Image Slider

Hidup yang Lebih Baik

on
Monday, June 18, 2018

Tadinya mau cerita soal liburan yang terlalu panjang tapi kok tadi iseng search keyword “lebaran” di blog dan muncul tulisan lebaran dua tahun lalu. Baca di sini: Lebaran Tahun 2016

Tulisannya sedih banget. Kalau dibaca kaya nggak terlalu merana tapi aslinya itu super capek parah. Langsung bersyukur sama kondisi kami hari ini HUHU.

Ramadan tahun ini hidup kami smooth banget dan nggak terlalu capek. Ngantuk ya wajar, tapi masih bearable lah. Apalagi saya yang selama bulan puasa tiap hari Rabu work from home, nggak capek-capek amat jadinya. HAHAHA.

Pindah rumah ternyata sengaruh itu ya. Dulu rumah di Jakbar emang gila sih strategis banget ke mana-mana deket. Tapi ya ke mana-mana macet juga.

(Baca: Meng-Undo Hidup)

Sekarang rumah di Selatan, perjalanan kantor JG - daycare - rumah jadi lebih cepet. JG nggak terlalu capek, cuma overtime daycare satu hari dan kami buka puasa sama-sama di rumah terus! Paling lambat setengah 7 udah di rumah.

Gila banget ya 2 tahun lalu jam 7 mah masih ngemper di teras daycare banget, kepanasan, banyak nyamuk, makan nasi padang karena ya pas warung padangnya sebelahan sama daycare dan nggak tahu lagi harus makan apa buat buka puasa.

Tahun ini katering kami nganter makanan jam 4 sore, jadi makanan buka puasa selalu aman dan masih anget. Di bawah apartemen juga banyak yang jual takjil jadi urusan makanan aman banget.

TIME REALLY HEALS. Kadang kita aja yang nggak percaya kalau hidup itu bisa memperbaiki dirinya sendiri.

Ya asal kita berusaha dan nggak cuma leyeh-leyeh doang.

“Tapi usaha aku segini aja deh perasaan, males aku usaha lebih, jadi ya dapetnya juga segini aja” — saya pada JG beberapa hari lalu.

Dijawab dengan “ya pindah kerja juga kan berusaha, selama kita masih kerja mah kita masih berusaha. Kecuali kalau nganggur karena males”

IYA JUGA YAAA.

Banyak ya orang nggak “berusaha”, bahkan untuk kerja aja pilih-pilih banget dan banyak mikir padahal sehari-hari pengangguran dan nggak punya penghasilan tetap. Fakta mengerikan karena gue kenal banyak orang yang lebih milih nganggur daripada kerja yang nggak disuka.

Iya sih gue menuhankan kerja sesuai passion, tapi tetep lah prioritas utama adalah punya penghasilan. Bisa kerja sesuai passion alhamdulillah, tapi kalau nggak kerja demi ngejar passion dan jadi nggak bisa nafkahin keluarga mah ya pengen kasih jari tengah sih.

Ya lo bela-belain ngejar passion tapi makan susah. Bela-belain kerja yang lo suka tapi anak lo sekolah seadanya. Gimana ya itu skala prioritasnya. Membingungkan.

(Baca: Hidup yang Kita Pilih)

Poinnya adalah, selama kita mau kerja, hidup harusnya baik-baik aja. Kadang hidup itu emang gila banget pengen teken tombol pause dulu karena capek, kadang pengen rewind dan ngulang waktu, bahkan pengen stop aja dan nyerah di titik ini karena ngerasa nggak sanggup lagi, tapi masalah-masalah melelahkan itu sebenernya cuma akan punya dua jalan keluar.

Pertama, kita usaha sekeras mungkin cari solusinya sampai ketemu dan diberesin semua. Kedua, ya kita diemin aja dan berharap semua masalah lewat sendiri. Antara kita jadi kebal sama masalah itu atau masalahnya selesai sendiri. Keyword: berharap. Selama masih punya cita-cita, selama masih punya harapan, kita masih punya masa depan! Jadi jangan berhenti berharap!

