-->

Image Slider

Bebe's Story #58-#63

on
Sunday, May 24, 2020


Wadaw 2 tahun nggak nulis Bebe's Story HAHAHA. Alasan utamanya adalah karena saya pindahin celetukan si Bebe jadi thread di Twitter. Lebih gampang karena kalau dia ngomong agak ajaib dikit saya langsung twit aja. Biasanya dicatet dulu di notes lalu dibikin blogpost kan.

Threadnya dimulai dari 2017 sampai sekarang. Bisa diliat di sini ya! 

Nah, tapi 3 bulan di rumah, saya dan JG dibikin geleng-geleng terus nih sama omongannya si Bebe. Ampun deh jelang 6 tahun (2 minggu lagi!) saya rasanya kaya ngomong sama anak remaja. T______T

Dia tau banget caranya ngetes batas kesabaran gitu. Cengengesan terus, bisa ngambek banting pintu masuk kamar, dan berbagai emosi lain yang bikin mikir: Waw kalau umur 6 aja sulit apalagi 12 HAHAHA SURAM.

Tapi di sisi lain masih bayi banget dan maunya nempel terus dipeluk sama ibu, 50% ngomongnya kaya anak SMP, 50% lagi ngomongnya dicadel-cadelin kaya bayi. Sungguh niat emang si Bebe mengubah kepribadian seketika tuh.

Ngomong apa aja dia? Ini rekap 3 hari terakhir. TIGA HARI! Ini murni 50% saat dia menjadi anak SMP ya. Iseng dan dewasa banget huhu, Kalau jadi bayi ya gitu, ngomong T jadi D, R aja jadi W. Iya, SCARY jadi SKEWI. -_______-

#58

Ibu lagi nyapu, nyari pengki kok nggak ada? Eh kok ada di dalem kamar mandi. Sepertinya abis dicuci sama JG.

Ibu: "Eh ada Be, di kamar mandi ternyata, appa kayanya sih taro di sini"

Bebe: "Duh appa nih, so clumsy!"

Appa datang abis ambil paket.

Bebe: "APPA! SO CLUMSY! Kenapa pengki di kamar mandi?"

WAH.

#59

Nonton Ugly Delicious malem-malem bertiga di meja makan pake HP. Si Bebe badannya nggak mau tegak, nunduk ke depan. Disuruh mundur maju lagi maju lagi. Sampai akhirnya saya stop nontonnya dan tidur. Di kamar ...

Ibu: "Kamu kenapa sih tadi nontonnya deket-deket gitu?"

Bebe: "Aku emang sengaja hehe biar ibu marah"

T_______T

#60

Masuk umur 6 tahun, perjanjiannya Bebe harus tidur sendiri. Kami atur ulang kamarnya, rencananya mau beli kasur yang proper, meja belajar besar, dll. Tapi mau dicat dulu, warna apa ya? 

Ibu: "Be, kamu mau cat kamarnya warna apa? Tiap sisi dinding beda atau sama?"

Bebe: "All black"

Ibu: "Gelap sih kalau black. Biru gimana?"

Bebe: "Ok tapi dark blue"

YHA APA BEDANYA DONG BE AH!

#61

Kemudian berlanjut ke diskusi warna sprei dan kursi belajar.

Ibu: "Spreinya aja yang black atau dark blue ya? Nanti ibu cari. Kupikir selama ini warna kesukaanmu biru"

Bebe: "I like all color except pink and yellow and purple"

Ibu: "Ih that's my favorite color"

Bebe: "I know hehe that's why I don't like it"

NAON SIH BEBE DENDAM SAMA IBU ATAU GIMANA T_______T

#62

Ibu mellow, bisa nggak ya Bebe tidur sendiri?

Ibu: "Waktu kecil aku baru bisa tidur kalau baca buku dulu. Aku selalu baca dulu di kasur"

Bebe: "Ibu baca buku apa? Aku tau pasti ibu baca Harry Potter ya?"

Ibu: "Banyak sih bukuku waktu kecil tapi kalau sebelum tidur aku seringnya baca majalah Bobo"

Bebe: "Ah apaan majalah Bobo mah banyak iklan, cerita iklan cerita iklan, nggak suka"

GIGIT NIH. T_______T

#63

Bebe mellow karena kangen temen-temen daycare.

Ibu: "Iya aku juga kangen teman-temanku. Kangen kerja, nonton konser, naik ojek aja aku kangen"

Bebe: "Iya aku juga udah lama banget nggak naik ojek"

Ibu: "Lah, kamu kapan juga naik ojek?"

Bebe: "Iya nih aku udah terlalu besar, ketauan sama pak polisi, kakiku terlalu panjang jadi keliatan deh sama pak polisinya"

CKCKCKCKCK.

Ibu: "Kamu dulu naik ojek sama aku mah umur 2-3 tahun kali, masih pake Ergo aku gendong"

Bebe: "Iya itu pas dulu aku beratnya cuma 2 kilo"

NGGAAAKKKK GITUUUUU. Yakali lahir aja udah 2,5 kg.

T________T

*

Biarlah aku shameless tapi aku merasa celetukannya itu sotoy sotoy lucu? HAHAHA. Kalau dia udah nyeletuk gitu nggak sabaran pengen bilang ke JG terus merenung bersama "ANAK KITA LUCU BANGET" LOL kagum deh sama diri sendiri HAHAHA.

