-->

Image Slider

A Cancelled Plan

on
Thursday, January 9, 2020

Wow I’m writing this while crying with relief hahahahaha.

Akhir 2019 dilewati dengan hari-hari menegangkan JG mau pindah kerja. Ya it’s time sih, udah 7 tahun di kantor yang sekarang. Karier naiknya pelan, pelaaannn banget. Kerjaan juga rasanya gitu-gitu aja.

Saya juga ngerasa ini sih waktunya dia untuk “gerak” pindah dari comfort zone dan kejar sesuatu untuk diri sendiri. Cari hal yang bisa bikin diri sendiri bangga dan punya pencapaian baru.

Karena selama ini yang dikejar pencapaiannya itu selalu saya. Saya mau ngapain lagi nih? Saya ambil sertifikasi apa? Saya kejar passion dengan cara apa lagi nih? Saya belajar apa lagi? Bertahun-tahun JG cuma supporter doang. Sebagai kaum non-ambis, dia nggak masalah dan senang aja jadi supporter.

Tapi sebenernya deep down saya juga pengen dia ketemu tantangan baru, orang-orang baru, networking baru. JG juga sebetulnya jenuh, lalu daftar untuk workshop broadcasting. Enam minggu ke depan dia akan workshop tiap Sabtu untuk sesuatu yang dia suka banget. Dan akhirnya mulai beresin LinkedIn.

Mulai aktif sampai tawaran kerja datang via LinkedIn bulan November. Interview lancar, nego gaji mayan alot, minggu kemarin medical check up dan lancar, proses ini itu, hari ini jam 10 tanda tangan kontrak. Gaji naik sekitar 36%, not bad sebetulnya menurut kami.

Perusahaannya lebih besar, pindah industri memang. Di industrinya, dia nomer 1 di Indonesia, multinational company, lebih besar dari company sekarang. Akan banyak belajar hal baru, dijanjikan akan banyak training (we’re that kind of people that super excited about trainings!), dan banyak hal lain.

Saya full support dan udah punya plan B serta C. Udah punya rencana ini itu karena (nah ini karenanya penting banget) karena di kantor yang baru posisinya asisten manager dan sudah diwanti-wanti dari awal kalau kerjanya mungkin tidak akan 9 to 5. Sabtu Minggu bisa jadi masuk jika diperlukan. Iya sih lembur dibayar full.

Plan A saya tentu tidak ada perubahan, saya tetep kerja, JG tetep anter jemput Bebe kaya biasa. Tapi kalau pulangnya malam terus?

Plan B saya yang anter jemput Bebe dan masih tetep kerja. Kalau ternyata capek?

Plan C saya resign jadi saya bisa fokus cuma anter jemput Bebe aja sambil mengerjakan hal lain. Udah banyak yang saya rencanakan sih. Agak nervous tapi yang konstan dalam hidup cuma perubahan, kan?

Intinya, saya menyambut 2020 dengan siap menyambut perubahan.

Plan C ini bikin JG misuh banget. Dari cuma “apa otak kamu bisa tetep kepake kalau resign?” atau “kamu bisa emang nggak ketemu orang lain dan di rumah aja?” sampai “hah udalah nanti kalau kamu resign nanti jadi rese”.

YA TERUS GIMANA?

Intinya kan yang terdampak dari perubahan ini tetep Bebe dong. Nggak mungkin saya sibuk kaya sekarang lalu JG lebih sibuk? Bebe gimana?

Tapi pemikiran resign ini diabaikan. Saya berkali bilang:

“Aku tuh terserah kamu lho, aku 80% ok kamu pindah tapi kalau kamu berat ya nggak apa-apa nggak pindah juga”.

“Aku yakin kita nggak akan menyesali ini kok. Pindah nggak boleh nyesel, nggak pindah juga nggak akan nyesel. Kita jalanin aja sama-sama.”

EH DIJAWAB DENGAN:

“Ya aku tuh bingung mau ambil atau nggak karena kamu bilang terserah. Kamu dong putusin ambil atau nggak.”

T________T

Bahkan mengambil keputusan pekerjaan pun harus saya yang mutusin. Ya kalau keputusan saya sih ambil aja, why not?

(Tentang JG yang susah ambil keputusan ada di sini ya: Anak dan Pengambilan Keputusan dan tentang Bebe yang bisa banget ambil keputusan di sini: Anak yang Bisa Mengambil Keputusan)

Sampai sore kemarin sebelum pulang kantor, JG chat sama temen kami yang memang udah lama banget kerja di industri yang sama dengan calon kantor baru. Satu kalimat yang langsung dheg adalah … “akan hectic kerjanya, nanti playtime sama Xylo berkurang”.

Ini kondisinya saya masih di kantor, JG telepon dan ceritain chatnya. Begitu nama Xylo disebut saya langsung galau. Saya langsung pengen merosot ke lantai dan “plis banget aku jadi 50:50 apa kamu perlu pindah?”

“Apa worth it?”

“Aku pengen kamu berkembang juga, punya sesuatu yang bisa kamu ceritain juga. Tapi, apa perlu?”

T________T

Perjalanan pulang dari kantor ke rumah dihabiskan dengan ngelamun. Mana dingin banget AC mobilnya dan terlalu malas minta bapak drivernya kecilin. Saya mikirin banget segala yang terjadi 5 tahun belakangan.

