-->

Image Slider

Sekolah dari Rumah, 3 Minggu Kemudian

on
Sunday, August 2, 2020

Awal menyadari bahwa hasil menabungku bertahun-tahun hanya akan berakhir si Bebe sekolah di rumah rasanya aduh ngapain sekolah kalau gini mending tahun depan aja biar sekolah offline!

(Padahal nggak ada yang jamin tahun depan udah bisa sekolah offline kan hedeh). Soalnya sekolah montessori harus online tuh hedeh, aparatusnya gimana? LOL melupakan montessori adalah filosofi bukan material :')))

Lalu juga khawatir karena beberapa minggu sebelum mulai SFH, Bebe sempat regresi dan perilakunya kembali ke usia 3 tahun, belum cerita detail soal ini memang nanti-nantilah, tapi intinya ini menambah kekhawatiran. Jadi 2 minggu sebelum hari H masuk SD, kami konsul sama psikolog soal ini, assessment, juga sekalian nanya-nanya persiapan untuk masuk SD online.

Bebe adalah anak difficult. Iya selama ini emang saya selalu bilang dia anak slow to warm up padahal sebetulnya dia terlahir dengan temperamen difficult tapi karena stimulasi baik, nurturing baik, dia jadi lebih mudah beradaptasi sehingga ya udah seperti anak slow to warm up. 

Dikasih pandemi 3 bulan? YA BUBAR LAGI BUK. Udalah selama pandemi ini nggak bisa lagi sok-sok bilang slow to warm up, difficult aja intinya. Karena kurang stimulasi, kurang interaksi sosial, kurang quality time sama saya dan JG. Mending dulu pas kerja, pulang tuh langsung fokus quality time, lha sekarang 24 jam bareng kok malah susah quality time HUHU SEDIH BANGET.

Lalu ingat dia adalah anak dengan gaya belajar kinestetik. Dia perlu bergerak-gerak untuk konsentrasi alias tipe anak yang jumpalitan banget nih baru pelajarannya masuk. Dulu saat belajar baca, saya kasih dia waktu roll depan dan lompat-lompat di kasur tiap berhasil baca 1 kata.

Terakhir, dia adalah anak ekstrovert. KAMI BERTIGA ADALAH KAUM EKSTROVERT. Jadi kami perlu berada dalam keramaian untuk bisa recharge energi. Kalau sepi-sepi gitu aduh lemes deh. Iya emang lemes terus selama di rumah aja ini. Bulan-bulan awal parah sih lemes luar biasa, sekarang udah mulai adaptasi.

Jadi Bebe adalah anak yang semangat kalau melakukan sesuatu bareng sama temannya. Kalau sendirian? Ya bosan.

Seminggu jelang sekolah, kok khawatir ya dia nggak bisa ngikutin pelajaran? Karena selama 3 bulan di rumah, harusnya dia TK dari rumah dong kan, tapi kan nggak mau. Selama 3 bulan saya bayar TK tapi si Bebe sekolah via Zoom mungkin cuma 5x. Padahal TK kan Zoomnya cuma setengah jam, itu aja nggak betah. Jadi 3 bulan liburan.

Maka ketika dapat jadwal pelajaran dan ngeliat wadawww ternyata SD sekolahnya 4 jam! Ibu cemas banget langsung mikir keras gimana caranya sih bikin dia stay di Zoom 4 jam, setengah jam aja menangis (ibu yang nangis bukan Bebe HAHA).

Maka kami pun meminta waktu pada guru kelasnya untuk one on one. Ini menurut saya penting agar gurunya tau karakter dia seperti apa (difficult, kinestetik, ekstrovert, sedang dalam kondisi yang butuh pendampingan psikolog) dan jadinya nggak berharap dia akan sejalan dengan anak lain.

YA PAHAM SEKOLAH MONTESSORI NGGAK AKAN BERHARAP ANAK JALAN SAMA-SAMA TAPI JUST IN CASE?

Selama one on one itu gurunya menenangkan dan bilang kalau nggak ada paksaan apapun. Saya pun bilang kalau dari saya nggak ada ekspektasi apa-apa. Kalau dia harus ngulang lagi kelas 1 tahun depan pun nggak masalah. Pokoknya set ekspektasi bahwa kami di rumah akan berusaha agar dia mau sekolah, tapi kalau pun tidak mau ya sudah. Gurunya oke.

Ternyata kekhawatiran itu cuma kekhawatiran aja ahahahaha. Emang kita tuh kadang suka meremehkan anak ya.

Sebelum masuk ke cerita SFH (EH BELUM MASUK CERITA YA? UDAH PANJANG GINI), baik psikolog maupun kepsek dan guru tuh sama-sama mengingatkan satu hal: RUTINITAS.

Rutinitas adalah kunci kesuksesan sekolah di rumah. Bagi anak kinestetik seperti Bebe, energizer di pagi hari itu wajib. Sebelum sekolah dia harus keluar rumah, lari-lari, ngapain lah pokoknya berkegiatan fisik biar lebih fokus saat mulai belajar.

Oke, maka saya dan JG bagi tugas. Kami berdua sama-sama akan bangun di jam 5 pagi, saya akan kerja sampai Bebe mulai sekolah jam 8.30. Selama itu, JG akan masak makan siang, energizer sama Bebe, sarapan, dan mandi. Setelahnya JG kerja, Bebe lanjut sekolah sama saya.

Pun ada kesepakatan sama Bebe bahwa sekolah tidak wajib. Tapi konsekuensi dari tidak sekolah dan tidak kerjakan tugas adalah sorenya tidak main game. Bebe setuju. Kami juga sama-sama run through jadwal pelajaran biar Bebe paham bahwa jadwal ini adalah kesepakatan bersama antara dia, kami, dan sekolah. Bukan suka-suka dia.

Hari pertama: Sepanjang Zoom nggak mau unmute sama sekali, nggak mau memperkenalkan diri, DIAM SEPANJANG HARI, iPad dibawa jalan-jalan jungkir balik tengkurep tapi diam. Ibu cheerleading mode, menyemangati terus.

Hari kedua: Mulai mau unmute sesekali tapi jawab sangat-sangat pelan. Kali ini yang cheerleading appa karena ibu ada syuting HAHAHAHA. Appa berakhir menangis (literally) karena udah masak sendiri, anaknya nggak mau makan, eh lalu piringnya jatoh dan tumpah. :))))

Hari ketiga: Mulai semangat, ngerjain tugas maunya selesai duluan terus suaranya mulai kedengeran “miss aku udah!” tapi baper dia karena miss nggak denger siapa yang ngomong. Saya suruh ulang bilang “bilang dong, miss Xylo udah” malah manyun.

Hari ini baca short story bahasa Inggris lancar meski suaranya pelan sampai iPad saya deketin banget ke depan muka dia khawatir miss nggak denger. Tugas selesai semua. IBU BANGGA BANGET TOLONG? Ibu masih full cheerleading mode. CAPEK YA TUHAN.

Hari kelima nggak mau sekolah nyahahahahahahaha. Udah energizer, sarapan, mandi, pake seragam. Sambil sarapan tuh sambil saya bacain buku. Begitu sarapan selesai, buku ditutup. Matanya berkaca-kaca “aku masih mau baca buku, aku nggak mau sekolah”. Yhaaa bagaimana.

Dia nangis telungkup di kasur lalu ketiduran ya udalah biarin. Jam 10-an dia bangun disuruh lanjut kelas lagi mau. Berarti tadi pagi ngantuk aja sih.

Dua minggu awal dia nggak mau sekolah sekali, ngambek left meeting duluan sekali karena disuruh baca Al-Fatihah tapi dia nggak mau, dan left meeting sekali lagi karena … jatoh dari kursi. Ya gimana sih kursi ada rodanya dipanjat-panjat, ya jatoh.

Ngeselinnya ya pas jatoh kan saya tangkap tuh tangannya, eh dia malah bilang “ibu dorong aku!” IDIH GEER AMAT! Saya kesel lah, ngapain aku dorong kamu biar jatuh? Kata dia “aku harusnya nggak jatuh, ibu dorong jadi aku jatuh!” WAW BYE. Saya menghindar dulu deh saking marah banget dituduh jatohin. Dia lanjut kelas sama JG.

Minggu ketiga ini alhamdulillah semua udah jauh lebih lancar. Bangun pagi nggak drama asalkan malemnya jam 8 udah tidur. Pun akhirnya di minggu kedua saya tinggal. Saya sok-sok sibuk gitu banyak kerjaan lalu diem di kamar, dia di kamarnya sendiri dan ternyata lebih enak begitu. Nggak manja.

Ya emang gitu kan ya kalau ada ibu segala-gala rasanya susah, lemes, kalau ibu nggak ada ya udah biasa aja. Saya bilang “kamu kenapa sih kalau sama ibu baby kalau sama miss jadi anak besar?” dia jawab “emang, aku maunya baby aja kalau sama ibu” HAHAHA AUK AMAT.

Tiap pagi bangun pun nggak susah, jam biologisnya udah terbiasa. Saya pun udah nggak struggling bangun jam 5 lalu kerja. Malah rasanya sehat banget karena tiap malem tidur jam 9 bangun jam 5, kulit pun jadi sehaattt banget. Emang tidur tuh krusial ya.

Saya bersyukurrr banget bisa sekolah di sini. Pelajarannya komprehensif dan anak-anaknya setara semua kemampuannya dengan Bebe. Semua udah lancar bahasa Inggris, baca tulis lancar, menghitung sederhana lancar. Missnya pun engaging banget jadi anak-anak nggak bosen. Tiga minggu sekolah udah planting, manasik haji online, dan cooking class.

Ini aja long weekend semalem dia sedih. “Besok minggu ya ibu? Aku mau sekolah aja, I’m soooo bored kalau tidak sekolah”. Wah seneng banget ibu dengernya huhu. Anak-anak kelas 1 seperti Bebe gini kan nggak punya pembanding sekolah offline, jadi sekolah itu ya Zoom. Mereka baik-baik aja, kita yang khawatir aja karena terpapar gadget terus kan?

Tapi ya udalahlah, emang zamannya begini juga. Jangan lupa main keluar aja dan video call orang selain orang rumah biar anak nggak lupa caranya ngobrol sama orang lain.

Gitu aja sih. Kita nggak tahu kapan kehidupan akan kembali seperti semula jadi beradaptasilah! Cari solusi konkrit sebetulnya mau hidup dengan cara apa sih kalau selamanya harus begini? Ayo coba dipikirkan pelan-pelan.

Kemarin juga saya story panjang lebar tentang mendefinisikan ulang sekolah. Sekolah nggak bisa lagi jadi solusi tunggal untuk pendidikan karena kalau dulu sih iya, bagi tugas sama sekolah. Sekolah mendidik dengan ilmu, di rumah orangtua menyamakan visi misi dan value lalu tinggal bonding dan quality time sama anak. Sampai-sampai cari sekolah tanpa PR biar di rumah bebas. LHA SEKARANG?

Sekarang batas antara sekolah dan rumah jadi bias, kalau merasa sekolah sudah tidak bisa jadi sarana belajar yang baik ngapain masih sekolah coba? Dicari solusi lain aja misal homeschooling atau panggil guru ke rumah. Nggak ada formula yang sama untuk setiap keluarga, solusinya akan sangat beda bergantung kondisi masing-masing.

Semangat buibu yang nemenin anak SFHHHH!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Mengajarkan Anak … Self Love

on
Wednesday, July 29, 2020

Saat isu mental health mulai digaungkan dan kata-kata self love serta you are enough bertebaran saya pusing KARENA MAKSUDNYA APA? Apa itu self love? Gimana caranya merasa cukup? Struggling banget kan sama dua hal ini?

Setelah pergulatan batin bertahun-tahun, quarter life crisis, punya anak dan adaptasi jadi ibu, saya baru paham oh ini maksudnya self love, oh ini maksudnya you are enough.

Ketika kamu menomorsatukan dirimu dulu bahkan sebelum anakmu. Ketika kamu paham pada berbagai emosi yang datang dan pergi. Ketika kamu menyadari bahwa semua perasaanmu valid dan boleh dirasakan.

Ketika sukses itu adalah bangga pada pencapaian diri sendiri dan tak lagi membandingkan hidup dengan orang lain, baik ke atas maupun ke bawah. Ketika merasa cukup berarti fokus pada apa yang sudah kamu miliki dan tidak terus menerus mengejar apa yang tidak kamu miliki.

SUSAH SETENGAH MATI, BUKAANNNN?

Karena sejak kecil, kita diajari sukses itu kalau sudah punya atau sudah bisa A, B, dan C. Kita terbiasa bahwa salah itu bisa bikin marah.

Kita jadi bingung, gagal itu boleh nggak sih? Karena tak terbiasa dipuji, kita jadi tidak tahu, apa boleh bangga pada pencapaian diri?

Nggak heran kan, bagi generasi kita, self love itu susah sekali rasanya.

Maka dengan demikian saya bertekad kalau Bebe harus paham konsep self-love dan you are enough ini sejak kecil. Sayang diri sendiri itu harus, emosi itu harus dipahami, bangga pada diri sendiri itu boleh, dan sukses adalah masalah proses.

