Image Slider

Sebuah Kisah, Patah Hati (Setelah Menikah)

on
Friday, August 17, 2018

Kutipan di foto itu jadi caption Instagram saya beberapa waktu lalu usai seorang teman meraung-raung dan berkali bicara “ingin mati”.

Iya, berulang kali bilang ingin mati karena sedang patah hati.

Kalau pertama kali berkenalan dengan yang namanya jatuh cinta saat remaja, kita pasti sudah terbiasa dengan senyum tak henti, perasaan sudah seperti musim semi, berbunga-bunga. Hidup rasanya aman sekali. :)

Sampai kemudian harus patah hati.

Menangis sesenggukan di kamar dengan tisu berserakan di lantai ala serial Hollywood. Duduk di bawah shower menyala pakai piyama. Tak tahu lagi harus bagaimana. Tak tahu lagi harus menangis di mana. Terlalu rapuh. Merana dan sengsara. Cuma ingin dia.

Rasanya benar-benar ingin mati.

Kata orang, cara terbaik untuk menyembuhkan patah hati adalah menemukan hati yang baru. Untuk kemudian jatuh cinta lagi, agar hati yang sempat hancur di bawah serakan tisu dan rintikan shower itu terasa tergenggam kembali. Untuk kemudian bisa berdenyut lagi dan melupakan si pematah hati.

Jatuh cinta lagi memang cara paling mudah untuk menyembuhkan patah hati. Ironis? Tidak, toh untuk patah hati juga kita harus jatuh cinta dulu kan?

Maka masa-masa sebelum menikah pun dilalui dengan pengulangan momen-momen itu. Jatuh cinta, patah hati, jatuh cinta pada orang baru lagi, patah hati lagi, jatuh cinta lagi, sampai akhirnya kita memutuskan untuk berhenti.

Jadi ketika jatuh cinta terakhir kalinya sampai ingin menikah, sebagian besar di antara kita mungkin langsung merasa aman selamanya.

YASSS, AKU TIDAK AKAN PATAH HATI LAGI! Ini kan jatuh cinta terakhirku, mari menua bersama!

Tapi hidup tidak dibuat sebegitu mudah, darling. Menikah tidak sesederhana jatuh cinta, ke KUA, dan tinggal bersama menata rumah sampai tua. Pernah terpikir kah kalian bagaimana kacaunya patah hati setelah menikah?

Iya, yang complicated dari cerita teman saya ini adalah dia sudah menikah. Orang yang membuatnya patah hati juga sudah menikah.

Rumit sekali. Karena jalan keluarnya tidak semudah saat kita remaja. Tidak semudah, cari saja orang baru untuk jatuh cinta lagi.

Istri di rumah bagaimana? Bisakah jatuh cinta pada istri yang sama lagi setelah jatuh cinta pada orang lain? Sayang bisa masih sama, tapi jatuh cinta lagi?

Sebut saja teman laki-laki saya ini dengan X. Iya dia laki-laki. Istrinya tanpa cela. Model-model istri yang foto Instagramnya bikin iri alam semesta. Ingat, foto Instagram tak menjamin hidup bahagia. Mungkin ia juga tak pernah sangka suaminya ternyata bisa jatuh cinta lagi. Untungnya ia tak tahu, setidaknya sampai hari ini.

Kemudian mari kita sebut perempuan yang terjatuhi cinta (ah, mereka sama-sama jatuh cinta) ini dengan Y. Y juga punya suami yang sempurna. Pengertian luar biasa. Fun fact: dibanding istri X, Y ini biasa-biasa saja. Ya, cantik tapi Instagramnya tak bikin iri alam semesta.

GET IT?

Keduanya sejatuh cinta itu. Jalan atau makan bersama berdua? Tidak, kalau pun iya tak pernah berdua. Berhubungan badan yang bikin deg-degan karena dengan orang baru? Tentu terpikir berkali-kali. Tapi tak sampai hati.

Our chemistry is not in a sexual way, katanya. Cinta bukan melulu tentang raga, cinta bisa hadir dan menyenangkan bahkan tanpa hubungan badan. Kalau tanpa seks saja mereka sudah sejatuh cinta itu, kita bisa apa?