Makan malem itu kami bertiga mellow sekali. Saya tanya Bebe “Mau nggak pulang sekolah nggak dijemput appa?” Bebe jawab “kan bisa sama ibu”. Saya bilang “tapi setiap hari appa nggak jemput dan pulang malem?” Bebe nunduk sedih dan bilang “no no no”.

via GIPHY

Selama ini hidup kami baik-baik aja karena kondisinya seperti ini. Bebe tumbuh baik-baik saja. kami tidak kerja mati-matian lalu tidak punya waktu untuk dia. Kami kerja dengan waktu fleksibel, selalu punya quality time dan makan malam bersama, selalu punya weekend kruntelan bersama. What a privilege.

Kami menjalani hidup sebagai orangtua yang kompak dalam segala hal. Bebe tidak berat sebelah, Bebe akrab dan dekat dengan kami berdua. Tidak masalah kalau harus hanya bersama appa atau hanya bersama ibu. JG bisa meng-handle Bebe sebaik saya. Dalam kondisi apapun, pada Bebe, kami satu suara sebagai orangtua.

Kami menjalani hidup sebagai suami istri yang seru sekali dan masalah yang muncul sangat-sangat sedikit. Ya karena komunikasi lancar dan waktu berkualitas yang memang banyak. Apa perlu ini diubah demi tantangan baru? Demi pencapaian baru?

Dengan risiko waktu bersama Bebe akan berkurang? Dengan risiko tidak bisa main saat weekend karena lembur? Dengan risiko tidak bisa anter jemput Bebe padahal itu adalah bonding time antara Bebe dan appa? Dengan risiko tidak bisa main-main ke mall berdua Bebe sepulang daycare dan tidak bisa main nintendo bareng saat weekend?

Iya kalau tantangannya hanya di kantor, kalau tantangannya jadi masalah keluarga gimana? Ah, udalah kami terlalu takut ambil risiko itu.

Pagi ini saya chat di group keluarga, mengabarkan kalau pekerjaannya tidak jadi diambil. Ibu saya bilang “Kebersamaan bersama keluarga itu yang lebih mahal. Waktu sama anak yang mahal. Nggak akan terulang lagi. Nggak terasa sekarang aja udah mau SD”.

MAKIN AMBYAR NGGAK?

NANGIS. :(((((

Dulu sering banget denger kata-kata kaya gitu tapi nggak pernah tersentuh karena nggak mengalami. Sekarang begitu hampir mengalami rasanya baru sadar "oh ini maksudnya, ini maksudnya waktu tidak bisa diulang". :')

So here we go, kembali ke rutinitas biasa lagi. Rencana A B C batal semua dan ternyata jadi lega sekali. Uang bisa dicari, tapi waktu nggak bisa kembali. Kesempatan karier mungkin nggak datang dua kali tapi hari yang dilewati sekeluarga pun nggak bisa diulang lagi.

Semoga rezeki uang datang dalam bentuk lain ya! Rezeki waktu tinggal kami syukuri saja. :)

PS: Memang sepertinya saya akan rese kalau resign hahahaha.

-ast-




Hello, 2020!

on
Tuesday, January 7, 2020
Yailah masih aja postingannya tentang tahun baru ya ahahahaha.



Dalam rangka memaksa diri nulis blog lagi nih karena kok yang baca masih lumayan banyak ya? Terkejut karena setelah nggak rajin nulis blog lagi, ikut nggak rajin juga cek page views-nya. Ternyata tiap postingan masih cenderung stabil dibaca orang. Satu kata: TER-HA-RU. T______T

Lebay ah biar. Yang jelas diniatin lagi lah untuk nulis lagi keseharian biar bisa dibaca lagi suatu hari nanti.

Seminggu pertama di tahun 2020 dilewati dengan berbagai hal. Malam tahun baru di rumah mertua, paginya niat kuat untuk pulang subuh dari Bandung biar nyampe Jakarta jam 8 pagi gitu. Nggak tau kalau Jakarta seharian hujan deras karena di Bandung sih chill aja, hujan-hujan kecil gemes doang.

Nyampe tol lancar jaya, nggak lewat tol baru karena ya udalah kalau di bawah lancar kenapa harus naik segala? Taunya di km 33 disuruh ke luar tol karena tolnya banjir. Mulai panik, eh apa se-Jakarta banjir ya? Cek Twitter, IYAAA SE-JAKARTA BANJIR HUAAA.

Lalu masih di Cibitung tuh muter-muter pake Google Maps karena baru jalan sekian ratus meter, jalannya banjir nggak bisa dilewatin. Puter balik lagi, reroute GMaps lagi. Jalan lagi sekian KM, jalannya banjir lagi. Yha jujur nervous karena takut mesin mobilnya mati di tengah banjir di wilayah yang kami pun entah nggak tau namanya apa.

Untung banyak orang baik, di satu titik di mana banjirnya nggak terlalu dalem, warlok (warga lokal fyi) yang jaga-jaga jalanan tuh bilang ke kami “pak, AC matiin, stabil aja jalan terus yah ikutin mobil itu”. Mobil depan kami mobil boks, sementara kami pake sedan, pinjem mobil ayah karena Karimun lagi dicat di Bandung.

(Baca: Tentang Karimun)

Terpanik karena merasa banjirnya lebih tinggi dari pintu mobil dan cipratan airnya tuh beneran ke kap banget saking tingginya itu banjir. Saya beresin barang-barang di lantai mobil dong karena takut air rembes masuk. Mesin juga jalannya lambat dan hanya ngegerung (HALAH APAAN SIH BAHASA INDONESIANYA TUH) tapi akhirnya lewat.

