-->

Image Slider

Mendarat dari Apartemen

on
Monday, August 9, 2021


Jakarta, 8 Agustus 2021. 22:43

(YAILAH BANYAK GAYA NI POSTINGAN DIPAKEIN TANGGAL SEGALA. Nggak apa-apalah, rada emosyienel soalnya nulisnya nih)

Iya soalnya saya nulis ini di kamar baru, bukan baru bikin tapi baru ditempati 3 malam. Rasanya surreal, kok bisa ya di Jakarta menempati kamar sebesar ini, rumah seluas ini, meski statusnya masih ngontrak.

Bener deh, dulu bahkan nggak terbayang sama sekali bisa menyewa rumah yang bukan rumah petakan. Meski rumah petakan pertama kami juga nggak petak-petak amat sih, ada garasinya. Cuma tetep aja berupa satu rumah besar yang dibuat jadi 3 rumah. Satu kamar, serba sempit, mana pengap :’)

Sekarang, 8 tahun kemudian, bisa ternyata ya menempati rumah betulan. Rumah yang bisa dibilang seukuran rumah ortu saya di Bandung. Halamannya lebih luas malah. Bukan rumah millennial yang identik dengan kecil, mini, simpel cenah padahal mampunya dan yang tersedianya cuma itu.

Jadi bukannya millennials nggak mau beli rumah seukuran rumah boomers, tapi ya mahal hadeh, millennials harus stop ngopi 250 tahun baru rumahnya kebeli. Asumsi beli kopi segelas 80ribu, 20 hari sebulan, dan harga rumahnya 5 miliar (lol beneran diitung).

Anyway, yang bikin sentimentil nan emosyienel adalah twit yang usianya hampir 10 tahun ini HAHAHAHAHA.



Tadi sama JG nyicil beberes apartemen lagi kan, pindahan bertahap soalnya biar nggak capek. Pas menuju rumah, macet terus kami ketawa sendiri “BISA-BISANYA SIH KITA STUCK DI AREA INI” :’))))

Kaya dulu di situ ada Sevel tempat nongkrong sama teman-temanku (yang juga teman-teman JG), terus ada tukang soto yang mana kalau sekarang diliat-liat kok jorse ya nyahahahaha, gang demi gang itu dulu ada temen yang kost/ngontrak di situ, dan malah kejadian Pajero Sport nyungsep tuh persis di belokan rumah sekarang hahahahaha

Jalan yang sekarang dilalui sehari-hari adalah jalan yang sama yang dilalui saat saya pertama kali datang ke Jakarta. Dulu pake Google Maps di Blackberry, sekarang jalan-jalan kecilnya juga udah hafal. Dulu naik taksi, sekarang punya mobil sendiri. Dulu ramean segeng, sekarang bertiga :’)))

JAKARTA, TERIMA KASIH LOH SUDAH SEBEGITU PUSHY PADA KAMI! We become (and always try to be) the better version of ourselves. You provide comfort but at the same time, you never let us to stay in the comfort zone.

Titik 0 kami dimulai di Jaksel, sempat lompat ke Jakbar di mana ketemu banyak sekali teman menyenangkan yang masih berteman sampai detik ini, lompat lagi ke Jaksel dan kembali di area yang sama. Kembali ke titik 0 dengan kondisi yang sudah jauh berbeda. Mulai hari-hari baru lagi di sini dengan target hidup yang sudah juga jauh berbeda.

We’re blessed. Nggak berhenti bersyukur. Dulu pas di Jakbar mikirin banget gimana ya Bebe bisa SD di tempat yang sekarang, kok tau-tau dapet kerja di sekitar sini sih. Sampai bisa balik lagi ke Jaksel. Lagi-lagi sangat bersyukur.

Dan kalau diliat-liat serta dirasa-rasa, kami kayanya cocok dengan hawa daerah sini LOL. Dulu di Jaksel sih pas masih muda happy-go-lucky nggak mikirin jadi dewasa pokoknya cuma tau kerja dan ngabisin uang. Jakbar menempa kami dengan berbagai tantangan hidup: Punya bayi, anter jemput daycare sempat pakai motor, struggling belajar financial planning dari 0, sampai hustling jagain page views blog ini karena sebagian uang dulu dihasilkan dari sini.

