-->

Image Slider

Semangkuk untuk Selamanya

on
Tuesday, August 20, 2019
[SPONSORED POST]

Wah judulnya puitis. :’))))

Setelah punya anak hampir 5 tahun, baru beberapa bulan terakhir saya baru sadar tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan anak. Kenapa kok tiba-tiba kepikiran?

Soalnya dulu Bebe alhamdulillah nggak ada masalah. Berat badan selalu naik dan masih nggak pernah di bawah garis normal alias tetap chubby sampai sekarang. Tentu credit utama pasti pada daycare ya karena dulu kalau makan sama saya di rumah sih susahnya ampun-ampunan.


Sekarang jadi kepikiran karena baru ada anak temen yang berat badannya stuck dari umur 9-12 bulan di 6 kilogram! Dulu Bebe umur sebulan aja berat badannya 5 kg loh. Bayangin masa anak umur setahun cuma 6 kg sih. T_____T

Setelah diusut lebih lanjut dan ganti dokter anak, ternyata si anak infeksi saluran kencing (ISK) tanpa gejala apapun. Ibunya yang nggak ngeh lah itu anak ISK karena nggak pernah demam sama sekali. Jadi tubuhnya ngelawan bakteri terus makanya nggak tumbuh selama 3 bulan! Nafsu makan juga jadinya ilang, sekali makan cuma 5 suap, gizi dan nutrisinya pun nggak tercukupi.

Singkat cerita, ISK-nya disembuhin, kejar berat badan pakai susu khusus, dan dalam sebulan beratnya naik 1,2 kg. Sekarang masih dalam proses naikin lagi pakai susu 2 jam sekali. Masukin susunya lewat selang yang masuk dari hidung langsung ke lambung.

Sebagai tukang sharing, saya pun cerita ini di IG story dan disambut cerita ibu-ibu via DM. Ternyata selain ISK, menurut para ibu, kebanyakan berat badan anak stuck itu karena Anemia Defisiensi Besi (ADB). Sebanyak ituuuhhh yang anaknya ADB jadi kurus!



Kalau secara fisik keliatan kurus dan ditimbang pun udah nggak sesuai kurva KMS sih harusnya alert ya. Apalagi di 2 tahun pertama. Karena itu tadi, 1000 hari pertama kehidupan itu penting banget!

Pada saat itu semuanya berkembang. Dari kemampuan motorik, sensorik, sampai otaknya. Kalau 1000 hari pertama gagal, kemampuannya akan terganggu. Jadi makanan yang dimakan di 1000 hari pertama setelah ASI itu berpengaruh selamanya lho!

Langsung flashback ke masa-masa MPASI Bebe dulu yang rasanya berat banget ahahahaha. Weekdays sih aman karena Bebe makan di daycare tapi weekend itu saya jadi tertekan karena di masa itu mom shaming sedang jaya-jayanya. Sedikit sekali, malah mungkin nggak ada, yang berani bilang “anakku sufor” karena udah pasti diserang.

Saya yang nggak pedulian ini bukan sekali jadi korban “bully” ibu-ibu di socmed karena meski ngasih ASI 3 tahun, saya selalu ngebelain ibu-ibu yang kasih susu formula dan nggak ngotot MPASI HARUS homemade.

Orang kan punya kondisi masing-masing ya, hal-hal kaya gini nggak bisa dipaksakan untuk semua ibu karena semua juga pilihan.

Plus sih alasannya kewarasan. Yang penting ibu waras ya kan, sufor atau harus MPASI instan nggak masalah daripada ibunya stres, depresi, dan menghadapi anak sambil gila? Kan lebih nggak masuk akal.

Jadi saya sama sekali nggak anti MPASI instan. Malah emang selalu punya stok bubur instan karena ya ampunnn udah masak capek-capek seringnya juga nggak dimakan. HUHU.

Tapi semakin banyak ilmu yang didapat saya baru sadar kalau urusan MPASI itu kompleks banget ya. Apalagi setelah denger soal ADB yang justru banyak dialami oleh bayi ASI. Untung mom-shaming udah nggak musim lagi.

Gini deh, menurut IDAI, mulai 6 bulan bayi punya kebutuhan asupan zat besi 11 mg/hari. ASI hanya bisa ngasih zat besi sekitar 2 mg sisanya harus didapatkan dari MPASI. Nah ngitung kekurangannya gimana? Jadi kurang 9 mg kan yaaa.

Nah 9 gramnya itu bisa didapat dari (salah satunya) daging sapi 400 gram sehari. BANYAK BANGET KAN. Gimana coba caranya masukin daging sapi 400 gram ke tubuh anak *langsung kebayang steak*



Iya dong bisa dicampur sayuran juga sih bener. Sumber zat besi itu kan dari protein hewani seperti daging sapi, hati ayam, daging ayam, ikan, atau dari sumber nabati seperti sayuran berwarna hijau, kacang, telur, dan lain sebagainya.