T________T

Lalu muter-muter lagi dan jam 10an tuh stuck. Semua jalan yang diarahin GMaps banjir tinggi semua sampai nggak bisa dilewatin. Mampir dulu ke minimarket beli cemilan karena takut banget akan seharian di jalan dan saya mulai browsing hotel zzz. Ya udalah kalau emang nggak bisa pulang kan mending di hotel aja, mobil parkir kita bisa tidur siang atau Netflix-an. Pulangnya nanti kalau banjirnya udah surut. Soalnya sepanjang jalan pun hujan kan, gimana bisa banjirnya surut.

Akhirnya kembali ke masa lalu dan nanya-nanya orang di pinggir jalan, arah ke Jakarta ke mana. Dikasih tau orang tapi tetep ada area banjir dan JG tanya lagi ke warlok yang jaga dan terjadilah percakapan ini.



ASLI MAU NANGIS. Tapi mungkin dengan kekuatan doa lewat juga sih itu banjir. Kemudian jalan di GMapsnya biru semua dan saya pun ketiduran. Bangun-bangun udah nyampe apartemen.

Harus ditulis juga supaya ingat kalau hari itu saya lagi mens. Dan karena di Bandung nggak ada kegiatan, makan juga nggak jelas (alias makan mulu sampai naik 2 kg), saya mensnya sakittt banget. Sakit perut banget dan rasanya kaya sembelit. Padahal biasanya mens tuh jadi diare kan, ini jadi sembelit hhh. Sampai Jakarta nyari-nyari yang jual YLEO Digize karena di rumah abis, susah banget, semua orang kebanjiran. Baru dapet jam 10 malem itu pun dari followers di IG yang kebetulan punya stok di rumah. T______T

What a day. Kebayang yang rumahnya banjir sampai airnya masuk atau mobilnya ngambang-ngambang huhu. Semoga diberi rezeki untuk kuat bebersih atau bayar orang bebersih ya. AAMIIN!

Lalu karena banjir, daycare mendadak diliburkan dua hari. Yang seneng siapa? Bebe karena bisa ikut appa ke kantor. Ibu juga senang karena akhirnya bisa lepas dari Bebe setelah hampir 2 minggu gelendotan terus astaga pegelnyaaa.

Jam 3 sore JG nelepon, katanya Bebe demam lagi nih. Yah, saya jemput deh akhirnya dan emang iya dia sumeng. Malem sebelumnya juga emang panas sampai 38 gitu. Tapi mikirnya mungkin kecapean kan lama di jalan jadi ya udah.

Sabtu-Minggu dilalui dengan bahagia. Hari Sabtu dihabiskan dengan menyulam berdua JG. IYA KAMI MENYULAM. JG menyulam sepatu Vans pink dia dengan bunga daisy karena beli Air Force One Peaceminusone terlalu mahal lol. Saya menyulam dan DIY 2 kaos. Seneng banget, quality time dan fokus no gadget Saturday. Hanya Bebe yang main Minecraft karena yha kalau dia tidak pegang gadget, kami dong yang harus ajak dia main. HAHAHA.



Hari Minggunya main ke rumah sepupu yang punya bayi. Puas ngobrol dan ketawa-tawa. Seninnya kembali kerja, Bebe kembali ke daycare. Seneng banget dia karena akhirnya kembali ke rutinitas.

Duh, liburan lama kaya gini tuh emang bikin pusing ya. Guilty karena Bebe jadi screen time setiap hari. Mana bokek pula karena jajan dan belanja terus hahahaha. Untung dari awal udah ambil cash untuk sebulan jadi pulang liburan tidak pusing nunggu gajian.

Anyway itulah summary dari 7 hari pertama di 2020. Hopefully there will be so many new things in 2020 we’re ready to welcome all!


Semoga selalu jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga bagimu riang dan senang. Kalau pun hadir halang rintang, semoga bisa dihadapi dengan sehat dan dijalani dengan tenang.

Selamat menjalani 2020!

-ast-




2019

on
Wednesday, January 1, 2020
Waw, 2019 jadi tahun blogpost tersedikit. Agak lucu karena di 2018 saya niat banget pengen Instagram bisa swipe up biar bisa share postingan blog di IG.


Kenyataannya setelah bisa swipe up, malah rajin nulis di IG story dan jarang blogging huhu sedih banget. Ditambah kerjaan di kantor sekarang nulis ya makin-makin males nulis di blog. Baru kerasa tahun ini nggak bisa tracking sejarah hidup apa-apa karena duh semua malah ditulis di story. Nggak bisa search by keyword emosyyyy sama diri sendiri yang kurang niat nulis blog.

Manusia memang sumber ketakbersyukuran, taking things for granted huft

T_______T

Tapi ya udalah, sering share di story followers nambah 2 kali lipat dalam setahun. Tetep belum buanyak banget sampai ratus ribu. Tapi emang sharing saya kan niche banget gitu kan kalau dipikir-pikir. Nggak mellow, nggak puk-pukin orang, nggak suka bahas keramaian, yang ada orang baper karena saya omelin "salah sendiri" mulu hahahahahuhuhu.

Gimana 2019-nya? Alhamdulillah jadi tahun yang semakin stabil. Dibandingkan dengan 2018, tahun ini iya capek tapi puas sih. Nggak galau lagi sama hidup, nggak marah lagi, tahun yang baik-baik saja. Senang sekali rasanya setelah 2 tahun terakhir rasanya kok berantakan banget hidup saya tuh huhu.

(Baca: The Scary, Scary Adulthood)

Dari percakapan dengan JG kemarin, sepertinya saya udah adaptasi. Jadi awalnya ngomongin stay at home dad yang profilnya ditulis di Mommies Daily, terus jadi bahas betapa dulu kami maunya JG jadi stay at home dad dan saya pursue karier gitu.

