-->

Image Slider

Day 12

on
Wednesday, March 25, 2020

Saya sudah sangat ingin menulis tentang hidup akhir-akhir ini. Triggernya Ashraf Sinclair meninggal dan terlalu banyak hal yang terjadi di dunia.

Entah kenapa saya tidak menyempatkan diri. Karena merasa kepala terlalu penuh saya akhirnya hanya menuliskannya singkat di caption Instagram.



Berawal dari Kobe Bryant, lalu Ashraf Sinclair. Kemudian daftar tontonan 1-2 bulan belakangan yang bukannya menghibur malah bikin nangis bombay: “All The Bright Place” (Netflix) tentang dua orang yang mencari cahaya setelah duka dan trauma, “Onward” (Pixar) tentang pengandaian kematian yang kembali hanya untuk sehari, dan "Hi Bye Mama" (Netflix) yang membuat saya berpikir ulang tentang makna kehidupan.

Tentang meninggalkan dan ditinggalkan. HUHU SEDIH BANGET ASLI. Hi Bye Mama memperlihatkan sudut pandang kematian dari sisi yang meninggal, bukan dari sisi yang berduka. Baru, setidaknya untuk saya. :(

Lalu yang terakhir adalah Covid-19 yang bukannya bikin saya takut mati tapi bikin saya takut ditinggalkan jadi first thing first: Cek polis asuransi jiwa JG, apa uang pertanggungannya tetep cair kalau meninggal karena pandemi?

(Ternyata iya).

*

Pagi ini, hari keduabelas saya dan Bebe diam di rumah. Kami tidak melangkahkan kaki ke luar sekali pun. Berjemur di kamar yang memang jendelanya pas sekali terpapar sorotan matahari pagi, menghirup udara segar (ya kapan juga udara pagi Jakarta segar sih) dari balkon apartemen saja.

JG ke luar 2 kali untuk grocery shopping, mandi dan bebersih sebelum satu ruangan lagi dengan kami berdua. Dua kali ia keluar untuk mengambil paket dan GoFood. Hanya begitu saja tetap langsung mandi bersih. Terlalu takut membawa virusnya ke rumah, terlalu takut Bebe tertular dan kesakitan. :(

Saya dan Bebe berkomitmen 14 hari di rumah karena memang itu esensi isolasi diri, kan? Diam di rumah selama minimal 14 hari, agar ketika memang harus sakit, kita tahu persis kapan dan di mana kita tertular. Sekarang hari ke 12, seharusnya 2 hari lagi kami bisa bilang aman dan tidak punya virus dalam diri. Atau kalau ternyata punya dan tanpa gejala pun, sudah tidak menularkan pada siapa-siapa dalam 14 hari.

Jadi kami memang mengisolasi diri agar yakin tak tertular dan menulari. Iya, term yang tepat untuk kami adalah self-isolation bukan social distancing, karena saya tidak bersedia keluar lalu menjaga jarak dengan orang lain. Di saat seperti ini rasanya social distancing saja tidak cukup, apalagi tinggal dengan anak kecil.

Selama ini yang disebut rawan selalu orangtua. Rawan karena tingkat kematiannya tinggi. Tapi membaca berbagai cerita yang mengalami sakit, sakitnya bisa jadi ringan bisa jadi sangat berat. Membayangkan Bebe sakit berat kok rasanya saya tak mau keluar rumah. Biarlah saya hampir gila tapi saya di rumah saja untuk sementara.

Kenapa saya hampir gila?

*

Saat pengumuman sekolah diliburkan 2 minggu di hari Sabtu 12 hari yang lalu, saya adalah kaum yang optimis bahwa ini akan terjadi selama 2 minggu saja. Yah, 14 hari diam di rumah tidak ada salahnya, kan? Daripada keluar lalu jadi sakit, lalu jadi menulari orang yang sehat?

Naif sekali rasanya sekarang karena saat itu saya menganggap semua orang pasti melakukan hal yang sama.

Tidak, ternyata.

Ada yang memang terpaksa karena harus bekerja jadi tetap keluar rumah. Yang ini, jelas tidak apa-apa karena kalau terpaksa keluar rumah tandanya sudah tahu dong selama di luar itu harus bagaimana? Tidak menyentuh barang di tempat umum, rajin cuci tangan, jaga jarak dengan orang lain, dan segambreng tips lain.

Tapi yang meremehkan? Yang menganggap “halah mati mah mati aja” lalu keluyuran? Yang di jalan tetap serampangan, seperti saat normal, boro-boro cuci tangan, sampai rumah belum mandi atau ganti baju langsung rebahan. Yang kategori kedua ini nih yang paling pengen saya jorokin ke jurang biar mati duluan sebelum nularin orang :((((

Baru satu minggu di rumah, tiba-tiba imbauan baru muncul dan membuat #dirumahaja dari nol lagi. Iya, ditambah lagi 2 minggu karena gimana dong yang seminggu pertama kemarin jatohnya trial aja, karena nggak semuanya patuh.

Bebe yang sebelumnya sudah menghitung hari setiap pagi (10 hari lagi ya ibu? 9 hari lagi ya?) langsung berteriak NOOOO! We stuck together again? NOOOO! Sambil memeluk saya dan tertawa lepas. Saya?

:(

*

Saya sudah kehabisan energi.