Nah jadi MPASI homemade lebih baik dari MPASI instan/fortifikasi KALAU ibu mengerti benar tentang bagaimana takaran nutrisi yang dibutuhkan anak. MPASI rumah tentu lebih baik asalkan adekuat atau mencukupi kebutuhan gizi dan nutrisi bayi.

Kalau ternyata MPASI full homemade terus dalam sebulan berat badan anak nggak naik kan berarti ada yang salah. Bisa dari cara mengolah MPASI-nya, bisa juga karena ternyata anak ada masalah kesehatan lain.

Atau ya di-combine ajaaa. Kaya saya dulu. Kalau weekdays MPASI homemade tanpa gula garam sampai umur setahun. Kalau weekend MPASI instan to the rescue! Simpel dan nggak stres karena udah masak lama-lama terus anaknya nggak mau makan.

Lagian ya, MPASI instan juga bikinnya nggak asal-asalan atuh. Aman-aman aja asal anak beneran udah di atas usia 6 bulan. Karena semua produk makanan bayi yang dijual harus ikut standardisasi WHO dan FAO yang semuanya tertuang dalam Codex Alimentarius. (namanya rada Harry Potter vibes ya lol).

Aturan ini melarang makanan bayi untuk pakai berbagai zat yang berbahaya bagi anak. Bahkan detail banget sampai ada aturan maksimum untuk setiap nilai gizinya lho!

Saya udah cek satu-satu untuk bagian baby food. Kalian kalau mau cek sendiri juga boleh, FAO publish semua di website resminya. Kalau nggak nurut standar ini udah pasti nggak dapet izin jual dari BPOM.

Yang mau coba MPASI fortifikasi dan jelas kandungan gizinya bisa coba CERELAC (www.mamamyuk.co.id). Udah pasti kualitasnya terjamin dan yang diperkaya dengan zink, vitamin dan mineral untuk mendukung tumbuh kembang anak. Nutrisi harian anak pun pasti terpenuhi.



Jadi anak makan itu bukan asal kenyang! Bukan asal mau makan. MPASI yang baik itu adalah MPASI yang diberikan saat anak sudah berusia 6 bulan (atau sesuai petunjuk dokter), nutrisinya cukup, aman, diberikan dengan cara yang benar, dan disukai bayi.

Cara memberikannya pun dengan responsive feeding atau mengenali saat bayi lapar dan kenyang. Kalau bayi memasukkan tangan ke mulut dan berbinar melihat makanan, maka ia lapar. Kalau bayi sudah memalingkan muka dan menolak sendok makan, tandanya ia kenyang.



Jadi nggak perlu khawatir lagi mempersiapkan MPASI. Share artikel ini ke temen/saudara/adik kalian yang lagi siapin MPASI untuk anaknya ya!

-ast-

#Tenangajabunda
#CERELACmamamyuk

#mpasi
#mpasi6bulan


Info lebih lanjut bisa visit: www.mamamyuk.co.id

Source:
http://gizi.depkes.go.id/download/kebijakan%20gizi/tabel%20akg.pdf
http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pastikan-bayi-anda-cukup-zat-besi







LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Bebe ke Dokter Mata (1)

on
Tuesday, August 13, 2019
Saya cerita dari awal yaaa. Karena ini penting jadi harus ditulis di blog biar cari dan baca ulangnya gampang.



Berawal dari kacamata saya yang udah kerasa kurang enak. Memang terakhir ganti 2 tahun lalu sih, dan kenaikan minus saya juga udah lambat sekali. Tapi seperti biasa yaaa, kalau urusan dokter tapi nggak urgent jadinya kan dinanti-nanti aja.

Sampai untuk pertama kalinya kami makan di kaki lima. Iyaaa, lima tahun sama Bebe, baru pertama kali makan di kaki lima sama Bebe. Bukan sombong tapi lelah banget di kaki lima itu banyak orang ngerokok jadi kami sebisa mungkin menghindar. Kalau berdua JG sih masih bener makan di kaki lima. BU VESTI BARITO FTW! LOL

Nah, si Bebe jadinya excited banget tuh. Oiya btw kami makan di Roti Bakar Eddy yang memang banyak banget tukang jualannya.

Dia bacain satu-satu nama makanan yang dijual sampai semua udah dia baca. Saya dan JG lihat sekeliling dan lihat sebuah tulisan “toilet”. Kecil sih tulisannya, setengah A4 dengan spidol biasa. Jaraknya paling 10 meter tapi Bebe keliatan bingung, dia nggak bisa baca! Tapi kami yang jelas sudah dibantu kacamata kan bisa!

Dia sampai “Apaan sih? Mana sih?” dan mendekat ke arah tulisan itu lalu dengan santainya baca lalu melengos “OH TOILET”. Saya dan JG liat-liatan lalu ok detik itu juga bikin janji ke dokter mata zzz.

Dapet reservasi hari Sabtu, eh last minute dokternya cancel. Saya reschedule jadi hari Senin malam. Kami ketemu dengan dr. Mario Ricardo Papilaya, Sp.M karena cuma beliau dokter mata yang praktik di RS Siloam Asri.

