-->

Image Slider

Bebe ke Dokter Mata (1)

on
Tuesday, August 13, 2019
Saya cerita dari awal yaaa. Karena ini penting jadi harus ditulis di blog biar cari dan baca ulangnya gampang.



Berawal dari kacamata saya yang udah kerasa kurang enak. Memang terakhir ganti 2 tahun lalu sih, dan kenaikan minus saya juga udah lambat sekali. Tapi seperti biasa yaaa, kalau urusan dokter tapi nggak urgent jadinya kan dinanti-nanti aja.

Sampai untuk pertama kalinya kami makan di kaki lima. Iyaaa, lima tahun sama Bebe, baru pertama kali makan di kaki lima sama Bebe. Bukan sombong tapi lelah banget di kaki lima itu banyak orang ngerokok jadi kami sebisa mungkin menghindar. Kalau berdua JG sih masih bener makan di kaki lima. BU VESTI BARITO FTW! LOL

Nah, si Bebe jadinya excited banget tuh. Oiya btw kami makan di Roti Bakar Eddy yang memang banyak banget tukang jualannya.

Dia bacain satu-satu nama makanan yang dijual sampai semua udah dia baca. Saya dan JG lihat sekeliling dan lihat sebuah tulisan “toilet”. Kecil sih tulisannya, setengah A4 dengan spidol biasa. Jaraknya paling 10 meter tapi Bebe keliatan bingung, dia nggak bisa baca! Tapi kami yang jelas sudah dibantu kacamata kan bisa!

Dia sampai “Apaan sih? Mana sih?” dan mendekat ke arah tulisan itu lalu dengan santainya baca lalu melengos “OH TOILET”. Saya dan JG liat-liatan lalu ok detik itu juga bikin janji ke dokter mata zzz.

Dapet reservasi hari Sabtu, eh last minute dokternya cancel. Saya reschedule jadi hari Senin malam. Kami ketemu dengan dr. Mario Ricardo Papilaya, Sp.M karena cuma beliau dokter mata yang praktik di RS Siloam Asri.

Awalnya saya dulu yang diperiksa. Ternyata yang minusnya naik mata kanan doang, naik setengah. Ya udalah yaaa. Ngobrol-ngobrol soal lasik karena saya udah pengen banget lasik tapi lagi nabung dulu. DOAKAN, GENGS!

Setelah itu Bebe yang diperiksa. Awalnya pakai komputer dan agak susah karena dia gerak-gerak terus. Saya pangku, pegang kepalanya, baru berhasil. Di sini dokternya udah bilang “wahhh ini sih genetik ini, turunan ibunya”.



Saya nervous lol. Takut jreng-jreng minus 3 kan nangessss. :(

Lalu Bebe diperiksa manual pakai kacamata yang kaya robot itu. Pertama pake dia kaya takutttt banget, nggak mau jawab dong. MEMBISU PEMIRSAAHHHH. Saya pegang tangannya lalu bilang “salah juga nggak apa-apa kok, nggak perlu dibaca kok, sebut hurufnya aja”. Dia lalu pegang tangan saya kenceng banget dan sebut hurufnya satu-satu.

Setiap dia salah sebut huruf saya kaya: AAAAKKK SEMAKIN DEKAT MENUJU KACAMATAAAAA!

Tapi di depan Bebe stay cool dong yah. Dokternya juga puja-pujinya persis ibu dan appa banget. Kalau salah tapi minor kaya V atau Y gitu “aahhh nggak apa-apalah salah satu” atau “ya bolehlahhh” gitu. Plus ibu puja-puji “WEH BENER! IH JAGOAN!” GITU TEROSSS. Sampai akhirnya dia lebih santai dan bisa ditanya dengan lebih nyaman.

(Btw dokternya bener nebak nama si Bebe dari Coldplay’s Mylo Xyloto dan suka nonton Ryan serta menganggap mommy Ryan annoying sumpah ngakak karena saya sering banget mengeluhkan betapa annoyingnya mommy Ryan ke JG LOL)

Setelah ganti lensa beberapa kali, Bebe bilang paling nyaman pake lensa kiri 1,25 dan kanan 1. Yesss, kiri -1.25 dan kanan -1. Tapi diresepin kacamatanya kanan kiri -1. PASTI KEBANYAKAN MAIN GADGET YA? *julid lol*

Ini saya jawab pertanyaan yang saya tanyakan ke dokternya kemarin ya!

Apa penyebab mata minus pada anak-anak?
*wow pertanyaan wawancara, mbaknya wartawan ya lol*

Ya genetik. Kata dokternya, genetik itu faktor risiko paling besar anak akan punya mata minus/plus/silindris. Katanya kalau secara genetis baik, mau baca sambil gelap atau tiduran pun nggak akan bikin mata minus karena mata yang sehat bisa menyesuaikan cahaya atau posisi tubuh. Wah, menarik ya!

Pantesaaannn dulu pas SD ada temen-temen saya yang sengaja nonton TV deket, baca dalam gelap, saking pengen pake kacamata tapi matanya tak kunjung minus. It’s a matter of luck aja ternyata. HUH. Kalau ayah ibunya nggak minus ya nggak minus. Lebih sulit minus lah paling nggak.

Genetis itu gimana sih? Apanya yang diturunkan?

Yang dimaksud genetis di sini ternyata bentuk dan ukuran mata. Baru tau banget! Jadi bola mata saya dan Bebe ukurannya lebih besar dari orang yang matanya tidak minus sehingga ya cahaya jatuhnya nggak sempurna. Saya juga tadi denger pengalaman followers di Instagram yang anaknya minus 4 di umur 3 tahun karena bawaan lahir bola matanya nggak bulet sempurna tapi cenderung lonjong.

Ada juga yang lazy eyes sehingga matanya juling. Jadi orang-orang yang matanya juling itu bisa jadi karena lazy eyes sehingga mata yang baik akan dipakai terus sementara mata yang “malas” malah jadi tidak terlatih untuk melihat dengan tepat. Jadinya sipit sebelah atau juling dan harus diterapi.

*HOLA HELO kalau kalian dokter spesialis mata dan merasa penjelasan ini aneh tolong kasih tahu yang benernya ya. Kemarin saya nggak niat nulis soalnya jadi takut penjelasannya salah. Biasanya kalau niat nulis omongan dokternya sambil saya transkrip haha.*

Apa harus pakai kacamata?

Sebaiknya pakai biar pertumbuhan syaraf matanya tetap sesuai perkembangan. Kalau nggak pake, anak nggak akan tahu cara melihat objek dengan jelas dan akan menganggap objek blur sebagai sesuatu yang wajar.

Jadi sebaiknya pakai aja terutama saat melakukan sesuatu dengan dekat seperti nonton, baca, atau tulis. Naturally, anak biasanya malah mau pake kacamata terus kalau udah tahu pakai kacamata bisa bikin penglihatan jadi lebih nyaman.

Apa tesnya akurat? Umur berapa bisa tes mata?

Kalau untuk seumuran Bebe yang udah bisa baca, periksa di spesialis mata seharusnya akurat sih. Yang susah kalau anaknya belum bisa baca, itu periksanya harus di dokter mata pediatrik alias dokter spesialis mata subspesialis anak. Mereka akan punya alat khusus, nggak dites pake huruf gituuu. Mulai bisa dites di umur 3 tahun kok. Jadi lewat 3 tahun selama belum bisa baca, cari dokter spesialis mata anak, kalau udah bisa baca bisa ke spesialis mata umum.

Saya jadi terinspirasi pengen ke dokter mata anak untuk bisa lebih spesifik aja sih. Kepo banget pengen tau alat untuk tes mata anak gimana. Minggu ini deh semoga bisa ke dokter spesialis mata anak.


Seberapa sering sih harus periksa mata?

Enam bulan sekali sampai setahun sekali. Tergantung kondisi anaknya juga, kalau 6 bulan udah ngeluh nggak enak ya nggak apa-apa ke dokter mata lagi. Tapi setahun sekali mending diperiksain aja biar yakin.