Pada masanya, itu adalah rumah tangga dambaan kami berdua. Rumah tangga yang sesuai passion masing-masing. Dulu saya suka kerja di kantor, punya tim, dengan KPI ini itu, yang disuruhnya 100% saya kasih 120% lol ngerepotin diri sendiri sukanya tuh. :'))

Lalu JG yang suka sekali ngerjain kerjaan rumah tangga. Yang passionate sekali pada parenting sampai di kantornya suka ngasih saran-saran parenting gitu pada yang bertanya hahahaha. Yang maunya di rumah aja ngurus rumah dan nunggu saya pulang kerja.

Mimpi yang ternyata saya paksa kubur dalam-dalam saat Bebe lahir karena saya tidak mau kehilangan masa kecilnya. Mimpi yang mungkin bisa saya raih dengan berbagai kesempatan yang sebenarnya muncul dari beberapa tawaran interview di LinkedIn namun saya abaikan dengan tangis berderai-derai.

(Baca: Untuk Kalian, Ibu-Ibu yang Baru Saja Melahirkan Anak Pertama)

Prioritas saya anak dulu, Bebe dulu, sepenuh yang saya bisa, sejauh yang saya mampu. Dan ternyata saya tidak menyesal. Bebe tumbuh seperti yang saya bayangkan, yang saya inginkan, tidak pernah merasa dia kurang suatu apapun, I’m really proud of him.

Apakah kalau dulu saya pindah kerja dan kejar karier Bebe akan seperti ini? Ataukah ada hal-hal yang jadi saya sesali karena saya kehilangan waktu belajar jadi orangtua dan memilih bekerja demi pencapaian saya sendiri?

Waktu untuk mengejar karier hilang, usia saya juga tidak berkurang, Tapi waktu untuk Bebe tumbuh besar juga kan tetap berjalan, usia dia semakin besar dan saya trust issue saya terlalu parah jadi tidak percaya dia dibesarkan siapapun kecuali saya sendiri.

Lagipula saya kan bisa 100% fokus pada Bebe itu karena kantor adalah jadi support system yang baik. Yang tidak terlalu peduli pada izin anak sakit tanpa memaksa ambil cuti. Yang mengerti kalau anak itu prioritas utama bukannya deadline kerjaan.

Dua kantor saya selama saya bersama Bebe, sadar benar bahwa saya adalah ibu dan mereka sangat menghargai itu. Saya juga tahu persis kalau ini privilege. Kemewahan yang tidak dengan mudah didapat di kantor lain. Meski mungkin di kantor lain jabatan saya bisa lebih baik atau gaji saya bisa lebih tinggi.

Yah, namanya manusia, survival mode utama kan adaptasi ya. Secara nggak sadar ketika saya marah sekali pada hidup di tahun 2015-2017 itu pelan-pelan saya adaptasi. Dan ternyata perjalanan adaptasi ini bikin perubahan besar. Saya jadi nggak ngoyo lagi kejar karier dan udah nggak pengen JG stay at home dad hahahaha.

Jadi nggak yakin apa saya bisa dengan single income dari diri saya sendiri? Saya maunya double income aja tapi kami sama-sama kerja dengan prinsip work life balance. Daripada single income tapi salah satu kerja terus kannn.

Dalam proses adaptasi itu saya cari hal lain yang bisa bikin saya tetap merasa berkarya tanpa karier di kantor. Saya nulis blog banyak sekali, saya belajar bikin konten di YouTube, belajar makeup, sampai belajar gambar di 2018 dan surprisingly mengembalikan kepercayaan diri.

(Baca: Mengapa Menggambar)

Di 2019 saya dengan percaya diri bisa bilang saya BISA gambar. Masih terus belajar karena siapa sih yang tidak? Hidup kan memang terus belajar, tapi saya bisa.

Untuk ulang tahun Bebe yang kelima saya menggambar satu buku ilustrasi tulisan saya sendiri, dengan gambar saya sendiri. Buku itu dijual dengan sistem buy 1 donate 1, terjual 250 buku dan menyumbang 250 buku ke Taman Bacaan Pelangi dan berbagai PAUD di Jakarta dan Bandung.

Bangganya luar biasa, saya yang seumur hidup yakin tidak bisa gambar, tiba-tiba jualan buku! Ya meskipun cetak sendiri bukan lewat penerbit ahahaha.

Capeknya juga ya ampun, jual 250 buku di Tokopedia, print alamat sendiri, bungkus sendiri, jalan ke JNE sendiri. Nyerah banget lho cuma berdua beginian sampai pengen bayar mimin akutuh tapi kan ini project charity jadi uang dari manaaaa bayar mimin?

Iya udah bikin buku tapi tetep nggak mau ambil job gambar. Karena sejauh ini, gambar bikin rileks dan senang, nggak mau dihancurkan dengan ambil job dengan deadline, nanti jadi nggak happy lagi gambarnya.

Selain buku, saya juga bikin gif di Instagram Story! Nggak niat apa-apa, lebih karena kepo aja katanya approvalnya susah blablabla. Saya nggak susah sih, cuma sekarang udah nggak muncul lagi hahaha. Mungkin karena nggak di-update dengan gif baru jadi ya ketumpuk gif lain.

(Baca: Kenapa Ortu Zaman Dulu Anaknya Banyak)

Lalu di pertengahan tahun sedikit dikecewakan orang. Janjinya mau diajak ke satu negara terus dicancel begitu saja padahal udah ambil cuti hhh. Mana cutinya pake sistem kan jadi kalau udah di-approve semua ya nggak bisa cancel.

Rewel lah ke group ngajakin siapapun yang bisa diajak jalan. Cus ke India. Hahaha. Sungguh random.

