-->

Image Slider

Thank You for Marrying Me

on
Monday, March 18, 2019
Sebuah postingan curhat. Seperti 99% postingan lain di blog ini lol.


Weekend kemarin rasanya merdeka sekali. Hari Sabtu, Bebe dan JG ke pameran mainan. Saya malas ikut karena sudah lama sekali tidak menggambar. Hari Minggunya mereka beli bensin dan cuci mobil serta main game seharian.

Kedua hari itu saya tetap diam di rumah, menggambar souvenir ultah Bebe sambil nonton series Workin’ Moms di Netflix. Minggu selepas magrib, kami turun ke supermarket bawah apartemen dan memutuskan bikin siomay ayam.

IYA KAMI SUKA DADAKAN NGIDE GITU EMANG.

Sering yang “eh masak ini yuk!” terus buka Cookpad, pilih yang fotonya oke, turun ke supermarket, belanja bahan terus masak hahahahaha. Malam itu pilihan jatuh pada siomay ayam karena beberapa hari sebelumnya, ngide juga bikin siomay udang dan enak. Cuma udang males ngupas dan terlalu mahal, jadi kali ini ayam.

Btw pas bikin siomay yang pertama, JG becandanya terus-terusan seputar “duh ini tradisi keluarga harus kita lestarikan”. Sambil browsing cara melipat dumpling di YouTube. -______-

Heran deh bisa-bisanya adegan melipat dumpling di Crazy Rich Asian itu sungguh elegan, lha saya sama JG boro-boro elegan, yang ada pusing KOK SUSAH? Kok kayanya salah beli kulit pangsit? Kok pecah-pecah kulitnya? (bukan rorombeheun ya guys maksudnya).

Setelah belanja dan beberes belanjaan, saya duduk di meja makan. JG duduk di sebelah saya, kami berdua melipat siomay sambil streaming debat cawapres dan ngetawain omongan-omongan cawapres yang nggak kami dukung hahahaha. Bebe duduk di meja dia sendiri sambil main perang-perangan Ultraman, maklum sisa efek nonton cosplay di pamerah mainan.

Terus kok … bahagia. (DITULIS GINI KENAPA JADI CRINGEY YA MAAP)

Jadi dalam kondisi belum mandi 2 hari, tangan blecetan kena adonan ayam, struggling melipat siomay, kukusan nyala di kompor, saya noleh ke JG dan bilang: “Eh sayang, thank you for marrying me”.

JG: “Apaan tiba-tiba?”

Saya: “Iya kalau nggak nikah sama kamu mungkin aku nggak ngelipet siomay berdua suami, anak kita bisa kalem gitu main sendiri, terus bisa ngetawain cawapres bareng-bareng karena kita sepakat sama banyak hal”

JG: “Iya sih hehe”

Saya: “Hehe”

*HENING* *KEMBALI NONTON DEBAT SAMBIL MELANJUTKAN MELIPAT SIOMAY*

The thing is, seperti yang udah saya share di IG beberapa hari lalu, JG tuh lagi terus-terusan nanya “are we on the right track?”. Kaya ada kekhawatiran karena bener nggak sih hidup kita ini?

Tadi siang dia nanya lagi via WhatsApp dan saya jawab:

“Uang kita semua buat Bebe dan itu cukup. Selama weekend masih bisa leyeh-leyeh sama kamu dan Bebe, aku cukup.”

AKU CUKUP. Kaya bergema banget dua kata itu di kuping saya sampai mau nangis rasanya.

T______T

Karena udah beberapa tahun saya itu terus menerus ngerasa nggak cukup. Ngerasa nggak cukup bagus secara karier, ngerasa nggak oke-oke amat jadi ibu, ngerasa harusnya bisa jadi lebih baik, ngerasa kurang usaha, ngerasa kurang belajar banyak, ngerasa kurang terus sama diri sendiri.

Dan selama itu pula saya nulis banyak soal itu. Yang saya inget ini doang dan yakin sebenernya masih banyak tema serupa. Gila, dari 2017 loh, silakan yang mau baca:

2017 
Kepercayaan Diri dan Remah-remah Dunia 
Mencari Diri Sendiri 
On Being Too Hard on Myself
The Scary, Scary Adulthood 

Sekarang saya masih gini aja sebenernya. Belum ada perubahan berarti dalam hidup TAPI untuk pertama kalinya saya benar-benar merasa cukup. Kalau ditanya kenapa entahlah, mungkin karena banyak hal yang saya selesaikan pelan-pelan. Nggak terlalu ngotot lagi sama banyak hal dan ya udah cukup aja. Cukup tidur, makan enak terus, bisa ngelakuin hobi, berdoa banget biar bisa kaya gini terus.

Kalau ditanya caranya gimana keluar dari jeratan tidak merasa cukup itu saya beneran nggak tahu. Saya nggak bisa (atau nggak tahu caranya mungkin) ngobrol sama diri sendiri karena jadinya nggak tidur-tidur. Jadinya terus aja mikir dan malah sakit kepala. Saya cuma menjalani hari, hobi, banyakin ketawa, banyakin ngobrol sama JG.

Kemarin pas jalan ke supermarket itu juga Bebe mau pake helm, jadi kami jalan dengan anak yang ciat-ciat, lari-lari sambil pake helm full face. FYI kami nggak punya motor hahaha. JG geleng-geleng liat Bebe lari-lari di lorong apartemen, dan saya bilang. “Lucu ya? Without Bebe our life would be so boring. Jalan berdua aja gitu nggak ada yang bisa diketawain?”



