Image Slider

When It's Only JG & AST #23 Edisi Troli

on
Monday, December 23, 2013
Saking bencinya typo saya cek kamus dululah apa bener 'trolley' itu bahasa Indonesianya 'troli' karena kok ya tulisannya nggak enak. -_____- *TERNYATA BENER KOK TROLI NULISNYA*

***

Saya sama JG itu terhitung jarang makan mie. Indomie dan sejenisnya karena nggak sehat wtf. Enaaakkk sih tau banget, tapi tiap hari masak makanan lainlah ngapain bikin mie gitu kan. Kalau belanja bulanan paling beli mie 4-5 bungkus buat berdua dan itu pun suka nggak habis di akhir bulan.

Nah kemarin mau belanja bulanan, di rumah lagi nyatet apa aja yang mau dibeli.

Me : "mie beli nggak mie?"

JG : "ah nggak usahlah masih ada" (masih ada dua bungkus di laci)


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #21 & #22 (Versi Menua Bersama)

on
Tuesday, December 17, 2013
Kenapa ya orang makin tua makin kehilangan konsentrasi. Ih plis banget kalau saya doang yang kehilangan konsentrasi sendirian mah nggak apa-apa ya bisa saling mengingatkan. Ini mah kehilangan konsentrasi berdua JG. Seperti dua kejadian dalam dua hari berturut-turut ini.

Minggu kemarin, saya janjian sama temen saya di PIM. Cuma makan sama kangen-kangenan doang. Pas jalan menuju parkiran ngelewat Watsons. Lagi diskon gede-gedean aja loh! Nggak mungkin nggak tergoda kan yah. Alesannya ke JG "sayang sabun kita abis loh" kemudian ngeloyor masuk Watsons.

HIHGILAAAADISKONNYAAAAA. Parah-parah gitu, sampai banyak yang buy 1 get 1 free. Tapi kan tujuannya beli sabun yah, fokus fokus cari sabun yang gede biar nggak cepet abis. Mata tertuju ke sampo merek Watsons, murah deh harganya (lupa berapa), isinya 1000 ml alias seliter aja. Awetnya pasti nggak ngerti lagi ya kan. Tapi kan sampo mah serem, takut rambut kenapa-kenapa sampai mata tertuju sama botol sampo raksasa warna putih. Ih si sabun susu kambiinngggg!


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #19 & #20

#19
Saya selalu pasang alarm jam setengah 5 subuh. Bangun, solat, tidur lagi. Lama-lama badan punya alarm sendiri. Sebelum setengah 5 selalu kebangun, bengong sebentar nunggu alarm bunyi, matiin, solat.

Sampai pagi itu, beberapa minggu lalu ...

Me: *bangun* *pengen pipis* *pipis* *wudhu* *solat*

JG: *tidur nyenyak*

Me: "sayang bangun sayang, sayang bangun sayang, sayang bangun sayang"


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #16 & #17

on
Monday, December 16, 2013
#16

JG udah beberapa hari nggak cukur jenggot. cukur kumis tapi jenggot dibiarkan liar.

Me : "sayang kamu kenapa ga cukur jenggot terus ih!"

JG: "biar sayang sengaja, nanti pasti temen-temen kamu bisik-bisik ngomongin aku: 'cha, laki lo mirip david beckham!'"

WTF.



LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Mengapa Membuat Rencana Kehidupan?

on
Thursday, December 12, 2013
Ini adalah lanjutan posting Ayo Bikin Rencana Kehidupan! Kalau ada yang nggak ngerti, mungkin harus baca dulu postingan awalnya. :)

***

Waktu saya dan JG memutuskan pake financial planner, di luar dugaan reaksi orang ternyata "keras" sekali. Satu sisi ada yang penasaran dan ingin tahu, mereka ikut belajar, ikut mendapat ilmu baru, ikut terbukakan. Sisi satunya sinis luar biasa. :)))

"IH NGAPAIN PAKE PLANNER REJEKI MAH UDAH ADA YANG NGATUR!" gitu deh rata-rata orang yang sinis. Ngomongnya nggak santai bro, jutek. Lah?


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Ayo Bikin Rencana Kehidupan!

Tulisan ini tidak disponsori siapapun. Kata JG, kami adalah agent of change. Kita semua adalah agen perubahan. Ayo berubah demi kehidupan, keluarga, dan generasi yang lebih baik!

