-->

Image Slider

Mencari Kesempatan

on
Friday, June 5, 2020
Tiga bulan di rumah wow. Tiga bulan ini saya nonton drama Korea lebih banyak dibanding 7 tahun terakhir. Saking nggak mau produktifnya, saking maunya kerja, masak, sama rebahan. Saat rebahan, saat yang pas untuk Koreaan.



Sampai terketuk hatinya karena 2 hari lagi ulang tahun si Bebe ya ampoonnnn! Biasanya ultah Bebe adalah jam-jam sibuk. Entah kenapa awal Juni tuh jadi momen sibuk saya banget.

Tahun lalu bikin buku “Berbeda itu Tak Apa-apa”.

Dua tahun lalu bikin buku “Susahnya Jadi Ibu”

Tiga tahun lalu bikin souvenir ultah MENJAHIT pouch sendiri dengan custom muka temen-temen Bebe yang saya GAMBAR sendiri. Ditambah flash card yang juga saya gambar sendiri. Ambisius amat mbaakkk?

Enam tahun lalu bikin buku “Oppa Oppa”. Masih bisa dibeli di Google Play btw.

Punya buku 3 semua lahir di awal Juni. Punya anak juga lahir awal Juni lol.

Sampai diingatkan Timehop. Di awal Juni, sembilan tahun lalu, juga satu momen yang mengubah hidup saya datang. Bulan Juni 2011, adalah kali pertama saya menginjakkan kaki untuk memutuskan berkarier di Jakarta. Satu keputusan yang nggak pernah sekali pun saya sesali.

Saya sebenernya bikin YouTube tentang ini, tapi sebagai penulis, bikin video tuh ngeselin ya karena kalau udah selesai lalu ada yang pengen ditambahin, SUSAH AMAATTT NAMBAHINNYA! Udalah saya bikin versi tulisan juga. Videonya bisa ditonton di sini:


Sembilan tahun lalu saya lagi suka-sukanya pada KPop. Ngikutin banget sampai punya akun di forum-forum fanbase. Dulu musimnya forum kan ya, dan tiap fanbase punya forum sendiri sampai ribet amaattt harus sign up satu-satu.

Saya juga waktu itu pengangguran karena abis resign impulsif akibat berantem terus sama bos. Saya ngetweet nanya lowongan kerja eh loh kok malah disuruh kirim CV! Abis kirim CV langsung janjian interview dan tau-tau Seninnya saya udah resmi kerja di Jakarta. Big deal buat saya yang seumur hidup di Bandung.

Karena waktu itu kondisinya saya belum pernah sama sekali ke Jakarta sendirian pake travel. Mantan pacar saya waktu itu ada apalah sampai nggak bisa anter padahal sebelum-sebelumnya kalau ada interview di Jakarta pasti dianter.

Ayah saya lagi sibuk jadi panitia SPMB dan jadinya supirnya nggak mungkin dipinjam. Intinya, saya nekat ke Jakarta sendirian. Bermodal GPS dari Google Maps Blackberry, saya naik travel ke Pancoran dan lanjut naik taksi. Takut tapi excited banget!

Sampai sekarang saya masih inget persis baju dan celana mana yang saya pakai. Masih ingat suasana interview dan nego gaji karena jujur gajinya kecil banget dibanding pekerjaan terakhir saya yang notabene di Bandung. Sementara di Jakarta saya harus bayar kost dan makan sendiri. Tapi karena posisinya saya sangat sangat inginkan, ya udah nekat aja.

Siapa sangka, bahkan saya sendiri nggak nyangka, satu keputusan saya untuk pergi sendiri ke Jakarta itu mengubah hidup saya selamanya. Jadi reporter KPop, lanjut jadi editor di media yang lebih oke, dan sekarang di media yang saya sukai. Pengalaman-pengalaman yang membentuk saya jadi seperti sekarang.

Berawal dari satu tweet. Hidup berubah selamanya.

Selfie dari meja kerja pake laptop HAHA
Katanya saya beruntung. Tapi kalau cuma modal beruntung dan mengabaikan kerja keras saya juga rasanya nggak adil. Saya perlu mengapresiasi kerja keras saya. Kalau bukan saya yang apresiasi terus siapa lagi? Hahahaha.

Untuk bisa liputan itu saya approach semua promotor satu-satu termasuk promotor di Singapura karena 2011 tuh artis yang konser di sini sedikit banget. Jadi memang awalnya saya nonton konser bolak-balik ke Singapura. Ketika pada akhirnya artisnya juga datang ke Indonesia, saya juga nggak pernah ragu untuk telepon dan tanya-tanya duluan pada promotor untuk info dari insider.

Iya betul pekerjaannya menyenangkan. Ketemu dengan banyak KPop idol, wawancara, ke backstage, rehearsal, sangat menyenangkan sampai layak dijadikan buku oleh penerbit major. Tapi di balik itu juga saya kerja sangat keras.

Jam kerja tidak tentu, Sabtu-Minggu masuk tanpa diganti hari libur lain, pulang tengah malam besok paginya sudah kerja lagi. Begitu terus selama 2 tahun. Lalu seperti cerita di video itu, nggak melulu saya liputan senang-senang. Small gathering fanbase pun saya liput dan datangi untuk menghormati mereka yang membaca tulisan saya setiap hari.

Masa-masa itu meski super melelahkan, selalu jadi highlight masa muda saya. Senang sekali pernah punya pengalaman yang nggak bisa dimiliki semua orang. Sampai sekarang rasanya seperti mimpi. Kalau saya tidak menulis buku dan tidak merapikan foto-fotonya, mungkin kenangan ini lama-lama makin blur. Untung saya menulis dan mengabadikannya di buku huhu terharu sendiri hahahaha.

Oiya soal buku juga. Apa penerbit datang ke saya dan menawari untuk membuat buku seperti sekarang? Sekarang sih iya, sekarang kayanya punya followers agak banyak aja langsung ditawari bikin buku deh sama penerbit.

DULU YA TIDAK. Saya email penerbit dan menawari proposal untuk membuat buku. Saya beri summary pengalaman saya dan akhirnya sepakat untuk ditulis dan dijadikan buku. Detailnya ada di sini: Tentang Buku Oppa Oppa

Intinya, kesempatan itu emang kadang datang sendiri tapi nggak ada salahnya dicari. Mungkin kamu udah cari jutaan kali dan tetep belum ketemu apa yang dinanti. Tapi, apa sih salahnya untuk coba sekali lagi?

SELAMAT MENCARI KESEMPATAN!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Bebe's Story #58-#63

on
Sunday, May 24, 2020


Wadaw 2 tahun nggak nulis Bebe's Story HAHAHA. Alasan utamanya adalah karena saya pindahin celetukan si Bebe jadi thread di Twitter. Lebih gampang karena kalau dia ngomong agak ajaib dikit saya langsung twit aja. Biasanya dicatet dulu di notes lalu dibikin blogpost kan.

Threadnya dimulai dari 2017 sampai sekarang. Bisa diliat di sini ya! 

Nah, tapi 3 bulan di rumah, saya dan JG dibikin geleng-geleng terus nih sama omongannya si Bebe. Ampun deh jelang 6 tahun (2 minggu lagi!) saya rasanya kaya ngomong sama anak remaja. T______T

Dia tau banget caranya ngetes batas kesabaran gitu. Cengengesan terus, bisa ngambek banting pintu masuk kamar, dan berbagai emosi lain yang bikin mikir: Waw kalau umur 6 aja sulit apalagi 12 HAHAHA SURAM.

Tapi di sisi lain masih bayi banget dan maunya nempel terus dipeluk sama ibu, 50% ngomongnya kaya anak SMP, 50% lagi ngomongnya dicadel-cadelin kaya bayi. Sungguh niat emang si Bebe mengubah kepribadian seketika tuh.

Ngomong apa aja dia? Ini rekap 3 hari terakhir. TIGA HARI! Ini murni 50% saat dia menjadi anak SMP ya. Iseng dan dewasa banget huhu, Kalau jadi bayi ya gitu, ngomong T jadi D, R aja jadi W. Iya, SCARY jadi SKEWI. -_______-

#58

Ibu lagi nyapu, nyari pengki kok nggak ada? Eh kok ada di dalem kamar mandi. Sepertinya abis dicuci sama JG.

Ibu: "Eh ada Be, di kamar mandi ternyata, appa kayanya sih taro di sini"

Bebe: "Duh appa nih, so clumsy!"

Appa datang abis ambil paket.

Bebe: "APPA! SO CLUMSY! Kenapa pengki di kamar mandi?"

WAH.

#59

Nonton Ugly Delicious malem-malem bertiga di meja makan pake HP. Si Bebe badannya nggak mau tegak, nunduk ke depan. Disuruh mundur maju lagi maju lagi. Sampai akhirnya saya stop nontonnya dan tidur. Di kamar ...

Ibu: "Kamu kenapa sih tadi nontonnya deket-deket gitu?"

Bebe: "Aku emang sengaja hehe biar ibu marah"

T_______T

#60

Masuk umur 6 tahun, perjanjiannya Bebe harus tidur sendiri. Kami atur ulang kamarnya, rencananya mau beli kasur yang proper, meja belajar besar, dll. Tapi mau dicat dulu, warna apa ya? 

Ibu: "Be, kamu mau cat kamarnya warna apa? Tiap sisi dinding beda atau sama?"

Bebe: "All black"

Ibu: "Gelap sih kalau black. Biru gimana?"

Bebe: "Ok tapi dark blue"

YHA APA BEDANYA DONG BE AH!

#61

Kemudian berlanjut ke diskusi warna sprei dan kursi belajar.

Ibu: "Spreinya aja yang black atau dark blue ya? Nanti ibu cari. Kupikir selama ini warna kesukaanmu biru"

Bebe: "I like all color except pink and yellow and purple"

Ibu: "Ih that's my favorite color"

Bebe: "I know hehe that's why I don't like it"

NAON SIH BEBE DENDAM SAMA IBU ATAU GIMANA T_______T

#62

Ibu mellow, bisa nggak ya Bebe tidur sendiri?

Ibu: "Waktu kecil aku baru bisa tidur kalau baca buku dulu. Aku selalu baca dulu di kasur"

Bebe: "Ibu baca buku apa? Aku tau pasti ibu baca Harry Potter ya?"

Ibu: "Banyak sih bukuku waktu kecil tapi kalau sebelum tidur aku seringnya baca majalah Bobo"

Bebe: "Ah apaan majalah Bobo mah banyak iklan, cerita iklan cerita iklan, nggak suka"

GIGIT NIH. T_______T

#63

Bebe mellow karena kangen temen-temen daycare.

Ibu: "Iya aku juga kangen teman-temanku. Kangen kerja, nonton konser, naik ojek aja aku kangen"

Bebe: "Iya aku juga udah lama banget nggak naik ojek"

Ibu: "Lah, kamu kapan juga naik ojek?"

