-->

Image Slider

Angpao Bebe

on
Thursday, June 13, 2019
Waw sebulan lebih nggak nulis parenting lho masih mau ngaku parenting blogger apa gimana ini? :))))



Saya cuma mau lanjutin cerita Bebe dan Uang sebulan lalu. Setelah ikut kelas Kids & Money, ini hasil implementasinya.

(Baca dulu ini: Bebe dan Uang)

Si Bebe dapet angpao itu cuma dari tante-tante saya dan adik-adik sepupu saya yang udah kerja. Dikit banget emang orangnya, jadi dapetnya juga memang nggak banyak kaya orang-orang (fyi kemarin ada yang share di Instagram MD kalau dia nabungin angpao anaknya sejak 2015 dan udah mau nyampe 20juta gileee).

Tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, si Bebe nggak ngerti uang sama sekali. Dia bahkan nggak peduli sama uangnya. Disodorin aja nolak gitu, pas orangnya maksa, antara dia takut atau dia ambil terus langsung kasih ke saya.

Kondisinya memang Bebe nggak pernah pegang uang. Dia nggak ngerti warung dan nggak pernah jajan. Ke minimarket juga jarang banget paling ikut ke supermarket pas belanja mingguan, itupun mentok beli yogurt atau es krim doang jadi emang sejarang itu jajan.

Plus dia liat saya bayar kan pake kartu debit ya, jadi dia kayanya mikir apa itu uang? Apa pentingnya? Kenapa orang ngasih uang sih?

Tahun ini, dia udah bisa menghitung sampai ratusan. Bisa tambah-tambahan lancar asal penambahnya nggak lebih dari 10 jari. Iya jadi pake sistem angka yang banyak di otak, sisanya itung di jari hahahahaha. Kurang-kurangan belum bisa. Tapi udah tahu mana angka lebih banyak mana angka lebih sedikit.

Itu sebabnya saya merasa oh dia siap nih belajar uang.

Selama bulan puasa saya sounding, nanti lebaran kamu akan dikasih uang. Uangnya boleh kamu jumlahkan sendiri lalu kamu boleh beli apapun yang kamu mau asal uangnya cukup. Khayalan pun dimulai. Dari mau beli puzzle kemudian ganti ke Lego, ganti lagi ke puzzle dan berakhir keukeuh ingin beli Lego.

Di hari H, dalam kondisi dia yang slow to warm up dan banyak orang, BENER LHO DIA MAU DIPANGGIL DAN DIKASIH UANG HAHAHAHAHA

Malah posesif banget semuanya ditumpuk lalu dipegang sendiri dengan bangga. Pake pamer segala “uang aku banyak loh” idih sombong hahahaha.

Lalu dihitung bersama. Wah, angkanya lumayan! Kemudian langsung rewel “AYO KE MALL IBU BELI LEGO IBU” berjuta kali.

Di hari yang fitri, lebaran hari pertama, setelah berkunjung ke rumah saudara dan mertua, kami sekeluarga ke mall. Iya sekeluarga sama ayah ibu dan adik saya juga, demi mengantar Bebe beli Lego.

Ngerti loh ternyata dia. Total uang yang dia punya saya tulis di notes, lalu dia cek harga satu-satu, dia ngerti mana yang lebih mahal dan mana yang lebih murah. Beli deh, bayar sendiri, pegang sendiri dong bangga banget.

Abis itu dia lupa punya sisa uang zzzz.

Sampai di Jakarta, temen sekolahnya ada yang pake topeng dinosaurus lalu dia mau juga. Baru deh inget punya uang. Itung-itung masih cukup untuk beli topeng dino lalu kembali rewel pengen ke mall HAHAHAHA.

Gimana soal nabung dan beramalnya? NGGAK TAU LOL.

Dia masih di excitement bisa belanja sendiri gitu jadi diingetin konsep menabung dan beramal dia cuek aja. Ya sudahlah nanti lagi aja. Namanya juga persiapan ke uang saku ya, nanti kalau uang saku panjaaanggg pasti blogpost dan perjalanannya hahahaha.

Segitu aja deh. Yang penting keceritain biar nggak lupa.

See ya!




Mendefinisikan Sempurna

on
Friday, June 7, 2019
Sempurna, satu kata yang mengganggu saya akhir-akhir ini.


