-->

Image Slider

Cita-cita Anak

on
Monday, April 15, 2019
Kemarin saya buka question box di IG tentang cita-cita anak dan jawabannya seru-seru amat!


Awalnya dari Bebe yang (sekarang) pengen jadi entomologist. Sebabnya hari Jumat lalu kami akhirnya menamatkan salah satu buku favorit dia judulnya Seranggapedia dari Natgeo Kids. Nah, di halaman terakhir ada wawancara dengan entomologist.

Wawancaranya untuk anak-anak gitu jadi ada pertanyaan gimana caranya untuk bisa jadi entomologist, gimana meneliti serangga kalau kita masih anak-anak, dsb. Bebe excited banget dan seketika mengubah cita-cita. Sebelum tidur, kami sepakat untuk nonton bareng tentang serangga besok.

Hari Sabtu pagi itu JG ada acara jadi saya sama Bebe berdua di rumah. Tiga jam kami nonton BBC Earth dan orang-orang yang melihara serangga dan laba-laba ya ampun. Tak pernah kubayangkan akan menghabiskan Sabtu yang cerah dengan nonton tarantula berbulu disuapin kecoa dan belalang pake pinset. T______T

Merinding dan nggak suka sejujurnya tapi sebagai ibu supportif saya tentu sok excited dan nemenin dia. Ingat, jadi ibu adalah 90% akting, 10% real parenting LOL.

Di umur 4 tahun ini entomologist adalah cita-cita Bebe yang kesekian. Awalnya dia pengen jadi polisi dan dari hati terdalam ibu deg-degan karena harus diakui lembaga militer itu patriarkal banget huhu. Lama banget dia pengen jadi polisi sampai nonton upacara 17 Agustus dan berubah pengen jadi … pilot pesawat tempur. YA TETEP MILITER DONG.

Iya sih masih kecil dan bisa banget berubah, Tapi pas mau jadi polisi itu dia keukeuh banget sampai ada titik di mana saya mikir wah dengan anak sekeras kepala ini bisa-bisa dia akan terus bertahan pengen jadi polisi. Ibu rada halu sih karena nggak sampai sekian bulan udah ganti lagi hahahahha.

Pas suka Upin Ipin langsung ingin jadi astronot, baru beli Nintendo Switch langsung ingin jadi pembuat game, dan terakhir namatin buku Seranggapedia langsung pengen jadi entomologist.

Anak lain juga ternyata sama ya. Ada yang pengen jadi yang punya Superindo, penjual HP (karena screen time dibatasi), ada yang pengen jadi Kinderjoy dan penjual es krim (diduga karena keduanya juga dibatasi lol), sampai ada yang pengen jadi supir angkot biar bisa makan rendang padang tiap hari HAHAHAHA.

Lalu ada yang bercita-cita jadi superhero dan ... HEWAN. Bebe nggak ngalamin sih cita-cita pengen jadi binatang tapi ternyata banyak anak yang ingin jadi GAJAH. Alasannya karena gajah itu besar hahahaha GEMES. Ada juga yang mau jadi JERAPAH LOH dan sekarang menganggap dirinya kucing. Lucu banget!

Anak-anak itu ajaib sekali ya. Langsung merasa kita orang dewasa (dan kedewasaan) yang menghilangkan sisi anak-anak itu huhu mellow.

(Baca: Hidup yang Kita Pilih)

Yang jelas, jangan diremehkan dan ditertawakan ya. :( Boleh ditertawakan asal jangan di depan dia. Sama suami aja pas lagi nggak sama anak hahahaha.

Jangan di “halah emang bisaaa?” gitu karena itulah hal pertama yang menghancurkan perasaan berharga anak alias self-esteem. Orang terdekat yang seharusnya jadi support system paling utama kok ya jadi penghancur mimpi pertama.

Padahal mimpi kan bebas dan tidak pernah terikat apapun, imajinasi itu luas dan tak perlu terbatasi sedikitpun. Apapun mimpi dan imajinasinya, sudahlah IYA kan saja.

Kalau ingin dan sempat sebetulnya bisa jadi bahan diskusi panjang. “Kenapa kamu ingin jadi jerapah?” “Apa bagian jerapah yang menurutmu paling keren?” “Kenapa kamu suka jerapah?” dan banyak lagi. 


