-->

Image Slider

Mitos dan Fakta Seputar Vaksin

on
Sunday, May 2, 2021

Ngomongin vaksin zaman sekarang itu sensitif banget ya padahal vaksin terbukti menyelamatkan jutaan jiwa. Eh tapi sebentar deh, kalian udah paham belum sih bedanya vaksin dan imunisasi?


Vaksin: Proses memasukkan vaksin ke dalam tubuh via injeksi atau oral.

Imunisasi: Proses di dalam tubuh membentuk antibodi. 


Pada akhirnya kedua istilah ini sering dipertukarkan dalam keseharian dan ya udalah yang penting sama-sama paham kan hahahaha.


Kenapa tiba-tiba bahas vaksin, karena Jumat lalu saya hadir di event Kenapa Harus Vaksin World Immunization Week 2021 Webinar dengan tema "101 Vaksinasi: Kupas Tuntas Vaksinasi Anak" bersama Kenapa Harus Vaksin (@kenapaharusvaksin), theAsianparent Indonesia, Sisy Prescilia, dan dr. Attila Dewanti, SpA(K) dan merasa dicerahkan kembali soal berbagai mitos dan fakta seputar vaksin.


Apa aja sih mitos seputar vaksin dan gimana faktanya?


Mitos: Vaksin hanya melindungi diri sendiri


Faktanya, vaksin bukan hanya melindungi diri sendiri tapi juga melindungi orang lain! Karena ketika kita divaksin, kita tidak berpotensi menularkan penyakit pada orang di sekitar kita.


Data juga bicara demikian. Vaksin lengkap bisa mencegah lebih dari 26 penyakit dan 2-3juta kematian tiap tahun bisa dicegah dengan vaksin. Ketika cakupan imunisasi secara global diperluas, vaksin bisa menyelamatkan 1,5juta orang lagi setiap tahun.


Inget nggak sih outbreak difteri beberapa tahun lalu? Nah itu karena 65% orang nggak vaksin DPT lengkap. Ya melindungi diri sendiri aja nggak bisa apalagi saling melindungi dengan orang sekitar, outbreak deh.



Vaksin juga bisa menghindari komplikasi penyakit serius. Misal flu, orang yang sudah vaksin influenza punya risiko lebih rendah terkena komplikasi seperti pneumonia atau gangguan sistem saraf pusat.


Mitos: Vaksin gratis lebih tidak efektif dibanding vaksin berbayar.


Faktanya, menurut dr. Attila efektivitas vaksin yang gratis maupun yang berbayar itu sama saja. Vaksin di posyandu atau di rumah sakit juga sama saja yang penting itu vaksin lengkap, sesuai jadwal, dan dengan urutan yang benar sesuai jadwal vaksin dari IDAI.



Bedanya yang gratis disubsidi pemerintah, yang bayar tidak disubsidi. Pun bisa berbeda pula dari jenisnya. Seperti vaksin DPT yang menyebabkan demam itu karena jenisnya whole cell di mana pembuatannya pakai kuman yang dilemahkan. Namun ada juga yang aseluler, di mana selnya saja yang diambil dan tidak semua kuman masuk ke dalam vaksin sehingga menurunkan risiko anak demam. Keduanya tetap merupakan vaksin aman.


Kalau pun anak demam pasca vaksin, itu wajar ya! Biasanya demam terjadi dalam 24-36 jam, lewat itu sebaiknya diperiksa ke dokter karena khawatir ada penyakit lain, bukan disebabkan vaksinnya!


Mitos: Karena pandemi, jadwal vaksin anak boleh ditunda.


Faktanya: TIDAKKKK! Jangan sampai karena takut pandemi (yang entah akan berakhir kapan) kita jadi terkena risiko penyakit lain yang sebetulnya bisa dicegah dengan vaksin ya!



Jadi baik vaksin untuk bayi, vaksin untuk balita, maupun vaksin tambahan atau vaksin booster TETAP diberikan sesuai jadwal IDAI. Bagaimana kalau terlanjur terlewat jadwal? Misal karena PSBB atau alasan lain?


IDAI menyarankan imunisasi kejar dan imunisasi ganda, yaitu vaksin beberapa dalam waktu yang sama sekaligus. Nggak masalah dan aman ya! Selama dikonsultasikan pada dokter tentunya.


Mitos: Vaksin yang sama lebih dari sekali itu berbahaya.


