Jadi Hidup Itu ...

on
Friday, October 30, 2015

Masih jam 7 pagi, hari Jumat. Iya hari ini, persis tadi pagi. Saya duduk di kubikel saya, dengan laptop dan monitor yang masih mati. Ruangan juga masih sepi, lampu dan AC malah baru saja menyala. Dinyalakan karena saya datang.

Setiap hari saya selalu jadi yang pertama datang. Bersamaan dengan satpam yang membuka pintu dan menyalakan lampu. Bersamaan dengan office boy yang harus mencuci gelas dan menyiapkan minum. Bersamaan dengan cleaning service yang selalu meminta saya untuk berhati-hati karena saya selalu berjinjit sambil permisi, berjalan di atas lantai basah yang baru dipel.

Satpam di lantai saya masih muda. Entah sudah beristri entah belum. Ia baru bergabung selama 2 bulan. Dengan satpam sebelumnya saya akrab, tapi dia memilih resign dan fokus jadi driver Go-Jek. Satpam baru ini pendiam tapi selalu menyapa ramah dan memencetkan tombol lift untuk saya.

Sementara si office boy rumahnya di Depok. Pakai motor setiap hari ke Palmerah. Jam 7 harus sudah di kantor, baru pulang jam 5 sore. Hari ini ia curhat soal anaknya (seumuran Bebe) yang tidak mau minum susu formula. Istrinya keukeuh hanya ingin memberi ASI tanpa susu formula, tapi ia malah khawatir ASI tidak cukup gizi sehingga keukeuh pula membelikan susu formula sebagai tambahan.

Hari ini dibuka dengan mengobrol soal ASI sambil ia membereskan gelas. Ia heran karena anak saya diberi Ultra Mimi. Menurutnya susu formula lebih bagus karena toh lebih mahal. Mungkin dia tidak tahu, mahal belum tentu baik. Meski tas dan sepatu mahal rasanya memang membuat dagu lebih terangkat, berjalan pun lebih tegak. Mungkin dia merasa seperti itu juga. Tapi mahal belum tentu baik, terutama untuk kesehatan rekening. 

Ia kemudian lanjut mencuci gelas sementara saya memakai BB cream, menggambar alis, menggaris kelopak dengan eyeliner, memakai lipstik, mengulas pemerah pipi. Kemudian saya selfie. -______-

Selfie ini bukan untuk di-upload di Instagram atau di Facebook, tetapi untuk memeriksa apakah kedua alis sudah sama tinggi? Apakah pipi sudah sama merahnya? Apakah lipstik tidak keluar jalur? Percayalah, hasil selfie berbeda dengan hasil bercermin. :D

Kemudian saya tertegun.

Untuk apa ya menggambar alis? Agar tidak dicereweti JG alis botak alis botak. Untuk apa ya membuat pipi merona palsu agar tampak segar? Untuk apa ya menggambar kelopak agar mata tidak sayu? Untuk apa ya memakai lipstik agar tidak pucat?

Memangnya kenapa kalau alis saya botak dan wajah tidak terdefine? Memangnya kenapa kalau wajah saya pucat tanpa blush on? Memangnya kenapa kalau mata saya sayu? Memangnya kenapa kalau bibir saya pucat? 

Kenapa saya begitu mengkhawatirkan hal-hal seperti itu? Sementara di satu sisi ada mantan satpam saya yang gajinya begitu kurang sampai memutuskan jadi driver yang melelahkan. Harus seharian di jalanan Jakarta yang panasnya luar biasa. Tak lagi diam di gedung ber-AC. 

Ada office boy saya yang berjuang dari Depok, bekerja untuk membeli susu anaknya. Padahal anaknya tidak butuh susu. Tapi ia khawatir anaknya kurang gizi. Kekhawatiran yang masuk akal. Tidak seperti kekhawatiran saya akan alis yang botak dan warna kulit yang kurang rata.

