-->

Image Slider

Angpao Bebe

on
Thursday, June 13, 2019
Waw sebulan lebih nggak nulis parenting lho masih mau ngaku parenting blogger apa gimana ini? :))))



Saya cuma mau lanjutin cerita Bebe dan Uang sebulan lalu. Setelah ikut kelas Kids & Money, ini hasil implementasinya.

(Baca dulu ini: Bebe dan Uang)

Si Bebe dapet angpao itu cuma dari tante-tante saya dan adik-adik sepupu saya yang udah kerja. Dikit banget emang orangnya, jadi dapetnya juga memang nggak banyak kaya orang-orang (fyi kemarin ada yang share di Instagram MD kalau dia nabungin angpao anaknya sejak 2015 dan udah mau nyampe 20juta gileee).

Tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, si Bebe nggak ngerti uang sama sekali. Dia bahkan nggak peduli sama uangnya. Disodorin aja nolak gitu, pas orangnya maksa, antara dia takut atau dia ambil terus langsung kasih ke saya.

Kondisinya memang Bebe nggak pernah pegang uang. Dia nggak ngerti warung dan nggak pernah jajan. Ke minimarket juga jarang banget paling ikut ke supermarket pas belanja mingguan, itupun mentok beli yogurt atau es krim doang jadi emang sejarang itu jajan.

Plus dia liat saya bayar kan pake kartu debit ya, jadi dia kayanya mikir apa itu uang? Apa pentingnya? Kenapa orang ngasih uang sih?

Tahun ini, dia udah bisa menghitung sampai ratusan. Bisa tambah-tambahan lancar asal penambahnya nggak lebih dari 10 jari. Iya jadi pake sistem angka yang banyak di otak, sisanya itung di jari hahahahaha. Kurang-kurangan belum bisa. Tapi udah tahu mana angka lebih banyak mana angka lebih sedikit.

Itu sebabnya saya merasa oh dia siap nih belajar uang.

Selama bulan puasa saya sounding, nanti lebaran kamu akan dikasih uang. Uangnya boleh kamu jumlahkan sendiri lalu kamu boleh beli apapun yang kamu mau asal uangnya cukup. Khayalan pun dimulai. Dari mau beli puzzle kemudian ganti ke Lego, ganti lagi ke puzzle dan berakhir keukeuh ingin beli Lego.

Di hari H, dalam kondisi dia yang slow to warm up dan banyak orang, BENER LHO DIA MAU DIPANGGIL DAN DIKASIH UANG HAHAHAHAHA

Malah posesif banget semuanya ditumpuk lalu dipegang sendiri dengan bangga. Pake pamer segala “uang aku banyak loh” idih sombong hahahaha.

Lalu dihitung bersama. Wah, angkanya lumayan! Kemudian langsung rewel “AYO KE MALL IBU BELI LEGO IBU” berjuta kali.

Di hari yang fitri, lebaran hari pertama, setelah berkunjung ke rumah saudara dan mertua, kami sekeluarga ke mall. Iya sekeluarga sama ayah ibu dan adik saya juga, demi mengantar Bebe beli Lego.

Ngerti loh ternyata dia. Total uang yang dia punya saya tulis di notes, lalu dia cek harga satu-satu, dia ngerti mana yang lebih mahal dan mana yang lebih murah. Beli deh, bayar sendiri, pegang sendiri dong bangga banget.

Abis itu dia lupa punya sisa uang zzzz.

Sampai di Jakarta, temen sekolahnya ada yang pake topeng dinosaurus lalu dia mau juga. Baru deh inget punya uang. Itung-itung masih cukup untuk beli topeng dino lalu kembali rewel pengen ke mall HAHAHAHA.

Gimana soal nabung dan beramalnya? NGGAK TAU LOL.

Dia masih di excitement bisa belanja sendiri gitu jadi diingetin konsep menabung dan beramal dia cuek aja. Ya sudahlah nanti lagi aja. Namanya juga persiapan ke uang saku ya, nanti kalau uang saku panjaaanggg pasti blogpost dan perjalanannya hahahaha.

Segitu aja deh. Yang penting keceritain biar nggak lupa.

See ya!






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Mendefinisikan Sempurna

on
Friday, June 7, 2019
Sempurna, satu kata yang mengganggu saya akhir-akhir ini.


Seperti seorang teman yang saya tahu sangat sangat akrab dengan sang ayah. Sampai sekarang meski sudah menikah, ia tetap tinggal serumah dengan kedua orangtuanya. Sempat mengontrak rumah namun terlalu banyak kangen pada ayah ibu sehingga seringkali rumah kontrakan itu ditinggal dan tetap pulang ke rumah orangtua.

