-->

Image Slider

Galau Preschool

on
Monday, July 31, 2017

Seminggu belakangan saya galau karena preschool. *tarik nafas panjang*

Sebenernya saya sendiri nggak ngotot banget Bebe harus preschool sih karena sebagai ibu yang percaya diri, saya yakin dia nggak butuh-butuh amat preschool. Toh di daycare yang sekarang aja ada guru TK-nya kan sehari dua jam. Di rumah juga kami aktif baca buku, mewarnai, main ini itu yang selevel lah sama preschool hahaha.

Tapi kemudian kegelisahan itu muncul karena melihat progress bahasa Inggris Bebe yang udah keliatan banget dan jadinya pengen preschool bahasa Inggris biar cepet lancar! Itu sebelum saya tau kalau preschool bahasa Inggris itu ya ampun mahalnyaaa. Uang pangkalnya aja bisa Rp 10juta gitu. Langsung sedih karena sebagai kelas menengah, pilihan sekolah itu terbatas banget ya. :|

Selain urusan bahasa Inggris, urgensi cari preschool jadi makin kerasa karena sahabatnya Bebe di daycare, mari kita sebut aja dengan K, hari ini hari terakhir di daycare karena pindah ke daycare yang ada preschool-nya. T______T Sejak beberapa hari lalu saya dan ibunya K WhatsApp-an tentang ini dan saya mellow banget mikirin Bebe nggak ada temennya lagi di daycare yang sekarang.

Karena Bebe anaknya berteman banget, dia pilih-pilih sahabat sejak kecil. Natural mungkin karena sejak bayi di daycare kan, nggak mungkin temenan baik sama semua anak karena ya cocok-cocokan lah sama kaya kita orang dewasa. K ini umurnya emang udah 3 tahun 7 bulan, ibunya udah lebih gelisah lagi dari saya karena anaknya udah hampir 4 tahun tapi belum preschool juga.

(Baca: Pertanyaan Seputar Daycare)

Jangankan ditinggal selamanya (LEBAY BIAR), si K nggak masuk seminggu karena belum pulang dari kampung pas lebaran aja Bebe tiap sore cranky hhhh. Dan karena K keluar, otomatis Bebe jadi anak paling gede di daycare! Satu anak lagi yang seumuran Bebe banget kebetulan juga harus keluar bulan ini karena ayahnya pindah tugas ke Jogja. Duh aku mellow banget deh beneran semingguan ini.

T________T

Agak nggak terima kenapa Bebe tau-tau udah 3 tahun aja hahaha. Kok tau-tau ibu udah harus cari preschool aja sih? Kalau yang ibunya di rumah atau pake mbak mungkin nggak segalau ini ya, karena ya tinggal cari preschool aja kan yang deket rumah. Ini kami harus cari preschool yang deket rumah serta deket kantor, ada daycare-nya dengan biaya bulanan yang masih masuk budget. Huhu.

Karena mau sedih merenung berdiam diri doang mah tak akan berguna, kami pun mulai survey daycare plus preschool seputaran Jakarta Pusat, Jakarta Barat yang nggak terlalu barat, dan Jakarta Selatan yang nggak terlalu selatan. Gini nih akibat rumah di Barat perbatasan Pusat dan Selatan. Bingung sendiri karena kalau di Barat banget atau Selatan banget jadinya jauh.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah Lovely Sunshine di Jalan Danau Poso, Bendungan Hilir. Cuma saya nggak sreg sama segala sesuatunya sampai mau nangis karena Lovely Sunshine ini deket banget dari rumah dan kantor. Strategis banget. Cuma ya menurut saya kelebihannya cuma strategis aja.

Lengkapnya nanti saya tulis di blogpost terpisah ya! Seminggu ini tiap makan siang saya dan JG akan keluar muter untuk survey daycare Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Tiap abis survey akan saya bikin review-nya sekalian biar bisa kasih informasi juga buat buibu yang mungkin mau cari daycare buat anaknya.

Saya tetep nggak akan info di mana daycare Bebe jadi yang mau tau boleh email atau DM saya di Instagram ya. Agak kurang nyaman kalau harus sebut nama daycare Bebe di tempat umum gini. Nanti kalau udah pindah sih saya akan review lengkap daycare yang sekarang, yang jadi nggak disebut adalah daycare yang baru hehehe. :)

(Bebe sudah akan pindah jadi ini review daycare Bebe yang bikin saya galau. Bebe di sini 3 tahun pas! Tweede Daycare Benhil)

Kami akan survey ke 4 daycare yang secara jarak masih masuk akal untuk dikunjungi. Syarat saya sih nggak muluk-muluk (BOHONG) yang penting banget banget bangetnya adalah kamar anak laki-laki dan perempuan terpisah atau minimal bangetnya tiap anak punya kasur sendiri.

Ini penting karena saya geli banget mikirin Bebe harus gantian kasur sama anak lain. Kalau anak lainnya lagi sakit gimana?

Karena ternyata banyak daycare yang nggak peduliin hal ini dan anak bebas tidur di kasur yang mana aja. Plis aku nggak bisa bayanginnya pun. Saya maunya Bebe punya kasur sendiri dan itu jadi area pribadi dia kaya di daycare yang sekarang, bisa bawa selimut dan boneka sendiri. HUAAA MIKIRIN GINIAN AJA MELLOW.

T________T

Untuk preschool-nya, saya dan JG udah berdamai dengan kenyataan bahwa Bebe nggak akan bisa masuk preschool bahasa Inggris jadi ya kami harus bertahan hanya berbahasa Inggris di rumah meskipun campur-campur karena lelah banget sis harus ngomel pake bahasa Inggris sementara anak yang dimarahinnya nggak ngerti lol. Untuk percakapan biasa dan instruksi sederhana sih masih diusahakan sebisa mungkin pakai bahasa Inggris.

Jadi ya yang penting ada program setara preschool dan Bebe bisa belajar sesuatu yang baru di sekolah barunya nanti. Semoga juga bisa nemu sahabat baru yang bikin Bebe nyaman dan betah di daycare-nya. Aamiin.

Doakan kami semoga cepet ketemu daycare baru yang cocok ya!

(Baca postingan seputar daycare di sini!)

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

WHEN IT'S ONLY JG & AST #134 - #140

on
Friday, July 28, 2017

Hai haiii! Kembali lagi dengan percakapan kami. Saya tuh maunya sering-sering posting ini tapi kadang suka lupa nyatet kalau ada yang lucu jadi lewat aja. Semoga menghibur ya!

#134 Sampah

Di mobil, di tol menuju Bandung.

JG "Sayang aku mau buka jendela ya?"

Saya: "Ih ngapain!"

JG: "Aku mau buang sampah sembarangan"

Saya: "IH NGAPAIN IH!"

JG: "Sampahnya upil"


*

#135 Mangga atau manggis?

Di kantor, jam makan siang JG telepon.

Saya: "Kamu makan siang apa?"

JG: "Aku makan telor asin doang sama mangga, tapi aku nggak tebak sih mangganya"

Saya: "Ya emang nggak usah ditebak sih mangga mah, manggis keles itu mah"

JG: "HEHE"

-________-

*

#136 Tabung gas

Pas pulkam lebaran, tabung gas dicopot dong selangnya. Balik lagi ke Jakarta kompornya kok jadi nggak nyala. JG uprek-uprek di dapur sendiri lamaaaa banget sampai akhirnya dia nyerah.

JG: "Sayang kompornya ga bisa nyala nih, kamu sini dong"

Saya jalan ke dapur kemudian kompornya langsung nyala!

Saya: "Tsk, aku moral support ya"

JG: "Tabung gas aja takut sama kamu apalagi aku"



*

#137 Ponari

Mbak Sary Melati punya dua Alaskan Malamute, gemes banget anjing gede gitu. JG sebagai pecinta anjing langsung bahas terus.

JG: "Nama anjing mba Sary kaya ee loh, namanya poo"

Saya: "Ganti nama aja"

JG: "Iya sebenernya itu dari si Po Kungfu Panda sih"

Saya: "Kalau gitu ganti nama jadi ponari aja"

krik krik

JG: "Oke sayang mulai sekarang aku lebih baik diam daripada merusak imajinasi ponari kamu ok!"



*

#138 Warisan

Bebe punya mainan alat berat gitu, salah satunya ada truk sampah (dump truck). Bebe ingin tisu disobek kecil dibulet-bulet dijadiin sampah. PR banget kan ya, buletin-buletin tisu sampai banyak. Pas udah selesai malah diacak-acak! Bertaburanlah itu tisu di seluruh kasur.

Ibu: "Kok diacak-acak sih? Ah ibu nggak mau bikinin lagi ah buat Salo ah!"

JG: "Be tuh dengerin ibu, kalau ibu marah kamu nggak dapet warisan loh nanti"



*

#139 Oncom

Saya kebiasaan bilang oncom sebagai pengganti kata "kamp*et" atau "sialan" gitu konteks becanda ketawa-tawa ya. Kan lebih sopan aja lol. Suatu hari lagi ngobrol sama JG di mobil, dipikir Bebe nggak dengerin.

