Image Slider

Campaign Efektif Soeharto di Lagu "Aku Anak Sehat"

on
Tuesday, November 26, 2013

Jadi udah beberapa hari ini saya sama JG tetiba nyanyi lagu "Aku Anak Sehat" terus. Nggak mungkinlah ada yang nggak tahu lagu ini. Secara kayanya nempel banget di kepala dari waktu bayi.

Nah, setelah dinyanyikan berulang-ulang saya sama JG baru sadar kalau lagu ini mem-brainwash dan merupakan kempen (iya, campaign) yang luar biasa sekali dari pemerintah saat itu! Entah emang campaign-nya Soeharto apa Ibu Tien apa menterinya ya pokonya lagu itu luar biasa!

Ini liriknya:

Aku anak sehat, tubuhku kuat
Karena ibuku rajin dan cermat
Selama aku bayi, selalu diberi ASI
Makanan bergizi dan imunisasi


Berat badanku ditimbang selalu
Posyandu menunggu setiap waktu
Bila aku diare, ibu telah waspada
Pertolongan oralit, selalu siap sedia


Analisis saya sama JG yang pertama (IYA EMANG KAMI ADALAH MAKHLUK PENGANALISIS SEGALA *sewot sendiri*) adalah waktu itu orang Indonesia masih katro-katro banget. Ibu-ibu mungkin belum sadar akan pentingnya mengurus bayi dengan benar, bersih, dan sehat. Jadi banyak banget kali ya bayi meninggal karena diare. Jadi emak-emaknya harus di-brainwash dengan lagu yang katanya selalu diputar di TVRI setiap malem. Saya sama JG nggak inget, masih terlalu kecil kayanya waktu itu.

Selain itu, dari diskusi singkat saya dan JG jadi sadar hal keren dalam satu lagu yang cuma dua bait itu, yaitu ada beberapa campaign sekaligus! Brilian sekali! XD Mari kita simak.

Aku anak sehat, tubuhku kuat -- Ibu-ibu kalau punya anak harus dijaga kesehatannya yaaa.
Karena ibuku rajin dan cermat -- Ibu-ibu kalau punya anak harus rajin dan cermat yaaa
Selama aku bayi, selalu diberi ASI -- CAMPAIGN PERTAMA: ASI
Makanan bergizi dan imunisasi -- CAMPAIGN KEDUA DAN KETIGA: Makanan 4 sehat 5 sempurna dan harus imunisasi

Berat badanku ditimbang selalu -- Biar sadar anaknya berkembang apa nggak
Posyandu menunggu setiap waktu -- CAMPAIGN KEEMPAT: Posyandu
Bila aku diare, ibu telah waspada -- Ini sebagai peringatan kalau diare itu mematikan jadi emaknya harus waspada
Pertolongan oralit, selalu siap sedia -- CAMPAIGN KELIMA: Minum oralit

Gila ih keren banget ya dalam satu lagu ada banyak hal yang bisa mendukung program pemerintah. Inget nggak sih waktu SD tuh sampai di sekolah aja diajarin kan tentang 4 sehat 5 sempurna, terus tentang oralit juga. Saya inget banget pernah salah waktu ulangan umum SD gara-gara pertanyaan yang ada hubungannya dengan oralit.

Pertanyaan: Jika tidak ada oralit, apa minuman pengganti untuk menggantikan cairan tubuh? Sebutkan bahan-bahan untuk membuatnya?

Jawaban saya: LGG (larutan gula garam) --> benar. Bahan-bahan membuatnya: Gula dan garam --> SALAH.

Begitu hasil ulangan dibagiin saya mewek nilanya nggak jadi 10 gara-gara salah itu doang satu. Bahannya harusnya ada AIR-nya dong, gimana minumnya kalau nggak pake air. -______- Waktu SD kan saya ambisius banget harus nilai 10 dan ranking 1 terus jadi sedih banget kalau salah satu. -______-

Dan soal posyandu juga sampai sekarang masih berjalan kan yah. Ini keren banget! Bayangkan ibu-ibu di kampung yang nggak ngerti apa-apa terus hamil. Mana tau kalau harus sebulan sekali periksa ke dokter apalagi kepikiran makan sehat ya kan. Posyandu ini pasti ngebantu banget. Dulu saya inget ada kartunya buat ibu hamil sama buat balita. Kartu dilipet empat isinya grafik berat badan, di baliknya ada keterangan tentang 4 sehat 5 sempurna. Semoga yang dulu punya ide posyandu masuk surga. :')))

Demikian.

