-->

Image Slider

Bebe dan Jadi Dewasa

on
Saturday, November 7, 2020

Makin jarang nulis blog ternyata karena satu kesulitan: Bebe nggak sulit lagi hahahaha HOW IRONIC. Seumur hidup Bebe, blog ini jadi tempat ngeluh parentingku. Dan ketika parentingnya udah nggak sulit lagi, jadi nggak pengen ngeluh lagi, jadi nggak pengen nulis lagi lol.

Pun semakin besar, semakin hati-hati untuk cerita tentang Bebe karena dia udah ngerti privasi. Udah tahu rahasia. Udah bisa memutuskan mana yang boleh diceritakan mana yang nggak. Mau itu di Twitter, di IG story, pun di sini. Cerita yang satu ini, saya pake adegan minta izin dulu. “Boleh nggak ibu cerita ini ke orang-orang?” Dia bilang boleh, so here we go!

*

Bebe adalah anak yang nggak ditutup matanya saat kissing scene karena kenapa harus ditutup? Kamunya aja kali yang nggak bisa jelasin ke anak kenapa mereka ciuman lol. Padahal itu bisa jadi sarana sex education lho, siapa yang boleh ciuman, siapa yang nggak boleh, dll.



Boleh sih boleh, nggak dilarang, nggak ditutup matanya tapi Bebe jijik sama adegan ciuman HAHAHAHA. EW SO GROSS! Katanya berulang-ulang. Bebe kan anaknya jijikan ya. Karena SPD juga sih (baca ceritanya di sini), dia super jijik sama segala sesuatu termasuk ludahnya sendiri. Apalagi bahas kissing scene :))))

Jadi kalau misal kami lagi main-main gitu terus dia nggak sengaja ngeces gitu wah udalah nggak bakal mau dia suruh lap, yang ngeces siapa yang jijik siapa. Pernah netes ke tangan saya terus saya lap ke baju dia terus dia menangysss saking jijiknya :))))

Dia juga nggak pernah mau tuh sharing gelas sama orang lain. Apalagi sharing sedotan atau sendok. Bahkan sama ibu dan appa pun jijiknya sama. Ya udah baguslah mengurangi penularan penyakit hahahahaha.

Ditambah konsep marriage itu buat dia aneh karena “aku maunya sama ibu terus foreveerrrr!” dan “why is everyone getting married?” karena kalau di akhir fairy tale klasik kan they got married and lived happily ever after gitu.

Pernah juga dia nonton Over The Moon sama JG di Netflix terus pas cerita ke saya tuh bilangnya gini:

“So there is a girl, and the father. And then the mother died and the father meet another adult and it’s so blah”

“What’s so blah? Are you sure it’s a person? Or is it a cockroach or something?”

“No it’s a person, an adult I said ibu, a woman, but it’s blaahhhh”

“How could people be so blah?”

“It’s a blah because the father and the woman … KEY AI ES ES”

NGAKAK LOL MAAP BE. K I S S katanya, bahkan ngomongnya aja dia jijik HAHA.

Kemudian suatu hari dia denger lagu Sherina “Andai Aku Besar” dan terjadilah percakapan ini:



Nah tapi ini kejadiannya tuh di meja makan, tanpa pikir panjang. Jadi dia jawab begitu. Ternyata di suatu malam, jawabannya beda lebih dalem :’) Kalau malem-malem kan mellow gitu ya, gelap, fokus anak cuma sama obrolan aja, entah lagi ngomongin apa, nyampe lagi tuh ke percakapan marriage sampai nangis :))))

“I don’t wanna be an adult”

“Why?”

“Because then you’ll be so big, and then you cannot go under the table, and then you can’t huaaaa” *NANGES*

Lalu saya peluk. Sambil nangis bilang gini:

“I don’t want to be an adult because I don’t want to start my own life” *MASIH MENANGES*

H A H  G I M A N A . . .

Saya tanya lagi tuh, apa maksudnya start your own life? Kan sekarang juga sudah hidup? Katanya bukan, bukan hidup jadi anak-anak tapi jadi orang dewasa, keluar dari rumah, kerja, menikah, dia nggak mau. 

Emang dari dulu kalau lagi cerita dulu ibu dan appa gimana sebelum Bebe lahir, Bebe juga kaya nggak paham kenapa kami harus keluar dari rumah dan pindah ke Jakarta? Kenapa emang suatu hari anak itu harus lepas dari ibu? Kenapa harus telepon ibu setiap hari (kaya JG nelepon mamanya setiap hari) kan bisa serumah aja :)))

Itu yang paling bikin dia bingung. Kenapa emang harus ketemu orang baru dan lalu jadi satu rumah? Ya emang belum ngerti aja di umur 6 tahun kali ya. Tapi ternyata dia mikirin banget hahahaha. Sumpah overthinking kaya siapa sih LOL.


Akhirnya saya puk-pukin dan bilang kalau nggak ada yang suruh dia cepat besar, nggak akan ada yang akan paksa dia cepat menikah atau keluar dari rumah.

Lalu saya merenung.

Dulu, saya pengen cepet-cepet jadi orang besar itu kenapa? Saya nggak sabar pengen punya uang sendiri (asli dari SMP-SMA gitu udah ngayal nanti kerja mau pake baju apa, kerja di tempat kaya apa, kalau gajian uangnya mau buat apa, dll), pengen keluar dari rumah, pengen mandiri, pengen memutuskan semua keputusan hidup sendiri. 