Saya; "Ah kamu oncom"

Bebe motong: "Appa oncom ya ibu?"

Saya: "Iya, kamu anak oncom"

Bebe: "Aku anak ibu bukan anak oncom"

HAHAHAHA

*

#140 Quote of the day


"Jika diam itu emas maka pacar kamu yang ambekan itu pasti sudah kaya,"
-- @jago_gerlong, 30 tahun, karyawan swasta.

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

7 Hari Tanpa Instagram

on
Wednesday, July 26, 2017
[TL;DR] Saya terlalu banyak membuang waktu untuk Instagram. Kemudian saya tobat. Tulisan ini terlalu panjang jadi kalau kalian males baca, intinya itu hahahaha.


Yang kenal saya pasti tahu saya anaknya selalu berorientasi angka. Yang paling dipelototin sih page views blog ya, yang mengantarkan saya mendapat tambahan 1juta views hanya dalam 3 bulan, dengan total 3 juta views selama 3 tahun saja. Hanya angka, tapi bikin bahagia karena tulisan-tulisan saya ternyata banyak yang membaca. :)

Karena sejak dulu, social media adalah tempat main yang sangat menyenangkan. Tempat utama untuk mencari informasi. Saya tidak lepas social media sejak era Friendster. Bahkan sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa saja, saya tetap eksis di Friendster pakai Opera Mini di Blackberry. Dulu, hampir 10 tahun yang lalu.

Tahun-tahun berikutnya dilalui dengan keluhan-keluhan tentang kuliah di Facebook. Tak lama langsung pindah ke Twitter dan resmi jadi AnakTwitterTM yang selalu mengeluh lelah karena banyak alay di Facebook. Terus yang kurang penting bangsa Foursquare demi jadi mayor doang ya amponnn.

Beberapa tahun kemudian Instagram muncul exclusively di iOS dan saya langsung punya lah! Namanya juga anak socmed! Tapi baru 3 bulan belakangan saya jadi peduli pada followers Instagram, meniatkan diri posting setiap hari, memperbaiki kualitas foto, menulis caption panjang dan bercerita karena sebelumnya bahkan saya jarang memberi caption. Keseriusan yang ditandai dengan followers naik 1000 lebih hanya dalam 1 bulan. Padahal sebelumnya hanya punya 2000 followers dalam 5 tahun. (sad lol)

Kemudian kalau sedang ada sponsored post maka saya jadi peduli pada reach Facebook, impression Twitter, dan banyak lagi. Ditambah saya yang rutin nge-blog, praktis social media jadi perpanjangan blog.

Lama-lama lelah.


Dan meski banyak orang yang menolak bermain di social media karena takut di-judge, saya sendiri sebetulnya tidak. Saya selalu menganggap internet adalah tempat yang bebas bertanggungjawab. Saya punya argumen, kalian punya argumen.

Saya tidak pernah memaksakan pendapat saya pada siapapun, dan jangan pula memaksakan pendapat pada saya. Lagian masa semua orang harus sependapat sih, kan serem ya. Judge saya semau kalian dan saya tidak akan terganggu.

Yang kenal saya sejak dulu di Twitter mungkin tau saya pernah dapat banyak sekali ancaman pembunuhan dalam beberapa hari di Twitter dan disuruh bunuh diri hanya karena saya menulis video klip sebuah boyband "biasa saja". BIASA SAJA BUKAN JELEK HHH.

Dan saya tidak kapok. Ternyata yang bisa bikin saya berhenti main-main socmed adalah diri saya sendiri. Saya sendiri kaget.

Dan ya, biang keroknya adalah Instagram.

Saya bahagia melihat feed Instagram saya dan masih bahagia sampai sekarang. Saya senang menyusun foto agar nyambung satu dengan lainnya, dengan sebelahnya, dengan atas dan bawahnya, seperti main game saja. Saya senang mengedit foto agar terlihat “lebih Instagram”.

Iya karena foto Instagram itu punya karakteristik sendiri loh makanya muncul istilah Insta-worthy atau Instagram-able. Bukan semata karena dindingnya cantik atau makanannya lucu, tapi komposisinya yang membuat sebuah foto menjadi sesuai dengan karakter Instagram.

Contoh paling sederhana, foto dramatis yang jadi headline koran belum tentu sedramatis itu saat di-upload ke Instagram. Sebaliknya, foto flatlay dengan bunga mint dan aksesoris emas belum tentu cocok untuk halaman koran yang kebanyakan hitam putih. Di situ menyenangkannya Instagram.

Yang jadi masalah bukan obsesi saya pada feed, tapi obsesi saya pada foto-foto di timeline! Sungguh membuang-buang waktu.

Naturally setiap beberapa menit saya membuka ponsel dan otomatis mencet icon Instagram kemudian scroll dan cek stories. Itu jadi habit dan menurut saya bukan habit yang baik. Ya kecuali followers kalian 2juta orang dengan penghasilan dari Instagram ratusan juta rupiah dalam seminggu ya.

Scrolling Instagram menyita waktu sangat banyak dan saya tidak mau seperti itu. Saya tidak mau terobsesi. Saya tidak mau bangun tidur dan yang pertama kali dilakukan adalah cek notifikasi Instagram. Saya tidak mau lagi sedih karena jumlah followers berkurang.

Karena ya, Instagram adalah Instagram. Saya cerita sebaik dan semenarik apapun maka akan hilang di timeline orang dalam beberapa hari. Sebagus apapun kontennya, tetap akan sulit dicari setelah beberapa hari, archiving-nya tidak sebaik blog kan.

Sejak “serius” di Instagram saya juga jadi menyalakan notifikasi. Notifikasi komentar dan direct message. Awalnya saya senang karena wow banyak yang appreciate ya! Kesenangan yang hanya bertahan 3 bulan saja.

Lama-lama saya terganggu. Karena notifikasi membuat saya merasa ada urgensi membalas secepatnya dan sekali lagi, saya tidak mau seperti itu. Itu tidak baik, Instagram bukan prioritas. Berkali-kali saya sugestikan itu pada diri sendiri.

Saya juga terpaksa harus mengakui kalau saya (merasa jadi) oversharing, Padahal dulu saya adalah barisan orang yang menolak mengamini bahwa saya berlebihan menggunakan social media. Saya beberapa kali bilang bahwa yang saya tulis di blog itu hanya kulitnya saja.

Orang bahkan tidak pernah tahu nama daycare Bebe, lokasi, atau bahkan nama lengkapnya. Ya di saat orang membuat hashtag dengan nama lengkap bayi, saya bahkan sampai sekarang tidak pernah mempublikasikan nama lengkapnya. Dan waktu itu saya merasa berhak bilang saya tidak oversharing.

Tapi lama-lama toh saya berubah. Apalagi stories yang tidak menuntut foto bokeh dengan editing indah. Makan apa di-share, minum apa difoto dulu, sedang di mana juga difoto.

Mau apa sih sebenernya?

Saya mulai mempertanyakan diri saya sendiri. Saya jadi merasa lebih dekat pada hidup orang tapi makin asing pada hidup sendiri.



*

Di antara kalian pasti sekarang ada yang berpikir oh itu gejala FOMO alias Fear of Missing Out. Bisa ya bisa tidak tergantung definisi FOMO-nya.

Kalau kalian perhatikan, saya malah jarang ikut-ikutan komentar hal yang sedang ramai. Buat saya FOMO itu ketika ada sebuah topik ramai dibicarakan orang, maka kita ikut juga membicarakannya baik di status atau pun di komentar karena takut dianggap ketinggalan. Atau ketika ada sesuatu yang sedang hits, langsung ingin ikut juga punya atau membeli.

Saya tidak. Saya belum pernah mengantri berjam-jam demi makanan, saya tidak pernah ikut komentar apapun yang sedang ramai di social media melalui status atau komentar, saya tidak pernah ikut menggunakan kata “kekinian” hanya karena kata itu sedang tren. Ya tau sendirilah anaknya suka sebel kalau mainstream, so does it count as FOMO?

Yang saya takutkan itu sebenarnya tidak ada! Saya hanya senang melihat-lihat foto orang, apalagi foto yang aesthetic dan dipikirin banget gitu bukan foto asal. Saya senang buka-buka profile orang dengan foto bagus dan mengira-ngira dia pakai filter apa dan editnya gimana.

Instagram jadi procrastinate yang sangat berlebihan.

Siang itu akhirnya saya kesal karena mendapat tangan saya sekali lagi membuka ponsel HP dengan tidak sadar dan scroll timeline Instagram. Saya tutup aplikasi itu dan saya delete. Tak pikir panjang saya juga delete Twitter dan Facebook.

Padahal saya jarang sekali buka Facebook. Dari urutan keseringan membuka dan memposting sesuatu, saya paling sering buka Instagram, kemudian Twitter, baru Facebook. Tapi ketiganya saya hapus karena saya takut kalau saya hanya menghapus Instagram, saya akan tetap terjebak di ponsel dan kembali scrolling. Membuka Facebook atau Twitter.