Awalnya saya dulu yang diperiksa. Ternyata yang minusnya naik mata kanan doang, naik setengah. Ya udalah yaaa. Ngobrol-ngobrol soal lasik karena saya udah pengen banget lasik tapi lagi nabung dulu. DOAKAN, GENGS!

Setelah itu Bebe yang diperiksa. Awalnya pakai komputer dan agak susah karena dia gerak-gerak terus. Saya pangku, pegang kepalanya, baru berhasil. Di sini dokternya udah bilang “wahhh ini sih genetik ini, turunan ibunya”.



Saya nervous lol. Takut jreng-jreng minus 3 kan nangessss. :(

Lalu Bebe diperiksa manual pakai kacamata yang kaya robot itu. Pertama pake dia kaya takutttt banget, nggak mau jawab dong. MEMBISU PEMIRSAAHHHH. Saya pegang tangannya lalu bilang “salah juga nggak apa-apa kok, nggak perlu dibaca kok, sebut hurufnya aja”. Dia lalu pegang tangan saya kenceng banget dan sebut hurufnya satu-satu.

Setiap dia salah sebut huruf saya kaya: AAAAKKK SEMAKIN DEKAT MENUJU KACAMATAAAAA!

Tapi di depan Bebe stay cool dong yah. Dokternya juga puja-pujinya persis ibu dan appa banget. Kalau salah tapi minor kaya V atau Y gitu “aahhh nggak apa-apalah salah satu” atau “ya bolehlahhh” gitu. Plus ibu puja-puji “WEH BENER! IH JAGOAN!” GITU TEROSSS. Sampai akhirnya dia lebih santai dan bisa ditanya dengan lebih nyaman.

(Btw dokternya bener nebak nama si Bebe dari Coldplay’s Mylo Xyloto dan suka nonton Ryan serta menganggap mommy Ryan annoying sumpah ngakak karena saya sering banget mengeluhkan betapa annoyingnya mommy Ryan ke JG LOL)

Setelah ganti lensa beberapa kali, Bebe bilang paling nyaman pake lensa kiri 1,25 dan kanan 1. Yesss, kiri -1.25 dan kanan -1. Tapi diresepin kacamatanya kanan kiri -1. PASTI KEBANYAKAN MAIN GADGET YA? *julid lol*

Ini saya jawab pertanyaan yang saya tanyakan ke dokternya kemarin ya!

Apa penyebab mata minus pada anak-anak?
*wow pertanyaan wawancara, mbaknya wartawan ya lol*

Ya genetik. Kata dokternya, genetik itu faktor risiko paling besar anak akan punya mata minus/plus/silindris. Katanya kalau secara genetis baik, mau baca sambil gelap atau tiduran pun nggak akan bikin mata minus karena mata yang sehat bisa menyesuaikan cahaya atau posisi tubuh. Wah, menarik ya!

Pantesaaannn dulu pas SD ada temen-temen saya yang sengaja nonton TV deket, baca dalam gelap, saking pengen pake kacamata tapi matanya tak kunjung minus. It’s a matter of luck aja ternyata. HUH. Kalau ayah ibunya nggak minus ya nggak minus. Lebih sulit minus lah paling nggak.

Genetis itu gimana sih? Apanya yang diturunkan?

Yang dimaksud genetis di sini ternyata bentuk dan ukuran mata. Baru tau banget! Jadi bola mata saya dan Bebe ukurannya lebih besar dari orang yang matanya tidak minus sehingga ya cahaya jatuhnya nggak sempurna. Saya juga tadi denger pengalaman followers di Instagram yang anaknya minus 4 di umur 3 tahun karena bawaan lahir bola matanya nggak bulet sempurna tapi cenderung lonjong.

Ada juga yang lazy eyes sehingga matanya juling. Jadi orang-orang yang matanya juling itu bisa jadi karena lazy eyes sehingga mata yang baik akan dipakai terus sementara mata yang “malas” malah jadi tidak terlatih untuk melihat dengan tepat. Jadinya sipit sebelah atau juling dan harus diterapi.

*HOLA HELO kalau kalian dokter spesialis mata dan merasa penjelasan ini aneh tolong kasih tahu yang benernya ya. Kemarin saya nggak niat nulis soalnya jadi takut penjelasannya salah. Biasanya kalau niat nulis omongan dokternya sambil saya transkrip haha.*

Apa harus pakai kacamata?

Sebaiknya pakai biar pertumbuhan syaraf matanya tetap sesuai perkembangan. Kalau nggak pake, anak nggak akan tahu cara melihat objek dengan jelas dan akan menganggap objek blur sebagai sesuatu yang wajar.

Jadi sebaiknya pakai aja terutama saat melakukan sesuatu dengan dekat seperti nonton, baca, atau tulis. Naturally, anak biasanya malah mau pake kacamata terus kalau udah tahu pakai kacamata bisa bikin penglihatan jadi lebih nyaman.