PS: Itu video klipnya yah, keren banget di akhirnya ada Rafika Duri ngomong: "Anak saya tumbuh sehat berkat makanan bergizi dan imunisasi" XDDDD


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

JG & AST vs Life #1

on
Monday, November 25, 2013
let's have a good life :)


Selamat datang di segmen terbaru blog JG & AST, yaitu "JG & AST vs Life"! Wohooo! *throw confetti*

Jadi kalau lagi ada kesulitan atau iri sama orang lain yang baru beli rumah mewah JG selalu bilang: "yah, life.." Tapi uniknya *alah* kalimat itu juga disebut kalau kita mendengar orang lain yang hidupnya kurang beruntung. Jadi kalau kasian sama cerita hidup orang, JG juga biasanya bilang "yah, life..".

Nah terus karena saya sama JG anaknya suka ngobrol sama orang, jadi banyak tau cerita orang lain. Terutama supir taksi dan supir travel. Cerita mereka banyak ajaibnya, bahkan banyak yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya ada orang yang ngejalanin hidup kaya gitu.

Dua tahun di Jakarta dan kemana-mana naik taksi, saya udah denger ratusan supir taksi cerita kisah hidup mereka. Sayang dari dulu nggak pernah ditulis. -_____- Jadi mulai sekarang mau ditulis. Banyak yang inspiring, banyak yang bikin mangap, banyak yang sulit dipercaya.

Cerita pertama datang dari supir X-Trans, Kamis 7 November kemarin (udah lama jis, masa baru sempet nulis sekarang -____-). Saya dan JG belum booking dan yang tersisa cuma kursi di depan, akhirnya duduk di depan berdua. Kalau udah duduk di depan gini, sadar nggak sadar pasti ngobrol sama supirnya.

Waktu itu saya dan JG pulang jam 8 malem. Supirnya mukanya kaya bukan orang Bandung, kaya agak Jawa gitu. Umurnya late 40-an, rambut di kepalanya udah tipis jadi dibotakin. Badannya tegap dan item kebakar matahari. Garis mukanya ramah makanya ingin ngobrol. Hahahaha. Supir X-Trans dari Pancoran biasanya memang orang Bandung. Tapi karena mukanya nggak Sunda jadi bingung mau nanyanya bahasa Sunda atau bahasa Indonesia. *penting*

Saya: "Bapak orang Bandung bukan?"

Supir: "Bukan"

Saya: "Oh..." *jadi agak sungkan* "Tapi rumahnya di Bandung?"

Supir: "Iya saya dari tahun 90 udah di Bandung. Saya orang Solo, istri saya juga orang Jawa tapi udah lahir dan besar di Bandung jadi ya orang Jawa bukan, orang Bandung juga bukan"

Saya: "Hehehehe. Iya pak, pasti istrinya bahasa Sunda nggak lancar, bahasa Jawa juga nggak lancar ya"

Dan begitulah cerita dimulai. Kalau pertama kali ngobrol sama supir X-Trans, pertanyaan pertama saya pasti "rumahnya di mana" kedua "udah kerja berapa lama, sebelumnya kerja di mana". Pertanyaan pertama "rumah di mana" itu bisa jadi obrolan panjang karena mungkin saya kenal daerahnya. Pertanyaan kedua "udah kerja berapa lama, sebelumnya kerja di mana" ya karena kepo aja. -______-

Ah anjir, jawaban "sebelumnya kerja di mana" sayanya lupa. *fail* Tapi yang menarik adalah ketika saya nanya, di waktu luang kalau nggak nyetir, dia ngapain. Jadi fyi, supir X-Trans itu sistemnya 1-1. 1 hari kerja, 1 hari libur. Jadi selang sehari libur. Saya nanya kalau lagi libur biasanya ngapain. *kepo sedunia* JAWABANNYA ADALAH. JENG JENG:

Supir: "Saya kerja di Prudential"

Saya dan JG: "HAH?!!!" *menjaga jarak takut ditawarin asuransi wtf* "Aduh bapak nggak akan nawarin asuransi ke kita kan? Jadi agen, pak?"