Menulis malam-malam seperti ini jadi ritual rutin. Yang udah nggak pernah lagi dilakukan karena ngantuk atuhlah. Tapi tanpa pernah di situ, kami nggak di sini. Tanpa pernah struggling belanja aja harus ke pasar dengan budget yang pas-pasan banget, kami nggak di sini. Tanpa pernah dinyamukin di teras daycare karena JG lembur dan taksol terlalu mahal, kami nggak di sini. Tanpa semua kesulitan yang pernah dilalui dulu, kami nggak di sini :’)

Yang seru (seru menurut saya sih), kami bisa di sini karena kami menjaga gaya hidup selama 8 tahun ini. Mobil udah ganti meski tetap tua, harga tas/sepatu/baju masih sama, harga sekolah Bebe malah jadi berkurang dibanding daycare sehingga budgetnya bisa untuk dia les, makanan agak lebih mahal tapi tetep nggak jomplang, tetep nggak liburan (ya pandemi), dan pada akhirnya sekarang memutuskan “invest” ke rumah yang lebih besar. Untuk pertama kalinya harga kontrakan kami naik banyak hahahaha

Karena kemarin tuh harga kontrakan kami masih sama lho seperti 8 tahun lalu. Bayangkan 8 tahun jagain gaya hidup, orang lain rumahnya udah keren-keren banget, mobilnya juga. Liburan udah ke mana-mana, lah kami kok di sini-sini aja. Jangankan beli rumah, beli air fryer aja mikirrrr ni listrik bakal naik banyak nggak ya? Hahahaha. Belinya mah mampu, bayar listriknya yang males kalau jadi nambah. Jadi nggak beli deh lol.

Ya udah itu aja sih. Kaya utang cerita di blog kalau pindah rumah karena biasanya kan selalu cerita. Banyak jetlag pula nih dari apartemen yang serba ada ke rumah yang serba sendiri.

  • Bingung cari tukang pipa karena ada bocor. Nggak bisa telepon engineer ya? Hahaha.
  • Bingung kok ATM nggak ada di halaman rumah ya? HAHAHA. Stres harus bayar ongkir orang yang anter rak dan kami nggak punya cash. Pantas orang-orang pada punya motor lol.
  • Isi listrik pake token lagi. Adegan lupa gimana sih isi token? Main beli-beli aja kok listriknya nggak masuk ya? OH HARUS DIMASUKIN MANUAL ANGKANYA MAAP :')))
  • Nggak ada security urusin paket.
  • Deg-degan perkara takut mati listrik dan air yang tak pernah terjadi di apartemen.
  • Nervous menghadapi hewan-hewan di rumah (ya semut ya nyamuk ya kecoa ya cicak) karena di apartemen tidak ada.

Tapi bersyukur deh dapet provider wifi yang ok (lebih kenceng dari apartemen!) sehingga berkurang satu kestresan rumah tangga di mana seisi rumah work dan school from home. Beneran deh sebelum kami DP ni rumah, saya gerilya dulu nyari wifi yang testimoninya bagus dan nggak dibully rakyat Twitter hahahaha. Kalau nggak dapet beneran niat ganti rumah karena ya lagi begini wifi itu kebutuhan primer lah. Mending survey ulang rumah lagi dibanding suka rumahnya tapi wifinya elek (elek media komputindo? HUHU MAAF).

Beruntung juga nempatin rumah yang sangat sangat diurus sampai dinding bersih, lantai nggak kotor, teralis berdebu dikit tapi nggak parah, ya rumah yang terawat lah bukan yang jorse seperti tukang soto (lah dibawa lagi tu tukang soto). Pemilik rumah juga helpful banget jadi kami nggak sungkan untuk tanya-tanya.

Demikianlah, doakan kami semoga betah ya!

-ast-





Titik Nol

on
Saturday, June 19, 2021

Ada yang sudah nonton Ali & Ratu Ratu Queens? Kalau belum dan nggak mau kena spoiler jangan lanjut baca ya!


(Sepertinya saya harus nanya pada mbak Gina S. Noer kenapa menulis Ratu Ratu dalam Ali & Ratu Ratu Queens itu nggak pakai tanda hubung/hypen/strip? Ratu-Ratu dong harusnya bukan Ratu Ratu? ASLI GEMES APA ARTI DI BALIKNYA? HAHA MAAFKAN).


Saya menangis nonton film ini dari awal sampai akhir. Bukan, bukan karena memikirkan Ali tapi justru memikirkan Mia. Betapa dia pasti terjebak di dalam satu persimpangan jalan yang yakinnnn, dialami banyak ibu. Mimpi sejak lama atau anak dan keluarga?


Kalau orang yang positive vibes only biasanya bilang “bisa keduanya kok, tenang aja” LOL MASA SIH? YAKIN? :))))


Kalau saya nggak berani bilang “tenang aja pasti bisa keduanya” meski juga tidak akan bilang “udah kubur aja mimpinya, sekarang fokusmu anak dan keluarga”.


Tidak berani terlalu positif tapi juga tidak perlu terlalu optimis. Di tengah-tengah saja. 



Sebabnya kalau ada satu hal yang harus pelan-pelan direlakan saat punya anak adalah menyadari bahwa kamu bukan sepenuhnya milikmu lagi.


Bahwa ada hak anakmu di sana, bahwa ada hak suamimu di sana, dan setelah itu biasanya kita jadi melupakan bahwa ada hak dirimu sendiri juga yang memang sejak awal ada di sana. Praktiknya, ini sulit. Sangat sangat sulit.


Belum lagi tuntutan lingkungan tentang ibu ideal adalah ibu yang selalu ada bersama anaknya. Tidak peduli apakah si ibu tetap menyalakan mimpinya atau tidak. Tidak peduli meski di rumah yang sama, sang anak dibersamai maksimal atau tidak. Yang penting ibunya ada!