Satu lagi, banyak yang bilang “ingin jadi pemadam kebakaran/polisi/(profesi yang dianggap maskulin lain) padahal anakku cewek”. Padahal nggak apa-apa banget anak cewek mau jadi apa juga. We can be anything we want to be!

Kerasa lho udah dewasa gini aja ketika mimpi kita diremehkan apalagi sama orang terdekat, seringnya jadi down kan bukannya semangat. Kalau kita aja begitu apalagi anak-anak ya kan.

Jadi, untuk kita dan untuk anak-anak kita: jangan takut dan jangan pernah berhenti bermimpi.

Never stop believing in dreaming, and never stop dreaming of believing. That is what gives us hope, and what keeps us alive.

(bukan quote saya itu hasil googling)

-ast-




Kelas Menengah yang Kurang Usaha

on
Friday, April 12, 2019
Wah draft ini udah ada sejak Januari 2017. Ngapain aja sih nganggurin ide sampai 2 tahun? Hahahaha.



Kepikiran lagi mau nulis ini setelah nonton PORD (Podcast Raditya Dika) dengan Rachel Vennya. Podcast-nya 1,5 jam dan SAYA NONTON bukan hanya dengar. Karena bagi kaum visual seperti saya, ekspresi dan gesture itu penting makanya belum bisa dengerin podcast doang karena emosinya nggak dapet.

(ANYWAY BANYAK WAKTU BANGET SIS NONTON PODCAST 1,5 JAM? Ya speednya di 1,75 sih jadi nggak selama itu juga lol)

Podcastnya seputar kehidupan Rachel, bisnisnya, dan terutama tentang membesarkan anak terkenal. Di sini saya mau fokus di bisnisnya aja karena inspiring sih bagian itu.

Jadi Rachel itu udah jualan dari SD, jualan TTS berisi pertanyaan seputar info sekolah (kreatif!) tapi karena jualan TTS itu dia pernah ranking 2 terbawah di kelas hahahaha. Kemudian dia terus jualan macem-macem sampai pas SMA dia jualan Kitkat dengan rasa aneh-aneh dari Jepang itu.

Menurut Rachel, itu titik di mana dia baru tau apa itu target market, apa pentingnya market research karena dia baru sadar kalau jualan sesuatu yang memang dicari orang itu, pasti laku. Nextnya dia cerita dia jualan crop top untuk temen-temennya ke DWP padahal dia sendiri nggak nonton, sampai akhirnya bisa pertama kali liburan ke Hong Kong pake uang sendiri dari hasil jualan produk kecantikan!

Yang menarik, apa yang bikin Rachel pengen jualan terus pas SMA? Karena uang sakunya cuma cukup buat dia naik angkot ke sekolah sementara sekali jalan dia harus naik angkot 3 kali. Jadi dia jualan biar bisa ke sekolah naik ojek yang ongkosnya Rp 40ribu sekali jalan. WAH!

Di sini sih kelemahan saya yang sudah saya sadari sejak bertahun-tahun lalu hahahahahaha.

via GIPHY

Yes, saya ada di posisi kelas menengah dengan daya juang yang kurang. Kelas menengah yang kurang usaha. :)))))

Sekarang gini deh, kalau kalian follow dari lama, taulah ya masa lalu Rachel gimana. Di PORD dia mendeskripsikannya sebagai “keluarga aku bisa makan sih, tapi dari satu nenek cuma punya satu mobil Kijang”.

Jadi kalau dikira-kira, dia kelas menengah tapi posisi udah di bawah. Kelas menengah ke bawah. Berjuang banget biar bisa naik kelas. Hanya demi privilege nggak kurang ongkos buat naik ojek. Motivasi banget sih emang. 


Nah yang kurang berjuang emang kelas menengah kaya saya gini nih. Kelas menengah yang bener-bener ada di tengah. Bukan kelas menengah ke atas juga.

Bisa makan? Bisa. Kurang ongkos untuk pergi ke sekolah? Mmm, nggak pernah. Satu nenek punya berapa mobil? Semua tante punya mobil sendiri. Liburan ke luar negeri tiap tahun? Nggak sih. Tapi yang saya mau bisa dibeli semua? Bisa.