Sebagai ekstrovert, saya sampai berusaha mengubah pola pikir, bahwa “jadi ekstrovert” adalah mindset. Afirmasi bahwa saya tidak perlu keramaian untuk charging energi, tidak perlu mengobrol dengan orang banyak untuk bisa bersemangat. Saya PASTI BISA mengisi ulang baterai saya dengan di rumah saja. Toh saya di rumah bersama dua orang favorit saya.

Saya menonton konser Pamungkas live, saya tetap IG story dan mengobrol dengan orang lain, saya tetap kulwap, saya tetap berusaha beranggapan bahwa sebagai millennial saya bisa hidup secara virtual.

Ternyata susah luar biasa. Saya butuh keramaian yang bukan maya. Senin pagi, hari kesepuluh itu jadi puncaknya. Dua hari sulit tidur dan hanya bisa menangis. Bangun tidur menangis sambil dipeluk Bebe yang pukpukin saya “Aku bosan banget Xylo, aku capek, aku boleh kan menangis?” Dia bilang boleh.

:(

Hari kerja saja sudah sulit untuk saya tapi kan kalau hari kerja saya sibuk karena tiap jam sudah ada jadwalnya harus ngapain atau jam makan sekeluarga berantakan sementara Bebe harus dipantau makannya agar berat badannya tidak turun lagi. Saat akhir pekan?

Belum lagi yang terburuk adalah saya jadi tidak punya me time, saya tidak punya waktu untuk diam sendiri karena definisi baru dari me time saat #dirumahaja seperti ini adalah menutup pintu kamar lalu menonton serial Netflix. Dengan suara JG dan Bebe berteriak-teriak di luar.

Bukan me time ideal tapi saya butuh itu. Bukan me time ideal karena jelas tidak bisa mengisi ulang baterai saya jadi 100% lagi.

Entahlah dengan kondisi berada di satu unit apartemen yang hanya berukuran 33 meter persegi, saya tidak tahu kapan bisa 100% lagi.

Energi yang ada kini hanya cukup untuk selalu bilang good morning sambil tersenyum lebar pada Bebe. Yang hanya cukup untuk menemaninya mengobrol berjam-jam sebelum tidur. Tentang Minecraft. Games yang tidak saya mengerti tapi saya dengarkan tiap detailnya. Karena hanya itu yang saya bisa untuk menghiburnya.

“I miss school, school is so fun,” kata Bebe semalam. Ia mulai rindu sekolah.

Minggu lalu yang ada di pikiran: Saya pasti bisa melewati 14 hari hanya dengan diam di rumah.

Minggu ini berubah menjadi: Kapan saya bisa beradaptasi dengan kondisi seperti ini?

Karena sungguh, orang sedunia pun tak ada yang tahu pasti kapan kondisi ini benar akan berakhir.

:(

*

Lalu 12 hari ini apa yang kami bertiga lakukan di rumah?

Pagi: Yoga, sarapan, mandi, jam 8 JG mulai kerja. Jam 9 saya mulai kerja, Bebe screen time.

Jam 12 masak makan siang dan makan sampai jam 1. Ngobrol, dancing, main. Kemudian Bebe tidur siang, saya kebut lagi kerja sampai jam 3 sore karena jam 3 dia PASTI akan bangun.

Jam 3 mulai main dengan Bebe bergantian dengan JG. Hanya beberapa hari ia kembali screen time karena saya dan JG terlalu banyak pekerjaan.

Malam makan, main UNO, umpel-umpelan di kasur. Besoknya begitu lagi.

Untungnya Bebe senang. Sebagai anak yang terakhir kali bersama ibunya 24 jam berhari-hari itu saat usianya 3 bulan, ia senang sekali karena bisa bersama saya dan JG sepanjang waktu. Matanya terus berbinar, terus menerus memeluk dan mencium saya. Meski rindu sekolah, ia belum mengeluh bosan. Malah mungkin ia bosan sudah keluar rumah terus setiap hari selama hampir 6 tahun. Baginya, ini liburan. Bagi saya, ini pelajaran.

Pelajaran bahwa rencana, meskipun sudah dibuat berbagai cara dan gaya, tetap bisa tertunda. Bahwa hidup saya yang biasanya sangat bergantung pada Google Calendar, juga nyatanya bisa tetap berjalan tanpa jadwal pasti apa-apa.

Yang paling membuat khawatir: Bagaimana kalau ini berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama? 3 bulan? 6 bulan?

Bagaimana kalau ini adalah the new normal seperti yang dibicarakan orang-orang? Bagaimana jika pemulihannya butuh waktu sangat lama karena ya Indonesia terlalu luas, Jakarta terlalu padat, penduduknya tak sepaham dan setara, pemerintahnya juga tak tegas karena terlalu takut jadi chaos. Wajar, saya juga takut. Tapi sampai kapan?

Sebuah pertanyaan yang berusaha saya enyahkan dari kepala karena sadar benar, itu di luar kendali dan kuasa saya tapi tetap saja. Pertanyaan itu muncul dan muncul kembali, buah cemas karena pengaruh diam di rumah terlalu lama.

*

Count your blessing.

I did.

Saya bersyukur masih gajian, punya kulkas penuh stok makanan dan camilan, dana darurat dengan jumlah yang cukup, masih bisa “iseng” beli saham, masih punya pilihan untuk diam di rumah. Saya bersyukur sekali.

