Image Slider

Being Too Hard on Myself

on
Monday, February 19, 2018
Saya bilang saya perfeksionis. Orang bilang saya ambisius. Yang benar saya keduanya, juga control freak untuk jaga-jaga kali ada yang tidak sesuai rencana.



Plus saya sendiri sadar diri judes meskipun udah berusaha selalu senyum sampai bego. Padahal menurut saya tbh saya cuma bilang apa adanya, nggak dikasih bumbu basa-basi. Terutama judes kalau orang kerjanya nggak beres, apalagi udah dikasih tahu harus gini gitu terus tetep nggak beres juga.

Keperfeksionisan (is that even a word???) saya ini merembet sama hal-hal lain. Salah satunya yang baru saya sadari baru-baru ini dan kemudian saya pertanyakan:

Am I being too hard on myself?

Kalau soal fisik sih saya hampir nggak pernah punya masalah percaya diri ya, tapi hal-hal lain. Terutama soal gambar sih. Dulu saya ngerasa nggak bisa gambar. Pokoknya nggak bisa aja, nggak bakat, titik.

(Cerita lengkap di sini: Mencari Skill Baru)

Sekarang 7 bulan sejak saya mulai gambar, progressnya jelas keliatan tapi saya selalu merasa gambar saya kurang. JG pun setuju, memang masih kurang banget katanya.

Itu sebabnya di bulan-bulan pertama tidak ada satu pun gambar yang saya upload di mana-mana. Karena saya malu.

via GIPHY

Sampai tersadar soal mungkin saya terlalu "keras" pada diri sendiri dan ya kenapa harus begitu sih? Akhirnya saya coba bodo amat lah meskipun nggak puas, biar upload aja. Respon orang baik semua, awalnya saya senang karena dipuji.

Lama-lama, makin tau teknik gambar, makin ngerasa susah ya gambar. Malah jadi struggling banget kadang-kadang udah coret-coret lama tapi kok jelek amat. Negatif banget ya. Menerima pujian itu jadinya susssssaaaaaah banget karena ada ego bahwa penilaian kita pada diri kita sendiri itu yang paling benar.

Setelah saya runut. Saya sejak kecil selalu begini dalam hal apapun. Karena ibu saya perfeksionis juga. Bayangkan.

Inget nggak sih waktu kelas 1 SD kita sering ada PR menulis kalimat berulang-ulang? Misal nulis: Ini Ibu Budi. Guru kita akan nulis di baris paling atas, kita harus ikut nulis di baris bawahnya berulang-ulang satu halaman penuh di satu garis kolom yang sama.

Biasanya baris-baris awal tulisannya bagus tuh, makin bawah makin jelek karena bosan. Pun makin berantakan kolomnya, spasi makin jauh, udah nggak sejajar sama kata yang ditulis guru paling atas. Apa yang ibu saya lakukan kalau saya nulisnya begitu?

DIHAPUS LAGI, GENGS. SEMUANYA. SURUH ULANG LAGI DARI AWAL. HAHAHA. Sekarang ketawa dulu cuma bisa speechless dan mengulang lagi menulis dari awal dengan lebih tekun dan rapi supaya tidak dihapus lagi.

Mungkin itulah cikal bakal mengapa saya ingin segala yang saya lakukan HARUS sempurna. Kalau jelek, maka harus diulang dan orang tidak perlu tahu. Di kasus yang dulu, guru tidak boleh tahu kalau saya nulisnya sebenernya tidak selalu serapi dan selurus itu.

via GIPHY

Jadi memang mungkin saya terlalu keras sama diri sendiri. Dan sebenernya di banyak sisi, nggak apa-apa lho! Saya senang karena saya selalu berusaha lebih, selalu lakukan yang terbaik, dan untungnya makin dewasa, saya tipe yang makin slow sama segala sesuatu.

Maksudnya kan ada yang orang perfeksionis yang jadi stres kalau ada nggak sesuai rencana. Kalau saya nggak begitu karena pasti udah punya plan B, C, dan D hahahaha. Atau kalau konteksnya kompetisi, saya selalu punya mindset, hasil nggak penting yang penting proses! Makanya kalau saya kalah sebuah kompetisi, yang sedih biasanya malah JG, sayanya biasa aja lol.

Tapi ini bikin merenung banget pas mulai menggambar. Pas SMP, saya liat banyak temen yang jago gambar. Saya coba, saya nggak bisa kaya mereka. Saya tetep coba beberapa lama dan tetep nggak bisa, saya langsung merasa bodoh. Saya nggak terima ketidaksempurnaan padahal ya namanya belajar pasti masih kacau lah gambarnya. Saya nggak terima saya nggak bisa mengontrol diri sendiri. Mau gambar begini kok hasilnya begitu.

Itu yang pelan-pelan saya ubah. Pesannya satu aja:
Don't be too hard on yourself!

Yang paling gampang adalah ngurangi kalimat caption negatif macam: "jelek amat gambarnya biarlah ya" atau "nggak tahu kurangnya di mana, stres gambarnya nggak selesai-selesai". Karena suka ada yang bales "bagus kokkkk" dan saya berjuang untuk nggak bilang "NGGAK AH JELEK". Ngritik diri sendiri kok ya gitu-gitu amat ya huhu.