Seperti seorang teman yang saya tahu sangat sangat akrab dengan sang ayah. Sampai sekarang meski sudah menikah, ia tetap tinggal serumah dengan kedua orangtuanya. Sempat mengontrak rumah namun terlalu banyak kangen pada ayah ibu sehingga seringkali rumah kontrakan itu ditinggal dan tetap pulang ke rumah orangtua.

Sampai saya tahu, ia sejak kecil sering jadi korban kekerasan oleh sang ayah. Saya bingung kok bisa tetap menganggap ayah sebagai ayah yang sempurna? Kenapa?

Menurut teman saya itu, si ayah SELALU punya alasan untuk melakukan kekerasan, plus ayahnya juga sangat penyayang. Seumur hidup ia merasa disayang sampai kalau melakukan kesalahan dan sampai dikasari, ia merasa memang layak untuk diperlakukan kasar meski sampai dipukul.

Ini bukan soal benar salah ya. Siapa saya ini sampai mau menodai hubungan ayah dan anak yang mereka saja menganggap hubungan mereka sempurna. Masa saya yang jadi heboh sendiri dan bilang: Ayah penyayang seharusnya tidak memukul!

No, semua orang punya cara sendiri untuk menjalani hubungan dengan orang lain kan. Bagi saya tidak wajar, bagi orang lain mungkin sangat wajar dan tidak apa-apa. Asal sepakat saja mana yang wajar mana yang tidak wajar.

Jadi kalau begitu, apa definisi sempurna? Apa perlu sempurna didefinisikan?

Selama ini jujur saja, saya selalu berpikir dan menganggap peran saya sebagai ibu sudah sempurna. Saya juga selalu menganggap pernikahan saya sempurna.

Ya memang bullshit kalau kadar kesempurnaan kalian adalah ibu di rumah 24 jam bersama anak dan tidak meng-outsource pengasuhan pada orang lain. Bullshit pula kalau standar kesempurnaan istri adalah mengurus rumah tangga, bukannya bekerja di luar rumah.

Saya menitipkan Bebe pada orang lain seharian penuh, saya tidak pernah memberi makan dia makanan bergizi saat weekend, saya membiarkan dia nonton berjam-jam. Tidak sempurna bagi standar banyak orang tapi bagi standar saya, saya ibu yang sempurna. IDGAF what anyone thinks.

Pun soal pernikahan. Kami bukannya tidak pernah bertengkar sama sekali dan kadang masalahnya bukan masalah kecil. Tapi dari masalah besar saya berpikir berulang-ulang bahwa nggak ada orang yang sempurna, nggak ada pernikahan yang sempurna, tapi kenapa saya tetap menganggap kami tetap sempurna?

I think we balance each other out so when something bad (or reaaallly bad) happens to us, we tolerate it, compromise, communicate, and let it pass. We kinda stuck with each other because I don’t think I can find someone better than him, vice versa.

Apakah jadinya saya menutup mata pada hal-hal lain yang dianggap orang sebagai cacat? Mungkin saja iya dan tidak apa-apa. Apakah jadinya saya halu padahal orang menganggap hidup, peran saya sebagai ibu, dan pernikahan saya banyak masalah? Mungkin saja iya dan ya sudahlah biar saja hahahaha.

Apakah kehaluan akan kesempurnaan ini akan jadi bom waktu yang meledak tiba-tiba? Kalau pun iya, biarlah waktu menjawab. Life is a mystery anyway. :)

(Baca: Menikah dalam Satu Kata)

Meski demikian, saya menganggap keseluruhan hidup saya tentu tidak sempurna. Saya masih punya standar hidup sempurna yang belum saya capai. Sialnya, standar hidup itu terus berganti, terus naik kelas, sehingga entah kapan saya akan menganggap hidup saya sempurna.

Orang boleh bilang hidup saya sudah sempurna, tapi kan yang menjalani saya sendiri, yang tau apa yang saya inginkan ya saya sendiri juga. Jadi terserah orang menilai, saya tetap punya penilaian sendiri dan saya (seringnya) tidak peduli pada penilaian orang. Hahahaha.

Tidak ada standar untuk kesempurnaan. Yang terbaik bisa kita lakukan adalah jadi penyayang bagi sesama. Be a loving parent, be a loving spouse, be a loving daughter, be a loving person.