Kalian juga mungkin punya alasan yang beda lagi. Mungkin ada juga yang seumur hidup selalu diremehkan orangtua dengan “halah anak kecil diem aja” atau “anak kecil tau apa sih nurut ajalah!” gitu ya udah pastilah jadinya pengen cepet-cepet besar biar punya kendali atas hidup. Atau mungkin ortu zaman dulu sering bilang “hidup di rumah ini, ikut aturan di rumah ini” tanpa berdiskusi apakah anak sepakat dengan aturannya? Apakah aturan itu dibuat bersama atau hanya dibuat ortu belaka?

Tapi coba kalau jadi Bebe?

Sekarang hidupnya semua dikasih pilihan, semua bebas pilih, semua konsekuensi dan peraturan didiskusikan, ditanyai pendapatnya akan semua hal, pendapatnya selalu dianggap penting, tidak pernah dihukum dan diajari tanggung jawab, wajar jadinya kalau dia mikir: Ngapain harus jadi orang dewasa dan hidup mandiri? HUHU.

Karena buktinya kita aja (SAYA KALI AH) dulu ala-ala banget pengen cepet jadi besar, mau nikah muda karena kepengaruh Hollywood series (BLAH), mau ini itu pas udah besar, pas udah besar KOKKK BEGINI HAHAHA. Enakan jadi anak-anak.

Jadi Be, dan anak-anak lain di luar sana, enjoy your childhood! Kamu benar, nggak perlu ingin buru-buru besar, pelan-pelan aja biar nggak kesasar. Biar ketika nyampe saatnya, kamu udah tau apa yang kamu inginkan dan kamu tidak inginkan.

WE LOVE YOU!

PS: Beberapa hari kemudian kami main tenda-tendaan pakai selimut. Selimutnya mayan tebel tanpa ada bolongan gitu karena dia maunya gelap. PANAS DONG YAH PENGAP. Saya bilang “I give upppp please give me some oxygennnn!” sambil keluar dari selimut. Jawaban Bebe adalah “See that ibu, being a grown up is not cool, you need more oxygen because you’re bigger than me. I wanna be kids forever!” LOL OKEDEH BEBAS TERSERAH KAMU AJA :))))

-ast-





Kenapa Saya Belum Mau Punya Anak Kedua

on
Monday, August 31, 2020
[SPONSORED POST]


Kemarin saya buka random question box di Instagram Story. Seperti biasa adaaa aja yang nanya “kapan mau punya anak kedua?”

Kalau kalian ngikutin perjalanan saya dari dulu, pasti tau ya saya takut banget punya anak kedua. Saya bingung sama ibu-ibu yang anaknya baru umur 1-2 tahun terus udah gemes-gemes punya anak kedua karena saya nggak merasakan itu. Ternyata setelah dikasih pandemi, baru sadar KENAPA-nya.

Karena Bebe ternyata bukan anak biasa hehehe. Baru keliatan saat pandemi karena dia diam di rumah, bisa dibilang tanpa stimulasi apapun. Sementara dia biasanya TK dan daycare montessori di mana semua indera terstimulasi dengan baik. Jadi dia “tampak” baik-baik aja. Ternyata nggak.

Awalnya kami bingung karena merasa dia regresi atau mengalami kemunduran perilaku. Ke toilet jadi nggak berani sendiri. Misal saya lagi tanggung kerja, dia mending tunggu saya dan nahan pipis lari-lari keliling ruangan dibanding harus pipis sendiri. Terus sering ketakutan, dia katanya takut ada orang jatoh tembus dari langit-langit (?). Lalu sebelumnya udah berani tidur sendiri sekarang nggak mau lagi.

Ah suramlah, pokoknya repot banget. Dulu sebelum masuk preschool (umur 3 tahun) dia emang begitu, sampai dulu tuh dia takut banget ke ruang tamu sendiri karena katanya takut ada motor orang masuk ke rumah :))))

Nah, pandemi ini kan stresful bukan cuma buat orang dewasa ya tapi juga bisa bikin stres anak maka akhirnya bikinlah janji dengan psikolog anak. Saya cerita panjang lebar, akhirnya diputuskan untuk assessment karena psikolognya mencurigai Bebe SPD, Sensory Processing Disorder.

SPD ini lengkapnya kalian googling aja tapi intinya otaknya kesulitan memproses stimulasi sehingga jadi oversensitive bahkan pada kejadian sehari-hari. Ini sebabnya dia nggak suka banget tuh jalan nyeker, jijik kalau harus pegang lem atau benda-benda dengan tekstur tertentu, picky eater, tantrum parah karena overstimulated, suka main di tempat gelap karena nggak suka cahaya, dan banyak lagi.

Dulu dia denger suara toilet di-flush aja nangis karena menurutnya suaranya kekencengan. Sentuh-sentuh nggak mau, nyeker boro-boro, tangan kena lem aja bisa nangis. Awal-awal di daycare kan kalau main di luar nyeker tuh, BEBE SIH PAKE KAOS KAKI :)))) Baru setelah beberapa lama kemudian, mau jalan dan main nyeker. Mulai nggak picky eater, dan semua jadi lebih mudah.