Cuma kan nggak bisa dilakukan kalau di depan Bebenya dong. Jadi nunggu dia tidur atau dia nggak denger baru saya ceritain. Di depan Bebe mah ibu selalu menanggapi dengan serius dan nggak nganggep dia konyol. Ketawanya nanti lagi aja ditahan dulu hahaha.

Ya udah gitu aja. Nulis ini jam 1 malem takut keburu nggak mood nulis hahahah.

SELAMAT LEBARAN!

-ast-




Menetralkan Emosi

on
Wednesday, May 13, 2020


“Ambil hikmahnya ajalahhh.”

“Ya bersyukurlah masih blablabla”

“Kenapa sih liat negatifnya terus!”

“Count your blessings”

“Good vibes only!”

Sekali dua kali denger kalimat kaya gitu nggak masalah. Denger saat lagi nggak gitu down juga rasanya biasa aja. Tapi pas emang lagi di bawah banget, lalu ada yang ngomong gitu ke kita kok rasanya kaya emosi kita jadi nggak valid ya?

Apa iya nggak boleh ngeluh?

Apa iya karena kita masih bisa makan enak dan masih punya atap untuk bernaung kita lantas nggak pantas untuk mengeluh?

Pantas tidak pantas menurut siapa sih?

Mengeluh juga kan bukan berarti tidak bersyukur. “Ya saya bersyukur bisa makan enak tapi jujur capek banget nih masak tiap hari.” Kan valid aja. Nggak ada masalah dalam kalimat itu hahahaha.

Kalau untuk orang lain, kita kan nggak tau sedang sedalam apa dia dengan perasaannya sehingga tidak perlu lah ikut campur dengan menyuruhnya mendadak bahagia. Bahagia kan tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa tring! disulap sekejap hanya karena kita meminta dia untuk membuang negativity.

Kalimat atau pernyataan positif kan sebaiknya memotivasi. Kalau sudah tidak memotivasi, apa iya tetap bisa dibilang sebagai kalimat positif?

Di sinilah istilah toxic positivity lahir. Mindset terlalu positif sampai jadi toxic. Iya, bukan cuma kalimat negatif yang bisa jadi menyebalkan.

Contoh, kita terbiasa dengan jargon “kerja keras pintu sukses” seolah setiap orang yang kerja keras pasti suatu hari akan sukses alias kaya. Nope, toxic positivity.

Ada orang yang kerja keras banting tulang setiap hari seumur hidupnya dan sampai mati tetep hidup miskin susah makan. Tidak semua orang berhasil naik kelas hanya karena kerja keras.

Ingat kata mbawin @winditeguh. Kalau orang bisa, kamu belum tentu bisa. Kalau kamu bisa juga ya bagus, kalau nggak bisa nggak usah terlalu kecewa.

Gagal ya gagal. Gagal atau merasa gagal itu normal. Kadang kita dapet apa yang kita mau kadang nggak. Kadang beruntung kadang nggak. Ada yang beruntung terus ada yang apes terus.

Ada yang lahir miskin, mati kaya. Ada yang lahir miskin, mati tetap miskin. Ada yang miskin harta menghibur diri dengan kaya hati. Nggak tau aja dia orang kaya harta yang kaya hati juga banyak. Namanya juga menghibur diri kakkk masa nggak boleh ahahaha bolehhh dong.

Atau misal ada 1 anak pemulung sukses kuliah sampai S3 full beasiswa di luar negeri. Kita jadi bias dengan “tuh dia aja bisa sukses masa kamu kok nggak bisa” tanpa mempertimbangkan bahwa si anak ini adalah 1 dari jutaan anak pemulung yang punya kesempatan lebih baik.

Tidak perlu menglorifikasi kesuksesan sehingga kita tak terlalu kecewa ketika harus menemui kegagalan.

Apa lantas tidak usaha? Ya tetep usaha dong. Tapi dengan ekspektasi ini: Bahwa kerja keras nggak 100% menjamin kita dapat kehidupan yang lebih baik. Tidak perlu terlalu yakin akan sukses, tidak perlu juga terlalu khawatir untuk gagal. Netral saja.

Dalam parenting, mindset ini bisa jadi sangat berguna. Banyak orangtua yang punya banyak ekspektasi untuk anaknya sehingga khawatir si anak tidak seperti yang mereka harapkan. Padahal kan anak individu sendiri, masa depannya sebaiknya ia yang tentukan sendiri. Harapan kita itu sebatas harapan, bukan peraturan yang harus selalu anak patuhi. Ini kenapa saya merasa penting sekali mengatur ekspektasi.

Saya dan JG merasa sangat sanget berusaha untuk Bebe, kasih sekolah terbaik yang bisa kami afford, kasih makanan terbaik, bonding dan kelola emosi sebisa mungkin, kalau ternyata dia jadinya B aja atau nggak lebih baik dari kami?

Sudahlah kan sudah berusaha melakukan yang terbaik. Seharusnya tidak menyesal dan bisa berdamai karena seburuk apapun dia nantinya, dia adalah hasil terbaik yang sudah kami usahakan. (ini quote rework dari postingan ini: Kenapa Sekolah Begitu Penting?)

Iya, hidup ini lebih tentang gimana kita berdamai dengan kondisi kita sekarang. 