Tidak apa-apa kamu jadi ibu yang sibuk dan nggak selalu ada buat anak tapi pastikan ketika kamu ada, kamu jadi ibu yang 100% sayang pada anak. Tidak apa-apa kamu jadi istri yang sibuk dan nggak mau masak tapi pastikan suami kamu merasa disayang. Tidak apa-apa kadang lupa jadi ibu dan istri penyayang tapi ketika ingat, langsung lakukan sebaik yang kita bisa.

Tak usah mencari kesempurnaan dengan standar orang lain karena untuk apa. Tak perlu ingin sempurna demi ingin dilihat baik oleh orang lain karena tak ada gunanya.

Just try and try again.

via GIPHY

Demikian tulisan ini jadi pengejawantahan akibat libur terlalu lama jadi mikirin ginian aja lama banget sampai harus ditulis daripada jadi gila.

Selamat berakhir pekan!

-ast-




Belajar Bicara Data

on
Thursday, May 23, 2019

Kalian yang follow saya sejak lama pasti udah ngerti banget ya kalau saya apa-apa harus pakai data. Saya nggak suka orang ngomong pake “katanya” untuk sesuatu yang penting. Buat saya, “katanya” hanya sebatas obrolan ringan makan siang alias buat ghibah doang. Nggak layak masuk media sosial, nggak pantes dikutip apalagi disebarluaskan.

Soal "katanya" ini saya ekstra hati-hati, apalagi setelah baca dan mencoba memahami UU ITE. Satu “katanya” di WhatsApp atau email pribadi, bisa bikin kita masuk penjara lho. Dan ini bikin temen-temen saya gemes HAHAHAHA.

Misal ada berita selebgram atau artis rusuh, kebetulan temen kantor saya ada yang akrab nih sama si selebgram. Cerita saya jadi A1 dong ya, karena SAYA dengar langsung dari si teman. Nah tapi kalau saya cerita lagi ke orang jadinya kan “KATA TEMEN GUE” dong? Abis itu kalau temen saya cerita lagi ke orang jadinya “KATA TEMENNYA TEMEN GUE” ya kan? Cerita kaya gini suka saya hindari apalagi di group yang orangnya lebih dari 5 orang.

Kalau ketemu langsung masih okelah saya ceritain tapi kalau harus di chat, ada bukti screencapture, nggak deh. Kalau ada yang sc dan dikasih ke orangnya, maka itu bisa dituntut pakai UU ITE lho. Bahkan sekadar saya nulis “si A gendutan ya” lalu sc-nya nyampe ke si A, selamat, si A bisa nuntut saya pakai pasal karet UU ITE.

KOK JADI NGOMONGIN UU ITE.

Kembali ke data.

Throwback ke sekitar 20 tahun lalu saat saya SD kelas 4, ada kejadian yang saya ingat sampai sekarang karena perasaan yang campur aduk. Malu iya, tapi jadi pelajaran penting buat saya sampai kejadian ini terus teringat.

Waktu itu teman SD saya, sebut saja namanya Nana, tidak masuk beberapa hari. Kabar dari seorang teman (teman lho bukan guru) katanya ia kecelakaan mobil sekeluarga. Karena cukup akrab dengan Nana, saya ingat saya sedih dan sampai rumah saya cerita pada ayah. Apa komentar ayah?

“Kamu tau dari mana? Kalau cuma tau dari katanya teman dan nggak bisa dibuktikan, itu namanya gosip.” Ayah being ayah, beliau wartawan juga btw.

Saya mikir iya juga. Lha yang bilang aja bukan guru kok. Kalau guru yang bilang kan mungkin guru dapat kabar dari orangtuanya. Kalau teman yang bilang, mana buktinya? Si teman ini rumahnya berjauhan pula. Gimana bisa dia tahu soal kecelakaan?

Besoknya (harap maklum saya masih kecil), saya malah bilang ke teman lain kalau berita kecelakaan itu cuma gosip. Beritanya jadi semakin simpang siur sampai seminggu kemudian Nana masuk dengan perban di dahi dan pipi. Benar dia kecelakaan sekeluarga.

