nongkrong cari wifi di mana wtf. Belanja-belanja sesuka hati. Sekarang?

Sekarang alhamdulillah yah punya kerjaan yang bagus, dalam artian kami berdua bekerja di perusahaan besar yang mampu ngasih THR, bonus, dan asuransi yang sangat sangat mencukupi. Tapi gaya hidup gimana!

Nyari kontrakan yang paling ribet. Ya Allah, kontrakan berbagai macam jenis yang dari yang sebulan sejuta sampai setahun 50juta juga ada. Bisa-bisa aja irit uang dan ngontrak di rumah yang sejuta sebulan tapi pasti rumahnya jelek, rumah lama, bekas orang lain, jelek. Kamar mandi udah keramiknya udah kuning-kuning. T_____T Nggak mau. Seumur hidup kost saya di Jakarta nggak pernah jelek. Pernah agak jelek sih sebulan 500ribu, tapi kamarnya guede banget ada kali 5x6 meter jadi nggak protes soalnya luaaaasss. Sisanya adalah kamar sempit 4x4 meteran seharga 900ribu sampai 1,3juta sebulan karena bangunannya baru dan bagus dan pake AC. Kasur juga nggak mau pake kasur bawaan kostnya karena geli takut bekas orang, jadi beli kasur sendiri. Ah heboh lah pokonya ya namanya orang seumur hidup nggak pernah jauh dari rumah.

Sekarang saya sama JG ngontrak di pinggir jalan raya ramai (bukan di gang), daerah Jakarta Barat yang masih dingin dan teduh karena hampir setiap tetangga jualan tanaman. Rumahnya enak sekali, bangunan baru dan yang punya rumah seleranya nggak jelek-jelek amat. Jadi kusen-kusennya bagus, sirkulasi udara bagus sampai sekarang nggak punya AC pun nggak pengap sama sekali! Tipikal rumah yang kalau di luar panas, di dalem tetep adem. Gentengnya mahal, kata Pak Haji yang punya rumah. Satu ruang tamu, satu kamar, satu ruang serbaguna (biasa dipake masak karena sebelah dapur), satu dapur sempit, satu kamar mandi, satu ruangan luas di atas, satu tempat jemuran di atas.

Rumah secimit gitu doang ngontraknya Rp 2,5 juta sebulan. *lap keringet*

Harga kontrakan ini menimbulkan pro kontra sekali yah karena rata-rata Rp 2,5 juta itu harusnya minimal udah dapet 2 kamar. Rata-rata orang bilang "ih mahal banget rumah segede gitu harusnya 1,5 juta juga dapet". IYA TAPI DI MANA? Temen saya aja dapet sama kaya rumah kontrakan saya gitu cuma SEJUTA aja sebulan. SEJUTA YAH TAPI DI KEBON JERUK WTF. Ada juga yang sejuta sebulan sama kaya rumah saya plus udah ada AC nya. TAPI DI KEBAYORAN LAMA WTF WTF. Asli di daerah saya mah yang di bawah 2 juta itu dapetnya lebih kecil lagi. Apalagi makin deket binus, 1,6juta itu sekamar kost sekotak doang woik! Boro-boro rumah. Mau rumah yang 1juta itu di gang. NGGAK MAU RUMAH DI GANG. Emang sih belum punya mobil tapi nggak mau aja rumah di gang. T_____T

Dan saya maunya rumahnya di sekitar kantor. Maksimal 10 menit lah naik angkot kalau ke kantor nggak dianter atau nggak dijemput. Saya nggak mau lebih dari 20 menit karena saya pasti stres menghadapi lalu lintas Jakarta. Apalagi angkotnya angkot 09 yang amit-amit terkenal seremnya ya kan. TANAH ABAAANNGGG BIN HAJI LULUUUNNGGG. >.< Saya nggak mau pergi ke kantor dan pulang dari kantor buang-buang waktu terus stres.

Terus saya nggak mau kalau rumahnya jelek. T_____T Jijik mikirin rumahnya bekas orang lain. T_____T Terus dihina-hina sama orang: "ih nggak punya rumah aja nggak mau hidup susah". EMANG NGGAK MAU HIDUP SUSAH. Ribet-ribet kerja kenapa saya harus hidup susaaahhhh?

Ya udah anggaplah 2,5 juta itu untuk bayar tidur lebih lama setiap pagi. Bangun setengah 7 masih sempet siapin bekal makan siang. Shalat magrib udah di rumah lagi. Kurang nyaman apa! :')

Tapi masalahnya JG punya cicilan rumah di Bandung yang sebulannya Rp 2,5 juta juga. MUAHAHAHHAHAHAHA. Sebulan yah buat urusan rumah-rumahan doang abis 5juta lol. *sok ketawa* Abis nggak punya option. Mau beli rumah di pinggiran Jakarta biar nggak ngontrak? Uwuwuwuuwuwuwuw, maacih. NGGAK MAU. Kecuali saya udah nggak kerja baru deh beli rumah di Bekasi atau Tangerang atau Bogor atau mana gitu biar aja JG yang ke kantor sendirian jauh-jauhan hahahaha. Saya nggak mau pulang pergi kerja abis 2 jam di jalan. Sejam aja nggak mau. Kalau dari dulu saya ikutan macet-macetan di Jakarta buat pulang dan pergi kantor, nggak bakal saya bertahan sampai lebih dua tahun gini. PASTI STRES. :))))

Selain rumah yang bikin repot banget tinggal di Jakarta adalah nggak punya mobil. :p Ini manja aja sih sebenernya. Soalnya kemarin di jalan neduh bareng di halte bus karena ujan, banyak ibu-ibu bawa bayi dan anak kecil. Anak udah 2 atau 3 tapi ke mana-mana naik motor. Hidup mereka nggak manja. :'))))) Aku belum punya anak aja rewel ingin beli mobil. :p

Iya jadi di Jakarta saya sama JG naik motor ke mana-mana.

Kecuali ke Ancol wtf. Di Bandung juga sama mantan-mantan saya dulu naik motor tapi selalu ada mobil untuk cadangan kalau-kalau ujan. Kalau-kalau harus bawa barang. Jadi tenang. Dulu sebelum nikah juga saya di Jakarta NAIK TAKSI KE MANA-MANA. Nggak pernah naik ojek apalagi kopaja/metromini soalnya takut. >.<  Kecuali ke daerah Kuningan berani karena naik TransJakarta sekali doang. Tapi sekarang setelah nikah?

Kan sayang yah mau naksi juga karena ada motor. Tapi kadang-kadang naik motor itu bisa jadi repot banget! Misal dadakan beli container plastik Lion Star gede yang bisa jadi box bayi saking gedenya wtf, beli karena lagi diskon di Carrefour. BAWA AJAH PAKE MOTOR. Saya udah duduk di besi belakang jok motor saking gedenya itu kotak. XD Abisan nanggung mau naksi juga Carrefour Permata Hijau itu deketnya banget banget dari rumah. 10 menitanlah pake motor. Masa naksi sih gitu doang? XD

Atau pernah juga pas pindahan rumah bawa standing fan dari kost JG ke rumah kontrakan. Sepanjang jalan itu kipas saya peluk dan helai-helai kipasnya muter kebawa angin. Kipas angin tenaga angin! Cekikikan sepanjang jalan karena kalau dari depan, saya nggak keliatan, di atas kepala JG jadi kaya ada kipas angin muter. Mungkin motornya tenaga angin. XDDDD

Selama di Jakarta saya di antaranya udah pernah bawa satu rak buku kecil (belum dirakit), satu rak buku sedeng (belum dirakit jugalah), satu rak sepatu, kipas angin, container plastik, dan dua kursi lipat sekaligus. Semua pake motor. Bahaya yah? Iyah! Tapi nggak bawa gede banget sampai lebay ko. Barang yang dibawa lebarnya nggak pernah ngelebihin lebar stang motor jadi aman sih. Belum kalau ujan harus neduh dulu. Susaaahhh hidup jauh dari fasilitas orangtua! :)))))

Saking repotnya yah, saya nggak punya high heels loh di Jakarta. Cuma punya dua wedges UP yang emang nyaman dan nggak terlalu tinggi. Padahal di Bandung, deuh ke mana-mana rempong pake high heels atau wedges yang tinggi banget. Ya gimana, males ya kan pake motor terus pake high heels. Pake boots udah paling bener. Padahal saya suka banget pake high heels soalnya cebol. T____T Di Jakarta juga nggak pernah pergi-pergian pake celana pendek karena selain nggak boleh sama JG ya masa iya saya mau celana pendekan naik motor. -______-

Selain segala kerepotan itu, saya sama JG juga udah susah banget kalau mau ke nikahan temen yang di Bandung. Saya dan JG udah punya jadwal sendiri untuk pulang ke Bandung, sebulan maksimal dua kali. Kalau nikahannya kebetulan di luar jadwal itu, mohon maaf sekali nggak bisa dateng. Bukannya sombong, tapi sekali pulang ke Bandung itu buat ongkos aja habis 340ribu. Rata-rata sekali pulang paling irit abis 500ribu. Sebulan pulang dua kali udah habis sejuta. Belum jajan ya kan. Mau gantiin? Gantiin ongkosnya minimal? XD

Jadi emang hidup merantau itu repoootttt. Repot karena ingin mempertahankan gaya hidup seperti sebelumnya di Bandung. Dan kalau lagi di Bandung yah, saya suka bersyukur banget sampai terharu karena bisa ke mana-mana pinjem mobil ayah naik mobil lagi. Ke mana-mana cukup pake kaos sama legging doang dan sendal. Nggak perlu ribet bawa jaket dan pake sepatu tertutup. :)

Nah, tulisan kedua tentang alasan kenapa bertahan hidup di Jakarta. Ini penting! Dibaca ya!

Bye!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #15

on
Friday, December 6, 2013
#15

Pagi-pagi baru nyampe kantor dianter JG. Saya turun dari motor, lepas helm, JG siap-siap jalan lagi.

JG: "Bay sayang, kip kontek yah!"

I NEVER USE THE LAME "KEEP CONTACT" IN MY WHOLE LIFE. WTF

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Campaign Efektif Soeharto di Lagu "Aku Anak Sehat"

on
Tuesday, November 26, 2013

Jadi udah beberapa hari ini saya sama JG tetiba nyanyi lagu "Aku Anak Sehat" terus. Nggak mungkinlah ada yang nggak tahu lagu ini. Secara kayanya nempel banget di kepala dari waktu bayi.