Dikasih mobil sama ayah nggak? Nggak sih tapi selalu ada mobil cadangan di rumah buat siapa aja boleh pake. Gadget ganti tiap tahun? Nggak mampu tapi bisalah 3 tahun sekali. Kuliah pake tas branded? Belum cukup uangnya tapi cukuplah untuk belanja di distro pada masanya.

Kalau yang kelas menengah ke atas biasanya tiap anak udah dikasih mobil masing-masing tuh. Nabung dikit udah bisa beli tas branded. Liburan bisalah tiap tahun. Tapi tetap kenal konsep nabung, kenal konsep kerja untuk cari uang. Beda sama kaum kelas atas yang udah nggak tau jumlah uang di tabungan ada berapa ahahahaha.

Kelas menengah yang ada di tengah-tengah seperti saya-saya ini, kurang usaha banget jadinya karena sudah merasa cukup. HUHU. GIMANA YA.

Bener loh saya lagi nyari motivasi banget untuk bisa kerja lebih keras dan lebih giat lagi. Nyari kesempatan untuk bisa ngasih lebih lagi sama masyarakat. Nyari trigger untuk bisa lebih dari ini. Tapi gimana sih kok tetep gini-gini aja. Di satu sisi nggak suka jadi mediocre tapi di sisi lain nggak punya motivasi lebih untuk bisa keluar dari mediocrity.

JG juga sama aja. Buat dia, sampai sini memang lompatan besar dibanding dia waktu kecil. Tapi dia udah terlalu lama hidup nyaman karena pas pertama kali kerja gajinya langsung gede dan bisa beli segala yang dia nggak bisa beli waktu kecil. Sekarang punya uang dikit beli sepatu, beli game, nggak usaha untuk bisa naikin lagi taraf hidup karena merasa sudah naik dibanding dulu. Tapi kalau gitu kapan kita liburan ke Afrika seperti Rachel dan Niko? HAHAHAHAHA.

(Baca: Suami yang Pernah Miskin)

Terus jadi mikirin, apa yang bisa bikin saya kerja lebih keras kalau memang merasa cukup?

Cita-citanya cuma satu sih, uang sekolah Bebe voila! kekumpul dalam beberapa bulan bukannya dalam 3-6 tahun. Tapi harus ngapain? Jualan males, pindah kerja takut pulang malem, double job takut nggak bisa ngerjain hobi. Hedeh. KURANG USAHAAAA. Masalah mental yang sebenarnya.

Iya sih ranking 1 terus pas SD tapi ternyata nggak ngaruh ke kehidupan selanjutnya juga hahahaha.

Akhirnya saya dan JG lagi memetakan ulang kehidupan nih. Lagi nulis lagi cita-cita apa yang paling diinginkan, lagi ngulik lagi bisa ngapain ya kita biar bisa lebih dari ini? Ngapain ya biar punya motivasi lebih karena masa mau hidup gini-gini aja. Ditulis di notes sama-sama gitu, ngapain lagi kita?

Mana Gesi lagi kuliah play therapy dan Nahla mau S2 pula. Makin kaya dikejar wehhh hahaha. Memang penting berada di lingkungan yang selalu mau maju. Biar merasa ketinggalan terus ikutan lari. :)

Ya udah gitu aja sih. Cuma mau nyeritain Rachel dan sedikit curhat saya. Doakan semoga dibukakan pintu hati biar muncul motivasi untuk keluar dari mediocrity ini. Yang punya waktu dan mau nonton bisa ke channelnya Raditya Dika. Saya kurang usaha untuk embed HAHA THE IRONY.

-ast-




Mengajarkan Anak Berpikir (Kritis)

on
Monday, April 1, 2019
Triggered sama postingan ibu-ibu di Instagramnya Mommies Daily terus saya panas deh pengen langsung nulis.

