-->

Image Slider

Mempertanyakan Kebahagiaan

on
Monday, July 15, 2019
Sudah beberapa bulan ini saya memikirkan sekali arti kata bahagia. Apa itu bahagia? Apa bahagia itu cuma sebuah momen? Atau sebuah keadaan yang seharusnya berkelanjutan?



Tulisan ini sudah teronggok tepat tiga minggu lamanya karena saya mulai menulis ini saat Eugene “The Try Guys” merilis video coming out serta dokumenter di balik layarnya. Di video berdurasi 27 menit itu Eugene yang kini berusia 33 tahun bercerita tentang hidupnya, ia mengaku sejak kecil tak pernah bahagia.

“You know the saddest thing is? I found this letter, people write letter when you’re in middle school, your teacher will make you write a letter to your future self, I found it like a few years ago the only thing i wrote to myself: Are you finally happy?” ujar Eugene.

Di saat yang sama saya seperti ditanya juga diri saya sendiri: Are you? Are you happy?”

“You know, I don’t, I don’t think I am. Am I ever finally be happy? Maybe the answer is that no one ever finally happy,” lanjutnya.

NO ONE EVER FINALLY HAPPY.

That’s dark. Itu komentar videografer Eugene yang saya amini. Sampai ia bertanya lanjut pada Eugene: “Are you happier now?”

Well, I do. I, myself, not Eugene.

Sejak saat itu saya jadi memikirkan banyak hal soal kebahagiaan, soal uang, soal tujuan hidup di dunia (bukan di akhirat, simpan untuk diri kalian sendiri ya soal itu). Kita cuma tahu kita bahagia setelah lebih atau kurang bahagia. HAPPIER is the keyword.

Bahagia yang “di tengah-tengah” bukan sebuah kondisi yang bisa dirasakan saat itu juga. Bahagia hanya bisa dirasakan setelah atau sebelum kejadian tertentu yang jadi patokan: Ini lebih bahagia atau lebih tidak bahagia?

If that makes any sense.

Bahagia adalah kondisi yang terasa saat kita susah ATAU justru senang. Bahagia bisa dirasakan karena kita punya pembanding “oh aku lebih bahagia dari 3 tahun lalu karena dulu hidup lebih sulit blablabla” atau justru “wah, aku lagi nggak bahagia padahal rasanya kemarin seneng banget kok hari ini down banget”. Padahal kemarin ya B aja nggak ngerasa sebahagia itu juga. Cuma seneng, titik.

GET IT?

Kalau ditanya lebih bahagia sekarang atau saat SMA? Saya jawab sekarang. Tapi kalau ditanya lebih bahagia sekarang atau waktu kuliah? Saya pilih waktu kuliah. Kalau hari ini bahagia nggak?

Ummm, baru akan ketahuan besok ahahahaha. Hari ini lebih tidak bahagia dari kemarin karena kemarin weekend, tapi siapa tahu hari ini sebetulnya lebih bahagia dari besok. Entahlah. Baru akan ketahuan besok. :)))

Meski kebahagiaan itu bahkan sulit diukur oleh diri sendiri, banyak orang yang merasa mampu mengukur kadar kebahagiaan orang lain.

“Kayanya kamu nggak happy deh”

“Kamu yakin kamu bahagia?”

Or worst.

“Kamu yakin dia bahagia?”


Well, I am. I feel that I am. Kenapa happiness diukur oleh orang lain atas apa yang mereka lihat oleh mata mereka sendiri? Dan bagaimana kalau ukuran orang lain itu jadi begitu penting untuk hidup kita?

Kita jadi merasa tidak bahagia karena dipertanyakan orang lain. Padahal sebelumnya merasa baik-baik saja.

Ini juga yang saya rasakan setelah kampanye kesehatan mental digaungkan dan jadi begitu penting. Love yourself. Self love is important.

Dari situ saya jadi lebih sadar pada kondisi kejiwaan diri, pada kondisi emosi sehari-hari dan jadinya sering merasa tidak baik-baik saja. Perasaan yang dulu bisa diabaikan karena tetap harus pergi kerja dan beraktivitas, jadi terasa lebih peka.

Padahal kalau sudah peka lalu apa lagi? Tak bisa juga kan liburan terus menerus? Tidak bisa juga kan dadakan cuti untuk mengerjakan hobi karena sedang merasa butuh pause?

Sekali lagi saya jadi merasa tidak baik-baik saja karena sering dipertanyakan orang lain. Padahal sebelumnya, saya merasa baik-baik saja.

Belum lagi kampanye-kampanye lain. Hiruk pikuk. Semakin banyak tahu semakin banyak yang harus dipikirkan. Pantas banyak orang yang lebih senang tidak tahu apa-apa. Ignorance is bliss. If you don’t know about something, you do not worry about it.

Di sisi lain saya juga merasa perlu terus level up. Naik kelas. Caranya gimana lagi kalau tidak dengan menambah wawasan. Gregetan sendiri jadinya. Mau tau banyak berakhir mikir banyak? Atau mau tau sedikit dan nggak punya pikiran?

via GIPHY

Kembali ke soal kebahagiaan, kalau kata Will Smith:

“We cracked the hell up. We started talking about [how] we came into this fake romantic concept that somehow when we got married that we would become one. And, what we realized is that we were two completely separate people on two completely separate individual journeys and that we were choosing to walk our separate journeys together. But her happiness was her responsibility and my happiness was my responsibility.”

Kita tidak perlu merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain meski orang itu adalah pasangan kita sendiri. Marriage is not a counseling room! Istri bukan terapis untuk suami, pun sebaliknya. Kita harus menemukan kebahagiaan masing-masing baru bisa hidup berdua dengan bahagia. Itu pun kalau definisi kebahagiaannya sudah sama-sama ketemu. :)))

Karena meski kita menikah, kita tetap sendirian di dalam pikiran. Konsep sendirian dalam pikiran ini mengerikan sekali buat saya. Bicara sendiri, menjawab sendiri, tidak akan ada yang pernah tahu rasanya berada di pikiran orang lain.

(Pernah saya tulis lebih lengkap di sini: Sendirian di Dalam Pikiran)

The actual question is, how to be constantly happy?

Kalau browsing ini jawabannya banyak. Seperti dengan bersyukur, dengan tak membandingkan hidup dengan orang lain, dengan merasa selalu dicintai, dengan lebih banyak tertawa, lebih banyak tersenyum pada orang asing, dan rentetan tips lainnya.

Ya, bisa dilakukan kalau sedang tidak ada masalah lain sementara hidup kan selalu ada masalah ya. Tinggal kadar masalahnya saja, berat banget sampai bikin nggak bahagia? Atau biasa-biasa saja sampai bisa diabaikan?

Seperti juga bahagia, uang pun bernasib sama.