Saya menghapus Instagram tepat di posisi post saya 999 posts, nggak sengajalaahh ngapain sengaja. Saya tidak pasang target kapan akan kembali, pokoknya saya ingin mereka tidak ada di ponsel saya dulu untuk sementara waktu. Saya bilang JG bahwa saya capek ketergantungan social media dan dia cuma ketawa aja. Saya bilang saya ingin sendiri dulu.

Karena selain urusan terobsesi juga ada peer pressure. Tapi soal peer pressure ini kita ceritakan lain waktu ya. :’)

Jelas ada juga unsur peer pressure karena kalau nggak mah pasti kita semua hanya selfie sekali lalu langsung upload kan? Ini nggak. Selfie dulu yang banyaaakkkk baru kemudian dipilih yang menurut kita paling bagus. Yang idungnya keliatan agak mancung, yang pipi keliatan agak tirus, yang mata keliatan nggak sayu. Capek banget kaya gitu.

Dulu saya sama sekali nggak punya masalah self esteem dan pede-pede aja sama diri sendiri. Sekarang? Perasaan sih masih pede, tapi kok ya pilih foto diri sendiri aja lama, edit sana sini dulu biar nggak keliatan gendut blablabla. Yang kaya gitu masih ngaku percaya diri? Tsk.



*

Siang itu dilalui dengan santai karena toh sambil kerja. Mau share apa? Foto kubikel?

Malamnya kami ke UGD karena Bebe diduga cacar dan di sini cobaan sebenarnya dimulai. Saya ingin sekali share! Sampai deg-degan karena saya ingin share Bebe yang sungguh lucu pakai konstum Gecko PJ Masks sambil diperiksa dokter. Saya ingin ambil video dia berpose Super Gecko Muscle di depan apotek rumah sakit. Dan banyak lagi. Tapi saya bertahan.

(Baca cerita cacar air Bebe di sini)

Saya foto dia, saya videokan, tapi tidak saya share di mana-mana. Mau share di mana? Aplikasinya pun tak punya. :)))

Dan itu terjadi sampai dua hari berikutnya, tangan saya masih otomatis meng-unlock ponsel dan langsung memencet icon tempat sebelumnya Instagram berada. Icon itu bergeser menjadi Line yang sebelumnya ada di sebelah Instagram. Berulang kali dalam sehari saya melakukan itu, tidak sengaja memencet Line karena menyangka itu Instagram. I am THAT addicted.

Dalam dua hari itu banyak sekali yang ingin saya share, apalagi kami cuti dan di Bandung. Saya nonton Kick Andy dengan bintang tamu Doni ‘Animal Defenders’ dan Davina ‘Garda Satwa’. RASANYA INGIN SEKALI NGE-TWEET! Tapi saya bertahan. Otak saya otomatis meramu kalimat apa yang seharusnya saya tweet. saya akan tulis ini, kemudian reply dengan ini sambil mention si anu, dan seterusnya. Gila ya udah lebih dari 48 jam dan saya masih nggak inget kalau saya tidak perlu share

Saya akhirnya membuat dua jalan keluar:

πŸ“± Pertama, bertahan tidak membuka ponsel sama sekali. Ketika otak saya otomatis meminta tangan membuka lock, ia langsung mengirim sinyal bahwa yang dicari tidak ada. Maka saya simpan HP dan melakukan hal lain, bermain dengan Bebe, menulis, nonton, apapun. Saya menjauhkan diri dari HP and it’s too damn hard. Saya sangat tergantung pada HP saya dan segala isinya sehingga memaksa berpisah menjadi sangat membingungkan.

πŸ“± Kedua, ketika saya tidak tahan lagi maka saya buka HP dan membuka aplikasi lain. Saya punya satu folder khusus aplikasi news publisher yang biasanya saya pakai kalau sedang mengikuti satu kasus. Baca kronologi berita dari apps itu enak banget loh btw.

Cuma ya saya nggak pernah juga out of the blue buka cuma mau cek headline. DAN ITU SAYA COBA LAKUKAN KEMARIN. But no fun HAHAHA. Akhirnya back to basic, saya buka BuzzFeed dan BoredPanda, sampai saya sadar kalau saya tidak butuh Facebook karena 90% yang saya lakukan di Facebook adalah membaca BoredPanda dan BuzzFeed. LOL

Kondisi ini hanya tiga hari pertama, hari keempat saya mulai terbiasa tidak otomatis membuka HP tanpa sadar. Saya mulai melakukan hal lain, saya mulai sadar kalau tanpa Instagram setiap 5 menit, hidup saya akan baik-baik saja. Mengecek Instagram sehari hanya 2-3 kali sehari pun tidak akan tertinggal apapun karena Stories bertahan 24 jam kan.

*

Hidup tanpa Instagram, saya jadi teringat salah satu ekspat Australia di kantor yang tujuan hidupnya adalah traveling. Dia kerja di kantor saya setahun, jajan di kantin karyawan yang murah meriah, ke mana-mana naik ojek, kost di belakang kantor yang kurang layak demi menabung untuk keliling Indonesia di tahun berikutnya. Surprise-nya bagi saya adalah, dia tidak punya akun social media dan tidak menulis blog tentang perjalanannya. Padahal usianya lebih muda dari saya.

Belum lama ini juga saya nyeletuk ke temen kantor yang juga terobsesi feed Instagram “eh temen gue keliling Eropa tapi foto Instagram-nya sedikit, sayang banget ya!”

Dia spontan bilang “iya ya”. Terus merenung berdua lol.

THEY’RE MAKING MEMORIES, NOT CREATING INSTAGRAM FEED.

Kenapa kami yang bingung coba?

Contoh real yang nggak pernah saya lakukan tapi selalu saya maklumi: nggak apa-apa banget dateng ke suatu tempat demi Instagram, nggak apa-apa banget ngantri makanan hits juga demi Stories, tidak masalah jalan-jalan hunting foto untuk Instagram sampai bawa properti ke manamana. Nggak apa-apalah masa dilarang atau dinyinyirin, ya tujuan orang kan beda-beda.

Saya merasa salah karena ketika ada orang (well, orangnya millennials) yang ternyata TIDAK pernah melakukan itu maka saya menganggap dia “wow kok bisa!”.

Kenapa saya maklum ketika orang mau ribet demi Instagram tapi saya tidak maklum ketika sebaliknya? Kenapa saya tidak mempertanyakan orang mengantri cheesecake dari subuh tapi saya mempertanyakan orang asing yang keliling Indonesia tanpa meng-upload foto?

Saya tidak boleh seperti itu.



Di hari keempat saya sempat upload satu foto karena ada hal yang tidak bisa saya ceritakan di sini (YAELAH), intinya saya kasih a quick update dan ternyata ada juga yang dm saya nanya saya ke mana. Saya hanya upload kemudian saya hapus lagi Instagramnya. Dalam kondisi terharu banget sih huhu masih dicariin orang sementara sayanya kabur tiba-tiba. T_____T (maap kadang emang halu)

Hari ketujuh saya sudah tidak otomatis membuka lock dan mencari icon Instagram. Dan tanpa sadar, pikiran saya lebih tenang karena saya tidak terlalu banyak berpikir untuk orang lain. Saya jadi punya waktu jauh lebih banyak untuk diri sendiri.

*

Sebelumnya saya tidak pernah berhenti berpikir. Pikiran saya berjalan terus dan mencatatnya. Misal saya punya ide apa, biasanya langsung diolah jadi draft kasar blog, caption instagram atau minimal tweet. Jika panjang maka ditulis dulu di notes, jika pendek maka langsung di-tweet.

Tapi sekarang karena pilihannya notes saja, pikiran selintas tetap jadi selintas, bukan lagi langsung diolah untuk dikonsumsi publik. Dan itu bikin saya lebih damai. Bikin pikiran saya beristirahat.

Mbak Mira Sahid pernah bilang intinya "kamu kok kaya kebanyakan mikir?" Iya. Saya mikir terus. Saya nggak pernah berhenti mikir, makanya saya nggak pernah habis ide untuk blogpost, dan itu capek, capek sekali.

Sekarang saya sedikit mengerti apa yang terjadi dengan Michelle Phan, apa yang terjadi dengan Jesse dan Jeanna ‘BFvsGF’. Iya padahal masih jauhhhh, padahal saya masih sebutir kecil debu dibanding Michelle yang sebesar bulan (naon). Maka sebelum saya separah mereka dan benar-benar kabur dari kehidupan maya, saya lebih baik menguranginya dari sekarang.

Internet terlalu luas, jauh lebih luas dari yang bisa kita genggam, jauh lebih dalam dari yang bisa kita lihat. Itu yang membuat saya jadi bingung sebanyak apa yang sebenarnya sanggup saya pikirkan. Saya berpikir terlalu banyak.