Nggak nonton film India, nggak ngikutin penyanyinya juga, tau-tau ada di sana dan seru banget sihhh. Harus diagendakan pergi jauh ke tempat random bersama teman tuh. Jangan Singapur lagi Singapur lagi hahahaha.

Di pertengahan tahun pengen ambil sertifikasi tapi apa ya? Setelah ikut kelas financial planning di kantor, tercerahkan kalau saya kayanya passion nih soal personal finance dan mau ambil CFP. Ngomong di group, mbawin juga mau tapi nyari di Medan nggak ada. Jadilah sama-sama ambil di Jakarta di bulan Agustus.

September-Oktober leyeh-leyeh, November ujian CFP dan lulus! Di bulan yang sama, juga keliling cari sekolah cadangan 2 dan 3 untuk Bebe. Di minggu saya ujian, juga dilewati sambil Bebe tes SD. Stresnya ampun sampai rasanya ngambang banget.

Terbayar dengan jadi pembicara soal finance pertama kali bareng Bareksa. Lalu mulai kulwap-kulwap yang sangat menyenangkan karena sharing masalah sama mbawin. Kebayang kulwap sendirian dan harus dengerin masalah keuangan sebanyak itu orang hadeh bisa-bisa saya yang ikut stres hahahaha. So far udah kulwap 5 kali masing-masing 100 orang dan masih ada 800 orang waiting list!

Di Desember, liburan ke Singapura sekeluarga, Bebe dan JG nonton Monster Jam Live sementara saya leyeh-leyeh. Di bulan ini juga masih banyak event sampai rasanya tiap hari cuma makeup dan hapus makeup aja. Akhir tahun di Bandung, leyeh-leyeh, jajan, belanja. WHAT A YEAR!

Ada satu target nggak tercapai sih yaitu followers IG 50ribu LOL. Tapi tahun kemarin itu saya nggak punya banyak resolusi berarti selain followers. Nggak merencanakan bikin buku apalagi ambil CFP. Jadi ya udalah followers bisa nyusul kapan-kapan hahaha.

Penting amat jumlah followers? Iya penting banget biar sekali sharing tuh yang denger langsung banyak. Biar kerasa ngasih impact gitu ahahaha. Plus biar rate card naik juga kan. EH ADUH LOL.

Dulu terobsesi page views, sekarang terobsesi jumlah orang yang share postingan saya di IG HAHAHA. Sungguh saya nggak merhatiin likes, lebih senang lihat seberapa banyak yang share ke temennya atau share ke story. Kaya lebih bermakna gitu. :’))))

2020 sepertinya akan banyak kejutan. Ada beberapa hal yang belum bisa saya share dulu karena belum pasti. Yang pasti, saya udah cicil buku. Beberapa halaman saya gambar dari awal karena nggak puas sama yang sebelumnya. Meskipun nggak ada jaminan saya puas juga sama yang sekarang juga sih. Tau banget sama diri sendiri, susah puas huhu.

HAPPY NEW YEAR!

-ast-




Bebe Masuk SD: Trial & Wawancara

on
Monday, December 16, 2019
Kemarin di postingan sebelumnya udah dijelasin singkat kan ya tentang gimana Bebe bisa dapet trial. Bener-bener harus bayar di menit awal-awal banget. Nah, sekarang saya mau share pengalaman trial dan observasi masuk SD di Jakarta.

Selfie di taksi dengan appa dicrop karena biar landscape :))))
Balik dikit ke soal bayar trial, pas ketemu ibu-ibu lain juga mereka bilang emang langsung bayar di menit awal, soalnya anak daycare-nya Bebe yang mau bayar di hari ketiga pendaftaran jadinya udah nggak bisa padahal pendaftaran dibuka selama 3 hari. Karena kuotanya abis gitu lho, jadi yang bisa ikut trial juga terbatas.

Persiapan trial SD

Setelah bayar, nggak lama langsung dapet email tentang trial ngapain aja dan apa aja yang perlu dibawa saat trial. Ini saya copas aja ya dari suratnya, terlalu malas menulis ulang.

09.00 – 11.00: Trial Session (for student only) in classroom.
09.00 – 11.00: Focus Group Discussion (for both mother and father)

Things to bring :
1. For your child: Water Bottle, Snack, and spare clothes (underwear, shirt and pants).
2. For parents: Please download, complete, and bring the hard copies of these following documents.

Kindly check the availability of both mother and father to come on our scheduled trial date as we do not apply any policy for trial rescheduling.

Dokumennya itu tentang lingkungan kehidupan anak dan surat pernyataan orangtua. Yang lingkungan kehidupan anak detail banget sih sampai bisa tengkurap umur berapa? Duduk umur berapa? Lancar bicara? Mengenal warna?

Akhirnya ngerasa berguna juga nulis milestone Bebe pas bayi di blog karena jadinya bisa jawab pertanyaan ini dengan tepat dan nggak “KAYANYAAAA …” LOL. Lalu ada list sifat anak, keadaan fisik dan kebiasaan harian.

Apa masalah yang sering dihadapi anak di rumah? Dalam pergaulan? Apa yang dilakukan anak saat waktu luang? Bagaimana mengajarkan kemandirian? Bagaimana menerapkan kedisiplinan? Apa tantangan ortu dalam membesarkan anak?

Cincailah ya *SHOMBONG ANDAHHH*. Hari-hari banget kayanya akutuh di kantor nulis parenting, di IG nulis parenting, ya udah gitu aja kaya sharing biasa isi dokumennya.

Pengumuman trial ini di 5 November, trial di 16 Desember. Kami punya 9 hari untuk mempersiapkan diri dan sounding pada Bebe.