Jadi iya, saya udah curiga dia ada masalah sama oversensitivity (dulu belum tahu istilah SPD) ini sejak dulu banget. Tapi SEBELUM PANDEMI, setiap ketemu psikolog selalu dibilang “selama nggak ganggu sehari-hari sih nggak butuh assessment”.

Ya setelah masuk preschool emang jadi nggak ganggu sih. Tapi ternyata nggak ganggu itu karena dia distimulasi dengan baik di sekolah dan di daycare. Begitu sekolah dan daycare hilang? Bubar.

Hasil assessmentnya itu dia SPD moderat (2 poin lagi jadi berat hehe). Psikolognya kaget katanya “dipikir akan ringan, ternyata moderat” yah saya sih udah mikir nggak akan ringan hahaha ini anak emang super duper sensitif gitu SEMUA inderanya bukan cuma 1-2 doang.

Jadi sekarang dia home therapy, dikasih jadwal dalam seminggu harus ngapain aja karena kalau nggak diintervensi segera, nanti dikhawatirkan jadi masalah lain di umur 8 tahun ke atas, bisa jadi masalah emosi atau masalah di sekolah.

Kebayang nggak tuh harus SFH, WFH, dan home therapy? :)))))

Saya sama JG sampai bengong berdua: OH INI SEBABNYA KAMI MERASA PUNYA ANAK ITU SULIT. Literally memang dia terlahir dengan temperamen difficult, dengan kondisi khusus. Ya memang susah.

Pandemi ini menyadarkan kami kalau punya anak itu sulit, lebih sulit lagi karena pandemi. Suka nggak suka, punya anak itu nggak segampang pra-pandemi.

Dulu punya anak SPD aja sampai nggak keliatan lho saking semua di-outsource aja ke daycare dan sekolahnya. Di rumah tinggal untel-untelan doang bonding. Sekarang mana bisa. Sekarang kalau mau punya anak, tanggung jawab sendiri! :)))

Padahal pra-pandemi, saya sama JG udah mulai goyah “eh kita tuh bisa kali ya punya anak lagi” gitu. Karena Bebe juga kerasa mandiri banget, udah gede, dan liat kondisi finansial kami pun udah jauh lebih baik. Sampai IUD kadaluarsa aja ditunda-tunda gantinya karena nanti dulu ah SIAPA TAU mau punya anak kedua gitu.

JRENG TIBA-TIBA PANDEMI. Tiba-tiba disadarkan punya anak kok harus diurus sendiri ya nggak bisa diserahkan pada orang lain lol. Mau pake mbak pun (bagi kami) nambah risiko 1 orang lagi di rumah kan.

Lalu ternyata Bebe punya kondisi khusus. Langsung melarikan diri ke dokter kandungan untuk ganti IUD hahahaha. Iyalah kalau emang nggak mau punya anak ya tanggung jawab dengan pakai kontrasepsi. Kan udah yakin, nggak deh, nggak sanggup kalau harus punya anak lagi dengan kondisi kaya gini. Sudahlah kembali ke rencana awal anaknya satu aja. Untung belum keburu hamil huhu.

Belum lagi awal-awal pandemi itu kan Bebe lagi kejar berat badan ya. Takut banget gagal tumbuh karena ya hampir gagal tumbuh masa iya dalam setahun beratnya nggak naik sama sekali.

Naik turun sih tapi kalau dilihat berat tahun lalu dan tahun ini, nggak naik sama sekali sementara anak di atas 1 tahun HARUS naik berat badan 2 kg setahun atau ya gagal tumbuh. REPOT BANGET KAN! Aku nggak mau punya anak lagi karena gemes-gemes doang tapi terus tumbuh kembangnya nggak maksimal. Pasti merasa bersalah banget. PUNYA ANAK ITU HARUS SIAP!

Tapi aku tau banget nih lagi pandemi gini malah banyak yang hamil! Ngerti sih di rumah aja ketemu suami terus yha malah pada bikin anak padahal please banget punya anak tuh dipikirin ya apakah siap fisik, mental, dan finansial?

Apalagi kalau anak kedua atau ketiga dan seterusnya, apakah sudah memperhitungkan jarak kelahiran sehingga si kakak sudah mendapat semua haknya sebagai anak? Si kakak setidaknya sudah selesai mendapat haknya atas ASI dan sudah paham tentang punya adik. Kalau dari saran BKKBN sih jangan sampai ada 2 balita dalam 1 keluarga jadi idealnya emang hamil lagi ketika si kakak udah umur 4 tahun. Jadi selama balita, kita bisa fokus sama tumbuh kembang anak maksimal, fisik dan mental.

Makanya aku setuju banget sama dr. Boyke di video Ninja Talk ini. Kalau emang nggak mau punya anak AYO PAKE KONTRASEPSI. Banyak banget yang pake kontrasepsi nggak mau, begitu hamil panik sendiri. Ya gimana dong, masa iya berharap tidak hamil tanpa usaha apa-apa? Pakai kontrasepsi itu usaha dulu untuk menunda kehamilan, kalau emang tetep dikasih barulah pasrah. Yang penting kan usaha dulu. Videonya bisa ditonton di sini atau play langsung di bawah:


Apalagi yang kondisi keluarganya nggak benar-benar sehat ya! Nggak sehat di sini baik sebagai pasangan suami istri maupun kondisi finansial. Banyak yang penghasilan berkurang atau kehilangan pekerjaan. Eh abis itu malah hamil. Jangan dong ya huhu.