Money can’t buy happiness hanya benar-benar bisa dirasakan oleh orang yang sudah pernah punya banyak sekali uang lalu merasa tidak bahagia. Untuk orang yang belum pernah merasakan punya uang berlebih, kebahagiaan paling sederhana memang bisa diukur dengan uang.

Catat, mengukur kebahagiaan dengan uang juga tidak apa-apa, lho. Merasa senang karena baru dapat rezeki berbentuk uang kan sah-sah saja.

Kita tak bisa merasa kaya sebelum merasakan miskin. Atau sebaliknya, banyak orang yang tak merasa miskin karena belum pernah kaya. Untuk uang yang terukur, kadarnya bisa diseimbangkan dengan “merasa cukup”.

Yang penting cukup saja. Tak perlu jadi kaya, jangan sampai jadi miskin.

(Baca: Makanan, Manusia, dan Uangku)

Menyambung soal uang, saya jadi ingat barang-barang mahal yang sering jadi tujuan hidup saya dan JG. Seringnya, atau mungkin cuma saya, baru merasa barang branded itu kurang penting setelah bisa mampu beli semuanya. Setelah beli, lalu muncul perasaan biasa-biasa aja. Oh hanya begini, tidak punya juga tidak apa-apa.

Tapi saat belum punya, rasanya ingin saya kejar terus. Jadi tujuan utama dalam hidup.

Nggak apa-apa. Jadikan benda-benda bernilai mahal yang tak terlalu berguna motivasi untuk naik kelas. Untuk berusaha lebih, untuk kerja terus. Biar saja meski pada saatnya kita mampu membeli semuanya, kita malah merasa biasa aja.

Makanya orang lebih suka traveling, katanya. Membeli pengalaman lebih menyenangkan daripada beli barang. Meski definisi senang masing-masing orang juga berbeda.

Senang. Bahagia. Diartikan sebagai satu kata dalam bahasa Inggris: Happy. Padahal senang adalah kondisi yang terasa saat itu dalam waktu singkat. Bahagia baru digunakan ketika senang terasa dalam jangka waktu yang lebih lama atau lebih banyak.

Sampai hilang. :)

People say the goal is not happiness, but peace and content. I guess, since I am still wondering (and wandering), about the true meaning of happiness, peace and content is still on the way.

Calm down, deep breath. :)

via GIPHY

-ast-





Tips Sunat Anti Drama

on
Wednesday, July 3, 2019
Mau nulis ini nggak jadi-jadi karena bingung sih mau nulis dari mana. Rasanya udah lamaaaa banget soundingnya sampai akhirnya sunat dan alhamdulillah nggak drama ternyata.

Saya coba susun dari awal banget ya. Dari sounding, hari H, sampai pasca sunat. So far, nggak ada drama berarti sih. Jerit-jerit cuma 2 kali pipis pertama doang. Jadi nggak banyak adegan takut pipis atau histeris disalepin.

🎙 Sounding 🎙

Sounding ini menurut saya part terpenting. Gimana kalian mendefinisikan sunat pada anak? Kalau saya bilangnya mau tidak mau, cepat atau lambat, semua laki-laki akan sunat. Bisa waktu bayi, bisa nanti waktu sebesar appa. Semua pasti akan sunat karena sunat lebih sehat. Boleh aja nggak sunat tapi ada risiko sakit. Sounding semacam itu sudah dimulai sejak dia umur 4 tahun.

Hati-hati pada definisi berani dan takut karena ini penting sekali.

Kalimat yang saya hindari jelang sunat:

“Harus berani sunat lah kamu kan udah besar!” —> berpotensi anak mempertanyakan dirinya sendiri memang kenapa kalau aku takut? LHA PADAHAL EMANG NAKUTIN KAN.

“Nggak kok nggak takut, digunting dikit doang” —> INI JELAS BOHONG.

“Sakit sedikit aja pasti beranilahhh” —> Ini bohong dan meremehkan.

GET EFFING REAL.

Yang saya bilang kalimat netral empatik sambil berpelukan semacam:

“Iya sunat emang takut ya, masa penisnya digunting sih. Tapi tenang aja, sama dokter dibius kok, aku temenin kok. Mau menangis juga boleh aja”

“It’s ok to be scared, Xylo. It’s normal because if we think about it, sunat is a really scary thing. But if you’re scared and do it anyway, you’re actually really really brave”

“Xylo kamu ingat waktu kamu mau ketemu Buzz dan Woody di Meet & Greet Toy Story? Kamu merasa kamu takut, kamu takut sekali sampai pegang kakiku terus. Tapi kamu tetap naik panggung, tandanya kamu berani. Kalau kamu takut, kamu akan kabur dan tidak jadi naik panggung. Tapi kamu tetap naik, kamu anak pemberani sekali lho!” (Xylo takut badut-badutan dan karakter apapun btw)

“Takut itu normal, Xylo. Aku takut, appa takut, semua orang takut lah kalau harus digunting badannya hiii serem memang. Kita boleh takut tapi tetap harus dijalani juga. Ditemenin kok!”

GIMANA IBU NGGAK DIBILANG MARIO TEGUH SAMA APPA?

Dengan demikian dia tau kalau dia normal. Dia tahu kalau takut sunat itu nggak apa-apa dan semua orang merasakan hal yang sama.

Paginya bangun tidur begini aja ceria. Cuma masih ragu turun kasur sendiri. 

🌞 Hari H 🌞

Yang terberat dari H adalah saya masih khawatir dia tes alergi. *TETEP* Jadi saya udah siapin 3 layer sogokan dengan berbagai pertimbangan. Sogokan ini harus benar-benar sesuatu yang dia suka dan nggak mungkin ditolak.


Plus, saya kan bukan tipe orangtua yang selalu kasih rewards ya. Berguna banget lho, karena jadinya sogokan saya yakin pasti berhasil. Gimana nggak berhasil sih orang hari-hari mau dia nangis berguling-guling gimana pun kalau saya bilang nggak ya maka nggak. Ini ditawarin langsung, ya pasti mau.

(Baca tentang rewards di sini: Bebe Anak Pemberani)

Tantangan:
- Tes alergi: Nggak terjadi.
- Pasang infus: Nggak terjadi karena dipasang setelah bius
- Puasa 6 jam: Tersogok satu Lego
- Cabut infus: Tersogok Nerf Spiderman yang dia pengenin banget

Bikin daftar tantangannya DAN pertimbangkan rewardsnya. Ini ngaruh banget untuk jaga mood anak. Soalnya bukan sekali dua kali dia minta pulang karena antara bosen nunggu dan takut aja sih, nervous gitu.

Yang juga harus dijaga adalah mood ibu dan semua yang nemenin. Saya ditemenin ibu saya kan, dan beliau sepaham banget soal definisi takut dan berani. Jadi nggak nakut-nakutin dan nggak ngeremehin juga. Murni nemenin, main, dan baca buku.