Sounding pada Bebe

Sejujurnya ibu dan appa juga deg-degan banget karena sebagai anak yang slow to warm up, ya pasti Bebe butuh waktu lah untuk nanti mau jawab pertanyaan, mau disuruh ini itu, dll.

Mana yang bikin deg-degan adalah kami berpikir Bebe akan masuk kelas sendiri dan parents (both) akan di kelas terpisah. Karena kan di suratnya begitu kan. (Ternyata kami salah lol nanti cerita sesuai kronologi ok).

Bebe pasti merasa tidak adil karena dia suka gitu, jealous kalau ibu dan appa berdua sementara dia sendiri. Mempertanyakan "kenapa aku sendiri? Kenapa ibu dan appa berdua" :( Sedikit panik juga karena diceritain temen kantor, anaknya setipe sama Bebe, slow to warm up dan in the end ibunya harus ikut masuk kelas selama trial HUHU AKU NGGAK MAU BEBE BEGITU. :(

Daftar sounding pada Bebe yang tiap saat diulang:

Dalam kekhawatiran dia tidak mau masuk kelas:

“Kamu akan masuk kelas bersama anak-anak lain. Aku dan appa akan masuk kelas lain dengan ayah ibu lain. Aku dan appa deg-degan lho karena akan dites juga. Kamu deg-degan nggak?”

Dalam kekhawatiran dia tidak mau disuruh baca/tulis/hitung/mewarnai/dll karena takut di tempat baru:

"Merasa takut itu boleh karena kamu kan tidak kenal sama missnya. Baru pertama kali juga ke ruangannya. Jadi tidak apa-apa kalau merasa takut tapi kalau missnya tanya kamu jawab ya! Kalau tidak tahu bilang 'tidak tahu' ya, Xylo!"

“Xylo, miss di sekolahmu sekarang sudah tahu kamu bisa baca, menulis, mewarnai. Tapi kalau miss di SD kan belum tahu kamu bisa. Kalau kamu tidak kasih lihat, missnya tidak akan tahu kalau kamu bisa. You have to prove it ok!”

Dalam kekhawatiran dia cranky karena laper/ngantuk:

“Xylo nanti sebelum tes kamu harus tidur lebih cepat dan harus sarapan biar kamu kuat”

Dalam kekhawatiran dia tidak diterima:

“Kalau kamu tidak diterima itu bukan salahmu kok. Selama kamu sudah berusaha, tidak diterima tidak apa-apa. Ibu tidak marah, tidak sedih. Kita akan cari sekolah lain yang juga seru ok.”

Bebe tuh sempet bilang “ibu, aku takut nggak keterima” terus aku lil cry karena duh mungkin dia merasakan anxiety aku dan JG yang emang takut nggak keterima huhu. Plusss, ada satu anak daycare Bebe sekarang yang SD nya di situ juga tapi daycarenya masih di daycare Bebe jadi dia merasa “wah so cool anak SD tuh, aku mau di SD dia” gitu.

Dalam kekhawatiran ada yang membuatnya tidak nyaman:

Saya suruh dia pilih sendiri baju yang akan dipake, sepatu, botol minum, kotak makan, semua pilih sendiri daripada terus mood berantakan nggak mau masuk kelas.

Pas pilih baju buat dibawa (ada di list things to bring), dia bilang “ibu, tapi aku nggak mau ganti baju depan miss, aku malu”.

Saya jawab “iya boleh kalau tidak mau, tapi bilang ya tidak mau karena malu”.

Dia bilang oke T_______T Astaga nulis ini aja kerasa lagi nervous-nya waktu sounding T_______T.

Hari H Trial

Pesan dari sekolah sebaiknya memakai angkutan umum biar nggak susah cari parkir. Jadi kami memutuskan untuk pake taksi aja. Bebe (surprisingly) excited banget, bangun nggak susah, sarapan gampang, sat set banget siap-siapnya.

Nyampe di sekolah memang terlalu pagi karena niatnya begitu. Kami berniat untuk dateng at least 30 menit sebelum trial dimulai biar Bebe pemanasan dulu. Diajak keliling sekolah dulu, ngintipin kelas satu-satu. liat kolam renang, playground, dan saya puji lebay semuanya biar dia semangat.

Saat waktunya tiba, ibu dan appa yang lil shock karena ternyata kelas ayah dan ibu DIPISAH LOL. Untung Bebe belum masuk kelas jadi kami masih sempat menyemangati dia dengan “Wah ternyata ibu sendiri, appa sendiri, Xylo sendiri nih. Kita semua harus mau menjawab ya kalau ditanya miss!”

Jadi ayah-ayah FGD dengan sesama ayah, ibu-ibu FGD dengan sesama ibu. Sesi 1 FGD, sesi 2 penjelasan dari sekolah soal kurikulum, biaya, dll. Nggak panik sih karena beberapa hari sebelumnya udah ngasih link blog ke JG biar inget aja apa yang kira-kira akan kita omongin.

Ngasih link ini aja sih. Ini kan udah merangkum semua kehidupan parentingku: Memahami Anak

Dan ternyata yang trial hanya 7 anak, yang diterima 5 anak. Kesempatannya besar karena yang susah mah visit dan dapet jadwal trial nyawww. Dari 7 anak itu yang 3 udah naro nama sejak anaknya umur 3-4 tahun. Seperti saya tentunya lol. Sisanya yang masuk SD itu anak yang TK di situ juga emang.

