-->

Tentang Bandung Zoo (dan Kebun Binatang Lainnya)

on
Saturday, June 23, 2018
Saya selalu punya mixed feelings pada kebun binatang dan tempat lain yang membatasi area binatang. Karena ya rasanya egois banget aja kan, ngurung binatang, jauhin mereka dari habitat aslinya, cuma untuk ditonton. T______T


Iya sih bisa “ngeles” pergi ke kebun binatang untuk pengetahuan. Tapi seberapa banyak di antara kita yang baca serta INGAT apa yang tertulis di papan petunjuk nama binatang di depan tiap kandang? Boro-boro elaahhh, nonton binatang-binatang itu duduk bosan di kandang doang kan? Sudahlah mengaku saja.

Jadi buat saya, ke kebun binatang sama halnya dengan nggak jadi vegetarian. Padahal ya tau banget sayuran lebih sehat dari daging sapi, tau juga kalau sapi menyumbang kehebohan global warming, tapi gimana ya masih nggak bisa hidup tanpa sirloin steak huhu. KEEGOISAN MANUSIA SELAIN BERKEMBANG BIAK MENUH-MENUHIN BUMI. :(

Mixed feelings-nya kenapa? KARENA BEBE SUKA BANGET KE KEBUN BINATANG. T_____T

Umur baru 4 tahun, ke kebun binatang udah 4 kali. Pertama ke Singapore Zoo dan Ragunan waktu Bebe masih kecil banget. Ketiga, tahun 2016 ke Kebun Binatang Bandung. Ketiga, hari Rabu kemarin saat kebun binatang Bandung udah berubah nama jadi Bandung Zoo.

Waktu ke Ragunan saya biasa aja dan cenderung waaa binatangnya mayan ya, kandangnya luas, binatangnya nggak kurus. Tampak seperti kebun binatang yang terurus lah. Maklum punya pemprov DKI kan ya, jadi pasti harusnya ada dana khusus untuk merawat binatangnya.

Paling shock waktu ke kebun binatang Bandung tahun 2016. Di situ saya merasa bersalah karena kondisi binatangnya superparah. Saya inget banget ada beruang yang kurus dan cuma muter-muterin kandang doang kaya stres.

Jalan yang harus dilalui pun jelek plus kotor banget. Rada kapok ke kebun binatang karena kaya ditampar gitu, merasa jadi bagian penyebab kenapa kebun binatang survive. Ya karena ada pengunjung-pengunjung kaya kami ini kan. HUHU.

Nah, liburan kemarin, karena JG udah di Jakarta, ayah saya ngajak ke kebun binatang. Katanya sekarang baru dibeli sama yayasan baru, ganti nama juga jadi Bandung Zoo.

Harga tiket masuk Bandung Zoo 2018 itu Rp 40ribu, udah nggak pake tiket lagi tapi pake gelang konser, barcode-nya di-tap baru pintu masuknya kebuka. Katanya binatangnya udah lebih keurus, nggak kurang gizi lagi. Ya udah pergi deh. Mumpung di Bandung juga sih kan biar Bebe quality time sama aki nini.

Ternyata yaaa, jauh lebih baik daripada 2016 meskipun masih tetep kasian sih. Kandang macan dan singa sempit banget, kandang orangutan nggak ada tempat teduhnya sampai dia pake karung buat nutupin kepala :(. Kasian juga liat burung hantu dan beberapa kelelawar yang siang-siang bangun, mereka bukannya harusnya tidur ya?

Ada plang di mana-mana menyebutkan kalau tiap hewan diitung makanannya sama ahli gizi dan nggak kelaparan. Well, ya nggak kelaparan sih tapi nggak liat binatang yang happy juga. Semua bosan. Iyalah siapa juga yang nggak bosan kalau dikurung di kandang ya?

Si Bebe pengen naik unta sama gajah pula. Gajahnya sih biasa aja ya, nggak mengkhawatirkan. Tiap satu puteran dikasih makan/batang tebu, yang jaga nggak bawa pentungan sama sekali. Kalau berhenti di tengah jalan untuk liat sesuatu juga nggak dipaksa disuruh jalan. Santai aja gitu.

EH DI UNTA TUNGGANG TUH PARAH. Mulut unta sampai berbusa, muter-muter sekian kali boro-boro dikasih makan, minum aja nggak. Terus saya nanya "kang, ini nggak dikasih minum dulu? Kasian dari tadi". Si abangnya (dia bawa pentungan huhu) jawab "nggak usah bu udah biasa" YA TUHAN SEDIH BANGET.

