-->

Image Slider

Showing posts with label tentang orang lain. Show all posts
Showing posts with label tentang orang lain. Show all posts

Kenapa Ortu Zaman Dulu Anaknya Banyak

on
Monday, August 5, 2019
Kemarin, di Instagramnya mba Windi ada yang komen kaya gini (ini saya copas):

Mb klo pertimbangan nya biaya okelah sudah banyak jg blogger atau selebgram yg bahas. Tapi kalau data pertimbangan apa aja slain keuangan knp nambah anak orgtua jaman kita dlu, belum ada datanya sih ini. Penasaran. Mgkn bs dikumpulkan datanya via story mba, knp orgtua jaman dlu anaknya lebih dari 1 (selain pertimbangan finansial). Terimakasih mb windi.

Waktu baca pertama kali sebenernya rolling eyes banget karena ya Tuhanku kenapakah kepo sama orang mau anaknya berapa? Nggak ada orang yang sekepo itu sampai mau riset kenapa orang zaman dulu punya anak banyak. Terus saya juga kesel karena KENAPA ATUH HARUS SAMA KAYA ORTU ZAMAN DULU?


Saya nggak suka lho disama-samain sama siapapun terutama hal yang udah terjadi di masa lalu. Kesel banget kalau ada yang bilang “halah dulu juga blablabla”. YA KAN DULU, BOS.

Nggak relevan sama sekali. Jangankan sama 25 atau 50 tahun lalu saat ibu saya dan nenek saya jadi ibu, sama 10 tahun lalu aja parenting itu udah bisa beda sekali pendekatannya. Jadi move on lah, jangan mau disama-samain.

Lagian kalau orangtua zaman dulu ditanya kenapa anaknya banyak, jawabannya akan seragam dan membosankan: Banyak anak banyak rezeki.

via GIPHY

Bisa-bisanya ya sepakat padahal nggak ada socmed atau influencer yang campaign “banyak anak banyak rezeki” kan zaman dulu itu lol.

Nah, tapi setelah mati listrik hampir 6 jam diikuti dengan internet juga hilang, saya jadi bisa merumuskan jawaban dari pertanyaan kenapa orangtua zaman dulu anaknya banyak dengan lebih jernih. Iya selama mati listrik saya malah mikir coba. Sampai ditanya JG “kok bengong?” saya jawab “iya lagi mikirin orangtua zaman dulu” HAHAHAHAHA.

Mati listrik 6 jam kami ngapain aja? Makan di MM Juice. :)))) Iya random banget, padahal maunya makan Ling Ling tapi mereka nggak punya genset jadi nggak bisa buka. Kasian yaahhh. Rugi berapa coba padahal rame banget. Ya udah melipir ke sebelahnya deh, nongkrong di MM Juice yang dingin.

Lalu kami pulang, tidur siang sampai jam 5an lalu keringetan banget astaga mati gaya. Bebe sama JG main Lego sampai di luar udah gelap banget dan akhirnya kami memutuskan untuk ke mall terdekat yaitu tempat di mana semua rakyat Jaktim, Bekasi, dan Jaksel mepet Jaktim bersatu … KOKAS.

Makan Nama Sushi sambil panas banget gilaaa. AC apa adanya dari genset dipadu dengan keramaian gitu ya lepeklah. Tapi kami bertahan makan sushi karena mikirin di rumah lebih sedih lagi sih hahahaha. Saya nggak relate sama yang bilang "bisa quality time sama keluarga karena gelap" karena kasian amaaattt mau quality time tanpa gadget aja harus nunggu listriknya dimatiin PLN dulu HAHAHAHA.

Sampai rumah yay listrik udah nyala! Kembali ke masa kini!

Jadi setelah merenungi nasib mati listrik sekian kali itu, ini hasil saya berpikir (yang padahal nothing new juga idenya lol) lebih jelas aja biar pada bersyukur hidup di zaman sekarang HAHA.

Nggak ada hiburan

Sex is an instinct, cenah. Kemarin di diskusi film Dua Garis Biru, Gina S. Noer ditanya apa seks pranikah ini juga terjadi di luar Jakarta?

Kalau Jakarta kan seks pranikah dianggap anak-anaknya terlalu gaul kebarat-baratan ya alias terlalu terpengaruh budaya barat. Nah, kalau di luar Jakarta kok pada seks pranikah juga? Kok angka kehamilannya tinggi juga?

Jawabannya karena listrik di luar Jawa itu nggak stabil. Kalau listrik nggak stabil, internet apa adanya, APA LAGI COBA HIBURAN MEREKA?

Balik ke 50 tahun lalu, apalagi coba hiburan orangtua zaman dulu? Mati gaya banget nggak sih. Apalagi bagi kaum ekstrovert seperti kami-kami ini, dikasih 6 jam bengong tanpa listrik tanpa internet langsung melarikan diri ke mall. Daripada hamil? GAHAHAHAHAHAHHAHA.

Informasi sulit dicari

Ini penting banget sih. Dulu ya, keluarga saya mengalami langganan dua koran: Kompas dan Pikiran Rakyat plus langganan majalah Bobo, Gadis, dan tabloid Nova. Dan ibu saya sesekali masih beli majalah Kartini.

Yang namanya majalah atau koran, seberapa banyak sih share pengalaman orang yang bisa relate sama kita? Paling vox pop gitu kan di satu rubrik. Sisanya justru cerita public figure. Informasi harus dijemput dan susah sekali aksesnya. Informasi itu kemewahan.

Sekarang informasi bukan lagi barang mewah, malah kita yang terus menerus digempur informasi. Dari berbagi informasi inilah kita tahu bahwa anak banyak itu bukan untuk semua orang ahahahahahaha.

Zaman dulu mana tauuu. Lha ketemu ibu-ibu lain aja mentok pas posyandu atau imunisasi kan. Makanya KB harus dikampanyekan pemerintah karena kalau nggak begitu, orang cuek aja anaknya banyak padahal nggak mampu-mampu amat. (EH ADUH)

Keterbukaan informasi ini punya peran penting sih menurut saya dengan ortu-ortu millennials yang jadi mikir sekian kali untuk punya anak karena didiknya kok susah ya? Belajar parenting kok kaya nggak selesai-selesai ya? Dulu seberapa banyak sih orang belajar parenting?

Parenting by instinct juga aja kan segala-galanya padahal nggak semuanya nature loh, ada juga yang nurture and how we nurture our kids kan sebaiknya dipelajari karena memang ada teorinya, ada risetnya, ada alasan scientific di baliknya. *HALAH

(Baca: Parenting Memang Tidak Butuh Teori?)

Lanjut ke poin berikutnya.

Mental health belum jadi isu penting

Dari keterbukaan informasi kita jadi tahu cerita ibu-ibu yang stres karena anaknya banyak atau berdekatan. Lalu jadi sadar duh kayanya nggak mampu deh kaya gitu lol.

Ini bisa terjadi karena kita udah semakin sadar dengan pentingnya kesehatan mental. Baik kesehatan mental ibu maupun anaknya. Dulu mana ada yang peduli sih. Sibling rivalry yang padahal bisa jadi dendam seumur hidup aja cuma diremehkan dengan “alah namanya juga adik kakak”.

Almarhum nenek saya pernah cerita betapa capeknya punya anak banyak dengan usia yang berdekatan. Satu cerita yang saya inget, nenek harus nganter anak sekolah dengan gandeng anak kedua dan gendong anak ketiga. Capek katanya.

Bayangin nenek saya baru bisa “ngeluh” kaya gitu lebih dari 50 tahun kemudian! Dulu meski secapek apapun ya jalani aja karena nggak tau kalau itu nggak wajar, nggak tau kalau dia juga punya hak istirahat meski punya anak, nggak ngerti kalau punya anak itu artinya nggak mengabaikan diri kita sendiri sebagai individu.

Sekarang kan kita lebih baik anak sedikit tapi full quality time sama anak. Bisa kasih mereka sisi kita yang terbaik dan melakukan conscious parenting atau parenting dengan kondisi sadar 100%. Bukan sekadar “punya anak lagi aahhh” tapi “eh kalau punya anak mampu nggak ya kasih yang terbaik buat dia?”. Dan menurut aku ini kemajuan. Dunia udah sempit banget juga lagian. :))))

(Baca: Nenek)

Target hidup semakin tinggi

Dulu anak yang penting sekolah. Nggak penting di mana. Bukan apa-apa, pilihan sekolahnya juga sedikit banget kan. Sementara sekarang duh posisi menentukan prestasi banget ini alias sekolah di mana menentukan networking dan kompetisi di masa depan lho.

Dulu, nggak sedikit yang punya keluarga di mana anak pertama nggak bisa kuliah, baru anak kedua atau ketiga bisa kuliah karena kondisi keuangan keluarga yang membaik. Sebaliknya, banyak juga keluarga yang abis-abisan untuk anak pertama (atau anak laki-laki) eh pas anak bungsu, tulang punggung keluarga udah pensiun, si anak jadi nggak bisa kuliah.

Familiar dong dengan cerita semacam itu?

Ketidakmerataan pendidikan antar anak aja udah nunjukkin ketidakmampuan mengukur diri sendiri dari segi finansial. Wajar juga karena pengetahuan tentang finansial nggak sebaik sekarang.

(Baca: Kenapa Sekolah Begitu Penting)

Karena target hidup juga semakin tinggi. Dulu seberapa banyak sih orang yang cita-citanya keliling dunia bawa anak biar dia punya pengalaman di belahan dunia lain. Sekarang kan banyak yang begitu. Daripada nambah anak mending uangnya untuk beli pengalaman, katanya. :)

Sekarang wow anaknya lahir biaya kuliah udah mulai ditabung, lahir anak kedua, mulai juga nabung untuk dana pendidikan anak kedua. Ini bikin mikir banget karena ...

Dulu katanya: Banyak anak banyak rezeki

Iya rezeki udah ada yang mengatur tapi realistis juga coba . Kalau rezeki cuma bergantung kerja keras, nggak bakal ada itu orang yang rumahnya kumuh di pinggir kali atau rel kereta. Padahal kalau diukur dari kerja keras, mungkin mereka kerja lebih keras dibanding pekerja kantoran kaya kita-kita ini.

Orangtua zaman sekarang sudah lebih bisa mengukur diri. Gimana pun, nambah anak artinya nambah satu tanggung jawab perut dan pendidikan. Tanggung jawab itu ada pada orangtuanya dong. Daripada nggak yakin bisa tanggung jawab kan mending nggak nambah anak. Hahahaha.

Kurang-kurangin deh bilang banyak anak banyak rezeki karena nggak bisa masuk di semua orang. Ada yang betul rezeki lancar, jabatan naik, semua baik-baik aja setelah punya anak lagi. Tapi masih banyak juga tuh yang anaknya jadi harus pindah daycare yang lebih murah karena punya anak kedua, masih banyak yang mengeluhkan "duh mana mampu sekolah di situ, anak gue tiga", dsb dsb.

And don't start with "sehat juga rezeki" karena kasian banget anak jalanan dan anak-anak dari keluarga kurang mampu berarti rezekinya memang cuma sehat aja? :((((((

Ini nggak ada hubungannya sama bersyukur loh ya. Kita bisa kok bersyukur atas rezeki PLUS realistis soal kondisi keuangan keluarga. Malah kalau kata mba Windi, mengatur keuangan keluarga adalah bentuk tanggung jawab atas rezeki yang dilimpahkan ke kita. Couldn't agree more!

Perempuan belum berdaya

Zaman dulu banyak sekali pernikahan yang bertahan hanya karena para perempuan tidak berdaya dan tak mau jadi janda. Banyak sekali saya mendengar cerita orang-orang yang memilih bertahan di pernikahan yang tidak sehat dibanding takut hidup melarat.

Tapi di zaman sekarang, sila googling sendiri datanya, perempuan lebih berani untuk bilang cerai karena perempuan sudah berdaya. Perempuan punya suara dalam pernikahan dan kalau mereka diabaikan, ya sudah maka untuk apa pernikahan itu dipertahankan.

Ini berkaitan sekali dengan kesehatan mental. Untuk apa bertahan di pernikahan yang tidak sehat, dengan kondisi mental yang acak-acakan. Orang-orang di zaman sekarang sudah sadar benar kalau semua orang berhak bahagia, laki-laki atau perempuan.

Hasilnya, perempuan jadi semangat berkarya. Sementara kalau punya anak (atau punya anak lagi), karya itu jadi tertunda. Suka tidak suka, mau tidak mau, kita kerja lebih lama tanpa anak dong? Kalau udah ada anak kita berusaha kerja seefektif mungkin karena ada waktu yang harus dibagi. Meski emang bener sih, anak itu penyemangat terbesar!