Saya sampai baca banyak artikel soal ini dan ya, semuanya rata-rata menyarankan bahwa kritik ke diri sendiri itu harusnya sama dengan kritik ke orang lain. Konstruktif tapi tidak menyakiti. Apalagi sampai melukai harga diri.

Yah intinya gitu. Ini murni curhat doang kok, maaf ya tidak memberi manfaat hahahahaha. Masih harus banyak belajar banget soal mengenali diri sendiri. Judes sama orang aja kadang udahnya suka nggak enak hati, ini kok ya judes sama diri sendiri terus-terusan seumur hidup huhu.

Atau ada yang punya tips untuk bisa ramah sama kemampuan diri sendiri?

MAKASIHHHH.

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Jadi, Gimana Ngajarin Calistung?

on
Tuesday, February 13, 2018
Ini sih pertanyaan terbesar setelah Bebe masuk usia preschool. Soalnya baca sana-sini denger si ini dan si itu katanya: jangan ngajarin calistung atau sekolah sebelum umur 7 tahun! Nanti anak kehilangan masa kecil! Ia akan bosan belajar! Motivasi belajarnya akan menurun! Mentalnya akan bermasalah di kemudian hari!


Ngobrol sama beberapa temen yang anaknya udah masuk SD, semua jawabannya sama: santai ajaaa tar juga bisa sendiri kok!

Tapi kok saya khawatir ya? HAHAHAHAHA. Takut Bebe nggak bisa baca zzzz. *parno*

Oke, sebagai backround, selama ini saya selalu pasang flat face tiap ada orang bilang “anak nggak boleh belajar formal sebelum 7 tahun karena akan jadi malas belajar, cepat bosan, blablabla”.

Sebabnya saya sendiri masuk SD umur 4,5 tahun dan sudah bisa baca sebelum masuk TK. Saya tidak pernah malas sekolah sampai kuliah. Dan terpampang nyata dari minus mata yang udah nyampe 2,5 di kelas 6 SD, saya sangat suka membaca. Saya tidak bisa tidur sebelum membaca sesuatu. Jadi malas belajar dan cepat bosan hanya karena belajar formal sejak kecil itu nggak berlaku di saya. Juga di banyak orang lain, yang komen di sini.

(Baca deh tulisan mbak Nurisma Fira tentang pendidikan dini di Inggris. Umur 4-5 tahun udah pada bisa nulis kalimat loh di sana! Baca ya: Larangan Calistung Sebelum Umur 7 Tahun Adalah Pembodohan

Pas banget minggu lalu di daycare Bebe ada parents meeting dengan tema “Mengapa Tidak Perlu Buru-buru Mengajarkan Calistung”. Yang ngasih materi owner daycare yang juga praktisi montessori jadi semua penjelasannya pake filosofi montessori. Kemudian aku tercerahkan! Dan tentu saja akan berbagi pencerahan itu pada kalian semua lol.

Pencerahannya sederhana: anak bukan tidak boleh belajar calistung TAPI JANGAN DIPAKSA dan harus sesuai tahapan kemampuannya.

Udah segitu doang sih kalau kalian mau berhenti baca di sini juga boleh lol.

Calistung itu BUKAN kemampuan naluriah. Jadi kurang tepat kalau bilang “alah nanti juga bisa sendiri kok”. Nggak begitu. Membaca, menulis, dan menghitung bukan kemampuan naluriah. Beda sama merangkak, jalan, atau lompat. Nggak diajari pun bisa sendiri.

Karena bukan nature, maka harus di-nurture.
*dikeplak mas ganteng Ivan Lanin karena ngomong campur Inggris mulu*

Membaca, menulis, dan berhitung harus diajarkan dalam kondisi yang menyenangkan bukan karena ditakut-takutin nanti mental anak blablabla. Alasannya sederhana, supaya belajar jadi menyenangkan. Supaya anak senang membaca, supaya terbiasa menulis, supaya senang sama matematika. Supaya senang, bukan karena takut. :)

Ini lebih masuk buat saya dibanding ditakut-takutin anak akan bosan belajar blablabla. Hehehe.

Kapan kita tahu anak sudah siap belajar calistung?

Pertama, pendengaran anak harus dalam kondisi baik. Kedua, kosakata yang dikuasai harus sudah banyak dan tidak ada kesulitan dalam komunikasi sehari-hari. Karena membaca akan lebih mudah ketika anak bisa menghubungkan kata yang ia baca dengan benda yang ia tahu.

Dari segi fisik, akan lebih mudah kalau otot-otot jari anak sudah lentur. Menulis membutuhkan 3 jari yang lentur: jempol, telunjuk, dan jari tengah. Tiga jari ini dipakai untuk menulis, makan, menjumput, dan banyak lagi dan ketiga jari ini sebaiknya sering dilatih sejak usia toddler.

Kalau dari Bebe pendengaran kan nggak ada masalah. Kosakata banyak juga dan udah bisa kalimat utuh dan kalimat bertingkat. Jadi menurut dua faktor ini sih Bebe siap banget belajar calistung.