Bebe: "Iya nih aku udah terlalu besar, ketauan sama pak polisi, kakiku terlalu panjang jadi keliatan deh sama pak polisinya"

CKCKCKCKCK.

Ibu: "Kamu dulu naik ojek sama aku mah umur 2-3 tahun kali, masih pake Ergo aku gendong"

Bebe: "Iya itu pas dulu aku beratnya cuma 2 kilo"

NGGAAAKKKK GITUUUUU. Yakali lahir aja udah 2,5 kg.

T________T

*

Biarlah aku shameless tapi aku merasa celetukannya itu sotoy sotoy lucu? HAHAHA. Kalau dia udah nyeletuk gitu nggak sabaran pengen bilang ke JG terus merenung bersama "ANAK KITA LUCU BANGET" LOL kagum deh sama diri sendiri HAHAHA.

Cuma kan nggak bisa dilakukan kalau di depan Bebenya dong. Jadi nunggu dia tidur atau dia nggak denger baru saya ceritain. Di depan Bebe mah ibu selalu menanggapi dengan serius dan nggak nganggep dia konyol. Ketawanya nanti lagi aja ditahan dulu hahaha.

Ya udah gitu aja. Nulis ini jam 1 malem takut keburu nggak mood nulis hahahah.

SELAMAT LEBARAN!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Menetralkan Emosi

on
Wednesday, May 13, 2020


“Ambil hikmahnya ajalahhh.”

“Ya bersyukurlah masih blablabla”

“Kenapa sih liat negatifnya terus!”

“Count your blessings”

“Good vibes only!”

Sekali dua kali denger kalimat kaya gitu nggak masalah. Denger saat lagi nggak gitu down juga rasanya biasa aja. Tapi pas emang lagi di bawah banget, lalu ada yang ngomong gitu ke kita kok rasanya kaya emosi kita jadi nggak valid ya?

Apa iya nggak boleh ngeluh?

Apa iya karena kita masih bisa makan enak dan masih punya atap untuk bernaung kita lantas nggak pantas untuk mengeluh?

Pantas tidak pantas menurut siapa sih?

Mengeluh juga kan bukan berarti tidak bersyukur. “Ya saya bersyukur bisa makan enak tapi jujur capek banget nih masak tiap hari.” Kan valid aja. Nggak ada masalah dalam kalimat itu hahahaha.

Kalau untuk orang lain, kita kan nggak tau sedang sedalam apa dia dengan perasaannya sehingga tidak perlu lah ikut campur dengan menyuruhnya mendadak bahagia. Bahagia kan tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa tring! disulap sekejap hanya karena kita meminta dia untuk membuang negativity.

Kalimat atau pernyataan positif kan sebaiknya memotivasi. Kalau sudah tidak memotivasi, apa iya tetap bisa dibilang sebagai kalimat positif?

Di sinilah istilah toxic positivity lahir. Mindset terlalu positif sampai jadi toxic. Iya, bukan cuma kalimat negatif yang bisa jadi menyebalkan.

Contoh, kita terbiasa dengan jargon “kerja keras pintu sukses” seolah setiap orang yang kerja keras pasti suatu hari akan sukses alias kaya. Nope, toxic positivity.

Ada orang yang kerja keras banting tulang setiap hari seumur hidupnya dan sampai mati tetep hidup miskin susah makan. Tidak semua orang berhasil naik kelas hanya karena kerja keras.

Ingat kata mbawin @winditeguh. Kalau orang bisa, kamu belum tentu bisa. Kalau kamu bisa juga ya bagus, kalau nggak bisa nggak usah terlalu kecewa.

Gagal ya gagal. Gagal atau merasa gagal itu normal. Kadang kita dapet apa yang kita mau kadang nggak. Kadang beruntung kadang nggak. Ada yang beruntung terus ada yang apes terus.

Ada yang lahir miskin, mati kaya. Ada yang lahir miskin, mati tetap miskin. Ada yang miskin harta menghibur diri dengan kaya hati. Nggak tau aja dia orang kaya harta yang kaya hati juga banyak. Namanya juga menghibur diri kakkk masa nggak boleh ahahaha bolehhh dong.

Atau misal ada 1 anak pemulung sukses kuliah sampai S3 full beasiswa di luar negeri. Kita jadi bias dengan “tuh dia aja bisa sukses masa kamu kok nggak bisa” tanpa mempertimbangkan bahwa si anak ini adalah 1 dari jutaan anak pemulung yang punya kesempatan lebih baik.

Tidak perlu menglorifikasi kesuksesan sehingga kita tak terlalu kecewa ketika harus menemui kegagalan.

Apa lantas tidak usaha? Ya tetep usaha dong. Tapi dengan ekspektasi ini: Bahwa kerja keras nggak 100% menjamin kita dapat kehidupan yang lebih baik. Tidak perlu terlalu yakin akan sukses, tidak perlu juga terlalu khawatir untuk gagal. Netral saja.

Dalam parenting, mindset ini bisa jadi sangat berguna. Banyak orangtua yang punya banyak ekspektasi untuk anaknya sehingga khawatir si anak tidak seperti yang mereka harapkan. Padahal kan anak individu sendiri, masa depannya sebaiknya ia yang tentukan sendiri. Harapan kita itu sebatas harapan, bukan peraturan yang harus selalu anak patuhi. Ini kenapa saya merasa penting sekali mengatur ekspektasi.

Saya dan JG merasa sangat sanget berusaha untuk Bebe, kasih sekolah terbaik yang bisa kami afford, kasih makanan terbaik, bonding dan kelola emosi sebisa mungkin, kalau ternyata dia jadinya B aja atau nggak lebih baik dari kami?

Sudahlah kan sudah berusaha melakukan yang terbaik. Seharusnya tidak menyesal dan bisa berdamai karena seburuk apapun dia nantinya, dia adalah hasil terbaik yang sudah kami usahakan. (ini quote rework dari postingan ini: Kenapa Sekolah Begitu Penting?)

Iya, hidup ini lebih tentang gimana kita berdamai dengan kondisi kita sekarang. 

Tentang gimana kita bisa dengan tenang hidup sekarang, tanpa terhantui masa lalu, tanpa terlalu mengkhawatirkan masa depan.

Tentang gimana kita sadar bahwa memang mimpi itu bikin kita lari, punya cita-cita itu harus, dan kadang halu itu boleh.

Terbang ketinggian pun nggak apa-apa tapi jangan lupa pegangan, biar kalau ternyata harus jatuh, kita nggak terjun bebas. Kita turun pelan-pelan.

Kita diam di tengah saja. Saat lelah menangislah, saat senang tertawalah.

Yes, neutral mindset ini memang juga masalah emosi. Sebagai orangtua kita sibuk bicara memvalidasi emosi anak agar anak punya regulasi emosi yang baik. Tapi sudahkah kita memvalidasi emosi kita sendiri?

Meregulasi semua emosi yang hadir dan tidak menyangkalnya? Meresapi setiap perasaan yang muncul dan tidak melabelinya sebagai sesuatu yang negatif hanya karena kita memposisikan diri harus selalu dalam “good vibes”?

Capek itu boleh, sedih itu manusiawi, cemas itu wajar apalagi di saat pandemi. Justru harus merasakan dulu perasaan-perasaan “negatif” itu sebelum akhirnya bisa netral. Bisa ada di pikiran bahwa perasaan kita itu semua sama. Tidak ada yang negatif atau positif, tinggal bagaimana kita bereaksi terhadap perasaan itu.

Capek boleh. Reaksi kita apa? Marah-marah. Kenapa perlu marah? Apa energi marahnya bisa dialihkan ke hal lain yang tidak menyakiti orang lain? Yang tidak membuat kita menyesal karena sudah membentak anak yang tidak perlu dibentak.

Cemas boleh. Reaksi kita apa? Terlalu banyak baca berita sampai sakit kepala, jadi sensitif dan mudah menangis. Maka coba kendalikan dengan cara mengurangi konsumsi berita dan perbanyak mengerjakan hal yang membuat kita senang.

Semua perasaan BOLEH kamu rasakan tapi perlu dilatih untuk bisa peka merasakan sehingga bisa mengendalikan reaksinya. Bagaimanapun, apa-apa yang kamu rasakan itu valid. :)

Kuncinya ada di mengendalikan perasaan agar selalu netral. Tidak berusaha selalu senang, tidak terlalu lama saat sedih. Tidak menganggap lebih perasaan “positif” dan tidak perlu selalu mengusir perasaan “negatif”.

Ketika emosi yang selama ini dilabeli negatif berhasil kita kendalikan, berikutnya coba resapi emosi yang selama ini kita labeli positif. Apakah kita juga bereaksi berlebihan ketika senang? Ketika bahagia? Sehingga makan terlalu banyak? Sehingga belanja terlalu impulsif?

Mungkin ini sebabnya orang zaman dulu sering bilang “jangan terlalu seneng ah, kalau terlalu seneng nanti sedih loh!”

Ada benarnya. Ketika kita terlalu senang, kita tidak bisa mengendalikan emosi positif, kita jadi punya benchmark “senang itu kalau begini lho” atau “bahagia itu kalau begini nih”. Ketika “begini” nya tidak lagi bisa hadir kita seperti kehilangan kesempatan untuk bahagia. Sedih pun jadi terasa lebih menyedihkan.

Dengan demikian, coba rasakan dan kendalikan perasaan dan emosi kita sepenuhnya. Marah tidak terlalu marah, senang tidak terlalu senang. Semua yang terlalu memang tidak baik, kan? Netral saja. Usahakan netral.

Jadi, sudah sampai mana perjalanan mengenali emosinya?

PS: Iseng ngecek tulisan semacam ini di blog dengan tag Tentang Hidup ternyata ada 73 postingan sejak 2015! Sama ini jadi 74! Wah, emang passionate banget kayanya saya ngomongin hidup hahaha. Kalau yang niat baca dari awal, tag ini jadi perjalanan emosi saya sih sepertinya.

Dari quarter life crisis, hancurnya kepercayaan diri karena punya anak, masih positive vibes only saking ngerasa hidup kok gini-gini aja, sampai sekarang di titik bisa bilang kalau positive vibes only juga nggak selamanya baik. Pengen pukpukin diri sendiri dan bilang BANGGA BANGET SAMA DIRI SENDIRI, TERIMA KASIH UDAH SAMPAI DI SINI! :))







LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Bebe 5 Tahun 11 Bulan

on
Wednesday, April 29, 2020



[INI FOTO ULTAH TAHUN LALU, FOTO BARU MENYUSUL KARENA MALES AMBIL KAMERA LOL]

Sebuah update milestone setelah hampir 2 bulan diam di rumah lol.

Sebagai ibu yang berbagi tugas pengasuhan sama daycare, ini adalah waktu terlama saya bareng-bareng sama Bebe 24 jam selama 1,5 bulan. Terakhir ya pas dia lahir, umur 1-3 bulan itu 24 jam sama Bebe. Abis itu bye Bebe, ketemu pagi dan malem doang selama 5 tahun lebih!

