Image Slider

Ketika Bebe Tanya Kenapa

on
Monday, October 16, 2017
Finally, Bebe is in WHY phase!


Kenapa finally, karena saya udah sering banget liat anak yang nanya terus-terusan why why why terus ibu bapaknya pusing jawab. Jadi penasaran banget kapan ya Bebe akan nanya kenapa? Ternyata sebulan dua bulan belakangan sebenernya udah mulai tapi akhir-akhir ini makin intens karena suka nguping pembicaraan saya dan JG! LUCU BANGET!

Well, lucu bagi saya yang nganggap anak nanya itu lucu sih. Sering banget saya liat orang tua yang terang-terangan terganggu terus nyuruh diem. KASIAN. JANGAN GITU PLIS. JAWAB SEPENUH HATI PLIS. T_______T

Oke jadi awalnya dia hanya nanya “kenapa”:

👩 Ibu: “Be, nanti di kantor appa kamu main sepeda ya!”

👶 Bebe: “Kenapa ibu?”

👩 Ibu: “Ya biar nggak bosan”

👶 Bebe: “Kenapa ibu?”

👩 Ibu: “Soalnya nunggunya nanti lama”

👶 Bebe: “Kenapa ibu?”

👩 Ibu: “Kenapa coba?”

👶 Bebe: “Hehehe”

Kemudian dia kayanya ngerasa saya kurang maksimal jawabnya kalau cuma tanya kenapa jadi dia tanya satu kalimat utuh yang saya ucapkan terakhir! Dan nanyanya itu sepenuh hati dengan ekspresi ingin tahu!

👩 Ibu: “Bebe sama appa main ya, ini hari Sabtu tapi ibu kerja nih ada acara kantor

👶 Bebe: “Kenapa hari Sabtu tapi ibu kerja ada acara kantor?”

Spesifik banget kan itu pertanyaannya. Bebe kamu balita atau penyidik KPK? *apeu*

👩 Ibu: “Iya di sekolah kamu juga pernah kan hari Sabtu ada acara. Sekarang kantor ibu juga

👶 Bebe: “Kenapa sekarang kantor ibu juga?”

JAWAB APA YAAA ENAKNYAAAAA. Kalau udah gini saya sama JG biasanya udah ngikik aja.

👩 Ibu: “Ya ini nggak sering-sering kok, sekali-sekali aja

👶 Bebe: “Kenapa sekali-kali aja?”

*MELARIKAN DIRI KE NEW YORK MENYUSUL RANGGA UNTUK MEMBUAT KOPI AGAR TETAP TERJAGA*


❓ Kenapa sih anak 3 tahun nanya kenapa terus?

Karena anak 3 tahun itu sudah mulai mengerti lingkungan di sekitarnya itu sebagai sesuatu yang berbeda dari dirinya sendiri. Kalau dulu kan dunia itu ya dia aja, semua tentang dia. Kalau sekarang dia mulai ngerti bahwa ada hal-hal yang kok susah dimengerti ya? Maka dia bertanya:

... kenapa ibu?

Pertanyaan bagus sih karena jawabannya bisa berbagai macam. Dari alasan sampai penjelasan panjang lebar tentang kenapa matahari terbenam dan bukannya tenggelam. Padahal sama-sama menghilang. Kenapa matahari terbenam? Tenggelam kali?

👩 Ibu: “Kalau tenggelam itu ke dalam air

👶 Bebe: “Kenapa ke dalam air?”

Capek ya jawabnya? Kebayang deh duh apalagi buibu yang anaknya lebih dari satu, anak yang satu bayi, anak yang gede nanya kenapa-kenapa mulu. Pengen jambak sih nggak, cuma pengen nyisirin rambut ibu kan jadinya! #PengabdiSetanReference #padahalnontonajanggak

Tapi ya percayalah kalau ini kesempatan untuk meraih mimpimu setinggi langit kepercayaan diri anak. Bahwa jika anak bingung, maka tanya pada ibu. Berulang kali saya bilang pada Bebe "Be, pokoknya kalau kamu ingin tau sesuatu, tanya ibu aja ya!"

Yang dijawab dengan: "KENAPA TANYA IBU AJA?"

HAHAHAHA

Daripada di masa depan dia kalau punya pertanyaan terus tanya orang lain atau googling sendiri? Tanya ibu dululah, biarkan ibu yang googling. LOL

Karena ya anggap aja ini sebagai starting point dari curiosity-nya. Dan saya sama JG selalu jawab seserius mungkin! Makin serius jawabannya, makin pusing dia, biasanya dia mikir dulu terus berhenti nanya why selanjutnya.

Contoh percakapan dengan jawaban ekstrem yang akan membuat Bebe berhenti nanya kenapa:

👩 Ibu ke appa: “Wah, itu gedung apa sih kok diancurin gitu?”

👶 Bebe: “Kenapa gedung diancurin, ibu?”

👩 Ibu: “Mungkin karena sudah tua jadi mau dibuat gedung baru

👶 Bebe: “Kenapa mau dibuat gedung baru?”

👨 JG: “Karena kalau gedung tua dibiarkan, nanti konstruksinya makin lemah, Be. Kalau konstruksi lemah nanti gedungnya nggak tahan, nanti kalau ada gempa kan bisa-bisa malah runtuh. Jadi sebaiknya kalau gedung udah tua ya diruntuhin dulu terus bikin yang baru blablabla *panjang banget pokoknya* …”

👶 Bebe: *diam dengan muka mikir*

Hahahaha kasian tapi biarlah untuk melatih otaknya berpikir kritis dan BENAR. Karena kadang kita mikir kaya Bebe ngerti nggak ya kalau dijawab beneran? Tapi masa mau dijawab asal? Jadi ya udah sih mau dia ngerti atau nggak ngerti ya jawab beneran aja. Paling mentok dia nanya lagi kan.

Saya dan JG mending jawab panjang lebar daripada jawab "ya karena ibu bilang gitu!" alias "because I said so" karena takut suatu hari dia balikin dengan "ya karena aku mau!" Ribet deh nanti ah. Tahan-tahan deh, jangan sampai itu keluar.

Meskipun kadang percakapannya jadi nggak masuk akal banget. Contoh:

👶 Bebe: “Ibu aku mau ini”

👩 Ibu: “Boleh

👶 Bebe: “Kenapa boleh?”

👩 Ibu: “Yaaa, boleh aja kalau kamu mau

👶 Bebe: “Kenapa aku mau?”

👩 Ibu: “Nggak tau tadi katanya tadi kamu mau?”

👶 Bebe: “Kenapa katanya tadi aku mau?”

LHAAAA. Mengapa aku harus terjebak di pembicaraan yang tak berujung dan entah di mana akan usai zzz.

Kalau udah capek banget jawab, tergampang adalah dengan tanya balik dengan pola pertanyaan dia dan pertanyaan kuntji "kenapa coba?", ini mancing anak mikir banget dan dia berhenti nanya karena mikir keras lol.

👶 Bebe: “Ibu, punggung aku gatel. Kenapa punggung aku gatel ibu?”

👩 Ibu: “Kenapa coba?”

👶 Bebe: “Karena digigit nyamuk

👩 Ibu: “Kenapa digigit nyamuk?”

👶 Bebe: “Kenapa aku digigit nyamuk?”

👩 Ibu: “Kenapa coba?”

👶 Bebe: “Karena belum mandi

👩 Ibu: “Kenapa belum mandi?”

Bebe bingung. Ibu win!

Ah ya! Baru inget kalau pertanyaan “kenapa” ini berbarengan dengan pertanyaan "kok?" Sama juga bertanya karena dia penasaran aja. Dan curiousity ini sudah masuk ke pertanyaan seputar seksualitas:

"Kok ibu nggak ada t*titnya?"

"Kok ibu perempuan tapi nggak hamil?"

JAWAB DENGAN BENAR YAAA. JANGAN JAWAB ASAL YAAA. Jawab sambil baca buku lebih enak karena ada gambarnya. Nanti soal menjawab pertanyaan semacam ini ditulis terpisah ya!

Atau pujian-pujian gombal yang tidak akan pernah bisa dilewati oleh JG karena kalau JG yang ngomong saya paling rolling eyes hahaha.

"Kok ibu cantik?" *ASIK*

“Kok gambar ibu bagus banget sih!” *alah padahal mah ya gitu aja lol*

“Kok ibu kuat, ibu hebat banget!” *IYA DONG BE!* *BANGGA*


Semoga Bebe cepet pintar ya! Jangan lelah bertanya kenapa! Dan buat ibu-ibu yang anaknya lagi di why phase juga tips dari saya cuma satu aja sih: DIJAWAB YAAA PERTANYAAN ANAKNYAAAA!

Kasian soalnya huhu.

Buat yang masih main Twitter, saya bikin thread celetukan Bebe. Belum banyak sih cuma ya iseng aja daripada lupa. Dibikin blogpost mah kapan-kapan kan. Cek di sini ya!


See you!


Dan ini bonus gif Cinta dengan Dian Sastro masih kurus karena ya pengen aja terserah gue sih elaahhh. Hahaha.

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe dan Rasa Takut

on
Wednesday, October 11, 2017

Dulu waktu Bebe belum umur setahun, saya rasanya bangga banget punya anak nggak penakut. Naik kuda-kudaan yang goyang-goyang itu sambil BERDIRI, naik perosotan tinggi berani padahal belum bisa jalan, ngapain juga Bebe oke-oke aja deh, nggak ada takutnya sama sekali.

Baru beberapa lama kemudian kusadari, Bebe ternyata bukan anak pemberani tapi waktu umur setahun mah emang belum nyampe aja otaknya alias belum bisa mendefinisikan apa itu rasa takut. HAHAHA

Dan sebagai ibu-ibu, ketidaktahuan kadang ditutup kebanggaaan. Bangga sama halu beda tipis padahal huhu.

Karena kerasa banget makin gede makin jadi penakut kan anak-anak itu? Dan ini peer banget deh buat saya yang kompetitif.

Abisan saya maunya Bebe jadi anak yang benar-benar pemberani (bukan menurut kebanggaan saya aja). Tapi ternyata pemberani ini spektrumnya luas banget! BANGET! Dan sebagai ibu ambisius ya saya maunya Bebe pemberani di segala lini kehidupan lah! *REPOT*

Untuk kehidupan sosial, Bebe termasuk anak yang pemberani. Meski kadang malu ngomong, tapi dia nggak sungkan untuk ngajak anak lain yang baru ketemu main bareng. Apalagi kalau anaknya keliatan pendiam gitu, dia suka nyodorin mobil-mobilan terus mereka main bareng.

Makanya di daycare baru pun Bebe nggak punya kesulitan adaptasi. Kata missnya dari hari pertama dia udah cerewet aja dan mandiri banget kaya bank. Intinya saya bangga beneran sama kemampuan sosialnya karena terbukti! *apeu*

(Baca: Melarang Anak dengan Kata 'Jangan')

Nah tapi tentu saja Bebe takut sama hal lain.

Pas kemarin beli balance bike, dia nangis-nangis di mobil karena nggak sabar pengen nyampe rumah dan coba sepedanya. Di mobil, sepeda yang belum dirakit itu dia peluk. Nyampe rumah dia coba 5 detik terus bilang “nggak ah aku takut jatuh” terus ditinggalin aja gitu main yang lain. WHY!

Besoknya saya langsung beli peralatan safety lengkap dan saya liatin video-video anak lain yang udah jago balance bike. Saya jelasin juga kalau jatuh, tidak akan sakit karena kan sudah aman. Seminggu deh prosesnya sampai dia bener-bener mau nyoba balance bike-nya agak lama. Sebelumnya sih ya gitu aja, main 2 menit terus nggak mau dan main yang lain.

Sebelnya kalau dibilangin tuh ngejawab! Misal gini:

Ibu: “Kamu kan hebat Be, pasti bisalah naik sepeda”
Bebe: “Nggak ah aku nggak hebat. Aku takut jatuh terus sakit”

T________T


Karena jadi orangtua itu harus siap jadi motivator, maka ya saya sama JG terus-terusan kasih motivasi dan kalimat positif sama Bebe kalau Bebe pasti bisa naik sepeda. Sampai akhirnya ya bisa. Sebelnya lagi kalau udah bisa maka ia menuntut pujian.