Faktanya menurut dr. Attila ketika orangtua ragu anaknya sudah divaksin atau belum, sebaiknya ya diulang saja karena kalau pun sebelumnya sudah pernah, sisa vaksinnya akan dibuang oleh tubuh. Tidak ada bukti pemberian vaksin akan merugikan penerima yang sudah vaksin dan vaksin tidak akan membuat penyakit bertambah parah.



Bonus: Tips Vaksin Aman Saat pandemi


Nah saya yakin sih banyak yang sebetulnya mau vaksin tapi khawatir duh ke rumah sakit lagi pandemi gini aman nggak ya? Ini tipsnya:


Cari fasilitas kesehatan yang memisahkan anak sakit dengan anak sehat. Rumah sakit ibu dan anak tentu bisa dibilang lebih aman dibanding rumah sakit umum.


Buat janji kedatangan dan datang tepat waktu. Kalau masih ada waktu menunggu, pertimbangkan menunggu di mobil.


Konsultasikan pada dokter tentang imunisasi kejar & imunisasi ganda, siapa tahu ada yang bisa diberikan sekaligus karena waktunya berdekatan. Bisa mengurangi waktu ke RS, kan.


Opsi lain, cari tempat vaksin yang bisa vaksin di rumah sehingga tidak perlu ke rumah sakit. 



Terjawab ya berbagai mitos seputar vaksin! Semoga bermanfaat!


-ast- 





Perawatan dan Biaya LASIK ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center

on
Friday, April 16, 2021

Ini adalah lanjutan dari artikel ini: Pengalaman LASIK Mata ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center. Baca postingan sebelumnya untuk cerita screening dan proses LASIK nya ya! Sekarang kita akan bahas perawatan dan biaya LASIK ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center


2 hari pasca LASIK udah naik ATV ahahahaha


Sampai rumah sekitar jam setengah 3, saya tidur 3 jam dengan kondisi mata berair terus. Kalau tidur, matanya dikasih penutup mata gitu untuk menjaga biar nggak kucek mata. Karena beneran pengen kucek banget kaya kelilipan debu besar terus debunya nyangkut di sana nggak mau keluar nggak peduli seberapa banyak air mata keluar :’)


Kepanikan melanda, duh kok pede banget besok udah bikin jadwal syuting, weekend-nya udah booking tempat glamping pula, apa bisa? Apa ini mata akan berair lama gini? Saya akhirnya memberanikan diri untuk BERDIRI dan mulai jalan-jalan. Eh kok matanya jadi nggak berair, jangan-jangan dari tadi berair karena nggak dicoba dipake gitu.


Penutup mata yang dipakai saat tidur.



Lalu saya waslap muka dan mandi (mandi biasa aja cuma pake kacamata renang karena masih ngeri air masuk LOL). tapi jadi seger banget dan mencoba beraktivitas, mayan ya biasa aja ternyata cuma nggak bisa liat layar aja. TV gitu nggak sanggup karena silau. HP  juga udalah saya bertekad untuk nggak liat layar sama sekali sampai besok paginya. Soalnya kalau kata dokternya, kalau udah ngerasa bisa, boleh aja liat layar setelah 3 jam dengan catatan istirahat tiap 20 menit. Ah tapi  emang mau ngapain sih. Apa yang begitu urgent sampai harus liat layar terus kan. NGGAK ADA :)))


Perawatan pasca LASIK ReLEx® SMILE 


Sore itu juga saya minta tolong ibu untuk rebusin telor agak banyak karena dokter bilang harus banyak minum protein biar cepet sehat. Sehari makan 2 butir. 


Mata nggak boleh kena air seminggu apalagi air sabun ya. Nggak boleh kena air bukan berarti nggak boleh cuci muka. Pas awal saya cuci muka pakai waslap basah tapi hari berikutnya udah berani cuci muka biasa pelan-pelan.


Caranya,  siapin handuk di jangkauan tangan dan cuci muka pakai air diusap pelan pakai tangan. Jangan lupa merem banget maksimal gitu untuk mastiin air nggak masuk mata, lalu ambil handuk, keringkan dulu muka baru buka lagi matanya. Jadi wudhu tuh BISA BANGET YA! Boleh kok.


Kalau mandi, area mata dibersihinnya pake waslap, abis itu pakai kacamata renang, baru deh cuci muka pakai facial wash. Selama keramas dan proses mandi juga pakai kacamata renang untuk make sure aja nggak kecipratan air sabun. Btw ini saya ngarang sendiri ya pake kacamata renang nggak disuruh dokter tapi ya works ahahahaha.