Sesayang itu. :(

Perjalanan cinta mereka hanya karena chat yang terlalu nyambung. Chat biasa yang jadi kebiasaan menyenangkan dan langsung berubah jadi sinyal-sinyal kangen ketika sehari tak ada.

“Gue baru tau, ternyata bisa-bisa aja ya sayang sama dua orang di saat yang bersamaan.”

YA BISA. But well, we learn something new everyday, don’t we?

Jatuh cinta tidak kenal status pernikahan. Jatuh cinta ya jatuh cinta. Mau sebaik apapun menjaga, namanya cinta kadang datang di waktu yang sungguh tidak terduga.

Apa mereka salah? Ya mereka mengaku salah meski siapa saya sampai harus menyalahkan orang jatuh cinta? Apa menyalahkan bisa membuat keadaan jadi tenang? Tidak. Jadi biarkan saja. Jatuh cinta adalah hak mereka, kalau akhirnya patah hati ya sudah bisa apa kita selain menemani?

Berteriak salah pada orang jatuh cinta, seolah kita tak pernah jatuh cinta. Hati tak pernah salah, jatuh cinta bukan masalah, hanya waktu yang kadang begitu kurang ajar memecah belah.

Kenapa harus bertemu? Kenapa harus merindu?

Apa mereka menyesal? Yah, yang jelas mereka akhirnya berkali-kali berusaha berhenti, menyerah, berpisah. Nomor WhatsApp dihapus, Instagram diblock, tak perlu lagi bertemu muka, segala cara dilakukan agar bisa lupa.

Ternyata toh tetap tidak segampang itu.

“Gue sayang istri, sama sekali nggak pengen pisah sama dia. Nggak pernah kepikiran sedikit pun cerai sama dia karena gue juga nggak pernah kepikiran sekali pun nikah sama Y. Tapi kenapa ya nggak bisa lupain dia?”

Orang jatuh cinta tidak punya akal sehat katanya, tapi untungnya Tuhan masih menyisakan mereka sedikit logika. Jadi setelah berkali pisah dan kembali, bermeter-meter argumen, berhari-hari teriakan, dan berderai-derai air mata, mereka memutuskan benar-benar berpisah.

Stop hubungan ini karena mau dibawa ke mana? Untuk apa dilanjutkan? Hanya untuk ketahuan? Hanya untuk membuat hidup berantakan?

Bicara pisahnya gampang, kenyataan menghadapi hari-hari setelah perpisahan itu yang luar biasa sulit. Patah hati karena pacar selingkuh itu satu hal, patah hati pada selingkuhan karena mengingat kebaikan istri itu hal lain.

Mereka saling menyalahkan. Menyalahkan satu sama lain, menyalahkan diri sendiri karena membuka hati. Meski rasanya tentu, pasti, tak sengaja.

X makin tak karuan karena Y pun sama kacaunya. Berkali menelepon hanya untuk memaki, tak sanggup menata lagi hati. Katanya tak tahu lagi definisi kerja dan hidup tenang, di rumah hanya menangis semalaman. Tentu pelan-pelan, agar tak ketahuan. :(


Sampai dua bulan kemudian, hari ini. Belum ada kemajuan. Masih tercerai berai, dengan luka besar yang masih menganga.

Patah hati, sampai mau mati.

Seperti dipaksa berpisah entah oleh siapa dan dengan alasan apa. Seperti diminta patah hati tanpa tahu harus jatuh cinta pada siapa lagi. Seperti harus sakit sendiri karena sungguhlah tak bisa cerita rasa ini pada istri.

Saya hanya bisa bilang: sabar. Sabar, semua orang pernah patah hati sampai mau mati. Waktu menyembuhkan, tidak sekarang, tidak besok, mungkin bulan depan, mungkin tahun depan, mungkin 10 tahun lagi.

Selama kamu masih mau bersama istri dan anakmu, maka kamu harus bertahan. Jangan mati.

Jangan mati dan jangan sampai ketahuan.

Ada yang punya obat sembuhkan patah hati setelah menikah?

PS: Seperti fiksi? Nope, ini kisah nyata. Dicurhatin mulu soal ini pas lagi PMS kan jadinya ikutan ambyar. T______T

-ast-

Baca tulisan terkait tentang Selingkuh dan Pelakor.


Ibu, Indonesia itu Apa?

on
Wednesday, August 15, 2018
Let’s talk about this country.