Demi misi itu, saya mau sharing soal saya, JG, dan rencana kehidupan. Baca juga part keduanya Mengapa Membuat Rencana Kehidupan :)

***

Saya follow Ligwina Hananto @mrshananto dari sekitar tahun 2009-2010 awal. Ya sejak awal main Twitter lah. Sejak saat itu sampai sekarang mata saya terbukakan. Asalnya melek jadi melotot banget kalau ngomongin keuangan diri sendiri.




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Manusia Bukan Makhluk Sederhana

Jadi hari ini rencanannya mau nulis soal QM Financial, tapi tergerak untuk nulis hal remeh ini setelah beli bubur di kantin belakang kantor.

Di belakang kantor ada tukang bubur yang setiap pagi antriannya lumayan panjang. Sampai bisa kebagian dilayani kalau sedang beruntung paling menunggu dua orang, tapi kalau panjang, bisa menunggu 5-6 orang. Padahal tukang buburnya cuma satu orang, pakai gerobak kecil biasa, tapi buburnya enak dan bersih *info penting*.

Tadi antriannya lumayan, saya menunggu tukang buburnya meracik empat mangkuk sekaligus. Keempat mangkuk itu diawasi langsung oleh mata-mata calon pemiliknya yang berdiri berjajar di belakang sang tukang bubur.

Tukang bubur: *menuangkan bubur, merica, kaldu, kecap asin, tangan siap mengangkat kecap manis*

Pembeli 1: "Saya jangan pake kecap manis!"

Tukang bubur: *menuangkan kecap manis ke tiga mangkuk lain, kasih ayam, kasih cakue, tangan siap menaburkan seledri, bawang goreng, dan kacang kedelai*

Pembeli 2: "Jangan pake kacang!"

Pembeli 3 dan 4 seperti tidak mau kalah: "Saya jangan pake seledri sama bawang goreng!"

Pembeli 1: "Saya jangan pakai sambal!"

Pembeli 3: "Saya pakai sambal tapi disebar!"

Pembeli 4: "Saya sambalnya sedikit banget aja!"

Pembeli 1: " Saya nggak usah pake emping"

Pembeli 2: "Saya emping aja nggak usah pakai kerupuk!"

YASSALAM.

Untung tukang buburnya sigap dan sabar yah. Semua dilayani dengan sempurna. Saya yang stres denger mereka semua teriak setiap tukang buburnya mau ambil sesuatu. Sampai pada giliran saya, cuma ada satu mbak-mbak mau beli juga. Tapi dia pendiam alias cuma ngomong "pak, satu dibungkus". Entah dia memang suka semua elemen di bubur itu atau memang pendiam sampai malu ngomong sama tukang bubur kalau misalnya dia nggak suka seledri gitu. -_____-

Saya menyodorkan tupperware yang saya bawa dari rumah (ogah beli bubur pake tempat styrofoam).

Saya: "Jangan pake kacang sama emping ya pak"

YASSALAM LAGI. Dan kemudian jadi nggak enak hati sendiri karena saya sama aja sama orang-orang tadi yang mau beli bubur aja repot.

Iya sih emang hak saya juga mau pake kacang atau nggak. Sayang juga kalau saya nggak bilang terus nanti ujung-ujungnya kacang sama empingnya saya buang. Tapi satu hal yang bener-bener saya sadari adalah, manusia sama sekali bukan makhluk yang sederhana. Atau bisa dengan mudah menyederhanakan diri.

Karena beli bubur ini, perang karena perbedaan jadi kerasa wajar. Beli bubur aja segitu beda-bedanya ya kan, apalagi hal lain yang lebih penting buat kehidupan kaya agama atau negara gitu. Saya kebanyakan mikir dan orang-orang yang ribut itu kurang mikir kayanya. Kalau perang mempertahankan ideologi, makan bubur nggak pake kacang juga buat saya idelogi. *sigh* Kompleks banget ya manusia. -______-

Terus tentang manusia bukan makhluk sederhana dan kompleks ini juga terasa dari kalangan yang suka ngeluh pamer.

