-->

Image Slider

Laki-laki Itu Manusia

on
Tuesday, July 31, 2018
Jadi di kantor, kami sedang menjalani sesi team building. Di pertemuan pertama, temanya tentang mindset dan kami diminta mengisi apa yang terlintas di kepala saat mendengar beberapa kata seperti laki-laki, perempuan, kebahagiaan, dll.



Yang menarik (dan terduga sih sebenernya) bagaimana beberapa orang, terutama cowok-cowok yang belum nikah nih ya, mendefinisikan lelaki sebagai “kuat” sementara perempuan sebagai “penyayang”.

Gongnya waktu satu cowok bilang perempuan adalah “ibu dari anak-anak”, salah satu cewek teriak “WE’RE NOT BABY MACHINE!” karena ya kesel ugha yha disebut ibu dari anak-anak DOANG padahal ketemu di kantor juga kan hubungannya profesional dan kami tidak melahirkan anak-anakmu hahahahahaha.

Dari 25 orang di ruangan itu, salah satu jawaban yang paling saya ingat adalah satu cowok yang bilang laki-laki itu “harus kuat dan harus bisa menyelesaikan semua masalahnya sendirian”.

AUTO PENGEN PUKPUK BANGET.

via GIPHY

Rada kasian karena siapa bilang laki-laki harus kuat dan harus bisa menyelesaikan semua masalahnya SENDIRIAN? Sebagai background, teman saya ini baru nikah 3 bulan. Lagi momen-momennya ingin jadi suami ideal yang nggak memberatkan istri dalam hal apapun ya.

Kalau saya dan JG sih tujuan nikah biar kalau punya masalah otomatis jadi masalah berdua. Minimal ada yang bisa diajak cerita kapan aja gitu lho meskipun nggak seketika ada solusinya. Di luar dia yang cewawakan malu-maluin dan senang menari di depan umum, JG itu dulu sangat sangat fragile.

Dia anaknya feeling banget (kebalikan gue yang thinking) tapi seumur hidup, feeling-feeling itu selalu dipendam karena ya bertahan kalau cowok nggak boleh nangis, kalau cowok harus kuat, kalau cowok harus selalu ambil keputusan dan nggak boleh bingung sama hidup.



(Dulu JG nggak pernah bisa ambil keputusan, udah pernah saya jembreng total di sini: Anak dan Pengambilan Keputusan)

Pacaran sama saya, blar lah nangis terus hahahahahaha. Untuk pertama kalinya dia jujur soal bingung menghadapi hidup (WELL, WHO DOESN’T?), apakah gaji akan cukup (YA DICUKUPIN), apakah dia akan baik-baik aja (OF COURSE!).

Setelah dia selalu terbuka, dia tidak fragile lagi. Dia nggak bingung lagi menghadapi hidup karena ya kalau lagi bingung ya diskusi aja. Dia nggak takut lagi uang kurang karena ya diatur sama-sama. Dia nggak takut lagi ambil keputusan karena ya bisa tanya saya dulu. Setelah nikah, JG nggak pernah nangis lagi. Bukan karena dia kuat tapi karena semua feelings-nya selalu tersalurkan jadi nggak menumpuk jadi beban.

Kalau sekarang dipikir lagi, dulu kayanya JG itu depresi. Cuma depresi belum "senormal" sekarang. Dulu kalau stres ya bingung harus gimana, mana kepikiran cari psikiater sih. Kalau sekarang aja 3 sahabat saya udah sampai harus ke psikiater. Saya aja yang alhamdulillah nggak kenapa-napa.

Apa saya nggak ilfeel waktu itu, cowok kok nggak kuat sih?! Ya nggak karena saya juga nggak pernah menganggap cowok harus kuat. Kalau perempuan mau disetarakan, perempuan sendiri yang harus menyetarakan diri.

Saya memanusiakan dia, maka dia memanusiakan saya. Dia tidak pernah melarang saya atau bilang perempuan harus bisa ini dan itu, seperti saya tidak pernah bilang laki-laki harus begini dan begitu. Sesederhana itu.

(Baca: Saya termasuk people with no feelings alias #TeamRealistis)

Laki-laki harus kuat, padahal perempuan juga ya harus kuat. Laki-laki harus bisa ambil keputusan, ya perempuan juga. Laki-laki harus bertanggung jawab, YA KAN PEREMPUAN JUGA.

Perempuan harus lembut, ya laki-laki juga. Perempuan harus penyayang, ya laki-laki juga dong.

Laki-laki harus bisa cari uang, ya perempuan juga. Kalau ternyata nggak nikah gimana? Kalau ternyata udah nikah terus harus cerai atau suami meninggal gimana? Manusia harus bisa cari uanglah untuk bertahan hidup.

Itu kan standar sebagai manusia baik toh?

via GIPHY

Manusia harus kuat biar bisa tahan pada semua cobaan hidup. Manusia harus bisa ambil keputusan biar nggak gampang berantem receh karena ditanya mau makan apa jawab terserah. Manusia harus bertanggung jawab karena ya kalau ditanya mau makan apa jawabnya terserah, jangan ngambek dong kalau diajak makan di tempat yang nggak kita suka.

Manusia harus lembut ya masa kasar-kasar sih kita kan bukan sapu ijuk, manusia harus penyayang biar dunia damai, aman, sentosa.

Lalu apa jawaban saya saat ditanya tentang laki-laki? Saya jawab, laki-laki itu manusia.

Yep, they’re human too!

Men should know how to express themselves, that it’s ok to have feelings, and crying is totally acceptable.

Punya anak laki-laki bikin saya sadar banget kalau saya nggak mau dia jadi anak laki-laki yang memendam perasaan karena dia laki-laki. Yang berusaha terlihat selalu kuat karena dia laki-laki. Yang berkorban karena dia laki-laki.

Yang kalau jatuh dibilang “jangan nangis kamu kan cowok!” NO, saya dan JG selalu bilang “kalau sakit boleh nangis kok”, “kalau kecewa nangis aja”, “kalau marah boleh berteriak tapi tidak memukul atau menendang”, “kalau sedih/marah/kecewa itu bilang karena kalau tidak bilang, ibu tidak akan tau”.

(Baca: Mengajarkan Emosi pada Anak)

Perasaan yang dipendam atau repressed feeling itu nggak bisa bikin bahagia malah nggak sehat, bisa bikin sakit, literally. Udah baca blogpost Gesi yang Battling Depression? Gesi depresi karena repressed feeling dan depresi kan nggak kenal gender. SEMUA MANUSIA bisa depresi.

Ini akan sulit diubah lho kalau kita udah dewasa karena ya semua mindset-nya kan udah dibentuk sejak kecil. Tapi kita bisa banget mengubahnya di anak-anak kita. Mau dibesarkan seperti apa anak-anak kita? Kalau saya mau dia jadi pribadi yang seperti di postingan ini. (maklum nulis udah 800 postingan lebih ya jadi banyak yang udah pernah ditulis hahaha).

Apa tidak khawatir dia jadi tidak sesuai standar society?

Tidak sama sekali karena kami hanya berharap dia jadi manusia yang bahagia. Kalau dia nanti suatu hari dia mau menikah, saya yakin dia akan menemukan perempuan seperti ibunya. :)

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Agar Area Vagina Tetap Terawat dan Tak Iritasi

on
Tuesday, July 24, 2018
[SPONSORED POST]

Oke, hari ini kita akan membicarakan tentang vagina.


Tolong diingat kalau saya nggak akan bilang vagina sebagai “area kewanitaan” ya because IT IS VAGINA. We’re not supposed to be ashamed to say vagina as VAGINA not “area intim” or “area kewanitaan” whatsoever. Kalau bilang vagina aja tabu atau malu, maka mencari info tentang vagina bisa jadi tabu dan malu juga.

Padahal kan vagina juga bagian tubuh manusia ya. Murni pelajaran biologi dan pendidikan seksualitas. Nggak perlu merasa malu apalagi menganggap tabu. Gunanya kalau terjadi sesuatu sama vagina, kita nggak sungkan untuk bicara sama orangtua atau dokter.

Begitu. Jadi ceritanyaaaa ...

… sejak pasang IUD sebagai kontrasepsi, area luar vagina saya jadi sering terasa lebih lembab. Kenapa? Karena sering keluar lendir bening gitu, kadang kecoklatan, pernah bercampur sedikit darah tapi bukan keputihan. Saya kemudian chat dokter kandungan (melahirkan dan pasang IUD sama beliau) terus katanya itu wajar dan udah pernah dijelasin sebelum pasang.


Ya lupaaaa. Boro-boro inget, pas pasang IUD itu saya superpanik lebih panik daripada saat mau melahirkan lol. Setakut itu.

Jadi sejak menyadari bahwa efek IUD adalah jadi ada kemungkinan banyak lendir keluar dari vagina, saat itu saya jadi sadar kalau saya harus memperhatikan kondisi vagina lebih baik lagi. Karena jadinya harus sering ganti pantyliners dan selalu bawa pantyliners ganti ke mana-mana. Nggak repot sih cuma takutnya nih kalau saya skip atau males ganti dan dibiarkan lembap, jadinya keputihan. Nambah masalah baru kan. Masalah yang dibuat sendiri pula kan kesel.