Di sisi lain, rasa syukur ini jadi bentuk khawatir lain karena bagaimana dengan orang yang tidak seperti kami? Apa yang akan mereka lakukan? Apa mereka bisa bertahan hidup?

Saya jadi merasa bersalah karena bisa bersyukur. Merasa bersalah karena pandemi seperti semakin memperlebar jarak, yang bisa stok makanan dan yang tidak, yang punya privilege dan yang hidup dari ke hari. Hidup memang tidak pernah adil.

Dulu rasanya saya banyak mau. Saya mau belajar ini itu, saya mau ambil kelas ini itu, saya mau bikin ini itu untuk ulang tahun Bebe, saya mau beli ini itu. Banyak sekali daftar keinginan saya di tahun 2020 ini.

Sekarang semua keinginan itu hilang dan saya hanya mau dunia kembali ke tahun lalu. Ketika yang diributkan hanyalah hipnoterapis yang mengaku dokter, ketika yang dikhawatirkan hanyalah GoFood yang terlambat datang saat makan siang. Ketika yang ingin dicapai rasanya masih bisa digapai.

Bisa apa selain menangis? Hehehe.

Menangis menyembuhkan. Menangis adalah bagian dari mengenali emosi yang datang dan pergi. Maka kalau mau menangis, menangislah. Kalau mau teriak, teriaklah. Tapi tolong, tetap diam di rumah.

Kita perlu semua orang untuk diam di rumah dan menghentikan ini segera. Karena dampaknya bukan hanya ekonomi yang kolaps tapi juga kondisi jiwa yang semakin jauh dari tawa.

*

By the way, saya berjuang untuk tidak seperti ini lagi bertahun-tahun lamanya. Berjuang untuk tidak menangis tiba-tiba, untuk tidak berpikir terlalu banyak. Saya belajar meditasi, ikut kelas-kelas mindfulness, dan setahun belakangan saya merasa saya sudah baik-baik saja. Saya sudah berani untuk bilang saya pulih dan tidak apa-apa.

Dihadapkan pada situasi bencana seperti ini ternyata saya belum baik-baik saja. Semoga ini semua cepat berlalu, ya.

Semoga rasa damai bukan lagi hanya andai.
Semoga rasa tenang secepatnya bisa jadi pemenang.

-ast-




When It’s Only JG & AST #169 - #175

on
Monday, February 10, 2020
Dua to popular demand (HALAH), I start taking notes of our conversation again.

Me: “Pada nanyain ‘When It’s Only JG & AST’ tuh, aku mulai catet lagi deh kalau kamu mulai garing” 😏

JG: “Oke aku ingetin”


And here goes the story of our daily life …

#169

Beli chicken wings mentah di supermarket.

JG: “Be, look! Now I can fly!”

Bebe: “Hah?”

JG: “Because I have so many wings!”

JG: “SAYANG CEPET CATET ITU LUCU BANGET YANG AKU OMONGIN”

:(((((

#170

Nobody: …

Literally no one: …

Literally not a single soul: …

JG: “Kasian yah cewek-cewek Malaysia tuh nggak bisa bebas.”

Me: “What?”

JG: “Bajunya aja kurung”

T________T

#171

Lagi di mobil. JG yang SJW tata tertib tingkat dunia, buka jendela dikit dan menjulurkan tangan keluar.

Me: “IH KAMU BUANG UPIL SEMBARANGAN YA! IHHHH GIMANA KALAU KENA ORANG NAIK MOTOR!”

JG: “Lah upil kan organik, mudah membusuk, daripada pake tisu, boros, zero waste ai kamu”

ME & BEBE: “IIHHHH APPA IHHHHH JOROKKKKK”

JG: “ADUH IYA YA AKU ITUNGANNYA BUANG SAMPAH SEMBARANGAN NGGAK YA KALAU BUANG UPIL ADUH?”

Ikutan panik hahahahahhahahaha.

#172

Jadi kami menemukan sebuah fakta bahwa alpukat dengan jenis yang sama, dijual berjauhan di supermarket yang sama, hanya karena yang satu bentuknya bagus dan mulus, sementaranya satunya jelek dan nggak enak diliat. Yang bentuknya jelek tidak insta-worthy ini harganya setengahnya!

Me: “Ah enak alpukatnya, sama banget menurut aku mah”

JG: “Iyalah ini kan harusnya mahal, cuma bentuknya jelek”

Me: “Iyalah nggak apa-apa, kamu juga bentuknya jelek aku nikahin”

JG: “Iya sih bener juga”



LHA KOK TIDAK MEMBELA DIRI? Biasanya ngaku seganteng Beckham <--- Link series ini spesial Edisi Beckham.

#173

JG tuh kalau ke kantor dekil banget ya ampun. Baju udah kucel tetep aja dipake. Pagi-pagi kalau disuruh ganti baju yang bagusan tuh susah.

JG: “Sayang, kata temen aku, aku pangling banget kalau pake baju rapi gitu di nikahan”

Me: “Iyalah, makanya cepet ah ganti kaos yang bagusan”

JG: “Alah, Ardhito aja pake baju kucel tetep dibilang ganteng sama cewek-cewek”

Me: “YA ARDHITOOOO. MUKA KAYA KAMU KALAU BAJUNYA JELEK MAU GIMANA COBA!”

