-->

Image Slider

Alis dan Penerimaan Diri

on
Sunday, April 21, 2019
*ANNISAST MEMANG NGGAK PERNAH WRITER’S BLOCK KARENA ALIS AJA JADI SATU TULISAN HAHA*



Kalau kalian follow saya dari lama, harusnya tau dong saya sering ngeluhin alis? Sering banget bilang alisnya setipis itu jadi udah gambar alis sejak kuliah blablabla.

Beberapa bulan terakhir saya nggak gambar alis sesering dulu. Bahkan kalau dateng ke event dengan makeup simpel (bb cushion doang bukan event level harus pake foundation), saya tetep nggak pake alis. Kalau pake foundation harus tetep gambar alis soalnya yha alisnya suka memang bener-bener ilang ketutup foundation HAHA.

Tapi saya sih jarang memang pake foundation. Kayanya terakhir kali pake pas event kantor Best of Beauty Awards akhir tahun lalu deh. Wiw lama amat ya. Hari-hari bedakan aja nggak, ada acara dikit ya pake bb cushion doang biar fresh.

Awalnya saya mikir karena ah udalah nggak usah digambar, alisnya juga makin tebel deh. Rada halu makin tebel kan dulu suka cukur bagian yang berantakan, dicukur = makin tebel = padahal halu. Sampai pada momen saya mikir “ini alis sebetulnya nggak makin tebel juga tapi kok pede ya?”

Keyword: percaya diri.

T_______T

Rasanya receh tapi ini momen lain dari proses penerimaan diri banget sih menurut saya. Self-love yang diagung-agungkan orang itu ternyata salah satu bentuknya ya begini. Baru bisa ngerti kalau udah dilewati.

Dulu rasanya gambar alis jadi wajib. Sampai selalu punya pensil cadangan meski yang lagi dipake belum abis. Saking khawatir yang ini abis terus nggak punya pensil alis sama sekali. Malah pernah lupa bawa terus lari dulu ke Indomaret untuk beli pensil alis Viva. Sepenting itu alis bagi hari-hariku dulu. Ke mana pun pake alis.

Lama-lama nggak peduli. Lama-lama cuma pake alis di momen yang dirasa penting dan formal aja. Ternyata sampai di momen nggak pake alis juga nggak apa-apa huhu kalian ngerti nggak sih terharunya kaya apa.

Biar aja dibilang lebay karena dari dulu saya selalu ada rasa iri dalam hati sama orang dengan alis yang emang tinggal dicukur udah ngebentuk bagus. Atau kaya Annetta dan Puchh yang emang alisnya jabrik tebel tapi bentuknya memang bagus. Bagus buat saya itu yang deket area hidung tebel, makin belakang makin tipis. Alis saya sebaliknya, di deket idung tipis kecil lha makin belakang makin jabrik, makanya area ujung belakang itu biasanya dicukur.

Padahal alis ya bentuknya memang bagus kalau kita pede-pede aja. Orang juga nggak peduli amat ternyata. Dulu kalau story memang banyak yang bilang “alisnya bagus kakkk” atau “tutorial gambar alis dong”. Tapi ternyata setelah nggak gambar alis, nggak ada SATU PUN yang protes atau komentar soal alis. Jadi mungkin memang nggak sepenting itu sebenernya hahahaha.

Kak Puchh dan Netta.
Dulu juga saya merasa kalau pengen muka fresh itu harus pake complexion yang oke, eyeshadow atau minimal eyeliner biar mata nggak sayu. Alis harus oke biar keliatan “dandan”. Sekarang cuma pake cushion, eyeshadow, dan lipstik cukup. Terlalu malas juga pakai eyeliner, pake blush on jarang-jarang apalagi kalau naik ojek karena takut dark spot makin banyak.

Dulu segala pokoknya dibikin nggak pede dan punya standar sendiri untuk tampil pede. Prosesnya memang panjang dan ini bagian dari percaya diri yang terjun bebas pasca punya anak. Lebih jelasnya udah ditulis di postingan ini tentang gimana selfie jadi selalu salah setelah melahirkan: The Scary Scary Adulthood

Dari berani selfie sampai berani tidak gambar alis, hal yang sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Saya percaya penerimaan diri juga sebuah perjalanan, jadi kalian yang masih di jalan dan masih merasa belum pede di sana-sini, tenang aja, nanti juga nyampe. :)

Baru ngerti sekarang kenapa Alicia Keys bodo amat nggak pake makeup padahal ke red carpet. Ngertiiii banget. Percaya diri sebenar-benarnya itu ketika kita nggak masalah untuk pake makeup dan oke aja kalaupun harus nggak pake. Karena ada juga kan orang yang justru malah insecure kalau harus pake makeup.

Dan iya, memang sayanya nggak into makeup jadi selama ini pake makeup cuma buat nutupin ketidakpercayaan diri aja. Beda lho ya sama kalian yang memang suka makeup karena suka aja, yang menganggap makeup itu art dengan poin plus bikin keliatan cantik dan percaya diri. Yang memang passionate banget sama urusan beauty.