Buat kalian yang hidupnya lagi susah banget, keep going. Mungkin masalah hidup gue receh banget dibanding masalah kalian tapi inget aja kalau yang kita butuhkan setiap hari adalah keyakinan kalau kita masih punya harapan. Bangun tidur liat cermin, senyum, dan yakinkan diri sendiri kalau semua akan baik-baik aja.

Let your faith be bigger than your fears. Everything will be fine. Everything in no time at all. Hearts will hold.

-ast-


2009 vs 2018

on
Saturday, June 9, 2018


Tadi pagi saat sahur saya dan JG ngomongin Diana Rikasari yang kebetulan muncul di feed Instagram. Saya bilang JG, saya "kenal" Diana dulu sekali di sekitar tahun 2008 saat Diana masih di DeviantArt dengan foto-fotonya yang diedit artsy (serta pernah berponi pink lol).


Setelah sahur saya jadi scroll blognya Diana di tahun 2009 dan nostalgia beberapa brand indie lokal yang dia foto, persis endorse Instagram zaman sekarang dengan foto yang unpretentious. Ada Betty La Shop-nya Sabila Anata, Beatnik, OnlyI. Zamannya fashion blogger itu ya Diana, Heidi Kalalo, Bethanny Putri plus Evita Nuh yang masih kecil banget.

Bisa dibilang selain mulai muncul blogger-blogger yang ngetop (thanks to Gogirl!) 2009 adalah tahun kebangkitan online shop. Orang mulai percaya belanja online di fanpage Facebook dan blogspot (setelah sebelumnya online shop itu hanya di Multiply).

Jualannya masih bener-bener atas asas kepercayaan dan kayanya jarang banget yang nipu deh. Saya salah satunya jadi sis-sis online shop berjualan kalung handmade di fanpage HappyBee! yang dalam sekejap punya followers 5ribu. Kalung itu tentu mampir ke blognya Diana karena dulu kayanya SEMUA online shop handmade/lokal ya kirim ke Diana. Jaminan laku gitu lol.
kalung buatan saya, blogpostnya masih ada di sini.
Dari jualan itu saya bisa beli Blackberry Javelin sendiri. Harganya Rp 3,8juta tahun segitu mahal kan ya hahahaha Saya juga banyak temenan sama pelanggan dan sama-sama sis online shop. Karena dulu fanpage itu nggak bisa message! Jadi kalau mau chat sama calon pembeli, ya mereka harus add Facebook pribadi/Yahoo! Messenger saya atau ngobrol di Twitter. Atau ya smsan pake nomer Esia ahahahaha.

masa-masa beli cottonink yang bales carline herself. :D

Tapi yang menohok dan jadi trigger blogpost ini bukan tentang saya jualan. Tapi tentang ol shop "angkatan saya" dulu yang sama-sama minta support Diana. Ya nggak semuanya masih ada sampai sekarang juga sih, tapi banyak yang sekarang jadi nama besar.

Ada Mannequin Plastic yang wow banget sekarang udah buka counter di PIM dan Lotte Shopping Avenue lewat PINX PROJECT. Ada Wondershoe yang legend banget karena punya flat shoes ukuran besar. Sampai Cotton Ink yang dulu masih jualan di blogspot dan jualannya cuma cotton shawl 60ribuan (saya punya empat hahahah). Di luar itu ada idekuhandmade yang masih buka workshop bikin bantal kain perca yang legend berbentuk owl hahahaha. Sweet old times. :')

fringe shawl dan acid wash dari cotton-ink

Kalau lagi nostalgia gitu mau nggak mau mikir, kok gue nggak seriusin di situ sih? Kesel banget, coba kalau diseriusin mungkin sekarang udah jadi apa. (APA?) Ya mungkin udah punya store atau brand sendiri.