Supir: *ketawa* "Iya, lumayan, sebulan soalnya saya kena terus target, jadi uangnya ada."

Saya sama JG bengong aja. Speechless ih! Kerja jadi agen asuransi kan susah nyari klien. Terus harus nyetir Jakarta-Bandung-Jakarta setiap dua hari. Kalau capek gimana!

Supir: "Nggak capek, udah biasa"

Iya sih, kelihatannya juga fit kok bapaknya. Bukan yang kelihatan capek atau ngantuk. Tapi tetep aja. Ini adalah supir pertama yang saya dan JG ajak ngobrol dan punya sampingan kerjaan yang nggak ada hubungannya sama mobil-mobilan atau nyetir-nyetiran. Saya sama JG masih bengong, dia lanjut cerita sendiri.

Supir: "Saya juga suka dapet proyekan. Ngecek kondisi tanah buat bangunan."

Saya makin bengong. JG mulai tertarik dan nanya lebih lanjut maksudnya apa, caranya gimana.

Supir: "Iya jadi setiap mau ada bangunan baru itu kita cek kondisi tanahnya, kekerasannya gimana, bla bla bla bla bla *saya nggak tertarik jadi nggak dengerin lol* Jadi setiap 50 meter kita bikin 2 hole, satu pake bor tangan satu pake bor mesin. Diambil sampel tanahnya, dibawa ke lab buat diperiksa, kuat nggak tanah di situ buat jadi bangunan sekian lantai."

Saya makin bengong. Pertama nggak ngerti dia banyak ngomong istilah teknis. Kedua ya Allah, ini bapak hardworking banget. T_____T JG dan bapak supir terus aja ngobrol soal tanah, apalagi ternyata bapak ini sering ngecek kondisi tanah buat tower BTS, kerjaannya JG banget dulu ya kan. Ngobrollah mereka tentang cek tanah pertanahan buat bikin tower.

Supir: "Parkiran PVJ itu saya juga yang cek loh tanahnya. Weekend ini mau ngecek buat wisma mahasiswa Minang."

Oh bapak inspiring sekali. Mari kita lanjutkan kepo tentang kehidupanmu, pak.

JG: "Wah bapak nyari uang terus nih, pasti mau naik haji ya pak? Hahaha"

Supir: "Yah buat istri sama anak-anak"

JG: "Anaknya berapa emang pak?"

Supir: "Anak saya dua, tapi ibunya juga dua. Hahahahaha"

Saya bengong. JG menguasai suasana: "Wah hebat nih bapak, anaknya dua-duanya berarti sulung semua ya pak? HAHAHAHAHA"

-___________________________-

Ternyata bapak supir itu istrinya beneran dua. *flat face* Makanya dia harus kerja keras buat menghidupi istri-istrinya. GOD! Ya nggak apa-apa sih. Mending kan ya tanggung jawab.

Dari situ saya tidur karena udah ngantuk banget. Padahal masih kepo apakah istri pertamanya tau kalau dia punya istri kedua. *alah jadi rumpi*

Semoga cerita ini bisa menginspirasi yah. Hahaha.

See you!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Tentang LDR Pasca Menikah

on
Tuesday, November 5, 2013
Kenapa ada orang nikah tapi masih LDR? Terus ngapain nikah kalau nggak bisa sama-sama?

Berawal dari temennya temen saya, yang mengeluhkan sedih karena suaminya sakit tapi dia nggak bisa temenin. Karena LDR. Kasian, tapi kenapa atuh LDR segala? Kenapa menyerah sama keadaan yang terpisah terus nggak diusahain untuk tinggal sama-sama?