T______T

(Oiya kalau naik unta + gajah tunggang di Bandung Zoo itu bayar lagi per orang Rp 30ribu. Jadi itungannya emang wisata "mahal" ya, nggak terlalu cendol juga jadinya, nggak rame-rame amat padahal kemarin liburan.)

SIALNYA BEBE SENENGNYA SUPER.

via GIPHY

Sampai malem sebelum tidur pas pulang dari kebun binatang itu saya brainwash bahwa binatang itu harusnya nggak dikandangin lho, kasian ya mereka bosan, plus diingatkan pula soal predator, rantai makanan (dia pernah belajar di sekolah) blablabla.

Dia iya iya aja dengerin saya dan komen “kasian ya ibu buaya kandangnya sempit, padahal kalau dia tau sebelahnya kandang burung mungkin burungnya dimakan sama buaya”.

Iya sih kasian sama buaya tapi sampai 3 hari kemudian dia masih semangat cerita detail ke semua orang dia liat apa aja di kebun binatang. Ceritanya excited parah gitu huhu.

Dia excited saya kepikiran.

Kepikiran sampai browsing “Bandung Zoo” dan kaget banget ketika liat salah satu suggestion-nya adalah “Bandung Zoo Petition”. PETITION APA?

Setelah baca-baca ya Tuhan ternyata ini yang namanya kudet ya. Benci pake term “kudet” tapi beneran itu momen saya kaget banget karena hello, kantor lama saya nulis lho! Kok saya bisa nggak tahu! Nggak tahu apa lupa apa nggak peduli sih. Saya sampai angkat laptop dari kamar dan liatin beberapa video YouTube ke ayah ibu.

Ternyata sepanjang tahun 2017 itu kebun binatang Bandung alias Bandung Zoo banyak kasus banget ya. T_______T

Yang paling parah adalah beruang yang saking kurusnya, tulang rusuknya keliatan. Dia kelaparan sampai makan eenya sendiri. GILA MAU NANGIS. T_______T Saya yakin itu beruang yang sama yang saya liat stres di 2016, karena ya gitu di videonya sama geleng-geleng dan muter-muter karena stres.

I won’t go into details but basically not only the bears that ARE suffering but some other animals too. Baru tau juga di tahun yang sama ada jerapah mati dan di perutnya ketemu banyak plastik. Dan masih banyak kasus lain!

Search aja di Google atau YouTube “bandung zoo sun bears” JANGAN pake bahasa Indonesia karena entahlah mungkin yang nulis nggak sebanyak itu ya. Padahal sampai masuk YouTube-nya The Dodo loh sumpah malu abis.

Malu dan sedih banget sih. Cukup lah ya, untuk sementara nggak ke kebun binatang dulu deh ya. Kadang sayanya juga sih yang terlalu yakin “alah paling binatangnya hepi” gitu kaya di SIngapore Zoo, orangutan aja gelantungan bahagia kan. Lha di sini? T_______T

Gila berat banget jadi orangtua mau bikin anak seneng aja ribet ya Tuhan. Ngerti banget banyak pilihan hiburan lain, tapi ya (oke ini alesan doang emang, salahkan saja aku T______T) anak-anak itu emang seneng banget ya liat binatang. Hiks.

Jadi ya, kalau kalian tipe manusia yang nggak gampang merasa bersalah sama kondisi bumi, go ahead lah. Anak-anak hepi kok ke kebun binatang, asal jangan dikasih makan seenaknya ya. Jangan pada ngerokok juga KARENA YA GILA AJA LO NGEROKOK SAMBIL BAWA DUA ANAK BGCDH.

Tapi kalau kalian tipe yang suka mikir “apa yang bisa kita kasih buat bumi?” NGGAK USAHLAH UDAH. Sampai sekarang aja saya masih kepikiran makanya nulis blogpost ini.