Mengeluhkan sesuatu sambil pamer. Sebelum beli bubur itu JG cerita, temennya ada yang mengeluhkan anaknya di group whatsapp. Kurang lebih ngeluh gini:

"Aduh gimana ya anakku lebih bisa bahasa Inggris, bahasa Indonesia-nya nggak lancar"

Dibalas teman-teman dengan pujian seperti yang diharapkan sang pengeluh pamer:

"Ih pinter banget anaknya" atau "ya nggak apa-apa dong kan bagus jagoan bahasa Inggris"

Dijawab lagi dengan ngeluh pamer lain: "tapi maunya bisa dong bahasa Indonesia, masa lebih lancar bahasa Inggris"

BAHAHAHAHAHAHA. Ketawa ajah. Lah itu anak yang ngajarin bahasa juga siapa ya kan. Emak bapaknya ya kan.

Versi lain dari ngeluh pamer:

Ngetweet: "Harus beli koper baru dan packing buat keliling Eropa dua minggu tapi males banget ya ampuunnnn" --> padahal kita tau persis doi super excited dan udah merencanakan perjalanan dari jauh-jauh hari.

Kenapa manusia segitu kompleksnya sampai harus dibikin kalimat pamer tapi ngeluh. Kenapa nggak dibagi dua aja? Ngeluh ya ngeluh, pamer ya pamer. Biar auranya jelas, ngeluh ya negatif, pamer ya positif. Misal mau pamer keliling Eropa, akan lebih menyenangkan membaca Tweet:

"Horeeee, siap pergi keliling Eropa. See you in 2 weeks, Jakarta" -- auranya positif ya kan. Yang baca juga seneng. Bahagia. Aman. Sentosa. \O/

Atau yang mau pamer anaknya jago bahasa Inggris:

"Anakku dong, baru tiga tahun bahasa Inggrisnya lancar banget! Bahasa Indonesia dia malah kurang bisa. Hahahaha," -- pamer, sombong ya kesannya? Tapi itu kan tujuannya?

Ribet ya jadi manusia? Beli bubur aja ribet apalagi ingin membanggakan anaknya yang jago bahasa Inggris. Sampai dipilih kalimat muter-muter biar tidak terkesan sombong. Sampai sebuah kalimat dibuat sedemikian rupa agar kesan "bangga" nya lebih tertangkap tipis dibandingkan keluhannya. Repot.

Udah ah kebanyakan mikir.

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Kenapa Bertahan di Jakarta?

on
Tuesday, December 10, 2013
Hola! Selamat datang di posting curhat lanjutan kemarin REPOTNYA TINGGAL DI JAKARTA. Yang belum baca, baca dulu ya! Bukannya maksa, tapi biar nyambung aja. Sip?

Posting kedua ini merupakan pertanyaan yang mungkin muncul setelah baca posting kemarin. Yaitu, kalau ribet banget tinggal di Jakarta terus kenapa bertahan? Kenapa bertahan di kota ini dengan rumah kontrakan mahal dan nggak ada mobil ayah yang bisa dipinjem?

Kalau waktu single ya, jawabannya gampang: "idih, mau kerja apa di Bandung? Mending di Jakarta aja, bebas, nggak harus pulang tepat waktu, pulang pagi pun nggak ada yang nyari"

Sekarang setelah nikah, ya masa mau pulang pagi nongkrong sama temen-temen kan nggak mungkin lagi ya. Lagian temen-temen nongkrong sampai paginya pun udah pada nikah semua. Mahahahahaha. Terus punya suami yang bisa menafkahi, kasarnya nggak kerja pun pasti bisa makan. Terus kenapa atuh masih bertahan kerja di Jakarta? Kenapa suami nggak pindah kerja ke Bandung aja terus tinggal di Bandung?

Kadang, kadang kata saya juga kalau lagi khilaf, pasti kepikiran sama JG. Pindah ke Bandung aja, rumah punya, rumah orangtua di Bandung, motor lebih bagus, mobil ada, dingin, damai, nggak khawatir sama apapun karena banyak keluarga. Tapi ujung-ujungnya kalau abis mikir gitu saya sama JG selalu: YAKIN MAU PINDAH KE BANDUNG?