Ada yang belum pernah keputihan sama sekali nggak sih?

Saya nggak inget ya kapan terakhir saya keputihan yang berbau dan gatal karena saya jagain banget. Tapi untuk mencegahnya, ya kalian juga harus jaga vaginanya. Caranya:

- Pastikan tangan bersih sebelum menyentuh area luar vagina. Terutama saat mengganti pembalut karena kadang kondisi tangan kering kan. Cuci tangan dulu pake sabun ok!

- Bersihkan vagina dari DEPAN ke BELAKANG. Ini basic banget jadi harusnya pada udah tau ya.

- Keringkan dengan tisu sampai benar-benar kering sebelum kembali pakai celana setelah buang air kecil. Teorinya sih bersihinnya juga dari depan ke belakang tapi kalau saya sih lebih suka di-tap-tap aja biar mengurangi gesekan.

- Ganti rutin pantyliners dan celana dalam. Selalu bawa cadangan pantyliners di tas dan jangan pake celana dalam (DAN CELANA LUAR) yang terlalu ketat. Celana jins ketat itu kalau di aku sih ngaruh banget bikin area luar vagina jadi lebih lembap. Karena jins kan nggak nyerap keringat ya.

- Ganti pembalut setiap 3-4 jam atau maksimal 6 jam. Selalu bawa ganti atau ya taro satu pack di kantor dan sebungkus di tas biar selalu punya cadangan.

- Pakai pembersih kewanitaan yang cocok untuk menstruasi.

Nggak susah sebenernya. Yang susah itu cari air bersih untuk cebok. Masalah negara dunia ketiga banget ya.

Sering kan kita denger vagina hanya butuh air atau hanya butuh sabun mandi biasa. Padahal ya tergantung airnya juga. Kalau airnya air rest area Cipularang yang butek gitu kan apa kabar banget deh. Jorok juga jadinya.

Sabun mandi biasa juga rata-rata bikin kering karena pH-nya nggak sesuai sama pH vagina. Apalagi kulitnya sensitif kaya saya. Iya area kulit di sekitar vagina saya sensitif banget. Sensitif level nggak bisa sembarangan ganti merek pembalut.

Pas abis melahirkan itu saya ala-ala banget pake pembalut khusus nifas taunya merah-merah iritasi di kulit yang nempel ke pembalut, beneran iritasi merahnya membentuk pembalut. Panas dan gatel parah huhu. Baru sembuh setelah ke dokter, dikasih salep dan disuruh pake pembalut yang biasa dipake kalau mens aja. Ribet yha.

Jadi pake sabun untuk vagina juga nggak ada salahnya lho! Iya kita juga sering denger kalau pake sabun pembersih vagina setiap hari bisa mengganggu bakteri baik. Nah, BETADINE punya produk terbaru yang beda dengan sabun pembersih vagina biasa, namanya BETADINE Feminine Wash yang tersedia dalam versi foam (MY FAVORITE!), liquid, dan wipes alias tisu basah.


BETADINE Feminine Wash ini bukan cuma menyeimbangkan pH vagina tapi juga mengandung probiotik yang mendukung pertumbuhan bakteri baik. Jadi aman banget dan tepat untuk pemakaian harian.

Kalian mungkin pernah denger ya produk BETADINE yang antiseptik, tapi itu beda. Yang sebelumnya itu namanya BETADINE Feminine Hygiene. Kalau yang hygiene itu memang mengandung antiseptik dan nggak disarankan untuk pemakaian harian. Khusus pas menstruasi aja karena bakteri emang berlipat banget kan saat menstruasi.


Kalau BETADINE Feminine Wash justru nggak mengandung antiseptik, kandungannya juga natural dan fungsinya memang bukan untuk mengobati tapi untuk perawatan sehari-hari sebagai pembersih alami. Selain prebiotik, BETADINE Feminine Wash juga mengandung formula Tri-care yang diperkaya dengan bunga Immortelle.

Saya coba yang versi foam dan rasanya sama sekali nggak kaya sabun! Kalian tau kan sabun muka dengan pH balance juga biasanya bikin kulit nggak kering atau ketarik sama sekali, nah BETADINE Feminine Wash foam juga rasanya gitu. Nggak keset, nggak perih, nggak kering dan nggak bikin iritasi. Nggak ada efek kerasa kering setelahnya. Wanginya juga enak.


Yang wipes juga praktis banget. Kandungannya sama dengan yang foam tapi bentuknya tisu basah. Isinya 10 dan biodegradable jadi bisa di-flush di toilet tanpa takut nyangkut. Keren banget kaannn. Yang wipes ini praktis banget buat traveling, wajib ada di tas. Nggak lagi-lagi jijik sama air di toilet Cipularang *TETEP*.



Saya beli kedua varian BETADINE ini di drugstore, harga yang foam Rp 45ribu dan yang wipes (isi 10 lembar) itu Rp 9,900. Kalian bisa beli di Guardian, Watson, Alfamart atau drugstore mana pun, udah available di mana-mana kok!

Lagian kalau produk BETADINE mah percaya banget lah ya. Kalian tau nggak, NASA aja pake BETADINE antiseptik untuk bersihin Apollo 11 dari berbagai kuman luar angkasa waktu pulang dari bulan. LITERALLY DI-LAP PAKE BETADINE LOH ITU APOLLO 11. #funfact

Tertarik untuk nyoba? Nyoba BETADINE Feminine Wash loh ya bukan nyoba ngelap pesawat luar angkasa HAHAHAHA.

Untuk info lebih lengkap bisa dilihat di sini ya!

Website: tanyawanita.id
Instagram: @tanyawanitaid
Facebook: Tanyawanitaid

-ast-





LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe dan Tinggi Badan

on
Monday, July 23, 2018
Sejak masuk preschool di umur 3 tahun lebih sebulan, saya dan JG tiba-tiba khawatir ngeliat tinggi badan Bebe. KOK PALING PENDEK YA DIBANDING TEMEN SEKELAS? Apa harus ke klinik tumbuh kembang?



Rada-rada panik tapi tiap pemeriksaan dokter katanya masih normal kok. Saya cek di kurva KMS juga masih di garis normal. Setelah saya tanya-tanya, ternyataaaaa karena kelas montessori itu mixed age group. Jadi temen sekelas Bebe yang umurnya 3 tahun juga itu cuma 1 orang, perempuan. Sisanya 4 dan 5 tahun, ya jelas lebih tinggi dong ya.

Setahun berlalu dan bulan lalu Bebe akhirnya ultah keempat. KOK YA TETEP PALING PENDEK? Entah kenapa saya ngerasa pertumbuhan si Bebe itu nggak sejalan sama pertumbuhan temen-temennya. Jadi harusnya kan perbedaan tinggi badannya segitu-gitu aja ya, ini nggak. Saya ngerasa Bebe tingginya tetep segitu, sementara temen-temennya makin tinggi.

Hari itu missnya di daycare kirim foto Bebe berdiri berjajar sama temen-temennya dan dia paling pendek huhu. SAYA LANGSUNG KHAWATIR BEBE STUNTING. Padahal ternyata definisi stunting aja nggak tahu HAHAHAHAHA. Pokoknya waktu itu mikir stunting = pendek.

Saya ngobrol sama senior editor Mommies Daily juga mbak Thatha yang anaknya juga seumuran Bebe dan pernah playdate di kantor. Menurut Mbak Thatha kayanya Bebe nggak pendek deh. Soalnya tingginya kayanya sama-sama aja sama Jordy (anaknya yang lahir di bulan dan tahun yang sama). Nomer sepatu aja sama.

Iya sih ya, tapi ya udalah buang penasaran akhirnya Mbak Thatha menyarankan untuk ke Klinik AP&AP milik dokter Aman Pulungan. Sekalian ke dokter ngetop aja katanya biar nggak penasaran lagi. OKE.

Oke aja padahal denger nama Aman Pulungan aja baru sekali itu. Saya telepon JG dan JG detik itu juga langsung telepon bikin janji ke kliniknya. Pas saya browsing, nemu page ini dan wow, langsung deg-degan, mahal nggak ya? HAHAHAHAHA.

Soalnya ternyata dokter Aman ini keren banget gengs. Baca di sini lah kalian sendiri ya: Sekilas tentang Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K).

Saya juga chat Gesi (ya emang chat mulu sih everyday), kata Gesi dokter Aman ini juga ada di iklan TV kampanye vaksin MR bareng Gesi. Jadi ya emang ngetop banget. Terus Gesi ngotot (SAMPAI TERIAK-TERIAK KZL) kalau doi bukan spesialis tumbuh kembang tapi spesialis endokrinologi anak. YA BODO AMAT YANG PENTING KLINIKNYA PEDIATRIC, GROWTH, & DIABETES CENTER ELAH. Gesi ini kalau urusan medis pengetahuannya nyebelin banget lol.


Kemudian kami juga langsung daftarin Bebe les renang. Ini rencana lama sih dalam rangka mengisi weekend yang bermanfaat. Jadi jadwal pun langsung padat, Sabtu trial les renang, Senin ketemu dokter Aman. Semua demi tinggi badan.