Maka wajar kalau orang zaman dulu anaknya banyak. Nggak ada urgensi pengen berkarya gitu lho. Nggak gampang ngerasa panas sama karya-karya ibu lain di social media. Hahahaha.

(Baca tulisan tahun 2013: Perempuan Juga Punya Pilihan!)

*

Kalau dirumuskan dalam satu kalimat (yang juga membosankan karena sudah sering sekali dibahas): Tantangannya udah beda dan itu sangat wajar terjadi. Orangtua menghadapi tantangan yang beda di tiap zaman dan harus terus belajar menghadapi tantangan baru.

Ingat juga, nanti ketika kita punya cucu, nggak usah sotoy dengan merasa kita lebih pengalaman ngurus anak hanya karena kita punya anak lebih dulu. Anak kita jelas akan punya tantangan yang beda. Kalau kita udah yakin 100% dengan cara kita mendidik anak, kita juga harusnya yakin juga dong dia akan bisa mendidik cucu kita.

JAUH BENER NGOMONGINNYA CUCU LOL.

Enak juga ya kalau udah dijembrengin kaya gini. Tiap ada yang nanya kenapa nggak mau nambah anak, kasih aja link blogpost ini hahahaha. Tiap ada yang bandingin sama ortu zaman dulu, kasih juga link ini ok!

Selamat hari Senin!

-ast-




Belajar Bicara Data

on
Thursday, May 23, 2019

Kalian yang follow saya sejak lama pasti udah ngerti banget ya kalau saya apa-apa harus pakai data. Saya nggak suka orang ngomong pake “katanya” untuk sesuatu yang penting. Buat saya, “katanya” hanya sebatas obrolan ringan makan siang alias buat ghibah doang. Nggak layak masuk media sosial, nggak pantes dikutip apalagi disebarluaskan.

Soal "katanya" ini saya ekstra hati-hati, apalagi setelah baca dan mencoba memahami UU ITE. Satu “katanya” di WhatsApp atau email pribadi, bisa bikin kita masuk penjara lho. Dan ini bikin temen-temen saya gemes HAHAHAHA.

Misal ada berita selebgram atau artis rusuh, kebetulan temen kantor saya ada yang akrab nih sama si selebgram. Cerita saya jadi A1 dong ya, karena SAYA dengar langsung dari si teman. Nah tapi kalau saya cerita lagi ke orang jadinya kan “KATA TEMEN GUE” dong? Abis itu kalau temen saya cerita lagi ke orang jadinya “KATA TEMENNYA TEMEN GUE” ya kan? Cerita kaya gini suka saya hindari apalagi di group yang orangnya lebih dari 5 orang.

Kalau ketemu langsung masih okelah saya ceritain tapi kalau harus di chat, ada bukti screencapture, nggak deh. Kalau ada yang sc dan dikasih ke orangnya, maka itu bisa dituntut pakai UU ITE lho. Bahkan sekadar saya nulis “si A gendutan ya” lalu sc-nya nyampe ke si A, selamat, si A bisa nuntut saya pakai pasal karet UU ITE.

KOK JADI NGOMONGIN UU ITE.

Kembali ke data.

Throwback ke sekitar 20 tahun lalu saat saya SD kelas 4, ada kejadian yang saya ingat sampai sekarang karena perasaan yang campur aduk. Malu iya, tapi jadi pelajaran penting buat saya sampai kejadian ini terus teringat.

Waktu itu teman SD saya, sebut saja namanya Nana, tidak masuk beberapa hari. Kabar dari seorang teman (teman lho bukan guru) katanya ia kecelakaan mobil sekeluarga. Karena cukup akrab dengan Nana, saya ingat saya sedih dan sampai rumah saya cerita pada ayah. Apa komentar ayah?

“Kamu tau dari mana? Kalau cuma tau dari katanya teman dan nggak bisa dibuktikan, itu namanya gosip.” Ayah being ayah, beliau wartawan juga btw.

Saya mikir iya juga. Lha yang bilang aja bukan guru kok. Kalau guru yang bilang kan mungkin guru dapat kabar dari orangtuanya. Kalau teman yang bilang, mana buktinya? Si teman ini rumahnya berjauhan pula. Gimana bisa dia tahu soal kecelakaan?

Besoknya (harap maklum saya masih kecil), saya malah bilang ke teman lain kalau berita kecelakaan itu cuma gosip. Beritanya jadi semakin simpang siur sampai seminggu kemudian Nana masuk dengan perban di dahi dan pipi. Benar dia kecelakaan sekeluarga.

Saya malu dan sedih karena duhhh beneran kok kecelakaan kok saya malah bilang gosip sih!

Tahun demi tahun berlalu sampai tiba saya masuk jurusan Jurnalistik dan harus ikut orientasi jurusan. Ada beberapa buku yang harus dibaca. Satu buku pada bab 1 langsung to the point kalau seorang jurnalis itu harus skeptis. Saya beneran langsung inget kejadian Nana dan ya, ayah benar, ayah hanya skeptis, meragukan segalanya sampai ada bukti. Saya yang salah karena masih tidak punya bukti tapi malah ikut menyebarkan info.

Bertemu JG, dia orang yang 100% bicara data juga (saya 95% soalnya 5% nya itu pas PMS, maunya drama nggak mau data nyahahahahaha). Dulu, perkara daging kambing aja pernah bikin kami berantem karena saya keukeuh daging kambing bisa bikin darah tinggi.

Dia tantangin untuk cari research terus saya nangis karena ternyata emang bener daging kambing nggak bikin darah tinggi. Nangis karena banyak keluarga darah tinggi dan menghindari daging kambing, malah disuruh dokter, tapi kok kenyataannya nggak bikin darah tinggi sih. Sebel banget!

Tapi lama-lama terbiasa, kalau kami ngobrol serius ya bawa data bukan bawa perasaaan. Semua yang kami lakukan untuk Bebe juga pake backup science, tanya psikolog atau bawa research dari lembaga yang kami berdua yakin terpercaya.

(Baca: Memahami Anak)

Sekarang semakin Bebe besar, saya juga mengajari Bebe hal yang sama. Saya kejar dia untuk nggak gampang percaya sama orang. Kemarin di IG story saya kasih contoh dia bilang “kata si A bisa bakar kertas pakai kaca pembesar”. Karena saya tanya "Terus kamu percaya? Mau coba dulu nggak? Atau mau nonton YouTube?"

Itu dia langsung minta dibeliin kaca pembesar ke aki untuk coba. Setelah yakin benar kertas bisa terbakar, baru dia boleh percaya.

Sedikit tips buat yang mau belajar bicara data:

- Luangkan waktu untuk kroscek, tabayyun bahasa gaulnya, ukh.

- Pastikan data yang kita kroscek adalah data terpercaya. Kalau memang datanya fisik seperti si Nana temen saya, kan bisa dilihat langsung. Kalau datanya digital, pastikan kalian cari sumber yang BENAR. Kalau research biasanya lebih meyakinkan kalau dari universitas karena biasanya mereka meneliti demi keilmuan bukan dibayar brand, websitenya akan berakhiran .ac atau .edu.

- Kalau kalian nggak punya waktu untuk kroscek yang terbaik adalah DIAM. Nggak usah ikutan ngomong karena cuma bikin ribut aja. Berisik dan nggak penting.

Oiya, skeptical ini memang tipis banget sama negatif sih. Kadang nggak cocok sama orang yang positive vibes all the way. Karena kalaupun beritanya positif, respon pertama selalu? Iya ya? Bener gitu? Masa sih? Siapa bilang? Sebagus itukah? Faktanya gimana? Apa ada dampak lain? Begitu terus until proven otherwise.

Bahkan baca buku juga gitu. Kadang kalau baca buku sama Bebe terus ada fakta yang bikin saya ragu, saya pasti langsung cek bukunya terbitan tahun berapa dan kroscek ulang via Google. Beneran deh, saking cepetnya ilmu pengetahuan, banyak buku yang outdated karena ada research yang lebih baru.

Saya juga bisa sampai di sini karena selalu skeptis. Sebagai jurnalis, skeptis itu harus. Nggak gampang terbuai, nggak gampang percaya, nggak gampang sebar informasi apalagi kalau nggak jelas sumbernya dari mana.

(Berpikir kritis itu harus diajarkan! Mengajarkan Anak Berpikir Kritis)

Pelajarannya apa? 


Kalau bicara sama saya, bicara di social media, bicara di tempat umum, tolong pakai data. Apalagi kalau datanya fisik lho bukan data digital, itu data kasat mata, fisiknya aja bisa kita pegang. Kalau nggak percaya apa nggak pengen congkel aja itu mata karena membohongi kita?

Bicara data ini menakar logika kalian lho. Orang yang ngotot: “TAPI CURANG! TAPI DISUSUPI! TAPI DIBAYAR! TAPI TIDAK JUJUR!”

Mana buktinya, darling-darlingku? Sini deh kasih saya bukti yang bisa saya lihat dan saya pegang baru saya percaya.

Saya bisa lho bilang ke kalian “PAPA KALIAN SELINGKUH! PAPA KALIAN SUKA MAIN SAMA PSK!” dan kalian harus percaya karena ya levelnya sama. Nggak bisa dibuktikan toh keduanya?

Hukum di belahan dunia mana juga pakai Presumption of Innocence: Innocent until proven guilty. Ngerti nggak? Apa baru denger? Asas praduga tak bersalah, sampai terbukti sebaliknya. BUKTI, SAYANGKU. BUKTI DATA. Bukan katanya-katanya.

Kenapa saya yang jarang bereaksi sama hal-hal kaya gini sampai nulis? Karena jujur kaget banget sih kemarin di DM saya ternyata masih banyak yang nggak pakai logika. Ditanya datanya mana, SEMUA, SATU PUN nggak bales lagi karena ya memang nggak punya kan.

(Baca postingan tentang politik yang mana sudah 2 tahun lalu lol: Hal yang Berubah Sejak Pilkada DKI )

Saya juga bingung kenapa mereka follow saya ya? Nggak mau unfollow aja? HAHAHAHAHAHA. Saya kan kalau sharing selalu kasih backup riset resmi. Apa nggak bertabrakan tuh sama logika mereka? Saya nggak pernah ngomong atau sharing sesuatu kalau belum pernah mengalami apalagi nggak punya backup risetnya.

Btw saya sangsi tulisan ini bisa mengedukasi sih, karena biasanya orang yang nggak mau tau soal data dan logikanya dipertanyakan, NGGAK MAU BACA TULISAN SEPANJANG INI HAHAHAHA.

R.I.P. LOGIC.

-ast-




Semua yang Jadi (Sangat) Penting

on
Thursday, March 14, 2019
Beberapa minggu lalu, saya menghabiskan weekend yang sangat produktif. Hari Sabtu hadir di #SUSTAINEVENT VOL 1 New Period Indonesia yang berakhir mengubah habit pakai pembalut jadi menstrual cup dan hari Minggunya sharing jadi salah satu pembicara di event @safekidsindo sebagai ibu-ibu pengguna car seat.


Di event @safekidsindo itu hadir anggota komunitas mobil dan mbak Wiena dari Nusantara Menggendong. Pulang dari sana saya merenung. *halah*

Betapa sekarang, semua orang bisa “berkampanye” masing-masing tentang apa yang mereka percayai dan yakini. Bukan cuma politik atau agama ya, tapi hal-hal di keseharian yang kadang bikin merenung: KOK SEBELUMNYA NGGAK KEPIKIRAN YA?

Coba deh, ngomongin car seat aja bisa jadi satu event sendiri sampai kata MC-nya “kita mah car seat aja dighibahin” lol. Emang sih kalau dipikir sama kita-kita yang ilmu safetynya cetek, apa coba yang bisa dibahas soal car seat doang?

Ternyata banyak. Banyak banget sampai nggak selesai-selesai. Bener-bener ngerasa ih kok saya nggak punya ilmu apa-apa ya tentang keselamatan. Nggak ngerti first aid, nggak ngerti soal penanganan bencana, tau-tau doang tapi nggak paham banget.

Selain anak duduk di car seat dan pake helm saat naik sepeda dan motor, ilmu keselamatan saya hampir nol. Memang belum pernah belajar dan belum pernah terpikir HARUS belajar.

Perhatikan keyword: HARUS.

Menurut para praktisi safety dan komunitas tentang safety, yang HARUS kita tahu tentulah serba-serbi keselamatan. Tapi menurut para praktisi menggendong misalnya, mereka sangat detail soal menggendong sampai komunitasnya besar sekali di Indonesia. Mereka pasti punya keHARUSan sendiri dalam urusan menggendong.