Kemudian ada cleaning service saya yang tubuhnya sangat kecil. Mungkin dia stunting, mungkin dia kurang gizi saat masih bayi. Anaknya tiga, dia sedang rajin bertanya pada semua orang tentang BPJS. dia bersemangat membuat BPJS untuk keluarganya kalau-kalau harus masuk rumah sakit. Maka tolonglah kalian yang cukup uang, buatlah BPJS dan rajinlah membayar untuk subsidi mereka-mereka ini.

Punya dan bayar BPJS, tapi jika sakit, pakai asuransi pribadi (jika punya). Uang BPJS itu membantu banyak sekali orang. Meski jauh dari sempurna, sistem subsidi dan kolaborasi ini membantu banyak nyawa. 

*

Siang tadi itu saya ada janji makan siang di sebuah mall. Saya melangkah percaya diri karena kurang apa? Baju saya oke untuk hashtag #ootd dan wajah saya mulus dengan no-make-up make up *DUH*. Saya mendorong pintu, di depan saya ada bapak-bapak membawa tas dan memasukkannya ke metal detector.

Tas itu melalui batang-batang besi yang berputar, masuk ke metal detector, kemudian keluar di sisi satunya. Ketika saya datang, security berpakaian serba hitam mengeluarkan baki. Meminta tas saya dan memasukannya ke baki. Saya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Saya tidak tahu dengan kebijakan mall ini tapi tahukah kalian, bahwa security beberapa mall dan hotel di Jakarta punya kebijakan khusus atas tas? IYA TAS. 

Jadi mereka menilai dari pakaian dan tas yang dibawa seseorang. Jika menurut mereka orang dan tasnya "layak" mereka akan mengeluarkan baki kulit. Tas akan disimpan di atas baki itu saat melewati metal detector.

Tapi jika menurut mereka tasnya "tidak layak". Tas itu tidak akan diberi baki. Tas itu akan dibiarkan saja berjalan di atas besi yang dingin dan ban berjalan. Masuk ke metal detector tanpa baki pelindung. 

Ternyata mungkin karena itu. Karena beberapa kali dengan tas yang sama, hasilnya berbeda. Tas itu kadang bernasib tak berbaki. Mungkin wajah saya kurang percaya diri? Mungkin baju saya urakan? Mungkin celana saya terlalu dekil?

Jadi marilah berdandan dan menjadi orang lain. Marilah berdandan dan menjadi orang lain jika itu membuat kita lebih bahagia. :)

"Society has become so fake that the truth is actually bothers people."
-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!
9 comments on "Jadi Hidup Itu ..."
  1. Tumben tata bahasanya serius teh...tp keren, suka sama kata2nya
    Masing2 individu punya masalahnya sendiri sendiri ya ternyata

    Btw bibir yeay mirip rossa ga sih heheeeee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berasa kayak baca kolom kontemplasi surat kabar

      Delete
    2. ahahahahahahahahahahaha yah memang aku wartawan surat kabar sih XD

      Delete
    3. Biar kutebak, dari jakarta post bukan? Klo di jkpost aku taunya grace

      Delete
  2. Kadang juga harus jadi orang lain dulu biar jalani hidup sesuai apa mau orang...

    ReplyDelete
  3. "Society has become so fake that the truth is actually bothers people." ==> nice quote Mbak.
    Kebahagiaan semu lbh sering mudah didapat drpd kebahagiaan sejati, heemmm.

    ReplyDelete
  4. Saya pernah beberapa kali berusaha jd orang lain dg berdandan, tp ujung2nya malah makin ga pede dan ga nyaman :v

    ReplyDelete
  5. Dandannya di kantor mak?hmm boleh juga..
    *nasib ibu pekerja tanpa ada mbak di rumah*

    ReplyDelete
  6. Selfie itu sendiri fake.
    Welfie itu fake.
    Trus apa yang ga fake?

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)