Kenapa tinggi badan penting? Soalnya kasian takut dibully huhu dan di dunia yang masih visual ini  tinggi badan masih mayan ngaruh. Dari pergaulan sampai pekerjaan. Kalau anak cewek kecil kan masih lebih sering dianggap cute ya, kalau anak cowok kecil duh kasian aja sih. Dan mumpung masih golden age, ngarepnya masih belum terlambat untuk berusaha nambah tinggi badan.

Jadi Bebe stunting nggak?

 


NGGAAAKKK AHAHAHAHA. Ini kata Wikipedia:

Stunted growth, also known as stunting and nutritional stunting, is a reduced growth rate in human development. It is a primary manifestation of malnutrition (or more precisely undernutrition) and recurrent infections, such as diarrhea and helminthiasis, in early childhood and even before birth, due to malnutrition during fetal development brought on by a malnourished mother. 

Stunting itu bukan cuma pendek. Berat badan juga udah pasti kurang dan otaknya tidak cerdas. Jadi kalau yang ketinggalan cuma tinggi badan ya bukan stunting. Stunting itu ketinggalan dari semua lini perkembangan gitu. Baru tau banget. Payah ya.

via GIPHY

Gimana kata dokter Aman Pulungan?


Pertama kami konsultasi dulu sama asistennya. Dokter perempuan gitu, beliau periksa seluruh tubuh Bebe. Terus saya ditanya-tanya juga mens umur berapa? Apakah JG waktu kecil termasuk pendek? Karena ada yang namanya pengulangan masa kecil orangtua. Jadi kalau ortu dulu telat mens atau telat tumbuh, anak juga bisa jadi sama.

Hasilnya Bebe di bawah garis normal. Dikit doang sih.

Jadi kan ada 7 garis. Garis keempat itu normal, Bebe di garis kelima dengan tinggi 97,5 cm (bukan di garis keenam atau ketujuh untungnya, garis ketujuh itu 94,1 cm). Setelah itu, dokternya ngitung gitu, tinggi badan saya ditambah tinggi badan JG, diapain diapain diapain pokoknya doi ngitung pake kalkulator di HP-nya.


Hasilnya dengan tinggi badan saya dan JG, harusnya di umur segini Bebe bisa lebih tinggi. Potensi tinggi genetik Bebe nggak sesuai dengan tinggi Bebe sebenarnya. Ah, jadi bener Bebe pendek hiks.

Hasil ini kemudian baru dikonsultasikan dengan dokter Aman. Menurut dokter Aman, Bebe sehat-sehat aja ahahaha ibu dan appa kenapa gampang panik ya. Karena berat badannya normal, kecerdasannya normal (kecerdasan bisa dites sederhana melalui bahasa, ya jelas banget lah Bebe mah ngomongnya ya).

Tinggi badan kurang dikit mungkin kurang penyerapan vitamin D, akhirnya diresepin kalsium dan vitamin D. Disuruh balik lagi dalam 3 bulan kalau vitaminnya udah abis untuk liat perkembangannya. Katanya nanti akan semacam dirontgen juga atau foto tulang tangan atau apa sih namanya lupa huhu.

Saya bilang kalau Bebe les renang, akan ngaruh nggak ya? Kata dokter Aman, asupan makanan (seperti minum susu) dan aktivitas fisik itu lebih kecil pengaruhnya pada tinggi badan. Yang ngaruh pertama sih tetep genetika. Meskipun ya plus minus juga sih. Kalian bisa coba di sini, IDAI punya kalkulator untuk menghitung perkiraan tinggi badan anak: Kalkulator Tinggi Potensi Genetik

semoga Bebe setinggi Lee Min Ho yaaa HAHAHAHAHA Lee Min Ho 187 cm masa ih -_____-

Saya juga sempet nanya, apa ada makanan yang kurang makanya Bebe kurang tinggi? Katanya “nggak dong, kalau makannya kurang beratnya pasti kurang juga. Ini kan beratnya normal, cuma tingginya kurang dikit”.

SIAAAPPP DOK! Maklum mamah papah millennials ini kalau belum ngomong sama ahlinya sih nggak percaya diri sama perkembangan anak sendiri hahaha

Sempet juga ngobrol panjang lebar juga sama dokter Aman yang baik hati sekaliiii. Kalian kalau ke sana tau dari mana plis bilang tau dari annisast dok, blogger temennya Grace Melia yang kempen MR gitu yaaa hahahaha. (BIAR APA COBA AUK)

Berapa biaya konsultasi dengan dokter Aman Pulungan di Klinik AP&AP Kuningan?


Kemarin kami habis sekitar Rp 1,1juta. Dokternya Rp 500ribu, vitaminnya Rp 500ribu sekian plus biaya admin. Ya masih masuk akal sih menurut saya ya. Vitaminnya juga buat 3 bulan kan. Nggak apa-apalah ya. Lebih baik nyesel karena tahu daripada nyesel karena nggak cari tahu kan.

Jadi begitulah, yuk buibu tetep pantau tinggi dan berat anak. Soalnya lewat 2 tahun dan lewat jadwal imunisasi tetap biasanya kita jadi bye banget nih sama urusan tinggi dan berat anak. Jangan sampai ya! Tinggi dan berat anak itu faktor yang paling gampang dicek lho untuk ngecek apakah anak tumbuh atau nggak.

Semoga 3 bulan lagi Bebe bisa lebih tinggi! AAMIIN!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Cerita dari Rumah Eyang Habibie & Ainun

on
Sunday, July 22, 2018
[Ini cerita full dari rumah Pak Habibie. Karena saya diundang untuk perayaan hari anak nasional, jadi harus buat artikelnya tentang gizi dan hari anak nasional, makanya posting ini. TAPI GEMES JADINYA KEPENDEKAN HAHAHAHA. JADI INI SAMBUNGANNYA YA, PART 2 ALIAS VERSI LEBIH PANJANG DAN EMOSIONAL LOL]


"Eyang suka sekali makan ikan. Kami orang Sulawesi senang makan ikan. Ikan itu bisa dibakar, digoreng, dibuat sup. Kalau ibu Ainun orang Jawa, orang Jawa biasanya makan ikan hanya digoreng. Akhirnya ibu Ainun kalau masak itu digabung, cara Jawa dan cara Sulawesi," jelasnya.

Begitu nama ibu Ainun tercetus dari mulutnya, hati saya mencelos sedikit tapi air muka Eyang tidak berubah. Ia masih bercerita dengan semangat.

Baca cerita selengkapnya tentang Eyang Habibie Bicara Gizi di link ini ya!

Eyang menghabiskan masa kuliah S1, S2, dan S3 di Jerman sampai kemudian bekerja di sana. Namun ia dipanggil pulang oleh Presiden Soeharto untuk menjadi Menteri Riset dan Teknologi (1978-1998) dan kemudian menjadi Wakil Presiden, jabatan yang diembannya hanya selama 2 bulan sebelum langsung naik menjadi Presiden karena Soeharto mengundurkan diri.

Ah, Eyang.


Lahir di tahun 1936 Pak Habibie bahkan lebih tua dari kakek dan nenek saya. Boleh dong ya saya juga panggil juga dengan "eyang"? Omong-omong, Eyang ya jelas bisa ada di situ, wong itu rumahnya. Saya sendiri mengapa ikut ada di situ?

Saat mendapat undangan dari Clozette Indonesia dan Habibie Center beberapa hari sebelumnya, saya masih belum yakin benar. Ini benerankah akan ada Pak Habibie-nya di depan saya nanti? Ini benerankah acaranya di rumah pribadi Pak Habibie, bukan di Habibie Center Kemang? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang simpan sendiri.

Berbaju biru putih sesuai dress code, sore itu akhirnya saya berdiri di depan rumah berpagar putih. Mobil terparkir berjajar di tepi jalan yang asri dirimbuni pepohonan tinggi. Beberapa videografer TV tampak merokok di depan rumah. Di sebelah mereka berdiri kokoh pagar batu, tertempel di dinding itu plat perak bertuliskan “Wisma Habibie & Ainun" dilengkapi dengan alamat rumah.

Saya tersenyum membaca plang itu karena ya, teringat lagi kisah cinta Habibie Ainun.

[Gambar dari Google Street View karena kemarin sulit sekali memotret tulisan ini, tertutup mobil parkir]

Masuk ke dalam area halaman, saya disambut seorang bapak yang tampak seperti ajudan berbaju batik, bertanya saya siapa dan dari mana. Kemudian baru berjalan beberapa meter saya ditanyai lagi oleh polisi berseragam yang kembali memeriksa nama lengkap saya dari daftar tamu.

Di depan pintu, duduk penerima tamu yang sekali lagi memeriksa nama saya dan memberi ID card untuk dipakai sepanjang acara. Saya melirik ke arah pintu, di sampingnya tertulis "Perpustakaan Habibie & Ainun” di atas semacam marmer putih yang dilengkapi dengan tanda tangan dan nama lengkap Pak Habibie dan Ibu Ainun.

Habibie & Ainun lagi.

Saya bersama beberapa orang yang kebetulan datang bersama langsung dipersilakan masuk. Berjalan melewati tempat menerima tamu yang diapit dengan ruang tamu di kanan kirinya. Saya terus berjalan sampai kembali ke luar menuju halaman belakang. Wah, ada kolam ikan!