Sampai saya tahu, ia sejak kecil sering jadi korban kekerasan oleh sang ayah. Saya bingung kok bisa tetap menganggap ayah sebagai ayah yang sempurna? Kenapa?

Menurut teman saya itu, si ayah SELALU punya alasan untuk melakukan kekerasan, plus ayahnya juga sangat penyayang. Seumur hidup ia merasa disayang sampai kalau melakukan kesalahan dan sampai dikasari, ia merasa memang layak untuk diperlakukan kasar meski sampai dipukul.

Ini bukan soal benar salah ya. Siapa saya ini sampai mau menodai hubungan ayah dan anak yang mereka saja menganggap hubungan mereka sempurna. Masa saya yang jadi heboh sendiri dan bilang: Ayah penyayang seharusnya tidak memukul!

No, semua orang punya cara sendiri untuk menjalani hubungan dengan orang lain kan. Bagi saya tidak wajar, bagi orang lain mungkin sangat wajar dan tidak apa-apa. Asal sepakat saja mana yang wajar mana yang tidak wajar.

Jadi kalau begitu, apa definisi sempurna? Apa perlu sempurna didefinisikan?

Selama ini jujur saja, saya selalu berpikir dan menganggap peran saya sebagai ibu sudah sempurna. Saya juga selalu menganggap pernikahan saya sempurna.

Ya memang bullshit kalau kadar kesempurnaan kalian adalah ibu di rumah 24 jam bersama anak dan tidak meng-outsource pengasuhan pada orang lain. Bullshit pula kalau standar kesempurnaan istri adalah mengurus rumah tangga, bukannya bekerja di luar rumah.

Saya menitipkan Bebe pada orang lain seharian penuh, saya tidak pernah memberi makan dia makanan bergizi saat weekend, saya membiarkan dia nonton berjam-jam. Tidak sempurna bagi standar banyak orang tapi bagi standar saya, saya ibu yang sempurna. IDGAF what anyone thinks.

Pun soal pernikahan. Kami bukannya tidak pernah bertengkar sama sekali dan kadang masalahnya bukan masalah kecil. Tapi dari masalah besar saya berpikir berulang-ulang bahwa nggak ada orang yang sempurna, nggak ada pernikahan yang sempurna, tapi kenapa saya tetap menganggap kami tetap sempurna?

I think we balance each other out so when something bad (or reaaallly bad) happens to us, we tolerate it, compromise, communicate, and let it pass. We kinda stuck with each other because I don’t think I can find someone better than him, vice versa.

Apakah jadinya saya menutup mata pada hal-hal lain yang dianggap orang sebagai cacat? Mungkin saja iya dan tidak apa-apa. Apakah jadinya saya halu padahal orang menganggap hidup, peran saya sebagai ibu, dan pernikahan saya banyak masalah? Mungkin saja iya dan ya sudahlah biar saja hahahaha.

Apakah kehaluan akan kesempurnaan ini akan jadi bom waktu yang meledak tiba-tiba? Kalau pun iya, biarlah waktu menjawab. Life is a mystery anyway. :)

(Baca: Menikah dalam Satu Kata)

Meski demikian, saya menganggap keseluruhan hidup saya tentu tidak sempurna. Saya masih punya standar hidup sempurna yang belum saya capai. Sialnya, standar hidup itu terus berganti, terus naik kelas, sehingga entah kapan saya akan menganggap hidup saya sempurna.

Orang boleh bilang hidup saya sudah sempurna, tapi kan yang menjalani saya sendiri, yang tau apa yang saya inginkan ya saya sendiri juga. Jadi terserah orang menilai, saya tetap punya penilaian sendiri dan saya (seringnya) tidak peduli pada penilaian orang. Hahahaha.

Tidak ada standar untuk kesempurnaan. Yang terbaik bisa kita lakukan adalah jadi penyayang bagi sesama. Be a loving parent, be a loving spouse, be a loving daughter, be a loving person.

Tidak apa-apa kamu jadi ibu yang sibuk dan nggak selalu ada buat anak tapi pastikan ketika kamu ada, kamu jadi ibu yang 100% sayang pada anak. Tidak apa-apa kamu jadi istri yang sibuk dan nggak mau masak tapi pastikan suami kamu merasa disayang. Tidak apa-apa kadang lupa jadi ibu dan istri penyayang tapi ketika ingat, langsung lakukan sebaik yang kita bisa.

Tak usah mencari kesempurnaan dengan standar orang lain karena untuk apa. Tak perlu ingin sempurna demi ingin dilihat baik oleh orang lain karena tak ada gunanya.

Just try and try again.

via GIPHY

Demikian tulisan ini jadi pengejawantahan akibat libur terlalu lama jadi mikirin ginian aja lama banget sampai harus ditulis daripada jadi gila.

Selamat berakhir pekan!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

IG