Tentang Keputusan yang Mengubah Hidup

on
Wednesday, June 4, 2014
INI CURHAT PANJANG LEBAR. YOU’VE BEEN WARNED. XD

Kaya yang udah saya bilang di postingan ini, Timehop memang bikin mellow. Tepat hari ini 3 tahun yang lalu, saya ternyata lagi pindahan ke Jakarta. Hari ini tepat 3 tahun saya di Jakarta (tapi sekarang lagi di Bandung wtf). Tweet-tweet saya pas pindahan itu cuma berkisar di “bawa sepatu berapa ya?”

Meennn, kekhawatiran yang kalau sekarang mungkin udah nggak akan jadi concern saya sampai harus di-Tweet segala lol. Merunut pada apa yang terjadi 3 tahun terakhir, hari inilah 3 tahun yang lalu, yang mengubah hidup saya.

Sebenernya nggak pas hari ini sih. Beberapa hari yang lalu, tiga tahun yang lalu saat saya iseng nge-Tweet pada bos besar detikcom menawarkan diri untuk jadi wartawan KPop. Malam itu juga beliau minta saya kirim CV. Besok pagi, HRD menelepon meminta datang SIANG ITU JUGA. Atau besok. Saya baru bisa datang besok lah pastinya soalnya dari Bandung ya kan.

Ke Jakarta sendirian untuk pertama kalinya naik travel. Padahal saya paling anti pergi sendirian. Waktu itu supir lagi sibuk anter ayah yang jadi panitia SPMB (ayah saya dosen), pacar saya entah ada apaanlah tumben nggak bisa anter padahal biasanya ke ujung dunia juga dianter lol. Pokoknya dengan saya yang buta Jakarta, naik travel terus naik taksi modal Google Maps, sampai ke kantor detikcom dengan excitement luar biasa. *masih berasa* :’)))

Wawancara dengan redpel dan waredpel detikhot. Salah satu pertanyaannya: sanggup nggak nulis berita 5 sehari? UHWOW, naluri belagu tingkat dewa anak baru lulus dari Jurnalistik Unpad mana terima ditanya begitu. SANGGUPLAH. Padahal di masa yang akan datang alias beberapa bulan kemudian, 5 berita sehari itu berubah jadi 10 berita plus feature plus multiple paging MUAHAHAHHAHAHA. BERAT BRO BERAT.

Mereka minta saya langsung masuk kerja … BESOKNYA. Atulah saya mau tinggal di mana. -_____- Nego nego akhirnya boleh masuk hari Senin (waktu itu hari Rabu). Maksa masuk besoknya karena hari Sabtunya itu ada konser KIMCHI di Jakarta. Tapi saya nyerah, bukannya nggak mau liputan dan nonton gratis, TAPI MAU TINGGAL DI MANA DULU? *tetep*

Setelah itu ke ruangan HRD. Nego gaji dan ttd kontrak. Disuruh tes kesehatan dulu di RS JMC yang cuma sekian ratus meter jalan kaki dari kantor. Udahnya boleh langsung pulang. Dari RS itu saya kembali naik taksi ke travel dan langsung cus lagi ke Bandung. Di travel saya tidur. Baru kebangun di tol Pasteur dan kaget liat notifikasi Twitter di hp ada puluhan! Ternyata gara-gara pak bos besar mention saya di Twitter dan nanya bisa masuk kerja kapan. Waaaaa! Hampir semua teman saya follow beliau dan memberi selamat. *berbinar-binar*

ITU. MOMEN ITU. Yang ternyata mengubah hidup saya selamanya. Dari satu Tweet berujung pekerjaan baru, tempat tinggal baru, dan kehidupan baru. Ayah saya dulu sempat nggak setuju saya kerja di Jakarta. Terutama karena gajinya nggak seberapa. Habis buat kost dan pulang ke Bandung. Mana bisa nabung. Tapi toh saya ngotot karena jadi reporter K-Pop itu bener-bener kesempatan sekali seumur hidup.

Saya anaknya manja. Di Bandung selain ke kampus, ke mana-mana dianter-jemput ayah/supir/pacar. Tapi nekat hidup di Jakarta sendiri. LDR sama pacar saya waktu itu. Padahal saya anaknya paling nggak bisa kalau nggak ada pacar. Kok bisa sukses ya bahagia tinggal di Jakarta? Ya putus dong sama pacarnya muahahahaha.