Ok moving on to my feeling *HALAH*. Sedih nggak Bebe harus pakai kacamata?

Saya nggak kaget-kaget amat sih denger ini, sedih juga nggak terlalu ya. Karena merasa ya udah sih genetis mau apa juga. Saya sendiri pakai kacamata di umur 10 (apa 11 tahun, pokoknya masih SD) dan itu baru ketauan langsung minus 2,5. :))))

Bebe sekarang umur 5 tahun minus 1, dulu saya umur 10 tahun minus 2,5 kan jadinya ya merasa ini sebuah kewajaran aja. Mungkin saya juga kalau periksa matanya di umur 5 tahun, minusnya akan sudah 1 juga kaya Bebe. Saya tanya JG “kamu sedih nggak?” dia jawab “nggak lah”.

Oh baik. Saya juga jadi nggak merasa harus sedih atau kasian.

Tapi kalau JG sedih mungkin saya jadi ngerasa bersalah ahahahahaha. Untunglah tidak. Mungkin juga karena Bebe juga anaknya cenderung kalem dan nggak clumsy ya jadi sayanya nggak khawatir berlebihan. Dia pasti akan baik-baik aja meski harus pakai kacamata.

Si Bebe juga malah happy dong ya ampun bocyaahhhh. Dia senang sekali karena dia merasa tidak left out lagi dan bisa kompakan pakai kacamata bersama kami bertiga.

Dan terima kasih yang udah message banyak banget di Instagram. Yang cerita kalau anak/ponakan/sodara mereka juga masih kecil udah pakai kacamata dengan berbagai kondisi. Saya jadi ngerasa ada temennya. Jadi pengingat untuk diri sendiri biar nggak judgmental pada anak yang pakai kacamata karena monmaap nih si Bebe nonton weekend doang juga kalau minus mah minus aja.

Jadi demikian pengalaman periksa mata anak bersama Bebe. Nanti abis dari dokter spesialis mata anak saya update di blogpost berikutnya ok!

-ast-




Bebe 5 Tahun 2 Bulan

on
Monday, August 12, 2019
Wow usia yang sangat nanggung untuk update milestone ya!



Tapi pengen banget nulis karena lewat usia 5 tahun, banyak banget yang terjadi. Baru ada di titik ihhh enak banget punya anak kalau anaknya langsung 5 tahun kaya gini hahahaha.

Padahal mungkin beda cerita ya kalau saya adopsi anak umur 5 tahun. Karena saya baru ngeliat nih, oh Bebe kaya gini tuh karena dari kecil memang dibiasakan seperti ini. Ada habit, apresiasi, disiplin, dan hal-hal lain yang memang kami tanamkan sejak kecil lalu kerasa sekarang bedanya saat dia udah 100% punya keinginan sendiri.

Dari taro sepatu di rak sampai beresin mainan. Kalau numpahin sesuatu, nggak perlu disuruh lap aja dia langsung lap sendiri. Pakai strap car seat aja udah sendiri. Selalu disiplin pada hal-hal seperti sikat gigi, minta maaf, minta tolong, tolak plastik, apalah banyak lagi. Hal-hal yang dulu rasanya kita “ngajarin” dia, sekarang udah dia lakuin sendiri dengan sukarela.

IBU TERHARU LOL.

Nah, selain sunat, apalagi milestone Bebe di batas usia balitanya ini?

Bisa baca

Kata orang “udahhh nanti juga bisa sendiri” gitu. Terus tau-tau bener dong huhuhuhuhuu. Di sekolah, belajar bacanya nggak kaya kita dulu dikenalin huruf lalu disuruh eja ya. Macem-macem deh metodenya, pake matching flash card, disuruh menjahit biar tangannya lemes untuk nulis, dll.

Yang ajaib adalah suatu malam, abis mandi, dia bilang mau baca. TERUS BISAAAA. Ibu heboh dong video-video. Abis itu pake pesan “ibu, jangan bilang miss ya, it’s a secret”. Muka ibu -_________- karena suudzon dih pasti biar di sekolah nggak disuruh baca gitu.

Pas banget minggu itu adalah bagi rapot 3 bulanan di sekolah. Ketemu dong sama missnya, dengan hati-hati takut Bebe denger saya bilang miss “miss, Xylo itu udah bisa baca lho tapi katanya nggak boleh bilang miss”. APA JAWABAN GURUNYA?

“Udah lama kok bu, bisanya. Di sini baca terus kok.”

IH BEBE IH MAUNYA APA SIH. :(

(Baca: Bebe Belajar Baca

Cium

Waktu umur 4 tahun, Bebe pernah saya tanya: Mau cium ibu sampai umur berapa? Karena umurnya 4, dia jawab asal “40 tahun!”. Terus saya ceritain juga, tau nggak sih anak-anak SD sama SMP gitu biasanya suka nggak mau dicium ibunya lagi. Bebe dengan yakin 100% jawab “AKU MAU KOKKKK!”.

Setahun kemudian. UDAH NGGAK MAU DONG. :((((

Bebe: “Aku tuh malu ibu, kalau dicium di depan temen-temen”

Ibu: “Kenapa malu? Memang kamu dibilang baby atau apa sama temen-temen?”

Bebe: “Nggak sih, tapi aku malu aja”

Ibu: “Kalau ibu cium appa depan temen-temen kamu malu nggak?”

Bebe: “Nggak. Asal jangan cium aku”



WEH, TEGAS. Dicium di depan umum hingga usia 40 tahun itu jadi harapan belaka ternyata lol.

Mau makan sayur

Kalian yang bilang ibu bapaknya harus makan sayur juga lebih baik diem aja karena 5 tahun saya dan JG makan sayur terus depan dia, dia teguh pendirian kok kalau dia nggak mau makan sayur.

Tiba-tiba di umur 5 tahun ini jadi mau aja gitu makan sayur? Apa yang terjadi? Apa dia dihipnotis?

Sampai bilang “ibu liat deh di cctv, aku tuh makan sayurnya habis terus lho sekarang”. Mejik. Ya ibu nggak liat di cctv juga sih pada akhirnya karena mau liat juga manalah keliatan itu piring isinya sayur apa bukan. Akhirnya ibu bilang “ah nggak perlulah ibu liat cctv, kalau kamu bilang sayurmu habis aku percaya kok”.


Padahal terheran-heran apakah selama ini dia suka sayur tapi termakan ego sendiri yang selalu bilang “aku nggak suka sayur?” lol.

Bahasa Inggris udah lancar

LANCAR BANGET ALHAMDULILLAH! Ada sedikit kekhawatiran sebetulnya karena dia kan nggak dibiasakan dari bayi banget. Baru mulai di umur 3 tahunan gitu kan, saya mikir duh bakal bisa nggak ya dia karena katanya kan harus dari bayi biar cepet bisa. Taunya bisa-bisa aja kokkk.

Cuma dia emang nggak mau ngomong lamaaa banget. Ngambek-ngambek terus lamaaaa banget. Sekarang udah nggak ngambek lagi karena merasa bisa.

Lancar sampai satu kalimat utuh, ngobrol malem sebelum tidur full pake bahasa Inggris juga. Main tebak-tebakan pakai bahasa Inggris bisa. Udah mau ngobrol bahasa Inggris sama orang lain. Seneng bangeeettt. Bebe tipenya gitu ternyata, kalau merasa belum bisa dia berusaha dulu sampai agak-agak bisa. Baru deh mau coba.

Karena kan awalnya mau masukin dia TK lain tuh, nggak akan TK di daycare. Pertimbangannya karena daycare bahasa Indonesia, kami pengen TK bahasa Inggris karena SD dia nanti akan full Inggris (nggak bilingual). Tapi nggak rela juga kehilangan Rp 17juta untuk uang muka TK yang hanya 2 tahun. Akhirnya kami bertahan di daycare tapi di rumah biasain pakai bahasa Inggris.