Nah, setelah dinyanyikan berulang-ulang saya sama JG baru sadar kalau lagu ini mem-brainwash dan merupakan kempen (iya, campaign) yang luar biasa sekali dari pemerintah saat itu! Entah emang campaign-nya Soeharto apa Ibu Tien apa menterinya ya pokonya lagu itu luar biasa!

Ini liriknya:

Aku anak sehat, tubuhku kuat
Karena ibuku rajin dan cermat
Selama aku bayi, selalu diberi ASI
Makanan bergizi dan imunisasi


Berat badanku ditimbang selalu
Posyandu menunggu setiap waktu
Bila aku diare, ibu telah waspada
Pertolongan oralit, selalu siap sedia


Analisis saya sama JG yang pertama (IYA EMANG KAMI ADALAH MAKHLUK PENGANALISIS SEGALA *sewot sendiri*) adalah waktu itu orang Indonesia masih katro-katro banget. Ibu-ibu mungkin belum sadar akan pentingnya mengurus bayi dengan benar, bersih, dan sehat. Jadi banyak banget kali ya bayi meninggal karena diare. Jadi emak-emaknya harus di-brainwash dengan lagu yang katanya selalu diputar di TVRI setiap malem. Saya sama JG nggak inget, masih terlalu kecil kayanya waktu itu.

Selain itu, dari diskusi singkat saya dan JG jadi sadar hal keren dalam satu lagu yang cuma dua bait itu, yaitu ada beberapa campaign sekaligus! Brilian sekali! XD Mari kita simak.

Aku anak sehat, tubuhku kuat -- Ibu-ibu kalau punya anak harus dijaga kesehatannya yaaa.
Karena ibuku rajin dan cermat -- Ibu-ibu kalau punya anak harus rajin dan cermat yaaa
Selama aku bayi, selalu diberi ASI -- CAMPAIGN PERTAMA: ASI
Makanan bergizi dan imunisasi -- CAMPAIGN KEDUA DAN KETIGA: Makanan 4 sehat 5 sempurna dan harus imunisasi

Berat badanku ditimbang selalu -- Biar sadar anaknya berkembang apa nggak
Posyandu menunggu setiap waktu -- CAMPAIGN KEEMPAT: Posyandu
Bila aku diare, ibu telah waspada -- Ini sebagai peringatan kalau diare itu mematikan jadi emaknya harus waspada
Pertolongan oralit, selalu siap sedia -- CAMPAIGN KELIMA: Minum oralit

Gila ih keren banget ya dalam satu lagu ada banyak hal yang bisa mendukung program pemerintah. Inget nggak sih waktu SD tuh sampai di sekolah aja diajarin kan tentang 4 sehat 5 sempurna, terus tentang oralit juga. Saya inget banget pernah salah waktu ulangan umum SD gara-gara pertanyaan yang ada hubungannya dengan oralit.

Pertanyaan: Jika tidak ada oralit, apa minuman pengganti untuk menggantikan cairan tubuh? Sebutkan bahan-bahan untuk membuatnya?

Jawaban saya: LGG (larutan gula garam) --> benar. Bahan-bahan membuatnya: Gula dan garam --> SALAH.

Begitu hasil ulangan dibagiin saya mewek nilanya nggak jadi 10 gara-gara salah itu doang satu. Bahannya harusnya ada AIR-nya dong, gimana minumnya kalau nggak pake air. -______- Waktu SD kan saya ambisius banget harus nilai 10 dan ranking 1 terus jadi sedih banget kalau salah satu. -______-

Dan soal posyandu juga sampai sekarang masih berjalan kan yah. Ini keren banget! Bayangkan ibu-ibu di kampung yang nggak ngerti apa-apa terus hamil. Mana tau kalau harus sebulan sekali periksa ke dokter apalagi kepikiran makan sehat ya kan. Posyandu ini pasti ngebantu banget. Dulu saya inget ada kartunya buat ibu hamil sama buat balita. Kartu dilipet empat isinya grafik berat badan, di baliknya ada keterangan tentang 4 sehat 5 sempurna. Semoga yang dulu punya ide posyandu masuk surga. :')))

Demikian.

PS: Itu video klipnya yah, keren banget di akhirnya ada Rafika Duri ngomong: "Anak saya tumbuh sehat berkat makanan bergizi dan imunisasi" XDDDD


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

JG & AST vs Life #1

on
Monday, November 25, 2013
let's have a good life :)


Selamat datang di segmen terbaru blog JG & AST, yaitu "JG & AST vs Life"! Wohooo! *throw confetti*

Jadi kalau lagi ada kesulitan atau iri sama orang lain yang baru beli rumah mewah JG selalu bilang: "yah, life.." Tapi uniknya *alah* kalimat itu juga disebut kalau kita mendengar orang lain yang hidupnya kurang beruntung. Jadi kalau kasian sama cerita hidup orang, JG juga biasanya bilang "yah, life..".

Nah terus karena saya sama JG anaknya suka ngobrol sama orang, jadi banyak tau cerita orang lain. Terutama supir taksi dan supir travel. Cerita mereka banyak ajaibnya, bahkan banyak yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya ada orang yang ngejalanin hidup kaya gitu.

Dua tahun di Jakarta dan kemana-mana naik taksi, saya udah denger ratusan supir taksi cerita kisah hidup mereka. Sayang dari dulu nggak pernah ditulis. -_____- Jadi mulai sekarang mau ditulis. Banyak yang inspiring, banyak yang bikin mangap, banyak yang sulit dipercaya.

Cerita pertama datang dari supir X-Trans, Kamis 7 November kemarin (udah lama jis, masa baru sempet nulis sekarang -____-). Saya dan JG belum booking dan yang tersisa cuma kursi di depan, akhirnya duduk di depan berdua. Kalau udah duduk di depan gini, sadar nggak sadar pasti ngobrol sama supirnya.

Waktu itu saya dan JG pulang jam 8 malem. Supirnya mukanya kaya bukan orang Bandung, kaya agak Jawa gitu. Umurnya late 40-an, rambut di kepalanya udah tipis jadi dibotakin. Badannya tegap dan item kebakar matahari. Garis mukanya ramah makanya ingin ngobrol. Hahahaha. Supir X-Trans dari Pancoran biasanya memang orang Bandung. Tapi karena mukanya nggak Sunda jadi bingung mau nanyanya bahasa Sunda atau bahasa Indonesia. *penting*

Saya: "Bapak orang Bandung bukan?"

Supir: "Bukan"

Saya: "Oh..." *jadi agak sungkan* "Tapi rumahnya di Bandung?"

Supir: "Iya saya dari tahun 90 udah di Bandung. Saya orang Solo, istri saya juga orang Jawa tapi udah lahir dan besar di Bandung jadi ya orang Jawa bukan, orang Bandung juga bukan"

Saya: "Hehehehe. Iya pak, pasti istrinya bahasa Sunda nggak lancar, bahasa Jawa juga nggak lancar ya"

Dan begitulah cerita dimulai. Kalau pertama kali ngobrol sama supir X-Trans, pertanyaan pertama saya pasti "rumahnya di mana" kedua "udah kerja berapa lama, sebelumnya kerja di mana". Pertanyaan pertama "rumah di mana" itu bisa jadi obrolan panjang karena mungkin saya kenal daerahnya. Pertanyaan kedua "udah kerja berapa lama, sebelumnya kerja di mana" ya karena kepo aja. -______-

Ah anjir, jawaban "sebelumnya kerja di mana" sayanya lupa. *fail* Tapi yang menarik adalah ketika saya nanya, di waktu luang kalau nggak nyetir, dia ngapain. Jadi fyi, supir X-Trans itu sistemnya 1-1. 1 hari kerja, 1 hari libur. Jadi selang sehari libur. Saya nanya kalau lagi libur biasanya ngapain. *kepo sedunia* JAWABANNYA ADALAH. JENG JENG:

Supir: "Saya kerja di Prudential"

Saya dan JG: "HAH?!!!" *menjaga jarak takut ditawarin asuransi wtf* "Aduh bapak nggak akan nawarin asuransi ke kita kan? Jadi agen, pak?"

Supir: *ketawa* "Iya, lumayan, sebulan soalnya saya kena terus target, jadi uangnya ada."

Saya sama JG bengong aja. Speechless ih! Kerja jadi agen asuransi kan susah nyari klien. Terus harus nyetir Jakarta-Bandung-Jakarta setiap dua hari. Kalau capek gimana!

Supir: "Nggak capek, udah biasa"

Iya sih, kelihatannya juga fit kok bapaknya. Bukan yang kelihatan capek atau ngantuk. Tapi tetep aja. Ini adalah supir pertama yang saya dan JG ajak ngobrol dan punya sampingan kerjaan yang nggak ada hubungannya sama mobil-mobilan atau nyetir-nyetiran. Saya sama JG masih bengong, dia lanjut cerita sendiri.

Supir: "Saya juga suka dapet proyekan. Ngecek kondisi tanah buat bangunan."

Saya makin bengong. JG mulai tertarik dan nanya lebih lanjut maksudnya apa, caranya gimana.

Supir: "Iya jadi setiap mau ada bangunan baru itu kita cek kondisi tanahnya, kekerasannya gimana, bla bla bla bla bla *saya nggak tertarik jadi nggak dengerin lol* Jadi setiap 50 meter kita bikin 2 hole, satu pake bor tangan satu pake bor mesin. Diambil sampel tanahnya, dibawa ke lab buat diperiksa, kuat nggak tanah di situ buat jadi bangunan sekian lantai."

Saya makin bengong. Pertama nggak ngerti dia banyak ngomong istilah teknis. Kedua ya Allah, ini bapak hardworking banget. T_____T JG dan bapak supir terus aja ngobrol soal tanah, apalagi ternyata bapak ini sering ngecek kondisi tanah buat tower BTS, kerjaannya JG banget dulu ya kan. Ngobrollah mereka tentang cek tanah pertanahan buat bikin tower.

Supir: "Parkiran PVJ itu saya juga yang cek loh tanahnya. Weekend ini mau ngecek buat wisma mahasiswa Minang."