Otot jari masih dilatih kan di sekolah. Latihannya bisa dengan transferring (mindahin pompom pake pinset dari KIRI ke KANAN ya), bisa dengan tracing (men-trace huruf pakai dua jari telunjuk dan jari tengah), memindahkan air dengan spons, dan banyak lagi. Itu semua buat latihan otot jari dan tangan biar nulisnya halus dan nggak gerigi-gerigi. *alah*

Katanya daripada tracing huruf (menyambung garis putus-putus berbentuk huruf) mending tracing garis dan gelombang (huruf S terus menerus sampai panjang). Nantinya nulis huruf akan bisa sendiri kalau udah lancar bikin garis dan gelombang.

Iya sih bener juga. Tapi karena saya nanggung punya beberapa buku dan flash card alphabets yang bisa dipake latihan jadi ya udah terusin aja hahahaha. Toh anaknya mau juga kan.

(Baca: Bebe's Favorite Books, Beli Buku Anak di Mana?)

Gimana ngajarinnya?

Metodenya dijelasin detail tapi akan sangat panjang kalau dibahas di sini. Kuncinya di sini: JANGAN DIPAKSA. Daya konsentrasi anak berbeda-beda dan kehilangan konsentrasi bukan berarti ia malas belajar. Caranya kurang lebih gini:

1. Kenalkan huruf dalam dua huruf konsonan dan satu vokal dulu baru kemudian bisa kata yang lebih panjang. Jadi kenalkan kata-kata seperti ban, cat, dot, pot, sol, alah apalagi ya ya pokoknya yang tiga huruf dulu. Bilang: b, a, n, ban.

2. Kalau sudah tertarik, berikutnya tes dia dengan nanya: huruf b yang mana? A yang mana? N yang mana?

3. Kalau sudah lancar, minta dia menyebut, ini huruf apa? Satu per satu sampai ketiganya bisa.

Nah tapi kalau di poin kedua dia udah bosan ya udah berhenti aja belajarnya. Anak beda-beda, ada yang mau belajar baca tulis sejam, ada juga yang 5 menit bosan. Nggak apa-apa kalau dia udah nggak mau ya berhenti aja. Syaratnya, kalau dia lagi mau dan minta belajar, JANGAN DITOLAK. Semua bisa menunggu, fokus aja dulu ke ajarin dia.

(Baca: Stop Menyuruh Anak untuk Diam)

Untuk baca, katanya lebih gampang pake metode phonetic. Bisa search di YouTube “phonetic bahasa Indonesia”. Sebulan terakhir, saya dan JG tiap kali inget selalu memasukan phonetic ke dalam topik pembicaraan sehari-hari. Misal Bebe lagi minum yogurt merek Yo (bukan iklan), maka komentar kami adalah:

“Wah Xylo sedang minum Yo. Y, O, YO”

Atau Bebe lagi bahas ban mobil. Ibu nyeletuk aja “Iya ban itu B, A, N BAN”

Ingat ngomong hurufnya pake phonetic ya bukan baca huruf biasa. So far Bebe seneng dan jadi suka nanya “kalau jendela gimana ibu hurufnya?”

Sejak sekolah Bebe udah bisa tulis nama sendiri. Dia juga tau-tau hafal A sampai Z huruf kecil dan huruf kapital padahal belajarnya cuma iseng aja pake tempelan kulkas atau pas kebetulan di mana pun ada huruf, suka saya tanya ini huruf apa. Tapi ya baru hafal DOANG. Konsep menggabungkan huruf belum ngerti dia. Makanya ini saya sendiri ngotot belajar phonetic. lol

Misal Y dan O dia tau itu YO karena saya sering ngomong. Tapi ditanya "M O jadi apa?" Nggak tau dia HAHAHAHAHA. 

Untuk nulis, masih latihan otot jari yang saya sebut di atas kalau di sekolah. Tapi kalau dia di rumah semangat ngajak nulis, ya kami belajar menulis juga di rumah. Menulis huruf apapun, menggambar juga boleh yang penting pegang pensil, kalau bosan ya berhenti.

Untuk berhitung, saya seringnya pake jari tangan doang. Kemarin-kemarin dia selalu skip six, jadi dari five langsung seven. Besokannya tiap saya turun mobil, dia harus kiss bye enam kali. Terus udah deh nggak lupa lagi. Hal-hal sederhana kaya gitu aja.

(Baca: Mengajarkan Bahasa Inggris pada Balita, Perlu?)

Untuk tambah-tambahan, paling gampang pakai mobil-mobilan dia. Satu mobil ditambah dua mobil jadi tiga mobil dan seterusnya.

Buat jadi menyenangkan dan jangan pake target. Slow.

Tapi please note kalau ini melelahkan sekali HAHAHAHAHAHA BOLD UNDERLINE. Main Lego atau baca buku lebih mudah, sungguh. Tapi ya udah daripada anaknya nggak belajar? Saya seneng Bebe belajar jadi capek-capek pulang kerja pun ya temenin lah kalau pas dia mau belajar baca atau tulis.

Satu hal lagi.

Meski nggak kepikiran untuk Bebe, saya ngerti banget sama orangtua yang masukin anaknya ke les calistung. Karena ngajarin sendiri itu capek banget ya Tuhan. Nggak perlu dijudge macem-macem lahhh, kalau emang di lingkungannya cuma ada SD yang wajib bisa calistung untuk masuk, masa orangtua nggak boleh panik dan ngasih anaknya les calistung sih?