Gimana caranya? Nggak susah kok, cuma perlu terbiasa aja.

Yang pertama tentang sayang pada diri sendiri. Sering ya kita tanya anak:

“Sayang ibu, nggak?” atau “paling sayang sama siapa?”

Tambahkan sayang diri sendiri!


“I love ibu, I love appa, and I love myself”

Beri tahu anak, konsep sayang pada diri sendiri bisa berupa senang bermain, boleh menangis kalau sedih, makan sehat, mandi yang bersih, dan berbagai cara rawat tubuh lain.

Saya terpikir hal ini karena tahun lalu, Bebe yang abru umur 5 tahun itu bilang “i don’t like my cheek, look, it’s too big”. PATAH HATI KAN.

Dia conscious sama pipi karena kalau ketemu orang yang dikomen adalah pipi. Pipinya pasti dibilang “gemes banget pipinya” sementara bagi dia pipi gemes adalah untuk bayi, kesel lah dia.

Cuma anak 5 tahun harus self-conscious itu kan … KASIHAN BANGET! Maka sejak itu saya selalu bilang harus sayang sama diri sendiri, nggak usah peduliin apa kata orang lain. Puji-puji juga bagian tubuh lainnya.

IYESSS AKU PERCAYA KALIMAT YANG KITA PAKAI ITU NGARUH BANGET! Apalagi untuk pujian.

Ganti:
“Kakak itu jago banget naik sepedanya”
“Tulisanmu bagus ya! Pintar sekali!”

Dengan:
“Kakak itu jago banget naik sepedanya, pasti karena sering berlatih”
“Tulisanmu bagus ya! Pasti karena rajin belajar!”

Tekankan proses, bukan hasil. Basi banget ya tapi bener kok. Puji prosesnya biar nggak glorifikasi kesuksesan. Biar kalau suatu hari dia liat orang yang dianggap sukses tuh yang dipikirin pertama kali gimana ya kerja kerasnya?

Iya sih ada unsur privilege tapi sudahlah tentang privilege ini dibahas lain kali, ya? Btw ini ada video yang bisa dengan mudah dipahami tentang privilege, Bebe nonton ini dan ngangguk-ngangguk katanya “oke aku sekolah” T______T


Lalu tentang salah. Salah itu boleh, salah itu belajar agar tidak salah lagi, kalau masih salah lagi ya sudah namanya juga manusia? Salah, tidak perlu harus selalu diulang sekarang juga sampai benar. Beri kesempatan anak untuk meresapi kesalahan.

Ini cobaan kesabaran ya Tuhan. Misal lagi ngerjain PR ya, kalau ada yang salah saya MAUNYA tuh langsung tunjuk “itu ada yang salah” tapi takut demot dong yah. Jadi biasanya saya diem dulu aja. Nanti setelah selesai Bebe akan bilang “ibu, inspect” INSPECT DIA BAHASANYA.

Kalau ada yang salah, MAUNYA tuh ya saya hapus terus ulang tapi dalam rangka memberi dia kemerdekaan memilih dan belajar dari kesalahan, saya biasanya bilang “ini ada yang salah 2, cek lagi” atau “itu hurufnya ada yang salah deh, kamu yakin udah bener?”

Kalau dia lagi mood ya lancar dong diperiksa lagi dan hapus lalu ulang. Kalau nggak mood? YA MARAH.

Tapi biar. Marah dulu aja, dibetulinnya kan bisa besok lagi. Yang penting dia udah sadar dulu kalau salah.

Pun, nggak perlu ulang-ulang ngomelin salah anak yang sudah lewat. Ya gitulah pokoknya, nangkep kan HAHAHA KOK MALES JELASIN GINI LOL.

Terakhir, boleh lho, bangga sama diri sendiri, dengan pencapaian pribadi. Proses kan harus dihargai. Ini yang susaahhh banget bagi orang-orang kaya saya yang selalu nuntut diri sendiri untuk perfect.

(Baca deh: Being Too Hard on Myself)

Saya selalu bilang:

“I’m so proud of you, you should be proud of yourself too!”

Sekarang ketika ia berhasil melakukan sesuatu ia bilang:

“Ibu, I’m so proud of myself!”

HUHU BANGGA.

Tapi gimana dong, jangan-jangan nanti anak malah jadi besar kepala?

Nah iya emang PR nya banyak banget siapa bilang sih jadi ortu tuh tinggal ngasih makan doang? KAN NGGAK ADA YANG BILANG GITU.

Ajari anak, bukan hanya menerima kekalahan tapi juga ajari cara baik menerima kemenangan.

Untuk tidak mempermalukan orang lain.  Untuk tidak merasa paling benar atau pintar.

Pencapaian dan kesuksesan orang tak mesti selalu sama. Bahwa setiap manusia berbeda dan beda itu tidak apa-apa.

Biarkan ia mempertanyakan segala hal. DAN DIJAWAB DONG KALAU TANYA. Kalau nggak tau jawabannya ya PR aja buat ayah ibunya untuk belajar sama-sama.

Jangan lupa validasi emosi.

Agar nanti ia tak perlu belajar sendiri bahwa emosi harus dikenali. Agar paham bahwa menangis itu boleh, merasa ingin sendiri itu tidak apa-apa, bahwa marah dengan aman itu tak merusak barang apalagi menyakiti orang lain dan diri sendiri.

Daftar pelajaran self love ini pasti akan bertambah juga seiring usia anak. Karena tiap tahapan usia pasti beda tantangannya kan. Yang penting dari basic dulu deh. Kalau belajar dari umur 4-5 tahun gitu strugglenya pasti beda kan sama kita yang baru belajar umur 25 yakaannn.

Susah nggak? Pada praktiknya nggak sesusah itu. Mungkin karena saya udah punya juga blueprint dalam membesarkan anak, bisa dibaca di sini: MEMAHAMI ANAK.

Ya udah gitu aja semoga bermanfaat yaaa! Semoga anak-anak kita tumbuh lebih mencintai dirinya sendiri. Aamiin!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Bebe dan Game

on
Saturday, June 20, 2020

BUKAN. Bukan mau cerita si Bebe main game. Tapi sebuah perenungan *halah* nggak deng, ini sebuah rekaman aja karena menurut saya lucu jadi layak masuk arsip blog HAHA.

Masuk umur 6 tahun ini si Bebe mikirin banyak hal. Asli deh overthinking. Dia mulai paham kejadian-kejadian di masa lalu jadi udah bisa nostalgia gitu.

Salah satu cerita yang paling dia inget di masa kecil adalah tentang rumah kami yang dulu kecurian. Ceritanya bisa dibaca di sini: Kamera Hilang (pas nulis itu baru kamera yang hilang, beberapa hari kemudian laptop dan harddisk ilang lol nasibku).

Jadi malem-malem, lagi ngobrol dan pelukan dia bilang gini:

“Ibu, kenapa ya dia mencuri di rumah kita padahal kita baik sama dia?” (Wadaw, ini karena setelah lapor polisi, terduga pencurinya ketauan tapi males perpanjang jadi ya udalah)

Lalu.

“Ibu, kenapa dulu ibu suka main game tapi sekarang nggak?”

NAH APA HUBUNGANNYA TUH KALAU IBU BOLEH TAU?

Saya tanya balik dong, memang kenapa kamu inget-inget si pencuri terus sih?

Jawabnyaaa?

“Soalnya yang dicuri, iPad ibu yang ada Clumsy Ninja udah jauh, sekarang aku main levelnya jadi baru 12”

HAHAHAHAHAHA. TERNYATA PERKARA GAME DONG!

Jadi dulu saya anaknya main games banget dan Bebe tau itu karena dia liat di iPad lama banyak games cuma nggak paham aja karena umurnya baru 3 tahun. Saya gila lah dulu sama games di iPad, itu iPad sok-sok buat liputan padahal isinya games. Tahun 2011, saya main Hay Day udah jauh banget, Clumsy Ninja udah level 50-an, terus semacam Virtual City gitu-gitu gamenya G5 saya main semua.

Sementara sekarang kapan coba sempet main game? Jadi si Bebe main Clumsy Ninja sendirian dan ya udah lama pun baru level 12 karena screen time dia kan sebentar.

Kasian anakku.

Lalu saya bilang gini “Duh iya dulu aku sempet main game karena nggak punya kamu lah. Sekarang aku punya anak kapan coba aku main game? Sehari aja aku nyuapin kamu berapa kali, mandiin, bikin susu, aku mainnya gamenya kapaannn?”

Dia “ibu main ajalahhh bantuin aku”

NYEPLOS LAH INI IBUNYA “ah nggak ah, nih kamu kan game aku, aku mainin tiap hari kan, aku kasih makan biar heartnya nggak abis (bawa-bawa heart ala Minecraft), aku suruh nonton biar senang terus (ala The Sims)” terus dia ketawa-tawa karena menurut dia lucuuu katanya kalau dia jadi game.

Tapi rupanya percakapan itu melekat di sanubari? Sampai saya nggak tau harus ngerasa lucu atau ngerasa bersalah HAHA :’))))

Beberapa hari lalu, biasalah ada masa-masa di mana males masak dan nyuapin dengan niat. Empat hari kemudian, turunlah berat badan Bebe sekilo. STRES DONG YAH!

Pusing ya jadi ortu tuh. Yang males masak siapa, yang stres kalau berat badannya turun siapa. Kaya udah tau bakal terjadi tapi tetep dilakuin. Kesel sama diri sendiri.

Malemnya saya langsung ngobrol sama Bebe soal menu. Bebe mau makan apa? Mau dimasakin apa? Besok kita belanja, kamu harus makan blablabla. Abis itu saya diem aja mikir duh males harus masak tapi gimana dong Bebe nggak mungkin turun lagi ke garis kuning, nggak rela.

Ngeliat saya ngelamun, dia nanya:

Bebe: “Ibu pikir-pikir apa?”

Ibu: “Ibu mikirin makan kamu haduhhh aku sedih kamu turun berat badan”

DIJAWAB DENGAN?

Bebe: "Is it because I am your game?”

HAHHHH? SHOOKETH TO MY CORE LOL NGGAK TAU HARUS KETAWA ATAU NANGIS?

Refleks saya ternyata sok sedih dan mengikuti alur role play ini. Memanglah jadi ibu harus jago akting kan dari dulu juga.

Ibu: “Aduh iya aduhhh, gimana nih game aku aduh heartnya tinggal satu oh my god gimana dong, hungernya sampai merah ini aduhhh?”

Bebe: “Hahaha ibu, you know level 6 is hard!”

Level 6 cenah karena umur 6 astaga.

Ibu: “I can’t do this alone, I think I will ask appa for help, can I change the game to multiplayer?”

Bebe berbalik ke dinding lalu mencet-mencet dinding: “Done, now the mode is multiplayer”

“But ibu, level 6 is hard, but I think level 0 is the hardest. Because baby can’t walk hahahaha”

WADAWWW.

Ditutup dengan “Ibu, look (menunjuk ke atas kepala), my heart now is two because I like talking to you like this”

KYAAAA MELELEH. HUHU.

Besok-besokannya dia masih berperilaku sebagai game. Katanya saya nggak boleh turun level karena tahun depan harus jadi level 7.

Bikin merenung banget punya anak itu sebenar-benarnya main game dengan neverending mode. Kalau main The Sims aja ambisius pake cheat biar semua needs dia full, kenapa needs anak nggak diusahakan full terus coba?

Sounds wrong tapi biarin orang anaknya aja happy kok karena serasa hidup di dalam game hahahaha.

Jadilah besoknya langsung ke supermarket, langsung dimasak semua. Syukurlah sekarang kulkas udah ada stok makanan jadi buat Bebe jadi kalau mau makan ya tinggal ambil nasi aja.

DEMI GAME kESAYANGANKU TERUS NAIK LEVELNYA!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Bebe 6 Tahun

on
Saturday, June 13, 2020

WOW. Anakku 6 tahun wow. Postingannya panjang tapi penting jadi biarlah kutulis semua.

BACA DULU DONG CERITA MELAHIRKANKU 6 TAHUN LALUUU: Drama Melahirkan.

Tahun lalu, waktu Bebe ultah ke-5, saya anggap itu sebagai milestone banget karena lepas usia balita. Tapi ternyata smooth aja tuh nggak ada perubahan berarti di 5 tahun tuh.

Nah ternyata saya rada salah sih emang menganggap lepas usia balita itu milestone karena secara kehidupan, 5 tahun itu nggak berubah banyak.

Sekolah masih preschool. Udah bisa baca sih tapi belum paham banget apa yang dibaca. Tiba-tiba setahun kemudian baru deh kerasa dia bukan anak kecil, tapi juga belum jadi anak besar.

Bebe nervous banget menghadapi umur 6 tahun ini. Salah satu faktor utamanya adalah mau masuk SD. Big deal. SD adalah sekolah anak besar, bukan preschool yang sekolah anak kecil.

Dia juga tau giginya akan mulai copot, udah nggak akan di daycare yang sekarang lagi, dan wah akan banyak perubahan dalam hidupnya. Dia pun menghitung hari.

