-->

Image Slider

Showing posts with label tentang hidup. Show all posts
Showing posts with label tentang hidup. Show all posts

Titik Nol

on
Saturday, June 19, 2021

Ada yang sudah nonton Ali & Ratu Ratu Queens? Kalau belum dan nggak mau kena spoiler jangan lanjut baca ya!


(Sepertinya saya harus nanya pada mbak Gina S. Noer kenapa menulis Ratu Ratu dalam Ali & Ratu Ratu Queens itu nggak pakai tanda hubung/hypen/strip? Ratu-Ratu dong harusnya bukan Ratu Ratu? ASLI GEMES APA ARTI DI BALIKNYA? HAHA MAAFKAN).


Saya menangis nonton film ini dari awal sampai akhir. Bukan, bukan karena memikirkan Ali tapi justru memikirkan Mia. Betapa dia pasti terjebak di dalam satu persimpangan jalan yang yakinnnn, dialami banyak ibu. Mimpi sejak lama atau anak dan keluarga?


Kalau orang yang positive vibes only biasanya bilang “bisa keduanya kok, tenang aja” LOL MASA SIH? YAKIN? :))))


Kalau saya nggak berani bilang “tenang aja pasti bisa keduanya” meski juga tidak akan bilang “udah kubur aja mimpinya, sekarang fokusmu anak dan keluarga”.


Tidak berani terlalu positif tapi juga tidak perlu terlalu optimis. Di tengah-tengah saja. 



Sebabnya kalau ada satu hal yang harus pelan-pelan direlakan saat punya anak adalah menyadari bahwa kamu bukan sepenuhnya milikmu lagi.


Bahwa ada hak anakmu di sana, bahwa ada hak suamimu di sana, dan setelah itu biasanya kita jadi melupakan bahwa ada hak dirimu sendiri juga yang memang sejak awal ada di sana. Praktiknya, ini sulit. Sangat sangat sulit.


Belum lagi tuntutan lingkungan tentang ibu ideal adalah ibu yang selalu ada bersama anaknya. Tidak peduli apakah si ibu tetap menyalakan mimpinya atau tidak. Tidak peduli meski di rumah yang sama, sang anak dibersamai maksimal atau tidak. Yang penting ibunya ada!


*


Selesai nonton ini saya jadi merenung *lah nonton apa aja bukannya jadi merenung? :))))* 


Titik Mia memutuskan untuk pergi padahal anaknya masih kecil adalah titik nol. Ia memutuskan untuk bergerak, kembali mengejar mimpi. It’s a now or never situation.


Dia semakin tua, Ali semakin besar, dan semakin besar Ali semakin mungkin ia melarang ibunya pergi. Semakin tua Mia, semakin mungkin ia jadi melupakan mimpinya atau menyadari bahwa sudah terlambat, sudah bukan waktunya lagi.


Saya pernah ada di titik nol itu. *SORI EMANG BLOG INI BUAT CERITA PRIBADI HAHAHA*


Grafik kebahagiaannya kurang lebih seperti ini.


Bingung pada blogspot baru nih kenapa sih foto udah hi res pun setelah di-upload jadi butek gini ih


TIDAK PERNAH sedikitpun terbersit dalam pikiran saya akan resign dari kantor. Saya selalu ingin bekerja. Ya gara-gara The Devil Wears Prada sih, saya selalu membayangkan saya adalah perempuan bekerja yang sekarang di-stereotype-kan sebagai mbak-mbak SCBD. Mbak-mbak kantoran.


Lupa kuliahnya Jurnalistik, walhasil bukan jadi mbak-mbak SCBD tapi mbak-mbak Buncit Raya naik turun taksi wawancara artis Korea LOL. Ya yang penting kerjalah! Saya punya rencana karier, ingin jadi apa dalam sekian lama. Ingin kerja di mana. Ingin kerja di perusahaan seperti apa.


Sampai menikah dan punya anak. Tiba-tiba dunia jadi jungkir balik. Karier yang dulu rasanya mudah dicapai kini jadi perlu banyak pertimbangan. Kantor yang dulu jadi mimpi tiba-tiba jadi mustahil digapai lagi. Terutama bagi saya yang ingin anak diurus sebisa mungkin dengan ideal.


Saya merelakan mimpi. Saya tidak mau lagi dihantui “coba kalau”. Saya tidak mau hidup dalam penyesalan dan menua dengan menyimpan “dendam” pada anak bahwa saya berkorban.


Saya berdamai untuk semua rencana yang mungkin tertunda atau malah memang harus menguap begitu saja. Tidak mau menyesali yang sudah jadi kenyataan, belajar melepaskan apa yang kita inginkan dan merelakan apa-apa yang tidak pernah kejadian.


Belajar bahwa ketika apa yang kita usahakan nggak bisa jadi nyata, mungkin memang sejak awal itu bukan untuk kita.


Belajar bahwa apa yang kita hadapi sekarang adalah konsekuensi dari berbagai pilihan kita di masa lalu dan tentu, dulu pun sudah dilalui dengan berbagai pertimbangan.


Saya membuat mimpi baru. Setelah jatuh ke bawah, merasa tidak punya apa-apa, merasa gagal, merasa tidak mungkin lagi bermimpi saya merangkak lagi. Belajar hal baru, berkenalan dengan komunitas baru, menemukan passion baru. Sampai akhirnya saya di titik nol lagi, siap untuk semangat lagi, siap untuk mengejar mimpi-mimpi baru lagi.


Itu saya. Saya MEMILIH untuk mencari mimpi baru. Mia tidak dan itu tidak apa-apa!


Mia (dan mungkin banyak di antara kalian) memilih melanjutkan mimpi lama. Yang mungkin terkubur karena harus menyusui, terabaikan karena anak tantrum dan berbagai drama balita, tapi tetap ada di sana. Ingin dikejar karena kalau tidak sekarang kapan lagi? 


Kalau pun dia di rumah apakah dia akan fokus membesarkan anak dengan baik? 


Iya pasti akan banyak penghakiman, tapi lebih baik dihakimi daripada menyesal seumur hidup. Lebih baik mencoba dibanding saat tua jadi menyesal dan hanya bisa bilang pada anak “aku berkorban banyak hal untukmu”. Lebih baik pergi sejenak dan tahu ia mencoba dibanding sampai tua menyadari ia kehilangan diri sendiri karena tidak memberi kesempatan pada mimpi.


Beda lainnya adalah saya didukung suami atas apapun pilihan saya. Mia tidak dan itulah sumber masalah sebenarnya.


Suaminya tidak rela Mia pergi mengejar mimpi, maka setelah 6 bulan ia bahkan tidak peduli bagaimana perasaan Mia, yang penting kalau gagal pulang. Jika ia mendukung maka mereka akan mencari jalan tengah. Bukan menceraikan begitu saja bahkan sebelum sempat bertemu lagi. Bukan menutup komunikasi Mia dengan Ali.


Itu sumber masalah utamanya. Kamu menikah dengan orang yang tidak sepaham denganmu melihat dunia. Kamu menikah dengan orang yang tidak menyadari bahwa setiap individu berhak punya mimpi, meskipun ia seorang ibu.


Beda prinsip. 


Padahal sama prinsip saja membesarkan anak itu tidak mudah apalagi beda, kan? Tetap banyak mimpi yang harus ditunda untuk nanti dikejar ulang atau direlakan untuk selamanya, Yang mana saja, yang jelas lakukan dengan sadar. Lakukan dengan paham konsekuensi dari segalanya. 


Itu saja.


-ast- 





Mencari Kesempatan

on
Friday, June 5, 2020
Tiga bulan di rumah wow. Tiga bulan ini saya nonton drama Korea lebih banyak dibanding 7 tahun terakhir. Saking nggak mau produktifnya, saking maunya kerja, masak, sama rebahan. Saat rebahan, saat yang pas untuk Koreaan.



Sampai terketuk hatinya karena 2 hari lagi ulang tahun si Bebe ya ampoonnnn! Biasanya ultah Bebe adalah jam-jam sibuk. Entah kenapa awal Juni tuh jadi momen sibuk saya banget.

Tahun lalu bikin buku “Berbeda itu Tak Apa-apa”.

Dua tahun lalu bikin buku “Susahnya Jadi Ibu”

Tiga tahun lalu bikin souvenir ultah MENJAHIT pouch sendiri dengan custom muka temen-temen Bebe yang saya GAMBAR sendiri. Ditambah flash card yang juga saya gambar sendiri. Ambisius amat mbaakkk?

Enam tahun lalu bikin buku “Oppa Oppa”. Masih bisa dibeli di Google Play btw.

Punya buku 3 semua lahir di awal Juni. Punya anak juga lahir awal Juni lol.

Sampai diingatkan Timehop. Di awal Juni, sembilan tahun lalu, juga satu momen yang mengubah hidup saya datang. Bulan Juni 2011, adalah kali pertama saya menginjakkan kaki untuk memutuskan berkarier di Jakarta. Satu keputusan yang nggak pernah sekali pun saya sesali.

Saya sebenernya bikin YouTube tentang ini, tapi sebagai penulis, bikin video tuh ngeselin ya karena kalau udah selesai lalu ada yang pengen ditambahin, SUSAH AMAATTT NAMBAHINNYA! Udalah saya bikin versi tulisan juga. Videonya bisa ditonton di sini:


Sembilan tahun lalu saya lagi suka-sukanya pada KPop. Ngikutin banget sampai punya akun di forum-forum fanbase. Dulu musimnya forum kan ya, dan tiap fanbase punya forum sendiri sampai ribet amaattt harus sign up satu-satu.

Saya juga waktu itu pengangguran karena abis resign impulsif akibat berantem terus sama bos. Saya ngetweet nanya lowongan kerja eh loh kok malah disuruh kirim CV! Abis kirim CV langsung janjian interview dan tau-tau Seninnya saya udah resmi kerja di Jakarta. Big deal buat saya yang seumur hidup di Bandung.

Karena waktu itu kondisinya saya belum pernah sama sekali ke Jakarta sendirian pake travel. Mantan pacar saya waktu itu ada apalah sampai nggak bisa anter padahal sebelum-sebelumnya kalau ada interview di Jakarta pasti dianter.

Ayah saya lagi sibuk jadi panitia SPMB dan jadinya supirnya nggak mungkin dipinjam. Intinya, saya nekat ke Jakarta sendirian. Bermodal GPS dari Google Maps Blackberry, saya naik travel ke Pancoran dan lanjut naik taksi. Takut tapi excited banget!

Sampai sekarang saya masih inget persis baju dan celana mana yang saya pakai. Masih ingat suasana interview dan nego gaji karena jujur gajinya kecil banget dibanding pekerjaan terakhir saya yang notabene di Bandung. Sementara di Jakarta saya harus bayar kost dan makan sendiri. Tapi karena posisinya saya sangat sangat inginkan, ya udah nekat aja.

Siapa sangka, bahkan saya sendiri nggak nyangka, satu keputusan saya untuk pergi sendiri ke Jakarta itu mengubah hidup saya selamanya. Jadi reporter KPop, lanjut jadi editor di media yang lebih oke, dan sekarang di media yang saya sukai. Pengalaman-pengalaman yang membentuk saya jadi seperti sekarang.

Berawal dari satu tweet. Hidup berubah selamanya.

Selfie dari meja kerja pake laptop HAHA
Katanya saya beruntung. Tapi kalau cuma modal beruntung dan mengabaikan kerja keras saya juga rasanya nggak adil. Saya perlu mengapresiasi kerja keras saya. Kalau bukan saya yang apresiasi terus siapa lagi? Hahahaha.

Untuk bisa liputan itu saya approach semua promotor satu-satu termasuk promotor di Singapura karena 2011 tuh artis yang konser di sini sedikit banget. Jadi memang awalnya saya nonton konser bolak-balik ke Singapura. Ketika pada akhirnya artisnya juga datang ke Indonesia, saya juga nggak pernah ragu untuk telepon dan tanya-tanya duluan pada promotor untuk info dari insider.