Tahun lalu ini jadi masalah inferiority yang besar banget lho. Ditambah dulu kerja di detikcom di mana saya punya akses ke artis-artis Korea sampai dibikin buku segala saking jarang terjadinya itu pengalaman. Semua orang iri, semua orang histeris tiap saya foto atau live tweet lagi ketemu atau interview artis Korea.

Saya mungkin nggak pernah cerita ini detail tapi tahun lalu itu saya jadi punya anxiety problem di mana saya terus-terusan ngerasa "kurang". Dulu gue bisa gini kok sekarang nggak bisa, dulu sekeren itu kok sekarang nggak, dulu orang banyak yang iri sama hidup gue kok sekarang gini-gini aja. Bisa sampai nggak bisa tidur mikirin hal itu.

Dan itu terjadi berbulan-bulan, lama sekali. Kalau kalian notice sih sebenernya waktu itu blogpost saya cuma sekitaran inferiority, bersyukur, dan seputar itu padahal dalam kenyataannya saya sendiri struggling tentang masalah itu. Untung punya geng kesayangan yang selalu support dan selalu dengerin keluhan-keluhan seputar inferiority problem saya. Love you gengs. :*

Perasaan inferior itu perlahan hilang setelah saya bertekad harus belajar skill baru biar nggak inferior lagi, mulailah saya gambar. Gambar itu relaxing banget dan pelan-pelan anxiety itu hilang sampai sekarang hilang sama sekali. Kadang masih ada sih tapi nggak parah sampai nggak bisa tidur lagi.

Karena udah berlalu, saya jadi bisa mikir jernih bahwa kadang (atau malah seringnya) kita memang fokus pada apa yang nggak kita capai, nggak fokus pada apa yang udah jadi achievement kita. Kalau dipikir-pikir lagi, ya wajarlah saya nggak punya brand karena dulu juga itu sampingan banget kok. Cuma biar punya uang dan ya seru-seruan aja.

Karena hobi crafting maka bikin kalung, main Polyvore, main Looklet, itu setara dengan nonton series Gossip Girl dan Heroes. Bukan sesuatu yang saya seriusin apalagi dibikin plan. Ya menang kompetisi alhamdulillah, banyak yang beli ya wajar karena emang diusahain marketingnya kan, tapi nggak pernah punya plan untuk jadi bisnis.

Lalu apa yang saya seriusin dan bikin plan? YA NULIS.

Coba cek resolusi tahun 2009 yang pernah saya bahas di sini. Sama sekali nggak ada tentang ngembangin bisnis, adanya ya jadi kontributor Gogirl! yang mana ya tercapai juga kok. Semua plan hidup saya sejak SMP memang melulu tentang nulis. Mau masuk SMA IPS biar kuliah jurnalistik adalah salah satu plan tentang nulis yang udah di-set sejak muda.

Waktu masih seneng baca teenlit, saya bertekad suatu hari harus nulis dan diterbitkan GagasMedia. TERKABUL JUGA. Buku pertama saya diterbitkan GagasMedia. Nextnya saya mau kerja di media, ya alhamdulillah dong sampai sekarang emang kerja di media terus kan.

Tau-tau udah punya buku kedua, tau-tau blog ini udah 700 posts lebih, saya udah nulis di banyak sekali tempat. Dari yang urusan kerjaan (ya pasti nulis di detikcom mah ya) sampai yang paling random kaya jadi kontributor di Soompi. Pas kerja di The Jakarta Post masih nulis juga di detikcom dan jadi kontributornya Mommies Daily. Lah sekarang malah kerja di Mommies Daily beneran. Nulis banget dan saya suka kok. Kenapa harus inferior?

Itu pertanyaannya.

Kalau kalian nggak pernah mengalami anxiety problem pasti cuma suruh bersyukur tok (dan kadang dengan nada meremehkan huhu). Padahal seringnya sih nggak ada hubungannya. Waktu anxiety itu muncul, boro-boro kepikiran achievement, yang dipikirin adalah kurang kurang kurang terus dan nyalahin diri sendiri.