“Aku udah bisa kebut loh ibu, aku hebat kan?”

IYA HEBAT IYAAA.

Tapi saya nulis ini karena momen kemarin. Gong dari segala urusan penakut ini yaitu Bebe ternyata takut banget naik monkey bar di sekolah! Bentuknya gini, nggak tinggi-tinggi amat lah setinggi saya doang. Dan ada pegangannya.

source

Awalnya saya liat temen-temennya Bebe pada bisa semua naik monkey bar ini. Manjat ke atas loh ya, manjat dari satu ujung ke ujung lainnya. Bahkan sampai anak umur 2 tahun aja udah pada bisa! Bebe penasaran pengen nyoba juga tapi terus baru dua tangga dia berhenti dan turun lagi. “Aku takut”

T________T

Saya rada nggak terima gitu karena kenapa takut deh? Anak lain buktinya bisa! Saya nggak mau dia jadi takut ketinggian kaya JG karena waktu kecil JG selalu dilarang main panjat-panjatan model gini.

Berhari-hari saya bawa monkey bar ini sebagai topik pembicaraan dan puji sebagai anak pemberani. Model “kamu kan anak pemberani, pasti bisa lah naik monkey bar” yang selalu dijawab dengan “aku nggak pemberani aku takut”.

T_______T

Sampai suatu hari saya nggak jemput, Bebe dijemput sama JG dan JG kirim foto Bebe lagi di atas monkey bar! KOK BISA!


JG bilang kalau Bebe mau selamatin robot harus naik monkey bar itu dulu. And it works! Jadi selama ini dia nggak mau naik itu kemungkinannya itu ada dua:

1. Bebe emang takut banget
2. Bebe nggak takut-takut amat tapi manja aja karena ada ibu

(Baca: Bebe yang Romantis)

Karena kalau ada ibu itu Bebe manja! Semua maunya sama ibu, semua maunya sambil dipeluk ibu, semua mendadak nggak bisa gitu hhhh.

Tapi ya saya jadi belajar juga. Bahwa rasa takut anak itu muncul sendiri tanpa ditakut-takuti, dan bisa dihilangkan dengan motivasi! #rhymes

Karena Bebe bener-bener nggak pernah ditakut-takuti siapapun tapi toh dia takut juga. Dan Bebe hanya butuh seminggu motivasi sampai akhirnya mampu melawan ketakutannya sendiri.

Ya tapi itu kan Bebe ya, nggak tau kalau anak lain hahaha. Kalau anak kalian takut apaaa?

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe yang Jijikan dan Sensory Play

on
Monday, October 9, 2017
[LONG POST]


Kalau kalian udah lama baca blog saya pasti tau kalau saya nggak pernah main sensory sama Bebe. Pertama, males. Kedua, males beres-beresnya. LHA HAHAHA.

Yaaa, saya mikirnya ya mainan itu bentuk mainan edukatif biasa aja. Terserah dong mau main sensory apa nggak? Toh banyak juga orang yang kecilnya nggak sensory play tapi pinter-pinter aja. Jadi saya selalu menganggap main sensory itu opsional.

Sampai saya kena batunya karena daycare dan preschool Bebe yang sekarang montessori!

Padahal beneran deh, saya pilih daycare dan preschool sekarang bukan karena montessorinya. Karena Bebe masih 3 tahun, saya pokoknya pilih daycare yang sesuai kriteria daycare idaman aja. Rumah luas dan nyaman, ada halaman, mainan banyak, dan yang paling penting: kamar dan kelas DIPISAH.

Survey ke 7 daycare dengan preschool/program belajar, cuma ini yang masuk ke semua kriteria yang saya mau. KEBETULAN ternyata mereka montessori, oh ya udah anggap nilai plus aja dong ya.

Ternyata nggak! Karena montessori tandanya banyak main sensory! Dan Bebe nggak kenal apa itu sensory play! *NGGAK BISA SANTAI*

🍎 Foto yang hilang 🌼

Mistis yah sub-judulnya lol.

Tiap hari, miss dan teacher di daycare Bebe selalu kirim foto kegiatan seharian. Dan saya menyadari bahwa ada beberapa kegiatan di mana Bebe nggak ada fotonya. Awalnya saya mikir oh mungkin dia males kali. Soalnya karena kelasnya lumayan padat, dari awal masuk saya kasian sendiri sama Bebe.

Jadi saya udah bilang sama Bebe “Be, kalau kamu ngantuk atau nggak mau belajar, bilang sama miss aja ya. Tidur aja biar, bilang miss kamu nggak mau belajar”

Orangtua macam apa ya yang nyuruh anaknya skip school begini HAHAHA. Abisan kasian ih anak kecil kok ya penuh rencana gitu. Kali aja dia mau main ya boleh, gitu loh maksudnya. Karena anak lain semuanya udah mau 4 tahun gitu umurnya. Bebe paling kecil.

Padahal kegiatannya seru sih. Misal bulan ini temanya tumbuhan di sekitar kita, tema hari ini pepaya. Maka mereka jalan (NYEKER) ke taman liat pohon pepaya, pegang pohon pepaya, motong sendiri buah pepaya, makan sendiri. Kemudian menggambar dan menempel pepaya dan diakhiri dengan main dengan material montessori.

Nah foto Bebe suka ngilang di bagian montessori! Ke mana dia!

Saya tanya ke gurunya, katanya "Xylo maunya main lari-larian aja bu, nggak mau disuruh pilih material". OOOHHH. Saya bilang "oh gitu ya udah nggak usah dipaksa ya miss"

YAKALI MASA MAU DIPAKSA.

🍎 Bebe ngamuk 🌼

Bebe di daycare baru nggak nangis sama sekali. Saya udah pernah cerita di sini: Bebe Sekolah!

Anaknya emang ekstrovert sih, dari hari pertama dia langsung bisa mingle sama anak lain gitu. Jadi nggak ada tuh drama “ibu nggak boleh kerja” sama sekali. Sampai suatu hari setelah sebulan Bebe akhirnya nangis. Karena …



tangannya kena lem.

YES PEOPLE. TANGAN KENA LEM.

Jadi kegiatan di kelas hari itu adalah menempel. Bebe ogah-ogahan colek lem pake jari. Terus missnya iseng nyolekin lem ke punggung tangan Bebe. Kemudian dia sakit hati banget dan marah.

Dia lari keluar kelas dan keluar rumah. Nangis ngamuk di teras manggil-manggil ibu sampai ketiduran di kursi teras zzz. Kenapa dia begitu? Karena ...

🍎 Bebe yang jijikan dan taat aturan 🌼

Sejak kecil, Bebe tuh udah geli sama tekstur. Dia nggak suka jalan di karpet kasar atau rumput sintetis. Dia nggak suka saya pake jaket jins atau baju-baju yang ada teksturnya. Risihan lah padahal saya di rumah bukan yang hygiene freak gitu kenapa si Bebe demikian. Entahlah kupun kurang paham.

Jijikan ini combo sama taat aturan. Nggak tau deh antara anaknya memang manis atau karena kami tidak menegakkan aturan sambil marah-marah jadi dia malah nurut banget. Saya sama JG jarang (bukan nggak pernah lol) banget marah sama Bebe karena ya untuk apa? Kaya percuma gitu. Kalau ngomong baik bisa ya kenapa harus marah gitu loh.

Paling gampang mah sampai sekarang Bebe nggak pernah coret-coret dinding karena saya pernah kasih tahu kalau gambar ya di kertas. Kalau aturannya begitu ya dia nurut. Makanya sampai sekarang dia bisa main sepeda dengan gear lengkap itu karena ya menurut dia aturan naik sepeda emang gitu.

Terus kenapa saya bilang combo? Karena ada peraturan-peraturan yang jadi nyambung sama sumber kejijikan.

Contoh: “main ke luar HARUS pake sendal/sepatu ya Be!”

Maka si Bebe keluar rumah selalu pake sendal dan sepatu dan dia jadi jijik kalau nggak pake. Dari kecil banget kalau ada anak daycare lain yang lari keluar nggak pake sepatu, BEBE AMBILIN SEPATUNYA DAN DIPAKEIN KE ANAK ITU.

Contoh lain, sejak kecil saya nggak pernah marah kalau dia numpahin makanan atau minuman, dia langsung tau diri aja langsung ambil lap dan lap sendiri. Hasilnya? Dia selalu hati-hati dan berusaha nggak numpahin apapun.

Yang mana hal-hal kaya gini ternyata susah kalau sekolahnya montessori.

Saya liatin ke Bebe foto temen-temennya yang main sensory dan nanya kok Bebe nggak mau main ini?

Misal mindahin air pake sponge dia jawab "nggak ah tar tangan aku basah terus airnya tumpah-tumpah kena meja" (males dia nanti harus pel sendiri)

Main air di halaman sambil nyeker "nggak ah nanti kaki aku basah" (karena main di halaman seharusnya ya pake sendal dong ibu!)

Finger painting “nggak ah nanti tangan aku kotor” (tangan kalau kotor aja langsung dicuci, ini kok malah sengaja dikotor-kotorin? kan bisa pake kuas!)

Mindahin biji-bijian pake sendok, jawabnya "aku jijik sama biji itu"

GOD.

🍎 Terus aku sedih 😟

Saya ngerasa gagal banget karena kenapa sih Bebe kaya gitu? Saya beneran nggak apa-apa kalau Bebe skip kelas karena dia ngantuk atau capek, tapi masa skip karena jijik? Curhatlah sama geng kesayangan dan disuruh tes ini sama Gesi untuk nentuin ada yang ketinggalan nggak milestone-nya?

Saya coba dan nggak ada. Sampai 52 bulan juga Bebe masih oke. JG konsultasi sama temennya yang psikolog anak dan akhirnya ditarik kesimpulan bahwa:

Bebe cuma kurang main sensory di rumah hhhh.

Malem itu juga saya bertekad dan mulai coba colek-colek lem di rumah. Random aja saya sama Bebe colek-colek lem ke kardus bekas susu. Nggak bikin apapun. Bebe awalnya bingung gitu ngapain sih? Tapi saya cuekin aja dan saya colek-colek terus. Lama-lama dia ikut colek sampai beberapa menit kemudian dia mulai risih dan lari sendiri ke kamar mandi untuk cuci tangan. Saya diemin aja nggak paksa.

BESOKNYA DI SEKOLAH BEBE MAU COLEK LEM! Meskipun mukanya masih jijik dan beneran nyolek pake ujung telunjuk gitu. Hahaha. Nggak apa-apalah kemajuan.

Ternyata bener kata Gesi dan temennya JG, dia begitu karena nggak terbiasa aja. (ya masa aku biasain jijik-jijikan sih? HAHAHA IBUNYA EMANG RESE)

Terus kemarin nyoba main kacang ijo dan tadi pagi sih ditanya Bebe bilang mau main biji-bijian di sekolah. Nggak tau deh hari ini, belum dikirim foto dan belum ketemu Bebe. SEMOGA BENERAN MAU YA.

Jadi sesuai saran Gesi saya mau merencanakan mulai main sensory di rumah. Seminggu sekali mungkin (KALAU NGGAK MALES). Goalsnya belum akan sesuai teori kaya nyendokin dari kiri ke kanan blablabla, yang penting Bebe mau MEGANG dan NGINJEK dulu aja berbagai tekstur.

Soalnya sayang banget deh udah bayar sekolah terus Bebenya nggak mau ikut semua kegiatan cuma karena nggak terbiasa melakukannya sama saya di rumah. Jadi ibu peernya banyak banget ya. Banyak peer dan ogah rugi, ribet deh elah.

Tapi urusan aturan plus megang tekstur ini emang jadi bingungin sih. Misal dia makan jelly. Seharusnya makan jelly ya pake sendok dong ya supaya nggak lengket ke tangan. Tapi dalam rangka megang berbagai tekstur jadinya saya keluarin jelly dari cupnya dan taro aja di tangan dia terus Bebe bingung "kok boleh aku pegang jelly? Nggak pake sendok aja ibu?"