T________T


Kasian pacarku dibilang jelek terus sama aku. :(

#174

Baca berita Karen “Idol”.

Me on WhatsApp: “Sayang, kamu tau Karen Idol?”

JG telepon: “Loh aku ngefans banget sama Karen dulu dia manggung di mana aku kejar”

Me: “OHHH AKU INGET. Yang rambutnya pendek ya anak SMA X di Bandung kannnn!”

JG: “Iya aku kejar-kejar dia sampai di-notice terus nggak tau dari mana aku dapet nomer telepon dia terus aku telepon dan dia takut jadinya sama aku”



YA ALLAH PACAR AKU STALKER T________T

#175

Annisast mendadak pengen cat ruang tengah rumah. Dengan alasan tembok yang sekarang kalau difoto jadinya kuning lol. Padahal udah 2 tahun tembok broken white ini baik-baik saja, masih bersih pula nggak kucel.

Terus JG iya iya aja. Katanya panggil tukang aja tapi berminggu-minggu nggak panggil juga dan nggak gerak.

Tapi bukan annisast namanya kalau tidak nekat DIY bermodal pengalaman cat kamar sendiri saat SMA dan kuliah. Belilah cat dan 3 batang kuas di Tokopedia.

Lalu saat datang, JG sedang kelas di Sabtu pagi, saya pun LANGSUNGGG cat sendiri dua sisi dinding rumah. YA NGGAK NYAMPE DONG KE LANGIT-LANGIT, TINGGI AJA CUMA 155 CM SIS! PEGELLLL.

Terus pas dia otw saya telepon.

Me: “Sayang aku punya surprise hehe. Pasti kamu stres hehehehehhe”

Pas nyampe rumah.

JG: “ASTAGA YA AMPUN ADUH AKU PUSING ADUHHH KENAPA KALIAN CAT RUMAH SIH ADUHHHHH”

Me: “Tolongin aku plis yang atasnya leher aku pegel banget kamu mau kan tolongin aku”

via GIPHY

JG: *ngecat sambil ngedumel*

“Saya terima nikah dan randomnya annisast … Perasaan aku nikah sama kamu perjanjiannya cuma cuci piring deh bukan ngecat imah jiga kieeeuuuu!”

:))))))




Lagi, Tentang Uang dan Kebahagiaan

on
Thursday, January 30, 2020
Tahun lalu, saya pernah nulis tentang mempertanyakan kebahagiaan. Tentang kita nggak pernah bisa valid merasakan sepenuhnya bahagia kalau nggak punya pembanding keadaan yang tidak bahagia.

Baca dong: Mempertanyakan Kebahagiaan (Open new tab dulu terus baca plis)


Pun dengan uang, “idealnya” kita bisa bilang uang bukan segalanya ya saat punya uang. Kalau dalam kondisi belum pernah punya uang, tidak valid bilang “money can’t buy happiness” karena buktinya mana?

Apa kamu pernah merasakan punya uang untuk beli sebagian besar barang yang kamu mau lalu tidak bahagia? Kalau belum, kok bisa bilang gitu? Apa kamu cuma menghibur diri?

*

Lalu semalam ngobrol sama JG soal ini dan dia bilang “privilege banget ya ternyata bisa makan malem bertiga terus tiap hari tuh”. Terus saya jawab: “Apa ini privilege? Atau pilihan?”

Ya privilege sih, tidak semua orang punya kemewahan kebetulan suami kerja di jam kerja yang pasti dan istri yang kerja di perusahaan yang jam kerjanya tidak pasti tapi most of the time di jam dinner udah di rumah lah.

(Baca blogpost soal Work Life Balance ini, klik, open new tab lagi!)

We’re blessed.

Itu kalau dilihat dari sisi privilege. Tapi kalau dipikir ini buah dari keputusan di masa lalu juga ya bisa. Karena prioritas waktu buat keluarga ini juga jadi pilihan dan komitmen sejak memutuskan menikah kan. Karena lelah LDR, sebelum nikah JG memutuskan pindah kerja ke kantor yang jam kerjanya pasti.

Gaji ilang setengah, hidup jadi lebih susah rasanya karena hamil dan mau punya anak kok gaji malah ilang setengah. Makanya memang saya harus tetep kerja karena realistis aja emang nggak cukup uangnya untuk membesarkan anak kalau saya nggak kerja.

Lalu teringat lagi kejadian kemarin juga soal dia batal pindah kerja. Diingatkan lagi dengan komitmen awal kami bahwa ya kerja kan buat keluarga, untuk apa kerja tapi jadi nggak punya waktu buat keluarga?

Langsung pulang ke rumah sepulang kerja juga kan pilihan. Dalam sebulan, JG hanya tidak langsung pulang itu hanya maksimal 2 kali karena dia main bola, itu juga kalau tidak hujan, kalau hujan ya pulang. Saya, pulang malam tidak sampai sebulan satu kali, kalau memang kebetulan ada acara yang undangannya malem aja. Sangat jarang.

Kami lebih sering memilih langsung pulang karena rasanya udah berjam-jam di luar rumah apa nggak mau pulang aja dan kembali kruntelan bertiga?