Iya betul pekerjaannya menyenangkan. Ketemu dengan banyak KPop idol, wawancara, ke backstage, rehearsal, sangat menyenangkan sampai layak dijadikan buku oleh penerbit major. Tapi di balik itu juga saya kerja sangat keras.

Jam kerja tidak tentu, Sabtu-Minggu masuk tanpa diganti hari libur lain, pulang tengah malam besok paginya sudah kerja lagi. Begitu terus selama 2 tahun. Lalu seperti cerita di video itu, nggak melulu saya liputan senang-senang. Small gathering fanbase pun saya liput dan datangi untuk menghormati mereka yang membaca tulisan saya setiap hari.

Masa-masa itu meski super melelahkan, selalu jadi highlight masa muda saya. Senang sekali pernah punya pengalaman yang nggak bisa dimiliki semua orang. Sampai sekarang rasanya seperti mimpi. Kalau saya tidak menulis buku dan tidak merapikan foto-fotonya, mungkin kenangan ini lama-lama makin blur. Untung saya menulis dan mengabadikannya di buku huhu terharu sendiri hahahaha.

Oiya soal buku juga. Apa penerbit datang ke saya dan menawari untuk membuat buku seperti sekarang? Sekarang sih iya, sekarang kayanya punya followers agak banyak aja langsung ditawari bikin buku deh sama penerbit.

DULU YA TIDAK. Saya email penerbit dan menawari proposal untuk membuat buku. Saya beri summary pengalaman saya dan akhirnya sepakat untuk ditulis dan dijadikan buku. Detailnya ada di sini: Tentang Buku Oppa Oppa

Intinya, kesempatan itu emang kadang datang sendiri tapi nggak ada salahnya dicari. Mungkin kamu udah cari jutaan kali dan tetep belum ketemu apa yang dinanti. Tapi, apa sih salahnya untuk coba sekali lagi?

SELAMAT MENCARI KESEMPATAN!

-ast-




Menetralkan Emosi

on
Wednesday, May 13, 2020


“Ambil hikmahnya ajalahhh.”

“Ya bersyukurlah masih blablabla”

“Kenapa sih liat negatifnya terus!”

“Count your blessings”

“Good vibes only!”

Sekali dua kali denger kalimat kaya gitu nggak masalah. Denger saat lagi nggak gitu down juga rasanya biasa aja. Tapi pas emang lagi di bawah banget, lalu ada yang ngomong gitu ke kita kok rasanya kaya emosi kita jadi nggak valid ya?

Apa iya nggak boleh ngeluh?

Apa iya karena kita masih bisa makan enak dan masih punya atap untuk bernaung kita lantas nggak pantas untuk mengeluh?

Pantas tidak pantas menurut siapa sih?

Mengeluh juga kan bukan berarti tidak bersyukur. “Ya saya bersyukur bisa makan enak tapi jujur capek banget nih masak tiap hari.” Kan valid aja. Nggak ada masalah dalam kalimat itu hahahaha.

Kalau untuk orang lain, kita kan nggak tau sedang sedalam apa dia dengan perasaannya sehingga tidak perlu lah ikut campur dengan menyuruhnya mendadak bahagia. Bahagia kan tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa tring! disulap sekejap hanya karena kita meminta dia untuk membuang negativity.

Kalimat atau pernyataan positif kan sebaiknya memotivasi. Kalau sudah tidak memotivasi, apa iya tetap bisa dibilang sebagai kalimat positif?

Di sinilah istilah toxic positivity lahir. Mindset terlalu positif sampai jadi toxic. Iya, bukan cuma kalimat negatif yang bisa jadi menyebalkan.

Contoh, kita terbiasa dengan jargon “kerja keras pintu sukses” seolah setiap orang yang kerja keras pasti suatu hari akan sukses alias kaya. Nope, toxic positivity.

Ada orang yang kerja keras banting tulang setiap hari seumur hidupnya dan sampai mati tetep hidup miskin susah makan. Tidak semua orang berhasil naik kelas hanya karena kerja keras.

Ingat kata mbawin @winditeguh. Kalau orang bisa, kamu belum tentu bisa. Kalau kamu bisa juga ya bagus, kalau nggak bisa nggak usah terlalu kecewa.

Gagal ya gagal. Gagal atau merasa gagal itu normal. Kadang kita dapet apa yang kita mau kadang nggak. Kadang beruntung kadang nggak. Ada yang beruntung terus ada yang apes terus.

Ada yang lahir miskin, mati kaya. Ada yang lahir miskin, mati tetap miskin. Ada yang miskin harta menghibur diri dengan kaya hati. Nggak tau aja dia orang kaya harta yang kaya hati juga banyak. Namanya juga menghibur diri kakkk masa nggak boleh ahahaha bolehhh dong.

Atau misal ada 1 anak pemulung sukses kuliah sampai S3 full beasiswa di luar negeri. Kita jadi bias dengan “tuh dia aja bisa sukses masa kamu kok nggak bisa” tanpa mempertimbangkan bahwa si anak ini adalah 1 dari jutaan anak pemulung yang punya kesempatan lebih baik.

Tidak perlu menglorifikasi kesuksesan sehingga kita tak terlalu kecewa ketika harus menemui kegagalan.

Apa lantas tidak usaha? Ya tetep usaha dong. Tapi dengan ekspektasi ini: Bahwa kerja keras nggak 100% menjamin kita dapat kehidupan yang lebih baik. Tidak perlu terlalu yakin akan sukses, tidak perlu juga terlalu khawatir untuk gagal. Netral saja.

Dalam parenting, mindset ini bisa jadi sangat berguna. Banyak orangtua yang punya banyak ekspektasi untuk anaknya sehingga khawatir si anak tidak seperti yang mereka harapkan. Padahal kan anak individu sendiri, masa depannya sebaiknya ia yang tentukan sendiri. Harapan kita itu sebatas harapan, bukan peraturan yang harus selalu anak patuhi. Ini kenapa saya merasa penting sekali mengatur ekspektasi.

Saya dan JG merasa sangat sanget berusaha untuk Bebe, kasih sekolah terbaik yang bisa kami afford, kasih makanan terbaik, bonding dan kelola emosi sebisa mungkin, kalau ternyata dia jadinya B aja atau nggak lebih baik dari kami?

Sudahlah kan sudah berusaha melakukan yang terbaik. Seharusnya tidak menyesal dan bisa berdamai karena seburuk apapun dia nantinya, dia adalah hasil terbaik yang sudah kami usahakan. (ini quote rework dari postingan ini: Kenapa Sekolah Begitu Penting?)

Iya, hidup ini lebih tentang gimana kita berdamai dengan kondisi kita sekarang. 

Tentang gimana kita bisa dengan tenang hidup sekarang, tanpa terhantui masa lalu, tanpa terlalu mengkhawatirkan masa depan.

Tentang gimana kita sadar bahwa memang mimpi itu bikin kita lari, punya cita-cita itu harus, dan kadang halu itu boleh.

Terbang ketinggian pun nggak apa-apa tapi jangan lupa pegangan, biar kalau ternyata harus jatuh, kita nggak terjun bebas. Kita turun pelan-pelan.

Kita diam di tengah saja. Saat lelah menangislah, saat senang tertawalah.

Yes, neutral mindset ini memang juga masalah emosi. Sebagai orangtua kita sibuk bicara memvalidasi emosi anak agar anak punya regulasi emosi yang baik. Tapi sudahkah kita memvalidasi emosi kita sendiri?

Meregulasi semua emosi yang hadir dan tidak menyangkalnya? Meresapi setiap perasaan yang muncul dan tidak melabelinya sebagai sesuatu yang negatif hanya karena kita memposisikan diri harus selalu dalam “good vibes”?

Capek itu boleh, sedih itu manusiawi, cemas itu wajar apalagi di saat pandemi. Justru harus merasakan dulu perasaan-perasaan “negatif” itu sebelum akhirnya bisa netral. Bisa ada di pikiran bahwa perasaan kita itu semua sama. Tidak ada yang negatif atau positif, tinggal bagaimana kita bereaksi terhadap perasaan itu.

Capek boleh. Reaksi kita apa? Marah-marah. Kenapa perlu marah? Apa energi marahnya bisa dialihkan ke hal lain yang tidak menyakiti orang lain? Yang tidak membuat kita menyesal karena sudah membentak anak yang tidak perlu dibentak.

Cemas boleh. Reaksi kita apa? Terlalu banyak baca berita sampai sakit kepala, jadi sensitif dan mudah menangis. Maka coba kendalikan dengan cara mengurangi konsumsi berita dan perbanyak mengerjakan hal yang membuat kita senang.

Semua perasaan BOLEH kamu rasakan tapi perlu dilatih untuk bisa peka merasakan sehingga bisa mengendalikan reaksinya. Bagaimanapun, apa-apa yang kamu rasakan itu valid. :)

Kuncinya ada di mengendalikan perasaan agar selalu netral. Tidak berusaha selalu senang, tidak terlalu lama saat sedih. Tidak menganggap lebih perasaan “positif” dan tidak perlu selalu mengusir perasaan “negatif”.

Ketika emosi yang selama ini dilabeli negatif berhasil kita kendalikan, berikutnya coba resapi emosi yang selama ini kita labeli positif. Apakah kita juga bereaksi berlebihan ketika senang? Ketika bahagia? Sehingga makan terlalu banyak? Sehingga belanja terlalu impulsif?

Mungkin ini sebabnya orang zaman dulu sering bilang “jangan terlalu seneng ah, kalau terlalu seneng nanti sedih loh!”

Ada benarnya. Ketika kita terlalu senang, kita tidak bisa mengendalikan emosi positif, kita jadi punya benchmark “senang itu kalau begini lho” atau “bahagia itu kalau begini nih”. Ketika “begini” nya tidak lagi bisa hadir kita seperti kehilangan kesempatan untuk bahagia. Sedih pun jadi terasa lebih menyedihkan.

Dengan demikian, coba rasakan dan kendalikan perasaan dan emosi kita sepenuhnya. Marah tidak terlalu marah, senang tidak terlalu senang. Semua yang terlalu memang tidak baik, kan? Netral saja. Usahakan netral.

Jadi, sudah sampai mana perjalanan mengenali emosinya?

PS: Iseng ngecek tulisan semacam ini di blog dengan tag Tentang Hidup ternyata ada 73 postingan sejak 2015! Sama ini jadi 74! Wah, emang passionate banget kayanya saya ngomongin hidup hahaha. Kalau yang niat baca dari awal, tag ini jadi perjalanan emosi saya sih sepertinya.

Dari quarter life crisis, hancurnya kepercayaan diri karena punya anak, masih positive vibes only saking ngerasa hidup kok gini-gini aja, sampai sekarang di titik bisa bilang kalau positive vibes only juga nggak selamanya baik. Pengen pukpukin diri sendiri dan bilang BANGGA BANGET SAMA DIRI SENDIRI, TERIMA KASIH UDAH SAMPAI DI SINI! :))





The New Normal

on
Monday, April 20, 2020

Topik dengan tiga kata judul ini udah banyak banget yang nulis ya. Tapi saya mau nulis juga dari sudut pandang saya atuhlah masa nggak boleh hahahaha

Udah sebulan lebih di rumah, sebulan 4 hari kalau nggak salah hitung. Udah terlalu lelah untuk menghitung hari. Hidup pasti temukan jalannya. Udah mulai ngerasa kalau harus kaya gini selamanya ya udah, kalau bisa ke kantor tiap hari lagi kaya dulu alhamdulillah. 

Tapi kayanya pilihan kedua makin jauh rasanya. Hidup yang kemarin-kemarin jadi serasa cuma mimpi aja. Tiba-tiba kita bangun dan disadarkan, mana yang penting, mana yang bisa diabaikan. Mana yang milik kita, mana yang bukan. 