Saya juga bikin budget khusus dari dana darurat karena saya mau makan enak. SAYA HARUS MAKAN ENAK. Jadi dari sunat sampai seminggu setelahnya, saya make sure makan enak untuk jaga mood sama Bebe.

Pasca Sunat

“Sakit disunat dan berani itu beda, Xylo. Kamu boleh ngerasa sakit kok, sakit itu normal. Kamu tetap anak pemberani meskipun kamu sakit.”

Berulang-ulang saya bilang gitu untuk meyakinkan dia kalaupun dia merasakan sakit sekarang, dia nggak gagal kok jadi anak yang berani. Dia tetap berani karena sudah melewati proses sunat.

Kalimat yang saya hindari:


“Alah gini doang masa sakit”

“Udah dikit ajaaa sini ibu salepin”

“Pipis aja masa nangis sih!”

Goals di momen pasca sunat ini adalah:
- Pipis tanpa drama
- Salep tanpa drama
- Minum obat tanpa drama (Bebe bukan tipe yang susah minum obat jadi yang ini nggak akan dibahas)
- Meyakinkan dia kalau darah kering itu wajar


Ok flashback ke momen dia pulang dari rumah sakit.

Keluar dari ruang operasi itu Bebe nggak kesakitan sama sekali. Dia sangat kalem dan santai aja gitu. Nangis merengek sedikit waktu dibuka infus, tapi kalem karena udah pegang Nerf. Saat suster jelasin cara minum obat, cara pake salep, dia merhatiin dengan seksama.

Turun dari mobil dia pake stroller naik lift apartemen karena nggak ada yang kuatlah gendong dia sampai atas. Turun dari stroller dia berdiri tegak, gagah berani, dan bilang “Ibu aku mau pipis. Ibu tau kan tadi susternya bilang apa? Aku tau! Abis pipis itu penisnya harus dibersihin pake tisu dibasahin”.

100% PERCAYA DIRI. Sampai celananya dibuka, dia liat penis dan sekitarnya lalu jerit sekeras yang dia bisa. HISTERIS. HAHAHAHAHAHAHA. Asli sih ngakak.

Jadi ya namanya abis operasi bersihin seadanya kan, penis dan sekitarnya banyak darah kering. Plus penisnya bengkak, merah pula ya paniklah dia. Keberanian pun sirna. Langsung takut pipis.

Akhirnya saya kasih penutup mata yang buat tidur lalu pipis sambil jongkok. Abis pipis saya ambil tisu dibasahin dan mulailah nangis kejer berair mata sampai penutup mata basah semua.

“NOOO, SO SCARY SCARY!”

*tarik napas* *buang napas*

Mulai mikir wah jangan-jangan emang sakit banget nih. Wah gimana nih seminggu ke depan pipis sesakit ini kasian banget. Wah gimana dong nggak sanggup kayanya berdua Bebe kalau JG kerja. Langsung mohon-mohon ke JG boleh nggak besok dia kerjanya pulang cepet blablabla. Intinya saya panik sampai ngetweet panik banget.



Besok paginya masih ada ibu saya, harus diceritain karena kalau ada ibu kan Bebe manja ya. Kalau ada nini, Bebe triple manja. Pagi-pagi dia pipis sama dramanya kaya semalem. Kata ibu, “harusnya pas nangis langsung salepin”. WOW TIDAK TEGA SUNGGUH. Jadi dia nangis saya cuma peluk aja.

Jam 12 ibu pulang ke Bandung. Jam 5 dia mau pipis lagi, masih drama nangis jejeritan lagi lalu … saya ikut nangis HAHAHAHAHAHA. Saya bilang sambil nangis “Xylo, aku tau kamu sakit, tapi ibu sedih sekali kalau seperti ini. Pipismu tetap harus dibersihkan dan dikasih salep biar cepat sembuh. Ibu sedih banget kalau Xylo tidak mau”. Lalu kami menangis berdua berpelukan di kamar mandi.

DRAMA MEMANG SEHARUSNYA DILAWAN DENGAN DRAMA. Setelah itu, saya bilang, “aku punya satu Lego lagi buat kamu, Lego helikopter (favoritnya Xylo), tapi kamu harus mau aku angkat ke kasur, aku waslap penisnya dan aku salepin”.

Dia pikir-pikir lalu setuju. Dengan mata tetap ditutup penutup mata, saya angkat ke kasur, saya suruh tiduran sambil bawa waslap yang udah dibasahin air + dettol. Lalu saya bersihin dan dia … diam. Ternyata nggak sakit dong! Ya udah sekalian saya bersihin sekeliling penisnya sampai semua darah bersih.

JADI DIA JEJERITAN KARENA KEPIKIRAN AJA TAKUT SAKIT PADAHAL NGGAK.



Setelah itu main Lego berdua sambil sounding bahwa semua obat sunat itu untuk melawan bakteri jahat. Kalau bakteri jahat ada di bekas luka, nanti jadinya infeksi dan lama sembuh. Salep melawan bakteri, antibiotik melawan bakteri, salep melawan bakteri, semua melawan bakteri jadi kamu juga harus ikut melawan bakteri jahat.

Plus malemnya dikompori JG sepulang dia dari kantor “ibu itu sayang banget lho sama kamu, ibu nggak mungkin bikin kamu sakit. Itu dilap dan disalepin biar cepet sembuh”.

YA POKOKNYA AKTING LAH. Untuk punya energi untuk berakting seperti itu monmaap ibu dan appa sampai beli Gulu-gulu 4 hari berturut-turut. -________-

Setelah itu less drama. Meringis doang tiap abis pipis tapi MAU cebok dan disalepin. Cuma ya gitu, sampai detik ini (hari ketujuh) tetep belum mau liat penisnya sendiri hahaha. Masih pake penutup mata tiap pipis. Udah mandi di hari kelima setelah darahnya udah keliatan kering semua (semua warnanya kehitaman, udah nggak ada yang merah lagi).

Karena udah nggak drama jadinya saya ambisius lah. Salep itu harusnya minimal dua kali sehari, saya salepin tiap dia pipis. Jadinya hari ketiga udah tidur tengkurep, udah lompat-lompat naik turun tangga seperti tidak habis sunat. Hari kelima udah kering semua, udah mandi, dan besok akan kembali ke daycare.

Pup juga pusing karena kalau pake potty seat dia biasa (dudukan toilet anak yang ditaro di atas kloset), penisnya akan kena potty seatnya. Akhirnya saya dudukin terbalik aja kaya kalau pipis di mall. Lalu saya pakaikan ikat pinggang, selipkan kertas tebel di ikat pinggang itu biar dia nggak bisa liat penisnya. Jadi kaya shield gitu. Karena masa pup sambil pake penutup mata sih.