Sekarang saya baru sadar kalau nasihat-nasihat semacam “you are enough” atau “count your blessing not your problem” itu nggak bakal ngaruh sama orang yang punya masalah sama kaya saya dulu. Nasihat-nasihat semacam itu justru kenanya sekarang, setelah semua lewat. Memang kurang berguna huhu.

Kalian-kalian yang masih merasa stuck, masih merasa gini-gini aja, hang in there. Jalan pelan-pelan, nggak perlu kok selalu ingin ada di depan. Dan jangan remehkan pelukan!

Sometimes a hug is all you need to make you feel better.

:)

-ast-




Semua yang Jadi (Sangat) Penting

on
Thursday, March 14, 2019
Beberapa minggu lalu, saya menghabiskan weekend yang sangat produktif. Hari Sabtu hadir di #SUSTAINEVENT VOL 1 New Period Indonesia yang berakhir mengubah habit pakai pembalut jadi menstrual cup dan hari Minggunya sharing jadi salah satu pembicara di event @safekidsindo sebagai ibu-ibu pengguna car seat.


Di event @safekidsindo itu hadir anggota komunitas mobil dan mbak Wiena dari Nusantara Menggendong. Pulang dari sana saya merenung. *halah*

Betapa sekarang, semua orang bisa “berkampanye” masing-masing tentang apa yang mereka percayai dan yakini. Bukan cuma politik atau agama ya, tapi hal-hal di keseharian yang kadang bikin merenung: KOK SEBELUMNYA NGGAK KEPIKIRAN YA?

Coba deh, ngomongin car seat aja bisa jadi satu event sendiri sampai kata MC-nya “kita mah car seat aja dighibahin” lol. Emang sih kalau dipikir sama kita-kita yang ilmu safetynya cetek, apa coba yang bisa dibahas soal car seat doang?

Ternyata banyak. Banyak banget sampai nggak selesai-selesai. Bener-bener ngerasa ih kok saya nggak punya ilmu apa-apa ya tentang keselamatan. Nggak ngerti first aid, nggak ngerti soal penanganan bencana, tau-tau doang tapi nggak paham banget.

Selain anak duduk di car seat dan pake helm saat naik sepeda dan motor, ilmu keselamatan saya hampir nol. Memang belum pernah belajar dan belum pernah terpikir HARUS belajar.

Perhatikan keyword: HARUS.

Menurut para praktisi safety dan komunitas tentang safety, yang HARUS kita tahu tentulah serba-serbi keselamatan. Tapi menurut para praktisi menggendong misalnya, mereka sangat detail soal menggendong sampai komunitasnya besar sekali di Indonesia. Mereka pasti punya keHARUSan sendiri dalam urusan menggendong.

Saya cuma taunya gendong harus M-shape thok, nggak ngerti lagi perintilan lain. Pun dulu nggak kebayang sama sekali ada yang namanya certified babywearing consultant. Kebayang pasti detail banget kan urusan gendong-menggendong ini sampai ada sertifikasinya. Car seat juga lho! Ada car seat expert yang bersertifikat.

Klasik tapi kampanye semacam ini memang terbantu sekali dengan adanya internet dan media sosial.

Saya yang sebelumnya tidak tahu apa-apa soal zero waste jadi tercerahkan karena mereka berkampanye, tak punya ilmu soal safety jadi sadar kalau keselamatan itu penting, tak mengerti sama sekali soal babywearing jadi menghargai kalau menggendong itu proses yang tidak bisa terulang (soalnya anak kan makin berat huhu).

Semua orang punya concern masing-masing, semua orang punya hal yang mereka anggap baik, semua berusaha menyampaikannya pada sebanyak mungkin orang. It’s a good thing actually. Senang sekali melihat orang berkampanye sesuatu yang positif seperti ini kan. For a better generation! :)

Tapi sebagai manusia yang senang belajar hal baru, jujur saya ngerasa overwhelmed. Wah kok ini penting itu penting, harus belajar yang mana dulu nih? Kok semua rasanya penting? Apakah saya HARUS ikuti semua gaya hidup mereka yang mereka yakini baik itu?

Of course no because it would be too perfect and people hates perfection hahahaha nggak deng becanda. Tapi ya saya ngerasa belum sanggup sih kalau harus semuanya sempurna. Pelan-pelan, belajar dulu satu-satu, diresapi dulu dan dilihat dulu prioritasnya.

Kalau merujuk materi kuliah saya dulu, ada yang namanya efek komunikasi massa (FYI aja sihhh hahaha). Ada 3 atau 4 macam tergantung siapa yang berteori. Bahwa komunikasi massa itu pasti akan berefek pada audience-nya, efeknya ada macem-macem tergantung levelnya.

1. Efek kognitif: di tahap ini, audience akan mendapat informasi yang baru dia ketahui. Mereka mendapat insight dan wawasan baru.

2. Efek afektif: di tahap ini, audience yang terpapar hal yang sama terus menerus mulai mengubah perasaannya. Mulau mengerti, mulai empati.

3. Efek konatif: di tahap ini, audience mulai bertindak. Misal lihat anak-anak korban bencana, terus memutuskan nyumbang lewat kitabisa.com.