Saya malu dan sedih karena duhhh beneran kok kecelakaan kok saya malah bilang gosip sih!

Tahun demi tahun berlalu sampai tiba saya masuk jurusan Jurnalistik dan harus ikut orientasi jurusan. Ada beberapa buku yang harus dibaca. Satu buku pada bab 1 langsung to the point kalau seorang jurnalis itu harus skeptis. Saya beneran langsung inget kejadian Nana dan ya, ayah benar, ayah hanya skeptis, meragukan segalanya sampai ada bukti. Saya yang salah karena masih tidak punya bukti tapi malah ikut menyebarkan info.

Bertemu JG, dia orang yang 100% bicara data juga (saya 95% soalnya 5% nya itu pas PMS, maunya drama nggak mau data nyahahahahaha). Dulu, perkara daging kambing aja pernah bikin kami berantem karena saya keukeuh daging kambing bisa bikin darah tinggi.

Dia tantangin untuk cari research terus saya nangis karena ternyata emang bener daging kambing nggak bikin darah tinggi. Nangis karena banyak keluarga darah tinggi dan menghindari daging kambing, malah disuruh dokter, tapi kok kenyataannya nggak bikin darah tinggi sih. Sebel banget!

Tapi lama-lama terbiasa, kalau kami ngobrol serius ya bawa data bukan bawa perasaaan. Semua yang kami lakukan untuk Bebe juga pake backup science, tanya psikolog atau bawa research dari lembaga yang kami berdua yakin terpercaya.

(Baca: Memahami Anak)

Sekarang semakin Bebe besar, saya juga mengajari Bebe hal yang sama. Saya kejar dia untuk nggak gampang percaya sama orang. Kemarin di IG story saya kasih contoh dia bilang “kata si A bisa bakar kertas pakai kaca pembesar”. Karena saya tanya "Terus kamu percaya? Mau coba dulu nggak? Atau mau nonton YouTube?"

Itu dia langsung minta dibeliin kaca pembesar ke aki untuk coba. Setelah yakin benar kertas bisa terbakar, baru dia boleh percaya.

Sedikit tips buat yang mau belajar bicara data:

- Luangkan waktu untuk kroscek, tabayyun bahasa gaulnya, ukh.

- Pastikan data yang kita kroscek adalah data terpercaya. Kalau memang datanya fisik seperti si Nana temen saya, kan bisa dilihat langsung. Kalau datanya digital, pastikan kalian cari sumber yang BENAR. Kalau research biasanya lebih meyakinkan kalau dari universitas karena biasanya mereka meneliti demi keilmuan bukan dibayar brand, websitenya akan berakhiran .ac atau .edu.

- Kalau kalian nggak punya waktu untuk kroscek yang terbaik adalah DIAM. Nggak usah ikutan ngomong karena cuma bikin ribut aja. Berisik dan nggak penting.

Oiya, skeptical ini memang tipis banget sama negatif sih. Kadang nggak cocok sama orang yang positive vibes all the way. Karena kalaupun beritanya positif, respon pertama selalu? Iya ya? Bener gitu? Masa sih? Siapa bilang? Sebagus itukah? Faktanya gimana? Apa ada dampak lain? Begitu terus until proven otherwise.

Bahkan baca buku juga gitu. Kadang kalau baca buku sama Bebe terus ada fakta yang bikin saya ragu, saya pasti langsung cek bukunya terbitan tahun berapa dan kroscek ulang via Google. Beneran deh, saking cepetnya ilmu pengetahuan, banyak buku yang outdated karena ada research yang lebih baru.

Saya juga bisa sampai di sini karena selalu skeptis. Sebagai jurnalis, skeptis itu harus. Nggak gampang terbuai, nggak gampang percaya, nggak gampang sebar informasi apalagi kalau nggak jelas sumbernya dari mana.

(Berpikir kritis itu harus diajarkan! Mengajarkan Anak Berpikir Kritis)

Pelajarannya apa? 


Kalau bicara sama saya, bicara di social media, bicara di tempat umum, tolong pakai data. Apalagi kalau datanya fisik lho bukan data digital, itu data kasat mata, fisiknya aja bisa kita pegang. Kalau nggak percaya apa nggak pengen congkel aja itu mata karena membohongi kita?

