-->

Image Slider

Tentang Kebebasan Memilih

on
Wednesday, June 27, 2018
Pas banget ya nulis ini lagi Pilkada. Tapi saya nggak akan ngomongin soal Pilkada. Saya mau ngomongin hal yang lebih luas lagi dan membutuhkan hati yang jauh lebih lapang lagi.


Yaitu tentang "kebebasan memilih".

Cuma dua kata ya, banyak disepelekan pula. Padahal kayanya susaaaahhhh sekali diterapkan untuk semua lini kehidupan. Kebebasan ini bukan cuma soal agama atau politik tapi untuk segala hal. Dari agama, pekerjaan, keputusan menikah, keputusan punya anak, dan banyak lagi.

Saya belajar, terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak bilang “ini lho yang paling baik”. Ya saya share banyak soal parenting, tapi saya nggak pernah lho memaksakan kalian untuk ikut apa yang saya lakukan. Kalau ada yang message dan bilang nggak bisa atau susah jalanin tipsnya, saya selalu bilang "iya kan pilihan".

Karena ya emang pilihan sih. Saya nggak maksa, kalian nggak perlu merasa terpaksa juga. Sharing saya itu tujuannya cuma untuk memperkenalkan pendapat baru yang mungkin udah pernah kalian denger, mungkin juga belum pernah. Pada akhirnya, penerapannya ya kembali ke kalian juga.

Yang jelas, saya selalu netral. Atau minimal saya sudah sangat berusaha netral. Kalau ikutin blog ini dari dulu mungkin kerasa ya, dalam beberapa hal saya sangat sangat netral seperti tulisan soal selingkuh dan pelakor. Tapi dalam hal lain saya bisa emosi dan melepeh orang lain hanya karena saya kesal pada orang yang "harus-harusin orang lain". Harusnya begini lho, harusnya kan begitu. Siapa sih yang bilang harus?

Seperti soal ASI. Saya pro ASI, saya menyusui sampai anak saya 3 tahun. Tapi saya nggak pernah mengharuskan orang lain untuk seperti itu juga. Memberi ASI itu PILIHAN apalagi untuk ibu bekerja ya. Pilihan jungkir balik pumping siang malam atau ya kasih susu formula aja demi kewarasan ibu. Buat saya, mending ibu waras yang bahagia mengurus anak dengan susu formula daripada ibu yang stres dan nggak happy karena ngorbanin segalanya demi ASI.

Kalau ngasih ASI bikin kamu bahagia meski nggak tidur, ya go ahead. Tapi kalau jam tidur terganggu karena pumping bikin kamu senggol bacok dan jadi depresi ya nggak usah. Kalau kamu stres karena ASI nggak keluar, ya usahakan dulu lah ke konselor atau minum suplemen. Tapi kalau ke konselor bikin tambah stres, ya udahlah nggak ada yang jamin anak ASI juga akan selamanya sehat dan akan lebih sukses dibanding anak sufor kok. Yakin aja sama pilihan kalian.

Buat saya, segalanya sesederhana itu. Sesederhana tidak menyakiti orang lain atas pilihan yang mereka ambil. We're not in their shoes, who are we to judge?

Pun soal menikah dan punya anak. Menikah, belum menikah, tidak menikah, menikah dan nggak mau punya anak, menikah dengan satu anak, menikah dengan banyak anak. Mau bertahan di pernikahan yang toxic atau cerai aja. Nggak apa-apa banget. Bebas-bebas aja asal ya bertanggung jawab dengan pilihannya dan nggak merugikan orang lain.

(Lebih lengkap soal pilihan menikah pernah saya tulis di sini: Menikah itu Bukan Life Goals)

Tapi ya namanya manusia, emang pasti ada aja kok mempertanyakan keputusan orang lain. Kalau itu terjadi, bahas sama orang terdekat aja, ngobrol sama sahabat atau suami. BUKAN confront langsung ke orangnya. Apalagi kalau nggak seakrab itu sama orangnya. Duh, takut cuma bikin sakit hati.

Intinya plis, jangan jadi bigot. Bigot bukan cuma soal agama. Bigot bisa dari sesederhana bilang “kamu nggak nikah-nikah emang nggak kesepian?" atau "lho punya anak kok cuma satu, kenapa nggak mau nambah lagi?" atau "ih anaknya kok pake dot?" ke orang yang nggak kamu kenal-kenal banget.

Atau justru kalian memilih untuk jadi bigot? HHHH. Kok nggak boleh jadi bigot? Ya karena kalian nggak menghargai pilihan orang lain.

Jangan menilai hidup orang dari standar moral yang kita punya. Jangan memaksa hidup orang atas apa yang kita percaya. Semua orang kan punya sudut pandang yang beda soal hidup, kenapa harus dipaksa sama?