Nanti anaknya nggak bisa masuk SD gimana? Nggak usah masuk SD dulu? T_____T Kadang nggak bisa menyamaratakan satu standar jadi nasional kalau sekolahnya sendiri belum punya standar yang jelas ya.

Jadi ayo semangat belajar calistung buibu! Kita pasti bisa melewati ini semua!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Drama Vaksin Difteri

on
Monday, February 12, 2018

Sekitar 2 minggu lalu, daycare Bebe manggil dokter dari rumah sakit untuk vaksin difteri. Yang divaksin bukan anak-anak tapi semua miss, guru, dan orangtua. Ya udah kesempatan banget kan ya daripada harus ke RS sendiri, mana murah pula cuma Rp50ribu.

Dari awal dokternya udah bilang "ibu ini agak sakit ya karena vaksin difteri itu di otot. Jadi beberapa hari juga akan pegel, kalau demam minum parasetamol aja".

KAMI IRL: "Oh gitu dok? Oke"

KAMI DALAM HATI: "AHELAH VAKSIN DOANG SESAKIT APA SIH CIH"

Ternyata ya Tuhan DUA HARI ini tangan nggak bisa digerakin sama sekali! O______O

Dimulai dari jarumnya masuk cus gitu aja rasanya jauh dari digigit semut. Ini kaya digigit buaya satu lengan langsung sakit gitu gitu deym (LEBAY BODO AMAT). Yang sakit bukan setitik seukuran mulut semut kaya vaksin biasa, satu lengan malehhhh sakit banget.

Pas obatnya masuk itu berasa otot lengan melemah. Bener-bener nih vaksin konspirasi wahyudi melemahkan kaum Muslim! Pas jarumnya ditarik, di situlah awal mula tangan nggak bisa gerak SAMPAI BESOKANNYA.

DEMIKIAN.

(Baca: Halu-halu Orangtua Baru)

Di kantor saya cranky, tangan kaku banget nggak bisa lurus atau naik ke atas. Benerin jilbab aja susah. Jadi tangannya nyiku aja gitu terus membentuk huruf L. Makin sore karena satu tangan kurang gerak, satu bahu sakit, makin malem sampai leher sakit. T_____T

Ngeluhlah ke JG "AKU SAKIT BANGET HUHUHU BELIIN SALONPAS LEHER AKU KAKU HUHUHUHU"

JG: "Ih lebay, aku biasa aja nggak sakit sama sekali"

Dunia memang tidak pernah adil.

via GIPHY

Pokoknya seharian itu ribet lah sumpah, mandiin Bebe susah, masak susah, kesenggol dikit langsung merepet ngamuk. Sampai besoknya masih pegel tapi udah mendingan. Hari ketiga baru normal banget. Selama 3 hari itu pula Bebe tahu persis kalau saya sakit, jadi ya mayan sih sosialisasi ya bahwa orang dewasa juga vaksin dan abis vaksin itu memang suka sakit.

Satu hal: merasa bersalah sama Bebe karena suka nuduh dia drama kalau abis vaksin. Suka nggak mau mandi dan nggak mau disentuh bekas suntiknya kan. Terakhir si Bebe vaksin PCV sama Hepatitis B kalau nggak salah di paha kiri kanan sekaligus terus saya dengan brutalnya nyabut itu plester di hari kedua. Bebe ngamuk sengamuk-ngamuknya umat.

Ternyata emang sakit yah. Maaf ya, Be. T______T

(Baca: Susahnya Jadi Ibu. Part 1 dan Part 2)

Dan sampailah kita pada hari Senin minggu lalu. Ownernya daycare pengumuman kalau anak-anak akan divaksin difteri hari Kamis. SAYA STRES. Trauma karena diri sendiri aja secranky itu apakah kusanggup memikirkan si Bebe akan rewel?

Tanya sana-sini karena Bebe kan udah full DPT 4 kali, apa perlu vaksin lagi? Kata orang-orang karena ini ORI (Outbreak Response Immunization) sebaiknya memang vaksin lagi dan tidak memandang status vaksin sebelumnya. Saya dan JG pun menyiapkan mental dan berjanji tidak akan meremehkan Bebe kalau dia bilang bekas vaksinnya sakit.

Hari Kamis jam 10 pagi dia vaksin. Sebagai ibu-ibu males drama, saya nggak nemenin lah HAHAHAHA. Kalau ada ibu manja soalnya males tar jadi susah pergi kerja padahal hari itu saya ada event. Dan ternyata bener aja loh, dia NGGAK NANGIS SODARA-SODARA. Kata missnya cuma ngek dikit pas jarum ditarik terus ya udah balik main. Waw anakku sungguh kuat.

Sorenya, JG dan Bebe jemput saya selesai event. Dipegang jidatnya rada anget. Terus dia bolak-balik pipis mulu padahal kami ke mall cuma makan doang. Pipis 4 kali dong wow ada yang tidak beres. Mana dia kalem duduk di stroller dan nggak lari-larian kaya biasa. Pas menuju parkiran dia bilang gini "ibu, ini mall AC-nya dingin sekali, tangan aku dingin".