*


Selesai nonton ini saya jadi merenung *lah nonton apa aja bukannya jadi merenung? :))))* 


Titik Mia memutuskan untuk pergi padahal anaknya masih kecil adalah titik nol. Ia memutuskan untuk bergerak, kembali mengejar mimpi. It’s a now or never situation.


Dia semakin tua, Ali semakin besar, dan semakin besar Ali semakin mungkin ia melarang ibunya pergi. Semakin tua Mia, semakin mungkin ia jadi melupakan mimpinya atau menyadari bahwa sudah terlambat, sudah bukan waktunya lagi.


Saya pernah ada di titik nol itu. *SORI EMANG BLOG INI BUAT CERITA PRIBADI HAHAHA*


Grafik kebahagiaannya kurang lebih seperti ini.


Bingung pada blogspot baru nih kenapa sih foto udah hi res pun setelah di-upload jadi butek gini ih


TIDAK PERNAH sedikitpun terbersit dalam pikiran saya akan resign dari kantor. Saya selalu ingin bekerja. Ya gara-gara The Devil Wears Prada sih, saya selalu membayangkan saya adalah perempuan bekerja yang sekarang di-stereotype-kan sebagai mbak-mbak SCBD. Mbak-mbak kantoran.


Lupa kuliahnya Jurnalistik, walhasil bukan jadi mbak-mbak SCBD tapi mbak-mbak Buncit Raya naik turun taksi wawancara artis Korea LOL. Ya yang penting kerjalah! Saya punya rencana karier, ingin jadi apa dalam sekian lama. Ingin kerja di mana. Ingin kerja di perusahaan seperti apa.


Sampai menikah dan punya anak. Tiba-tiba dunia jadi jungkir balik. Karier yang dulu rasanya mudah dicapai kini jadi perlu banyak pertimbangan. Kantor yang dulu jadi mimpi tiba-tiba jadi mustahil digapai lagi. Terutama bagi saya yang ingin anak diurus sebisa mungkin dengan ideal.


Saya merelakan mimpi. Saya tidak mau lagi dihantui “coba kalau”. Saya tidak mau hidup dalam penyesalan dan menua dengan menyimpan “dendam” pada anak bahwa saya berkorban.


Saya berdamai untuk semua rencana yang mungkin tertunda atau malah memang harus menguap begitu saja. Tidak mau menyesali yang sudah jadi kenyataan, belajar melepaskan apa yang kita inginkan dan merelakan apa-apa yang tidak pernah kejadian.


Belajar bahwa ketika apa yang kita usahakan nggak bisa jadi nyata, mungkin memang sejak awal itu bukan untuk kita.


Belajar bahwa apa yang kita hadapi sekarang adalah konsekuensi dari berbagai pilihan kita di masa lalu dan tentu, dulu pun sudah dilalui dengan berbagai pertimbangan.


Saya membuat mimpi baru. Setelah jatuh ke bawah, merasa tidak punya apa-apa, merasa gagal, merasa tidak mungkin lagi bermimpi saya merangkak lagi. Belajar hal baru, berkenalan dengan komunitas baru, menemukan passion baru. Sampai akhirnya saya di titik nol lagi, siap untuk semangat lagi, siap untuk mengejar mimpi-mimpi baru lagi.


Itu saya. Saya MEMILIH untuk mencari mimpi baru. Mia tidak dan itu tidak apa-apa!


Mia (dan mungkin banyak di antara kalian) memilih melanjutkan mimpi lama. Yang mungkin terkubur karena harus menyusui, terabaikan karena anak tantrum dan berbagai drama balita, tapi tetap ada di sana. Ingin dikejar karena kalau tidak sekarang kapan lagi? 


Kalau pun dia di rumah apakah dia akan fokus membesarkan anak dengan baik? 


Iya pasti akan banyak penghakiman, tapi lebih baik dihakimi daripada menyesal seumur hidup. Lebih baik mencoba dibanding saat tua jadi menyesal dan hanya bisa bilang pada anak “aku berkorban banyak hal untukmu”. Lebih baik pergi sejenak dan tahu ia mencoba dibanding sampai tua menyadari ia kehilangan diri sendiri karena tidak memberi kesempatan pada mimpi.


Beda lainnya adalah saya didukung suami atas apapun pilihan saya. Mia tidak dan itulah sumber masalah sebenarnya.


Suaminya tidak rela Mia pergi mengejar mimpi, maka setelah 6 bulan ia bahkan tidak peduli bagaimana perasaan Mia, yang penting kalau gagal pulang. Jika ia mendukung maka mereka akan mencari jalan tengah. Bukan menceraikan begitu saja bahkan sebelum sempat bertemu lagi. Bukan menutup komunikasi Mia dengan Ali.