IT WORKS. Yuk, kalian yang mau anaknya lancar Inggris, dibiasain di rumah cusss!

(Baca: Bebe dan Bahasa Inggris)

Nginep sendiri

Ini momen terharu dan disadarkan ih anakku udah besar. ENAK YA BISA DISURUH NGINEP LOL. Hari Jumat itu kami ke Lotte, eh nggak sengaja ketemu adik saya dan suaminya. Terus Bebe bilang mau nginep dong!

Ya udah sana nginep. Bermodal piyama bekas tidur siang di daycare, bye aja gitu kami berdua pulang ke rumah. Buat kalian yang pakai nanny atau satu kota sama orangtua, mertua, atau saudara lain yang akrab, ini pasti hal biasa. Seperti saya saat kecil yang emang udah suka nginep di rumah nenek sejak balita.

Kalau Bebe (dan mungkin anak yang di daycare sejak bayi), kami nggak pernah banget berpisah sama Bebe. Kecuali saya liburan atau liputan hahahaha. Karena Bebe ngerasa asing gitu kalau nggak tidur di rumah, jadi emang digembol ke mana-mana.

Sukses lho. Dia senang sekali dan malah nagih-nagih kapan nginep lagi. Seneng aja sih ibu dan appa, mau nonton konser September nanti hahahaha. Di Bandung doang padahal tapi pasti sampai tengah malem kan jadi yah, bersyukur banget dia udah bisa tidur tanpa ibu dan appa.

APALAGI YA. Ingetnya baru segini doang. Doanya masih sama: Semoga Bebe keterima SD incaran ya!

-ast-




Kenapa Ortu Zaman Dulu Anaknya Banyak

on
Monday, August 5, 2019
Kemarin, di Instagramnya mba Windi ada yang komen kaya gini (ini saya copas):

Mb klo pertimbangan nya biaya okelah sudah banyak jg blogger atau selebgram yg bahas. Tapi kalau data pertimbangan apa aja slain keuangan knp nambah anak orgtua jaman kita dlu, belum ada datanya sih ini. Penasaran. Mgkn bs dikumpulkan datanya via story mba, knp orgtua jaman dlu anaknya lebih dari 1 (selain pertimbangan finansial). Terimakasih mb windi.

Waktu baca pertama kali sebenernya rolling eyes banget karena ya Tuhanku kenapakah kepo sama orang mau anaknya berapa? Nggak ada orang yang sekepo itu sampai mau riset kenapa orang zaman dulu punya anak banyak. Terus saya juga kesel karena KENAPA ATUH HARUS SAMA KAYA ORTU ZAMAN DULU?


Saya nggak suka lho disama-samain sama siapapun terutama hal yang udah terjadi di masa lalu. Kesel banget kalau ada yang bilang “halah dulu juga blablabla”. YA KAN DULU, BOS.

Nggak relevan sama sekali. Jangankan sama 25 atau 50 tahun lalu saat ibu saya dan nenek saya jadi ibu, sama 10 tahun lalu aja parenting itu udah bisa beda sekali pendekatannya. Jadi move on lah, jangan mau disama-samain.

Lagian kalau orangtua zaman dulu ditanya kenapa anaknya banyak, jawabannya akan seragam dan membosankan: Banyak anak banyak rezeki.

via GIPHY

Bisa-bisanya ya sepakat padahal nggak ada socmed atau influencer yang campaign “banyak anak banyak rezeki” kan zaman dulu itu lol.

Nah, tapi setelah mati listrik hampir 6 jam diikuti dengan internet juga hilang, saya jadi bisa merumuskan jawaban dari pertanyaan kenapa orangtua zaman dulu anaknya banyak dengan lebih jernih. Iya selama mati listrik saya malah mikir coba. Sampai ditanya JG “kok bengong?” saya jawab “iya lagi mikirin orangtua zaman dulu” HAHAHAHAHA.

Mati listrik 6 jam kami ngapain aja? Makan di MM Juice. :)))) Iya random banget, padahal maunya makan Ling Ling tapi mereka nggak punya genset jadi nggak bisa buka. Kasian yaahhh. Rugi berapa coba padahal rame banget. Ya udah melipir ke sebelahnya deh, nongkrong di MM Juice yang dingin.

Lalu kami pulang, tidur siang sampai jam 5an lalu keringetan banget astaga mati gaya. Bebe sama JG main Lego sampai di luar udah gelap banget dan akhirnya kami memutuskan untuk ke mall terdekat yaitu tempat di mana semua rakyat Jaktim, Bekasi, dan Jaksel mepet Jaktim bersatu … KOKAS.

Makan Nama Sushi sambil panas banget gilaaa. AC apa adanya dari genset dipadu dengan keramaian gitu ya lepeklah. Tapi kami bertahan makan sushi karena mikirin di rumah lebih sedih lagi sih hahahaha. Saya nggak relate sama yang bilang "bisa quality time sama keluarga karena gelap" karena kasian amaaattt mau quality time tanpa gadget aja harus nunggu listriknya dimatiin PLN dulu HAHAHAHA.

Sampai rumah yay listrik udah nyala! Kembali ke masa kini!

Jadi setelah merenungi nasib mati listrik sekian kali itu, ini hasil saya berpikir (yang padahal nothing new juga idenya lol) lebih jelas aja biar pada bersyukur hidup di zaman sekarang HAHA.

Nggak ada hiburan

Sex is an instinct, cenah. Kemarin di diskusi film Dua Garis Biru, Gina S. Noer ditanya apa seks pranikah ini juga terjadi di luar Jakarta?

Kalau Jakarta kan seks pranikah dianggap anak-anaknya terlalu gaul kebarat-baratan ya alias terlalu terpengaruh budaya barat. Nah, kalau di luar Jakarta kok pada seks pranikah juga? Kok angka kehamilannya tinggi juga?

Jawabannya karena listrik di luar Jawa itu nggak stabil. Kalau listrik nggak stabil, internet apa adanya, APA LAGI COBA HIBURAN MEREKA?

Balik ke 50 tahun lalu, apalagi coba hiburan orangtua zaman dulu? Mati gaya banget nggak sih. Apalagi bagi kaum ekstrovert seperti kami-kami ini, dikasih 6 jam bengong tanpa listrik tanpa internet langsung melarikan diri ke mall. Daripada hamil? GAHAHAHAHAHAHHAHA.

Informasi sulit dicari

Ini penting banget sih. Dulu ya, keluarga saya mengalami langganan dua koran: Kompas dan Pikiran Rakyat plus langganan majalah Bobo, Gadis, dan tabloid Nova. Dan ibu saya sesekali masih beli majalah Kartini.

Yang namanya majalah atau koran, seberapa banyak sih share pengalaman orang yang bisa relate sama kita? Paling vox pop gitu kan di satu rubrik. Sisanya justru cerita public figure. Informasi harus dijemput dan susah sekali aksesnya. Informasi itu kemewahan.

Sekarang informasi bukan lagi barang mewah, malah kita yang terus menerus digempur informasi. Dari berbagi informasi inilah kita tahu bahwa anak banyak itu bukan untuk semua orang ahahahahahaha.

Zaman dulu mana tauuu. Lha ketemu ibu-ibu lain aja mentok pas posyandu atau imunisasi kan. Makanya KB harus dikampanyekan pemerintah karena kalau nggak begitu, orang cuek aja anaknya banyak padahal nggak mampu-mampu amat. (EH ADUH)

Keterbukaan informasi ini punya peran penting sih menurut saya dengan ortu-ortu millennials yang jadi mikir sekian kali untuk punya anak karena didiknya kok susah ya? Belajar parenting kok kaya nggak selesai-selesai ya? Dulu seberapa banyak sih orang belajar parenting?