Jadi ceritanya Maudy Ayunda diwawancara Najwa Shihab. Sebuah wawancara yang bikin saya stres “YA AMPUN INI MEREKA MAKANNYA APAAAA?!” karena kok sulit relate bagi kaum seperti saya yang selalu panic attack saat mau ujian. :((((



Saya tuh sadar diri nggak pinter kalau nggak belajar sementara ambisius level menangis kalau dapet nilai B. Jadi ya BELAJAR lah satu-satunya solusi. Kalau lagi ujian, tidur saya nggak tenang, saya sering kebangun tengah malem karena dalam tidur tiba-tiba saya merasa lupa satu teori apa gitu misalnya. Saya akan BANGUN untuk cek catetan, baca, dan tidur lagi. Story of my whole college life. :(

Bahkan saya nggak mau nyetir (emang nggak jago sih), nggak nebeng temen saat ujian karena saya mau naik angkot. Saat angkot menembus macetnya Cibiru adalah kesempatan saya untuk belajar lagi. Nope, bukan karena saya suka belajar tapi terlalu takut untuk nggak bisa ngerjain ujian. :(

Jadi bukan excited deg-degan kaya Kak Nana dan Maudy. Nggak sama sekali. Kalau ujiannya dibatalkan atau take home test pun saya bahagia karena PASTI jadi bisa mengerjakan lebih baik dibanding harus ngerjain nervous di kelas. Bukan yang kecewa karena ih udah belajar kok nggak jadi ujian hahahaha.

Sementara saya sahabatan sama orang yang TIDAK belajar juga pintar. Kesel deh, sehari sebelum ujian saya mati-matian belajar dia main. Kelar ujian, nilai kami sama. Selalu kaya gitu. Tapi ya, emang sengaja temenan sama orang pinter biar termotivasi hahahaha.

Terus setelah nonton video Najwa dan Maudy, saya jadi semangat biar Bebe senang belajar! Karena inti dari video itu adalah keduanya senang belajar plus ada tips parenting dari orangtua Maudy Ayunda:

- Nggak punya TV dan mengandalkan buku untuk hiburan. Hanya saja tidak selalu buku tapi juga Lego karena Bebe sesuka itu sama Lego. (Baca: Hidup Tanpa TV)
- Tak pernah diberi reward untuk pencapaian. Sejauh ini belum menjadikan reward sebagai keharusan. (Sekilas tentang rewards ada di sini: Bebe Anak Pemberani)
- Diajarkan skill problem solving sejak kecil. NAHHHH INI NIH YANG MAU SAYA BAHAS. Karena ngaruh ke goals kami yaitu dia harus jadi anak yang bisa ambil keputusan sendiri (klik untuk baca). Keputusannya harus dipikirkan matang-matang dengan kritis dong?

*btw kayanya bakal panjang deh, biarlah ya*

Berpikir itu harus DIAJARKAN (dan agak dipaksa)

Masuk umur 4 tahun, saya sadar kalau Bebe itu suka males-malesan jawab pertanyaan karena dia males mikir. Wow banget ya anak 4 tahun males mikir.

Tanda males mikir ini sebetulnya udah keliatan dari umur 3 tahun, cuma dulu saya mikirnya “halah masih kecil kali” sebelum makin sini makin sadar dia males mikir dan menjauh dari Stanford lol.

Jadi dulu percakapan kami memang tak jauh dari soal perasaan. Misal weekend, pertanyaan saya malemnya:

👩: “Xylo senang nggak hari ini?”
👶: “Senang!”
👩: “Senangnya kenapa?”
👶: “Karena aku nonton YouTube”
👩: “Selain nonton kamu senang ngapain lagi hari ini?”
👶: “Ah ibu aja yang cerita”
👩: “Kamu dong”
👶: *NGAMBEK KARENA MALES MIKIR*
👩: *kemudian saya ganti topik karena males ngejar*

Sekarang saya nggak gitu. Saya kejar terus petrus jakandor seperti ibu Maudy Ayunda mengejar pros cons membeli rendang untuk acara keluarga hahaha. Nonton videonya ya kalau nggak ngerti.


Jadi setelah pertanyaan perasaan (buat saya ini tetep wajib), saya kejar dengan pertanyaan kritis dan memaksanya berusaha menjawab.

“Kalau hari ini aku senang karena 5 hal, (menyebut 5 hal yang bikin senang hari itu). Kalau kamu bisa juga nggak sebut 5 hal yang bikin kamu senang?”