Apa tesnya akurat? Umur berapa bisa tes mata?

Kalau untuk seumuran Bebe yang udah bisa baca, periksa di spesialis mata seharusnya akurat sih. Yang susah kalau anaknya belum bisa baca, itu periksanya harus di dokter mata pediatrik alias dokter spesialis mata subspesialis anak. Mereka akan punya alat khusus, nggak dites pake huruf gituuu. Mulai bisa dites di umur 3 tahun kok. Jadi lewat 3 tahun selama belum bisa baca, cari dokter spesialis mata anak, kalau udah bisa baca bisa ke spesialis mata umum.

Saya jadi terinspirasi pengen ke dokter mata anak untuk bisa lebih spesifik aja sih. Kepo banget pengen tau alat untuk tes mata anak gimana. Minggu ini deh semoga bisa ke dokter spesialis mata anak.


Seberapa sering sih harus periksa mata?

Enam bulan sekali sampai setahun sekali. Tergantung kondisi anaknya juga, kalau 6 bulan udah ngeluh nggak enak ya nggak apa-apa ke dokter mata lagi. Tapi setahun sekali mending diperiksain aja biar yakin.

Ok moving on to my feeling *HALAH*. Sedih nggak Bebe harus pakai kacamata?

Saya nggak kaget-kaget amat sih denger ini, sedih juga nggak terlalu ya. Karena merasa ya udah sih genetis mau apa juga. Saya sendiri pakai kacamata di umur 10 (apa 11 tahun, pokoknya masih SD) dan itu baru ketauan langsung minus 2,5. :))))

Bebe sekarang umur 5 tahun minus 1, dulu saya umur 10 tahun minus 2,5 kan jadinya ya merasa ini sebuah kewajaran aja. Mungkin saya juga kalau periksa matanya di umur 5 tahun, minusnya akan sudah 1 juga kaya Bebe. Saya tanya JG “kamu sedih nggak?” dia jawab “nggak lah”.

Oh baik. Saya juga jadi nggak merasa harus sedih atau kasian.

Tapi kalau JG sedih mungkin saya jadi ngerasa bersalah ahahahahaha. Untunglah tidak. Mungkin juga karena Bebe juga anaknya cenderung kalem dan nggak clumsy ya jadi sayanya nggak khawatir berlebihan. Dia pasti akan baik-baik aja meski harus pakai kacamata.

Si Bebe juga malah happy dong ya ampun bocyaahhhh. Dia senang sekali karena dia merasa tidak left out lagi dan bisa kompakan pakai kacamata bersama kami bertiga.

Dan terima kasih yang udah message banyak banget di Instagram. Yang cerita kalau anak/ponakan/sodara mereka juga masih kecil udah pakai kacamata dengan berbagai kondisi. Saya jadi ngerasa ada temennya. Jadi pengingat untuk diri sendiri biar nggak judgmental pada anak yang pakai kacamata karena monmaap nih si Bebe nonton weekend doang juga kalau minus mah minus aja.

Jadi demikian pengalaman periksa mata anak bersama Bebe. Nanti abis dari dokter spesialis mata anak saya update di blogpost berikutnya ok!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Bebe 5 Tahun 2 Bulan

on
Monday, August 12, 2019
Wow usia yang sangat nanggung untuk update milestone ya!



Tapi pengen banget nulis karena lewat usia 5 tahun, banyak banget yang terjadi. Baru ada di titik ihhh enak banget punya anak kalau anaknya langsung 5 tahun kaya gini hahahaha.

Padahal mungkin beda cerita ya kalau saya adopsi anak umur 5 tahun. Karena saya baru ngeliat nih, oh Bebe kaya gini tuh karena dari kecil memang dibiasakan seperti ini. Ada habit, apresiasi, disiplin, dan hal-hal lain yang memang kami tanamkan sejak kecil lalu kerasa sekarang bedanya saat dia udah 100% punya keinginan sendiri.

Dari taro sepatu di rak sampai beresin mainan. Kalau numpahin sesuatu, nggak perlu disuruh lap aja dia langsung lap sendiri. Pakai strap car seat aja udah sendiri. Selalu disiplin pada hal-hal seperti sikat gigi, minta maaf, minta tolong, tolak plastik, apalah banyak lagi. Hal-hal yang dulu rasanya kita “ngajarin” dia, sekarang udah dia lakuin sendiri dengan sukarela.

IBU TERHARU LOL.

Nah, selain sunat, apalagi milestone Bebe di batas usia balitanya ini?

Bisa baca

Kata orang “udahhh nanti juga bisa sendiri” gitu. Terus tau-tau bener dong huhuhuhuhuu. Di sekolah, belajar bacanya nggak kaya kita dulu dikenalin huruf lalu disuruh eja ya. Macem-macem deh metodenya, pake matching flash card, disuruh menjahit biar tangannya lemes untuk nulis, dll.