Ternyata dia udah menggigil kedinginan huhu aku merasa gagal karena tidak menyadari dia kedinginan. Duduk di carseat saya selimutin pake jaket tebel punya JG, dan akhirnya dia ketiduran. Tidur nyenyak di mobil doang sampai rumah gelisah semaleman. Badannya menggigil, meluk saya terus. Dipakein termometer cuma 38 doang, dan karena saya mikirnya ini bukan sakit jadinya nggak dikasih obat. Biarlah tubuhnya melawan biar kuat ciat ciat ciat!

Semaleman demam sampai pagi. Tangan yang bekas disuntiknya itu bengkak kaya digigit serangga, merah dan panas gitu kasian banget huhu. Pagi dia teler banget keringetan dan masih anget, akhirnya dia nggak sekolah dan saya pun nggak kerja. #workingmomproblems

Hari Jumat itu seharian dia cuma tiduran karena lemes, nangis ngerengek, tidur lagi, makan, lemes lagi, tidur lagi hahaha kasian banget asli karena ibu tau persis rasanya, Be. HAHAHA.

Hari pertama dan kedua mandi dan pake baju itu repot banget ya ampun. Karena dia menjauhkan sejauh mungkin lengan kirinya dari jangkauan saya. Saya megang bahu doang dia teriak kenceng. Mana JG nggak bantu lagi dan malah nakut-nakutin terus "appa buka ah perbannya" terus Bebe ngamuk teriak "JANGAAANNNN! AKU LAGI SAKIT! AKU LAGI SAKIT!"

via GIPHY

Kemarin, hari ketiga setelah vaksin saya yakin itu udah nggak sakit karena keliatan dia main tangannya udah nggak kaku. Tapi ya astaga dipegang lengannya itu dia masih teriak karena apa? KARENA MASIH ADA PERBANNYA. Jadi dia masih sugesti itu sakit.

Saya pun bertekad lepas perban pas dia meleng! Kesempatan muncul karena dia pake kaos kutung dan lagi seru main es batu. Dari belakang saya pocel dikit itu perban, copot sebelah. Dia belum sadar lol. Lagian itu perban udah kena mandi 3 hari kan jadi udah nggak nempel-nempel amat ya. Saya tarik lagi dikit dan teriaklah dia ngamuk HAHAHAHAHA.

Dia kesel tapi mau dipeluk. Saya bilang "maaf ya Be, abis tadi ibu liat perbannya copot sebelah (IYA MAAF IBU BOHONG) jadi ibu tarik aja eh ternyata copot. Emang masih sakit?"

"Nggak sakit tapi aku takut" GITU KATANYA HAHAHA.

Drama pun selesai. Abis itu mandi pun biasa, pake baju biasa hahahaha.

Usai sudah cerita weekend kami kemarin yang penuh tawa dan air mata.

Selamat hari Senin! Jangan lupa vaksin difteri ya!

-ast-



LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Mengajarkan Perbedaan pada Anak

on
Wednesday, February 7, 2018

Setelah ricuh-ricuh segala rupa dibuat kericuhan, saya langsung sadar satu hal: anak-anak harus diajari soal perbedaan. HARUS DIAJARI dan jangan biarkan mereka belajar sendiri dari lingkungan. Iya kalau lingkungannya toleran, kalau nggak?

Mungkin SD saya di kampung banget ya tapi dulu waktu SD, temen-temen banyak yang udah suka ngomongin perbedaan ke temen sendiri macam “ih dia mah Kristen” padahal kenapa harus ih coba? Anak non muslim biasanya jadi cenderung pendiam karena entahlah, mungkin merasa dikucilkan?

Semoga cuma di sekolah saya aja ya yang memang masih di pinggiran Bandung. Makanya nggak heran, tetangga yang non muslim pasti masukin anaknya di sekolah swasta karena mungkin biar nggak kentara banget mayoritas dan minoritasnya.

Sekarang? Wihhhh, kemarin di Twitter rame soal ibu-ibu di TransJakarta yang nggak mau duduk sebelahan sama orang yang dia duga beda agama. Itu emang kalau duduk sebelahan najis apa gimana? Baca reply-replynya miris banget karena jadi banyak yang curhat. Banyak yang di-cancel ojol karena disangka non muslim, yang susah cari rumah kontrakan, dan banyak cerita lainnya.

Belum lagi ada temen saya ditanya sodaranya yang kebetulan muslim dan baru masuk SD Islam, umurnya 6 tahun. Si anak bertanya: “Tante Kristen ya? Nggak boleh loh ya harus Islam”. O_____O

Terus saya jadi sedih banget. T_____T Kenapa anak kecil sudah mengkotak-kotakan agama kaya gitu sih. T_____T

Tapi ya untungnya Pilkada membukakan mata dan kami jadi lebih niat sih ngajarin perbedaan ke Bebe. Konsepnya sederhana: orang itu beda-beda dan beda itu tidak apa-apa. Orang bebas memilih ingin jadi orang seperti apa.

(Baca: Hal-Hal yang Berubah Pasca Pilkada DKI

Jadi kalau Bebe tanya apapun yang menyangkut agama, warna kulit, warna rambut, gender, mental & physical health (seperti anak berkebutuhan khusus atau berkursi roda), level ekonomi, dsb maka kami akan jawab seperti konsep tadi itu.

Soalnya dia makin sering banget tanya pertanyaan model:

“Kok om itu gendut?”
“Kok dia rambutnya keriting?”
“Kok tidak semua perempuan pake jilbab?”