Anak kompetitif biasanya tentu mau lebih, jadi kalau ibu udah sebut 5, dia sebut 10 lalu merasa menang. Memang agak lama dan nggak langsung jawab, tapi saya tunggu dan beri waktu untuk berpikir. Kadang jawabannya nggak terduga lho semacam “senang bisa ke tempat cuci mobil sama appa” atau “senang bisa masak sama ibu” luv banget nggak sih huhu.

Kalau pun dia ngambek, saya bujukin dengan “Ayo berusaha berpikir dulu, kamu kan punya otak untuk berpikir, ayo berusaha dulu”. Keyword: berusaha.

Dulu dia sering jawab males: “ibu aja yang cerita” tapi sekarang dia udah mau saya paksa dikit untuk berusaha berpikir dan langsung mau cerita.

Kaya kemarin abis nonton Dumbo, setelah nanya senang nggak hari ini blablabla, saya tanya:

“Xylo, tadi paling suka adegan apa?”
“Kenapa?”
“Paling nggak suka adegan apa?”
“Karakter yang paling kamu suka siapa?”
“Kenapa?”
“Paling suka waktu dia ngapain?”

Terus terus terus sampai ke ujung dan dia mau jawab semua huhu bangga.

Setelah seminggu kaya gini, Bebe komen lho! dia bilang “ibu, kita sekarang seru ya ceritanya” Huaaa, ibu terharu. Usahaku ada hasilnya ternyata. Kuliah di mana jadinya nanti, Be?

Tapi sejujurnya memang capek HAHAHAHA.

Jadi saya bilang ke dia kalau hari Jumat dan Sabtu malam, kita boleh mengobrol lebih lama karena besoknya Sabtu dan Minggu. Selain itu, ngobrol dan kejar secapeknya aja, pernah malah ketiduran karena dia mikir kelamaan hahaha. Nggak apa-apa yang penting berusaha yaaa.

Segininya banget lho efek nonton video Najwa Shihab dan Maudy Ayunda. Makanya saya rada kaget begitu posting tips ini di IG Mommies Daily dan komentarnya kebanyakan pada pesimis.

Dari nanya “nonton sinetronnya gimana kalau nggak ada TV” sampai sok bijak (sorry not sorry) tiap keluarga punya value beda dan nggak semua anak bisa diperlakukan sama. Errr, untuk bagian rewards mungkin iya sesuai kepribadian anak, tapi untuk mengasah skill menyelesaikan masalah dengan berpikir kritis menurut saya kan skill umum yang layak diajarkan pada semua anak sih.

Saya sih yakin pada semua keputusan parenting karena sudah dipikirkan matang-matang. Tapi bukan berarti saya jadi tertutup pada hal baru. Malah kalau ada pengetahuan baru yang kira-kira oke, ya saya cari tau lebih banyak dan terapkan deh.

Semua harusnya bisa asalkan orangtuanya niat. Semua harusnya bisa asalkan orangtuanya mau terus belajar. Karena kalau orangtuanya aja malas belajar dan menerima hal baru, yakin anak akan senang belajar hal baru juga?

-ast-




Mengevaluasi Pernikahan

on
Thursday, March 28, 2019
Pernah denger vow renewal?

Vow renewal adalah salah satu cara untuk mengingatkan kita tentang janji pernikahan (LITERALLY LOL). Iya bukan budaya Timur, meski entah Timur mana yang kalian maksud karena Jepang, Korea, China, Hong Kong, dkk kan yang Asia Timur, kita mah Asia Tenggara HAHAHA.

Vow renewal biasanya dilakukan dengan ceremony lagi, semacam nikah lagi gitu. Tujuannya untuk mengingatkan kembali komitmen, merayakan jatuh bangun keluarga yang sudah dilalui bersama, dan yaaa bebas aja sih mau merayakan apa. Yang jelas merayakan kebersamaan.


Apa amanat yang bisa diambil dari cerita vow renewal itu? *macam pertanyaan soal esai saat SD*

Yes, tentang mengevaluasi pernikahan. Dirayakan atau tidak dirayakan sih bebas aja tergantung masing-masing ya.

Pernahkah kalian mengevaluasi pernikahan?

Ada teman saya yang melakukannya setiap tahun, jadi setiap anniversary pernikahan, mereka membuat list apa yang sudah terjadi tahun ini, sebelah mana harus diperbaiki, juga bikin janji baru untuk jadi manusia dan pasangan yang lebih baik.