KECUALI memang kalian udah rencana dengan matang mempersiapkan anak. Jadi emang udah pandemi nggak pandemi, memang lagi program punya anak. Nah ini beda cerita.

Kalau udah kaya gini, pastikan aja kalian hamil dengan sehat ya! Diam di rumah karena kita masih nggak tau tuh efek ibu hamil kalau kena Covid-19. Plus nggak usah ke rumah sakit umum! Pilih aja klinik bersalin atau rumah sakit ibu dan anak yang cenderung lebih sepi. Jangan lupa tetap ikut protokol kesehatan dan jaga imunitas,

Ini juga dibahas tuntas oleh dr. Boyke di video Ninja Talk yang ini. Dokter Boyke cerita lengkap banget tentang do’s and don’ts kehamilan saat pandemi gini. Kapan perlu ke RS kapan jangan. Penting banget jadi nonton deh. Di sini atau di bawah ini ya!


Begitu ya. Semoga postingan ini menjawab kenapa saya dan JG begitu takut punya anak lagi. Maka pakai kontrasepsi yuk nggak bosen-bosen deh saya ngingetin kalian untuk pakai kontrasepsi. Pakai kontrasepsi adalah bentuk tanggung jawab sebagai orang dewasa yang sadar pada kemampuan diri sebagai orangtua. Demikian. :)

-ast-





Sekolah dari Rumah, 3 Minggu Kemudian

on
Sunday, August 2, 2020

Awal menyadari bahwa hasil menabungku bertahun-tahun hanya akan berakhir si Bebe sekolah di rumah rasanya aduh ngapain sekolah kalau gini mending tahun depan aja biar sekolah offline!

(Padahal nggak ada yang jamin tahun depan udah bisa sekolah offline kan hedeh). Soalnya sekolah montessori harus online tuh hedeh, aparatusnya gimana? LOL melupakan montessori adalah filosofi bukan material :')))

Lalu juga khawatir karena beberapa minggu sebelum mulai SFH, Bebe sempat regresi dan perilakunya kembali ke usia 3 tahun, belum cerita detail soal ini memang nanti-nantilah, tapi intinya ini menambah kekhawatiran. Jadi 2 minggu sebelum hari H masuk SD, kami konsul sama psikolog soal ini, assessment, juga sekalian nanya-nanya persiapan untuk masuk SD online.

Bebe adalah anak difficult. Iya selama ini emang saya selalu bilang dia anak slow to warm up padahal sebetulnya dia terlahir dengan temperamen difficult tapi karena stimulasi baik, nurturing baik, dia jadi lebih mudah beradaptasi sehingga ya udah seperti anak slow to warm up. 

Dikasih pandemi 3 bulan? YA BUBAR LAGI BUK. Udalah selama pandemi ini nggak bisa lagi sok-sok bilang slow to warm up, difficult aja intinya. Karena kurang stimulasi, kurang interaksi sosial, kurang quality time sama saya dan JG. Mending dulu pas kerja, pulang tuh langsung fokus quality time, lha sekarang 24 jam bareng kok malah susah quality time HUHU SEDIH BANGET.

Lalu ingat dia adalah anak dengan gaya belajar kinestetik. Dia perlu bergerak-gerak untuk konsentrasi alias tipe anak yang jumpalitan banget nih baru pelajarannya masuk. Dulu saat belajar baca, saya kasih dia waktu roll depan dan lompat-lompat di kasur tiap berhasil baca 1 kata.

Terakhir, dia adalah anak ekstrovert. KAMI BERTIGA ADALAH KAUM EKSTROVERT. Jadi kami perlu berada dalam keramaian untuk bisa recharge energi. Kalau sepi-sepi gitu aduh lemes deh. Iya emang lemes terus selama di rumah aja ini. Bulan-bulan awal parah sih lemes luar biasa, sekarang udah mulai adaptasi.

Jadi Bebe adalah anak yang semangat kalau melakukan sesuatu bareng sama temannya. Kalau sendirian? Ya bosan.

Seminggu jelang sekolah, kok khawatir ya dia nggak bisa ngikutin pelajaran? Karena selama 3 bulan di rumah, harusnya dia TK dari rumah dong kan, tapi kan nggak mau. Selama 3 bulan saya bayar TK tapi si Bebe sekolah via Zoom mungkin cuma 5x. Padahal TK kan Zoomnya cuma setengah jam, itu aja nggak betah. Jadi 3 bulan liburan.

Maka ketika dapat jadwal pelajaran dan ngeliat wadawww ternyata SD sekolahnya 4 jam! Ibu cemas banget langsung mikir keras gimana caranya sih bikin dia stay di Zoom 4 jam, setengah jam aja menangis (ibu yang nangis bukan Bebe HAHA).

Maka kami pun meminta waktu pada guru kelasnya untuk one on one. Ini menurut saya penting agar gurunya tau karakter dia seperti apa (difficult, kinestetik, ekstrovert, sedang dalam kondisi yang butuh pendampingan psikolog) dan jadinya nggak berharap dia akan sejalan dengan anak lain.

YA PAHAM SEKOLAH MONTESSORI NGGAK AKAN BERHARAP ANAK JALAN SAMA-SAMA TAPI JUST IN CASE?