Semua cerita punya banyak sisi, semua masalah juga punya banyak sudut pandang, hanya karena kita merasa benar, bukan berarti orang lain salah. Hanya karena kita percaya hitam, sisi lain nggak berarti melulu putih. Dunia nggak sesaklek itu.

And for you, don't let the society dictate what you do. Don't let them define you. You have your own life, you are enough. 

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Tentang Bandung Zoo (dan Kebun Binatang Lainnya)

on
Saturday, June 23, 2018
Saya selalu punya mixed feelings pada kebun binatang dan tempat lain yang membatasi area binatang. Karena ya rasanya egois banget aja kan, ngurung binatang, jauhin mereka dari habitat aslinya, cuma untuk ditonton. T______T


Iya sih bisa “ngeles” pergi ke kebun binatang untuk pengetahuan. Tapi seberapa banyak di antara kita yang baca serta INGAT apa yang tertulis di papan petunjuk nama binatang di depan tiap kandang? Boro-boro elaahhh, nonton binatang-binatang itu duduk bosan di kandang doang kan? Sudahlah mengaku saja.

Jadi buat saya, ke kebun binatang sama halnya dengan nggak jadi vegetarian. Padahal ya tau banget sayuran lebih sehat dari daging sapi, tau juga kalau sapi menyumbang kehebohan global warming, tapi gimana ya masih nggak bisa hidup tanpa sirloin steak huhu. KEEGOISAN MANUSIA SELAIN BERKEMBANG BIAK MENUH-MENUHIN BUMI. :(

Mixed feelings-nya kenapa? KARENA BEBE SUKA BANGET KE KEBUN BINATANG. T_____T

Umur baru 4 tahun, ke kebun binatang udah 4 kali. Pertama ke Singapore Zoo dan Ragunan waktu Bebe masih kecil banget. Ketiga, tahun 2016 ke Kebun Binatang Bandung. Ketiga, hari Rabu kemarin saat kebun binatang Bandung udah berubah nama jadi Bandung Zoo.

Waktu ke Ragunan saya biasa aja dan cenderung waaa binatangnya mayan ya, kandangnya luas, binatangnya nggak kurus. Tampak seperti kebun binatang yang terurus lah. Maklum punya pemprov DKI kan ya, jadi pasti harusnya ada dana khusus untuk merawat binatangnya.

Paling shock waktu ke kebun binatang Bandung tahun 2016. Di situ saya merasa bersalah karena kondisi binatangnya superparah. Saya inget banget ada beruang yang kurus dan cuma muter-muterin kandang doang kaya stres.

Jalan yang harus dilalui pun jelek plus kotor banget. Rada kapok ke kebun binatang karena kaya ditampar gitu, merasa jadi bagian penyebab kenapa kebun binatang survive. Ya karena ada pengunjung-pengunjung kaya kami ini kan. HUHU.

Nah, liburan kemarin, karena JG udah di Jakarta, ayah saya ngajak ke kebun binatang. Katanya sekarang baru dibeli sama yayasan baru, ganti nama juga jadi Bandung Zoo.

Harga tiket masuk Bandung Zoo 2018 itu Rp 40ribu, udah nggak pake tiket lagi tapi pake gelang konser, barcode-nya di-tap baru pintu masuknya kebuka. Katanya binatangnya udah lebih keurus, nggak kurang gizi lagi. Ya udah pergi deh. Mumpung di Bandung juga sih kan biar Bebe quality time sama aki nini.

Ternyata yaaa, jauh lebih baik daripada 2016 meskipun masih tetep kasian sih. Kandang macan dan singa sempit banget, kandang orangutan nggak ada tempat teduhnya sampai dia pake karung buat nutupin kepala :(. Kasian juga liat burung hantu dan beberapa kelelawar yang siang-siang bangun, mereka bukannya harusnya tidur ya?

Ada plang di mana-mana menyebutkan kalau tiap hewan diitung makanannya sama ahli gizi dan nggak kelaparan. Well, ya nggak kelaparan sih tapi nggak liat binatang yang happy juga. Semua bosan. Iyalah siapa juga yang nggak bosan kalau dikurung di kandang ya?

Si Bebe pengen naik unta sama gajah pula. Gajahnya sih biasa aja ya, nggak mengkhawatirkan. Tiap satu puteran dikasih makan/batang tebu, yang jaga nggak bawa pentungan sama sekali. Kalau berhenti di tengah jalan untuk liat sesuatu juga nggak dipaksa disuruh jalan. Santai aja gitu.