Oh bapak inspiring sekali. Mari kita lanjutkan kepo tentang kehidupanmu, pak.

JG: "Wah bapak nyari uang terus nih, pasti mau naik haji ya pak? Hahaha"

Supir: "Yah buat istri sama anak-anak"

JG: "Anaknya berapa emang pak?"

Supir: "Anak saya dua, tapi ibunya juga dua. Hahahahaha"

Saya bengong. JG menguasai suasana: "Wah hebat nih bapak, anaknya dua-duanya berarti sulung semua ya pak? HAHAHAHAHA"

-___________________________-

Ternyata bapak supir itu istrinya beneran dua. *flat face* Makanya dia harus kerja keras buat menghidupi istri-istrinya. GOD! Ya nggak apa-apa sih. Mending kan ya tanggung jawab.

Dari situ saya tidur karena udah ngantuk banget. Padahal masih kepo apakah istri pertamanya tau kalau dia punya istri kedua. *alah jadi rumpi*

Semoga cerita ini bisa menginspirasi yah. Hahaha.

See you!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Tentang LDR Pasca Menikah

on
Tuesday, November 5, 2013
Kenapa ada orang nikah tapi masih LDR? Terus ngapain nikah kalau nggak bisa sama-sama?

Berawal dari temennya temen saya, yang mengeluhkan sedih karena suaminya sakit tapi dia nggak bisa temenin. Karena LDR. Kasian, tapi kenapa atuh LDR segala? Kenapa menyerah sama keadaan yang terpisah terus nggak diusahain untuk tinggal sama-sama?

LDR pasca menikah itu alesannya biasanya banyak. Satu, karena pekerjaan. Seperti mantan saya dan mantannya JG. -_______- Istrinya kerja di Karawang suaminya kerja di Bandung. Dua, istrinya nggak kerja dan ikut orangtua di daerah asal, suaminya kerja di luar daerah asal. Tiga, suaminya lagi dinas sementara ke luar daerah.

Kalau udah ada anak masih lebih logis ya karena repot bingit harus bawa-bawa anak pindah rumah, apalagi anak udah sekolah, repot harus pindah sekolah. Tapi kalau belum ada anak mah saya nggak ngerti kenapa harus LDR segala? Kenapa sebagai istri nggak nunutur bujur suami? -______-

Demi masa depan katanya jadi bela-belain terpisah yang penting kerja. Masa depan yang mana? Toh kita hidup sekarang. Besok aja belum tentu kan, saya sih maunya ngabisin tiap waktu sama orang yang disayang. :3

Saya sama JG nyiapin masa depan kok. As in uang dan diskusi masalah ini itu. Tapi yang nggak bisa diulang itu waktu. Waktu yang dihabiskan sekarang berdua di umur segini saat masih muda, masih bisa bego-begoan sama-sama itu nggak akan terulang.

Makanya pas nikah yang dipikirin pertama adalah jam kerja. Saya pindah kerja ke pekerjaan yang office hour. JG pindah kerja ke pekerjaan yang nggak akan nuntut dia ke luar kota berbulan-bulan seperti sebelumnya. Biar apa? Biar sama-sama terus lah! Gaji JG padahal jadi lebih kecil banget berlipat-lipat di kerjaan yang ini, tapi emang kenapa! Uang dan rezeki itu usaha manusia, tapi yang namanya waktu kan nggak bisa diusahakan sendiri.

Lagian trauma pas pacaran ditinggal LDR sama JG 3 bulan gara-gara ada project di luar kota. Drama tiap malem. Saya sama JG bukan pasangan yang tahan LDR karena maunya sama-sama terus. Banyak banget momen ilang gara-gara LDR. Banyak hal yang nggak terwakili sama chat dan facetime. Banyak momen yang harus dilewati bareng, bukannya cuma diceritain lewat telepon. T_____T

Terus kalau sakit itu yang paling sedih. Sakit sendirian. Katanya punya istri katanya punya suami tapi nggak ada yang ngurusin. Kenapa atuh LDR segalaaaa? *kesel*

Dan satu hal, nikah tinggal bareng dan nikah nggak tinggal bareng itu beda banget! Kaya temen saya si @fakhmihebat yang pacaran 5 tahun. Nikah, tapi LDR, ketemu seminggu sekali doang. Setahun kemudian baru tinggal serumah, barulah dia bilang: "gue kaya baru nikah sekarang loh!"

Nah! Memang! Padahal dia pacarannya 5 tahun loh! Kurang kenal satu sama lain gimana. Kurang tau apa soal satu sama lain. Tapi tetep beda. Nggak berasa nikahnya kalau belum serumah terus-terusan. Rewel-rewelnya istri baru akan kalian rasakan jadi berlipat ganda setelah tinggal serumah. Jelek-jeleknya suami juga makin keliatan. Muahahahaha. XD

Yang inspiratif dan mengharukan cerita LDR sih buat saya tetep Sinta Nurmansyah alias Sinta-nya Jojo @sisisinta. Dia pacaran LDR Indonesia-Prancis 4 tahun, ketemunya setahun sekali doang selama sebulan. 11 bulannya LDR lagi. LDR tapi pasangan ini sweet banget, mengusahakan banyak hal apalagi di hari spesial kaya ulang tahun atau anniversary. Cek aja cerita mereka di blognya Sinta (cari sendiri males googling hahahaha) Ketemu di tahun kelima, nikah. Sekarang? Tinggal di Prancis sama suaminya.

Itu kan intinya? Pacaran masih okelah LDR. Tapi kalau nikah? Masa nggak diperjuangkan sih biar bisa tinggal sama-sama? Jangan sampai nyesel di kemudian hari karena kehilangan banyak hal. Sekali lagi, uang bisa dicari, waktu dan kebersamaan hilang tak bisa terulang. *alah*

Jadi kalian masih LDR pasca nikah?

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Istri Seperti Apakah Kamu?

on
Wednesday, October 30, 2013
Jadi pada tau kan ya dunia istri-istri itu kerasnya melebihi ibukota. Punya anak aja kompetitif siapa yang dulu-duluan dan suaminya paling jos. Udah anaknya brojol, kompetitif anaknya udah bisa apa udah bisa apa. Udah anaknya gedean, kompetitif di sekolah udah pernah juara apa aja. NGERI.

Belum tasnya si anu mahal banget padahal kerjaanya suaminya cuma begitu doang, ih si anu jalan-jalan ke luar negeri mulu terus belanja lima koper, sebel banget lipstik si anu keren banget pasti mahalnya seharga harga henpon, atau kok bisa ya si anu kurus sekejap ih pasti anorexia. WTF.

-______-

Satu-satunya jalan adalah jangan terjerumus ke dunia ibu-ibu semacam itu. Jauhi diri dari komunitas ibu-ibu yang kira-kira hanya akan membenamkanmu ke dunia kegelapan. Mending di rumah aja sendirian blogging atau YouTube-ing atau main Hay Day ya kan.

Nah anyway, saya mah jauh sama komunitas ibu-ibu semacam itu. Kerjaannya setiap hari kan bangun tidur, kerja, masak makan malem, tidur, repeat. Terus mau nggak mau jadi mikir juga, istri-istri lain menjalani hidup segampang hidup saya sekarang nggak ya?

ISTRI. Kesannya kan kata yang berat banget. Lo harus urus rumah tangga. Kalau lo kerja, ya nggak mau tau, kerja SAMBIL urus rumah tangga. SEREM.

Serem makanya dulu nggak mau nikah. Hahahaha. Nah tapi JG mengubah pandangan saya yang males nikah itu. Dulu waktu belum nikah dia wanti-wanti banget "kerjaan rumah tangga itu kewajiban suami, istri cuma bantu kalau ikhlas". Karena dibilang gitu makanya saya mau nikah. *cemen*

Kalimat itu sempet di-Tweet sama JG, sempet di-post juga di sini. reaksi orang macem-macem, banyak yang menyangsikan apakah bener setelah nikah mau ngerjain kerjaan rumah tangga? Jawabannya adalah jeng jeng jeng.

MAULAH. HAHAHAHAHA. Honestly hampir semua kerjaan rumah tangga JG yang ngerjain. *image hancur* Tapi bukan berarti saya nggak bantu. Awal-awal nikah saya stres karena dia nggak ngasih saya bantuin apa-apa. Saya cuma masak, itu pun dibantuin. Sisanya nggak boleh, harus dia yang ngerjain semua. Terus saya mewek:

"Aku bingung jadi istri tuh harus gimana ... " T_____T

Beberapa hari baru normal, berbagi tugas tanpa bener-bener "dibagi", sesuaikan waktunya aja. Mostly masih JG yang ngerjain cuci piring, cuci baju, ngepel rumah. Saya masak dan beres-beres rumah. Kalau JG capek banget ya saya cuci piring. Kalau saya capek banget ya JG yang masak. Kalau JG ngantuk banget saya yang siapin bekel makan siang, kalau saya yang ngantuk JG yang siapin. Kalau dua-duanya ngantuk? Beli aja sik di kantor. Simpel kan.

Kalian termasuk istri yang seperti apa?

Saya salut banget kalau kalian adalah istri bekerja yang mengerjakan semua kerjaan rumah tangga. Pasti capek banget. T____T Saya paling nggak suka liat suami yang leyeh-leyeh nonton TV terus istrinya masak atau ngerjain kerjaan yang lain. Padahal istrinya juga kerja di jam kerja yang sama sama suaminya. Kewajiban istri? Kewajiban suami kali! Kecuali suaminya mau bantu terus istrinya bilang nggak usah, istri solehah. :'))))

Nah buat yang belum nikah dan berencana tetap bekerja setelah menikah, pastikan calon suami kamu mau BEKERJA SAMA mengurus rumah. Jangan mau capek sendiri! Rumah ditinggali berdua kok yang capek sendiri kan nggak fair.

Buat yang udah nanggung nikah dan suaminya nggak mau bantuin kerja rumah tangga, eemmm, gimana ya *ga solutif lol*. Ya mungkin bisa dibicarakan aja baik-baik kalau ngerjain kerjaan rumah tuh capek banget, mbok ya dibantuin. Kalau suaminya sayang pasti ngerti. :3

Udah gitu aja. Oke ya?




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #14

on
Saturday, October 26, 2013
#14
Kondisi: keluar parkiran GI dengan antrian panjang luar biasa karena hampir tutup. Menjelang boks pembayaran ...