Parenting by instinct juga aja kan segala-galanya padahal nggak semuanya nature loh, ada juga yang nurture and how we nurture our kids kan sebaiknya dipelajari karena memang ada teorinya, ada risetnya, ada alasan scientific di baliknya. *HALAH

(Baca: Parenting Memang Tidak Butuh Teori?)

Lanjut ke poin berikutnya.

Mental health belum jadi isu penting

Dari keterbukaan informasi kita jadi tahu cerita ibu-ibu yang stres karena anaknya banyak atau berdekatan. Lalu jadi sadar duh kayanya nggak mampu deh kaya gitu lol.

Ini bisa terjadi karena kita udah semakin sadar dengan pentingnya kesehatan mental. Baik kesehatan mental ibu maupun anaknya. Dulu mana ada yang peduli sih. Sibling rivalry yang padahal bisa jadi dendam seumur hidup aja cuma diremehkan dengan “alah namanya juga adik kakak”.

Almarhum nenek saya pernah cerita betapa capeknya punya anak banyak dengan usia yang berdekatan. Satu cerita yang saya inget, nenek harus nganter anak sekolah dengan gandeng anak kedua dan gendong anak ketiga. Capek katanya.

Bayangin nenek saya baru bisa “ngeluh” kaya gitu lebih dari 50 tahun kemudian! Dulu meski secapek apapun ya jalani aja karena nggak tau kalau itu nggak wajar, nggak tau kalau dia juga punya hak istirahat meski punya anak, nggak ngerti kalau punya anak itu artinya nggak mengabaikan diri kita sendiri sebagai individu.

Sekarang kan kita lebih baik anak sedikit tapi full quality time sama anak. Bisa kasih mereka sisi kita yang terbaik dan melakukan conscious parenting atau parenting dengan kondisi sadar 100%. Bukan sekadar “punya anak lagi aahhh” tapi “eh kalau punya anak mampu nggak ya kasih yang terbaik buat dia?”. Dan menurut aku ini kemajuan. Dunia udah sempit banget juga lagian. :))))

(Baca: Nenek)

Target hidup semakin tinggi

Dulu anak yang penting sekolah. Nggak penting di mana. Bukan apa-apa, pilihan sekolahnya juga sedikit banget kan. Sementara sekarang duh posisi menentukan prestasi banget ini alias sekolah di mana menentukan networking dan kompetisi di masa depan lho.

Dulu, nggak sedikit yang punya keluarga di mana anak pertama nggak bisa kuliah, baru anak kedua atau ketiga bisa kuliah karena kondisi keuangan keluarga yang membaik. Sebaliknya, banyak juga keluarga yang abis-abisan untuk anak pertama (atau anak laki-laki) eh pas anak bungsu, tulang punggung keluarga udah pensiun, si anak jadi nggak bisa kuliah.

Familiar dong dengan cerita semacam itu?

Ketidakmerataan pendidikan antar anak aja udah nunjukkin ketidakmampuan mengukur diri sendiri dari segi finansial. Wajar juga karena pengetahuan tentang finansial nggak sebaik sekarang.

(Baca: Kenapa Sekolah Begitu Penting)

Karena target hidup juga semakin tinggi. Dulu seberapa banyak sih orang yang cita-citanya keliling dunia bawa anak biar dia punya pengalaman di belahan dunia lain. Sekarang kan banyak yang begitu. Daripada nambah anak mending uangnya untuk beli pengalaman, katanya. :)

Sekarang wow anaknya lahir biaya kuliah udah mulai ditabung, lahir anak kedua, mulai juga nabung untuk dana pendidikan anak kedua. Ini bikin mikir banget karena ...

Dulu katanya: Banyak anak banyak rezeki

Iya rezeki udah ada yang mengatur tapi realistis juga coba . Kalau rezeki cuma bergantung kerja keras, nggak bakal ada itu orang yang rumahnya kumuh di pinggir kali atau rel kereta. Padahal kalau diukur dari kerja keras, mungkin mereka kerja lebih keras dibanding pekerja kantoran kaya kita-kita ini.

Orangtua zaman sekarang sudah lebih bisa mengukur diri. Gimana pun, nambah anak artinya nambah satu tanggung jawab perut dan pendidikan. Tanggung jawab itu ada pada orangtuanya dong. Daripada nggak yakin bisa tanggung jawab kan mending nggak nambah anak. Hahahaha.

Kurang-kurangin deh bilang banyak anak banyak rezeki karena nggak bisa masuk di semua orang. Ada yang betul rezeki lancar, jabatan naik, semua baik-baik aja setelah punya anak lagi. Tapi masih banyak juga tuh yang anaknya jadi harus pindah daycare yang lebih murah karena punya anak kedua, masih banyak yang mengeluhkan "duh mana mampu sekolah di situ, anak gue tiga", dsb dsb.

And don't start with "sehat juga rezeki" karena kasian banget anak jalanan dan anak-anak dari keluarga kurang mampu berarti rezekinya memang cuma sehat aja? :((((((

Ini nggak ada hubungannya sama bersyukur loh ya. Kita bisa kok bersyukur atas rezeki PLUS realistis soal kondisi keuangan keluarga. Malah kalau kata mba Windi, mengatur keuangan keluarga adalah bentuk tanggung jawab atas rezeki yang dilimpahkan ke kita. Couldn't agree more!

Perempuan belum berdaya

Zaman dulu banyak sekali pernikahan yang bertahan hanya karena para perempuan tidak berdaya dan tak mau jadi janda. Banyak sekali saya mendengar cerita orang-orang yang memilih bertahan di pernikahan yang tidak sehat dibanding takut hidup melarat.

Tapi di zaman sekarang, sila googling sendiri datanya, perempuan lebih berani untuk bilang cerai karena perempuan sudah berdaya. Perempuan punya suara dalam pernikahan dan kalau mereka diabaikan, ya sudah maka untuk apa pernikahan itu dipertahankan.

Ini berkaitan sekali dengan kesehatan mental. Untuk apa bertahan di pernikahan yang tidak sehat, dengan kondisi mental yang acak-acakan. Orang-orang di zaman sekarang sudah sadar benar kalau semua orang berhak bahagia, laki-laki atau perempuan.

Hasilnya, perempuan jadi semangat berkarya. Sementara kalau punya anak (atau punya anak lagi), karya itu jadi tertunda. Suka tidak suka, mau tidak mau, kita kerja lebih lama tanpa anak dong? Kalau udah ada anak kita berusaha kerja seefektif mungkin karena ada waktu yang harus dibagi. Meski emang bener sih, anak itu penyemangat terbesar!

Maka wajar kalau orang zaman dulu anaknya banyak. Nggak ada urgensi pengen berkarya gitu lho. Nggak gampang ngerasa panas sama karya-karya ibu lain di social media. Hahahaha.

(Baca tulisan tahun 2013: Perempuan Juga Punya Pilihan!)

*

Kalau dirumuskan dalam satu kalimat (yang juga membosankan karena sudah sering sekali dibahas): Tantangannya udah beda dan itu sangat wajar terjadi. Orangtua menghadapi tantangan yang beda di tiap zaman dan harus terus belajar menghadapi tantangan baru.

Ingat juga, nanti ketika kita punya cucu, nggak usah sotoy dengan merasa kita lebih pengalaman ngurus anak hanya karena kita punya anak lebih dulu. Anak kita jelas akan punya tantangan yang beda. Kalau kita udah yakin 100% dengan cara kita mendidik anak, kita juga harusnya yakin juga dong dia akan bisa mendidik cucu kita.

JAUH BENER NGOMONGINNYA CUCU LOL.

Enak juga ya kalau udah dijembrengin kaya gini. Tiap ada yang nanya kenapa nggak mau nambah anak, kasih aja link blogpost ini hahahaha. Tiap ada yang bandingin sama ortu zaman dulu, kasih juga link ini ok!

Selamat hari Senin!