Waktu bukan milik kita. Tempat, bumi ini juga bukan milik kita. Yang kita miliki sepenuhnya sendiri cuma pikiran. Itu pun tetap hanya dalam pikiran, karena pikiran bukan kenyataan. Kita, sendirian dalam pikiran. 

Banyak hal yang kita pikir normalnya begitu ternyata tidak.

Normalnya kalau kerja itu ke kantor padahal tidak pun tidak apa-apa.  Karena banyak kantor yang masih bisa beroperasi baik-baik saja meski hampir semua karyawan diam di rumah tak ke mana-mana.

Jadi mudah terlihat, mana yang bisa tetap fokus bekerja meski dengan distraksi keluarga, mana yang malah menghilang dan menganggap work from home adalah liburan semata.

Normalnya anak tuh sekolah dong padahal tidak juga anak ternyata tetap normal ahahaha. Sekolah di rumah pun bisa. Anak beraktivitas di rumah cuma sama appa ibu yang tidak 100% fokus karena nemeninnya harus sambil kerja, ternyata bisa.

Normalnya me time ibu itu tanpa anak sama sekali. Ternyata me time ngunci diri di kamar juga bisa. Normalnya liburan untuk refreshing. Ternyata nonton drama Korea juga refresh dan senang-senang aja. Normalnya orang ekstrovert itu recharge di keramaian. Ternyata bisa kok diusahakan dengan teriak-teriak di rumah karaokean.

Dan normal-normal lain yang sekarang jadi dulu. Jadi masa lalu.

*

Kalau diperhatikan baik-baik, Bebe lebih gampang adaptasi. Dari dia bilang “aku bosan di rumah” sampai “aku sekolahnya di rumah aja” itu cuma butuh waktu sekitar 2 minggu. Sebulan ini cuma 2x bilang “aku kangen sekolah!” lalu kembali happy dan lupa kalau di rumah itu bosan.

Beda sama ibunya yang butuh 3 minggu sampai sebulan. Dari migrain dan nggak bisa ngapa-ngapain 3 hari penuh karena mikirin masalah dunia (aka pandemi) sampai akhirnya bisa terima “oh mungkin memang harus begini bertahun-tahun ya udalah”. 

Dari kangen ke mall, kangen CFD, kangen makan AYCE dan Pagi Sore, kangen ngantor dan liputan, sampai memutuskan udalah nggak usah kangen lagi karena makin jauh sama bahagia. Kayanya dikit lagi mikirin konsep ngantor aja jadi nostalgia, selevel dengan mikirin masa-masa SMA :))))

Udah nggak ada lagi juga opsi untuk melakukan itu dengan tenang. Mau kangen juga jadi percuma. Mau bosan juga, ah dulu waktu ngantor biasa juga ada kok masa-masa bosan. Bosan itu biasalah. Dalam situasi apapun, kita bisa kok bosan. Nggak cuma sekarang. Move on, pelan-pelan aja, yang penting dicoba.

At least karena berusaha legowo gini jadi udah nggak denial lagi. Udah nggak sakit kepala mikirin problematika orang sedunia lagi.

Baca riset Harvard School of Public Health, mereka bilang kalau vaksin belum ditemukan, dengan rumah sakit kaya sekarang, Amerika baru akan berhenti social distancing di … 2022 lol 2-3 tahun harus begini, itu juga masih perkiraan. Bisa lebih cepat, bisa banget lebih lambat. :))))

Pun mulai berhenti mengkhayal kapan ini berhenti dan mau ngapain saat berakhir? Karena konsep "akhir"-nya tuh bener-bener masih serupa harapan, bukan janji yang jelas akan ditepati kapan. Lebih baik manage ekspektasi, kan?

*

Baru kerasa bahwa masa depan yang dulu rasanya bisa direncanakan, sekarang kembali jadi bayang-bayang. Padahal dari dulu juga masa depan mah emang bayang-bayang ya? Hahahaha.

Dulu sok tau banget merasa bisa memprediksi besok akan kerja, Bebe sekolah, makan malam di rumah. Karena kenyataannya besoknya lagi juga gitu. Besoknya juga gitu lagi. Sok banget memperkirakan besok akan kaya apa padahal semenit lagi juga nggak ada yang tau akan gimana.

Sebagai tukang bikin rencana, kali ini saya malah menghentikan semua agenda. Hanya berharap tetap punya penghasilan agar bisa makan. Hanya berharap nggak ada kondisi darurat agar dana darurat bisa jadi tameng untuk tetap punya perasaan aman. Sebagai manusia ambisius, saya juga mengubah mimpi dan cita-cita. Dari daftar panjang yang ingin diraih, berubah jadi daftar pendek hal-hal yang syukurlah masih bisa cukup, sepertinya baru kali ini kami tak minta berlebih. :(

Untuk yang jadi kehilangan kerjaan karena normal yang tiba-tiba berubah ini. Semoga secepatnya ketemu jalan barunya, ya? 

Rencana diatur ulang, impian dikondisikan, pikiran dikendalikan. Yang bisa dilakukan memang cuma mengatur, mengondisikan, dan mengendalikan pikiran. Ya gimana, menkes bukan, presiden bukan. Kecuali kamu scientist yang emang lagi bikin vaksinnya jadi mungkin ada bayangan kapan pandemi ini bisa diselesaikan huhu mangat guys. 

Definisi optimis pun berubah. Saat awal self-isolation, optimis adalah yakin bisa survive di rumah sampai pandemi selesai. Sekarang, optimis adalah yakin bisa survive dalam keadaan kaya gini entah sampai kapan.

Ini bukan rutinitas sementara. Ini rutinitas baru. Sekali lagi, ini bukan gaya hidup sementara, ini gaya hidup yang baru.

Maka, mari kita tutup dengan berseru: Semoga kita semua sehat selalu!

-ast-





Day 12

on
Wednesday, March 25, 2020

Saya sudah sangat ingin menulis tentang hidup akhir-akhir ini. Triggernya Ashraf Sinclair meninggal dan terlalu banyak hal yang terjadi di dunia.

Entah kenapa saya tidak menyempatkan diri. Karena merasa kepala terlalu penuh saya akhirnya hanya menuliskannya singkat di caption Instagram.



Berawal dari Kobe Bryant, lalu Ashraf Sinclair. Kemudian daftar tontonan 1-2 bulan belakangan yang bukannya menghibur malah bikin nangis bombay: “All The Bright Place” (Netflix) tentang dua orang yang mencari cahaya setelah duka dan trauma, “Onward” (Pixar) tentang pengandaian kematian yang kembali hanya untuk sehari, dan "Hi Bye Mama" (Netflix) yang membuat saya berpikir ulang tentang makna kehidupan.

Tentang meninggalkan dan ditinggalkan. HUHU SEDIH BANGET ASLI. Hi Bye Mama memperlihatkan sudut pandang kematian dari sisi yang meninggal, bukan dari sisi yang berduka. Baru, setidaknya untuk saya. :(

Lalu yang terakhir adalah Covid-19 yang bukannya bikin saya takut mati tapi bikin saya takut ditinggalkan jadi first thing first: Cek polis asuransi jiwa JG, apa uang pertanggungannya tetep cair kalau meninggal karena pandemi?

(Ternyata iya).

*

Pagi ini, hari keduabelas saya dan Bebe diam di rumah. Kami tidak melangkahkan kaki ke luar sekali pun. Berjemur di kamar yang memang jendelanya pas sekali terpapar sorotan matahari pagi, menghirup udara segar (ya kapan juga udara pagi Jakarta segar sih) dari balkon apartemen saja.

JG ke luar 2 kali untuk grocery shopping, mandi dan bebersih sebelum satu ruangan lagi dengan kami berdua. Dua kali ia keluar untuk mengambil paket dan GoFood. Hanya begitu saja tetap langsung mandi bersih. Terlalu takut membawa virusnya ke rumah, terlalu takut Bebe tertular dan kesakitan. :(

Saya dan Bebe berkomitmen 14 hari di rumah karena memang itu esensi isolasi diri, kan? Diam di rumah selama minimal 14 hari, agar ketika memang harus sakit, kita tahu persis kapan dan di mana kita tertular. Sekarang hari ke 12, seharusnya 2 hari lagi kami bisa bilang aman dan tidak punya virus dalam diri. Atau kalau ternyata punya dan tanpa gejala pun, sudah tidak menularkan pada siapa-siapa dalam 14 hari.

Jadi kami memang mengisolasi diri agar yakin tak tertular dan menulari. Iya, term yang tepat untuk kami adalah self-isolation bukan social distancing, karena saya tidak bersedia keluar lalu menjaga jarak dengan orang lain. Di saat seperti ini rasanya social distancing saja tidak cukup, apalagi tinggal dengan anak kecil.

Selama ini yang disebut rawan selalu orangtua. Rawan karena tingkat kematiannya tinggi. Tapi membaca berbagai cerita yang mengalami sakit, sakitnya bisa jadi ringan bisa jadi sangat berat. Membayangkan Bebe sakit berat kok rasanya saya tak mau keluar rumah. Biarlah saya hampir gila tapi saya di rumah saja untuk sementara.

Kenapa saya hampir gila?

*

Saat pengumuman sekolah diliburkan 2 minggu di hari Sabtu 12 hari yang lalu, saya adalah kaum yang optimis bahwa ini akan terjadi selama 2 minggu saja. Yah, 14 hari diam di rumah tidak ada salahnya, kan? Daripada keluar lalu jadi sakit, lalu jadi menulari orang yang sehat?

Naif sekali rasanya sekarang karena saat itu saya menganggap semua orang pasti melakukan hal yang sama.

Tidak, ternyata.

Ada yang memang terpaksa karena harus bekerja jadi tetap keluar rumah. Yang ini, jelas tidak apa-apa karena kalau terpaksa keluar rumah tandanya sudah tahu dong selama di luar itu harus bagaimana? Tidak menyentuh barang di tempat umum, rajin cuci tangan, jaga jarak dengan orang lain, dan segambreng tips lain.

Tapi yang meremehkan? Yang menganggap “halah mati mah mati aja” lalu keluyuran? Yang di jalan tetap serampangan, seperti saat normal, boro-boro cuci tangan, sampai rumah belum mandi atau ganti baju langsung rebahan. Yang kategori kedua ini nih yang paling pengen saya jorokin ke jurang biar mati duluan sebelum nularin orang :((((

Baru satu minggu di rumah, tiba-tiba imbauan baru muncul dan membuat #dirumahaja dari nol lagi. Iya, ditambah lagi 2 minggu karena gimana dong yang seminggu pertama kemarin jatohnya trial aja, karena nggak semuanya patuh.

Bebe yang sebelumnya sudah menghitung hari setiap pagi (10 hari lagi ya ibu? 9 hari lagi ya?) langsung berteriak NOOOO! We stuck together again? NOOOO! Sambil memeluk saya dan tertawa lepas. Saya?

:(

*

Saya sudah kehabisan energi.

Sebagai ekstrovert, saya sampai berusaha mengubah pola pikir, bahwa “jadi ekstrovert” adalah mindset. Afirmasi bahwa saya tidak perlu keramaian untuk charging energi, tidak perlu mengobrol dengan orang banyak untuk bisa bersemangat. Saya PASTI BISA mengisi ulang baterai saya dengan di rumah saja. Toh saya di rumah bersama dua orang favorit saya.

Saya menonton konser Pamungkas live, saya tetap IG story dan mengobrol dengan orang lain, saya tetap kulwap, saya tetap berusaha beranggapan bahwa sebagai millennial saya bisa hidup secara virtual.

Ternyata susah luar biasa. Saya butuh keramaian yang bukan maya. Senin pagi, hari kesepuluh itu jadi puncaknya. Dua hari sulit tidur dan hanya bisa menangis. Bangun tidur menangis sambil dipeluk Bebe yang pukpukin saya “Aku bosan banget Xylo, aku capek, aku boleh kan menangis?” Dia bilang boleh.