Me : "eh sayang aku nggak ada uang loh" *aduk-aduk tas nyari receh*

JG : "ah serius? aku juga nggak ada uang sama sekali" 

*kembali parkir, kembali jalan menembus parkiran, kembali masuk mall untuk cari atm dengan eskalator yang udah off semua*

the life of modern people with cards but without cash WTF

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #14

on
Friday, October 18, 2013
#14
Pulang dari Senayan City, lewat gang.

Me : "ko ke sini sih? salah jalan"

JG : "bener, dulu kita lewat jalan ini banget!"

Me : "iya waktu itu kita salah jalan, tadi harusnya ke kanan"

JG : "nggak ah! Bener ini jalannya!"

Me : "tapi aku nggak pernah lewat sini"

JG : *marah* "KAMU KENAPA SIH NGGAK BISA PERCAYA SAMA AKU?! OKE! KITA IKUT JALAN KAMU!"

*puter balik*

Me : *ngarahin jalan*

JG : "nah iya ini yang bener" *santai*

Me : "kenapa atuh tadi marah, pake bilang KITA IKUT JALAN KAMU!"

JG : "siapa yang marah, itu aku bilang pake semangat kaya orang Jepang, AYO SAYANG SIAP! KITA PAKE JALAN KAMU! Siapa yang marah?" 

Me : "ya allah aku harus banyak-banyak istigfar kalau gini"

JG : "eh kamu harusnya banyak bersyukur kita nggak jadi salah jalan"

WTF

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #12 & #13

on
Thursday, October 17, 2013
#12
Parkir motor di Carrefour.

Me : "sayang jaket jinsnya aku pake nggak yah?"

JG : "pake aja"

Me : "tapi panas"

JG : "ya udah lepas

Me : "ah nggak deh, aku pake aja."


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

SH*T JOMBLO DENIAL SAYS

on
Friday, October 11, 2013
Dari @shitmydadsays terus mengikuti video-video sh*t-something-says di YouTube jadi bikin juga tapi WTF SUSAH BANGETTTTT! -_____-

Yang belum pernah nonton sh*t-something-says, ini favorit saya dari SoundlyAwake SH*T GIRLS SAY TO GAY GUY yang sekarang udah 7 juta views gilaakkk.


Nah terus kemarin ceritanya mau bikin video soal jomblo. Kenapa di Indonesia jomblo diejekin, macam-macam jomblo, dll. TAPI UDAH SYUTING TERUS DITONTON HASILNYA JELEK BANGET. Syutingnya udah 2 jam karena narasinya nggak hapal-hapal juga. Bego kebangetan plus kaku, nggak bakat di depan layar. -_____-

Akhirnya ambil cut-nya aja deh, versi #JOMBLODENIAL. Entah deh lucu apa nggak secara saya sendiri nontonnya dari ngikik sendiri sampai flat saking harus pilih video banyak bener *banyak shoot yang salah dan diulang wtf* Ya sud-sud. Nonton ya!

#JOMBLODENIAL

Selain bikin bio Twitter "I'm single and very happy" banyak juga kalimat-kalimat yang umum diucapkan oleh para jomblo yang denial.

#JOMBLODENIAL ini rata-rata bukan remaja, kalau masih sekolah atau kuliah ya jomblo juga nggak apa-apa kali, belum ada yang nyuruh atau nanya-nanya kapan kawin kan? Diejekin temen mah diemin aja yang penting hepi. :)

 #JOMBLODENIAL lebih banyak ditemukan di kalangan usia 25 tahun ke atas. Ini adalah saat-saat di mana teman-teman sudah menggendong anak dan undangan nikah selalu datang setiap minggunya. Di mulut bilang masih mau sendiri aja, tapi begitu ada lawan jenis mendekat langsung ngebet ingin nikah. Ya gitu deh.

Jomblo tapi nggak denial? Enjoy your single life! :)


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Yuk, Bikin Siomay!

on
Monday, October 7, 2013

Jadi yah setelah nikah saya sama JG anaknya obses banget masak-masak mulu. Nah kemarin JG nyari siomay di Carrefour, tapi nggak ada yang menggoda hati. Akhirnya seperti biasa dengan sotoynya "BIKIN AJA YUK!".

YUK! Googling resepnya saat itu juga untuk nentuin apa aja yang harus dibeli. Beli semua bahan, nyampe rumah, makan malem, LANGSUNG SIAP MASAK SIOMAY. HAHAHAHAHA. Kaya jam 11 malem gitu randomly bikin siomay. -______-

Gampang sih, cuma kemarin yang saya bikin kebanyakan terigu jadi agak keras. Resep di bawah ini, terigunya udah saya kurangi ya, tapi saya belum nyoba juga, insya Allah nggak keras. lol. Saya juga pakai kani sebagai pengganti udang/ikan tenggiri. Alasannya pertama, udangnya mahal dan takut siomaynya gagal. Sayang udangnya. -_____- Kedua, udangnya nggak nemu yang udah digiling. Mau-mau aja sih giling sendiri, tapi beliin BLENDER dong. HAHAHAHAHA. *modus*

Untuk sekitar 10 siomay.

Bahan:
100 gram daging ayam giling
8 batang kani, diparut atau dihancurkan deh gimana pun caranya
5 sendok makan tepung terigu (kemarin pakenya sekitar 10 sendok) *sotoy tingkat nasional*
5 sendok makan tepung sagu/tapioka
sebutir telor
garam dan merica sesuai selera
kulit pangsit

Cara membuat:
Campur semua bahan kecuali kulit pangsit. Kalau agak keras kasih air dikit aja. Isi ke kulit pangsit. Kukus deh. SELESAI.

GAMPANG BANGET YA KAANNN. HAHAHAHAHA. Rasa ikannya emang nggak terlalu nendang sih tapi lumayan deh buat cemilan sore-sore.

Saya sama JG kemarin bikin kuah jadi makannya pake kuah. Enaakkkk. *jadi laper* Kuahnya bikinnya juga simpel aja, karena saya masih ngotot nggak mau pake MSG termasuk penyedap rasa macam masako/royco, dkk, jadi kuahnya bikinnya gini:

Rebus air sampai mendidih. Tambah bawah putih cincang, garam, gula, merica. Done. Enak ko mayan *murahan* lol.

Ya udah gitu aja. Tonton videonya ya!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #11

on
Friday, October 4, 2013
JG bercerita:

Sebelum melakukan aktivitas seperti berangkat kerja, mau masak, beberes rumah, ataupun cuci pakaian, biasanya AST rikues untuk dicium pipi atau sekedar peck bibirnya. Dan malam itu...

AST : "Sayaaaang cium duluuu" *ngerengek-rengek berisik*

Me : "Emangnya mau ngapain, sayang?"

AST : "CIUM DULUUUUUU"


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #10

on
Tuesday, October 1, 2013
Pulang dari Singapur. Saya baca-baca detikhot karena tiga hari nggak update berita sama sekali. 

Me : "sayang, morgan keluar dari sm*sh"

JG : "iya udah aku twit tadi. Dia keluar soalnya mau jadi PNS"

Me : -_______-

***


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

From Blog to Vlog!

on
Wednesday, September 25, 2013
KAYA KURANG KERJAAN BANGET NGGAK SIIHHHH? HAHAHAHAHAHAHAHA.

Karena kita anaknya selalu haus popularitas ingin berbagi jadi setelah bikin blog ini berdua, selanjutnya saya sama JG naik kelas dengan bikin vlog. Ayeeee!

Seperti disebut JG dalam videonya, katanya doi KADUHUNG TEU JADI ARTIS alias menyesal kenapa dari dulu nggak jadi artis. HAHAHAHAHA. Jadi mari wujudkan cita-cita JG jadi artis ... dengan nongol di YouTube!

Ya kan kalau nggak ada yang mau nonton juga minimal keluarga, temen-temen, dan temen-temen kantor mau nonton dengan paksaan. Bodo amat juga ya kan, toh effortnya nggak jauh beda sama blogging. Syuting 10 menit, editing sejam (karena masih oon), upload, done.

Ini vlog pertama setelah ditonton isinya emang agak nggak penting lol. Tapi mungkin ya bisa dibikin penting buat emak-emak kaya saya yang belanjanya mingguan dan mau tau harga-harga barang minggu ini *lo aja kali, cha* XD

Bikinnya juga dadakan super. Pulang dari Carrefour:

JG : "AYO KITA SYUTING VLOG SEKARANG!"

Me : "AYO!"

*pasang tripod, tulis poin yang mau diomongin, syuting, done* XD XD

Ya udah ah ini videonya. Ke depannya semoga infonya lebih berguna ya kan. See you!

UPDATE! Anyway, review app belanja seru dan rekomendid ini bisa dibaca di sini ya!



LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #8 & #9

#8
Ke dokter gigi hari Sabtu lalu. Dokter gigi langganan yang ngurusin behelnya JG. Baru aja masuk ruangan ...

Dokter gigi : "Aduh, ini dateng berdua mah bencana ini mah. Aduuhhhh!"

-________-

Selesai JG ganti karet behel, saya cabut gigi, dan perbincangan panjang dengan dokter gigi tentang cerita-cerita pasca nikah dan soal anak beranak.


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Tentang Honeymoon

on
Tuesday, September 24, 2013
"Cieee yang ke Singapur hanimun cieeee ... "

Bosen banget dibilang gitu sama orang-orang yang tahu saya sama JG mau ke singapur akhir minggu ini. T____T

Pertama, kita ke Singapur adalah rencana dari sebelum nikah, dadakan karena dapet tiket murah (kelas menengah ngehe). Kedua, perginya sekeluarga sama ibu dan adik-adik saya. Ketiga, ini saya sama JG ke Singapur untuk ketiga kalinya berdua, masih keitung honeymoon nggak?

Tapi yah, saya emang nggak ngerti konsep honeymoon. HAHAHAHAHAHA. Kalau honeymoon artinya liburan berdua setelah menikah, ya gimana saya perginya sekeluarga. Kalau honeymoon artinya liburan berdua untuk pertama kalinya, ya ini bukan yang pertama kalinya juga sik. Kalau honeymoon artinya liburan pasca stres abis nyiapin nikah, eeerrr saya sama JG nggak stres-stres amat sih pas nyiapin nikah. :S

Kan saya sama JG anaknya kritis banget ya. *sok* Jadi suka ngotot harus tahu makna di balik sesuatu sebelum melakukannya. *halah* Kaya misalnya pre-wedding. Nggak pre-wed kenapa? Karena nggak makna. Nggak resepsi kenapa? Karena nggak makna. Nggak honeymoon kenapa? Karena ya apa bedanya sama liburan berdua aja kan ya?