*if that makes any sense*

Saya juga nggak akan sok nasihatin, “makanyaaa jangan gitu-gitu amat lah di socmed”. Ya mau gimana-gimana juga terserah orangnya lah. Ini yang bermasalah diri saya, nggak berarti orang akan punya masalah yang sama juga. Saya punya masalah dengan membagi waktu, nggak berarti orang lain akan punya merasakannya juga.

Begitulah.

Jadi ambisius itu capek ya. Hahaha. Mana ambisiusnya di segala lini kehidupan pula. Udalah istirahat dulu ya. Saya jelas tidak akan lagi tiap hari upload foto di Instagram, kalau blog sih sebisa mungkin masih tetap akan di-update ya meski tidak sesering dulu. Saya senang kok sharing di sini, dengan segala suka dukanya hahaha.

Jadi itulah ceritanya kenapa saya menghilang seminggu hahaha. Pada kangen dong biar saya semangat lagi HAHAHAHA. Have a nice day!



-ast-





LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe Cacar Air

on
Monday, July 24, 2017

Akhirnyaaaa, Senin ini bisa jadi Senin "normal" di mana kami bertiga pagi-pagi udah di mobil untuk kerja dan ke daycare. Minggu lalu cukup heboh soalnya karena Bebe cacar air.

Kenapa heboh? Karena cacar air kan menular, jadi Bebe nggak bisa ke daycare. Walhasil, saya dan JG harus bergantian cuti dan main sama Bebe di rumah.

Oke ini cerita lengkapnya demi pengingat di masa depan!

πŸ’‰Tanda-tanda Cacar Air 

Berawal dari Rabu malam 12 Juli lalu, malem-malem sebelum tidur saya mandikan Bebe. Wah apa nih ada 3 bintik kecil sekali di leher kanan dan bawah leher belakang. Kecil sekecil digigit semut, kecil banget sampai nggak keliatan amat, kalau diraba baru kerasa jendul. Karena takut gatel, malem itu juga udah saya kasih bedak salicyl.

Saya nggak kepikiran cacar. Karena Bebe kulitnya sensitif dan alergian jadi emang sering muncul merah karena reaksi alergi. Pun sensitif nggak bisa sembarangan ganti sabun karena antara merah iritasi atau ngelotok gitu kulitnya. And they said bayi ASI nggak alergian hih. T_______T

Besok siangnya, supervisor daycare fotoin punggung Bebe dan nanya itu kenapa bu? Saya jawab nggak tau ya, apa biang keringet? Terus supervisornya nanya, apa mungkin cacar bu? Saya masih nggak kepikiran hahahaha.

Pas dijemput mbaknya (bukan supervisor) bilang "bu, menurut aku sih ini cacar bu. Ke dokter aja bu, aku yakin deh ini cacar" Memang mbak daycare itu juara banget deh buat gini-ginian hahaha, anaknya banyak sih yaaa. Emangnya saya, anaknya cuma satu lol.

(Baca semua tentang daycare di sini)

Saya iya iya aja, malah bilang "tunggu besok deh, kalau besok jadi banyak baru ke dokter". Abis ngomong gitu kok ya jadi panik sendiri hahaha. Kalau besok beneran banyak masa malah baru ke dokter? Ya udah pas JG dateng akhirnya langsung minta ke UGD aja biar tenang.

Dan cobaannya banyak huhu. Macet ampun-ampunan karena pas ganjil, sementara plat nomer mobil kami genap. Mau ke Semanggi aja muter-muter lewat Karet deuh. JG hampir putus asa, duh macet banget, duh laper aku tadi nggak makan siang, duh ini ono. -__________-

πŸ’‰Di UGD

Btw saya dulu nggak tau kenapa banyak orang parno sama UGD. Pas minggu depannya JG ke UGD RSUD di Bandung saya baru tau kenapa orang parno hahaha. Next post ya!

Kali ini sih kami ke RS Jakarta, pokoknya kalau UGD pasti ke sini karena nggak pernah rame dan parkir gampang. Bebe lagi seneng banget karena baru dibeliin kostum PJ Masks dan dia keukeuh masuk RS pake kostum. -_______-

Diperiksa dokter pake kostum juga dan jumawa banget, mana dokternya cantik dan juga ikut manggil dia dengan "Gecko". Diperiksa jadi lancar banget karena Gecko-nya kalem abis. Dan iyes, positif cacar.


Kami pun nanya kok bisa ya, ketularan di mana? Kata dokternya "bisa di mana aja bu, di mall atau di tempat umum lain. Virus cacar kan nular lewat udara dan bisa tahan di udara sampai 24 jam"

Saya dan JG bengong di tempat. T_______T

Bengong bukan karena shock Bebe cacar hahahaha. Ya nggak apa-apa sih cacar, penyakit yang umum lah ya di kalangan anak-anak zzz. Tapi kami mikirin gimana nih nggak bisa masuk kerja? LOL.

Kata dokternya bagus ketauan masih awal gini jadi bisa langsung ditekan virusnya pake obat. Malem itu masih 3 biji juga bintik kecilnya tapi dokternya udah ngeliatin beberapa area dan bilang "di sini nanti muncul bu, di sini juga, blablabla"

Terus ya udah diputuskan ganti-gantian cuti deh! Sampai saya nemu ide cemerlang: KITA KE BANDUNG AJA!

Pertimbangannya rumah ibu di Bandung lebih besar dibanding kontrakan di Jakarta jadi Bebe nggak akan bosan harus berhari-hari di dalam rumah. Kedua, Bandung dingin, in case Bebe lari-larian di dalam rumah pun dia nggak bakal keringetan dan nggak bikin cacarnya gatel. Ketiga, nggak perlu mikirin masak dan makan hahahaha.

Malam itu mendadak packing dan oke besok pagi berangkat ke Bandung!

πŸ’‰Di Bandung

Pagi sebelum berangkat, bintik kecil itu akhirnya jadi besar segede jagung dan isinya air. Nah kalau gini baru saya yakin ini cacar hahaha. Tapi ditanya gatel apa nggak jawabannya nggak. Bebe juga nggak demam. Katanya makin muda kena cacar, makin nggak berasa apa-apa.

Saya SD kena cacar dan gatelnya ampuuunnn. Pengen garuk juga nggak boleh kan. Jadi ya inget betapa tersiksanya. Bebe mah kalem aja kaya nggak sakit sama sekali. Lagian Bandungnya emang adem banget, pagi-pagi 17-19 derajat celcius. Tengah hari aja cuma 23-24 gitu enaaakkk.

Cuma cukup repot karena saya bener-bener jagain biar dia nggak keringetan banget. Sedikit keringetan langsung ganti baju. Sedikit-sedikit dikasih salicyl biar cepet kering. Untungnya yang banyak itu di punggung jadi Bebe nggak sadar kalau itu sebenernya parah. Di perut cuma ada 4, dua besar dua kecil. Di kaki 1, di tangan beberapa, di muka cuma 3 kecil-kecil pula. Total saya hitung cuma 27 titik.

Sedikit banget, nggak keliatan cacar lah. Liat anak temennya JG yang cacar juga, se-muka aja kayanya lebih dari 20 deh, kasian huhu. Dan biar dia kalem akhirnya dilibatkan untuk pake salicyl jadi dia bertugas ngebedakin perut dan kaki, saya bedakin punggungnya. Sehari 3 kali sis kaya gitu, bersin-bersin gatel idung banget kena bedaknya.

Hari Minggu udah kering semua yeaaayyy!

Senin siang pulang ke Jakarta karena ibu dan ayah harus ke Makassar. Selasa Rabu saya di rumah, Jumat Sabtu JG di rumah. Jumat sebagian besar udah copot, Sabtu udah copot semua. Senin ini kembali ke daycare yeaaayyy!

Selain ganti baju, minum obat juga peer banget karena tiap minum obat saya harus akting. "WAA OBATNYA WANGI SEKALIII. ENAK YA!" atau "EH INI OBAT APA SIH KOK ENAK? XYLO HEBAT YA MINUM OBATNYA PINTAR!".

Obat wangi yang dimaksud adalah vitamin doang. Obat benerannya (anti virusnya) itu puyer dan nggak ada rasanya sama sekali, jangan-jangan itu tepung lol. Sekali dicampur ke air minum dia dan habis. Berikutnya sesendok vitamin langsung taro puyer atasnya, jadi sekali hap langsung masuk dua obat. Kulelah ekting, maklum bukan ektris. T_______T

πŸ’‰Yang dilakukan saat Bebe cacar

Bebe sembuhnya cepet banget. Tiga hari kering semua, cuma saya emang nunggu copot semua dulu luka keringnya baru masuk daycare karena takut nularin orang.

1. Ganti baju sesering mungkin. Bebe ganti baju 4 kali sehari, tiap ganti baju dibedakin ulang. Pertimbangannya kalau ada yang pecah, pecahannya nempel di baju, takut jadi bikin bintik baru di tempat lain. (ini entah bener apa nggak secara medis)

2. Makan banyak dan obat jangan kelewat. Minum vitamin dan madu. Karena cacar emang harus dilawan dengan daya tahan tubuh baik.