Gila juga ya dipikir-pikir HAHAHAHA.

Anaknya satu tapi yang urus banyak. Ada yang khusus masakin dia, ada yang khusus temenin dia main, ada yang khusus ngajarin dia. Pantes saya bisa fokus untuk ngajarin dia hal-hal lain kaya emosi, apresiasi, bonding, ditulis di blog juga. Ya berlebihan energi hahaha. Di luar itu, outsource aja udah.

LHA SEKARANG?

Bersyukur harus di rumah aja dengan anak yang sedikit lagi 6 tahun. Less drama, meskipun nemplok mulu, pusing. Saya seneng sih sebenernya karena ya nggak pernah kaya gini juga kan. Tapi lama-lama berat juga ditemplokin, ditabrak, dicium-cium terus sementara tetep harus kerja, masak, nyuapin makan waahhh.

1,5 bulan sama Bebe di rumah malah semakin menguatkan nggak mau punya anak lagi karena energi buat satu anak aja ternyata saya nggak punya HAHA.

Oke cukup untuk part curhat ibu, mari ke milestone Bebe.

Berat badan

Ini part tersedih sih karena merasa di umur 5 tahun udah nggak perlu plot grafik lagi terus ternyata dalam setahun berat badan Bebe nggak nambah sama sekali. Jadi sekarang kejar target makannya harusss selalu double protein hewani huhu.

Udah balik ke garis ijo sih tapi mempertahankan prestasi lebih sulit dari meraih, bukan? Jadi rempong banget saya tiap hari masak dan nyuapin makan demi itu grafik stay di garis ijo. HUH HAH!

Makan

Si Bebe yang waktu kecil makannya drama, makin gede makin gampang ternyata. Nggak picky, kecuali pedes masih nggak mau (ya sama ibu juga kalau pedes nggak mau lol). Sayur mau, buah aman, ikan dan daging aman. Yang tidak aman hanyalah part harus disuapin sama ibu biar makannya semangat.

Selama ini makan sendiri bisa-bisa aja. Tapi mandiri dan makan sesuai kebutuhan itu dua hal yang beda banget ya. Makan sendiri belum tentu sesuai kebutuhan karena maunya buru-buru. Jadilah ibu harus nyuapin terus.

Alergi

Plus di rumah gini jadi bisa kenalan lebih dekat sama alerginya. Selama ini di daycare aku beneran susah untuk cek makanan apa aja yang bikin dia alergi? Tau-tau pulang kulit kering/ruam aja gitu. Bingung dari 3 menu, yang mana yang bikin kulitnya ruam?

Nah karena di rumah jadi bisa cek efek tiap makanan lebih detail. Jadi baru sadar kalau ternyata dia nggak alergi semua telor. Dia cuma alergi telor ayam aja. Telor ayam semua model (halah) dari telor biasa, omega, ayam kampung, alergi semua.

Tapi untungnya telor puyuh dan telor bebek aman. Jadi di kulkas selalu stok telor puyuh dan bebek deh buat nambahin double prohe. Senang karena liat pipinya nggak ruam lagi kaya dulu huhu.

Main game

INI ANAK UDAH GEDE BANGET YA? Kalau main game tuh sambil ngomong sendiri gitu capruk pake bahasa Inggris. Mana main game apaan pula saya nggak ngerti huhu.

Sampai juga di titik saya nggak ngerti dia main game apa HAHAHAHA. Dipikir saya bakalan terus jadi ibu nggak gaptek yang akan paham semua urusan teknologi anaknya. Tapi kalau game hadeh maleslah urusan appa aja.

Nemplok ibu

JG lagi telepon mamanya. Tiap hari kan telepon mamah tuh.

Ibu: “Be, appa lagi telepon nenek, kamu kalau udah segede appa, udah punya anak, tetep mau telepon aku tiap hari kan?”

Bebe: “AKU NGGAK AKAN KELUAR DARI RUMAH INI JADI AKU NGGAK PERLU TELEPON IBU!” (sambil peluk kenceng)

WOW. HAHAHA.

Deep down, saya yakin Bebe tuh ada perasaan ingin sama ibu terus karena biasanya ditinggal kerja kan. Jadi puas-puasin Be, selama di rumah ini sama ibu hahaha. Abis ini selesai kita kembali ke rutinitas masing-masing ok karena ibu nggak sanggup kalau homeschooling selamanya mah HUHU.

Saya sendiri juga puas sih peluk-pelukan ngobrol tiap malem. Tapi bener deh, ini mau sampai umur berapa sih saya akan ditabrak seketika sampai kejengkang tuh? Sampai umur berapa kalau cium tuh seringnya malah kepentok? Sampai umur berapa kalau mau peluk ibu tiba-tiba itu jadinya kejeduk? Beraaattt.

Masih mau digendong pula ya ampun cuma sanggup semenit beneran deh.

Baca tulis

Baca udah lancar, nulis udah mau di dalem garis meski mengeluh setiap beberapa kata “pegel banget”, “aku pegel banget”, “abis ini pokoknnya ibu pijitin tangan aku pake kutus-kutus”, “capek”, “aku nggak suka nulis”. NGELUH TEROSSSS.

Tapi ya ibu tungguin. Silakan mengeluh tapi kerjakan. Kalau terlalu banyak, lanjut besok lagi boleh hahaha.

Jadinya saya ganti deh activity menambah diksinya dengan malem sebelum tidur, tebak-tebak huruf. Misal “balloon” dia tebak, hurufnya apa aja. Selain kinestetik, rada auditori kayanya Bebe tuh. Dulu pas belajar eja juga malem sebelum tidur ngeja dulu kan.

Apapun metodenya yang penting mau belajar yessss? YESSSS.

Sekolah

Ini part terchallenging sih. Tapi masih bisa di-skip. Makan challenging dan nggak bisa diskip huhu.

Jadi selama dia pergi ke sekolah, nggak pernah ada satu waktu pun dia males-malesan. Selalu mau pergi sekolah dengan semangat. Sekolah di rumah? Beda cerita.

Moodnya nggak ketebak banget. Bisa lagi happy terus pas zoom-nya nyala dia langsung lemes dan tiduran di meja. Atau udah bangun pagi tapi kalimat pertama saat bangun adalah “aku nggak mau sekolah”.

Kemarin miss atur jadwal dan aku jawab “miss, aku sih oke aja tapi moodnya Xylo yang nggak terduga” HAHAHA. Ya gimana memang gitu keadaannya kan.

Jadi daripada maksain pagi dia sekolah, mending tunggu dia mau lalu kerjain PR beberapa hari di saat moodnya bagus itu. Biarlah masih TK ya. Semoga masuk SD, pandeminya udahan karena kalau harus adaptasi dengan kondisi baru tapi sekolahnya online tuh kayanya berat deh.

*

Udah sih gitu aja semoga nggak ada yang kelewat ya. Sebulan jelang ultah dan belum siapin apapun. Nggak apa-apa yang penting berat badan nggak turun *tetep* lol

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

The New Normal

on
Monday, April 20, 2020

Topik dengan tiga kata judul ini udah banyak banget yang nulis ya. Tapi saya mau nulis juga dari sudut pandang saya atuhlah masa nggak boleh hahahaha

Udah sebulan lebih di rumah, sebulan 4 hari kalau nggak salah hitung. Udah terlalu lelah untuk menghitung hari. Hidup pasti temukan jalannya. Udah mulai ngerasa kalau harus kaya gini selamanya ya udah, kalau bisa ke kantor tiap hari lagi kaya dulu alhamdulillah. 

Tapi kayanya pilihan kedua makin jauh rasanya. Hidup yang kemarin-kemarin jadi serasa cuma mimpi aja. Tiba-tiba kita bangun dan disadarkan, mana yang penting, mana yang bisa diabaikan. Mana yang milik kita, mana yang bukan. 

Waktu bukan milik kita. Tempat, bumi ini juga bukan milik kita. Yang kita miliki sepenuhnya sendiri cuma pikiran. Itu pun tetap hanya dalam pikiran, karena pikiran bukan kenyataan. Kita, sendirian dalam pikiran

Banyak hal yang kita pikir normalnya begitu ternyata tidak.

Normalnya kalau kerja itu ke kantor padahal tidak pun tidak apa-apa.  Karena banyak kantor yang masih bisa beroperasi baik-baik saja meski hampir semua karyawan diam di rumah tak ke mana-mana.

Jadi mudah terlihat, mana yang bisa tetap fokus bekerja meski dengan distraksi keluarga, mana yang malah menghilang dan menganggap work from home adalah liburan semata.

Normalnya anak tuh sekolah dong padahal tidak juga anak ternyata tetap normal ahahaha. Sekolah di rumah pun bisa. Anak beraktivitas di rumah cuma sama appa ibu yang tidak 100% fokus karena nemeninnya harus sambil kerja, ternyata bisa.

Normalnya me time ibu itu tanpa anak sama sekali. Ternyata me time ngunci diri di kamar juga bisa. Normalnya liburan untuk refreshing. Ternyata nonton drama Korea juga refresh dan senang-senang aja. Normalnya orang ekstrovert itu recharge di keramaian. Ternyata bisa kok diusahakan dengan teriak-teriak di rumah karaokean.

Dan normal-normal lain yang sekarang jadi dulu. Jadi masa lalu.

*

Kalau diperhatikan baik-baik, Bebe lebih gampang adaptasi. Dari dia bilang “aku bosan di rumah” sampai “aku sekolahnya di rumah aja” itu cuma butuh waktu sekitar 2 minggu. Sebulan ini cuma 2x bilang “aku kangen sekolah!” lalu kembali happy dan lupa kalau di rumah itu bosan.

Beda sama ibunya yang butuh 3 minggu sampai sebulan. Dari migrain dan nggak bisa ngapa-ngapain 3 hari penuh karena mikirin masalah dunia (aka pandemi) sampai akhirnya bisa terima “oh mungkin memang harus begini bertahun-tahun ya udalah”. 

Dari kangen ke mall, kangen CFD, kangen makan AYCE dan Pagi Sore, kangen ngantor dan liputan, sampai memutuskan udalah nggak usah kangen lagi karena makin jauh sama bahagia. Kayanya dikit lagi mikirin konsep ngantor aja jadi nostalgia, selevel dengan mikirin masa-masa SMA :))))

Udah nggak ada lagi juga opsi untuk melakukan itu dengan tenang. Mau kangen juga jadi percuma. Mau bosan juga, ah dulu waktu ngantor biasa juga ada kok masa-masa bosan. Bosan itu biasalah. Dalam situasi apapun, kita bisa kok bosan. Nggak cuma sekarang. Move on, pelan-pelan aja, yang penting dicoba.

At least karena berusaha legowo gini jadi udah nggak denial lagi. Udah nggak sakit kepala mikirin problematika orang sedunia lagi.