Selain perkara air, juga dikasih tetes mata 3 macem. Yang 1 ditetes 1 jam sekali, yang 2 lagi 3 jam sekali. Harus rajin pake biar cepet normal lagi matanya. Malamnya tidur aman jaya, nyenyak nggak ada masalah apa-apa. Udah nggak sakit, udah nggak berair.


Obat tetes matanya.


Saya juga dikasih goggles gitu untuk dipake keluar rumah biar matanya nggak kena debu.


Hari berikutnya


BANGUN TIDUR BUKA MATA BISA MELIHAAATTTT AAAKKKKKK!


Saya ngerasa ini mata udah normal 100% dan coba buka HP. Wah jelas banget huhu terharu. 


Pagi ini jadwal konsul lagi ke dokter dan sepanjang jalan masih pakai sunglasses soalnya masih silau tapi saya baca semua hal di jalan dan kebaca semua :’)))))


Nyampe Bandung Eye Center, dites lagi dan keliatan semua dong SEMUAAAA! Padahal hari sebelumnya, huruf paling besar aja nggak kelihatan sama sekali. Kurang lebih ginilah hari sebelumnya vs setelah LASIK. Iya sebelum LASIK dengan jarak yang sama cuma keliatan bayangan item aja boro-boro hurufnya. :))))



Seburem itu emang, jarak pandang selama ini cuma sejengkal :’)


Kata dokter, mata kanan udah 100% normal dan mata kiri masih 90%. Kerasa mata kanan tuh emang normal aja gitu sementara yang kiri masih ganjel.


Dari BEC ke studio untuk syuting dan lancar. Udah nggak sesilau itu meski selama di jalan rasanya pengen lepas soft lens padahal kan nggak pake HAHAHA. Iya feelnya tuh kaya kamu pake soft lens kelamaan, nggak bawa tetes mata, tapi mau lepas juga nggak bawa case soft lensnya. Tau kan rasanya, pegel gitu. Rasanya persis sama. Ini yang kiri doang ya, yang kanan tuh senormalnya mata deh.


Besoknya udah glamping, naik ATV, main high rope dan baik-baik aja, udah nggak berair, udah nggak silau tapi masih ngurangin main HP. Saya masih pengen istirahat maksimal 3 hari biar cepet sehat aja. Masih makan telor rebus 2 butir sehari juga.



Main high rope tanpa kacamataaaa!


Udah mulai bales-balesin chat tapi belum kembali bikin konten dan belum buka laptop. Udah nemenin Xylo main Minecraft meski cuma 20 menit. Tidur masih pakai penutup mata, keluar masih pakai goggles karena saya ngerasa ini lancar banget semuanya jangan sampai deh karena kelilipan terus jadi infeksi atau apalah.


LALU SUDAH. Senin udah normal aja gitu. Seminggu kemudian (kemarin) udah pakai eyeliner. Satu hal yang saya sadari, kayanya cepat sembuh karena di Bandung nggak kena AC sama sekali kecuali di mobil. Lalu glamping juga liat yang ijo-ijo kan jadi seger banget. Soalnya nyampe Jakarta, kena AC seharian matanya berasa jadi kering lagi gitu. Akhirnya diatur deh AC nya dinyala-matiin biar matanya enakan lagi.


Kata orang matanya baru, saya lebih ke punya badan dan wajah baru. Karena selama ini cuma bisa lihat wajah dan badan sendiri dari jarak jauh kalau difoto aja. Bercermin tuh deket banget ke cermin sampai pake eyeliner selalu mentok. Iya sih pakai soft lens, tapi soft lens kan cuma bantu minus aja, silindernya tetap ada jadi tetap berbayang. Baru ngeh oh gini rasanya bercermin tanpa kacamata dari jarak jauh :’))))


Biaya LASIK Mata ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center


Ini yang paling dittunggu:


Harga LASIK Mata ReLEx® SMILE: Rp.32.800.000

Diskon jadi: Rp. 31.750.000


Untuk 2 mata. Sudah termasuk pemeriksaan screening awal LASIK, laboratorium, obat setelah tindakan

dan free kontrol 1x setelah tindakan.


Menurut aku ini yang paling terjangkau sih biayanya dibanding di Jakarta. Rata-rata di Jakarta itu Rp 38juta dan belum sama screening. Padahal alatnya sama aja. Ya apa sih yang lebih mahal di Bandung dibanding di Jakarta ya kan ahahahaha.