Tentang gimana kita bisa dengan tenang hidup sekarang, tanpa terhantui masa lalu, tanpa terlalu mengkhawatirkan masa depan.

Tentang gimana kita sadar bahwa memang mimpi itu bikin kita lari, punya cita-cita itu harus, dan kadang halu itu boleh.

Terbang ketinggian pun nggak apa-apa tapi jangan lupa pegangan, biar kalau ternyata harus jatuh, kita nggak terjun bebas. Kita turun pelan-pelan.

Kita diam di tengah saja. Saat lelah menangislah, saat senang tertawalah.

Yes, neutral mindset ini memang juga masalah emosi. Sebagai orangtua kita sibuk bicara memvalidasi emosi anak agar anak punya regulasi emosi yang baik. Tapi sudahkah kita memvalidasi emosi kita sendiri?

Meregulasi semua emosi yang hadir dan tidak menyangkalnya? Meresapi setiap perasaan yang muncul dan tidak melabelinya sebagai sesuatu yang negatif hanya karena kita memposisikan diri harus selalu dalam “good vibes”?

Capek itu boleh, sedih itu manusiawi, cemas itu wajar apalagi di saat pandemi. Justru harus merasakan dulu perasaan-perasaan “negatif” itu sebelum akhirnya bisa netral. Bisa ada di pikiran bahwa perasaan kita itu semua sama. Tidak ada yang negatif atau positif, tinggal bagaimana kita bereaksi terhadap perasaan itu.

Capek boleh. Reaksi kita apa? Marah-marah. Kenapa perlu marah? Apa energi marahnya bisa dialihkan ke hal lain yang tidak menyakiti orang lain? Yang tidak membuat kita menyesal karena sudah membentak anak yang tidak perlu dibentak.

Cemas boleh. Reaksi kita apa? Terlalu banyak baca berita sampai sakit kepala, jadi sensitif dan mudah menangis. Maka coba kendalikan dengan cara mengurangi konsumsi berita dan perbanyak mengerjakan hal yang membuat kita senang.

Semua perasaan BOLEH kamu rasakan tapi perlu dilatih untuk bisa peka merasakan sehingga bisa mengendalikan reaksinya. Bagaimanapun, apa-apa yang kamu rasakan itu valid. :)

Kuncinya ada di mengendalikan perasaan agar selalu netral. Tidak berusaha selalu senang, tidak terlalu lama saat sedih. Tidak menganggap lebih perasaan “positif” dan tidak perlu selalu mengusir perasaan “negatif”.

Ketika emosi yang selama ini dilabeli negatif berhasil kita kendalikan, berikutnya coba resapi emosi yang selama ini kita labeli positif. Apakah kita juga bereaksi berlebihan ketika senang? Ketika bahagia? Sehingga makan terlalu banyak? Sehingga belanja terlalu impulsif?

Mungkin ini sebabnya orang zaman dulu sering bilang “jangan terlalu seneng ah, kalau terlalu seneng nanti sedih loh!”

Ada benarnya. Ketika kita terlalu senang, kita tidak bisa mengendalikan emosi positif, kita jadi punya benchmark “senang itu kalau begini lho” atau “bahagia itu kalau begini nih”. Ketika “begini” nya tidak lagi bisa hadir kita seperti kehilangan kesempatan untuk bahagia. Sedih pun jadi terasa lebih menyedihkan.

Dengan demikian, coba rasakan dan kendalikan perasaan dan emosi kita sepenuhnya. Marah tidak terlalu marah, senang tidak terlalu senang. Semua yang terlalu memang tidak baik, kan? Netral saja. Usahakan netral.

Jadi, sudah sampai mana perjalanan mengenali emosinya?

PS: Iseng ngecek tulisan semacam ini di blog dengan tag Tentang Hidup ternyata ada 73 postingan sejak 2015! Sama ini jadi 74! Wah, emang passionate banget kayanya saya ngomongin hidup hahaha. Kalau yang niat baca dari awal, tag ini jadi perjalanan emosi saya sih sepertinya.

Dari quarter life crisis, hancurnya kepercayaan diri karena punya anak, masih positive vibes only saking ngerasa hidup kok gini-gini aja, sampai sekarang di titik bisa bilang kalau positive vibes only juga nggak selamanya baik. Pengen pukpukin diri sendiri dan bilang BANGGA BANGET SAMA DIRI SENDIRI, TERIMA KASIH UDAH SAMPAI DI SINI! :))





Bebe 5 Tahun 11 Bulan

on
Wednesday, April 29, 2020



[INI FOTO ULTAH TAHUN LALU, FOTO BARU MENYUSUL KARENA MALES AMBIL KAMERA LOL]

Sebuah update milestone setelah hampir 2 bulan diam di rumah lol.

Sebagai ibu yang berbagi tugas pengasuhan sama daycare, ini adalah waktu terlama saya bareng-bareng sama Bebe 24 jam selama 1,5 bulan. Terakhir ya pas dia lahir, umur 1-3 bulan itu 24 jam sama Bebe. Abis itu bye Bebe, ketemu pagi dan malem doang selama 5 tahun lebih!

Gila juga ya dipikir-pikir HAHAHAHA.