Baca riset Harvard School of Public Health, mereka bilang kalau vaksin belum ditemukan, dengan rumah sakit kaya sekarang, Amerika baru akan berhenti social distancing di … 2022 lol 2-3 tahun harus begini, itu juga masih perkiraan. Bisa lebih cepat, bisa banget lebih lambat. :))))

Pun mulai berhenti mengkhayal kapan ini berhenti dan mau ngapain saat berakhir? Karena konsep "akhir"-nya tuh bener-bener masih serupa harapan, bukan janji yang jelas akan ditepati kapan. Lebih baik manage ekspektasi, kan?

*

Baru kerasa bahwa masa depan yang dulu rasanya bisa direncanakan, sekarang kembali jadi bayang-bayang. Padahal dari dulu juga masa depan mah emang bayang-bayang ya? Hahahaha.

Dulu sok tau banget merasa bisa memprediksi besok akan kerja, Bebe sekolah, makan malam di rumah. Karena kenyataannya besoknya lagi juga gitu. Besoknya juga gitu lagi. Sok banget memperkirakan besok akan kaya apa padahal semenit lagi juga nggak ada yang tau akan gimana.

Sebagai tukang bikin rencana, kali ini saya malah menghentikan semua agenda. Hanya berharap tetap punya penghasilan agar bisa makan. Hanya berharap nggak ada kondisi darurat agar dana darurat bisa jadi tameng untuk tetap punya perasaan aman. Sebagai manusia ambisius, saya juga mengubah mimpi dan cita-cita. Dari daftar panjang yang ingin diraih, berubah jadi daftar pendek hal-hal yang syukurlah masih bisa cukup, sepertinya baru kali ini kami tak minta berlebih. :(

Untuk yang jadi kehilangan kerjaan karena normal yang tiba-tiba berubah ini. Semoga secepatnya ketemu jalan barunya, ya? 

Rencana diatur ulang, impian dikondisikan, pikiran dikendalikan. Yang bisa dilakukan memang cuma mengatur, mengondisikan, dan mengendalikan pikiran. Ya gimana, menkes bukan, presiden bukan. Kecuali kamu scientist yang emang lagi bikin vaksinnya jadi mungkin ada bayangan kapan pandemi ini bisa diselesaikan huhu mangat guys. 

Definisi optimis pun berubah. Saat awal self-isolation, optimis adalah yakin bisa survive di rumah sampai pandemi selesai. Sekarang, optimis adalah yakin bisa survive dalam keadaan kaya gini entah sampai kapan.

Ini bukan rutinitas sementara. Ini rutinitas baru. Sekali lagi, ini bukan gaya hidup sementara, ini gaya hidup yang baru.

Maka, mari kita tutup dengan berseru: Semoga kita semua sehat selalu!

-ast-







LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Day 12

on
Wednesday, March 25, 2020

Saya sudah sangat ingin menulis tentang hidup akhir-akhir ini. Triggernya Ashraf Sinclair meninggal dan terlalu banyak hal yang terjadi di dunia.

Entah kenapa saya tidak menyempatkan diri. Karena merasa kepala terlalu penuh saya akhirnya hanya menuliskannya singkat di caption Instagram.



Berawal dari Kobe Bryant, lalu Ashraf Sinclair. Kemudian daftar tontonan 1-2 bulan belakangan yang bukannya menghibur malah bikin nangis bombay: “All The Bright Place” (Netflix) tentang dua orang yang mencari cahaya setelah duka dan trauma, “Onward” (Pixar) tentang pengandaian kematian yang kembali hanya untuk sehari, dan "Hi Bye Mama" (Netflix) yang membuat saya berpikir ulang tentang makna kehidupan.

Tentang meninggalkan dan ditinggalkan. HUHU SEDIH BANGET ASLI. Hi Bye Mama memperlihatkan sudut pandang kematian dari sisi yang meninggal, bukan dari sisi yang berduka. Baru, setidaknya untuk saya. :(

Lalu yang terakhir adalah Covid-19 yang bukannya bikin saya takut mati tapi bikin saya takut ditinggalkan jadi first thing first: Cek polis asuransi jiwa JG, apa uang pertanggungannya tetep cair kalau meninggal karena pandemi?

(Ternyata iya).

*

Pagi ini, hari keduabelas saya dan Bebe diam di rumah. Kami tidak melangkahkan kaki ke luar sekali pun. Berjemur di kamar yang memang jendelanya pas sekali terpapar sorotan matahari pagi, menghirup udara segar (ya kapan juga udara pagi Jakarta segar sih) dari balkon apartemen saja.

JG ke luar 2 kali untuk grocery shopping, mandi dan bebersih sebelum satu ruangan lagi dengan kami berdua. Dua kali ia keluar untuk mengambil paket dan GoFood. Hanya begitu saja tetap langsung mandi bersih. Terlalu takut membawa virusnya ke rumah, terlalu takut Bebe tertular dan kesakitan. :(

Saya dan Bebe berkomitmen 14 hari di rumah karena memang itu esensi isolasi diri, kan? Diam di rumah selama minimal 14 hari, agar ketika memang harus sakit, kita tahu persis kapan dan di mana kita tertular. Sekarang hari ke 12, seharusnya 2 hari lagi kami bisa bilang aman dan tidak punya virus dalam diri. Atau kalau ternyata punya dan tanpa gejala pun, sudah tidak menularkan pada siapa-siapa dalam 14 hari.

Jadi kami memang mengisolasi diri agar yakin tak tertular dan menulari. Iya, term yang tepat untuk kami adalah self-isolation bukan social distancing, karena saya tidak bersedia keluar lalu menjaga jarak dengan orang lain. Di saat seperti ini rasanya social distancing saja tidak cukup, apalagi tinggal dengan anak kecil.

Selama ini yang disebut rawan selalu orangtua. Rawan karena tingkat kematiannya tinggi. Tapi membaca berbagai cerita yang mengalami sakit, sakitnya bisa jadi ringan bisa jadi sangat berat. Membayangkan Bebe sakit berat kok rasanya saya tak mau keluar rumah. Biarlah saya hampir gila tapi saya di rumah saja untuk sementara.

Kenapa saya hampir gila?

*

Saat pengumuman sekolah diliburkan 2 minggu di hari Sabtu 12 hari yang lalu, saya adalah kaum yang optimis bahwa ini akan terjadi selama 2 minggu saja. Yah, 14 hari diam di rumah tidak ada salahnya, kan? Daripada keluar lalu jadi sakit, lalu jadi menulari orang yang sehat?

Naif sekali rasanya sekarang karena saat itu saya menganggap semua orang pasti melakukan hal yang sama.

Tidak, ternyata.

Ada yang memang terpaksa karena harus bekerja jadi tetap keluar rumah. Yang ini, jelas tidak apa-apa karena kalau terpaksa keluar rumah tandanya sudah tahu dong selama di luar itu harus bagaimana? Tidak menyentuh barang di tempat umum, rajin cuci tangan, jaga jarak dengan orang lain, dan segambreng tips lain.

Tapi yang meremehkan? Yang menganggap “halah mati mah mati aja” lalu keluyuran? Yang di jalan tetap serampangan, seperti saat normal, boro-boro cuci tangan, sampai rumah belum mandi atau ganti baju langsung rebahan. Yang kategori kedua ini nih yang paling pengen saya jorokin ke jurang biar mati duluan sebelum nularin orang :((((

Baru satu minggu di rumah, tiba-tiba imbauan baru muncul dan membuat #dirumahaja dari nol lagi. Iya, ditambah lagi 2 minggu karena gimana dong yang seminggu pertama kemarin jatohnya trial aja, karena nggak semuanya patuh.

Bebe yang sebelumnya sudah menghitung hari setiap pagi (10 hari lagi ya ibu? 9 hari lagi ya?) langsung berteriak NOOOO! We stuck together again? NOOOO! Sambil memeluk saya dan tertawa lepas. Saya?

:(

*

Saya sudah kehabisan energi.

Sebagai ekstrovert, saya sampai berusaha mengubah pola pikir, bahwa “jadi ekstrovert” adalah mindset. Afirmasi bahwa saya tidak perlu keramaian untuk charging energi, tidak perlu mengobrol dengan orang banyak untuk bisa bersemangat. Saya PASTI BISA mengisi ulang baterai saya dengan di rumah saja. Toh saya di rumah bersama dua orang favorit saya.

Saya menonton konser Pamungkas live, saya tetap IG story dan mengobrol dengan orang lain, saya tetap kulwap, saya tetap berusaha beranggapan bahwa sebagai millennial saya bisa hidup secara virtual.

Ternyata susah luar biasa. Saya butuh keramaian yang bukan maya. Senin pagi, hari kesepuluh itu jadi puncaknya. Dua hari sulit tidur dan hanya bisa menangis. Bangun tidur menangis sambil dipeluk Bebe yang pukpukin saya “Aku bosan banget Xylo, aku capek, aku boleh kan menangis?” Dia bilang boleh.

:(

Hari kerja saja sudah sulit untuk saya tapi kan kalau hari kerja saya sibuk karena tiap jam sudah ada jadwalnya harus ngapain atau jam makan sekeluarga berantakan sementara Bebe harus dipantau makannya agar berat badannya tidak turun lagi. Saat akhir pekan?

Belum lagi yang terburuk adalah saya jadi tidak punya me time, saya tidak punya waktu untuk diam sendiri karena definisi baru dari me time saat #dirumahaja seperti ini adalah menutup pintu kamar lalu menonton serial Netflix. Dengan suara JG dan Bebe berteriak-teriak di luar.

Bukan me time ideal tapi saya butuh itu. Bukan me time ideal karena jelas tidak bisa mengisi ulang baterai saya jadi 100% lagi.

Entahlah dengan kondisi berada di satu unit apartemen yang hanya berukuran 33 meter persegi, saya tidak tahu kapan bisa 100% lagi.

Energi yang ada kini hanya cukup untuk selalu bilang good morning sambil tersenyum lebar pada Bebe. Yang hanya cukup untuk menemaninya mengobrol berjam-jam sebelum tidur. Tentang Minecraft. Games yang tidak saya mengerti tapi saya dengarkan tiap detailnya. Karena hanya itu yang saya bisa untuk menghiburnya.

“I miss school, school is so fun,” kata Bebe semalam. Ia mulai rindu sekolah.

Minggu lalu yang ada di pikiran: Saya pasti bisa melewati 14 hari hanya dengan diam di rumah.

Minggu ini berubah menjadi: Kapan saya bisa beradaptasi dengan kondisi seperti ini?

Karena sungguh, orang sedunia pun tak ada yang tahu pasti kapan kondisi ini benar akan berakhir.

:(

*

Lalu 12 hari ini apa yang kami bertiga lakukan di rumah?

Pagi: Yoga, sarapan, mandi, jam 8 JG mulai kerja. Jam 9 saya mulai kerja, Bebe screen time.

Jam 12 masak makan siang dan makan sampai jam 1. Ngobrol, dancing, main. Kemudian Bebe tidur siang, saya kebut lagi kerja sampai jam 3 sore karena jam 3 dia PASTI akan bangun.