Dari beberapa bulan sebelumnya dia udah bilang “aku nanti tuh ya ulang tahun ke 6 di tanggal 6 bulan 6, aku mau kue Mario di atasnya ada Yoshi blablabla (DETAIL ANAKNYA TUH)” YABAIKKK. Ibu siapin. Surprise.

Dua minggu sebelumnya gelisah. Tiap malem ngitung berapa hari lagi. Padahal kan ultah juga bukan yang dapet kado atau reward apapun kan, tapi dia nggak sabar nunggu harinya. Kerasa banget dia nunggu momen ini.

H-1 dia bilang gini “tomorrow I’m six. I’m so nervous”.

Waw. Ditanya kenapa jawabnya karena nggak akan daycare lagi dan mau masuk SD. Lalu telungkup di kasur dan nangis karena mellow mikirin bulan terakhir daycare. Berat banget yahhh jadi anak 6 tahun. Udah paham perpisahan, ngerti akan menghadapi lingkungan baru, ada perasaan takut tapi juga semangat.
⁣⁣⁣⁣
Aku peluk dan bilang mau masuk SD itu takut ya nggak apa-apa kan wajar nggak kenal missnya dan teman-teman. Tapi aku yakin kamu akan senang di sekolah karena ibu kan pilihkan sekolah yang seru buat kamu. Mana lagi pandemi gini, soundingnya jadi makin panjang lebar.

Ceria lagi deh, cerita-cerita ruangan kelasnya, missnya dengan modal pengalaman pas tes masuk doang padahal HAHAHAHA. Saya ceritain juga dia waktu ultah ketiga di daycare dan gimana persiapan masuk preschool. Dulu nggak ada takutnya, excited, hari pertama sekolah dan daycare baru nggak ada nangis-nangisnya.

Ya maklum 3 tahun ngerti apa? Ini 6 tahun, sekolahnya belum mulai, overthinkingnya udah. PERSIS SIAPAAA? AUK AHHHH!

Intinya kemampuan mengelola emosinya berubah. Kalau dulu cuek-cuek aja sekarang jadi lebih mikir. Mikirin hidupnya sendiri. Mikirin cita-cita. Mikirin rencana hari ini mau ngapain aja.

Di sisi lain, empatinya juga makin keasah banget ya ampunnn manis banget ini anak bener-bener deh giunggg. Apalagi WFH gini, JG mah udah paling jealous lah saking yang diperhatiin saya doang HAHA.

“Ibu jangan kerja terus nanti ibu capek, ibu tiduran aja ya? Ya?”

“Aku sayang ibu, sampai besar aku akan sama ibu. Jadi nggak perlu telepon setiap hari”

“Ini ya ibu, fish oil dan minumnya” DIBAWAIN KE KAMAR DONG KARENA SAYA KERJA TERUS HUHU ANAKKU.

“Ibu sakit ya? Aku nggak cium ya nanti nular” :((((

Terus kalau pas saya yang ketiduran duluan, dia suka elus-elus pipi dan cium-cium HUHU TERHARU AMAATTT T_______T

SAMA JG MAH BORO-BORO. Berantem terosss. Kerjaannya main bareng, nangis, main bareng lagi ciat ciat, nangis lagi. Ya udalah yang penting mau main bareng lol.

Lalu milestone berikutnya adalah: PUNYA KAMAR DAN TIDUR SENDIRI!


Nah ini juga salah satu yang bikin dia nervous sih kayanya. Dari beberapa bulan sebelumnya saya udah sounding kalau di 6 tahun kamu akan SD dan akan tidur sendiri. Duh kok bisa-bisanya ya sounding 2 hal besar sekaligus. Tapi alhamdulillah lancar!

Dari dulu ini kamar judulnya kamar Bebe sih tapi nggak diset sebagai kamar anak sama sekali. Kamar bersama aja. Dua minggu sebelum ultah, kami cat kamarnya. Perkara cat kamar aja argumennya alot banget. Bisa dibaca di sini: Bebe Anak SMP

Terus karena kamarnya sempit jadi beli loft bed yang ada meja belajarnya. Lemari mainan udah masuk kamar, semua udah diset jadi kamarnya dia. Dan karena loft bed, otomatis dia akan tidur sendiri di atas. SUKSES LHO!

Perjanjiannya hanya 2 hari seminggu boleh tidur di kamar ibu. Boleh pilih hari bebas. Lalu juga saya sempet nemenin beberapa hari di atas tapi lama-lama tidur sendiri juga bisa. Baru kerasa ini anak gede amat ya?

Ngototan pulaaaa. Wah argumennya bener-bener deh anak SMP!

Beberapa hari tidur di kamar sendiri dia nangis pengen tidur sama ibu. Pas ditanya kenapa jawabnya apaaa? “It’s not fair, kenapa aku tidur sendiri tapi ibu berdua appa?”

Saya bilang karena semakin besar, jadi anak itu harus semakin mandiri. Mandi sendiri, makan sendiri, tidur sendiri. Karena suatu hari kamu mungkin akan keluar dari rumah dan tinggal tanpa ibu.

LAH MAKIN KEJER HAHAHAHA.

Asli nangis sesenggukan sampai saya minta maaf dong. Katanya sampai besar juga nggak mau keluar dari rumah. IYAIN AJA UDAH.

Oiya mau cerita pesta ultah juga biar bisa dibaca lagi nanti.

Karena mau kue Mario (seumur hidup baru kali ini dia request kue ultah), saya pesen kue dong. Diambilnya kapan? Menurut si pembuat kue, enaknya malem aja karena saya maunya pas Bebe bangun tidur, ruang tengah udah didekor dan kuenya udah ada.




Masalahnya gimana caranya masukin kue tanpa ketauan Bebe? Ya udah appa pergi aja sendiri bilang ke Bebe mau ke supermarket.

Dengan bodohnya, karena rumah yang bikin kue tuh deket tempat jajan, saya pesen lah ke JG untuk beli jajanan. Ya pempek, batagor, cilok, ribet banget. Intinya JG jadi nggak bisa bawa naik segala jajanan itu sambil bawa kue ala bawa bendera pusaka dong? Karena si kue nggak diplastikin.

Neleponlah dia “kamu turun ke basement-nya, aku susah ini bawa kue dan makanan”.

Saya izin ke Bebe “be, ibu turun dulu sebentar ya, appa repot nih bawa belanjaan banyak”. Si Bebe iya iya aja.

Dia udah beberapa kali ditinggal bentar gitu untuk ambil paket ke bawah karena udah bisa kunci pintu, udah ngerti nggak boleh buka pintu, dan dikasih HP buat telepon.

Turunlah saya. Pas naik lagi rusuh tuh kue langsung diamanin di lemari. Bener dong si Bebe ngecek!

“Appa beli apa aja emang sampai harus dibantu ibu?” Lalu dia buka kulkas.

“Wah iya kulkas kita jadi penuh banget nih” KATA BEBE. YANG PADAHAL ITU KULKAS NGGAK NAMBAH ISI APA-APA EMANG PENUH TERUS SELAMA WFH. T_________T

Besok subuhnya udah deh bagi tugas. Appa tiup balon, ibu bikin clue untuk treasure hunt. Lalu siangnya Zoom meeting sama kakek nenek, para tante, persepupuan, untuk rayain ulang tahun.

Treasure huntnya seruuu deh! Aku suka anakku bisa baca HAHA.



Hadiah pertama cluenya cuma semacam petunjuk untuk nyari clue berikutnya. Tiga clue langsung ketemu hadiahnya. Speaker JBL Pop karena selama WFH Bebe tuh suka dengerin podcast dan punya playlist Spotify sendiri. Dewasa banget kan lol.

Nah hadiah kedua, clue pertama ada di recording yang harus didengerin pake si speaker. Lalu lebih sulit gitu harus jalan sekian kotak lantai pake compass dari HP. Terakhir harus isi teka-teki silang. SERUUUU!



Hadiah kedua ini mah Bebe banget lah. Track Monster Truck. Pusing di rumah banyak banget track. T________T

Ya udah segitu aja (udah panjang kali ahhhh). Doakan semoga kami selalu bisa jadi orangtua yang selalu punya bonding dan attachment yang baik dengan anak ya. Aamiin.

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Mencari Kesempatan

on
Friday, June 5, 2020
Tiga bulan di rumah wow. Tiga bulan ini saya nonton drama Korea lebih banyak dibanding 7 tahun terakhir. Saking nggak mau produktifnya, saking maunya kerja, masak, sama rebahan. Saat rebahan, saat yang pas untuk Koreaan.



Sampai terketuk hatinya karena 2 hari lagi ulang tahun si Bebe ya ampoonnnn! Biasanya ultah Bebe adalah jam-jam sibuk. Entah kenapa awal Juni tuh jadi momen sibuk saya banget.

Tahun lalu bikin buku “Berbeda itu Tak Apa-apa”.

Dua tahun lalu bikin buku “Susahnya Jadi Ibu”

Tiga tahun lalu bikin souvenir ultah MENJAHIT pouch sendiri dengan custom muka temen-temen Bebe yang saya GAMBAR sendiri. Ditambah flash card yang juga saya gambar sendiri. Ambisius amat mbaakkk?

Enam tahun lalu bikin buku “Oppa Oppa”. Masih bisa dibeli di Google Play btw.

Punya buku 3 semua lahir di awal Juni. Punya anak juga lahir awal Juni lol.

Sampai diingatkan Timehop. Di awal Juni, sembilan tahun lalu, juga satu momen yang mengubah hidup saya datang. Bulan Juni 2011, adalah kali pertama saya menginjakkan kaki untuk memutuskan berkarier di Jakarta. Satu keputusan yang nggak pernah sekali pun saya sesali.

Saya sebenernya bikin YouTube tentang ini, tapi sebagai penulis, bikin video tuh ngeselin ya karena kalau udah selesai lalu ada yang pengen ditambahin, SUSAH AMAATTT NAMBAHINNYA! Udalah saya bikin versi tulisan juga. Videonya bisa ditonton di sini:


Sembilan tahun lalu saya lagi suka-sukanya pada KPop. Ngikutin banget sampai punya akun di forum-forum fanbase. Dulu musimnya forum kan ya, dan tiap fanbase punya forum sendiri sampai ribet amaattt harus sign up satu-satu.

Saya juga waktu itu pengangguran karena abis resign impulsif akibat berantem terus sama bos. Saya ngetweet nanya lowongan kerja eh loh kok malah disuruh kirim CV! Abis kirim CV langsung janjian interview dan tau-tau Seninnya saya udah resmi kerja di Jakarta. Big deal buat saya yang seumur hidup di Bandung.

Karena waktu itu kondisinya saya belum pernah sama sekali ke Jakarta sendirian pake travel. Mantan pacar saya waktu itu ada apalah sampai nggak bisa anter padahal sebelum-sebelumnya kalau ada interview di Jakarta pasti dianter.

Ayah saya lagi sibuk jadi panitia SPMB dan jadinya supirnya nggak mungkin dipinjam. Intinya, saya nekat ke Jakarta sendirian. Bermodal GPS dari Google Maps Blackberry, saya naik travel ke Pancoran dan lanjut naik taksi. Takut tapi excited banget!

Sampai sekarang saya masih inget persis baju dan celana mana yang saya pakai. Masih ingat suasana interview dan nego gaji karena jujur gajinya kecil banget dibanding pekerjaan terakhir saya yang notabene di Bandung. Sementara di Jakarta saya harus bayar kost dan makan sendiri. Tapi karena posisinya saya sangat sangat inginkan, ya udah nekat aja.

Siapa sangka, bahkan saya sendiri nggak nyangka, satu keputusan saya untuk pergi sendiri ke Jakarta itu mengubah hidup saya selamanya. Jadi reporter KPop, lanjut jadi editor di media yang lebih oke, dan sekarang di media yang saya sukai. Pengalaman-pengalaman yang membentuk saya jadi seperti sekarang.

Berawal dari satu tweet. Hidup berubah selamanya.

Selfie dari meja kerja pake laptop HAHA
Katanya saya beruntung. Tapi kalau cuma modal beruntung dan mengabaikan kerja keras saya juga rasanya nggak adil. Saya perlu mengapresiasi kerja keras saya. Kalau bukan saya yang apresiasi terus siapa lagi? Hahahaha.

Untuk bisa liputan itu saya approach semua promotor satu-satu termasuk promotor di Singapura karena 2011 tuh artis yang konser di sini sedikit banget. Jadi memang awalnya saya nonton konser bolak-balik ke Singapura. Ketika pada akhirnya artisnya juga datang ke Indonesia, saya juga nggak pernah ragu untuk telepon dan tanya-tanya duluan pada promotor untuk info dari insider.

Iya betul pekerjaannya menyenangkan. Ketemu dengan banyak KPop idol, wawancara, ke backstage, rehearsal, sangat menyenangkan sampai layak dijadikan buku oleh penerbit major. Tapi di balik itu juga saya kerja sangat keras.