Jawabannya nggak. :p

Belum tepatnya, mau sih tapi nggak sekarang. Mungkin nanti kalau udah jadi juragan kost-kostan di Bandung yang artinya saya sama JG sama-sama nggak perlu kerja. Kalau sekarang maunya di Jakarta aja. Nyari apa coba? Nyari pengalaman hidup. *sok iye*

Satu hal ya yang nggak akan pernah kalian pelajari kalau belum pernah tinggal jauh dari rumah orangtua: BAYAR TAGIHAN. Kalau di rumah orangtua, tagihan apa sih yang kalian bayar? Pulsa? Internet? Cemen. XD

Kalau tinggal sendiri (termasuk yang kost), "tagihan"-nya itu bayar kostan/kontrakan, bayar listrik, internet, pulsa, galon aqua, gas, ongkos ke Bandung, dan kebutuhan rumah tangga perintilan kaya alat mandi. Kata @mrshananto juga tiap orang itu harus terbiasa bayar lunas tagihan untuk belajar tanggung jawab (terutama tagihan kartu kredit :p). Jangan dikira mengurus tagihan itu gampang, lah yang simpel aja kaya aqua yah (sebut merek karena maunya aqua nggak mau merek lain lol) kok tiba-tiba ya udah abis lagi. Kaya baru kemarin beli kok sekarang udah beli lagi. Padahal sekali beli seharga sekali makan siang di kantor. *itungan*

Jadi tinggal jauh di rumah bikin saya belajar ngatur uang dengan lebih baik lagi. Kalau tinggal di rumah orangtua mah tinggal atur ongkos sama makan doang ya kan. Pas gajian ngasih deh ke ibu buat nambahin uang sehari-hari. Simpel yah hidupnya.

Yang kedua, yang bikin saya sama JG bertahan adalah, tau rasanya hidup susah dan nggak boleh manja.

Kaya saya bilang di postingan kemarin ya (baca dulu makanya ih!), di Jakarta ke mana-mana memaksimalkan diri naik motor. Iya abisan mau beli mobil tapi masih ditabung uangnya hehehehe (DOAKAN!). Bawa apapun sebisa mungkin naik motor. Nggak manja. Kalau di Bandung ya, dijamin mau belanja bulanan doang pasti pake mobil, tinggal duduk nyaman doang. Di Jakarta saya kalau belanja bulanan, JG bawa ransel kosong dan bawa tas belanja biar bawa di motornya nggak repot sama keresek banyak. Kami orang kreatif! Bahahahahha.

Kemudian yang paling penting sedunia adalah SAYA DAN JG MASAK SELALU SETIAP HARI. Udah cerita kan ya di postingan yang tentang setelah nikah saya jadi mau masak (baca dulu kalau belum baca!). Kebayang kalau saya tetep di Bandung, idih ngapain masak? Males banget. Kan ada ibu, ada mamah yang masakannya terenak di dunia. *alah* Yang satu ini selalu bikin saya sama JG terharu sendiri terutama kalau abis masak terus masakannya enak.

JG : "WIH ENAK BANGETTTT JAGOAN MASAKNYAAAA! ORGASMICCCC!"

Saya: "Coba kalau kita di Bandung ya, mana tau aku bisa masak gini. Mau masak juga males, mending minta mamah masakin"

Saya dan JG: *merenung*

lolol

Ya kurang lebih gitu.

Selain itu, tinggal di Jakarta bikin saya dan JG punya cita-cita yang lebih tinggi.

Contoh standar newlyweds yang asli Bandung dan tinggal di Bandung:

Nikah - nabung untuk beli rumah di kompleks baru deket rumah orangtua/mertua - punya rumah - punya anak - beli mobil - sekolahin anak di TK deket rumah - pulang sekolah anaknya diurus orangtua/mertua - anak masuk SD deket rumah atau jauhan dikit pake jemputan - dan seterusnya. Hidup aman damai tenteram sejahtera. Simpel yah?

SAYA SAMA JG NGGAK BISA GITU.

Nabung buat beli rumah lagi aja pusing banget ya karena udah ada cicilan rumah sama harus bayar kontrakan (tapi kan pengen rumah kedua :p). Nabungnya jadi buat beli mobil. Kalau tinggal di Bandung jamin deh nabung buat beli mobil nggak akan jadi prioritas karena bisa minjem mobil yang available di rumah aja, ngapain repot beli?