:(

Hari kerja saja sudah sulit untuk saya tapi kan kalau hari kerja saya sibuk karena tiap jam sudah ada jadwalnya harus ngapain atau jam makan sekeluarga berantakan sementara Bebe harus dipantau makannya agar berat badannya tidak turun lagi. Saat akhir pekan?

Belum lagi yang terburuk adalah saya jadi tidak punya me time, saya tidak punya waktu untuk diam sendiri karena definisi baru dari me time saat #dirumahaja seperti ini adalah menutup pintu kamar lalu menonton serial Netflix. Dengan suara JG dan Bebe berteriak-teriak di luar.

Bukan me time ideal tapi saya butuh itu. Bukan me time ideal karena jelas tidak bisa mengisi ulang baterai saya jadi 100% lagi.

Entahlah dengan kondisi berada di satu unit apartemen yang hanya berukuran 33 meter persegi, saya tidak tahu kapan bisa 100% lagi.

Energi yang ada kini hanya cukup untuk selalu bilang good morning sambil tersenyum lebar pada Bebe. Yang hanya cukup untuk menemaninya mengobrol berjam-jam sebelum tidur. Tentang Minecraft. Games yang tidak saya mengerti tapi saya dengarkan tiap detailnya. Karena hanya itu yang saya bisa untuk menghiburnya.

“I miss school, school is so fun,” kata Bebe semalam. Ia mulai rindu sekolah.

Minggu lalu yang ada di pikiran: Saya pasti bisa melewati 14 hari hanya dengan diam di rumah.

Minggu ini berubah menjadi: Kapan saya bisa beradaptasi dengan kondisi seperti ini?

Karena sungguh, orang sedunia pun tak ada yang tahu pasti kapan kondisi ini benar akan berakhir.

:(

*

Lalu 12 hari ini apa yang kami bertiga lakukan di rumah?

Pagi: Yoga, sarapan, mandi, jam 8 JG mulai kerja. Jam 9 saya mulai kerja, Bebe screen time.

Jam 12 masak makan siang dan makan sampai jam 1. Ngobrol, dancing, main. Kemudian Bebe tidur siang, saya kebut lagi kerja sampai jam 3 sore karena jam 3 dia PASTI akan bangun.

Jam 3 mulai main dengan Bebe bergantian dengan JG. Hanya beberapa hari ia kembali screen time karena saya dan JG terlalu banyak pekerjaan.

Malam makan, main UNO, umpel-umpelan di kasur. Besoknya begitu lagi.

Untungnya Bebe senang. Sebagai anak yang terakhir kali bersama ibunya 24 jam berhari-hari itu saat usianya 3 bulan, ia senang sekali karena bisa bersama saya dan JG sepanjang waktu. Matanya terus berbinar, terus menerus memeluk dan mencium saya. Meski rindu sekolah, ia belum mengeluh bosan. Malah mungkin ia bosan sudah keluar rumah terus setiap hari selama hampir 6 tahun. Baginya, ini liburan. Bagi saya, ini pelajaran.

Pelajaran bahwa rencana, meskipun sudah dibuat berbagai cara dan gaya, tetap bisa tertunda. Bahwa hidup saya yang biasanya sangat bergantung pada Google Calendar, juga nyatanya bisa tetap berjalan tanpa jadwal pasti apa-apa.

Yang paling membuat khawatir: Bagaimana kalau ini berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama? 3 bulan? 6 bulan?

Bagaimana kalau ini adalah the new normal seperti yang dibicarakan orang-orang? Bagaimana jika pemulihannya butuh waktu sangat lama karena ya Indonesia terlalu luas, Jakarta terlalu padat, penduduknya tak sepaham dan setara, pemerintahnya juga tak tegas karena terlalu takut jadi chaos. Wajar, saya juga takut. Tapi sampai kapan?

Sebuah pertanyaan yang berusaha saya enyahkan dari kepala karena sadar benar, itu di luar kendali dan kuasa saya tapi tetap saja. Pertanyaan itu muncul dan muncul kembali, buah cemas karena pengaruh diam di rumah terlalu lama.

*

Count your blessing.

I did.

Saya bersyukur masih gajian, punya kulkas penuh stok makanan dan camilan, dana darurat dengan jumlah yang cukup, masih bisa “iseng” beli saham, masih punya pilihan untuk diam di rumah. Saya bersyukur sekali.

Di sisi lain, rasa syukur ini jadi bentuk khawatir lain karena bagaimana dengan orang yang tidak seperti kami? Apa yang akan mereka lakukan? Apa mereka bisa bertahan hidup?

Saya jadi merasa bersalah karena bisa bersyukur. Merasa bersalah karena pandemi seperti semakin memperlebar jarak, yang bisa stok makanan dan yang tidak, yang punya privilege dan yang hidup dari ke hari. Hidup memang tidak pernah adil.

Dulu rasanya saya banyak mau. Saya mau belajar ini itu, saya mau ambil kelas ini itu, saya mau bikin ini itu untuk ulang tahun Bebe, saya mau beli ini itu. Banyak sekali daftar keinginan saya di tahun 2020 ini.

Sekarang semua keinginan itu hilang dan saya hanya mau dunia kembali ke tahun lalu. Ketika yang diributkan hanyalah hipnoterapis yang mengaku dokter, ketika yang dikhawatirkan hanyalah GoFood yang terlambat datang saat makan siang. Ketika yang ingin dicapai rasanya masih bisa digapai.

Bisa apa selain menangis? Hehehe.

Menangis menyembuhkan. Menangis adalah bagian dari mengenali emosi yang datang dan pergi. Maka kalau mau menangis, menangislah. Kalau mau teriak, teriaklah. Tapi tolong, tetap diam di rumah.

Kita perlu semua orang untuk diam di rumah dan menghentikan ini segera. Karena dampaknya bukan hanya ekonomi yang kolaps tapi juga kondisi jiwa yang semakin jauh dari tawa.

*

By the way, saya berjuang untuk tidak seperti ini lagi bertahun-tahun lamanya. Berjuang untuk tidak menangis tiba-tiba, untuk tidak berpikir terlalu banyak. Saya belajar meditasi, ikut kelas-kelas mindfulness, dan setahun belakangan saya merasa saya sudah baik-baik saja. Saya sudah berani untuk bilang saya pulih dan tidak apa-apa.

Dihadapkan pada situasi bencana seperti ini ternyata saya belum baik-baik saja. Semoga ini semua cepat berlalu, ya.

Semoga rasa damai bukan lagi hanya andai.
Semoga rasa tenang secepatnya bisa jadi pemenang.

-ast-




Lagi, Tentang Uang dan Kebahagiaan

on
Thursday, January 30, 2020
Tahun lalu, saya pernah nulis tentang mempertanyakan kebahagiaan. Tentang kita nggak pernah bisa valid merasakan sepenuhnya bahagia kalau nggak punya pembanding keadaan yang tidak bahagia.

Baca dong: Mempertanyakan Kebahagiaan (Open new tab dulu terus baca plis)


Pun dengan uang, “idealnya” kita bisa bilang uang bukan segalanya ya saat punya uang. Kalau dalam kondisi belum pernah punya uang, tidak valid bilang “money can’t buy happiness” karena buktinya mana?

Apa kamu pernah merasakan punya uang untuk beli sebagian besar barang yang kamu mau lalu tidak bahagia? Kalau belum, kok bisa bilang gitu? Apa kamu cuma menghibur diri?

*

Lalu semalam ngobrol sama JG soal ini dan dia bilang “privilege banget ya ternyata bisa makan malem bertiga terus tiap hari tuh”. Terus saya jawab: “Apa ini privilege? Atau pilihan?”

Ya privilege sih, tidak semua orang punya kemewahan kebetulan suami kerja di jam kerja yang pasti dan istri yang kerja di perusahaan yang jam kerjanya tidak pasti tapi most of the time di jam dinner udah di rumah lah.

(Baca blogpost soal Work Life Balance ini, klik, open new tab lagi!)

We’re blessed.

Itu kalau dilihat dari sisi privilege. Tapi kalau dipikir ini buah dari keputusan di masa lalu juga ya bisa. Karena prioritas waktu buat keluarga ini juga jadi pilihan dan komitmen sejak memutuskan menikah kan. Karena lelah LDR, sebelum nikah JG memutuskan pindah kerja ke kantor yang jam kerjanya pasti.

Gaji ilang setengah, hidup jadi lebih susah rasanya karena hamil dan mau punya anak kok gaji malah ilang setengah. Makanya memang saya harus tetep kerja karena realistis aja emang nggak cukup uangnya untuk membesarkan anak kalau saya nggak kerja.

Lalu teringat lagi kejadian kemarin juga soal dia batal pindah kerja. Diingatkan lagi dengan komitmen awal kami bahwa ya kerja kan buat keluarga, untuk apa kerja tapi jadi nggak punya waktu buat keluarga?

Langsung pulang ke rumah sepulang kerja juga kan pilihan. Dalam sebulan, JG hanya tidak langsung pulang itu hanya maksimal 2 kali karena dia main bola, itu juga kalau tidak hujan, kalau hujan ya pulang. Saya, pulang malam tidak sampai sebulan satu kali, kalau memang kebetulan ada acara yang undangannya malem aja. Sangat jarang.

Kami lebih sering memilih langsung pulang karena rasanya udah berjam-jam di luar rumah apa nggak mau pulang aja dan kembali kruntelan bertiga?

Memilih untuk tinggal di sekitar kantor juga kan pilihan. Nggak mau punya rumah tapi terus nggak bisa makan malem bareng karena rumahnya jadi jauh dan kelamaan di jalan. Nggak mau punya rumah tapi terus Bebe jadi sama nanny di rumah karena cari daycare susahnya ampun-ampunan.

*

Kalau inget-inget waktu Bebe bayi dulu wahhh hidup tuh nggak segampang sekarang. Blog ini jadi saksinya hahahah.

JG masih mayan sering pulang malem tapi kami keukeuh pulang bareng biar bisa ngobrol jadi saya jemput Bebe di daycare lalu nunggu di halaman daycare bisa sejam sendiri.

Yang berat kalau bulan puasa, pernah saya tulis blogpostnya di sini: Hidup yang Lebih Baik (Jadi udah open new tab berapa ini? Hahaha)

Karena pilihannya naik taksi pulang berdua atau nunggu. Saya dan Bebe lebih sering nunggu karena waktu itu rasanya nggak mampu kalau harus pulang pake taksi setiap hari. Baru ada GoJek dan nggak sanggup bawa balita naik GoJek, belum ada GoCar atau GrabCar.

Dua tahun belakangan penghasilan udah lebih baik, udah nggak mikir dua kali lah kalau harus naik taksi atau GoCar gitu. Keuangan udah lebih stabil dibanding dulu, uang SD Bebe udah lunas kebayar, udah mulai nabung buat SMP dan SMA.

Jadi baru sekarang rasanya kami valid untuk bilang: Money can’t buy happiness.

Masih pengen classic Chanel bag sih emang 😂tapi semua yang kami punya cukup kok . Semua yang kami punya sudah layak dirayakan. Semua yang kami punya, layak disyukuri karena toh lebih dari yang kami butuhkan selama ini.

Lebih dari yang kami butuhkan untuk bertahan hidup lho ya, bukan bertahan untuk keinginan yang selamanya nggak akan pernah habis.

*

Lalu mikir lagi, saya bilang “eh menurut aku kita bisa sampai di sini karena kita nggak pakai standar society untuk segalanya. Kita punya standar kita sendiri dan nggak gampang kebawa orang lain”.

Ini sih mungkin yang terberat. Berat karena harus tahan denger komentar dan omongan orang lain.

Standar society bagi pasangan muda baru nikah: Beli rumah, punya mobil, anak kedua. Nata-nata rumah, foto rumah di IG, main bareng anak di rumah.

Iya saya tau banyak yang memang sangat sangat ingin punya rumah sendiri karena satu dan lain hal. Jadi memang tujuan utama setelah nikah tuh beli rumah. Nggak apa-apa asal sudah dipertimbangkan dengan baik dan nggak jadi berat untuk bayar cicilannya.