LDR pasca menikah itu alesannya biasanya banyak. Satu, karena pekerjaan. Seperti mantan saya dan mantannya JG. -_______- Istrinya kerja di Karawang suaminya kerja di Bandung. Dua, istrinya nggak kerja dan ikut orangtua di daerah asal, suaminya kerja di luar daerah asal. Tiga, suaminya lagi dinas sementara ke luar daerah.

Kalau udah ada anak masih lebih logis ya karena repot bingit harus bawa-bawa anak pindah rumah, apalagi anak udah sekolah, repot harus pindah sekolah. Tapi kalau belum ada anak mah saya nggak ngerti kenapa harus LDR segala? Kenapa sebagai istri nggak nunutur bujur suami? -______-

Demi masa depan katanya jadi bela-belain terpisah yang penting kerja. Masa depan yang mana? Toh kita hidup sekarang. Besok aja belum tentu kan, saya sih maunya ngabisin tiap waktu sama orang yang disayang. :3

Saya sama JG nyiapin masa depan kok. As in uang dan diskusi masalah ini itu. Tapi yang nggak bisa diulang itu waktu. Waktu yang dihabiskan sekarang berdua di umur segini saat masih muda, masih bisa bego-begoan sama-sama itu nggak akan terulang.

Makanya pas nikah yang dipikirin pertama adalah jam kerja. Saya pindah kerja ke pekerjaan yang office hour. JG pindah kerja ke pekerjaan yang nggak akan nuntut dia ke luar kota berbulan-bulan seperti sebelumnya. Biar apa? Biar sama-sama terus lah! Gaji JG padahal jadi lebih kecil banget berlipat-lipat di kerjaan yang ini, tapi emang kenapa! Uang dan rezeki itu usaha manusia, tapi yang namanya waktu kan nggak bisa diusahakan sendiri.

Lagian trauma pas pacaran ditinggal LDR sama JG 3 bulan gara-gara ada project di luar kota. Drama tiap malem. Saya sama JG bukan pasangan yang tahan LDR karena maunya sama-sama terus. Banyak banget momen ilang gara-gara LDR. Banyak hal yang nggak terwakili sama chat dan facetime. Banyak momen yang harus dilewati bareng, bukannya cuma diceritain lewat telepon. T_____T

Terus kalau sakit itu yang paling sedih. Sakit sendirian. Katanya punya istri katanya punya suami tapi nggak ada yang ngurusin. Kenapa atuh LDR segalaaaa? *kesel*

Dan satu hal, nikah tinggal bareng dan nikah nggak tinggal bareng itu beda banget! Kaya temen saya si @fakhmihebat yang pacaran 5 tahun. Nikah, tapi LDR, ketemu seminggu sekali doang. Setahun kemudian baru tinggal serumah, barulah dia bilang: "gue kaya baru nikah sekarang loh!"

Nah! Memang! Padahal dia pacarannya 5 tahun loh! Kurang kenal satu sama lain gimana. Kurang tau apa soal satu sama lain. Tapi tetep beda. Nggak berasa nikahnya kalau belum serumah terus-terusan. Rewel-rewelnya istri baru akan kalian rasakan jadi berlipat ganda setelah tinggal serumah. Jelek-jeleknya suami juga makin keliatan. Muahahahaha. XD

Yang inspiratif dan mengharukan cerita LDR sih buat saya tetep Sinta Nurmansyah alias Sinta-nya Jojo @sisisinta. Dia pacaran LDR Indonesia-Prancis 4 tahun, ketemunya setahun sekali doang selama sebulan. 11 bulannya LDR lagi. LDR tapi pasangan ini sweet banget, mengusahakan banyak hal apalagi di hari spesial kaya ulang tahun atau anniversary. Cek aja cerita mereka di blognya Sinta (cari sendiri males googling hahahaha) Ketemu di tahun kelima, nikah. Sekarang? Tinggal di Prancis sama suaminya.

Itu kan intinya? Pacaran masih okelah LDR. Tapi kalau nikah? Masa nggak diperjuangkan sih biar bisa tinggal sama-sama? Jangan sampai nyesel di kemudian hari karena kehilangan banyak hal. Sekali lagi, uang bisa dicari, waktu dan kebersamaan hilang tak bisa terulang. *alah*

Jadi kalian masih LDR pasca nikah?

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!