GIMANA DONG BEEE. Akhirnya ya saya jawab "boleh deh, tapi abis itu harus langsung cuci tangan ya!" Huhu. Padahal saya sendiri aja bisa risih banget tangan lengket apalagi mikirin harus nyeker di taman atau harus main pasir di pantai gitu oh no. No no no. T________T

*

Dan ya, untung aja Bebe preschool! Minimal saya jadi punya pembanding oh anak seumur ini harusnya sudah bisa apa. Kalau nggak mungkin saya akan tetep halu kalau Bebe anak paling hebat, padahal ternyata ya sama aja kaya anak lain hahaha.

“KOK MALAH BANDING-BANDINGIN ANAK SIH!”

Ya kalau milestone mah perlu dibandingin atuh. Kan udah jelas umur sekian harus bisa apa minimalnya. Yang nggak perlu dibandingin itu urusan value di keluarga kan. Urusan mau minum susu apa nggak, toilet training umur berapa, disiplin duduk di high chair apa di lantai aja, dsb. Value keluarga mah beda-beda, tapi milestone sih udah ada standarnya kan.

Jadi ya, itu aja! Next saya mau cerita juga soal Bebe yang mendadak penakut. Nanti yaaa!

See you!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe Bebas Gadget, Finally!

on
Wednesday, October 4, 2017
LONG POST. NGGAK MAU DIEDIT BIAR PENDEK. BIAR SAYA SENDIRI INGET DETAILNYA. BACA LAH PLIS. HAHAHA.


antri dokter gigi, bebe menggambar ibu main hp hahaa

Kalau kalian baca blog ini dari dulu, mungkin tau ya kalau saya tidak anti gadget tapi anti korupsi. Saya kasih Bebe nonton YouTube (tidak game sama sekali, hanya YouTube) dan awalnya tidak merasa bersalah. Pertama karena saya merasa masih bisa mengontrol Bebe, kedua saya merasa bahwa Bebe tidak berlebihan juga nontonnya ...

... padahal mungkin denial aja itu mah hahaha

🙅 Awal mula 📱

Bebe mulai nonton dari umurnya 2 tahun. Sebelumnya dari 20 bulanan gitu udah saya kasih lagu-lagu di YouTube tapi paling satu lagu bosen. Sebelumnya lagi dari pas bayi sih emang nggak saya kasih gadget sama sekali. Nggak tau ya kaya nggak kepikiran aja gitu dulu kalau anak sekecil gitu udah bisa nonton.

Plus nggak punya TV juga di rumah jadi dia nggak terbiasa liat layar. Dia anak yang norak kalau liat TV di mall, bisa dipelototin banget lama nggak mau jalan hahaha.

Setelah 2 tahun Bebe mulai bisa nonton satu film full dari awal sampai akhir. Itu pun nonton di laptop dan diulang-ulang film yang sama: Zootopia. Sampai saya hafal seluruh dialognya. Kemudian dia nonton Frozen juga terus-terusan sampai saya hafal semua scenenya. Akhirnya ya ke YouTube, ngefans sama Upin Ipin seperti anak-anak lainnya.

🙅 Mulai ketergantungan 📱

Kondisinya Bebe punya hp sendiri tapi nggak saya kasih simcard. Untuk nonton maka dia tethering ke HP saya. Saya punya full control karena kalau saya mau, ya saya matikan wifinya. Jadi tidak ada yang berlebihan, MENURUT SAYA, DAN ITU DULU.

Intinya, kemarin-kemarin itu Bebe seneng banget nonton Upin Ipin dan saya JUGA jadi bergantung pada YouTube untuk bikin Bebe tenang dan kalem. Lagi macet dan Bebe cranky ya tanya mau nonton apa, lagi nongkrong sama temen-temen ya Bebe kasih YouTube biar diem, lagi capek di rumah pengen leyeh-leyeh ya kasih Bebe nonton biar saya bisa chat di group, lagi makan di luar ya kasih Bebe nonton lah, kalau nggak gimana saya makan? *pake sendok sis*

(Baca: Memilih Tayangan Edukatif untuk Anak)

Makin lama ternyata saya mulai khawatir. Awalnya khawatir takut mata rusak aja sih. Karena ada temen yang anaknya sering nonton, pas TK udah pake kacamata. Ada juga sepupu yang baru kelas 5 SD matanya udah plus, BUKAN MINUS! Kata dokter karena kebanyakan fokus pada satu titik di gadget. Mana turunan appa ibunya pake kacamata gini kan.

Oh waw olrait aku khawatir, TAPI NGGAK USAHA DETOKS JUGA.

Iya, mulai khawatir tapi belum yang “ok aku siap untuk membuang hp Bebe dan kehilangan waktu leyeh-leyeh” gitu. T_____T

🙅 Tentang detoks gadget 📱

Saya mulai tertarik dengan detoks gadget setelah sempet ngobrol di komen IG dengan Sazki dan baca blogpostnya: Detoks Gadget. Dia udah detoks gadget ke Menik, anak perempuannya sejak 15 bulan wow! Umur 15 bulan Bebe bahkan belum mau nonton hahahaha.

Cuma karena tau ceritanya Sazki, saya jadi sadar bahwa detoks gadget itu PASTI bisa, cuma ya kapannya itu tergantung kesiapan orangtua. Dan sejak saat itu saya selalu sounding ke Bebe tiap kali dia mau nonton bahwa nonton itu bikin mata rusak loh, nonton itu nanti matanya perih, nanti Bebe liatnya jadi susah, dll

Sampai beberapa bulan, tiap mau nonton saya kasih wanti-wanti itu dulu, tapi saya belum larang apapun. Masih dikasih, dengan wejangan panjang lebar. Sampai akhirnya Bebe beneran terdoktrin dan bilang gini sendiri “ibu, kalau aku nonton terus nanti mata aku pecah”

WOW. SEREM. HAHAHA. Saya bilang “nggak pecah sih, cuma rusak”. Dia nggak nangkep gitu, dia soalnya bandinginnya sama mainan, kalau rusak ya pecah atau copot gitu kan.

Terus pelan-pelan saya kasih tau kalau di mobil udah nonton maka ketika mobil masuk garasi, hp harus langsung dimatikan. Karena waktu itu pulang daycare pasti di mobil minta nonton. Ngamuk lah awal-awal. Tapi cuma 3 harian gitu terus dia ngerti, masuk garasi, matikan HP. 

Nyampe rumah main-main dulu terus sebelum tidur biasanya nonton lagi, tapi paling setengah jam karena saya matikan wifinya (tanpa dia tau) terus saya pura-pura tidur. Nanti dia ketiduran sendiri.



🙅 Kenapa akhirnya detoks? 📱

Kalau Sazki kan khawatir sama perkembangan anak, saya justru nggak sih. Mungkin karena Bebe lebih besar dari Menik ya. Saya juga cek di checklist tumbuh kembang dan rutin konsul psikolog (jadi bukan halu lol), Bebe nggak ada masalah sama sekali dengan perkembangannya. Motorik bagus, bicara bagus, konsentrasi bagus, lempar tangkap bola aman, menggunting bisa. Sesiang di daycare nggak kena TV.

Masalahnya satu, YouTube jadi pelarian! Benci!

Bebe bengong sedikit minta YouTube, bosen sedikit pengen nonton, kapan pun dia ngerasa bingung mau ngapain pasti minta nonton. Sebel banget padahal saya kalau di mobil kadang pengen ngobrol banyak gitu sama Bebe, seharian ngapain di daycare. Eh dia jawab seadanya terus maksa minta nonton. Kalau udah nonton mana bisa diajak ngobrol!

JG main hp terus aja saya sebel apalagi Bebe. Diri sendiri ketergantungan Instagram aja saya delete Instagramnya 7 hari, apalagi Bebe nyuekin saya karena nonton hhhh. Nyebelin.

(Baca: 7 Hari Tanpa Instagram)

Padahal ya salah saya juga. Sebelumnya saya yang selalu kontrol kapan Bebe boleh nonton (pas saya pengen istirahat atau pas makan di luar), lama-lama karena aturannya nggak jelas ya Bebe atur sendiri lah kapan dia pengen nonton. Jawabnya gini “aku senang kalau nonton, aku mau nonton biar senang”. Sebel banget nggak sih.

Akhirnya saya bilang JG, ini nggak beres. Dia apa-apa maunya nonton, kita jangan pegang hp depan dia ya! JG oke. Project pelepasan gadget dari Bebe, dimulai!

🙅 Bebe bebas gadget 📱

Pas banget dengan hari pertama Bebe sekolah. Nggak tau kenapa sih nggak direncanain juga. Cuma karena daycare sekarang jarak tempuhnya 1,5 jam ke rumah, tandanya kalau naik mobil dia langsung nonton dia akan nonton terus selama 1,5 jam. Daycare yang dulu sih paling lama 1 jam, rata-rata 30-40 menit lah kalau lancar.

Karena Bebe excited banget sekolah akhirnya saya ajak ngobrol terus sampai dia ngamuk karena dia maunya nonton. Saya bilang Bebe tidak boleh nonton lagi karena sekarang sudah sekolah, nanti matanya rusak blablabla. Saya biarkan dia marah ngamuk nangis di car seat.

Hari kedua dia minta lagi, saya tolak tapi udah nggak marah. Ngelamun doang bentar tapi terus ngobrol lagi. Hari ketiga udah nggak minta sama sekali!

Seminggu lah sampai akhirnya dia nggak peduli kalau pun saya atau JG buka HP depan dia. Udah nggak minta aja, sibuk sendiri main atau liat ke jalan. Cobaan datang saat weekend hahahahaha.

Karena weekend kami cuma bertiga di rumah dan capek laahh kalau harus full 2x24 jam nemenin Bebe. Akhirnya pas weekend dicoba nonton tapi pakai alarm 1 jam, alarm berhenti dia harus matikan HP nya dan ternyata berhasil. Nggak nangis sama sekali. Alarm bunyi, dia matikan, terus ambil mainan lain.

FINALLY. SETELAH SETAHUN!

Hari ini tepat sebulan setelah Bebe lepas gadget. Kadang masih minta, kadang saya kasih kadang nggak. Yang penting bukan lagi memperlakukan YouTube sebagai pelarian dan kalau nggak dikasih nggak marah apalagi ngamuk. Nggak lagi yang bener-bener HARUS tiap naik mobil langsung nonton. Weekend juga kadang 2 kali nonton YouTube pake alarm satu jam. Nggak apa-apa, nggak apa-apa banget. Yang penting udah nggak ketergantungan.

(Baca: Anak Kecanduan Gadget, Salah Siapa?)

🙅 Paling kerasa repot pas apa? 📱

Di mobil nggak repot sama sekali karena saya tinggal nemenin dia ngobrol aja selama 1,5 jam. Bener-bener quality time deh. Ngobrol sambil pegangan tangan gitu huhu romantis. Yang repot itu kalau lagi makan hhhh.

Sebulan kemarin saya cuma makan keluar 3 kali. Sekali sama temen saya yang bawa anak jadi dia main sama anak itu. Kedua makan Shaburi dan Bebe minta dibacain buku! Repotnya ampun saya bingung sendiri gimana sih makan sambil bawa toddler saking setahun terakhir kalau saya makan ya Bebe nonton. Nggak konsen banget makannya. Akhirnya saya kasih dia buah dan dia makan buah sendiri deh.

Ketiga kemarin pas perpanjang SIM itu, saya beliin Lego kecil deh akhirnya. Dia main Lego, saya makan sambil suapin dia. 

Saya bener-bener belum nemu cara biar dia anteng di tempat umum tanpa nonton. Soalnya Bebe nggak terlalu suka menggambar, baca buku repot juga, mentok ya so far bawa mainan aja sih yang dia suka. 

Apalagi ya! Udah sih itu aja. Nggak tips untuk lepasin gadget karena sebenernya gampang banget ASAL TEGA BILANG NGGAK. Udah itu aja.

Semoga menginspirasi yaaaa! 