-ast-




Dua Garis Biru, (Bagi Saya) Tak Cuma Film Haru

on
Thursday, July 25, 2019
[MAJOR SPOILER ALERT]


Hari itu hari Jumat, 12 Juli 2019, sudah jam 6 sore. Saya capek sekali sampai rasanya tak punya lagi energi untuk naik ojek ke rumah. Saya siap-siap pulang dan akan memesan taksi online, sampai Esti, anak kantor, mendekat dan mengajak nonton “Dua Garis Biru” yang baru tayang di hari kedua.



Saya belum melihat trailernya sama sekali, hanya tahu ini film tentang anak SMA yang hamil saat sekolah tapi langsung bilang AYO dengan hanya bermodal testimoni Ernest Prakasa yang datang saat premier dan memuji film ini. Well, saya suka semua film Ernest dan kalau dia bilang bagus maka filmnya sudah pasti bagus.

Little did I know that I would walk home after the movie with bloating eyes and a massive headache. Tears raced down my face until the Apple watch sent 2 notifications for me to breathe throughout the movie, no kidding.

Setelah nonton, yang saya lakukan adalah membuat sebanyak mungkin orang di sekitar saya nonton. Dimulai dari JG yang saya intilin terus sepanjang hari sepanjang malam dan maksa dia dengerin cerita saya soal Dua Garis Biru. Berhasil, detik dia bilang ok langsung beli lagi tiketnya dan nonton lagi deh berdua hahahaha. Seminggu setelahnya, di rumah playlistnya OST film ini terus. Berdua nggak bisa move on sampai di chat di mana pun ngomonginnya Dara dan Bima.

T__________T

Anyway the movie is so … depressing. Kalau nggak dikasih bumbu humor dikit (aka Asri Welas) bisa gila sih keluar dari bioskop.

T__________T

Gini, untuk urusan nangis-nangis di bioskop mah saya emang cemen. Nonton Keluarga Cemara nangis, nonton Avengers: Endgame apalagi. Tapi biasanya nangis karena EMPATI. Nangis karena ih sedih banget sih hidup DIA. Atau kalau Endgame sih sedih karena sori banget Capt, udah bertahun-tahun kita hidup bersama lho kok kamu begitu? KESEL. MAKA NANGIS.

Kalau “Dua Garis Biru” nangisnya karena terlalu relatable. It might be you, that could be me, it could be all of us. Hal sederhana yang sebetulnya mungkin pernah terjadi pada kakak kita, tetangga, sahabat, bahkan diri kita sendiri. Bukan tidak mungkin terjadi pada anak-anak kita juga.

Dulu sex education versi ibu saya selalu “kalau hamil duluan, perempuan yang akan paling rugi!” plus omelan tiap ada artis nikah siri “nikah siri itu perempuan yang akan paling rugi”.

Dulu saya mikir “halah rugi karena nggak dapet harta gono-gini doang kalau nikah siri”. Sebuah pemikiran sempit karena di usia 30 tahun ini, dengan banyak teman bercerai, saya baru tahu kalau cerai dan berbagi harta gono-gini adalah kemewahan. Tidak semua orang rela membagi dua harta. Malah ada yang anak saja tidak mau dibagi: Kamu saja yang urus, kita kan cerai maka bye kamu dan anak-anakku. :))))

*

Oke, seperti biasa kalau bahas film versi saya, kita akan bahas per karakter biar puaassss.

Di film ini kita bisa lihat reaksi lingkungan saat ada satu anak hamil sebelum waktunya. Dulu saya pikir “halah anaknya aja yang bego, bandel sih makanya hamil”. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Ada orangtua yang merasa gagal, ada kakak yang kecewa, ada adik yang bingung, ada tetangga yang bicara di depan, ada yang bicara di belakang, ada konflik batin aborsi, bagaimana sekolah dan teman-teman memperlakukan, dan ada masa depan yang dipertaruhkan.

Hamil saat belum menikah, bukan sekadar omelan “bikin malu keluarga”. Dan jelas bukan sekadar jargon “married by accident”, tiga kata itu terlalu sederhana untuk menggambarkan situasi semacam ini. Pernikahan jadi porsi sangat kecil dari semua konflik yang ada, “hanya” karena satu perempuan hamil di usia terlalu muda. Nikah dengan berantem-berantem kecil juga cuma pemanis karena masalah di depan mata jauh lebih besar daripada suami main game terus.



Tak heran, film ini lewat riset panjang selama 9 tahun! Gina S Noer mengubur skenario ini dulu setelah pitching pada produser Chand Parwez Servia. Ia berusaha mencari sutradara lain, merasakan sendiri dulu jadi orangtua dengan dua anak, bahkan sempat ikut kelas bersama Najeela Shihab sampai akhirnya setuju untuk menyutradari ini sendiri karena Chand Parwez keukeuh harus dia sutradaranya. Sebagai perempuan dan ibu, ia sukses menulis dan merepresentasikan pesan film ini dengan gamblang.

Keluarga Bima

Beberapa review film ini yang saya baca, menyebutkan (dan memuji) kesenjangan sosial di film ini yang tampak begitu nyata. Buat saya, kesenjangan itu dibuat tidak mengada-ngada karena bukan versi FTV anak kaya raya dengan pos security di rumah vs keluarga security itu sendiri. Nope. Nggak segitunya.

Keluarga Bima digambarkan dari kalangan menengah ke bawah, rumahnya di pinggir kali tapi tidak sekumuh itu. Bapaknya pensiunan (saya berasumsi pensiunan PNS) sehingga untuk menambah penghasilan pasca pensiun, ibunya membuka warung gado-gado di rumah. Tapi mereka tidak digambarkan sangat sangat miskin. PAS. Kita pasti punya teman dengan kondisi ekonomi seperti ini. Bisa kuliah tapi nggak bisa kalau harus swasta, apalagi di luar kota. Bisa makan layak, tapi kalau mobil ya tidak terbeli.



Pakaian yang mereka pakai rapi dan selayak ibu-ibu kelas menengah ke bawah. Tidak dibuat kumuh apalagi lusuh. Rapi dan sopan. Mampu naik taksi online ke mana-mana. Mampu berbicara dan membela diri tanpa tunduk pada orang yang lebih punya kuasa.

Saya terkesan dengan pakaian Cut Mini (ibu Bima) dan Rachel Amanda (kakak Bima) yang seperti teman kita dan ibunya sehari-hari! Rachel tidak berjilbab tapi stelan jilbab dan bajunya di film ini akrab sekali dengan keseharian saya. Rachel bisa jadi teman SMA kita, teman kita di kantor, atau pacarnya teman kita. Sebuah peran yang dekat sekali rasanya.

Keluarga Bima melewati masalah ini dengan diskusi sebagai keluarga. Meski kadang panas tapi mereka berdiskusi baik buruk segala keputusan di depan Bima. Bima dilibatkan, kakak Bima juga ditanya pendapatnya, bahkan si calon bayi saja diperhitungkan dalam tiap keputusan. Mereka berhasil melewati konflik ini sebagai satu keluarga utuh.

Keluarga Dara

Seperti Bima, keluarga Dara digambarkan lebih kaya tapi tidak sekaya itu juga. Iya betul rumahnya digambarkan punya bath tub dan kolam renang, tapi well, mereka kelas menengah juga. Menengah ke atas. :)

Restoran ayahnya diceritakan sering sepi, ibunya working class biasa. Corporate (or agency lol) slave yang keluar kantor sebentar saja ditelepon terus-terusan (semacam JG HAHA). Pulangnya hampir selalu malam, tasnya pun bukan tas desainer mahal. Tidak pernah ganti pula.

Plus dari pembicaraan Dara soal beasiswa mereka ya hidup berkecukupan. Teman-teman saya yang betul punya uang sih saat bicara kuliah di luar negeri YA BAYAR SENDIRI. Pembicaraan beasiswa biasanya hanya terjadi pada kaum kelas menengah yang mampu sih bayar biaya hidup di sana, tapi tidak bisa kalau harus juga membayar kuliah.