EH DI UNTA TUNGGANG TUH PARAH. Mulut unta sampai berbusa, muter-muter sekian kali boro-boro dikasih makan, minum aja nggak. Terus saya nanya "kang, ini nggak dikasih minum dulu? Kasian dari tadi". Si abangnya (dia bawa pentungan huhu) jawab "nggak usah bu udah biasa" YA TUHAN SEDIH BANGET.

T______T

(Oiya kalau naik unta + gajah tunggang di Bandung Zoo itu bayar lagi per orang Rp 30ribu. Jadi itungannya emang wisata "mahal" ya, nggak terlalu cendol juga jadinya, nggak rame-rame amat padahal kemarin liburan.)

SIALNYA BEBE SENENGNYA SUPER.

via GIPHY

Sampai malem sebelum tidur pas pulang dari kebun binatang itu saya brainwash bahwa binatang itu harusnya nggak dikandangin lho, kasian ya mereka bosan, plus diingatkan pula soal predator, rantai makanan (dia pernah belajar di sekolah) blablabla.

Dia iya iya aja dengerin saya dan komen “kasian ya ibu buaya kandangnya sempit, padahal kalau dia tau sebelahnya kandang burung mungkin burungnya dimakan sama buaya”.

Iya sih kasian sama buaya tapi sampai 3 hari kemudian dia masih semangat cerita detail ke semua orang dia liat apa aja di kebun binatang. Ceritanya excited parah gitu huhu.

Dia excited saya kepikiran.

Kepikiran sampai browsing “Bandung Zoo” dan kaget banget ketika liat salah satu suggestion-nya adalah “Bandung Zoo Petition”. PETITION APA?

Setelah baca-baca ya Tuhan ternyata ini yang namanya kudet ya. Benci pake term “kudet” tapi beneran itu momen saya kaget banget karena hello, kantor lama saya nulis lho! Kok saya bisa nggak tahu! Nggak tahu apa lupa apa nggak peduli sih. Saya sampai angkat laptop dari kamar dan liatin beberapa video YouTube ke ayah ibu.

Ternyata sepanjang tahun 2017 itu kebun binatang Bandung alias Bandung Zoo banyak kasus banget ya. T_______T

Yang paling parah adalah beruang yang saking kurusnya, tulang rusuknya keliatan. Dia kelaparan sampai makan eenya sendiri. GILA MAU NANGIS. T_______T Saya yakin itu beruang yang sama yang saya liat stres di 2016, karena ya gitu di videonya sama geleng-geleng dan muter-muter karena stres.

I won’t go into details but basically not only the bears that ARE suffering but some other animals too. Baru tau juga di tahun yang sama ada jerapah mati dan di perutnya ketemu banyak plastik. Dan masih banyak kasus lain!

Search aja di Google atau YouTube “bandung zoo sun bears” JANGAN pake bahasa Indonesia karena entahlah mungkin yang nulis nggak sebanyak itu ya. Padahal sampai masuk YouTube-nya The Dodo loh sumpah malu abis.

Malu dan sedih banget sih. Cukup lah ya, untuk sementara nggak ke kebun binatang dulu deh ya. Kadang sayanya juga sih yang terlalu yakin “alah paling binatangnya hepi” gitu kaya di SIngapore Zoo, orangutan aja gelantungan bahagia kan. Lha di sini? T_______T

Gila berat banget jadi orangtua mau bikin anak seneng aja ribet ya Tuhan. Ngerti banget banyak pilihan hiburan lain, tapi ya (oke ini alesan doang emang, salahkan saja aku T______T) anak-anak itu emang seneng banget ya liat binatang. Hiks.

Jadi ya, kalau kalian tipe manusia yang nggak gampang merasa bersalah sama kondisi bumi, go ahead lah. Anak-anak hepi kok ke kebun binatang, asal jangan dikasih makan seenaknya ya. Jangan pada ngerokok juga KARENA YA GILA AJA LO NGEROKOK SAMBIL BAWA DUA ANAK BGCDH.

Tapi kalau kalian tipe yang suka mikir “apa yang bisa kita kasih buat bumi?” NGGAK USAHLAH UDAH. Sampai sekarang aja saya masih kepikiran makanya nulis blogpost ini.

Ya udah intinya sebisa mungkin liat binatangnya di alam bebas aja yaaa. Nggak usahlah itu nonton sirkus hewan atau nontonin binatang hidup. Kalau yang nonton makin dikit kan harusnya industrinya juga nanti hilang sendiri. Ke museum aja nonton binatang mati baru boleh. Kurang-kurangin jadi makhluk egois, bumi ini bukan cuma milik manusia.

source

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe dan Bau Keringet

on
Tuesday, June 19, 2018
[SPONSORED POST]


Kalian sesama ibu-ibu sepertiku pasti ada masa-masa di mana seneng banget nyiumin bau asem anak karena sungguh adiktif. IYA KAN? NGAKU!

