Anak dan Pengambilan Keputusan

on
Wednesday, June 22, 2016

Suatu hari di sebuah toko donat.

Saya ke JG: “Kamu mau yang mana?”

JG: “Mmmmm” *mikir*

Saya ke Bebe: “Bebe mau yang mana?”

Bebe: *lari-lari di depan etalasenya dan menunjuk dua macam donat* “Mau ini, mau ini.”

Saya ke JG: “Kamu?”

JG: “Mmmmm” *mikirnya lama karena nggak tau mau yang mana* “Sh*t, kok Bebe tau apa yang dia mau dan aku engga?”

Separah itu. Separah itu JG nggak bisa ambil keputusan. We discuss everything, yes, but most of the time it’s me who decide.

JG aka suami saya adalah orang yang nggak bisa ambil keputusan spontan. Mau beli yang mana? Mau makan di mana? Mau pergi ke mana? Mampir makan malem dulu atau makan di rumah?

Pasti mikirnya lama. Makin sini makin membaik banget, udah jauh dibanding dulu pas pertama kali pacaran tahun 2011. Dulu parah banget sampai mau ngapain pun telepon saya dulu. Sebelum makan siang nelepon dulu “aku makan apa sekarang?”. Sekarang kadang masih kaya gitu kalau saya tinggal event dan JG berdua Bebe “aku jajan apa dong sayang?” LHA.

Tapi sekarang udah lumayan bisa ambil keputusan sendiri karena ya sayanya juga suka balikin. Apa dong? Maunya apa? Apa aja deh! Jadi sekarang udah pede ngambil keputusan sendiri. Dulu misal saya minta tolong untuk beli biskuit A, biskuit A nggak ada. Orang yang bisa mengambil keputusan sendiri akan memutuskan 2 hal:

1. Pulang nggak bawa biskuit
2. Ambil biskuit lain yang sejenis

Yang JG lakukan adalah telepon saya dan nanya mau diganti apa. Kalau saya nggak angkat telepon dia akan marah-marah dan nunggu sampai saya angkat telepon. Yes, harus saya yang memutuskan karena dia terlalu bingung untuk pilih biskuit lain dan nggak kepikiran jalan keluarnya apa.

Karena JG seperti itu jadinya kami sepakat kalau Bebe tidak boleh seperti itu.

(Baca: Ini hal-hal penting yang jadi tujuan saat saya membesarkan anak saya)


JG seperti itu karena sejak kecil selalu diberi pilihan yang aman oleh orangtuanya. Selalu dipilihkan apa yang menurut orangtuanya “terbaik”. Mau mainan apa tidak disuruh memilih tapi langsung dibelikan. Mau sekolah di mana langsung dipilihkan. Anak-anak seperti ini biasanya disayang orangtua karena dianggap sebagai anak penurut dan baik. Padahal ia bukan baik, tapi ia tidak berani mengambil keputusan lain selain keputusan yang diambilkan orangtua karena seumur hidupnya ia lalui seperti itu.

Orangtuanya juga jenis orangtua yang selalu khawatir. Naik panjat-panjatan dilarang karena bahaya. Sekarang ia takut ketinggian dan mengaku sejak kecil bahkan takut naik perosotan karena disuruh selalu berhati-hati, bahaya katanya.

Ada juga teman saya yang sampai sekarang tidak bisa menyeberang jalan, tidak bisa masak karena sejak kecil selalu dibilang kompor adalah hal yang bahaya. Tidak bisa mengambil keputusan mau kerja atau kuliah lagi. Sejak kecil ia juga tidak pernah diberi pilihan.