Saya cuma taunya gendong harus M-shape thok, nggak ngerti lagi perintilan lain. Pun dulu nggak kebayang sama sekali ada yang namanya certified babywearing consultant. Kebayang pasti detail banget kan urusan gendong-menggendong ini sampai ada sertifikasinya. Car seat juga lho! Ada car seat expert yang bersertifikat.

Klasik tapi kampanye semacam ini memang terbantu sekali dengan adanya internet dan media sosial.

Saya yang sebelumnya tidak tahu apa-apa soal zero waste jadi tercerahkan karena mereka berkampanye, tak punya ilmu soal safety jadi sadar kalau keselamatan itu penting, tak mengerti sama sekali soal babywearing jadi menghargai kalau menggendong itu proses yang tidak bisa terulang (soalnya anak kan makin berat huhu).

Semua orang punya concern masing-masing, semua orang punya hal yang mereka anggap baik, semua berusaha menyampaikannya pada sebanyak mungkin orang. It’s a good thing actually. Senang sekali melihat orang berkampanye sesuatu yang positif seperti ini kan. For a better generation! :)

Tapi sebagai manusia yang senang belajar hal baru, jujur saya ngerasa overwhelmed. Wah kok ini penting itu penting, harus belajar yang mana dulu nih? Kok semua rasanya penting? Apakah saya HARUS ikuti semua gaya hidup mereka yang mereka yakini baik itu?

Of course no because it would be too perfect and people hates perfection hahahaha nggak deng becanda. Tapi ya saya ngerasa belum sanggup sih kalau harus semuanya sempurna. Pelan-pelan, belajar dulu satu-satu, diresapi dulu dan dilihat dulu prioritasnya.

Kalau merujuk materi kuliah saya dulu, ada yang namanya efek komunikasi massa (FYI aja sihhh hahaha). Ada 3 atau 4 macam tergantung siapa yang berteori. Bahwa komunikasi massa itu pasti akan berefek pada audience-nya, efeknya ada macem-macem tergantung levelnya.

1. Efek kognitif: di tahap ini, audience akan mendapat informasi yang baru dia ketahui. Mereka mendapat insight dan wawasan baru.

2. Efek afektif: di tahap ini, audience yang terpapar hal yang sama terus menerus mulai mengubah perasaannya. Mulau mengerti, mulai empati.

3. Efek konatif: di tahap ini, audience mulai bertindak. Misal lihat anak-anak korban bencana, terus memutuskan nyumbang lewat kitabisa.com.

4. Efek behavioral: tahap yang kadang digabung dengan konatif tapi intinya di tahap ini, perilaku audience mulai berubah sesuai yang diinginkan pemberi pesan. Seperti soal mengubah kebiasaan dari pembalut ke menstrual cup.

*SUMPAH KAGET MASIH INGET TEORI ZAMAN KULIAH I HONESTLY THOUGHT MY GPA IS USELESS IN FACT IT HELPS ME AT THE TIME LIKE THIS LOL*

Apa hubungannya dengan kampanye-kampanye tadi?

Selain urusan zero waste, car seat, dan babywearing sebetulnya banyak orang yang punya “kampanye” masing-masing. Dokter gigi mengkampanyekan orang tak perlu takut ke dokter gigi, pecinta olahraga mengajak orang untuk bergerak agar lebih sehat, para trainer finansial mengedukasi orang untuk melek keuangan, sampai pada pencegahan kanker, pentingnya sunscreen, ASI, keamanan di dunia digital, dan banyak lagi sesuai bidang masing-masing.

Yang pusing yang jadi audience ya? Hahahaha.

Biar nggak pusing, kita buat prioritas aja. Di tengah gempuran berbagai kampanye, kita pelan-pelan aja jalannya. Teorinya kita balik sebagai audience, minimal kita sampai tahap kognitif deh, sampai tahap tau dulu isu-isu itu.

Urusan akan jadi afektif, konatif, atau behavioral biar waktu yang menjawab hahahaha. Yang penting tentukan prioritas. Contoh prioritas kalau kalian ibu satu anak yang baru lahir misalnya. Apa dulu yang harus dipelajari? CONTOH LHO YA INI.

1. Segala yang ada hubungannya dengan makanan bayi dong tentu seperti ASI dan MPASI
2. Kalau udah lulus soal makanan, baru pikirkan safety
3. Setelah itu baru pikirkan keuangan
4. Setelah itu baru olahraga

Terus-terus dirunut dari yang bisa dan HARUS dikerjakan saat ini juga. Karena kalau sekaligus udah pasti pusing sih. Overwhelmed tepatnya kaya yang saya bilang di atas.

Padahal nggak semuanya harus diikuti saat ini juga kok. Cari ilmu dulu aja santai, kalau udah tau ilmunya biasanya jalaninnya juga lebih gampang. Karena kita akan mengubah kebiasaan dan itu hal yang bisa saja berat.

Jadi sekarang kalau kalian liat orang yang dirasa begitu ideal kaya anak bisa selalu duduk di car seat, bisa disiplin screen time, bisa selalu mendengarkan anak, dan banyak lagi, itu mungkin karena mereka memprioritaskan itu dan bisa saja mengabaikan hal lain.

Ada yang peduli sekali pada green washing, science washing, cruelty free makeup dan skin care, animal abuse, zero waste sampai sampahnya nearly zero, yang bikin kita terwow-wow. Padahal mereka bisa karena memang peduli pada hal-hal itu. Bisa saja ada orang yang sangat peduli pada animal abuse tapi nggak melakukan kebiasaan zero waste sama sekali. Bisa banget dan itu nggak apa-apa. :)

Mereka meluangkan waktu untuk belajar, untuk mengubah kebiasaan, untuk mengajak orang melakukan hal yang dia anggap sebagai sesuatu yang baik itu. Mungkin aneh untuk kalian yang baru terpapar info yang sama terus menerus tapi sebetulnya tidak aneh bagi yang sudah menjalankan bertahun-tahun.

Sebaliknya kita jangan baper juga kalau orang tidak mau bertindak sesuai dengan persuasi kita. Jangan sakit kepala dulu karena menganggap concern kalian paling penting tapi kok orang susah sih dibilangin? Ya maklum namanya mengubah habit ya. Pasti ada kendala, mungkin pola komunikasi kita salah atau mungkin ada faktor lain (seperti faktor uang misalnya hahaha).

Yang begini banyak nih, masing-masing mengeluhkan "orang Indonesia itu kurang kesadaran untuk pergi ke dokter gigi!" atau "orang Indonesia itu kurang kesadaran finansial!". Yha coba kroscek dulu diri sendiri, udah kampanye berapa lama? Apa faktor orang jadi kurang sadar? Kaya ke dokter gigi, sebetulnya orang sadar kan dokter gigi itu penting, tapi karena mahal, jadi nggak pernah muncul sebagai prioritas utama.

Jadiii … belajar hal baru apa tahun ini? Punya kebiasaan baik baru apa yang akan dijalankan? :)

-ast-




Tips Agar Tidak Kecapekan

on
Friday, March 23, 2018

Ini sebenernya mau nyeramahin Gesi dan menjawab postingan dia yang ini tapi dia pasti males diceramahin dan mungkin ceramah ini juga bisa berguna buat orang lain jadi saya tulis lengkap aja tips agar tidak kecapekan di sini hahahaha.

Jadi ceritanya Gesi tipes lagi. Padahal tipes terakhir belum 6 bulan lalu. Terus ya tentulah saya emosi karena GRACE MELIA KAMU MAU MATI APA GIMANA?

Saya beneran nulis itu huh.


Oiya jangan kira saya jarang sakit ya. Saya lebih sering sakit dibanding JG. Sakitnya flu gitu 2-3 bulan sekali pasti flu/radang tenggorokan diduga karena amandel saya yang gede nggak bisa kempes lagi. Jadi menurut dokter, amandel bagi orang dewasa udah bukan untuk daya tahan tubuh tapi jadi sarang bakteri. Mau operasi nunda-nunda karena mahal dan yaaa, belum kerasa ganggu banget sih.

Tapi saya selalu berusaha biar nggak sakit. Karena repot banget kalau saya sakit biasanya nular ke Bebe juga dan malesss duh kalau Bebe sakit karena rewel kan. Jadi saya dan Bebe nggak boleh sakit!

Mari kita bahas satu per satu dari urusan yang membuat sakit ini. Kuncinya ada di empat hal: tidur, makan, olahraga, dan vitamin.

😴 Tidur

Apakah dulu saya suka begadang? OH TENTU. Kuliah Jurnalistik itu tidak mungkin tidak begadang karena kalau kamu tidak begadang artinya kamu tidak mengerjakan tugas dengan benar dan tepat waktu. Mau dicicil dari malem setelah dapet tugas juga pasti tetep begadang karena tugasnya terlalu banyak huhu.

Waktu kuliah saya sering tidur jam 4 pagi dan kuliah pagi dengan cerah ceria seperti semalam tidak ada apa-apa. Sekalinya nggak ada tugas ya saya maraton nonton series kaya Gossip Girl, Heroes, Beverly Hills 90210, dan banyaakkk lagi.

Lanjut ke kerjaan pertama, tentu saya masih begadang karena nonton konser dan nongkrong aja sih main. Pulang tengah malem atau jam 3 pagi dan besoknya ya kerja kaya biasa. NGGAK NGANTUK ATAU SAKIT SAMA SEKALI.

Kenapa coba? YA KARENA MASIH MUDA, BOS.

via GIPHY

Lewat 25 udah lemah banget deh urusan begadang. Begadang di sini adalah tidur lewat jam 1. Biasanya terjadi karena macet pulang ke Bandung. Sekarang jelang 30 ya, begadang sekali maka besok di kantor ngantuk. Begadang dua kali maka besok di kantor migren. Begadang tiga kali maka besoknya flu. Udalah sadar diri aja emang metabolisme tubuh beda sama dulu. Udah nggak bisa sok nggak ngantuk terus nggak istirahat.

Kalau emang nggak ngantuk beneran gimana? SIMPEN HP, terus merem. HP itu biang kerok karena bikin jadi nggak ngantuk, scroll ini itu tau-tau jam 2 pagi dan makin nggak ngantuk karena udah lewat ngantuknya. Kalau pengen ngantuk banget saya biasanya baca buku yang serius HAHAHAHA. Ngantuk deh udah pasti.

Jadi saya tiap hari tidur paling lambat jam 10. Ngantuk nggak ngantuk, posisikan diri untuk istirahat. Kalau udah baca buku, udah nggak pegang HP, udah posisi tidur terus nggak bisa tidur juga … yakin nggak lagi stres?

Itu aja sih.

🍴 Makan dan minum

Makan itu bukan menunggu lapar, Grace Melia tentu tidak mau tahu ini. Saya jarang sarapan, saya hanya mau sarapan buah. Kalau lagi pas nggak ada buah maka saya nggak akan makan apapun sampai jam 10an lah. Biar aja kosong dan minum air putih doang. Kenapa?

Karena saya punya maag, kalau pagi-pagi diisi yang berat suka malah sakit perutnya. Jadi sebisa mungkin emang sarapan buah. Selalu beli buah waktu belanja mingguan. Masalahnya kalau buahnya pas enak suka makan lebih jadi jatah seminggu abis duluan. Jumat jadi nggak sarapan deh hahaha.

Buahnya pun nggak aneh-aneh kok. Apel, jeruk, melon, gitu-gitu aja sih. Bosen nggak? Nggak lah saya mah nggak rewel soal makanan hahahah.

(Baca: Tips Masak Cepat Bekal Makan Siang) 

Dari sarapan, saya nggak makan apa-apa sampai makan siang. Makan siang selalu pas jam 12. Jangan bilang karena kerja jadi bisa pas makan siang ya, karena ya kantor saya bebas kok. Banyak juga yang makannya nggak teratur karena merasa jam 12 belum lapar. Saya sih lapar nggak lapar ya jam 12 makan. Biar apa? YA BIAR TERATUR LAH.

Sore jam 5 saya makan malem. Udah gitu di rumah nggak makan apa-apa lagi. Nggak laper karena ya tiap hari polanya gitu.

Saya nggak ngopi, nggak ngeteh. Di kantor hanya minum air putih, minimal 1,5 liter. Gampang caranya tinggal pake botol 800 ml. Sehari harus abis dua botol. Dan saya nggak ngemil hahahaha. Saya ngemil kalau pas ada yang ke luar kota terus bawa oleh-oleh, atau ada yang ulang tahun. Nggak pernah beli cemilan sendiri.

💊Vitamin

Kalau badan lagi nggak enak atau Bebe lagi sakit, saya biasanya 2-3 hari minum Imboost tablet. Kalau lagi nggak sakit, saya beberapa hari sekali minum Enervon-C. Minum madu juga hampir tiap hari. Di umur segini, vitamin booster itu penting banget ya karena kayanya nggak bisa aja gitu badan tuh pulih sendiri.