Kedua, kalau punya anak mikir dua kali kalau mau ditinggal sama baby sitter doang di rumah kalau sayanya kerja. Kata mamah takut disiksa atau diculik. -______- IYA SIH TAPI YA. Jadi option kalau punya anak adalah nyari daycare, karena harus bawa anak ke daycare jadi harus punya mobil dulu. *ribet*

Terus sekolah anak, di Jakarta pilihan sekolah banyak bangeeetttt! Di Bandung sekolah semahal-mahalnya berapa sih. SD swasta mentok Taruna Bakti, Darul Hikam, Pribadi, Mutiara Bunda? Apa lagi ya SD yang dianggap mahal di Bandung?

FYI yah, SD-SD itu rata-rata uang masuknya per 2013 itu 20-30juta aja loh ibu-ibuuuu. :)))))) Ya kalau nggak sanggup kan masih ada SD negeri bagusan dan "bergengsi" kaya Sabang, Banjarsari, dkk yah. Masuknya paling 10 jutaan kayanya yah. Kayanya, soalnya nggak browsing-browsing SD negeri euy. Hehehehe. Kalau nggak mau SD mahal-mahal juga tinggal masukin SD deket rumah, kitanya kerja, anak dijemput orangtua atau mertua ya kan?

Kalau di Jakarta? Nggak usah ngomongin Global Jaya yah daripada stres. Cikal deh yang kedua termahal setelah Global. Biaya masuk Cikal per 2013 adalah jeng jeng jeng 64 juta ajah. HAHAHAHAHAHA. ENAM PULUH EMPAT JUTA BUAT ANAK UMUR ENAM TAHUN SEKOLAH. Itu baru uang masuk, belum ini itunya. Tau dari mana harganya segitu? Diliatin sama financial planner-nya QM Financial yang punya daftar biaya masuk sekolah se-Jakarta. :)))))))))

Ya untuk ukuran sekarang sih tau diri aja ya, bikin plan dana pendidikan juga nggak dibikin pake biaya Global atau Cikal karena nggak akan nyampe tapi siapa tau pas saya punya anak nanti, kehidupan ekonomi udah jauh lebih baik dari sekarang dan anaknya bisa sekolah di Cikal? Aamiin.

Sadar nggak sadar, Jakarta bikin saya dan JG setting cita-cita jadi lebih tinggi. :)

APA LAGI YAAAA..

Pokonya intinya untuk sekarang saya sama JG nikmatin banget hidup di Jakarta. Belum give up dan ingin pindah ke Bandung. Karena dengan di Jakarta, kami berdua jadi tahu bahwa Bandung adalah kota yang sangat ngangenin dan bikin sakau kalau lama-lama nggak ke Bandung.

Suatu hari, suatu hari pasti saya dan JG pindah ke Bandung lagi. Tapi nggak sekarang. Nanti. Nanti entah kapan. Sekarang kami masih butuh banyak pengalaman untuk hidup yang lebih baik dan lebih kuat.

:)

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Repotnya Tinggal di Jakarta

on
Monday, December 9, 2013
WARNING: INI AKAN JADI POST YANG SANGAT PANJANG KARENA ISINYA CURHAT, PEMIRSA. Tapi kalau kalian pendatang di Jakarta, ini mungkin akan jadi ajang berbagi *alah* dan mungkin akan membuat kalian bersyukur tinggal jauh dari kampung halaman. Karena ada tulisan kedua tentang "KENAPA BERTAHAN DI JAKARTA". :)

***

Jadi ...

Kenapa bertahan di Jakarta wahai kalian orang-orang Bandung padahal Bandung sekarang kayanya enak banget ditinggalin karena kepemimpinan Ridwan Kamil? Kenapa nggak pindah ke Bandung aja daripada repot banget di Jakarta jauh dari orangtua? KENAPAAAAA?

Kadang-kadang kalau lagi khilaf dan putus asa yah, saya sama JG suka merenung meratapi nasib kenapa nggak pindah ke Bandung aja. Apalagi kalau merenungnya di Bandung, di rumah, di rumah yang nggak pake kipas angin pun tidur siangnya bisa selimutan, di rumah yang kalau nggak mandi dua hari pun nggak keringetan karena dingin, di rumah yang selalu ada orang untuk bangunin buat sarapan setiap pagi (baca: ibu dan mamah), di rumah yang segala jajanan enak lewat depan rumah, di rumah dengan segala fasilitasnya. *jadi mellow* T_____T

