Jadi, Gimana Ngajarin Calistung?

on
Tuesday, February 13, 2018
Ini sih pertanyaan terbesar setelah Bebe masuk usia preschool. Soalnya baca sana-sini denger si ini dan si itu katanya: jangan ngajarin calistung atau sekolah sebelum umur 7 tahun! Nanti anak kehilangan masa kecil! Ia akan bosan belajar! Motivasi belajarnya akan menurun! Mentalnya akan bermasalah di kemudian hari!


Ngobrol sama beberapa temen yang anaknya udah masuk SD, semua jawabannya sama: santai ajaaa tar juga bisa sendiri kok!

Tapi kok saya khawatir ya? HAHAHAHAHA. Takut Bebe nggak bisa baca zzzz. *parno*

Oke, sebagai backround, selama ini saya selalu pasang flat face tiap ada orang bilang “anak nggak boleh belajar formal sebelum 7 tahun karena akan jadi malas belajar, cepat bosan, blablabla”.

Sebabnya saya sendiri masuk SD umur 4,5 tahun dan sudah bisa baca sebelum masuk TK. Saya tidak pernah malas sekolah sampai kuliah. Dan terpampang nyata dari minus mata yang udah nyampe 2,5 di kelas 6 SD, saya sangat suka membaca. Saya tidak bisa tidur sebelum membaca sesuatu. Jadi malas belajar dan cepat bosan hanya karena belajar formal sejak kecil itu nggak berlaku di saya. Juga di banyak orang lain, yang komen di sini.

(Baca deh tulisan mbak Nurisma Fira tentang pendidikan dini di Inggris. Umur 4-5 tahun udah pada bisa nulis kalimat loh di sana! Baca ya: Larangan Calistung Sebelum Umur 7 Tahun Adalah Pembodohan

Pas banget minggu lalu di daycare Bebe ada parents meeting dengan tema “Mengapa Tidak Perlu Buru-buru Mengajarkan Calistung”. Yang ngasih materi owner daycare yang juga praktisi montessori jadi semua penjelasannya pake filosofi montessori. Kemudian aku tercerahkan! Dan tentu saja akan berbagi pencerahan itu pada kalian semua lol.

Pencerahannya sederhana: anak bukan tidak boleh belajar calistung TAPI JANGAN DIPAKSA dan harus sesuai tahapan kemampuannya.

Udah segitu doang sih kalau kalian mau berhenti baca di sini juga boleh lol.

Calistung itu BUKAN kemampuan naluriah. Jadi kurang tepat kalau bilang “alah nanti juga bisa sendiri kok”. Nggak begitu. Membaca, menulis, dan menghitung bukan kemampuan naluriah. Beda sama merangkak, jalan, atau lompat. Nggak diajari pun bisa sendiri.

Karena bukan nature, maka harus di-nurture.
*dikeplak mas ganteng Ivan Lanin karena ngomong campur Inggris mulu*

Membaca, menulis, dan berhitung harus diajarkan dalam kondisi yang menyenangkan bukan karena ditakut-takutin nanti mental anak blablabla. Alasannya sederhana, supaya belajar jadi menyenangkan. Supaya anak senang membaca, supaya terbiasa menulis, supaya senang sama matematika. Supaya senang, bukan karena takut. :)

Ini lebih masuk buat saya dibanding ditakut-takutin anak akan bosan belajar blablabla. Hehehe.

Kapan kita tahu anak sudah siap belajar calistung?

Pertama, pendengaran anak harus dalam kondisi baik. Kedua, kosakata yang dikuasai harus sudah banyak dan tidak ada kesulitan dalam komunikasi sehari-hari. Karena membaca akan lebih mudah ketika anak bisa menghubungkan kata yang ia baca dengan benda yang ia tahu.

Dari segi fisik, akan lebih mudah kalau otot-otot jari anak sudah lentur. Menulis membutuhkan 3 jari yang lentur: jempol, telunjuk, dan jari tengah. Tiga jari ini dipakai untuk menulis, makan, menjumput, dan banyak lagi dan ketiga jari ini sebaiknya sering dilatih sejak usia toddler.

Kalau dari Bebe pendengaran kan nggak ada masalah. Kosakata banyak juga dan udah bisa kalimat utuh dan kalimat bertingkat. Jadi menurut dua faktor ini sih Bebe siap banget belajar calistung.

Otot jari masih dilatih kan di sekolah. Latihannya bisa dengan transferring (mindahin pompom pake pinset dari KIRI ke KANAN ya), bisa dengan tracing (men-trace huruf pakai dua jari telunjuk dan jari tengah), memindahkan air dengan spons, dan banyak lagi. Itu semua buat latihan otot jari dan tangan biar nulisnya halus dan nggak gerigi-gerigi. *alah*

Katanya daripada tracing huruf (menyambung garis putus-putus berbentuk huruf) mending tracing garis dan gelombang (huruf S terus menerus sampai panjang). Nantinya nulis huruf akan bisa sendiri kalau udah lancar bikin garis dan gelombang.

Iya sih bener juga. Tapi karena saya nanggung punya beberapa buku dan flash card alphabets yang bisa dipake latihan jadi ya udah terusin aja hahahaha. Toh anaknya mau juga kan.

(Baca: Bebe's Favorite Books, Beli Buku Anak di Mana?)

Gimana ngajarinnya?

Metodenya dijelasin detail tapi akan sangat panjang kalau dibahas di sini. Kuncinya di sini: JANGAN DIPAKSA. Daya konsentrasi anak berbeda-beda dan kehilangan konsentrasi bukan berarti ia malas belajar. Caranya kurang lebih gini:

1. Kenalkan huruf dalam dua huruf konsonan dan satu vokal dulu baru kemudian bisa kata yang lebih panjang. Jadi kenalkan kata-kata seperti ban, cat, dot, pot, sol, alah apalagi ya ya pokoknya yang tiga huruf dulu. Bilang: b, a, n, ban.