Gitu aja sih. Melelahkan emang. Capek di dua hari pertama aja. Hari-hari berikutnya nggak capek cuma abis waktu karena dia pipis tutup mata, angkat ke kasur, lap, salepin gitu bisa 5-6 kali sehari.

Tapi thank God sudah berlalu. Makasih doanya ya semuanya!

Cerita dari Bebe sendiri aku rekam di Podcast. Bisa dengerin di Spotify di sini ya!

-ast-




Bebe Sunatan (2)

on
Friday, June 28, 2019
Yang belum baca part 1, baca dulu di sini ya!

Bebe Sunatan (1)
klik link di atas

Postingan ini juga akan kronologis jadi siap-siap panjang lagi HAHAHAHA.

⛅ PAGI ⛅

Hari Selasa lewat gitu aja dan tiba-tiba udah Rabu pagi. JG udah pergi kerja, saya di rumah kerja dulu pagi-pagi dan beres-beres barang yang mau dibawa. Termasuk Lego yang harus disembunyikan dari Bebe.

Karena nggak nginep (one day care) jadinya cuma bawa baju ganti satu stel dan celana sunat 2 biji. Bawa Nintendo Switch, Hot Wheels, dan dijanjiin ibu saya bawa buku untuk Bebe nunggu biar nggak bosen.

Bebe harus puasa 6 jam jadi dia terakhir makan jam 11 siang, terakhir minum jam 1 karena rencana operasi jam 5 sore. Bebe bangun jam 8an, nggak langsung saya kasih sarapan. Sengaja biar makannya last minute aja.

Jam 9 makan nasi sama gurame. Disuruh nambah nggak mau tumben. Mungkin karena makin nervous. Abis itu disuruh mandi susaahhhh banget. Habis mandi dia makan lagi oatmeal pake yogurt sambil saya mandi. Dia mulai nggak sabar “ibu lama banget sih, cepet dong ibu”. ASTAGA.

Jam 11 pesen taksi online cus meluncur ke RS yang cuma 10 menit dari rumah. Urus administrasi nggak biasa-biasanya kok lamaaaaa banget sampai saya tegur mbak-mbaknya kzl. Di jalan sampai RS itu beberapa menit sekali saya suruh Bebe minum karena detik-detik terakhir jelang terakhir minum.

Jam 12 ibu saya nyampe dari Bandung, beberapa menit setelah kami dapet kamar. Bebe ganti baju rumah sakit yang gemes banget karena ngepas sama badannya. Gemesss banget. #ShamelessMom


🌻 SIANG 🌻

DIMULAILAH MATI GAYA MENUNGGU JAM 5. Plus dimulailah deg-degan saya menunggu kepastian apakah Bebe perlu skin test untuk alergi?

Suster pertama yang datang soalnya belum ketemu dokternya jadi dia bilang “saya pastiin dulu ya bu” terus saya mencelos setengah mati karena duh tes alergi itu sakit banget. Saya nggak tau apa saya sanggup pegangin Bebe?

T__________T

Jam 1 terakhir minum lalu dia pipis. Kami main Hot Wheels, baca buku yang dibawain nini, ngobrol, ketawa-tawa, foto-foto. Bebe kaleeemmm banget. Cenderung excited malah sampai difoto aja banyak gaya bener.


Jam 2 mulai haus. Ngeluh laper tiap beberapa menit. Mulai cranky. “Aku nggak kuat puasanya, aku mau makan aja ibuuuu”.

HADUH TIGA JAM LAGI NGAPAIN KITAAAA. Plus suster mana suster, ibu butuh kepastian apakah Bebe tes alergi atau nggak.

Akhirnya suster dateng menawarkan “bu, mau pasang infus sekarang atau nanti aja setelah tidur?” (maksudnya setelah bius). Lho kalau bisa dipasang saat dia dalam kondisi nggak sadar dan nggak ngamuk, kenapa harus dipasang sekarang coba? Hahahaha.

Suster ini juga udah bawa kabar baik kalau dia udah konfirmasi dan dokter Irfan bilang nggak perlu tes alergi. Saya udah nggak peduli lagi kenapa TAPI THANK GOD! Beban yang dibawa sejak dua hari lalu kaya lepas aja gitu.

Lalu ada visit pre-op dokter anestesi, tanya ini itu, saya nanya apa aman kalau 4 hari sebelumnya diare? Aman.

Dokternya tanya apakah Bebe bisa menerima instruksi tarik dan buang napas dalam-dalam? Saya bilang bisa. Karena sedasinya pake gas gitu kan. Kalau anaknya hah hoh disuruh narik napas dalam-dalam malah bengong sih ya susah juga kan.

Jam 3 Bebe anteng nonton YouTube sampai JG akhirnya dateng. Saya akhirnya bisa makan tapi ngakunya ke Bebe pup lol. Soalnya empati dong ya dia puasa, nggak boleh ada yang makan minum depan Bebe.

Jam 3.30 dokter anak visit pre-op, dokternya baik banget. Dokternya bilang “kalem gini anaknya, bius lokal juga bisa nih kayanya” saya jawab “eh jangan deh dok, kemarin pas tes darah dia ngabur soalnya lari kenceng” :)))))

Terus muka dokternya maklum gitu dan bilang “ya udah bius umum aja kalau gitu, soalnya kalau kabur dan sampai batal operasinya, nanti harus puasa lagi ngulang dari awal” OMG STRES JANGAN SAMPAI DEH.

Bebe keliatan makin nervous. Saya udah nggak nervous sih karena batal tes alergi *TETEP* jadi bisa menghadapi kerewelan dengan 100% kepala dingin. Bebe makin cranky “aku udahan aja, aku pulang aja, aku laper banget banget banget” berkali-kali.

Ditanya, Bebe mau makan apa? Jawabnya “APA AJAAA, AKU MAU MAKAANNNN” HAHAHAHAHA.

Maklum beberapa bulan belakangan dia lagi makan enak terus, makannya banyak terus, nambah terus, jadi lagi enak-enaknya makan disuruh puasa itu kan zzz yaaa. Mengingat dulu dia nggak pernah mau makan sama saya dan hanya mau makan di daycare doang hahahaha.

Jam 4 lewat sogokan pertama keluar, mayan anteng tuh dia main Lego. Sempet ngambek dan turun kasur lalu jalan-jalan keliling kamar sendiri. Tapi terus naik lagi terusin bikin Lego.


Jam 5 lewat suster muncul dan bilang “bu, maaf dokter Irfan tadi kena macet dan masih ada 2 pasien lain jadi operasinya ditunda sampai jam 7”.

Lemes sih, muka saya pasti memelas banget dan bilang “sus, nggak bisa sekarang aja ya? Ini dia udah nggak kuat banget katanya kalau harus puasa lebih lama”.