4. Efek behavioral: tahap yang kadang digabung dengan konatif tapi intinya di tahap ini, perilaku audience mulai berubah sesuai yang diinginkan pemberi pesan. Seperti soal mengubah kebiasaan dari pembalut ke menstrual cup.

*SUMPAH KAGET MASIH INGET TEORI ZAMAN KULIAH I HONESTLY THOUGHT MY GPA IS USELESS IN FACT IT HELPS ME AT THE TIME LIKE THIS LOL*

Apa hubungannya dengan kampanye-kampanye tadi?

Selain urusan zero waste, car seat, dan babywearing sebetulnya banyak orang yang punya “kampanye” masing-masing. Dokter gigi mengkampanyekan orang tak perlu takut ke dokter gigi, pecinta olahraga mengajak orang untuk bergerak agar lebih sehat, para trainer finansial mengedukasi orang untuk melek keuangan, sampai pada pencegahan kanker, pentingnya sunscreen, ASI, keamanan di dunia digital, dan banyak lagi sesuai bidang masing-masing.

Yang pusing yang jadi audience ya? Hahahaha.

Biar nggak pusing, kita buat prioritas aja. Di tengah gempuran berbagai kampanye, kita pelan-pelan aja jalannya. Teorinya kita balik sebagai audience, minimal kita sampai tahap kognitif deh, sampai tahap tau dulu isu-isu itu.

Urusan akan jadi afektif, konatif, atau behavioral biar waktu yang menjawab hahahaha. Yang penting tentukan prioritas. Contoh prioritas kalau kalian ibu satu anak yang baru lahir misalnya. Apa dulu yang harus dipelajari? CONTOH LHO YA INI.

1. Segala yang ada hubungannya dengan makanan bayi dong tentu seperti ASI dan MPASI
2. Kalau udah lulus soal makanan, baru pikirkan safety
3. Setelah itu baru pikirkan keuangan
4. Setelah itu baru olahraga

Terus-terus dirunut dari yang bisa dan HARUS dikerjakan saat ini juga. Karena kalau sekaligus udah pasti pusing sih. Overwhelmed tepatnya kaya yang saya bilang di atas.

Padahal nggak semuanya harus diikuti saat ini juga kok. Cari ilmu dulu aja santai, kalau udah tau ilmunya biasanya jalaninnya juga lebih gampang. Karena kita akan mengubah kebiasaan dan itu hal yang bisa saja berat.

Jadi sekarang kalau kalian liat orang yang dirasa begitu ideal kaya anak bisa selalu duduk di car seat, bisa disiplin screen time, bisa selalu mendengarkan anak, dan banyak lagi, itu mungkin karena mereka memprioritaskan itu dan bisa saja mengabaikan hal lain.

Ada yang peduli sekali pada green washing, science washing, cruelty free makeup dan skin care, animal abuse, zero waste sampai sampahnya nearly zero, yang bikin kita terwow-wow. Padahal mereka bisa karena memang peduli pada hal-hal itu. Bisa saja ada orang yang sangat peduli pada animal abuse tapi nggak melakukan kebiasaan zero waste sama sekali. Bisa banget dan itu nggak apa-apa. :)

Mereka meluangkan waktu untuk belajar, untuk mengubah kebiasaan, untuk mengajak orang melakukan hal yang dia anggap sebagai sesuatu yang baik itu. Mungkin aneh untuk kalian yang baru terpapar info yang sama terus menerus tapi sebetulnya tidak aneh bagi yang sudah menjalankan bertahun-tahun.

Sebaliknya kita jangan baper juga kalau orang tidak mau bertindak sesuai dengan persuasi kita. Jangan sakit kepala dulu karena menganggap concern kalian paling penting tapi kok orang susah sih dibilangin? Ya maklum namanya mengubah habit ya. Pasti ada kendala, mungkin pola komunikasi kita salah atau mungkin ada faktor lain (seperti faktor uang misalnya hahaha).

Yang begini banyak nih, masing-masing mengeluhkan "orang Indonesia itu kurang kesadaran untuk pergi ke dokter gigi!" atau "orang Indonesia itu kurang kesadaran finansial!". Yha coba kroscek dulu diri sendiri, udah kampanye berapa lama? Apa faktor orang jadi kurang sadar? Kaya ke dokter gigi, sebetulnya orang sadar kan dokter gigi itu penting, tapi karena mahal, jadi nggak pernah muncul sebagai prioritas utama.

Jadiii … belajar hal baru apa tahun ini? Punya kebiasaan baik baru apa yang akan dijalankan? :)

-ast-




Pengalaman Pertama Pakai Menstrual Cup

on
Saturday, March 9, 2019
Meski udah diceritain di IG Story cerita awalnya, biarlah kuulang di sini ok.



Jadi saya udah lama banget tau menstrual cup, cuma taunya merek Diva dan itu mahal. Dulu pas tau itu harganya kaya Rp 700ribuan gitu dan saya mikir “halah sudahlah buang pembalut aja”. :)))))

Karena dulu cari info menstrual cup belum segampang sekarang jadi rada serem. Plus nggak ada orang terdekat saya yang pake jadi ya combo serem.

Terus nontonin videonya Safiya Nygaard yang dia coba menstrual cup sampai head stand segala. Wih makin tergoda tapi tetep, butuh persuasi dari orang terdekat dulu huhu. Sampai akhirnya anak kantor Andien pake, tanya-tanya, dan OKE DEH BELI JUGA.