Kalau kalian lagi ada di posisi saya dulu, HANG IN THERE. Cari teman. Kalian butuh teman, kalian BUTUH dan PASTI PUNYA. Kadang kalau lagi begitu, rasanya kaya nggak punya temen banget kan. Huhu. Cari support system dan kalau bener-bener nggak bisa, kalian harus cari bantuan profesional.

Jadi ya, tahun 2009 adalah tahun di mana saya lagi merangkak menuju peak masa muda di tahun 2011. Habis itu grafik self-achievement memang turun karena nikah dan punya anak, turun sampai minus sampai rasanya saya nggak punya pencapaian apa-apa kecuali mendidik Bebe yang mana itu mah kewajiban dan tanggung jawab ya bukan pencapaian pribadi.

Tahun ini harus jadi tahun berkarya. Berkarya apa aja, kerja yang semangat, nulis sebanyak mungkin, gambar sesering mungkin. Saya sampai beli mesin jahit demi bisa skill baru lagi. Jadi mencoba untuk naikin lagi grafik self-achievement-nya mumpung Bebe udah besar dan udah bisa main sendiri. Saya punya banyak waktu untuk berkarya dan menyeret diri biar nggak leyeh-leyeh terus.

JADI YUK SEMANGAT YUK. Hidup memang naik turun, kalau lagi turun kita mungkin butuh waktu untuk yaaa berdukacita sejenak. Nggak apa-apa sedih asal jangan lama-lama dan selalu ingat kalau semua orang pasti dikasih kemampuan untuk berguna buat orang lain. Kumpulin semangat lagi biar lebih bisa menikmati hidup

2018-nya udah Juni lho ini. Apa aja yang udah dicapai? :)

-ast-


Suamiku Sayang

on
Wednesday, June 6, 2018
GILA CRINGEY ABIS JUDULNYA. Ini saya udah PASTI dinyek banget nih pasti gara-gara judul ini HUHU BIARLAH SEKALI-KALI YA.


Iya jadi akhir-akhir ini saya sibuk banget sampai capek. SIBUK NGETS mana lagi bulan puasa jadi jam tidur keganggu kan mau nggak mau ya ngantuk dan lemes. Dari urusan kantor yang nggak akan pernah selesai, ketambahan urusan buku.

Iya keliatannya saya nggak pantes ngeluh tapi beneran nggak nyangka ngirim-ngirim barang itu melelahkan ya. Untung dari awal kepikiran pake Tokopedia (jangan tanya kenapa nggak pake yang lain ya, we have our own reason, nggak endorse juga kok).

Kebayang kalau nggak pake marketplace, maka kami harus terima order via email/WhatsApp, itung ongkir manual, nunggu orang transfer, terus konfirmasi bayar, terus rekap alamat dan print. Ini karena pake marketplace, saya tinggal print alamat doang kelar.

DIPIKIR CUMA BEGITU. Ternyata tetep capek juga karena harus bolak-balik bawa dari apartemen saya ke apartemen Adit. Naik turun dan masukin mobil berapa kali tuh. 100 buku itu sama sekali nggak ringan lho. Pake travel bag gede aja harus dua biji.

Dari ambil buku dari penerbit, naikin ke dari parkiran ke kamar untuk saya tanda tangan, pack ulang bawa ke apartemen Adit, Gesi tanda tangan, janjian lagi sama Adit, angkut lagi ke apartemen kami, bungkusin, tempelin alamat, kroscek ke data di Toped, packing lagi, ANGKUT LAGI bawa turun ke parkiran untuk dikirim.

Masih juga harus masukin resi satu-satu. Sementara pulang malem terus. Waw sungguh merasa langsung butuh asisten (dan merasa nggak sanggup punya bisnis sampingan lol).

UNTUNGNYA PUNYA ASISTEN. HUHU. KASIAN SUAMIKU ASISTEN YANG PALING CAPEK KARENA BOLAK-BALIK NGANGKUT BUKU. Sampai kemarin pagi pun dia yang bawa ke JNE deket kantor sementara istrinya molor lagi karena ngantuk sumpah.