Yang ajaib adalah suatu malam, abis mandi, dia bilang mau baca. TERUS BISAAAA. Ibu heboh dong video-video. Abis itu pake pesan “ibu, jangan bilang miss ya, it’s a secret”. Muka ibu -_________- karena suudzon dih pasti biar di sekolah nggak disuruh baca gitu.

Pas banget minggu itu adalah bagi rapot 3 bulanan di sekolah. Ketemu dong sama missnya, dengan hati-hati takut Bebe denger saya bilang miss “miss, Xylo itu udah bisa baca lho tapi katanya nggak boleh bilang miss”. APA JAWABAN GURUNYA?

“Udah lama kok bu, bisanya. Di sini baca terus kok.”

IH BEBE IH MAUNYA APA SIH. :(

(Baca: Bebe Belajar Baca

Cium

Waktu umur 4 tahun, Bebe pernah saya tanya: Mau cium ibu sampai umur berapa? Karena umurnya 4, dia jawab asal “40 tahun!”. Terus saya ceritain juga, tau nggak sih anak-anak SD sama SMP gitu biasanya suka nggak mau dicium ibunya lagi. Bebe dengan yakin 100% jawab “AKU MAU KOKKKK!”.

Setahun kemudian. UDAH NGGAK MAU DONG. :((((

Bebe: “Aku tuh malu ibu, kalau dicium di depan temen-temen”

Ibu: “Kenapa malu? Memang kamu dibilang baby atau apa sama temen-temen?”

Bebe: “Nggak sih, tapi aku malu aja”

Ibu: “Kalau ibu cium appa depan temen-temen kamu malu nggak?”

Bebe: “Nggak. Asal jangan cium aku”



WEH, TEGAS. Dicium di depan umum hingga usia 40 tahun itu jadi harapan belaka ternyata lol.

Mau makan sayur

Kalian yang bilang ibu bapaknya harus makan sayur juga lebih baik diem aja karena 5 tahun saya dan JG makan sayur terus depan dia, dia teguh pendirian kok kalau dia nggak mau makan sayur.

Tiba-tiba di umur 5 tahun ini jadi mau aja gitu makan sayur? Apa yang terjadi? Apa dia dihipnotis?

Sampai bilang “ibu liat deh di cctv, aku tuh makan sayurnya habis terus lho sekarang”. Mejik. Ya ibu nggak liat di cctv juga sih pada akhirnya karena mau liat juga manalah keliatan itu piring isinya sayur apa bukan. Akhirnya ibu bilang “ah nggak perlulah ibu liat cctv, kalau kamu bilang sayurmu habis aku percaya kok”.


Padahal terheran-heran apakah selama ini dia suka sayur tapi termakan ego sendiri yang selalu bilang “aku nggak suka sayur?” lol.

Bahasa Inggris udah lancar

LANCAR BANGET ALHAMDULILLAH! Ada sedikit kekhawatiran sebetulnya karena dia kan nggak dibiasakan dari bayi banget. Baru mulai di umur 3 tahunan gitu kan, saya mikir duh bakal bisa nggak ya dia karena katanya kan harus dari bayi biar cepet bisa. Taunya bisa-bisa aja kokkk.

Cuma dia emang nggak mau ngomong lamaaa banget. Ngambek-ngambek terus lamaaaa banget. Sekarang udah nggak ngambek lagi karena merasa bisa.

Lancar sampai satu kalimat utuh, ngobrol malem sebelum tidur full pake bahasa Inggris juga. Main tebak-tebakan pakai bahasa Inggris bisa. Udah mau ngobrol bahasa Inggris sama orang lain. Seneng bangeeettt. Bebe tipenya gitu ternyata, kalau merasa belum bisa dia berusaha dulu sampai agak-agak bisa. Baru deh mau coba.

Karena kan awalnya mau masukin dia TK lain tuh, nggak akan TK di daycare. Pertimbangannya karena daycare bahasa Indonesia, kami pengen TK bahasa Inggris karena SD dia nanti akan full Inggris (nggak bilingual). Tapi nggak rela juga kehilangan Rp 17juta untuk uang muka TK yang hanya 2 tahun. Akhirnya kami bertahan di daycare tapi di rumah biasain pakai bahasa Inggris.

IT WORKS. Yuk, kalian yang mau anaknya lancar Inggris, dibiasain di rumah cusss!

(Baca: Bebe dan Bahasa Inggris)

Nginep sendiri

Ini momen terharu dan disadarkan ih anakku udah besar. ENAK YA BISA DISURUH NGINEP LOL. Hari Jumat itu kami ke Lotte, eh nggak sengaja ketemu adik saya dan suaminya. Terus Bebe bilang mau nginep dong!

Ya udah sana nginep. Bermodal piyama bekas tidur siang di daycare, bye aja gitu kami berdua pulang ke rumah. Buat kalian yang pakai nanny atau satu kota sama orangtua, mertua, atau saudara lain yang akrab, ini pasti hal biasa. Seperti saya saat kecil yang emang udah suka nginep di rumah nenek sejak balita.