Kemarin di Instagram saya sempet singgung sedikit kan ya, si Bebe lagi nanya-nanya terus soal negara. Pertanyaannya bener-bener:

“Ibu, Indonesia itu apa?”

Berulang-ulang karena jawaban saya belum bikin dia puas.

Saya akhirnya nanya ke guru daycare-nya dan dijelasin panjang lebar dari semesta, dunia, benua, negara, pulau, daratan, lautan. Detaaaailll sekali sampai ada 4 material khusus untuk menjelaskan anak soal dunia. Sampai saya ter-wow ternyata serumit ini ya mendefinisikan dunia pada anak.

Saking tadi lama banget saya dijelasin soal bumi, saya jadi disadarkan lagi bahwa bumi ini luaaasss sekali. Indonesia itu bagian dari semesta, bagian dari bumi, bagian dari daratan dan lautan, bagian dari benua.

Indonesia sendiri pun masih juga sangat luas. Daratan seluas itu, dengan orang sebanyak itu, gimana bisa damai semua coba?

Karena orang-orang seharusnya menghargai setiap perbedaan.

Saya jadi teringat lagi satu PR sebagai orangtua yang terus saya ingatkan pada diri sendiri sampai hari ini. Seperti yang pernah saya jelaskan lebih detail di postingan ini: Mengajarkan Perbedaan pada Anak

“Orang kan berbeda-beda, beda itu tidak apa-apa"

"Semua orang bebas memilih ingin jadi orang seperti apa”

Sekarang, lima bulan setelah postingan itu kuliah saya soal perbedaan jadi naik kelas karena Bebe udah hafal banget soal perbedaan visual seperti warna rambut, pilihan pakaian, atau bentuk badan.



Kini perbedaan mulai dikenalkan pada apa yang orang suka atau tidak suka. Contohnya saya buat seluas mungkin. Seperti tadi pagi dia cerita soal kucing kemudian nyeletuk.

Bebe: “Ibu kan takut kucing, appa takut tikus. Aku tidak takut apa-apa”

Ibu: “Kalau nini takut apa ya?”

*dilanjut mengabsen nama tante-tante dan mengingat ketakutan mereka pada binatang, Bebe jawab semua*

Untuk apa nanya segala nini dan tante-tante takut apa? Untuk ngasih tahu kalau orang itu banyak dan ketakutannya juga banyak. Tentu diakhiri dengan kalimat andalan.

“Semua orang punya ketakutan yang berbeda karena takut itu tidak apa-apa, beda juga tidak apa-apa.”

Juga tentang kebutuhan. Umurnya Bebe itu lagi umur di mana kalau temennya punya maka dia juga HARUS punya. Ada satu temen daycare yang setiap hari bawa snack sendiri terus Bebe jadi mau juga. Lha padahal makan di daycare selalu habis malah suka nambah. Untuk apa bekal segala?

“Kebutuhan orang berbeda karena bentuk badannya berbeda. Dia bekal bukan berarti kamu harus bekal karena kamu dan dia beda badannya, beda kebutuhannya.”

DIA NGERTI LHO. Kemudian nggak maksa minta bawa bekal lagi.

Jadi jangan remehkan anak-anak! Apa yang kita tanam sebagai nilai sejak kecil ini seharusnya (dan diharapkan) bisa terbawa sampai dewasa. Bahwa apapun, apapun tidak perlu dibuat sama.

Jangankan satu negara ya adik kakak kandung aja satu ibu bisa 180 derajat bedanya kan. Apalagi satu negara. Kalau nggak mau menghargai perbedaan, silakan pindah negara banget nggak sih. *lelah*

Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda tapi tetap satu. Pertanyaan soal Indonesia itu rasanya jadi tidak lagi sederhana.

“Indonesia itu apa?”

Indonesia itu 17ribu lebih pulau, 36 provinsi, lebih dari 300 kelompok etnik dan 1,300 lebih suku. Mau nggak mau sejak kecil harus diajari kalau perbedaan adalah sesuatu yang normal. Sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Nah, kalau kalian gimana cara ngajarin perbedaan pada anak? Share yuk gimana kalian mengajarkan Bhinneka Tunggal Ika kepada anak sejak dini.