Karena saya juga pengen kok punya rumah sendiri, tapi tau diri aja, pengennya di Jakarta Selatan dan kalau sekarang beli rumah, uangnya cuma cukup buat nyicil di pinggiran. Jadi ya tidak beli.

Tapi saya tau juga, banyak orang yang beli rumah karena merasa harus. Dari dipaksa orangtua, disindirin saudara, sampai merasa left out karena kok temen-temen udah punya rumah aku kok belum? Nah yang kaya gini nih udah keseret standar orang lain yang entah gunanya apa.

Belum lagi gaya hidup dan keinginan-keinginan yang muncul karena alasan self-rewards: Udah capek-capek kerja masa nggak boleh self-rewards!

Jilbab aja harus merek X yang belinya aja ampun harus cepet-cepetan atau harus dari reseller. Baju harus ini karena selebgram ini pake. Jastip lah semua orang beli barang jastip kok aku jadi pengen juga? Buku juga beli banyak karena masa orang belanja di BBW aku tidak? Kan boros beli buku lebih baik dibanding boros beli mainan?

Boleh self-rewards, masa nggak boleh. Tapi tentu lebih baik kalau tidak boros sih hahahaha.

Mau sampai kapan hidup kalian terseret gaya hidup orang lain terus? Apa tidak mau mendefinisikan kebahagiaan sendiri jadi nggak perlu pakai standar kebahagiaan orang lain?

*

Jadi apa bener uang bisa beli kebahagiaan? IYA DONG, BISA BANGET. Tapi ingat batasnya.

Kerjalah tanpa mengorbankan kesehatan. Kerjalah tanpa mengorbankan waktu bareng keluarga. Kerjalah untuk bisa bertahan hidup sekarang dan di masa depan bersama orang-orang yang kamu sayang.

Menabung sedikit-sedikit itu tidak apa-apa. Kamu tidak dikejar apapun. Selama masih ada uang untuk ditabung, sesuaikan gaya hidupmu dengan uang itu. Untuk menabung itu konsepnya kan hanya menambah penghasilan atau mengurangi pengeluaran. Kalau menambah penghasilan artinya mengorbankan waktu dengan keluarga, apa tidak mau coba review dulu pengeluaran, siapa tahu terlalu banyak gaya? :))))

Mungkin kadang kamu merasa iri pada teman-teman yang gajinya sudah dua kali lipat lebih besar, tapi ingat selalu, kerja lebih keras PASTI menuntut pikiran dan waktu lebih banyak. Kamu mau habis waktu untuk kerja atau mau banyak waktu bareng keluarga?

Poinnya adalah: Kerja sekerasnya untuk semua tanggunganmu tapi jangan lupa luangkan waktu untuk mereka ini. Luangkan waktu untuk mereka, luangkan waktu untuk dirimu sendiri. Dan di titik itu baru kamu akan bisa bilang kalau uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

Dan seperti yang saya bilang di atas, sengaja meluangkan waktu untuk quality time dengan keluarga itu pilihan. Ada yang memilih untuk tidak mau pulang cepat karena merasa kosong di rumah sendiri, merasa dingin padahal punya tuh suami. Mungkin saatnya terhubung kembali, apa yang harus kita ganti sehingga hidup bisa jadi lebih berarti? Apa yang salah? Apa yang harus dipilah atau harus mengalah?

Kita perlu uang untuk bertahan, tapi bukan berarti jadi kerja tak berkesudahan. Jadi jangan lupa rebahan! Semoga bahagia selalu, ya!

PS: Tulisannya agak kurang enak karena awalnya nulis untuk story. Tapi ah udalah posting di blog aja hahahaha

-ast-




Kapan Berhenti Khawatir?

on
Tuesday, October 15, 2019
Bulan lalu, saya ulang tahun ke-31. Untuk pertama kalinya sejak diserang quarter life crisis, saya merasa tenang. Ya, lebih tenang lah paling tidak, belum 100% tenang hahaha.



Apa saya jadi lebih tenang karena sudah tahu apa yang saya mau? Tentu tidak. Apa saya jadi tenang karena sudah yakin pada tujuan hidup ini? TENTU TIDAK JUGA LOL. Tapi minimal sekarang saya bisa me-manage adulthood anxiety-nya dengan lebih baik. *halah kenapa atuh ngomong suka campur-campur gitu*

Kayanya memang “tenang” jadi tujuan hidup yang paling sulit ya. Titik di mana kita (mungkin) merasa semua akan baik-baik saja meski kita tetap tidak tahu kejutan hidup apa yang akan datang. Titik di mana kita merasa kalau khawatir itu boleh dan normal, selama ada di batas wajar

Bisakah kita ada di titik itu? Di mana batas wajar untuk khawatir? Kapan kita bisa menemukan tenang?

*tarik napas*

Satu hal yang terberat dari menjadi dewasa adalah perasaan kalau kita limbung, bingung, semua jadi tidak jelas lagi tujuannya apa. Sekolah, kuliah, menikah. LALU APA? Bekerja dan cari uang? Sampai kapan? Sampai kapan harus mencari uang untuk bertahan hidup?

(Baca: The Scary Scary Adulthood)

Saya jadi tidak heran kenapa stereotype orang tua seperti nenek-nenek dan kakek-kakek itu cerewet dan banyak mempermasalahkan hal kecil. Bayangkan sudah menjalani hidup di dunia selama 70-80 tahun lalu … apa? Menunggu kematian? That sounds low-spirited, pessimistic, and … saddening. Imagine the anxiety they have, the challenge they face, playing a waiting game after years and years of a full survival mode.

Tapi setelah lama sekali ada titik terendah dalam hidup, akhirnya saya bisa sedikit tenang. Saya bisa jauh lebih sedikit merasa khawatir.

Ketenangan itu datang lewat banyak hal. Satu sama lain saling berkaitan dan memang tidak ada tips cepat melewatinya selain dijalani. Baik dijalani dengan baik atau pun dengan buruk. I’ve been through both scenarios but eventually, time heals. Not all wounds but at least some of the frustration and disappoinment has disappeared.

Di kasus saya, saya akhirnya merasa baik-baik saja setelah melewati bertahun-tahun inferiority pasca melahirkan dan punya anak. Akhirnya saya sudah bisa menerima kalau karier saya pasca punya anak tidak lagi bisa sama seperti orang yang tidak berkeluarga. Apalagi untuk ukuran saya yang masih punya standar ideal di sana sini. Akhirnya setelah hampir 10 tahun bekerja, kondisi finansial sudah semakin stabil sehingga berbagai kekhawatiran otomatis berkurang.



Decluttering lagi

Berikutnya saya belajar banyak dari mas Adjie Santosoputro. Saya datang satu sesi talkshow-nya tentang consumerism lalu saya diingatkan kalau mungkin salah satu hal yang masih saja membuat saya berat menjalani hidup adalah punya terlalu banyak barang hahahahaha.

Saya sih termasuk yang percaya, semakin sedikit barang yang kita punya, semakin sedikit pula hal yang harus saya pikirkan. Percaya sih percaya, tapi kalau lagi down tuh bawaannya ya belanja deh biar bahagia hahahahaha. Kesel kan. Kesel karena belanja itu barang nambah, uang ngurang lol.

Tahun ini saya agak tidak terkendali, setelah lancar menahan diri untuk beberap lama, tahun ini saya beli sepatu saja ada sepertinya 4 sampai 5 pasang. Belum tas dan baju hahahaha. Tas saja saya beli 4 tas baru. Terlalu banyak dan jelas berlebihan. Malah jadi tidak tenang melihat barang bertumpuk sekian banyak.

Pulang dari talkshow itu saya kembali decluttering. Sudah 2 bulan belakangan kami kembali membereskan rumah dan memilah mana yang penting mana yang tidak. Bebe juga sama, ia memilih dan memilah mainannya untuk diberikan pada orang lain. Sekarang rumah sudah agak lega, tenang rasanya.

Saya juga lebih hati-hati lagi membuang barang karena baru mengerti tentang zero waste lifestyle. Saat proses decluttering pertama karena KonMari 2 tahun lalu, saya BUANG SEMUANYA tanpa peduli buang ke mana. Waktu itu rasanya yang penting keluar dari rumah, saya tidak memikirkan bahwa semua itu akan hanya berpindah tumpukan ke tempat pembuangan sampah.

Jadi sekarang saya pilah dan benar-benar saya sumbangkan pada orang lain yang sekiranya membutuhkan. Kalau pun sampai harus dibuang karena bingung harus memberi pada siapa, pastikan tidak dimasukkan ke dalam tong sampah dan disimpan saja di bawah tempat sampah. Karena tinggal di apartemen, banyak kemungkinan orang bisa ambil karena memang tempat sampahnya pun bersih. Teman saya pernah lho memungut stroller anak yang dilipat kemudian dibuang begitu saja di tempat sampah hahahahaha.

(Baca: Beres-beres Rumah, Setahun Kemudian)

Menyadari perasaan khawatir

Selain decluttering, saya juga berusaha lebih menyadari perasaan khawatir. Ketika orang bilang, sadari emosimu sendiri, validasi emosimu sendiri, rata-rata yang dimaksud adalah emosi sedih, marah, atau kecewa. Jarang sekali orang yang mengkategorikan “khawatir” sebagai bentuk emosi.

Atau mungkin memang bukan kali HAHAHAHA. Saya kan bukan psikolog ya. Tapi yang jelas, khawatir juga bagian dari perjalanan emosi yang baru saya paham harus disadari sepenuhnya. Semacam:

“Oh saya sudah terlalu lama khawatir”

“Apa saya perlu sekhawatir ini pada hal yang baru akan terjadi tahun depan?”

“Apa perlu saya khawatir dan tidak enak hati untuk hal baru terjadi besok?

Hidup dulu di sini dan kini. Sekarang bukan besok, fokus pada apa yang harus dilakukan sekarang bukan khawatir pada masa depan. Terus menerus saya mengingatkan diri sendiri untuk merasa tenang dan membuat prioritas kekhawatiran. Sekarang khawatir apa dulu nih? Besok ya besok saja, jalani pelan-pelan.

Setelah melatih pemikiran itu, tidur saya juga jadi lebih nyenyak. Bayangkan dulu sebelum tidur ya, otak saya selalu berkejaran memikirkan besok, minggu depan, sampaaaiii jauh nanti Bebe di masa depan, blablabla. Banyak kekhawatiran yang akhirnya membuat sulit tidur. Sekarang setelah disadari kalau itu kurang sehat, saya selalu kembali memfokuskan diri untuk “ah pikirinnya besok lagi deh, sekarang tidur dulu”.

Ternyata bisa lho begitu. Ternyata bisa melatih diri untuk berhenti khawatir berlebihan. Bisa untuk seperti saya yang semua dipikirin dan seringnya dipikirin dalam satu waktu. Ya capek, besok lagi kan bisa.

Nikmati hidup sekarang dulu aja, kalau khawatir dicari solusinya satu-satu. Kalau mau rada puitis dikit: Tidak usah buru-buru, kita tidak dikejar waktu. *DIKEPLAK FINANCIAL PLANNER LOL*

Lucu ya, sementara financial planner tuh merencanakan semuanya sedetail mungkin sampai ngomongin warisan padahal masih muda, saya malah menyeimbangkan semuanya dengan tidak terlalu khawatir. Jangan takut, semua ada porsi dan waktunya masing-masing.

Oiya, ada orang yang memang terlahir kalem dan tidak khawatiran, ada orang yang terlahir santai saja meski tanpa rencana. Saya yang dulu suka cranky menghadapi orang seperti ini akhirnya bisa paham. kalau bisa tidak takut kenapa harus takut? Kalau bisa tidak khawatir, kenapa harus mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi?