Lagi gitu tiba-tiba muncul suster lain “anak Az Xylo sudah boleh turun” terus mereka berdua berdiskusi macam gimana sik kok nggak kompak lol. BUT YEAYYYY! THIS IS IT!

Lego buru-buru diberesin, Bebe digendong JG menuju ruang operasi. Saya dikasih baju dan celana operasi, ganti jilbab, pake masker, lalu nunggu berdua Bebe di ruang tunggu, di bagian luar operating theater.



Jam 5.45 Bebe makin ngelamun, antara nervous dan laper. Di sebelah ada satu anak umur 10 tahun nunggu sunat juga. Di dalem ruang operasi ada adiknya anak itu lagi sunat daannnn JERIT-JERIT. T_______T

SAKIT! SAKIT! MAMA! MAMA! AAAAAAA!! SAKIT BANGET SAKIT BANGET!”

Monmaap bahkan saya yang sok tegar gini aja jadi jiper kan denger anak histeris. Saya izin suster, suster boleh nggak saya tunggu di luar dulu? Ini saya sama anak saya udah kalem banget, nggak mau terpengaruh anak lain nangis.

Dibolehin keluar sampai ruang konsul doang, nggak boleh keluar banget karena kami berdua udah pake baju operasi. Lalu di situ kami berpelukan sambil nonton YouTube Kids. Di sini dia bilang "ibu nanti aku mau cheeseburger ya!"



Di ruangan itu Bebe 3 kali jalan sendiri ke pintu dan bilang “aku pulang aja deh ibu, aku laper banget” Hahahaha.

🌙 MALAM 🌙

Jam 7 kurang akhirnya kami dipanggil masuk. Saya gendong masuk ruang operasi dan Bebe meluk kenceng banget! Saya ajak ngobrol terus.

“It’s ok, aku temenin kamu kok”

“Xylo liat deh, wah alat-alatnya keren ya, kamu liat-liat dulu, belum tentu bisa masuk ke sini lagi lho” Dia liat sekeliling.

TAPI DIA NGGAK MAU DITARO. Jadi didudukin di meja operasi itu nggak mau duduk dan tetep meluk kenceng. Sampai saya bilang “wah ibu nggak kuat lagi gendong, Xylo duduk ya, kita pelukan sambil duduk”. Berhasil, dia mau duduk sambil tetep peluk kenceng. Emang paling nggak tega minta gendong ibu, makanya kalau minta gendong selalu ke appa hahahaha.

Di sini saya appreciate banget sih sama semua kru yang bertugas *HALAH DIKATA TIPI* karena semua BERAKTING MAKSIMAL demi Bebe bisa tenang. Dokter anestesi pasang monitor detak jantung juga izin dulu dan bilang “ini tuh stiker lho, kamu akan aku kasih 3 stiker coba cek dulu warnanya apa”. Bebe serius banget cek meskipun membisu.

Lalu susternya sigap ambil balon dari rubber gloves yang udah ditiup dan dokternya bilang “balonnya dikasih mata dong” terus dikasih mata jadi lucuuu banget dan kami beri nama Glovy (yes, from Forky). Bebe mulai nggak tegang dan pegang balonnya.

Terakhir jempol dia dipasang monitor lain juga dan ada lampunya. Itu satu suster lain bilang “WAHHH JEMPOL KAMU NYALA KAYA TONY STARK, NANTI BANGUN-BANGUN KAMU PASTI JADI IRON MAN”. Dia bilang gitu sambil nutup jempol Bebe pake dua tangan untuk memastikan Bebe lihat kalau jempolnya nyala merah.

AND THE OSCAR GOES TO …

LOL SUMPAH SIH AKTING MEREKA 100% COCOK SAMA AKTING SAYA SELAMA INI. Karena si Bebe mau ke rumah sakit aja request pake baju Iron Man. Padahal mereka nggak ketemu saat Bebe masih pake baju Iron Man.

Dokter siapin sedasi (yang dibilang sebagai topeng), lalu saya diminta pegang punggung Bebe in case dia ngejengkang. Tarik napas, buang, tarik napas kedua, Bebe udah teler nyusruk di dada saya. Saya angkat lagi, benerin posisinya dan bilang “baik-baik ya, baby”. HUHU MELLOW SIH SUMPAH.

Itu jam 7 lewat 10, saya tau jam-jamnya karena live update sama aki di Bandung via WhatsApp hahaha.

Nggak nyampe 20 menit, suster keluar minta celana sunat. Saya udah pesen cheese burger. Jam 8 pas saya diminta masuk lagi ke ruang tunggu operasi karena udah selesai! Tinggal nunggu Bebe bangun aja.

Di sini agak drama dan saya agak panik sih karena dia belum 100% sadar tapi tiap buka mata dia marah-marah, gerung-gerung terus semacam motor dengan knalpot alay.

Dokter anestesinya mendekat lagi dan bilang “sakit, bu?” YA NGGAK TAU DOK. Lalu dia menyambung sendiri “harusnya nggak sakit sih bu, ini marah karena tidurnya terganggu”.

YAH SORI DEH, BE. HUHU. Sekitar 15 menit dia marah merem marah merem terus akhirnya melek terus dan mendadak kalem kaya nggak ada apa-apa. Terus nanya “balon aku mana?” Si glovy maksudnya. -_______-

Terus minta kursi roda dan kami pun didorong kembali ke kamar. Sampai kamar ada adik saya, adik ipar, sama ibu kan. Yang dia lakukan adalah pamer infus dong zzz. Padahal infus juga tinggal jarumnya doang. Mukanya lemes banget tapi senyum dan bisa ngobrol.

Dari sini pujian udah ngalir terus nih. Bye ibu-ibu yang nggak suka puji anak, biar kita nggak temenan yaaa lol.

IT'S A WRAP

Deg-degan terakhir tinggal urusan copot infus doang. Tapi tenang karena saya beli Nerf Spiderman Far From Home yang dipakenya di tangan juga. Jadi saya bilang “ini nanti pas dibuka agak-agak sakit sedikit, kamu boleh nangis tapi jangan gerak-gerak. nanti aku ganti infusnya sama sesuatu. Aku punya mainan buat kamu”.

Bebe kalem sampai suster dateng dan dia nggak mau dibuka infusnya sampai mainannya dikeluarin. Akhirnya saya keluarin dan waahhh Bebe berbinar. Buka infus nggak dipegangin juga nggak gerak-gerak karena tangan sebelahnya udah pegang Nerf.

pegang nerfnya terbalik lol
Abis itu makan cheese burger, ganti baju, urus administrasi, dan siap pulang!

ALHAMDULILLAH LANCAR! MAKASIH SEMUA UNTUK DOANYA DAN SHARE DEG-DEGANNYA VIA INSTA STORY HAHAHAHA.