Itu sumber masalah utamanya. Kamu menikah dengan orang yang tidak sepaham denganmu melihat dunia. Kamu menikah dengan orang yang tidak menyadari bahwa setiap individu berhak punya mimpi, meskipun ia seorang ibu.


Beda prinsip. 


Padahal sama prinsip saja membesarkan anak itu tidak mudah apalagi beda, kan? Tetap banyak mimpi yang harus ditunda untuk nanti dikejar ulang atau direlakan untuk selamanya, Yang mana saja, yang jelas lakukan dengan sadar. Lakukan dengan paham konsekuensi dari segalanya. 


Itu saja.


-ast- 





Yang Tidak Dirindukan dari Pra-Pandemi

on
Monday, May 17, 2021

Beberapa hari lalu, saat Lebaran, saya melihat Arthur C. Brooks posting di Instagram tentang tulisan terbarunya A Once-in-a-Lifetime Chance to Start Over. Dua bulan belakangan, saya memang meluangkan waktu untuk mendengarkan podcast Arthur di Spotify dan ya banyak tercerahkan tentang happiness dari sisi seorang ekonom.


Tapi ya sudah, biasanya setelah dengar podcast mentok bahas bareng JG, tapi kali ini tulisannya bikin saya ingin menulis satu daftar tentang apa yang tidak dirindukan dari pandemi. TERNYATA ADA YA, KOK BISA AHAHAHA.


Selama ini kita selalu bilang “kangen sebelum pandemi bisa …” sehingga kita rasanya selalu terjebak di masa itu. Padahal entah kapan bisa kembali dan entah, apakah memang masa itu bisa kembali? Kan belum tentu :)))


Jadi daripada membuang waktu untuk mengingat masa-masa yang (ok untuk sementara) tinggal kenangan, mari kita tulis, apa aja sih hal-hal yang nggak saya rindukan dari masa pra-pandemi?


Kerja dari kantor setiap hari


Well ok, kantor terakhir saya dulu sebelum pandemi pun tidak strict mengharuskan setiap hari datang ke kantor sih. Asal kerjaan selesai ya sudah. Tapi dulu ya tiap hari ke kantor kecuali memang ada hal urgent yang membuat kami harus kerja dari luar. Iya saya kangen interaksi di kantor, makan siang bareng, jajan sore, nongkrong pulang kantor atau nonton konser bareng TAPI kayanya nggak usah tiap hari kali ya LOL. Seminggu 2-3 kali cukuplah, sisanya di rumah aja. Kenapa? 


Karena pergi ke kantor itu menyebabkan terjadi hal-hal di bawah ini yang terus terang saya nggak rindukan sama sekali, yaitu …


Macet


Gila apa gimana ya saya dulu kok hampir nggak pernah ngeluh sama macet! :))) Saya termasuk orang yang nggak cranky amat kalau macet kecuali ya kalau ada kasus gitu lah misal Senayan - Slipi 4 jam gitu *PERNAH TERJADI* tapi kalau macet 1 jam padahal kalau lancar harusnya 15 menit gitu mah ya udalah. Mungkin karena nggak nyetir jadi macet ya udah, toh di mobil, dingin. Bisa sambil nonton Netflix atau IG story. Bisa sambil ngelamun, bisa ngobrol sama driver taksolnya. KALEM BANGET, CHILL.


Sekarang ya ampun, cuma keluar bentar dikasih macet rasanya ih stres banget. Dulu bisa-bisanya sehari ke kantor, ke tempat liputan, abis itu jemput Bebe, abis itu sama Bebe ke kantor JG, abis itu makan malem janjian sama orang. Ganti-gantian tergantung situasi dan suasana hati kadang ojol kadang taksol. APAKAH TIDAK LELAH, BUND? Polusi pula aduh.


Iya seru emang dulu juga rasanya biasa aja tapi kalau bisa milih sih kayanya kok nggak perlu gitu yaa ahahaha. Kalau di rumah aja bisa kerja produktif kenapa harus menerjang macet sih? Karena ini ngaruh ke yang tidak dirindukan berikutnya …


Bertengkar karena capek


Setahun lebih pandemi kayanya saya dan JG cuma berantem sekali? Apa malah nggak sama sekali? Wah, untuk ukuran saya yang simpan chat sejak iPhone 6 tahun 2015 sampai sekarang terus backup-restore untuk bisa membuktikan sekarang “DULU YA KAMU PERNAH …” LOL IYA UNTUK UKURAN ANAK MENDENDAM, saya nggak inget kapan kami terakhir bertengkar. Kenapa? Karena dulu berantem itu pasti karena capek dan lapar.


Sampai rumah, makanan belum ada karena harus nyiapin dulu sama-sama, lapar, capek abis macet, saya PMS, udahlah pasti berantem. Nggak sering tapi ya nggak mungkin sama sekali setahun juga nggak berantem. Minimal sebulan sekali ada lah naikin oktaf LOL. Kalau sekarang chill, rumah dingin ada AC, wifi lancar, makanan dikirim mertua seminggu sekali jadi nggak perlu masak, mau beli apa aja di bawah apartemen ada, apa yang mau dipertengkarkan? 