Jam kerja tidak tentu, Sabtu-Minggu masuk tanpa diganti hari libur lain, pulang tengah malam besok paginya sudah kerja lagi. Begitu terus selama 2 tahun. Lalu seperti cerita di video itu, nggak melulu saya liputan senang-senang. Small gathering fanbase pun saya liput dan datangi untuk menghormati mereka yang membaca tulisan saya setiap hari.

Masa-masa itu meski super melelahkan, selalu jadi highlight masa muda saya. Senang sekali pernah punya pengalaman yang nggak bisa dimiliki semua orang. Sampai sekarang rasanya seperti mimpi. Kalau saya tidak menulis buku dan tidak merapikan foto-fotonya, mungkin kenangan ini lama-lama makin blur. Untung saya menulis dan mengabadikannya di buku huhu terharu sendiri hahahaha.

Oiya soal buku juga. Apa penerbit datang ke saya dan menawari untuk membuat buku seperti sekarang? Sekarang sih iya, sekarang kayanya punya followers agak banyak aja langsung ditawari bikin buku deh sama penerbit.

DULU YA TIDAK. Saya email penerbit dan menawari proposal untuk membuat buku. Saya beri summary pengalaman saya dan akhirnya sepakat untuk ditulis dan dijadikan buku. Detailnya ada di sini: Tentang Buku Oppa Oppa

Intinya, kesempatan itu emang kadang datang sendiri tapi nggak ada salahnya dicari. Mungkin kamu udah cari jutaan kali dan tetep belum ketemu apa yang dinanti. Tapi, apa sih salahnya untuk coba sekali lagi?

SELAMAT MENCARI KESEMPATAN!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Bebe's Story #58-#63

on
Sunday, May 24, 2020


Wadaw 2 tahun nggak nulis Bebe's Story HAHAHA. Alasan utamanya adalah karena saya pindahin celetukan si Bebe jadi thread di Twitter. Lebih gampang karena kalau dia ngomong agak ajaib dikit saya langsung twit aja. Biasanya dicatet dulu di notes lalu dibikin blogpost kan.

Threadnya dimulai dari 2017 sampai sekarang. Bisa diliat di sini ya! 

Nah, tapi 3 bulan di rumah, saya dan JG dibikin geleng-geleng terus nih sama omongannya si Bebe. Ampun deh jelang 6 tahun (2 minggu lagi!) saya rasanya kaya ngomong sama anak remaja. T______T

Dia tau banget caranya ngetes batas kesabaran gitu. Cengengesan terus, bisa ngambek banting pintu masuk kamar, dan berbagai emosi lain yang bikin mikir: Waw kalau umur 6 aja sulit apalagi 12 HAHAHA SURAM.

Tapi di sisi lain masih bayi banget dan maunya nempel terus dipeluk sama ibu, 50% ngomongnya kaya anak SMP, 50% lagi ngomongnya dicadel-cadelin kaya bayi. Sungguh niat emang si Bebe mengubah kepribadian seketika tuh.

Ngomong apa aja dia? Ini rekap 3 hari terakhir. TIGA HARI! Ini murni 50% saat dia menjadi anak SMP ya. Iseng dan dewasa banget huhu, Kalau jadi bayi ya gitu, ngomong T jadi D, R aja jadi W. Iya, SCARY jadi SKEWI. -_______-

#58

Ibu lagi nyapu, nyari pengki kok nggak ada? Eh kok ada di dalem kamar mandi. Sepertinya abis dicuci sama JG.

Ibu: "Eh ada Be, di kamar mandi ternyata, appa kayanya sih taro di sini"

Bebe: "Duh appa nih, so clumsy!"

Appa datang abis ambil paket.

Bebe: "APPA! SO CLUMSY! Kenapa pengki di kamar mandi?"

WAH.

#59

Nonton Ugly Delicious malem-malem bertiga di meja makan pake HP. Si Bebe badannya nggak mau tegak, nunduk ke depan. Disuruh mundur maju lagi maju lagi. Sampai akhirnya saya stop nontonnya dan tidur. Di kamar ...

Ibu: "Kamu kenapa sih tadi nontonnya deket-deket gitu?"

Bebe: "Aku emang sengaja hehe biar ibu marah"

T_______T

#60

Masuk umur 6 tahun, perjanjiannya Bebe harus tidur sendiri. Kami atur ulang kamarnya, rencananya mau beli kasur yang proper, meja belajar besar, dll. Tapi mau dicat dulu, warna apa ya? 

Ibu: "Be, kamu mau cat kamarnya warna apa? Tiap sisi dinding beda atau sama?"

Bebe: "All black"

Ibu: "Gelap sih kalau black. Biru gimana?"

Bebe: "Ok tapi dark blue"

YHA APA BEDANYA DONG BE AH!

#61

Kemudian berlanjut ke diskusi warna sprei dan kursi belajar.

Ibu: "Spreinya aja yang black atau dark blue ya? Nanti ibu cari. Kupikir selama ini warna kesukaanmu biru"

Bebe: "I like all color except pink and yellow and purple"

Ibu: "Ih that's my favorite color"

Bebe: "I know hehe that's why I don't like it"

NAON SIH BEBE DENDAM SAMA IBU ATAU GIMANA T_______T

#62

Ibu mellow, bisa nggak ya Bebe tidur sendiri?

Ibu: "Waktu kecil aku baru bisa tidur kalau baca buku dulu. Aku selalu baca dulu di kasur"

Bebe: "Ibu baca buku apa? Aku tau pasti ibu baca Harry Potter ya?"

Ibu: "Banyak sih bukuku waktu kecil tapi kalau sebelum tidur aku seringnya baca majalah Bobo"

Bebe: "Ah apaan majalah Bobo mah banyak iklan, cerita iklan cerita iklan, nggak suka"

GIGIT NIH. T_______T

#63

Bebe mellow karena kangen temen-temen daycare.

Ibu: "Iya aku juga kangen teman-temanku. Kangen kerja, nonton konser, naik ojek aja aku kangen"

Bebe: "Iya aku juga udah lama banget nggak naik ojek"

Ibu: "Lah, kamu kapan juga naik ojek?"

Bebe: "Iya nih aku udah terlalu besar, ketauan sama pak polisi, kakiku terlalu panjang jadi keliatan deh sama pak polisinya"

CKCKCKCKCK.

Ibu: "Kamu dulu naik ojek sama aku mah umur 2-3 tahun kali, masih pake Ergo aku gendong"

Bebe: "Iya itu pas dulu aku beratnya cuma 2 kilo"

NGGAAAKKKK GITUUUUU. Yakali lahir aja udah 2,5 kg.

T________T

*

Biarlah aku shameless tapi aku merasa celetukannya itu sotoy sotoy lucu? HAHAHA. Kalau dia udah nyeletuk gitu nggak sabaran pengen bilang ke JG terus merenung bersama "ANAK KITA LUCU BANGET" LOL kagum deh sama diri sendiri HAHAHA.

Cuma kan nggak bisa dilakukan kalau di depan Bebenya dong. Jadi nunggu dia tidur atau dia nggak denger baru saya ceritain. Di depan Bebe mah ibu selalu menanggapi dengan serius dan nggak nganggep dia konyol. Ketawanya nanti lagi aja ditahan dulu hahaha.

Ya udah gitu aja. Nulis ini jam 1 malem takut keburu nggak mood nulis hahahah.

SELAMAT LEBARAN!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Menetralkan Emosi

on
Wednesday, May 13, 2020


“Ambil hikmahnya ajalahhh.”

“Ya bersyukurlah masih blablabla”

“Kenapa sih liat negatifnya terus!”

“Count your blessings”

“Good vibes only!”

Sekali dua kali denger kalimat kaya gitu nggak masalah. Denger saat lagi nggak gitu down juga rasanya biasa aja. Tapi pas emang lagi di bawah banget, lalu ada yang ngomong gitu ke kita kok rasanya kaya emosi kita jadi nggak valid ya?

Apa iya nggak boleh ngeluh?

Apa iya karena kita masih bisa makan enak dan masih punya atap untuk bernaung kita lantas nggak pantas untuk mengeluh?

Pantas tidak pantas menurut siapa sih?

Mengeluh juga kan bukan berarti tidak bersyukur. “Ya saya bersyukur bisa makan enak tapi jujur capek banget nih masak tiap hari.” Kan valid aja. Nggak ada masalah dalam kalimat itu hahahaha.

Kalau untuk orang lain, kita kan nggak tau sedang sedalam apa dia dengan perasaannya sehingga tidak perlu lah ikut campur dengan menyuruhnya mendadak bahagia. Bahagia kan tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa tring! disulap sekejap hanya karena kita meminta dia untuk membuang negativity.

Kalimat atau pernyataan positif kan sebaiknya memotivasi. Kalau sudah tidak memotivasi, apa iya tetap bisa dibilang sebagai kalimat positif?

Di sinilah istilah toxic positivity lahir. Mindset terlalu positif sampai jadi toxic. Iya, bukan cuma kalimat negatif yang bisa jadi menyebalkan.

Contoh, kita terbiasa dengan jargon “kerja keras pintu sukses” seolah setiap orang yang kerja keras pasti suatu hari akan sukses alias kaya. Nope, toxic positivity.

Ada orang yang kerja keras banting tulang setiap hari seumur hidupnya dan sampai mati tetep hidup miskin susah makan. Tidak semua orang berhasil naik kelas hanya karena kerja keras.

Ingat kata mbawin @winditeguh. Kalau orang bisa, kamu belum tentu bisa. Kalau kamu bisa juga ya bagus, kalau nggak bisa nggak usah terlalu kecewa.

Gagal ya gagal. Gagal atau merasa gagal itu normal. Kadang kita dapet apa yang kita mau kadang nggak. Kadang beruntung kadang nggak. Ada yang beruntung terus ada yang apes terus.

Ada yang lahir miskin, mati kaya. Ada yang lahir miskin, mati tetap miskin. Ada yang miskin harta menghibur diri dengan kaya hati. Nggak tau aja dia orang kaya harta yang kaya hati juga banyak. Namanya juga menghibur diri kakkk masa nggak boleh ahahaha bolehhh dong.

Atau misal ada 1 anak pemulung sukses kuliah sampai S3 full beasiswa di luar negeri. Kita jadi bias dengan “tuh dia aja bisa sukses masa kamu kok nggak bisa” tanpa mempertimbangkan bahwa si anak ini adalah 1 dari jutaan anak pemulung yang punya kesempatan lebih baik.

Tidak perlu menglorifikasi kesuksesan sehingga kita tak terlalu kecewa ketika harus menemui kegagalan.

Apa lantas tidak usaha? Ya tetep usaha dong. Tapi dengan ekspektasi ini: Bahwa kerja keras nggak 100% menjamin kita dapat kehidupan yang lebih baik. Tidak perlu terlalu yakin akan sukses, tidak perlu juga terlalu khawatir untuk gagal. Netral saja.

Dalam parenting, mindset ini bisa jadi sangat berguna. Banyak orangtua yang punya banyak ekspektasi untuk anaknya sehingga khawatir si anak tidak seperti yang mereka harapkan. Padahal kan anak individu sendiri, masa depannya sebaiknya ia yang tentukan sendiri. Harapan kita itu sebatas harapan, bukan peraturan yang harus selalu anak patuhi. Ini kenapa saya merasa penting sekali mengatur ekspektasi.

Saya dan JG merasa sangat sanget berusaha untuk Bebe, kasih sekolah terbaik yang bisa kami afford, kasih makanan terbaik, bonding dan kelola emosi sebisa mungkin, kalau ternyata dia jadinya B aja atau nggak lebih baik dari kami?

Sudahlah kan sudah berusaha melakukan yang terbaik. Seharusnya tidak menyesal dan bisa berdamai karena seburuk apapun dia nantinya, dia adalah hasil terbaik yang sudah kami usahakan. (ini quote rework dari postingan ini: Kenapa Sekolah Begitu Penting?)

Iya, hidup ini lebih tentang gimana kita berdamai dengan kondisi kita sekarang. 

Tentang gimana kita bisa dengan tenang hidup sekarang, tanpa terhantui masa lalu, tanpa terlalu mengkhawatirkan masa depan.

Tentang gimana kita sadar bahwa memang mimpi itu bikin kita lari, punya cita-cita itu harus, dan kadang halu itu boleh.

Terbang ketinggian pun nggak apa-apa tapi jangan lupa pegangan, biar kalau ternyata harus jatuh, kita nggak terjun bebas. Kita turun pelan-pelan.

Kita diam di tengah saja. Saat lelah menangislah, saat senang tertawalah.

Yes, neutral mindset ini memang juga masalah emosi. Sebagai orangtua kita sibuk bicara memvalidasi emosi anak agar anak punya regulasi emosi yang baik. Tapi sudahkah kita memvalidasi emosi kita sendiri?

Meregulasi semua emosi yang hadir dan tidak menyangkalnya? Meresapi setiap perasaan yang muncul dan tidak melabelinya sebagai sesuatu yang negatif hanya karena kita memposisikan diri harus selalu dalam “good vibes”?

Capek itu boleh, sedih itu manusiawi, cemas itu wajar apalagi di saat pandemi. Justru harus merasakan dulu perasaan-perasaan “negatif” itu sebelum akhirnya bisa netral. Bisa ada di pikiran bahwa perasaan kita itu semua sama. Tidak ada yang negatif atau positif, tinggal bagaimana kita bereaksi terhadap perasaan itu.