Padahal di rumah saya juga nggak ngapa-ngapain. Kalian tau kan ustaz-ustaz suka bilang “istri itu tugasnya manager rumah tangga”. Saya literally manage DOANG. Pasti tidur duluan karena dia masih beres-beres atau kalau bulan puasa gini abis subuh saya tidur lagi sementara dia ya beres-beres.

(Baca: Mengatur Keuangan Keluarga)

Sebagai manager, tentu saya manage urusan uang yang bahkan dia nggak pernah tau persis nominal uang kami ada berapa. Yang penting kalau dia mau sesuatu selalu boleh beli (kecuali mintanya Harley wtf). Yang penting makanan selalu ada, gimana pun caranya. Katering atau beli apa aja JG nggak pernah protes kecuali kalau keseringan jajan mahal karena dia takut uang abis hahah. Pagi-pagi saya kasih to do list apapun juga dikerjain.

Saya cuma diminta nyuci. NYUCI ITU MENCET TOMBOL DOANG. Karena yang masukin cuciannya dia, yang jemurnya dia juga, yang ambil dari jemuran dia juga.

Yang masak dia juga, yang cuci piring dia juga, yang beres-beres rumah dia juga. Yang ngomel karena si Bebe berantakin rumah ya dia juga hahaha.

Sampai pada titik saya bilang:

“Sayang akhirnya aku tau pembagian tugas kita, aku berkarya, kamu ngerjain tugas rumah tangga ya?”

HAHAHAHA. #win

Ya iya dong kalau saya nggak berkarya nanti nggak jadi istri membanggakan kan gimana. Bagi JG, punya istri membanggakan itu lebih penting dibanding istri yang ngerjain tugas rumah tangga.

via GIPHY

Dan ya bisa kaya gini karena perjanjian awal sebelum nikahnya emang kaya gini sih. Dia bercita-cita jadi stay at home dad, di rumah beres-beres, masak, main sama Bebe dan nunggu saya pulang kerja.

nyuruh pindah kerja supaya dia bisa ongkang-ongkang dan ngelem alamat pembeli dagangan itu maksudnya *DIJELASKAN*

JADI SEBAGAI ISTRI APA KONTRIBUSINYA? MMM APA YA LOL.

Saya bantu kookkkk bantu banget dengan bacain Bebe buku setiap hari, ngajarin Bebe baca tulis, main sama Bebe, dan ya pokoknya urusan edukatif sama Bebe sih urusan saya karena si Bebe nggak bisa serius kalau sama JG mah.

Alhamdulillah ya ternyata setelah dipikir-pikir ada kontribusi juga lol.

Bersyukur banget punya suami kaya gini. Yang jarang banget berantem dan kalau pun sekalinya berantem nggak pernah lama-lama karena kangen. Nggak lama-lama itu 15 menit doang gengs. Huhu.

Emang kalau sama orang lain dia nyebelinnya sumpah. Suka malu-maluin karena suka nyapa orang nggak kenal di mall sok akrab gitu (Adit yang introvert sampai stres HAHAHA). Suka juga gabung makan siang sama geng orang lain di kantin kantor yang padahal nggak kenal sama sekali.

Suka tiba-tiba joget di tempat umum, dari Bebe awalnya malu dan kesel sama appa sampai sekarang dia ikutan joget juga. Untung sekarang udah nggak suka ngeyel pengen nyanyi di nikahan orang. Dulu suka nyanyi di nikahan orang padahal suaranya fals huhu. Mengapa.

(Cerita lebih detail pernah ditulis di sini: Suami yang Nyebelin)

Saya juga nggak pernah dilarang-larang mau ngapain pun, ya karena saya juga nggak pernah larang-larang. Larang rambut gondrong sih soalnya pasti ketombean jijik huhu. Dan yang terpenting, semua uang dia dari gaji, THR, hingga bonus ya saya dong yang pegang HAHAHAHAHA.