Ini juga sih yang bikin saya nggak gila setahun di rumah. Kami ke mall beberapa kali, Bebe ganti kacamata, dan Bebe beli sandal dan sepatu yang kekecilan. Tapi ya cuma dateng, beli, pulang. Sisanya di rumah aja. Bisa gini, bisa nggak gila, karena mau apa lagi sih? Di rumah bareng keluarga yang saya sayang sekali, kami nggak punya alasan untuk nggak betah di rumah. Sampai-sampai setahun berlalu aja rasanya ya udah, kok nggak butuh ya ke mall hampir tiap hari kaya dulu? Hidup rasanya jadi lebih tenang.


Juga nggak stres karena setahun ini nggak …


FLU


Dulu sebelum operasi amandel saya bisa sebulan sekali flu, setelah operasi, ya setahun sekali pasti adalah flu gitu. Apalagi si Bebe, batuk pilek setahun 2 kali mah ada lah pasti ketularan anak lain di daycare. LOH INI SETAHUN NGGAK ADA YANG SAKIT SAMA SEKALI! Itulah gunanya pakai masker dan cuci tangan, bunda!

Karena ya meski saya ngakunya di rumah aja tapi kan tetep turun dari unit apartemen pakai lift yang dipakai bersama ribuan rakyat lainnya. Ke supermarket di bawah aja itungannya mall kan tetep meski kecil banget. 


Ini juga sebabnya saya nggak mau ambil risiko ketemuan sama orang. Takutnya selama ini bukan beruntung bisa nggak kena Covid tapi ya emang nggak ketemu orang lain ahahaha. Ya udah di rumah aja menikmati segala-gala dengan lebih lambat. Ini juga yang nggak dikangenin nih …


Multitasking dan fast-paced life


Dulu ya, saya pakai skincare itu gini: Selesai mandi masih pakai handuk langsung pakai toner, nunggu toner meresap pakai bra, abis itu pakai serum, lanjut pilih baju sambil tunggu serum meresap, sambil pilih jilbab tunggu moisturizer meresap terus aja disambi yang lain sampai akhirnya bisa sampai step sunscreen. MANA BISA DUDUK SANTAI NUNGGU SEMUA MERESAP HAHHH? NGGAK SEMPET! Waktu Bebe bayi malah skincare-nya pakai di mobil lol stres.


Nggak usah ceramahin manajemen waktu ya, kami punya balita, tanpa mbak dan nanny, tanpa ortu dan mertua, tanpa bantuan sama sekali dan punya full time job plus side job. Kalau nggak bisa manage waktu sih ya mustahil bisa survive. Justru itulah cara saya manage waktu. Semua multitasking. Skincare sambil pakai baju, sarapan sambil kerja, dan sambil sambil lainnya yang sebetulnya nggak perlu.


Dulu mikirnya gitu padahal ternyata ya saya harus begitu karena ke mana-mana harus memperhitungkan waktu 1,5 jam karena takut telat. Di GMaps 30 menit maka pergi 1 jam sebelum, di GMaps 1 jam maka pergi 1,5 jam sebelum. Sekarang? Enak bangettt pakai skincare bisa mindful, santai sekali, nggak diburu-buru waktu. Semua bisa dilakukan single tasking. Praktik mindfulness jadi lebih gampang dan nggak menakutkan lagi :)


TERAKHIR …


Nggak nonton drakor adalah yang tidak dirindukan dari pandemi HAHAHAHA WELCOME BACK TO KOREAN ENTERTAINMENT!


Terakhir Koreaan itu pas Bebe lahir, saya baru nerbitin buku Oppa Oppa. Abis itu blas cuma nonton konser G-Dragon sekali, nggak nonton drakor apalagi variety show. Nonton konsernya malah lokal terus. Sekarang karena senggang jadinya bisa nonton lagi dan sungguh menyenangkan sekali!


Apalagi sekarang JG juga jadi nonton terus huhu quality time kami ya nonton drakor bareng. Tidak bareng ya tidak nonton #prinsip. Apalagi kalau drakornya diskusi-able gitu ah senanglah nonton drakor bersama tuh hahaha. Awal pandemi kami sempet tuh berpisah jalan LOL. JG maunya nonton Itaewon Class dulu, saya Fight for My Way dulu. LAH NGGAK SERU. Abis itu kebut tukeran, saya nonton IC, JG FFMW. Setelah itu bareng terus biar bisa diskusi dan gemes sama-sama HAHAHA.


Wah, panjang banget ya hahahahaha ya udalah bodo amat. Kalau kalian baca sampai sini wowww terima kasih ya! Semoga kalian pun punya hal-hal yang nggak dirindukan dari masa pra-pandemi jadi bisa menjalani hari-hari pandemi ini dengan penuh syukur dan sadar penuh.


Ayo buat daftarnya sendiri!


