#SassyThursday: Kekerasan pada Anak

on
Thursday, July 14, 2016


Jadi yah, ini topik ramenya minggu lalu sih tapi ya masa lebaran ngomong topik serius. Jadi topik ini digeser ke minggu ini deh. Yes, tentang si anak yang dicubit gurunya dan gurunya dipolisikan.

Baca punya Nahla di sini:

Ini topik jadi besar banget dan kebagi jadi 2 kubu:

1. Orang-orang yang kecilnya "disiksa" guru dan menganggap si anak cemen serta orangtua nggak tau diri karena anaknya bandel dan cuma dicubit doang kok lapor polisi.

2. Orang-orang yang mementahkan opini orang pertama dan menyuruh untuk berhenti bernostalgia karena bagaimana pun kekerasan sekecil apapun dalam pendidikan itu tidak bisa dibenarkan.

Well, membaca pendapat orang-orang, baca pendapat para praktisi pendidikan dengan data ini itu, apa yang terjadi di negara lain, bla bla bla, saya jadi mikir panjang ternyata saya nggak sepenuhnya termasuk kedua jenis orang itu.

Poin pertama. Saya dan suami tidak dibesarkan dalam kekerasan sekecil apapun. Dicubit pernah nggak ya, dicubit gemes mungkin ya. :| Jadi saya tidak punya pengalaman dihukum guru atau orangtua lewat cara kekerasan. Tidak ada unsur "nostalgia" atau apa.

Poin kedua. Saya setuju bahwa kekerasan dalam pendidikan, oleh guru dan orangtua itu seharusnya tidak terjadi. Tapi di sisi lain, melihat kondisi masyarakat Indonesia, kekerasan itu masih sangat mungkin terjadi dan akan jadi peer sangat besar bagi banyak sekali pihak.

(Baca: Hal-hal penting yang jadi tujuan saat saya membesarkan anak saya)

Pemerintah harus membuat regulasi jelas seperti apa bentuk sanksi yang sesuai untuk anak dengan berbagai level "kebandelannya". Juga seleksi guru, apa kriterianya? Perlu tes psikologi nggak sih untuk jadi guru di sekolah negeri? Dan orangtua, jangan menyerahkan 100% pendidikan anak pada guru dong.

Kaya anak itu, orangtuanya tau nggak kalau dia di usia itu sudah merokok. Bok, anak kuliahan ngerokok mah udah dewasa ya, anak SMP ngerokok apa namanya kalau bukan ingin keliatan keren dan cari perhatian? Kemana orangtuanya selama ini? Itu yang bikin saya gemes. Sampai guru berani mencubit anak orang lain, buat saya si anak mungkin sudah keterlaluan sekali. Malah mungkin bukan cuma sekali ia membandel.

Dan yah, kalau anak dimarahi guru di sekolah apalagi sampai dicubit, tanya lah kesalahan anak apa. Kalau anaknya salah, ya kasih tahu anaknya biar nggak berbuat hal serupa. Kalau si guru malah dilaporkan ke polisi kok rasanya nggak jauh beda ya dengan anak pejabat yang nggak dipenjara padahal nabrak orang sampai mati? Sama-sama anak salah dan dilindungi orangtua kan?

Kaya sahabat saya waktu SMA, cowok, bandel sih nggak, tapi nyebelin. Suka nyontek, berisik kalau di kelas, dan suka nimpal-nimpalin guru. Nyebelin lah pokoknya, ngetes kadar kesabaran guru banget.

Sampai suatu hari, guru favorit anak-anak karena masih muda, suka gundam, bassist band sekolah, marah sama dia karena dia berisik, dia disuruh maju ke depan, nggak ngomong apa-apa tapi kerah baju temen saya itu diangkat gitu keras banget sampai semua kancing copot berjatuh-jatuhan. Kelas hening sampai setahun ke depan.

Apa karena kami takut? Ya, tapi itu sekaligus jadi efek jera. Bukan takut diangkat kerahnya, tapi pengingat kalau guru itu juga punya batas kesabaran dan kita nggak perlu ngetes-ngetes itu.

Gini, ada level orang yang mampu tetap bersuara lembut senyebelin apapun anaknya. Ada yang mampunya hanya meninggikan suara. Ada yang sama sekali tidak mampu bicara lembut dan tidak bisa meninggikan suara jadinya mereka kabur dulu menyendiri kalau sebel sama anak. Ada yang tidak suka seperti itu kemudian jadi nyubit si anak. Ada yang selalu memendam semua emosi, pas keluar tau-tau nonjok orang.

Gimana dong, orang kan beda-beda. Dan segala macam jenis orang ini bisa saja jadi guru dan orangtua.

*tarik napas panjang*

Saya tidak sepenuhnya setuju juga untuk teori "anak yang kena kekerasan saat kecil kemungkinan akan melakukan kekerasan juga pada anaknya". Coba bercermin pada diri sendiri deh. Lihat orang-orang di sekeliling kita.

Generasi kita, generasi Y yang sekarang baru pada punya toddler ini, adalah generasi pembelajar yang belajar dari kesalahan orangtua. Kita adalah generasi yang ikut seminar parenting bahkan sebelum anaknya lahir. Kita adalah generasi yang menyadari di mana letak kesalahan parenting orangtua pada diri kita dan memperbaikinya untuk anak kita.