2. Kalau sudah tertarik, berikutnya tes dia dengan nanya: huruf b yang mana? A yang mana? N yang mana?

3. Kalau sudah lancar, minta dia menyebut, ini huruf apa? Satu per satu sampai ketiganya bisa.

Nah tapi kalau di poin kedua dia udah bosan ya udah berhenti aja belajarnya. Anak beda-beda, ada yang mau belajar baca tulis sejam, ada juga yang 5 menit bosan. Nggak apa-apa kalau dia udah nggak mau ya berhenti aja. Syaratnya, kalau dia lagi mau dan minta belajar, JANGAN DITOLAK. Semua bisa menunggu, fokus aja dulu ke ajarin dia.

(Baca: Stop Menyuruh Anak untuk Diam)

Untuk baca, katanya lebih gampang pake metode phonetic. Bisa search di YouTube “phonetic bahasa Indonesia”. Sebulan terakhir, saya dan JG tiap kali inget selalu memasukan phonetic ke dalam topik pembicaraan sehari-hari. Misal Bebe lagi minum yogurt merek Yo (bukan iklan), maka komentar kami adalah:

“Wah Xylo sedang minum Yo. Y, O, YO”

Atau Bebe lagi bahas ban mobil. Ibu nyeletuk aja “Iya ban itu B, A, N BAN”

Ingat ngomong hurufnya pake phonetic ya bukan baca huruf biasa. So far Bebe seneng dan jadi suka nanya “kalau jendela gimana ibu hurufnya?”

Sejak sekolah Bebe udah bisa tulis nama sendiri. Dia juga tau-tau hafal A sampai Z huruf kecil dan huruf kapital padahal belajarnya cuma iseng aja pake tempelan kulkas atau pas kebetulan di mana pun ada huruf, suka saya tanya ini huruf apa. Tapi ya baru hafal DOANG. Konsep menggabungkan huruf belum ngerti dia. Makanya ini saya sendiri ngotot belajar phonetic. lol

Misal Y dan O dia tau itu YO karena saya sering ngomong. Tapi ditanya "M O jadi apa?" Nggak tau dia HAHAHAHAHA. 

Untuk nulis, masih latihan otot jari yang saya sebut di atas kalau di sekolah. Tapi kalau dia di rumah semangat ngajak nulis, ya kami belajar menulis juga di rumah. Menulis huruf apapun, menggambar juga boleh yang penting pegang pensil, kalau bosan ya berhenti.

Untuk berhitung, saya seringnya pake jari tangan doang. Kemarin-kemarin dia selalu skip six, jadi dari five langsung seven. Besokannya tiap saya turun mobil, dia harus kiss bye enam kali. Terus udah deh nggak lupa lagi. Hal-hal sederhana kaya gitu aja.

(Baca: Mengajarkan Bahasa Inggris pada Balita, Perlu?)

Untuk tambah-tambahan, paling gampang pakai mobil-mobilan dia. Satu mobil ditambah dua mobil jadi tiga mobil dan seterusnya.

Buat jadi menyenangkan dan jangan pake target. Slow.

Tapi please note kalau ini melelahkan sekali HAHAHAHAHAHA BOLD UNDERLINE. Main Lego atau baca buku lebih mudah, sungguh. Tapi ya udah daripada anaknya nggak belajar? Saya seneng Bebe belajar jadi capek-capek pulang kerja pun ya temenin lah kalau pas dia mau belajar baca atau tulis.

Satu hal lagi.

Meski nggak kepikiran untuk Bebe, saya ngerti banget sama orangtua yang masukin anaknya ke les calistung. Karena ngajarin sendiri itu capek banget ya Tuhan. Nggak perlu dijudge macem-macem lahhh, kalau emang di lingkungannya cuma ada SD yang wajib bisa calistung untuk masuk, masa orangtua nggak boleh panik dan ngasih anaknya les calistung sih?

Nanti anaknya nggak bisa masuk SD gimana? Nggak usah masuk SD dulu? T_____T Kadang nggak bisa menyamaratakan satu standar jadi nasional kalau sekolahnya sendiri belum punya standar yang jelas ya.

Jadi ayo semangat belajar calistung buibu! Kita pasti bisa melewati ini semua!

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

5 comments on "Jadi, Gimana Ngajarin Calistung?"
  1. Tfs soal calistung,sungguh PR banget soal baca ini..agak frustasi tp mencoba tetep kalem emang klo lagi sesi belajar baca,bawaannya pengen di sub kontrakkan ke guru les aja..😅

    ReplyDelete
  2. Kok sama banget sama Ayyaaas, lagi suka banget nanya gitu. Kalau mobil gimana hurufnya Bun? Dijawab huruf per huruf terus dia pasti nyecer, terus? Habis M apa? Oh, o, terus?
    Hahaha

    ReplyDelete
  3. sukaaa banget sama tulisan ini.. 😍😍

    ReplyDelete
  4. klo anak aku mulai bosen latihan nulis, aku cuma bilang biar lentur tangannya :))
    nggak mau maksa. Melelahkan terasa pas ngajarin dgn cara yg fun hihi, sering berakhir drama di rumah. Tapi seneng pas target kenaaa, anak paham apa yg kita ajarin^^ rasanya bahagiaaaa

    ReplyDelete
  5. Terima kasih banyak artikelnya.. memang kudu banyak setokk sabarr dan harus dibuat fun dalam calistung ini :D

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)