3. MANDI! Kalau nggak mandi gatel ih. Kata dokter mandi aja pake dettol biar sekalian matiin kuman-kuman. Bebe malah berendem air anget pake dettol. Kalau bule-bule gitu berendem oatmeal dong katanya biar nggak gatel.

4. Jangan minum air kelapa sekaligus sama obat. Dulu katanya minum air kelapa biar merah-merahnya cepet keluar. Tapi lebih logis penjelasan air kelapa menetralkan obat sih. Hahaha. Terserah tapi kan yang penting minum air putih aja yang banyak.

5. Jangan digaruk takut jadi bekas. Bebe nggak ngerasa gatel untungnya dan dia nggak colek-colek bekasnya sih untungnya juga. Lebih karena nggak ngerti kali ya. Haha

Saya pake salicyl doang, beberapa orang nyaranin acyclovir dan udah beli. Cuma kalau salep gitu peer banget kan harus ditotol satu-satu. Mana kesentuh dikit aja Bebe ngamuk. Akhirnya ya bedakan aja. Kalau bedak kan tinggal tumpahin aja yang banyak ke punggung terus usap dikit juga rata.

*

YAAA BEGITULAAHHH CERITANYA. Capek ya. Nulisnya capek sampai males selip-selipin link related post hahaha.

Kok bisa cacar sih emang nggak vaksin? Jadi lewat dua tahun dan semua vaksin "wajib" selesai saya blas nggak cek-cek buku vaksin lagi. Pas kemarin rame kempen MR saya jadi cek dan woiyaaaa selain MMR belum PCV juga ketunda-tunda terus.

PCV sama Hepatitis A lah akhirnya. Terus dokternya bilang "abis ini cacar air ya bu" dan nulisin tanggal cacar air bulan Agustus. Minggu depannya Bebe cacar hhhh. Jadi nggak usah vaksin cacar kan ya kalau udah gini?

Anyway selamat hari Senin semuanya! Semoga sehat-sehat semua ya biar kerjanya lancar!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Just A Quick Update

on
Wednesday, July 19, 2017

Halo semuanya. Sorry for being MIA. Terharu deh saya menghilang terus ada yang nanya saya ke mana. T______T

Banyak sekali yang terjadi sepanjang minggu lalu. *lap keringet*

Intinya Bebe cacar air, dan yah karena nggak punya mbak jadi saya nggak masuk kerja. Baru mau masuk kerja besok, itu pun gantian JG yang cuti besok sama Jumat. Demi mengkarantina Bebe, demi nggak nularin ke anak lain di daycare.

Bukan hanya itu, saya juga delete Instagram, Facebook, dan Twitter sejak hari Kamis minggu lalu. Enam harian saya nggak pake social media dan banyak yang bisa saya ceritakan soal ini.

Iya sih beberapa hari lalu sempet upload foto, itu dalam perjalanan Bandung - Jakarta. Tapi cuma upload terus delete lagi Instagramnya. Saya lagi berusaha nggak mau tergantung sama social media. Sebelumnya mah tergantung bangeett. Lengkapnya nanti saya cerita di blog post terpisah ya.

Jadi ya, minggu ini hectic sekali. Mana di saat Bebe sedang cacar, JG sempet masuk UGD pula karena hal remeh tapi bikin drama banget. Ini juga worth blog post terpisah. Hahaha.

Intinya setelah puasa socmed termasuk blog selama seminggu saya senang sekali. Serasa fresh dan nggak diburu-buru apapun. Lagi membiasakan diri baca berita langsung di aplikasi berita dan bukannya dari socmed. Lagi coba habit baru yang berat sih emang karena udah bertahun-tahun dilakukan.

Meanwhile harus sambil nyuapin Bebe, akting agar dia mau minum obat, menjaga dia agar nggak berkeringat, gantiin baju sesering mungkin dan ngebedakin biar cepet kering cacarnya. Life is hard zzz.

Bebenya udah mau sembuh kok. Dia cacar dikit banget cuma 27 titik (DIHITUNG LOH) karena baru ada merah langsung dibawa ke rumah sakit jadi langsung ketauan dan dikasih antivirus. Cuma karena cacar katanya masih nularin meski sudah kering, jadi kami masih di rumah. Sebagian udah copot sih kering-keringnya, tapi sebagian yang gede-gede belum.

Jadi tampaknya saya baru akan bisa rajin nulis lagi minggu depan. Punya banyak banget draft sih dan pengen share ke kalian juga.

Tungguin aku minggu depan yaaa! :)

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

#SassyThursday: Hari Pertama Sekolah

on
Thursday, July 13, 2017

Hai semuanya!

Saya tuh lagi siwer hari banget deh, dipikir sekarang masih Rabu! Terus mikir wah udah 2 hari nggak update blog. Ternyata sekarang Kamis dan udah 3 hari nggak update blog hahaha. Ya udah lah ya langsung #SassyThursday aja huhu.

Topik minggu ini adalah hari pertama sekolah. YEEYYYY! Abis minggu ini buibu banyak banget yang bikin status dan share foto soal hari pertama anak di sekolah ya. Mabi dan Bebe sih belum sekolah banget jadi kami akan nostalgia! Mengingat dulu hari pertama sekolah ngapain aja sih? Inget nggak ya saya? HAHAHA

Baca punya Nahla:

Oke, saya pertama kali sekolah itu TPA, bukan TK A ya. Taman Pendidikan Agama alias sekolah ngaji. Lanjut TK A terus langsung SD, nggak TK B dulu. Maklum anaknya pinter hahahaha. Ayo kita ingat satu-satu! Saya cukup inget sih semua karena ayah hampir selalu foto jadi punya foto semua. Pertama kali pake seragam olahraga TK aja ada fotonya *SPESIFIK*.

Duh sayang fotonya di Bandung semua ah sebel.

Dan saya sebenernya orangnya pelupa banget jadi tulisan ini mungkin nggak panjang hahaha. Tentang urusan lupa-lupa ini bisa dibaca di sini ya: Tentang Ingatan 

🏫 TPA alias sekolah ngaji

Sekolah ngaji seragamnya abu coklat butek gitu. Difoto bertiga sama anak tetangga di depan pager rumah tetangga. Semua mukanya flat, nggak ada yang senyum.

Pake jilbab nggak? NGGAK. Cuma pake ciput gitu, lebih kaya topi malah dibanding ciput. Nggak nutupin apa-apa juga haha. Nggak kaya sekarang ya jilbab anak aja macem-macem banget modelnya. Dan ini saya masih kecil banget, 3 tahun lah.

Blas nggak inget apa-apa sekolah ngajinya ngapain aja hahaha. Ya belajar ngaji sih tapi terus ya udah nggak tau lagi ngapain di sekolah. Terus cuma ngaji sore doang gitu kan jadi pas udah masuk TK A, ya sorenya tetep ngaji.

🏫 TK A

Namanya TK Sejahtera. Kepala sekolahnya adalah tetangga nenek saya. Padahal rumahnya jauuhhh. Entah kenapa bisa jadi kepsek di situ. Nama Kepsek-nya ibu Susi. Saya selalu ingat ibu Susi ini karena wow kepsek wow. Kaya jabatan yang amat sangat tinggi dan harus dihormati.

Hari pertama sekolahnya saya nggak nangis dan super excited! Saya ditungguin ayah pake motor sementara saya baris sama temen-temen dan nyanyi sebelum masuk kelas. Saya nggak nangis. Bahkan saya nggak pernah nangis selama TK.

Mungkin karena masih kecil ya, jadi saya cenderung blur dibanding temen-temen sekelas yang umurnya lebih gede hahaha. Umur saya pas masuk TK ini 3,5 tahun. Bahkan belum 4 tahun. Saya tuh yang lempeng aja loh. Ayunan direbut orang, ya udah ngalah. Main sendiri aja kalem.

Cuma kalau di kelas sombong soalnya udah bisa baca. Saya inget loh Bu Endang nanya siapa di sini yang sudah bisa tulis namanya sendiri di papan tulis? Saya ngacung, tulis nama di papan tulis pake kapur kuning. Terus dipuji, kusungguh bangga dengan diriku sendiri.

Terus ngapain lagi? Nggak tau lupa HAHA.

🏫 SD Andir Kidul II

Nah SD ini saya cukup inget detailnya karena cukup drama! Jadi abis TK A saya nggak mau TK B, ibu juga nggak maksa TK B sih karena ya udalah SD aja kalau emang udah mau SD. Masalahnya umur saya baru bahkan belum 5 tahun, 4 tahun 10 bulan. SD mana yang mau terima?

SD yang deket-deket rumah itu nerima minimal 6 tahun ya ampun saya 5 tahun aja belum. Akhirnya dibawa lah ke SD Andir Kidul II ini mayan jauh dari rumah harus pake angkot. Saya sama ibu masuk ke ruang kepala sekolah dan kepala sekolahnya mikir, terima nggak ya? LOL.