Memilih untuk tinggal di sekitar kantor juga kan pilihan. Nggak mau punya rumah tapi terus nggak bisa makan malem bareng karena rumahnya jadi jauh dan kelamaan di jalan. Nggak mau punya rumah tapi terus Bebe jadi sama nanny di rumah karena cari daycare susahnya ampun-ampunan.

*

Kalau inget-inget waktu Bebe bayi dulu wahhh hidup tuh nggak segampang sekarang. Blog ini jadi saksinya hahahah.

JG masih mayan sering pulang malem tapi kami keukeuh pulang bareng biar bisa ngobrol jadi saya jemput Bebe di daycare lalu nunggu di halaman daycare bisa sejam sendiri.

Yang berat kalau bulan puasa, pernah saya tulis blogpostnya di sini: Hidup yang Lebih Baik (Jadi udah open new tab berapa ini? Hahaha)

Karena pilihannya naik taksi pulang berdua atau nunggu. Saya dan Bebe lebih sering nunggu karena waktu itu rasanya nggak mampu kalau harus pulang pake taksi setiap hari. Baru ada GoJek dan nggak sanggup bawa balita naik GoJek, belum ada GoCar atau GrabCar.

Dua tahun belakangan penghasilan udah lebih baik, udah nggak mikir dua kali lah kalau harus naik taksi atau GoCar gitu. Keuangan udah lebih stabil dibanding dulu, uang SD Bebe udah lunas kebayar, udah mulai nabung buat SMP dan SMA.

Jadi baru sekarang rasanya kami valid untuk bilang: Money can’t buy happiness.

Masih pengen classic Chanel bag sih emang πŸ˜‚tapi semua yang kami punya cukup kok . Semua yang kami punya sudah layak dirayakan. Semua yang kami punya, layak disyukuri karena toh lebih dari yang kami butuhkan selama ini.

Lebih dari yang kami butuhkan untuk bertahan hidup lho ya, bukan bertahan untuk keinginan yang selamanya nggak akan pernah habis.

*

Lalu mikir lagi, saya bilang “eh menurut aku kita bisa sampai di sini karena kita nggak pakai standar society untuk segalanya. Kita punya standar kita sendiri dan nggak gampang kebawa orang lain”.

Ini sih mungkin yang terberat. Berat karena harus tahan denger komentar dan omongan orang lain.

Standar society bagi pasangan muda baru nikah: Beli rumah, punya mobil, anak kedua. Nata-nata rumah, foto rumah di IG, main bareng anak di rumah.

Iya saya tau banyak yang memang sangat sangat ingin punya rumah sendiri karena satu dan lain hal. Jadi memang tujuan utama setelah nikah tuh beli rumah. Nggak apa-apa asal sudah dipertimbangkan dengan baik dan nggak jadi berat untuk bayar cicilannya.

Karena saya juga pengen kok punya rumah sendiri, tapi tau diri aja, pengennya di Jakarta Selatan dan kalau sekarang beli rumah, uangnya cuma cukup buat nyicil di pinggiran. Jadi ya tidak beli.

Tapi saya tau juga, banyak orang yang beli rumah karena merasa harus. Dari dipaksa orangtua, disindirin saudara, sampai merasa left out karena kok temen-temen udah punya rumah aku kok belum? Nah yang kaya gini nih udah keseret standar orang lain yang entah gunanya apa.

Belum lagi gaya hidup dan keinginan-keinginan yang muncul karena alasan self-rewards: Udah capek-capek kerja masa nggak boleh self-rewards!

Jilbab aja harus merek X yang belinya aja ampun harus cepet-cepetan atau harus dari reseller. Baju harus ini karena selebgram ini pake. Jastip lah semua orang beli barang jastip kok aku jadi pengen juga? Buku juga beli banyak karena masa orang belanja di BBW aku tidak? Kan boros beli buku lebih baik dibanding boros beli mainan?

Boleh self-rewards, masa nggak boleh. Tapi tentu lebih baik kalau tidak boros sih hahahaha.

Mau sampai kapan hidup kalian terseret gaya hidup orang lain terus? Apa tidak mau mendefinisikan kebahagiaan sendiri jadi nggak perlu pakai standar kebahagiaan orang lain?

*

Jadi apa bener uang bisa beli kebahagiaan? IYA DONG, BISA BANGET. Tapi ingat batasnya.

Kerjalah tanpa mengorbankan kesehatan. Kerjalah tanpa mengorbankan waktu bareng keluarga. Kerjalah untuk bisa bertahan hidup sekarang dan di masa depan bersama orang-orang yang kamu sayang.

Menabung sedikit-sedikit itu tidak apa-apa. Kamu tidak dikejar apapun. Selama masih ada uang untuk ditabung, sesuaikan gaya hidupmu dengan uang itu. Untuk menabung itu konsepnya kan hanya menambah penghasilan atau mengurangi pengeluaran. Kalau menambah penghasilan artinya mengorbankan waktu dengan keluarga, apa tidak mau coba review dulu pengeluaran, siapa tahu terlalu banyak gaya? :))))

Mungkin kadang kamu merasa iri pada teman-teman yang gajinya sudah dua kali lipat lebih besar, tapi ingat selalu, kerja lebih keras PASTI menuntut pikiran dan waktu lebih banyak. Kamu mau habis waktu untuk kerja atau mau banyak waktu bareng keluarga?