Pada akhirnya yang bisa kita lakukan kan cuma berusaha. Berusaha untuk punya hidup yang kita mau. Untuk saya sekarang, saya hanya akan terus mencari ketenangan. Jiwa raga, lahir batin. Setidaknya saya sudah tahu apa tujuan hidup saya sekarang. Semoga kalian juga ya!

-ast-




Mempertanyakan Kebahagiaan

on
Monday, July 15, 2019
Sudah beberapa bulan ini saya memikirkan sekali arti kata bahagia. Apa itu bahagia? Apa bahagia itu cuma sebuah momen? Atau sebuah keadaan yang seharusnya berkelanjutan?



Tulisan ini sudah teronggok tepat tiga minggu lamanya karena saya mulai menulis ini saat Eugene “The Try Guys” merilis video coming out serta dokumenter di balik layarnya. Di video berdurasi 27 menit itu Eugene yang kini berusia 33 tahun bercerita tentang hidupnya, ia mengaku sejak kecil tak pernah bahagia.

“You know the saddest thing is? I found this letter, people write letter when you’re in middle school, your teacher will make you write a letter to your future self, I found it like a few years ago the only thing i wrote to myself: Are you finally happy?” ujar Eugene.

Di saat yang sama saya seperti ditanya juga diri saya sendiri: Are you? Are you happy?”

“You know, I don’t, I don’t think I am. Am I ever finally be happy? Maybe the answer is that no one ever finally happy,” lanjutnya.

NO ONE EVER FINALLY HAPPY.

That’s dark. Itu komentar videografer Eugene yang saya amini. Sampai ia bertanya lanjut pada Eugene: “Are you happier now?”

Well, I do. I, myself, not Eugene.

Sejak saat itu saya jadi memikirkan banyak hal soal kebahagiaan, soal uang, soal tujuan hidup di dunia (bukan di akhirat, simpan untuk diri kalian sendiri ya soal itu). Kita cuma tahu kita bahagia setelah lebih atau kurang bahagia. HAPPIER is the keyword.

Bahagia yang “di tengah-tengah” bukan sebuah kondisi yang bisa dirasakan saat itu juga. Bahagia hanya bisa dirasakan setelah atau sebelum kejadian tertentu yang jadi patokan: Ini lebih bahagia atau lebih tidak bahagia?

If that makes any sense.

Bahagia adalah kondisi yang terasa saat kita susah ATAU justru senang. Bahagia bisa dirasakan karena kita punya pembanding “oh aku lebih bahagia dari 3 tahun lalu karena dulu hidup lebih sulit blablabla” atau justru “wah, aku lagi nggak bahagia padahal rasanya kemarin seneng banget kok hari ini down banget”. Padahal kemarin ya B aja nggak ngerasa sebahagia itu juga. Cuma seneng, titik.

GET IT?

Kalau ditanya lebih bahagia sekarang atau saat SMA? Saya jawab sekarang. Tapi kalau ditanya lebih bahagia sekarang atau waktu kuliah? Saya pilih waktu kuliah. Kalau hari ini bahagia nggak?

Ummm, baru akan ketahuan besok ahahahaha. Hari ini lebih tidak bahagia dari kemarin karena kemarin weekend, tapi siapa tahu hari ini sebetulnya lebih bahagia dari besok. Entahlah. Baru akan ketahuan besok. :)))

Meski kebahagiaan itu bahkan sulit diukur oleh diri sendiri, banyak orang yang merasa mampu mengukur kadar kebahagiaan orang lain.

“Kayanya kamu nggak happy deh”

“Kamu yakin kamu bahagia?”

Or worst.

“Kamu yakin dia bahagia?”


Well, I am. I feel that I am. Kenapa happiness diukur oleh orang lain atas apa yang mereka lihat oleh mata mereka sendiri? Dan bagaimana kalau ukuran orang lain itu jadi begitu penting untuk hidup kita?

Kita jadi merasa tidak bahagia karena dipertanyakan orang lain. Padahal sebelumnya merasa baik-baik saja.

Ini juga yang saya rasakan setelah kampanye kesehatan mental digaungkan dan jadi begitu penting. Love yourself. Self love is important.

Dari situ saya jadi lebih sadar pada kondisi kejiwaan diri, pada kondisi emosi sehari-hari dan jadinya sering merasa tidak baik-baik saja. Perasaan yang dulu bisa diabaikan karena tetap harus pergi kerja dan beraktivitas, jadi terasa lebih peka.

Padahal kalau sudah peka lalu apa lagi? Tak bisa juga kan liburan terus menerus? Tidak bisa juga kan dadakan cuti untuk mengerjakan hobi karena sedang merasa butuh pause?

Sekali lagi saya jadi merasa tidak baik-baik saja karena sering dipertanyakan orang lain. Padahal sebelumnya, saya merasa baik-baik saja.

Belum lagi kampanye-kampanye lain. Hiruk pikuk. Semakin banyak tahu semakin banyak yang harus dipikirkan. Pantas banyak orang yang lebih senang tidak tahu apa-apa. Ignorance is bliss. If you don’t know about something, you do not worry about it.

Di sisi lain saya juga merasa perlu terus level up. Naik kelas. Caranya gimana lagi kalau tidak dengan menambah wawasan. Gregetan sendiri jadinya. Mau tau banyak berakhir mikir banyak? Atau mau tau sedikit dan nggak punya pikiran?

via GIPHY

Kembali ke soal kebahagiaan, kalau kata Will Smith:

“We cracked the hell up. We started talking about [how] we came into this fake romantic concept that somehow when we got married that we would become one. And, what we realized is that we were two completely separate people on two completely separate individual journeys and that we were choosing to walk our separate journeys together. But her happiness was her responsibility and my happiness was my responsibility.”

Kita tidak perlu merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain meski orang itu adalah pasangan kita sendiri. Marriage is not a counseling room! Istri bukan terapis untuk suami, pun sebaliknya. Kita harus menemukan kebahagiaan masing-masing baru bisa hidup berdua dengan bahagia. Itu pun kalau definisi kebahagiaannya sudah sama-sama ketemu. :)))

Karena meski kita menikah, kita tetap sendirian di dalam pikiran. Konsep sendirian dalam pikiran ini mengerikan sekali buat saya. Bicara sendiri, menjawab sendiri, tidak akan ada yang pernah tahu rasanya berada di pikiran orang lain.

(Pernah saya tulis lebih lengkap di sini: Sendirian di Dalam Pikiran)

The actual question is, how to be constantly happy?

Kalau browsing ini jawabannya banyak. Seperti dengan bersyukur, dengan tak membandingkan hidup dengan orang lain, dengan merasa selalu dicintai, dengan lebih banyak tertawa, lebih banyak tersenyum pada orang asing, dan rentetan tips lainnya.

Ya, bisa dilakukan kalau sedang tidak ada masalah lain sementara hidup kan selalu ada masalah ya. Tinggal kadar masalahnya saja, berat banget sampai bikin nggak bahagia? Atau biasa-biasa saja sampai bisa diabaikan?

Seperti juga bahagia, uang pun bernasib sama.

Money can’t buy happiness hanya benar-benar bisa dirasakan oleh orang yang sudah pernah punya banyak sekali uang lalu merasa tidak bahagia. Untuk orang yang belum pernah merasakan punya uang berlebih, kebahagiaan paling sederhana memang bisa diukur dengan uang.

Catat, mengukur kebahagiaan dengan uang juga tidak apa-apa, lho. Merasa senang karena baru dapat rezeki berbentuk uang kan sah-sah saja.

Kita tak bisa merasa kaya sebelum merasakan miskin. Atau sebaliknya, banyak orang yang tak merasa miskin karena belum pernah kaya. Untuk uang yang terukur, kadarnya bisa diseimbangkan dengan “merasa cukup”.

Yang penting cukup saja. Tak perlu jadi kaya, jangan sampai jadi miskin.

(Baca: Makanan, Manusia, dan Uangku)

Menyambung soal uang, saya jadi ingat barang-barang mahal yang sering jadi tujuan hidup saya dan JG. Seringnya, atau mungkin cuma saya, baru merasa barang branded itu kurang penting setelah bisa mampu beli semuanya. Setelah beli, lalu muncul perasaan biasa-biasa aja. Oh hanya begini, tidak punya juga tidak apa-apa.

Tapi saat belum punya, rasanya ingin saya kejar terus. Jadi tujuan utama dalam hidup.

Nggak apa-apa. Jadikan benda-benda bernilai mahal yang tak terlalu berguna motivasi untuk naik kelas. Untuk berusaha lebih, untuk kerja terus. Biar saja meski pada saatnya kita mampu membeli semuanya, kita malah merasa biasa aja.

Makanya orang lebih suka traveling, katanya. Membeli pengalaman lebih menyenangkan daripada beli barang. Meski definisi senang masing-masing orang juga berbeda.

Senang. Bahagia. Diartikan sebagai satu kata dalam bahasa Inggris: Happy. Padahal senang adalah kondisi yang terasa saat itu dalam waktu singkat. Bahagia baru digunakan ketika senang terasa dalam jangka waktu yang lebih lama atau lebih banyak.

Sampai hilang. :)

People say the goal is not happiness, but peace and content. I guess, since I am still wondering (and wandering), about the true meaning of happiness, peace and content is still on the way.

Calm down, deep breath. :)

via GIPHY

-ast-





Mendefinisikan Sempurna

on
Friday, June 7, 2019
Sempurna, satu kata yang mengganggu saya akhir-akhir ini.


Seperti seorang teman yang saya tahu sangat sangat akrab dengan sang ayah. Sampai sekarang meski sudah menikah, ia tetap tinggal serumah dengan kedua orangtuanya. Sempat mengontrak rumah namun terlalu banyak kangen pada ayah ibu sehingga seringkali rumah kontrakan itu ditinggal dan tetap pulang ke rumah orangtua.

Sampai saya tahu, ia sejak kecil sering jadi korban kekerasan oleh sang ayah. Saya bingung kok bisa tetap menganggap ayah sebagai ayah yang sempurna? Kenapa?

Menurut teman saya itu, si ayah SELALU punya alasan untuk melakukan kekerasan, plus ayahnya juga sangat penyayang. Seumur hidup ia merasa disayang sampai kalau melakukan kesalahan dan sampai dikasari, ia merasa memang layak untuk diperlakukan kasar meski sampai dipukul.

Ini bukan soal benar salah ya. Siapa saya ini sampai mau menodai hubungan ayah dan anak yang mereka saja menganggap hubungan mereka sempurna. Masa saya yang jadi heboh sendiri dan bilang: Ayah penyayang seharusnya tidak memukul!

No, semua orang punya cara sendiri untuk menjalani hubungan dengan orang lain kan. Bagi saya tidak wajar, bagi orang lain mungkin sangat wajar dan tidak apa-apa. Asal sepakat saja mana yang wajar mana yang tidak wajar.

Jadi kalau begitu, apa definisi sempurna? Apa perlu sempurna didefinisikan?

Selama ini jujur saja, saya selalu berpikir dan menganggap peran saya sebagai ibu sudah sempurna. Saya juga selalu menganggap pernikahan saya sempurna.

Ya memang bullshit kalau kadar kesempurnaan kalian adalah ibu di rumah 24 jam bersama anak dan tidak meng-outsource pengasuhan pada orang lain. Bullshit pula kalau standar kesempurnaan istri adalah mengurus rumah tangga, bukannya bekerja di luar rumah.

Saya menitipkan Bebe pada orang lain seharian penuh, saya tidak pernah memberi makan dia makanan bergizi saat weekend, saya membiarkan dia nonton berjam-jam. Tidak sempurna bagi standar banyak orang tapi bagi standar saya, saya ibu yang sempurna. IDGAF what anyone thinks.

Pun soal pernikahan. Kami bukannya tidak pernah bertengkar sama sekali dan kadang masalahnya bukan masalah kecil. Tapi dari masalah besar saya berpikir berulang-ulang bahwa nggak ada orang yang sempurna, nggak ada pernikahan yang sempurna, tapi kenapa saya tetap menganggap kami tetap sempurna?