Apakah worth it? BANGET! Karena bener-bener enak hidup nggak pake kacamata apalagi kaya saya yang kacamata tuh udah nggak nyangkut saking lensanya berat. Ya minus 7 gimana sih, udah pake lensa yang dipertipis aja tetep merosot.


Kacamata tebalku :')


Dan ini PERMANEN ya! Menurut dokter Erna, LASIK itu adalah tindakan permanen kecuali kamu LASIK-nya di umur 18 tahun biasanya masih tumbuh matanya jadi bisa nambah minusnya. Tapi kalau di atas 22 tahun, minusnya nggak akan balik lagi. Kalau pun ada minus, tandanya bersisa saat tindakan, bukan karena kembali lagi. Itu pun paling seperempat atau setengah dan nggak akan nambah lagi sama sekali.


BEGITULAHHH. Demikian cerita saya LASIK mata dengan metode ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center. Yang mau tanya-tanya boleh banget telepon dulu.


Bandung Eye Center

Jl. Buah Batu No.147

(022) 73514682


Kalau dari luar kota pun bisa banget LASIK di sini, nanti kontrolnya di kota asal. Puas banget sama layanannya BEC, tempatnya bagus, protokol oke, ruang tunggu sofa berjauhan jadi social distancing (bukan cuma dikasih x), dan semuanya ramah banget jadi bikin tenang. Karena ini rumah sakit mata (bukan klinik) jadi ada UGD dan Sunday Clinic-nya juga, hari Minggu kalau ada urgent sakit mata bisa deh ke BEC.


Bersama dr. Erna dan tim BEC yang helpful banget!


Semoga yang mau LASIK juga dilancarkan ya!


-ast-






Pengalaman LASIK Mata ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center

AKHIRNYA LASIK GAESSSS!


Jadi saya tuh mau LASIK dari entah 2 tahun lalu kali ya. Udah ada uangnya, udah ke dokter mata dan tanya-tanya, tapi belum ada momen ok kita jadwalkan gitu karena apa? Karena ini mata minus 7 silinder 2, pakai kacamata udah 22 tahun, annisast itu ya pake kacamata! LASIK akan mengubah hidup sepenuhnya dan jadinya maju mundur karena apakah perlu perubahan dalam hidup?


Tapi saya survei terus ke beberapa RS, subscribe newsletter RS-RS mata di Jakarta karena mereka tuh sering kasih info diskon lewat newsletter gitu. Brosur-brosur kusimpan rapi, udah sering banget baca pengalaman atau nonton YouTube orang yang LASIK sampai hafal prosedurnya hahaha. Tinggal go aja sebenernya.


EH PANDEMI! MATA XYLO MINUSNYA JADI 4,5! Lalu mellow banget kasian Xylo kalau pakai kacamata sendiri di rumah huhu akhirnya saya buanglah semua brosur itu, unsubscribe semua newsletter RS, memutuskan kalau Xylo pakai kacamata maka saya juga :’((((



Pencerahan datang dari Xylo ternyata bisa Ortho-K (googling LOL) intinya dia siang bisa lepas kacamata sama sekali! Ok langsung ke dokter untuk ukur mata, pesan, bayar, dan seharusnya si Ortho-K datang bulan ini. Di saat yang bersamaan, Bandung Eye Center nawarin saya untuk LASIK di sana ya ampun huhu terharu :’)


Buat kalian yang bukan orang Bandung mungkin nggak tahu Bandung Eye Center ya, jadi BEC itu dulu Klinik Mata di Jalan Sumatera nah tapi di tahun 2017 dia bikin gedung baru di Jalan Buah Batu 147. Iyaaa, Buah Batu yang tempat jajan segala rupa itu. Saya sih tau karena emang deket rumah, sepupu juga urus matanya di sini, ada beberapa temen juga yang udah pernah LASIK di BEC jadi udah terpercaya lah ya. Tanya sana-sini pada rekomennya dr. Erna Tjahjaningtyas, Sp.M(K) dan nggak menyesal sama sekali karena dokternya manis menenangkan. Sungguh luvly.


Persiapan Awal


Pertama tentu kamu harus ketemu dokternya dulu (yaiyaaa) tapi untuk menghemat energi dan nggak bolak-balik intinya sebelum LASIK kamu harus:


  • Lepas soft lens minimal 2 minggu (nggak boleh pakai sama sekali meski cuma sebentar!) dan hard lens minimal 4 minggu.
  • Sehari sebelum nggak boleh makeup mata.
  • Sehari sebelum nggak boleh kurang tidur, tidur cukup!