Kolam ikan itu seperti infinity pool—disebut kolam tak berbatas karena dindingnya terbuat dari kaca. Dua kolam itu bersisian, masing-masing berukuran sekitar 3x3 meter, kolam terbelah di bagian tengah yang merupakan jalan menuju perpustakaan. Saya belok kiri menuju pendopo yang sudah ramai, wangi makanan mulai tercium, terdengar banyak orang yang bercakap-cakap pelan.


Di dalam, terlihat anak-anak SD ditemani guru dan orangtua mereka sedang makan, beberapa rekan media berbincang satu sama lain, dan tampak staf Pak Habibie (atau Habibie Center? Saya tidak bertanya) berbaju batik lalu lalang mempersilakan tamu undangan untuk makan.


Undangannya sedikit sekali ternyata. Hanya ada 30-an anak SD dengan orangtua dan guru, serta sekitar 20 media dan blogger. Saya menyimpan tas dan mulai memotret, juga mengobrol dengan anak-anak SD itu. Rata-rata kelas 5 SD, ada 2 anak kelas 6, dan ada beberapa yang masih berusia 8 tahun. Senang sekali ya, masih SD sudah punya kesempatan bertemu Pak Habibie, saya baru umur 29 tahun ini bisa bertemu beliau. Padahal Pak Habibie adalah Menristek sejak saya lahir sampai SD.



Sambil berkeliling, saya baru sadar satu hal saat melihat backdrop acara. Tertulis di bawah nama acara, tempat acara ini digelar “Pendopo Habibie & Ainun”. Habibie & Ainun lagi. Sungguh Eyang sayang sekali ya pada ibu Ainun. Semua tempat di rumah ini diberi nama "Habibie & Ainun".

Saya masuk ke dalam area utama pendopo dan mendongak. Cantik sekali langit-langitnya, berukir kayu dan dihiasi lampu gantung emas. Tiang-tiang dan pembatas ruangan juga semuanya ukiran. Setelah acara saya baru browsing dan ternyata pendopo ini bagian baru yang ditambahkan setelah rumah selesai.

Pembangunan pendopo ini dikonsep langsung oleh ibu Ainun. Bahan kayunya ditemukan di Jawa Timur, asli dari kerajaan Majapahit. Sebelum dibangun pendopo, area itu biasanya tempat tenda jika ada acara. Namun pernah saat sedang salat tarawih berjamaah, tendanya rubuh karena hujan deras. Agar kejadian itu tak terulang lagi, pendopo didirikan dan dipakai untuk berbagai acara sampai sekarang.

Rumah itu sendiri awalnya rumah dinas Habibie saat menjadi penasihat direktur utama Pertamina Ibnu Sutowo. Kadung jatuh cinta, Habibie menyatakan ingin membeli rumah itu dan disetujui. Ia pun mencicilnya 20 tahun sampai lunas. Bahkan saat jadi wakil presiden pun ia menolak pindah ke istana dan harus beradu argumen dengan Paspampres yang menganggap rumah pribadi itu tidak aman untuk seorang wakil presiden.

Masih terkagum-kagum dengan area pendopo itu, saya dikejutkan oleh suara MC melalui pengeras suara. Ia meminta anak-anak berbaris karena tur berkeliling Perpustakaan Habibie & Ainun akan dimulai. Saya juga mau ikut!


Dipandu oleh seorang bapak berbaju batik abu biru, anak-anak mulai berkeliling dari pintu depan. Ruangan yang kecil yang diapit ruang tamu itu ternyata bukan sekadar jalan masuk biasa, ruang itu disebut ruang budaya. Di lantainya tertanam keramik bulat biru kehijauan dengan berbagai gambar laut untuk menggambarkan biota laut. Sejajar dengan keramik bulat itu persis di atasnya, ada keramik serupa menempel di langit-langit, bergambar flora dan fauna Indonesia.

Keempat sudutnya juga dihiasi dengan pajangan besar, semacam lukisan tapi entah terbuat dari apa, berkilau keemasan. Semua menggambarkan budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Di kanan kiri ruangan itu merupakan ruang tamu, dindingnya dihiasi berbagai lukisan Pak Habibie dan Ibu Ainun. Ada pula beberapa koran berisi berita tentang Pak Habibie yang dibingkai rapi.


Rombongan kemudian beranjak menuju kolam ikan. Kolam ikan itu ternyata bagian dari selasar agama. Dinding di depan kolam dihiasi pajangan sejenis dengan di ruang depan namun kali ini mewakili semua agama yang ada di Indonesia. Kolam yang terbagi dua tadi juga menggambarkan laut merah yang terbelah oleh Nabi Musa. Ternyata semua bagian rumah ini ada artinya, ada filosofinya.

Di sebelah kolam ada halaman rumput yang cukup luas. Bapak pemandu menjelaskan halaman itu disebut Halaman Iptek, ditandai dengan empat patung pemikir yang berdiri kokoh di satu sisinya. Saya hanya mengenali dua, satu sosok pria yang duduk dengan dagu bertumpu di tangan replika karya Le Penseur (Si Pemikir) Auguste Rodin dan sebelahnya ada patung Ganesa. Dua patung lainnya tidak saya kenal, ada yang tahu ini kedua patung dari kiri ini patung apa?


Dari halaman kami beranjak ke dalam perpustakaan. Masuk lewat pintu kayu, area depan perpustakaan itu merupakan meja panjang untuk rapat. Di sisi kaca sebelah kanan yang menghadap halaman, terpajang berbagai hiasan pesawat terbang dan berbagai penghargaan yang pernah diterima Pak Habibie. Di sebelah pintu, duduk tenang seekor harimau tersenyum memamerkan taring. Ya sudah diawetkan dong harimaunya, masa hidup. :)))


Yang menarik perhatian tentu ruangan utama perpustakaan itu. Terdiri dari dua lantai yang ketiga sisinya dipenuhi buku hingga langit-langit. Jika ingin naik ke lantai dua, tersedia sebuah tangga putar dengan pegangan emas dengan gaya Eropa, persis seperti perpustakaan di film-film. Buku di perpustakaan ini ribuan jumlahnya, berbahasa Indonesia, Inggris, dan Jerman.


Perpustakaan itu mengakhiri tur dan rombongan pun kembali ke pendopo. Siap mendengarkan Eyang bercerita bersama dokter Damayanti.

Selain berdiskusi soal pola makan sehat, Eyang juga bercerita banyak soal masa kecilnya yang banyak dihabiskan dengan mandi di sungai bersama dua ekor kuda peliharaannya. Saat seorang anak bertanya kapan mulai bermimpi bisa membuat pesawat terbang sendiri, Eyang menjawab dengan realistis tentang pentingnya kerja keras.

“Jangan mimpi nanti kamu bangun, kaget, mimpinya hilang. Saya tidak pernah bermimpi bisa bikin pesawat, memang dari kecil saya suka main dan bikin pesawat kertas tapi saya bercita-cita jadi manusia berguna, kita itu harus kerja dengan sadar dan jangan terlalu banyak bermimpi, hasilnya akan jauh dari yang kita sangka,” jawab Eyang.


Anak-anak juga rupanya tertarik dengan cara menjadi presiden. Tapi Eyang, justru “melarang”.

“Eyang tidak pernah ingin jadi presiden. Dulu Eyang jadi presiden karena presidennya tidak bisa selesaikan masalah. Bukan karena rencanakan jadi presiden. (Kalian) tidak usah mikir jadi presiden, jadi orang yang berguna bagi negara dan agama,” ujarnya.

“Jadi presiden itu harus yang kerjanya nyata, jangan yang cuma banyak omong. Jadi presiden bukan segala-galanya, presiden dipilih hanya untuk kerja 5 tahun, paling lama 10 tahun. Eyang presiden hanya 15 bulan, tapi sudah buat pesawat terbang di Indonesia 25 tahun lebih, di Eropa belajar tentang pesawat saja sejak umur 18 tahun,” tambahnya.


Pertemuan hari itu ditutup dengan minum susu bersama dan setiap anak berbaris, bergantian foto sendiri-sendiri dan mencium tangan Eyang. Eyang dengan ramah tersenyum dan menanyakan nama serta usia anak satu per satu. Satu anak kebetulan bernama Habibie. Eyang langsung mengalihkan pandangan ke arah kami yang memotret dan bertanya serius:

“Ini ada Habibie, tapi nggak ada yang namanya Ainun ya?”

Kebetulan tidak ada. Tanpa sadar mata saya menghangat, hati saya terasa penuh. Hari itu akan jadi hari yang terus saya kenang, seumur hidup saya.

Sehat selalu, Eyang!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Ketika Eyang Habibie Bicara Gizi

"Eyang jadi presiden karena presidennya tidak bisa selesaikan masalah. Bukan karena rencanakan jadi presiden. (Kalian) Tidak usah mikir jadi presiden, jadi orang yang berguna bagi negara dan agama."


