-->

Image Slider

Bebe ke Dokter Mata (3)

on
Wednesday, March 17, 2021


Baca dulu part 1 dan 2 nya ya biar nyambung.


Bebe ke Dokter Mata: Part 1 | Part 2


Pengalaman Periksa Mata Anak dengan dr. dr. Florence M. Manurung, SpM(K) di JEC Menteng.


Hari itu, hari pertama Bebe ke dokter mata, saya ada webinar jadi ini pengalaman JG dan Bebe hahahaha.


Rada bersyukur saya nggak ikut karena Bebe sama saya tuh kan modenya langsung bayi ya, gampang nangis, lemah, leuleus, segala pake nangis pokoknya. Kalau sama appa tuh kuat, nggak gampang nangis, nggak manja, nggak minta gendong HAHA.


Urutannya gini kalau mau ke JEC saat Covid. 


1. Bikin janji via WhatsApp JEC di nomor +62 877-2922-1000 (JEC cabang manapun bisa bikin janji di WA ini).

2. Download aplikasi JEC, sign up, isi screening Covid di sini. Screening berlaku 12 jam jadi isinya sebelum pergi aja, cepet kok.

3. Dateng ke sana, lihat hasil screening, ganti masker dengan yang disediakan. Boleh pakai masker dobel dengan kain tapi masker medisnya di dalem, masker kain di luar. Please nurut ya karena dokter mata tuh risiko tinggi tertular Covid huhu repot banget kan kalau pada sakit, udah mah cuma dikit dokter mata tuh.


Masuk, registrasi standar rumah sakit lalu ke BDR (Basic Diagnostic Room), periksa mata kaya di optik cuma lebih lengkap. Diperiksa pakai alat (ya ngeliat balon udara itu), lalu periksa manual (sebut huruf), kalau dewasa (saya akhirnya ikut periksa di kunjungan ketiga) diperiksa tekanan mata. Disemprot pakai udara gitu. Kalau anak, diperiksa ininya di dalem sama dokter.


PLEASE NOTE YA INI:


KALAU MATA KALIAN ATAU SUAMI MINUS, BAWA ANAK KE DOKTER MATA YA! Plis jangan bawa ke optik doang karena hasil dari dokter mata itu lebih spesifik sehingga anak bisa pakai kacamata yang bikin dia liat 100% bagus.


Karena pengalamanku seumur hidup pakai kacamata hanya periksa di optik, optik tuh suka nurunin hasil kita dengan alasan “nanti pusing” atau “ketinggian ini, terlalu terang nggak?” gitu kan? Padahal mungkin hasil pemeriksaan di optik NGGAK PRESISI jadi kamu pusing. Karena kacamata itu harus 100% clear and crisp alias harus presisi jadi mata kamu nggak cepat lelah.


Kata dokternya, datang ke optik untuk periksa mata itu selevel dengan datang ke tukang gigi saat sakit gigi. YA BENER SIH HUHU SUNGGUH MERASA BODOH :( Padahal kami apa-apa ke dokter banget cuma entahlah sotoy atas mata karena merasa saya seumur hidup berkacamata.


*


Dari BDR, muncul kan hasil untuk acuan pemeriksaan dokter. Lalu dicek ulang sama dokter. Ini namanya pemeriksaan subjektif ya. Karena ya kita percaya aja sama anak (ini kondisi anaknya udah bisa baca dan udah paham, kalau bayi aku nggak ngerti).


Jadi Bebe diminta lihat lagi huruf sampai 100% terlihat jelas. Dari jejeran 5 huruf paling kecil, harus bisa bener jawab 3. Abis itu disemprot tekanan mata untuk cek glaukoma cmiiw plis ini hanya mengandalkan ingatan JG, googling sih bener maafkan hahaha.


Setelah itu, keluar lagi dari ruangan dokter, kembali ke BDR dan ditetes matanya biar pupilnya membesar. INI PERIH KATANYA. Nangisss sampai pas mata sebelah kan dia nggak tau kalau seperih itu ya, masih santai mau ditetes. Pas mata sebelahnya NGGAK MAU BUKA MATA HAHAHAHA.


Ya udah dengan berbagai bujukan JG (YAY!) akhirnya mau. Lalu dipakein kacamata kaya di optik, ruangan digelapin, mata ditembak cahaya, dan matanya diperiksa dengan alat … YA NGGAK TAU ATUHLAH NAMANYA APA HAHAHAHA. Intinya kita tuh nggak bisa percaya gitu aja sama anak 6 tahun untuk bilang semua huruf clear and crisp kan, jadi diperiksa ulang secara objektif gitu. Kalau orang dewasa bilang ok clear itu ya otaknya udah ngong lah ya yang clear itu kaya apa, yang berbayang itu kaya apa, kalau anak-anak judgment mereka masih sulit dipercaya.