Tapi karena saya dan JG payah banget dalam hal ritual, tidak peduli pada ulang tahun dan anniversary, kami tidak mungkin melakukan itu karena ditanya nikah tanggal berapa aja suka lupa-lupa terus hahahaha. Boro-boro merayakan deh.

Akhirnya kami melakukannya kapan saja. Tidak pakai janjian “ayo kita evaluasi” gitu karena duh jadinya serius banget dan malah jadi males biasanya. Bingung sendiri gitu bahas apa ya?

TAPI kami selalu menyempatkan diri untuk membahas hal-hal tersebut KETIKA INGAT.

Misal nih, ada orang nanya JG kenapa tulisan saya selalu penuh kemarahan? Apa punya dendam masa lalu yang belum termaafkan? (inner child cenah bahasa masa kininya mah)

Abis itu JG jadi bilang “Iya kamu kok suka marah-marah sih, aku sedih banget loh kalau kamu marah”.

TINGTONG. Ini dia waktunya evaluasi.

Apa iya saya sering marah ke JG? Gimana marahnya? Apa penyebabnya? Kapan terakhir kali marah?

Setelah dirunut satu-satu, dingat-ingat detail kapan terakhir kali marah, apa penyebabnya, ternyata saya nggak sesering itu marah hahahaha. Bahkan bisa berbulan-bulan tidak marah atau berantem sama sekali.

Jadinya kalau berantem atau marah, sedihnya lebay. Jadi terpatri dalam hati *HALAH*

via GIPHY


Mungkin perasaan orang itu aja karena real life saya jarang marah-marah. Atau justru memang karena di dunia nyata jarang marah, saya jadi marah lewat tulisan. Yang mana biar aja yang penting kehidupan nyata saya tidak terganggu kan.

Atau minggu lalu, saya lagi annoying banget dan jadinya nggak mau dengerin JG sama sekali. Semua yang dia omongin saya patahin aja biar cepet dan nggak usah diskusi. Capek gitu.

Ya udah besoknya JG langsung cecer evaluasi lagi. Apa penyebabnya? Kenapa bisa gitu? Harus gimana? Apa yang salah? Dan seterusnya dan seterusnya.

Kuncinya satu: jangan baper-baper amat. Dikit boleh tapi jangan berlanjut lol.

Karena namanya orang terdekat kritik itu, baru 2 kata aja udah mau mewek rasanya hahahaha . Kaya “kamu kok nggak terima aku apa adanya” T______T Plis nggak saya doang kan yang begini.

Padahal emang sayanya lagi annoying parah dan emang itu harus diakui. HAHAHAHA. Diakui dan minta maaf aja. Nggak susah. Refleksi diri juga bisa bikin perasaan jadi lebih baik sih kalau saya. Sadar saya salah di mana, terus tiba-tiba hal-hal yang menyebalkan itu jadi menguap juga karena sadar itu salah.

Lalu teknisnya gimana? Ada yang pillow talk, ada yang bertukar surat atau email, tapi bagi kami, yang terbaik adalah lewat chat. Karena kalau lewat chat, responnya seketika tapi ekspresi nggak keliatan.

Ekspresi bisa bikin bubar soalnya. Misal dia ngomong satu kata terus ekspresi saya nggak terima, bisa jadi “tuh kan kamunya emang yang nggak mau denger”. Padahal ya mau banget denger, cuma kaget aja. Atau nggak, sayanya malah berkaca-kaca, selesai lah karena dia suka jadi nggak tega dan males duluan mau lanjutin.

Oiya, saya juga sempet nanya ke JG, kamu kok kalau ke orang lain pake caranya Dale Carnegie terus (from JG’s all time fav book “How to Win Friends and Influence People”) biar komunikasi lancar, ke aku kok nggak? Jawabannya:

“Kalau sama orang harus gitu karena ya masalahnya harus cepet selesai dan baik-baik, kalau sama kamu kan aku tau mau berantem gimana pun pasti kita akan baikan dan pelukan lagi”

CRYYYYY. Manis-manis pengen nampol karena kalau bisa diselesain baik-baik kenapa harus tidak baik-baik, malihhh.