Jam 3 mulai main dengan Bebe bergantian dengan JG. Hanya beberapa hari ia kembali screen time karena saya dan JG terlalu banyak pekerjaan.

Malam makan, main UNO, umpel-umpelan di kasur. Besoknya begitu lagi.

Untungnya Bebe senang. Sebagai anak yang terakhir kali bersama ibunya 24 jam berhari-hari itu saat usianya 3 bulan, ia senang sekali karena bisa bersama saya dan JG sepanjang waktu. Matanya terus berbinar, terus menerus memeluk dan mencium saya. Meski rindu sekolah, ia belum mengeluh bosan. Malah mungkin ia bosan sudah keluar rumah terus setiap hari selama hampir 6 tahun. Baginya, ini liburan. Bagi saya, ini pelajaran.

Pelajaran bahwa rencana, meskipun sudah dibuat berbagai cara dan gaya, tetap bisa tertunda. Bahwa hidup saya yang biasanya sangat bergantung pada Google Calendar, juga nyatanya bisa tetap berjalan tanpa jadwal pasti apa-apa.

Yang paling membuat khawatir: Bagaimana kalau ini berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama? 3 bulan? 6 bulan?

Bagaimana kalau ini adalah the new normal seperti yang dibicarakan orang-orang? Bagaimana jika pemulihannya butuh waktu sangat lama karena ya Indonesia terlalu luas, Jakarta terlalu padat, penduduknya tak sepaham dan setara, pemerintahnya juga tak tegas karena terlalu takut jadi chaos. Wajar, saya juga takut. Tapi sampai kapan?

Sebuah pertanyaan yang berusaha saya enyahkan dari kepala karena sadar benar, itu di luar kendali dan kuasa saya tapi tetap saja. Pertanyaan itu muncul dan muncul kembali, buah cemas karena pengaruh diam di rumah terlalu lama.

*

Count your blessing.

I did.

Saya bersyukur masih gajian, punya kulkas penuh stok makanan dan camilan, dana darurat dengan jumlah yang cukup, masih bisa “iseng” beli saham, masih punya pilihan untuk diam di rumah. Saya bersyukur sekali.

Di sisi lain, rasa syukur ini jadi bentuk khawatir lain karena bagaimana dengan orang yang tidak seperti kami? Apa yang akan mereka lakukan? Apa mereka bisa bertahan hidup?

Saya jadi merasa bersalah karena bisa bersyukur. Merasa bersalah karena pandemi seperti semakin memperlebar jarak, yang bisa stok makanan dan yang tidak, yang punya privilege dan yang hidup dari ke hari. Hidup memang tidak pernah adil.

Dulu rasanya saya banyak mau. Saya mau belajar ini itu, saya mau ambil kelas ini itu, saya mau bikin ini itu untuk ulang tahun Bebe, saya mau beli ini itu. Banyak sekali daftar keinginan saya di tahun 2020 ini.

Sekarang semua keinginan itu hilang dan saya hanya mau dunia kembali ke tahun lalu. Ketika yang diributkan hanyalah hipnoterapis yang mengaku dokter, ketika yang dikhawatirkan hanyalah GoFood yang terlambat datang saat makan siang. Ketika yang ingin dicapai rasanya masih bisa digapai.

Bisa apa selain menangis? Hehehe.

Menangis menyembuhkan. Menangis adalah bagian dari mengenali emosi yang datang dan pergi. Maka kalau mau menangis, menangislah. Kalau mau teriak, teriaklah. Tapi tolong, tetap diam di rumah.

Kita perlu semua orang untuk diam di rumah dan menghentikan ini segera. Karena dampaknya bukan hanya ekonomi yang kolaps tapi juga kondisi jiwa yang semakin jauh dari tawa.

*

By the way, saya berjuang untuk tidak seperti ini lagi bertahun-tahun lamanya. Berjuang untuk tidak menangis tiba-tiba, untuk tidak berpikir terlalu banyak. Saya belajar meditasi, ikut kelas-kelas mindfulness, dan setahun belakangan saya merasa saya sudah baik-baik saja. Saya sudah berani untuk bilang saya pulih dan tidak apa-apa.

Dihadapkan pada situasi bencana seperti ini ternyata saya belum baik-baik saja. Semoga ini semua cepat berlalu, ya.

Semoga rasa damai bukan lagi hanya andai.
Semoga rasa tenang secepatnya bisa jadi pemenang.

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

When It’s Only JG & AST #169 - #175

on
Monday, February 10, 2020
Dua to popular demand (HALAH), I start taking notes of our conversation again.

Me: “Pada nanyain ‘When It’s Only JG & AST’ tuh, aku mulai catet lagi deh kalau kamu mulai garing” 😏

JG: “Oke aku ingetin”


And here goes the story of our daily life …

#169

Beli chicken wings mentah di supermarket.

JG: “Be, look! Now I can fly!”

Bebe: “Hah?”

JG: “Because I have so many wings!”

JG: “SAYANG CEPET CATET ITU LUCU BANGET YANG AKU OMONGIN”

:(((((

#170

Nobody: …

Literally no one: …

Literally not a single soul: …

JG: “Kasian yah cewek-cewek Malaysia tuh nggak bisa bebas.”

Me: “What?”

JG: “Bajunya aja kurung”

T________T

#171

Lagi di mobil. JG yang SJW tata tertib tingkat dunia, buka jendela dikit dan menjulurkan tangan keluar.

Me: “IH KAMU BUANG UPIL SEMBARANGAN YA! IHHHH GIMANA KALAU KENA ORANG NAIK MOTOR!”

JG: “Lah upil kan organik, mudah membusuk, daripada pake tisu, boros, zero waste ai kamu”

ME & BEBE: “IIHHHH APPA IHHHHH JOROKKKKK”

JG: “ADUH IYA YA AKU ITUNGANNYA BUANG SAMPAH SEMBARANGAN NGGAK YA KALAU BUANG UPIL ADUH?”

Ikutan panik hahahahahhahahaha.

#172

Jadi kami menemukan sebuah fakta bahwa alpukat dengan jenis yang sama, dijual berjauhan di supermarket yang sama, hanya karena yang satu bentuknya bagus dan mulus, sementaranya satunya jelek dan nggak enak diliat. Yang bentuknya jelek tidak insta-worthy ini harganya setengahnya!

Me: “Ah enak alpukatnya, sama banget menurut aku mah”

JG: “Iyalah ini kan harusnya mahal, cuma bentuknya jelek”

Me: “Iyalah nggak apa-apa, kamu juga bentuknya jelek aku nikahin”

JG: “Iya sih bener juga”



LHA KOK TIDAK MEMBELA DIRI? Biasanya ngaku seganteng Beckham <--- Link series ini spesial Edisi Beckham.

#173

JG tuh kalau ke kantor dekil banget ya ampun. Baju udah kucel tetep aja dipake. Pagi-pagi kalau disuruh ganti baju yang bagusan tuh susah.

JG: “Sayang, kata temen aku, aku pangling banget kalau pake baju rapi gitu di nikahan”

Me: “Iyalah, makanya cepet ah ganti kaos yang bagusan”

JG: “Alah, Ardhito aja pake baju kucel tetep dibilang ganteng sama cewek-cewek”

Me: “YA ARDHITOOOO. MUKA KAYA KAMU KALAU BAJUNYA JELEK MAU GIMANA COBA!”

T________T


Kasian pacarku dibilang jelek terus sama aku. :(

#174

Baca berita Karen “Idol”.

Me on WhatsApp: “Sayang, kamu tau Karen Idol?”

JG telepon: “Loh aku ngefans banget sama Karen dulu dia manggung di mana aku kejar”

Me: “OHHH AKU INGET. Yang rambutnya pendek ya anak SMA X di Bandung kannnn!”

JG: “Iya aku kejar-kejar dia sampai di-notice terus nggak tau dari mana aku dapet nomer telepon dia terus aku telepon dan dia takut jadinya sama aku”



YA ALLAH PACAR AKU STALKER T________T

#175

Annisast mendadak pengen cat ruang tengah rumah. Dengan alasan tembok yang sekarang kalau difoto jadinya kuning lol. Padahal udah 2 tahun tembok broken white ini baik-baik saja, masih bersih pula nggak kucel.

Terus JG iya iya aja. Katanya panggil tukang aja tapi berminggu-minggu nggak panggil juga dan nggak gerak.

Tapi bukan annisast namanya kalau tidak nekat DIY bermodal pengalaman cat kamar sendiri saat SMA dan kuliah. Belilah cat dan 3 batang kuas di Tokopedia.

Lalu saat datang, JG sedang kelas di Sabtu pagi, saya pun LANGSUNGGG cat sendiri dua sisi dinding rumah. YA NGGAK NYAMPE DONG KE LANGIT-LANGIT, TINGGI AJA CUMA 155 CM SIS! PEGELLLL.

Terus pas dia otw saya telepon.

Me: “Sayang aku punya surprise hehe. Pasti kamu stres hehehehehhe”

Pas nyampe rumah.

JG: “ASTAGA YA AMPUN ADUH AKU PUSING ADUHHH KENAPA KALIAN CAT RUMAH SIH ADUHHHHH”

Me: “Tolongin aku plis yang atasnya leher aku pegel banget kamu mau kan tolongin aku”

via GIPHY

JG: *ngecat sambil ngedumel*

“Saya terima nikah dan randomnya annisast … Perasaan aku nikah sama kamu perjanjiannya cuma cuci piring deh bukan ngecat imah jiga kieeeuuuu!”

:))))))






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Lagi, Tentang Uang dan Kebahagiaan

on
Thursday, January 30, 2020
Tahun lalu, saya pernah nulis tentang mempertanyakan kebahagiaan. Tentang kita nggak pernah bisa valid merasakan sepenuhnya bahagia kalau nggak punya pembanding keadaan yang tidak bahagia.

Baca dong: Mempertanyakan Kebahagiaan (Open new tab dulu terus baca plis)


Pun dengan uang, “idealnya” kita bisa bilang uang bukan segalanya ya saat punya uang. Kalau dalam kondisi belum pernah punya uang, tidak valid bilang “money can’t buy happiness” karena buktinya mana?

Apa kamu pernah merasakan punya uang untuk beli sebagian besar barang yang kamu mau lalu tidak bahagia? Kalau belum, kok bisa bilang gitu? Apa kamu cuma menghibur diri?

*

Lalu semalam ngobrol sama JG soal ini dan dia bilang “privilege banget ya ternyata bisa makan malem bertiga terus tiap hari tuh”. Terus saya jawab: “Apa ini privilege? Atau pilihan?”

Ya privilege sih, tidak semua orang punya kemewahan kebetulan suami kerja di jam kerja yang pasti dan istri yang kerja di perusahaan yang jam kerjanya tidak pasti tapi most of the time di jam dinner udah di rumah lah.

(Baca blogpost soal Work Life Balance ini, klik, open new tab lagi!)