Jawabannya satu:

“Orang kan berbeda-beda, beda itu tidak apa-apa"

Dan kalau pertanyaannya berupa pilihan seperti pakaian atau agama, maka ditambahkan jawaban:

"Semua orang bebas memilih ingin jadi orang seperti apa”

Pun dengan mainan dan warna. Entah gimana sih dia tau, mungkin karena observasi sendiri karena dari kecil kami tidak memberi gender pada mainan dan warna. Tapi sekarang dia suka nyeletuk “pink kan cantik banget, pink buat ibu aja, aku nggak suka warna pink kan aku laki-laki”. Kalau udah begitu biasanya saya tarik napas dan jawab “kalau kamu tidak suka pink tidak apa-apa, tapi laki-laki juga boleh loh suka warna pink”.

Netral. Dan usahakan selalu netral.

Atau kalau liat pemulung di pinggir jalan. Kami jelaskan dengan konsep berbeda pekerjaan. “Om itu pekerjaannya memang seperti itu, dia mencari uang. Mungkin dulu dia tidak sekolah jadi tidak bisa kerja di kantor seperti ibu dan appa. Pekerjaan orang kan beda-beda”.

Pelan-pelan konsep perbedaan itu masuk banget ke kepalanya dan sekarang nanyanya jadi makin komprehensif.

“Kok om itu gendut? Karena orang beda-beda ya ibu? Kenapa orang beda-beda?”
“Kok dia rambutnya keriting? Karena orang beda-beda ya ibu? Kenapa orang beda-beda?”
“Kok tidak semua perempuan pake jilbab? Karena orang beda-beda ya ibu? Kenapa orang beda-beda?”

NAHLOH HAHAHAHA. Ya udah jelasin aja kenapa orang beda-beda, karena backgroundnya beda, karena ayah ibunya beda, dan banyak lagi alasan yang bisa dibuat netral untuk tetep nunjukkin sama dia kalau dunia ini plural. Kalau di dunia ini orang tidak perlu sama dan itu tidak apa-apa. Dunia terlalu luas untuk dibuat sepakat.

Tapi garis bawahi ya, jawaban perbedaan ini untuk hal-hal yang tidak melanggar hukum, peraturan, atau sopan santun. Kalau nanyanya "kok om itu tidak pakai helm sih?" ya jangan dijawab karena orang berbeda. Jawab aja "iya ih om kok tidak baik sih, naik motor tidak pakai helm kan tidak baik". Ini jadi mengacu pada baik dan tidak baik seperti yang saya tulis di sini ya: Mengajarkan Anak Baik dan Tidak Baik.

Jadi demikianlah. Saya nulis karena mungkin aja ada yang resah juga soal ini tapi nggak tau mau mulai ngajarin anak dari mana. Tolong ya ibu-ibu, ayah-ayah semuanya. Ajari anak perbedaan, bertengkar karena berbeda itu nggak ada gunanya sama sekali.

Happy Wednesday!

-ast-



LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Karena Semua Ibu Itu Berbeda

on
Monday, February 5, 2018

Hai semuanya, gimana Seninnya? Saya hari ini nggak akan share tulisan sih tapi mau share series dari New York Times yang powerful banget. Bikin ngelamun dan mikir, di dunia ini nggak ada satu pun ibu yang sama.

Nggak ada satu pun ibu yang menjalani hal yang sama. Jadi sama sekali nggak adil kalau kita bilang “harus gini harus gitu” ke ibu lain. Background keluarga, support suami dan orang terdekat, jadi faktor penentu banget akan jadi ibu seperti apa kita. Gimana kita memperlakukan anak dan gimana kita mendefinisikan motherhood itu sendiri.

Kesamaan ibu-ibu itu cuma satu: punya anak. UDAH ITU AJA. Sisanya lakukan yang terbaik buat anak bahkan kalau pilihan itu dicap buruk sama orang lain. Asal kita tahu persis semua risikonya aja.

Tonton video ini satu-satu ya. Saya semua nonton dua kali karena yang pertama pasti ngelamun kebawa sama artwork-nya yang gila banget parah kerennya. YAIYALAH NEW YORK TIMES GITUUUU.

Video #1: A Mother’s Promise: You Can Be Yourself
Suaminya meninggal waktu dia lagi hamil. Dia seneng banget karena minimal dia hamil dan punya sebagian dari suaminya berupa anak. Anaknya laki-laki tapi dari kecil seneng pake baju princess.


Video #2: When Having a Child Doesn’t Make You Happy
Dulu, ibunya dia meninggal bunuh diri karena Post Partum Depression yang berkelanjutan. Setelah dia memutuskan punya anak, dia juga depresi dan ingin bunuh diri.


Video #3: They Saw Dad, She Was Mom
Suami istri nggak ada masalah apa-apa sampai anaknya lahir dan suaminya ngerasa ada yang salah karena … dia ingin jadi perempuan. He did it. Now they have 2 moms. :)


Video #4 sampai #6 belum ada di YouTube jadi aku nggak bisa embed di sini. Adanya di websitenya New York Times. Klik linknya aja ya.