Kerasa banget dulu kalau flu tuh tinggal tidur dan minum Tolak Angin langsung sembuh. Sekarang mana bisaaaa, harus minum obat. Saya malah ke RS deh flu doang bodo amat biar jelas obatnya bukan obat warung.

Tapi ini semua karena apa? Karena tidak …

🏃 Olahraga

Waktu saya sempit banget (IYA, BILANG SAJA INI ALASAN). Kapan coba saya olahraganya? Ya JG sih masih bisa banget malem-malem lari, saya tunggu di rumah sama Bebe. Lha saya kan serem ya lari keliling area rumah sendirian. Selain banyak kuburan (maklum wilayah Betawi yang selang beberapa rumah ada tanah pemakaman keluarga) juga ya serem aja kalau diculik gimana ihhhh.

(Soal waktu ini pernah diceritain jelas di sini: Nonton Bioskop dan Anak Kedua) 

Jadi kalau saya udah mulai pusing dan nggak enak badan JG pasti ceramah saya kurang olahraga. Di umur segini, kerasa juga stamina buat olahraga udah nggak sebagus dulu jadi emang harus dimaintain banget ya.

Kasarnya dulu nggak olahraga aja badan sehat dan kurus semampai, sekarang kalau mau sehat dan tetap kurus ya harus olahraga tiap hari kali kan kaya Jennifer Bachdim. Sungguhlah kumempertanyakan kenapa nggak nikah sama pemain bola aja HAHAHAHAHA.

*

Jadi ya begitu. Dari 4 itu minimal 3 dilakukan maka insya Allah nggak bakal sering sakit. Kalau udah combo nggak disiplin dua aja ah udalah. Sadar diri aja kalau sakit sebel banget repotttt semua-muanya.

Demikian. Semoga kita semua selalu sehat ya!

Happy weekend luvs!

-ast-




Urusan Timbangan

on
Thursday, November 16, 2017
harusnya noun, tapi seperti biasa anggap saja majalah ya alias males edit lol

Makhluk dunia yang bernama manusia ini emang concern banget ya sama urusan timbangan. Ya kali, binatang mana punya timbangan jadi mau peduli juga susah ya kan. Masalahnya yang diurusin timbangan orang lain juga! Orang lain yang nggak kenal-kenal amat! Yang cuma ditemui di socmed!

“Gemukan ya?”

“Tambah chubby ya?”

“Nggak bagus deh pake baju itu keliatan gemuk”


Tahukah kalian kalau itu semua nggak sopan dikatakan KECUALI ngomong sama orang yang udah akrab banget, sering ketemu, atau kita tau persis perasaan orang itu soal badannya. Karena celetukan soal berat badan dari pikiran sendiri pun udah jadi beban, lha ini ditambah omongan orang. Kan jadi kepikiran.

Iyalah kepikiran karena ada orang yang emang mau jaga makan dan olahraga segimanapun tetep nggak bisa sekurus Gigi Hadid. Sebaliknya ada juga orang yang makannya udah porsi kuli di warteg tiap kali makan, tetep nggak bisa gemuk. Kan nggak adil kalau semua HARUS kurus.

(Baca pendapat Gesi dan Mba Windi juga ya! Nahla belum nulis nggak sempet katanya -____-)

Iya jadi di kehidupan yang serba mengutamakan penampilan ini, orang bisa dengan mudah sedih karena dibilang gendut sama orang. Bilang orang lain gendut-gendut, sendirinya dibilang jelek langsung mellow ngeluhin suami nggak ngasih duit perawatan. -______-

Gue sih waktu kecil diajarinnya: jangan gitu ke orang kalau kamu nggak mau digituin sama orang. Artinya jangan komen-komen orang gendut lah kalau sendirinya nggak mau dikatain juga.

Kadang ya, gue aja yang sering pake logika daripada emosi, pengen banget sekali-kali bales kasar ke orang yang suka random bilang “Kak icha gemukan ya sekarang! Kok pipinya chubby banget!”

Maunya gue bales:

“IYA MUKA KAMU JUGA KURANG BANGET IH. KURANG SEMUANYA GITU, KAYANYA KALAUPUN MAKE UP JUGA BAKAL TETEP JELEK DEH. BAWAAN LAHIR ITU MAH YA?”

Tapi kan acyu ndak pernah begicyu. :(

Mungkin orang itu nggak tau kalau dia nggak sopan jadi mereka-mereka ini biasanya gue tegur aja dan gue kasih tau kalau komentar kaya gitu nggak sopan. Bukannya jadi gue bales dengan pernyataan yang sama nggak sopannya.

Karena komentar fisik SELAIN PUJIAN yang ditulis hanya untuk basa-basi atau kepo itu lebih baik hanya disimpan dalam hati. Jikalau tak tahan sekali ingin berbagi, maka gunjingkanlah di area non publik seperti WhatsApp group atau ya japri siapa kek yang nggak ember. Begitu aturannya mbaksis, kali-kali aja belum tau.

Kenapa gue bilang kepo, karena kepo is the root of all evil. Apalagi kepo model komentar di foto orang dengan:

“Mbak, hamil ya?”

Pernyataan yang luar biasa. Untuk basa-basi ini kurang kreatif, untuk kepo ini GUNANYA NAON TAU ORANG LAIN HAMIL ATAU NGGAK?

Ya kan buat didoain. Oh plis aku tak butuh doa dari orang nggak sopan yang intinya mau bilang “Kok gendut sih? Hamil ya?”

Kalau orang itu nggak hamil, kalian kemungkinan besar akan bikin dia tersinggung dan mempertanyakan ketidakadilan dunia pada badannya.

Kalau dia hamil, ya terserah dia juga apakah setiap orang hamil harus pengumuman pada di mana-mana? Kan nggak. Karena permisi, ngana siapa sampai harus dikabari berita kehamilan? Keluarga bukan, temen deket bukan. Geez.

Yang terparah kalau orang ini nggak hamil tapi pengen hamil! Kebayang nggak sih dia akan sedihnya kaya apa. Dia mungkin akan bales komentar kamu dengan manis “hehe belum sih, doain aja”. Padahal dari lubuk hatinya dia sedih. :(

Bukan nggak mungkin loh kaya gitu.

Iya, ada orang-orang yang cuek banget atau percaya diri banget sampai nggak peduli sama konsep kecantikan yang umum diterima khalayak ramai. TAPI SEBERAPA BANYAK HAYOOO.

Kebanyakan ibu-ibu mah tetep lah ngeluhin bentuk badan, apalagi pasca melahirkan. Iya atau iya? Jawab! *galak macam kakak senior lagi ngospek*

Dan komentar fisik inilah yang bikin aplikasi edit foto macam Facetune atau BeautyPlus jadi laku banget. Karena bisa liquify bentuk muka jadi tirus, lengan jadi sebesar selang, betis nggak nonjol, dan paha semampai.

Padahal kan males atuhhh kalau tiap foto gue edit pipinya. Selain males, ngedit bagian tubuh jadi lebih “ideal” juga malah bikin kita makin sadar akan kekurangan diri dan jadi makin merutuki. Dih kapan atuh ya bisa kaya Jennifer Bachdim. :((((

Inti dari cerita gue panjang lebar adalah: AYO KITA LAWAN!

*udah kaya pejuang kemerdekaan ya hahaha*

Lawan ketidaksopanan dengan edukasi sopan santun. Orang-orang yang senang kepo “hamil ya?” itu most likely adalah orang-orang yang sama dengan penyuka pertanyaan “udah isi belum?”, “kapan anak kedua?” sambil elus-elus perut kita gitu. Boundaries, please, tanteeee. :((((

Jadi kaya yang udah pernah saya bilang, kalau ada orang yang begitu maka tegur. Saya melakukannya di dunia maya dan dunia nyata. Kalau kalian masih canggung banget, tegur di dunia maya juga cukup. Tegur melalui komen “ibu/bapak, bertanya seperti itu tidak sopan ya maaf saya kurang enak dengernya”.

Variasinya bisa:

“Mbak maaf komentarnya tidak sopan ya. Tidak akan saya jawab”

Atau

“Maaf ya nanya gini ke orang itu nggak sopan, orangnya bisa sakit hati lhoo”

Jangan lupa gunakan emot :) supaya seolah kita bicara ramah tapi tegas. Dijamin orangnya akan minta maaf. Ya kecuali tante-tante ngeyel yang emang duh udalah, nggak peduli perasaan orang.

(Baca: Ide Basa-basi Tanpa Bikin Tersinggung)

Dan jangan lupa ajarkan anak-anak kita!

Bebe diajarin banget kalau tubuh manusia itu beda-beda jadi udah ngerti kalau orang ada yang kurus, gemuk, berbagai warna kulit, mata dan rambut. Tapi kadang dia suka pengen komentar karena dia bangga bisa mengidentifikasi orang gendut.

Akhirnya gue bilang aja "Be, orang gendut atau kurus sama aja. Tapi kalau kamu pengen banget bilang om gendut, bilangnya ke ibu aja ya. Jangan keras-keras nanti dia sedih kalau dibilang gendut"

Sejak saat itu, jika bertemu orang berbadan besar, dia akan komen berbisik "ibu, om itu gendut tapi aku bilang ke ibu aja nanti dia sedih"

YEAYYY.

Dan SETIAP dia bilang gitu gue selalu ngulang "iya orang itu beda-beda, blablabla" alias kuliah lagi soal perbedaan manusia. Karena gue mau dia jadi manusia yang tidak memusuhi perbedaan. Ah jadi mellow deh ah. :(

Sekian dulu dari kami. Semoga yang belum tau jadi tau dan jangan diulang lagi yaaa!

Love you all!

-ast-




Hal-hal yang Berubah Setelah Pilkada DKI

on
Thursday, October 19, 2017

Halo! Lama nggak nulis #SassyThursday dan sekalinya nulis topiknya langsung yaaa gitulah. Jarang-jarang gue nulis politik di blog kan, tapi kali ini pengen aja nulis. Mungkin bisa kasih pandangan lain, mungkin juga nggak. :)

Baca punya Nahla:

Oke jadi pasca urusan pilkada dan demo-demo itu, yang berubah bukan cuma gubernur Jakarta tapi juga BANYAK hal lainnya. Betapa efeknya besar banget dan membukakan mata

Apalagi pasca gubernur baru tiba-tiba bahas pribumi, sengaja atau tidak sengaja cuma makin menguatkan bahwa di posisi ini loh kita. Sementara banyak yang memperjuangkan kesetaraaan manusia, ini malah ras aja diungkit-ungkit terus. :(

Sedih sih tapi ya, sedih aja dibilang kafir kali deh gue, terserahlah. Ini dia hal-hal yang gue rasakan sendiri berubah setelah demo dan pilkada:

Orang jadi berani menunjukkan diri bahwa dia paling "beragama"

Tidak apa-apa share soal agama di media sosial, yang jadi masalah adalah ketika orang MEMAKSAKAN agama dan kepercayaan pada orang lain. Paksaan itu apapun bentuknya, adalah kondisi yang tidak nyaman.

Sementara yang terjadi adalah bikin status terus, komen sana-sini, copas terus di group WhatsApp mengajak ini itu karena merasa benar. Tandanya kalian memaksa orang lain untuk ikut ambil bagian. Kalau tidak ambil bagian maka orang itu kafir dan tidak membela agama. Wow, speechless.

Bertanya apa agama orang lain aja dianggap nggak sopan loh, ini mempertanyakan kepercayaan orang yang seagama. Sangat-sangat tidak sopan. Saking sebelnya, JG sampai nggak mau ngaku cuma biar orang-orang ini kesel doang dan merasa "menang".

Jadi (oke ini sebenernya agak cringey diceritain tapi biarlah biar contoh) JG dari kecil rajin solat, dari SD rajin ke pengajian-pengajian (maklum anak Gerlong). Tapi ada orang-orang annoying yang menganggap JG "keliatannya" nggak beragama dan suka iseng aja gitu nanya "tadi jumatan nggak?"

YA NURUT NGANA? Ya udah sama JG dijawab "nggak ah, udah pernah" -_______- Karena itu pertanyaan annoying dan kejauhan gitu loh. Kemudian mereka negur lalala harusnya gini harusnya gitu. Orang-orang judgmental dan merasa paling ngerti agama gini loh yang nyebelin dan bikin nggak nyaman.

:(

Sebaliknya orang-orang jadi berani nunjukkin kalau dia nggak beragama

Banyak temen-temen gue yang sebelumnya Islam tapi kemudian jadi "nggak ah, I'm done with religion". BANYAK. Karena mereka nggak kenal-kenal amat sama agama terus tiba-tiba dihadapkan pada Islam yang "begitu". Yang memaksa, yang rasis, yang sama sekali tidak damai. Ilfeel, malu sendiri kemudian bye beneran deh jadinya.