Kalau Bebe (dan mungkin anak yang di daycare sejak bayi), kami nggak pernah banget berpisah sama Bebe. Kecuali saya liburan atau liputan hahahaha. Karena Bebe ngerasa asing gitu kalau nggak tidur di rumah, jadi emang digembol ke mana-mana.

Sukses lho. Dia senang sekali dan malah nagih-nagih kapan nginep lagi. Seneng aja sih ibu dan appa, mau nonton konser September nanti hahahaha. Di Bandung doang padahal tapi pasti sampai tengah malem kan jadi yah, bersyukur banget dia udah bisa tidur tanpa ibu dan appa.

APALAGI YA. Ingetnya baru segini doang. Doanya masih sama: Semoga Bebe keterima SD incaran ya!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Kenapa Ortu Zaman Dulu Anaknya Banyak

on
Monday, August 5, 2019
Kemarin, di Instagramnya mba Windi ada yang komen kaya gini (ini saya copas):

Mb klo pertimbangan nya biaya okelah sudah banyak jg blogger atau selebgram yg bahas. Tapi kalau data pertimbangan apa aja slain keuangan knp nambah anak orgtua jaman kita dlu, belum ada datanya sih ini. Penasaran. Mgkn bs dikumpulkan datanya via story mba, knp orgtua jaman dlu anaknya lebih dari 1 (selain pertimbangan finansial). Terimakasih mb windi.

Waktu baca pertama kali sebenernya rolling eyes banget karena ya Tuhanku kenapakah kepo sama orang mau anaknya berapa? Nggak ada orang yang sekepo itu sampai mau riset kenapa orang zaman dulu punya anak banyak. Terus saya juga kesel karena KENAPA ATUH HARUS SAMA KAYA ORTU ZAMAN DULU?


Saya nggak suka lho disama-samain sama siapapun terutama hal yang udah terjadi di masa lalu. Kesel banget kalau ada yang bilang “halah dulu juga blablabla”. YA KAN DULU, BOS.

Nggak relevan sama sekali. Jangankan sama 25 atau 50 tahun lalu saat ibu saya dan nenek saya jadi ibu, sama 10 tahun lalu aja parenting itu udah bisa beda sekali pendekatannya. Jadi move on lah, jangan mau disama-samain.

Lagian kalau orangtua zaman dulu ditanya kenapa anaknya banyak, jawabannya akan seragam dan membosankan: Banyak anak banyak rezeki.

via GIPHY

Bisa-bisanya ya sepakat padahal nggak ada socmed atau influencer yang campaign “banyak anak banyak rezeki” kan zaman dulu itu lol.

Nah, tapi setelah mati listrik hampir 6 jam diikuti dengan internet juga hilang, saya jadi bisa merumuskan jawaban dari pertanyaan kenapa orangtua zaman dulu anaknya banyak dengan lebih jernih. Iya selama mati listrik saya malah mikir coba. Sampai ditanya JG “kok bengong?” saya jawab “iya lagi mikirin orangtua zaman dulu” HAHAHAHAHA.

Mati listrik 6 jam kami ngapain aja? Makan di MM Juice. :)))) Iya random banget, padahal maunya makan Ling Ling tapi mereka nggak punya genset jadi nggak bisa buka. Kasian yaahhh. Rugi berapa coba padahal rame banget. Ya udah melipir ke sebelahnya deh, nongkrong di MM Juice yang dingin.

Lalu kami pulang, tidur siang sampai jam 5an lalu keringetan banget astaga mati gaya. Bebe sama JG main Lego sampai di luar udah gelap banget dan akhirnya kami memutuskan untuk ke mall terdekat yaitu tempat di mana semua rakyat Jaktim, Bekasi, dan Jaksel mepet Jaktim bersatu … KOKAS.

Makan Nama Sushi sambil panas banget gilaaa. AC apa adanya dari genset dipadu dengan keramaian gitu ya lepeklah. Tapi kami bertahan makan sushi karena mikirin di rumah lebih sedih lagi sih hahahaha. Saya nggak relate sama yang bilang "bisa quality time sama keluarga karena gelap" karena kasian amaaattt mau quality time tanpa gadget aja harus nunggu listriknya dimatiin PLN dulu HAHAHAHA.

Sampai rumah yay listrik udah nyala! Kembali ke masa kini!

Jadi setelah merenungi nasib mati listrik sekian kali itu, ini hasil saya berpikir (yang padahal nothing new juga idenya lol) lebih jelas aja biar pada bersyukur hidup di zaman sekarang HAHA.

Nggak ada hiburan

Sex is an instinct, cenah. Kemarin di diskusi film Dua Garis Biru, Gina S. Noer ditanya apa seks pranikah ini juga terjadi di luar Jakarta?

Kalau Jakarta kan seks pranikah dianggap anak-anaknya terlalu gaul kebarat-baratan ya alias terlalu terpengaruh budaya barat. Nah, kalau di luar Jakarta kok pada seks pranikah juga? Kok angka kehamilannya tinggi juga?