Abisan capek kan bela-belain tiap weekend harus pulang ke Bandung. Sampai Bandung maunya tidur gitu setelah semingguan kerja rodi kan eh si pacar udah nongkrong aja di rumah. Ya pokoknya perlahan pemikiran dan dunia saya berubah dan meluas *alah*. Beruntung, geng saya waktu SMA semuanya udah pada kerja dan hampir semua di Jakarta. Jadi bullshit lah saya di Jakarta kesepian, nongkrong mulu kerjaannya. Hahahaha. Bayangin aja baru pulang kantor jam 7, nongkrong sampai tengah malem, besoknya kerja lagi kaya biasa. Kadang kalau ada momen (misal ada yang abis putus), nongkrongnya bisa sampai jam 3 pagi. Kuat banget ya. -_____-

Dan kerja di media online itu RIBET luar biasa. SYIBUK. Tapi di umur saya waktu itu (22 tahun) rasanya seru banget! Biasalah anak muda lol. Dulu konser KPop belum sering di Jakarta jadi sepanjang 2011 itu sebulan sekali saya ke Singapura buat liputan konser. Malah pernah extend karena hari konsernya mepet sama premier Harry Potter. Ituloh waktu Indonesia kampungan, membatasi masuknya film Hollywood jadi Harry Potter di sini telat tayang. Jadi saya disuruh nonton di Singapur dan bikin review. Pertama kalinya nonton bioskop di negara orang, filmnya Bahasa Inggris subtitlenya Bahasa China lol. Untung saya ngefans sama Harry Potter meskipun rasanya sedih banget nonton bioskop sendirian. Aku seperti benar-benar orang asing. :p

Terus punya pacar baru yang sepemikiran hampir di semua aspek kehidupan. Pacar yang maksa saya nulis buku “Oppa Oppa”. Dua tahun kerja jadi kasta terendah dan tersibuk (baca: reporter) di detikcom saya dapet tawaran jadi editor di The Jakarta Post Digital. Pindah kerja. Pindah kost dari Mampang yang serba deket ke mana-mana jadi ke daerah Palmerah. Nikah. Ngontrak rumah makin ke area Barat ninggalin Jakarta Selatan yang glamour wtf. Nongkrong berganti jadi belanja bulanan ke Carrefour. Duit jajan berganti jadi tabungan masa depan.

Dan inilah saya sekarang. Duduk sila di kasur di rumah Bandung sendirian. Perut udah kontraksi terus tapi belum teratur. Beberapa menit sekali bujukin Bebe biar lahir dong cepet-cepet, ibunya udah nggak sabar pengen ketemu. Temen-temen saya yang dulu nongkrong bareng juga semuanya udah nikah. Tiga di antaranya udah punya bayi.

Fyuh. Cuma dalam 3 tahun. Banyak sekali yang berubah. Tapi satu hal, perubahan yang luar biasa banyak itu karena saya memutuskan pindah ke Jakarta.

Kalau nggak di Jakarta saya nggak akan nonton konser K-Pop sebulan sekali. Nggak akan pernah nulis buku tentang pengalaman itu. Bahkan mungkin saya sekarang belum nikah apalagi hamil. Entah apa pekerjaan saya sekarang kalau waktu itu saya nurut ayah dan tetep tinggal di Bandung. Betapa satu keputusan bisa mengubah hidup selamanya.

Kamu gimana? Ada keputusan besar dalam hidup yang ternyata mengubah hidup selamanya?

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

8 comments on "Tentang Keputusan yang Mengubah Hidup"
  1. Keputusan besarnya tetap berjiwa besar dan sabar setelah diputusin (Malam hari, 8 September 2011). Saat kondisinya baru beres wisuda, harus cari kerjaan dan pengangguran. Tapi akhirnya dapet kesempatan bisa kerja di luar (sambil move on) dan sekarang bisa pergi keliling Indonesia dengan kerjaan baru.

    Keputusan yang berat untuk diterima, yakin dibalik itu semua ada hal indah.
    Cerita tentang hidup seseorang ga selalu sesuai dengan yang direncanakan. Pasti ada perubahan. Yang penting sih bahagia, iya ga? ahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha emang susah yah move on dari aku. tapi iya, yang penting bahagia.. mau apa hidup kalau ga bahagia sih.. :'))

      Delete
  2. keputusan terbesar aku malah kembali ke bandung dan memutuskan untuk tetap di bandung sampe skr. pas mungkin temen2 udah jadi apa gitu di perusahaan telekomunikasi, saya masih "cinta" banget sama kampus gajah.

    btw... semoga bebe segera siap buat ketemu orangtuanya ya.. :D

    ReplyDelete
  3. bebe udah lahiiirrr *baru sempet bales komen* lol

    ReplyDelete
  4. jadi kasta terendah dan tersibuk (baca: reporter). Aku lg di fase ini nih teh, hahahaa *kretekin punggung*

    ReplyDelete
  5. Waaaah, nice story, Ka! Inspiratif sekali kisahnya buat saya anak kuliah semester tanggung yang masih ga diijinin kemana2 sendiri sama orang tua. *tunjukin postingan ini ke mama*

    Salam kenal, Ka Icha! :D

    ReplyDelete
  6. Wah baru baca tulisannya kak. Keren. Sukses terus kak icha :)

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)