Tapi tetep ada satu keraguan yaitu “IUD nya nanti kenapa-napa nggak ya?” Browsing-browsing cuma ada satu research yang bilang kalau expulsion rate IUD nggak dipengaruhi sama menstrual cup. OH TENTU SATU RESEARCH TIDAK CUKUP!

Iyalah gimana kalau yang bikin researchnya disponsorin pembuat menstrual cup coba lol makhluk-makhluk suudzon memang.

Sampai akhirnya diundang Tyas dari Sustaination untuk dateng event mereka yang ada obgynnya! Obgynnya namanya dr. Riyana dan dia bawa gambar presentasi vagina plus rahim. Jauh ternyata sis dari vagina ke rahim itu hahahaha.

Tiap orang emang beda-beda tapi kata dokternya kalau suami nggak ngerasain apa-apa harusnya menstrual cup juga nggak kena IUD sama sekali. Ya udalah beli detik itu juga, mumpung diskon pun.

Besoknya saya coba saat nggak mens. Baik-baik aja. Masukin agak susah dan ngeluarinnya lebih susah lagi karena belum tau caranya. Tapi karena saya riset udah lama banget jadi hal-hal kaya gini expected lah.

Yang harus digarisbawahi: NGGAK BERASA APAPUN. Di dalem kaya nggak ada apa-apa. Level lupa pake menstrual cup lho! Nyoba sekali terus merasa udah bisa dong. Lalu nggak sabar pengen mens biar bisa review hahahahahaha.

Di bawah ini saya akan cerita detail ya. Nggak perlu jijik karena kalian juga punya vagina kan? Ngilu-ngilu dikit itu wajar karena kita obok-obok pake dua jari sih literally.

Hari pertama

SUSAH MASUKNYA. T_______T Padahal pas nyoba itu nggak susah amat lho. Apa mungkin karena lagi mens jadi kram gitu otot-otot sekitar vaginanya? *monolog*

Kalau Agni Pratistha katanya works kalau sambil nyanyi. Kalau saya bisa sambil tarik napas panjang. Jadi fold, terus tarik napas, masukin, tarik napas, masukin, kalau mentok ya cari-carilah pokoknya pasti ketemu lha vagina kan berlubang jadi nggak mungkin nggak bisa masuk. Yang mungkin itu kita kurang rileks

Hari pertama berlalu dengan aman, nggak bocor sama sekali. Saya cuma buka 2 kali sih, pas mandi pagi dan mandi malem. Keduanya cuma keisi darah sepertiga cup.

Hari kedua

Pagi masukinnya masih struggling juga dohhh. Lipetnya itu lho susah banget karena sejujurnya nggak nyangka menstrual cup sealot itu. Pas nonton-nonton emang katanya harus keras biar bisa ngebuka sempurna di dalem.

Tapi jadinya jari-jari lemahku ini lemah banget ngelipetnya, belum masuk udah kebuka duluan. DAN PLIS TUTUP KLOSET KALAU LAGI MAKE! Ngeri nyemplung aja sih soalnya saya kemarin sempet lompat ke lantai menstrual cupnya karena saya lipet jadi kecil (pake double 7 folds) terus dia mental.

Hari kedua ini malemnya saya nyerah pakai pembalut huhu. Abis ketemuan sama mba Windi dan Nahla, dari PIM jam 9 malem, nyampe rumah jam 10 kurang terus mandi.

Digedorin Bebe terus suruh cepet mandinya lha ibu belum jago masukin menstrual cup sambil digedor pintu kamar mandinya sama Bebe kan jadi ya udalah kukibarkan bendera putih. Cuci terus pakai pembalut.

Hari ketiga

Bangun tidur dengan perasaan selangkangan ganjel pake pembalut dan gatel. Dipikir-pikir saya emang selalu gatel sih di sekitaran vagina tiap mens dan kena pembalut. Cuma berusaha diabaikan karena merasa tidak punya pilihan lain ya se-Indonesia dagangnya pembalut doang. :(

Hari itu ke kantor dengan menstrual cup, tidak terlalu struggling masukinnya karena nyoba pake folding punchdown. Langsung ngerasa lega dan nggak gatel lagi. TERHARU.


Jam 3 an di kantor pipis ada noda merah sekitar 2 tetes di celana dalem. WAH PANIK. Dipikir kepenuhan tapi ternyata pas dibuka masih sepertiga cuma kayanya ada bagian yang ngelipet gitu jadi suctionnya nggak 100% soalnya nyabutnya juga terlalu gampang.

Malem dibuka dan buang sekitar jam 11-an dan pasang lagi.

Hari keempat

Ini pas libur Nyepi kemarin dan kami akan otw ke Bandung. Deg-degan karena setelah melahirkan mens saya paling banyak itu justru di hari keempat dan kelima, bukan hari pertama dan kedua kaya dulu.

Jadi ini akan ke Bandung, dengan jam perjalanan tidak terduga, dengan kemungkinan pipis di rest area, dan … nggak mandi dulu sebelum tidur jadi males buka mens cupnya duh kesalahan fatal HAHAHAHA.

Ya bayangin itu hari keempat, mens cup terakhir dibuka jam 11 malem kemarinnya. Di jalan sekitar jam 12 siang kerasa bocor lol. Kerasa banget karena ya area vagina tiba-tiba lembap. Untung pake celana longgar jadi lipet tisu, selipin di celana dalem. Tanpa diliat itu beneran darah apa nggak.