Video #4: Her Sister Got Pregnant, She Couldn’t
Ini banyak terjadi dan sedih ya, adik yang paling disayang punya anak sementara kakaknya yang nunggu-nunggu punya anak nggak dikasih terus huhu. Videonya klik di sini.



Video #5: She Had a Child Before Becoming an Adult
Dia hamil pas umurnya masih 16 kalau nggak salah (kok ya lupa). Intinya tentang hamil di usia dini. Videonya klik di sini.



Video #6: Motherhood, on Her Own Terms
Dia dari kecil liat keluarganya yang perempuan kok ya di rumah doang ngurus anak. Dia nggak mau begitu dan akhirnya sekolah tinggi, sempet hamil terus aborsi. Suatu hari kok jadi pengen punya anak ya? Videonya klik di sini.



Udah nonton semua? Pesan bagi kita semua untuk menghargai pilihan orang. Kalau emang nggak suka atau nggak sesuai sama prinsip ya DIEM AJA nggak perlu banyak kritik kecuali kalian yang nafkahin hidup mereka. Kita nggak tau, sesusah apa hidup mereka dulu dan sekarang. :)

Have a nice day!

-ast-



LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Nonton Bioskop dan Anak Kedua

on
Friday, February 2, 2018
muka gue tiap ada yang nanya anak kedua *sigh*

Tadi pagi saya nge-Tweet tentang belum nonton film “Dilan” padahal ngikutin dari bukunya belum ada dan Pidi Baiq nulis di blog chapter per chapter. Beberapa orang langsung bilang “ayooo nonton”. Mereka nggak tau ya, buat saya dan JG, nonton bioskop itu nggak semudah jalan ke mall, beli tiket bioskop kemudian nonton. :(

KARENA SI BEBE HARUS DITARO DI MANA GAES? Kami tuh kalau mau nonton harus cuti. Nggak berlebihan karena si Bebe cuma bisa di daycare kan di hari kerja. Yang berlebihan itu bela-belain cuti demi nonton. Makanya kami nggak cuti, jadi aja nggak nonton bioskop.

Padahal saya suka nonton banget. Suka banget sampai dulu ayah pusing dan bilang “kenapa sih nonton terus?” Ya karena saya suka sekali. Zaman kuliah saya nonton SEMUA film yang ada di bioskop nggak peduli itu horor lokal atau thriller absurd. Film lokal dari yang bagus sampai yang meh saya nonton semua. Bukan sekali dua kali nonton film yang di bioskop cuma bertiga atau berlima, saking orang nggak peduli itu film apa, saya tetep nonton.

Pertama karena tiket nonton di Jatinangor Town Square itu murah meriah. Deket kampus pula jadi nggak punya alasan untuk nggak nonton. Pacar selalu ada, sahabat selalu setia (HALAH), intinya ya nonton itu udah jadi rutinitas aja sampai beberapa film nonton berkali-kali di bioskop.

Lanjut pindah ke Jakarta juga saya masih banget nonton. Apalagi kantor dulu deket Pejaten Village. Hamil gede pun udah 36 minggu saya masih loh ke bioskop. Nonton Wolverine di Senayan City. Duduk sambil sila dan tarik nafas berkali-kali karena udah pengap dan nervous banget takut brojol di bioskop kan nggak lucu ya.

Setelah Bebe lahir, kami stop ke bioskop. Cuma nonton beberapa kali itu pun di Bandung karena bisa titip Bebe ke ibu saya. Plus nonton Moana dan Coco karena itu film anak-anak jadi Bebe yang nonton.

Kami bukan tipe orang yang bawa bayi ke dalem studio. Iya sih kalau nangis bisa keluar dulu, tapi repot aja dan kami terlalu males repot hahahaha. Bebe bukan bayi kalem, jauh dari kalem. Daripada ke bioskop terus stres, nonton malah sepotong-sepotong, kami lebih bahagia di rumah. Nggak perlu mandi, usel-uselan nonton YouTube aja. Atau sewa film lama di iTunes.

Jadi nggak ngeluh stres juga sih karena kehilangan hobi nonton bioskop. Karena nggak nonton juga ternyata nggak apa-apa hahaha.

Yang paling utama, kami juga nggak punya siapapun di Jakarta untuk dititipi Bebe. Dan sebenernya inti tulisan ini adalah soal anak kedua. Nonton cuma sebagai background doang lol.

Kenapa saya udah ada di level “marah” kalau ada orang nanya anak kedua? Karena darling, buat kami berdua, anak itu bukan cuma masalah “anak lahir dengan rezekinya masing-masing”.

via GIPHY

Oke kita breakdown satu-satu. Uang nih ya yang paling real karena topiknya rezeki. Di Jakarta, biaya daycare satu anak aja 4-5jutaan. Sampai sini mau ketawa dulu nggak? Nggak perlu ketawa dong ya kan katanya anak ada rezekinya masing-masing. Tar juga pasti mampu lah bayar daycare segitu kalau anaknya udah lahir mah.

Ya lagian kenapa harus pake daycare segala sih? Pake mbak aja kali di rumah kan lebih murah!

Ngerti banget pasti lebih murah. Tapi kami berdua nggak bisa nanggung risiko mbak drama pulang kampung mendadak terus nanti Bebe gimana? Saya harus cuti? Kalau nggak dapet mbak sampai 2 minggu gitu gimana? Harus cuti 2 minggu?