Poinnya adalah: Kerja sekerasnya untuk semua tanggunganmu tapi jangan lupa luangkan waktu untuk mereka ini. Luangkan waktu untuk mereka, luangkan waktu untuk dirimu sendiri. Dan di titik itu baru kamu akan bisa bilang kalau uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

Dan seperti yang saya bilang di atas, sengaja meluangkan waktu untuk quality time dengan keluarga itu pilihan. Ada yang memilih untuk tidak mau pulang cepat karena merasa kosong di rumah sendiri, merasa dingin padahal punya tuh suami. Mungkin saatnya terhubung kembali, apa yang harus kita ganti sehingga hidup bisa jadi lebih berarti? Apa yang salah? Apa yang harus dipilah atau harus mengalah?

Kita perlu uang untuk bertahan, tapi bukan berarti jadi kerja tak berkesudahan. Jadi jangan lupa rebahan! Semoga bahagia selalu, ya!

PS: Tulisannya agak kurang enak karena awalnya nulis untuk story. Tapi ah udalah posting di blog aja hahahaha

-ast-




A Cancelled Plan

on
Thursday, January 9, 2020

Wow I’m writing this while crying with relief hahahahaha.

Akhir 2019 dilewati dengan hari-hari menegangkan JG mau pindah kerja. Ya it’s time sih, udah 7 tahun di kantor yang sekarang. Karier naiknya pelan, pelaaannn banget. Kerjaan juga rasanya gitu-gitu aja.

Saya juga ngerasa ini sih waktunya dia untuk “gerak” pindah dari comfort zone dan kejar sesuatu untuk diri sendiri. Cari hal yang bisa bikin diri sendiri bangga dan punya pencapaian baru.

Karena selama ini yang dikejar pencapaiannya itu selalu saya. Saya mau ngapain lagi nih? Saya ambil sertifikasi apa? Saya kejar passion dengan cara apa lagi nih? Saya belajar apa lagi? Bertahun-tahun JG cuma supporter doang. Sebagai kaum non-ambis, dia nggak masalah dan senang aja jadi supporter.

Tapi sebenernya deep down saya juga pengen dia ketemu tantangan baru, orang-orang baru, networking baru. JG juga sebetulnya jenuh, lalu daftar untuk workshop broadcasting. Enam minggu ke depan dia akan workshop tiap Sabtu untuk sesuatu yang dia suka banget. Dan akhirnya mulai beresin LinkedIn.

Mulai aktif sampai tawaran kerja datang via LinkedIn bulan November. Interview lancar, nego gaji mayan alot, minggu kemarin medical check up dan lancar, proses ini itu, hari ini jam 10 tanda tangan kontrak. Gaji naik sekitar 36%, not bad sebetulnya menurut kami.

Perusahaannya lebih besar, pindah industri memang. Di industrinya, dia nomer 1 di Indonesia, multinational company, lebih besar dari company sekarang. Akan banyak belajar hal baru, dijanjikan akan banyak training (we’re that kind of people that super excited about trainings!), dan banyak hal lain.

Saya full support dan udah punya plan B serta C. Udah punya rencana ini itu karena (nah ini karenanya penting banget) karena di kantor yang baru posisinya asisten manager dan sudah diwanti-wanti dari awal kalau kerjanya mungkin tidak akan 9 to 5. Sabtu Minggu bisa jadi masuk jika diperlukan. Iya sih lembur dibayar full.

Plan A saya tentu tidak ada perubahan, saya tetep kerja, JG tetep anter jemput Bebe kaya biasa. Tapi kalau pulangnya malam terus?

Plan B saya yang anter jemput Bebe dan masih tetep kerja. Kalau ternyata capek?

Plan C saya resign jadi saya bisa fokus cuma anter jemput Bebe aja sambil mengerjakan hal lain. Udah banyak yang saya rencanakan sih. Agak nervous tapi yang konstan dalam hidup cuma perubahan, kan?

Intinya, saya menyambut 2020 dengan siap menyambut perubahan.

Plan C ini bikin JG misuh banget. Dari cuma “apa otak kamu bisa tetep kepake kalau resign?” atau “kamu bisa emang nggak ketemu orang lain dan di rumah aja?” sampai “hah udalah nanti kalau kamu resign nanti jadi rese”.

YA TERUS GIMANA?

Intinya kan yang terdampak dari perubahan ini tetep Bebe dong. Nggak mungkin saya sibuk kaya sekarang lalu JG lebih sibuk? Bebe gimana?

Tapi pemikiran resign ini diabaikan. Saya berkali bilang:

“Aku tuh terserah kamu lho, aku 80% ok kamu pindah tapi kalau kamu berat ya nggak apa-apa nggak pindah juga”.

“Aku yakin kita nggak akan menyesali ini kok. Pindah nggak boleh nyesel, nggak pindah juga nggak akan nyesel. Kita jalanin aja sama-sama.”

EH DIJAWAB DENGAN:

“Ya aku tuh bingung mau ambil atau nggak karena kamu bilang terserah. Kamu dong putusin ambil atau nggak.”

T________T

Bahkan mengambil keputusan pekerjaan pun harus saya yang mutusin. Ya kalau keputusan saya sih ambil aja, why not?