Dan orang dewasa yang seperti ini banyak sekali. Gawat sih karena ketika nggak bisa ambil keputusan untuk diri sendiri, bagaimana mau ambil keputusan untuk anak? Bagaimana bisa sukses dalam karier? *halah

Sementara ada anak-anak kaya saya. Yang sejak kecil selalu diberi pilihan. Yang selalu ditanya maunya apa, sukanya apa, ingin yang mana. Yang sudah punya 3 jahitan di dahi di umur 3,5 tahun karena masuk selokan. Saya tumbuh jadi orang yang percaya diri tapi … berantem terus sama orangtua saya saat remaja hahahaha.

Iyalah, seumur hidup selalu disuruh memilih, saat remaja saya nggak terima banyak dilarang. Saya pilih semuanya sendiri. Yes or no untuk jurusan sekolah, untuk jurusan kuliah, untuk kerja atau nganggur, untuk ngapain pun, itu adalah keputusan saya.

Bagaimana cara agar anak bisa jadi pengambil keputusan yang baik?


Beri pilihan

Sesimpel: mau susu coklat atau stroberi? Mau mainan yang mana untuk dibawa mandi? Ini keputusan paling sederhana untuk balita. Dan kalau sudah memilih, biarkan dia mengambil pilihannya. Jangan memaksa! Ngapain maksa anak kecil sih? Hal paling penting apa yang akan dia lakukan sampai kita harus paksa dia pakai jas ke kawinan padahal dia maunya pake kaos? Malu? Nggak pakai baju ke luar rumah itu malu.

Kecuali anaknya artis dan dia nggak mau pake baju yang klien minta ya. *sigh*

Jangan banyak dilarang


Kecuali sangat sangat bahaya seperti geletakan di tengah jalan raya, kami hampir tidak pernah melarang Bebe melakukan apapun. Asal tidak melanggar hukum sih silakan. Main perosotan naik dari perosotannya (bukan dari tangga) boleh, asal tidak menganggu anak lain. Mau nyeker di mall boleh, asal tidak menganggu orang lain.


(Baca: Saya tetap menggunakan kata “jangan” untuk anak saya)


Risiko tidak banyak dilarang ini adalah pengawasannya harus ekstra. Banyak orangtua yang sudahlah anaknya dilarang main ayunan aja daripada main terus jatuh? Loh ya kalau saya sih main ayunan aja ya tapi diawasi 100%.

Beri tanggung jawab


Anak umur 2 tahun bisa diberi tanggung jawab apa? Membereskan mainan sendiri, membuang sampah ke tempatnya, mengepel air yang tumpah, menyapu lantai yang kena serbuk biskuit dia, membawakan minum untuk ibu. Banyak sih.

Dengan meminta tolong pada anak, ia jadi merasa dihargai dan dibutuhkan. Makanya paling semangat Bebe kalau saya atau JG udah bilang “bebe tolong dong …” Pasti dia sumringah. Meskipun namanya bayi ya, kadang nolak juga. Ya kalau nggak mau jangan dipaksa.

Beri pujian

Kalau sudah diberi tanggung jawab, beri pujian. Hebat atau pintar sudah cukup. Bebe sampai pada level memuji diri sendiri kalau berhasil melakukan sesuatu “ibu alo pintar ibu”.

Hahahaha.

Ada orangtua yang menghindari pujian karena takut anaknya cepat puas. Go ahead. Kalau percaya dengan pola seperti itu sih silakan. Saya sih percaya, anak dua tahun mau mengepel lantai sendiri karena minumnya tumpah itu layak disebut “hebat” karena dia berani bertanggungjawab atas perilakunya sendiri.

Beri pengertian tentang rasa kecewa


Ini penting banget. Karena JG hidupnya sangat smooth, dia tidak siap dengan rasa kecewa. Kalau saya ikut lomba dan kalah, yang kecewa dia, yang sedih dia. Karena seumur hidup orangtuanya tidak pernah mau mengecewakan dia, jadi tidak tau rasanya dikecewakan.

Bebe sekarang boleh kecewa. Kalau dia ingin ikut menyetir saat mobil sedang jalan, biar Bebe nangis dan beritahu kalau itu namanya kecewa. Tidak semua hal yang ingin Bebe lakukan, boleh dilakukan. Bebe hanya boleh main setir-setiran saat mobil sedang parkir, bukan sedang berjalan.