Keluarlah hasil pemeriksaan dari dokter dan ya beda sama optik. Nggak jauh masih di minus 3,5 tapi perintilan yang lainnya beda (silindris, dll), tapi ya harus diganti lagi lensa yang baru diganti belum seminggu itu hehehehe. 


Disuruh dateng lagi 4 bulan kemudian.


4 bulan kemudian yaitu bulan lalu minusnya jadi 4,5. Dalam 4 bulan naik minus 1. Apa kabar teori ibu 20 tahun naik minus 4? :’) Dokter mengingatkan kalau naik minus itu ya wajar lagi pandemi begini. Wajar sih wajar dok tapi nggak 4,5 juga kaliii. Lelah akutuh. 


Akhirnya dokter menyarankan dua opsi. Pakai tetes mata TANPA PUTUS selama 2 tahun untuk nahan minusnya atau pakai Ortho-K, hard lens yang dipakai setiap hari saat tidur malam untuk nahan pertumbuhan mata dan siangnya mata jadi normal!


Kami pilih Ortho-K, sudah 2x ke dokter spesialisnya, sudah fitting, tapi masih PO selama 6 minggu. Lihat testimoni anak-anak lain di YouTube sih bener-bener siang mereka nggak butuh kacamata sama sekali. Solusi banget sih menurutku jadi bisa bebas kacamata meski siang doang sambil nunggu cukup umur untuk lasik.


Demikian cerita minus mata. Lanjut nanti pengalaman Ortho-K ya!


-ast-

 





Bebe ke Dokter Mata (2)

on
Tuesday, March 16, 2021
pengalaman ke dokter mata anak


MAAF GUYS UDAH MAU 2 TAHUN BARU UPDATE LOL. Jadi ini akan panjang dan akan langsung ada part 3 ya!


Bebe ke Dokter Mata: Part 1 | Part 3


Rada hectic ya dunia permataan anak karena Corona terus saking ~yah gimana lagi yhaaa~ jadi males update blog huhu padahal penting lagi untuk dibaca ulang di masa depan.


Okelah aku gali berbagai info setahun ke belakang karena sejak blogpost itu, Bebe udah 4 kali lagi ke dokter mata :)))))


PANDEMI DAN MATA BEBE


Pandemi mau ngapain lagi sih kalau nggak ngurusin gadget? Iya tau banyak ortu yang masih sanggup anaknya no gadget saat pandemi tapi tentu itu bukan aku :’)


Ya saya kan masih kerja, JG juga kerja, Bebe sama siapa kalau bukan sama Ryan? :’)



Ditambah sekolah aja sehari itu dari jam 8.30 - 14.30. Ada 2 kali break masing-masing 30 menit dan 1 lunch break. Bebe baru boleh main game jam 5 sampai saya dan JG selesai makan malam.


Intinya ni anak dari umur 0-5 tahun cuma ketemu screen saat weekend, JADI BERJAM-JAM SETIAP HARI KARENA PANDEMI! Bukan main atau nonton tapi juga kan sekolahnya di screen! *KESAL*


Oktober 2020


Bulan Oktober, hadir 1 email dari sekolah Bebe, tentang Kuesioner Skrining Kesehatan Anak Usia Sekolah. Di emailnya ada “Note: Dalam pengisian kusioner, mohon membaca petunjuknya sebelum mengisi.” Dikasih deadline 2 minggu untuk isi.


Dalam hatiku ya apalah sih notenya emang sesusah apa mengisi tentang kesehatan anak, dikasih waktu 2 minggu pula. LAH TERNYATA SUSAH MONANGESSSS. Sampai segala gigi harus difoto dari berbagai angle ya ampun stres.


Nah tentu ada kesehatan mata juga kan. Ditanya apa pake kacamata kah, punya kelainan mata kah, dll. Salah satunya, anak diminta menyebut jumlah jari ortu dari jarak 5 meter. Bebe dengan kacamatanya … nggak bisa jawab. MULAI PANIK DONG.


Karena seperti yang kusebut di blogpost pertama, minus 1 di umur 5 ya wajar karena mikirnya saya pun minus 2,5 di umur 10, sekarang umur 32 minusnya 7. Jadi dalam 20 tahun rata-rata naik minus 4 lah ya.


Kalau Bebe kaya saya plek, maka 20 tahun kemudian di umur 25 (asumsi minus 1 di umur 5) minusnya akan hanya kurleb 5, not bad kan? TAPI KOK BARU UMUR 6 UDAH NGGAK BISA LIHAT PAKAI KACAMATA YANG BELUM SETAHUN?