Tapi di umur 4 tahun ini, bau keringet si Bebe udah bau keringet anak kecil hahahaha bukan lagi baru keringet bayi. Bau banget kutaktahan lagi.

Kalau dulu weekend saya suka sengajain tuh Bebe nggak mandi karena bau asemnya enaaakkkk. Bisa saya cium-ciumin terus tengkuknya. Lha sekarang? Boro-boro seharian, setengah hari nggak mandi aja langsung bau keringet apek banget.

Apalagi kalau udah main di playground ya ampun. Bau matahari campur bau keringet, sampai pas mandi, nyabuninnya aja harus ekstra loh karena kadang nggak berbusa saking keringetannya dia hahahaha.



Belum lagi kakinya. Bebe itu seneng pake sepatu karena dia jijikan. Jadi kalau pergi-pergi, di mobil suka nggak mau buka sepatu. Bisa seharian dari pergi sampai pulang nggak buka sepatu sama sekali. Bau kakinya sungguh semut mah pingsan lah satu sarang. XD

*sungguh keibuan ya membahas bau keringet aja sampai 4 paragraf*

Dari segala urusan perkeringetan ini saya tetep paling males sama rambutnya sih. Makanya sekarang Bebe botak lagi meski rambutnya udah banyak dan tebel berkat Zwitsal Aloe Vera Kemiri Seledri. Kenapa Bebe botak?

Karena kalau rambut dia panjang, keringet yang keluar dari kulit kepala, terperangkap oleh rambut DAN JADINYA BAU SERTA LEPEK. Sementara ibu anaknya visual banget ya ibu nggak tahan liat anak rambut keringetan lepek gitu. BOTAKIN!



Dibotakin sih mayan ngurangin baunya tapi tetep aja ada yaa. Bau ini hal yang normal lho buibu, jangan merasa rendah diri ya karena anak bau keringet hahahaha. Nah, akhirnya karena tak mau berputus asa tanpa arah, saya coba deh shampoo Zwitsal yang Kids. Setelah beberapa kali coba... hasilnya oke bangett parah sihhh. Kalau gini sih ngapain saya botakin rambut si Bebe cobaaaa. LOL. Memang pengalaman adalah guru yang berharga. *sigh

Bebe pake yang active dan di kemasannya ada gambar Boboi Boy. Seneng banget dia padahal nggak pernah nonton Boboi Boy juga hahahaha. Yang jelas dia hepi karena merasa relate gambar di kemasannya itu anak lagi main bola lol.



WANGINYA ENAK BANGET SUMPAH. Wangi melon gitu pengen saya jilat rasanya. Wangi melonnya ini awetttt. Ngilangin bau matahari plus bikin rambut Bebe jadi wangi melon lama banget. Ini khasnya Zwitsal banget ya. Wanginya nempel seharian.

Buat yang nggak mau anaknya jadi rasa es melon, ada pilihan strawberry juga kok. Dan tetep ada varian natural yang komposisinya andalan kita semua untuk rambut anak yang lebih tebal yaitu aloe vera, kemiri, dan seledri. Semua dengan kandungan pro-vitamin B5 yang bikin rambut halus dan lembut banget.



Ada yang pake sampo ini juga samaan sama Bebe? ENAK BANGET YA WANGINYAAAA. Yang belum coba ayo dicoba!

-ast-





LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Hidup yang Lebih Baik

on
Monday, June 18, 2018

Tadinya mau cerita soal liburan yang terlalu panjang tapi kok tadi iseng search keyword “lebaran” di blog dan muncul tulisan lebaran dua tahun lalu. Baca di sini: Lebaran Tahun 2016

Tulisannya sedih banget. Kalau dibaca kaya nggak terlalu merana tapi aslinya itu super capek parah. Langsung bersyukur sama kondisi kami hari ini HUHU.

Ramadan tahun ini hidup kami smooth banget dan nggak terlalu capek. Ngantuk ya wajar, tapi masih bearable lah. Apalagi saya yang selama bulan puasa tiap hari Rabu work from home, nggak capek-capek amat jadinya. HAHAHA.

Pindah rumah ternyata sengaruh itu ya. Dulu rumah di Jakbar emang gila sih strategis banget ke mana-mana deket. Tapi ya ke mana-mana macet juga.

(Baca: Meng-Undo Hidup)

Sekarang rumah di Selatan, perjalanan kantor JG - daycare - rumah jadi lebih cepet. JG nggak terlalu capek, cuma overtime daycare satu hari dan kami buka puasa sama-sama di rumah terus! Paling lambat setengah 7 udah di rumah.