Jawabannya karena listrik di luar Jawa itu nggak stabil. Kalau listrik nggak stabil, internet apa adanya, APA LAGI COBA HIBURAN MEREKA?

Balik ke 50 tahun lalu, apalagi coba hiburan orangtua zaman dulu? Mati gaya banget nggak sih. Apalagi bagi kaum ekstrovert seperti kami-kami ini, dikasih 6 jam bengong tanpa listrik tanpa internet langsung melarikan diri ke mall. Daripada hamil? GAHAHAHAHAHAHHAHA.

Informasi sulit dicari

Ini penting banget sih. Dulu ya, keluarga saya mengalami langganan dua koran: Kompas dan Pikiran Rakyat plus langganan majalah Bobo, Gadis, dan tabloid Nova. Dan ibu saya sesekali masih beli majalah Kartini.

Yang namanya majalah atau koran, seberapa banyak sih share pengalaman orang yang bisa relate sama kita? Paling vox pop gitu kan di satu rubrik. Sisanya justru cerita public figure. Informasi harus dijemput dan susah sekali aksesnya. Informasi itu kemewahan.

Sekarang informasi bukan lagi barang mewah, malah kita yang terus menerus digempur informasi. Dari berbagi informasi inilah kita tahu bahwa anak banyak itu bukan untuk semua orang ahahahahahaha.

Zaman dulu mana tauuu. Lha ketemu ibu-ibu lain aja mentok pas posyandu atau imunisasi kan. Makanya KB harus dikampanyekan pemerintah karena kalau nggak begitu, orang cuek aja anaknya banyak padahal nggak mampu-mampu amat. (EH ADUH)

Keterbukaan informasi ini punya peran penting sih menurut saya dengan ortu-ortu millennials yang jadi mikir sekian kali untuk punya anak karena didiknya kok susah ya? Belajar parenting kok kaya nggak selesai-selesai ya? Dulu seberapa banyak sih orang belajar parenting?

Parenting by instinct juga aja kan segala-galanya padahal nggak semuanya nature loh, ada juga yang nurture and how we nurture our kids kan sebaiknya dipelajari karena memang ada teorinya, ada risetnya, ada alasan scientific di baliknya. *HALAH

(Baca: Parenting Memang Tidak Butuh Teori?)

Lanjut ke poin berikutnya.

Mental health belum jadi isu penting

Dari keterbukaan informasi kita jadi tahu cerita ibu-ibu yang stres karena anaknya banyak atau berdekatan. Lalu jadi sadar duh kayanya nggak mampu deh kaya gitu lol.

Ini bisa terjadi karena kita udah semakin sadar dengan pentingnya kesehatan mental. Baik kesehatan mental ibu maupun anaknya. Dulu mana ada yang peduli sih. Sibling rivalry yang padahal bisa jadi dendam seumur hidup aja cuma diremehkan dengan “alah namanya juga adik kakak”.

Almarhum nenek saya pernah cerita betapa capeknya punya anak banyak dengan usia yang berdekatan. Satu cerita yang saya inget, nenek harus nganter anak sekolah dengan gandeng anak kedua dan gendong anak ketiga. Capek katanya.

Bayangin nenek saya baru bisa “ngeluh” kaya gitu lebih dari 50 tahun kemudian! Dulu meski secapek apapun ya jalani aja karena nggak tau kalau itu nggak wajar, nggak tau kalau dia juga punya hak istirahat meski punya anak, nggak ngerti kalau punya anak itu artinya nggak mengabaikan diri kita sendiri sebagai individu.

Sekarang kan kita lebih baik anak sedikit tapi full quality time sama anak. Bisa kasih mereka sisi kita yang terbaik dan melakukan conscious parenting atau parenting dengan kondisi sadar 100%. Bukan sekadar “punya anak lagi aahhh” tapi “eh kalau punya anak mampu nggak ya kasih yang terbaik buat dia?”. Dan menurut aku ini kemajuan. Dunia udah sempit banget juga lagian. :))))

(Baca: Nenek)

Target hidup semakin tinggi

Dulu anak yang penting sekolah. Nggak penting di mana. Bukan apa-apa, pilihan sekolahnya juga sedikit banget kan. Sementara sekarang duh posisi menentukan prestasi banget ini alias sekolah di mana menentukan networking dan kompetisi di masa depan lho.

Dulu, nggak sedikit yang punya keluarga di mana anak pertama nggak bisa kuliah, baru anak kedua atau ketiga bisa kuliah karena kondisi keuangan keluarga yang membaik. Sebaliknya, banyak juga keluarga yang abis-abisan untuk anak pertama (atau anak laki-laki) eh pas anak bungsu, tulang punggung keluarga udah pensiun, si anak jadi nggak bisa kuliah.

Familiar dong dengan cerita semacam itu?

Ketidakmerataan pendidikan antar anak aja udah nunjukkin ketidakmampuan mengukur diri sendiri dari segi finansial. Wajar juga karena pengetahuan tentang finansial nggak sebaik sekarang.