Bicara data ini menakar logika kalian lho. Orang yang ngotot: “TAPI CURANG! TAPI DISUSUPI! TAPI DIBAYAR! TAPI TIDAK JUJUR!”

Mana buktinya, darling-darlingku? Sini deh kasih saya bukti yang bisa saya lihat dan saya pegang baru saya percaya.

Saya bisa lho bilang ke kalian “PAPA KALIAN SELINGKUH! PAPA KALIAN SUKA MAIN SAMA PSK!” dan kalian harus percaya karena ya levelnya sama. Nggak bisa dibuktikan toh keduanya?

Hukum di belahan dunia mana juga pakai Presumption of Innocence: Innocent until proven guilty. Ngerti nggak? Apa baru denger? Asas praduga tak bersalah, sampai terbukti sebaliknya. BUKTI, SAYANGKU. BUKTI DATA. Bukan katanya-katanya.

Kenapa saya yang jarang bereaksi sama hal-hal kaya gini sampai nulis? Karena jujur kaget banget sih kemarin di DM saya ternyata masih banyak yang nggak pakai logika. Ditanya datanya mana, SEMUA, SATU PUN nggak bales lagi karena ya memang nggak punya kan.

(Baca postingan tentang politik yang mana sudah 2 tahun lalu lol: Hal yang Berubah Sejak Pilkada DKI )

Saya juga bingung kenapa mereka follow saya ya? Nggak mau unfollow aja? HAHAHAHAHAHA. Saya kan kalau sharing selalu kasih backup riset resmi. Apa nggak bertabrakan tuh sama logika mereka? Saya nggak pernah ngomong atau sharing sesuatu kalau belum pernah mengalami apalagi nggak punya backup risetnya.

Btw saya sangsi tulisan ini bisa mengedukasi sih, karena biasanya orang yang nggak mau tau soal data dan logikanya dipertanyakan, NGGAK MAU BACA TULISAN SEPANJANG INI HAHAHAHA.

R.I.P. LOGIC.

-ast-




Review Avoskin Miraculous Refining Serum

on
Wednesday, May 22, 2019
[SPONSORED POST]

Waw annisast menulis beauty lagi sedang ada apa rupanya?

Nggak ada apa-apa sihhh cuma selama ini saya kan memang tetap rajin pakai skin care, hanya saja malas review dan sharing karena ya berbagi tugas lah sama para beauty blogger. Team work gitu ceritanya. *APAAAA*

Tapi excited banget pas ditawarin review Avoskin Miraculous Refining Serum ini karena udah baca review orang-orang yang bilang serum ini exfoliating serum terbaik! Ya tentu kepo karena selama ini saya pakenya selalu exfoliating toner, bukan serum.



Nah, tapi karena sebagian dari kalian bukanlah pembaca beauty blog jadi di sini saya akan jelasin dari basic banget. Soalnya pas kemarin share skin care routine di IG story aja, bukan 1-2 yang bertanya jadi exfo itu gimana kak maksudnya? Yah, kalau memang harus saya yang menjelaskan, maka akan saya jelaskan. *loh kok pasrah*

PLEASE NOTE INI AKAN AGAK PANJANG.

Kenapa, karena sejak dulu kan saya udah bilang kalau mau pakai chemical exfoliator itu BELAJAR dulu. Jangan cuma ikut-ikutan. Kalau males belajar, solusinya adalah baca blogpost ini dari awal sampai akhir ok! Di akhir ada review saya juga setelah pemakaian 1 bulan penuh.

Apa itu chemical exfoliation?

Kalau eksfoliasinya udah ngerti kan ya? Kulit kita itu setiap hari memproduksi sel kulit mati dan sel kulit mati ini butuh diangkat. Diangkatnya bisa pakai physical exfoliator seperti scrub atau chemical exfoliator seperti acid serum/toner.

Avoskin Miraculous Refining Serum Review

Yang paling dikenal kan eksfoliasi pakai scrub ya. Padahal banyak scrub yang mengandung microbeads dan microbeads itu terlalu harsh (untuk kulit bisa bikin tergores dan untuk ekosistem karena terus kebawa ke laut menyerap toxin, dimakan ikan, dan dimakan lagi sama kita).