-ast-






Mitos dan Fakta Seputar Vaksin

on
Sunday, May 2, 2021

Ngomongin vaksin zaman sekarang itu sensitif banget ya padahal vaksin terbukti menyelamatkan jutaan jiwa. Eh tapi sebentar deh, kalian udah paham belum sih bedanya vaksin dan imunisasi?


Vaksin: Proses memasukkan vaksin ke dalam tubuh via injeksi atau oral.

Imunisasi: Proses di dalam tubuh membentuk antibodi. 


Pada akhirnya kedua istilah ini sering dipertukarkan dalam keseharian dan ya udalah yang penting sama-sama paham kan hahahaha.


Kenapa tiba-tiba bahas vaksin, karena Jumat lalu saya hadir di event Kenapa Harus Vaksin World Immunization Week 2021 Webinar dengan tema "101 Vaksinasi: Kupas Tuntas Vaksinasi Anak" bersama Kenapa Harus Vaksin (@kenapaharusvaksin), theAsianparent Indonesia, Sisy Prescilia, dan dr. Attila Dewanti, SpA(K) dan merasa dicerahkan kembali soal berbagai mitos dan fakta seputar vaksin.


Apa aja sih mitos seputar vaksin dan gimana faktanya?


Mitos: Vaksin hanya melindungi diri sendiri


Faktanya, vaksin bukan hanya melindungi diri sendiri tapi juga melindungi orang lain! Karena ketika kita divaksin, kita tidak berpotensi menularkan penyakit pada orang di sekitar kita.


Data juga bicara demikian. Vaksin lengkap bisa mencegah lebih dari 26 penyakit dan 2-3juta kematian tiap tahun bisa dicegah dengan vaksin. Ketika cakupan imunisasi secara global diperluas, vaksin bisa menyelamatkan 1,5juta orang lagi setiap tahun.


Inget nggak sih outbreak difteri beberapa tahun lalu? Nah itu karena 65% orang nggak vaksin DPT lengkap. Ya melindungi diri sendiri aja nggak bisa apalagi saling melindungi dengan orang sekitar, outbreak deh.



Vaksin juga bisa menghindari komplikasi penyakit serius. Misal flu, orang yang sudah vaksin influenza punya risiko lebih rendah terkena komplikasi seperti pneumonia atau gangguan sistem saraf pusat.


Mitos: Vaksin gratis lebih tidak efektif dibanding vaksin berbayar.


Faktanya, menurut dr. Attila efektivitas vaksin yang gratis maupun yang berbayar itu sama saja. Vaksin di posyandu atau di rumah sakit juga sama saja yang penting itu vaksin lengkap, sesuai jadwal, dan dengan urutan yang benar sesuai jadwal vaksin dari IDAI.



Bedanya yang gratis disubsidi pemerintah, yang bayar tidak disubsidi. Pun bisa berbeda pula dari jenisnya. Seperti vaksin DPT yang menyebabkan demam itu karena jenisnya whole cell di mana pembuatannya pakai kuman yang dilemahkan. Namun ada juga yang aseluler, di mana selnya saja yang diambil dan tidak semua kuman masuk ke dalam vaksin sehingga menurunkan risiko anak demam. Keduanya tetap merupakan vaksin aman.


Kalau pun anak demam pasca vaksin, itu wajar ya! Biasanya demam terjadi dalam 24-36 jam, lewat itu sebaiknya diperiksa ke dokter karena khawatir ada penyakit lain, bukan disebabkan vaksinnya!


Mitos: Karena pandemi, jadwal vaksin anak boleh ditunda.


Faktanya: TIDAKKKK! Jangan sampai karena takut pandemi (yang entah akan berakhir kapan) kita jadi terkena risiko penyakit lain yang sebetulnya bisa dicegah dengan vaksin ya!



Jadi baik vaksin untuk bayi, vaksin untuk balita, maupun vaksin tambahan atau vaksin booster TETAP diberikan sesuai jadwal IDAI. Bagaimana kalau terlanjur terlewat jadwal? Misal karena PSBB atau alasan lain?


IDAI menyarankan imunisasi kejar dan imunisasi ganda, yaitu vaksin beberapa dalam waktu yang sama sekaligus. Nggak masalah dan aman ya! Selama dikonsultasikan pada dokter tentunya.


Mitos: Vaksin yang sama lebih dari sekali itu berbahaya.


Faktanya menurut dr. Attila ketika orangtua ragu anaknya sudah divaksin atau belum, sebaiknya ya diulang saja karena kalau pun sebelumnya sudah pernah, sisa vaksinnya akan dibuang oleh tubuh. Tidak ada bukti pemberian vaksin akan merugikan penerima yang sudah vaksin dan vaksin tidak akan membuat penyakit bertambah parah.



Bonus: Tips Vaksin Aman Saat pandemi


Nah saya yakin sih banyak yang sebetulnya mau vaksin tapi khawatir duh ke rumah sakit lagi pandemi gini aman nggak ya? Ini tipsnya:


Cari fasilitas kesehatan yang memisahkan anak sakit dengan anak sehat. Rumah sakit ibu dan anak tentu bisa dibilang lebih aman dibanding rumah sakit umum.