(Baca: Kenapa Sekolah Begitu Penting)

Karena target hidup juga semakin tinggi. Dulu seberapa banyak sih orang yang cita-citanya keliling dunia bawa anak biar dia punya pengalaman di belahan dunia lain. Sekarang kan banyak yang begitu. Daripada nambah anak mending uangnya untuk beli pengalaman, katanya. :)

Sekarang wow anaknya lahir biaya kuliah udah mulai ditabung, lahir anak kedua, mulai juga nabung untuk dana pendidikan anak kedua. Ini bikin mikir banget karena ...

Dulu katanya: Banyak anak banyak rezeki

Iya rezeki udah ada yang mengatur tapi realistis juga coba . Kalau rezeki cuma bergantung kerja keras, nggak bakal ada itu orang yang rumahnya kumuh di pinggir kali atau rel kereta. Padahal kalau diukur dari kerja keras, mungkin mereka kerja lebih keras dibanding pekerja kantoran kaya kita-kita ini.

Orangtua zaman sekarang sudah lebih bisa mengukur diri. Gimana pun, nambah anak artinya nambah satu tanggung jawab perut dan pendidikan. Tanggung jawab itu ada pada orangtuanya dong. Daripada nggak yakin bisa tanggung jawab kan mending nggak nambah anak. Hahahaha.

Kurang-kurangin deh bilang banyak anak banyak rezeki karena nggak bisa masuk di semua orang. Ada yang betul rezeki lancar, jabatan naik, semua baik-baik aja setelah punya anak lagi. Tapi masih banyak juga tuh yang anaknya jadi harus pindah daycare yang lebih murah karena punya anak kedua, masih banyak yang mengeluhkan "duh mana mampu sekolah di situ, anak gue tiga", dsb dsb.

And don't start with "sehat juga rezeki" karena kasian banget anak jalanan dan anak-anak dari keluarga kurang mampu berarti rezekinya memang cuma sehat aja? :((((((

Ini nggak ada hubungannya sama bersyukur loh ya. Kita bisa kok bersyukur atas rezeki PLUS realistis soal kondisi keuangan keluarga. Malah kalau kata mba Windi, mengatur keuangan keluarga adalah bentuk tanggung jawab atas rezeki yang dilimpahkan ke kita. Couldn't agree more!

Perempuan belum berdaya

Zaman dulu banyak sekali pernikahan yang bertahan hanya karena para perempuan tidak berdaya dan tak mau jadi janda. Banyak sekali saya mendengar cerita orang-orang yang memilih bertahan di pernikahan yang tidak sehat dibanding takut hidup melarat.

Tapi di zaman sekarang, sila googling sendiri datanya, perempuan lebih berani untuk bilang cerai karena perempuan sudah berdaya. Perempuan punya suara dalam pernikahan dan kalau mereka diabaikan, ya sudah maka untuk apa pernikahan itu dipertahankan.

Ini berkaitan sekali dengan kesehatan mental. Untuk apa bertahan di pernikahan yang tidak sehat, dengan kondisi mental yang acak-acakan. Orang-orang di zaman sekarang sudah sadar benar kalau semua orang berhak bahagia, laki-laki atau perempuan.

Hasilnya, perempuan jadi semangat berkarya. Sementara kalau punya anak (atau punya anak lagi), karya itu jadi tertunda. Suka tidak suka, mau tidak mau, kita kerja lebih lama tanpa anak dong? Kalau udah ada anak kita berusaha kerja seefektif mungkin karena ada waktu yang harus dibagi. Meski emang bener sih, anak itu penyemangat terbesar!

Maka wajar kalau orang zaman dulu anaknya banyak. Nggak ada urgensi pengen berkarya gitu lho. Nggak gampang ngerasa panas sama karya-karya ibu lain di social media. Hahahaha.

(Baca tulisan tahun 2013: Perempuan Juga Punya Pilihan!)

*

Kalau dirumuskan dalam satu kalimat (yang juga membosankan karena sudah sering sekali dibahas): Tantangannya udah beda dan itu sangat wajar terjadi. Orangtua menghadapi tantangan yang beda di tiap zaman dan harus terus belajar menghadapi tantangan baru.

Ingat juga, nanti ketika kita punya cucu, nggak usah sotoy dengan merasa kita lebih pengalaman ngurus anak hanya karena kita punya anak lebih dulu. Anak kita jelas akan punya tantangan yang beda. Kalau kita udah yakin 100% dengan cara kita mendidik anak, kita juga harusnya yakin juga dong dia akan bisa mendidik cucu kita.

JAUH BENER NGOMONGINNYA CUCU LOL.

Enak juga ya kalau udah dijembrengin kaya gini. Tiap ada yang nanya kenapa nggak mau nambah anak, kasih aja link blogpost ini hahahaha. Tiap ada yang bandingin sama ortu zaman dulu, kasih juga link ini ok!

Selamat hari Senin!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

IG