HUHU.


Nah di sini kesalahanku yaitu ketika minus terasa naik, yang dilakukan pertama kali apa? JELAS BUKAN KE DOKTER MATA TAPI KE OPTIK.


Seumur hidup ke dokter mata cuma ya tahun lalu itu bareng Bebe. Sebelumnya BELUM PERNAH :))))


via GIPHY


Saya udah pakai kacamata dari kelas 6 SD dan kalau kacamata nggak enak tuh ya ke optik. Ke ABC Optik di sebelah Toko Sami Jaya di Jalan ABC, haloh wargi Bandung, ring a bell? :')


Sampai detik ini masih kebayang itu toko, gelap-gelapnya, pengap-pengapnya, dengan ruangan tes mata di balik jam kayu besar. Kursinya aja masih inget banget YA GIMANA BERTAHUN-TAHUN PERIKSA DI SANA!


Cuslah kami ke Owl Kokas karena kacamata Bebe emang Owl dan nyaman banget. Diperiksa wah minusnya jadi 3,5 T_______T


Dibikinlah lensa baru tapi tetap nggak enak hati karena kok bisa dari 0-5 tahun minus cuma 1 tapi dikasih 6 bulan pandemi minusnya jadi 3,5. Gimana nggak kesal sama gen sendiri?


Langsung memutuskan udalah tetep ke dokter mata juga. Jadi ganti lensa iya, ke dokter mata iya (ngapain coba dipikir-pikir ya, mending ganti lensa setelah ke dokter mata aja).


Langsung cus bikin janji dengan dr. Florence M. Manurung, SpM(K). Ternyata pandemi gini sepi dan langsung dapet jadwal di weekend berikutnya.


Iya dr. Florence ini adalah dokter anak yang saya tulis juga di bawah blogpost pertama. Cuma waktu itu mundur karena antrinya SEBULAN untuk bisa bikin janji sama dr. Florence. Mikirnya (INGAT INI PEMIKIRAN SEBELUM PANDEMI) ya udalah toh udah ke dokter mata, anaknya udah nyaman pake kacamata, nanti-nanti lagi aja ke dokter mata anaknya.


Ya failed banget lah ukuran optik karena pada akhirnya ganti lensa lagi HAHAHAHA ZONK :)))


Lanjut ke part 3!


-ast-






Satu Bulan Resign

on
Wednesday, March 10, 2021


After 10 years of being a devoted employee, for once I feel liberated from the continuous stress of deadlines. Liberated is a strong word, I know, but as a true strategist (a.k.a. always have plan A to Z), having no stable earnings terrifies me.

Hari ini satu bulan yang lalu, hari pertama saya diam di rumah dan tidak terikat perusahaan mana pun sebagai karyawan.

Sebelumnya bener-bener nggak pernah kebayang sih saya berhenti kerja. Saya tipe orang yang bahkan nggak kepikiran pensiun karena nggak pernah bisa membayangkan diam di rumah tanpa kerja. Jadi ketika memutuskan ok resign, rasanya campur aduk.

Di satu sisi excited karena akhirnya saya bisa fokus jadi content creator dan speaker. Satu hal (dua hal sih LOL) yang selama ini dilakukan sebagai pekerjaan sampingan namun sebetulnya penghasilannya lebih besar dari gaji.

Mikirnya: Ya kalau sampingan aja gede, apalagi kalau jadi yang utama? IYA DONG LOGIKANYA GITU.

Tapi saya kan perencana banget dan rencana akan lebih gampang dijalankan kalau ada kepastian. Gaji adalah kepastian, tanpa gaji, gimana rencana saya? Apakah bisa tetap berjalan?

Jadi sejak Agustus 2020 saya mulai berencana. Mau ngapain aja jadi content creator? Mau bikin kelas apa aja? Pusinglah pokoknya hahahaha. Tapi ya udah soalnya perkara jadi full time content creator atau tetep kerja ini kaya ayam vs telor mana yang duluan?

Kalau content creator jadi sampingan, selamanya jadi sampingan. Mau bikin konten tiap hari pun nggak maksimal karena ya udah stres duluan sama deadline kantor. Mau nggak bikin tiap hari, ya nggak growing, segitu-gitu aja deh followersnya.

Sementara jumlah followers dan engagement itu ya ngaruh banget sama kepercayaan brand jadi gimana. Muter terus itu. Ambil risiko resign meski followers belum jutaan tapi bisa dikejar, atau nggak ambil risiko resign tapi followers makin lama naiknya?

RUMINATING. Mikirin satu hal terus menerus tanpa coba cari jalan keluar.