Caranya:
1. Peserta wajib follow @kemenkominfo, @djikp, @bintangcomid.
2. Kompetisi diikuti oleh Ayah atau Ibu bersama si kecil.
3. Foto bertemakan bagaimana mengajarkan kebhinnekaan kepada anak sejak dini.
4. Upload di Instagram, sertakan caption menarik sesuai tema, tag dan mention @kemenkominfo, @djikp, @bintangcomid.
5. Jangan lupa sertakan hashtag #KominfoSatu2018.
6. Periode kontes 6 Agustus - 4 September 2018.

Hadiahnya keren-keren lho! Ada Samsung S9, Fujifilm X-A3, Samsung A6+, dan voucher MAP.

Ikutan yuk!

-ast-


Review Si Doel The Movie

on
Tuesday, August 14, 2018
[SPOILER ALERT]

Kalau kalian baca blog saya sejak lama, kalian pasti tau ya pengaruh film AADC sama hidup saya. Sengaruh itu lho sama kehidupan. Kalau yang satu ini, saya ngerasa nggak ngaruh tapi kok ya punya bagian besar dari masa kecil saya.

Dari belum ada filmnya aja, Si Doel ini tuh salah satu topik banget di group keluarga saya. Jokes kami tuh sering banget yang Si Doel related. Adik saya malah ngefans banget dan sering share link-link untuk streaming. Hampir semua episode apalagi episode yang ikonik gitu kami sekeluarga hapal semua hahaha.



Jadi pas ada Si Doel The Movie, bahasan di group ya jadi terus-terusan soal filmnya HAHA. Adik saya yang pertama nonton duluan karena dia paling ngefans, disusul ayah dan ibu plus adik bungsu yang nonton bareng bertiga, terakhir saya dan JG baru nonton berdua weekend ini setelah maksa adik pertama untuk nungguin Bebe di rumah selama kami nonton lol.

JADI GIMANA FILMNYA?

Well, kalian nonton Si Doel sampai mana dulu nih? Sampai Doel nikah sama Sarah?
SAMA DONG KAYA SAYA.

Padahal itu baru season 6 (finale. Ada yang bilang finalnya itu season 7 tapi saya nggak nemu) dari Si Doel Anak Sekolahan. Setelah itu ada series dan FTV-nya lagi jadi kalau kalian nggak nonton dan nggak ada yang bisa ditanya sih udah dijamin hah hoh nggak ngerti. Jadi alur atau urutannya itu gini:

- Si Doel Anak Sekolahan (TV Series, 6 season, 1994-2003) - tamat dengan Doel nikah sama Sarah
- Si Doel Anak Gedongan (TV Series, 2005) - tamat dengan Sarah kabur ninggalin Doel.
- Si Doel Anak Pinggiran (FTV, 2011) - tanpa pernah menceraikan Sarah (karena doi ngilang, bos), Doel nikah siri sama Zaenab yang juga janda.

Film yang di hari kesebelas udah dapet 1,3juta penonton ini jadinya nostalgic banget. Saya sih mewek dari AWAL BANGET PAS OPENING. :( Mewek gara-gara denger suara Babe aja sih. Sesederhana mikirin orang susah yang mati-matian pengen anaknya sekolah. OH SO RELATABLE.

Dan ya, emang sebaper itu sih sama keluarga Doel. :’(

Sedih karena series ini tayang lama banget sampai pemerannya ya lekat dengan perannya. Saya juga gitu. Liat sepeda ontel langsung inget Engkong Ali yang selalu pilih kasih sama cucu tapi nggak suka sama si Mandra yang anak sendiri. Inget Babe, inget mas Karyo. Meninggal semua. Inget juga sama mang Eman tukang kiridit panci orang Tasik yang nangis duduk di tanah pas Babe meninggal.

T______T

Overall filmnya cantik kok dengan latar belakang Amsterdam. Cinematic dan udah kaya film zaman sekarang yang shotnya beragam. Shot di series-nya kan bosenin banget, long shot aja jaraaaanggg, paling cuma kalau mau liatin rumah & warung plus babe tiduran sambil kipas-kipas. Sisanya ya close up aja ngobrol ganti-gantian antar pemeran gitu. Muka nyak, ganti muka babe, mundur dikit medium shot, balik close up lagi hahaha. Jarang ada adegan close up berdua gitu, shotnya ganti-gantian mulu, syutingnya ganti-gantian juga kali ya lol.