Berhenti di rest area, toilet umumnya mayan bersih sih di area mesjid gitu. Saya menduga akan full banget tapi pas dibuka ternyata masih 3/4 penuh. Dan bener di tisu tadi ada darahnya beberapa tetes. Buang, cuci pake air, lap tisu pake lagi buru-buru karena takut orang kelamaan antri di luar.

Sampai Bandung mampir Lomie Imam Bonjol … BOCOR LAGI T_______T Ini nyerah karena toiletnya hoek banget, saya double pakai pembalut deh. Masih bawa di tas karena jaga-jaga lah, belum jago banget.

Hari kelima

MASIH LEAKING JUGA DUH MULAI MONANGIS. Browsing lagi dan hampir semua bilang kalau mungkin salah ukuran jadi susah pop di dalem. Saya ngerasa gini banget, diteken segimana pun biar kebuka, dia nggak mau kebuka mungkin emang kesempitan alias ukurannya kegedean. Udah ditelusuri pake jari, dibuka manual, tetep nggak mau kebuka full.

Kalau flow lagi dikit sih jadi nggak bocor karena masih ngalir masuk meski ada bagian yang nekuk, tapi kalau lagi banyak 3/4 jadinya bocor karena sekali keluar suka banyak gitu kan, leaking deh.

Jujur dari awal nentuin ukuran itu bikin bingung. Saya ngerasa salah beli ukuran B, petunjuknya untuk yang sudah melahirkan vaginal. Padahal kalau dipikir-pikir ini brand dari Denmark, badan mereka gede-gede dong udah pasti lha saya tinggi badan cuma 155 cm, kok pede-pedenya beli ukuran gede.

Betul sudah lahiran vaginal, tapi si Bebe lahir cuma 2,5 kg, kepala dia sama payudara saya aja kegedean payudara sumpah. Tapi mau dipake dululah sampai 6 cycle kalau tetep bocor susah pop juga baru beli baru. Siapa tau emang saya aja belum jago masukinnya plus mungkin juga harus dimiringin ke kanan atau kiri karena baca di reddit katanya ada yang vaginanya emang nggak lurus gitu jadi ya harus berusaha!

WHAT TO EXPECT:

1. Jangan ngerasa langsung akan lancar untuk masukin dan ngeluarinnya. Ada orang yang langsung lancar tapi ingat, anatomi tubuh orang beda-beda.

2. Masukinnya butuh latihan dan butuh nyoba berbagai folding dulu sampai kita ketemu yang pas. Sampai hari ketiga SAYA BELUM NEMU. Masukinnya paling enak pake punchdown itu tapi emang risikonya di dalem dia nggak kebuka sempurna karena kelipetnya kegedean.

3. AWAL-AWAL NGELUARINNYA JUGA A REAL STRUGGLE IN LIFE LOL LEBAY MAKLUM NUBITOL JANGAN DIBATA PLIS (Kaskus reference, aku merasa tua HUHU)

Ngeluarinnya itu harus dua jari di dalem untuk nyubit mens cupnya dan ngeluarin udara di suctionnya. Padahal kuku saya pendek tapi ngilu tetep karena kecoel-coel dalam kondisi oon gitu kan. Langsung kebayang Khloe Kardashian kalau pake menstrual cup :(


5. Pasang dan pakenya lebih gampang setelah mandi karena mungkin otot-otot lebih rileks dan lembap. Saya nggak pake lubrikan karena ngerasa nggak butuh aja. Mikirin juga kalau beli lubrikan cuma nambah sampah baru kan dari kemasannya.

Tapi selain proses buka tutup yang masih kuperjuangkan, ASLI SIH ENAK BANGET SUMPAH. Nggak berasa kaya mens karena nggak ada momen seerrrr darah keluar. Nggak perlu bawa pembalut, nggak perlu khawatir harus cuci pembalut di mana. Ngerti banget sekarang kenapa orang setelah pake mens cup tidak mau kembali pake pembalut.

Apalagi kaya saya yang punya history alergi pembalut. Jadi waktu nifas saya ala-ala pake pembalut nifas dan alergi aja seluruh kulit selangkangan ngebentuk pembalut dong. Gatel luar biasa. Akhirnya disuruh pake pembalut biasa.

Dan itu pun selalu gatel. SELALU. Jadi bagaimana pun akan kutaklukkan menstrual cup demi mens tidak seperti mens!

Saya terus mengingatkan diri bahwa ini semua terjadi karena belum jago aja sih. It’s all about breaking the habit! Maklum banget 17 tahun pakai pembalut dan sekarang harus pakai sesuatu yang baru, wajar gagap. Dulu juga pake pembalut nggak jago kan, udah pake wings tetep ada momen tembus karena belum tau cara pasang dan ganti yang bener.



FAQ:

1. Pipis/pup gimana? Nggak gimana-gimana, it stays inside. Nggak geser nggak ganggu sama sekali.

2. Ganjel nggak? Kemarin saya bilang nahan pipis kerasa ganjel tapi itu kayanya salah deh hahahaha soalnya sekarang mau pup atau nahan pup atau nahan pipis pun nggak berasa apa-apa sama sekali.