Selama one on one itu gurunya menenangkan dan bilang kalau nggak ada paksaan apapun. Saya pun bilang kalau dari saya nggak ada ekspektasi apa-apa. Kalau dia harus ngulang lagi kelas 1 tahun depan pun nggak masalah. Pokoknya set ekspektasi bahwa kami di rumah akan berusaha agar dia mau sekolah, tapi kalau pun tidak mau ya sudah. Gurunya oke.

Ternyata kekhawatiran itu cuma kekhawatiran aja ahahahaha. Emang kita tuh kadang suka meremehkan anak ya.

Sebelum masuk ke cerita SFH (EH BELUM MASUK CERITA YA? UDAH PANJANG GINI), baik psikolog maupun kepsek dan guru tuh sama-sama mengingatkan satu hal: RUTINITAS.

Rutinitas adalah kunci kesuksesan sekolah di rumah. Bagi anak kinestetik seperti Bebe, energizer di pagi hari itu wajib. Sebelum sekolah dia harus keluar rumah, lari-lari, ngapain lah pokoknya berkegiatan fisik biar lebih fokus saat mulai belajar.

Oke, maka saya dan JG bagi tugas. Kami berdua sama-sama akan bangun di jam 5 pagi, saya akan kerja sampai Bebe mulai sekolah jam 8.30. Selama itu, JG akan masak makan siang, energizer sama Bebe, sarapan, dan mandi. Setelahnya JG kerja, Bebe lanjut sekolah sama saya.

Pun ada kesepakatan sama Bebe bahwa sekolah tidak wajib. Tapi konsekuensi dari tidak sekolah dan tidak kerjakan tugas adalah sorenya tidak main game. Bebe setuju. Kami juga sama-sama run through jadwal pelajaran biar Bebe paham bahwa jadwal ini adalah kesepakatan bersama antara dia, kami, dan sekolah. Bukan suka-suka dia.

Hari pertama: Sepanjang Zoom nggak mau unmute sama sekali, nggak mau memperkenalkan diri, DIAM SEPANJANG HARI, iPad dibawa jalan-jalan jungkir balik tengkurep tapi diam. Ibu cheerleading mode, menyemangati terus.

Hari kedua: Mulai mau unmute sesekali tapi jawab sangat-sangat pelan. Kali ini yang cheerleading appa karena ibu ada syuting HAHAHAHA. Appa berakhir menangis (literally) karena udah masak sendiri, anaknya nggak mau makan, eh lalu piringnya jatoh dan tumpah. :))))

Hari ketiga: Mulai semangat, ngerjain tugas maunya selesai duluan terus suaranya mulai kedengeran “miss aku udah!” tapi baper dia karena miss nggak denger siapa yang ngomong. Saya suruh ulang bilang “bilang dong, miss Xylo udah” malah manyun.

Hari ini baca short story bahasa Inggris lancar meski suaranya pelan sampai iPad saya deketin banget ke depan muka dia khawatir miss nggak denger. Tugas selesai semua. IBU BANGGA BANGET TOLONG? Ibu masih full cheerleading mode. CAPEK YA TUHAN.

Hari kelima nggak mau sekolah nyahahahahahahaha. Udah energizer, sarapan, mandi, pake seragam. Sambil sarapan tuh sambil saya bacain buku. Begitu sarapan selesai, buku ditutup. Matanya berkaca-kaca “aku masih mau baca buku, aku nggak mau sekolah”. Yhaaa bagaimana.

Dia nangis telungkup di kasur lalu ketiduran ya udalah biarin. Jam 10-an dia bangun disuruh lanjut kelas lagi mau. Berarti tadi pagi ngantuk aja sih.

Dua minggu awal dia nggak mau sekolah sekali, ngambek left meeting duluan sekali karena disuruh baca Al-Fatihah tapi dia nggak mau, dan left meeting sekali lagi karena … jatoh dari kursi. Ya gimana sih kursi ada rodanya dipanjat-panjat, ya jatoh.

Ngeselinnya ya pas jatoh kan saya tangkap tuh tangannya, eh dia malah bilang “ibu dorong aku!” IDIH GEER AMAT! Saya kesel lah, ngapain aku dorong kamu biar jatuh? Kata dia “aku harusnya nggak jatuh, ibu dorong jadi aku jatuh!” WAW BYE. Saya menghindar dulu deh saking marah banget dituduh jatohin. Dia lanjut kelas sama JG.

Minggu ketiga ini alhamdulillah semua udah jauh lebih lancar. Bangun pagi nggak drama asalkan malemnya jam 8 udah tidur. Pun akhirnya di minggu kedua saya tinggal. Saya sok-sok sibuk gitu banyak kerjaan lalu diem di kamar, dia di kamarnya sendiri dan ternyata lebih enak begitu. Nggak manja.

Ya emang gitu kan ya kalau ada ibu segala-gala rasanya susah, lemes, kalau ibu nggak ada ya udah biasa aja. Saya bilang “kamu kenapa sih kalau sama ibu baby kalau sama miss jadi anak besar?” dia jawab “emang, aku maunya baby aja kalau sama ibu” HAHAHA AUK AMAT.

Tiap pagi bangun pun nggak susah, jam biologisnya udah terbiasa. Saya pun udah nggak struggling bangun jam 5 lalu kerja. Malah rasanya sehat banget karena tiap malem tidur jam 9 bangun jam 5, kulit pun jadi sehaattt banget. Emang tidur tuh krusial ya.