Tapi pikiran khilaf itu biasanya nggak bertahan lama. Karena apa? Karena hidup di Jakarta bikin saya dan JG jauh lebih kuat! Iya sih menghibur diri tapi beneran, tanpa pernah hidup jauh dari keluarga, kalian nggak akan pernah merasakan susahnya hidup. *alah*

Saya sama JG nggak punya siapa-siapa di Jakarta. Ada sih kakaknya ayah, tapi rumahnya jauh dan seumur hidup selalu ketemu cuma setahun sekali pas lebaran doang jadi sama sekali nggak deket alias awkward banget kalau ketemu. Jadi nggak pernah mikirin mereka untuk jadi option penolong dalam kondisi apapun di Jakarta. Apapun.

Jadi di Jakarta, saya sama JG berdua doang plis.

Yang jadi masalah utama tinggal jauh dari orangtua adalah mempertahankan gaya hidup. Orangtua saya dan JG memang bukan orangtua kaya raya yang gampangan ngasih anaknya rumah atau minimal mobil. Tapi seumur hidup tinggal di Bandung saya nggak pernah hidup susah. T_____T

Di Bandung ke mana-mana selalu pake mobil. Di rumah nggak punya motor karena siapa yang mau naik motor juga males ya kan anak ayah cewek semua. Zaman sekolah sih pake angkot karena saya anaknya emang nggak masalah pake angkot lagian sekolahnya deket juga. TK dan SD dianterjemput, SMP naik angkot, terjauh cuma SMA yang mana 40 menit nyampe dan dua tahun dianterjemput pacar di masa itu, Nggak pernah repot harus jalan kaki atau kekurangan ongkos atau harus irit nggak jajan demi ongkos. Les ini itu selalu dijemput.

Ke kampus juga naik angkot atau banyakan nebeng sama ayah pulang pergi, naik mobil, pake supir. Waktu kuliah itu saya udah bisa nyetir, punya SIM, ada mobil available di rumah tapi nggak berani bawa ke Jatinangor karena jalannya macet luar biasa dan banyak tanjakan. Dan kalau pake mobil nggak bisa turun di kemacetan lanjut jalan kaki sampai macetnya abis terus lanjut naik angkot lagi. Kalau pake mobil nggak bisa sambil belajar dadakan di angkot wtf. Saya SELALU belajar di angkot saking parnonya kalau mau ujian takut ada yang lupa wtf. Adik saya yang kedua mah pas kuliah bawa mobil ke kampus. Memang yah manusia dengan berbagai macam tipe. *ngelantur*

Weekend jalan-jalan pake mobil. Nggak perlu mikirin harus makan apa karena makan di rumah, yang dipikirin nongkrong cari wifi di mana wtf. Belanja-belanja sesuka hati. Sekarang?

Sekarang alhamdulillah yah punya kerjaan yang bagus, dalam artian kami berdua bekerja di perusahaan besar yang mampu ngasih THR, bonus, dan asuransi yang sangat sangat mencukupi. Tapi gaya hidup gimana!

Nyari kontrakan yang paling ribet. Ya Allah, kontrakan berbagai macam jenis yang dari yang sebulan sejuta sampai setahun 50juta juga ada. Bisa-bisa aja irit uang dan ngontrak di rumah yang sejuta sebulan tapi pasti rumahnya jelek, rumah lama, bekas orang lain, jelek. Kamar mandi udah keramiknya udah kuning-kuning. T_____T Nggak mau. Seumur hidup kost saya di Jakarta nggak pernah jelek. Pernah agak jelek sih sebulan 500ribu, tapi kamarnya guede banget ada kali 5x6 meter jadi nggak protes soalnya luaaaasss. Sisanya adalah kamar sempit 4x4 meteran seharga 900ribu sampai 1,3juta sebulan karena bangunannya baru dan bagus dan pake AC. Kasur juga nggak mau pake kasur bawaan kostnya karena geli takut bekas orang, jadi beli kasur sendiri. Ah heboh lah pokonya ya namanya orang seumur hidup nggak pernah jauh dari rumah.