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Gara-gara Susu Racun

on
Monday, October 2, 2017
Iya gara-gara susu racun jadi pengen nulis hahaha.


Duh ini kenapa Seninnya tau-tau udah jam setengah 6 aja. Saya lagi bengong doang ini nunggu dijemput karena nggak bikin blogpost apa-apa hahaha. Harus banget nih Senin nulis? Cerita random aja biar ya?

*BIARLAH BLOG JUGA BLOG GUE LOL*

Pengen cerita Sabtu kemarin waktu dateng ke parents meeting di sekolah Bebe. Pembicaranya kuliah montessori di Kanada. Lulus kuliah beneran jadi guru TK montessori juga di Kanada. Dia bicara soal dasar montessori selama 2 jam lebih, plus ada praktiknya juga.

Satu hal, orangnya negatif. T_____T

Oke mungkin bukan orangnya, tapi pemilihan kata-katanya. Saya yang tadinya semangat mau share hasilnya di sini jadi drop gitu karena yaaa, ngerasa nggak satu frekuensi aja sama beliau. Jadi mau share juga nanggung hahaha.

Salah satu topiknya itu tentang gimana makanan juga bisa ngaruh sama kualitas anak (iyalah ya anak kurang gizi gimana bisa konsen di sekolah kan). Dia minta satu contoh susu yang biasa diminum anak. Standar anak-anak minumnya si susu kotak kecil dong ya, dikasih lah satu kotak susu itu ke dia. Terus dia ngitung gulanya ada 9 gram dalam satu kemasan rasa coklat.

(Baca: Selepas ASI, Apa Anak Harus Minum Susu?)

Dia bilang 9 gram itu sekian sendok teh, dikali berapa kotak yang diminum anak maka anak makan gula sekian sendok teh sehari. Quote-nya kurang lebih gini:

"Kita nggak tahu gula jenis apa yang dikasih. Anaknya jadi aktif banget kan? Kalian cuma kasih racun ke anak kalian."

TITIK. ASLI NGGAK ADA PENJELASAN APA-APA LAGI SOAL SUSU.

AND WOW GIRL, RACUN IS A STRONG WORD.

Saya colek JG terus JG bisik "kalemmm, terserah dia lah mau ngomong apa"

Iya sih tapi saya beneran heran deh. Maksudnya dia ngomong di forum terbuka, nggak bisa gitu ngomongnya positif? Ngomong gini kan bisa.

"Kita nggak tahu gula jenis apa yang dikasih. Anaknya jadi aktif banget kan? Tandanya terlalu banyak mengkonsumsi gula. Efek sampingnya lalalalala"

MENGAPA RACUN? Apakah benar ada anak yang keracunan setelah minum susu kotak?

HHHH. Mungkin sayanya lagi mens jadi kesel, tapi beneran deh, dia pikir dia bisa ngasih semangat ke ibu-ibu setelah DIA JUDGE NGASIH RACUN ke anak?

Kenapa ya ada orang-orang yang kalau ngomong soal parenting itu seolah dia paling bener sedunia dan ibu lain hanya meracuni anaknya? Dan emang kenapa kalau anak saya aktif toh saya nggak ngeluh juga. Toh saya hepi punya anak aktif karena saya nggak mau punya anak pendiam.

OH TERUS SEBELUM ITU DIA BILANG GINI *tiba-tiba inget*

"Makanya ASI itu penting banget karena itu bonding ibu dan anak. Kalau ibunya nggak kasih ASI, jangan salahin kalau di masa depan anak nggak sayang sama ibunya"

O________O

Gila di dunia nyata mata saya udah super melotot sampai mangap banget. Itu jahat banget banget banget. Kenapa dia begitu, apa dia nggak tau kalau banyak anak adopsi yang sayang banget juga sama orangtua angkatnya padahal YA JELAS NGGAK DIKASIH ASI. Judgemental banget sih nggak ngerti deh ijk.

(Baca: Untuk Kalian Ibu-ibu yang Baru Melahirkan Anak Pertama)

Tapi saya sama JG nggak mau memicu keributan kan jadi ya udah kami diam. Saya BERUSAHA diam sih sebenernya karena JG mah nggak kesel-kesel amat kayanya hahaha. Biasalah suami-suami kan suka menanggapi segala sesuatu dengan lebih tenang ya padahal mah istrinya udah nangis bombay. Hormon itu mah gengs. #kalem

Terus ada beberapa lagi lah kalimat dia yang negatif cuma kepanjangan kalau diceritain semua.

Abis acara, saya diskusi sama JG dan sepakat kalau pembicara kaya gini sih emang harus 100% ideal dong ya, kan tugasnya dia emang ngasih tau mana yang "benar" menurut ilmu yang dia punya. Urusan diterapkan atau nggak kan keputusan kita sendiri. Tapi tetep aja saya rolling eyes sama pemilihan kata-kata dia huhuhu.

*

Intinya *narik nafas* tolonglah hormati keputusan ibu-ibu lain. Kalian tim susu atau tim kibulan susu, ya jangan jadi nyalahin keputusan satu sama lain. Oh anak lo nggak minum susu, OK! Oh anak lo minum susu 10 kotak sehari, OK JUGA!

Ya okelah, kenapa nggak sihhhh. Karena faktor penentu kan banyak ya, yang nggak minum susu ya belum tentu jadi lebih pinter dibanding anak yang minum susu. Nggak bisa lah lo tarik kesimpulan gitu aja. Yang narik kesimpulan kaya gitu pasti belum baca blogpost saya soal si neng A deh. *KEMBALI KE DIA LOL*

Kalau lo berhasil ASI 2 tahun ya udah hebat, kalau lo nggak ngasih ASI sama sekali karena udah usaha tetep nggak keluar YA UDAH HEBAT JUGA. Kalau anak lo kalem nggak pernah tantrum, ya udah hebat. Kalau anak lo tantrum di mall terus lo sabar nungguin dia selesai marah, YA UDAH HEBAT JUGA.

Kalau lo berhasil pake popok kain selamanya dan sanggup cuci sendiri tanpa punya mbak ya udah hebat. Tapi kalau lo nyerah di hari kedua dan langsung pake pospak YA MASA NGGAK HEBAT? Kenapa ukuran hebat apa nggak diukur dari hal-hal kaya gitu sih? Ibu yang ngasih yang terbaik itu ibu yang hebat!

Iya intinya semua ibu yang berusaha itu hebat! Jangan dengerin apa kata ibu-ibu lain yang sok paling sempurna ya! Biar aja kita nggak sempurna, yang penting kita bahagia dan anak kita sehat sentosa!

Dan ya kalau pun Bebe nggak bisa jadi astronot kerja di NASA karena saya kasih gula di susu 5 kotak sehari YA NGGAK APA-APA LAH. Kita selalu ingin anak kita jadi yang terbaik, tapi yang paling penting itu jadi orang baik. Dan minum susu tidak akan mengubah dia jadi orang jahat kan?

And speaking of racun, duile zaman sekarang kalau gula di susu anak yang jelas diawasi BPOM aja dibilang racun gimana makanan lain ya nggak? Hahaha. Apa coba zaman sekarang yang nggak racun dan nggak mengakibatkan kanker? Sayur aja harus organik kalau mau beneran bebas pestisida mah. Mahal ya buibu.

Ok I'm sorry for the rant.

Anggap aja reminder untuk senantiasa tidak kritik keputusan ibu-ibu waras lain. Semoga Seninnya tidak jadi lebih buruk ya!

Thank you!

-ast-

PS: I googled her and found nothing. Kayanya doi emang cuma praktisi aja dan jadi konsultan deh nggak pernah jadi pembicara di mana-mana. Ilmunya sih lancar banget ngelotok cuma yaaa, semoga ada yang kasih beasiswa untuk public speaking ya. Aamiin.


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Susahnya Jadi Ibu ... (2)

on
Friday, September 29, 2017
*Ini draft lama, dari 24 Mei 2017 yang belum dipublish. Entah dulu kenapa marah-marah gini, pasti ada triggernya. Kemudian karena isinya marah-marah jadi diendapkan ... dan kemudian lupa hahaha. Publish ajalah ya sayang juga diem di draft doang ;)*



Iya sih emang nggak ada yang bilang jadi ibu itu gampang. Tapi pasti baru tau SEGITU susahnya jadi ibu setelah anaknya lahir ya? Iyalaahhh.

Pas nikah pasti banyaaakk banget yang tujuannya punya anak. Padahal nggak tau juga punya anak itu kaya apa. Mungkin itu yang namanya maternal instinct.

Iya ada kan orang-orang yang memang nggak pengen punya anak. Nggak pernah punya perasaan ingin punya anak dan itu TIDAK APA-APA. Karena jadi ibu itu susah, jangan memaksakan diri jadi ibu hanya karena orang-orang bilang eh kok kamu nggak punya anak? Atau hanya karena orang bilang sekarang saatnya punya anak.

No, nikah aja persiapannya panjang kok, jadi wajar kalau memutuskan punya anak setelah berpikir panjang.

Dan ini bukan masalah rezeki ya jadi tolong tidak dijawab dengan anak lahir dengan rezekinya sendiri. Bukan itu, beda konteks. Namanya orang usaha, rezeki pasti mengikuti lah. Tapi punya anak kan nggak sepenuhnya masalah khawatir akan rezeki.

Anak lahir sebagai tanggung jawab kita. Bagaimana kita akan didik dia? Bagaimana akan mengajari dia sopan santun? Bagaimana mengajari dia menghormati perempuan? Bagaimana mengajari dia toleransi agar tidak jadi bigot?

Jadi ya, punya anak BUTUH persiapan ilmu akan hal-hal itu. Jadi ibu itu butuh persiapan mental meskipun nggak bisa gladi resik dulu! Nggak bisa tes skenario dulu. nggak bisa reading dulu. Punya anak itu langsung performance, langsung syuting dalam one take. Nggak bisa retake, yang ada hanya penyesalan. *sigh*

Di situ beratnya.

Apalagi untuk ibu-ibu tengah kaya saya gini ya. Tengah dalam artian, nggak kaya banget, nggak miskin banget. Nggak idealis banget sampai segala organik tapi nggak serampangan juga sampai MPASI umur 3 hari. Realistis tapi masih pengen ideal gitu lah.

Ada di tengah-tengah dan itu emang kampret sih. Dan bikin kepikiran.

Karena tentu ingin jadi ibu terbaik bagi anak kan, tapi mau ideal banget juga kok ... capek yaaa. Gagal konsisten jadinya, kemudian muncul pemikiran "ah ya udalah gini juga nggak apa-apa kok". Beberapa minggu kemudian sedih sendiri "gue jadi ibu kok nggak konsisten banget ya"

T_________T

Dan tekanan datang dari diri sendiri karena diri sendiri yang perfeksionis ini susah sekali tidak membandingkan dengan ibu lain. Ibu lain kok gitu, kok gue nggak bisa banget ya begitu. Si X hebat deh anaknya nggak kenal gadget sampai sekarang umur 5 tahun. Si Y hebat banget deh anaknya lima homeschooling semua, gue kok nggak bakal sanggup ya kayanya.

Kemudian nyerah di awal dan berbuah penyesalan-penyesalan kecil. Penyesalan ini bisa dihapus dengan "ya udalah" tapi masih kepikiran dikit HAHAHAHAHA.

Pertanyaan ini pasti pernah mampir di kepala: apa kita ibu yang baik?

Kata orang, seorang ibu pasti ibu terbaik buat anaknya. Tapi kok kayanya belum tentu ya. Soalnya banyak juga ibu yang jahat sama anaknya. Tapi kan kita nggak jahat. Tapi anak kok lebih mau makan sama mbak dibanding sama kita?

HHHHH.

Mau detoks gadget tapi kita sendiri nggak mampu detoks gadget. Mau lebih sering main di luar tapi kok ya kita sendirinya juga capek harus ngejar-ngejar dia outdoor. Ingin homeschooling, baca buku sebelum tidur aja ngantuk banget rasanya.

Jadi realistis rasanya lebih susah setelah jadi ibu. Karena segala jungkir-balik yang kita lalui tiap hari itu bukan lagi karena kita ingin lulus SPMB atau sidang skripsi, segala tujuan akhirnya bukan diri kita, tapi akan jadi apa anak kita.