Kalimat itu meluncur tegas dari Presiden Indonesia ke-3 Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie FREeng. Meski sempat sakit beberapa waktu yang lalu, Eyang, begitu ia menyapa dirinya sendiri, tampak sangat bugar. Mengenakan stelan jas berwarna krem dan peci hitam, senyumnya terus tersungging di hadapan sekitar 30 anak dari beberapa SD Jakarta dan Bandung yang hadir dalam perayaan Hari Anak Nasional "Habibie & Anak Indonesia" di kediaman Habibie & Ainun, Patra Kuningan, Jakarta Selatan Selasa minggu lalu.

Mengambil topik "Tumbuh Sehat dan Cerdas dengan Pola Makan Sehat Sejak Kecil", Eyang Habibie bersama dokter anak DR. Dr. Damayanti R. Syarief, SpA(K) membahas tentang pola makan sehat untuk anak-anak. Bapak dua anak yang kini berusia 82 tahun itu juga berbagi, apa saja sih makanan kesukaannya saat kecil hingga ia bisa cerdas dan menjadi insinyur pembuat pesawat?

"Eyang suka sekali makan ikan. Kami orang Sulawesi senang makan ikan. Ikan itu bisa dibakar, digoreng, dibuat sup. Kalau ibu Ainun orang Jawa, orang Jawa biasanya makan ikan hanya digoreng. Akhirnya ibu Ainun kalau masak itu digabung, cara Jawa dan cara Sulawesi," jelasnya.

Begitu nama ibu Ainun tercetus dari mulutnya, hati saya mencelos sedikit tapi air muka Eyang tidak berubah. Ia masih bercerita dengan semangat.


Dokter Damayanti kemudian menambahkan, saat ini pemerintah Indonesia sedang fokus pada banyaknya kasus stunting karena kekurangan protein hewani. Stunting menyebabkan pertumbuhan terganggu sehingga postur tubuh menjadi lebih kecil dan otaknya tidak bisa berkembang maksimal sehingga tidak cerdas.

Menurut dokter Damayanti, hampir semua daerah prevalensi stunting-nya tinggi, termasuk DKI Jakarta yang hampir mencapai 30%. Gawat juga ya. Stunting hanya bisa dicegah dengan makan sehat dengan pedoman gizi seimbang. Protein hewani harus selalu ada, makan telur setiap hari juga bisa mencegah stunting lho!

"Jadi kalian itu harus makan tiga kali sehari, di piring harus selalu lengkap ada karbo, protein, dan sayur. Jangan lupa makan buah sebagai snack, dua kali sehari di sela waktu makan. Jam 10 setelah sarapan dan jam 4 setelah makan siang," ujar dokter Damayanti.

Selain makan sehat, Eyang juga tak lupa menekankan pentingnya olahraga. Didampingi oleh ketiga cucunya (putra-putri dari Thareq Kemal Habibie) yang setia menunggu selama acara, Eyang mengajak anak-anak mengenang masa kecilnya yang dihabiskan di Pare-pare, Sulawesi Selatan.

"Eyang itu dari kecil suka berenang tapi nggak di kolam renang, nggak pakai celana renang, karena renangnya di kali. Kali tempat Eyang besar dulu di Sulawesi, di kampung pinggir hutan, kalinya bersih, dan dingin. Sampai di Jerman pun Eyang tetap berenang setiap hari bahkan di saat salju. Kolam renangnya sebesar ruangan ini (indoor) dan sudah canggih sekali, di dalam air pun kita masih bisa dengar musik," kenangnya.

Eyang menghabiskan masa kuliah S1, S2, dan S3 di Jerman sampai kemudian bekerja di sana. Kalau selama di Jerman, makanan apa sih yang Eyang makan? Apa makanan Eropa?

"Ya nasi. Saya masak nasi sendiri," ujarnya sambil sedikit terkekeh. Ia juga menambahkan tentang pentingnya banyak minum air mineral. "Jangan lupa minum susu setiap hari. Kalau di Indonesia harus minum air putih saja yang banyak. Kalau di Eropa, perlu minum susu sering-sering karena di sana dingin."

"Sehatkan diri dengan makanan yang cukup gizinya, harus banyak minum air. Karena setengah dari tubuh kita kan terdiri dari air, air yang memperlancar oksigen ke otak dan itu bagus," tambahnya.

Selain berdiskusi soal pola makan sehat, Eyang juga bercerita banyak soal masa kecilnya yang banyak dihabiskan dengan mandi di sungai bersama dua ekor kuda peliharaannya. Saat seorang anak bertanya kapan mulai bermimpi bisa membuat pesawat terbang sendiri, Eyang menjawab dengan realistis tentang pentingnya kerja keras.

“Jangan mimpi nanti kamu bangun, kaget, mimpinya hilang. Saya tidak pernah bermimpi bisa bikin pesawat, memang dari kecil saya suka main dan bikin pesawat kertas tapi saya bercita-cita jadi manusia berguna, kita itu harus kerja dengan sadar dan jangan terlalu banyak bermimpi, hasilnya akan jauh dari yang kita sangka,” jawab Eyang.


Pertemuan hari itu ditutup dengan minum susu bersama dan setiap anak berbaris, bergantian foto sendiri-sendiri dan mencium tangan Eyang. Eyang dengan ramah tersenyum dan menanyakan nama serta usia anak satu per satu.

Sehat selalu, Eyang!

-ast-

PS: Baca part 2, tentang rumah Eyang di sini ya! Cerita dari Rumah Eyang Habibie dan Ainun




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Souvenir Ultah dan Prinsip Kehidupan

on
Thursday, July 19, 2018
GILE JUDULNYA YA SOUVENIR ULTAH AJA PAKE PRINSIP KEHIDUPAN.

Dan ya, ternyata saya termasuk ibu-ibu extra Pinterest ya. Baru kuakui itu lol.

gara-gara kursi kuning jadi fotonya kuning males atur white balance jadi ya sudahlah

Alkisah dari dulu saya nggak pernah neko-neko lho sama souvenir ultah Bebe. Ya pokoknya yang penting semua personalized aja (nggak neko-neko tapi pengen personalized lol). Tapi terus sekantor sama mbak Miund nih biang kerok.

Tahun pertama sekantor, doi bikin buku cerita yang digambar sendiri. PAKE CAT AIR LOH BUKAN DIGITAL. Ceritanya ditulis sendiri. Dicetak sendiri buat souvenir ultah Shera yang keempat.

Waktu itu saya cuma bisa “waawww bagus yaaa sedih banget aku nggak bisa gambar”.

A post shared by Asmara Wreksono (@asmarawreksono) on

Karena ya emang waktu itu saya belum mulai belajar gambar dan nggak bisa gambar sama sekali. Beberapa bulan berlalu dan Mbak Miund mulai lagi proyek buku cerita kedua untuk souvenir ultah Shera tahun depan.

Di situ saya udah rada panas juga sama twit-twitnya Pinot dan Ditut yang selalu ngomporin orang untuk belajar gambar. Long story short saya belajar gambar manual kemudian beli iPad untuk gambar digital dan memutuskan ok iPad ini harus menghasilkan souvenir ultah untuk Bebe.

Sungguh cita-cita yang receh ya.

(Baca cerita soal belajar gambar di sini ya: Tentang Gambar)

Terus muter otak banget karena ya saya bisa gambar baru segini banget. Belum bisa berbagai pose manusia dan bikin berbagai background sampai level bikin buku cerita gitu. Pusing pula mikirin jalan ceritanya kan. Duh.

Memutuskan bikin flash card karena ya waktu itu Bebe lagi semangat banget belajar baca tulis pake flash card. Entah kenapa langsung kepikiran aja seru banget ya bikin flash card yang semua gambarnya itu temen sekelas dan karakter favorit anak kaya PJ Mask gitu. Jadi huruf A untuk temen Bebe yang namanya Aleron, huruf C untuk Canayya, G untuk Gekko, dan X untuk Xylo plus belakangnya ada kartu ulang tahun.

19 Maret 2018, tiga bulan sebelum ultah Bebe di 6 Juni, gambar pertama selesai. PUAAASSSS BANGET RASANYA.


Karena sini anaknya ambisius ya jadi flash card-nya juga bolak-balik, ogah pula hurufnya pake font jadi ya ditulis MANUAL. Huruf aja ada 26, jadi total ada 52 gambar yang harus diselesaikan dalam 3 bulan. Sempet nggak ya?

Sempet ternyata. Sebelum bulan puasa flash card udah selesai. Tapi kemudian semangat saya turun karena mikirin packagingnya. Pengen bikin pouch sih, tapi saya nggak punya mesin jahit.

Detail tentang souvenir ini liat di IG saya aja ya, di link ini.

Saya nggak bisa bikin pola ya tapi kalau jahit mah bisa lah. Modal untuk ngecilin dan mendekin seragam SMA di masa lalu HAHAHA. Tapi karena nggak punya mesin jahit saya akhirnya minta tolong ibu untuk jahitin. Ibu ok.

via GIPHY

EH UJUNG-UJUNGNYA SAYA BELI MESIN JAHIT LOL. Mesin jahit ini saya beli via Arisan Mapan (BACAAAA YA, KLIK AJA ARISAN MAPANNYA). Kebetulan juga ibu-ibu di rumah Bandung emang lagi pada ikut Arisan Mapan. Gila sih dulu endorse kok ya sekarang ngalamin beli sendiri sesuatu yang berguna.