Saya bersyukurrr banget bisa sekolah di sini. Pelajarannya komprehensif dan anak-anaknya setara semua kemampuannya dengan Bebe. Semua udah lancar bahasa Inggris, baca tulis lancar, menghitung sederhana lancar. Missnya pun engaging banget jadi anak-anak nggak bosen. Tiga minggu sekolah udah planting, manasik haji online, dan cooking class.

Ini aja long weekend semalem dia sedih. “Besok minggu ya ibu? Aku mau sekolah aja, I’m soooo bored kalau tidak sekolah”. Wah seneng banget ibu dengernya huhu. Anak-anak kelas 1 seperti Bebe gini kan nggak punya pembanding sekolah offline, jadi sekolah itu ya Zoom. Mereka baik-baik aja, kita yang khawatir aja karena terpapar gadget terus kan?

Tapi ya udalahlah, emang zamannya begini juga. Jangan lupa main keluar aja dan video call orang selain orang rumah biar anak nggak lupa caranya ngobrol sama orang lain.

Gitu aja sih. Kita nggak tahu kapan kehidupan akan kembali seperti semula jadi beradaptasilah! Cari solusi konkrit sebetulnya mau hidup dengan cara apa sih kalau selamanya harus begini? Ayo coba dipikirkan pelan-pelan.

Kemarin juga saya story panjang lebar tentang mendefinisikan ulang sekolah. Sekolah nggak bisa lagi jadi solusi tunggal untuk pendidikan karena kalau dulu sih iya, bagi tugas sama sekolah. Sekolah mendidik dengan ilmu, di rumah orangtua menyamakan visi misi dan value lalu tinggal bonding dan quality time sama anak. Sampai-sampai cari sekolah tanpa PR biar di rumah bebas. LHA SEKARANG?

Sekarang batas antara sekolah dan rumah jadi bias, kalau merasa sekolah sudah tidak bisa jadi sarana belajar yang baik ngapain masih sekolah coba? Dicari solusi lain aja misal homeschooling atau panggil guru ke rumah. Nggak ada formula yang sama untuk setiap keluarga, solusinya akan sangat beda bergantung kondisi masing-masing.

Semangat buibu yang nemenin anak SFHHHH!

-ast-




Mengajarkan Anak … Self Love

on
Wednesday, July 29, 2020

Saat isu mental health mulai digaungkan dan kata-kata self love serta you are enough bertebaran saya pusing KARENA MAKSUDNYA APA? Apa itu self love? Gimana caranya merasa cukup? Struggling banget kan sama dua hal ini?

Setelah pergulatan batin bertahun-tahun, quarter life crisis, punya anak dan adaptasi jadi ibu, saya baru paham oh ini maksudnya self love, oh ini maksudnya you are enough.

Ketika kamu menomorsatukan dirimu dulu bahkan sebelum anakmu. Ketika kamu paham pada berbagai emosi yang datang dan pergi. Ketika kamu menyadari bahwa semua perasaanmu valid dan boleh dirasakan.

Ketika sukses itu adalah bangga pada pencapaian diri sendiri dan tak lagi membandingkan hidup dengan orang lain, baik ke atas maupun ke bawah. Ketika merasa cukup berarti fokus pada apa yang sudah kamu miliki dan tidak terus menerus mengejar apa yang tidak kamu miliki.

SUSAH SETENGAH MATI, BUKAANNNN?

Karena sejak kecil, kita diajari sukses itu kalau sudah punya atau sudah bisa A, B, dan C. Kita terbiasa bahwa salah itu bisa bikin marah.

Kita jadi bingung, gagal itu boleh nggak sih? Karena tak terbiasa dipuji, kita jadi tidak tahu, apa boleh bangga pada pencapaian diri?

Nggak heran kan, bagi generasi kita, self love itu susah sekali rasanya.

Maka dengan demikian saya bertekad kalau Bebe harus paham konsep self-love dan you are enough ini sejak kecil. Sayang diri sendiri itu harus, emosi itu harus dipahami, bangga pada diri sendiri itu boleh, dan sukses adalah masalah proses.

Gimana caranya? Nggak susah kok, cuma perlu terbiasa aja.

Yang pertama tentang sayang pada diri sendiri. Sering ya kita tanya anak:

“Sayang ibu, nggak?” atau “paling sayang sama siapa?”

Tambahkan sayang diri sendiri!


“I love ibu, I love appa, and I love myself”

Beri tahu anak, konsep sayang pada diri sendiri bisa berupa senang bermain, boleh menangis kalau sedih, makan sehat, mandi yang bersih, dan berbagai cara rawat tubuh lain.

Saya terpikir hal ini karena tahun lalu, Bebe yang abru umur 5 tahun itu bilang “i don’t like my cheek, look, it’s too big”. PATAH HATI KAN.

Dia conscious sama pipi karena kalau ketemu orang yang dikomen adalah pipi. Pipinya pasti dibilang “gemes banget pipinya” sementara bagi dia pipi gemes adalah untuk bayi, kesel lah dia.

Cuma anak 5 tahun harus self-conscious itu kan … KASIHAN BANGET! Maka sejak itu saya selalu bilang harus sayang sama diri sendiri, nggak usah peduliin apa kata orang lain. Puji-puji juga bagian tubuh lainnya.

IYESSS AKU PERCAYA KALIMAT YANG KITA PAKAI ITU NGARUH BANGET! Apalagi untuk pujian.