Kemudian merasa gagal. Kemudian mulai datang penyesalan.

Padahal, sadarilah. Keputusan untuk anak sebaiknya diambil setelah pemikiran yang matang. Jadi kalau dulu ngasih gadget, ya mungkin karena ada kebutuhan itu. Lihat alasan di baliknya, apa dulu mampu kalau tanpa gadget?

Nggak mampu kan? Kalau dulu nggak mampu tanpa gadget, maka sekarang anak ketergantungan gadget adalah risiko yang kita hadapi atas waktu-waktu yang didapat dari masa lalu.

Jadi bisa mikir "ah tapi kalau dulu nggak ngasih gadget juga ga mungkin makan, masa laper terus, nanti stres. Kalau stres nanti malah nggak waras ngadepin anak" Jadi tidak perlu menyesal, karena dulu gadget itu membantu.

Saya sih jarang menyesal sama segala sesuatu karena jarang mengambil keputusan impulsif. Jadi dipikirkan dulu. Waktu pertama kali ngasih gadget ke anak ya pertimbangannya karena ... karena kenapa nggak? Hahaha.

Belum lagi kalau marahin anak bukan karena salah dia tapi karena kita yang capek. Duh anak nggak salah apa-apa jadi kena bentak. Padahal sendirinya paling bisa bilang ke anak "tidak perlu sambil marah dong mintanya!"

Huhu.

Karena ini saya nggak berani untuk punya anak lagi. Tanggung jawab yang terlalu besar. What if I screw them up? What if I screw OUR LIFE up?

Komentar paling nggak sopan dan jahat dari segala urusan nambah anak: "nanti kalau ada apa-apa (read: anaknya meninggal) nyesel loh" LIKE HELLO PEOPLE. JADI PUNYA DUA ANAK ITU BACK UP IN CASE YANG SATU MENINGGAL?

No. Jadi ibu adalah pengalaman batin, biarkan saya menikmatinya. Biarkan kalian menikmatinya. Jangan pernah bertanya kapan akan punya anak, jangan pernah bertanya kapan punya anak kedua, ketiga dan seterusnya. Kalau ada yang tetep nanya maka musuhin lol.

Selamat hari Jumat!

Btw ini part 1-nya: Susahnya Jadi Ibu ...

-ast-

PS: Karena ini tulisan lama, jadi banyak soal gadget sebagai pelarian. Sekarang Bebe udah nggak ketergantungan gadget lagi. Minggu depan saya cerita proses detoksnya ya!


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe yang Romantis

on
Wednesday, September 27, 2017

Udah lama yaaaa nggak bikin update Bebe, terakhir kayanya pas ultah doang deh sementara minggu depan aja Bebe pas 3 tahun 3 bulan. Kalau ditanya orang anaknya umur berapa saya jawab 3,5 tahun aja biar cepet lol.

Di 3,5 tahun kurang 3 bulan ini (RIBET) saya mau share betapa romantisnya Bebe! Hahaha. Enek enek deh kalian semua. Saya harus nulis ini mumpung dia lagi manis-manisnya dan saya kalau nggak nulis pasti lupa.

Triggernya adalah, kemarin-kemarin sempet baca di Twitter tentang tiger mom yang nggak peduli perasaan anak asal goalsnya dia tercapai. Goalsnya rata-rata ya attitude atau akademik gitu. Terus saya sendiri jadi share bahwa untuk sekarang, goals saya buat Bebe nggak banyak. Dua di antaranya adalah sekolah harus bagus dan Bebe HARUS merasa disayang!

Kenapa? Simpel aja kalau dia di rumah ngerasa disayang tandanya dia nggak akan cari kasih sayang lain di luar rumah. KAYANYA LOH YA. Entahlah hahahaha.

💖 "Aku sayang ibu" 💛

Di keluarga saya, sejak kecil kami tidak terbiasa bilang "aku sayang ibu" atau "aku sayang ayah". Sekarang pas udah gede pun mentok kasih emot cium atau love aja. Emang nggak affectionate dari kata-kata aja gitu loh.

Makanya saya pengen Bebe jadi anak yang bisa ngungkapin perasaan. Jadi sejak Bebe bisa ngomong, tiap inget saya pasti bilang "ibu sayang xylo lohhh". Entah dia nanggepin atau nggak. JG juga pasti nimpalin "appa juga sayang xylo lohhhh". Sampai baru di enam bulanan terakhir dia nimpalin "aku juga sayang ibu sama appa!"

HUAAAA MELELEH BANGET SUPER.

Dan sekarang dia ngomongnya nggak usah saya duluan yang ngomong. Abis pup nih kan saya cebokin sambil dia berdiri, dia suka meluk sambil bilang "sayang ibuuu". Meleleh sekali kaannn. Tandanya dia tau bahwa saya ngomong sayang sama dia itu random aja, dia pun melakukan hal yang sama.

(Baca: Anak dan Pengambilan Keputusan)

💖 Cium-cium 💛

Selain bilang sayang, dia juga hobi meluk dan cium-cium pipi saya! Ini parah sih lebih bikin meleleh dari apapun juga. Jadi suka tiba-tiba mendekat terus cium gitu. Ya ampun anak 3 tahun kenapa bisa lebih romantis dari pacar sihhhh.

Dan ya, urusan bilang sayang dan cium ini sih hanya berlaku untuk ibu dan kadang-kadang untuk appa. Kalau lagi nggak mood, dia pasti bilang "aku sayang ibu nggak sayang appa". Hahahaha.

Kalau abis dimarahin JG dia bilang "aku sayang ibu nggak sayang appa" TAPI kalau abis dimarahin saya pun dia tetep meluk saya dan bilang "aku sayang ibu nggak sayang appa" HAHAHAHAHA.

(Baca: 5 Hal yang Tidak Perlu Dikatakan pada Balita)

💖 "Kalau udah besar aku beli ..." 💛

Satu lagi dari keromantisan Bebe adalah, dia seneng ngomong "kalau udah besar aku beliin ibu ..."

Ini dimulai sejak kamera sama iPad ilang. Udah pernah saya ceritain sih di sini: Kehilangan dan Kuota Kepemilikan

Waktu itu dia ngomong berulang-ulang "Nanti kalau sudah besar aku beli kamera dan aiped buat ibu, ibu senang kan?"

Dan itu berlanjut!

Sampai sekarang kalau saya bilang ingin sesuatu dia pasti bilang "kalau sudah besar nanti aku beliin buat ibu".

Pernah gurunya di daycare muji "wah Xylo celananya baru ya!" dia jawab "iya, nanti kalau sudah besar aku beli celana baru buat kak Wina".

MANIS BANGET ANAKKU YA AMPUN AKU TERHARUUUU. Dan dia cuma melakukan ini ke orang-orang yang dia sayang loh. :')))

💖 "Ibu cantik!" 💛

Entah dari mana Bebe dapet konsep kalau saya udah pake alis dan lipstik itu artinya cantik. Perasaan saya sama JG nggak pernah bilang kalau make up = cantik. Atau emang saya jelek banget kali kalau nggak dandan hahaha.

Tapi kalau saya udah dandan dia suka bilang "ibu cantik, ibu mau ke mana?" Atau dia tiba-tiba suruh saya gerai rambut dan nggak diiket terus bilang "ibu rambutnya gini aja, cantik kaya Elsa". Iya Elsa Frozen lah siapa lagi lol.

Saking seringnya dia bilang ibu kaya Elsa saya sampai pengen beli baju Elsa HAHAHAHAHA. Anaknya total emang kalau ngapa-ngapain, nggak suka setengah-setengah lol.

Atau kaya semalem, dia nunjuk buku cerita dia yang tokoh utamanya princess pake mahkota. Dia bilang "ibu kok nggak punya mahkota gini?" aku bilang "iya nih kok ibu nggak punya mahkota ya?" Dia jawab "iya ibu kan cantik, kok nggak pake mahkota".

KYAAAAA. SUAMI NGGAK ROMANTIS TERBAYAR DENGAN ANAK YANG SUNGGUH MANIS.

Dan apakah dia menganggap JG ganteng? OH TENTU TIDAK. Kalau Bebe abis bilang ibu cantik appa suka jealous dan tanya "appa ganteng nggak?" NGGAAAKKKK. Gitu kata Bebe hahahaha. #somuchwin.

💖 Pegangan tangan 💛

Kalau duduk di carseat, maka pegangan tangan. Kalau pelukan udah pegel, maka pegangan tangan. Kalau udah capek jalan sambil pegangan tangan, maka duduk di stroller sambil pegangan tangan.

Intinya di mana-mana pegangan tangan sama Bebe huhu gemes.

*

So far saya merasa berhasil sih untuk urusan disayang ini. Karena meskipun sayang sayangan gini, kami nggak manjain juga sih. Nggak boleh ya nggak boleh, nggak sopan ya nggak sopan, tidur ya tidur. I'm so proud of myself lol.

Jadi ya itu aja sih. Pesan untuk kalian yang mau punya anak romantis dan sweet kaya Bebe, dimulailah sejak dia bayi! Bilang sayang kapan pun, cium dan peluk kapan pun. Pastikan dia selalu merasa disayang bahkan ketika kita sedang mendisiplinkan dia.

Oke itu aja curhat hari ini. Buibu yang anaknya laki-laki, ayo tunjuk tangaaannn! Pasti pada romantis juga kan anaknya! 💖

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Pertemanan Orang Dewasa

on
Monday, September 25, 2017

Urusan teman ini pernah saya bahas singkat di Instagram sih. Betapa makin tua, makin sedikit punya temen. Saya sih sadar banget, I'm a bad friend, shitty one, worst ever lah. Makanya temen saya sedikit banget simply karena saya jarang sekali bisa meluangkan waktu untuk mereka.

Oke kalau temen mungkin banyak ya. Temen kantor, temen kuliah, temen deket yang masih suka pergi-pergi bareng gitu. Sahabat lah yang sedikit banget mah. Nggak punya malah hahaha. Sampai tahun lalu, saya nggak punya sahabat sama sekali. Sahabat saya ya JG uwuwuwuwu, bener-bener pertemanan orang dewasa lol.

Baca punya Gesi. Dia abis nyerocos curhat soal temen terus ngajakin nulis lol:

Sebelum ngobrol intens sama Nahla, Mba Windi, dan Gesi sih selama beberapa tahun saya beneran nggak punya sahabat cewek yang bisa saya curhatin segala hal yang literally EVERYTHING tanpa harus nyembunyiin apapun. They know my dark side as much as JG does. I can talk about the past, my family, kids, all without being judged.

Untungnya mereka bertiga punya latar belakang sama, punya point of views mirip-mirip soal kehidupan, level sosial ekonomi sama, jadi mau ngomongin apa juga nggak pernah ada yang tersinggung. Makanya betah-betah aja sahabatan sama mereka. Bisa begini juga karena mulai temenannya pas udah sama-sama dewasa kan.

Kenapa nggak punya sahabat sih?

Dulu mah punya lah. Selama sekolah sampai kuliah pasti punya lah BFF gitu. Cuma seiring berjalannya waktu, saya yang memberi jarak sama mereka padahal merekanya masih suka rajin ngajak ketemuan. Huhu. Maaf ya kalian kalau baca ini. T_______T

Iya saya memberi jarak karena saya ngerasa nggak sanggup untuk maintain begitu banyak orang untuk tetap dekat sama kehidupan saya. Waktu kosong saya sedikit sekali, cuma pulang kerja (yang selalu terburu-buru karena harus jemput Bebe) dan weekend.

Weekend harus dibagi sama beres-beres kerjaan rumah, main sama Bebe, kadang-kadang event juga, dan ... tidur. Iya capek banget lah sekarang tiap hari baru nyampe rumah jam setengah 8 malem, kalau juga harus janjian sama orang makan siang hari Sabtu itu rasanya kaya nggak tenang bangun siang.