Sampai kantor bikin kebijaksanaan WFO jadi ok inilah trigger utamaku LOL. Tolonglah, WFH + SFH aja menangys ini lagi WFO + SFH. Bye people! :))))

Ketika bilang resign, Bebe sebel karena dia senang main di kantor. Katanya bingung mau main pingpong di mana karena saya resign. Macam ikut tiap hari ke kantor dan main pingpong aja dia.

JG malah excited karena katanya ya udalah ya mending kerja kaya gini, bisa tidur siang HAHA. Impian para corporate slave banget bisa tidur siang LOL.

Jadi satu bulan ini ngapain aja? Sebenernya ragu sih mau excited karena katanya dua bulan pertama masih honeymoon period lol. Tapi yang jelas saya lebih tenang. Lebih nggak sibuk karena sibuk buat saya hanya jadi salah satu tanda untuk stres.

Kapan pun Bebe minta bantuan sekolah, saya nggak stres lagi karena ya tinggal aja dulu kerjaan saya sekarang, toh deadlinenya diri sendiri. Tapi tetep sih beberapa kali (MAYAN SERING DENG LOL) dia juga diabaikan karena saya ada back to back meeting seharian. Ya minimal nggak setiap hari banget diabaikannya :)))

Saya juga bangun pagi lebih tenang dan nggak stres lagi, dulu rasanya selalu kaya dikejar-kejar sesuatu. Bisa bikin sarapan dan sarapan dengan tenang tuh surga banget HUHU.

Lalu bikin konten setiap hari dan mulai kerasa IG growth-nya lebih tinggi dari sebelumnya. YouTube pun hampir 1000 followers huhu senang. Bisa gambar di TikTok juga bikin tenang. Job … alhamdulillah ada dan udah bisa nutup gaji yang hilang sampai bulan April :’)

Saya nggak tahu akan lancar kaya gini sampai kapan jadi hidup bener-bener irit hahaha. Padahal penghasilan masih sama, tapi ada sense bahwa ini penghasilan tidak tetep jadi ngirit banget. Ada perasaan bahwa bisa jadi bulan Mei nggak ada sama sekali jadi sekarang harus ngirit hahaha.

Pun, saya nggak akan gengsi kalau pun harus kerja lagi karena misal suatu hari uangnya kurang hahahaha. Realistis aja ya, sekarang cukup, dana darurat cukup, kalau nggak cukup lagi ya kerja lagi dong.

Udah sih gitu aja update kehidupanku. Ayo dong subscribe aku di YouTube, follow aku di IG, TikTok dan Twitter. See you!

Subscriber isn't important, ibu. Making money is more important. -- Bebe, 6 tahun.


-ast-





2020

on
Friday, January 1, 2021


2020 akhirnya berlalu dan kalau dikenang gini nggak terlalu menyedihkan ternyata. 


Sebelum nulis ini baca ulang dulu blogpost rekap 2019 dan wah hectic banget 2019-nya! 2020 juga hectic dengan adegan yang beda hahahahaha.


Gimana ya, saya tuh termasuk yang pas awal Coronces di Wuhan (kayanya beritanya ke sini di bulan Januari kan ya?) tipe yang “halah kaya flu doang nggak sih bakalan sembuh sendiri” asli yang ngeremehin gitu astaga untung bukan Menkes atau presiden. 


Jadi ya slow aja. Resolusi punya, rencananya mau ambil kelas waris sama NLP, mau lanjut belajar mindfulness juga. Karena di antara kesibukan 2019 tuh saya emang niat belajar mindful jadi bisa-bisanya pas weekend naik grab sendiri ke studio untuk belajar meditasi wah gila banget kan. Saya yang ngomong mulu ini belajar diam 5 jam itu apa coba namanya kalau bukan persiapan pandemi? HAH!


Nulis ini sambil cek kalender selama 2020 dan jadi pengen rekap, ngapain aja setahun ini di waktu yang katanya disuruh pause?


Januari masih jadi speaker di event gede, di panggung, di Gandaria City. Masih sharing sama temen-temen mahasiswa LSPR. OFFLINE semua tentu ya gila dalam 10 bulan konsep sharing berubah gini jadi live IG dan webinar. Dari yang dandan tuh terkonsep dari jilbab, makeup, baju sampai sepatu jadi cuma baju jilbab + makeup doang. Bawahnya celana piyama, boro-boro sepatu.


Masih meet & greet sama Spongebob dan Patrick di Kokas, masih liputan dan wawancara. Masih ketemu dr. Meta Hanindita dan curhat berat badan Bebe lalu dimulailah perjalanan target naikin berat badan yang sungguh dimudahkan dengan pandemi ini. 