We’re blessed.

Itu kalau dilihat dari sisi privilege. Tapi kalau dipikir ini buah dari keputusan di masa lalu juga ya bisa. Karena prioritas waktu buat keluarga ini juga jadi pilihan dan komitmen sejak memutuskan menikah kan. Karena lelah LDR, sebelum nikah JG memutuskan pindah kerja ke kantor yang jam kerjanya pasti.

Gaji ilang setengah, hidup jadi lebih susah rasanya karena hamil dan mau punya anak kok gaji malah ilang setengah. Makanya memang saya harus tetep kerja karena realistis aja emang nggak cukup uangnya untuk membesarkan anak kalau saya nggak kerja.

Lalu teringat lagi kejadian kemarin juga soal dia batal pindah kerja. Diingatkan lagi dengan komitmen awal kami bahwa ya kerja kan buat keluarga, untuk apa kerja tapi jadi nggak punya waktu buat keluarga?

Langsung pulang ke rumah sepulang kerja juga kan pilihan. Dalam sebulan, JG hanya tidak langsung pulang itu hanya maksimal 2 kali karena dia main bola, itu juga kalau tidak hujan, kalau hujan ya pulang. Saya, pulang malam tidak sampai sebulan satu kali, kalau memang kebetulan ada acara yang undangannya malem aja. Sangat jarang.

Kami lebih sering memilih langsung pulang karena rasanya udah berjam-jam di luar rumah apa nggak mau pulang aja dan kembali kruntelan bertiga?

Memilih untuk tinggal di sekitar kantor juga kan pilihan. Nggak mau punya rumah tapi terus nggak bisa makan malem bareng karena rumahnya jadi jauh dan kelamaan di jalan. Nggak mau punya rumah tapi terus Bebe jadi sama nanny di rumah karena cari daycare susahnya ampun-ampunan.

*

Kalau inget-inget waktu Bebe bayi dulu wahhh hidup tuh nggak segampang sekarang. Blog ini jadi saksinya hahahah.

JG masih mayan sering pulang malem tapi kami keukeuh pulang bareng biar bisa ngobrol jadi saya jemput Bebe di daycare lalu nunggu di halaman daycare bisa sejam sendiri.

Yang berat kalau bulan puasa, pernah saya tulis blogpostnya di sini: Hidup yang Lebih Baik (Jadi udah open new tab berapa ini? Hahaha)

Karena pilihannya naik taksi pulang berdua atau nunggu. Saya dan Bebe lebih sering nunggu karena waktu itu rasanya nggak mampu kalau harus pulang pake taksi setiap hari. Baru ada GoJek dan nggak sanggup bawa balita naik GoJek, belum ada GoCar atau GrabCar.

Dua tahun belakangan penghasilan udah lebih baik, udah nggak mikir dua kali lah kalau harus naik taksi atau GoCar gitu. Keuangan udah lebih stabil dibanding dulu, uang SD Bebe udah lunas kebayar, udah mulai nabung buat SMP dan SMA.

Jadi baru sekarang rasanya kami valid untuk bilang: Money can’t buy happiness.

Masih pengen classic Chanel bag sih emang πŸ˜‚tapi semua yang kami punya cukup kok . Semua yang kami punya sudah layak dirayakan. Semua yang kami punya, layak disyukuri karena toh lebih dari yang kami butuhkan selama ini.

Lebih dari yang kami butuhkan untuk bertahan hidup lho ya, bukan bertahan untuk keinginan yang selamanya nggak akan pernah habis.

*

Lalu mikir lagi, saya bilang “eh menurut aku kita bisa sampai di sini karena kita nggak pakai standar society untuk segalanya. Kita punya standar kita sendiri dan nggak gampang kebawa orang lain”.

Ini sih mungkin yang terberat. Berat karena harus tahan denger komentar dan omongan orang lain.

Standar society bagi pasangan muda baru nikah: Beli rumah, punya mobil, anak kedua. Nata-nata rumah, foto rumah di IG, main bareng anak di rumah.

Iya saya tau banyak yang memang sangat sangat ingin punya rumah sendiri karena satu dan lain hal. Jadi memang tujuan utama setelah nikah tuh beli rumah. Nggak apa-apa asal sudah dipertimbangkan dengan baik dan nggak jadi berat untuk bayar cicilannya.

Karena saya juga pengen kok punya rumah sendiri, tapi tau diri aja, pengennya di Jakarta Selatan dan kalau sekarang beli rumah, uangnya cuma cukup buat nyicil di pinggiran. Jadi ya tidak beli.

Tapi saya tau juga, banyak orang yang beli rumah karena merasa harus. Dari dipaksa orangtua, disindirin saudara, sampai merasa left out karena kok temen-temen udah punya rumah aku kok belum? Nah yang kaya gini nih udah keseret standar orang lain yang entah gunanya apa.

Belum lagi gaya hidup dan keinginan-keinginan yang muncul karena alasan self-rewards: Udah capek-capek kerja masa nggak boleh self-rewards!

Jilbab aja harus merek X yang belinya aja ampun harus cepet-cepetan atau harus dari reseller. Baju harus ini karena selebgram ini pake. Jastip lah semua orang beli barang jastip kok aku jadi pengen juga? Buku juga beli banyak karena masa orang belanja di BBW aku tidak? Kan boros beli buku lebih baik dibanding boros beli mainan?

Boleh self-rewards, masa nggak boleh. Tapi tentu lebih baik kalau tidak boros sih hahahaha.

Mau sampai kapan hidup kalian terseret gaya hidup orang lain terus? Apa tidak mau mendefinisikan kebahagiaan sendiri jadi nggak perlu pakai standar kebahagiaan orang lain?

*

Jadi apa bener uang bisa beli kebahagiaan? IYA DONG, BISA BANGET. Tapi ingat batasnya.

Kerjalah tanpa mengorbankan kesehatan. Kerjalah tanpa mengorbankan waktu bareng keluarga. Kerjalah untuk bisa bertahan hidup sekarang dan di masa depan bersama orang-orang yang kamu sayang.

Menabung sedikit-sedikit itu tidak apa-apa. Kamu tidak dikejar apapun. Selama masih ada uang untuk ditabung, sesuaikan gaya hidupmu dengan uang itu. Untuk menabung itu konsepnya kan hanya menambah penghasilan atau mengurangi pengeluaran. Kalau menambah penghasilan artinya mengorbankan waktu dengan keluarga, apa tidak mau coba review dulu pengeluaran, siapa tahu terlalu banyak gaya? :))))

Mungkin kadang kamu merasa iri pada teman-teman yang gajinya sudah dua kali lipat lebih besar, tapi ingat selalu, kerja lebih keras PASTI menuntut pikiran dan waktu lebih banyak. Kamu mau habis waktu untuk kerja atau mau banyak waktu bareng keluarga?

Poinnya adalah: Kerja sekerasnya untuk semua tanggunganmu tapi jangan lupa luangkan waktu untuk mereka ini. Luangkan waktu untuk mereka, luangkan waktu untuk dirimu sendiri. Dan di titik itu baru kamu akan bisa bilang kalau uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

Dan seperti yang saya bilang di atas, sengaja meluangkan waktu untuk quality time dengan keluarga itu pilihan. Ada yang memilih untuk tidak mau pulang cepat karena merasa kosong di rumah sendiri, merasa dingin padahal punya tuh suami. Mungkin saatnya terhubung kembali, apa yang harus kita ganti sehingga hidup bisa jadi lebih berarti? Apa yang salah? Apa yang harus dipilah atau harus mengalah?

Kita perlu uang untuk bertahan, tapi bukan berarti jadi kerja tak berkesudahan. Jadi jangan lupa rebahan! Semoga bahagia selalu, ya!

PS: Tulisannya agak kurang enak karena awalnya nulis untuk story. Tapi ah udalah posting di blog aja hahahaha

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

A Cancelled Plan

on
Thursday, January 9, 2020

Wow I’m writing this while crying with relief hahahahaha.

Akhir 2019 dilewati dengan hari-hari menegangkan JG mau pindah kerja. Ya it’s time sih, udah 7 tahun di kantor yang sekarang. Karier naiknya pelan, pelaaannn banget. Kerjaan juga rasanya gitu-gitu aja.

Saya juga ngerasa ini sih waktunya dia untuk “gerak” pindah dari comfort zone dan kejar sesuatu untuk diri sendiri. Cari hal yang bisa bikin diri sendiri bangga dan punya pencapaian baru.

Karena selama ini yang dikejar pencapaiannya itu selalu saya. Saya mau ngapain lagi nih? Saya ambil sertifikasi apa? Saya kejar passion dengan cara apa lagi nih? Saya belajar apa lagi? Bertahun-tahun JG cuma supporter doang. Sebagai kaum non-ambis, dia nggak masalah dan senang aja jadi supporter.

Tapi sebenernya deep down saya juga pengen dia ketemu tantangan baru, orang-orang baru, networking baru. JG juga sebetulnya jenuh, lalu daftar untuk workshop broadcasting. Enam minggu ke depan dia akan workshop tiap Sabtu untuk sesuatu yang dia suka banget. Dan akhirnya mulai beresin LinkedIn.

Mulai aktif sampai tawaran kerja datang via LinkedIn bulan November. Interview lancar, nego gaji mayan alot, minggu kemarin medical check up dan lancar, proses ini itu, hari ini jam 10 tanda tangan kontrak. Gaji naik sekitar 36%, not bad sebetulnya menurut kami.

Perusahaannya lebih besar, pindah industri memang. Di industrinya, dia nomer 1 di Indonesia, multinational company, lebih besar dari company sekarang. Akan banyak belajar hal baru, dijanjikan akan banyak training (we’re that kind of people that super excited about trainings!), dan banyak hal lain.

Saya full support dan udah punya plan B serta C. Udah punya rencana ini itu karena (nah ini karenanya penting banget) karena di kantor yang baru posisinya asisten manager dan sudah diwanti-wanti dari awal kalau kerjanya mungkin tidak akan 9 to 5. Sabtu Minggu bisa jadi masuk jika diperlukan. Iya sih lembur dibayar full.

Plan A saya tentu tidak ada perubahan, saya tetep kerja, JG tetep anter jemput Bebe kaya biasa. Tapi kalau pulangnya malam terus?

Plan B saya yang anter jemput Bebe dan masih tetep kerja. Kalau ternyata capek?

Plan C saya resign jadi saya bisa fokus cuma anter jemput Bebe aja sambil mengerjakan hal lain. Udah banyak yang saya rencanakan sih. Agak nervous tapi yang konstan dalam hidup cuma perubahan, kan?

Intinya, saya menyambut 2020 dengan siap menyambut perubahan.

Plan C ini bikin JG misuh banget. Dari cuma “apa otak kamu bisa tetep kepake kalau resign?” atau “kamu bisa emang nggak ketemu orang lain dan di rumah aja?” sampai “hah udalah nanti kalau kamu resign nanti jadi rese”.

YA TERUS GIMANA?