Buat janji kedatangan dan datang tepat waktu. Kalau masih ada waktu menunggu, pertimbangkan menunggu di mobil.


Konsultasikan pada dokter tentang imunisasi kejar & imunisasi ganda, siapa tahu ada yang bisa diberikan sekaligus karena waktunya berdekatan. Bisa mengurangi waktu ke RS, kan.


Opsi lain, cari tempat vaksin yang bisa vaksin di rumah sehingga tidak perlu ke rumah sakit. 



Terjawab ya berbagai mitos seputar vaksin! Semoga bermanfaat!


-ast- 





Perawatan dan Biaya LASIK ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center

on
Friday, April 16, 2021

Ini adalah lanjutan dari artikel ini: Pengalaman LASIK Mata ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center. Baca postingan sebelumnya untuk cerita screening dan proses LASIK nya ya! Sekarang kita akan bahas perawatan dan biaya LASIK ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center


2 hari pasca LASIK udah naik ATV ahahahaha


Sampai rumah sekitar jam setengah 3, saya tidur 3 jam dengan kondisi mata berair terus. Kalau tidur, matanya dikasih penutup mata gitu untuk menjaga biar nggak kucek mata. Karena beneran pengen kucek banget kaya kelilipan debu besar terus debunya nyangkut di sana nggak mau keluar nggak peduli seberapa banyak air mata keluar :’)


Kepanikan melanda, duh kok pede banget besok udah bikin jadwal syuting, weekend-nya udah booking tempat glamping pula, apa bisa? Apa ini mata akan berair lama gini? Saya akhirnya memberanikan diri untuk BERDIRI dan mulai jalan-jalan. Eh kok matanya jadi nggak berair, jangan-jangan dari tadi berair karena nggak dicoba dipake gitu.


Penutup mata yang dipakai saat tidur.



Lalu saya waslap muka dan mandi (mandi biasa aja cuma pake kacamata renang karena masih ngeri air masuk LOL). tapi jadi seger banget dan mencoba beraktivitas, mayan ya biasa aja ternyata cuma nggak bisa liat layar aja. TV gitu nggak sanggup karena silau. HP  juga udalah saya bertekad untuk nggak liat layar sama sekali sampai besok paginya. Soalnya kalau kata dokternya, kalau udah ngerasa bisa, boleh aja liat layar setelah 3 jam dengan catatan istirahat tiap 20 menit. Ah tapi  emang mau ngapain sih. Apa yang begitu urgent sampai harus liat layar terus kan. NGGAK ADA :)))


Perawatan pasca LASIK ReLEx® SMILE 


Sore itu juga saya minta tolong ibu untuk rebusin telor agak banyak karena dokter bilang harus banyak minum protein biar cepet sehat. Sehari makan 2 butir. 


Mata nggak boleh kena air seminggu apalagi air sabun ya. Nggak boleh kena air bukan berarti nggak boleh cuci muka. Pas awal saya cuci muka pakai waslap basah tapi hari berikutnya udah berani cuci muka biasa pelan-pelan.


Caranya,  siapin handuk di jangkauan tangan dan cuci muka pakai air diusap pelan pakai tangan. Jangan lupa merem banget maksimal gitu untuk mastiin air nggak masuk mata, lalu ambil handuk, keringkan dulu muka baru buka lagi matanya. Jadi wudhu tuh BISA BANGET YA! Boleh kok.


Kalau mandi, area mata dibersihinnya pake waslap, abis itu pakai kacamata renang, baru deh cuci muka pakai facial wash. Selama keramas dan proses mandi juga pakai kacamata renang untuk make sure aja nggak kecipratan air sabun. Btw ini saya ngarang sendiri ya pake kacamata renang nggak disuruh dokter tapi ya works ahahahaha.


Selain perkara air, juga dikasih tetes mata 3 macem. Yang 1 ditetes 1 jam sekali, yang 2 lagi 3 jam sekali. Harus rajin pake biar cepet normal lagi matanya. Malamnya tidur aman jaya, nyenyak nggak ada masalah apa-apa. Udah nggak sakit, udah nggak berair.


Obat tetes matanya.


Saya juga dikasih goggles gitu untuk dipake keluar rumah biar matanya nggak kena debu.


Hari berikutnya


BANGUN TIDUR BUKA MATA BISA MELIHAAATTTT AAAKKKKKK!


Saya ngerasa ini mata udah normal 100% dan coba buka HP. Wah jelas banget huhu terharu. 


Pagi ini jadwal konsul lagi ke dokter dan sepanjang jalan masih pakai sunglasses soalnya masih silau tapi saya baca semua hal di jalan dan kebaca semua :’)))))


Nyampe Bandung Eye Center, dites lagi dan keliatan semua dong SEMUAAAA! Padahal hari sebelumnya, huruf paling besar aja nggak kelihatan sama sekali. Kurang lebih ginilah hari sebelumnya vs setelah LASIK. Iya sebelum LASIK dengan jarak yang sama cuma keliatan bayangan item aja boro-boro hurufnya. :))))



Seburem itu emang, jarak pandang selama ini cuma sejengkal :’)


Kata dokter, mata kanan udah 100% normal dan mata kiri masih 90%. Kerasa mata kanan tuh emang normal aja gitu sementara yang kiri masih ganjel.