Mesin jahit baru dateng pas ultah tinggal 2 minggu. Untungnya bulan puasa jadi saya ngeles ke Bebe kalau ultah di sekolahnya ditunda karena semua miss pada puasa. Padahal ya belum kelaaarrr ini jahit pouch.


Bahan pouchnya kanvas dan katun jepang, beli di Pasar Mayestik. Gambarnya saya jiplak dari iPad, terus diwarnai pake cat akrilik kemudian disetrika. Konon kata ayah saya yang suka nyablon, akrilik disetrika (disetrika di bagian catnya ya) itu akan makin kuat nempel ke kain. Saya nurut aja.

TERUS DIJAHIT DEH. Jahitnya cepet sih hari Sabtu atau Minggu 2 jam bisa dapet 5 pouch gitu. DAN SELESAI!

Setelah selesai, mesin jahit kembali masuk dus dan belum kebayang mau bikin apa lagi hahahahaha.

Pertanyaan terbesar: “Demi anak bela-belain banget ya kaya gini?”

Sebetulnya nggak juga sih. Ini demi diriku sendiri aja. Demi punya pencapaian baru, demi punya sesuatu yang bisa bikin diri sendiri bangga. Kebetulan aja punya anak dan jadiin alesan ultah anak sebagai cara mencapai itu.

Jadi kalau dibilang “demi anak” ya rada cringey sih karena ya si Bebe belum ngerti kalau bikin DIY-DIY ini effort jadi ini mah ibunya ajaaaa butuh pujian baru. *HALAHHHH

Dan juga ya mau ngejar ultah anak pake sewa playground seharian juga kutakmampu kan jadi ya kembali pada prinsip melawan harga tak mampu, kulawan dengan DIY HAHAHAHA.

Tapi anyway, saya tau banget nggak semua orang suka DIY ya. Saya begini nggak instan kok. Gambar emang baru-baru aja tapi jahit mah dari dulu. Craft kan saya anaknya. Bisa dibaca di postingan ini: 2009 vs 2018.

Jadi kalau kalian nggak suka DIY, nggak bisa jahit, dan tetep pengen custom souvenir ultah anak ya tetep bisa, BIKIN DI KAWUNG LIVING AJAAAAA. NGGAK SANTAI MAAF.

Baca juga tulisan Gesi di sini ya:

Karena sebagus itu beneran. Jadi Kawung Living ini yang kemarin pouchnya jadi bonus PO buku saya dan Gesi “Indahnya Susahnya Jadi Ibu” (BELI DONG, DI SINI YA LAGI PROMO BONUS STIKER LHO). Saya awalnya nggak expect apa-apa lho. Ya standar pouch kan begitu lah ya. Lagian saya udah punya beberapa pouch custom dan ya hasilnya gitu aja.

Pouch ultah pertama Bebe print juga sama dan biasanya karena bahan kanvas jadi otomatis pas di-print warnanya turun jadi agak “dekil” gitu. Nggak sesuai warna asli lah. Menyesal dulu belum tau Kawung Living.

warna kurang jreng dan pudar
Tapi kalau yang buatan Kawung Living beneran bagus banget hasil print-nya. Kalian tau kan ya saya nggak bilang bagus kalau nggak beneran bagus. Apalagi ini keduanya desain saya, dengan palet warna yang saya pilih sendiri dengan hati-hati dan lihatlah sendiri. Mirip banget sama warna di layar! Birunya agak terang tapi jadinya malah jadi lebih lucu hahaha Pink dan warna lainnya malah sama persis.



Kayanya hasil print-nya bisa sebagus ini karena bahannya bukan kanvas biasa. Tapi entah juga ini bahan apa ya yang jelas kaya kanvas tapi halus gitu dan nggak setipis katun juga. Kaget beneran sampai saya dan Gesi waaaa bagus waaaaa gitu pas dateng hahahaha.

Saya juga dibikinin plushie dan bantal yang super gemes ga sihhhh. Plushie-nya ini karakter saya di buku. Hasilnya nggak pecah dan nggak turun sama sekali warnanya. Rekomen banget beneraaannn.


zoom kualitas print, persis sama kaya ilustrasinya frans, ga turun, ga geser

Dan harganya nggak jauh beda lho sama custom print lain. Sama-sama aja. Saya, Gesi, dan Nahla pernah dibikin pouch custom matching berempat gitu sama Mba Windi, lucu gemas dengan warna pastel. Harganya lebih mahal dan kualitas print-nya tetep bagusan punya Kawung Living. TERBAIK!

Produk custom dari Kawung Living juga bukan cuma pouch dan plushie. Tapi bisa juga sarung bantal, mug, bantal leher, tablerunner, bahkan canvas rug! Lengkapnya bisa kalian lihat di sini: http://kawungliving.com/custom/

Bikin custom di Kawung Living juga bisa satuan lho. Tapi kalau bikin banyak harganya makin murah. Jadi cocok banget buat souvenir ultah yang rata-rata ngasih temen sekelas kan. Suka rada pusing sama tempat custom yang itungannya per lusin atau per sepuluh gitu. Sebel juga cuma butuh 12 jadinya harus pesen 20 huhu.

Nggak bisa gambar? TENAAAANGGG. Kawung Living punya katalog pattern yang one of a kind banget. Bisa ditambah nama atau tulisan juga. Jadi aman!



Jadi ada yang lagi siapin ultah anak juga? Atau justru mau produk yang ready dan nggak custom, ada jugaaaa. Cus pesen souvenir di Kawung Living!

Website: kawungliving.com
Instagram: @kawungliving
Katalog gambar: @kawunglivingcatalogue




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Anak yang Jago Kandang

on
Wednesday, July 18, 2018
Saya sering, sering banget banget banget (kalau kata Bebe yang lagi seneng mengulang kata 'banget' sampai 3-4 kali) denger ibu yang bilang "anakku jago kandang, di rumah berisik, di luar rumah pemalu". Akrab banget saya sih dengan keluhan semacam itu.


Ngeluh ya karena kok kalau di rumah si anak super motah (motah apaan sih bahasa Indonesianya) tapi begitu keluar rumah disuruh salim sama temen ibunya aja langsung sembunyi malu-malu. Langsung jadi anak kalem, jalan bisa pelan, padahal di rumah ke mana-mana harus banget lari.

Kok bisa begitu?

Pertama yang harus diinget sih ya, jangan melabeli anak dengan "jago kandang" atau "pemalu" di depan anaknya. Karena ya negatif aja sih. Kalau misal Xylo disuruh salim terus dia malah sembunyi malu-malu, saya biasanya pasang badan aja jawab mewakili "masih ngantuk nih tante" atau kalau kebetulan orangnya memang baru pertama ketemu, bilang aja "maaf ya tante, Xylo nggak boleh ngobrol sama strangers".

Kedua, kita harus tahu dulu JUGA kalau anak ya kaya orang dewasa. Emang SEMUA orang dewasa mau langsung juga gitu kenal akrab sama orang? Nggak juga kan. Ya anak kecil juga sama.

Duh gemes pengen nulis soal anak kecil vs orang dewasa TAPI KUSIBUK BANGET GEEENGSSSS. PADAT MERAYAP HUHU. Ini aja disempet-sempetin banget nulis setelah seharian liputan.

Jadi kalau menurut mbak Anna Surti Ariani atau lebih ikrib disapa mbak Nina (psikolog ngetop lho ini saya sering ketemu … di talkshow parenting HAHAHAHAHA), anak punya 3 tipe temperamen.

1. Easy Going: ini tipe anak YANG NGGAK DITANYA AJA NANYA KITA DULUAN. Bisa lucu bisa nyebelin, aduh kenapa aku men-judge anak lain MAAF YA HAHA. Ya soalnya saya tipe yang selalu jawab pertanyaan anak gitu kan. Kalau anak sendiri ya saya sabar banget jawab dan nggak pernah nyuruh dia diem. Tapi anak orang kadang suka males jawab tapi kok ya kasian. -______-

Intinya anak tipe ini adalah anak yang gampang akrab sama orang. Mudah bersosialisasi, nggak malu, cenderung banyak omong baik di rumah maupun di tempat asing.

2. Slow to warm up: ini tipe anak yang butuh waktu untuk kenal sama orang. Biasanya anak tipe ini observer banget nih. Dia mau perhatiin dulu kira-kira mau nggak ya main sama anak lain? Apa aku mau main sendiri aja ya? Ini anak baik nggak ya?

Anak tipe ini sebaiknya dibiasakan di berbagai lingkungan aja. Meskipun mungkin nggak akan ngubah dia jadi easy going, tapi minimal dia tahu ada berbagai lingkungan selain rumah.

3. Difficult
: alias introvert nih kalau udah gedean. Jangan dimarahin yaaaa! Posisikan diri sebagai orang dewasa introvert, capek juga kan kalau dipaksa ngobrol terus.