3. Kerasa geser nggak? Nggak sama sekali.

4. Disteril nggak? Direbus 5-10 menit sebulan sekali setelah mens selesai. Hari-hari nggak disteril sih sebelum lepas pasang cuci tangan pake sabun aja. Terus dibuang darahnya, bilas air, lap tisu. Atau kalau air di rumah dan yakin bersih sih saya nggak lap, kepret-kepret dikit biar kering terus masukin lagi.

5. Bisa dipake berenang? Dipake olahraga apapun juga bisa asal yakin suctionnya udah bener.

6. Kalau belum pernah intercourse bisa pake? Bisa dong kan bolongannya tetep ada. Nggak masalah sama sekali. Riset dan kembalikan pada value hidupmu ya.

7. Beli di mana? Beli di Sustaination.

Udah sih segitu aja. Lengkapnya ada di highlight story saya ya.

-ast-




Memahami Gaya Belajar Anak

on
Monday, March 4, 2019
Oke jadi sampai sekarang saya masih semangat untuk ngajarin Bebe baca. Udah lama banget? Iya memang karena dia juga masih semangat hahahaha.

Kalau mau baca perjalanannya dari sini:

Part 1: Gimana ngajarin calistung?
Part 2: Bebe Belajar Baca (2)

Ini dalam kondisi gemes-gemesnya karena dia udah bisa baca 2 suku kata. Masih dieja tapi BISA. Videonya pernah saya share di Instagram, liat di sini.



Itu semua pertama thanks to alphabet cubes dari @letthefunbegun. Saya liat mereka posting dan AHA! butuh ginian nih biar gampang nyusun huruf dan nggak ilang-ilangan. Akhirnya sekalian di-review di Mommies Daily juga. Ini videonya, silakan teracuni lol.


Tapi selain pake alphabet cubes itu saya juga baru tau tentang teori gaya belajar anak. HUAAAA. Padahal udah sering denger ibu-ibu komen “anakku kinestetik” atau “anakku tactile banget” TAPI NGGAK PERNAH CARI TAU ITU APA. Saya mikirnya oh nantilah udah SD dan udah belajar bener di dalam kelas baru cari tau.

Langsung ngerasa oon seketika banget sih.

via GIPHY

Itu pun taunya karena nggak sengaja, lagi baca-baca website parenting nyari ide buat artikel Mommies Daily, eh nyasar ke sebuah artikel dan langsung histeris ngechat JG karena LOH INI BEBE? KOK ANAK KINESTETIK INI BEBE SIH?

Kok selama ini kita nggak nyari tau hal kaya gini sih? T_______T

Artikel Mommies Daily-nya bisa dibaca di sini: Anak Sulit Diam? Ini 8 Tanda Anak Pembelajar Kinestetik

Oke buat yang anaknya masih kecil atau belum tau juga, intinya gaya belajar anak itu bisa dipetakan dalam 3 atau 4 bagian. Tidak saklek ah kenapa harus saklek juga.

1. Visual learners: ini anak-anak yang lebih gampang belajar melalui penglihatan. Lebih suka belajar lewat sesuatu yang digambar seperti diagram atau gambar-gambar lain. INI SAYA BANGET SIH. 


2. Auditory learner: ini anak-anak yang belajar dengan mendengar. Tipe-tipe yang denger guru sekali dengan konsentrasi penuh terus langsung inget aja gitu pelajarannya, 

Anak-anak seperti ini lebih suka belajar dengan membaca keras atau dibacakan sesuatu. Intinya lebih gampang menyerap pelajaran lewat audio (obviously).


3. Kinesthetic learners: ini anak-anak yang harus GERAK seluruh tubuhnya baru bisa belajar. Note, seluruh tubuh jadi harus ada adegan menyentuh, megang, jungkir balik. Jungkir balik karena anak kinestetik merasa butuh bergerak setelah beberapa waktu untuk kembali konsentrasi.



Terakhir ada yang gabungin kinestetik sama tactile tapi saya bedain aja deh soalnya emang beda sih. Cuma yang paling ngetop itu memang disebutnya VAK ini (visual, auditory, kinesthetic). 


4. Tactile learners: mirip kinestetik tapi poinnya itu sentuhan. Kalau kinestetik kan seluruh badan harus berkontribusi tuh, kalau tactile itu yang terpenting adalah MEGANG. Nyentuh aja cukup. CMIIW ya.


*

Si Bebe itu ternyata kinesthetic dan auditory. Bisa gabungan juga, nggak harus cuma satu kok. Bebe bisa mulai lancar baca setelah saya dan JG baca banyak hal tentang cara ngajarin baca anak kinestetik .

Ciri anak kinestetik kurang lebih nggak mau diem. Balita emang nggak mau diem, tapi anak kalian kalau dibacain buku diem nggak? Bebe nggak. Kakinya gerak-gerak, tangannya gerak-gerak. Dia nonton YouTube aja nggak bisa sambil duduk tenang, pasti sambil lompat-lompat, sambil kakinya main-mainin bola, pokoknya badannya harus tetap gerak.

Dan saya selama ini risih karena nggak ngerti kalau itu emang bawaannya dia. Saya anaknya visual dan rada highly sensitive sama suara, malah risih kalau lagi ngerjain sesuatu terus ada yang gerak-gerakin sesuatu, nggak bisa kerja sambil dengerin musik. Sebel banget. Karena maunya semua kalem gitu hahaha.