Eh jadi pengen nulis tentang larang-larang ini deh nanti ya. *kebiasaan suka janji-janji pengen nulis apa tau-tau ketumpuk terus lupa lol*

Jangan lupa baca di buku “Susahnya Jadi Ibu” ya gengs. Ada surat menyentuh hati di bagian terakhir untuk suami-suami kami yang selalu full support. *ujung-ujungnya promo lol*

1460, always.

-ast-

Baca cerita lain di Tentang Kami atau When It's Only Jg & AST!


Ponds Age Miracle Wrinkle Corrector Day Cream Review + Event Report!

on
Thursday, May 31, 2018
Ponds Age Miracle Wrinkle Corrector Day Cream Review + Event Report!

[SPONSORED POST]


Cewek-cewek angkatan saya kayanya hampir semua pake Ponds deh ya sebagai skin care pertama. Saya masih inget dulu kelas 1 SMA, sahabat saya panggil saja dia Shanshan selalu nyempetin cuci muka di sekolah saat istirahat kedua kemudian pake Ponds dan seketika wajahnya cerah!


Muka-muka butek anak SMA abis belajar seharian hilang seketika. Dari testimoni dia juga (dan maksa saya coba pake), saya juga jadi beli Ponds White Beauty sampai bertahun-tahun kemudian.

Nah kemarin pas tiba-tiba diundang Clozette Gathering Event: Never Stop Glowing di Wyl’s Kitchen Veranda Hotel, saya jadi teringat masa-masa menganggap Ponds sebagai holy grail. Rada kerasa ditampar juga karena kali ini diundangnya event Ponds Age Miracle hahahaha.



Ya maklum usianya udah bukan 15 tahun lagi ya sis. Udah hampir dua kali lipat ya sewajarnya diundangnya sama range anti aging lol. Jadi ngapain aja saya di event itu?

Acaranya talkshow seputar tips biar kulit selalu glowing meski usia udah nggak belasan tahun lagi. Ini emang nyebelin banget ya. Dulu waktu umur masih early 20, ini kulit cuma cuci muka doang aja kinclong banget nggak ada kerut apalagi flek. Lha sekarang perasaan udah pake skin care segabruk tetep aja flek dan kerutan nongol-nongol juga.

Hadir untuk sharing seputar cara merawat kulit dan membagi waktu dengan keluarga, desainer Jenahara Nasution, presenter Fenita Arie, dan si cantik idola ibu-ibu masa kini Sabai Dieter yang tentu datang bersama Bjorka.



Ternyata problem mereka juga sama-sama aja ya. Kok bisa sih kulit yang dulu nggak kenapa-napa tiba-tiba rasanya jadi butuh perawatan ekstra. Saya relate banget terutama sama Sabai karena ternyata kami seumuran (beda sebulan doang lahirnya), sama-sama punya anak satu, dan sama-sama mikirin skin care jelang usia 30 hahahaa.

Yang jelas mereka semua beberapa tahun terakhir pakai rangkaian produk Ponds Age Miracle yang terdiri dari Cell ReGEN Facial Foam untuk bersihin muka, Wrinkle Corrector Day Cream untuk menyamarkan kerutan, dan eye cream untuk perawatan di bawah mata.

Karena menurut mereka bertiga, kerutan itu harusnya dihindari lho bukannya diobati. Jangan nunggu ada kerutan dulu baru pake skin care, tapi sebelum muncul ayolah dirawat duluan. Biar nggak nyesel yakannn.

Abis itu ada workshop gambar wuhuuuu aku senang! Sama mbak Puri @idekuhandmade ya ampun sungguh excited karena aku ngefans sama dia dari sejak zaman kuliah! Masa-masa di mana mbak Puri masih bikin boneka bantal dari kain perca. Inget banget dulu sempet cool banget boneka owl-nya idekuhandmade hahahaha.