Adik Dara juga selayak anak-anak Jakarta lain di lingkungan saya. Lesnya cuma gymnastic dan berenang di akhir pekan. Ingat, kalau keluarga kalangan atas kan lesnya berkuda dengan kuda milik sendiri pula lol.

Yang paling berkesan adalah bagaimana Dara dan ibunya (Lulu Tobing) satu rumah tapi berjauhan. Satu rumah, serasa akrab, cie-ciein pacar, TAPI TIDAK. Seperti dekat tapi sebetulnya ia tidak tahu apa-apa soal hidup Dara kecuali peduli pada masa depannya. Tipikal ibu-ibu yang well-planned, mikirin sekolah dan les anak-anak berakhir dengan “MAMA PIKIR KAMU BISA MAMA ANDALKAN!”. WOW CHILL, SHE’S ONLY 17!

Dibanding keluarga Bima, keluarga Dara berjalan mengambil keputusan sendiri-sendiri. Mama Dara merasa berhak mengambil keputusan mencari orangtua adopsi, bahkan tanpa persetujuan Dara. Semua berjalan masing-masing, antara papa dan mama Dara saja tidak pernah satu suara. Perkara beli baju bayi saja harus bertengkar dulu wow.

Dua keluarga ini mewakili keluarga di dunia nyata. Memang ada jenis keluarga seperti itu kan?

Dara

Anak pintar, cantik, jatuh cinta karena Bima gemesin banget meskipun bodoh nggak ada dua. :)))) Baikan setelah ngambek cuma karena ditutupin kepalanya takut kena matahari itu khas anak SMA banget. BEEN THERE LOL.



Tiap Dara berantem sama mamanya saya flashback banget pas SMA emang kerjaan berantem terus sama ibu hahahahahaha.

Dan somehow saya ngertiiii banget kenapa dia labil. Mau aborsi, lalu tidak mau aborsi. Mau kasih anak ke Tante Lia, lalu tidak mau kasih anak ke Tante Lia. Mau cerai lalu tidak mau cerai. Yang ia tau, mau dengan pasti hanya ke Korea. Anak umur segitu diberi pilihan untuk menentukan hidup ya memang susah. :((((



Aktingnya Zara no comment sih since dia Sunda banget gitu jadi menurut saya natural-natural aja (KATANYA NO COMMENT LOL). Zara pas banget jadi Dara karena kita ditunjukkan bahwa anak lugu dan juara kelas, bukan tidak mungkin terpeleset kesalahan.

Adegan dheg Dara itu saat dr. Fiza Hatta bertanya “sudah diajarkan di sekolah?” Dan mukanya bingung, menggeleng. Kaya pengen bilang: Dok, kalau diajari di sekolah saya pasti nggak hamil. T_________T

Mama Dara

WAH LULU TOBING SIH GIMANA YAAAA. Bagussss banget, tek-tokan ketus berantemnya sama Dara kaya beneran. HUHU.

Mama: “Jadi orangtua itu selamanya!”

Dara: “Oya?! Terus kenapa kemarin mama ninggalin aku?!”

Saya: *CRYYYYY*

Scene ter-cry karena itu skenario saya dan JG sejak Bebe masih di perut. Kalau sampai dia hamilin anak orang lain dan anak itu diusir ibunya, maka anak itu ya akan kita bawa ke rumahlah gimana lagi. Kami punya skenario detail sekali (yang beda sama film) tapi begitu dihadapkan dalam bentuk film, PARAH SIH NANGIS. T_________T

Ibu Bima: “Bima sedang belajar jadi ayah”

Mama Dara: “ANAK SAYA SUDAH JADI IBU! DARA SUDAH JADI IBU SEJAK DIA HAMIL!”

Saya: *NANGIS BANJIR*

T___________T



Lulu Tobing jadi sosok ibu yang merasa keluarganya sudah sempurna karena ia atur sedetail mungkin. Ia merasa peduli masa depan, merasa peduli pacar anaknya lalu nanya jadiannya kapan padahal ternyata tidak sepeduli itu. Merasa mengerti anaknya maunya apa padahal nanya dan ngajak diskusi aja nggak pernah. Merasa paling tahu, merasa paling jadi orang dewasa, padahal seperti yang dia bilang sendiri “SAYA AJA GAGAL JADI ORANGTUA!”

Well, people, please don’t be like mama Dara ok!

Tante Lia dan Om Adi

Sejujurnya saya setuju sih sama keputusan mama Dara untuk ngasihin anaknya ke Tante Lia dan Om Adi. TAPI YA DISKUSI DULU DONG. Suruh Dara bikin pros cons anak dikasih ke Tante Lia dan Om Adi dibanding dikasih ke Bima. Suruh Dara diskusi sama Bima dan Bima harus bikin pros cons juga. Daripada itu bayi diurus di kampung kumuh gitu sorry to say MAU DIKASIH MAKAN APA? MAU SEKOLAH DI MANA? Masa depan si anak gimana?



Tante Lia dan Om Adi juga plis jangan rese. Ngana nggak punya anak, ada yang mau ngasih ya nggak usah ngaku-ngaku itu anak sendiri gila apa gimana. Biar aja misal manggil Tante Lia - Om Adi dengan ayah ibu, sementara si anak manggil Bima Dara dengan Baba - Bunda. Kenapa sih ngatur anak yang belum lahir hih. Anak sendiri juga bukan udah ngatur.

KESEL BANGET SAMA PERAN MEREKA INI. Ngingetin banget kalau ini film huh.

Bima

ANGGA ALDI YUNANDA INI SAPOSEEEE. Pertama kali liat mukanya ya di film Dua Garis Biru. Begitu tau dia anak sinetron dan FTV saya rada meremehkan karena meh anak TV (aku kan anak YouTube, YouTube, lebih dari TV boom! LOL) Padahal aktingnya gila bagus banget! Dia diem aja ekspresinya bisa marah, sedih, bingung, gitu sih. Nggak jomplang sama sekali sama Cut Mini dan Lulu Tobing.



Bima selayak crush waktu SMA yang rasanya akan kita perjuangkan selamanya. Yang dia acak-acak rambut aja kita kepikirannya seminggu. And by “selamanya”, I mean 3 tahun mentok deh selama SMA doang HAHAHAHAHA.

Yang nyesss dari peran Bima adalah, betapa Dara merasa lebih dekat pada Bima dibanding pada orangtuanya. Jadi ketika ditanya bertubi-tubi “kamu dipaksa (have sex) kan sama dia?!” Alih-alih bilang “iya” agar orangtuanya tidak tambah marah, Dara malah bilang “aku sayang sama Bima” karena memang SAYANG HUHU.

Sesayang itu lho Bima sama Dara. Ini tipe-tipe cowok yang akan bener-bener gila dan butuh didampingi kalau diputusin sama ceweknya. Tipe-tipe yang akan mengurung diri di kamar berhari-hari karena sekalinya sayang ya sayang banget, sekalinya bye ya merasa hidup runtuh.



Lalu bajunya natural banget! Dekil kaya anak SMA dari perkampungan yang nongkrong di pinggir kali. Kalau dia nongkrong beneran sama bang siapa tuh yang dia tanya tempat aborsi, itu kaya beneran banget. Nggak mengada-ngada sama sekali. Jaket sampai celananya juga wajar dan hari-hari banget huhu sedetail ituuuu film ini dipikirnnya.

Ibu Bima

Aktingnya sih jangan ditanya. Cut Mini pasti melewati riset sangat panjang karena jangankan cara dia bicara dan marah ya, adegan duduk sila dan menyusun kue dalam kotak aja bikin beberapa teman saya haru dan terkesan karena ya seperti terlalu nyata. Nggak semua orang punya ruang makan besar yang bisa menampung kotak kue sebanyak itu jadi mau nggak mau ya di ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga. Hal kecil, sederhana, namun jadi bermakna.