Saya bahas satu-satu per karakter aja ya!

Nyak

Mellow sih karena sakit tapi masih bisa akting, masih bisa inget skenario. Dan termellow karena ada wawancara sama Rano Karno yang bilang kalau film ini udah jadi wacana dari dulu tapi akhirnya diwujudin karena Nyak yang minta huhu. Sepanjang film nyak cuma nasihat-nasihatin semua orang gitu.

Sedihnya karena nggak bisa nggak mikirin nyak harus main film dalam kondisi sakit karena butuh uang nggak sih. SEDIH BANGET PADAHAL ASUMSI DOANG INI. T_______T

Atun

Atun ternyata sudah jadi bundaaaa ahahahahaha. Kocak banget anaknya udah SMP. Ternyata Atun udah punya anak sejak series sebelumnya. Nikah sama mas Karyo tapi terus meninggal ya ampun apes amat ya ini hidup satu keluarga. :(

Terpengen noyor karena Atun nggak nganggep Zaenab sebagai istri bang Doel banget deh. Ngomong nggak dijaga! Ya ngerti Atun sama Zaenab dari dulu temenan tapi KOMPOR IH SUMPAH.

Mandra



Tanpa Mandra apalah film ini. Semua celetukannya bikin ngakak banget. Senatural itu untuk jadi orang primitif. Kata ayah, Mandra kalau main di film/series lain yang sutradaranya bukan Rano Karno suka norce, tapi kalau di Si Doel selalu natural. IYA YA. Kok bisa yaaaa.

Saya juga yakin dia pasti biang kerok di film/series selanjutnya dalam drama cinta segitiga ini. Enough said.

Zaenab

Ini cewek hidupnya kok kasian amat yaaa. Seumur hidup naksir Doel hanya untuk ditinggal nikah. Seumur hidup jadi nomer dua banget lho, seumur hidup jealous sama Sarah, seumur hidup ngerasa kalah terus sama Sarah. Sampai udah nikah pun tetep Doelnya belum cerain Sarah.

Pesan moral untuk orangtua, JANGAN MATRE! Hidup anak lo berantakan kalau lo matre! HUH. Dari dulu paling sebel sama ibunya Zaenab, untung nggak nongol di film. Cuma suara bapaknya doang yang muncul di opening.

Yang paling awkward adalah Zaenab menyebut diri sendiri dengan “saya”. AYE LAH HARUSNYA. Aye itu Zaenab banget. Tapi tetep Maudy Koesnaedi cantik banget sih gils.

Sarah

Pas Sarah nemuin Doel, keliatan punggungnya dulu kan ya. Pas balik badan …



SISSY PRISCILLIA?

SUMPAH MIRIP BANGET JAHAHAHAHAHAHA.

Jadi kakaknya boleh deh, jadi Cornellia Agatha, Sissy, Vanesha HAHAHA. Kesel nggak lo tiga-tiganya muncul di film legend gitu, Doel, AADC, Dilan. XD



Tapi asli sepanjang film saya kesel banget sama Sarah. DRAMA ABIS IH HIDUP LO.

Lagi hamil kabur dari rumah sampai 14 tahun dan nggak ngabarin itu selfish banget sih. MAUNYA APA. Mau cerai ya bilang dong. Nyebelin banget, gantungin suami sendiri kaya gitu. Atau kalau mau ngilang ya ngilang selamanya. JANGAN LABIL. Bilang aja ke anaknya kalau papa udah meninggal kek.

Paling sebel pas di akhir film dia bilang tahun depan mau pindah ke Jakarta for good. Saya sama JG langsung liat-liatan.

NO. Stay there. Yu menambah masalah yang yu buat sendiri. Yu diam saja di Belanda.

via GIPHY

Saya: “Anaknya tahun depan mau SMA pendek amat, masa kecil gitu sih”

JG: “Stunting kali?”

KAMPRET. :)))))

Beneran masih di bawah bahu Doel sama Sarah banget. Masih SD deh kayanya yang jadi anak itu.

Doel

YU JUGA KAMPRET.