Seperti suami saya yang selalu diatur orangtua dan bertekad tidak akan mengatur-atur anak saya. Seperti teman saya yang ayahnya selalu sibuk di luar rumah dan bertekad akan selalu meluangkan waktu untuk anak. Seperti teman saya yang lain yang dipaksa orangtuanya masuk jurusan tertentu saat kuliah, kini bertekad akan membantu mencari passion anaknya dan tidak akan memaksa untuk ikut menentukan pilihan masa depan si anak.

Seperti kalian para ibu yang kuat berdebat berbulan-bulan dengan orangtua dan mertua karena tahu bahwa cara orangtua dan mertua ngasih pisang saat si bayi umur 3 hari itu salah. Bahwa menyusui 6 bulan itu tidak merepotkan dan susu formula itu meski mahal juga tetep kalah sama ASI.

Intinya banyak belajar. Usahakan jadi yang pertama dicari anak saat anak sedang tidak nyaman. Sehingga ia bisa jadi anak manis dan nggak bikin sebel guru di sekolah. Kalau anaknya manis masa guru tiba-tiba nyubit atau mukul, kan nggak mungkin kecuali gurunya mabok atau sakit jiwa.

Dan cari sekolah yang sejalan dengan pola pendidikan kita di rumah juga penting banget. Juga sepertinya harus state dari awal kalau kita tidak setuju kekerasan jadi kalau sampai terjadi akan begini dan begini. Karena katanya banyak juga kan sekolah yang masih mukul anak pakai penggaris dan orangtuanya merasa tidak masalah asalkan anak bisa belajar. Jadi ya, baik-baik menentukan pilihan. Tidak menemukan sekolah (yang mendekati) ideal? Ada opsi homeschooling kan? I always be a pro-choice for almost everything so education is no exception.

(Baca: Tahap-tahap Menyiapkan Dana Pendidikan Anak)


Peer yang terbesar jelas di kalangan masyarakat ekonomi rendah. Harus banyak penyuluhan dan sosialisasi pendidikan karena kekerasan sepertinya banyak terjadi di kelas ekonomi itu. Meskipun sangsi yah karena kalau perut belum keisi, mana bisa sih mikirin yang lain?

Saya sebelum punya anak selalu bingung sama orangtua yang nyiksa bayi atau balitanya. Setelah saya punya bayi saya baru sadar kalau nyiksa bayi itu mungkin sekali dengan mudah terjadi. Karena bayi itu ngetes kadar kesabaran banget.

Dia bisa nangis berjam-jam tanpa kita tau alasannya. Kalau orangtua dalam kondisi nggak stres, kita bisa berpikir lurus dan memeluk si anak, cari tau kenapa. Kalau orangtuanya stres misalnya karena nggak punya pekerjaan tetap, karena banyak tanggungan hidup, tangisan bayi cuma tambah bikin stres aja kan. Jadilah si bayi korban.

*

Kalau sampai Bebe jadi korban kekerasan oleh guru? Yang jelas tanya alasannya apa, kenapa dia melakukan hal itu. Saya juga akan kroscek sama sekolah, apa salah anak saya, bicara dengan gurunya dan meminta penjelasan. Kalau memang salah, saya akan minta dia minta maaf pada si guru dan guru pun harus minta maaf karena telah nyubit.

Ya, tergantung level kekerasan dan level kesalahannya lah. Dan damage effectnya juga.

Panjang yaaa, sampai ngos-ngosan nulisnya. See you next week!

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

10 comments on "#SassyThursday: Kekerasan pada Anak"
  1. Waktu itu pernah baca tulisan soal daycare tp kok blm ketemu lagi. Boleh dikirim plis linknya... makasi yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa baca di sini yaa http://www.annisast.com/search/label/tentang%20daycare

      Delete
  2. Aku setuju bgt sm entri mba ini
    Tiap org emang pny "titik didih" yg beda2. Ngerasa sendiri kdg gemes pgn nyubit anak, haha

    ReplyDelete
  3. Akhirnya ada pendapat yang bisa sepakat dengan saya. Cara penyampaianmu juga baik, Mbak (? Duh enaknya manggil apa ya? Hehehe). Sukaaaak.

    ReplyDelete
  4. kekerasan anak itu bukan karena soal ekonomi sih mbak, tapi biasanya faktor turun menurun di keluarga ... sebelum nikah, aku tinggal di komplek ... setelah nikah, aku milih tinggal di perkampungan ... waktu masih di komplek, ada tetanggaku yg terkenal banget sering nyiksa anaknya ... gak ada yg berani negur atau lapor ... setelah pindah tinggal di kampung, labelnya sih masyarakat ekonomi rendah tapi gaya hidupnya sebelas dua belas sama orang komplek ... kekerasan pada anak memang tinggi, karena pendidikan rendah dan faktor turun menurun itu 'dulu emak gue juga sering gaplok gue kok' dll

    ReplyDelete
  5. Setujuuuuuuu....! Udah gitu aja.

    ReplyDelete
  6. Kesimpulannya harus dianalisa semua kejadiannya ya mba

    ReplyDelete
  7. Sassy kali ini ademm bangeet deh

    ReplyDelete
  8. Cocok dengan isi uraiannya, sepakat
    Duapakat lah. Mmg semua harus dilihat sebab akibatnya gak serta merta judge ini benar ini salah. Dan emg bener titik didih tiap orang beda2. Ada juga loh anak yg dikasih hukuman nonfisik macen ditegur doang traumanya bs seumur2.

    ReplyDelete
  9. Aku lgs terpana pas baca yg guru fav ngangkat kerah baju si anak nakal :D. Ngebayangin expresi seramnya gmn pas natap si anak :D. Shock bgt itu pasti..hihihi...

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)