Nah terus di ruangannya itu ada papan tulis dan dia menuliskan beberapa kata. Dih dites baca banget nih? Terus saya bisa lah baca semua. Tapi kepsek tetap mikir HAHAHA. Akhirnya ibu saya bilang “ya udah titip aja pak, kalau ternyata setahun nggak bisa ngikutin ya nggak apa-apa nanti ngulang aja”.

Jadi lah saya masuk SD horeee! Hari pertama saya inget banget banget banget. Ibu saya ngedudukin saya di meja paling depan dan tengah. Di situ udah ada anak perempuan duduk manis juga, rambutnya pake poni dan masih basah. Ibu saya suruh saya salaman, anak itu namanya Imas.

Dan apa yang saya lakukan setelahnya? Saya mengagumi gantungan kunci di tas Imas. Nggak ngobrol atau apa. Terus Bu Marni datang dan kemudian … nggak inget. HAHAHAHA.

Kemudian sejak itu sampai kelas 6 saya selalu ranking 1. Dan ini jadi titik di mana saya selamanya jadi anak paling muda di sekolah, sampai kuliah. Di mana orang-orang sweet seventeen pas SMA sementara saya kuliah tingkat dua hahaha. Mau rayain juga nggak mood amat ya kan, orang-orang umurnya udah 19 tahun lol.

🏫 SMPN 17

Nggak inget sama sekali. Sedikit pun. Lagi saya pilih sekolah ini karena deket rumah aja. NEM saya kembalian banyak. Nggak tau hari pertama sekolah dan MOS nya ngapain pun. Yang paling diinget pas SMP adalah kepsek saya namanya Pak Oman dan beliau ini rajin banget bebersih!

Jadi selalu datang paling pagi terus nyapu sekolah, nyikatin kolam ikan. Wah beneran lah tipe pemimpin yang memberi contoh baik banget. Terus inget guru sejarah yang bisa dengan gampangnya ngejelasin perjanjian Renville, Linggarjati, dll sampai saya suka banget pelajaran sejarah.

Saya inget saya ikut PMR, ikut CPD (Camping Pelatihan Dasar) di mana ya lupa. Pokonya ada adegan lari-lari di lumpur lah. Terus tahun depannya panitia CPD dan tetep lupa ngapain aja. ZZZ.

SMP adalah paling tidak ingat apa-apa. Baik sekolahnya maupun teman-temannya. Blur.

🏫 SMAN 10

Pilih sekolah ini juga karena deket dan tetep kembalian NEM banyak. Hari pertama sekolahnya LUPA. Cuma inget pas MOS itu kan ada demo ekskul, terus kakak kelas mecahin es batu 3 lapis pake kepala dan dahinya berdarah hahahaha gagal amat.

SMA paling banyak cerita lah dan saya inget, mungkin karena udah gede ya. Tapi satu hal, saya itu nggak pernah nangis di sekolah sampai puber melanda lol. Iya maksudnya saya baru nangis sesenggukan di sekolah itu pas kelas 3 SMA. Itu pun karena PMS hahaha cuma salah paham dikit sama temen sekelas terus telungkup nangis di meja. Hormon!

Padahal dari TK sampai SMP itu paling bisa “merendahkan” anak yang suka nangis sebagai cengeng. Dih gitu doang nangis apaan sih. Gengsi saya terlalu tinggi untuk nangis. Pas SMA mah bubar lah semua bubar HAHAHA.

🏫 Kuliah

Kuliah ospek fakultas ngapain aja sih kok lupa ergh. Ingetnya ospek jurusan doang ah sebel. Nggak inget lah. Cuma inget harus jalan kaki dari gerbang Unpad bawah. Jalannya harus cepet tapi nggak boleh lari. Kalau lari dimarahin hahaha.

Auk ah.

*

Udah sih gitu aja. Apa-apaan ini tulisan yang sungguh tidak ada isinya ya. Kalian masih inget nggak hari pertama sekolah gimana? Ayo share ayooo!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Beres-beres Kenangan dengan Google Photo

on
Monday, July 10, 2017
Tips back up foto dengan Google Photos.


Siapa yang pusing karena foto berantakan di mana-mana dan nggak jelas harus cari ke mana kalau butuh?

SAYA NGGAK DONG. Hahaha.



Sebabnya, saya selalu back up semua foto saya di Google Photos. Kalian juga? Rapi nggak albumnya? Kalau sekadar di-upload aja tanpa ditata sih ya sama aja berantakan dong.

Oiya Google Photos ini bukan cuma aplikasi ya. Buka di browser juga bisa, jadi nggak perlu download aplikasi.

Nah meski kedengerannya gampang alias alah upload doang cincay, ada beberapa tips yang mungkin bisa berguna. Tips ini khusus buat kalian yang emang pengen foto-foto rapi, nggak berantakan dan nggak susah nyari.

πŸ’Ύ Setting Google Photos

Pertama, setting dulu Google Photos nya biar nggak upload ukuran sebenarnya. Iya jadi dikompres. Karena kalau dikompres, Google kasih kita storage unlimited!

Caranya pastikan kamu login di akun Google, terus buka photos.google.com dan ikuti step by step di bawah ini:



Nah kalau itu diceklis, otomatis semua foto yang kita upload itu keresize. Masih gede kok ukurannya kalau untuk kebutuhan di internet mahhh. Masih HD, 16 MP, kalau kata Google masih bisa dicetak dengan ukuran 24x16 inches (60x28 cm).

Kecuali kalau fotonya penting banget dan suatu hari rasanya kalian mau bikin billboard dengan foto itu, ya udah save di harddisk lahhh yang ukuran sebenarnya. Google Photos khusus buat kenangan aja, alias yang penting fotonya nggak hilang.

πŸ’Ύ Jangan auto sync/back up

Buat kalian yang punya aplikasi Google Photos di hp, matiin auto sync dan back up nya. Iya sih ngirit waktu tapi jadinya berantakan banget. Ya gitu aja seberantakan di gallery HP kan karena dia back up sesuai tanggal aja hahaha

πŸ’Ύ Bikin folder dulu di laptop

Copas dulu foto dari HP/kamera ke laptop. BERESIN DULU FOTO-FOTO ITU OFFLINE LAPTOP. Bikin dulu folder sesuai kategori yang mau diback up.

Misal satu folder namanya “Papua, Agustus 2015”, folder lain “Lebaran 2017” ya sesuai tempat dan kejadian atau apalah bebas. Saya sih lebih suka pake momen dan tanggal serta tahun biar carinya gampang. Nantinya folder ini akan jadi album di Google Photos.

Nah kalau foto Bebe yang mana entah berapa puluh ribu sejak dia lahir lol, saya back up berdasarkan usia Bebe. Jadi sebulan sekali rapihin di folder, kalau butuh tinggal diperkirakan oh itu pas Bebe lagi umur sekian nih.

πŸ’Ύ TIPS UPLOAD!

Uploadnya gini biar nggak pusing. Yang penting jangan upload sekaligus banyak baru bikin album soalnya kalau di tengah jalan internet mati, nanti fotonya berantakan lagi nggak masuk ke album. Ikutin step by step ini:

1. Upload satu foto dulu
2. Create new album
3. Masukin nama album, baru drag and drop sisa foto langsung ke dalem album ini. Kalau tengah jalan internet mati, semua foto udah aman di dalem album.



Soalnya saya suka upload foto Bebe sebulan gitu sekaligus 1000 foto misalnya, baru 800 foto terus connection error. Kelar lah udah itu 800 foto nyebar di mana-mana nggak di dalam satu album. Kalau udah gini saya suka stres sendiri #ocd lol.

πŸ’Ύ Rajin back up

Luangkan waktu sebulan sekali untuk back up dan niscaya foto-foto kalian nggak akan berantakan lagi. Untuk meluangkan space di harddisk, foto yang nggak terlalu penting hapus aja, kecuali ya itu tadi, ingin punya ukuran sebenarnya karena siapa tau suatu hari butuh bikin billboard segede dinding rumah. Ehm.

πŸ’Ύ Video gimana?

Video ikut ke-back up juga kok. Ikut dicopy aja, nanti dia otomatis jadi 1080 px. Masih HD lah itu. Masa iya nyimpen video 4k terus mau gratisan hahaha.

Kenapa nggak back up di Facebook aja?

Upload ke Facebook itu lebih ke-compress lagi fotonya jadi ukurannya jauh lebih kecil dibanding Google Photos. Lagian Google Photos juga bisa deteksi wajah, lokasi, dan bikinin gif gitu dari beberapa foto yang mirip lucu deh.

Fotonya private nggak?

Fotonya private tapi URL nya bisa dishare. Anggap URL ini kaya nomer handphone lah. Kalau nggak dishare, orang lain nggak bisa telepon kita kan jadi kalau url nggak di-share yang orang lain nggak bisa buka juga. Saya sih nggak share ke siapa-siapa karena tujuannya kan emang cuma buat back up doang.

Terus bisa juga upload-nya ke Google Drive terus sync ke Google Photo. Cuma saya males karena nambah-nambahin folder Drive aja berantakan pusing. Jadi ya foto ya udah sesuai fitrahnya di Google Photos. Drive buat dokumen aja.