Ganti:
“Kakak itu jago banget naik sepedanya”
“Tulisanmu bagus ya! Pintar sekali!”

Dengan:
“Kakak itu jago banget naik sepedanya, pasti karena sering berlatih”
“Tulisanmu bagus ya! Pasti karena rajin belajar!”

Tekankan proses, bukan hasil. Basi banget ya tapi bener kok. Puji prosesnya biar nggak glorifikasi kesuksesan. Biar kalau suatu hari dia liat orang yang dianggap sukses tuh yang dipikirin pertama kali gimana ya kerja kerasnya?

Iya sih ada unsur privilege tapi sudahlah tentang privilege ini dibahas lain kali, ya? Btw ini ada video yang bisa dengan mudah dipahami tentang privilege, Bebe nonton ini dan ngangguk-ngangguk katanya “oke aku sekolah” T______T


Lalu tentang salah. Salah itu boleh, salah itu belajar agar tidak salah lagi, kalau masih salah lagi ya sudah namanya juga manusia? Salah, tidak perlu harus selalu diulang sekarang juga sampai benar. Beri kesempatan anak untuk meresapi kesalahan.

Ini cobaan kesabaran ya Tuhan. Misal lagi ngerjain PR ya, kalau ada yang salah saya MAUNYA tuh langsung tunjuk “itu ada yang salah” tapi takut demot dong yah. Jadi biasanya saya diem dulu aja. Nanti setelah selesai Bebe akan bilang “ibu, inspect” INSPECT DIA BAHASANYA.

Kalau ada yang salah, MAUNYA tuh ya saya hapus terus ulang tapi dalam rangka memberi dia kemerdekaan memilih dan belajar dari kesalahan, saya biasanya bilang “ini ada yang salah 2, cek lagi” atau “itu hurufnya ada yang salah deh, kamu yakin udah bener?”

Kalau dia lagi mood ya lancar dong diperiksa lagi dan hapus lalu ulang. Kalau nggak mood? YA MARAH.

Tapi biar. Marah dulu aja, dibetulinnya kan bisa besok lagi. Yang penting dia udah sadar dulu kalau salah.

Pun, nggak perlu ulang-ulang ngomelin salah anak yang sudah lewat. Ya gitulah pokoknya, nangkep kan HAHAHA KOK MALES JELASIN GINI LOL.

Terakhir, boleh lho, bangga sama diri sendiri, dengan pencapaian pribadi. Proses kan harus dihargai. Ini yang susaahhh banget bagi orang-orang kaya saya yang selalu nuntut diri sendiri untuk perfect.

(Baca deh: Being Too Hard on Myself)

Saya selalu bilang:

“I’m so proud of you, you should be proud of yourself too!”

Sekarang ketika ia berhasil melakukan sesuatu ia bilang:

“Ibu, I’m so proud of myself!”

HUHU BANGGA.

Tapi gimana dong, jangan-jangan nanti anak malah jadi besar kepala?

Nah iya emang PR nya banyak banget siapa bilang sih jadi ortu tuh tinggal ngasih makan doang? KAN NGGAK ADA YANG BILANG GITU.

Ajari anak, bukan hanya menerima kekalahan tapi juga ajari cara baik menerima kemenangan.

Untuk tidak mempermalukan orang lain.  Untuk tidak merasa paling benar atau pintar.

Pencapaian dan kesuksesan orang tak mesti selalu sama. Bahwa setiap manusia berbeda dan beda itu tidak apa-apa.

Biarkan ia mempertanyakan segala hal. DAN DIJAWAB DONG KALAU TANYA. Kalau nggak tau jawabannya ya PR aja buat ayah ibunya untuk belajar sama-sama.

Jangan lupa validasi emosi.

Agar nanti ia tak perlu belajar sendiri bahwa emosi harus dikenali. Agar paham bahwa menangis itu boleh, merasa ingin sendiri itu tidak apa-apa, bahwa marah dengan aman itu tak merusak barang apalagi menyakiti orang lain dan diri sendiri.

Daftar pelajaran self love ini pasti akan bertambah juga seiring usia anak. Karena tiap tahapan usia pasti beda tantangannya kan. Yang penting dari basic dulu deh. Kalau belajar dari umur 4-5 tahun gitu strugglenya pasti beda kan sama kita yang baru belajar umur 25 yakaannn.

Susah nggak? Pada praktiknya nggak sesusah itu. Mungkin karena saya udah punya juga blueprint dalam membesarkan anak, bisa dibaca di sini: MEMAHAMI ANAK.

Ya udah gitu aja semoga bermanfaat yaaa! Semoga anak-anak kita tumbuh lebih mencintai dirinya sendiri. Aamiin!

-ast-




Bebe dan Game

on
Saturday, June 20, 2020

BUKAN. Bukan mau cerita si Bebe main game. Tapi sebuah perenungan *halah* nggak deng, ini sebuah rekaman aja karena menurut saya lucu jadi layak masuk arsip blog HAHA.

Masuk umur 6 tahun ini si Bebe mikirin banyak hal. Asli deh overthinking. Dia mulai paham kejadian-kejadian di masa lalu jadi udah bisa nostalgia gitu.

Salah satu cerita yang paling dia inget di masa kecil adalah tentang rumah kami yang dulu kecurian. Ceritanya bisa dibaca di sini: Kamera Hilang (pas nulis itu baru kamera yang hilang, beberapa hari kemudian laptop dan harddisk ilang lol nasibku).