Jadi kalau kalian menganggap segala demo dan urusan Pilkada ini mengangkat nama Islam, ya mungkin di satu sisi benar. Tapi kalian juga harus tau kalau ada sisi lain yang menganggap sebaliknya. Ya sisi yang kalian bilang kafir sih. 

Dan orang-orang ini jadi tidak mengajarkan agama pada anak-anaknya, atau justru mengajarkan semua agama. Supaya anaknya bisa milih sendiri dan jadi nggak kaya mereka, harus berpuluh tahun hidup dengan agama turunan orangtua kemudian ilfeel sendiri gara-gara apa? Gara-gara Pilkada. Hiks. Sedih.

(Baca: Balita Ditanya Agamanya Apa: Agama dan Manusia)

Teman-teman minoritas jadi nggak nyaman


Kata Jessicha temen kantor gue "setelah urusan pribumi ini gue makin ngerasa gue Cina sih".

T______T

Ini jahat sih. Orang-orang ini juga dari zaman kakek neneknya udah di sini kali, sama kaya kalian, kenapa dibeda-bedakan sih? Bikin nggak nyaman banget.

Iri karena mereka kaya? Karena mereka berkuasa? Ya kalian ke mana aja sampai nggak bisa kaya dan berkuasa?

Lagian stereotyping banget sih bilang "Cina = kaya". Karena kalau dia kaya dan dia keturunan Chinese maka kita bilang “ah pantes kaya, Cina sih”. Tapi kalau orang Jawa kaya keluarga Sutowo kaya raya kita nggak bilang apa-apa, nggak bilang "ah pantes kaya, Jawa sih". Padahal mereka KAYA RAYA BANGET LOH. Berkuasa dan berpengaruh juga.

Dan orang itu bisa jadi kaya karena kerja bukan karena rasnya apa! Pun demikian dengan Ahok bisa jadi pemimpin yang disukai banyak orang karena dia KERJA.

*fyuh gila nulisnya capek banget gue*


Banyak yang jadi pengen pindah negara

Pindah ke Eropa gitu yang lebih damai atau pindah ke mana pun yang orang rasisnya nggak sebanyak di sini dan di Amerika. T_______T Banyak yang jadi nyeletuk "duh rasanya pengen pindah negara aja" saking hopeless-nya sama negara ini.

Gue sama JG pengen banget sih dan hidup dari nol sebagai minoritas dan bukan pribumi. Terutama pengen Bebe sekolah di luar dari kecil aja biar nggak sekolah di sini. Ingin membesarkan Bebe di lingkungan yang lebih kondusif.

Pengen pindah tapi keinginan yang terbatas keinginan KARENA NGGAK USAHA APA-APA. Nggak usaha dan sebenernya takut nggak bisa survive karena pasti berat banget. Dasar pribumi! Kurang usaha!

Dan ya, yang paling kerasa dari hidup gue sendiri justru ini:

Batal sekolahkan Bebe di sekolah Islam

Sejak Bebe lahir, kami sudah punya incaran sekolah. Kebetulan sekolahnya sekolah Islam, SDIT lah. Sekolahnya bagus, inklusi, kami cocok sekali dengan metode belajarnya. Maka dana pendidikan pun dihitung berdasarkan sekolah ini.

(Baca: Tahap Menyiapkan Dana Pendidikan Anak)

Sampai tahun lalu pas urusan Pilkada ini lagi panas-panasnya, kami langsung diskusi dan memutuskan nggak jadi menyekolahkan Bebe ke sekolah Islam. Mulailah lagi pencarian SD Bebe. Kali ini goalsnya jelas, nggak homogen.

Karena sekolah Islam sudah pasti semua muridnya Islam. Pilkada ini menyadarkan kami bahwa selain agama, penting sekali mengajarkan Bebe kalau dia adalah bagian dari dunia yang heterogen. Karena tidak semua orang sama dengan kita, dan tidak sama bukan berarti salah.

Malah pas lagi pusing-pusingnya cari sekolah, sempet kepikiran apa sekolahin di sekolah Katolik aja gitu ya biar dia ngerasain jadi minoritas? Itu sebelum tau bahwa banyak juga ya SD yang nggak tanya agama anak apa. Ada dan itu cukup bikin lega sih.

Karena gue pernah tuh interview orang, dia SD di sekolah Islam terkenal di Jakarta tapi cuma sampai kelas 3, kelas 4 dia pindah dan sampai kuliah selalu di sekolah Katolik. Dia dipindahkan karena ibunya melihat kecenderungan dia jadi judge agama lain sebagai agama yang salah. Ibunya nggak mau dan akhirnya sekolahlah dia sebagai murid minoritas sampai dia kuliah. Sampai sekarang dia muslim, begitu pun dengan ibunya.

(Update 2022 karena ada komen kok akhirnya sekolah Islam? Mmm, sebetulnya sekolahnya bukan sekolah Islam terpadu, sekolahnya cuma pakai "with Islamic value" jadi masih sangat menghargai diversity, masih ada guru tidak berjilbab. Alasannya karena sangat ingin Montessori dan nggak ada SD lain dengan kurikulum Montessori selain ini dengan harga yang masuk budget.)

Mengingatkan diri untuk selalu mengajari anak tentang perbedaan

Ya, ngajarin Bebe menerima perbedaan dan menghargai pilihan hidup orang lain itu jadi peer paling berat sih.

Gue paling jelasin tentang ukuran manusia, warna kulit, disabilitas, dan tidak ngasih gender pada warna atau mainan. Jadi ya gue selalu bilang sama dia hal-hal yang dia tau aja misal "iya ada anak yang badannya kecil, ada yang badannya besar, tidak apa-apa. Kecil tidak apa-apa, besar juga tidak apa-apa".

Atau ketika dia mau beli buku mewarnai Princess ya gue beliin aja. Toh sampai sekarang juga warna favorit JG pink. Menyetarakan hal-hal dari yang paling sederhana dengan harapan dia bisa menerima bahwa semua orang tidak sama.

Dan ya, intinya gue nggak mau dia jadi rasis dan judgmental. Bahwa sesuatu yang kita yakini benar, tidak boleh sampai menyakiti orang lain.

*

Oke gitu aja sih. Kalian gimana? Ada efek apa Pilkada sama kehidupan? Nggak ada banget nih yakin? :)

-ast-




Karena Rokok (Pasti) Bisa Menunggu

on
Monday, September 18, 2017

Hari Minggu lalu jam 6 pagi, kami bertiga plus ibu saya jalan-jalan ke Gasibu. Niatnya sih mau lari, tapi ternyata track lari di lapangannya sangat crowded. Jangankan lari, jalan pun susah. Kami pun akhirnya melipir, menyusuri Taman Lansia sampai bertemu Taman Cibeunying.

Itu loh taman yang ada robot Transformers angkot dan Bumblebee. Tamannya tidak terlalu besar tapi banyak tempat sewa mainan. Bebe mulai terdistraksi tukang pancing ikan mainan (Rp 5ribu boleh mancing ikan plastik sepuasnya btw), JG sudah nangkring di tukang lontong sayur, dan saya sendiri duduk di bawah patung. Mengamati sekeliling.

Pengunjung yang datang rata-rata keluarga muda. Suami istri dengan anak balita, paling besar anak TK. Datang hanya untuk duduk-duduk dan jajan. Yang menyebalkan, sebagian besar dari orangtua itu merokok. Baik ayah maupun ibunya.

Ada yang sengaja duduk terpisah dengan anaknya yang sedang makan sosis bakar, ada yang duduk sebelah anaknya dengan rokok disembunyikan di balik badan seolah punggung akan menyerap asap rokok itu, ada yang terang-terangan saja merokok sambil menggendong anaknya yang masih sangat kecil.

Apa yang ada di pikiran mereka? Apa rokok tidak bisa menunggu?

Kalian sengaja bangun pagi, berganti dengan baju yang lebih baik, para ibu bahkan sempat menggambar alis dan memulas lipstik. Demi bisa menghabiskan waktu bersama anak kan? Anak yang mungkin jarang kalian temani karena sehari-hari ditinggal bekerja.

Merokok mungkin kesenangan kalian, tapi ditemani bermain oleh ayah dan ibu yang atensinya full, orangtua yang kedua tangannya bisa digunakan tanpa terganggu memegang rokok berasap mungkin jadi kesenangan anak kalian.

Merokok adalah hak kalian. Tapi menghirup udara bebas asap rokok adalah hak ANAK kalian.

Suami saya bukan perokok, pun saya sendiri, tapi saya yakin rokok bisa menunggu. Pasti bisa menunggu.

Merokoklah saat sendirian, merokoklah di luar rumah, merokoklah saat nongkrong dengan teman-teman, merokoklah di tempat yang disediakan khusus untuk merokok, jangan merokok di dalam rumah, jangan merokok di dalam rumah orang lain saat bertamu. Mandi dan berganti pakaian lah sebelum masuk rumah dan memeluk anak serta istri atau suami.

Karena mereka, orang-orang yang paling kita sayang kan? ATAU TIDAK?

Bukan cuma satu dua artikel kan yang membahas risiko anak sakit pneumonia tinggi jika berada di lingkungan yang merokok? Bukan satu dua penelitian kan yang membahas bahwa residu rokok masih tertinggal bahkan ketika asapnya sudah tidak ada?

Jadilah perokok yang bertanggungjawab. Asap rokokmu, tanggung jawabmu. Seperti juga kehidupan sehat anak-anakmu, tanggung jawabmu.

Rokok bisa menunggu. Ada puluhan jam yang kalian lewati tanpa anak-anak kalian. Gunakan sebaik mungkin untuk merokok sepuasnya. Tapi sisihkan waktu 2-3 jam di Minggu pagi untuk membawa anak-anak ke taman dan menghirup udara segar di bawah pepohonan. Udara segar yang tidak terganggu asap rokokmu lagi.

Untuk kalian yang punya pasangan merokok, tak perlu melarangnya berhenti. Hal sia-sia yang akan berujung pertengkaran saja. Ia akan berhenti ketika ia mau berhenti, bukan karena kalian menyuruhnya berhenti. Tapi mintalah waktunya saja sedikit, waktu-waktu berkualitas bersama anak-anak di mana ia menunda keinginannya merokok.

Demi kalian, demi anak-anak yang lebih sehat.

Terima kasih.

-ast, ibu satu anak yang selalu menyuruh anaknya berteriak serta kabur jika ada orang merokok. Bahkan ketika yang merokok adalah sekumpulan polisi di kantor polisi, "OM POLISI MELOKOK AKU HARUS KABULLL!!!"

✨GIVEAWAY HADIAH BALANCE BIKE MASIH DIBUKA LOH! KLIK!✨




Tentang Drama Kehidupan

on
Tuesday, May 16, 2017
Kenapa ya saya anaknya suka overthinking sama segala sesuatu. Apalagi untuk urusan hierarki antara status sosial, jabatan di kantor, sama peran di rumah. Saya suka kepikiran banget!


Misal gini, ada cleaning service di kantor yang pendieeemmm banget. Pendiem terus sopan banget gitu, kalau jalan selalu nunduk. Ya saya maklum mungkin dia merasa bukan siapa-siapa, level terendah di kantor lah kasarnya. Jadi dia nunduk entah karena memang minder atau memang merasa harus sopan.

Suatu hari saya ajak ngobrol, dengan malu-malu dan tetap nunduk (mungkin menjaga pandangan yhaaa) dia jawab anaknya dua. Satu udah kelas 5 apa 6 SD gitu, satu lagi masih umur 2 tahun. Dan saya langsung tettoottt! kepikiran banget.

Kepikiran banget karena berarti meski di kantor dia nunduk dan minder gitu, dia di rumah adalah kepala keluarga dengan anak yang mau remaja. Apa dia di rumah tegas sama istrinya? Apa dia di rumah galak sama anaknya? Apa dia di rumah juga pendiem?

AKU ... KEPO.

T________T

Inget juga kemarin makan di Shaburi terus mbak waitressnya nyapa Bebe dan tiba-tiba cerita kalau anaknya dia juga umur 2 tahun dan suka Cars kaya sepatu Bebe. Dia cerita dengan sangat excited dan saya mendadak mellow karena dengan demikian dia adalah ibu bekerja. Mungkin di sela-sela kerjaan dulu dia harus pumping juga sama kaya saya. Mungkin juga dia sama sedang mikirin ulang tahun anaknya mau dibikin kaya apa. Ah. :((((

(Baca: Orang-orang yang Bertahan Hidup)

Jadi inget juga cerita JG yang masa kecilnya dilalui dengan tinggal di gang sempit. Tetangga-tetangganya itu semua orang susah lah kasarnya. Mereka suka sewenang-wenang sama istri, teorinya JG karena mereka kerjanya rendahan banget, mereka jadi nggak punya suara di tempat kerja. Satu-satunya "kuasa" mereka ya sama istri, jadilah istrinya diperlakukan seenaknya.