Lalu ketemu dokternya dan menentukan mau pakai metode apa? Ini kamu konsultasikan sama dokter tapi sebetulnya bisa pilih sendiri ya cocoknya yang mana. Ada beberapa metode LASIK, nama di tiap RS bisa beda tapi intinya:


  • Dengan flap. Jadi kornea kamu dilipat, lenticule diambil, lalu kornea dikembalikan seperti semua.
  • Tanpa flap. Kornea kamu nggak dilipat, cuma dibuat sobekan kecil 2-4 mm, lenticule diambil, selesai. Aku pilih ini, nama metodenya ReLEx® SMILE.


ReLEx® SMILE (katanya dan ternyata memang iya!) ini metode paling cepat, nggak sakit karena sayatannya kecil, otomatis pemulihannya cepat. Terus karena di kornea nggak dibuat flap (lipatan) jadi risiko komplikasi lebih rendah.


Screening


Setelah itu, ada screening dulu untuk menentukan kamu bisa LASIK nggak? Jujur di sini aku deg-degan banget karena kalau nggak bisa YA NGGAK JADI HAHAHAHA. Selain screening juga tes darah dan swab antigen karena lagi pandemi.


Saat screening, yang dicek itu minusnya tentu saja karena untuk ReLEx® SMILE ini biar minusnya 0 banget itu maksimal minus 12 silinder 4. Lalu juga cek retina, tekanan bola mata, dan ketebalan kornea.


Ketebalan kornea ini sangat menentukan karena saat tindakan itu ada bagian kornea yang diambil, nah kalau kornea kurang tebel apanya yang mau diambil? Kalaupun bisa nanti korneanya akan jadi tipis banget dan rawan meletus kaya balon (ini analogi dokternya ahahahaha aku hanya meniru LOL).


Syukurlah setelah dites ternyata kornea saya tebal dan aman untuk LASIK. YAYYYY! Di titik ini saya udah bener-bener hepi pengen lompat-lompat saking senengnya!



Semua proses ini bisa dilakukan dalam 1 hari. Jadi kalau kamu kerja, kamu bisa cuti 2 hari Kamis dan Jumat. Tapi sebelumnya kamu telepon dulu untuk bikin janji ya! Bikin janji dulu sebelum cuti lol kali ajaaa ada yang pede banget udah cuti padahal lalu dokternya penuh HAHA.


Kamis kamu konsul dokter, screening, dan LASIK.

Jumat konsul dokter 1 hari setelah LASIK.


Sabtu Minggu istirahat (ya kasian amat masa Sabtu Minggu kerja jugaaa), Senin udah bisa kerja lagi normal bener-bener normal banget magic! 


Tindakan ReLEx® SMILE


Di teras ruang operasi (halah apa dong namanya), saya diminta ganti baju operasi, pakai hair cap, dan ganti masker. Iya karena lagi pandemi, masker bener-bener nggak dilepas sama sekali lho dari screening sampai tindakan.


Di dalam, ada sofa untuk nunggu, dijelaskan nanti tindakannya seperti apa, lalu kedua mata ditetes antibiotik, ditetes anestesi 3x dengan jeda beberapa menit, dibersihkan pakai betadine, dan siap deh masuk ruang operasi.


Ruangannya dingin (tapi dikasih selimut kok), dan kita sepenuhnya dalam kondisi sadar ya. Nggak disedasi sama sekali jadi cuma mata aja yang dikasih anestesi. 



Saya diminta tidur, sebelah mata ditutup, doa bersama, mulai deh mata kanan duluan. JG dari luar video dan satu mata itu prosesnya  nggak lebih dari 3 menit! Pertama matanya di-laser 24 detik, saya sih cuma diminta fokus lihat titik cahaya hijau gitu. Setelahnya laser diangkat, lenticulenya diambil, ini agak kurang nyaman karena bola mata kaya dielus-elus tapi ya tetep fokus aja ke si titik hijau terus selesai deh! Nggak sakit sedikit pun! Setelah itu mata kiri lewat proses yang sama dan selesai. Cepet banget!


Saya sih nggak deg-degan sama sekali, tenang karena dokternya juga menenangkan banget. Beneran deh meditasi ternyata bantu banget dari perkara cabut gigi sampai LASIK. Terakhir saya harus cabut 2 gigi bungsu juga sepanjang 2 jam lebih prosesnya ya atur nafas aja dan tarik pikiran untuk di sini dan kini, nggak ngelantur ke mana-mana.