Oiya saya juga pake dua akun Google. Akun pertama khusus buat Bebe dan keluarga. Akun kedua buat foto-foto zaman liputan dan pacaran dulu sama JG hahaha.



Udah sih gitu aja. Karena apalah arti kenangan kalau tidak bisa dikunjungi kembali kapan-kapan. Benar bukan? ;)

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Kembali Mewujudkan Mimpi

on
Friday, July 7, 2017

Sejak awal pacaran, saya dan JG selalu membuat resolusi tahun baru bersama setiap tahun. Sudah pernah saya ceritakan kan ya, bagaimana kami selalu membuat list hal-hal yang ingin dicapai setiap tahun.

List itu kemudian didesain sedemikian rupa dan menjadi dua ukuran. Satu ukuran wallpaper hp dan satu lagi ukuran wallpaper laptop. Ketika tahun berganti, maka wallpaper pun berganti.

Kalau mau ditulis di kertas juga lebih bagus lagi. Tempel di dinding sebelah kasur, atau di pintu kulkas, atau di pintu kamar. Di mana saja asal selalu terlihat.

Dari tahun ke tahun hampir semua yang kami tulis terwujud. Bahkan tahunnya belum selesai, biasanya semua resolusi sudah di tangan! Wallpaper pun bisa diganti. Malah pernah dalam setahun membuat dua list resolusi saking semua sudah terkabul di setengah tahun pertama.

(Detail di sini: Resolusi Tahun Baru)

Maka kami pun membuat resolusi yang lebih dan lebih lagi. Tidak muluk-muluk seperti mulai berolahraga, resolusi kami biasanya seputar gaji, gadget baru, atau liburan ke luar negeri. Intinya hal-hal yang ingin dicapai di tahun itu.

Kecuali tahun ini.

Desember 2016 saya merenung apa yang ingin saya capai di tahun 2017. Tidak ada. Saat itu seperti tidak ada. Rasanya kami sudah merasa cukup dengan harta benda. Saat itu yang di otak saya hanya dua:

1. Konmari-kan rumah Bandung dan Jakarta. Ini sudah hampir selesai. Hampir karena tampaknya tidak akan selesai 100%. Berkat Konmari, saya juga berpikir ulang untuk membeli sesuatu yang kurang penting dan ini rekor hahaha.

Saya cerita lengkap di sini: Beres-beres Rumah dengan Metode Konmari Yuk!

2. Menyelesaikan dana pendidikan Bebe untuk masuk SD. Masih 3-4 tahun lagi memang deadline-nya, tapi kalau sesuai rencana akhir tahun ini pasti selesai. Berkat beberapa rezeki yang tidak terduga Alhamdulillah. Biarlah sudah 3 tahun tidak liburan asalkan uang SD Bebe selesai dulu. Tidak tenang rasanya liburan dengan utang uang pendidikan hahaha.

Lengkapnya bisa dibaca di sini: Tahap Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

Dengan demikian, dua hal itu tau-tau 85% selesai. Saya dan JG pun mulai merenung. Apa lagi yang ingin kita capai?

Chat demi chat di siang hari, obrolan di mobil pagi-pagi, diskusi saat makan malam, akhirnya merumuskan mimpi baru. Mimpi lama yang dulu rasanya jauh sekali sekarang rasanya makin dekat dan sayang jika tidak dikejar dengan berlari lebih cepat, Untuk mimpi yang ini deadline-nya agak panjang, tidak satu tahun.

Saya pun langsung membuat wallpaper baru. Wallpaper resolusi dengan deadline terpanjang, empat tahun. Tidak bisa saya ceritakan karena masih terlalu jauh. Lewat mimpi itu muncul tekad-tekad baru. Tekad yang membuat hati bergemuruh jantung berpacu kencang. Nervous dan excited. Kami pasti bisa!

*TUMBEN SIS PUITIS AMAT NULISNYA HAHA*

Dan punya mimpi seperti ini deg-degannya emang bikin sedih dan mellow hahaha. Meskipun saya dan JG anaknya positif banget, pasti ada laahh ketakutan untuk gagal. Maka kami pun mendiskusikan plan B dan C - nya. Jadi nggak ada yang namanya gagal, yang ada hanya mengganti rencana dengan rencana berikutnya.

Meski deg-degan, punya mimpi juga senang sekali! Rasanya hidup kembali punya tujuan setelah setengah tahun hanya diam, leyeh-leyeh, beres-beres kenangan dan buang banyak sekali barang yang selama ini numpuk nggak jelas, cuma jadi energi negatif doang.

Aku senang!

Oiya selain menulis dan memvisualkan resolusi, kami juga biasanya berpegangan tangan erat-erat, memejamkan mata, dan meneriakkan mimpi itu berkali-kali di dalam hati. Pake aba-aba start dan stop. Caranya gini:

1. Tentukan kalimat tujuan, detail dan spesifik. Misal "mau beli mobil merek A dari dealer alias baru bukan mobil bekas paling lambat bulan September 2018".
2. Tentukan siapa yang akan kasih aba-aba start dan stop
3. Pegangan tangan kuat-kuat dan merem, tukang aba-aba bilang "START!"
4. Masih pegangan tangan, merem, teriakkan dalam hati kalimat yang tadi sudah disepakati. Teriakkan berkali-kali sebanyak mungkin sampai tukang aba-aba bilang "STOP!"

Sounds stupid? Kalian terlalu negatif kali hahahaha.

Teriak dalam hati sama-sama gini bikin pikiran positif coba deh. Bikin hati rasanya makin mantap sama tujuan. Dulu waktu masih main sama temen-temen, kami biasanya begini ramean. Jadi misal ada yang ingin sesuatu, kami merem sama-sama dan teriak dalam hati sama-sama. Ini cara lain untuk berdoa, juga berteriak agar universe mau bekerja sama. Afirmasi. :)

Jadi ya, pesannya untuk kalian yang belum nikah, kalau memang berniat nikah maka carilah pasangan yang bisa diajak berdiskusi mewujudkan mimpi. Yang bisa excited merumuskan masa depan ingin dibawa seperti apa.

Yang udah nikah mah nggak usah dibilangin lagi lah ya, pasti udah punya lah mimpi sama-sama kalau memang komunikasinya bagus mah, ya kan ya dong?

Doakan aku ya gengs! Kalau kalian lagi nganggur boleh loh merem dan teriakkan dalam hati "semoga Annisa Steviani berhasil mendapat apa ya ia inginkan!"

MAKASIHHHH. SELAMAT MEWUJUDKAN MIMPI!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Ulang Tahun Bebe

on
Wednesday, July 5, 2017

Horeee, inget untuk update cerita Bebe hahaha. Saya kadang suka ragu update cerita Bebe karena yah, cerita anak orang lain kan hanya menarik untuk orangtuanya sendiri. Tapi ya udahlah, yang penting saya punya rekam jejak kehidupan Bebe.

Maklum anaknya pelupa bangeeett. Sampai sekarang kalau baca tulisan-tulisan lama tentang Bebe saya kadang “woh iya dia pernah gini ya!” Kalau nggak ditulis mah babay ajalah, nggak bakal inget apa-apa. Padahal saya kan anaknya menghargai kenangan banget. Ehm.

Jadi yah, udah satu bulan berlalu sejak Bebe umur 3 tahun, jadi umurnya 3 tahun 1 bulan (astaga dijelasin amat). Bebe akhirnya ultah di daycare yeaayyy.



Ultah itu kan dia yang mau ya, dia yang suatu hari memutuskan “salo mau ulang tahun, salo tidak nenen lagi”. Bukan saya yang nawarin. Jadi dia super excited, nyanyi “Happy Birthday Salo” terus-terusan dan mengganti ide kue ultah SETIAP HARI.

(Baca: Akhirnya Bebe Menyapih Dirinya Sendiri)

“Ibu nanti kuenya Super Wings ya!”

Besok paginya.

“Ibu, kuenya Mickey Mouse aja deh!”

Sorenya.

“Ibu, aku mau kuenya Ultraman!”

Terus ibu stres. Bukan stres karena Bebe berubah pikiran terus. Tapi stres karena harga kue karakter itu ya ampun mahalnya!

Karena pembuat kue karakter itu seniman banget gengs, gilaaaa. Pada jago-jago amat. Ya ada sih yang nggak artsy, jadinya selain karakternya nggak mirip, nggak keliatan “hidup” dan nggak kece aja.

Tapi kan ibu ogah dong keluar uang 1,5juta hanya untuk kue! Kalau karakternya kecil dan cuma satu doang bisa sih 1juta. TAPI TETEP AJA DUH.

(Versi singkat dari cerita ini sudah saya posting di Instagram. Iya sekarang saya memperlakukan Instagram sebagai short blogpost. Follow ya! @annisast )

Akhirnya dengan brilian saya memutuskan untuk beli Duplo aja. Duplo Airport karena Bebe seneng banget Duplo. Kemudian saya rencanananya mau beli kue di Tous Le Jours terus tancapkanlah pesawat Duplo di atasnya. Sungguh brilian kan aku bangga pada diriku sendiri muahahaha.