Hiks.

Mau sedih juga nggak perlu sedih ya ini, namanya juga hidup. Tapi gimana ya, saya kepikiran betapa satu manusia itu punya peran yang beda-beda banget di berbagai lini kehidupan. Saya baru ngerti lagunya Nike Ardilla kalau dunia ini panggung sandiwara.

Di kantor dia adalah cleaning service yang minder, di rumah dia ayah yang tegas tapi sayang keluarga, di lingkungan rumah ternyata dia Pak RW dan terbiasa mimpin rapat RT, dan seterusnya.

Nggak usah susah-susah deh, waktu masih sekolah aja kerasa kan bedanya. Kita di sekolah sebagai ketua kelas tentu beda dengan kita di rumah yang anak bungsu. Kita di kampus yang serampangan dianggap anak bodoh, ternyata di rumah adalah kakak sulung tulang punggung keluarga.

Kepikiran kalau manusia sebenarnya memang hidup dengan beberapa topeng, mau pakai yang mana, mau lepas yang mana. Mau jadi saya yang mana.

Dan social media juga panggung lain lagi.

Di socmed dia ibu-ibu berisik garda depan pembela kebenaran, di rumah ternyata boro-boro berisik, ditanya pendapat sama suaminya aja nggak pernah. Di socmed dia ibu-ibu inspiratif banyak kegiatan positif bersama keluarga, di rumah dia ternyata depresi karena masalah dengan mertua.

Makanya jangan bingung sama orang-orang yang di socmed ributnya ya ampuuunnn. Pas ketemu hening krik krik. Atau sebaliknya, di socmed tampaknya hidup seru dan bahagia, pas ketemu kok ya orangnya banyak ngeluh. Ya maklum, itu topeng satunya lagi kan, topeng social media.

Lalu apa harus jadi orang yang sama di semua panggung biar dibilang apa adanya?

(Baca: Menjaga Perasaan Siapa Agar Tidak Dibilang Fake?)

Ya nggak juga sih. Nggak apa-apa kok punya banyak peran, punya banyak topeng. Saya nyaman berisik di socmed dan JUGA di dunia nyata. Saya nyaman bercerita pada kalian di blog ini seperti saya bercerita pada JG. Kalau kalian merasa tidak nyaman ya tidak apa-apa. Tidak berarti kalian palsu, kalian hanya sedang pakai topeng yang lain.

Yang jelas, harus diingat bahwa ini adalah topeng peran, bukan topeng kebohongan. Kalian yang berisik di socmed tapi pendiam di dunia nyata, nggak berarti kalian bohong kan?

Cuma inget-inget aja kalau lagi pengen ngomong kasar sama orang. Waitress itu mungkin teraniaya di rumah, satpam itu juga mungkin ayah-ayah yang lagi bingung bayar sekolah anak, abang angkot yang nyebelin itu mungkin sebatang kara. Yah, entah ini harus dipikirin apa nggak sih ya.

Ya gitulah. Auk nulis apa sih ini. Bye!

-ast-




Agama dan Manusia

on
Tuesday, February 21, 2017
Kapan terakhir kali kamu ditanya apa agamamu di dunia ini?

Saya seminggu yang lalu, saat anak saya ke rumah sakit karena demam. Mengisi form isian pasien, ada kolom agama tertera. Suami saya nyeletuk pada petugas rumah sakit "mas, anak saya belum tahu agama dia apa, saya harus isi apa?" Petugas itu terdiam setengah terkejut.

Suami saya tertawa dan petugas menarik napas lega, menganggap suami saya bercanda. Tapi bagaimana bisa bayi ditanya agamanya apa? Bagaimana dengan orang yang tidak beragama? Apa yang harus dia tulis di sana? Mengapa rumah sakit bertanya agama?

Di Indonesia saya tidak tahu jawaban tepatnya. Mungkin sesederhana kalau pasien meninggal, sudah jelas akan diperlakukan bagaimana. Itu satu. Tapi saya masih penasaran dan kembali browsing. Kali ini dengan bahasa Inggris. Ternyata alasannya beberapa, selain bisa minta request pemuka agama untuk menemani berdoa, yang terpenting adalah diet khusus karena agama tertentu tidak makan makanan tertentu.

Ah ya, masuk akal. Setidaknya untuk akal saya.

*


Isu agama ini sedang kencang berhembus maka kami pun jadi agak sensitif kalau ada pertanyaan seputar agama. Apalagi dari institusi kemanusiaan seperti rumah sakit, saya kan jadi membayangkan hal-hal aneh seputar orang dari agama lain tidak diterima masuk rumah sakit. Mungkin nggak?

Jujur, sebagai pemeluk agama mayoritas di negeri ini, saya akhir-akhir jadi sering merasa risih. Hanya karena digoyang isu Pilkada, kaum Muslim (khususnya di social media dan chat group) seperti kehilangan sopan santun.

Belum lagi banyak sekali yang share hoax dan kebencian. Berita nggak jelas awal mulanya di-share dengan kalimat yang sama menggebu-gebunya. Atau justru di-share dan istigfar, padahal isinya entah benar entah tidak.

Dan ini terjadi pada semua lapisan sosial, bukan hanya dari kalangan yang tidak berpendidikan. Tidak masuk dalam nalar saya ada orang yang kuliah master sampai luar negeri tapi share berita dari situs abal-abal yang penulisnya entah siapa, kantornya entah di mana. Bagaimana mungkin mampu lulus kuliah tapi tidak mampu menyaring mana berita yang masuk akal mana yang tidak? Mengapa seperti diliputi kebencian yang amat sangat?

Saya gerah, sungguh. Timeline saya sebetulnya cukup aman dari status-status bernada melecehkan agama lain tapi ada saja yang tidak sengaja terbaca. Biasanya dari kolom komentar orang dan saya bingung maksudnya apa? Mungkin tidak sadar karena terbuai topik "pemimpin kafir"?

Contohnya beberapa hari lalu. Ini mungkin contoh paling sederhana. Di status seorang teman, Muslim, ibu-ibu sedang mengobrol. Topiknya tentang pak mantan. Entah kenapa jadi ada pembicaraan soal babi. Ya, sungguh tidak nyambung bukan?

"Mereka mah babi aja dimakan ..."

???

Duh, memangnya kenapa kalau agama lain membolehkan orang makan babi? Jijik karena haram? Orang lain ada yang menganggap makan ceker ayam juga jijik lho. Makan jeroan juga jijik karena penyakit semua.

Lagian kan bukan cuma Islam yang melarang makan babi. Agama lain malah ada yang melarang makan binatang sama sekali, makanya banyak aliran agama yang mengharuskan atau menyarankan pemeluknya vegetarian. Yahudi aja nggak boleh lho makan babi. Iya, haram.

Atau logika yang lebih pusing lagi, kemarin ada yang komen begini di status teman saya (saya copas):

"Ada orang munafik yg berbuat baik kpd muslim, kemungkinan 1. Menginginkan massa pendukung yg kbtln mayoritas, 2. Mengejar kekuasaan 3. Untuk memecah belah umat (krn ada pihak yg dibikin enak, utang budi) Enggak mungkinlah ahok berbuat baik hanya mengharap pahala dari Alloh azza wa jalla yg jelas2 dia tidak mempercayainya??"

Orang yang tidak percaya Tuhan tidak mungkin berbuat baik?

Terbayang orang-orang yang satu agama dengan pak Ahok mungkin akan geleng-geleng kepala karena mau berbuat baik pun dianggap tidak mungkin? Hanya karena percaya Tuhan yang berbeda?

Apa dia nggak tau banyak sekali orang di dunia ini yang tidak percaya Tuhan itu ada dan mereka tetap berbuat baik demi kemanusiaaan? Berbuat baik dan tidak berharap pahala bisa banget lho. Jadi sukarelawan sana-sini, volunteer sampai ujung Afrika demi bantu orang kelaparan. Dan mereka tidak beragama, tidak terpikir soal pahala.

Saya juga jadi bertanya-tanya, apakah orang-orang ini tidak mengenal orang baik yang beragama lain? Orang baik yang atheist? Orang baik yang agnostic? Orang baik yang deist?

Sindiran "mainnya kurang jauh" itu jadi makin terasa bukan lelucon lagi. Mungkin memang mainnya kurang jauh jadi cuma tau agama sendiri dan agama yang lagi dibenci orang-orang aja. Agama lain itu kan tidak sesederhana Kristen Protestan, Katolik, Buddha, Hindu, dan Kong Hu Cu. Apalagi kalau lihat agama orang-orang sedunia, waduh terlalu sesak kalau agama dan kepercayaan hanya dibatasi oleh enam koridor seperti yang diakui negara kita.

Agama itu banyaaakkk sekali. Alirannya juga banyak. Para pengikutnya tentu merasa agama yang mereka peluk itu benar. Tidak usah saling membantah. :)

*

Sebetulnya, *tarik napas dulu* saya tidak peduli pilihan gubernur kalian siapa. Itu urusan pribadi kalian dengan bilik suara. Pilih gubernur melihat agamanya silakan, pilih gubernur lihat rekam jejak silakan, aliran pemercaya gubernur bukan pemimpin juga silakan.

Yang saya sedih adalah, banyak yang jadi terpancing untuk menghina pemeluk agama lain. Hanya karena satu orang "menghina agama Islam" kemudian jadi pembenaran bagi para pemeluk Islam untuk menghina agama lain. Kan tidak begitu sis dan bro.

Kalian tidak terima ada orang menghina agama yang kalian peluk tapi kalian sendiri JUGA menghina agama lain. Jadi menghina agama lain boleh tapi kalau agama kita dihina kita marah? Itu sama halnya dengan kalian memarahi anak yang merebut mainan dari anak kalian, tapi ketika anak kalian merebut mainan anak lain kalian tidak marahi. Double standard, at its worst!

Seperti pak haji yang teriak akan memberi uang satu miliar untuk yang bisa membunuh Ahok. Kalau an eye for an eye and a tooth for a tooth diambil literal begitu mah banyak orang buta dan ompong di dunia ini, serem dong. Satu orang bunuh orang lain. Keluarga yang dibunuh balas membunuh, balas-balasan membunuh terus sampai manusia punah.

Sungguh agama tidak mendefinisikan manusia.

"Kita bela agama, kalau tidak begini Kristenisasi semakin merajalela!" Oh, bela agama sejak Pilkada kemarin ini bagian dari Islamisasi? Membuat orang ingin masuk Islam kah?

Malah teman-teman non-muslim bertanya:

"Kalau mau jadi ustaz di Islam itu syaratnya apa ya? Kok banyak ustaz share kebencian dan hoax."

...

krik krik

...

NGGAK ADA.

Semua orang bisa jadi ustaz. Self-proclaimed juga bisa, belajar agama dan hafalin ayat biar bisa kutip sana sini maka anda bisa melayakkan diri jadi ustaz. Coba jadi pastor atau pendeta, level yang harus dilalui banyak sekali. Dari sekolah seminari sampai wawancara ini itu. Nggak gampang.

Jadi tolonglah jangan mudah percaya dan mengutip ustaz A ustaz B, pilih ustaz kalian baik-baik karena semua orang juga bisa jadi ustaz.

Eh setelah jadi ustaz malah share hoax. Ceramah di mesjid bawa-bawa partai, bawa-bawa "jangan pilih pemimpin kafir". Suami saya menghitung benar, sejak urusan pilkada ini salat Jumat selalu disisipi unsur politik. Tapi ketika turun ke jalan teriaknya "kami bela agama, ini bukan masalah politik!" Ya gimana, sejak awal urusan agamanya dicampur sama politik kok.

Ibu saya malah terang-terangan diminta memilih satu partai tertentu saat Pilpres lalu! Di pengajian! Saya nggak habis pikir gimana caranya lagi mengkaji Al-Quran terus tiba-tiba pak ustaz bridging ke nama partai.

T______T

Saya tidak bilang semua ustaz seperti itu makanya pilih guru agama kalian baik-baik. Lihat latar belakangnya, belajar agama di mana, sudah belajar berapa lama. Banyak kok ustaz-ustaz yang tidak menyebut diri sendiri dengan sebutan agamis (seperti ustaz, habib, dan lain-lain) tapi justru teduh, damai, dan tentu tidak share hoax apalagi kebencian. :)

*

Kalau sudah begini "pemakluman" saya cuma satu. Umat Islam di negeri ini merasa superior karena agama mayoritas. Jadinya lupa lah pada Pancasila, lupa kalau negara ini bukan negara yang berbasis agama. Bhinneka Tunggal Ika mah lupa, auk ke mana.