Dari BEC ke studio untuk syuting dan lancar. Udah nggak sesilau itu meski selama di jalan rasanya pengen lepas soft lens padahal kan nggak pake HAHAHA. Iya feelnya tuh kaya kamu pake soft lens kelamaan, nggak bawa tetes mata, tapi mau lepas juga nggak bawa case soft lensnya. Tau kan rasanya, pegel gitu. Rasanya persis sama. Ini yang kiri doang ya, yang kanan tuh senormalnya mata deh.


Besoknya udah glamping, naik ATV, main high rope dan baik-baik aja, udah nggak berair, udah nggak silau tapi masih ngurangin main HP. Saya masih pengen istirahat maksimal 3 hari biar cepet sehat aja. Masih makan telor rebus 2 butir sehari juga.



Main high rope tanpa kacamataaaa!


Udah mulai bales-balesin chat tapi belum kembali bikin konten dan belum buka laptop. Udah nemenin Xylo main Minecraft meski cuma 20 menit. Tidur masih pakai penutup mata, keluar masih pakai goggles karena saya ngerasa ini lancar banget semuanya jangan sampai deh karena kelilipan terus jadi infeksi atau apalah.


LALU SUDAH. Senin udah normal aja gitu. Seminggu kemudian (kemarin) udah pakai eyeliner. Satu hal yang saya sadari, kayanya cepat sembuh karena di Bandung nggak kena AC sama sekali kecuali di mobil. Lalu glamping juga liat yang ijo-ijo kan jadi seger banget. Soalnya nyampe Jakarta, kena AC seharian matanya berasa jadi kering lagi gitu. Akhirnya diatur deh AC nya dinyala-matiin biar matanya enakan lagi.


Kata orang matanya baru, saya lebih ke punya badan dan wajah baru. Karena selama ini cuma bisa lihat wajah dan badan sendiri dari jarak jauh kalau difoto aja. Bercermin tuh deket banget ke cermin sampai pake eyeliner selalu mentok. Iya sih pakai soft lens, tapi soft lens kan cuma bantu minus aja, silindernya tetap ada jadi tetap berbayang. Baru ngeh oh gini rasanya bercermin tanpa kacamata dari jarak jauh :’))))


Biaya LASIK Mata ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center


Ini yang paling dittunggu:


Harga LASIK Mata ReLEx® SMILE: Rp.32.800.000

Diskon jadi: Rp. 31.750.000


Untuk 2 mata. Sudah termasuk pemeriksaan screening awal LASIK, laboratorium, obat setelah tindakan

dan free kontrol 1x setelah tindakan.


Menurut aku ini yang paling terjangkau sih biayanya dibanding di Jakarta. Rata-rata di Jakarta itu Rp 38juta dan belum sama screening. Padahal alatnya sama aja. Ya apa sih yang lebih mahal di Bandung dibanding di Jakarta ya kan ahahahaha.


Apakah worth it? BANGET! Karena bener-bener enak hidup nggak pake kacamata apalagi kaya saya yang kacamata tuh udah nggak nyangkut saking lensanya berat. Ya minus 7 gimana sih, udah pake lensa yang dipertipis aja tetep merosot.


Kacamata tebalku :')


Dan ini PERMANEN ya! Menurut dokter Erna, LASIK itu adalah tindakan permanen kecuali kamu LASIK-nya di umur 18 tahun biasanya masih tumbuh matanya jadi bisa nambah minusnya. Tapi kalau di atas 22 tahun, minusnya nggak akan balik lagi. Kalau pun ada minus, tandanya bersisa saat tindakan, bukan karena kembali lagi. Itu pun paling seperempat atau setengah dan nggak akan nambah lagi sama sekali.


BEGITULAHHH. Demikian cerita saya LASIK mata dengan metode ReLEx® SMILE di Bandung Eye Center. Yang mau tanya-tanya boleh banget telepon dulu.


Bandung Eye Center

Jl. Buah Batu No.147

(022) 73514682


Kalau dari luar kota pun bisa banget LASIK di sini, nanti kontrolnya di kota asal. Puas banget sama layanannya BEC, tempatnya bagus, protokol oke, ruang tunggu sofa berjauhan jadi social distancing (bukan cuma dikasih x), dan semuanya ramah banget jadi bikin tenang. Karena ini rumah sakit mata (bukan klinik) jadi ada UGD dan Sunday Clinic-nya juga, hari Minggu kalau ada urgent sakit mata bisa deh ke BEC.


Bersama dr. Erna dan tim BEC yang helpful banget!


Semoga yang mau LASIK juga dilancarkan ya!


-ast-