Gila banget ya 2 tahun lalu jam 7 mah masih ngemper di teras daycare banget, kepanasan, banyak nyamuk, makan nasi padang karena ya pas warung padangnya sebelahan sama daycare dan nggak tahu lagi harus makan apa buat buka puasa.

Tahun ini katering kami nganter makanan jam 4 sore, jadi makanan buka puasa selalu aman dan masih anget. Di bawah apartemen juga banyak yang jual takjil jadi urusan makanan aman banget.

TIME REALLY HEALS. Kadang kita aja yang nggak percaya kalau hidup itu bisa memperbaiki dirinya sendiri.

Ya asal kita berusaha dan nggak cuma leyeh-leyeh doang.

“Tapi usaha aku segini aja deh perasaan, males aku usaha lebih, jadi ya dapetnya juga segini aja” — saya pada JG beberapa hari lalu.

Dijawab dengan “ya pindah kerja juga kan berusaha, selama kita masih kerja mah kita masih berusaha. Kecuali kalau nganggur karena males”

IYA JUGA YAAA.

Banyak ya orang nggak “berusaha”, bahkan untuk kerja aja pilih-pilih banget dan banyak mikir padahal sehari-hari pengangguran dan nggak punya penghasilan tetap. Fakta mengerikan karena gue kenal banyak orang yang lebih milih nganggur daripada kerja yang nggak disuka.

Iya sih gue menuhankan kerja sesuai passion, tapi tetep lah prioritas utama adalah punya penghasilan. Bisa kerja sesuai passion alhamdulillah, tapi kalau nggak kerja demi ngejar passion dan jadi nggak bisa nafkahin keluarga mah ya pengen kasih jari tengah sih.

Ya lo bela-belain ngejar passion tapi makan susah. Bela-belain kerja yang lo suka tapi anak lo sekolah seadanya. Gimana ya itu skala prioritasnya. Membingungkan.

(Baca: Hidup yang Kita Pilih)

Poinnya adalah, selama kita mau kerja, hidup harusnya baik-baik aja. Kadang hidup itu emang gila banget pengen teken tombol pause dulu karena capek, kadang pengen rewind dan ngulang waktu, bahkan pengen stop aja dan nyerah di titik ini karena ngerasa nggak sanggup lagi, tapi masalah-masalah melelahkan itu sebenernya cuma akan punya dua jalan keluar.

Pertama, kita usaha sekeras mungkin cari solusinya sampai ketemu dan diberesin semua. Kedua, ya kita diemin aja dan berharap semua masalah lewat sendiri. Antara kita jadi kebal sama masalah itu atau masalahnya selesai sendiri. Keyword: berharap. Selama masih punya cita-cita, selama masih punya harapan, kita masih punya masa depan! Jadi jangan berhenti berharap!

Buat kalian yang hidupnya lagi susah banget, keep going. Mungkin masalah hidup gue receh banget dibanding masalah kalian tapi inget aja kalau yang kita butuhkan setiap hari adalah keyakinan kalau kita masih punya harapan. Bangun tidur liat cermin, senyum, dan yakinkan diri sendiri kalau semua akan baik-baik aja.

Let your faith be bigger than your fears. Everything will be fine. Everything in no time at all. Hearts will hold.

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

2009 vs 2018

on
Saturday, June 9, 2018


Tadi pagi saat sahur saya dan JG ngomongin Diana Rikasari yang kebetulan muncul di feed Instagram. Saya bilang JG, saya "kenal" Diana dulu sekali di sekitar tahun 2008 saat Diana masih di DeviantArt dengan foto-fotonya yang diedit artsy (serta pernah berponi pink lol).


Setelah sahur saya jadi scroll blognya Diana di tahun 2009 dan nostalgia beberapa brand indie lokal yang dia foto, persis endorse Instagram zaman sekarang dengan foto yang unpretentious. Ada Betty La Shop-nya Sabila Anata, Beatnik, OnlyI. Zamannya fashion blogger itu ya Diana, Heidi Kalalo, Bethanny Putri plus Evita Nuh yang masih kecil banget.

Bisa dibilang selain mulai muncul blogger-blogger yang ngetop (thanks to Gogirl!) 2009 adalah tahun kebangkitan online shop. Orang mulai percaya belanja online di fanpage Facebook dan blogspot (setelah sebelumnya online shop itu hanya di Multiply).