Dari dulu kan si Doel ini emang nggak pernah netepin pilihan. Naksir sama Sarah, Sarah mau apa selalu diiyain, tapi gitu juga sama Zaenab. PHP yang sebenarnya.

Katanya Doel udah dijodohin dari kecil sama Zaenab, lha tapi kan dilepeh mulu sama ibunya Zaenab. Lagian punya dignity sedikit gitu lho udah dihina-hina kok ya masih ajaaa baik-baikin Zaenab. Sampai Sarah kabur juga karena Doel nolongin Zaenab yang keguguran tapi NGGAK BILANG-BILANG.



JG: “Jadi dari dulu Doel mau sama Sarah tapi maintain Zaenab biar nggak kehilangan fans ya?”

OHSOTRUEEEE!

Mau sama cewek ini sih tapi yang itu dimaintain juga biar ada yang ngejar-ngejar terus. Kita pasti punya nih satu temen yang begini kerjaannya. Cih.

Terus Doel ini tipe yang repressed feeling banget deh ingin rasanya kubuatkan janji dengan psikiater *jejelin xanax*

Hans

Aktingnya awkward tapi setelah dipikir-pikir dia memang harus awkward sepanjang film karena harus set up sepupunya yang labil pada suaminya yang sudah ditinggal selama 14 tahun. HARUS AWKWARD EMANG FIX.

Koh Ahong

Definisi sebenarnya dari susah move on. T_______T KASIAN BANGET SIH KOH AHONG. Sayang banget sama Zaenab sampai nggak nikah sama siapa-siapa tapi Zaenabnya nggak mau.

Padahal zaman dulu nyaknya Zaenab nyodor-nyodorin Ahong banget ya sama Zaenab. Kalau Betawi asli zaman sekarang apa masih relate jodohin anak sendiri sama pengusaha batako? Yakin mau dijodohin sama Ahong atau lebih baik pilih pemimpin muslim?

*HENING*

Anyway, yang emang ngefans banget sama Si Doel sih nonton aja karena ya menghibur. Nostalgic  dan entertaining lahhhh. Mandra kocaaakkkk. Tapi kerasa banget ini film cuma teaser untuk bridging ke selanjutnya. Antara film lagi atau series baru sih. Katanya Rano Karno udah mau balik ke entertainment lagi kan udahan berpolitiknya.

Jadi siapa yang udah nontoooonnnn?

Btw males cari foto karena mereka nggak siapin still cuts buat promo gitu. Cek aja sendiri di Instagram @sidoelanaksekolahan yaaa!


-ast-


Semua yang Jadi Tentang Anak

on
Sunday, August 12, 2018
Satu hal yang sering saya bahas dengan JG dulu sebelum menikah dan selama hamil, apakah ketika kita punya anak dan harus mengobrol dengan orang lain, topik kita jadi akan melulu soal anak?


Kalau lawan bicara sudah punya anak juga sih masih oke ya, kalau lawan bicara belum atau tidak punya anak (ya seperti kami dulu saat membahas itu), haruskah kita kehilangan sekian banyak topik dan hanya membahas tentang anak kita sendiri?

Karena dulu kami sepakat pada satu hal: mendengar orang membicarakan anaknya sendiri nonstop sementara kami menikah saja belum, itu menyebalkan. Kaya mikir emang nggak ada bagian lain dari hidup lo yang nggak bisa diceritain gitu?

Berpegang teguh pada prinsip itu, maka saya sangat berusaha tidak membicarakan Bebe di forum umum (seperti di meja makan siang yang ramai) KECUALI ADA KONTEKSNYA ATAU KALAU DITANYA. Kalau nggak ditanya saya nggak tiba-tiba buka topik soal anak “eh kemarin Xylo lucu deh dia ngapain dan ngapain …” Sejak Bebe bayi sampai sekarang, saya masih seperti itu.

Jadi kalau ngobrol sama saya, topiknya akan sangat beragam dari Twitter, selebgram, politik, skin care, you name it. Begitu pun dengan JG. Kami se-ekstrovert itu sampai mikirin banget topik ngobrol sama orang karena kami seneng banget ngobrol dan takut orang bosan kalau ngobrol dengan kami hahahaha.