Saya jadi khawatir sekali lama-kelamaan isu agama ini melebar dan jadi mengkotak-kotakkan kehidupan sosial lebih parah lagi. Mau belanja ke pasar, nanya dulu agama penjualnya apa? Atau terparah malah dipisahkan pasar muslim dan non-muslim. Install ojek online ditanya agama apa biar sesuai diantarnya sama yang se-agama. Lebay? Kecenderungannya ke sana loh. :(

Padahal hubungan vertikal adalah hubungan yang paling pribadi. Hubungan vertikal itu penting tapi horizontal juga tak kalah pentingnya.

Nggak bisa kita men-judge seseorang taat beragama hanya dari bajunya yang tertutup dan longgar. Nggak bisa juga kita men-judge seseorang kafir hanya karena baju dan celananya ketat. Yang berhak menilai kadar keimanan seorang manusia bukan manusia lain. Ya? Ya.

Apa gunanya pakai atribut agama tapi hati dipenuhi kebencian? Dipenuhi kecurigaan? Merasa paling benar, merasa paling hebat sampai berani menyindir orang yang berbeda kepercayaan.

Ayolah kita hidup damai. Tanpa mengecilkan orang apalagi agama lain. Saling menghargai apapun agamanya, sukunya, rasnya, warna kulitnya. Pisahkan urusan memilih gubernur dengan urusan lain. Karena sungguh, urusan Pilkada ini urusan remeh dibanding perpecahan negara hanya karena kita tak bisa menjaga emosi di dunia maya.

Hidup bersosialiasasi pasti lebih indah kalau saling bahu membahu, saling membantu, saling melihat kebaikan masing-masing dan bukannya terus menerus mencari kejelekan orang lain. Ayo berpegangan tangan kaya di buku PPKN zaman dulu, baju daerah boleh berbeda-beda tapi tangan saling bertaut dan tersenyum mengelilingi bola dunia. :))))

*

Kapan terakhir kali kamu ditanya apa agamamu di dunia ini? Siapa yang bertanya?

-ast-




Hal-hal yang Saya Pelajari dari Aksi 212

on
Monday, December 5, 2016
foto: Republika

Ya, dari aksi 212 kemarin itu saya belajar banyak. Banyak sekali. Hal positif dan hal negatif yang jadi pengingat diri sendiri.

Sebelum aksi pertama 411, saya nyinyir pada orang yang tetap pada pendirian kalau aksi ini murni bela agama. Saya keukeuh itu bullshit, aksi itu politis.

Baru di 212 kemarin saya melihat mereka memang membela agama. Minimal tidak ada yang terlihat di kamera TV teriak "bunuh Ahok". Orang-orang yang berkumpul ini membela kepercayaannya.

Baca punya Nahla: 212
dan punya mba Windi: Catatan Aksi Bela Islam 212

Ini hal-hal yang saya pelajari dari aksi 212 kemarin:

1. Aksi bisa berjalan damai karena tujuannya baik


Ya, sebagian besar datang dengan tujuan zikir, doa, dan salat Jumat bersama. Masa mau bilang tidak baik. Banyak teman yang ikut dengan alasan "kapan lagi salat dengan jamaah sebanyak itu" atau "serasa sedang umroh karena berkumpul dan berjalan dengan sesama muslim dalam jumlah banyak".

Whoa saya baru terpikir sampai ke sana. Seperti umroh, mungkin iya juga. Padahal di Jakarta, Jakarta rasa Mekkah.

2. Rumput aman, Monas bebas sampah

Katanya saling mengingatkan ya untuk tidak membuang sampah dan tidak menginjak rumput. Terharu sekali. Kalau diaplikasikan pada hidup sehari-hari pasti Jakarta rapi. Soalnya saya sering berantem sama orang gara-gara orang buang sampah sembarangan huuuu. 👎🏻

3. Orang baik itu masih banyak

Ada seorang bapak tua yang hilang kemudian ditemukan. Pedagang memberi dagangannya gratis. Sungguh berbuat baik bisa dengan cara apa saja. 😊

4. Tidak semua orang bisa berlaku adil

Begini, ketika aksi siang 411 damai ada yang tetap merusuh dengan berteriak "bunuh Ahok" ya akui sajalah bahwa saat itu memang tidak sedamai itu. Bahwa itu membuat takut banyak orang. Mungkin karena tujuannya kurang jelas? Datang kemudian apa? Kalau kemarin kan jelas, datang untuk salat berjamaah dan doa bersama.

Sebaliknya juga ketika aksi 212 damai, ya akui juga dong damai. Ada beberapa teman yang keukeuh mencari-cari kesalahan. Dan hanya share jelek-jeleknya saja.

Saya jadi gemes sendiri sama orang-orang model begini. Saya masih tidak setuju aksi, tapi kenyataannya damai kok. Masa mau maksa-maksa tidak damai.

Catcalling? Yah, regardless agamanya apa, cowok-cowok di Indonesia emang hobi amat catcalling. 😭

Cuma emang miris sih kalau tujuan mau zikir dan doa tapi di jalan catcalling cewek. 😪

5. Jangan mengabaikan fakta dan logika

Ya, mungkin terbawa euforia. Tapi tidak lantas menjelekkan media yang menyebut peserta aksi hanya 1juta misalnya. Itu tidak asal hitung loh, ada metodenya. Keukeuh 7juta tapi ditanya cara menghitungnya gimana malah langsung emosi "situ ga ikut kan ga usah iri dengki begini lah!"

Lha. Logikanya nggak sampai. Bukan saya yang bikin status jadi saya speechless sama yang komen. Mau ikut komen tapi ah sudahlah.

Kalau memang ikut dan merasa di sana banyak orang, tidak usahlah pedulikan angka. Kalau mau peduli angka, ya harus peduli juga cara menghitungnya. Angka kan ilmu pasti.

6. Sombong itu macam-macam modelnya

Sebagai orang yang sering dibilang congkak oleh Nahla, saya merasa kesombongan saya nggak ada apa-apanya dibanding orang-orang ini. Hahaha. Ya apaan sombong saya cuma level 2 tahun 2 juta views buat blog. Hampir nggak pernah nulis status soal blog, sekalinya bikin langsung dicap congkak. 😂

Ada yang menulis kurang lebih begini "ah aksi kemarin biasa saja, tidak istimewa, mengumpulkan massa atas nama agama itu tidak perlu dibanggakan karena sering terjadi di berbagai negara dan berbagai agama." Kemudian dia dibully.

Ya mau nggak bangga juga silakan sih, terserah deh. 😂 Tapi kalau ada orang bangga, ya biar juga. Orang kan punya pendapat masing-masing.

Ada juga yang menulis kalau ratusan ribu orang datang untuk istigosah itu sudah biasa. Dia menyebut satu kota di mana orang memang rutin datang berbondong-bondong untuk berdoa bersama. Mereka tidak perlu liputan media juga tidak perlu pamer apalagi sampai foto-foto kemudian di-share di sosmed.

Masnyaaaa, masa ke Monas terus nggak foto-foto. Ke Monas dan foto itu mandatory. Ini nggak sarkas ini beneran. Ya kan? 95% orang yang pertama kali ke Monas pasti foto lah. Monas kan ikonik.

7. Polisi bisa juga menarik simpati

Bukan, bukan urusan polisi ganteng. Tapi cara mereka menarik simpati dengan memakai juga peci putih. Semua polwan berjilbab rapi. 👍🏻

8. Saya lupa kalau paspampres itu tentara

Hahahaha yang ini bodoh. Abis paspampres Jokowi kan SELALU pake batik ya, sama kaya ajudan biasa. Maksudnya ajudan yang lulusan IPDN gitu bukan tentara.

Kemarin pake seragam tentara uhwoowww. Jadi terasa kalau Jokowi presiden. Biasanya nggak kerasa hahaha. Ya memang beliau nggak mau kaya presiden sih, malah Syahrini yang di jalan pake dikawal motor bersirine, Jokowi dan keluarga nggak pernah. 😪

9. Jokowi masih disayang banyak orang

Banyak ibu-ibu yang saya pikir anti Jokowi (karena dia antek Cina 😪) ternyata ikut mengunggah foto Jokowi dengan caption "presidenku". 😍

Dan itu banyaaakkkk. Nggak cuma di Facebook tapi juga di Instagram. Luvvvvv. ❤️

10. Media harus melindungi pekerjanya

Sebagai pekerja media saya sedih banget liat video wartawan dilecehkan. 😭

Bukan salah dia loh beneran kalau medianya nggak berimbang. Yang di lapangan kan berangkat liputan dan meliput apa berdasarkan arahan di kantor. 😭

Iya media banyak yang tidak berimbang, tapi tidak lantas membenarkan pelecehan wartawan dengan "salah sendiri beritanya ga imbang!" Melecehkan wartawan sama tidak benarnya dengan membuat berita tidak berimbang.

Btw soal media tidak imbang, kalau TV memang susah krosceknya ya, tapi kalau media online kan gampang. Orang sekarang gampang tuduh, apaan nih media ga berimbang padahal baru baca satu berita.

Woy, search dulu kali berita yang lain. 😩

Karena berita kan ditulis berdasar konteks. Misal sedang menulis berita Ridwan Kamil dapat penghargaan apa gitu, kan tidak nyambung kalau ditambah background Bandung banjir.

Tapi bukan berarti tidak imbang kan? Kecuali saat Bandung banjir tidak diberitakan. Jadi jangan terlalu gampang judge media tidak imbang.

Yang tidak imbang itu yang konsisten share berita hoax dan menjelek-jelekkan orang terus. Mereka bahkan bukan pers, mau dilaporkan ke dewan pers juga tidak jelas lembaga yang menaungi apa, apalagi ngomong kode etik jurnalistik, JAUH. 😪

Itu aja sih.

*

Saya bersyukur aksinya damai jadi bisa pulang cepat karena jalanan kosong sekali. 😊

Saya tentu masih percaya ada aktor politik ikut menunggangi tapi mereka memang tidak peduli. Orang-orang ini datang dan berkumpul, membela apa yang mereka imani apa yang mereka percaya. Urusan politik bukan urusan mereka, kalau pun ditunggangi biar Tuhan yang balas. Setidaknya mereka berpikir demikian dan itu cukup. 😊

-ast-




Online Shop Nowadays

on
Friday, December 2, 2016

Jadi gue baru mendapat ancaman, gengs. Gue diancam akan di-blacklist kalau dalam 24 jam nggak transfer ke online shop di mana gue beli pin Sailormoon seharga Rp 12ribu. Barang yang kurang penting memang ya. Gue bayar sih in the end karena pengen hahaha.

Bukan masalah harga atau kepentingan barangnya (karena kapan gue beli barang yang penting selain belanja bulanan lol), tapi ancaman yang kini sering dilontarkan oleh para sis-sis online shop saat chatting kalau kita tanya-tanya barang. Hit & run = Blacklist! Waduh! Gimana nasib kehidupan konsumtif gue kalau gue di-blacklist oleh ol shop!

Padahal wajar nggak sih customer nanya-nanya dulu sebelum beli? Wajar banget lah. Apalagi kalau fotonya udah diedit dan dikasih filter. Atau pake foto official brand. Minta foto asli dulu boleh dong?

NGGAK BOLEH TAUUU. Kalau udah nanya-nanya terus nggak jadi beli maka black list! Di-block! Nggak boleh beli lagi selamanya.

HHHHHH.

Gini deh bayangkan, sekarang kita datang ke mall terus nanya-nanya sama mbaknya. Ini kulit apa mbak? Awet nggak ya? Garansi nggak? Wah nggak ya? Oke deh makasih ya mbak. Kemudian kita pergi karena memang belum pengen-pengen amat beli dan mau survey dulu ke yang lain.

Minggu depannya kita mau dateng lagi ke toko itu tiba-tiba di stop sama mbaknya "MAAF ANDA DI-BLACKLIST KARENA KEMARIN TIDAK JADI BELI."

Dih, sehat mbak?

"Wah nggak bisa disamain gitu dong, tenant di mall kan memang punya karyawan nggak ribet kaya ngurus online shop sendirian. Apalagi gue ibu-ibu, ribet harus bales WhatsApp dulu atau nyuapin anak dulu."

Iya santai sis, santaaaiiii.

Karena ancaman-ancaman demikian, gue jadi suka mikir ratusan kali dulu sebelum menghubungi si seller. Beneran bagus nggak ya barangnya? Mau beli nggak ya? Untuk mengurangi interaksi sama si seller. Karena sekalinya interaksi, takut muncul ancaman huhu. Ini terutama ol shop Instagram yang jual handmade item gitu.