Anaknya satu tapi yang urus banyak. Ada yang khusus masakin dia, ada yang khusus temenin dia main, ada yang khusus ngajarin dia. Pantes saya bisa fokus untuk ngajarin dia hal-hal lain kaya emosi, apresiasi, bonding, ditulis di blog juga. Ya berlebihan energi hahaha. Di luar itu, outsource aja udah.

LHA SEKARANG?

Bersyukur harus di rumah aja dengan anak yang sedikit lagi 6 tahun. Less drama, meskipun nemplok mulu, pusing. Saya seneng sih sebenernya karena ya nggak pernah kaya gini juga kan. Tapi lama-lama berat juga ditemplokin, ditabrak, dicium-cium terus sementara tetep harus kerja, masak, nyuapin makan waahhh.

1,5 bulan sama Bebe di rumah malah semakin menguatkan nggak mau punya anak lagi karena energi buat satu anak aja ternyata saya nggak punya HAHA.

Oke cukup untuk part curhat ibu, mari ke milestone Bebe.

Berat badan

Ini part tersedih sih karena merasa di umur 5 tahun udah nggak perlu plot grafik lagi terus ternyata dalam setahun berat badan Bebe nggak nambah sama sekali. Jadi sekarang kejar target makannya harusss selalu double protein hewani huhu.

Udah balik ke garis ijo sih tapi mempertahankan prestasi lebih sulit dari meraih, bukan? Jadi rempong banget saya tiap hari masak dan nyuapin makan demi itu grafik stay di garis ijo. HUH HAH!

Makan

Si Bebe yang waktu kecil makannya drama, makin gede makin gampang ternyata. Nggak picky, kecuali pedes masih nggak mau (ya sama ibu juga kalau pedes nggak mau lol). Sayur mau, buah aman, ikan dan daging aman. Yang tidak aman hanyalah part harus disuapin sama ibu biar makannya semangat.

Selama ini makan sendiri bisa-bisa aja. Tapi mandiri dan makan sesuai kebutuhan itu dua hal yang beda banget ya. Makan sendiri belum tentu sesuai kebutuhan karena maunya buru-buru. Jadilah ibu harus nyuapin terus.

Alergi

Plus di rumah gini jadi bisa kenalan lebih dekat sama alerginya. Selama ini di daycare aku beneran susah untuk cek makanan apa aja yang bikin dia alergi? Tau-tau pulang kulit kering/ruam aja gitu. Bingung dari 3 menu, yang mana yang bikin kulitnya ruam?

Nah karena di rumah jadi bisa cek efek tiap makanan lebih detail. Jadi baru sadar kalau ternyata dia nggak alergi semua telor. Dia cuma alergi telor ayam aja. Telor ayam semua model (halah) dari telor biasa, omega, ayam kampung, alergi semua.

Tapi untungnya telor puyuh dan telor bebek aman. Jadi di kulkas selalu stok telor puyuh dan bebek deh buat nambahin double prohe. Senang karena liat pipinya nggak ruam lagi kaya dulu huhu.

Main game

INI ANAK UDAH GEDE BANGET YA? Kalau main game tuh sambil ngomong sendiri gitu capruk pake bahasa Inggris. Mana main game apaan pula saya nggak ngerti huhu.

Sampai juga di titik saya nggak ngerti dia main game apa HAHAHAHA. Dipikir saya bakalan terus jadi ibu nggak gaptek yang akan paham semua urusan teknologi anaknya. Tapi kalau game hadeh maleslah urusan appa aja.

Nemplok ibu

JG lagi telepon mamanya. Tiap hari kan telepon mamah tuh.

Ibu: “Be, appa lagi telepon nenek, kamu kalau udah segede appa, udah punya anak, tetep mau telepon aku tiap hari kan?”

Bebe: “AKU NGGAK AKAN KELUAR DARI RUMAH INI JADI AKU NGGAK PERLU TELEPON IBU!” (sambil peluk kenceng)

WOW. HAHAHA.

Deep down, saya yakin Bebe tuh ada perasaan ingin sama ibu terus karena biasanya ditinggal kerja kan. Jadi puas-puasin Be, selama di rumah ini sama ibu hahaha. Abis ini selesai kita kembali ke rutinitas masing-masing ok karena ibu nggak sanggup kalau homeschooling selamanya mah HUHU.

Saya sendiri juga puas sih peluk-pelukan ngobrol tiap malem. Tapi bener deh, ini mau sampai umur berapa sih saya akan ditabrak seketika sampai kejengkang tuh? Sampai umur berapa kalau cium tuh seringnya malah kepentok? Sampai umur berapa kalau mau peluk ibu tiba-tiba itu jadinya kejeduk? Beraaattt.

Masih mau digendong pula ya ampun cuma sanggup semenit beneran deh.

Baca tulis

Baca udah lancar, nulis udah mau di dalem garis meski mengeluh setiap beberapa kata “pegel banget”, “aku pegel banget”, “abis ini pokoknnya ibu pijitin tangan aku pake kutus-kutus”, “capek”, “aku nggak suka nulis”. NGELUH TEROSSSS.

Tapi ya ibu tungguin. Silakan mengeluh tapi kerjakan. Kalau terlalu banyak, lanjut besok lagi boleh hahaha.