Saya nggak gitu, jadi bisa lepas dari alis aja rasanya pencapaian banget sampai harus ditulis ahhahahahahaha.

Jadi, sudah sampai mana proses penerimaan diri kalian teman-teman?

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Cita-cita Anak

on
Monday, April 15, 2019
Kemarin saya buka question box di IG tentang cita-cita anak dan jawabannya seru-seru amat!


Awalnya dari Bebe yang (sekarang) pengen jadi entomologist. Sebabnya hari Jumat lalu kami akhirnya menamatkan salah satu buku favorit dia judulnya Seranggapedia dari Natgeo Kids. Nah, di halaman terakhir ada wawancara dengan entomologist.

Wawancaranya untuk anak-anak gitu jadi ada pertanyaan gimana caranya untuk bisa jadi entomologist, gimana meneliti serangga kalau kita masih anak-anak, dsb. Bebe excited banget dan seketika mengubah cita-cita. Sebelum tidur, kami sepakat untuk nonton bareng tentang serangga besok.

Hari Sabtu pagi itu JG ada acara jadi saya sama Bebe berdua di rumah. Tiga jam kami nonton BBC Earth dan orang-orang yang melihara serangga dan laba-laba ya ampun. Tak pernah kubayangkan akan menghabiskan Sabtu yang cerah dengan nonton tarantula berbulu disuapin kecoa dan belalang pake pinset. T______T

Merinding dan nggak suka sejujurnya tapi sebagai ibu supportif saya tentu sok excited dan nemenin dia. Ingat, jadi ibu adalah 90% akting, 10% real parenting LOL.

Di umur 4 tahun ini entomologist adalah cita-cita Bebe yang kesekian. Awalnya dia pengen jadi polisi dan dari hati terdalam ibu deg-degan karena harus diakui lembaga militer itu patriarkal banget huhu. Lama banget dia pengen jadi polisi sampai nonton upacara 17 Agustus dan berubah pengen jadi … pilot pesawat tempur. YA TETEP MILITER DONG.

Iya sih masih kecil dan bisa banget berubah, Tapi pas mau jadi polisi itu dia keukeuh banget sampai ada titik di mana saya mikir wah dengan anak sekeras kepala ini bisa-bisa dia akan terus bertahan pengen jadi polisi. Ibu rada halu sih karena nggak sampai sekian bulan udah ganti lagi hahahahha.

Pas suka Upin Ipin langsung ingin jadi astronot, baru beli Nintendo Switch langsung ingin jadi pembuat game, dan terakhir namatin buku Seranggapedia langsung pengen jadi entomologist.

Anak lain juga ternyata sama ya. Ada yang pengen jadi yang punya Superindo, penjual HP (karena screen time dibatasi), ada yang pengen jadi Kinderjoy dan penjual es krim (diduga karena keduanya juga dibatasi lol), sampai ada yang pengen jadi supir angkot biar bisa makan rendang padang tiap hari HAHAHAHA.

Lalu ada yang bercita-cita jadi superhero dan ... HEWAN. Bebe nggak ngalamin sih cita-cita pengen jadi binatang tapi ternyata banyak anak yang ingin jadi GAJAH. Alasannya karena gajah itu besar hahahaha GEMES. Ada juga yang mau jadi JERAPAH LOH dan sekarang menganggap dirinya kucing. Lucu banget!

Anak-anak itu ajaib sekali ya. Langsung merasa kita orang dewasa (dan kedewasaan) yang menghilangkan sisi anak-anak itu huhu mellow.

(Baca: Hidup yang Kita Pilih)

Yang jelas, jangan diremehkan dan ditertawakan ya. :( Boleh ditertawakan asal jangan di depan dia. Sama suami aja pas lagi nggak sama anak hahahaha.

Jangan di “halah emang bisaaa?” gitu karena itulah hal pertama yang menghancurkan perasaan berharga anak alias self-esteem. Orang terdekat yang seharusnya jadi support system paling utama kok ya jadi penghancur mimpi pertama.

Padahal mimpi kan bebas dan tidak pernah terikat apapun, imajinasi itu luas dan tak perlu terbatasi sedikitpun. Apapun mimpi dan imajinasinya, sudahlah IYA kan saja.

Kalau ingin dan sempat sebetulnya bisa jadi bahan diskusi panjang. “Kenapa kamu ingin jadi jerapah?” “Apa bagian jerapah yang menurutmu paling keren?” “Kenapa kamu suka jerapah?” dan banyak lagi. 


Satu lagi, banyak yang bilang “ingin jadi pemadam kebakaran/polisi/(profesi yang dianggap maskulin lain) padahal anakku cewek”. Padahal nggak apa-apa banget anak cewek mau jadi apa juga. We can be anything we want to be!

Kerasa lho udah dewasa gini aja ketika mimpi kita diremehkan apalagi sama orang terdekat, seringnya jadi down kan bukannya semangat. Kalau kita aja begitu apalagi anak-anak ya kan.

Jadi, untuk kita dan untuk anak-anak kita: jangan takut dan jangan pernah berhenti bermimpi.