Jadi malem-malem, lagi ngobrol dan pelukan dia bilang gini:

“Ibu, kenapa ya dia mencuri di rumah kita padahal kita baik sama dia?” (Wadaw, ini karena setelah lapor polisi, terduga pencurinya ketauan tapi males perpanjang jadi ya udalah)

Lalu.

“Ibu, kenapa dulu ibu suka main game tapi sekarang nggak?”

NAH APA HUBUNGANNYA TUH KALAU IBU BOLEH TAU?

Saya tanya balik dong, memang kenapa kamu inget-inget si pencuri terus sih?

Jawabnyaaa?

“Soalnya yang dicuri, iPad ibu yang ada Clumsy Ninja udah jauh, sekarang aku main levelnya jadi baru 12”

HAHAHAHAHAHA. TERNYATA PERKARA GAME DONG!

Jadi dulu saya anaknya main games banget dan Bebe tau itu karena dia liat di iPad lama banyak games cuma nggak paham aja karena umurnya baru 3 tahun. Saya gila lah dulu sama games di iPad, itu iPad sok-sok buat liputan padahal isinya games. Tahun 2011, saya main Hay Day udah jauh banget, Clumsy Ninja udah level 50-an, terus semacam Virtual City gitu-gitu gamenya G5 saya main semua.

Sementara sekarang kapan coba sempet main game? Jadi si Bebe main Clumsy Ninja sendirian dan ya udah lama pun baru level 12 karena screen time dia kan sebentar.

Kasian anakku.

Lalu saya bilang gini “Duh iya dulu aku sempet main game karena nggak punya kamu lah. Sekarang aku punya anak kapan coba aku main game? Sehari aja aku nyuapin kamu berapa kali, mandiin, bikin susu, aku mainnya gamenya kapaannn?”

Dia “ibu main ajalahhh bantuin aku”

NYEPLOS LAH INI IBUNYA “ah nggak ah, nih kamu kan game aku, aku mainin tiap hari kan, aku kasih makan biar heartnya nggak abis (bawa-bawa heart ala Minecraft), aku suruh nonton biar senang terus (ala The Sims)” terus dia ketawa-tawa karena menurut dia lucuuu katanya kalau dia jadi game.

Tapi rupanya percakapan itu melekat di sanubari? Sampai saya nggak tau harus ngerasa lucu atau ngerasa bersalah HAHA :’))))

Beberapa hari lalu, biasalah ada masa-masa di mana males masak dan nyuapin dengan niat. Empat hari kemudian, turunlah berat badan Bebe sekilo. STRES DONG YAH!

Pusing ya jadi ortu tuh. Yang males masak siapa, yang stres kalau berat badannya turun siapa. Kaya udah tau bakal terjadi tapi tetep dilakuin. Kesel sama diri sendiri.

Malemnya saya langsung ngobrol sama Bebe soal menu. Bebe mau makan apa? Mau dimasakin apa? Besok kita belanja, kamu harus makan blablabla. Abis itu saya diem aja mikir duh males harus masak tapi gimana dong Bebe nggak mungkin turun lagi ke garis kuning, nggak rela.

Ngeliat saya ngelamun, dia nanya:

Bebe: “Ibu pikir-pikir apa?”

Ibu: “Ibu mikirin makan kamu haduhhh aku sedih kamu turun berat badan”

DIJAWAB DENGAN?

Bebe: "Is it because I am your game?”

HAHHHH? SHOOKETH TO MY CORE LOL NGGAK TAU HARUS KETAWA ATAU NANGIS?

Refleks saya ternyata sok sedih dan mengikuti alur role play ini. Memanglah jadi ibu harus jago akting kan dari dulu juga.

Ibu: “Aduh iya aduhhh, gimana nih game aku aduh heartnya tinggal satu oh my god gimana dong, hungernya sampai merah ini aduhhh?”

Bebe: “Hahaha ibu, you know level 6 is hard!”

Level 6 cenah karena umur 6 astaga.

Ibu: “I can’t do this alone, I think I will ask appa for help, can I change the game to multiplayer?”

Bebe berbalik ke dinding lalu mencet-mencet dinding: “Done, now the mode is multiplayer”

“But ibu, level 6 is hard, but I think level 0 is the hardest. Because baby can’t walk hahahaha”

WADAWWW.

Ditutup dengan “Ibu, look (menunjuk ke atas kepala), my heart now is two because I like talking to you like this”

KYAAAA MELELEH. HUHU.

Besok-besokannya dia masih berperilaku sebagai game. Katanya saya nggak boleh turun level karena tahun depan harus jadi level 7.

Bikin merenung banget punya anak itu sebenar-benarnya main game dengan neverending mode. Kalau main The Sims aja ambisius pake cheat biar semua needs dia full, kenapa needs anak nggak diusahakan full terus coba?

Sounds wrong tapi biarin orang anaknya aja happy kok karena serasa hidup di dalam game hahahaha.

Jadilah besoknya langsung ke supermarket, langsung dimasak semua. Syukurlah sekarang kulkas udah ada stok makanan jadi buat Bebe jadi kalau mau makan ya tinggal ambil nasi aja.

DEMI GAME kESAYANGANKU TERUS NAIK LEVELNYA!

-ast-