I think we balance each other out so when something bad (or reaaallly bad) happens to us, we tolerate it, compromise, communicate, and let it pass. We kinda stuck with each other because I don’t think I can find someone better than him, vice versa.

Apakah jadinya saya menutup mata pada hal-hal lain yang dianggap orang sebagai cacat? Mungkin saja iya dan tidak apa-apa. Apakah jadinya saya halu padahal orang menganggap hidup, peran saya sebagai ibu, dan pernikahan saya banyak masalah? Mungkin saja iya dan ya sudahlah biar saja hahahaha.

Apakah kehaluan akan kesempurnaan ini akan jadi bom waktu yang meledak tiba-tiba? Kalau pun iya, biarlah waktu menjawab. Life is a mystery anyway. :)

(Baca: Menikah dalam Satu Kata)

Meski demikian, saya menganggap keseluruhan hidup saya tentu tidak sempurna. Saya masih punya standar hidup sempurna yang belum saya capai. Sialnya, standar hidup itu terus berganti, terus naik kelas, sehingga entah kapan saya akan menganggap hidup saya sempurna.

Orang boleh bilang hidup saya sudah sempurna, tapi kan yang menjalani saya sendiri, yang tau apa yang saya inginkan ya saya sendiri juga. Jadi terserah orang menilai, saya tetap punya penilaian sendiri dan saya (seringnya) tidak peduli pada penilaian orang. Hahahaha.

Tidak ada standar untuk kesempurnaan. Yang terbaik bisa kita lakukan adalah jadi penyayang bagi sesama. Be a loving parent, be a loving spouse, be a loving daughter, be a loving person.

Tidak apa-apa kamu jadi ibu yang sibuk dan nggak selalu ada buat anak tapi pastikan ketika kamu ada, kamu jadi ibu yang 100% sayang pada anak. Tidak apa-apa kamu jadi istri yang sibuk dan nggak mau masak tapi pastikan suami kamu merasa disayang. Tidak apa-apa kadang lupa jadi ibu dan istri penyayang tapi ketika ingat, langsung lakukan sebaik yang kita bisa.

Tak usah mencari kesempurnaan dengan standar orang lain karena untuk apa. Tak perlu ingin sempurna demi ingin dilihat baik oleh orang lain karena tak ada gunanya.

Just try and try again.

via GIPHY

Demikian tulisan ini jadi pengejawantahan akibat libur terlalu lama jadi mikirin ginian aja lama banget sampai harus ditulis daripada jadi gila.

Selamat berakhir pekan!

-ast-




2%

on
Friday, May 17, 2019
You know as a human we're not always 100%. Truth be told, this week is superb, in a bad way. I don’t think I want to spill it here.


Dipikir kalau bulan puasa, ada work from home sehari di rumah, saya akan bisa agak santai. Bisa menggambar untuk souvenir ultah Bebe yang tinggal 2 minggu, bisa nonton Endgame sekali lagi, bisa share di Story, bisa semangat untuk ngerjain KASAKOLA.

Ternyata nggak sama sekali. Semua gagal. What a week.

Jadi maaf banget yang DM di Instagram nagih pembahasan ini dan itu, nanya ini dan itu dan nggak saya balas. Saya lagi butuh waktu untuk diri saya sendiri dan belum punya cukup energi untuk berbagi sama orang lain.

Kemarin seharian saya nontonin video Bebe waktu kecil. Video waktu dia umur 1,5 tahun dengan bahasa bayi yang nggak bisa nggak bikin senyum. Membantu sekali ternyata.

This morning I woke up with only 2% left, I’m scattered all over the place. I need several days to unplug and recharge my mind.

Moral of the story: take tons of video of your baby. It helps you to find perfection in the world full of imperfection.

See you soon!

-ast-




Alis dan Penerimaan Diri

on
Sunday, April 21, 2019
*ANNISAST MEMANG NGGAK PERNAH WRITER’S BLOCK KARENA ALIS AJA JADI SATU TULISAN HAHA*



Kalau kalian follow saya dari lama, harusnya tau dong saya sering ngeluhin alis? Sering banget bilang alisnya setipis itu jadi udah gambar alis sejak kuliah blablabla.

Beberapa bulan terakhir saya nggak gambar alis sesering dulu. Bahkan kalau dateng ke event dengan makeup simpel (bb cushion doang bukan event level harus pake foundation), saya tetep nggak pake alis. Kalau pake foundation harus tetep gambar alis soalnya yha alisnya suka memang bener-bener ilang ketutup foundation HAHA.

Tapi saya sih jarang memang pake foundation. Kayanya terakhir kali pake pas event kantor Best of Beauty Awards akhir tahun lalu deh. Wiw lama amat ya. Hari-hari bedakan aja nggak, ada acara dikit ya pake bb cushion doang biar fresh.

Awalnya saya mikir karena ah udalah nggak usah digambar, alisnya juga makin tebel deh. Rada halu makin tebel kan dulu suka cukur bagian yang berantakan, dicukur = makin tebel = padahal halu. Sampai pada momen saya mikir “ini alis sebetulnya nggak makin tebel juga tapi kok pede ya?”

Keyword: percaya diri.

T_______T

Rasanya receh tapi ini momen lain dari proses penerimaan diri banget sih menurut saya. Self-love yang diagung-agungkan orang itu ternyata salah satu bentuknya ya begini. Baru bisa ngerti kalau udah dilewati.

Dulu rasanya gambar alis jadi wajib. Sampai selalu punya pensil cadangan meski yang lagi dipake belum abis. Saking khawatir yang ini abis terus nggak punya pensil alis sama sekali. Malah pernah lupa bawa terus lari dulu ke Indomaret untuk beli pensil alis Viva. Sepenting itu alis bagi hari-hariku dulu. Ke mana pun pake alis.

Lama-lama nggak peduli. Lama-lama cuma pake alis di momen yang dirasa penting dan formal aja. Ternyata sampai di momen nggak pake alis juga nggak apa-apa huhu kalian ngerti nggak sih terharunya kaya apa.

Biar aja dibilang lebay karena dari dulu saya selalu ada rasa iri dalam hati sama orang dengan alis yang emang tinggal dicukur udah ngebentuk bagus. Atau kaya Annetta dan Puchh yang emang alisnya jabrik tebel tapi bentuknya memang bagus. Bagus buat saya itu yang deket area hidung tebel, makin belakang makin tipis. Alis saya sebaliknya, di deket idung tipis kecil lha makin belakang makin jabrik, makanya area ujung belakang itu biasanya dicukur.

Padahal alis ya bentuknya memang bagus kalau kita pede-pede aja. Orang juga nggak peduli amat ternyata. Dulu kalau story memang banyak yang bilang “alisnya bagus kakkk” atau “tutorial gambar alis dong”. Tapi ternyata setelah nggak gambar alis, nggak ada SATU PUN yang protes atau komentar soal alis. Jadi mungkin memang nggak sepenting itu sebenernya hahahaha.

Kak Puchh dan Netta.
Dulu juga saya merasa kalau pengen muka fresh itu harus pake complexion yang oke, eyeshadow atau minimal eyeliner biar mata nggak sayu. Alis harus oke biar keliatan “dandan”. Sekarang cuma pake cushion, eyeshadow, dan lipstik cukup. Terlalu malas juga pakai eyeliner, pake blush on jarang-jarang apalagi kalau naik ojek karena takut dark spot makin banyak.

Dulu segala pokoknya dibikin nggak pede dan punya standar sendiri untuk tampil pede. Prosesnya memang panjang dan ini bagian dari percaya diri yang terjun bebas pasca punya anak. Lebih jelasnya udah ditulis di postingan ini tentang gimana selfie jadi selalu salah setelah melahirkan: The Scary Scary Adulthood

Dari berani selfie sampai berani tidak gambar alis, hal yang sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Saya percaya penerimaan diri juga sebuah perjalanan, jadi kalian yang masih di jalan dan masih merasa belum pede di sana-sini, tenang aja, nanti juga nyampe. :)

Baru ngerti sekarang kenapa Alicia Keys bodo amat nggak pake makeup padahal ke red carpet. Ngertiiii banget. Percaya diri sebenar-benarnya itu ketika kita nggak masalah untuk pake makeup dan oke aja kalaupun harus nggak pake. Karena ada juga kan orang yang justru malah insecure kalau harus pake makeup.

Dan iya, memang sayanya nggak into makeup jadi selama ini pake makeup cuma buat nutupin ketidakpercayaan diri aja. Beda lho ya sama kalian yang memang suka makeup karena suka aja, yang menganggap makeup itu art dengan poin plus bikin keliatan cantik dan percaya diri. Yang memang passionate banget sama urusan beauty.

Saya nggak gitu, jadi bisa lepas dari alis aja rasanya pencapaian banget sampai harus ditulis ahhahahahahaha.

Jadi, sudah sampai mana proses penerimaan diri kalian teman-teman?

-ast-




Thank You for Marrying Me

on
Monday, March 18, 2019
Sebuah postingan curhat. Seperti 99% postingan lain di blog ini lol.


Weekend kemarin rasanya merdeka sekali. Hari Sabtu, Bebe dan JG ke pameran mainan. Saya malas ikut karena sudah lama sekali tidak menggambar. Hari Minggunya mereka beli bensin dan cuci mobil serta main game seharian.

Kedua hari itu saya tetap diam di rumah, menggambar souvenir ultah Bebe sambil nonton series Workin’ Moms di Netflix. Minggu selepas magrib, kami turun ke supermarket bawah apartemen dan memutuskan bikin siomay ayam.

IYA KAMI SUKA DADAKAN NGIDE GITU EMANG.

Sering yang “eh masak ini yuk!” terus buka Cookpad, pilih yang fotonya oke, turun ke supermarket, belanja bahan terus masak hahahahaha. Malam itu pilihan jatuh pada siomay ayam karena beberapa hari sebelumnya, ngide juga bikin siomay udang dan enak. Cuma udang males ngupas dan terlalu mahal, jadi kali ini ayam.

Btw pas bikin siomay yang pertama, JG becandanya terus-terusan seputar “duh ini tradisi keluarga harus kita lestarikan”. Sambil browsing cara melipat dumpling di YouTube. -______-

Heran deh bisa-bisanya adegan melipat dumpling di Crazy Rich Asian itu sungguh elegan, lha saya sama JG boro-boro elegan, yang ada pusing KOK SUSAH? Kok kayanya salah beli kulit pangsit? Kok pecah-pecah kulitnya? (bukan rorombeheun ya guys maksudnya).

Setelah belanja dan beberes belanjaan, saya duduk di meja makan. JG duduk di sebelah saya, kami berdua melipat siomay sambil streaming debat cawapres dan ngetawain omongan-omongan cawapres yang nggak kami dukung hahahaha. Bebe duduk di meja dia sendiri sambil main perang-perangan Ultraman, maklum sisa efek nonton cosplay di pamerah mainan.

Terus kok … bahagia. (DITULIS GINI KENAPA JADI CRINGEY YA MAAP)

Jadi dalam kondisi belum mandi 2 hari, tangan blecetan kena adonan ayam, struggling melipat siomay, kukusan nyala di kompor, saya noleh ke JG dan bilang: “Eh sayang, thank you for marrying me”.

JG: “Apaan tiba-tiba?”

Saya: “Iya kalau nggak nikah sama kamu mungkin aku nggak ngelipet siomay berdua suami, anak kita bisa kalem gitu main sendiri, terus bisa ngetawain cawapres bareng-bareng karena kita sepakat sama banyak hal”

JG: “Iya sih hehe”

Saya: “Hehe”

*HENING* *KEMBALI NONTON DEBAT SAMBIL MELANJUTKAN MELIPAT SIOMAY*

The thing is, seperti yang udah saya share di IG beberapa hari lalu, JG tuh lagi terus-terusan nanya “are we on the right track?”. Kaya ada kekhawatiran karena bener nggak sih hidup kita ini?