Semua setuju Cut Mini steals the show ya! Kocak tapi sedih, saya ngerti banget kenapa reaksi dai begitu, nggak lebay sama sekali. Adegan ter-cry saat abis solat dia bilang “Kita gagal didik anak laki kita”.



T__________T

Padahal pas mama Dara bilang dia gagal jadi orangtua, saya rasanya pengen “IYA EMANG LU GAGAL” karena kondisinya Dara dan mamanya nggak akrab amat kan. Tapi pas ibu Bima yang ngomong kaya nyesss gitu. Karena dia bingung apa yang salah selama ini? Rasanya Bima nggak kurang apa-apa, rasanya kasih sayang cukup, rasanya curhat-curhat aja sampai pacaran sama siapa juga bapak tau. KOK BISA GINIII? T__________T

Judes-judes tapi sayang keluarga HUHU. Auk ah mau ngomong apa lagi soal Cut Mini. TERBAIKKKK!



Papa Dara dan Bapak Bima

Ini saya gabungin karena keduanya unik dengan style-nya masing-masing. Papa Dara papa urban yang sebetulnya mau lho diskusi sama Dara, cuma mamanya bossy banget dan ngambil keputusan untuk semua orang.

Sementara bapak Bima, pak RT yang dihormati, bijaksana juga mengambil keputusan selalu melibatkan istri DAN KEDUA anaknya. Kita semua kenal dong dengan kedua tipe bapak kaya gini?

Saya respek dan sayang sih sama mereka berdua. Somehow, papa Dara tuh bisa lebih paham Bima dan Dara dibanding mama Dara. Manis banget dia nyuruh Bima berhenti kerja biar fokus sekolah dan muji kerjanya Bima. Manis banget juga waktu dia nawarin anter Dara beli baju bayi. T___________T



Bapak Bima juga, manis banget bapak yang mau dengerin curhat anaknya, dan tetep terima Bima apa adanya. Nangisssss.

Btw kesel deh di akhir trailer itu ada adegan Dwi Sasono ngomong “Dara kayanya ragu, coba kamu ngomong sama dia, ini demi anak kamu juga” TAPI DI FILMNYA NGGAK ADA HELP! Gemes banget pengen nonton yang versi unedited. Katanya editingnya dari 200 menit cuma jadi 120 menit huhu aku mau nonton yang 80 menitnya. :(((

Mbak Dewi

MBAK DEWIIII KESAYANGAN KITA SEMUA. Natural amat sih jadi kakak. Pake baju bahan satin terus pake manset itu duh mbak Dewi adalah perempuan Indonesia berjilbab pada umumnya. 



Mbak Dewi jadi pengingat bahwa kalau kamu hamilin anak orang, ada orang yang juga ikutan pusing karena harus menjelaskan pada keluarga calon suaminya. Urusannya bukan cuma masalahmu doang tapi jadi masalah banyak orang.

Si anak pertama yang keras kepala tapi sayang sama adiknya. Senangnya adalah, bapak Bima selalu ingin melibatkan mbak Dewi dalam semua keputusan keluarga. Familiar? :)))

Puput



Puput (Maisha Kanna) ini sosok penting karena sepanjang film kita digiring untuk menganggap Dara masih terlalu muda untuk jadi ibu. Tapi sosok Puput mengingatkan kita, Dara memang masih kecil, tapi ia seharusnya bisa jadi sosok kakak bagi Puput. Gimana sih jelasinnya ah. Yang jelas tiap Puput muncul saya seperti diingatkan bahwa pantas Dara dianggap sebagai kakak yang dewasa bermasa depan cerah ceria karena si mama membandingkannya dengan Puput yang masih harus diantar les ini itu.

Maisha juga aktingnya makin bagussss dibanding waktu jadi Sam di Kulari Ke Pantai. Pas banget jadi kakak adik sama Zara.

Scene UKS

Ini scene paling diomongin karena one shot ya, pake latihan segala dan video latihannya sampai saya lihat berulang-ulang. Dalam satu scene kita dikasih tahu kalau Bima dan Dara memang jatuh cinta, ada dua pasang orangtua yang merasa gagal, dan betapa orangtua perempuan hampir pasti selalu menyalahkan anak laki-laki yang menghamili anaknya.

Kaya sering banget kan denger ayah-ayah atau kakak laki-laki yang “siap bunuh” siapapun yang ngehamilin anak/adik perempuan mereka. Yeee, padahal kalau nggak diperkosa dan having sex with consent sih yang salah pasti salah berdua dong ya. Apalagi emang sejatuh cinta itu. Adil itu memang susah.



Di scene itu juga kita diingatkan kalau menghamili anak orang lain, jalan keluarnya nggak sesederhana jawaban: “Saya mau tanggung jawab”. Karena ketika dibilang “Mulai sekarang!” Lemes udah. Tanggung jawab yang dimaksud itu kaya apa? Menafkahi? Bawa pulang? Beliin kerang? :))))

Mewek maksimal ketika Cut Mini bilang “ANAK KITA! ANAK KITA!!!” saking orangtua Dara menyudutkan Bima dengan bilang “anak kalian” yaitu Bima yang nakal dan bikin Dara jadi nakal.

*

DEMIKIAN RUMPI TENTANG DUA GARIS BIRU. Sebetulnya kalau di dunia nyata, rambling saya masih bisa panjang tapi nulisnya pegel ahhhh.

List pesan bagi remaja setelah nonton film ini selain sex education tentang kondisi fisik yang belum siap hamil:
- Sekolah belum tentu akan berpihak padamu. Sekolah nggak akan encourage kamu untuk tetap sekolah meski nilai kamu sangat sangat bagus :((((
- Kalau kamu perempuan, cita-cita kamu memang masih bisa dikejar meski hamil. Tapi bahkan kamu belum tentu bisa ketemu anakmu lagi. ANAKMU SENDIRI. Anak yang nggak bisa kamu punya lagi di masa depan.
- Kalau kamu laki-laki, lihat apa yang kamu lakukan sama anak dan keluarga orang lain. Sebaik-baiknya kamu, segimana pun kamu bilang kamu akan tanggung jawab, ada hal-hal di luar kuasamu dan satu keluarga hancur karena kamu. Kamu lho yang harus tandatangan operasi karena yang operasi ISTRIMU. Kalau nggak nikah yang akan tandatangan persetujuan operasi kan akan orangtuanya.
- Kepikiran nggak kalau itu anak, nggak salah apa-apa akan jadi oh so called anak haram T_______T

Buat orangtua, banyak-banyakin ngobrol sama anak. Jangan judgmental, jangan menganggap mereka tidak tahu apa-apa tapi jangan pula menganggap mereka tahu segalanya. Sebaliknya, jangan menganggap kita sudah tahu semuanya karena TIDAK. Sex education for all!

sukaaaa banget sama peran Pong ini karena misterius :')
-ast-




Mempertanyakan Kebahagiaan

on
Monday, July 15, 2019
Sudah beberapa bulan ini saya memikirkan sekali arti kata bahagia. Apa itu bahagia? Apa bahagia itu cuma sebuah momen? Atau sebuah keadaan yang seharusnya berkelanjutan?



Tulisan ini sudah teronggok tepat tiga minggu lamanya karena saya mulai menulis ini saat Eugene “The Try Guys” merilis video coming out serta dokumenter di balik layarnya. Di video berdurasi 27 menit itu Eugene yang kini berusia 33 tahun bercerita tentang hidupnya, ia mengaku sejak kecil tak pernah bahagia.

“You know the saddest thing is? I found this letter, people write letter when you’re in middle school, your teacher will make you write a letter to your future self, I found it like a few years ago the only thing i wrote to myself: Are you finally happy?” ujar Eugene.

Di saat yang sama saya seperti ditanya juga diri saya sendiri: Are you? Are you happy?”

“You know, I don’t, I don’t think I am. Am I ever finally be happy? Maybe the answer is that no one ever finally happy,” lanjutnya.

NO ONE EVER FINALLY HAPPY.