(Tentang JG yang susah ambil keputusan ada di sini ya: Anak dan Pengambilan Keputusan dan tentang Bebe yang bisa banget ambil keputusan di sini: Anak yang Bisa Mengambil Keputusan)

Sampai sore kemarin sebelum pulang kantor, JG chat sama temen kami yang memang udah lama banget kerja di industri yang sama dengan calon kantor baru. Satu kalimat yang langsung dheg adalah … “akan hectic kerjanya, nanti playtime sama Xylo berkurang”.

Ini kondisinya saya masih di kantor, JG telepon dan ceritain chatnya. Begitu nama Xylo disebut saya langsung galau. Saya langsung pengen merosot ke lantai dan “plis banget aku jadi 50:50 apa kamu perlu pindah?”

“Apa worth it?”

“Aku pengen kamu berkembang juga, punya sesuatu yang bisa kamu ceritain juga. Tapi, apa perlu?”

T________T

Perjalanan pulang dari kantor ke rumah dihabiskan dengan ngelamun. Mana dingin banget AC mobilnya dan terlalu malas minta bapak drivernya kecilin. Saya mikirin banget segala yang terjadi 5 tahun belakangan.

Makan malem itu kami bertiga mellow sekali. Saya tanya Bebe “Mau nggak pulang sekolah nggak dijemput appa?” Bebe jawab “kan bisa sama ibu”. Saya bilang “tapi setiap hari appa nggak jemput dan pulang malem?” Bebe nunduk sedih dan bilang “no no no”.

via GIPHY

Selama ini hidup kami baik-baik aja karena kondisinya seperti ini. Bebe tumbuh baik-baik saja. kami tidak kerja mati-matian lalu tidak punya waktu untuk dia. Kami kerja dengan waktu fleksibel, selalu punya quality time dan makan malam bersama, selalu punya weekend kruntelan bersama. What a privilege.

Kami menjalani hidup sebagai orangtua yang kompak dalam segala hal. Bebe tidak berat sebelah, Bebe akrab dan dekat dengan kami berdua. Tidak masalah kalau harus hanya bersama appa atau hanya bersama ibu. JG bisa meng-handle Bebe sebaik saya. Dalam kondisi apapun, pada Bebe, kami satu suara sebagai orangtua.

Kami menjalani hidup sebagai suami istri yang seru sekali dan masalah yang muncul sangat-sangat sedikit. Ya karena komunikasi lancar dan waktu berkualitas yang memang banyak. Apa perlu ini diubah demi tantangan baru? Demi pencapaian baru?

Dengan risiko waktu bersama Bebe akan berkurang? Dengan risiko tidak bisa main saat weekend karena lembur? Dengan risiko tidak bisa anter jemput Bebe padahal itu adalah bonding time antara Bebe dan appa? Dengan risiko tidak bisa main-main ke mall berdua Bebe sepulang daycare dan tidak bisa main nintendo bareng saat weekend?

Iya kalau tantangannya hanya di kantor, kalau tantangannya jadi masalah keluarga gimana? Ah, udalah kami terlalu takut ambil risiko itu.

Pagi ini saya chat di group keluarga, mengabarkan kalau pekerjaannya tidak jadi diambil. Ibu saya bilang “Kebersamaan bersama keluarga itu yang lebih mahal. Waktu sama anak yang mahal. Nggak akan terulang lagi. Nggak terasa sekarang aja udah mau SD”.

MAKIN AMBYAR NGGAK?

NANGIS. :(((((

Dulu sering banget denger kata-kata kaya gitu tapi nggak pernah tersentuh karena nggak mengalami. Sekarang begitu hampir mengalami rasanya baru sadar "oh ini maksudnya, ini maksudnya waktu tidak bisa diulang". :')

So here we go, kembali ke rutinitas biasa lagi. Rencana A B C batal semua dan ternyata jadi lega sekali. Uang bisa dicari, tapi waktu nggak bisa kembali. Kesempatan karier mungkin nggak datang dua kali tapi hari yang dilewati sekeluarga pun nggak bisa diulang lagi.

Semoga rezeki uang datang dalam bentuk lain ya! Rezeki waktu tinggal kami syukuri saja. :)

PS: Memang sepertinya saya akan rese kalau resign hahahaha.

-ast-




Hello, 2020!

on
Tuesday, January 7, 2020
Yailah masih aja postingannya tentang tahun baru ya ahahahaha.



Dalam rangka memaksa diri nulis blog lagi nih karena kok yang baca masih lumayan banyak ya? Terkejut karena setelah nggak rajin nulis blog lagi, ikut nggak rajin juga cek page views-nya. Ternyata tiap postingan masih cenderung stabil dibaca orang. Satu kata: TER-HA-RU. T______T

Lebay ah biar. Yang jelas diniatin lagi lah untuk nulis lagi keseharian biar bisa dibaca lagi suatu hari nanti.

Seminggu pertama di tahun 2020 dilewati dengan berbagai hal. Malam tahun baru di rumah mertua, paginya niat kuat untuk pulang subuh dari Bandung biar nyampe Jakarta jam 8 pagi gitu. Nggak tau kalau Jakarta seharian hujan deras karena di Bandung sih chill aja, hujan-hujan kecil gemes doang.

Nyampe tol lancar jaya, nggak lewat tol baru karena ya udalah kalau di bawah lancar kenapa harus naik segala? Taunya di km 33 disuruh ke luar tol karena tolnya banjir. Mulai panik, eh apa se-Jakarta banjir ya? Cek Twitter, IYAAA SE-JAKARTA BANJIR HUAAA.