Capek boleh. Reaksi kita apa? Marah-marah. Kenapa perlu marah? Apa energi marahnya bisa dialihkan ke hal lain yang tidak menyakiti orang lain? Yang tidak membuat kita menyesal karena sudah membentak anak yang tidak perlu dibentak.

Cemas boleh. Reaksi kita apa? Terlalu banyak baca berita sampai sakit kepala, jadi sensitif dan mudah menangis. Maka coba kendalikan dengan cara mengurangi konsumsi berita dan perbanyak mengerjakan hal yang membuat kita senang.

Semua perasaan BOLEH kamu rasakan tapi perlu dilatih untuk bisa peka merasakan sehingga bisa mengendalikan reaksinya. Bagaimanapun, apa-apa yang kamu rasakan itu valid. :)

Kuncinya ada di mengendalikan perasaan agar selalu netral. Tidak berusaha selalu senang, tidak terlalu lama saat sedih. Tidak menganggap lebih perasaan “positif” dan tidak perlu selalu mengusir perasaan “negatif”.

Ketika emosi yang selama ini dilabeli negatif berhasil kita kendalikan, berikutnya coba resapi emosi yang selama ini kita labeli positif. Apakah kita juga bereaksi berlebihan ketika senang? Ketika bahagia? Sehingga makan terlalu banyak? Sehingga belanja terlalu impulsif?

Mungkin ini sebabnya orang zaman dulu sering bilang “jangan terlalu seneng ah, kalau terlalu seneng nanti sedih loh!”

Ada benarnya. Ketika kita terlalu senang, kita tidak bisa mengendalikan emosi positif, kita jadi punya benchmark “senang itu kalau begini lho” atau “bahagia itu kalau begini nih”. Ketika “begini” nya tidak lagi bisa hadir kita seperti kehilangan kesempatan untuk bahagia. Sedih pun jadi terasa lebih menyedihkan.

Dengan demikian, coba rasakan dan kendalikan perasaan dan emosi kita sepenuhnya. Marah tidak terlalu marah, senang tidak terlalu senang. Semua yang terlalu memang tidak baik, kan? Netral saja. Usahakan netral.

Jadi, sudah sampai mana perjalanan mengenali emosinya?

PS: Iseng ngecek tulisan semacam ini di blog dengan tag Tentang Hidup ternyata ada 73 postingan sejak 2015! Sama ini jadi 74! Wah, emang passionate banget kayanya saya ngomongin hidup hahaha. Kalau yang niat baca dari awal, tag ini jadi perjalanan emosi saya sih sepertinya.

Dari quarter life crisis, hancurnya kepercayaan diri karena punya anak, masih positive vibes only saking ngerasa hidup kok gini-gini aja, sampai sekarang di titik bisa bilang kalau positive vibes only juga nggak selamanya baik. Pengen pukpukin diri sendiri dan bilang BANGGA BANGET SAMA DIRI SENDIRI, TERIMA KASIH UDAH SAMPAI DI SINI! :))







LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Bebe 5 Tahun 11 Bulan

on
Wednesday, April 29, 2020



[INI FOTO ULTAH TAHUN LALU, FOTO BARU MENYUSUL KARENA MALES AMBIL KAMERA LOL]

Sebuah update milestone setelah hampir 2 bulan diam di rumah lol.

Sebagai ibu yang berbagi tugas pengasuhan sama daycare, ini adalah waktu terlama saya bareng-bareng sama Bebe 24 jam selama 1,5 bulan. Terakhir ya pas dia lahir, umur 1-3 bulan itu 24 jam sama Bebe. Abis itu bye Bebe, ketemu pagi dan malem doang selama 5 tahun lebih!

Gila juga ya dipikir-pikir HAHAHAHA.

Anaknya satu tapi yang urus banyak. Ada yang khusus masakin dia, ada yang khusus temenin dia main, ada yang khusus ngajarin dia. Pantes saya bisa fokus untuk ngajarin dia hal-hal lain kaya emosi, apresiasi, bonding, ditulis di blog juga. Ya berlebihan energi hahaha. Di luar itu, outsource aja udah.

LHA SEKARANG?

Bersyukur harus di rumah aja dengan anak yang sedikit lagi 6 tahun. Less drama, meskipun nemplok mulu, pusing. Saya seneng sih sebenernya karena ya nggak pernah kaya gini juga kan. Tapi lama-lama berat juga ditemplokin, ditabrak, dicium-cium terus sementara tetep harus kerja, masak, nyuapin makan waahhh.

1,5 bulan sama Bebe di rumah malah semakin menguatkan nggak mau punya anak lagi karena energi buat satu anak aja ternyata saya nggak punya HAHA.

Oke cukup untuk part curhat ibu, mari ke milestone Bebe.

Berat badan

Ini part tersedih sih karena merasa di umur 5 tahun udah nggak perlu plot grafik lagi terus ternyata dalam setahun berat badan Bebe nggak nambah sama sekali. Jadi sekarang kejar target makannya harusss selalu double protein hewani huhu.

Udah balik ke garis ijo sih tapi mempertahankan prestasi lebih sulit dari meraih, bukan? Jadi rempong banget saya tiap hari masak dan nyuapin makan demi itu grafik stay di garis ijo. HUH HAH!

Makan

Si Bebe yang waktu kecil makannya drama, makin gede makin gampang ternyata. Nggak picky, kecuali pedes masih nggak mau (ya sama ibu juga kalau pedes nggak mau lol). Sayur mau, buah aman, ikan dan daging aman. Yang tidak aman hanyalah part harus disuapin sama ibu biar makannya semangat.

Selama ini makan sendiri bisa-bisa aja. Tapi mandiri dan makan sesuai kebutuhan itu dua hal yang beda banget ya. Makan sendiri belum tentu sesuai kebutuhan karena maunya buru-buru. Jadilah ibu harus nyuapin terus.

Alergi

Plus di rumah gini jadi bisa kenalan lebih dekat sama alerginya. Selama ini di daycare aku beneran susah untuk cek makanan apa aja yang bikin dia alergi? Tau-tau pulang kulit kering/ruam aja gitu. Bingung dari 3 menu, yang mana yang bikin kulitnya ruam?

Nah karena di rumah jadi bisa cek efek tiap makanan lebih detail. Jadi baru sadar kalau ternyata dia nggak alergi semua telor. Dia cuma alergi telor ayam aja. Telor ayam semua model (halah) dari telor biasa, omega, ayam kampung, alergi semua.

Tapi untungnya telor puyuh dan telor bebek aman. Jadi di kulkas selalu stok telor puyuh dan bebek deh buat nambahin double prohe. Senang karena liat pipinya nggak ruam lagi kaya dulu huhu.

Main game

INI ANAK UDAH GEDE BANGET YA? Kalau main game tuh sambil ngomong sendiri gitu capruk pake bahasa Inggris. Mana main game apaan pula saya nggak ngerti huhu.

Sampai juga di titik saya nggak ngerti dia main game apa HAHAHAHA. Dipikir saya bakalan terus jadi ibu nggak gaptek yang akan paham semua urusan teknologi anaknya. Tapi kalau game hadeh maleslah urusan appa aja.

Nemplok ibu

JG lagi telepon mamanya. Tiap hari kan telepon mamah tuh.

Ibu: “Be, appa lagi telepon nenek, kamu kalau udah segede appa, udah punya anak, tetep mau telepon aku tiap hari kan?”

Bebe: “AKU NGGAK AKAN KELUAR DARI RUMAH INI JADI AKU NGGAK PERLU TELEPON IBU!” (sambil peluk kenceng)

WOW. HAHAHA.

Deep down, saya yakin Bebe tuh ada perasaan ingin sama ibu terus karena biasanya ditinggal kerja kan. Jadi puas-puasin Be, selama di rumah ini sama ibu hahaha. Abis ini selesai kita kembali ke rutinitas masing-masing ok karena ibu nggak sanggup kalau homeschooling selamanya mah HUHU.

Saya sendiri juga puas sih peluk-pelukan ngobrol tiap malem. Tapi bener deh, ini mau sampai umur berapa sih saya akan ditabrak seketika sampai kejengkang tuh? Sampai umur berapa kalau cium tuh seringnya malah kepentok? Sampai umur berapa kalau mau peluk ibu tiba-tiba itu jadinya kejeduk? Beraaattt.

Masih mau digendong pula ya ampun cuma sanggup semenit beneran deh.

Baca tulis

Baca udah lancar, nulis udah mau di dalem garis meski mengeluh setiap beberapa kata “pegel banget”, “aku pegel banget”, “abis ini pokoknnya ibu pijitin tangan aku pake kutus-kutus”, “capek”, “aku nggak suka nulis”. NGELUH TEROSSSS.

Tapi ya ibu tungguin. Silakan mengeluh tapi kerjakan. Kalau terlalu banyak, lanjut besok lagi boleh hahaha.

Jadinya saya ganti deh activity menambah diksinya dengan malem sebelum tidur, tebak-tebak huruf. Misal “balloon” dia tebak, hurufnya apa aja. Selain kinestetik, rada auditori kayanya Bebe tuh. Dulu pas belajar eja juga malem sebelum tidur ngeja dulu kan.

Apapun metodenya yang penting mau belajar yessss? YESSSS.

Sekolah

Ini part terchallenging sih. Tapi masih bisa di-skip. Makan challenging dan nggak bisa diskip huhu.

Jadi selama dia pergi ke sekolah, nggak pernah ada satu waktu pun dia males-malesan. Selalu mau pergi sekolah dengan semangat. Sekolah di rumah? Beda cerita.

Moodnya nggak ketebak banget. Bisa lagi happy terus pas zoom-nya nyala dia langsung lemes dan tiduran di meja. Atau udah bangun pagi tapi kalimat pertama saat bangun adalah “aku nggak mau sekolah”.

Kemarin miss atur jadwal dan aku jawab “miss, aku sih oke aja tapi moodnya Xylo yang nggak terduga” HAHAHA. Ya gimana memang gitu keadaannya kan.

Jadi daripada maksain pagi dia sekolah, mending tunggu dia mau lalu kerjain PR beberapa hari di saat moodnya bagus itu. Biarlah masih TK ya. Semoga masuk SD, pandeminya udahan karena kalau harus adaptasi dengan kondisi baru tapi sekolahnya online tuh kayanya berat deh.

*

Udah sih gitu aja semoga nggak ada yang kelewat ya. Sebulan jelang ultah dan belum siapin apapun. Nggak apa-apa yang penting berat badan nggak turun *tetep* lol

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

The New Normal

on
Monday, April 20, 2020

Topik dengan tiga kata judul ini udah banyak banget yang nulis ya. Tapi saya mau nulis juga dari sudut pandang saya atuhlah masa nggak boleh hahahaha

Udah sebulan lebih di rumah, sebulan 4 hari kalau nggak salah hitung. Udah terlalu lelah untuk menghitung hari. Hidup pasti temukan jalannya. Udah mulai ngerasa kalau harus kaya gini selamanya ya udah, kalau bisa ke kantor tiap hari lagi kaya dulu alhamdulillah. 

Tapi kayanya pilihan kedua makin jauh rasanya. Hidup yang kemarin-kemarin jadi serasa cuma mimpi aja. Tiba-tiba kita bangun dan disadarkan, mana yang penting, mana yang bisa diabaikan. Mana yang milik kita, mana yang bukan. 

Waktu bukan milik kita. Tempat, bumi ini juga bukan milik kita. Yang kita miliki sepenuhnya sendiri cuma pikiran. Itu pun tetap hanya dalam pikiran, karena pikiran bukan kenyataan. Kita, sendirian dalam pikiran

Banyak hal yang kita pikir normalnya begitu ternyata tidak.

Normalnya kalau kerja itu ke kantor padahal tidak pun tidak apa-apa.  Karena banyak kantor yang masih bisa beroperasi baik-baik saja meski hampir semua karyawan diam di rumah tak ke mana-mana.

Jadi mudah terlihat, mana yang bisa tetap fokus bekerja meski dengan distraksi keluarga, mana yang malah menghilang dan menganggap work from home adalah liburan semata.

Normalnya anak tuh sekolah dong padahal tidak juga anak ternyata tetap normal ahahaha. Sekolah di rumah pun bisa. Anak beraktivitas di rumah cuma sama appa ibu yang tidak 100% fokus karena nemeninnya harus sambil kerja, ternyata bisa.

Normalnya me time ibu itu tanpa anak sama sekali. Ternyata me time ngunci diri di kamar juga bisa. Normalnya liburan untuk refreshing. Ternyata nonton drama Korea juga refresh dan senang-senang aja. Normalnya orang ekstrovert itu recharge di keramaian. Ternyata bisa kok diusahakan dengan teriak-teriak di rumah karaokean.

Dan normal-normal lain yang sekarang jadi dulu. Jadi masa lalu.