Sekarang saya sama JG ngontrak di pinggir jalan raya ramai (bukan di gang), daerah Jakarta Barat yang masih dingin dan teduh karena hampir setiap tetangga jualan tanaman. Rumahnya enak sekali, bangunan baru dan yang punya rumah seleranya nggak jelek-jelek amat. Jadi kusen-kusennya bagus, sirkulasi udara bagus sampai sekarang nggak punya AC pun nggak pengap sama sekali! Tipikal rumah yang kalau di luar panas, di dalem tetep adem. Gentengnya mahal, kata Pak Haji yang punya rumah. Satu ruang tamu, satu kamar, satu ruang serbaguna (biasa dipake masak karena sebelah dapur), satu dapur sempit, satu kamar mandi, satu ruangan luas di atas, satu tempat jemuran di atas.

Rumah secimit gitu doang ngontraknya Rp 2,5 juta sebulan. *lap keringet*

Harga kontrakan ini menimbulkan pro kontra sekali yah karena rata-rata Rp 2,5 juta itu harusnya minimal udah dapet 2 kamar. Rata-rata orang bilang "ih mahal banget rumah segede gitu harusnya 1,5 juta juga dapet". IYA TAPI DI MANA? Temen saya aja dapet sama kaya rumah kontrakan saya gitu cuma SEJUTA aja sebulan. SEJUTA YAH TAPI DI KEBON JERUK WTF. Ada juga yang sejuta sebulan sama kaya rumah saya plus udah ada AC nya. TAPI DI KEBAYORAN LAMA WTF WTF. Asli di daerah saya mah yang di bawah 2 juta itu dapetnya lebih kecil lagi. Apalagi makin deket binus, 1,6juta itu sekamar kost sekotak doang woik! Boro-boro rumah. Mau rumah yang 1juta itu di gang. NGGAK MAU RUMAH DI GANG. Emang sih belum punya mobil tapi nggak mau aja rumah di gang. T_____T

Dan saya maunya rumahnya di sekitar kantor. Maksimal 10 menit lah naik angkot kalau ke kantor nggak dianter atau nggak dijemput. Saya nggak mau lebih dari 20 menit karena saya pasti stres menghadapi lalu lintas Jakarta. Apalagi angkotnya angkot 09 yang amit-amit terkenal seremnya ya kan. TANAH ABAAANNGGG BIN HAJI LULUUUNNGGG. >.< Saya nggak mau pergi ke kantor dan pulang dari kantor buang-buang waktu terus stres.

Terus saya nggak mau kalau rumahnya jelek. T_____T Jijik mikirin rumahnya bekas orang lain. T_____T Terus dihina-hina sama orang: "ih nggak punya rumah aja nggak mau hidup susah". EMANG NGGAK MAU HIDUP SUSAH. Ribet-ribet kerja kenapa saya harus hidup susaaahhhh?

Ya udah anggaplah 2,5 juta itu untuk bayar tidur lebih lama setiap pagi. Bangun setengah 7 masih sempet siapin bekal makan siang. Shalat magrib udah di rumah lagi. Kurang nyaman apa! :')

Tapi masalahnya JG punya cicilan rumah di Bandung yang sebulannya Rp 2,5 juta juga. MUAHAHAHHAHAHAHA. Sebulan yah buat urusan rumah-rumahan doang abis 5juta lol. *sok ketawa* Abis nggak punya option. Mau beli rumah di pinggiran Jakarta biar nggak ngontrak? Uwuwuwuuwuwuwuw, maacih. NGGAK MAU. Kecuali saya udah nggak kerja baru deh beli rumah di Bekasi atau Tangerang atau Bogor atau mana gitu biar aja JG yang ke kantor sendirian jauh-jauhan hahahaha. Saya nggak mau pulang pergi kerja abis 2 jam di jalan. Sejam aja nggak mau. Kalau dari dulu saya ikutan macet-macetan di Jakarta buat pulang dan pergi kantor, nggak bakal saya bertahan sampai lebih dua tahun gini. PASTI STRES. :))))

Selain rumah yang bikin repot banget tinggal di Jakarta adalah nggak punya mobil. :p Ini manja aja sih sebenernya. Soalnya kemarin di jalan neduh bareng di halte bus karena ujan, banyak ibu-ibu bawa bayi dan anak kecil. Anak udah 2 atau 3 tapi ke mana-mana naik motor. Hidup mereka nggak manja. :'))))) Aku belum punya anak aja rewel ingin beli mobil. :p

Iya jadi di Jakarta saya sama JG naik motor ke mana-mana.