Ya udah intinya sebisa mungkin liat binatangnya di alam bebas aja yaaa. Nggak usahlah itu nonton sirkus hewan atau nontonin binatang hidup. Kalau yang nonton makin dikit kan harusnya industrinya juga nanti hilang sendiri. Ke museum aja nonton binatang mati baru boleh. Kurang-kurangin jadi makhluk egois, bumi ini bukan cuma milik manusia.

source

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

10 comments on "Tentang Bandung Zoo (dan Kebun Binatang Lainnya)"
  1. Wah sungguh ku tak pernah berpikir seperti ini mbak, tapi dipikir2 bener juga ya. Jadi inget waktu nonton pertunjukan lumba2 di Ancol, suami jg mixed feeling karena inget gimana lumba2 itu tersiksa dilatih utk pertunjukan. Tapi emg seru juga sih lihat aksi lumba2nya, heuu.

    Mungkin kalo mau lihat binatang hidup lbh baik ke penangkarannya ya. Saya pernah ke penangkaran beruang madu sama penangkaran buaya di Balikpapan, dan itu memang beda jauh dg kebun binatang.

    ReplyDelete
  2. Hummm jd sedih bacanya. Rencana pas ke jogja mau ke kebon binatang gembira loka. Jadi mikir. Thx for the insight ka ica..

    ReplyDelete
  3. seumur-umur baru masuk ke 2 kebun binatang, ragunan dan taman safari. ragunan gak terlalu suka karena cape jalannya dan panas, taman safari suka tapi mahal dan jauh banget. jadinya aq lebih sering ngajakin anakku ke pantai, kebetulan dia juga lebih suka kesana.

    yang dibandung seperti yang di surabaya juga sepertinya yah,,, binatangnya terlantar, sedih memang kalau melihat seperti itu, kenapa yah masih maksa untuk membuka kebun binatang kalau memang sudah tidak mampu untuk merawatnya..

    btw aq lg pengen ke faunaland yang ada di ancol katanya bagus

    ReplyDelete
  4. aku cuma sekali ke kebun binatang Bandung, pas usia anakku sekitar 4 tahunan, ya ampun itu binatangnya kurus-kurus, kebanyakan binatangnya pada tidur, tulang rusuknya pada nongol, ga singa, macan, beruang, monyet, gajah, liatnya miris.

    tahun kemarin pas usia 5 tahun aku ajakin ke singapore zoo, dia nyeletuk, mami kok binatang disini beda ya, ga tiduran terus, ternyata anakku masih ingat binatang yang pada tiduran itu

    ReplyDelete
  5. Terakhir ke kebun binatang, Taman Safari 2016

    Hewan-hewan yang dilepasin sih kelihatan santai karena lumayan luas dan manusianya yg dikandangin dalam mobil berkeliling. Yang kasihan hewan yang bisa diajak foto.

    Penjaganya lagi pergi jadi harimaunya dirantai ditinggal dengan dikerumuni beberapa orang yg nonton harimaunya baring-baring. Baring biasa saja tp sorot matanya sedih gt ngeliatin pengunjung yg nontonin dia. Jadi melipir sedih pergi dari sana :(

    ReplyDelete
  6. memprihatinkan sekali kondisinya, setelah baca tulisannya, mbak. Saya pikir memang sebaiknya hewan tersebut diberikan kenyamanan seperti habitat aslinya. Jadi biar ga stress.

    ReplyDelete
  7. Terakhir ke kebun binatang itu ke Bali Safari tahun 2013 kayaknya karena ada survey buat pengunjungnya. Konsepnya disana seru sih, pengunjung keliling pake mobil atau bus untuk liat langsung binatang di seolah olah habitat aslinya. Tapi ya pricey 😂😂.

    ReplyDelete
  8. Ke kebun binatang bandung lupa kapan terakhirnya, tapi di punggung buaya banyak puntung rokok. Pada ngadu kondisi ini ke walkot waktu itu ridwa kamil, tapi katanya kbb ini punya yayasan. Ya mudah2an pemkot bisa bertindak soal kelalaian pemeliharaan binatang yg ada di kbb ini.

    ReplyDelete
  9. Kak Icha, cuma mau kasih info ajah sih. Kalau sebenernya punggung gajah itu tidak didesain untuk bisa dinaikin beban seberat manusia. Ini info kudapet dari temen yg dokter hewan. Mungkin coba boleh Kakak googling sendiri.
    Jadi kebayang lah ya ngilunya gimana kalo punggung gajah dikasih tunggangan, dikasih beban seberat manusia dan anak kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya sekarang sih tau karena viral kan. ya itu viralnya baru sebulan lalu, postingan ini udah 3 bulan lalu :|

      Delete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)