Atau mungkin karena saya sama JG setelah nikah langsung jauh dari orangtua dan jauh dari siapa-siapa kali ya. Jadi di rumah aja udah honeymoon bangeeett secara cuma berdua mulu selain di kantor. lol. Ngapain jauh-jauh ke Bali/Lombok yang mana adalah destinasi standar hanimun se-endonesia. Plus saya nggak suka pantai. Panyas dan lengket, jadi nggak tertarik hanimun ala-ala newlyweds Indonesia ke tempat panas. Kecuali kalau ada yang bayarin ke Jepang atau keliling Eropa, mau tahun depan atau kapan pun I'll take it as a honeymoon. MUAHAHAHAHAHAHA. Ke Singapur mah males juga dibilang hanimun. XD

Tapi ya, honeymoon sepertinya jadi penting buat yang setelah menikah tetap tinggal dengan orangtua. Karena mungkin butuh waktu private beberapa hari untuk sejenak jauh-jauh dari orangtua dan ingin berdua aja dengan suami. :)

Jadi hanimun itu sebenernya menurut saya sih pilihan bangeeettt. Kalau udah sering jalan berdua dan di rumah cuma berdua (tanpa orangtua) sih menurut saya ya namanya liburan ajalah. Nggak usah hanimun-hanimun. lol Nggak ada bedanya kan ya? Tapi kalau kalian masih serumah sama orangtua, ya bisalah hanimun demi menjauhkan diri sejenak dari stres pasca nyiapin nikah plus quality time berdua aja kan ya.

Selamat hanimun! *lho*

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Perempuan Juga Punya Pilihan

on
Monday, September 23, 2013
Jadi berawal dari perbincangan ringan saat makan siang di kantor. Seorang teman bertanya pada teman lain yang akan menikah bulan depan.

Teman 1: "Kalau lo nikah, istri lo dibolehin kerja nggak?"

Teman 2: "Ya kalau sekarang sih boleh aja. Tapi prinsip gue kalau udah punya anak, dia nggak boleh kerja. Harus fokus urus anak."

Waktu itu demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, saya diem aja. Lagian itu kan urusan dia, istrinya juga istri dia. Padahal dalam hati:

"WTF!" *sambil bersyukur JG nggak pernah melarang-larang begitu* -______-

Si temen saya ini orang pinter, lulusan ITB, kariernya bagus. Tapi kok pemikirannya konservatif sekali, melarang istri kerja untuk ngurus anak. MELARANG?

Kalau melarang gitu, istri nggak punya pilihan dong. Dilarang suami untuk kerja karena punya anak. Dari sudut pandang dan pemikiran saya, ini salah besar. Perempuan juga punya pilihan! Dan mengurus anak bukan semata-mata tugas perempuan!

Jika pilih bekerja, perempuan harus siap dengan segala konsekuensinya. Energi pasti terkuras karena sebelum dan sepulang kerja HARUS berkomunikasi dengan anak.

Tapi kan urusan anak ini bukan cuma urusan perempuan. Kerja sama dong dengan suami, biar capeknya nggak sendirian. Sama dengan mengurus rumah. Sama-sama bekerja, sama-sama capek saat pulang ke rumah, sama-sama mengerjakan tugas rumah tangga. Sama-sama FOKUS mengurus anak.

Jika pilih tidak bekerja, perempuan harus siap juga dengan segala konsekuensinya. Terutama stres karena merasa tersisihkan dan jadi "bukan siapa-siapa". Ini diakui oleh beberapa ibu yang keluar dari pekerjaan demi anak. Hidup perempuan bukan hanya untuk mengurus anak lho! Gimana mau mengurus anak kalau kondisi psikologis ibu jadi tidak stabil.

Perasaan sendirian, perasaan tidak punya power, dan perasaan ingin bergaul dan bersosialisasi biasanya jadi masalah ibu bekerja yang berhenti karena anak. Kebayang ya tadinya ke kantor dandan cantik, ngobrol dan hang out sama teman kantor terus tiba-tiba harus di rumah 24 jam. Stres pasti. Banyak sekali cerita semacam ini. Jadi pilihan ini harus dipertimbangkan dengan kondisi ibu, jangan membela anak tapi mengorbankan ibu. Tidak ada yang harus berkorban kan sebenarnya?

Kedua opsi itu selayaknya dipilih oleh perempuan sendiri. Karena itu hidupnya sendiri. Jangan sampai karena punya label "suami", lalu seenaknya mengatur hidup orang lain. Suami itu membuat bahagia, bukan membuat stres karena misalnya nggak mau bantu kerjaan rumah tangga atau melarang ini itu.

Tapi kembali pada pilihan. Inget aja ya, kalau kalian semua perempuan di dunia ini punya pilihan dari awal.

1. Kalian, perempuan, sejak awal punya pilihan untuk memilih suami. Apakah ingin suami yang demokratis, atau suami yang penuh aturan yang dibuatnya sendiri. Cari suami yang sejalan tentang konsep hidup. Jangan berusaha toleran padahal beda prinsip. Ke depannya "beda prinsip" itu bisa memicu perdebatan panjang (yang pasti melelahkan).

2. Kalian, perempuan, punya pilihan untuk memilih jalan hidup sendiri dan punya suara sendiri karena ini HIDUP KALIAN SENDIRI. Bicarakan dengan suami atau calon suami agar tidak menyesal di kemudian hari. Bicarakan ingin punya anak setelah berapa tahun menikah, bicarakan ingin bekerja atau tidak, bicarakan ingin kehidupan pernikahan yang seperti apa, dll.

3. Kalian, perempuan, punya pilihan untuk bekerja atau tidak bekerja dengan konsekuensinya sendiri. Pastikan pilihan yang diambil adalah berdasar kata hati. Diskusikan dengan suami cara mengurus anak jika kalian bekerja. Pastikan suami tahu benar apa yang kalian mau bukannya sekadar melarang-larang wtf. *sebel*

Udah ah puyeng abis operasi gigi geraham.

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #6 & #7

on
Sunday, September 22, 2013
#6
Background: JG anak mamah banget. Tiap malem pasti harus nelepon mamah di Bandung. Malam itu saya tiduran, JG nelepon mamah ...

JG : "halo mah"

Mamah di Bandung : "xbsdhdnrismbdh"

JG tutup telepon.

Me: "ko bentar amat teleponnya?"

JG : "mamahnya mau ee katanya" *kecewa*


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #4 & #5

on
Saturday, September 21, 2013
#4
Subuh-subuh jam 5 bangunin JG tidur. Tiba-tiba JG ngeliatin sambil masih ngantuk *menatap mata-mata dalam: romantic mode*

JG : "mata kamu bulet banget"

Me : "mana ada mata kotak"

JG: "ada ... "

*mata masih menatap dalam-dalam*


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Terapi Pasangan Baru

on
Thursday, September 19, 2013
Bulak-balik naek motor pas pacaran itu rutenya:

Kosan -> Kantor -> jemput AST -> Cari Makan -> Kosan AST -> Kosan

Nah rute itu repeat ajah terus terusan setiap hari ampe 2 tahun, secara waktu itu bareng AST less than 5 hour lah dalam sehari, kecuali weekend yang memang dari pagi lari ke senayan kemudian cari makan siang dan bada isya udah pulang lagi.

Dari setiap harinya saya tidak full in touch bareng AST, saya masih ada waktu di mana saya sendiri atau bareng temen-temen nonton bokep futsal bareng. Kadang juga maen PES pake laptop kantor yang secara penggunaanya sudah diselewengkan, kalo ketauan KPK dan disadap ini laptop pasti log activitynya lebih banyak maen PES daripada ngerjain config-an perangkat :S

Sesudah menikah seperti yang AST ceritakan di-postingan sebelumnya, kita berubah. Berubah jadi lebih baik atau tidak memang pilihan pribadi masing-masing (ini kata katanya gold banget). Well, yang sebelumnya hanya kurang dari 5 jam sehari berduaan sama AST, sekarang tuh bisa seharian penuh kalo pas weekend, dan 14 jam kalo weekdays.

Para pasangan yang menikah apakah kalian merasa aneh atau merasa 'aduh… kok kamu lagi kamu lagi sih?" atau bahasa gaulnya itu 4L (Lo Lagi Lo Lagi)? Ngerasa gitu karena memang pasti sebelumnya kita tidak fully attach dengan pasangan pas pacaran. Ada beberapa cara agar kita mulai terbiasa dengan pasangan yang ada setiap hari, jam, menit, dan detiknya di sekitar kita.

Ini beberapa terapi yang kita gunakan untuk selalu merasa nyaman walaupun harus bertemu atau berduaan seharian ;

1. Build teamwork dengan cara mengerjakan pekerjaan rumah bersamaan. Dengan mengerjakan pekerjaan rumah bahu membahu membuat bonding kita makin kuat.

Memasak : Saya menyiapkan alat masak, AST menyiapkan bumbu dan bahan makanan. Dalam proses memasaknya kita melakukan semuanya bersamaan, mulai dari memotong bahan hingga memasaknya. Dari kebersamaan ini terbentuk rasa saling percaya sama pasangan, juga ada saling 'menghangatkan' saat bersama.

2. Mengetahui sifat dasar wanita tentang privasi

Membereskan kamar : Kita tau pastinya kalau wanita itu butuh tempat 'private' untuk dirinya sendiri, dan lelaki kebanyakan tidak mempunyai tempat untuk privasinya. Nah, saat membereskan kamar adalah terapi yang baik untuk menanyakan pada AST bagaimana layout kamar yang memenuhi persyaratannya. Sebagai contoh adalah di kamar kita ada pojok dandan, di mana alat-alat melukis wajah tersimpan. Jangan lupa juga bertanya sama pasangan kita di mana spot pakaian lelaki, awas jangan sampe salah nyimpen, nanti ga dapet jatah (anjiir joke lamaaa).