Februari di kantor masih persiapan x Beauty (yang tentu batal semua), masih nobar dan persiapan event-event kantor lah pokoknya. 


EH MARET KOK CUMA 2 MINGGU LOL.


Momen itu juga bisa disyukuri banget sih karena dari akhir 2019 Bebe tuh berkali-kali bilang mau dijemput nini ke sekolah. Tapi ibu sayanya seboookkkk banget sampai akhirnya baru bisa dateng tanggal 13 Maret dan jemput ke sekolah.


Tanggal 14 Maret masih jalan-jalan ke IKEA terus rencananya Senin pagi mau nganter dulu Bebe ke sekolah terus langsung cus pake travel ke Bandung. EH LOCKDOWN. Pulanglah hari Minggu langsung karena waktu itu mikirnya takut bener-bener lockdown kaya di luar negeri yang sama sekali nggak boleh ke luar rumah. NAIF BANGET YA LOL. Lupa andaaa hidup di negara dunia ketiga :)))


Meski awalnya meremehkan, pas lockdown pertama kali di Maret itu saya udah nggak ada niatan melanggar peraturan loh! Apalagi menganggap konspirasi yada yada. Nggak pernah terbersit sedikitpun kalau Covid tidak nyata kaya yang diributin orang-orang. Saya malah gelisah karena kemarinnya ke IKEA kan ketemu banyak orang ya duh takut banget. :(


Tapi namanya manusia itu kemampuan bertahan hidupnya adaptasi kan ya.


Dua minggu pertama itu kaya liburan tapi abis itu mulai linglung karena wah WFH sambil si Bebe di rumah tuh gimana caranya? Bikin jadwal ini itu, Bebe ngambek terus tiap pagi nggak mau Zoom meeting. Berat bangetlah, hiburannya cuma Google Meet sama temen-temen doang HUHU.


Tapi life must go on. Pas lockdown itu otomatis beberapa event di Maret batal, tapi juga baru minggu kedua, saya udah mulai webinar! 

Sambil survive di April, sambil live 2 hari seminggu di akun kantor, masih isi-isi event kantor orang lain (event financial planning buat karyawan gitu), dan masih linglung aja sih. 


Baru di Juni kayanya udah mulai adaptasi banget dan hehe mana 2020 harus pause apanya sih kok tetep sibuk gini :)))



Iya ada beberapa reminder tapi kebanyakan event kok itu hahaha. Butuh 3 bulan untuk kembali pada kesadaran bahwa pandemi ini entah ya sampai kapan, kayanya sampai Desember deh. Inget banget sempet story kaya gitu dan tau-tau sekarang udah Januari lol.


Di Juni juga saya mulai rutin nulis di IG feed untuk bikin multiple karena efektif ternyata. Shareable dan bisa diskusi di komen. Tapi tetep nggak setuju kalau dibilang microblogging KARENA NGGAK MICRO CUY. Itu tulisan 10 halaman kalau digabung jadi satu halaman tuh ya jadi satu blogpost. Pun masih juga live dan event, bisa paginya event, malemnya live. Dandan muluuuu. 


Di Juli, memberanikan diri ke luar rumah untuk syuting. Ada 3 syuting, NinjaXpress, Vidoran, dan Snapask semua di kantor mereka cuma selang seminggu. Betul sih sesuai protokol kesehatan tapi jujur deg-degan bangetnya tuh bikin nggak tenang. Jadi akhirnya saya nggak terima lagi job yang mesti ke luar rumah. Biarlah tolak-tolakin karena so-called protokol kesehatan kalau syuting kan tetep ramean ya dan itu tetep bikin nggak tenang, tetep lebih tenang diem di rumah hhhh.


Di Agustus harusnya nonton konser Kahitna yang beli tiketnya udah susah payah banget, udah macam konser KPop. Ya batal atuhlah masa iya jadi lol. Di Agustus ini juga seneng banget bisa bikin kelas Anak, Uang & Self Control bareng mbak Ayank Irma. Seru banget karena finance dan parenting adalah sesuatu yang aku sangat passionate, menggabungkan keduanya tuh bener-bener nggak bisa berhenti ngomong. 


Di titik ini saya udah SENENG BANGET NGOMONG DI KAMERA (HEHE EMANG KAPAN NGGAK SENENG?). Tapi bukan senang sebagai speaker loh tapi juga senang sebagai moderator! Karena sesering itu IG live bareng dokter, expert, wawancara terus, rasanya udah kaya jadi Najwa Shihab HAHAHAHAHA.