Lalu seberapa sering harus pakai chemical exfoliator ini? Ini yang tricky karena bergantung kandungannya dan bergantung kondisi kulit kalian. Satu-satunya cara adalah baca review dan coba sendiri. Namanya kulit orang beda-beda dan bereaksi pada produk dengan beda-beda pula kan.

Kalau Avoskin Miraculous Refining Serum ini sebetulnya bagian dari Miraculous Refining Series, jadi selain serum ada tonernya juga. Avoskin Miraculous Refining Serum mengandung 10% AHA (glycolic acid) dan 3% BHA (salicylic acid), 2% Niacinamide dan Ceramide.

Abis ini pasti bingung dong apa itu AHA, BHA, Niacinamide, Ceramide, dan kawan-kawannya itu?

Apa itu AHA?

AHA adalah alpha hydroxy acid (seperti glycolic dan lactic acid). AHA larut dalam air sehingga bekerja di permukaan kulit aja. AHA biasanya digunakan untuk kulit normal ke kering, kulit yang sudah ada keriput, dan kulit yang terlalu sering terpapar matahari karena punya efek melembapkan alami.

Avoskin Miraculous Refining Serum Review

Persentase kandungan AHA dalam Avoskin Miraculous Refining Serum ini sampai 10%. Ini mentok pada batas atas aturan BPOM, menurut BPOM, batas AHA yang aman itu di 10% dan BHA yang aman di 3%.

OKEEE, APA ITU BHA?

BHA adalah beta hydroxy/salicylic acid untuk membantu melepaskan sel kulit mati yang bikin kulit kusam. BHA bekerja di permukaan sampai jauh ke dalam pori-pori.

BHA larut dalam minyak sehingga cocok untuk kulit berminyak yang rentan pada bruntusan, komedo, jerawat, dan pori-pori besar. BHA juga secara natural bisa menenangkan kulit sehingga bisa cocok untuk kulit yang sedang breakout atau meradang karena jerawat. Tetep lho, cocok-cocokan dan dicoba dulu di area rahang.

Terus Niacinamide dan Ceramide itu apa lagi?

Vitamin B3 (niacin) punya 2 jenis, yang pertama adalah niacinamide dan satunya nicotinic acid. Niacinamide punya peran penting untuk kulit yang sehat, anti radang, cocok untuk kulit berjerawat.

Avoskin Miraculous Refining Serum Review

Selain Niacinamide, Avoskin Miraculous Refining Serum juga dilengkapi dengan kandungan Ceramide. Ceramide bagus untuk menjaga kulit tetap lembab, kenyal, dan menjaga kulit dari ancaman buruk bakteri.

Nah, sekarang bayangkan semua itu ada dalam satu produk. Saya sih langsung penasaran banget!

Jadi apa aja manfaat Avoskin Miraculous Refining Serum ini?


Cara pemakaian

Yang namanya chemical exfoliator (baik berupa serum atau toner), itu dipakai di awal skin care regime. Jadi setelah cuci muka, pakai ini dulu. Biarkan sampai meresap dan kering lalu lanjutkan dengan hydrating toner.

Saya sih sekalian juga pake Avoskin Perfect Hydrating Treatment Essence, baru hydrating toner, moisturizer, baru bisa tidur nyenyak lol. Paginya kulit kenyal dan cerah lafff.

Inget lho, nggak ada pakem khusus untuk berapa kali dalam seminggu kalian bisa pakai ini. Dicoba dulu dari seminggu sekali, lalu jadi seminggu dua kali, dst.

Saya awal coba seminggu sekali lalu baik-baik aja dan langsung nekat pakai selang sehari. Jadi hari ini pake besok nggak, besoknya lagi pake. Dan tetep baik-baik aja. Mungkin karena udah terbiasa sama acid juga ya. Ini produk acid kelima yang saya pake soalnya.

Yang harus dicatat: Jangan lupa pakai sunscreen! Karena kalau abis pakai acid, kulit kita lebih sensitif sama paparan sinar matahari. Ya meskipun malemnya nggak pake chemical juga siang harus tetep pake sunscreen sih.

Plus kalau kulit kalian sensitif, pas awal coba di bagian tertentu dulu ya. Pipi bawah gitu, kalau aman baru lanjutin ke seluruh muka.

Jadi gimana setelah sebulan pemakaian?

SUKAAAAA!