We opted for daycare for our peace of mind. Nggak drama mbak mendadak pulkam, nggak takut anak ngapain aja berdua mbak, dan yakin anak dididik sesuai prinsip di rumah. Even better.

Dan kalau Bebe bayi pake mbak tapi nggak ada yang supervisi atau cuma pake cctv kok ya saya serem sendiri. Ibu saya dan mamah mertua keduanya ibu rumah tangga sih jadi kami nggak terbiasa dengan konsep dijaga mbak di rumah. Terlalu menakutkan. :(

(Baca: Penyesalan dalam Hidup)

Kami nggak punya privilege “titip dulu di rumah ibu/ibu mertua sampai dapet mbak baru” loh. Nggak punya sama sekali. Kalian yang bisa titip terus ngedate berdua suami itu harus bersyukur banget! Meskipun saya dan JG juga nggak gremetan pengen ngedate berdua sih. Kami terlalu terbiasa bertiga. Nggak bertiga kalau di kantor doang. Pergi pulang bareng, ke mana pun bareng.

Kami ke mana-mana bertiga literally. Saya di dapur semua ikut diem di dapur, saya di kamar semua ikut diem di kamar. Kami se-clingy itu satu sama lain HAHAHAHA. Abring-abringan wae kalau kata orang Sunda mah.

Selain uang dan urusan mbak, yang paling signifikan adalah kami tidak punya waktu. Waktu luang kami sedikit sekali. Setiap hari packed banget. Sampai-sampai karena gambar, saya jadi nggak ada waktu baca buku. Pilihannya ya mau baca buku, gambar, nonton YouTube, lipetin baju, atau beberes rumah? Nggak bisa semuanya sekaligus. Makanya sekarang nggak bisa ngikutin series apapun karena ya nggak ada waktunya.

(Baca: Mengurus Rumah Tanpa Nanny dan ART. Bisa? NGGAK!)

Saya juga udah nggak mau ngorbanin waktu tidur. Begadang demi nonton, terus besok di kantor ngantuk cranky pengen cepet pulang. Di rumah jadi pengen langsung tidur dong, kapan main sama Bebenya? Dan kalau si Bebe punya adik? Waktu yang udah sangat sempit ini harus dibagi sama satu orang lagi?

Selama ini saya dan JG bisa sabar, hampir nggak pernah bentak Bebe, apalagi jewer cubit apapun itu karena kami fokus pada Bebe. Bebe selalu dapet full 100% perhatian yang nggak terbagi. Kebayang banget sih kalau anak kedua masih bayi lagi rewel kolik terus si Bebe malah iseng numpahin beras ke lantai gitu, pasti marah lah kita. Kalau sekarang? Ya nggak marah kenapa harus marah coba, jongkok aja bertiga di dapur mungutin beras satu-satu.

We’re in our comfort zone indeed. Untuk urusan anak, kami beda sama urusan belanja. Lebih baik nyesel karena punya satu dibanding nyesel karena punya lebih dari satu. Kami tidak mau ada yang merasa dikorbankan. Karena untuk adil itu susah sekali kan? Apalagi buat saya yang nggak percaya prioritas.

(Baca lah Priority is Bullshit)

Kami juga tidak mau pindah ke Bandung demi dekat orangtua biar bisa titip anak atau saya keluar kerja biar bisa urus anak. Mungkin maternal instinct saya kurang kuat jadi ya, saya bukan tipe yang kalau liat orang hamil itu kepengen, liat orang punya bayi kepengen.

Nggak usah dianggap aneh ya, orang kan beda-beda. Buat saya malah aneh orang bayinya baru 3 bulan terus bilang kepengen hamil lagi hahaha. Jadi ya bukannya takabur, tapi memang nggak siap aja entah sampai kapan. Belum pernah sekalipun tercetus "pengen deh punya anak lagi".

Konsep mendidik anak terus menerus itu kayanya emang bukan buat saya deh. Punya satu, mati-matian belajar parenting terus drained. Habis tenaga. Kalau sampai ada apa-apa sama Bebe ya udah mungkin memang begitu seharusnya, kalau sampai 10 tahun lagi pengen punya anak dan nggak dikasih, ya udah mungkin memang begitu seharusnya.

Ada yang bilang “nanti tuanya sepi loh kalau anak satu”. Yah, nenek saya anaknya 5 juga tetep di rumah tinggal sendirian sampai meninggal. Ibu saya anak 3 juga ini yang dua udah pisah kota.

Lagian judgement kaya gitu nggak adil, saya punya anak satu aja udah seneng banget kok. Yang nggak punya anak terus padahal udah usaha mati-matian gimana? Masa mau disindirin tuanya nanti kesepian? Masa mau disindirin "ayolah punya aja rezeki mah pasti ada". NGGAK KAANNN? Faedahnya apa sih nanya-nanya orang kapan nambah anak?

Untungnya JG juga sama. Gini-ginian emang harus sepakat banget sama suami ya. Suka kasian sama yang istrinya nggak mau punya anak terus suaminya keukeuh. Karena ngurusnya kan berdua, ya harus sepakat di awal berdua dulu dong huhu.

Jadi ya demikian, simpulannya untuk nonton bioskop aja kami nggak sanggup, apalagi anak kedua? :)

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!