Yang paling ditunggu: Total biaya sunat 2019 dengan urolog anak di Rumah Sakit Siloam Asri Duren Tiga




jangan shock





Rp 12,8juta. Plus tes lab dan radiologi awal di Rp 2 sekian juta. Total Rp 15jutaan lah. Dan yay! Dicover asuransi kantor JG!

So far so good sih. Nggak pake perban, jahitan nggak perlu dilepas. Rumah sakitnya juga nyaman dan ramah anak. Soalnya semua orang bilang sunatnya cincai, buka perban/jahitan/pipis yang drama huhu.

Kalau emang merasa terlalu mahal, menurut saya sih tetep konsul dulu sama urolog anak untuk cek ada kelainan/penyakit atau nggak. Biaya cek urolog anak standar dokter spesialis biasa kok di Rp 300ribuan.

Kalau menurut urolog anak nggak ada masalah baru deh sunat ke klinik biasa. Karena saya baru tau, masalah penis ini kompleks juga ya. Ada micro penis, ada yang lubang kencingnya salah tempat, ada yang kantong testisnya kenapalah, khawatir juga kalau nggak sama dokter yang bener-bener ngerti.

Nanti di part ketiga saya mau cerita gimana after care sunat Bebe. Gimana dia histeris liat penisnya sampai akhirnya memutuskan nggak mau liat lagi penisnya sendiri HAHAHAHA.

DITUNGGU YA!

Jangan lupa baca dulu part 1! Nih dikasih linknya lagi hahaha.

Bebe Sunatan (1)

-ast-




Bebe Sunatan! (1)

Harus pake tanda seru lho judulnya karena beneran kaget hahahaha. Open new tab dulu deh, mumpung part 2 nya udah ada: Bebe Sunatan (2)
pas nunggu taksol otw RS

Seperti biasa kalau hal penting gini saya nulisnya akan berusaha sekronologis mungkin ya karena akan jadi kenangan masa depan. Jadi bersabarlah, ini akan panjang. LOL

Part 1 ini akan cerita proses sebelum hari H. Nggak mau baca juga nggak apa-apa karena tujuan menulis blog ini adalah untuk dibaca diriku sendiri di masa depan nyahahahhaa.

Kenapa masih kecil udah disunat?

Dulu saya taunya anak yang disunat itu anak kelas 2-3 SD. Makin ke sini, makin sering denger anak lebih kecil yang disunat. Sepupunya Bebe disunat sebelum masuk SD di umur hampir 7 tahun.

Plus banyak pula bayi-bayi yang disunat sejak lahir karena fimosis (kondisi di mana kulup tertutup/sempit jadi susah pipis) saya jadi mikir duh menyesal kenapa Bebe nggak disunat dari bayi juga?

Pertama karena akan less drama, lha bisanya memang nangis doang kan, nggak akan pake argumen segala. Kedua, ibu nggak perlu cuti tambahan karena memang sedang cuti 3 bulan. Ketiga, nggak ada risiko kotor.

Yang ketiga ini nih jadi PR karena beberapa bulan terakhir si Bebe garuk-garuk penis terus. Kalau ditanya bilangnya antara nempel (karena keringet) atau gatel. Setelah diteliti, emang ada jendulan putih gitu di penisnya.

Mulai bertanya-tanya itu apa ya? Tapi belum sengajain ke dokter. Karena males nggak sih ke dokter buat nanya doang, toh anaknya juga pipis lancar, garuk juga nggak tiap saat. Mikirin antrenya aja males.

Eh tapi makin hari jendulnya makin besar! Hampir segede sepotong kacang tanah lho! 


Akhirnya ke Dokter

Waktu libur Lebaran, kami ke dokter anak karena Bebe impetigo (impetigo itu apa, googling ya). Tapi terus lupa mau nanya jendulan itu karena saya nggak sengaja liat jadwal vaksin di meja dokter terus dadakan vaksin MMR. Hahahaha.

Bebe ngamuk karena ya nggak ada sounding apapun kok vaksin?

(Btw MMR udah ada di banyak RS sejak awal tahun ini. Kemarin Bebe vaksin di Hermina Pasteur, biaya vaksin MMR nya aja 700ribu sekian belum sama biaya dokter. INGAT, MMR INI BEDA SAMA MR YANG DI POSYANDU DULU YA! Ini biar nggak mumps/gondongan. Demikian sekilas iklan layanan masyarakat.)

Lalu ke dokter lagi hari Minggu kemarin karena Bebe muntah dan diare. Sabtu malem muntah, eh hari Minggunya pup sampai 5 kali banget, cuslah ke dokter. Yang ini nggak boleh lupa nanya jendulan di penis, tekad saya.

Kata dokter anaknya, “ini sih kotoran aja bu, smegma, sunat aja”. Rada pengen ngakak di tempat karena Bebe semacam panas dingin dan panik luar biasa tiap ada yang sebut kata “sunat”.

Dsa-nya bilang langsung bikin janji aja sama urolog anak. Kebetulan kami ke dokter anak di RS Siloam Asri yang spesialis Urologi. Pertanyaan pertama saya ke dia: Dok, emang sunat itu sama urolog anak bukan sama dokter bedah?

Katanya “sama urolog anak ajalah bu” jadi ternyata sunat emang bisa sama dokter bedah atau sama urolog ya. Tergantung RS nya mungkin.


Selesai dari dokter anak, saya langsung bikin janji sama urolog anak yang ternyata praktik BESOKNYA di hari Senin.

Senin itu saya dan Bebe di rumah karena masih khawatir Bebe diare. Abis magrib kami jalan ke RS, ketemu JG di sana pulang kantor. Yang antri banyak anak-anak karena lagi libur sekolah kan, lagi peak time anak disunat hahahahaha.

Ketemu Urolog Anak

Namanya Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U(K). Bagi saya yang judge dokter dari latar belakang pendidikan, dr. Irfan ini lolos screening hahahaha karena S1-S3 di UI dan ambil Pediatric Urology di Belanda. Ya emang nggak berarti apa-apa sih tapi masuk kedokteran UI kan susah, jadi pasti dokternya pintar lol.

Dokternya ramah dan baik sekali, mau jawab kecerewetan saya dan JG yang agak-agak panik. Plus sabar nungguin Bebe yang jalannya mendadak ngerem di depan ruangan dokter HAHAHAHA.

Bebe tuh padahal biasanya nggak susah ke dokter lho, nggak susah minum obat, cuma karena dia tau ini konsul buat sunat jadi panik luar biasa. Begitu terbujuk masuk ruangan, dia langsung duduk di bawah meja dokter, sembunyi HAHAHA. Dibujuk lagi biar mau tiduran dan diperiksa penisnya lol hidupku habis untuk membujuk.