3. Perhatian

SMS/wasap/imess/telepon : tidak lupa untuk memberikan informasi kegiatan di kantor, pada saat jam makan siang, atau pas ada meeting informasiin bahwa kamu tidak bisa dihubungi beberapa saat karena meeting. Karena pasangan baru yg saya rasakan, rasa memiliki makin besar. Beberapa saat tidak bisa dihubungi saja nanti kita dicariin, padahal mah lagi kencing di toilet

4. Make a space.

· Memilih pakaian : Biarkan pasangan wanita kamu punya waktu dan ruangan sendiri untuk memilih pakaian yang akan digunakannya, karena memilih pakaian itu perlu kosentrasi yang tinggi. Jangan diganggu kalau lagi milih baju sebelum pergi kerja. Namun jika tempat bekerja istri menggunakan seragam, drama memilih pakaian pagi-pagi itu tidak akan terjadi :D

· Dandan : ini juga termasuk ritual yang tidak boleh diganggu, jangan sampai deh kamu komentar negatif dandanannya di pagi hari. Cukup bilang "aku minta sun dong sama si cantik", Insya Allah kamu melewati tantangan di pagi hari dengan MERDEKAA!!!!

5. Sayang itu katanya tinggal dilakukan ajah jangan bilang-bilang.

Ini untuk saya pribadi sih salah, malahan sayang itu harus dikatakan. Say 'I Love you' tiap hari itu bukannya bikin bosen, malahan sweet dan mengingatkan pasangan kamu kalo ada yang sayang sama dia tiap hari.


JG


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #3

on
Wednesday, September 18, 2013
#3
Malem-malem lagi sibuk nyambung pensil alis yang patah. Tiba-tiba ...

JG : "Aku dan kamuuuuu takkan tauuu, mengapaaa kitaa tak berpisaaaahhhh. Walau kita takkan pernah saaaatu~~~ ..."

*mendapati JG yang lagi nyanyi sepenuh hati di DEPAN KIPAS ANGIN macam kipas itu adalah mic di studio rekaman*

Me : "KAMU NGAPAIN?"

JG: "Bagus ih ini suara aku jadi ada suara duanya, WALAU KITA TAKKAN PERNAH SAAAAATUU BIARKAN AAAAAKUU MENYIMPAN BAYANGMUUUUU~~~ ... "

WTF.

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #1 & #2

on
Monday, September 16, 2013
Jadi ini terinspirasi dari Tim dan Audrey alias Fatty and Shorty. Soalnya JG sering juga kadang-kadang punya jawaban atau pernyataan aneh atau nggak normal. Bodo amat ya dibilang ikut-ikutan juga. lol

Terjadi weekend kemarin. Saya leyeh-leyeh mainan iPhone, JG baca motorplus.
image from here
JG : sayang, aku mau ruckus. *memperlihatkan foto ruckus*

Me : ih lucu tapi buat apa, aneh bawah joknya bolong gitu

JG : iya kan lumayan buat kita bawa SKATEBOARD.

Me : *flatface*

we don't even play skateboard or have one or plan to have one. 



LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

How Marriage Affect My Life

Gile ya judulnyaaaa, ahli banget saya bikin judul-judul macam artikel standar dari web-web lifestyle. lol. Jadi apa yang berubah dan sejauh mana marriage mempengaruhi hidup saya?

Saya mah anaknya liberal banget yah *opo*, pas nikah itu mikirnya:

"Alah, nggak bakal ada yang berubah, nikah kan cuma melegalkan tinggal serumah aja."

Yang diamini sama JG:

"Iyalah, nggak akan ada yang berubah. Nggak akan ada bedanya kok sama pas pacaran."

KENYATAANNYA. JENG JENG JENG.

...

...

...

BERUBAH BANGET GILAK. BAHAHAHAHAHAAHAHHAHAHA. Tapi berubah jadi lebih baik kok ciyus. XD

Berawal dari saya jadi betah di dapur. Kalau ibu saya baca ini pasti heran karena seumur hidup saya paling males masak-masakan. Masak sih dulu terpaksa waktu ayahibu pergi haji. Itupun terpaksa karena uang buat makan selama ditinggal 40 hari, 3/4 nya habis dalam 2 minggu pertama karena makan di luar mulu, jadi masak. Selain saat itu, MALES PAKE BANGET. -_______-

Tapi setelah ditelusuri penyebabnya, mungkin karena kalau masak di rumah, judge-nya datang langsung dari ibu. Pake banyak aturan harusnya gini harusnya gitu, megang pisau harus gini, megang ulekan harus gini, motong ini bentuknya begini begitu, mayes banget dengernya lol. Jadi mending nggak masak ajah. XD

Sekarang di dapurnya sama JG. We cook together EVERYDAY, togetherness and teamwork therapy kata JG (entah istilah itu eksis apa nggak), dan masak itu terapi kesabaran buat saya yang nggak sabaran dan emosian. Judge-nya juga kan kita berdua, ih bodo amat megang pisau gimana yang penting kepotong. Bodo amat apa yang dimasak duluan, yang penting enak. Gitu aja. Seperti juga Islam, masak itu mudah. :''))))

Masak-masakan ini efeknya gila. Sejak nikah (baru juga 17 hari lol) belum makan di mall lagi. Rekor atuh ih. Biasanya paling nggak seminggu sekali makan di luar (yang mahal yah setelah dipikir-pikir *jadi mikir* XD). Efeknya lagi, baju-baju buat nge-mall (halah) jadi nggak kepake dong. DIPAKELAH BUAT BELANJA SAYUR. HAHAHAHAHAHAHA. Karena saya sama JG tiap Jumat ke Carrefour buat update bahan masakan seminggu ke depan. Ke Carrefour doang setelannya udah paling hits-lah se-Jakarta Barat. XD

Yang berubah lagi, uang yang dulu dipikir mau beli MacBook-lah, mau pergi ke mana-manalah, beralih jadi mau beli kulkas yang lebih besar biar bisa belanja lebih banyak. Apapun demi dapur ngebul. Uang makan sekali berdua di resto-resto itu bisa buat belanja seminggu pemirsaaaahhhh. XD

Terus karena saya suka banget jajan, jadinya selain masak buat sehari-hari, kalau abis makan malem, masak juga jajan-jajanan. Kaya cilok atau pancake. Pancake standar lah ya. Tapi cilok enak soalnya rasanya diatur sendiri. Hahahaha. Udah belanja juga buat bikin bubur kacang ijo. I'm so proud of myself karena nggak bergantung mang cilok di Bandung lagi. Kalau mau tinggal bikin. \m/

Nah karena jadi seneng masak, langsung obsesi pengen bawa bekal makan siang ke kantor. Yang ini masih banyak gagalnya karena kalah sama ... ngantuk. Bangun sih bangun subuh, solat subuh terus antara masak atau tidur laginya adalah pilihan yang jawabannya hanya Tuhan yang tahu. -______-

Tapi karena tiap malem selalu udah niat mau masak buat pagi, jam 10 pasti udah tidur. Ke badannya jadi enak banget. Apalagi buat saya yang dari dulu ingin banget hidup sehat tapi tidur selalu jam 1-2 pagi. Bangun jam 9 ngantuk banget. Ke kantor menyeret diri. Malemnya jam 7 udah ngantuk, tidur sampai jam 10, bangun sampai jam 2, tidur lagi. Besoknya ngantuk lagi. Lingkaran setan.

Sekarang bangun jam 5, solat, masak, jam 8 pergi ke kantor karena JG masuk jam 8 (tapi pergi jam 8 lol) jadi saya harus ikut pergi pagi karena nggak dibolehin pergi sendiri. Atau bangun jam 5, solat, tidur lagi sampai jam 7. Hidupku jadi lebih indah dan sehat. :'))))))

Tapi meski demikian, saya sama sekali nggak menyarankan atau malah menyarankan kalian yang belum nikah untuk nikah cepet-cepet. Ya suka-suka ajalah, kalau udah waktunya juga nanti pada nikah. :p

Soalnya, hari-hari single itu tidak akan pernah terulang kembali. Hari-hari di mana nonton Koreaan sampai pagi dan nonton drama nggak bisa berhenti itu nggak akan pernah bisa kau alami lagi. lmao. Saya jadi ketinggalan banyak hal, banyak sekali. "Running Man" entah kapanlah bisa lanjut nonton lagi. Cuma maksain nonton "Appa Eodiga" karena JG juga suka jadi nonton berdua. Dan "WIN" nontonnya di sela-sela sibuk di kantor. Sepotong-sepotong.

Tapi ya udah. Mau ngeluh juga gimana kan. Happy aja. :))))) Tapi sempet juga marriage blues (macam baby blues *ngarang* lol) tapi nanti cerita di posting selanjutnya aja soal si blues-blues ini. Sempet juga sok banget saking masaknya enak terus dan seneng banget ngerjain kerjaan rumah:

"AKU NGGAK KERJA AJA DEH. AKU JADI IBU RUMAH TANGGA AJA." *belagu*

Padahal kebayang kalau nggak kerja mau apa juga di rumah. IH. NGGAK BISA DANDAN NGGAK BISA PAMER BAJU SAMA SEPATU DI KANTOR. *mental* HAHAHAHAHHAHAHAHHA.

Kalian gimana? Apa yang berubah setelah menikah?

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Siapa yang mengerjakan ini? Suami atau Istri?

on
Monday, September 9, 2013
Kebiasaan waktu kecil atau di rumah akan terbawa hingga dewasa. Seperti membawa piring/gelas makanan setelah makan ke tempat cuci piring, mandi sebelum tidur, makan di meja makan, dan lain-lain. Hal-hal simple seperti itu akan dibawa hingga dewasa.

Saya sih kebiasaanya tidak pernah beberes kasur sesudah bangun tidur, hehehe, kebiasaan ini saya bawa hingga ngekost di jakarta. Alasan saya biasanya mudah, "Namanya juga cowo" sambil cengengesan jawabnya.

Tapi yah, seringkali hal-hal buruk jika harus diperbaiki kalau kita sudah kebanyakan excuse. Misalnya kalo disuruh cuci tangan sebelum makan suka jawab "udah bersih sih tangannya juga, emang aku maen tanah?" dan segudang alasan lainnya jika ada masukan untuk melakukan kebaikan.