*

Kalau diperhatikan baik-baik, Bebe lebih gampang adaptasi. Dari dia bilang “aku bosan di rumah” sampai “aku sekolahnya di rumah aja” itu cuma butuh waktu sekitar 2 minggu. Sebulan ini cuma 2x bilang “aku kangen sekolah!” lalu kembali happy dan lupa kalau di rumah itu bosan.

Beda sama ibunya yang butuh 3 minggu sampai sebulan. Dari migrain dan nggak bisa ngapa-ngapain 3 hari penuh karena mikirin masalah dunia (aka pandemi) sampai akhirnya bisa terima “oh mungkin memang harus begini bertahun-tahun ya udalah”. 

Dari kangen ke mall, kangen CFD, kangen makan AYCE dan Pagi Sore, kangen ngantor dan liputan, sampai memutuskan udalah nggak usah kangen lagi karena makin jauh sama bahagia. Kayanya dikit lagi mikirin konsep ngantor aja jadi nostalgia, selevel dengan mikirin masa-masa SMA :))))

Udah nggak ada lagi juga opsi untuk melakukan itu dengan tenang. Mau kangen juga jadi percuma. Mau bosan juga, ah dulu waktu ngantor biasa juga ada kok masa-masa bosan. Bosan itu biasalah. Dalam situasi apapun, kita bisa kok bosan. Nggak cuma sekarang. Move on, pelan-pelan aja, yang penting dicoba.

At least karena berusaha legowo gini jadi udah nggak denial lagi. Udah nggak sakit kepala mikirin problematika orang sedunia lagi.

Baca riset Harvard School of Public Health, mereka bilang kalau vaksin belum ditemukan, dengan rumah sakit kaya sekarang, Amerika baru akan berhenti social distancing di … 2022 lol 2-3 tahun harus begini, itu juga masih perkiraan. Bisa lebih cepat, bisa banget lebih lambat. :))))

Pun mulai berhenti mengkhayal kapan ini berhenti dan mau ngapain saat berakhir? Karena konsep "akhir"-nya tuh bener-bener masih serupa harapan, bukan janji yang jelas akan ditepati kapan. Lebih baik manage ekspektasi, kan?

*

Baru kerasa bahwa masa depan yang dulu rasanya bisa direncanakan, sekarang kembali jadi bayang-bayang. Padahal dari dulu juga masa depan mah emang bayang-bayang ya? Hahahaha.

Dulu sok tau banget merasa bisa memprediksi besok akan kerja, Bebe sekolah, makan malam di rumah. Karena kenyataannya besoknya lagi juga gitu. Besoknya juga gitu lagi. Sok banget memperkirakan besok akan kaya apa padahal semenit lagi juga nggak ada yang tau akan gimana.

Sebagai tukang bikin rencana, kali ini saya malah menghentikan semua agenda. Hanya berharap tetap punya penghasilan agar bisa makan. Hanya berharap nggak ada kondisi darurat agar dana darurat bisa jadi tameng untuk tetap punya perasaan aman. Sebagai manusia ambisius, saya juga mengubah mimpi dan cita-cita. Dari daftar panjang yang ingin diraih, berubah jadi daftar pendek hal-hal yang syukurlah masih bisa cukup, sepertinya baru kali ini kami tak minta berlebih. :(

Untuk yang jadi kehilangan kerjaan karena normal yang tiba-tiba berubah ini. Semoga secepatnya ketemu jalan barunya, ya? 

Rencana diatur ulang, impian dikondisikan, pikiran dikendalikan. Yang bisa dilakukan memang cuma mengatur, mengondisikan, dan mengendalikan pikiran. Ya gimana, menkes bukan, presiden bukan. Kecuali kamu scientist yang emang lagi bikin vaksinnya jadi mungkin ada bayangan kapan pandemi ini bisa diselesaikan huhu mangat guys. 

Definisi optimis pun berubah. Saat awal self-isolation, optimis adalah yakin bisa survive di rumah sampai pandemi selesai. Sekarang, optimis adalah yakin bisa survive dalam keadaan kaya gini entah sampai kapan.

Ini bukan rutinitas sementara. Ini rutinitas baru. Sekali lagi, ini bukan gaya hidup sementara, ini gaya hidup yang baru.

Maka, mari kita tutup dengan berseru: Semoga kita semua sehat selalu!

-ast-







LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Day 12

on
Wednesday, March 25, 2020

Saya sudah sangat ingin menulis tentang hidup akhir-akhir ini. Triggernya Ashraf Sinclair meninggal dan terlalu banyak hal yang terjadi di dunia.

Entah kenapa saya tidak menyempatkan diri. Karena merasa kepala terlalu penuh saya akhirnya hanya menuliskannya singkat di caption Instagram.



Berawal dari Kobe Bryant, lalu Ashraf Sinclair. Kemudian daftar tontonan 1-2 bulan belakangan yang bukannya menghibur malah bikin nangis bombay: “All The Bright Place” (Netflix) tentang dua orang yang mencari cahaya setelah duka dan trauma, “Onward” (Pixar) tentang pengandaian kematian yang kembali hanya untuk sehari, dan "Hi Bye Mama" (Netflix) yang membuat saya berpikir ulang tentang makna kehidupan.

Tentang meninggalkan dan ditinggalkan. HUHU SEDIH BANGET ASLI. Hi Bye Mama memperlihatkan sudut pandang kematian dari sisi yang meninggal, bukan dari sisi yang berduka. Baru, setidaknya untuk saya. :(

Lalu yang terakhir adalah Covid-19 yang bukannya bikin saya takut mati tapi bikin saya takut ditinggalkan jadi first thing first: Cek polis asuransi jiwa JG, apa uang pertanggungannya tetep cair kalau meninggal karena pandemi?

(Ternyata iya).

*

Pagi ini, hari keduabelas saya dan Bebe diam di rumah. Kami tidak melangkahkan kaki ke luar sekali pun. Berjemur di kamar yang memang jendelanya pas sekali terpapar sorotan matahari pagi, menghirup udara segar (ya kapan juga udara pagi Jakarta segar sih) dari balkon apartemen saja.

JG ke luar 2 kali untuk grocery shopping, mandi dan bebersih sebelum satu ruangan lagi dengan kami berdua. Dua kali ia keluar untuk mengambil paket dan GoFood. Hanya begitu saja tetap langsung mandi bersih. Terlalu takut membawa virusnya ke rumah, terlalu takut Bebe tertular dan kesakitan. :(

Saya dan Bebe berkomitmen 14 hari di rumah karena memang itu esensi isolasi diri, kan? Diam di rumah selama minimal 14 hari, agar ketika memang harus sakit, kita tahu persis kapan dan di mana kita tertular. Sekarang hari ke 12, seharusnya 2 hari lagi kami bisa bilang aman dan tidak punya virus dalam diri. Atau kalau ternyata punya dan tanpa gejala pun, sudah tidak menularkan pada siapa-siapa dalam 14 hari.

Jadi kami memang mengisolasi diri agar yakin tak tertular dan menulari. Iya, term yang tepat untuk kami adalah self-isolation bukan social distancing, karena saya tidak bersedia keluar lalu menjaga jarak dengan orang lain. Di saat seperti ini rasanya social distancing saja tidak cukup, apalagi tinggal dengan anak kecil.

Selama ini yang disebut rawan selalu orangtua. Rawan karena tingkat kematiannya tinggi. Tapi membaca berbagai cerita yang mengalami sakit, sakitnya bisa jadi ringan bisa jadi sangat berat. Membayangkan Bebe sakit berat kok rasanya saya tak mau keluar rumah. Biarlah saya hampir gila tapi saya di rumah saja untuk sementara.

Kenapa saya hampir gila?

*

Saat pengumuman sekolah diliburkan 2 minggu di hari Sabtu 12 hari yang lalu, saya adalah kaum yang optimis bahwa ini akan terjadi selama 2 minggu saja. Yah, 14 hari diam di rumah tidak ada salahnya, kan? Daripada keluar lalu jadi sakit, lalu jadi menulari orang yang sehat?

Naif sekali rasanya sekarang karena saat itu saya menganggap semua orang pasti melakukan hal yang sama.

Tidak, ternyata.

Ada yang memang terpaksa karena harus bekerja jadi tetap keluar rumah. Yang ini, jelas tidak apa-apa karena kalau terpaksa keluar rumah tandanya sudah tahu dong selama di luar itu harus bagaimana? Tidak menyentuh barang di tempat umum, rajin cuci tangan, jaga jarak dengan orang lain, dan segambreng tips lain.

Tapi yang meremehkan? Yang menganggap “halah mati mah mati aja” lalu keluyuran? Yang di jalan tetap serampangan, seperti saat normal, boro-boro cuci tangan, sampai rumah belum mandi atau ganti baju langsung rebahan. Yang kategori kedua ini nih yang paling pengen saya jorokin ke jurang biar mati duluan sebelum nularin orang :((((

Baru satu minggu di rumah, tiba-tiba imbauan baru muncul dan membuat #dirumahaja dari nol lagi. Iya, ditambah lagi 2 minggu karena gimana dong yang seminggu pertama kemarin jatohnya trial aja, karena nggak semuanya patuh.

Bebe yang sebelumnya sudah menghitung hari setiap pagi (10 hari lagi ya ibu? 9 hari lagi ya?) langsung berteriak NOOOO! We stuck together again? NOOOO! Sambil memeluk saya dan tertawa lepas. Saya?

:(

*

Saya sudah kehabisan energi.

Sebagai ekstrovert, saya sampai berusaha mengubah pola pikir, bahwa “jadi ekstrovert” adalah mindset. Afirmasi bahwa saya tidak perlu keramaian untuk charging energi, tidak perlu mengobrol dengan orang banyak untuk bisa bersemangat. Saya PASTI BISA mengisi ulang baterai saya dengan di rumah saja. Toh saya di rumah bersama dua orang favorit saya.

Saya menonton konser Pamungkas live, saya tetap IG story dan mengobrol dengan orang lain, saya tetap kulwap, saya tetap berusaha beranggapan bahwa sebagai millennial saya bisa hidup secara virtual.

Ternyata susah luar biasa. Saya butuh keramaian yang bukan maya. Senin pagi, hari kesepuluh itu jadi puncaknya. Dua hari sulit tidur dan hanya bisa menangis. Bangun tidur menangis sambil dipeluk Bebe yang pukpukin saya “Aku bosan banget Xylo, aku capek, aku boleh kan menangis?” Dia bilang boleh.

:(

Hari kerja saja sudah sulit untuk saya tapi kan kalau hari kerja saya sibuk karena tiap jam sudah ada jadwalnya harus ngapain atau jam makan sekeluarga berantakan sementara Bebe harus dipantau makannya agar berat badannya tidak turun lagi. Saat akhir pekan?

Belum lagi yang terburuk adalah saya jadi tidak punya me time, saya tidak punya waktu untuk diam sendiri karena definisi baru dari me time saat #dirumahaja seperti ini adalah menutup pintu kamar lalu menonton serial Netflix. Dengan suara JG dan Bebe berteriak-teriak di luar.

Bukan me time ideal tapi saya butuh itu. Bukan me time ideal karena jelas tidak bisa mengisi ulang baterai saya jadi 100% lagi.

Entahlah dengan kondisi berada di satu unit apartemen yang hanya berukuran 33 meter persegi, saya tidak tahu kapan bisa 100% lagi.

Energi yang ada kini hanya cukup untuk selalu bilang good morning sambil tersenyum lebar pada Bebe. Yang hanya cukup untuk menemaninya mengobrol berjam-jam sebelum tidur. Tentang Minecraft. Games yang tidak saya mengerti tapi saya dengarkan tiap detailnya. Karena hanya itu yang saya bisa untuk menghiburnya.

“I miss school, school is so fun,” kata Bebe semalam. Ia mulai rindu sekolah.

Minggu lalu yang ada di pikiran: Saya pasti bisa melewati 14 hari hanya dengan diam di rumah.

Minggu ini berubah menjadi: Kapan saya bisa beradaptasi dengan kondisi seperti ini?

Karena sungguh, orang sedunia pun tak ada yang tahu pasti kapan kondisi ini benar akan berakhir.

:(

*

Lalu 12 hari ini apa yang kami bertiga lakukan di rumah?

Pagi: Yoga, sarapan, mandi, jam 8 JG mulai kerja. Jam 9 saya mulai kerja, Bebe screen time.

Jam 12 masak makan siang dan makan sampai jam 1. Ngobrol, dancing, main. Kemudian Bebe tidur siang, saya kebut lagi kerja sampai jam 3 sore karena jam 3 dia PASTI akan bangun.

Jam 3 mulai main dengan Bebe bergantian dengan JG. Hanya beberapa hari ia kembali screen time karena saya dan JG terlalu banyak pekerjaan.

Malam makan, main UNO, umpel-umpelan di kasur. Besoknya begitu lagi.

Untungnya Bebe senang. Sebagai anak yang terakhir kali bersama ibunya 24 jam berhari-hari itu saat usianya 3 bulan, ia senang sekali karena bisa bersama saya dan JG sepanjang waktu. Matanya terus berbinar, terus menerus memeluk dan mencium saya. Meski rindu sekolah, ia belum mengeluh bosan. Malah mungkin ia bosan sudah keluar rumah terus setiap hari selama hampir 6 tahun. Baginya, ini liburan. Bagi saya, ini pelajaran.