Jualannya masih bener-bener atas asas kepercayaan dan kayanya jarang banget yang nipu deh. Saya salah satunya jadi sis-sis online shop berjualan kalung handmade di fanpage HappyBee! yang dalam sekejap punya followers 5ribu. Kalung itu tentu mampir ke blognya Diana karena dulu kayanya SEMUA online shop handmade/lokal ya kirim ke Diana. Jaminan laku gitu lol.
kalung buatan saya, blogpostnya masih ada di sini.
Dari jualan itu saya bisa beli Blackberry Javelin sendiri. Harganya Rp 3,8juta tahun segitu mahal kan ya hahahaha Saya juga banyak temenan sama pelanggan dan sama-sama sis online shop. Karena dulu fanpage itu nggak bisa message! Jadi kalau mau chat sama calon pembeli, ya mereka harus add Facebook pribadi/Yahoo! Messenger saya atau ngobrol di Twitter. Atau ya smsan pake nomer Esia ahahahaha.

masa-masa beli cottonink yang bales carline herself. :D

Tapi yang menohok dan jadi trigger blogpost ini bukan tentang saya jualan. Tapi tentang ol shop "angkatan saya" dulu yang sama-sama minta support Diana. Ya nggak semuanya masih ada sampai sekarang juga sih, tapi banyak yang sekarang jadi nama besar.

Ada Mannequin Plastic yang wow banget sekarang udah buka counter di PIM dan Lotte Shopping Avenue lewat PINX PROJECT. Ada Wondershoe yang legend banget karena punya flat shoes ukuran besar. Sampai Cotton Ink yang dulu masih jualan di blogspot dan jualannya cuma cotton shawl 60ribuan (saya punya empat hahahah). Di luar itu ada idekuhandmade yang masih buka workshop bikin bantal kain perca yang legend berbentuk owl hahahaha. Sweet old times. :')

fringe shawl dan acid wash dari cotton-ink

Kalau lagi nostalgia gitu mau nggak mau mikir, kok gue nggak seriusin di situ sih? Kesel banget, coba kalau diseriusin mungkin sekarang udah jadi apa. (APA?) Ya mungkin udah punya store atau brand sendiri.

Tahun lalu ini jadi masalah inferiority yang besar banget lho. Ditambah dulu kerja di detikcom di mana saya punya akses ke artis-artis Korea sampai dibikin buku segala saking jarang terjadinya itu pengalaman. Semua orang iri, semua orang histeris tiap saya foto atau live tweet lagi ketemu atau interview artis Korea.

Saya mungkin nggak pernah cerita ini detail tapi tahun lalu itu saya jadi punya anxiety problem di mana saya terus-terusan ngerasa "kurang". Dulu gue bisa gini kok sekarang nggak bisa, dulu sekeren itu kok sekarang nggak, dulu orang banyak yang iri sama hidup gue kok sekarang gini-gini aja. Bisa sampai nggak bisa tidur mikirin hal itu.

Dan itu terjadi berbulan-bulan, lama sekali. Kalau kalian notice sih sebenernya waktu itu blogpost saya cuma sekitaran inferiority, bersyukur, dan seputar itu padahal dalam kenyataannya saya sendiri struggling tentang masalah itu. Untung punya geng kesayangan yang selalu support dan selalu dengerin keluhan-keluhan seputar inferiority problem saya. Love you gengs. :*

Perasaan inferior itu perlahan hilang setelah saya bertekad harus belajar skill baru biar nggak inferior lagi, mulailah saya gambar. Gambar itu relaxing banget dan pelan-pelan anxiety itu hilang sampai sekarang hilang sama sekali. Kadang masih ada sih tapi nggak parah sampai nggak bisa tidur lagi.

Karena udah berlalu, saya jadi bisa mikir jernih bahwa kadang (atau malah seringnya) kita memang fokus pada apa yang nggak kita capai, nggak fokus pada apa yang udah jadi achievement kita. Kalau dipikir-pikir lagi, ya wajarlah saya nggak punya brand karena dulu juga itu sampingan banget kok. Cuma biar punya uang dan ya seru-seruan aja.

Karena hobi crafting maka bikin kalung, main Polyvore, main Looklet, itu setara dengan nonton series Gossip Girl dan Heroes. Bukan sesuatu yang saya seriusin apalagi dibikin plan. Ya menang kompetisi alhamdulillah, banyak yang beli ya wajar karena emang diusahain marketingnya kan, tapi nggak pernah punya plan untuk jadi bisnis.

Lalu apa yang saya seriusin dan bikin plan? YA NULIS.

Coba cek resolusi tahun 2009 yang pernah saya bahas di sini. Sama sekali nggak ada tentang ngembangin bisnis, adanya ya jadi kontributor Gogirl! yang mana ya tercapai juga kok. Semua plan hidup saya sejak SMP memang melulu tentang nulis. Mau masuk SMA IPS biar kuliah jurnalistik adalah salah satu plan tentang nulis yang udah di-set sejak muda.

Waktu masih seneng baca teenlit, saya bertekad suatu hari harus nulis dan diterbitkan GagasMedia. TERKABUL JUGA. Buku pertama saya diterbitkan GagasMedia. Nextnya saya mau kerja di media, ya alhamdulillah dong sampai sekarang emang kerja di media terus kan.