Pernahkah kamu memperbaiki kebiasaan buruk kamu? Saya pernah. Saya suka sekali lupa berdoa sebelum makan. Saya ingin sekali melakukan terapi agar tidak lupa berdoa sebelum makan. Oleh karena itu saya membiasakan diri menutup mata depan makanan beberapa saat kemudian berdoa atas karunia makanan yang diberikan tuhan kepada kita. Sampai ada teman yang bertanya:

"Kamu pindah agama? Kok posisi berdoanya seperti itu?"

Yaelah brooo!!! Bebas kali mau gimana gimana juga posisi berdoa.

Well, kebiasaan buruk yang saya punya sekarang totally harus saya ubah. Setelah menikah saya mencoba memperbaiki hal-hal buruk yang saya punyai. Sekarang jika hal buruk saya tetap lakukan, bukan saya saja yang akan merasakannya. AST pun akan merasakan dampak atas kebiasaan buruk saya.

Sebelum menikah saya berjanji kepada AST akan melakukan seluruh pekerjaan rumah kecuali 1 hal……… menyetrika baju… bukan saya ga mau, tapi emang saya ga bisa.

Bagaimana dengan pekerjaan yang memerlukan skill tertentu seperti memasak? Saya sih usahakan melakukannya. Dalam agama yang saya pelajari, bahwasanya pekerjaan rumah itu KEWAJIBAN SUAMI. Ada yang keberatan dengan pemahaman saya bahwa semua pekerjaan rumah adalah kewajiban lelaki? Saya ga peduli!

Di awalnya aku bilang ke AST akan melakukan semua pekerjaan rumah, dan AST saat itu mengiyakan pernyataan saya. Namun dalam kenyataanya AST membukakan mata saya, bahwa tidak seharusnya ada pernyataan kamu mengerjakan ini dan aku mengerjakan ini.

Iyah AST membukakan mata bahwa pekerjaan rumah dan tetek bengek masalah keluarga adalah tanggung jawab bersama. Memasak atau mengepel atau lainnya adalah TEAMWORK. Yah benar kita lakukan bersama, kita saling membantu dalam segala hal. Bukankah kebahagiaan juga kita nikmati bersama. Menikah membuat kita belajar bertanggung jawab bukan membuat kita melempar tanggung jawab

Jadi jika ada suami yang maunya diurusin segala halnya, mending jangan cari istri deh, mending cari ajah pembantu rumah tangga. Atau kalau ada istri yang cuma ngarep suaminya ngehasilin uang banyak untuk biayain gaya hidupnya sementara sendirinya ga mau bantu, mending jangan cari suami udah jadi simpanan ajah sih.

Oke ga?

JG


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Our Wedding Video

on
Saturday, September 7, 2013
THE VIDEO IS FINALLY UP! HURAY!

Jadi ya di mana-mana video wedding jadinya sekitar 3 bulan. Tapi berkat maksa nego si ayah, akhirnya jadi dalam waktu seminggu aja. YEYEYE!

Ini bukan video wedding dokumentasi, ini video super highlight jadi cuma sepanjang beberapa menit aja. Tujuannya biar orang yang nggak bisa dateng bisa cepet-cepet liat. Masa nunggu 3 bulan kan keburu basi ya.

Hasil videonya saya dan JG suka suka suka banget banget banget, terus jadi guilty karena nawar harganya agak kurang ajar plus minta jadi cepet. HAHAHAHAHAHAHA.

production : defamous video indonesia
contact didik kurniawan : phone/whatsapp/line 081322911125
visit facebook : defamous video
email: nurani_advis@yahoo.com / didik.defamous@gmail.com



THANK YOU SO MUCH DEFAMOUS!
You guys made our wedding day more meaningful. *tears*


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Cerita Hari H

on
Tuesday, September 3, 2013
So I was freaking out only about an hour before the wedding.

Pertama karena JG gila kayanya dari rumah perginya setengah 7, acara setengah 8. Pake motor aja nyampenya sejam setengah. Ditambah ibu pake ikut-ikutan ngomong JG ke mana ke mana ke mana kenapa telat kenapa telat kenapa telat. MANA AKU TAU. -_____-

Kedua karena tukang tenda inisiatifnya luar biasa ya pasang pita ke kursi warna HIJAU MUDA. Semua serba pink kecuali pita kursi. Katanya biar match sama undangan ada hijaunya. Undangan saya warnanya turquoise-pink, bukan hijau muda wtf. Sambil dirias itu saya jejeritan minta pita dilepas padahal ngeliat aja nggak tapi udah pasti nggak matching dong ya kan.

ibu ke saya: eh mbak ko mas-masnya pasang pita kursi hijau muda ya?
saya *sambil dirias*: HIJAAUUU? BUKAAAA!
ibu: tapi bagus ko, liat aja dulu.
saya: BUKAAAAAAA!!!
wed 1 photo weddinginvitation_zpsff5c3c72.jpg
undangannya
Mau bagus mau apapun tapi nggak mau ada warna hijau. Tendanya udah saya suka banget warnanya, shocking pink, pink, dan salem. MASA KURSINYA HIJAU. -______- Akhirnya pita hijau dilepas dan diganti ungu. Masih matchinglah ungu-pink mah ya.

Udah gitu manyun. Bad mood. Mana make upnya nggak suka tapi periasnya pede abis muji-muji diri sendiri dengan bilang "ih ya ampun keren gini ya jadinya". -______- 

Soal make up ini salonnya salon langganan saya sejak dulu kala, tiap ada acara besar yang make up-in ibu yang punya salon. Tapi karena saya pake wedding dress dan bukannya kebaya, ibunya nggak pede katanya kalau make up buat non kebaya. Jadi dilimpahkan ke anaknya. Anaknya ini oke ya, masih muda dan punya salon+tempat spa yang lumayan rame. Tapi nggak suka make upnya. Mau sama ibunya aja nanti lagi. Tapi nanti lagi nggak nikah lagi wtf.

Saya pengen banget ngapus eyeliner bawah dan pake sendiri tapi doi ngikut-ngikutin saya terus. :"| Akhirnya terpaksa keluar pas udah dipanggil dengan make up itu. Begitu akad selesai, salam-salaman, langsung lari ke dalem rumah, apus dan pake sendiri. Jadi pas siangnya ke panti jompo, make upnya udah diedit sama saya sendiri. Sebel kan soalnya ya mana udah bayar foto dan video mahal-mahal. :|

Tapi pas keluar ngeliat JG pake jas abu sama dasi kupu-kupu pink dan bawa hand bouquet langsung cerah ceria hampir ke cekikikan.*cemen* Lupa deh tadi marah-marah kenapa. Hand bouquetnya sesuai yang saya mau. Dan anehnya nggak deg-degan sama sekali loh. Dari awal keluar rumah, khotbah nikah, sampai akad, nggak deg-degan atau tegang sedikitpun. JG juga katanya sama. Jadi abis akad:

JG: Eh udah ya gini doang?
Saya: iya gini doang.

Asli nggak berasa apa-apa. Ya begitu aja. Sekarang jadi bingung, ko akad nikah cuma gitu doang. Kalau dateng ke akad nikah orang kan kesannya suka terharu sendiri gitu ya. Tapi giliran diri sendiri malah biasa aja. Jadi ternyata selama ini orang pacaran cuma dibatasi ayahnya salaman sama cowoknya dan bilang dua kalimat ijab kabul. Simpel abis. Terbukti nyiapin nikah ribet itu sebenernya ribet nyiapin resepsinya kan. NIKAH GIH. HAHAHAHAHA. 
wed 2 photo bayuvani_zpsddf4d4fa.jpg
photoshop-ed my eyes wtf
wed 3 photo granny_zps18f6adf7.jpg
with JG's granny
wed 5 photo parents_zps10d89856.jpg
parents!
 photo sis_zpsc221cd88.jpg
sis and her bf.
wed 4 photo jompo_zps51e4eab3.jpg
di panti jompo
Entah apa yang terjadi sama iPhone ya kenapa fotonya jelek-jelek banget gitu. Biar ah. Fotonya udah dikasih sama fotografer ko tapi di rumah. Jadi nanti aja ya.

Jadi ya udah. Tau-tau sekarang udah nikah. Bener-bener nggak ada bedanya kecuali jadi serumah sama JG. Nggak ada yang berubah sama sekali deh. :) Terus seneng banget dapet hadiah banyak buat isi dapur. Soal hadiah ini dibikin postingan sendiri deh ya.

Nanti lanjut lagi ya. Ngantuk.

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Our Wedding, Our Dream :)

on
Thursday, August 29, 2013
---ternyata masih sempet nulis. lol. postingan penutup sebenernya posting yang sebelum ini. dibaca ya!---

Semua orang punya cita-cita masing-masing ya akan seperti apa hari pernikahan mereka. Apalagi cewek-cewek, banyak banget yang ingin jadi princess sehari. Nggak salah, tapi saya juga punya pernikahan impian saya sendiri.

Sayangnya, pernikahan impian ini nggak cocok sama ekspektasi banyak orang. Ini bikin capek, capek karena harus menjelaskan berulang kali. Apalagi ayah saya temennya banyak sekali. Ibu saya juga. Mereka berdua orang-orang yang aktif di mana-mana. Pertanyaan semua orang sama: "Ayah kan temennya banyak. Ko nikah nggak undang-undang sih! Aneh!" *dikata negara, punya undang-undang* -______-

Dulu sekali waktu ayah masih ngotot ingin nikahin saya di gedung, ayah dan ibu udah punya list undangan. SERIBU DELAPAN RATUS undangan aja. Dikali dua jadi 3600 orang. Itu baru keluarga dan teman ayahibu. Mikirin akan ketemu minimal 3600 orang dalam empat jam resepsi belum apa-apa udah bikin saya stres.

Waktu ayahibu setuju untuk nikah di rumah, mereka siap dengan segala risikonya. Termasuk menjelaskan pada semua orang bahwa nikahan saya ini "beda".

"Maaf sekali ini pernikahannya tidak lazim, tapi konsep seperti ini permintaan anak saya sendiri," ayah selalu bilang begitu. Pada tetangga, pada semua orang yang bertanya.

Ini lama-lama bikin saya kesal. Kenapa pada pengen banget sih diundang? T_____T Selain keluarga, JG dan keluarga, saya merasa tidak didukung siapa-siapa dengan konsep ini. Padahal ini cita-cita saya dan JG sejak awal pacaran.