Nah terus aku dikasih juga kan Ponds Age Miracle Wrinkle Corrector Day Cream untuk dicoba di rumah. Gimana reviewnya?



Dari packaging, Ponds Age Miracle ini terkesan mewah banget karena kemasan kaca dengan tutup plastik yang kokoh dan nggak ringkih. Di bagian dalem juga ada penutupnya lagi jadi nggak akan berceceran ke mana-mana.



Oiya buat yang udah lama tau Ponds Age Miracle, varian yang saya punya ini versi terbarunya lho. Kini mengandung Retinol-C Complex yang bisa bekerja 24 jam melepaskan bahan aktif retinol agar kerutan tersamarkan lebih cepat dan wajah tampak lebih muda. Udah ada SPF-nya juga SPF 18++ PA. Tapi untuk yang kerjanya di luar ruangan, tetep tambah sunscreen ya! Ini kan baru day cream aja, akan lebih nampol kalau ditambah sunscreen yang SPF 50++.



Pas dicoba, teksturnya agak thick tapi nggak lengket sama sekali dan cepat meresap. Wanginya lembut banget khas Ponds sejak zaman dulu. Di kulit saya sih nggak bikin kering atau bruntusan bahkan jerawatan. Enak aja kulit jadi lembut dan glowing banget. Liat deh bedanya sisi tangan yang pake dan yang nggak pake.



Karena belum seminggu pake, saya belum bisa bilang efek untuk keriputnya karena nggak ada lho ya skin care yang instan. Kalau instan justru jangan dipercaya nanti malah bahaya.

Buat saya selama day cream ini enak dipake, nggak lengket, dan nggak bikin oily, maka udah cukup banget. Biarkan retinol bekerja dulu untuk beberapa waktu baru nanti kita liat hasilnya. Di klaimnya sih hasil akan terlihat dalam waktu 2 minggu.

Oiya, yang paling penting, day cream ini gampang dicari di mana-mana karena available di supermarket dan drugstore. Suka rada emosi kan ya kalau baca review produk bagus tapi susah dicari.

Kalian ada yang pake Ponds juga sejak remaja? Mana sini ngacung semua! Jangan lupa ganti jadi Ponds Age Miracle ya biar kulit tetep glowing memasuki usia 30 tahun #NeverStopGlowing!

-ast-



DI BALIK LAYAR SUSAHNYA JADI IBU

sesibuk itu sampai ga sempet foto bukunya doang lol

Akhirnya buku aku dan Gesi terbit jugaaa!

*TIUP TEROMPET* *SEBAR CONFETTI*

via GIPHY

Sejujurnya prosesnya lama banget karena jarak memisahkan dan kami berdua sibuk banget. SIBUK BANGET HARUS DI-BOLD.

(Baca cerita Gesi di sini, mungkin lebih detail lol: Lahirnya Buku Susahnya Jadi Ibu)

Mulai omongan awal itu di bulan September 2017 dan baru bulan depannya mulai nulis dikit-dikit tapi belum intens. Bikin kerangkanya aja lama banget karena pengen segala ditulis lol.

Kami berdua berhutang pada Google Docs dan Sheet banget sih karena jadinya bisa nulis berdua tanpa harus bolak-balik email. Dan iyes, kami nulisnya di Google Sheet bukan di Docs karena pusing mikirin ilustrasinya.

Jadi kami nulisnya kaya gini dan surprisingly gampang banget jadinya karena jadi keliatan halaman mana yang masih kosong dan halaman mana yang udah selesai.


Masalah berikutnya juga kami tidak mau melulu bercerita tentang diri sendiri jadi ada beberapa chapter yang dibuat universal. Untuk chapter-chapter itu kami sepakat untuk pake panggilan ayah-ibu instead of mami-papi atau ibu-appa.

Terus apalagi sih yang harus diceritain kalau disuruh cerita proses kreatif itu HAHAHAHA BINGUNG. Abis nggak sempet foto banget nih halaman dalem bukunya. Tar aku share di Instagram aja yaaa.