Awalnya dokter Irfan cuma bilang “oh smegma aja ini, kita bersihkan ya” dan minta suster ambil cotton bud.

Kulupnya ditarik jauh banget ke belakang dan jendulan itu KELUAR DONG muncul. Putih bersih dan lembek kaya keju. Posisinya ternyata cuma di bawah kulup doang, bukan di bawah kulup yang mesti dibelek kaya jerawat. Selama ini kami kalau bersihin ya nggak berani lah narik sejauh itu. Ngiluuuu, takut sakit. Tapi si Bebe kalem aja sampai hampir bersih! Udah nggak segede sepotong kacang lagi!

Di sini dia mulai gerak-gerak nggak nyaman. Dokter tanya, sakit? Bebe jawab iya. Lalu “kalau mau bersih sih ya disunat” terus dokter berhenti dan cuci tangan. Saya sama JG samber aja langsung “oke sunat aja dok”.

Sepuluh menit berikutnya dihabiskan dengan cek kalender masing-masing nyocokin jadwal antara saya, JG, dan dokter. Tadinya mau minggu depannya di hari Senin. Eh JG nyeletuk “nggak bisa Minggu ini aja, dok?”. Kata dokter “Rabu boleh deh tapi saya baru bisa jam 5”. OMG LUSA!

JG “Tapi Rabu aku ada meeting sampai jam 3”. Di situ saya masih pede banget, halah ke RS doang cincai, nanti pergi ke RS sendiri juga bisa.

Lalu diskusi mau bius umum apa lokal nih? Kata dokter Irfan Bebe masih terlalu kecil untuk bius lokal. Takutnya kalau dalam kondisi sadar dia ngabur lagi atau malah di ruang operasi ngamuk gitu kan rada sakit kepala juga ya. Dia menyarankan bius umum aja, “pake gas kok” gitu katanya. Saya sama JG ok ok aja.

Terus dijelasin, karena di RS, jadi prosedurnya kaya tindakan operasi (karena memang operasi sih). Langsung dibikinin janji sama radiologi, tes darah, urus asuransi, dikasih kartu rawat jalan harus puasa makan 6 jam, puasa minum 4 jam, dll, dll.

SAYA MULAI NERVOUS. T________T

Urus Administrasi, Berapa Biaya Sunatnya?

Bebe pengen pup, ditemenin JG. Saya urus administrasi, bayar radiologi dan tes darah itu udah agak-agak blur dan mikir, udah nggak 100% on karena HAH SERIUS NIH MAU DISUNAT LUSA?

Oiya soal biaya kami kan memang punya dana darurat ya (meski masih jauh dari sekian puluh kali gaji). Sebelum ke RS udah sepakat sama JG kalau asuransi nggak cover, kita tetep sunat di RS dan bayar sendiri. Jadi saya minta rincian biaya di awal.

Mas-mas adminnya juga nanya “bu, ini kalau asuransi nggak approve, ibu tetep jalan nggak tindakannya?” Saya jawab jalan aja mas nggak apa-apa.

Mikirnya kalau ditunda lagi juga kapan? Kalau nggak jadi dan cari klinik lain juga apakah saya dan JG mau secepatnya meluangkan waktu? Tau-tau Bebe lulus SD dan masih garuk-garuk penis gimana karena smegma tersisa? Buktinya ngurus smegma aja butuh berbulan-bulan huhu maaf ya Bebe.

Jadi berapa totalnya? Di blogpost berikutnya ya! HAHAHAHA.

Tes Darah dan Radiologi

Saya mulai nginget-nginget waktu saya operasi amandel di RS yang sama. Urutannya itu:

1. Tes darah dan rontgen thorax
2. Konsul ke dokter penyakit dalam (kalau Bebe ke SpA) dan ke dokter anestesi.
3. Di hari H, datang 6 jam sebelum operasi, puasa.
4. Pasang infus dan …
5. Skin allergy test untuk cek alergi antibiotik

MAU NANGIS KARENA YANG NOMOR 5 SAKIT BANGET ITUUUU. Saya bilang JG “duh, aku harus prioritasin aku harus panik yang mana dulu, berarti sekarang aku harus panik untuk tes darah dulu ok” T________T

Ya sunatnya tinggal lusa, biar nggak bolak-balik RS malem itu juga langsung tes darah dan rontgen. Mas admin bilang “Bu, anaknya rontgen dulu aja. Takutnya kalau ambil darah dulu nanti malah nggak bisa rontgen karena nangis”. Waw, ide yang brilian.

Bebe takut-takut tapi nggak ngerem pas masuk ruang radiologi. Saya temenin dan dia serius banget ngikutin instruksi lol. Amaze gitu dia sama ruang radiologi yang canggih. Terakhir dia rontgen tangan doang untuk cek usia tulang, ruangan radiologinya nggak sebesar itu.



Selesai di radiologi, dia liat ruangan tes darah dan merosot ke dinding pojokan. Dia ikut soalnya pas JG tes darah mau operasi amandel. Saya bujukin lagi lalu dia LARI MELESAT kabur HAHAHAHAHA. Saya kejar, tangkap, bujukin lagi baru deh mau duduk.

Diambil darah sambil dipangku JG dan saya peluk kepalanya. Dia nangis terus tapi tangannya diem. Sebuah kemajuan sih, waktu umur 3 tahun Bebe pernah diambil darah karena demam berhari-hari, yang megangin 7 orang: Saya, JG, 4 suster, dan 1 petugas lab LOL.

Nyampe rumah kami ngobrol sebelum tidur dan saya ngomong banyak hal sampai JG bilang saya kaya Mario Teguh saking kata-katanya penyemangat semua. TAPI BEBE JADI BENERAN SEMANGAT DONG! Malah bilang “ibu, tadi pas diambil darah itu aku nangis karena ngantuk lho soalnya nggak sakit”.

-________-

Besoknya hari Selasa Bebe sekolah dan dia excited bilang ke semua temen dan miss kalau mau disunat! Lha kaget ini anak kok jadi nggak takut? Kok malah jadi ibu yang takut?

T________T

Si Bebe semacam takut banget tes darah lalu menurut dia ambil darah itu "gitu doang". Semangat dan keberaniannya jadi kebakar. Halaahhh.

Hari Selasa itu saya kerja dan meeting nggak konsen amat. Beli celana sunat di Tokopedia dan memperhitungkan jumlah rewards untuk besok. Saya beli 2 boks Lego dan 1 Nerf Spiderman yang Bebe mau banget.