Ternyata saya senang sekali saya wawancara orang. Sesenang itu sampai masukin rate jadi MC/moderator di rate card HAHAHA. Dan ada aja job yang masuk, ya belum sering dibayar jadi moderator, tetep lebih sering jadi speaker. Jadi moderator so far baru 3x yang dibayar tapi tetap senang karena saya kan bukan MC profesional hehehe.


Agustus - September ini chaos banget karena ada event kantor 3 hari full dan gilanya saya juga tetep ambil kerjaan. Gimana ya, karena merasa semua di rumah, semua bisa dikerjain toh cuma diam saat tidur doang kan? Jadi waktu saya untuk leyeh-leyeh tuh cuma 1 jam pas makan malem nonton drakor sama JG. Sisanya kerjaaaaa.


Dan makin lama makin monangis sih sampai bikin pros cons resign hahahaha. Tapi ternyata survive juga. Berat tapi bisa. Nangis ya boleh, tapi dilakuin. Ngeluh, marah-marah, nggak masalah, tapi tetap sadar tanggung jawab. HUHU.


Ya udah tau-tau Desember. Tau-tau udah bertahan melewati entah berapa webinar, entah berapa IG live, entah berapa kelas WhatsApp dan Zoom keuangan. Bersyukur karena di 2020 ini job speaker semua udah terarah ke financial bukan parenting lagi. 


Nggak nyangka bisa diajakin jadi pembicara sama IndoPremier, OJK, Pegadaian, DJJPR Kemenkeu, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, Paragon Technology, Bareksa & OVO, tanpa pandemi nggak bakalan sampai di sini nggak sih aku karena semua orang jadi bikin event kan jadi aku bisa diajak. Ya realistis bikin event online lebih simpel dibanding event offline :’)))


OK ENOUGH ABOUT MY LIFE, MOVING ON TO JG.


10 bulan di rumah, ternyata kami nggak berantem HAHAHAHA. Kayanya cuma berantem 1-2 kali gitu deh sampai nggak inget karena se-chill itu sampai merasa naikin suara aja nggak perlu. Dulu kalau dipikir juga berantem tuh PASTI, PASTI BANGET karena capek.


Pulang kantor, kena macet, kesenggol dikit nadanya naik. Tambah PMS, udahlah kelar. Lah ini di rumah terus, makan enak, Bebe keliatan terus, nggak ada kekhawatiran berarti, nggak ada kelelahan berarti jadi ya alhamdulillah aman.


JG lagi suka kaset, tau-tau dia rekap kaset yang dibeli dan udah ada 186 kaset dengan entah berapa player deh, ada kali 7-8 gitu. Dalam waktu 3 bulan doang kayanya haduh. Jadi kerjaannya kalau weekend adalah hunting kaset sendiri, dengan saya yang wanti-wanti nggak boleh buka masker (padahal dia udah pake dobel ahahaha). Yah, coping mechanism ya udalah ya. 


Lalu kami juga nonton drakor bareng, nggak tau udah berapa judul yang jelas jadi quality time bareng lah selain ngobrol tentunya. Belum merasa butuh staycation, belum merasa butuh liburan, senang-senang aja kami di rumah.


Gongnya adalah, JG akhirnya ke psikolog tapi cuma dapet pencerahan 2 minggu abis itu kembali stres lagi. Memutuskan ke psikiater dan sekarang masih dalam proses pengobatan. Iya, ada diagnosanya cuma belum mau cerita sekarang karena belum selesai. TAPI WAH PERUBAHANNYA GILA SIH. Best decision 2020, wouldn’t ever happened if pandemic didn’t happen.


MOVING ON TO BEBE.


Bebe masuk SD dan nggak henti-henti bersyukur. Saya yang tadinya kesel karena hah apaan sih udah nabung dari hamil, tau-tau harus sekolah online! Tapi ternyata banyak banget dapet kemudahan dari sekolah sampai Bebe tuh berkali-kali bilang “I love my school sooooo much!”.


Ini kan dia lagi liburan ya. Di hari pertama liburan dia termenung, berkaca-kaca sambil meluk saya karena mikirin wah hari tanpa sekolah tuh gimana, bosan katanya. Sesenang itu dia sekolah. 


Milestone lain tahun ini adalah gigi copot! Gigi seri bawah dua copot setelah berminggu-minggu udah tumbuh giginya lalu akhirnya copot sendiri aja gitu. Baru tau kalau gigi susu tuh akarnya memendek sampai copot sendiri makanya darahnya nggak heboh dan nggak sakit. 


Lalu perkara berat badan yang pra-pandemi ini bikin stres ternyata lebih mudah dilalui saat pandemi karena 24 jam kami sama-sama. Tantangannya hanya di dia bilang nggak mau aja yang mana lebih mudah dilalui karena ya anaknya udah bisa diajak diskusi mau makan apa aja seminggu ke depan. Alhamdulillah juga berat badannya udah di garis kuning atas, tinggi badannya lagi ngejar dikit lagi untuk bisa ke ijo. 