(Lengkapnya ada di artikel ini: Strategi Menghadapi Anak Pemalu)

Pemalu juga bukan berarti nggak percaya diri lho. Nah ini saya juga masih harus rada mikirin karena si Bebe itu sebetulnya kalau ke anak lain dia easy going. Kalau di playground atau lagi sama-sama nunggu, dia bisa dengan gampang colek anak lain terus main sama-sama.

Apalagi kalau anaknya easy going juga. Nama boleh nggak tau, tapi akrabnya kaya udah temenan 10 tahun. Main bareng dengan bahagia.

Segampang itu.

Tapi kalau ke orang dewasa dia agak susah percaya. Sama Gesi yang udah berkali-kali ketemu aja kadang nggak langsung mau jawab kalau ditanya. DAN SATU LAGI, dia nggak suka tampil di depan umum.

Nyanyi di depan kelas atau pimpin doa makan di sekolah dia suka nggak mau. Sampai sekarang tiap malem sebelum tidur, dia harus pimpin doa tidur pake kata-kata di sekolah. Kata-katanya "ayo teman-teman, mari kita berdoa" gitu doang. Terus suatu hari dia lapor "ibu, aku tadi pimpin doa loh di sekolah".

WAAHHH IBU BANGGA! Tapi ya udah sekali doang itu. Berikutnya nggak mau lagi dengan alasan "kan udah pernah".

Tapi saya juga waktu kecil nggak mau lho! Nggak tau kenapa. Saya tipe yang pede ngacungin tangan jawab pertanyaan ke depan, tapi kalau disuruh nyanyi atau tampil gitu naaayyyy. OGAH. Entah kenapa mungkin nggak punya jiwa artis waktu kecil.
'

WAKTU KECIL LOH YA. Sekarang disuruh talkshow aja seneng bener HAHAHAHA *KODE SUMPAH SIAPA TAU ADA MAU AJAK TALKSHOW*

(Baca juga tulisan saya setahun lalu: Anak Daycare Gampang Bersosialisasi? NGGAK JUGA!)

Jadi udahan judge anak sebagai anak jago kandang dong buibu! Kenali tipe anak dan biasakan dengan berbagai lingkungan.

Gitu aja sih.

SEMOGA BERGUNA YAAAA. See you!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe 4 Tahun

on
Tuesday, July 10, 2018
Waw, Bebe udah 4 tahun ya. Detik-detik menjelang uang tabungan SD keambil ini. Deg-degan hahaha.


Duluuuu, dulu waktu Bebe baru lahir sampai dia 2 tahun, saya selalu rutin nulis perkembangan dia setiap bulan. Bisa dibaca di tag ini: Tentang Bebe.

Tapi kemudian nyerah karena yaaa, makin pengen keep cerita Bebe untuk diri sendiri *posesif*. Juga karena males kalau ditanya-tanya “oh udah bisa A ya, anakku sih udah B” atau sebaliknya “oh kok udah bisa ya, anakku kok belum ya?” Jadi trigger untuk banding-bandingin ya malessss.

Ok kenapa baru sekarang nulis Bebe 4 tahun padahal ultahnya udah bulan lalu?

Karena baru mau rayain ultah di sekolah hari Kamis minggu ini HAHAHAHA. Pas hari H ultah sih saya kasih surprise tiup lilin di rumah. Jadi pas JG dan Bebe masuk rumah, udah ada kue ultah gitu. Bebe seneeeengggg banget. Tapi ternyata dia masih ngarep ultah di sekolah.


Berulang-ulang bilang:

“Aku mau tiup lilin di sekolah”

“Aku tuh mau bagi-bagi kue loh ke temen-temen”

KAN KUKASIAN YAAA.

Ya udah akhirnya diputuskan hari Kamis ini mau ultah di sekolah. Loh, kalau nggak rencana kok udah bikin souvenir?

Souvenir ini akan jadi cerita terpisah. Sekarang mau cerita punya anak 4 tahun yang rasa-rasa punya anak 14 tahun.

Iyaaa, dramatis banget. Di 3 tahun emang sih udah mulai berasa kaya teenager (ya makanya dikasih nama the threenager phase) tapi di 4 tahun ini beneran kaya punya ABG.

Misal saya dan JG lagi ngobrol berdua di sambil makan malem. Dia ngeliatin kami berdua makan terus tiba-tiba lari ke kamar dan tengkurep di kasur. Pas ditanya jawabannya “aku ga ada temennya”. NGGAK ADA TEMENNYA NGOBROL A.K.A. DICUEKIN.

T________T

Suatu hari dia juga pernah bilang "ibu nggak sayang lagi sama aku" cuma karena dilarang sesuatu yang sangat nggak penting sampai saya aja lupa. HUHU. Penting dan tidak penting memang punya makna yang beda banget antara saya dan Bebe.

Terus apa-apa ngototan banget, semua ya harus sesuai sama apa yang dia mau. Negosiasi terus-terusan, ngobrol terus-terusan, karena ya komunikasi adalah kunci utama yakhaannn.

Apa jadi makin mandiri? In a way, yes. Udah bisa makan sendiri, pipis sendiri, cebok sendiri, pake baju sendiri, sebisa mungkin sendiri. Tapi kalau lagi ngantuk atau masih ngantuk, ya semua maunya sama ibu. Mau mandi pagi aja harus digendong ke kamar mandinya ya Tuhan cardio-ku setiap pagi banget deh.

Bebe juga udah ngerti konsep keluarga! Alhamdulillah akhirnya udah tau definisi kakek nenek dan nini aki. Soalnya sebelumnya saya mati-matian gitu ngejelasin kalau nenek itu ibunya appa. Dia bingung banget dan mukanya mikir. Dia mikir karena bagi Bebe, ibu adalah saya seorang dan ibu-ibu lain di daycare. Gimana bisa nenek adalah ibunya appa padahal appa udah gede?

Dia malah sempet mikirrrr banget karena saya save nomor hp ibu saya dengan nama "IBU". Bebe bingung kenapa setiap video call itu mau video call nini kok yang ditelepon I-BE-U IBU?

Pusing nggak sih jelasinnya. Dia selalu mikir bahwa yang namanya ibu itu anaknya pasti kecil. Jadi dia belum ngerti konsep anak bisa jadi dewasa dan punya anak lagi. Belum ngerti kalau semua orang dewasa juga ya punya ibu. Tapi sekarang, setelah bermeter-meter penjelasan tentang konsep anak orangtua, Bebe udah ngerti. Jadi suatu hari dia tiba-tiba bilang:

“Nenek itu mamahnya appa kan ya? Kakeknya itu papahnya appa?”

HUAAAA IBU TERHARU.

-_________-

Dari konsep anak dan orangtua ini juga dia makin tertarik sama urusan bayi di dalam perut dan GIMANA cara keluarnya. Bukan gimana cara bisa ada di dalem sih, belum nyampe sana jadi masih gampang jelasinnya. Gimana saya kasihtaunya? Ya liatin aja videonya lol.

Saya follow doula Angela Gallo (CARI SENDIRI) dan dia suka posting video melahirkan yang natural gitu, home birth video. While I personally prefer giving birth at the hospital, home birth video lebih “aman” buat anak-anak karena biasanya nih kan ibu-ibu kalem gentle birth gitu bukan ibu-ibu panikan jerit-jerit kaya gue lol. Jadi ya ngeden sekali brojol kepala, ngeden dua kali, keluar deh semua bayinya.

Ini bagian dari sex education lho!

Si Bebe sekarang baunya juga udah buka bau bayiiii. Sebel. Masuk usia 4 tahun, bau keringetnya udah nggak enak banget. Nggak ada lagi momen nyiumin bau keringet yang adiktif itu. Bau mulutnya juga udah dewasa banget. Nggak ada lagi bau-bau susu bayi.

Apalagi ya? Dari segi bahasa, dia masih ngambek kalau harus ngomong bahasa Inggris. Padahal dia ngerti lho, satu kalimat saya full bahasa Inggris dia paham banget dan mau jawab pake bahasa Indonesia. Gimana ya biar mau jawab pake bahasa Inggris juga uhuhuhuh susah banget jadi orangtua. *KELUH*

Udah sih kayanya itu aja. Bingung juga mau bahas apa lagi. Selamat 4 tahun jadi ibu untuk diriku sendiri!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Tentang Fangirl yang Nggak Tau Aturan

on
Sunday, July 8, 2018
Rada ironis ya postingan terakhir tentang memanfaatkan waktu luang tapi dua hari weekend ini saya malah nonton ulang Boys Before Flower dan The Heirs ahahaha. Nggak nonton ulang banget sih, cuma nonton adegan-adegan yang mau saya tonton ulang.

Reminiscing the good old days. THIS DAY. AHAHAHAHAHA.

annisast X  LMH, 23 Maret 2013

Padahal saya pernah juga foto bareng artis Korea lain cuma yang dipamerin Lee Min Ho mulu yaaa entah udah berapa puluh kali itu foto di-upload ulang di mana-mana. Iya soalnya DIA NGGAK MAU FOTO BARENG HIH PLAYING HARD TO GET BANGET KZL. *ngana siapa permisi ~~

Intinya dua hari nongkrongin drama Korea itu karena saya pengen istirahat dulu sebentar. Capek gambar terus tiap hari. Capek nulis terus. Capek jahit, capek mikir. Tapi terus akhirnya memberhentikan diri istirahat karena apaaaa? Karena saya tau banget, sadar diri kalau saya tipe yang kalau fangirling itu langsung nggak tau aturan.