Jadinya saya ganti deh activity menambah diksinya dengan malem sebelum tidur, tebak-tebak huruf. Misal “balloon” dia tebak, hurufnya apa aja. Selain kinestetik, rada auditori kayanya Bebe tuh. Dulu pas belajar eja juga malem sebelum tidur ngeja dulu kan.

Apapun metodenya yang penting mau belajar yessss? YESSSS.

Sekolah

Ini part terchallenging sih. Tapi masih bisa di-skip. Makan challenging dan nggak bisa diskip huhu.

Jadi selama dia pergi ke sekolah, nggak pernah ada satu waktu pun dia males-malesan. Selalu mau pergi sekolah dengan semangat. Sekolah di rumah? Beda cerita.

Moodnya nggak ketebak banget. Bisa lagi happy terus pas zoom-nya nyala dia langsung lemes dan tiduran di meja. Atau udah bangun pagi tapi kalimat pertama saat bangun adalah “aku nggak mau sekolah”.

Kemarin miss atur jadwal dan aku jawab “miss, aku sih oke aja tapi moodnya Xylo yang nggak terduga” HAHAHA. Ya gimana memang gitu keadaannya kan.

Jadi daripada maksain pagi dia sekolah, mending tunggu dia mau lalu kerjain PR beberapa hari di saat moodnya bagus itu. Biarlah masih TK ya. Semoga masuk SD, pandeminya udahan karena kalau harus adaptasi dengan kondisi baru tapi sekolahnya online tuh kayanya berat deh.

*

Udah sih gitu aja semoga nggak ada yang kelewat ya. Sebulan jelang ultah dan belum siapin apapun. Nggak apa-apa yang penting berat badan nggak turun *tetep* lol

-ast-




The New Normal

on
Monday, April 20, 2020

Topik dengan tiga kata judul ini udah banyak banget yang nulis ya. Tapi saya mau nulis juga dari sudut pandang saya atuhlah masa nggak boleh hahahaha

Udah sebulan lebih di rumah, sebulan 4 hari kalau nggak salah hitung. Udah terlalu lelah untuk menghitung hari. Hidup pasti temukan jalannya. Udah mulai ngerasa kalau harus kaya gini selamanya ya udah, kalau bisa ke kantor tiap hari lagi kaya dulu alhamdulillah. 

Tapi kayanya pilihan kedua makin jauh rasanya. Hidup yang kemarin-kemarin jadi serasa cuma mimpi aja. Tiba-tiba kita bangun dan disadarkan, mana yang penting, mana yang bisa diabaikan. Mana yang milik kita, mana yang bukan. 

Waktu bukan milik kita. Tempat, bumi ini juga bukan milik kita. Yang kita miliki sepenuhnya sendiri cuma pikiran. Itu pun tetap hanya dalam pikiran, karena pikiran bukan kenyataan. Kita, sendirian dalam pikiran

Banyak hal yang kita pikir normalnya begitu ternyata tidak.

Normalnya kalau kerja itu ke kantor padahal tidak pun tidak apa-apa.  Karena banyak kantor yang masih bisa beroperasi baik-baik saja meski hampir semua karyawan diam di rumah tak ke mana-mana.

Jadi mudah terlihat, mana yang bisa tetap fokus bekerja meski dengan distraksi keluarga, mana yang malah menghilang dan menganggap work from home adalah liburan semata.

Normalnya anak tuh sekolah dong padahal tidak juga anak ternyata tetap normal ahahaha. Sekolah di rumah pun bisa. Anak beraktivitas di rumah cuma sama appa ibu yang tidak 100% fokus karena nemeninnya harus sambil kerja, ternyata bisa.

Normalnya me time ibu itu tanpa anak sama sekali. Ternyata me time ngunci diri di kamar juga bisa. Normalnya liburan untuk refreshing. Ternyata nonton drama Korea juga refresh dan senang-senang aja. Normalnya orang ekstrovert itu recharge di keramaian. Ternyata bisa kok diusahakan dengan teriak-teriak di rumah karaokean.

Dan normal-normal lain yang sekarang jadi dulu. Jadi masa lalu.

*

Kalau diperhatikan baik-baik, Bebe lebih gampang adaptasi. Dari dia bilang “aku bosan di rumah” sampai “aku sekolahnya di rumah aja” itu cuma butuh waktu sekitar 2 minggu. Sebulan ini cuma 2x bilang “aku kangen sekolah!” lalu kembali happy dan lupa kalau di rumah itu bosan.

Beda sama ibunya yang butuh 3 minggu sampai sebulan. Dari migrain dan nggak bisa ngapa-ngapain 3 hari penuh karena mikirin masalah dunia (aka pandemi) sampai akhirnya bisa terima “oh mungkin memang harus begini bertahun-tahun ya udalah”. 

Dari kangen ke mall, kangen CFD, kangen makan AYCE dan Pagi Sore, kangen ngantor dan liputan, sampai memutuskan udalah nggak usah kangen lagi karena makin jauh sama bahagia. Kayanya dikit lagi mikirin konsep ngantor aja jadi nostalgia, selevel dengan mikirin masa-masa SMA :))))

Udah nggak ada lagi juga opsi untuk melakukan itu dengan tenang. Mau kangen juga jadi percuma. Mau bosan juga, ah dulu waktu ngantor biasa juga ada kok masa-masa bosan. Bosan itu biasalah. Dalam situasi apapun, kita bisa kok bosan. Nggak cuma sekarang. Move on, pelan-pelan aja, yang penting dicoba.