FGD seputar pengasuhan, bullying, peran sekolah, montessori, dll. Diawasi oleh psikolog dan seru ajaaa. Ya kaya rumpi ibu-ibu cuma lebih niat karena ketaker banget ya mana ibu-ibu yang tau banget anaknya, mana yang nggak. Tapi ada satu ibu yang nggak mau ngomong sama sekali lho. Sampai dipersilakan aja dia nggak mau ngomong. Itu mengapa ya apa punya masalah kepercayaan diri? T_______T

Lalu ada 2 ibu juga yang suaminya tidak hadir. Jadi ibu-ibu FGD nya bertujuh, ayah-ayah cuma berlima. Kata JG dia katanya yang nge-lead FGD ayah-ayah dan selalu kasih opini pertama HAHAHA. Baru kusadari ini pentingnya sepakat sama suami soal pengasuhan. Karena bayangkanlah ditanya soal pengasuhan dari sisi ayah dan ibu di tempat terpisah, kalau nggak sepakat kan bisa beda banget jawabannya.

Akhirnya selesai, Bebe juga selesai dan dia udah teriak-teriak aja main sama anak lain. Happy banget tapi ditanya ngapain aja nggak mau jawab. Pembicaraan kami cuma seputar “appa tadi bisa nggak sih jawabnya? Ibu bisa sihhh tapi deg-degan sedikit tapi ibu bisaaa!” Untuk validasi emosi Bebe aja bahwa Bebe wajar kok tadi deg-degan tapi ibu yakin Bebe bisa. :'))

Baru besoknya dia ceritain urut ngapain aja selama trial. Kurleb:

- Simpan tas sendiri, buka sepatu sendiri
- Menulis nama barang di rumah, menulis nama teman di sekolah (“Aku mau tulis semua nama temen-temen aku tapi capek jadi aku cuma tulis si X aja” lol ALASYAANNNN)
- Menggambar, mewarnai, melipat, menggunting, menempel
- Makan sendiri
- Nggak ganti baju, mungkin jaga-jaga aja itu baju takut keringetan/basah.

Setelah itu bikin janji untuk interview ortu. Harusnya Senin besoknya langsung tapi JG hari Senin nggak bisa jadi reschedule ke hari Rabu. Bebe nggak perlu ikut jadi cuma saya aja dan JG sebelum pergi ke kantor.

Wawancaranya santai sihhh, 45 menitan lah. Cuma emang ditunjuk gitu sama missnya jadi dia nanya satu pertanyaan terus dia bilang “iya silakan ibu jawab lebih dulu” atau “silakan sekarang bapak lebih dulu” gitu jadi emang keduanya harus punya opini, nggak bisa misal ibunya terus yang jawab terus ayahnya cuma nambah-nambahin doang.

Pertanyaannya seputar yang ada di dokumen awal dan alhamdulillah lancar sampai di pertanyaan terakhir yang agak bikin tarik napas dulu sebelum jawab:

“What kind of parents are you?”

NAH LOH. Nanti bahas ah di IG soal ini untuk bikin mikir kalian semua juga HAHA. Selancar-lancarnya saya ngomongin gaya parenting, agak nelen ludah di sini karena nggak pernah mikirin sama sekali. What kind of parents are you?

*

Waktu berlalu, saya sambil mempersiapkan ujian CFP, belajar, staycation terus pengumuman dan Bebe diterima! WUHUUUU. Seperti satu beban lepas sih waktu itu tuh karena ada satu beban lagi yaitu takut saya nggak lulus ujian CFP :((((. Alhamdulillah lulus juga sih lol.

What a year!

Langsung semangat mau beliin Bebe seragam Pramuka sebelum teringat kalau sekolahnya masih tahun depan ih takut keburu nggak cukup. Berakhir sudah pencarian SD Bebe dan saya mau santai dulu sebentar sebelum mulai deg-degan untuk … cari SMP Hahahaha.

Harusnya nggak sesusah cari SD sih ya. Semoga. Doakan kami selalu yaaa! :*

-ast-




Bebe Masuk SD! (1)

on
Tuesday, November 26, 2019
Ehhh perasaan baru kemarin nulis blog Bebe masuk preschool tuh. Kalau nulis melahirkan rasanya udah lama banget. Sebuah pertanda kalau 6 tahun itu lama tapi 3 tahun itu sebentar. -______-

Mulai dari mana ya, saya pengen cerita detail sih karena emosinya naik turun banget akhir-akhir ini tuh hahahaha. Di saat yang bersamaan ada Bebe yang tes SD, ada kantor yang pindah gedung, ada kerjaan lain saya yang demand 100% attention, ada JG yang gathering kantor dan pulang malem terus. Capekkkk.


Tapi mari fokus pada SD ya!

Tahun 2017 kami udah mulai cari SD. Lebih karena kepo, apa bedanya sih SD-SD itu tuh? Kenapa uang pangkalnya ada yang cuma belasan juta dan ada yang ratusan juta? Kalau jawaban kalian “karena gengsi” yhaaa rada shallow sih karena dari fasilitas aja udah pasti jauh banget bedanya.

Bisa dibaca di sini awal pencariannya: Bebe Mencari SD 

Waktu itu belum survey SD di Jakarta sama sekali karena bingung banget. Rumah dulu di Jakarta Barat dan kayanya SD-SD yang terkenal tuh kebanyakan pada di Jakarta Selatan gitu kan. Di sekitar rumah bener-bener nggak ada SD yang cukup oke. Jadi jangankan visit, cuma browsing-browsing aja lalu ngeluh stres hahahaha.

Waktu itu kondisinya Bebe udah beberapa bulan preschool montessori dan eye-opening banget. Kaget karena kok bagus banget ya montessori ini tuh. Sesuai dengan value keluarga kami yang kami ngarang sendiri terus ternyata masuk banget sama teori-teori montessori. Seneng banget karena rumah dan sekolah jadinya satu tujuan.