Iya itu judul memang ditujukan untuk diri sendiri.

Saya itu tipe fangirl yang nggak tau batasan hhhh. Bahkan sambil nonton ulang dua drama itu aja saya split screen laptop. Sebelahnya nonton, sebelahnya buka browser untuk nonton sambil baca siapa yang mana, debut di drama apa, pernah main sama siapa aja, etc etc.

Segitu doang? NGGAK. Zaman dulu kalau udah punya bias, saya akan cari tau detail kehidupannya TAPI BUKAN CUMA DIA, juga seluruh keluarganya. Bapaknya yang mana, ibunya siapa, kakaknya kerjanya ngapain aja, sekolahnya di mana. Saya adalah fangirl yang kalau lebih kaya dikit lagi aja udah stalking ke Korea dan tinggal di sana. Untung nggak punya uang HAHAHA.

Apalagi level ngefans sama blogger ya, karena biasanya blogger lebih terbuka sama kehidupannya dibanding artis. Sampai sekarang ada dua blogger yang saya sampai follow seluruh keluarga intinya di Instagram. Adiknya punya pacar, saya follow juga pacar adiknya. Adiknya putus dan punya pacar baru ya saya follow juga pacar baru adiknya. Setakut itu ketinggalan update dari idola. Dan bukan, keduanya bukan blogger tanah air. *sigh

Makanya saya bersyukur banget saya nggak Koreaan lagi sekarang. Karena waktu yang kebuang banyak banget. Untuk nontonnya aja butuh waktu banyak, eh ini pula harus nyiapin waktu buat stalking. Emang saya nggak ada kerjaan lain?

Dulu sih nggak ada ya emang. Awal Koreaan itu pas kuliah, ya kerjaannya emang cuma nonton Korea aja. Begadang juga nggak sakit, nggak ngantuk besoknya apalagi flu. Masih kuat, masih muda. Berikutnya kerjaan pertama juga ya Koreaan karena kerjaan. Lha sekarang?

Dua hari nonton ulang drama yang bahkan di-skip banyak banget aja langsung nggak gambar sama sekali. Baru ngeblog aja jam segini, menit-menit terakhir sebelum nemenin Bebe tidur biar besok nggak kesiangan. Nggak faedah pula nulisnya.

MAU JADI APA! Saya nggak akan produktif sama sekali kalau aja saya masih Koreaan.

Jadi ya kadang kangen banget, kadang pengen update lagi sama dunia Koreaan ya tapi ternyata sebaiknya tidak. Biarlah nggak tau Wanna One itu yang mana (gila shock annisast nggak tau Wanna One lol) karena gimana pun kalau sekarang jadinya murni entertainment dan saya nggak butuh entertainment sedetail itu HUHU. Nggak bisa ngeles lagi karena kerjaan karena kerjaan saya sekarang nggak ada hubungannya sama Korea sama sekali.

Saya juga lagi menggunakan waktu luang untuk share soal parenting di Insta Story jadi ngeblognya sedikit banget. Lagi ngejar followers Instagram biar jadi 10ribu biar bisa swipe up. Biar apa? Biar bisa semangat lagi nulis blog karena bisa di-share di Instagram lol *receh*

Jadiii ... kali aja kalian kangen tulisan saya, bisa dibaca di sini lho ya: http://mommiesdaily.com/author/annisast/

Selamat meratapi kenyataan kalau besok Senin!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Agar Waktu Luang Nggak Lagi Terbuang

on
Monday, July 2, 2018
Rhymes tapi agak nggak ens ya judulnya ahahahahaha. Ini udah lama banget sih saya pengen nulis ini cuma kok nggak nulis-nulis juga? APA KARENA NGGAK PUNYA WAKTU LUANG?


Triggernya adalah souvenir ultah Xylo udah selesai di-print dan dijahit. Kalau kalian follow saya di IG (kalau belum plis follow atuhlah lol), pasti udah liat dong ya sneek peak-nya.

Kemudian DM saya penuh banget dan kebanyakan bilang “ya ampun niat banget” atau “kok sempet sih” dan pernyataan-pernyataan yang mengindikasikan bahwa menjahit dan menggambar itu mustahil dilakukan.

Kenyataannya nggak mustahil sih meski kalau kalian tau ya, saya harus menggambar A-Z dikali dua (karena kertasnya bolak-balik) jadi ada 52 gambar yang harus diselesaikan. Saya mulai di Maret dan selesai di Mei, TIGA BULAN AJA LOH. Lama banget kan.

Cerita lengkap soal souvenir ultah nanti saya ceritain terpisah ya. Belum difoto proper soalnya baru stories doang. Sekarang saya mau cerita gimana caranya meluangkan waktu?

Karena kita semua PASTI PUNYA sih waktu luang saya yakin banget. Yang nggak punya waktu luang nggak mungkin baca blogpost ini HAHAHAHA.

Waktu luang ini bisa digunakan untuk pekerjaan agar cepat selesai, bisa juga dipake buat belajar hal baru.

(Baca: Mencari Skill Baru)

1. Sadari saat-saat procrastinate

Kadang kita (OKE SAYA) buang banyak waktu banget scroll Twitter atau nongkrongin Instagram Stories. Wah tau-tau udah sejam! Nah kalau udah tau begitu ya langsunglah berhenti. Lakukan hal lain yang lebih berguna seperti lipetin baju mungkin atau nulis blogpost?

2. Hindari waktu procrastinate

INI NIH YANG PALING SUSAH. Kalau kita udah sadar banyak buang waktu untuk sesuatu, HARUSNYA saat kita mau melakukan itu kita ngeh banget kita akan membuang sekian jam sia-sia. Berhenti di situ dong darling, jangan diterusin. Banyak hal di dunia ini yang akan bikin waktu kalian lebih berwarna dibanding thread Twitter.

3. Tentukan waktu luang

Ini saya pikirin banget karena kan ya kerja yaaaa. Waktu luang saya sedikit banget. Dulu waktu di kantor lama, saya punya waktu sekitar 1-1,5 jam pas nunggu dijemput. Sebagian besar flash card saya gambar di waktu-waktu itu.

Pulang ke rumah, udah capek ya kadang butek juga dan pengen leyeh-leyeh. Ya nggak usah dipaksain. Itulah saat scroll socmed kalau nggak diprotes Bebe lol.

Weekend nih tiati. Weekend kemarin saya rasanya kosong banget bingung mau ngapain. Saya lupa setelah minggu sebelumnya sibuk jahit, minggu ini masih belum ngong banget nih kalau weekend adalah waktu luang yang harus dimanfaatkan. Terus sebel kenapa nggak gambar. Sebel karena sadarnya udah Minggu malem huhu.

Weekend tuh lama lhooo. Punya 48 jam masa sih dipake leyeh-leyeh doang? Saya ke mana-mana bawa iPad sampai kemarin bulan puasa ya, nunggu buka puasa aja saya duduk di restonya sambil gambar. Kalau ada waktu luang maka lakukan!

Kalau yang lagi dipelajarinya nggak bisa dilakukan di mana aja (misal jahit nih, nggak bawa mesin jahit ke mall juga dong ya) bisa disiasati dengan brainstorming. Itulah saatnya scroll Pinterest atau bikin notes mau ngapain aja.

4. NIAT

Gimana ya semua kan berawal dari sini, kalau emang nggak jalan-jalan mungkin emang kurang niat? Atau harus dijudesin nih nulisnya: KALAU EMANG NGGAK MULAI PADAHAL JELAS PUNYA WAKTU LUANG MUNGKIN EMANG KURANG NIAT KALIAN MELAKUKANNYA?

AHAHAHAHAHHAHA. Puas sekali ya berteriak-teriak apakah aku punya kelainan yaitu senang berteriak-teriak? -______-

via GIPHY

Dan sebenernya waktu luang saya nggak sebanyak itu juga kok. Saya suka tidur dan tidur nggak akan saya kompromikan dengan apapun. Jadi saya nggak mau waktu tidur terganggu daripada nanti cranky dan mengganggu ketertiban umum.

Jadi nggak pernah banget saya bela-belain begadang demi gambar.

Pernah sih gambar malem-malem tapi itu biasanya karena Sabtu malem dan siangnya kelamaan tidur. Akhirnya saya ya menentukan pilihan. Saya nggak bisa lagi baca buku (SEDIH HUHU), baju yang udah dijemur jadi lebih lambat dilipetin (HAHA), lebih jarang nulis blogpost, dan bye banget sama bikin video makeup.

Ya gimana lagi ya, namanya hidup kan memang akan selalu memilih. Jadi pilih membuang waktu luang atau nggak nih? Kalau mau buang juga nggak apa-apa kok HAHAHAHA.

SIAPA TAUUUU. Nggak semua orang ambisius kaya saya kan. Nggak semua orang ngerasa stuck dan pengen memanfaatkan waktu luang juga. Banyak kan ya orang slow yang hidupnya kalem huhu sungguh bukan aku.

Udah sih gitu aja. Semoga berguna ya!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!