Untuk ukuran anak yang setahun nggak naik berat badan sama sekali, pencapaian ini udah ok banget sih. Ya sebenernya nggak apa-apa ya nggak di garis ijo asal naik terus, tapi kalau bisa diusahakan di ijo kan ya jangan di merah banget gitulah.


Kalau ngomongin resolusi, 2020 tuh resolusi yang nggak tercapai cuma resolusi belajar aja. Yang pengen dibeli alhamdulillah kebeli semua (lagi emang realistis selalu sih pengen beli-belinya). Masih bisa nabung, masih bisa investasi, masih bisa ngakak-ngakak nonton drakor, masih dikasih kesempatan untuk bersyukur. 2021 udah tanggal 1 tapi belum bikin resolusi, mau pelan-pelan aja dijalani. Biarlah, kurang apa sih hidup ini memangnya? :')


So cheers for 2020! Untuk rencana-rencana yang berubah karena harus diam di rumah. Untuk hari-hari yang diduga akan sepi tapi ternyata ramai sekali. Untuk masa-masa di mana 24 jam bersama keluarga ternyata bisa-bisa saja dan me time di tengah malam jadi momen yang paling berharga. 


Terima kasih aku!


“Aku nggak usah vaksin (Covid) deh, aku nggak apa-apa nggak usah sekolah, ibu juga nggak usah ke kantor, kita pelukan aja setiap hari kaya gini,” — Xylo, 2020.


-ast-






Bebe dan Jadi Dewasa

on
Saturday, November 7, 2020

Makin jarang nulis blog ternyata karena satu kesulitan: Bebe nggak sulit lagi hahahaha HOW IRONIC. Seumur hidup Bebe, blog ini jadi tempat ngeluh parentingku. Dan ketika parentingnya udah nggak sulit lagi, jadi nggak pengen ngeluh lagi, jadi nggak pengen nulis lagi lol.

Pun semakin besar, semakin hati-hati untuk cerita tentang Bebe karena dia udah ngerti privasi. Udah tahu rahasia. Udah bisa memutuskan mana yang boleh diceritakan mana yang nggak. Mau itu di Twitter, di IG story, pun di sini. Cerita yang satu ini, saya pake adegan minta izin dulu. “Boleh nggak ibu cerita ini ke orang-orang?” Dia bilang boleh, so here we go!

*

Bebe adalah anak yang nggak ditutup matanya saat kissing scene karena kenapa harus ditutup? Kamunya aja kali yang nggak bisa jelasin ke anak kenapa mereka ciuman lol. Padahal itu bisa jadi sarana sex education lho, siapa yang boleh ciuman, siapa yang nggak boleh, dll.



Boleh sih boleh, nggak dilarang, nggak ditutup matanya tapi Bebe jijik sama adegan ciuman HAHAHAHA. EW SO GROSS! Katanya berulang-ulang. Bebe kan anaknya jijikan ya. Karena SPD juga sih (baca ceritanya di sini), dia super jijik sama segala sesuatu termasuk ludahnya sendiri. Apalagi bahas kissing scene :))))

Jadi kalau misal kami lagi main-main gitu terus dia nggak sengaja ngeces gitu wah udalah nggak bakal mau dia suruh lap, yang ngeces siapa yang jijik siapa. Pernah netes ke tangan saya terus saya lap ke baju dia terus dia menangysss saking jijiknya :))))

Dia juga nggak pernah mau tuh sharing gelas sama orang lain. Apalagi sharing sedotan atau sendok. Bahkan sama ibu dan appa pun jijiknya sama. Ya udah baguslah mengurangi penularan penyakit hahahahaha.

Ditambah konsep marriage itu buat dia aneh karena “aku maunya sama ibu terus foreveerrrr!” dan “why is everyone getting married?” karena kalau di akhir fairy tale klasik kan they got married and lived happily ever after gitu.

Pernah juga dia nonton Over The Moon sama JG di Netflix terus pas cerita ke saya tuh bilangnya gini:

“So there is a girl, and the father. And then the mother died and the father meet another adult and it’s so blah”

“What’s so blah? Are you sure it’s a person? Or is it a cockroach or something?”

“No it’s a person, an adult I said ibu, a woman, but it’s blaahhhh”

“How could people be so blah?”

“It’s a blah because the father and the woman … KEY AI ES ES”

NGAKAK LOL MAAP BE. K I S S katanya, bahkan ngomongnya aja dia jijik HAHA.