Sampai ke sesi team building yang yah, topiknya banyak yang sangat personal. Dan sering sekali jawaban saya ya tentang Bebe. Berkali-kali saya harus berdiri di hadapan 20 sekian orang dan membahas tentang Bebe. Membosankan. Saya jadi orang membosankan itu.

via GIPHY

Salah satu pertanyaannya adalah: kalau satu hari mau tuker jadi orang lain, kamu mau jadi siapa?

Saya jawab saya ingin jadi Xylo. Karena ingin tahu apakah saya cukup baginya? Apakah ada yang terlalu menyakiti? Apakah ada yang terlalu menyebalkan? :(

Nah, minggu berikutnya ditanya personal goals, saya jawab ingin Bebe masuk sekolah di SD yang kami inginkan meskipun chance-nya tipis sekali.

PERSONAL GOALS = SEKOLAH BEBE. Merenung sendiri karena apanya yang personal coba huhu bahkan definisi personal saya aja blur sekali sekarang.

Orang lain kan goalsnya punya cat cafe, kerja di London, dan berbagai cita-cita pribadi lain. Saya mikirin personal goals saya sendiri, ada beberapa sebetulnya, tapi untuk saat ini nggak ada yang lebih saya inginkan di dunia ini selain Bebe masuk SD itu. Harus SD itu. :(

Biarlah saya dianggap membosankan ya karena ternyata benar, sekarang semua jadi tentang anak. Mau tidak mau, suka tidak suka, ketika kalian punya anak dan mau bertanggungjawab pada anak itu, semua jadi tentang anak.

Apa saya jadi kehilangan diri saya? Tentu!

Tidak perlu meromantisasi, menghibur diri, dan bilang “nggak ah nggak hilang kok, semua worth it demi anak”. Ada yang hilang ya akui saja hilang, semua demi anak ya benar juga. Anak yang diutamakan, personal goals kita jadi hilang. Diubah di sana dan di sini.

Pesan moral bagi kalian yang mau menikah dan ingin segera punya anak, sudah siap kehilangan diri sendiri? Sudah selesaikah dengan diri sendiri? Saya mungkin sudah seselesai itu sehingga ditanya personal goals pun jawabannya tetep soal anak.

Karena kalau belum selesai dengan diri sendiri, jadinya akan complicated banget lho. Akan banyak penyesalan dan bukan tidak mungkin akan kita limpahkan ke anak kalau si anak dirasa mengecewakan: “ibu udah begini dan begitu demi kamu!”

Keyword “demi kamu”. Apakah anak minta agar diprioritaskan? Tidak pernah. Apakah Bebe minta sekolah yang saya inginkan itu? Tidak. Saya yang mau. JG yang lebih mau banget. Jadi memang untuk Bebe, tapi sepenuh-penuhnya itu keinginan saya dan JG. Pada akhirnya itu jadi personal goal kami. Malah sepersonal itu.

Saya mikirin lagi apa personal goal saya sebagai diri sendiri dan bukan sebagai orangtua? Ada, beberapa. Tapi kemudian setelah dipikir-pikir lagi pada akhirnya demi lebih banyak uang sehingga bisa liburan sama JG dan Bebe hahahahaha.

Jadi ya mungkin saya memang sudah jadi tante-tante. Mungkin saya sudah jadi bude-bude yang membosankan. Semua tentang diri sendiri jadi masa lalu, semua tentang keluarga jadi masa kini dan masa depan.



via GIPHY

Mungkin saya bisa santai bicara seperti ini karena saya punya kehidupan lain selain jadi ibu. Kalau yang melulu di rumah dan full sama anak terus, cari hobi deh. Cari sesuatu yang kalian suka dan bisa kalian kerjakan sehingga bisa sejenak nggak memikirkan soal anak. Ya biar nggak jenuh aja.

Saya beruntung karena punya pekerjaan, menulis buku, sharing di Instagram, menulis blog, punya berbagai kegiatan di luar peran jadi ibu dan tidak melulu bersama anak. Meskipun ya tetep nulis buku soal anak, sharing di Instagram soal anak juga, nulis blog ya apalagi kalau bukan soal anak, bahkan kerja di kantor aja sekarang bahasnya parenting. Kurang membosankan apa hidup saya? Passionate amat kayanya sama parenting. XD

Tapi mungkin karena saya rajin share soal Bebe di platform online loh jadi rasanya cukup. Mungkin memang setiap orang JUGA ingin selalu cerita tentang anaknya tapi mereka nggak punya blog, nggak main Instagram, apalagi nulis buku, jadi cerita anaknya melulu di forum offline. Buat saya mending nulis online sih, mau baca silakan, nggak mau ya nggak usah. At least saya nggak memaksa orang untuk dengerin saya cerita tentang anak saya. YA NGGAKKKK?