Intinya kan yang terdampak dari perubahan ini tetep Bebe dong. Nggak mungkin saya sibuk kaya sekarang lalu JG lebih sibuk? Bebe gimana?

Tapi pemikiran resign ini diabaikan. Saya berkali bilang:

“Aku tuh terserah kamu lho, aku 80% ok kamu pindah tapi kalau kamu berat ya nggak apa-apa nggak pindah juga”.

“Aku yakin kita nggak akan menyesali ini kok. Pindah nggak boleh nyesel, nggak pindah juga nggak akan nyesel. Kita jalanin aja sama-sama.”

EH DIJAWAB DENGAN:

“Ya aku tuh bingung mau ambil atau nggak karena kamu bilang terserah. Kamu dong putusin ambil atau nggak.”

T________T

Bahkan mengambil keputusan pekerjaan pun harus saya yang mutusin. Ya kalau keputusan saya sih ambil aja, why not?

(Tentang JG yang susah ambil keputusan ada di sini ya: Anak dan Pengambilan Keputusan dan tentang Bebe yang bisa banget ambil keputusan di sini: Anak yang Bisa Mengambil Keputusan)

Sampai sore kemarin sebelum pulang kantor, JG chat sama temen kami yang memang udah lama banget kerja di industri yang sama dengan calon kantor baru. Satu kalimat yang langsung dheg adalah … “akan hectic kerjanya, nanti playtime sama Xylo berkurang”.

Ini kondisinya saya masih di kantor, JG telepon dan ceritain chatnya. Begitu nama Xylo disebut saya langsung galau. Saya langsung pengen merosot ke lantai dan “plis banget aku jadi 50:50 apa kamu perlu pindah?”

“Apa worth it?”

“Aku pengen kamu berkembang juga, punya sesuatu yang bisa kamu ceritain juga. Tapi, apa perlu?”

T________T

Perjalanan pulang dari kantor ke rumah dihabiskan dengan ngelamun. Mana dingin banget AC mobilnya dan terlalu malas minta bapak drivernya kecilin. Saya mikirin banget segala yang terjadi 5 tahun belakangan.

Makan malem itu kami bertiga mellow sekali. Saya tanya Bebe “Mau nggak pulang sekolah nggak dijemput appa?” Bebe jawab “kan bisa sama ibu”. Saya bilang “tapi setiap hari appa nggak jemput dan pulang malem?” Bebe nunduk sedih dan bilang “no no no”.

via GIPHY

Selama ini hidup kami baik-baik aja karena kondisinya seperti ini. Bebe tumbuh baik-baik saja. kami tidak kerja mati-matian lalu tidak punya waktu untuk dia. Kami kerja dengan waktu fleksibel, selalu punya quality time dan makan malam bersama, selalu punya weekend kruntelan bersama. What a privilege.

Kami menjalani hidup sebagai orangtua yang kompak dalam segala hal. Bebe tidak berat sebelah, Bebe akrab dan dekat dengan kami berdua. Tidak masalah kalau harus hanya bersama appa atau hanya bersama ibu. JG bisa meng-handle Bebe sebaik saya. Dalam kondisi apapun, pada Bebe, kami satu suara sebagai orangtua.

Kami menjalani hidup sebagai suami istri yang seru sekali dan masalah yang muncul sangat-sangat sedikit. Ya karena komunikasi lancar dan waktu berkualitas yang memang banyak. Apa perlu ini diubah demi tantangan baru? Demi pencapaian baru?

Dengan risiko waktu bersama Bebe akan berkurang? Dengan risiko tidak bisa main saat weekend karena lembur? Dengan risiko tidak bisa anter jemput Bebe padahal itu adalah bonding time antara Bebe dan appa? Dengan risiko tidak bisa main-main ke mall berdua Bebe sepulang daycare dan tidak bisa main nintendo bareng saat weekend?

Iya kalau tantangannya hanya di kantor, kalau tantangannya jadi masalah keluarga gimana? Ah, udalah kami terlalu takut ambil risiko itu.

Pagi ini saya chat di group keluarga, mengabarkan kalau pekerjaannya tidak jadi diambil. Ibu saya bilang “Kebersamaan bersama keluarga itu yang lebih mahal. Waktu sama anak yang mahal. Nggak akan terulang lagi. Nggak terasa sekarang aja udah mau SD”.

MAKIN AMBYAR NGGAK?

NANGIS. :(((((

Dulu sering banget denger kata-kata kaya gitu tapi nggak pernah tersentuh karena nggak mengalami. Sekarang begitu hampir mengalami rasanya baru sadar "oh ini maksudnya, ini maksudnya waktu tidak bisa diulang". :')

So here we go, kembali ke rutinitas biasa lagi. Rencana A B C batal semua dan ternyata jadi lega sekali. Uang bisa dicari, tapi waktu nggak bisa kembali. Kesempatan karier mungkin nggak datang dua kali tapi hari yang dilewati sekeluarga pun nggak bisa diulang lagi.

Semoga rezeki uang datang dalam bentuk lain ya! Rezeki waktu tinggal kami syukuri saja. :)

PS: Memang sepertinya saya akan rese kalau resign hahahaha.

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Hello, 2020!

on
Tuesday, January 7, 2020
Yailah masih aja postingannya tentang tahun baru ya ahahahaha.



Dalam rangka memaksa diri nulis blog lagi nih karena kok yang baca masih lumayan banyak ya? Terkejut karena setelah nggak rajin nulis blog lagi, ikut nggak rajin juga cek page views-nya. Ternyata tiap postingan masih cenderung stabil dibaca orang. Satu kata: TER-HA-RU. T______T

Lebay ah biar. Yang jelas diniatin lagi lah untuk nulis lagi keseharian biar bisa dibaca lagi suatu hari nanti.

Seminggu pertama di tahun 2020 dilewati dengan berbagai hal. Malam tahun baru di rumah mertua, paginya niat kuat untuk pulang subuh dari Bandung biar nyampe Jakarta jam 8 pagi gitu. Nggak tau kalau Jakarta seharian hujan deras karena di Bandung sih chill aja, hujan-hujan kecil gemes doang.

Nyampe tol lancar jaya, nggak lewat tol baru karena ya udalah kalau di bawah lancar kenapa harus naik segala? Taunya di km 33 disuruh ke luar tol karena tolnya banjir. Mulai panik, eh apa se-Jakarta banjir ya? Cek Twitter, IYAAA SE-JAKARTA BANJIR HUAAA.

Lalu masih di Cibitung tuh muter-muter pake Google Maps karena baru jalan sekian ratus meter, jalannya banjir nggak bisa dilewatin. Puter balik lagi, reroute GMaps lagi. Jalan lagi sekian KM, jalannya banjir lagi. Yha jujur nervous karena takut mesin mobilnya mati di tengah banjir di wilayah yang kami pun entah nggak tau namanya apa.

Untung banyak orang baik, di satu titik di mana banjirnya nggak terlalu dalem, warlok (warga lokal fyi) yang jaga-jaga jalanan tuh bilang ke kami “pak, AC matiin, stabil aja jalan terus yah ikutin mobil itu”. Mobil depan kami mobil boks, sementara kami pake sedan, pinjem mobil ayah karena Karimun lagi dicat di Bandung.

(Baca: Tentang Karimun)

Terpanik karena merasa banjirnya lebih tinggi dari pintu mobil dan cipratan airnya tuh beneran ke kap banget saking tingginya itu banjir. Saya beresin barang-barang di lantai mobil dong karena takut air rembes masuk. Mesin juga jalannya lambat dan hanya ngegerung (HALAH APAAN SIH BAHASA INDONESIANYA TUH) tapi akhirnya lewat.

T________T

Lalu muter-muter lagi dan jam 10an tuh stuck. Semua jalan yang diarahin GMaps banjir tinggi semua sampai nggak bisa dilewatin. Mampir dulu ke minimarket beli cemilan karena takut banget akan seharian di jalan dan saya mulai browsing hotel zzz. Ya udalah kalau emang nggak bisa pulang kan mending di hotel aja, mobil parkir kita bisa tidur siang atau Netflix-an. Pulangnya nanti kalau banjirnya udah surut. Soalnya sepanjang jalan pun hujan kan, gimana bisa banjirnya surut.

Akhirnya kembali ke masa lalu dan nanya-nanya orang di pinggir jalan, arah ke Jakarta ke mana. Dikasih tau orang tapi tetep ada area banjir dan JG tanya lagi ke warlok yang jaga dan terjadilah percakapan ini.



ASLI MAU NANGIS. Tapi mungkin dengan kekuatan doa lewat juga sih itu banjir. Kemudian jalan di GMapsnya biru semua dan saya pun ketiduran. Bangun-bangun udah nyampe apartemen.

Harus ditulis juga supaya ingat kalau hari itu saya lagi mens. Dan karena di Bandung nggak ada kegiatan, makan juga nggak jelas (alias makan mulu sampai naik 2 kg), saya mensnya sakittt banget. Sakit perut banget dan rasanya kaya sembelit. Padahal biasanya mens tuh jadi diare kan, ini jadi sembelit hhh. Sampai Jakarta nyari-nyari yang jual YLEO Digize karena di rumah abis, susah banget, semua orang kebanjiran. Baru dapet jam 10 malem itu pun dari followers di IG yang kebetulan punya stok di rumah. T______T

What a day. Kebayang yang rumahnya banjir sampai airnya masuk atau mobilnya ngambang-ngambang huhu. Semoga diberi rezeki untuk kuat bebersih atau bayar orang bebersih ya. AAMIIN!

Lalu karena banjir, daycare mendadak diliburkan dua hari. Yang seneng siapa? Bebe karena bisa ikut appa ke kantor. Ibu juga senang karena akhirnya bisa lepas dari Bebe setelah hampir 2 minggu gelendotan terus astaga pegelnyaaa.

Jam 3 sore JG nelepon, katanya Bebe demam lagi nih. Yah, saya jemput deh akhirnya dan emang iya dia sumeng. Malem sebelumnya juga emang panas sampai 38 gitu. Tapi mikirnya mungkin kecapean kan lama di jalan jadi ya udah.

Sabtu-Minggu dilalui dengan bahagia. Hari Sabtu dihabiskan dengan menyulam berdua JG. IYA KAMI MENYULAM. JG menyulam sepatu Vans pink dia dengan bunga daisy karena beli Air Force One Peaceminusone terlalu mahal lol. Saya menyulam dan DIY 2 kaos. Seneng banget, quality time dan fokus no gadget Saturday. Hanya Bebe yang main Minecraft karena yha kalau dia tidak pegang gadget, kami dong yang harus ajak dia main. HAHAHA.



Hari Minggunya main ke rumah sepupu yang punya bayi. Puas ngobrol dan ketawa-tawa. Seninnya kembali kerja, Bebe kembali ke daycare. Seneng banget dia karena akhirnya kembali ke rutinitas.