Udah yakin suka sih karena produk ini di-rave banget sama anak-anak kantor yang notabene lebih ngerti beauty daripada saya sendiri nyahahahaha.

Setelah pakai Avoskin Miraculous Refining Serum ini kulit saya kerasa lebih cerah, nggak kering sama sekali lagi padahal lagi puasa, licin banget dan make up lebih nempel serta awet.

Jujur pas awal pake bingung nih, emang ngaruh ya kalau serum gini? Soalnya kalau toner kan pakai kapas, jadi emang kerasa sesuatu terangkat dari kulit *halah*. Kalau ini dioles-oles doang emang bakal ngangkat?

Ternyata ya ngangkat aja hahahaha. Buktinya kulit jadi cerah dan noda hitam memudar. Ini baru sebulan sih, yakin deh kalau pake lebih lama harusnya hasilnya makin oke karena siapa juga yang mau hasil instan kan.

First impression juga agak kaget karena tingling sensation alias cenat-cenutnya nggak parah di saya. Padahal pas baca kandungan acidnya lumayan tinggi, saya agak takut hahahaha.

Ternyata nggak secenat-cenut itu mungkin karena teksturnya tidak cair ya. Tekstur Avoskin Miraculous Refining Serum agak cair tapi agak thick dengan bau yang nggak ganggu. Kalau toner kan cair jadi kaya meresap ke dalam pori-pori alias kaya abis ditabokin banget sisss.

Ini nggak, geli-geli dikit wajar karena saya suka kesel kalau nggak ada efek tingling karena dia seperti gabut. KERJA NGGAK SIH? GITU.

Avoskin Miraculous Refining Serum Review

Muka saya sebelum dan sesudah. Padahal udah usaha foto di jam yang sama dengan ISO dan f/ yang sama, di depan jendela yang sama. Tapi ternyata mataharinya yang beda ya susah amaaattt foto before after gini. Tadinya mau nyerah di minggu ketiga pake ringlight ajalah. Tapi takut malah tambah bingung karena 2 minggu awal udah pake matahari. Beginilah kalau bukan beauty blogger hahahaha.

Beforenya lagi merah-merah banget di sekitar alis kiri, aslinya merah banget entah kenapa dan langsung reda di minggu pertama. Flek hitam di bawah mata aslinya memudar tapi nggak jelas di kamera.

Avoskin Miraculous Refining Serum Review

Ini dari minggu ke minggu. Di minggu ketiga jerawat kecil muncul akibat mencoba sunscreen baru (sudah saya ceritakan di story). Tapi langsung hilang tanpa bekas!

Yang bikin kaget dan yakin bakal repurchase adalah harga Avoskin Miraculuous Refining Serum ini terjangkau banget! Rp 219ribu untuk 30 ml, belinya di www.avoskinbeauty.com. Untuk baca-baca info atau mau tanya-tanya bisa ke Instagram @avoskinbeauty.

Ini juga nanti saya bahas di IG ya biar kalian bisa tanya-tanya langsung! Semoga membantu!

-ast-





2%

on
Friday, May 17, 2019
You know as a human we're not always 100%. Truth be told, this week is superb, in a bad way. I don’t think I want to spill it here.


Dipikir kalau bulan puasa, ada work from home sehari di rumah, saya akan bisa agak santai. Bisa menggambar untuk souvenir ultah Bebe yang tinggal 2 minggu, bisa nonton Endgame sekali lagi, bisa share di Story, bisa semangat untuk ngerjain KASAKOLA.

Ternyata nggak sama sekali. Semua gagal. What a week.

Jadi maaf banget yang DM di Instagram nagih pembahasan ini dan itu, nanya ini dan itu dan nggak saya balas. Saya lagi butuh waktu untuk diri saya sendiri dan belum punya cukup energi untuk berbagi sama orang lain.

Kemarin seharian saya nontonin video Bebe waktu kecil. Video waktu dia umur 1,5 tahun dengan bahasa bayi yang nggak bisa nggak bikin senyum. Membantu sekali ternyata.

This morning I woke up with only 2% left, I’m scattered all over the place. I need several days to unplug and recharge my mind.

Moral of the story: take tons of video of your baby. It helps you to find perfection in the world full of imperfection.

See you soon!

-ast-




IG