Intinya kerja bareng Gesi nulis buku ini smooth banget. Kami berdua tipe perencana gitu jadi semua dibuat to do list dan tersusun rapi kusenaaaanggg. Kebayang kalau kerja sama orang yang nggak rapi terus berantakan dan nggak jelas deadline-nya wah bye kayanya nulis gini doang bisa stres.

Terus ini juga buku kedua kami jadi kurang lebih kami jadi punya bayangan kerja bareng penerbit. Jadi nggak blank banget gitu. Dan di era WhatsApp ini betapa enaknya nulis buku bisa ngobrol di group dengan editor dan ilustratornya detik itu juga jadi revisi-revisinya cepet.

Isi bukunya kurang lebih kaya blog aku dan Gesi. Cerita ringan seputar motherhood yang nggak berpihak, no judgment, dan ada komentar dari expert untuk topik-topik tertentu yang memang butuh dikuatkan oleh expert seperti dokter anak atau ahli gizi.

Kalau kata JG sih bukunya seru banget! Sementara saya yang memandang sebelah mata dan komen:

“Iyalah yang nulis istri kamu dan topiknya anak kamu?!” HAHAHAHA

Tapi semoga kalian juga suka ya!

OIYA SOAL ILUSTRATOR!

Awalnya kami mau kerja bareng Puty. Simply karena dia ibu-ibu juga jadi pasti bisa ngerti apa yang kami mau. Tapi dalam perjalanannya kami harus berpisah ahahahaha karena ya kalian cek aja deh Instagram Puty, sungguh bertolak belakang sama aku dan Gesi kan.

Puty itu ilustrasinya simple, rata-rata two tone gitu dan cuma sesekali gambar full color. Nggak sesuai dengan gaya aku dan Gesi yang colorful banget. Jadi pas Puty kasih contoh halaman yang udah diilustrasi kami yang “sepi ya”.

Terus Puty revisi dan dibikin rame dan komen kami masih tetep “mmm, sepi ya” HAHAHAHA Emang beda selera tandanya ya. Jadi kamu pun berpisah for good. Karena kalau dipaksain takutnya Putynya nggak hepi karena maksa keluar dari style dia dan kami berdua pun tentu tidak hepi karena nggak sesuai dengan style yang kami mau.

Abis itu bingung selama sekitar 2 minggu untuk cari ilustrator pengganti. Sampai akhirnya editor kami menyebut nama Frans dan saya seneng banget karena udah lama banget follow Frans!

Long story short akhirnya kami kerja bareng Frans yang baru aja lulus kuliah (apa masih kuliah ya kok lupa lol) dan lama lama lama lama lama, revisi ini dan itu banyak banget sampai akhirnya selesai.

TERUS SIBUK LAGI.

TERUS LUPA KALAU LAGI NUNGGU BUKU TERBIT.

Minggu lalu Gesi tanya ke editor kapan bukunya terbit dan dijawab ... “Senin 28 Mei udah ada di Gramedia”


LAHHHH KAPAN PO-NYA KALAU GITU? AHAHAHAHAHAHA.

Iya awalnya kami rencana PO dengan dua merchandise khusus. Satu bikin sendiri satu lagi disponsorin Kawung Living. Karena udah lewat dan nggak keburu PO, akhirnya kami bikin special offer deh.

Ini dia special offernya. Bisa dibeli langsung di Tokopedia paling lambat tanggal 7 Juni dan selama persediaan masih ada.


UPDATE: Saya nulis ini kemarin sore sebelum special offer. Special offer dibuka jam 7 malem untuk 90 buku dan habis dalam 7 jam aja jadi yaaaa ... habis. MAKASIH BANGET SEMUA YANG UDAH BELI YAAA!

AYO DIBELI! UDAH ADA DI GRAMEDIA HARGANYA RP 75RIBU AJA! CUS! Atau bisa juga klik link ini ya!

-ast-