Dan perlahan siapa yang lebih penting pun terbentuk dengan sendirinya kok. Temen-temen yang masih ketemuan sampai sekarang adalah temen-temen yang ngerti kalau malem saya cuma bisa ketemu di mall deket daycare Bebe. Mereka yang nggak pernah maksa ketemu dan kalau ketemu pun mau sambil direcokin anak whatsoever.

(Baca: Tips Survive di Jakarta Tanpa ART dan Nanny)

Apalagi kalau di Bandung.

Duh saya di Bandung seringnya cuma dua hari plis, nggak bisa ninggalin Bebe sama ibu saya pula karena Bebe maunya sama saya lah. Masa di Bandung udah mah cuma dua hari terus satu harinya saya harus pergi sama Bebe demi ketemu temen? Kasian ayah sama ibu ingin main sama Bebe.

Kalau pun di Bandung 3 hari karena long weekend, ya satu harinya di rumah mertua lah. Kan mertua juga mau ketemu Bebe. Kalau di Bandung lebih dari 3 hari baru biasanya saya mau diajak ketemuan. Tapi ya jarang-jarang juga sih di Bandung selama itu karena masa mau cuti? 

Sungguh complicated ya.

Karena saya udah ngelewatin cukup banyak hal soal urusan pertemanan ini. Ada yang saya nggak tau apa-apa tiba-tiba di unfriend di semua lini, saya confront langsung nggak pernah berbalas. Patah hati sih, tapi ya udah. Ada yang bilang saya katanya "pura-pura" teman. Padahal saya nggak ngerti juga masalahnya apa, nggak ngerti kenapa mereka jadi ngejauhin dan nggak nganggep temen lagi. 

Mungkin karena sayanya juga thinking banget ya. Jadi gampang bikin orang tersinggung karena semua diukur pake logika, bukan pake perasaan. 

Saya males harus basa-basi model Cinta di AADC gini:

Temen: "eh ketemuan dong"
Orang lain: "iya dong ayo kapan dong" (padahal males dan nggak niat sama sekali)
Temen: "iya lo bisanya kapan"
Orang lain: "iya kapan ya duhhh"
Temen: "lo deh yang nentuin"
Orang lain: "ya udah tar dikabarin deh sorean" (terus ngilang pergi ke Kwitang sama Rangga lol)

GUE NGGAK BISA GITU. Kalau mau ketemu pas bisa ya bilang bisa, kalau nggak mau yang bilang nggak mau detik itu juga. 

Temen: "eh ketemuan dong"
Saya: "yah nggak bisa nih lagi capek banget Bebe daycarenya jauh"

END. Nggak perlu ada basa-basi kapan dong kapan dong. Kadang kelamaan mikir pengen basa-basi tapi seringnya malah kelupaan bales chatnya. Hhhh. Nggak heran kan saya nggak punya temen.

Tapi ya saya move on dan sadar bahwa pertemanan itu sesuatu yang fragile banget. Ada yang memang hilang seiring waktu, ada yang mati-matian kita usaha untuk mempertahankan padahal sebetulnya tidak perlu. Ada yang bisa retak *krak* tanpa kita tau alasan jelasnya. 

Sekarang saya percaya bahwa teman yang benar-benar teman tidak perlu dipertahankan. Mereka akan terus ada di sekitar kita tanpa kita usahakan. Mau ketemuan nggak usah pake rencana ini itu tau-tau jadi, makan malem dadakan tau-tau bisa. Atau malah level Gesi yang nggak janjian ketemuan pun tau-tau lagi sama-sama di Sency hahahaha.

Dan memang ada teman-teman yang tidak perlu diperjuangkan. Apalagi kalau temen zaman ABG dulu, we're different person back then, things change. Nanti yang diomongin masa lalu lagi, kalau kita udah nggak begitu kemudian dipandang sebelah mata dan dibilang "wah lo berubah ya?"

Yaiya berubah lah. Kan tambah dewasa, tanggung jawab makin banyak. :)

Atau bisa juga karena dulu rasanya nyambungggg banget sama segala hal. Sekarang ketemu udah gede gini kok ya ngobrol apa-apa nggak nyambung. Udah nggak share value yang sama lagi, jadi bingung sendiri kok dulu bisa temenan ya?

Jadi kalau sekarang ngebayangin, ih kangen ya sama si A padahal dulu ke mana-mana sama-sama banget, kok sekarang dia jauh ya? Ya wajar. Karena itu kan DULU.

Dengan lingkungan dan pola pikir kita yang dulu, kita BFF sama dia. Dengan lingkungan dan pola pikir yang sekarang, ya nggak nyambung lagi ternyata temenan sama dia. Nggak bisa kita berteman setelah jadi dewasa sama dia.

Apalagi kalau sahabat-sahabat kitanya toxic. Udalah jauhin aja nggak perlu tetep jadi sahabat "demi masa lalu, dulu dia doang yang ngertiin gue". Demi masa lalu terus bela-belain bikin repot hidup yang sekarang. BIG NO. Makasih aja atas semua kenangan seru dan cerita masa lalu, sekarang kita hidup masing-masing yaaa.

Oke gitu aja. Kalian gimana? Masih punya sahabat? Atau menganggap suami dan anak serta teman kantor sebagai sahabat? Share yuk!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Survey Happy Tree House Daycare Jakarta

on
Friday, September 22, 2017
Lanjut lagi ke hasil survey daycare Jakarta Pusat yeaaayyy! Kali ini nama daycare-nya Happy Tree House Daycare di Setiabudi Jakarta.



Bagi saya dan JG, Setiabudi itu sempurna! Dari segi jarak enak, menjauh dikit sih dibanding daycare lama tapi dulu JG kost di Setiabudi dan itu bikin kenangan banget! Kami jajan di situ banget, nongkrong sama temen-temen di Circle K atau Lawson Setiabudi, nonton di Setiabudi One. Setiabudi is perfect.

Makanya begitu tau ada daycare di Setiabudi kami langsung cus untuk survey. Gimana hasil surveynya? Ini dia.

🏡 Lokasi

Happy Tree House Daycare ada di Jalan Setia Budi VIII No.18. Dia sejajar sama beberapa hotel gitu dan nggak pinggir jalan besar banget jadi cenderung sepi. Jalannya pun besar jadi nggak perlu heboh pagi-pagi gantian parkir sama orang tua lain yang juga anter anak ke daycare.

🏡 Kondisi bangunan

Ada satu yang bikin agak kurang sreg. Jadi satu bangunan ini dibagi dua, di atas kost-kostan dan di bawah daycare. Pintu pake akses khusus tapi di pintu daycare nggak ada akses sendiri. Jadi satu pintu dengan akses itu hanya bisa dibuka oleh orang daycare DAN penghuni kost.

Rada serem nggak sih soalnya kan kita nggak kenal siapa aja yang kost di situ. Saya kebetulan ngobrol banyak sama mbak Yuki (ownernya), dia bilang aman-aman aja sih karena seharian pun pintu tetap dikunci dan hanya orangtua yang boleh masuk.

Tempatnya juga agak kecil, meskipun ada halaman samping dan kanan kiri kaca jadi sinar matahari masuk bagus banget. Ukuran kamar juga nggak terlalu luas, ruang makan sempit, ruang main sebenernya luas tapi ada sofa gede jadi kesannya tetep sempit.

Saya ingin ruangan yang luas soalnya Bebe kan nggak mau diem banget anaknya. Kalau ruangannya sempit dia nanti nyenggol-nyenggol anak lain gitu kan gimana.

Tapi tetep, better cek sendiri dateng langsung. Ini mah menurut saya aja loh ya, maklum sayanya emang banyak mau banget. Hahahaha.

🏡 Rasio caregiver dan anak

Lupa hahaha 1:3 deh kalau nggak salah buat toddler. Dan pas aku survey ke sana, salah satu mbaknya itu dulu mbaknya Bebe di daycare. Pindah karena apalah dulu lupa.

🏡 Jadwal harian

Seperti juga Kidee, Happy Tree House ini juga nggak ada preschool, Jadi jadwalnya standar daycare lah, cuma kegiatannya banyak banget dan bertema! Mulai jam 11-12 dan jam 2-4 sore.

Tiap bulan ada presentasi home project. Pas saya ke sana, home project yang baru dikumpulin itu tentang binatang. Jadi anak dikasih PR untuk bikin maket binatang dan tempat hidupnya gitu seru deh!

Untuk toddler class, setiap bulan ada goal khusus dengan tema yang berbeda dan di-break down jadi tema mingguan dan tema kecil harian. Yang ini kalian harus mampir banget deh ke Instagramnya @happytreehousedaycare. Mereka update kegiatannya dan seru-seru banget!

🏡 Mandi

Mandi sendiri-sendiri dan ada kebijakan tidak boleh telanjang satu sama lain. PLUS POINT BANGET! Suka banget!

🏡 Makan

Sudah termasuk sarapan, makan siang, makan sore, snack 1 kali. Susu bawa sendiri. Makanan dimasak di dapur daycare yang letaknya jauh dari kamar dan tertutup dari area main. Aman lah pokoknya.

🏡 Tidur

Tidur ada di kamarnya yang kasurnya baru dipasang kalau jam tidur. Tapi kamarnya kecil hiksss.

🏡 Program preschool

Nggak ada. Tapi menurut saya sih project hariannya mereka udah selevel preschool banget! NICE!

🏡 Mainan

Mainan nggak terlalu banyak sih. Mungkin karena kegiatannya banyak jadi nggak perlu mainan amat. Oiya mereka nggak punya halaman depan jadi main di halaman samping.

🏡 Jam buka - tutup - overtime

Buka jam 6.30 - 6 sore. Tapi 6.30 pagi kena overtime sampai jam 7 kecuali masih ditemani orangtua. Overtime Rp 15ribu 15 menit. Overtime sore baru dimulai jam 6.15 bukan jam 6. Baik banget yaaa. :)

🏡 CCTV

Ada CCTV dan online.

🏡 Toilet training

Lupa nanya. :|

🏡 Report harian

Report daycare harian.

🏡 Punishment

Sistem time out. Nggak masalah sih hahaha.

🏡 Anak sakit

Seinget saya sih, nggak ada kamar isolasi ya.

🏡 Lain-lain

Field trip rutin satu bulan sekali. Dokter anak 3 bulan sekali, observasi dan kontrol psikolog 4-6 sekali, dokter gigi 6-12 bulan sekali. Kerja sama dengan Posyandu Setiabudi jadi kalau ada program kaya vaksin MR gitu ya ada dokter dateng, vitamin A juga ada. Jadi aman. :)

🏡 Biaya

Biayanya reasonable banget sih menurut aku. Apalagi kalau kerjanya daerah Setiabudi situ. Perfect banget lah ini.

Admission fee: Rp 2juta
Annual development fee: Rp 750ribu

Tuition fee:
Full day (5 hari seminggu): Baby Rp 3,9juta, Toddler Rp 4juta
Half day (5 hari seminggu, 6 jam sehari) atau Half Week (3 hari seminggu): Baby Rp 3,5juta, Toddler Rp 3,6juta
Daily rate: Baby Rp 350ribu, Toddler Rp 360ribu
Weekly rate: Baby Rp 1,6juta, Toddler Rp 1,7juta

Diskon 10% kalau follow di Instagram loh!

*

Plus point lagi ownernya baik banget super super baik. Saya chat malem-malem juga dibales dan bisa diajak diskusi soal daycare lain. Malah yang yakinin saya untuk pilih daycare yang sekarang itu dia! Baik banget deh beneran sampai terharu. Enak kalau ownernya baik jadi bisa curhat kan. Anaknya dia dua dan dua-duanya juga ditaro di Happy Tree House sih jadi nggak khawatir banget.

Yes, I think that's all! Masih ada sih review daycare Jakarta Pusat saya yang lain tapi nanti nulis kalau sempet ya!

Baca review sebelumnya:

REVIEW LOVELY SUNSHINE DAYCARE BENHIL
REVIEW TWEEDE DAYCARE BENHIL (DAYCARE BEBE 3 TAHUN TERAKHIR)
REVIEW KIDEE CHILD CARE SENOPATI

dan cerita plus tips seputar daycare di tag:

TENTANG DAYCARE

Atau kalau mau tanya-tanya langsung soal daycare bisa dm ke Instagram saya @annisast.