Tapi tetep manis karena namanya juga comfort zone ya. Ini justru yang dibilang sebagai terima apa adanya dan jadi diri sendiri, karena kita tau apapun kondisi kita, dia akan tetep ada buat kita. NANGIS.

Kadang kita taking things for granted emang. Rasa-rasanya berhak marah, bentak, nyakitin orang terdekat karena kita tau dia nggak akan ke mana-mana. Padahal harusnya nggak begitu dong, orang terdekat juga harus kita jaga perasaannya karena kalau dia sedih kita juga ikutan mellow kan.

(AH BACA DULU INILAH. Keresahanku karena banyak yang bilang fake kalau menjaga perasaan orang lain: Menjaga Perasaan Siapa?)

Kami memang bukan panutan untuk perayaan anniversary pake liburan atau dinner berdua. Jarang banget nyempetin pergi berdua sampai saya pernah ngerasa gagal karena sering baca artikel yang bilang "sempatkan waktu ngedate berdua" karena kami nggak pernah sama sekaliiii. Pernah sih dulu beberapa kali cuti untuk nonton bioskop siang-siang, lunch berdua, tapi ... nothing's special lol.

Yang terpenting komunikasi lancar maka kami merasa baik-baik saja. Kalau kami merasa baik-baik saja kenapa juga harus nurut tips di artikel-artikel semacam itu ya kan. Yang jelas selalu evaluasi, review bersama apa yang kurang dan apa yang harus diperbaiki. Mungkin bisa jadi penting juga buat kalian.

Gimanapun, yang namanya pasangan menikah pasti punya harapan untuk terus berpuluh tahun lagi hidup bersama. Akan lebih baik kalau bisa bertumbuh berdua, jadi orang yang lebih baik lagi, biar bisa menjalani hidup tanpa beban dan penyesalan.

Yang sedang punya masalah sama pasangannya, ayo diingat-ingat lagi kenapa dulu mau nikah sama dia. Apa hal itu udah nggak valid lagi? Apa yang kalian perjuangkan?

Sekadar mengingatkan. LOL Dua kata paling nyebelin.

Bye!

-ast-

PS: Nulis tentang hidup mulu ya akhir-akhir ini karena Bebe makin gede kubingung mau nulis apa soal parenting hahahaha. Nggak apa-apalah ya yang penting nulis. Makasih udah baca sampai sini. :*




Thank You for Marrying Me

on
Monday, March 18, 2019
Sebuah postingan curhat. Seperti 99% postingan lain di blog ini lol.


Weekend kemarin rasanya merdeka sekali. Hari Sabtu, Bebe dan JG ke pameran mainan. Saya malas ikut karena sudah lama sekali tidak menggambar. Hari Minggunya mereka beli bensin dan cuci mobil serta main game seharian.

Kedua hari itu saya tetap diam di rumah, menggambar souvenir ultah Bebe sambil nonton series Workin’ Moms di Netflix. Minggu selepas magrib, kami turun ke supermarket bawah apartemen dan memutuskan bikin siomay ayam.

IYA KAMI SUKA DADAKAN NGIDE GITU EMANG.

Sering yang “eh masak ini yuk!” terus buka Cookpad, pilih yang fotonya oke, turun ke supermarket, belanja bahan terus masak hahahahaha. Malam itu pilihan jatuh pada siomay ayam karena beberapa hari sebelumnya, ngide juga bikin siomay udang dan enak. Cuma udang males ngupas dan terlalu mahal, jadi kali ini ayam.

Btw pas bikin siomay yang pertama, JG becandanya terus-terusan seputar “duh ini tradisi keluarga harus kita lestarikan”. Sambil browsing cara melipat dumpling di YouTube. -______-

Heran deh bisa-bisanya adegan melipat dumpling di Crazy Rich Asian itu sungguh elegan, lha saya sama JG boro-boro elegan, yang ada pusing KOK SUSAH? Kok kayanya salah beli kulit pangsit? Kok pecah-pecah kulitnya? (bukan rorombeheun ya guys maksudnya).

Setelah belanja dan beberes belanjaan, saya duduk di meja makan. JG duduk di sebelah saya, kami berdua melipat siomay sambil streaming debat cawapres dan ngetawain omongan-omongan cawapres yang nggak kami dukung hahahaha. Bebe duduk di meja dia sendiri sambil main perang-perangan Ultraman, maklum sisa efek nonton cosplay di pamerah mainan.