Sindiran muncul luar biasa banyak gara-gara tidak diundang. Gara-gara mempertanyakan kenapa menikah tapi nggak resepsi. Di lingkungan saya dan JG memang semua yang menikah PASTI resepsi.Pokonya saya dan JG merasa jadi orang aneh sedunia cuma gara-gara nikah ingin akad doang. :"|

Sampai tadi sore.

Tadi sore di rumah saya pengajian. Syukuran sih tepatnya. Nggak ngaji tapi ada tausyiah dari ustad, kata ustad konotasinya negatif gini ya. Tapi ini ustadnya ustad pinter ko, doktor hukum dari Unpad. Dua kalimat pertama dia bikin saya terharu.

Saya bukan perempuan solehah, berjilbab pun tidak. Jauh sepertinya dari solehah *sadar diri*. Tapi pak ustad bilang, dia baru saja googling tentang tata cara dan konsep pernikahan.

"Konsep pernikahan yang disebut tidak lazim ini menurut saya syar'i sekali. Ada sepuluh hal yang menunjukkan pernikahan sesuai agama dan menurut saya konsep seperti ini yang paling sesuai, semoga bisa jadi contoh untuk orang lain," katanya.

*tears*

Saya lupa sepuluh hal itu tapi di antaranya adalah syukuran, bukan resepsi karena katanya resepsi itu bagian dari bermewah-mewah. Undangan semurah mungkin karena akan jadi sampah, undangan saya kurang murah apa, cuma kartu aja. Tidak ada hiburan, karena entahlah pokonya menurut doi nggak boleh ada hiburan macam live band gitu. Saya melirik beberapa ibu yang sudah menikahkan anaknya dengan resepsi besar-besaran. Juga yang melulu bertanya kenapa tidak resepsi. Apa mereka tersindir?

Tujuh bulan sejak lamaran saya dan JG berkutat menjelaskan pada semua orang dan ternyata jawabannya sebenarnya gampang. Jawaban ini saya yakin tidak akan dibantah orang: nikah sesuai syariat agama. *kan kalau gue yang ngomong kaya becanda*

Tapi memang saya tidak ada tujuan atau terpikir soal agama *musyrik lol*. Saya mau akad karena saya stres harus berdiri di depan 3600 orang. Saya mau undangan saya sederhana karena biar murah aja ya kan. Saya nggak mau pake live band karena ngapain juga sik nikahnya kan akad doang.

Setelah mendengar penjelasan pak ustad itu akhirnya saya jadi sedikit tenang. Bahwa saya dan JG sama sekali tidak aneh. Bahwa pilihan dan cita-cita kita berdua ini akhirnya dianggap tepat oleh orang lain. :'))

Okaylah, tidur dulu. Need my beauty sleep karena anehnya sampai sekarang saya nggak nervous sama sekali. Hahaha! Jangan lupa baca postingan yang sebelum ini ya!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Tomorrow is D Day!



H-1 broooo! Hahaha..

Anggap nanti malem saya sibuk banget dan nggak bisa update, jadi ini postingan terakhir sebelum blog ini launching. Jadi biar oke, flashback dikit aja kali ya.

Jadian: 9 Oktober 2011 alias 9 10 11 --> sok tanggal cantik. HAHAHAHAHA.

Setelah beberapa bulan pacaran masa yah waktu itu pede banget mau nikah. Kalau dipikir-pikir sekarang, waktu itu rasanya nggak pas banget. Saya sibuk luar biasa. JG juga kerjanya masih engineer stand by. Mau nikah gimana urusannya sih?

Tapi karena dulu saya dan JG ngotot ingin nikah (bisa-bisanya ngotot ya) akhirnya pertemuan dua keluarga.

Pertemuan keluarga pertama: Februari 2012. --> tanggalnya lupa. Saya ada catetannya di iPad tapi appnya error. -______-

Excited ya abis itu. Tapi kemudian nggak nemu kesepakatan sama ayah. Saya maunya nikah sederhana, ayah maunya nikah gede-gedean di gedung. Terus aja berantem berdua. Akhirnya kata ibu: "udalah mbak santai aja, main aja dulu, kerja aja dulu, nonton konser aja sepuasnya dulu, jalan-jalan dulu. Nikahnya nanti aja."

IDE BAGUS. HAHAHAHAHAHA. Daripada give up sama cita-cita nikah sederhana, mending nggak jadi aja! :)))) Lagian biar apa juga nikah cepet-cepet, nanti punya anak nggak bisa nonton konser, nggak bisa seenaknya weekend ke singapur. Hah! Okelah saya sama JG akhirnya milih mending main dan belanja aja dulu. Sampai lupa mau nikah. Sampai November 2012 JG dapet kerjaan yang gajinya lebih kecil tapi kerjanya office hour.

Kerja office hour cocok buat orang nikah, tapi gaji lebih kecil jadi susah buat menuhin kebutuhan main kita. Akhirnya kita berdua stop. JG pindah kerja, mulai simpen uang, berhenti main dan belanja. *tapi akhir tahun ke vietnam* :)))))

Nggak deng. Ke Vietnam itu udah rencana jauh-jauh hari sebelum pindah kerja. Dan sampai sekarang itu jadi liburan terakhir. Karena apa? Karena di bulan Maret 2013, ayah akhirnya nanya JG untuk lamaran. Lamaran deh.

Lamaran: 31 Maret 2013 alias 31 03 13 --> kali ini nggak sok tanggal cantik. emang pasnya tanggal segitu. :p

Mulai siapin nikah. Dua bulan setelah lamaran, saya ditawari posisi bagus di kantor saya sekarang. Pas interview pertanyaan utama saya adalah hal-hal yang saya khawatirkan di kantor lama: apakah kerja office hour? YA. apakah harus kerja sabtu-minggu? TIDAK. Apakah saya stand by 24 jam? TIDAK. Horeeee! Pindah!

This is perfect. Gaji JG emang mengecil jauh tapi gaji saya jadi dua kali lipat dan yang terpenting berdua kerjanya OFFICE HOUR! Waktu tersisa banyak banget untuk godok persiapan nikah. *serem amat bawa godok* *itu goloookkk* *ohiyaaa* *dibacok*

Sampai akhir H-6, pulang ke Bandung. Ketemu masih juga tiap hari karena banyak bener yang harus diurusin berdua karena cuma kita berdua yang tau harus gimana. Akhirnya cuma nggak ketemunya hari ini, H-1. :')))))

Sekarang saya sadar banget bahwa jalannya memang ini yang terbaik. Gila ya kalau tahun lalu saya siapin nikah, konser itu bisa sebulan sekali, malah pernah sebulan empat kali alias seminggu sekali! Gimana caranya saya kerja kaya gitu sambil siapin nikah. Belum lagi JG yang engineer stand by 24 jam, gimana caranya ngomongin nikah.

God works in mysterious way. :)

Dan anyway sekali lagi, mohon maaf sekali sama temen-temen saya dan JG yang jadinya nggak diundang besok. Bukan kurang dekat atau kurang perhatian tapi saya benar-benar hanya mengundang orang yang sangat sangat sangat dekat dengan saya secara fisik maupun emosional.

Karena nggak bisa ngundang itu saya hanya punya opsi untuk diam dan merahasiakan tanggal menikah. Nggak enak kan ya ditanya kapan nikah terus dijawab terus ujung-ujungnya harus menjelaskan kenapa nggak bisa undang-undang. Pasti harus menjelaskan ratusan kali. Jadi yang terbaik memang diam. Maka dari itu juga bikin blog biar segala sesuatunya terekam. Kalau ada yang nanya di kemudian hari, tinggal suruh baca blog ini. :p

Mohon doanya agar segala sesuatunya lancar besok dan lancar seumur hidup. Thank you so much!

The Wedding: 30 08 13 --> nggak ada cantik-cantiknya sama sekali tapi karena lucky day di jawa-sunda-cina jadi ya udah.

Wish us all luck and all the best!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Tentang Make Up Pangling

on
Wednesday, August 28, 2013
Pangling itu bahasa sunda ya? Bahasa jawanya apa? Manglingi?

Kenapa kalau orang nikah harus pangling? Apakah ada asal usulnya atau tradisi atau mitosnya kalau orang nikah mukanya harus bikin pangling alias nggak dikenali?

Saya jadi kepikiran setelah ngobrol sama perias. Perias ini masih muda, umurnya 30 an. Awalnya karena saya keukeuh nggak mau pake bulu mata palsu dan cukur alis.

Pertama, dua hal itu dilarang agama *ceileh* dan terutama dilarang keras sama JG. -_______- Kedua, saya nggak suka bulu mata palsu, gengges to the max. Ketiga, alis saya udah botak maksimum ya jadi ga perlu dicukur. Ke kantor aja nggak pede kalau nggak gambar alis saking botaknya, kan takut tambah botak. -_______-

"Bulu mata mah nggak apa-apa kalau nggak pake. Alis mah dirapiin dikit aja, nanti nggak pangling atuh kalau nggak cukur alis," kata teteh periasnya gitu.

Dan saya udah di ujung tenggorokan banget pengen nanya: "EMANG KENAPA HARUS PANGLING?" Tapi nggak tega takut dia nggak bisa jawab. HAHAHAHAHAHA.

Akhirnya tadi pas perawatan (sauna, lulur, ratus, facial, dll) saya dikerik rambut di seluruh muka. Dan alis beneran dirapiin aja, masih bisalah keluar rumah nggak gambar alis. Nggak dibikin setengah kaya pengantin-pengantin lain. LOL. Peer banget pasti ya alis setengah itu. :))))

Mungkin ya, MUNGKIN INI MAH saya ngarang, make up harus bikin pangling pas nikah itu karena nikah adalah event spesial? Karena sekali seumur hidup jadi muka harus manglingi dan beda? *tetep nggak ngerti euy* hahahaha. Kenapa atulah?

Maksudnya ya justru karena ini event penting buat saya, ya jadi saya mau jadi diri saya sendiri. Diri saya nggak suka bulu mata ya saya nggak pake. Diri saya nggak suka lipstik merah ya saya nggak pake. Saya nggak mau di event spesial sekali seumur hidup ini malah nggak jadi diri sendiri. Ya dong?

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!