See you daycare mommies!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Parenting Tidak Butuh Teori?

on
Wednesday, September 20, 2017

Suatu hari JG cerita soal temennya yang marah-marah karena merasa diceramahi teman lain soal parenting. Padahal temen yang ini memang kuliah psikologi anak dan menurut saya sih dia ya layak lah kalau mau share soal teori parenting. Teori kan, bukan praktek hahaha.

Menurut si teman yang marah, parenting itu natural karena manusia sudah melakukannya sejak dulu. Nggak perlu lah itu teori-teori, jalani aja sesuai naluri masing-masing.

Wow.

Saya kaget. Saya loh ya. Saya yang nggak pernah dateng ke satu pun seminar parenting atas kesadaran sendiri. Saya yang well, dateng ke seminar parenting karena jadi endorser. Saya yang nggak niat sedikit pun montessori di rumah, main edukatif, blablabla. Sebagian besar mainan Bebe adalah mainan tidak edukatif, konsumtif, korban kapitalisme lah.*sigh*

Tapi saya percaya parenting bisa 100% natural tapi lebih baik TIDAK. Membesarkan anak BUTUH teori pendukung.

Yaiyalah, kalau nggak pake teori contoh realnya adalah orang tua ngeyel yang keukeuh ngasih anaknya bubur padahal anaknya baru umur 2 bulan. Bengkak lah perut si anak, buburnya nggak bisa kecerna semua. Operasi deh.

Dan heran aja sih sama orangtua zaman sekarang yang mengabaikan teori. Teori parenting zaman sekarang kan aksesnya gampang banget. Nggak kaya zaman orang tua atau nenek kakek kita dulu. Mereka mentok dapet teori parenting dari bidan atau posyandu kan.

Padahal teori parenting itu bikin hidup lebih gampang loh, beneran. Bikin hidup lebih damai karena teori tumbuh kembang anak itu sudah dipelajari bertahun-tahun. Tinggal pilih teori mana yang cocok untuk diterapkan dalam keluarga.

Contoh anak tantrum. Dulu anak tantrum akan dicap sebagai anak bandel, nggak tau aturan, ibunya nggak bisa ngajarin, dsb. Ibunya pun akan ikut mendidih ketika anak tantrum, akhirnya anak dibungkam, diancam atau dipaksa diam. Harga dirinya hancur karena mengekspresikan diri dilarang sejak kecil.

(Baca: Tips Menangani Anak Tantrum di Tempat Umum)

Nggak heran kan banyak di antara kalian yang terlalu takut bersuara? Terlalu takut punya pendapat, terlalu takut ngeblog, terlalu takut beropini. Tanyakan pada diri kalian sendiri, apakah waktu kecil sering disuruh diam? Terlalu sering dibentak agar tidak berekspresi? Mungkin jawabannya iya.

Karena tantrum adalah sarana berekspresi bagi balita, dia tidak tahu bagaimana caranya marah maka ia tantrum. Teorinya adalah, kita jaga dia, perlihatkan bahwa kita berempati dengan kemarahannya, peluk sampai ia kembali tenang. Sesederhana itu. Tidak perlu ada judge bahwa dia sulit diatur atau ibunya kurang disiplin, yang perlu kita lakukan hanya menunggu.

Tapi kalau kalian keukeuh, "ya nggak lah, anak gue ya anak gue. Kalau menurut gue dia nggak tau aturan, maka dia memang nggak tau aturan."

Sesungguhnya hal tersulit dari orangtua adalah menerima kekurangan diri sendiri. Menerima bahwa kita tidak selalu benar. Menerima bahwa anak belajar melalui dunianya, bukan dunia kita. Anak melihat sesuatu dengan pola pikirnya, bukan pola pikir kita. Kita pernah jadi anak, anak tidak pernah jadi kita.

Makanya saya senang kalau ada yang chat kemudian berdiskusi tentang anak. Tandanya kalian serius membesarkan anak, tandanya kalian tidak main-main dan ingin memberi yang terbaik untuk anaknya. Meskipun ya sebel sih kalau nanya-nanya padahal udah dikasih linknya dan nggak dibaca dulu. Baca dulu ya, punya anak itu kan intinya belajar hal baru setiap hari.

Coba kalau kita pikir ulang. Sebelum lahiran, baca teori tentang melahirkan, tentang ASI, tentang perkembangan janin, dll. Anak lahir mulai baca teori soal pompa ASI, tentang leap atau growth spurt, tentang milestones. Anak mulai makan kita pun belajar lagi soal MPASI, soal gizi, tiba-tiba masak, tiba-tiba ke pasar, ya kan? Itu semua teori kan?

Terus emang diterapkan semua?

Ya nggak lah, banyak juga teori parenting yang memang nggak saya setuju atau saya lakukan. Tapi kan kalau nggak setuju ya gampang, tinggalin aja. Pilih lah teori yang memang sesuai kata hati. Tapi tetep, BELAJAR DULU, cari tau dulu pilihan-pilihannya.

Makanya saya ngerasa beruntung banget punya akses ke psikolog anak dari daycare Bebe. Kalau nggak begitu, kapan coba bisa curhat full tentang anak kita sendiri ke psikolog anak, nggak akan pernah sih pastinya. Makanya kalau abis dari psikolog, saya pasti share hasilnya di sini karena saya pengen kalian yang nggak punya akses ke psikolog bisa ikut tau juga. Semoga bermanfaat ya. :)

So that's pretty much it. Parenting, dan hal apapun dalam hidup, akan lebih mudah jika kita tahu ilmunya. Itu aja sih.

Selamat hari Rabu! :)

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Karena Rokok (Pasti) Bisa Menunggu

on
Monday, September 18, 2017

Hari Minggu lalu jam 6 pagi, kami bertiga plus ibu saya jalan-jalan ke Gasibu. Niatnya sih mau lari, tapi ternyata track lari di lapangannya sangat crowded. Jangankan lari, jalan pun susah. Kami pun akhirnya melipir, menyusuri Taman Lansia sampai bertemu Taman Cibeunying.

Itu loh taman yang ada robot Transformers angkot dan Bumblebee. Tamannya tidak terlalu besar tapi banyak tempat sewa mainan. Bebe mulai terdistraksi tukang pancing ikan mainan (Rp 5ribu boleh mancing ikan plastik sepuasnya btw), JG sudah nangkring di tukang lontong sayur, dan saya sendiri duduk di bawah patung. Mengamati sekeliling.

Pengunjung yang datang rata-rata keluarga muda. Suami istri dengan anak balita, paling besar anak TK. Datang hanya untuk duduk-duduk dan jajan. Yang menyebalkan, sebagian besar dari orangtua itu merokok. Baik ayah maupun ibunya.

Ada yang sengaja duduk terpisah dengan anaknya yang sedang makan sosis bakar, ada yang duduk sebelah anaknya dengan rokok disembunyikan di balik badan seolah punggung akan menyerap asap rokok itu, ada yang terang-terangan saja merokok sambil menggendong anaknya yang masih sangat kecil.

Apa yang ada di pikiran mereka? Apa rokok tidak bisa menunggu?

Kalian sengaja bangun pagi, berganti dengan baju yang lebih baik, para ibu bahkan sempat menggambar alis dan memulas lipstik. Demi bisa menghabiskan waktu bersama anak kan? Anak yang mungkin jarang kalian temani karena sehari-hari ditinggal bekerja.

Merokok mungkin kesenangan kalian, tapi ditemani bermain oleh ayah dan ibu yang atensinya full, orangtua yang kedua tangannya bisa digunakan tanpa terganggu memegang rokok berasap mungkin jadi kesenangan anak kalian.

Merokok adalah hak kalian. Tapi menghirup udara bebas asap rokok adalah hak ANAK kalian.

Suami saya bukan perokok, pun saya sendiri, tapi saya yakin rokok bisa menunggu. Pasti bisa menunggu.

Merokoklah saat sendirian, merokoklah di luar rumah, merokoklah saat nongkrong dengan teman-teman, merokoklah di tempat yang disediakan khusus untuk merokok, jangan merokok di dalam rumah, jangan merokok di dalam rumah orang lain saat bertamu. Mandi dan berganti pakaian lah sebelum masuk rumah dan memeluk anak serta istri atau suami.

Karena mereka, orang-orang yang paling kita sayang kan? ATAU TIDAK?

Bukan cuma satu dua artikel kan yang membahas risiko anak sakit pneumonia tinggi jika berada di lingkungan yang merokok? Bukan satu dua penelitian kan yang membahas bahwa residu rokok masih tertinggal bahkan ketika asapnya sudah tidak ada?

Jadilah perokok yang bertanggungjawab. Asap rokokmu, tanggung jawabmu. Seperti juga kehidupan sehat anak-anakmu, tanggung jawabmu.

Rokok bisa menunggu. Ada puluhan jam yang kalian lewati tanpa anak-anak kalian. Gunakan sebaik mungkin untuk merokok sepuasnya. Tapi sisihkan waktu 2-3 jam di Minggu pagi untuk membawa anak-anak ke taman dan menghirup udara segar di bawah pepohonan. Udara segar yang tidak terganggu asap rokokmu lagi.

Untuk kalian yang punya pasangan merokok, tak perlu melarangnya berhenti. Hal sia-sia yang akan berujung pertengkaran saja. Ia akan berhenti ketika ia mau berhenti, bukan karena kalian menyuruhnya berhenti. Tapi mintalah waktunya saja sedikit, waktu-waktu berkualitas bersama anak-anak di mana ia menunda keinginannya merokok.

Demi kalian, demi anak-anak yang lebih sehat.

Terima kasih.

-ast, ibu satu anak yang selalu menyuruh anaknya berteriak serta kabur jika ada orang merokok. Bahkan ketika yang merokok adalah sekumpulan polisi di kantor polisi, "OM POLISI MELOKOK AKU HARUS KABULLL!!!"

GIVEAWAY HADIAH BALANCE BIKE MASIH DIBUKA LOH! KLIK!


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Memutuskan Menetap

on
Friday, September 15, 2017

Jadi ceritanya, saya dan JG lagi galau pengen pindah rumah. Galau pertama karena insecure abis kemalingan, galau kedua adalah sekolah Bebe yang astaga jauhnyaaaa.

Sori ralat, macetnyaaaaa. Sampai rumah jam 8 mulu nih jadinya. Iya sih kami masih mengusung prinsip "biar macet asal sama-sama" tapi insecure banget beneran gara-gara rumah kecurian dua kali. Kaya ngerasa "oh mungkin ini udah saatnya kami pindah" gitu.

Karena kalau secara jarak sih sebenernya nggak ngaruh amat ya, sama-sama searah dari kantor JG mau pulang. Cuma macetnya jadi combo banget soalnya kalau daycare lama tuh bisa lewat jalan tikus gang-gang sempit yang jarang dilewati manusia. Kalau sekarang jalannya bener-bener jalan utama yang yaahhh, dilewati semua mobil hhhh.

Kenapa atuh pilih sekolah di situ bukannya cari yang deket aja?

Duh ya baru setelah urusan sekolah ini saya jadi ngerti bahwa jarak dan waktu bisa dikompromi tapi sekolah yang bagus tidak. Artinya (untuk sekarang) mending jauh tapi sekolahnya bagus, daripada deket tapi sayanya nggak sreg sama sekolahnya.

Kecuali memang nggak punya pilihan, misal kami nggak punya mobil, atau saya dan JG lembur terus gitu misalnya. Ini kan nggak, kami masih bisa anter jemput tanpa ganggu kerjaan, dan Bebe bisa tetep nyaman juga bobo atau main sama saya di mobil. Dan since dia udah ikut rutinitas kami kerja sejak umurnya 3 bulan, dia kayanya hepi-hepi aja nggak capek gimana.

Karena pilihan sekolah yang mending itu nggak ada. Bukannya ada, tapi kami nggak mau kompromi. Emang nggak ada aja. Sekolah yang sekarang ini yang terdekat. Beratnya hidup di Jakarta lol.