Lalu masih di Cibitung tuh muter-muter pake Google Maps karena baru jalan sekian ratus meter, jalannya banjir nggak bisa dilewatin. Puter balik lagi, reroute GMaps lagi. Jalan lagi sekian KM, jalannya banjir lagi. Yha jujur nervous karena takut mesin mobilnya mati di tengah banjir di wilayah yang kami pun entah nggak tau namanya apa.

Untung banyak orang baik, di satu titik di mana banjirnya nggak terlalu dalem, warlok (warga lokal fyi) yang jaga-jaga jalanan tuh bilang ke kami “pak, AC matiin, stabil aja jalan terus yah ikutin mobil itu”. Mobil depan kami mobil boks, sementara kami pake sedan, pinjem mobil ayah karena Karimun lagi dicat di Bandung.

(Baca: Tentang Karimun)

Terpanik karena merasa banjirnya lebih tinggi dari pintu mobil dan cipratan airnya tuh beneran ke kap banget saking tingginya itu banjir. Saya beresin barang-barang di lantai mobil dong karena takut air rembes masuk. Mesin juga jalannya lambat dan hanya ngegerung (HALAH APAAN SIH BAHASA INDONESIANYA TUH) tapi akhirnya lewat.

T________T

Lalu muter-muter lagi dan jam 10an tuh stuck. Semua jalan yang diarahin GMaps banjir tinggi semua sampai nggak bisa dilewatin. Mampir dulu ke minimarket beli cemilan karena takut banget akan seharian di jalan dan saya mulai browsing hotel zzz. Ya udalah kalau emang nggak bisa pulang kan mending di hotel aja, mobil parkir kita bisa tidur siang atau Netflix-an. Pulangnya nanti kalau banjirnya udah surut. Soalnya sepanjang jalan pun hujan kan, gimana bisa banjirnya surut.

Akhirnya kembali ke masa lalu dan nanya-nanya orang di pinggir jalan, arah ke Jakarta ke mana. Dikasih tau orang tapi tetep ada area banjir dan JG tanya lagi ke warlok yang jaga dan terjadilah percakapan ini.



ASLI MAU NANGIS. Tapi mungkin dengan kekuatan doa lewat juga sih itu banjir. Kemudian jalan di GMapsnya biru semua dan saya pun ketiduran. Bangun-bangun udah nyampe apartemen.

Harus ditulis juga supaya ingat kalau hari itu saya lagi mens. Dan karena di Bandung nggak ada kegiatan, makan juga nggak jelas (alias makan mulu sampai naik 2 kg), saya mensnya sakittt banget. Sakit perut banget dan rasanya kaya sembelit. Padahal biasanya mens tuh jadi diare kan, ini jadi sembelit hhh. Sampai Jakarta nyari-nyari yang jual YLEO Digize karena di rumah abis, susah banget, semua orang kebanjiran. Baru dapet jam 10 malem itu pun dari followers di IG yang kebetulan punya stok di rumah. T______T

What a day. Kebayang yang rumahnya banjir sampai airnya masuk atau mobilnya ngambang-ngambang huhu. Semoga diberi rezeki untuk kuat bebersih atau bayar orang bebersih ya. AAMIIN!

Lalu karena banjir, daycare mendadak diliburkan dua hari. Yang seneng siapa? Bebe karena bisa ikut appa ke kantor. Ibu juga senang karena akhirnya bisa lepas dari Bebe setelah hampir 2 minggu gelendotan terus astaga pegelnyaaa.

Jam 3 sore JG nelepon, katanya Bebe demam lagi nih. Yah, saya jemput deh akhirnya dan emang iya dia sumeng. Malem sebelumnya juga emang panas sampai 38 gitu. Tapi mikirnya mungkin kecapean kan lama di jalan jadi ya udah.

Sabtu-Minggu dilalui dengan bahagia. Hari Sabtu dihabiskan dengan menyulam berdua JG. IYA KAMI MENYULAM. JG menyulam sepatu Vans pink dia dengan bunga daisy karena beli Air Force One Peaceminusone terlalu mahal lol. Saya menyulam dan DIY 2 kaos. Seneng banget, quality time dan fokus no gadget Saturday. Hanya Bebe yang main Minecraft karena yha kalau dia tidak pegang gadget, kami dong yang harus ajak dia main. HAHAHA.



Hari Minggunya main ke rumah sepupu yang punya bayi. Puas ngobrol dan ketawa-tawa. Seninnya kembali kerja, Bebe kembali ke daycare. Seneng banget dia karena akhirnya kembali ke rutinitas.

Duh, liburan lama kaya gini tuh emang bikin pusing ya. Guilty karena Bebe jadi screen time setiap hari. Mana bokek pula karena jajan dan belanja terus hahahaha. Untung dari awal udah ambil cash untuk sebulan jadi pulang liburan tidak pusing nunggu gajian.

Anyway itulah summary dari 7 hari pertama di 2020. Hopefully there will be so many new things in 2020 we’re ready to welcome all!


Semoga selalu jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga bagimu riang dan senang. Kalau pun hadir halang rintang, semoga bisa dihadapi dengan sehat dan dijalani dengan tenang.

Selamat menjalani 2020!

-ast-