Duh, liburan lama kaya gini tuh emang bikin pusing ya. Guilty karena Bebe jadi screen time setiap hari. Mana bokek pula karena jajan dan belanja terus hahahaha. Untung dari awal udah ambil cash untuk sebulan jadi pulang liburan tidak pusing nunggu gajian.

Anyway itulah summary dari 7 hari pertama di 2020. Hopefully there will be so many new things in 2020 we’re ready to welcome all!


Semoga selalu jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga bagimu riang dan senang. Kalau pun hadir halang rintang, semoga bisa dihadapi dengan sehat dan dijalani dengan tenang.

Selamat menjalani 2020!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

2019

on
Wednesday, January 1, 2020
Waw, 2019 jadi tahun blogpost tersedikit. Agak lucu karena di 2018 saya niat banget pengen Instagram bisa swipe up biar bisa share postingan blog di IG.


Kenyataannya setelah bisa swipe up, malah rajin nulis di IG story dan jarang blogging huhu sedih banget. Ditambah kerjaan di kantor sekarang nulis ya makin-makin males nulis di blog. Baru kerasa tahun ini nggak bisa tracking sejarah hidup apa-apa karena duh semua malah ditulis di story. Nggak bisa search by keyword emosyyyy sama diri sendiri yang kurang niat nulis blog.

Manusia memang sumber ketakbersyukuran, taking things for granted huft

T_______T

Tapi ya udalah, sering share di story followers nambah 2 kali lipat dalam setahun. Tetep belum buanyak banget sampai ratus ribu. Tapi emang sharing saya kan niche banget gitu kan kalau dipikir-pikir. Nggak mellow, nggak puk-pukin orang, nggak suka bahas keramaian, yang ada orang baper karena saya omelin "salah sendiri" mulu hahahahahuhuhu.

Gimana 2019-nya? Alhamdulillah jadi tahun yang semakin stabil. Dibandingkan dengan 2018, tahun ini iya capek tapi puas sih. Nggak galau lagi sama hidup, nggak marah lagi, tahun yang baik-baik saja. Senang sekali rasanya setelah 2 tahun terakhir rasanya kok berantakan banget hidup saya tuh huhu.

(Baca: The Scary, Scary Adulthood)

Dari percakapan dengan JG kemarin, sepertinya saya udah adaptasi. Jadi awalnya ngomongin stay at home dad yang profilnya ditulis di Mommies Daily, terus jadi bahas betapa dulu kami maunya JG jadi stay at home dad dan saya pursue karier gitu.

Pada masanya, itu adalah rumah tangga dambaan kami berdua. Rumah tangga yang sesuai passion masing-masing. Dulu saya suka kerja di kantor, punya tim, dengan KPI ini itu, yang disuruhnya 100% saya kasih 120% lol ngerepotin diri sendiri sukanya tuh. :'))

Lalu JG yang suka sekali ngerjain kerjaan rumah tangga. Yang passionate sekali pada parenting sampai di kantornya suka ngasih saran-saran parenting gitu pada yang bertanya hahahaha. Yang maunya di rumah aja ngurus rumah dan nunggu saya pulang kerja.

Mimpi yang ternyata saya paksa kubur dalam-dalam saat Bebe lahir karena saya tidak mau kehilangan masa kecilnya. Mimpi yang mungkin bisa saya raih dengan berbagai kesempatan yang sebenarnya muncul dari beberapa tawaran interview di LinkedIn namun saya abaikan dengan tangis berderai-derai.

(Baca: Untuk Kalian, Ibu-Ibu yang Baru Saja Melahirkan Anak Pertama)

Prioritas saya anak dulu, Bebe dulu, sepenuh yang saya bisa, sejauh yang saya mampu. Dan ternyata saya tidak menyesal. Bebe tumbuh seperti yang saya bayangkan, yang saya inginkan, tidak pernah merasa dia kurang suatu apapun, I’m really proud of him.

Apakah kalau dulu saya pindah kerja dan kejar karier Bebe akan seperti ini? Ataukah ada hal-hal yang jadi saya sesali karena saya kehilangan waktu belajar jadi orangtua dan memilih bekerja demi pencapaian saya sendiri?

Waktu untuk mengejar karier hilang, usia saya juga tidak berkurang, Tapi waktu untuk Bebe tumbuh besar juga kan tetap berjalan, usia dia semakin besar dan saya trust issue saya terlalu parah jadi tidak percaya dia dibesarkan siapapun kecuali saya sendiri.

Lagipula saya kan bisa 100% fokus pada Bebe itu karena kantor adalah jadi support system yang baik. Yang tidak terlalu peduli pada izin anak sakit tanpa memaksa ambil cuti. Yang mengerti kalau anak itu prioritas utama bukannya deadline kerjaan.

Dua kantor saya selama saya bersama Bebe, sadar benar bahwa saya adalah ibu dan mereka sangat menghargai itu. Saya juga tahu persis kalau ini privilege. Kemewahan yang tidak dengan mudah didapat di kantor lain. Meski mungkin di kantor lain jabatan saya bisa lebih baik atau gaji saya bisa lebih tinggi.

Yah, namanya manusia, survival mode utama kan adaptasi ya. Secara nggak sadar ketika saya marah sekali pada hidup di tahun 2015-2017 itu pelan-pelan saya adaptasi. Dan ternyata perjalanan adaptasi ini bikin perubahan besar. Saya jadi nggak ngoyo lagi kejar karier dan udah nggak pengen JG stay at home dad hahahaha.

Jadi nggak yakin apa saya bisa dengan single income dari diri saya sendiri? Saya maunya double income aja tapi kami sama-sama kerja dengan prinsip work life balance. Daripada single income tapi salah satu kerja terus kannn.

Dalam proses adaptasi itu saya cari hal lain yang bisa bikin saya tetap merasa berkarya tanpa karier di kantor. Saya nulis blog banyak sekali, saya belajar bikin konten di YouTube, belajar makeup, sampai belajar gambar di 2018 dan surprisingly mengembalikan kepercayaan diri.

(Baca: Mengapa Menggambar)

Di 2019 saya dengan percaya diri bisa bilang saya BISA gambar. Masih terus belajar karena siapa sih yang tidak? Hidup kan memang terus belajar, tapi saya bisa.

Untuk ulang tahun Bebe yang kelima saya menggambar satu buku ilustrasi tulisan saya sendiri, dengan gambar saya sendiri. Buku itu dijual dengan sistem buy 1 donate 1, terjual 250 buku dan menyumbang 250 buku ke Taman Bacaan Pelangi dan berbagai PAUD di Jakarta dan Bandung.

Bangganya luar biasa, saya yang seumur hidup yakin tidak bisa gambar, tiba-tiba jualan buku! Ya meskipun cetak sendiri bukan lewat penerbit ahahaha.

Capeknya juga ya ampun, jual 250 buku di Tokopedia, print alamat sendiri, bungkus sendiri, jalan ke JNE sendiri. Nyerah banget lho cuma berdua beginian sampai pengen bayar mimin akutuh tapi kan ini project charity jadi uang dari manaaaa bayar mimin?

Iya udah bikin buku tapi tetep nggak mau ambil job gambar. Karena sejauh ini, gambar bikin rileks dan senang, nggak mau dihancurkan dengan ambil job dengan deadline, nanti jadi nggak happy lagi gambarnya.

Selain buku, saya juga bikin gif di Instagram Story! Nggak niat apa-apa, lebih karena kepo aja katanya approvalnya susah blablabla. Saya nggak susah sih, cuma sekarang udah nggak muncul lagi hahaha. Mungkin karena nggak di-update dengan gif baru jadi ya ketumpuk gif lain.

(Baca: Kenapa Ortu Zaman Dulu Anaknya Banyak)

Lalu di pertengahan tahun sedikit dikecewakan orang. Janjinya mau diajak ke satu negara terus dicancel begitu saja padahal udah ambil cuti hhh. Mana cutinya pake sistem kan jadi kalau udah di-approve semua ya nggak bisa cancel.

Rewel lah ke group ngajakin siapapun yang bisa diajak jalan. Cus ke India. Hahaha. Sungguh random.

Nggak nonton film India, nggak ngikutin penyanyinya juga, tau-tau ada di sana dan seru banget sihhh. Harus diagendakan pergi jauh ke tempat random bersama teman tuh. Jangan Singapur lagi Singapur lagi hahahaha.

Di pertengahan tahun pengen ambil sertifikasi tapi apa ya? Setelah ikut kelas financial planning di kantor, tercerahkan kalau saya kayanya passion nih soal personal finance dan mau ambil CFP. Ngomong di group, mbawin juga mau tapi nyari di Medan nggak ada. Jadilah sama-sama ambil di Jakarta di bulan Agustus.

September-Oktober leyeh-leyeh, November ujian CFP dan lulus! Di bulan yang sama, juga keliling cari sekolah cadangan 2 dan 3 untuk Bebe. Di minggu saya ujian, juga dilewati sambil Bebe tes SD. Stresnya ampun sampai rasanya ngambang banget.

Terbayar dengan jadi pembicara soal finance pertama kali bareng Bareksa. Lalu mulai kulwap-kulwap yang sangat menyenangkan karena sharing masalah sama mbawin. Kebayang kulwap sendirian dan harus dengerin masalah keuangan sebanyak itu orang hadeh bisa-bisa saya yang ikut stres hahahaha. So far udah kulwap 5 kali masing-masing 100 orang dan masih ada 800 orang waiting list!

Di Desember, liburan ke Singapura sekeluarga, Bebe dan JG nonton Monster Jam Live sementara saya leyeh-leyeh. Di bulan ini juga masih banyak event sampai rasanya tiap hari cuma makeup dan hapus makeup aja. Akhir tahun di Bandung, leyeh-leyeh, jajan, belanja. WHAT A YEAR!

Ada satu target nggak tercapai sih yaitu followers IG 50ribu LOL. Tapi tahun kemarin itu saya nggak punya banyak resolusi berarti selain followers. Nggak merencanakan bikin buku apalagi ambil CFP. Jadi ya udalah followers bisa nyusul kapan-kapan hahaha.

Penting amat jumlah followers? Iya penting banget biar sekali sharing tuh yang denger langsung banyak. Biar kerasa ngasih impact gitu ahahaha. Plus biar rate card naik juga kan. EH ADUH LOL.

Dulu terobsesi page views, sekarang terobsesi jumlah orang yang share postingan saya di IG HAHAHA. Sungguh saya nggak merhatiin likes, lebih senang lihat seberapa banyak yang share ke temennya atau share ke story. Kaya lebih bermakna gitu. :’))))

2020 sepertinya akan banyak kejutan. Ada beberapa hal yang belum bisa saya share dulu karena belum pasti. Yang pasti, saya udah cicil buku. Beberapa halaman saya gambar dari awal karena nggak puas sama yang sebelumnya. Meskipun nggak ada jaminan saya puas juga sama yang sekarang juga sih. Tau banget sama diri sendiri, susah puas huhu.

HAPPY NEW YEAR!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!