Ini juga sama, tapi saya nafasnya hati-hati banget karena pas coba tarik nafas panjang sama dokter dibilang jangan gerak LOL. Iya juga narik nafas panjang otomatis kepala gerak dikit kan. Tapi ya dibanding cabut gigi bungsu, ini nggak sakit sama sekali. 100% lebih sakit cabut gigi, lebih nggak nyaman, ini mah kalem banget lah.



Keluar ruang operasi, pandangan masih agak blur tapi nggal blur minus 7 banget. Diperiksa lagi di situ, ganti baju dan langsung pake kacamata item (saya sengaja bawa dari rumah) karena semua rasanya silau banget. Lalu ke apotek, dikasih obat dan penutup mata, udah deh pulang.


Di jalan saya takut sakit dan memang dikasih Mefinal 2 tablet kan, khawatir anestesi ilang bakal perih jadi saya minum dulu aja.


Di mobil nggak bisa buka mata karena super duper silau banget padahal udah pake sunglasses. Nyampe rumah langsung tidur 3 jam dan berair terus gitu matanya.


Mulai panik duh kok pede banget besok udah bikin jadwal syuting, weekend-nya udah booking tempat glamping pula, apa bisa? Apa mataku akan berair lama gini?


Karena udah kepanjangan, lanjut di part 2 ya! Perawatan setelah LASIK, biaya, dan apakah hasilnya permanen? Baca di sini:


Perawatan dan Biaya LASIK ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center


Nonton videonya juga ya!


-ast-








Bebe ke Dokter Mata (3)

on
Wednesday, March 17, 2021


Baca dulu part 1 dan 2 nya ya biar nyambung.


Bebe ke Dokter Mata: Part 1 | Part 2


Pengalaman Periksa Mata Anak dengan dr. dr. Florence M. Manurung, SpM(K) di JEC Menteng.


Hari itu, hari pertama Bebe ke dokter mata, saya ada webinar jadi ini pengalaman JG dan Bebe hahahaha.


Rada bersyukur saya nggak ikut karena Bebe sama saya tuh kan modenya langsung bayi ya, gampang nangis, lemah, leuleus, segala pake nangis pokoknya. Kalau sama appa tuh kuat, nggak gampang nangis, nggak manja, nggak minta gendong HAHA.


Urutannya gini kalau mau ke JEC saat Covid. 


1. Bikin janji via WhatsApp JEC di nomor +62 877-2922-1000 (JEC cabang manapun bisa bikin janji di WA ini).

2. Download aplikasi JEC, sign up, isi screening Covid di sini. Screening berlaku 12 jam jadi isinya sebelum pergi aja, cepet kok.

3. Dateng ke sana, lihat hasil screening, ganti masker dengan yang disediakan. Boleh pakai masker dobel dengan kain tapi masker medisnya di dalem, masker kain di luar. Please nurut ya karena dokter mata tuh risiko tinggi tertular Covid huhu repot banget kan kalau pada sakit, udah mah cuma dikit dokter mata tuh.


Masuk, registrasi standar rumah sakit lalu ke BDR (Basic Diagnostic Room), periksa mata kaya di optik cuma lebih lengkap. Diperiksa pakai alat (ya ngeliat balon udara itu), lalu periksa manual (sebut huruf), kalau dewasa (saya akhirnya ikut periksa di kunjungan ketiga) diperiksa tekanan mata. Disemprot pakai udara gitu. Kalau anak, diperiksa ininya di dalem sama dokter.


PLEASE NOTE YA INI:


KALAU MATA KALIAN ATAU SUAMI MINUS, BAWA ANAK KE DOKTER MATA YA! Plis jangan bawa ke optik doang karena hasil dari dokter mata itu lebih spesifik sehingga anak bisa pakai kacamata yang bikin dia liat 100% bagus.


Karena pengalamanku seumur hidup pakai kacamata hanya periksa di optik, optik tuh suka nurunin hasil kita dengan alasan “nanti pusing” atau “ketinggian ini, terlalu terang nggak?” gitu kan? Padahal mungkin hasil pemeriksaan di optik NGGAK PRESISI jadi kamu pusing. Karena kacamata itu harus 100% clear and crisp alias harus presisi jadi mata kamu nggak cepat lelah.