Kalau makeup sih gue lebih suka belanja di Shopee atau website beneran gitu karena gue nggak perlu berinteraksi langsung sama seller via Line atau WhatsApp. Tapi itu karena barangnya ada di mana-mana kan, pilihan storenya banyak. Kalau handmade item gitu kan sulit ya.

Ah situ banyak kritik, emang pernah jualan online?

EHM. Inti dari nulis ini sebenernya ingin cerita juga HAHAHAHAHA. Karena gue adalah sis-sis ol shop juga pada zamannya.

Nggak banyak yang tau kalau dulu, duluuuu sebelum online shop menjamur kaya sekarang, gue punya online shop. Tahun 2008-an gitu. Jualannya di fanpage Facebook Happybee! (yes makanya likesnya 5ribuan, jumlah yang banyak banget mengingat dicarinya tahun 2008 mah). Jualnya aksesoris kaya statement necklace warna-warni gitu. Handmade!

Gue sampai pernah menang kontes desain statement necklace di majalah Gogirl! loh! Desain yang menang itu kalung Elvis Presley, ceritanya bikin kalung dari kaos bekas. Kaosnya kebetulan ada print Elvis Presley. Hadiahnya voucher Forever21 500ribu, bela-belain dari Bandung ke Jakarta cuma buat belanjain vocer hahahaha.

(Baca: Keputusan yang Mengubah Hidup)

I always love crafty things! Makanya idealis amat soal gunting doang, yang mana yang buat kertas yang mana yang buat kain 😂 Gue desain sendiri, bikin sendiri, bahkan beberapa model yang butuh sablon gue SABLON SENDIRI *proud*, photoshoot sendiri.

Gue jualan dan jualan sampai kebeli pake uang sendiri Blackberry Javelin yang waktu itu harganya 3,8juta. Mahal banget mana anak kuliahan kan. Blackberry aja baru keluar 3 seri, Curve, Bold, dan Javelin. Semuanya masih pake track ball, boro-boro touch screen. 😂

Dan iya, online shop one man show itu memang capek banget!

Nggak sekali dua kali gue begadang semaleman ngerjain pesenan. Nggak sekali dua kali gue nonton bioskop sambil balesin sms orang yang tanya-tanya. IYA SMS! Lah satu angkatan di kampus 120 orang yang punya Blackberry aja baru 4 orang, mana bisa gue BBM-an sama pembeli. Hahaha.

SMS nya udah pake format sih, tapi kalau ada orang mau sms nanya-nanya dulu juga gue bales kok. Pulsa habis? Masuk biaya produksi dong. Beberapa ada yang chat via Yahoo! Messenger tapi dulu orang Y!M juga di rumah kan. Lah hpnya nggak bisa dipake online.

Dan dulu orang-orang yang jual dan beli online itu sedikit sekali. Orangnya itu lagi itu lagi. Sampai temenan, mereka bahkan banyak yang add gue di Facebook. Ngobrol di Y!M. HUHUHU Masa-masa itu. 😍

Tapi memang pada zaman itu, orang-orang yang belanja di online shop memang orang yang sangat melek teknologi sih. Ya bayangin, hp aja masih Esia orang udah berani belanja online? Sekarang aja masih banyak yang takut kan?

Di sisi lain, sekarang teknologinya juga udah canggih duh. Punya online shop meluangkan waktu untuk ramah melayani pembeli yang mau tanya-tanya nggak ada salahnya loohhh. Ngetiknya udah pake qwerty loohhh. Apalagi modalnya udah bukan lagi pulsa tapi kuota, 179ribu di XL dapet 40 GB sebulan, buat chatting doang mah puas. (BUKAN IKLAN INI PROMO KANTOR SUAMI LOL).

Intinya tinggal mau apa nggak melayaninya?

Kalau mau tapi sibuk (apalagi ibu-ibu) kan biasanya suka pada langsung ditulis di bio Instagram "slow respon, punya balita". Itu gue respek banget asli. Artinya dia mau merespon tapi harap sabar ya, yang beli jangan rusuh. Kalau mau ngerusuhin, jangan beli di situ.

Ya gitulah. Sekian curhat dan cerita masa lalu hari ini. Semoga sis-sis online shop nowadays bisa tetap eksis tanpa ancaman ya!

Selamat hari Jumat semoga nggak kena macet!

-ast-

PS: Online shop itu akhirnya berhenti karena saya kerja. Kalau diterusin saya udah jadi pengusaha kali ya lol :)




Ide Basa-basi Tanpa Bikin Tersinggung

on
Friday, September 16, 2016

Asumsinya bertemu teman lama. Berteman di media sosial dan sering bertegur sapa di dunia maya. Saat bertemu, apa yang harus dibicarakan?

Nggak semua orang bisa basa-basi sementara basa-basi dirasa wajib apalagi kalau bertemu langsung. Mau ngomong apa ya? Mending di socmed bisa bales pake like atau emoji doang. Kalau ketemu?

Awkward moment banget jadinya kan kalau cuma "halo" cipika-cipiki terus diam. Jadi keluarlah kata-kata yang biasanya malah jadi menyinggung padahal yang ngomong kadang nggak mikir dua kali kalau perkataannya bisa melukai.

"Kok gemukan?" atau "Kok kurusan?" --> padahal tidak yakin benar ini orang kurusan atau gemukan, cuma kayaknya aja sih. Ya mana tau, nimbang badan bareng aja belum pernah.

"Kok iteman sih?" "Kucel amat neng?" --> none of your business.

"Belum isi aja nih?" *sambil pegang perut* --> percayalah meski bukan saya yang dibeginikan, saya dan suami beberapa kali menegur orang yang berkata seperti ini pada orang lain. Kami bilang "Ibu tidak sopan, ibu tidak boleh bertanya seperti itu." Butuh keberanian luar biasa tapi orang-orang ini harus berhenti.

"Kapan nambah (anak)?" --> situ Tuhan?

Well. Belum apa-apa udah emosi deh jadinya. Tapi yah, tidak semua orang punya kemampuan interpersonal yang baik. Tidak semua orang tahu bagaimana harus bersikap tanpa melukai orang lain.

(Baca: Mempertanyakan Rezeki)

Dan sebagai orang yang memang suka ngobrol, saya beri ide basa-basi yang (semoga) tidak akan membuat orang tersinggung.

Tanyakan kabar

Standar lah ya. Justru setelah tanya kabar ini yang krusial. "Hai apa kabar? *ngomong apa lagi ya* ... krik krik krik"

Tanyakan keluarga yang kita tahu persis keberadaannya atau pernah kita temui atau kita lihat fotonya di media sosial

"Anak yang paling besar kelas berapa sih sekarang? Sekolahnya di mana sih?" --> bisa dilanjutkan tentang obrolan seputar sekolah.

"Ibu apa kabar? Duh udah lama ya nggak ketemu ibu. Ibu masih suka jahit?" --> bisa dilanjutkan tentang obrolan seputar hobi orangtua. Ceritakan juga hobi orangtua kita.

"Adik kamu yang dulu SD itu sudah kerja ya sekarang? Kerja di mana? Oh ya anak zaman sekarang memang lebih suka punya bisnis sendiri ya" --> bisa dilanjutkan tentang obrolan seputar bisnis.

Ingat, jangan tanya yang kita tidak tahu persis. Bagaimana kalau sudah meninggal? Akan jadi lebih awkward lagi.

Tanyakan soal hobi

"Masih suka yoga? Sekarang yoga di mana?" --> kalau nggak ngerti soal hobi dia, ini kesempatan kita untuk bertanya dan belajar hal baru. Saya senaaaanggg sekali ketemu orang dengan hobi yang tidak saya mengerti sebelumnya. Bisa jadi tahu banyak hal baru dan orang yang diajak bicara pun biasanya senang membicarakan hobi dia.

Ide pertanyaan seputar hobi yang kita tidak ketahui sebelumnya:
- Tanya tentang alat-alatnya, belinya di mana, ada produk lokalnya apa harus impor.
- "Ada komunitasnya nggak?"
- "Mahal nggak sih?" atau kalau DIY "belajarnya di mana?"
- "Sejak kapan suka hobi ini?"
- DAN BANYAAAKKK LAGI. Nanti ngalir dengan sendirinya kok.

Kalau kebetulan ngerti soal hobinya, bagus dong jadi punya topik obrolan yang sama. :)

Rumah

"Rumah masih di A? Kan kerja di kota B? Ditempatin siapa sekarang?" --> kemudian bisa bercerita seputar harga rumah atau kontrakan.

"Rumahnya lucu banget deh di Instagram, siapa yang dekor?" --> kemudian bisa mengobrol soal Ikea, dekor rumah, dan online shop Instagram lol

"Rumah orangtua masih di Gerlong?" --> kemudian bisa mengobrol soal rumah orangtua, tinggal dengan siapa mereka, dll.

Pekerjaan (hanya kalau kita tahu persis soal dia masih bekerja atau tidak)

"Eh masih kerja di agency A? Ada yang ngehubungin gue waktu itu nanya job ABCD ..." --> ini kalau kalian blogger atau influencer nyahahahaha

"Neng, katanya resign ya? Pindah kerja atau di rumah aja?" --> PERTANYAAN KRUSIAL, HATI-HATI JANGAN JUDGE.

Jawaban:

A. Jadi ibu rumah tangga. Saran reaksi: "Wah keren euy, saya mah pasti nggak akan sanggup jadi ibu rumah tangga." --> lanjutkan mengobrol soal anak. Hindari obrolan seputar sayang gelar kuliah, sayang karier, dll. None of your business.

B. Pindah kerja. Saran reaksi: "Oiya jadi apa sekarang? Masih jadi wartawan?" --> lanjutkan mengobrol seputar kerjaan.

(Baca: Dunia Tidak Selebar Daun Kelor, Jangan Gampang Baper!)

Dan yang terakhir ini adalah basi-basi yang tidak akan pernah gagal:

Puji (karena semua orang senang dipuji)

Kalau cewek:

"Lipstiknya bagus banget sihhhhh! Apa itu apa itu?" --> lanjutkan mengobrol soal lipstik yang tidak akan selesai meski sudah berjam-jam lol.

"Alis cetar bangeett. Pake pensil alis apa?" --> lanjutkan mengobrol soal makeup dan beauty guru.

"Tasnya lucu amaaatt? Beli di mana sih? Oh di Bandung? Di mananya?" --> lanjutkan mengobrol soal tas dan tempat beli tas lucu.

Kalau cowok:

"Motornya keren euy. Ini modif sendiri?" --> laki gue bisa ngobrol panjang sama orang nggak dikenal cuma ngomongin motor.

"Weh, sepatunya mantep. Lokal itu?" --> lanjutkan mengobrol soal sepatu.

Apalagi ya kalau cowok? Duh gue nggak ada ide kalau cowok mah. Ya kalian para cowok ngomongin apalah yang bisa membuat jadi obrolan panjang.

Kalau orangnya bawa anak, puji anaknya, ajak obrol anaknya.

"Eh cantik/ganteng kelas berapa sekarang?" --> menurut orangtuanya anak pasti cantik atau ganteng kan.

"Rambutnya bagus yaaa keriting" dan kalau rambutnya lurus "Rambutnya bagus yaaa lurus".

KARENA RAMBUT KERITING DAN LURUS SAMA AJA. Jadi harus sama-sama dipuji.

"Wah topinya Ironman nih, suka Avengers nggak?" --> lanjutkan mengobrol soal film favorit.

Kalau orangnya biasa-biasa aja dan nggak puji-able? 

Jangan maksa muji karena biasanya jadi tambah awkward. Ngomongin apa aja bisa sebenernya, saya mah sampai stroller aja bisa jadi bahan obrolan sama ibu-ibu yang nungguin anak di playground. 

Kalau orangnya nggak suka ngobrol dan hanya jawab sepotong-potong?

Ya udah jangan dipaksa ngobrol. Orang pendiam itu kan ada 2 macam. Satu yang bener-bener tidak suka ngobrol dan yang satu lagi suka ngobrol tapi malu. Yang tipe pertama tidak usah dipaksa, ya kaliii masa maksa-maksa orang. Tipe kedua biasanya beberapa menit juga udah cair.

Intinya sebisa mungkin jangan mengomentari fisik dan rezeki.

Bilang orang kurusan atau gemukan atau iteman atau putihan atau nanya kapan punya anak itu nggak ada manfaatnya sama sekali. Nggak bakal bisa berlanjut obrolan juga. Yang ada malah selamat kamu dapet award sebagai orang nyebelin.

Dan memang pertama kali ketemu orang setelah sekian lama itu pasti ada perasaan awkward kok. Santai aja nanti juga cair sendiri. :)

Semoga berguna yaaa.

See you!

-ast-

(Baca postingan tentang kehidupan lainnya di sini)