(Prinsip keluarga dalam membesarkan anak ada di sini: Memahami Anak)

Ada satu sekolah montessori yang dipengenin tapi di Jakarta Selatan, kita sebut sebagai sekolah pertama. Jauh banget, apa perlu pindah rumah? Tapi diabaikan dan nggak dipikirin serius karena udalah, liat nanti aja. Lagian kok waktu itu berasa mahal banget sekolahnya ahahaha. Jadi kondisinya masih belum tau banget nih Bebe akan sekolah di mana. Gitu emang saya mah anaknya, well-planned tapi nggak ngotot banget hahahaha.

Memang rezeki ya, tiba-tiba kok pindah kerja ke Jakarta Selatan! Sebagai penganut kantor harus dekat rumah ya kami pindahlah! Lalu tiba-tiba di sekolah itu jaraknya jadi cuma tinggal 2 km dari rumah. Sedeket itu sampai Bebe pernah bilang “kayanya kita bisa jalan kaki deh ibu ke sekolah” HAHAHAHA. Deket, tapi kalau jalan kaki mah lumayan juga capek atuh. :(((

Karena udah deket jadinya excited banget mau survey, kemudian drama dimulai karena mau bikin janji visit aja susah ternyata. Teleponnya nggak diangkat terus. Kalau cerita sampai di sini orang komentarnya pasti “datengin langsunglah!” YA UDAHLAH! Tetep nggak boleh masuk kalau belum ada janji hahahaha.

Singkat cerita kami pada akhirnya bisa visit dan mulai panik. Ehhhh ini kan masih 2018, tahun ajaran 2018/2019 aja belum mulai. Sementara Bebe baru akan tes di 2019, sekolah di 2020, apa masih akan tercatat namanya? Apa perlu visit lagi? Apa perlu gimana nih?

(Saat visit nanya apa aja? BANYAAKKK. Saya punya listnya: 40+ Pertanyaan Saat Mencari SD)

Sebagai anak Jaksel baru pindah, tahun 2018 itu saya sempet juga ikut open house dan liat-liat sekolah lain. Nggak ada yang segitunya dipengenin. Ada satu sekolah yang agak sreg karena anak-anaknya sopan dan pede banget. Bahasa Inggrisnya logatnya American semua gitu. Bangunan oke, jarak oke.

Tapi masalahnya ada di kurikulum Cambridge dan saya nggak yakin Bebe cocok sama Cambridge yang akademik banget. Dan ini sekolah jelas akademik banget karena bahkan kelasnya dipisah untuk anak yang Math nya nilainya oke dan kurang oke hahahaha. Katanya untuk mempermudah guru mengajar tapi kan kan kan, bikin keder ortu hahaha.

Fast forward ke sekitar bulan Agustus kemarin saya tanya-tanya lagi ke admin sekolah pertama, jadi kapan miss pendaftarannya? Katanya tenang aja, nanti akan dikabari kok kalau pendaftaran untuk 2020 udah dibuka, tapi memang belum bisa bilang tepatnya kapan. Hello, anxiety ~~~. Nggak bisa akutuh digantungin gitu. Deg-degannya ampunnn.

Mikirin semacam “kalau kelewat gimana?” atau “kalau ternyata dia liat listnya yang visit 2019 aja gimana?” ya ampun kenapa sih suka meragukan hahahahaha.

Bulan Oktober datang dan belum ada kabar juga kapan pendaftaran dibuka sementara SD-SD lain udah open house dan buka pendaftaran, lalu mulai mempertanyakan diri sendiri: KOK UDAH LAST MINUTE GINI NGGAK PUNYA PLAN B DAN C SIH! *PANIK*

Akhirnya berdua sama JG cuti sehari dan keliling LAGI cari SD di Jakarta Selatan untuk jadi pilihan dua dan tiga hahahahaha. Ok nemu dan jadi mayan lega. Mikirnya udah sampai level, kalau diterima di sekolah pertama alhamdulillah, kalau nggak diterima ya udalah biar aja. Nggak semua yang kamu mau bisa kamu dapat, ibu. Bukankah ibu suka bilang gitu pada Bebe? HAHAHA.

Penantian berakhir dan dikabarin kalau pendaftaran udah dibuka, diwanti-wanti karena daftarnya online jadi “segera setelah dibuka ya ibu supaya dapat kuota untuk trial”. Lho kok kaya war beli tiket konser gini. Tapi karena daftar di menit pertama banget, dapetlah akhirnya. Bayar trial, trial, wawancara ortu, daaannn … diterima!

Alhamdulillah. Langsung diterima di pilihan pertama jadi nggak perlu tes dan trial lagi di tempat lain. :’))))

Kalau kalian bertanya-tanya kenapa segininya amat nyari SD. Ya biar aja karena saya mah nyari preschool dulu juga SEGININYA HAHAHAHA. Apalagi SD 6 tahun banget dan saya sama sekali nggak mau ada cerita dia mogok sekolah. Jadi pastikan pilih sekolah yang sesuai karakter anak dan bikin anak happy jalanin hari-hari sekolahnya.

Seperti janji ibu pada Bebe, “Aku akan selalu cari sekolah yang seru buat kamu”. Terbukti sekarang aja pas preschool belum pernah tuh mogok sekolah sehari pun. Belum pernah Bebe bilang “nggak mau sekolah ah” gitu. Karena dia merasa sekolahnya menyenangkan. :’)

Detail hari trial dan wawancara ortu saya tulis di part 2 ya.

-ast-




IG