Kata dokternya, datang ke optik untuk periksa mata itu selevel dengan datang ke tukang gigi saat sakit gigi. YA BENER SIH HUHU SUNGGUH MERASA BODOH :( Padahal kami apa-apa ke dokter banget cuma entahlah sotoy atas mata karena merasa saya seumur hidup berkacamata.


*


Dari BDR, muncul kan hasil untuk acuan pemeriksaan dokter. Lalu dicek ulang sama dokter. Ini namanya pemeriksaan subjektif ya. Karena ya kita percaya aja sama anak (ini kondisi anaknya udah bisa baca dan udah paham, kalau bayi aku nggak ngerti).


Jadi Bebe diminta lihat lagi huruf sampai 100% terlihat jelas. Dari jejeran 5 huruf paling kecil, harus bisa bener jawab 3. Abis itu disemprot tekanan mata untuk cek glaukoma cmiiw plis ini hanya mengandalkan ingatan JG, googling sih bener maafkan hahaha.


Setelah itu, keluar lagi dari ruangan dokter, kembali ke BDR dan ditetes matanya biar pupilnya membesar. INI PERIH KATANYA. Nangisss sampai pas mata sebelah kan dia nggak tau kalau seperih itu ya, masih santai mau ditetes. Pas mata sebelahnya NGGAK MAU BUKA MATA HAHAHAHA.


Ya udah dengan berbagai bujukan JG (YAY!) akhirnya mau. Lalu dipakein kacamata kaya di optik, ruangan digelapin, mata ditembak cahaya, dan matanya diperiksa dengan alat … YA NGGAK TAU ATUHLAH NAMANYA APA HAHAHAHA. Intinya kita tuh nggak bisa percaya gitu aja sama anak 6 tahun untuk bilang semua huruf clear and crisp kan, jadi diperiksa ulang secara objektif gitu. Kalau orang dewasa bilang ok clear itu ya otaknya udah ngong lah ya yang clear itu kaya apa, yang berbayang itu kaya apa, kalau anak-anak judgment mereka masih sulit dipercaya.


Keluarlah hasil pemeriksaan dari dokter dan ya beda sama optik. Nggak jauh masih di minus 3,5 tapi perintilan yang lainnya beda (silindris, dll), tapi ya harus diganti lagi lensa yang baru diganti belum seminggu itu hehehehe. 


Disuruh dateng lagi 4 bulan kemudian.


4 bulan kemudian yaitu bulan lalu minusnya jadi 4,5. Dalam 4 bulan naik minus 1. Apa kabar teori ibu 20 tahun naik minus 4? :’) Dokter mengingatkan kalau naik minus itu ya wajar lagi pandemi begini. Wajar sih wajar dok tapi nggak 4,5 juga kaliii. Lelah akutuh. 


Akhirnya dokter menyarankan dua opsi. Pakai tetes mata TANPA PUTUS selama 2 tahun untuk nahan minusnya atau pakai Ortho-K, hard lens yang dipakai setiap hari saat tidur malam untuk nahan pertumbuhan mata dan siangnya mata jadi normal!


Kami pilih Ortho-K, sudah 2x ke dokter spesialisnya, sudah fitting, tapi masih PO selama 6 minggu. Lihat testimoni anak-anak lain di YouTube sih bener-bener siang mereka nggak butuh kacamata sama sekali. Solusi banget sih menurutku jadi bisa bebas kacamata meski siang doang sambil nunggu cukup umur untuk lasik.


Demikian cerita minus mata. Lanjut nanti pengalaman Ortho-K ya!


-ast-

 





Bebe ke Dokter Mata (2)

on
Tuesday, March 16, 2021
pengalaman ke dokter mata anak


MAAF GUYS UDAH MAU 2 TAHUN BARU UPDATE LOL. Jadi ini akan panjang dan akan langsung ada part 3 ya!


Bebe ke Dokter Mata: Part 1 | Part 3


Rada hectic ya dunia permataan anak karena Corona terus saking ~yah gimana lagi yhaaa~ jadi males update blog huhu padahal penting lagi untuk dibaca ulang di masa depan.


Okelah aku gali berbagai info setahun ke belakang karena sejak blogpost itu, Bebe udah 4 kali lagi ke dokter mata :)))))


PANDEMI DAN MATA BEBE


Pandemi mau ngapain lagi sih kalau nggak ngurusin gadget? Iya tau banyak ortu yang masih sanggup anaknya no gadget saat pandemi tapi tentu itu bukan aku :’)


Ya saya kan masih kerja, JG juga kerja, Bebe sama siapa kalau bukan sama Ryan? :’)



Ditambah sekolah aja sehari itu dari jam 8.30 - 14.30. Ada 2 kali break masing-masing 30 menit dan 1 lunch break. Bebe baru boleh main game jam 5 sampai saya dan JG selesai makan malam.