Atau dia ingin nonton padahal sudah malam. Silakan nangis dan beritahu kalau Bebe kecewa karena tidak boleh nonton lagi, tapi Bebe hanya boleh nonton jam sekian dan jam sekian.

*

Susah? Nggak sih. Cuma namanya membesarkan anak mah ya harus satu suara sama suami. Semua akan lebih mudah kalau satu suara.

Susah nggak punya suami yang nggak bisa ambil keputusan? Nggak juga. Karena saya suka mengambil keputusan. Saya senang jadi decision maker. Malah suka bengong sekarang kalau JG tiba-tiba ambil keputusan sendiri, i’ll be like: “Seriously? Don’t you need my opinion anymore?” Tapi ngomongnya dalam hati.

Hahaha

See you!

-ast-

Disclaimer:

Setelah menulis ini, sebelum dipublish tentu saya kasih dulu pada suami untuk dia baca dan minta izinnya. "Because too much 'you' in it, I said". Dia setuju dan tidak masalah sama sekali. Juga saya tidak menganggap ketidakmampuannya mengambil keputusan adalah sebuah kekurangan.

Malah saya senang karena ia jadi bisa menyeimbangkan saya yang memang cenderung senang berpikir dan mengambil keputusan. Kalau suami saya juga tipe decision maker, maka kami akan banyak berantem pasti karena akan banyak ngotot-ngototan.

Untuk masalah "aib orangtua suami" alias mertua. kami juga sudah sering sekali membicarakan masalah ini dengan mereka. Dan saya sama sekali tidak menyalahkan mereka karena memanjakan anak dan cucunya. Membesarkan anak adalah pilihan. Pilihan mereka seperti itu, pilihan saya dan JG seperti ini. Mertua juga sadar benar bahwa mereka terlalu memanjakan anak-anak dan cucunya. Jadi kalau mau judge saya menyebarkan aib suami atau mertua it's ok. I have a really good relationship and  feel very comfortable around them so I have no worries writing this post.


Thank you!
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

16 comments on " Anak dan Pengambilan Keputusan"
  1. Bener banget tuh mba kadang saya juga bingung dalam menentukan pilihan bagaikan JG .kalau JG di suruh beli biskuit saya di suruh beli yang lain.
    Iya itu betul banget agar anak dapat mengambil keputusan harus beri dia pujian karena anak akan sangat senang sekali mendapat pujian dari orang tua

    ReplyDelete
  2. Kalo Muffin (suamiku) juga mirip JG. Lambat banget ambil keputusan. Bukan karena nggak terbiasa memilih/mengambil keputusan, tapi dia mikirnya jauh ke depan. -_____-

    ReplyDelete
  3. Ha..ha... aku mesem2 sendiri mbacanya. Separah itu ya?

    ReplyDelete
  4. Eh, senasib kita, punya suami yang suka ngambil keputusan lama ha ha ha. Alhamdulillah, anakku enggak. malah kayaknya bawaan lahir tu, kalo dia nggak suka, ya nggak bakalan suka selamanya. Jadi, tugas saya sedikit lebih ringan lah, cukup ngasih tahu konsekuensi pilihannya saja.

    ReplyDelete
  5. anak bisa mengambil keputusan sendiri penting ya mba..
    kalau nggak dalam keadaan bahaya dia bisa nggak PD dengan pilihannya...atau malah pasif..