Tau-tau udah punya buku kedua, tau-tau blog ini udah 700 posts lebih, saya udah nulis di banyak sekali tempat. Dari yang urusan kerjaan (ya pasti nulis di detikcom mah ya) sampai yang paling random kaya jadi kontributor di Soompi. Pas kerja di The Jakarta Post masih nulis juga di detikcom dan jadi kontributornya Mommies Daily. Lah sekarang malah kerja di Mommies Daily beneran. Nulis banget dan saya suka kok. Kenapa harus inferior?

Itu pertanyaannya.

Kalau kalian nggak pernah mengalami anxiety problem pasti cuma suruh bersyukur tok (dan kadang dengan nada meremehkan huhu). Padahal seringnya sih nggak ada hubungannya. Waktu anxiety itu muncul, boro-boro kepikiran achievement, yang dipikirin adalah kurang kurang kurang terus dan nyalahin diri sendiri.

Kalau kalian lagi ada di posisi saya dulu, HANG IN THERE. Cari teman. Kalian butuh teman, kalian BUTUH dan PASTI PUNYA. Kadang kalau lagi begitu, rasanya kaya nggak punya temen banget kan. Huhu. Cari support system dan kalau bener-bener nggak bisa, kalian harus cari bantuan profesional.

Jadi ya, tahun 2009 adalah tahun di mana saya lagi merangkak menuju peak masa muda di tahun 2011. Habis itu grafik self-achievement memang turun karena nikah dan punya anak, turun sampai minus sampai rasanya saya nggak punya pencapaian apa-apa kecuali mendidik Bebe yang mana itu mah kewajiban dan tanggung jawab ya bukan pencapaian pribadi.

Tahun ini harus jadi tahun berkarya. Berkarya apa aja, kerja yang semangat, nulis sebanyak mungkin, gambar sesering mungkin. Saya sampai beli mesin jahit demi bisa skill baru lagi. Jadi mencoba untuk naikin lagi grafik self-achievement-nya mumpung Bebe udah besar dan udah bisa main sendiri. Saya punya banyak waktu untuk berkarya dan menyeret diri biar nggak leyeh-leyeh terus.

JADI YUK SEMANGAT YUK. Hidup memang naik turun, kalau lagi turun kita mungkin butuh waktu untuk yaaa berdukacita sejenak. Nggak apa-apa sedih asal jangan lama-lama dan selalu ingat kalau semua orang pasti dikasih kemampuan untuk berguna buat orang lain. Kumpulin semangat lagi biar lebih bisa menikmati hidup

2018-nya udah Juni lho ini. Apa aja yang udah dicapai? :)

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Suamiku Sayang

on
Wednesday, June 6, 2018
GILA CRINGEY ABIS JUDULNYA. Ini saya udah PASTI dinyek banget nih pasti gara-gara judul ini HUHU BIARLAH SEKALI-KALI YA.


Iya jadi akhir-akhir ini saya sibuk banget sampai capek. SIBUK NGETS mana lagi bulan puasa jadi jam tidur keganggu kan mau nggak mau ya ngantuk dan lemes. Dari urusan kantor yang nggak akan pernah selesai, ketambahan urusan buku.

Iya keliatannya saya nggak pantes ngeluh tapi beneran nggak nyangka ngirim-ngirim barang itu melelahkan ya. Untung dari awal kepikiran pake Tokopedia (jangan tanya kenapa nggak pake yang lain ya, we have our own reason, nggak endorse juga kok).

Kebayang kalau nggak pake marketplace, maka kami harus terima order via email/WhatsApp, itung ongkir manual, nunggu orang transfer, terus konfirmasi bayar, terus rekap alamat dan print. Ini karena pake marketplace, saya tinggal print alamat doang kelar.

DIPIKIR CUMA BEGITU. Ternyata tetep capek juga karena harus bolak-balik bawa dari apartemen saya ke apartemen Adit. Naik turun dan masukin mobil berapa kali tuh. 100 buku itu sama sekali nggak ringan lho. Pake travel bag gede aja harus dua biji.

Dari ambil buku dari penerbit, naikin ke dari parkiran ke kamar untuk saya tanda tangan, pack ulang bawa ke apartemen Adit, Gesi tanda tangan, janjian lagi sama Adit, angkut lagi ke apartemen kami, bungkusin, tempelin alamat, kroscek ke data di Toped, packing lagi, ANGKUT LAGI bawa turun ke parkiran untuk dikirim.

Masih juga harus masukin resi satu-satu. Sementara pulang malem terus. Waw sungguh merasa langsung butuh asisten (dan merasa nggak sanggup punya bisnis sampingan lol).