At least karena berusaha legowo gini jadi udah nggak denial lagi. Udah nggak sakit kepala mikirin problematika orang sedunia lagi.

Baca riset Harvard School of Public Health, mereka bilang kalau vaksin belum ditemukan, dengan rumah sakit kaya sekarang, Amerika baru akan berhenti social distancing di … 2022 lol 2-3 tahun harus begini, itu juga masih perkiraan. Bisa lebih cepat, bisa banget lebih lambat. :))))

Pun mulai berhenti mengkhayal kapan ini berhenti dan mau ngapain saat berakhir? Karena konsep "akhir"-nya tuh bener-bener masih serupa harapan, bukan janji yang jelas akan ditepati kapan. Lebih baik manage ekspektasi, kan?

*

Baru kerasa bahwa masa depan yang dulu rasanya bisa direncanakan, sekarang kembali jadi bayang-bayang. Padahal dari dulu juga masa depan mah emang bayang-bayang ya? Hahahaha.

Dulu sok tau banget merasa bisa memprediksi besok akan kerja, Bebe sekolah, makan malam di rumah. Karena kenyataannya besoknya lagi juga gitu. Besoknya juga gitu lagi. Sok banget memperkirakan besok akan kaya apa padahal semenit lagi juga nggak ada yang tau akan gimana.

Sebagai tukang bikin rencana, kali ini saya malah menghentikan semua agenda. Hanya berharap tetap punya penghasilan agar bisa makan. Hanya berharap nggak ada kondisi darurat agar dana darurat bisa jadi tameng untuk tetap punya perasaan aman. Sebagai manusia ambisius, saya juga mengubah mimpi dan cita-cita. Dari daftar panjang yang ingin diraih, berubah jadi daftar pendek hal-hal yang syukurlah masih bisa cukup, sepertinya baru kali ini kami tak minta berlebih. :(

Untuk yang jadi kehilangan kerjaan karena normal yang tiba-tiba berubah ini. Semoga secepatnya ketemu jalan barunya, ya? 

Rencana diatur ulang, impian dikondisikan, pikiran dikendalikan. Yang bisa dilakukan memang cuma mengatur, mengondisikan, dan mengendalikan pikiran. Ya gimana, menkes bukan, presiden bukan. Kecuali kamu scientist yang emang lagi bikin vaksinnya jadi mungkin ada bayangan kapan pandemi ini bisa diselesaikan huhu mangat guys. 

Definisi optimis pun berubah. Saat awal self-isolation, optimis adalah yakin bisa survive di rumah sampai pandemi selesai. Sekarang, optimis adalah yakin bisa survive dalam keadaan kaya gini entah sampai kapan.

Ini bukan rutinitas sementara. Ini rutinitas baru. Sekali lagi, ini bukan gaya hidup sementara, ini gaya hidup yang baru.

Maka, mari kita tutup dengan berseru: Semoga kita semua sehat selalu!

-ast-





Day 12

on
Wednesday, March 25, 2020

Saya sudah sangat ingin menulis tentang hidup akhir-akhir ini. Triggernya Ashraf Sinclair meninggal dan terlalu banyak hal yang terjadi di dunia.

Entah kenapa saya tidak menyempatkan diri. Karena merasa kepala terlalu penuh saya akhirnya hanya menuliskannya singkat di caption Instagram.



Berawal dari Kobe Bryant, lalu Ashraf Sinclair. Kemudian daftar tontonan 1-2 bulan belakangan yang bukannya menghibur malah bikin nangis bombay: “All The Bright Place” (Netflix) tentang dua orang yang mencari cahaya setelah duka dan trauma, “Onward” (Pixar) tentang pengandaian kematian yang kembali hanya untuk sehari, dan "Hi Bye Mama" (Netflix) yang membuat saya berpikir ulang tentang makna kehidupan.

Tentang meninggalkan dan ditinggalkan. HUHU SEDIH BANGET ASLI. Hi Bye Mama memperlihatkan sudut pandang kematian dari sisi yang meninggal, bukan dari sisi yang berduka. Baru, setidaknya untuk saya. :(

Lalu yang terakhir adalah Covid-19 yang bukannya bikin saya takut mati tapi bikin saya takut ditinggalkan jadi first thing first: Cek polis asuransi jiwa JG, apa uang pertanggungannya tetep cair kalau meninggal karena pandemi?

(Ternyata iya).

*

Pagi ini, hari keduabelas saya dan Bebe diam di rumah. Kami tidak melangkahkan kaki ke luar sekali pun. Berjemur di kamar yang memang jendelanya pas sekali terpapar sorotan matahari pagi, menghirup udara segar (ya kapan juga udara pagi Jakarta segar sih) dari balkon apartemen saja.

JG ke luar 2 kali untuk grocery shopping, mandi dan bebersih sebelum satu ruangan lagi dengan kami berdua. Dua kali ia keluar untuk mengambil paket dan GoFood. Hanya begitu saja tetap langsung mandi bersih. Terlalu takut membawa virusnya ke rumah, terlalu takut Bebe tertular dan kesakitan. :(

Saya dan Bebe berkomitmen 14 hari di rumah karena memang itu esensi isolasi diri, kan? Diam di rumah selama minimal 14 hari, agar ketika memang harus sakit, kita tahu persis kapan dan di mana kita tertular. Sekarang hari ke 12, seharusnya 2 hari lagi kami bisa bilang aman dan tidak punya virus dalam diri. Atau kalau ternyata punya dan tanpa gejala pun, sudah tidak menularkan pada siapa-siapa dalam 14 hari.