    ReplyDelete
  6. mbak annisa...

    saya ud semangat bgt ni mau share postingan ini ke facebook saya...

    tp tiba2 saya kepikiran...saya takut nyebar aib org...berhub (menurut saya) ada kekurangan mas JG yg notabenenya suami mbak annisa disitu....

    apalagi ada cerita org tua mas JG juga yg disebut2...takut temen2 fb saya ada yg gagal fokus..bukannya bisa ambil manfaat dr postingan super keren ini..malah fokus ke "JG dengan kekurangan itu siapa ya?"

    kl nama contoh nya di blur...ga terang2an nyebut nama mas JG...gmn?

    saya takut mb.annisa kena klausula "menyebar aib suami"...apalagi ada unsur ortu suami juga yg dbw2

    eniwey...sangat amat maap sekali...seharusnya comment saya sampaikan via pm saja ya...masalahnya saya guaptek luar biasa...ga nemu menu pm nya euy...nulis nama aja di comment ini g bs(eniwey nama saya fiska :) ). kl mb.annisa ga berkenan,habis dibaca silahkan lgsg dihapus.

    peace. love and gaul ya mbak...ga maksud apa2 yg buruk..saya fans beratnya mb.annisa kok...hampir tiap hari mampir ke blog keren ini...sueerr..

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo, ini sudah lewat suamiku dulu kok sebelum posting. sebentar aku tambahkan di bawah postingan yaaa disclaimernya. :)

      Delete
  7. Ini pasangan muda favoriteku,...icha dan JG plus bebe yang menggemaskan *kiss

    ReplyDelete
  8. sangat membantu, walaupun masih jomblo. bhakk

    ReplyDelete
  9. Halo mbak anisa.. akhirnya aku komen disini.. dulu pernah komen di blog satunya Yg ada bigbangnya pas mbak anisa blm nikah. wkwkwk

    Setuju mbak. Saya jd belajar utk ambil keputusan dgn cepat. Tp utk bbrp karakter org itu berat bgt rasanya. Pacar saya jg lama kalo kasi keputusan. Saya juga sih sbnrnya. Tp gimana ya. Kalo uda sama" lelet ya udh saya aja yg ambil keputusan.

    Baru td komen dlm hati. "Wih mbak annisa blak blakan bgt ceritain suaminya.. " eh uda ada disclaimer..

    Mngkn nanti akan ada tulisan yg bagus-bagusin suaminya ya.. wkwkwk

    ReplyDelete
  10. Memang membesarkan anak tantangannya luar biasa ya. Nice sharing Mbak Icha.

    ReplyDelete
  11. saya banget ini,, tadi sore baju aja nulis status di BBM 'saya perempuan, kok selalu saya yg ambil keputusan' niatnya sih, mau curhat diblog juga, eeeh nemu tulisan mbak ini. paling nggak bersyukur lah saya,, karena jadi pengambil keputusan ternyata menyenangkan. cuma kadang capek aja.. "saya lagi.. saya lagii".. :D

    ReplyDelete
  12. Astaga chaaa.km paranormal atau apa ya, kok bisa menduga apa yg dipikirkan orang dan langsung bikin desclaimer hahahaha. Salut sama sikapmu yg tau apa yg km mau dan apa yg mau km tulis.

    ReplyDelete
  13. hlahhh.. kok sama ama pak suwami yah.. dia juga suka bingung ngambil keputusan gitu.. bahkan untuk hal yang menurut saya remeh temeh kayak "siang ini makan apa ya?" lah, dirimu maunya makan apa?? kayak gini ini suka gak masuk akal buat saya, masa nanya milih sesuatu aja mesti nelpon segala... jadinya saya malah suka kesel dan marah.. setelah baca postingan ini baru deh kepikiran, ternyata orang tuanya ya begitu itu, sering melarang untuk hal-hal sederhana yang gak berbahaya sekalipun..

    tfs yahhh.. semoga model parenting kayak gini gak nurun ke si Kunyil...

    ReplyDelete
  14. untung di aku terbalik. Aku yang suka gak bisa memutuskan, makanya selalu nanya Ilman. Dan dia selalu balikin pertanyaannya, bukannya memutuskan tapi melatih aku untuk bisa memutuskan sesuatu juga :D

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)