UNTUNGNYA PUNYA ASISTEN. HUHU. KASIAN SUAMIKU ASISTEN YANG PALING CAPEK KARENA BOLAK-BALIK NGANGKUT BUKU. Sampai kemarin pagi pun dia yang bawa ke JNE deket kantor sementara istrinya molor lagi karena ngantuk sumpah.

Padahal di rumah saya juga nggak ngapa-ngapain. Kalian tau kan ustaz-ustaz suka bilang “istri itu tugasnya manager rumah tangga”. Saya literally manage DOANG. Pasti tidur duluan karena dia masih beres-beres atau kalau bulan puasa gini abis subuh saya tidur lagi sementara dia ya beres-beres.

(Baca: Mengatur Keuangan Keluarga)

Sebagai manager, tentu saya manage urusan uang yang bahkan dia nggak pernah tau persis nominal uang kami ada berapa. Yang penting kalau dia mau sesuatu selalu boleh beli (kecuali mintanya Harley wtf). Yang penting makanan selalu ada, gimana pun caranya. Katering atau beli apa aja JG nggak pernah protes kecuali kalau keseringan jajan mahal karena dia takut uang abis hahah. Pagi-pagi saya kasih to do list apapun juga dikerjain.

Saya cuma diminta nyuci. NYUCI ITU MENCET TOMBOL DOANG. Karena yang masukin cuciannya dia, yang jemurnya dia juga, yang ambil dari jemuran dia juga.

Yang masak dia juga, yang cuci piring dia juga, yang beres-beres rumah dia juga. Yang ngomel karena si Bebe berantakin rumah ya dia juga hahaha.

Sampai pada titik saya bilang:

“Sayang akhirnya aku tau pembagian tugas kita, aku berkarya, kamu ngerjain tugas rumah tangga ya?”

HAHAHAHA. #win

Ya iya dong kalau saya nggak berkarya nanti nggak jadi istri membanggakan kan gimana. Bagi JG, punya istri membanggakan itu lebih penting dibanding istri yang ngerjain tugas rumah tangga.

via GIPHY

Dan ya bisa kaya gini karena perjanjian awal sebelum nikahnya emang kaya gini sih. Dia bercita-cita jadi stay at home dad, di rumah beres-beres, masak, main sama Bebe dan nunggu saya pulang kerja.

nyuruh pindah kerja supaya dia bisa ongkang-ongkang dan ngelem alamat pembeli dagangan itu maksudnya *DIJELASKAN*

JADI SEBAGAI ISTRI APA KONTRIBUSINYA? MMM APA YA LOL.

Saya bantu kookkkk bantu banget dengan bacain Bebe buku setiap hari, ngajarin Bebe baca tulis, main sama Bebe, dan ya pokoknya urusan edukatif sama Bebe sih urusan saya karena si Bebe nggak bisa serius kalau sama JG mah.

Alhamdulillah ya ternyata setelah dipikir-pikir ada kontribusi juga lol.

Bersyukur banget punya suami kaya gini. Yang jarang banget berantem dan kalau pun sekalinya berantem nggak pernah lama-lama karena kangen. Nggak lama-lama itu 15 menit doang gengs. Huhu.

Emang kalau sama orang lain dia nyebelinnya sumpah. Suka malu-maluin karena suka nyapa orang nggak kenal di mall sok akrab gitu (Adit yang introvert sampai stres HAHAHA). Suka juga gabung makan siang sama geng orang lain di kantin kantor yang padahal nggak kenal sama sekali.

Suka tiba-tiba joget di tempat umum, dari Bebe awalnya malu dan kesel sama appa sampai sekarang dia ikutan joget juga. Untung sekarang udah nggak suka ngeyel pengen nyanyi di nikahan orang. Dulu suka nyanyi di nikahan orang padahal suaranya fals huhu. Mengapa.

(Cerita lebih detail pernah ditulis di sini: Suami yang Nyebelin)

Saya juga nggak pernah dilarang-larang mau ngapain pun, ya karena saya juga nggak pernah larang-larang. Larang rambut gondrong sih soalnya pasti ketombean jijik huhu. Dan yang terpenting, semua uang dia dari gaji, THR, hingga bonus ya saya dong yang pegang HAHAHAHAHA.

Eh jadi pengen nulis tentang larang-larang ini deh nanti ya. *kebiasaan suka janji-janji pengen nulis apa tau-tau ketumpuk terus lupa lol*

Jangan lupa baca di buku “Susahnya Jadi Ibu” ya gengs. Ada surat menyentuh hati di bagian terakhir untuk suami-suami kami yang selalu full support. *ujung-ujungnya promo lol*

1460, always.

-ast-

Baca cerita lain di Tentang Kami atau When It's Only Jg & AST!




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!