Intinya ni anak dari umur 0-5 tahun cuma ketemu screen saat weekend, JADI BERJAM-JAM SETIAP HARI KARENA PANDEMI! Bukan main atau nonton tapi juga kan sekolahnya di screen! *KESAL*


Oktober 2020


Bulan Oktober, hadir 1 email dari sekolah Bebe, tentang Kuesioner Skrining Kesehatan Anak Usia Sekolah. Di emailnya ada “Note: Dalam pengisian kusioner, mohon membaca petunjuknya sebelum mengisi.” Dikasih deadline 2 minggu untuk isi.


Dalam hatiku ya apalah sih notenya emang sesusah apa mengisi tentang kesehatan anak, dikasih waktu 2 minggu pula. LAH TERNYATA SUSAH MONANGESSSS. Sampai segala gigi harus difoto dari berbagai angle ya ampun stres.


Nah tentu ada kesehatan mata juga kan. Ditanya apa pake kacamata kah, punya kelainan mata kah, dll. Salah satunya, anak diminta menyebut jumlah jari ortu dari jarak 5 meter. Bebe dengan kacamatanya … nggak bisa jawab. MULAI PANIK DONG.


Karena seperti yang kusebut di blogpost pertama, minus 1 di umur 5 ya wajar karena mikirnya saya pun minus 2,5 di umur 10, sekarang umur 32 minusnya 7. Jadi dalam 20 tahun rata-rata naik minus 4 lah ya.


Kalau Bebe kaya saya plek, maka 20 tahun kemudian di umur 25 (asumsi minus 1 di umur 5) minusnya akan hanya kurleb 5, not bad kan? TAPI KOK BARU UMUR 6 UDAH NGGAK BISA LIHAT PAKAI KACAMATA YANG BELUM SETAHUN?


HUHU.


Nah di sini kesalahanku yaitu ketika minus terasa naik, yang dilakukan pertama kali apa? JELAS BUKAN KE DOKTER MATA TAPI KE OPTIK.


Seumur hidup ke dokter mata cuma ya tahun lalu itu bareng Bebe. Sebelumnya BELUM PERNAH :))))


via GIPHY


Saya udah pakai kacamata dari kelas 6 SD dan kalau kacamata nggak enak tuh ya ke optik. Ke ABC Optik di sebelah Toko Sami Jaya di Jalan ABC, haloh wargi Bandung, ring a bell? :')


Sampai detik ini masih kebayang itu toko, gelap-gelapnya, pengap-pengapnya, dengan ruangan tes mata di balik jam kayu besar. Kursinya aja masih inget banget YA GIMANA BERTAHUN-TAHUN PERIKSA DI SANA!


Cuslah kami ke Owl Kokas karena kacamata Bebe emang Owl dan nyaman banget. Diperiksa wah minusnya jadi 3,5 T_______T


Dibikinlah lensa baru tapi tetap nggak enak hati karena kok bisa dari 0-5 tahun minus cuma 1 tapi dikasih 6 bulan pandemi minusnya jadi 3,5. Gimana nggak kesal sama gen sendiri?


Langsung memutuskan udalah tetep ke dokter mata juga. Jadi ganti lensa iya, ke dokter mata iya (ngapain coba dipikir-pikir ya, mending ganti lensa setelah ke dokter mata aja).


Langsung cus bikin janji dengan dr. Florence M. Manurung, SpM(K). Ternyata pandemi gini sepi dan langsung dapet jadwal di weekend berikutnya.


Iya dr. Florence ini adalah dokter anak yang saya tulis juga di bawah blogpost pertama. Cuma waktu itu mundur karena antrinya SEBULAN untuk bisa bikin janji sama dr. Florence. Mikirnya (INGAT INI PEMIKIRAN SEBELUM PANDEMI) ya udalah toh udah ke dokter mata, anaknya udah nyaman pake kacamata, nanti-nanti lagi aja ke dokter mata anaknya.


Ya failed banget lah ukuran optik karena pada akhirnya ganti lensa lagi HAHAHAHA ZONK :)))


Lanjut ke part 3!


-ast-