Makanya catetan kuliah saya serapi itu dan sampai difotokopi temen-temen seangkatan karena saya nanti ngapalinnya dari catetan itu. Saya bisa tau persis kalimat mana ada di bagian kertas yang mana.

Saya tau persis misal saya gambar sesuatu di pojokan kertas di bagian catetan apa. Makanya benci sama yang tidak indah (seperti feed Lambe Turah lol) karena ih jelek, berantakan. Rumah sih berantakan, tapi lebih karena saya accepting the fact saya akan capek kalau keseringan beres-beres.

Cara Belajar Baca Anak Kinestetik

Jadi malem itu kami ubah ulang semua cara belajar Bebe. Sebelumnya dia belajar baca sama saya, ya duduk manis dan harus DIAM SERTA KALEM karena saya menganggap saya kalau kalem konsen, si Bebe ternyata beda hahaha.


rusuh lol

Yang works kaya gini. Pertama JG coba nulis huruf di tiap lantai pakai marker yang nggak permanen. Misal nulis S A P I, abis itu dia harus lompatin semua hurufnya sambil bunyikan phoneticnya. Selesai dilompatin dia baca, BISA LHO.

Tapi yang nemeninnya lelah ternyata. Kami akhirnya ganti cara yaituuuu … suruh dia lompat-lompat atau jungkir balik dulu. Jadi baca 2-3 kata pake alphabets cube kemudian ketika mulai keliatan nggak konsen, suruh jungkir balik dulu. Jungkir balik 4 kali LANGSUNG LANCAR DONG BACANYA.

Abis itu bisa nggak konsen lagi, suruh lompat-lompat dulu. Baca lagi, LANCAR. Waw terkejut HAHAHAHAHA. Baru tau ada anak yang bisa kaya gini. Baru tau ada anak yang konsentrasi dengan bergerak terus. Pantes dulu pernah denger guru SD bilang “ada anak-anak yang harus disuruh lari-lari dulu keliling lapangan baru bisa duduk manis di kelas” TERNYATA MAKSUDNYA INI!

Cara Belajar Baca Anak Auditory

Yang ini saya dan JG nggak sadar sampai missnya di sekolah yang bilang. Kata miss, Xylo itu lebih gampang ngeja kalau disebutin hurufnya dibanding kalau liat hurufnya langsung jadi kemungkinan dia auditory. Lha langsung rada kaya ditoyor karena OH BENER JUGA.

Kaya di postingan yang Bebe Belajar Baca itu, dia udah lancar ngeja kan. Itu ternyata dia anaknya emang auditory gitu, lebih gampang ngeja kalau disebut hurufnya dibanding dilihat.

Sekarang dia udah ngeja level canggih misal saya bilang pakai phonetic “B O L A?” dia bisa jawab “BOLA”. Begitu pula dengan dibalik, BOLA hurufnya apa aja? Dia bisa jawab “B O L A”. Kalau diliatin hurufnya atau disuruh cari hurufnya belum tentu dia bisa.

Ajaib ya. Kata missnya nggak apa-apa terus aja dilatih pake metode yang emang cocok. Nanti lama-lama juga pasti bisa.

Jadi yakin sih harusnya tahun ini Bebe udah bakal bisa baca. Sekarang dia udah mau mulai belajar yang lebih dari 2 suku kata meski kadang lupa-lupaan gitu apalagi kalau ada NG dan NY.

Nggak apa-apa. Ibu sabar. Ibu sabar ngajarin Bebe meski lebih nggak sabar nunggu dia bisa baca biar nggak perlu bacain buku lagi hahahaha. Minimal sekarang kami udah tahu cara belajar dia dan jadinya maklum kalau dia nggak mau diem padahal lagi belajar.

Semoga berguna!

-ast-





Berpisah dengan Anak di Masa Depan

on
Thursday, February 28, 2019

Di satu hari yang sama, topik ini muncul dari beberapa medium berbeda. Pertama dari Nahla di group yang nanya:

“Itu yang Abah Ihsan anak kabur dibiarin itu nggak takut anaknya kenapa-napa ya?"

Buat yang belum tau, Abah Ihsan ini punya Program Sekolah Pengasuhan Anak. Diceritakan Isti di IG storynya (iya diceritain lah, orang saya nggak ikutan hahahaha). Ini IG storynya, lengkapnya bisa dilihat di sini.


Terus saya jawab (ke Nahla), memang membesarkan anak itu kan untuk hidup mandiri. Kalau pun dia tidak kabur dari rumah, kan bisa aja kuliah atau kerja di luar negeri/kota kaya saya gini.

Dulu awal kerja mana ada takutnya, jam 1-2 pagi masih keliaran di Gerbang Pantai Karnaval Ancol nungguin taksi. Yang lewat truk-truk semua, apa nggak takut kenapa-napa?

Takut lah udah pasti. Tapi bahkan kalau anak nggak boleh keluar rumah pun kan pasti banyak momen dia keluar sendiri. Apa nggak takut kenapa-napa? Lha di rumah aja kalau mau takut sih banyak juga bahayanya.

Bisa apa kita manusia? :)

Eh terus lanjut malamnya bahas adik saya yang kantornya jauh dari rumah ibu di Bandung sampai uangnya abis buat ongkos. JG nanya “Kalau itu Bebe, akan kita suruh keluar rumah aja nggak sih biar praktis? Apa akan tetep kita suruh diem di rumah?”