Pelajaran bahwa rencana, meskipun sudah dibuat berbagai cara dan gaya, tetap bisa tertunda. Bahwa hidup saya yang biasanya sangat bergantung pada Google Calendar, juga nyatanya bisa tetap berjalan tanpa jadwal pasti apa-apa.

Yang paling membuat khawatir: Bagaimana kalau ini berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama? 3 bulan? 6 bulan?

Bagaimana kalau ini adalah the new normal seperti yang dibicarakan orang-orang? Bagaimana jika pemulihannya butuh waktu sangat lama karena ya Indonesia terlalu luas, Jakarta terlalu padat, penduduknya tak sepaham dan setara, pemerintahnya juga tak tegas karena terlalu takut jadi chaos. Wajar, saya juga takut. Tapi sampai kapan?

Sebuah pertanyaan yang berusaha saya enyahkan dari kepala karena sadar benar, itu di luar kendali dan kuasa saya tapi tetap saja. Pertanyaan itu muncul dan muncul kembali, buah cemas karena pengaruh diam di rumah terlalu lama.

*

Count your blessing.

I did.

Saya bersyukur masih gajian, punya kulkas penuh stok makanan dan camilan, dana darurat dengan jumlah yang cukup, masih bisa “iseng” beli saham, masih punya pilihan untuk diam di rumah. Saya bersyukur sekali.

Di sisi lain, rasa syukur ini jadi bentuk khawatir lain karena bagaimana dengan orang yang tidak seperti kami? Apa yang akan mereka lakukan? Apa mereka bisa bertahan hidup?

Saya jadi merasa bersalah karena bisa bersyukur. Merasa bersalah karena pandemi seperti semakin memperlebar jarak, yang bisa stok makanan dan yang tidak, yang punya privilege dan yang hidup dari ke hari. Hidup memang tidak pernah adil.

Dulu rasanya saya banyak mau. Saya mau belajar ini itu, saya mau ambil kelas ini itu, saya mau bikin ini itu untuk ulang tahun Bebe, saya mau beli ini itu. Banyak sekali daftar keinginan saya di tahun 2020 ini.

Sekarang semua keinginan itu hilang dan saya hanya mau dunia kembali ke tahun lalu. Ketika yang diributkan hanyalah hipnoterapis yang mengaku dokter, ketika yang dikhawatirkan hanyalah GoFood yang terlambat datang saat makan siang. Ketika yang ingin dicapai rasanya masih bisa digapai.

Bisa apa selain menangis? Hehehe.

Menangis menyembuhkan. Menangis adalah bagian dari mengenali emosi yang datang dan pergi. Maka kalau mau menangis, menangislah. Kalau mau teriak, teriaklah. Tapi tolong, tetap diam di rumah.

Kita perlu semua orang untuk diam di rumah dan menghentikan ini segera. Karena dampaknya bukan hanya ekonomi yang kolaps tapi juga kondisi jiwa yang semakin jauh dari tawa.

*

By the way, saya berjuang untuk tidak seperti ini lagi bertahun-tahun lamanya. Berjuang untuk tidak menangis tiba-tiba, untuk tidak berpikir terlalu banyak. Saya belajar meditasi, ikut kelas-kelas mindfulness, dan setahun belakangan saya merasa saya sudah baik-baik saja. Saya sudah berani untuk bilang saya pulih dan tidak apa-apa.

Dihadapkan pada situasi bencana seperti ini ternyata saya belum baik-baik saja. Semoga ini semua cepat berlalu, ya.

Semoga rasa damai bukan lagi hanya andai.
Semoga rasa tenang secepatnya bisa jadi pemenang.

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

When It’s Only JG & AST #169 - #175

on
Monday, February 10, 2020
Dua to popular demand (HALAH), I start taking notes of our conversation again.

Me: “Pada nanyain ‘When It’s Only JG & AST’ tuh, aku mulai catet lagi deh kalau kamu mulai garing” 😏

JG: “Oke aku ingetin”


And here goes the story of our daily life …

#169

Beli chicken wings mentah di supermarket.

JG: “Be, look! Now I can fly!”

Bebe: “Hah?”

JG: “Because I have so many wings!”

JG: “SAYANG CEPET CATET ITU LUCU BANGET YANG AKU OMONGIN”

:(((((

#170

Nobody: …

Literally no one: …

Literally not a single soul: …

JG: “Kasian yah cewek-cewek Malaysia tuh nggak bisa bebas.”

Me: “What?”

JG: “Bajunya aja kurung”

T________T

#171

Lagi di mobil. JG yang SJW tata tertib tingkat dunia, buka jendela dikit dan menjulurkan tangan keluar.

Me: “IH KAMU BUANG UPIL SEMBARANGAN YA! IHHHH GIMANA KALAU KENA ORANG NAIK MOTOR!”

JG: “Lah upil kan organik, mudah membusuk, daripada pake tisu, boros, zero waste ai kamu”

ME & BEBE: “IIHHHH APPA IHHHHH JOROKKKKK”

JG: “ADUH IYA YA AKU ITUNGANNYA BUANG SAMPAH SEMBARANGAN NGGAK YA KALAU BUANG UPIL ADUH?”

Ikutan panik hahahahahhahahaha.

#172

Jadi kami menemukan sebuah fakta bahwa alpukat dengan jenis yang sama, dijual berjauhan di supermarket yang sama, hanya karena yang satu bentuknya bagus dan mulus, sementaranya satunya jelek dan nggak enak diliat. Yang bentuknya jelek tidak insta-worthy ini harganya setengahnya!

Me: “Ah enak alpukatnya, sama banget menurut aku mah”

JG: “Iyalah ini kan harusnya mahal, cuma bentuknya jelek”

Me: “Iyalah nggak apa-apa, kamu juga bentuknya jelek aku nikahin”

JG: “Iya sih bener juga”



LHA KOK TIDAK MEMBELA DIRI? Biasanya ngaku seganteng Beckham <--- Link series ini spesial Edisi Beckham.

#173

JG tuh kalau ke kantor dekil banget ya ampun. Baju udah kucel tetep aja dipake. Pagi-pagi kalau disuruh ganti baju yang bagusan tuh susah.

JG: “Sayang, kata temen aku, aku pangling banget kalau pake baju rapi gitu di nikahan”

Me: “Iyalah, makanya cepet ah ganti kaos yang bagusan”

JG: “Alah, Ardhito aja pake baju kucel tetep dibilang ganteng sama cewek-cewek”

Me: “YA ARDHITOOOO. MUKA KAYA KAMU KALAU BAJUNYA JELEK MAU GIMANA COBA!”

T________T


Kasian pacarku dibilang jelek terus sama aku. :(

#174

Baca berita Karen “Idol”.

Me on WhatsApp: “Sayang, kamu tau Karen Idol?”

JG telepon: “Loh aku ngefans banget sama Karen dulu dia manggung di mana aku kejar”

Me: “OHHH AKU INGET. Yang rambutnya pendek ya anak SMA X di Bandung kannnn!”

JG: “Iya aku kejar-kejar dia sampai di-notice terus nggak tau dari mana aku dapet nomer telepon dia terus aku telepon dan dia takut jadinya sama aku”



YA ALLAH PACAR AKU STALKER T________T

#175

Annisast mendadak pengen cat ruang tengah rumah. Dengan alasan tembok yang sekarang kalau difoto jadinya kuning lol. Padahal udah 2 tahun tembok broken white ini baik-baik saja, masih bersih pula nggak kucel.

Terus JG iya iya aja. Katanya panggil tukang aja tapi berminggu-minggu nggak panggil juga dan nggak gerak.

Tapi bukan annisast namanya kalau tidak nekat DIY bermodal pengalaman cat kamar sendiri saat SMA dan kuliah. Belilah cat dan 3 batang kuas di Tokopedia.

Lalu saat datang, JG sedang kelas di Sabtu pagi, saya pun LANGSUNGGG cat sendiri dua sisi dinding rumah. YA NGGAK NYAMPE DONG KE LANGIT-LANGIT, TINGGI AJA CUMA 155 CM SIS! PEGELLLL.

Terus pas dia otw saya telepon.

Me: “Sayang aku punya surprise hehe. Pasti kamu stres hehehehehhe”

Pas nyampe rumah.

JG: “ASTAGA YA AMPUN ADUH AKU PUSING ADUHHH KENAPA KALIAN CAT RUMAH SIH ADUHHHHH”

Me: “Tolongin aku plis yang atasnya leher aku pegel banget kamu mau kan tolongin aku”

via GIPHY

JG: *ngecat sambil ngedumel*

“Saya terima nikah dan randomnya annisast … Perasaan aku nikah sama kamu perjanjiannya cuma cuci piring deh bukan ngecat imah jiga kieeeuuuu!”

:))))))






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Lagi, Tentang Uang dan Kebahagiaan

on
Thursday, January 30, 2020
Tahun lalu, saya pernah nulis tentang mempertanyakan kebahagiaan. Tentang kita nggak pernah bisa valid merasakan sepenuhnya bahagia kalau nggak punya pembanding keadaan yang tidak bahagia.

Baca dong: Mempertanyakan Kebahagiaan (Open new tab dulu terus baca plis)


Pun dengan uang, “idealnya” kita bisa bilang uang bukan segalanya ya saat punya uang. Kalau dalam kondisi belum pernah punya uang, tidak valid bilang “money can’t buy happiness” karena buktinya mana?

Apa kamu pernah merasakan punya uang untuk beli sebagian besar barang yang kamu mau lalu tidak bahagia? Kalau belum, kok bisa bilang gitu? Apa kamu cuma menghibur diri?

*

Lalu semalam ngobrol sama JG soal ini dan dia bilang “privilege banget ya ternyata bisa makan malem bertiga terus tiap hari tuh”. Terus saya jawab: “Apa ini privilege? Atau pilihan?”

Ya privilege sih, tidak semua orang punya kemewahan kebetulan suami kerja di jam kerja yang pasti dan istri yang kerja di perusahaan yang jam kerjanya tidak pasti tapi most of the time di jam dinner udah di rumah lah.

(Baca blogpost soal Work Life Balance ini, klik, open new tab lagi!)

We’re blessed.

Itu kalau dilihat dari sisi privilege. Tapi kalau dipikir ini buah dari keputusan di masa lalu juga ya bisa. Karena prioritas waktu buat keluarga ini juga jadi pilihan dan komitmen sejak memutuskan menikah kan. Karena lelah LDR, sebelum nikah JG memutuskan pindah kerja ke kantor yang jam kerjanya pasti.

Gaji ilang setengah, hidup jadi lebih susah rasanya karena hamil dan mau punya anak kok gaji malah ilang setengah. Makanya memang saya harus tetep kerja karena realistis aja emang nggak cukup uangnya untuk membesarkan anak kalau saya nggak kerja.

Lalu teringat lagi kejadian kemarin juga soal dia batal pindah kerja. Diingatkan lagi dengan komitmen awal kami bahwa ya kerja kan buat keluarga, untuk apa kerja tapi jadi nggak punya waktu buat keluarga?

Langsung pulang ke rumah sepulang kerja juga kan pilihan. Dalam sebulan, JG hanya tidak langsung pulang itu hanya maksimal 2 kali karena dia main bola, itu juga kalau tidak hujan, kalau hujan ya pulang. Saya, pulang malam tidak sampai sebulan satu kali, kalau memang kebetulan ada acara yang undangannya malem aja. Sangat jarang.

Kami lebih sering memilih langsung pulang karena rasanya udah berjam-jam di luar rumah apa nggak mau pulang aja dan kembali kruntelan bertiga?

Memilih untuk tinggal di sekitar kantor juga kan pilihan. Nggak mau punya rumah tapi terus nggak bisa makan malem bareng karena rumahnya jadi jauh dan kelamaan di jalan. Nggak mau punya rumah tapi terus Bebe jadi sama nanny di rumah karena cari daycare susahnya ampun-ampunan.

*

Kalau inget-inget waktu Bebe bayi dulu wahhh hidup tuh nggak segampang sekarang. Blog ini jadi saksinya hahahah.

JG masih mayan sering pulang malem tapi kami keukeuh pulang bareng biar bisa ngobrol jadi saya jemput Bebe di daycare lalu nunggu di halaman daycare bisa sejam sendiri.

Yang berat kalau bulan puasa, pernah saya tulis blogpostnya di sini: Hidup yang Lebih Baik (Jadi udah open new tab berapa ini? Hahaha)

Karena pilihannya naik taksi pulang berdua atau nunggu. Saya dan Bebe lebih sering nunggu karena waktu itu rasanya nggak mampu kalau harus pulang pake taksi setiap hari. Baru ada GoJek dan nggak sanggup bawa balita naik GoJek, belum ada GoCar atau GrabCar.

Dua tahun belakangan penghasilan udah lebih baik, udah nggak mikir dua kali lah kalau harus naik taksi atau GoCar gitu. Keuangan udah lebih stabil dibanding dulu, uang SD Bebe udah lunas kebayar, udah mulai nabung buat SMP dan SMA.