Kemudian suatu hari dia denger lagu Sherina “Andai Aku Besar” dan terjadilah percakapan ini:



Nah tapi ini kejadiannya tuh di meja makan, tanpa pikir panjang. Jadi dia jawab begitu. Ternyata di suatu malam, jawabannya beda lebih dalem :’) Kalau malem-malem kan mellow gitu ya, gelap, fokus anak cuma sama obrolan aja, entah lagi ngomongin apa, nyampe lagi tuh ke percakapan marriage sampai nangis :))))

“I don’t wanna be an adult”

“Why?”

“Because then you’ll be so big, and then you cannot go under the table, and then you can’t huaaaa” *NANGES*

Lalu saya peluk. Sambil nangis bilang gini:

“I don’t want to be an adult because I don’t want to start my own life” *MASIH MENANGES*

H A H  G I M A N A . . .

Saya tanya lagi tuh, apa maksudnya start your own life? Kan sekarang juga sudah hidup? Katanya bukan, bukan hidup jadi anak-anak tapi jadi orang dewasa, keluar dari rumah, kerja, menikah, dia nggak mau. 

Emang dari dulu kalau lagi cerita dulu ibu dan appa gimana sebelum Bebe lahir, Bebe juga kaya nggak paham kenapa kami harus keluar dari rumah dan pindah ke Jakarta? Kenapa emang suatu hari anak itu harus lepas dari ibu? Kenapa harus telepon ibu setiap hari (kaya JG nelepon mamanya setiap hari) kan bisa serumah aja :)))

Itu yang paling bikin dia bingung. Kenapa emang harus ketemu orang baru dan lalu jadi satu rumah? Ya emang belum ngerti aja di umur 6 tahun kali ya. Tapi ternyata dia mikirin banget hahahaha. Sumpah overthinking kaya siapa sih LOL.


Akhirnya saya puk-pukin dan bilang kalau nggak ada yang suruh dia cepat besar, nggak akan ada yang akan paksa dia cepat menikah atau keluar dari rumah.

Lalu saya merenung.

Dulu, saya pengen cepet-cepet jadi orang besar itu kenapa? Saya nggak sabar pengen punya uang sendiri (asli dari SMP-SMA gitu udah ngayal nanti kerja mau pake baju apa, kerja di tempat kaya apa, kalau gajian uangnya mau buat apa, dll), pengen keluar dari rumah, pengen mandiri, pengen memutuskan semua keputusan hidup sendiri. 

Kalian juga mungkin punya alasan yang beda lagi. Mungkin ada juga yang seumur hidup selalu diremehkan orangtua dengan “halah anak kecil diem aja” atau “anak kecil tau apa sih nurut ajalah!” gitu ya udah pastilah jadinya pengen cepet-cepet besar biar punya kendali atas hidup. Atau mungkin ortu zaman dulu sering bilang “hidup di rumah ini, ikut aturan di rumah ini” tanpa berdiskusi apakah anak sepakat dengan aturannya? Apakah aturan itu dibuat bersama atau hanya dibuat ortu belaka?

Tapi coba kalau jadi Bebe?

Sekarang hidupnya semua dikasih pilihan, semua bebas pilih, semua konsekuensi dan peraturan didiskusikan, ditanyai pendapatnya akan semua hal, pendapatnya selalu dianggap penting, tidak pernah dihukum dan diajari tanggung jawab, wajar jadinya kalau dia mikir: Ngapain harus jadi orang dewasa dan hidup mandiri? HUHU.

Karena buktinya kita aja (SAYA KALI AH) dulu ala-ala banget pengen cepet jadi besar, mau nikah muda karena kepengaruh Hollywood series (BLAH), mau ini itu pas udah besar, pas udah besar KOKKK BEGINI HAHAHA. Enakan jadi anak-anak.

Jadi Be, dan anak-anak lain di luar sana, enjoy your childhood! Kamu benar, nggak perlu ingin buru-buru besar, pelan-pelan aja biar nggak kesasar. Biar ketika nyampe saatnya, kamu udah tau apa yang kamu inginkan dan kamu tidak inginkan.

WE LOVE YOU!

PS: Beberapa hari kemudian kami main tenda-tendaan pakai selimut. Selimutnya mayan tebel tanpa ada bolongan gitu karena dia maunya gelap. PANAS DONG YAH PENGAP. Saya bilang “I give upppp please give me some oxygennnn!” sambil keluar dari selimut. Jawaban Bebe adalah “See that ibu, being a grown up is not cool, you need more oxygen because you’re bigger than me. I wanna be kids forever!” LOL OKEDEH BEBAS TERSERAH KAMU AJA :))))

-ast-