Tapi pas malem sebelumnya ke Sency, Tous Le Jours kuenya abis! Nggak sisa satupun hih sedih amaaatt. Akhirnya pake kue coklat Bread Talk (200k saja) plus beli Duplo Airport sebagai hadiah ulang tahunnya. Kemudian saya awalnya males dekor-dekor kan ya udalah yang penting ada kue, tiup lilin, selesai. Eh H-3 JG ke Ambasador dan video call sama saya dari toko party supplies dan wow gemes-gemes yaaa. Sungguh pekerjaan idaman banget punya toko party supplies bisa bikin orang bahagia.

Ya udah terus beli paper bag buat goodie bag mbak daycare dan beli bunting flag polkadot yang kemudian saya tempel gambar-gambar pesawat biar sesuai tema. Iya temanya jadinya pesawat, nyesuain si Duplo Airport aja sih. Paper bag buat mbak juga saya tempelin pesawat.

Yang sebelumnya tidak niat jadi malah bikin undangan, tag ucapan terima kasih, ini ono ngeprint dengan gambar yang juga pada akhirnya beli di Creative Market karena duh, nanggung ya kan. Gambar sendiri mah nggak bisa juga. Plus bikin kaos juga akhirnya yang sesuai tema. KOK JADI BANYAK YAAA.

Terus apa kabar yang ulang tahun?

Yang ulang tahun kalem aja tuh. Sampai hari H malah bengong. Overwhelming karena semua perhatian buat dia. Semua orang nyanyi Happy Birthday dia duduk manis aja. Padahal pas latian mah kenceng banget di mana-mana nyanyi Happy Birthday Salo.



Cerita apa lagi yaaaa! Oiya goodie bag!

Goodie bag anak-anak saya pesen di @idekuhandmade. Saya tau mbak Puri ini duluuu pas masih kuliah apa ya, saya kan seneng jahit, beli buku kreasi bantal karya mbak Puri, dari situ langsung ngefans hahaha.



Pas Bebe ultah ke-1, sebenernya udah pengen bikin pouch di idekuhandmade cuma waktu itu dadakan banget dan nggak punya uang (kasian haha). Tahun ini alhamdulillah punya rezeki lebih jadi kesampaian deh bikin pouchnya di idekuhandmade. Ibu senang!

Adminnya ramah dan sabar banget, terus selesai sebelum deadline juga laff deh. Pouch idekuhandmade ini handmade dan handdrawn alias digambar langsung satu-satu! Jadi beneran nggak ada dua pouch yang sama karena pasti tarikan garisnya beda.



Isi pouchnya botol minum Tupperware dan Snazzy Boom. Tupperware sumbangan ibu saya hahaha bokek lol. Sementara Snazzy Boom ini tau dari postingan Instagramnya mbak Nuniek Tirta. Isinya rambut nenek gitu gengs, ada bola coklatnya juga. Enak dan manisnya pas.



Saya soalnya nggak mau ngasih jajanan ke anak lain soalnya Bebe sendiri nggak makan jajanan. Tapi ya kalau ultahnya ngundang banyak anak kan bokek ya kalau goodie bag mahal-mahal. Kayanya saya males sih bikin ultah kalau yang diundang banyak mah hahahaha. Ini Bebe bisa segini goodie bagnya karena cuma 9 anak doang kan.

Untuk goodie bag mbak saya nggak kasih pouch idekuhandmade karena sayang aja, mahal hahahaha. Jadi cuma pake kantong kertas, isinya macaroni schotel yang enak banget pesen di temen kantor sama Snazzy Boom juga.



Udah sih itu aja!

Bebe seneng dapet hadiah dan sampai sekarang masih ada hadiah yang saya sembunyikan karena sayang aja kalau dibuka sekaligus semua. Dikit-dikit laaahh. Lagian mainan dia udah banyak juga kok!

Sampai jumpa di cerita Bebe berikutnya!

-ast-

PS: Maafkan muka anak lain jadi semangka dan nanas karena takutnya nggak boleh diupload sama orangtuanya hehe.




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Donwoori Suki Bandung Review

on
Monday, July 3, 2017
Donwoori Suki Bandung review, menu, harga, dan first impression! (dikata makeup)


Halo semuaaaa!

AKU KEMBALI!

Gimana liburannya? Masih hawa-hawa pengen di Bandung gitu yang tanpa AC aja 20 derajat celcius yaaa hahaha AC di rumah Jakarta aja biasanya di 24 lol.

Oke biar nggak lupa dan nggak ketunda-tunda saya mau review resto Donwoori Suki di Bandung. Tempatnya di Jalan Lombok atau cek di IG nya lahhh @donwoorisuki.

Nah, first of all, sebagai orang Bandung, saya sebenernya paling bingung ditanya kalau di Bandung enaknya makan di mana? Ya karena saya ke Bandung beberapa bulan sekali doang jadi kalau makan ya ... di rumah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Iyalah, nggak pulang lama yang dicari kalau pulang ya makanan rumah laahh. Makanya saya blank banget sama resto-resto yang datang dan pergi silih berganti mengalahkan jamur di musim kemarau (adaaa).

Tapi kemarin kebetulan dadakan diajakin sahabatnya JG dari kecil untuk makan di Donwoori ini. Saya lagi bobo siang dicolek-colek disuruh mandi dan diajak pergi. Ya ayolah!

Yang pertama dipikirin adalah "pasti parkirnya susah" karena yaaa Jalan Lombok segitu-gitunya kan. Tapi untung nyampe sana pas banget ada satu spot kosong yay! Nggak waiting list pun jadi langsung dapet duduk, padahal pas jam dinner banget loh.

First impressionnya? Ini dia.





Gemes yaaa. Semua biru muda dengan quote di dinding blok kotak ala Scrabble gitu. Dan terang benderang! Perfect Instagram lighting!

Di setiap meja ada kompor bersama kaya di Hanamasa dan kita bisa pilih isian sukinya sendiri. Mau ketawa sendiri pas liat di balik isian suki adalah ... deretan bakwan malang kaya di Baso Enggal. WHY? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Okelah fusion banget ya tapi fusion suki dan baso malang banget atuhlah? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Pas cek di IG nya mereka pas bulan puasa juga bikin botram Korea. Ala liwetan tapi menu Korea. Sungguh kreatip! πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»

Pesen apa aja? Btw ini saya copas dari caption IG saya yaaa hahaha follow plis yang belum follow @annisast. Fotonya nggak noise kok lol.



Ramen tteokbokki pake mozarella. Ini enak. Ya enak tteokbokki lahhh, rasa gochujang hahahaha. Tteok-nya dikit tapi must try lahhh. Enak!



Chicken wings mozarella (nggak ada di buku menu! orang lain kok tau! ini kami nyontek meja sebelah! JG nanya "teh itu apa?" πŸ˜‚) rasanya biasa ajyahhh. Chicken wingsnya biasa, mozarellanya rada kurang.

Cuma ya ala-ala Ojju ajalah bisa gulung-gulung keju. Tampak enak dan memang tampak doang hahahahahha. Sori gengs, aku nggak bisa bilang enak padahal nggak enak-enak amat. :(




Suki. Bisa split kuah (misal kaya gini, setengah original setengah tom yam) terus ambil sendiri isiannya (alah). Ini enak tapi kalau diitung-itung jadinya mahal. Mending ke all you can eat bahahaha.

Dagingnya juga kurang seger. Ada bagian-bagian yang udah menghitam. 😢 Kuahnya enak sih, @azxylo nambah udon 2x πŸ˜‚



Dan iya mahal! Saya pesen segitu, dengan 6 plate suki abis sekitar 400ribu. Ya mending ke Kintan/Shaburi lahhh abis segitu juga jelas all you can eat ya kan. Kenyang kenyang deh sampai bego.

Terus kusungguh lelah dengan waiter/waitress-nya. Kondisi nggak super crowded tapi lambat banget. Temennya JG bengong karena mendekat ke salah satu waitress dan bilang mau order dijawab dengan:

"Jangan ke saya mas"
"Terus ke siapa?"
"Yang lain aja tapi jangan saya"

LHA. Ngakak apa ngepet? πŸ˜‚

Saya juga nunjuk satu menu (yang ternyata adalah pare gengs) terus nanya out of curiosity aja sih karena di foto apa sih ijo mlenuk-mlenuk tengahnya putih kaya somay.

"Ini apa mas?"
"Nggak tau teh"
"Eehh kumaha si aa teh, aa teu apal terus saya kumaha!"

T______T

Jadi yaaa, udalah cukup sekali aja ke sini mah lol. Tips! Pesen tteokbokki ramyeon itu terus foto-foto sepuasnya. Interiornya memperindah feed banget kok.

Jadi yah begitulah! Apa yang kurang sih ya ampun jarang-jarang ya review resto gini.

Mau ke sini lagi?
Kalau ditraktir mah ayo aja hahahaha (mental gratisan)



-ast-





LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!