Kecuali ke Ancol wtf. Di Bandung juga sama mantan-mantan saya dulu naik motor tapi selalu ada mobil untuk cadangan kalau-kalau ujan. Kalau-kalau harus bawa barang. Jadi tenang. Dulu sebelum nikah juga saya di Jakarta NAIK TAKSI KE MANA-MANA. Nggak pernah naik ojek apalagi kopaja/metromini soalnya takut. >.<  Kecuali ke daerah Kuningan berani karena naik TransJakarta sekali doang. Tapi sekarang setelah nikah?

Kan sayang yah mau naksi juga karena ada motor. Tapi kadang-kadang naik motor itu bisa jadi repot banget! Misal dadakan beli container plastik Lion Star gede yang bisa jadi box bayi saking gedenya wtf, beli karena lagi diskon di Carrefour. BAWA AJAH PAKE MOTOR. Saya udah duduk di besi belakang jok motor saking gedenya itu kotak. XD Abisan nanggung mau naksi juga Carrefour Permata Hijau itu deketnya banget banget dari rumah. 10 menitanlah pake motor. Masa naksi sih gitu doang? XD

Atau pernah juga pas pindahan rumah bawa standing fan dari kost JG ke rumah kontrakan. Sepanjang jalan itu kipas saya peluk dan helai-helai kipasnya muter kebawa angin. Kipas angin tenaga angin! Cekikikan sepanjang jalan karena kalau dari depan, saya nggak keliatan, di atas kepala JG jadi kaya ada kipas angin muter. Mungkin motornya tenaga angin. XDDDD

Selama di Jakarta saya di antaranya udah pernah bawa satu rak buku kecil (belum dirakit), satu rak buku sedeng (belum dirakit jugalah), satu rak sepatu, kipas angin, container plastik, dan dua kursi lipat sekaligus. Semua pake motor. Bahaya yah? Iyah! Tapi nggak bawa gede banget sampai lebay ko. Barang yang dibawa lebarnya nggak pernah ngelebihin lebar stang motor jadi aman sih. Belum kalau ujan harus neduh dulu. Susaaahhh hidup jauh dari fasilitas orangtua! :)))))

Saking repotnya yah, saya nggak punya high heels loh di Jakarta. Cuma punya dua wedges UP yang emang nyaman dan nggak terlalu tinggi. Padahal di Bandung, deuh ke mana-mana rempong pake high heels atau wedges yang tinggi banget. Ya gimana, males ya kan pake motor terus pake high heels. Pake boots udah paling bener. Padahal saya suka banget pake high heels soalnya cebol. T____T Di Jakarta juga nggak pernah pergi-pergian pake celana pendek karena selain nggak boleh sama JG ya masa iya saya mau celana pendekan naik motor. -______-

Selain segala kerepotan itu, saya sama JG juga udah susah banget kalau mau ke nikahan temen yang di Bandung. Saya dan JG udah punya jadwal sendiri untuk pulang ke Bandung, sebulan maksimal dua kali. Kalau nikahannya kebetulan di luar jadwal itu, mohon maaf sekali nggak bisa dateng. Bukannya sombong, tapi sekali pulang ke Bandung itu buat ongkos aja habis 340ribu. Rata-rata sekali pulang paling irit abis 500ribu. Sebulan pulang dua kali udah habis sejuta. Belum jajan ya kan. Mau gantiin? Gantiin ongkosnya minimal? XD

Jadi emang hidup merantau itu repoootttt. Repot karena ingin mempertahankan gaya hidup seperti sebelumnya di Bandung. Dan kalau lagi di Bandung yah, saya suka bersyukur banget sampai terharu karena bisa ke mana-mana pinjem mobil ayah naik mobil lagi. Ke mana-mana cukup pake kaos sama legging doang dan sendal. Nggak perlu ribet bawa jaket dan pake sepatu tertutup. :)

Nah, tulisan kedua tentang alasan kenapa bertahan hidup di Jakarta. Ini penting! Dibaca ya!

Bye!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

When It's Only JG & AST #15

on
Friday, December 6, 2013
#15

Pagi-pagi baru nyampe kantor dianter JG. Saya turun dari motor, lepas helm, JG siap-siap jalan lagi.

JG: "Bay sayang, kip kontek yah!"

I NEVER USE THE LAME "KEEP CONTACT" IN MY WHOLE LIFE. WTF

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!