That’s dark. Itu komentar videografer Eugene yang saya amini. Sampai ia bertanya lanjut pada Eugene: “Are you happier now?”

Well, I do. I, myself, not Eugene.

Sejak saat itu saya jadi memikirkan banyak hal soal kebahagiaan, soal uang, soal tujuan hidup di dunia (bukan di akhirat, simpan untuk diri kalian sendiri ya soal itu). Kita cuma tahu kita bahagia setelah lebih atau kurang bahagia. HAPPIER is the keyword.

Bahagia yang “di tengah-tengah” bukan sebuah kondisi yang bisa dirasakan saat itu juga. Bahagia hanya bisa dirasakan setelah atau sebelum kejadian tertentu yang jadi patokan: Ini lebih bahagia atau lebih tidak bahagia?

If that makes any sense.

Bahagia adalah kondisi yang terasa saat kita susah ATAU justru senang. Bahagia bisa dirasakan karena kita punya pembanding “oh aku lebih bahagia dari 3 tahun lalu karena dulu hidup lebih sulit blablabla” atau justru “wah, aku lagi nggak bahagia padahal rasanya kemarin seneng banget kok hari ini down banget”. Padahal kemarin ya B aja nggak ngerasa sebahagia itu juga. Cuma seneng, titik.

GET IT?

Kalau ditanya lebih bahagia sekarang atau saat SMA? Saya jawab sekarang. Tapi kalau ditanya lebih bahagia sekarang atau waktu kuliah? Saya pilih waktu kuliah. Kalau hari ini bahagia nggak?

Ummm, baru akan ketahuan besok ahahahaha. Hari ini lebih tidak bahagia dari kemarin karena kemarin weekend, tapi siapa tahu hari ini sebetulnya lebih bahagia dari besok. Entahlah. Baru akan ketahuan besok. :)))

Meski kebahagiaan itu bahkan sulit diukur oleh diri sendiri, banyak orang yang merasa mampu mengukur kadar kebahagiaan orang lain.

“Kayanya kamu nggak happy deh”

“Kamu yakin kamu bahagia?”

Or worst.

“Kamu yakin dia bahagia?”


Well, I am. I feel that I am. Kenapa happiness diukur oleh orang lain atas apa yang mereka lihat oleh mata mereka sendiri? Dan bagaimana kalau ukuran orang lain itu jadi begitu penting untuk hidup kita?

Kita jadi merasa tidak bahagia karena dipertanyakan orang lain. Padahal sebelumnya merasa baik-baik saja.

Ini juga yang saya rasakan setelah kampanye kesehatan mental digaungkan dan jadi begitu penting. Love yourself. Self love is important.

Dari situ saya jadi lebih sadar pada kondisi kejiwaan diri, pada kondisi emosi sehari-hari dan jadinya sering merasa tidak baik-baik saja. Perasaan yang dulu bisa diabaikan karena tetap harus pergi kerja dan beraktivitas, jadi terasa lebih peka.

Padahal kalau sudah peka lalu apa lagi? Tak bisa juga kan liburan terus menerus? Tidak bisa juga kan dadakan cuti untuk mengerjakan hobi karena sedang merasa butuh pause?

Sekali lagi saya jadi merasa tidak baik-baik saja karena sering dipertanyakan orang lain. Padahal sebelumnya, saya merasa baik-baik saja.

Belum lagi kampanye-kampanye lain. Hiruk pikuk. Semakin banyak tahu semakin banyak yang harus dipikirkan. Pantas banyak orang yang lebih senang tidak tahu apa-apa. Ignorance is bliss. If you don’t know about something, you do not worry about it.

Di sisi lain saya juga merasa perlu terus level up. Naik kelas. Caranya gimana lagi kalau tidak dengan menambah wawasan. Gregetan sendiri jadinya. Mau tau banyak berakhir mikir banyak? Atau mau tau sedikit dan nggak punya pikiran?

via GIPHY

Kembali ke soal kebahagiaan, kalau kata Will Smith:

“We cracked the hell up. We started talking about [how] we came into this fake romantic concept that somehow when we got married that we would become one. And, what we realized is that we were two completely separate people on two completely separate individual journeys and that we were choosing to walk our separate journeys together. But her happiness was her responsibility and my happiness was my responsibility.”

Kita tidak perlu merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain meski orang itu adalah pasangan kita sendiri. Marriage is not a counseling room! Istri bukan terapis untuk suami, pun sebaliknya. Kita harus menemukan kebahagiaan masing-masing baru bisa hidup berdua dengan bahagia. Itu pun kalau definisi kebahagiaannya sudah sama-sama ketemu. :)))

Karena meski kita menikah, kita tetap sendirian di dalam pikiran. Konsep sendirian dalam pikiran ini mengerikan sekali buat saya. Bicara sendiri, menjawab sendiri, tidak akan ada yang pernah tahu rasanya berada di pikiran orang lain.

(Pernah saya tulis lebih lengkap di sini: Sendirian di Dalam Pikiran)

The actual question is, how to be constantly happy?

Kalau browsing ini jawabannya banyak. Seperti dengan bersyukur, dengan tak membandingkan hidup dengan orang lain, dengan merasa selalu dicintai, dengan lebih banyak tertawa, lebih banyak tersenyum pada orang asing, dan rentetan tips lainnya.

Ya, bisa dilakukan kalau sedang tidak ada masalah lain sementara hidup kan selalu ada masalah ya. Tinggal kadar masalahnya saja, berat banget sampai bikin nggak bahagia? Atau biasa-biasa saja sampai bisa diabaikan?

Seperti juga bahagia, uang pun bernasib sama.

Money can’t buy happiness hanya benar-benar bisa dirasakan oleh orang yang sudah pernah punya banyak sekali uang lalu merasa tidak bahagia. Untuk orang yang belum pernah merasakan punya uang berlebih, kebahagiaan paling sederhana memang bisa diukur dengan uang.

Catat, mengukur kebahagiaan dengan uang juga tidak apa-apa, lho. Merasa senang karena baru dapat rezeki berbentuk uang kan sah-sah saja.

Kita tak bisa merasa kaya sebelum merasakan miskin. Atau sebaliknya, banyak orang yang tak merasa miskin karena belum pernah kaya. Untuk uang yang terukur, kadarnya bisa diseimbangkan dengan “merasa cukup”.

Yang penting cukup saja. Tak perlu jadi kaya, jangan sampai jadi miskin.

(Baca: Makanan, Manusia, dan Uangku)

Menyambung soal uang, saya jadi ingat barang-barang mahal yang sering jadi tujuan hidup saya dan JG. Seringnya, atau mungkin cuma saya, baru merasa barang branded itu kurang penting setelah bisa mampu beli semuanya. Setelah beli, lalu muncul perasaan biasa-biasa aja. Oh hanya begini, tidak punya juga tidak apa-apa.

Tapi saat belum punya, rasanya ingin saya kejar terus. Jadi tujuan utama dalam hidup.

Nggak apa-apa. Jadikan benda-benda bernilai mahal yang tak terlalu berguna motivasi untuk naik kelas. Untuk berusaha lebih, untuk kerja terus. Biar saja meski pada saatnya kita mampu membeli semuanya, kita malah merasa biasa aja.

Makanya orang lebih suka traveling, katanya. Membeli pengalaman lebih menyenangkan daripada beli barang. Meski definisi senang masing-masing orang juga berbeda.

Senang. Bahagia. Diartikan sebagai satu kata dalam bahasa Inggris: Happy. Padahal senang adalah kondisi yang terasa saat itu dalam waktu singkat. Bahagia baru digunakan ketika senang terasa dalam jangka waktu yang lebih lama atau lebih banyak.

Sampai hilang. :)

People say the goal is not happiness, but peace and content. I guess, since I am still wondering (and wandering), about the true meaning of happiness, peace and content is still on the way.

Calm down, deep breath. :)

via GIPHY

-ast-





IG