Tadi siang dia nanya lagi via WhatsApp dan saya jawab:

“Uang kita semua buat Bebe dan itu cukup. Selama weekend masih bisa leyeh-leyeh sama kamu dan Bebe, aku cukup.”

AKU CUKUP. Kaya bergema banget dua kata itu di kuping saya sampai mau nangis rasanya.

T______T

Karena udah beberapa tahun saya itu terus menerus ngerasa nggak cukup. Ngerasa nggak cukup bagus secara karier, ngerasa nggak oke-oke amat jadi ibu, ngerasa harusnya bisa jadi lebih baik, ngerasa kurang usaha, ngerasa kurang belajar banyak, ngerasa kurang terus sama diri sendiri.

Dan selama itu pula saya nulis banyak soal itu. Yang saya inget ini doang dan yakin sebenernya masih banyak tema serupa. Gila, dari 2017 loh, silakan yang mau baca:

2017 
Kepercayaan Diri dan Remah-remah Dunia 
Mencari Diri Sendiri 
On Being Too Hard on Myself
The Scary, Scary Adulthood 

Sekarang saya masih gini aja sebenernya. Belum ada perubahan berarti dalam hidup TAPI untuk pertama kalinya saya benar-benar merasa cukup. Kalau ditanya kenapa entahlah, mungkin karena banyak hal yang saya selesaikan pelan-pelan. Nggak terlalu ngotot lagi sama banyak hal dan ya udah cukup aja. Cukup tidur, makan enak terus, bisa ngelakuin hobi, berdoa banget biar bisa kaya gini terus.

Kalau ditanya caranya gimana keluar dari jeratan tidak merasa cukup itu saya beneran nggak tahu. Saya nggak bisa (atau nggak tahu caranya mungkin) ngobrol sama diri sendiri karena jadinya nggak tidur-tidur. Jadinya terus aja mikir dan malah sakit kepala. Saya cuma menjalani hari, hobi, banyakin ketawa, banyakin ngobrol sama JG.

Kemarin pas jalan ke supermarket itu juga Bebe mau pake helm, jadi kami jalan dengan anak yang ciat-ciat, lari-lari sambil pake helm full face. FYI kami nggak punya motor hahaha. JG geleng-geleng liat Bebe lari-lari di lorong apartemen, dan saya bilang. “Lucu ya? Without Bebe our life would be so boring. Jalan berdua aja gitu nggak ada yang bisa diketawain?”



Sekarang saya baru sadar kalau nasihat-nasihat semacam “you are enough” atau “count your blessing not your problem” itu nggak bakal ngaruh sama orang yang punya masalah sama kaya saya dulu. Nasihat-nasihat semacam itu justru kenanya sekarang, setelah semua lewat. Memang kurang berguna huhu.

Kalian-kalian yang masih merasa stuck, masih merasa gini-gini aja, hang in there. Jalan pelan-pelan, nggak perlu kok selalu ingin ada di depan. Dan jangan remehkan pelukan!

Sometimes a hug is all you need to make you feel better.

:)

-ast-




Semua yang Jadi (Sangat) Penting

on
Thursday, March 14, 2019
Beberapa minggu lalu, saya menghabiskan weekend yang sangat produktif. Hari Sabtu hadir di #SUSTAINEVENT VOL 1 New Period Indonesia yang berakhir mengubah habit pakai pembalut jadi menstrual cup dan hari Minggunya sharing jadi salah satu pembicara di event @safekidsindo sebagai ibu-ibu pengguna car seat.


Di event @safekidsindo itu hadir anggota komunitas mobil dan mbak Wiena dari Nusantara Menggendong. Pulang dari sana saya merenung. *halah*

Betapa sekarang, semua orang bisa “berkampanye” masing-masing tentang apa yang mereka percayai dan yakini. Bukan cuma politik atau agama ya, tapi hal-hal di keseharian yang kadang bikin merenung: KOK SEBELUMNYA NGGAK KEPIKIRAN YA?

Coba deh, ngomongin car seat aja bisa jadi satu event sendiri sampai kata MC-nya “kita mah car seat aja dighibahin” lol. Emang sih kalau dipikir sama kita-kita yang ilmu safetynya cetek, apa coba yang bisa dibahas soal car seat doang?

Ternyata banyak. Banyak banget sampai nggak selesai-selesai. Bener-bener ngerasa ih kok saya nggak punya ilmu apa-apa ya tentang keselamatan. Nggak ngerti first aid, nggak ngerti soal penanganan bencana, tau-tau doang tapi nggak paham banget.

Selain anak duduk di car seat dan pake helm saat naik sepeda dan motor, ilmu keselamatan saya hampir nol. Memang belum pernah belajar dan belum pernah terpikir HARUS belajar.

Perhatikan keyword: HARUS.

Menurut para praktisi safety dan komunitas tentang safety, yang HARUS kita tahu tentulah serba-serbi keselamatan. Tapi menurut para praktisi menggendong misalnya, mereka sangat detail soal menggendong sampai komunitasnya besar sekali di Indonesia. Mereka pasti punya keHARUSan sendiri dalam urusan menggendong.

Saya cuma taunya gendong harus M-shape thok, nggak ngerti lagi perintilan lain. Pun dulu nggak kebayang sama sekali ada yang namanya certified babywearing consultant. Kebayang pasti detail banget kan urusan gendong-menggendong ini sampai ada sertifikasinya. Car seat juga lho! Ada car seat expert yang bersertifikat.

Klasik tapi kampanye semacam ini memang terbantu sekali dengan adanya internet dan media sosial.

Saya yang sebelumnya tidak tahu apa-apa soal zero waste jadi tercerahkan karena mereka berkampanye, tak punya ilmu soal safety jadi sadar kalau keselamatan itu penting, tak mengerti sama sekali soal babywearing jadi menghargai kalau menggendong itu proses yang tidak bisa terulang (soalnya anak kan makin berat huhu).

Semua orang punya concern masing-masing, semua orang punya hal yang mereka anggap baik, semua berusaha menyampaikannya pada sebanyak mungkin orang. It’s a good thing actually. Senang sekali melihat orang berkampanye sesuatu yang positif seperti ini kan. For a better generation! :)

Tapi sebagai manusia yang senang belajar hal baru, jujur saya ngerasa overwhelmed. Wah kok ini penting itu penting, harus belajar yang mana dulu nih? Kok semua rasanya penting? Apakah saya HARUS ikuti semua gaya hidup mereka yang mereka yakini baik itu?

Of course no because it would be too perfect and people hates perfection hahahaha nggak deng becanda. Tapi ya saya ngerasa belum sanggup sih kalau harus semuanya sempurna. Pelan-pelan, belajar dulu satu-satu, diresapi dulu dan dilihat dulu prioritasnya.

Kalau merujuk materi kuliah saya dulu, ada yang namanya efek komunikasi massa (FYI aja sihhh hahaha). Ada 3 atau 4 macam tergantung siapa yang berteori. Bahwa komunikasi massa itu pasti akan berefek pada audience-nya, efeknya ada macem-macem tergantung levelnya.

1. Efek kognitif: di tahap ini, audience akan mendapat informasi yang baru dia ketahui. Mereka mendapat insight dan wawasan baru.

2. Efek afektif: di tahap ini, audience yang terpapar hal yang sama terus menerus mulai mengubah perasaannya. Mulau mengerti, mulai empati.

3. Efek konatif: di tahap ini, audience mulai bertindak. Misal lihat anak-anak korban bencana, terus memutuskan nyumbang lewat kitabisa.com.

4. Efek behavioral: tahap yang kadang digabung dengan konatif tapi intinya di tahap ini, perilaku audience mulai berubah sesuai yang diinginkan pemberi pesan. Seperti soal mengubah kebiasaan dari pembalut ke menstrual cup.

*SUMPAH KAGET MASIH INGET TEORI ZAMAN KULIAH I HONESTLY THOUGHT MY GPA IS USELESS IN FACT IT HELPS ME AT THE TIME LIKE THIS LOL*

Apa hubungannya dengan kampanye-kampanye tadi?

Selain urusan zero waste, car seat, dan babywearing sebetulnya banyak orang yang punya “kampanye” masing-masing. Dokter gigi mengkampanyekan orang tak perlu takut ke dokter gigi, pecinta olahraga mengajak orang untuk bergerak agar lebih sehat, para trainer finansial mengedukasi orang untuk melek keuangan, sampai pada pencegahan kanker, pentingnya sunscreen, ASI, keamanan di dunia digital, dan banyak lagi sesuai bidang masing-masing.

Yang pusing yang jadi audience ya? Hahahaha.

Biar nggak pusing, kita buat prioritas aja. Di tengah gempuran berbagai kampanye, kita pelan-pelan aja jalannya. Teorinya kita balik sebagai audience, minimal kita sampai tahap kognitif deh, sampai tahap tau dulu isu-isu itu.

Urusan akan jadi afektif, konatif, atau behavioral biar waktu yang menjawab hahahaha. Yang penting tentukan prioritas. Contoh prioritas kalau kalian ibu satu anak yang baru lahir misalnya. Apa dulu yang harus dipelajari? CONTOH LHO YA INI.

1. Segala yang ada hubungannya dengan makanan bayi dong tentu seperti ASI dan MPASI
2. Kalau udah lulus soal makanan, baru pikirkan safety
3. Setelah itu baru pikirkan keuangan
4. Setelah itu baru olahraga

Terus-terus dirunut dari yang bisa dan HARUS dikerjakan saat ini juga. Karena kalau sekaligus udah pasti pusing sih. Overwhelmed tepatnya kaya yang saya bilang di atas.

Padahal nggak semuanya harus diikuti saat ini juga kok. Cari ilmu dulu aja santai, kalau udah tau ilmunya biasanya jalaninnya juga lebih gampang. Karena kita akan mengubah kebiasaan dan itu hal yang bisa saja berat.

Jadi sekarang kalau kalian liat orang yang dirasa begitu ideal kaya anak bisa selalu duduk di car seat, bisa disiplin screen time, bisa selalu mendengarkan anak, dan banyak lagi, itu mungkin karena mereka memprioritaskan itu dan bisa saja mengabaikan hal lain.

Ada yang peduli sekali pada green washing, science washing, cruelty free makeup dan skin care, animal abuse, zero waste sampai sampahnya nearly zero, yang bikin kita terwow-wow. Padahal mereka bisa karena memang peduli pada hal-hal itu. Bisa saja ada orang yang sangat peduli pada animal abuse tapi nggak melakukan kebiasaan zero waste sama sekali. Bisa banget dan itu nggak apa-apa. :)

Mereka meluangkan waktu untuk belajar, untuk mengubah kebiasaan, untuk mengajak orang melakukan hal yang dia anggap sebagai sesuatu yang baik itu. Mungkin aneh untuk kalian yang baru terpapar info yang sama terus menerus tapi sebetulnya tidak aneh bagi yang sudah menjalankan bertahun-tahun.

Sebaliknya kita jangan baper juga kalau orang tidak mau bertindak sesuai dengan persuasi kita. Jangan sakit kepala dulu karena menganggap concern kalian paling penting tapi kok orang susah sih dibilangin? Ya maklum namanya mengubah habit ya. Pasti ada kendala, mungkin pola komunikasi kita salah atau mungkin ada faktor lain (seperti faktor uang misalnya hahaha).

Yang begini banyak nih, masing-masing mengeluhkan "orang Indonesia itu kurang kesadaran untuk pergi ke dokter gigi!" atau "orang Indonesia itu kurang kesadaran finansial!". Yha coba kroscek dulu diri sendiri, udah kampanye berapa lama? Apa faktor orang jadi kurang sadar? Kaya ke dokter gigi, sebetulnya orang sadar kan dokter gigi itu penting, tapi karena mahal, jadi nggak pernah muncul sebagai prioritas utama.

Jadiii … belajar hal baru apa tahun ini? Punya kebiasaan baik baru apa yang akan dijalankan? :)

-ast-