Mikirnya, 1 boks Lego buat rewards berani tes alergi, 1 boks buat rewards puasa, Nerf buat rewards sunat. Sampai sini memang masih mikir akan tes alergi yang menyakitkan itu karena ternyata ada satu anak daycare Xylo yang bulan lalu abis sunat juga karena ada masalah di testis dan kata ibunya ya tes alergi tentu saja karena antibiotik pasti masuk lewat infus. Jadi saya panik banget harus menghadapi tes alergi tanpa JG. T________T

Jujur beli mainan banyak tujuan rewardsnya itu sebetulnya untuk pukpukin diri sendiri yang berani menghadapi Bebe puasa, tes alergi, sunat, tanpa JG. To comfort MYSELF. MANA LAGI MENS!

Abis itu pake adegan JG nelepon sore-sore telepon bilang gini “Aku besok kayanya nggak cuma meeting doang deh. Aku meeting sampai jam 3 terus aku ada training”

Ya kan kesel ya. Selesai jam 3 aja berarti dia sudah akan melewatkan tes alergi dan Bebe puasa. Lha lalu mau training? Nambah-nambahin deg-degan aja sihhh.

Lalu sorenya di jalan pulang otw jemput Bebe, JG masih pake telepon lagi, nanya khawatir “Bebe harus bius total ya? Yakin nggak bisa bius lokal gitu ya?”

T__________T

Emosional banget jadi kan. Selasa malem pulang kantor itu kami ke percetakan untuk ngambil dummy souvenir ultah Bebe. Di mobil dengan nervous yang makin parah, saya bilang gini ke JG "aku nggak kuat deh kalau besok harus nemenin Bebe tes alergi, aku mau tanya ulang dokternya ah boleh nggak kalau dia bius lokal aja". Eh malah ceramah "nggak bisa gitu dong, kamu kan nggak ngerti, nurut dokter ajalah blablabla" kaya nggak inget aja dia sorenya juga khawatir soal bius-bius dan bikin panik.

Lalu saya teriak "YA KAMU JUGA BESOK NGGAK DI SANA! BISA NGGAK SIH NENANGIN AKU AJA BUKANNYA MALAH BILANG GITU!"

And then I burst into tears. OH HORMONES. LOL.

Setelah itu Bebe kaya jadi tau gitu kalau saya juga nervous jelang sunat. Di rumah, dia peluk dan bilang “ibu, tadi ibu nangis karena aku mau sunat?”

Saya jawab “Iya, aku takut Xylo, aku nggak tau aku bisa nggak ya nemenin kamu sunat berdua aja nggak ada appa. Berani nggak ya, besok kita di rumah sakit berdua?”

Terus dia peluk “Berani kokkk, kalau ibu takut kita pelukan aja berdua.”

DENGER GITU PENGEN NANGIS LAGI NGGAK SIH. Ya udah terus nangis lagi zzzz.

Singkat cerita, tes alerginya nggak jadi! Cerita yang tidak singkat di hari H operasi lanjut di postingan ini:




See you!

-ast-




Angpao Bebe

on
Thursday, June 13, 2019
Waw sebulan lebih nggak nulis parenting lho masih mau ngaku parenting blogger apa gimana ini? :))))



Saya cuma mau lanjutin cerita Bebe dan Uang sebulan lalu. Setelah ikut kelas Kids & Money, ini hasil implementasinya.

(Baca dulu ini: Bebe dan Uang)

Si Bebe dapet angpao itu cuma dari tante-tante saya dan adik-adik sepupu saya yang udah kerja. Dikit banget emang orangnya, jadi dapetnya juga memang nggak banyak kaya orang-orang (fyi kemarin ada yang share di Instagram MD kalau dia nabungin angpao anaknya sejak 2015 dan udah mau nyampe 20juta gileee).

Tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, si Bebe nggak ngerti uang sama sekali. Dia bahkan nggak peduli sama uangnya. Disodorin aja nolak gitu, pas orangnya maksa, antara dia takut atau dia ambil terus langsung kasih ke saya.

Kondisinya memang Bebe nggak pernah pegang uang. Dia nggak ngerti warung dan nggak pernah jajan. Ke minimarket juga jarang banget paling ikut ke supermarket pas belanja mingguan, itupun mentok beli yogurt atau es krim doang jadi emang sejarang itu jajan.

Plus dia liat saya bayar kan pake kartu debit ya, jadi dia kayanya mikir apa itu uang? Apa pentingnya? Kenapa orang ngasih uang sih?

Tahun ini, dia udah bisa menghitung sampai ratusan. Bisa tambah-tambahan lancar asal penambahnya nggak lebih dari 10 jari. Iya jadi pake sistem angka yang banyak di otak, sisanya itung di jari hahahahaha. Kurang-kurangan belum bisa. Tapi udah tahu mana angka lebih banyak mana angka lebih sedikit.

Itu sebabnya saya merasa oh dia siap nih belajar uang.

Selama bulan puasa saya sounding, nanti lebaran kamu akan dikasih uang. Uangnya boleh kamu jumlahkan sendiri lalu kamu boleh beli apapun yang kamu mau asal uangnya cukup. Khayalan pun dimulai. Dari mau beli puzzle kemudian ganti ke Lego, ganti lagi ke puzzle dan berakhir keukeuh ingin beli Lego.

Di hari H, dalam kondisi dia yang slow to warm up dan banyak orang, BENER LHO DIA MAU DIPANGGIL DAN DIKASIH UANG HAHAHAHAHA

Malah posesif banget semuanya ditumpuk lalu dipegang sendiri dengan bangga. Pake pamer segala “uang aku banyak loh” idih sombong hahahaha.

Lalu dihitung bersama. Wah, angkanya lumayan! Kemudian langsung rewel “AYO KE MALL IBU BELI LEGO IBU” berjuta kali.

Di hari yang fitri, lebaran hari pertama, setelah berkunjung ke rumah saudara dan mertua, kami sekeluarga ke mall. Iya sekeluarga sama ayah ibu dan adik saya juga, demi mengantar Bebe beli Lego.

Ngerti loh ternyata dia. Total uang yang dia punya saya tulis di notes, lalu dia cek harga satu-satu, dia ngerti mana yang lebih mahal dan mana yang lebih murah. Beli deh, bayar sendiri, pegang sendiri dong bangga banget.

Abis itu dia lupa punya sisa uang zzzz.

Sampai di Jakarta, temen sekolahnya ada yang pake topeng dinosaurus lalu dia mau juga. Baru deh inget punya uang. Itung-itung masih cukup untuk beli topeng dino lalu kembali rewel pengen ke mall HAHAHAHA.

Gimana soal nabung dan beramalnya? NGGAK TAU LOL.

Dia masih di excitement bisa belanja sendiri gitu jadi diingetin konsep menabung dan beramal dia cuek aja. Ya sudahlah nanti lagi aja. Namanya juga persiapan ke uang saku ya, nanti kalau uang saku panjaaanggg pasti blogpost dan perjalanannya hahahaha.

Segitu aja deh. Yang penting keceritain biar nggak lupa.

See ya!




IG