Jadi kami memang mengisolasi diri agar yakin tak tertular dan menulari. Iya, term yang tepat untuk kami adalah self-isolation bukan social distancing, karena saya tidak bersedia keluar lalu menjaga jarak dengan orang lain. Di saat seperti ini rasanya social distancing saja tidak cukup, apalagi tinggal dengan anak kecil.

Selama ini yang disebut rawan selalu orangtua. Rawan karena tingkat kematiannya tinggi. Tapi membaca berbagai cerita yang mengalami sakit, sakitnya bisa jadi ringan bisa jadi sangat berat. Membayangkan Bebe sakit berat kok rasanya saya tak mau keluar rumah. Biarlah saya hampir gila tapi saya di rumah saja untuk sementara.

Kenapa saya hampir gila?

*

Saat pengumuman sekolah diliburkan 2 minggu di hari Sabtu 12 hari yang lalu, saya adalah kaum yang optimis bahwa ini akan terjadi selama 2 minggu saja. Yah, 14 hari diam di rumah tidak ada salahnya, kan? Daripada keluar lalu jadi sakit, lalu jadi menulari orang yang sehat?

Naif sekali rasanya sekarang karena saat itu saya menganggap semua orang pasti melakukan hal yang sama.

Tidak, ternyata.

Ada yang memang terpaksa karena harus bekerja jadi tetap keluar rumah. Yang ini, jelas tidak apa-apa karena kalau terpaksa keluar rumah tandanya sudah tahu dong selama di luar itu harus bagaimana? Tidak menyentuh barang di tempat umum, rajin cuci tangan, jaga jarak dengan orang lain, dan segambreng tips lain.

Tapi yang meremehkan? Yang menganggap “halah mati mah mati aja” lalu keluyuran? Yang di jalan tetap serampangan, seperti saat normal, boro-boro cuci tangan, sampai rumah belum mandi atau ganti baju langsung rebahan. Yang kategori kedua ini nih yang paling pengen saya jorokin ke jurang biar mati duluan sebelum nularin orang :((((

Baru satu minggu di rumah, tiba-tiba imbauan baru muncul dan membuat #dirumahaja dari nol lagi. Iya, ditambah lagi 2 minggu karena gimana dong yang seminggu pertama kemarin jatohnya trial aja, karena nggak semuanya patuh.

Bebe yang sebelumnya sudah menghitung hari setiap pagi (10 hari lagi ya ibu? 9 hari lagi ya?) langsung berteriak NOOOO! We stuck together again? NOOOO! Sambil memeluk saya dan tertawa lepas. Saya?

:(

*

Saya sudah kehabisan energi.

Sebagai ekstrovert, saya sampai berusaha mengubah pola pikir, bahwa “jadi ekstrovert” adalah mindset. Afirmasi bahwa saya tidak perlu keramaian untuk charging energi, tidak perlu mengobrol dengan orang banyak untuk bisa bersemangat. Saya PASTI BISA mengisi ulang baterai saya dengan di rumah saja. Toh saya di rumah bersama dua orang favorit saya.

Saya menonton konser Pamungkas live, saya tetap IG story dan mengobrol dengan orang lain, saya tetap kulwap, saya tetap berusaha beranggapan bahwa sebagai millennial saya bisa hidup secara virtual.

Ternyata susah luar biasa. Saya butuh keramaian yang bukan maya. Senin pagi, hari kesepuluh itu jadi puncaknya. Dua hari sulit tidur dan hanya bisa menangis. Bangun tidur menangis sambil dipeluk Bebe yang pukpukin saya “Aku bosan banget Xylo, aku capek, aku boleh kan menangis?” Dia bilang boleh.

:(

Hari kerja saja sudah sulit untuk saya tapi kan kalau hari kerja saya sibuk karena tiap jam sudah ada jadwalnya harus ngapain atau jam makan sekeluarga berantakan sementara Bebe harus dipantau makannya agar berat badannya tidak turun lagi. Saat akhir pekan?

Belum lagi yang terburuk adalah saya jadi tidak punya me time, saya tidak punya waktu untuk diam sendiri karena definisi baru dari me time saat #dirumahaja seperti ini adalah menutup pintu kamar lalu menonton serial Netflix. Dengan suara JG dan Bebe berteriak-teriak di luar.

Bukan me time ideal tapi saya butuh itu. Bukan me time ideal karena jelas tidak bisa mengisi ulang baterai saya jadi 100% lagi.

Entahlah dengan kondisi berada di satu unit apartemen yang hanya berukuran 33 meter persegi, saya tidak tahu kapan bisa 100% lagi.

Energi yang ada kini hanya cukup untuk selalu bilang good morning sambil tersenyum lebar pada Bebe. Yang hanya cukup untuk menemaninya mengobrol berjam-jam sebelum tidur. Tentang Minecraft. Games yang tidak saya mengerti tapi saya dengarkan tiap detailnya. Karena hanya itu yang saya bisa untuk menghiburnya.