Saya jawab “ya ngekoslah daripada capek di jalan lagian kalau dia kuliah nggak di Jakarta juga dia udah pasti tinggal jauh dari kita kan?”

Ya sudah pasti gimana sih kaliaannnn lol.

Lanjut ke besoknya, seseorang nanya di IG story, baper nggak sih mikirin anak suatu hari lepas dari kita? Saya jawab nggak, saya nggak baperan anaknya. Eh terus ada yang DM ini:


Tidak dicium saya baper, tapi berpisah nggak baper kenapa coba? Karena sejak awal mindsetnya si Bebe akan sekolah di luar negeri hahahaha.

Saya dan JG kan anak rantau (ehm). Saya berpisah dengan orangtua di umur 23 dan saya baik-baik saja. Yailah dari Bandung doang gitu kali kalian mikirnya. Tapi coba aja deh, sebanyak itu orang Bandung yang menolak dan nggak betah kerja di Jakarta karena ya Bandung terlalu nyaman. Lah orang Jakarta yang kuliah di Bandung aja banyak yang nggak bisa move on kok.

Jakarta panas, macet, pengap, sesak, tapi saya ngerasa saya dan JG nggak bakal bisa kaya gini kalau kami tetap di Bandung. Nggak akan push ourselves this hard kalau kami tetap di Bandung. Karena apa motivasinya?

Di Jakarta, motivasinya adalah “duh kenapa kita nobody sih ayo lakukan sesuatu biar dikenal orang” gitu. Kalau di Bandung lha setengah populasi aja kami dan keluarga kenal kok HAHAHA.

Nah, itu sebabnya saat punya anak, kami berdua udah sepakat bahwa Bebe harus sekolah di luar negeri. Ya Bebe kan anak Jakarta, mau ke mana lagi dia biar bisa termotivasi. Kami yang anak Bandung sih receh, merantau ke Jakarta aja udah ngerasa sukses LOL.

Begitu tau Kaesang Pangarep pindah sekolah di Singapur waktu SMP kami lebih wow lagi. Langsung kepikiran “APA BEBE SMP DI SINGAPUR JUGA YA?” HAHAHAHAHAHA. Monmaap ortunya emang ambisius kalau soal pendidikan. Doakan uangnya nyampe aja dong!

Kalau SMP saya masih mikirin sih karena ih masih kecil. Apa saya ikut pindah Singapur juga? Hahahaha. Kalau SMA ya kasihlah, kaya Iqbaal gitu kan keren amaaattt. Malah excited kalau memang suatu hari Bebe SMA di Amerika kaya Iqbaal khawatir pasti iya, tapi bangga banget dong pasti. Makanya Bebe memang udah di-brainwash untuk kuliah di luar meski sekarang kalau ditanya dia maunya sekolah di Amerika biar ketemu Ryan. *tetep*

Dan soal perpisahan ini kan hal yang sangat umum. Oke saya dan JG mindsetnya sekolah di luar, tapi kan banyak juga orangtua yang emang cita-citanya pesantrenin anak. Berpisah juga kan tinggal di asrama. Kalau pun nggak, pasti ada masanya dia punya keinginan untuk keluar dari rumah sih, menikah atau tidak menikah.

IYA DONG?

Jadi bertanya-tanya sama diri sendiri, akan kesepian nggak ya saya di masa depan? Hayo jangan suruh tambah anak, mau anak 1 atau anak 5 juga bisa aja tinggal sendiri di masa depan.

Kaya almarhumah nenek saya, anaknya 5, tapi maunya tinggal sendiri. Justru saya liat nenek memang menikmati kesendiriannya, nggak dikhawatirin anak-anak terus, nggak diatur ini itu, dan yang terpenting: bisa akhirnya sendiri setelah berpuluh-puluh tahun urus keluarga. (Baca: Nenek)

Kalau kata mbak Nuniek, ada yang namanya prinsip 3 topi dalam parenting ini saya suka banget karena orangtua zaman dulu banyak yang failed banget nih di sini.

1. Controller hat: topi ini dipakai saat anak umur 1-10 tahun. Nurture deh intinya, apa yang boleh apa yang tidak boleh, beri contoh nyata.

2. Coaching hat: topi ini dipakai ketika anak berusia 11-19 tahun, karena pelatih jadi kita mantau aja nggak ikut main. Pelatih harus menginspirasi tapi tidak menginstruksi karena anak udah nggak butuh banyak informasi baru dari orangtua.

3. Consultant hat: topi ini dipakai ketika anak sudah 20 ke atas. Anak sudah dewasa jadi seperti layaknya konsultan di perusahaan-perusahaan, orangtua diharapkan memberi masukan HANYA KETIKA DIMINTA. Lha iya mana ada konsultan tiba-tiba datang terus nasehatin ini itu.

Orangtua zaman dulu biasanya nggak ngerti nih soal ini makanya seumur hidup mereka pake controller hat. Seumur hidup mengontrol anak padahal anak tumbuh, peran orangtua juga berubah. Makanya heboh deh urusan mertua menantu selalu jadi topik hot.

Jadi mungkin yang dibutuhkan adalah rencana masa depan mau ngapain. Karena pasti ada momen ih kok kemarin aku mendidik anak sekarang kok mati gaya karena udah di fase coaching hat? Kok mati gaya karena dia punya istri? :)))))

Hayo dipikirin dari sekarang. Hahahaha.

-ast-




IG