(Baca: Memaknai Pilihan)

Dan urusan pindah rumah ini bikin saya mikir, untung ya ngontrak jadi bisa pindah kapan aja. Kalau rumah sendiri gimana?

Kalau di kampung halaman (in our case, Bandung) sih pasti masih kebayang karena tau persis areanya, lah di Jakarta? Buat kami yang asli Bandung, gimana cara memutuskan untuk menetap?

Karena nggak mampu beli rumah di Jakarta, gimana cara kami memutuskan akan tinggal di Bekasi, Tangerang, Depok, Bogor, atau mana? Kenapa pilih itu? Kalau pindah ke Bogor misalnya, apa siap selamanya jadi orang Bogor?

AAKKK NGGAK SANGGUP MIKIRINNYA.

Kaya kalian dateng ke satu area yang nggak pernah kalian datengin sebelumnya, terus tiba-tiba harus tinggal di sana, dengan neighborhood yang sama sekali asing, nggak tau harus jajan pempek di mana, nggak tau harus ke supermarket yang mana.

DAN INGAT KOMITMEN KPR (MISAL) 15 TAHUN DI SANA. Yang artinya lo harus tinggal di sana terus-terusan sampai anak lo SMA. OMG SEREM NGGAK SIH. Kaya orang asing dipaksa adaptasi gitu.

Stres abis mikirinnya hahahahaha. Kalau nggak betah gimana? Kalau tetangganya rese gimana? Kalau ternyata nggak betah karena alesan apapun gimana? Dibetah-betahin aja kan rumah sendiri, kalau rumah sendiri kerasanya beda kok, kata orang gitu.

Tapi tetep euy, belum punya nyali. Bahkan untuk sekadar, survey yuk ke daerah A cari-cari tau harga rumah. Itu aja nggak berani. Nggak berani karena bingung A itu daerah YANG MANA? Apakah kita akan membangun rumah di sana dan jadi orang sana sehingga di masa depan Bebe akan pulang bawa istri dan anaknya ke rumah kami di kota itu?

Karena di otak itu kalau pulang kampung ya ke Bandung.

Makanya sampai sekarang, saya dan JG belum memutuskan akan menetap di mana persisnya. Well untungnya sih udah punya rumah di Bandung ya jadi nggak diresein orang dengan "beli rumah kali jangan main terus". Ya ini udah, cicilannya tinggal 7 tahun lagi, udah setengah lewat.

Untuk sekarang kami kaya go with the flow gitu. Apalagi setelah konmari-an ya, barang jadi sedikit banget jadi kalau pindah pun rasanya nggak akan stres-stres amat sama packing.

(Baca: Beres-beres Rumah ala Konmari)

Saya juga mikir apa karena kami tinggalnya di Jakarta ya jadi takut nggak betah dan bawaannya curigaan banget. Kalau misal tiba-tiba harus permanen tinggal di negara yang proper segala-galanya sih MUNGKIN bakal dibetah-betahin aja toh dapet "sesuatu" juga dengan ngebetah-betahin diri.

"Sesuatu" as in jalanan rapi, penduduk yang educated, jadi nggak serobot antrian atau buang sampah sembarangan, ya yang nggak bikin lo sakit kepala lah. Tapi kan ini Jakarta dan kota satelitnya, di mana semua jenis manusia ada. Dari yang nggak berpendidikan, ke yang pendidikannya tinggi banget sampai yang pendidikannya tinggi banget tapi kaya nggak ada otaknya gitu juga lengkap.

Don't get me wrong, saya happy kok tinggal di Jakarta. Karena nggak tau mau kerja apa di kota lain hahahahaha. Tapi ya itu, sebetah-betahnya tetep nggak berani bilang "oke karena gue seumur hidup akan kerja di Jakarta, maka gue akan beli rumah di Depok! Ayo kita survey rumah di Depok!" gitu misalnya. Nggak berani bangeeettt hahahaha.

Kenapa ya? Mungkin karena deep down inside kami cinta Bandung. Kalau pun harus meneguhkan hati selamanya akan tinggal di mana, ya di Bandung lah.

Dan mungkin juga karena Bandung lebih nyaman dibanding Jakarta ya. Maksudnya kalau kampung halaman kalian di kampung banget atau nggak nyaman ditinggali kan ya pasti lebih pilih Jakarta lah. Kalau Bandung kan kota besar juga, nggak jauh-jauh amat dari Jakarta, kerjaan juga pasti ada bagi kalian yang mau berusaha lol.

Jadi ya, apa alasan kalian memutuskan menetap di kota baru yang bukan Jakarta dan bukan kampung halaman? Share dong, siapa tau aku terinspirasi!

MAKASIHHHH!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe Sekolah!

on
Wednesday, September 13, 2017

Hari ini hari kedelapan Bebe sekolah dan ya, saya cukup terharu sih sama perkembangannya. Iya, baru 8 hari udah kerasa beda!

Oke jadi daycare dan preschool Bebe ini konsepnya montessori. Nah, meskipun montessori itu lagi hype banget dan kaya diagung-agungkan semua ibu sampai pada niat #montessoridirumah, saya sendiri nggak jadi yang gremetan pengen banget Bebe sekolah montessori.

Pertama karena ya ini kan cuma preschool, saya sendiri jadinya belum punya goal apa-apa untuk Bebe. Yang penting dia bisa bergaul aja sama anak seumurannya karena di daycare lama kan dia main bener-bener sama anak kecil.

Terus kenapa akhirnya saya pilih preschool montessori?

Mmmm, nggak begitu. Preschool ini saya pilih bukan karena metode montessorinya, tapi karena daycare-nya bagus! Karena kan sebenernya preschool-nya mah sebentar banget ya, sehari cuma 2 jam. Sisanya kan justru dia main di daycarenya, jadi saya pilih karena sesuai dengan daycare yang saya mau.

Rumahnya luas, kena sinar matahari, ada playground luaaassss, mainan, sepeda, buku banyak banget, dan anak tidak selalu di kamar. Anak bebas ke mana pun. Lokasinya di perumahan sepi pula, jadi bisa naik sepeda di jalan depan rumah atau jalan-jalan ke taman. Beda sama daycare yang pernah saya review ini (KLIK DONG). Jadi kebetulan aja kalau metodenya montessori.

(Review daycare lama Bebe, 3 tahun loh di sini: Tweede Daycare Benhil)

🍎 Sosialisasi

Sejak awal kami cari preschool (sekitar bulan Juni), saya udah sering bilang ke Bebe kalau nanti dia akan pindah sekolah.

Dua minggu sebelumnya hari H pindah, sosialisasi makin gencar. Bahwa nanti temannya akan anak besar semua, setiap hari saya kasih kalimat-kalimat yang menyiratkan sekolah itu seru sekali. Dan dia memang belum liat sekolahnya sampai hari pertama.

"Main sama anak kecil kan nggak seru ya, Be? Nanti di sekolah, temannya anak besar semua loh!"

"Be, nanti gurunya bukan Kak Wina lagi, gurunya pintar loh. Nggak apa-apa kan ganti guru?"

"Be, sekolah Bebe besaaarrr sekali. Seru loh mainannya banyak, ada tenda dua, ada perosotan, banyak lah pokoknya"

Dan masih banyak lagi versi kalimat kaya gitu.

🍎 Hari pertama

Hari pertama yang galau siapa? Ibu dan appa tentu saja. Bebe sih semangat banget karena dia udah membayangkan sekolahnya seru. DAN UNTUNGNYA SERU!

Dia dateng masih pake baju tidur, saya langsung kenalin ke teachernya. Saya kasih liat bahwa ini loh rak bukunya, ini loh rak mainannya, ini loh ruang mainnya. Kemudian dia main sepeda. Saya tanya, mau liat kamar sama kamar mandinya dulu nggak? DIA MENGGELENG, SODARA-SODARA.

"Ibu dan appa boleh kerja?"

DIA MENGANGGUK, PEMIRSA.

Kemudian saya dan JG dicium dan bye kami berangkat deh ke kantor HAHAHAHA. Sungguh mudah. Nggak drama sama sekali sampai sekarang. Hari ketiga saya udah nggak anter, turun di kantor aja. Dia nggak nangis, nggak canggung atau apa. Semangat banget sampai sorenya nggak mau pulang.

Nah terus tiap hari kan dikirimin foto tuh sama missnya, hari pertama siang-siang liat foto kegiatan Bebe kok kayanya kalem amat ya. Saya forward ke group keluarga, adik saya bilang "kayanya masih kalem deh mbak, kaya yang pendiem".

Sorenya saya ngintip dulu pas jemput, ohhh pendiem bangeeettt! Dia lagi colek-colek temennya sambil bilang "aku bisa nyanyi robocar poli loh!" Kemudian dia nyanyi lagu robocar poli teriak-teriak sambil main piano plastik. Sungguh anakku pendiam, seperti ibu dan appanya. -_______-

Missnya juga nanya "bu, ini biasanya emang di daycare ya, mandiri banget nggak kaya anak baru" UHHH I'M SO PROUD HAHAHA.

🍎 Perubahan setelah sekolah

Hari pertama sekolah dia makan 3 kali sendiri dan habis semua! Makan bubur kacang ijo sendiri juga habis semua! Duh emang di rumah dan di daycare lama dimanja banget sih makan selalu disuapin. Seminggu ini baru sekali dia makannya nggak habis. Mungkin nggak suka, nggak apa-apa saya mah nggak pernah maksa hehehe.

Siang udah nggak pake diapers dan cuma ngompol sekali. Ganti baju sendiri. Sekarang apa-apa maunya sendiri gitu. Pas baca-baca di website sekolahnya, goalsnya itu ternyata emang anak mandiri. Aku terharu banget deh sumpah.

Udah seminggu juga nggak nonton YouTube dan pegang HP cuma weekend doang itu pun pake alarm 1 jam doang. Ini sih emang niat sayanya juga ya, tapi menyenangkan juga ya punya anak yang nggak terdistraksi HP itu. LOVE!

🍎 Ngapain aja di sekolah?

Di sekolahnya kegiatannya banyak banget. Di hari pertama aja dia belajar siklus hidup kodok (lengkap dengan alat bantu dari karet, YES KECEBONG KARET), main badminton, meres jeruk, main-mainan montessori, dan menggunting serta menempel kodok kertas.

Jadi tiap bulan ada tema-temanya gitu. Tiap hari ada jadwal pelajarannya juga. Seru lah pokoknya, saya sendiri takjub gitu wow ternyata Bebe bisa ya!

Lucunya pas ke taman, Bebe harus jalan sambil ngegandeng dua toddler gitu jadi belajar tanggung jawab ahahahaaha gemash. Mana dikirimin foto terus, mantengin cctv terus, terharu lah pokoknya.

🍎 Kok serius amat belajarnya?

Iya banyak yang khawatir kalau anak terlalu dini mulai belajar nanti katanya bosen sekolah pas gede. Saya memilih nggak percaya hahaha. Kalau nanti misal pas SD Bebe nggak mau sekolah ya ditanya kenapa nggak mau? Kalau emang nggak mau banget ya udah nggak usah sekolah HAHAHAHA.

Rich Chigga aja nggak sekolah kan, dia homeschooling 2 tahun doang terus sisanya nonton YouTube tiap hari. Dan sori, saya nggak terima debat soal Chigga ya. *anaknya lemah sama rapper* XD

Saya nggak masalah sih, ASAL KULIAH. Jadi ya nggak perlu sekolah formal nggak apa-apa, tapi harus kuliah. Tandanya harus ambil ujian persamaan atau IB kan (kalau mau kuliah di luar negeri). Terserah nggak mau SD, SMP, SMA tapi HARUS KULIAH. :)

*

Kekurangan sekolah Bebe ini cuma satu. JAUH BANGET DARI KANTOR DAN RUMAH. Deketnya dari kantor JG dan ya itu cukup bikin stres sih. Capek banget bisa 1,5 jam di jalan, dua kali lipat lebih lama dibanding dari daycare lama. Cuma karena bertiga di mobil ya udah ketawain ajalah. Toh puas juga sama sekolahnya.

So yaaa, I think that's all! Sampai jumpa di cerita selanjutnya!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!