Ini kayanya makin nggak jelas deh jadi ya udah gitu aja pokoknya yang penting ditulis deh daripada pusing dipikirin doang. Selamat menyambut Senin semuanya!

Jadi apa personal goal kalian setelah punya anak? Masih punya sesuatu yang personal? Apa ujung-ujungnya untuk anak juga seperti saya? ;)

-ast-

PS: Kemarin malam saya tanya langsung sama anaknya, “Ibu nyebelin nggak sih? Xylo pernah mikir mau ganti ibu nggak?” Dia menggelang dan peluk terus bilang “nggak kok aku nggak mau ganti ibu” uncchhhh gemas. :’)


Memposisikan Masalah

on
Wednesday, August 8, 2018

Perkara ganjil genap ini kok yaaaa … nggak tau lagi harus ngeluhnya kaya apa. Intinya mobil kami platnya genap, setiap hari selalu lewat jalan yang sama tapi kok ya kemarin kena tilang.

Padahal kemarin udah tanggal 7, berarti kan udah lewat jalan itu dari 3 hari sebelumnya dan nggak kena tilang sama sekali jadi dipikir ya memang belum mulai aturan ganjil genap di situ. Sedih karena Rp500ribu melayang. :(

Sedihnya lagi itu karena kemarin abis servis AC di rumah, kapasitornya rusak jadi nggak dingin dan bikin listrik jadi ngejegrek terus gitu. Kan ya serem kulkas juga jadi rusak, jadi nggak punya pilihan lain selain ganti, Rp350ribu aja sis.

Dan ketambah lagi hari sebelumnya oli mobil bocor, ke bengkel auk diapain intinya abis juga Rp500ribuan. Rada ingin mengabsen nama binatang gitu ya dalam seminggu kok apes amat kami ini sampai abis hampir Rp1,5juta buat perintilan rusak.

JG udah kesel sendiri “kenapa sih hidup kita, dari kemarin keluar uang buat ini itu rusak. Sedih aku!”

:(

Untuk menghibur diri saya pun pergi sama temen-temen kantor lama. *HALAH UDAH BOKEK MALAH KE MALL*

Cuma makan doang kok terus cerita-cerita seru gitu kan segala rupa di-update sampai ke cerita salah satu temen kantor yang juga lumayan akrab dengan kami, istrinya kena kanker paru stadium 4. T_______T

Nangis banget ya Tuhan, doa terbaik untuknya. T______T

Sampai rumah langsung kepikiran banget dan nggak bisa nggak mikirin sampai sekarang. Kali ini pengingat untuk rasa bersyukurnya kenapa gini amat.

Masih literally nangis sih nulis ini. T______T

Mendadak uang gue untuk benerin ini itu nggak ada apa-apanya banget. Nggak pantes ngeluh sama sekali. Lain kali emang perlu mikir berjuta-juta kali sebelum mengeluhkan sesuatu apalagi berhubungan dengan uang yang ya, sebenernya masih bisa dicari lagi asal kita sehat kan.

Masih jadi PR besar banget sih buat saya gimana kita memposisikan masalah. Saya nggak depresi, lagi nggak sakit secara mental, harusnya bisa mikir lebih jernih sebelum ngeluh. Beda cerita kalau memang lagi nggak sehat ya.

Ngeluh itu wajar, ngeluh itu manusiawi, cuma mungkin harus lebih menyadarkan diri dulu sebelum mengeluhkan sesuatu. Semua keluarga punya masalah, minggu ini masalah kami ini, di luar sana mungkin ada keluarga yang AC-nya nggak pernah rusak, mobilnya lancar selalu, nggak ditilang tapi punya masalah-masalah lain yang jadi beban pikiran lebih berat.

Semoga kita semua selalu diberi pikiran yang jernih untuk memposisikan masalah dan selalu bisa berusaha berlapang dada ya.

Sehat-sehat ya semuanya. T______T

-ast-