Terus kok … bahagia. (DITULIS GINI KENAPA JADI CRINGEY YA MAAP)

Jadi dalam kondisi belum mandi 2 hari, tangan blecetan kena adonan ayam, struggling melipat siomay, kukusan nyala di kompor, saya noleh ke JG dan bilang: “Eh sayang, thank you for marrying me”.

JG: “Apaan tiba-tiba?”

Saya: “Iya kalau nggak nikah sama kamu mungkin aku nggak ngelipet siomay berdua suami, anak kita bisa kalem gitu main sendiri, terus bisa ngetawain cawapres bareng-bareng karena kita sepakat sama banyak hal”

JG: “Iya sih hehe”

Saya: “Hehe”

*HENING* *KEMBALI NONTON DEBAT SAMBIL MELANJUTKAN MELIPAT SIOMAY*

The thing is, seperti yang udah saya share di IG beberapa hari lalu, JG tuh lagi terus-terusan nanya “are we on the right track?”. Kaya ada kekhawatiran karena bener nggak sih hidup kita ini?

Tadi siang dia nanya lagi via WhatsApp dan saya jawab:

“Uang kita semua buat Bebe dan itu cukup. Selama weekend masih bisa leyeh-leyeh sama kamu dan Bebe, aku cukup.”

AKU CUKUP. Kaya bergema banget dua kata itu di kuping saya sampai mau nangis rasanya.

T______T

Karena udah beberapa tahun saya itu terus menerus ngerasa nggak cukup. Ngerasa nggak cukup bagus secara karier, ngerasa nggak oke-oke amat jadi ibu, ngerasa harusnya bisa jadi lebih baik, ngerasa kurang usaha, ngerasa kurang belajar banyak, ngerasa kurang terus sama diri sendiri.

Dan selama itu pula saya nulis banyak soal itu. Yang saya inget ini doang dan yakin sebenernya masih banyak tema serupa. Gila, dari 2017 loh, silakan yang mau baca:

2017 
Kepercayaan Diri dan Remah-remah Dunia 
Mencari Diri Sendiri 
On Being Too Hard on Myself
The Scary, Scary Adulthood 

Sekarang saya masih gini aja sebenernya. Belum ada perubahan berarti dalam hidup TAPI untuk pertama kalinya saya benar-benar merasa cukup. Kalau ditanya kenapa entahlah, mungkin karena banyak hal yang saya selesaikan pelan-pelan. Nggak terlalu ngotot lagi sama banyak hal dan ya udah cukup aja. Cukup tidur, makan enak terus, bisa ngelakuin hobi, berdoa banget biar bisa kaya gini terus.

Kalau ditanya caranya gimana keluar dari jeratan tidak merasa cukup itu saya beneran nggak tahu. Saya nggak bisa (atau nggak tahu caranya mungkin) ngobrol sama diri sendiri karena jadinya nggak tidur-tidur. Jadinya terus aja mikir dan malah sakit kepala. Saya cuma menjalani hari, hobi, banyakin ketawa, banyakin ngobrol sama JG.

Kemarin pas jalan ke supermarket itu juga Bebe mau pake helm, jadi kami jalan dengan anak yang ciat-ciat, lari-lari sambil pake helm full face. FYI kami nggak punya motor hahaha. JG geleng-geleng liat Bebe lari-lari di lorong apartemen, dan saya bilang. “Lucu ya? Without Bebe our life would be so boring. Jalan berdua aja gitu nggak ada yang bisa diketawain?”



Sekarang saya baru sadar kalau nasihat-nasihat semacam “you are enough” atau “count your blessing not your problem” itu nggak bakal ngaruh sama orang yang punya masalah sama kaya saya dulu. Nasihat-nasihat semacam itu justru kenanya sekarang, setelah semua lewat. Memang kurang berguna huhu.

Kalian-kalian yang masih merasa stuck, masih merasa gini-gini aja, hang in there. Jalan pelan-pelan, nggak perlu kok selalu ingin ada di depan. Dan jangan remehkan pelukan!

Sometimes a hug is all you need to make you feel better.

:)

-ast-




IG