Jadi baru sekarang rasanya kami valid untuk bilang: Money can’t buy happiness.

Masih pengen classic Chanel bag sih emang 😂tapi semua yang kami punya cukup kok . Semua yang kami punya sudah layak dirayakan. Semua yang kami punya, layak disyukuri karena toh lebih dari yang kami butuhkan selama ini.

Lebih dari yang kami butuhkan untuk bertahan hidup lho ya, bukan bertahan untuk keinginan yang selamanya nggak akan pernah habis.

*

Lalu mikir lagi, saya bilang “eh menurut aku kita bisa sampai di sini karena kita nggak pakai standar society untuk segalanya. Kita punya standar kita sendiri dan nggak gampang kebawa orang lain”.

Ini sih mungkin yang terberat. Berat karena harus tahan denger komentar dan omongan orang lain.

Standar society bagi pasangan muda baru nikah: Beli rumah, punya mobil, anak kedua. Nata-nata rumah, foto rumah di IG, main bareng anak di rumah.

Iya saya tau banyak yang memang sangat sangat ingin punya rumah sendiri karena satu dan lain hal. Jadi memang tujuan utama setelah nikah tuh beli rumah. Nggak apa-apa asal sudah dipertimbangkan dengan baik dan nggak jadi berat untuk bayar cicilannya.

Karena saya juga pengen kok punya rumah sendiri, tapi tau diri aja, pengennya di Jakarta Selatan dan kalau sekarang beli rumah, uangnya cuma cukup buat nyicil di pinggiran. Jadi ya tidak beli.

Tapi saya tau juga, banyak orang yang beli rumah karena merasa harus. Dari dipaksa orangtua, disindirin saudara, sampai merasa left out karena kok temen-temen udah punya rumah aku kok belum? Nah yang kaya gini nih udah keseret standar orang lain yang entah gunanya apa.

Belum lagi gaya hidup dan keinginan-keinginan yang muncul karena alasan self-rewards: Udah capek-capek kerja masa nggak boleh self-rewards!

Jilbab aja harus merek X yang belinya aja ampun harus cepet-cepetan atau harus dari reseller. Baju harus ini karena selebgram ini pake. Jastip lah semua orang beli barang jastip kok aku jadi pengen juga? Buku juga beli banyak karena masa orang belanja di BBW aku tidak? Kan boros beli buku lebih baik dibanding boros beli mainan?

Boleh self-rewards, masa nggak boleh. Tapi tentu lebih baik kalau tidak boros sih hahahaha.

Mau sampai kapan hidup kalian terseret gaya hidup orang lain terus? Apa tidak mau mendefinisikan kebahagiaan sendiri jadi nggak perlu pakai standar kebahagiaan orang lain?

*

Jadi apa bener uang bisa beli kebahagiaan? IYA DONG, BISA BANGET. Tapi ingat batasnya.

Kerjalah tanpa mengorbankan kesehatan. Kerjalah tanpa mengorbankan waktu bareng keluarga. Kerjalah untuk bisa bertahan hidup sekarang dan di masa depan bersama orang-orang yang kamu sayang.

Menabung sedikit-sedikit itu tidak apa-apa. Kamu tidak dikejar apapun. Selama masih ada uang untuk ditabung, sesuaikan gaya hidupmu dengan uang itu. Untuk menabung itu konsepnya kan hanya menambah penghasilan atau mengurangi pengeluaran. Kalau menambah penghasilan artinya mengorbankan waktu dengan keluarga, apa tidak mau coba review dulu pengeluaran, siapa tahu terlalu banyak gaya? :))))

Mungkin kadang kamu merasa iri pada teman-teman yang gajinya sudah dua kali lipat lebih besar, tapi ingat selalu, kerja lebih keras PASTI menuntut pikiran dan waktu lebih banyak. Kamu mau habis waktu untuk kerja atau mau banyak waktu bareng keluarga?

Poinnya adalah: Kerja sekerasnya untuk semua tanggunganmu tapi jangan lupa luangkan waktu untuk mereka ini. Luangkan waktu untuk mereka, luangkan waktu untuk dirimu sendiri. Dan di titik itu baru kamu akan bisa bilang kalau uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

Dan seperti yang saya bilang di atas, sengaja meluangkan waktu untuk quality time dengan keluarga itu pilihan. Ada yang memilih untuk tidak mau pulang cepat karena merasa kosong di rumah sendiri, merasa dingin padahal punya tuh suami. Mungkin saatnya terhubung kembali, apa yang harus kita ganti sehingga hidup bisa jadi lebih berarti? Apa yang salah? Apa yang harus dipilah atau harus mengalah?

Kita perlu uang untuk bertahan, tapi bukan berarti jadi kerja tak berkesudahan. Jadi jangan lupa rebahan! Semoga bahagia selalu, ya!

PS: Tulisannya agak kurang enak karena awalnya nulis untuk story. Tapi ah udalah posting di blog aja hahahaha

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

A Cancelled Plan

on
Thursday, January 9, 2020

Wow I’m writing this while crying with relief hahahahaha.

Akhir 2019 dilewati dengan hari-hari menegangkan JG mau pindah kerja. Ya it’s time sih, udah 7 tahun di kantor yang sekarang. Karier naiknya pelan, pelaaannn banget. Kerjaan juga rasanya gitu-gitu aja.

Saya juga ngerasa ini sih waktunya dia untuk “gerak” pindah dari comfort zone dan kejar sesuatu untuk diri sendiri. Cari hal yang bisa bikin diri sendiri bangga dan punya pencapaian baru.

Karena selama ini yang dikejar pencapaiannya itu selalu saya. Saya mau ngapain lagi nih? Saya ambil sertifikasi apa? Saya kejar passion dengan cara apa lagi nih? Saya belajar apa lagi? Bertahun-tahun JG cuma supporter doang. Sebagai kaum non-ambis, dia nggak masalah dan senang aja jadi supporter.

Tapi sebenernya deep down saya juga pengen dia ketemu tantangan baru, orang-orang baru, networking baru. JG juga sebetulnya jenuh, lalu daftar untuk workshop broadcasting. Enam minggu ke depan dia akan workshop tiap Sabtu untuk sesuatu yang dia suka banget. Dan akhirnya mulai beresin LinkedIn.

Mulai aktif sampai tawaran kerja datang via LinkedIn bulan November. Interview lancar, nego gaji mayan alot, minggu kemarin medical check up dan lancar, proses ini itu, hari ini jam 10 tanda tangan kontrak. Gaji naik sekitar 36%, not bad sebetulnya menurut kami.

Perusahaannya lebih besar, pindah industri memang. Di industrinya, dia nomer 1 di Indonesia, multinational company, lebih besar dari company sekarang. Akan banyak belajar hal baru, dijanjikan akan banyak training (we’re that kind of people that super excited about trainings!), dan banyak hal lain.

Saya full support dan udah punya plan B serta C. Udah punya rencana ini itu karena (nah ini karenanya penting banget) karena di kantor yang baru posisinya asisten manager dan sudah diwanti-wanti dari awal kalau kerjanya mungkin tidak akan 9 to 5. Sabtu Minggu bisa jadi masuk jika diperlukan. Iya sih lembur dibayar full.

Plan A saya tentu tidak ada perubahan, saya tetep kerja, JG tetep anter jemput Bebe kaya biasa. Tapi kalau pulangnya malam terus?

Plan B saya yang anter jemput Bebe dan masih tetep kerja. Kalau ternyata capek?

Plan C saya resign jadi saya bisa fokus cuma anter jemput Bebe aja sambil mengerjakan hal lain. Udah banyak yang saya rencanakan sih. Agak nervous tapi yang konstan dalam hidup cuma perubahan, kan?

Intinya, saya menyambut 2020 dengan siap menyambut perubahan.

Plan C ini bikin JG misuh banget. Dari cuma “apa otak kamu bisa tetep kepake kalau resign?” atau “kamu bisa emang nggak ketemu orang lain dan di rumah aja?” sampai “hah udalah nanti kalau kamu resign nanti jadi rese”.

YA TERUS GIMANA?

Intinya kan yang terdampak dari perubahan ini tetep Bebe dong. Nggak mungkin saya sibuk kaya sekarang lalu JG lebih sibuk? Bebe gimana?

Tapi pemikiran resign ini diabaikan. Saya berkali bilang:

“Aku tuh terserah kamu lho, aku 80% ok kamu pindah tapi kalau kamu berat ya nggak apa-apa nggak pindah juga”.

“Aku yakin kita nggak akan menyesali ini kok. Pindah nggak boleh nyesel, nggak pindah juga nggak akan nyesel. Kita jalanin aja sama-sama.”

EH DIJAWAB DENGAN:

“Ya aku tuh bingung mau ambil atau nggak karena kamu bilang terserah. Kamu dong putusin ambil atau nggak.”

T________T

Bahkan mengambil keputusan pekerjaan pun harus saya yang mutusin. Ya kalau keputusan saya sih ambil aja, why not?

(Tentang JG yang susah ambil keputusan ada di sini ya: Anak dan Pengambilan Keputusan dan tentang Bebe yang bisa banget ambil keputusan di sini: Anak yang Bisa Mengambil Keputusan)

Sampai sore kemarin sebelum pulang kantor, JG chat sama temen kami yang memang udah lama banget kerja di industri yang sama dengan calon kantor baru. Satu kalimat yang langsung dheg adalah … “akan hectic kerjanya, nanti playtime sama Xylo berkurang”.

Ini kondisinya saya masih di kantor, JG telepon dan ceritain chatnya. Begitu nama Xylo disebut saya langsung galau. Saya langsung pengen merosot ke lantai dan “plis banget aku jadi 50:50 apa kamu perlu pindah?”

“Apa worth it?”

“Aku pengen kamu berkembang juga, punya sesuatu yang bisa kamu ceritain juga. Tapi, apa perlu?”

T________T

Perjalanan pulang dari kantor ke rumah dihabiskan dengan ngelamun. Mana dingin banget AC mobilnya dan terlalu malas minta bapak drivernya kecilin. Saya mikirin banget segala yang terjadi 5 tahun belakangan.

Makan malem itu kami bertiga mellow sekali. Saya tanya Bebe “Mau nggak pulang sekolah nggak dijemput appa?” Bebe jawab “kan bisa sama ibu”. Saya bilang “tapi setiap hari appa nggak jemput dan pulang malem?” Bebe nunduk sedih dan bilang “no no no”.

via GIPHY

Selama ini hidup kami baik-baik aja karena kondisinya seperti ini. Bebe tumbuh baik-baik saja. kami tidak kerja mati-matian lalu tidak punya waktu untuk dia. Kami kerja dengan waktu fleksibel, selalu punya quality time dan makan malam bersama, selalu punya weekend kruntelan bersama. What a privilege.

Kami menjalani hidup sebagai orangtua yang kompak dalam segala hal. Bebe tidak berat sebelah, Bebe akrab dan dekat dengan kami berdua. Tidak masalah kalau harus hanya bersama appa atau hanya bersama ibu. JG bisa meng-handle Bebe sebaik saya. Dalam kondisi apapun, pada Bebe, kami satu suara sebagai orangtua.

Kami menjalani hidup sebagai suami istri yang seru sekali dan masalah yang muncul sangat-sangat sedikit. Ya karena komunikasi lancar dan waktu berkualitas yang memang banyak. Apa perlu ini diubah demi tantangan baru? Demi pencapaian baru?

Dengan risiko waktu bersama Bebe akan berkurang? Dengan risiko tidak bisa main saat weekend karena lembur? Dengan risiko tidak bisa anter jemput Bebe padahal itu adalah bonding time antara Bebe dan appa? Dengan risiko tidak bisa main-main ke mall berdua Bebe sepulang daycare dan tidak bisa main nintendo bareng saat weekend?

Iya kalau tantangannya hanya di kantor, kalau tantangannya jadi masalah keluarga gimana? Ah, udalah kami terlalu takut ambil risiko itu.

Pagi ini saya chat di group keluarga, mengabarkan kalau pekerjaannya tidak jadi diambil. Ibu saya bilang “Kebersamaan bersama keluarga itu yang lebih mahal. Waktu sama anak yang mahal. Nggak akan terulang lagi. Nggak terasa sekarang aja udah mau SD”.

MAKIN AMBYAR NGGAK?

NANGIS. :(((((

Dulu sering banget denger kata-kata kaya gitu tapi nggak pernah tersentuh karena nggak mengalami. Sekarang begitu hampir mengalami rasanya baru sadar "oh ini maksudnya, ini maksudnya waktu tidak bisa diulang". :')

So here we go, kembali ke rutinitas biasa lagi. Rencana A B C batal semua dan ternyata jadi lega sekali. Uang bisa dicari, tapi waktu nggak bisa kembali. Kesempatan karier mungkin nggak datang dua kali tapi hari yang dilewati sekeluarga pun nggak bisa diulang lagi.

Semoga rezeki uang datang dalam bentuk lain ya! Rezeki waktu tinggal kami syukuri saja. :)

PS: Memang sepertinya saya akan rese kalau resign hahahaha.

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!