“I miss school, school is so fun,” kata Bebe semalam. Ia mulai rindu sekolah.

Minggu lalu yang ada di pikiran: Saya pasti bisa melewati 14 hari hanya dengan diam di rumah.

Minggu ini berubah menjadi: Kapan saya bisa beradaptasi dengan kondisi seperti ini?

Karena sungguh, orang sedunia pun tak ada yang tahu pasti kapan kondisi ini benar akan berakhir.

:(

*

Lalu 12 hari ini apa yang kami bertiga lakukan di rumah?

Pagi: Yoga, sarapan, mandi, jam 8 JG mulai kerja. Jam 9 saya mulai kerja, Bebe screen time.

Jam 12 masak makan siang dan makan sampai jam 1. Ngobrol, dancing, main. Kemudian Bebe tidur siang, saya kebut lagi kerja sampai jam 3 sore karena jam 3 dia PASTI akan bangun.

Jam 3 mulai main dengan Bebe bergantian dengan JG. Hanya beberapa hari ia kembali screen time karena saya dan JG terlalu banyak pekerjaan.

Malam makan, main UNO, umpel-umpelan di kasur. Besoknya begitu lagi.

Untungnya Bebe senang. Sebagai anak yang terakhir kali bersama ibunya 24 jam berhari-hari itu saat usianya 3 bulan, ia senang sekali karena bisa bersama saya dan JG sepanjang waktu. Matanya terus berbinar, terus menerus memeluk dan mencium saya. Meski rindu sekolah, ia belum mengeluh bosan. Malah mungkin ia bosan sudah keluar rumah terus setiap hari selama hampir 6 tahun. Baginya, ini liburan. Bagi saya, ini pelajaran.

Pelajaran bahwa rencana, meskipun sudah dibuat berbagai cara dan gaya, tetap bisa tertunda. Bahwa hidup saya yang biasanya sangat bergantung pada Google Calendar, juga nyatanya bisa tetap berjalan tanpa jadwal pasti apa-apa.

Yang paling membuat khawatir: Bagaimana kalau ini berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama? 3 bulan? 6 bulan?

Bagaimana kalau ini adalah the new normal seperti yang dibicarakan orang-orang? Bagaimana jika pemulihannya butuh waktu sangat lama karena ya Indonesia terlalu luas, Jakarta terlalu padat, penduduknya tak sepaham dan setara, pemerintahnya juga tak tegas karena terlalu takut jadi chaos. Wajar, saya juga takut. Tapi sampai kapan?

Sebuah pertanyaan yang berusaha saya enyahkan dari kepala karena sadar benar, itu di luar kendali dan kuasa saya tapi tetap saja. Pertanyaan itu muncul dan muncul kembali, buah cemas karena pengaruh diam di rumah terlalu lama.

*

Count your blessing.

I did.

Saya bersyukur masih gajian, punya kulkas penuh stok makanan dan camilan, dana darurat dengan jumlah yang cukup, masih bisa “iseng” beli saham, masih punya pilihan untuk diam di rumah. Saya bersyukur sekali.

Di sisi lain, rasa syukur ini jadi bentuk khawatir lain karena bagaimana dengan orang yang tidak seperti kami? Apa yang akan mereka lakukan? Apa mereka bisa bertahan hidup?

Saya jadi merasa bersalah karena bisa bersyukur. Merasa bersalah karena pandemi seperti semakin memperlebar jarak, yang bisa stok makanan dan yang tidak, yang punya privilege dan yang hidup dari ke hari. Hidup memang tidak pernah adil.

Dulu rasanya saya banyak mau. Saya mau belajar ini itu, saya mau ambil kelas ini itu, saya mau bikin ini itu untuk ulang tahun Bebe, saya mau beli ini itu. Banyak sekali daftar keinginan saya di tahun 2020 ini.

Sekarang semua keinginan itu hilang dan saya hanya mau dunia kembali ke tahun lalu. Ketika yang diributkan hanyalah hipnoterapis yang mengaku dokter, ketika yang dikhawatirkan hanyalah GoFood yang terlambat datang saat makan siang. Ketika yang ingin dicapai rasanya masih bisa digapai.

Bisa apa selain menangis? Hehehe.

Menangis menyembuhkan. Menangis adalah bagian dari mengenali emosi yang datang dan pergi. Maka kalau mau menangis, menangislah. Kalau mau teriak, teriaklah. Tapi tolong, tetap diam di rumah.

Kita perlu semua orang untuk diam di rumah dan menghentikan ini segera. Karena dampaknya bukan hanya ekonomi yang kolaps tapi juga kondisi jiwa yang semakin jauh dari tawa.

*

By the way, saya berjuang untuk tidak seperti ini lagi bertahun-tahun lamanya. Berjuang untuk tidak menangis tiba-tiba, untuk tidak berpikir terlalu banyak. Saya belajar meditasi, ikut kelas-kelas mindfulness, dan setahun belakangan saya merasa saya sudah baik-baik saja. Saya sudah berani untuk bilang saya pulih dan tidak apa-apa.

Dihadapkan pada situasi bencana seperti ini ternyata saya belum baik-baik saja. Semoga ini semua cepat berlalu, ya.

Semoga rasa damai bukan lagi hanya andai.
Semoga rasa tenang secepatnya bisa jadi pemenang.

-ast-