Never stop believing in dreaming, and never stop dreaming of believing. That is what gives us hope, and what keeps us alive.

(bukan quote saya itu hasil googling)

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Kelas Menengah yang Kurang Usaha

on
Friday, April 12, 2019
Wah draft ini udah ada sejak Januari 2017. Ngapain aja sih nganggurin ide sampai 2 tahun? Hahahaha.



Kepikiran lagi mau nulis ini setelah nonton PORD (Podcast Raditya Dika) dengan Rachel Vennya. Podcast-nya 1,5 jam dan SAYA NONTON bukan hanya dengar. Karena bagi kaum visual seperti saya, ekspresi dan gesture itu penting makanya belum bisa dengerin podcast doang karena emosinya nggak dapet.

(ANYWAY BANYAK WAKTU BANGET SIS NONTON PODCAST 1,5 JAM? Ya speednya di 1,75 sih jadi nggak selama itu juga lol)

Podcastnya seputar kehidupan Rachel, bisnisnya, dan terutama tentang membesarkan anak terkenal. Di sini saya mau fokus di bisnisnya aja karena inspiring sih bagian itu.

Jadi Rachel itu udah jualan dari SD, jualan TTS berisi pertanyaan seputar info sekolah (kreatif!) tapi karena jualan TTS itu dia pernah ranking 2 terbawah di kelas hahahaha. Kemudian dia terus jualan macem-macem sampai pas SMA dia jualan Kitkat dengan rasa aneh-aneh dari Jepang itu.

Menurut Rachel, itu titik di mana dia baru tau apa itu target market, apa pentingnya market research karena dia baru sadar kalau jualan sesuatu yang memang dicari orang itu, pasti laku. Nextnya dia cerita dia jualan crop top untuk temen-temennya ke DWP padahal dia sendiri nggak nonton, sampai akhirnya bisa pertama kali liburan ke Hong Kong pake uang sendiri dari hasil jualan produk kecantikan!

Yang menarik, apa yang bikin Rachel pengen jualan terus pas SMA? Karena uang sakunya cuma cukup buat dia naik angkot ke sekolah sementara sekali jalan dia harus naik angkot 3 kali. Jadi dia jualan biar bisa ke sekolah naik ojek yang ongkosnya Rp 40ribu sekali jalan. WAH!

Di sini sih kelemahan saya yang sudah saya sadari sejak bertahun-tahun lalu hahahahahaha.

via GIPHY

Yes, saya ada di posisi kelas menengah dengan daya juang yang kurang. Kelas menengah yang kurang usaha. :)))))

Sekarang gini deh, kalau kalian follow dari lama, taulah ya masa lalu Rachel gimana. Di PORD dia mendeskripsikannya sebagai “keluarga aku bisa makan sih, tapi dari satu nenek cuma punya satu mobil Kijang”.

Jadi kalau dikira-kira, dia kelas menengah tapi posisi udah di bawah. Kelas menengah ke bawah. Berjuang banget biar bisa naik kelas. Hanya demi privilege nggak kurang ongkos buat naik ojek. Motivasi banget sih emang. 


Nah yang kurang berjuang emang kelas menengah kaya saya gini nih. Kelas menengah yang bener-bener ada di tengah. Bukan kelas menengah ke atas juga.

Bisa makan? Bisa. Kurang ongkos untuk pergi ke sekolah? Mmm, nggak pernah. Satu nenek punya berapa mobil? Semua tante punya mobil sendiri. Liburan ke luar negeri tiap tahun? Nggak sih. Tapi yang saya mau bisa dibeli semua? Bisa.

Dikasih mobil sama ayah nggak? Nggak sih tapi selalu ada mobil cadangan di rumah buat siapa aja boleh pake. Gadget ganti tiap tahun? Nggak mampu tapi bisalah 3 tahun sekali. Kuliah pake tas branded? Belum cukup uangnya tapi cukuplah untuk belanja di distro pada masanya.

Kalau yang kelas menengah ke atas biasanya tiap anak udah dikasih mobil masing-masing tuh. Nabung dikit udah bisa beli tas branded. Liburan bisalah tiap tahun. Tapi tetap kenal konsep nabung, kenal konsep kerja untuk cari uang. Beda sama kaum kelas atas yang udah nggak tau jumlah uang di tabungan ada berapa ahahahaha.

Kelas menengah yang ada di tengah-tengah seperti saya-saya ini, kurang usaha banget jadinya karena sudah merasa cukup. HUHU. GIMANA YA.

Bener loh saya lagi nyari motivasi banget untuk bisa kerja lebih keras dan lebih giat lagi. Nyari kesempatan untuk bisa ngasih lebih lagi sama masyarakat. Nyari trigger untuk bisa lebih dari ini. Tapi gimana sih kok tetep gini-gini aja. Di satu sisi nggak suka jadi mediocre tapi di sisi lain nggak punya motivasi lebih untuk bisa keluar dari mediocrity.

JG juga sama aja. Buat dia, sampai sini memang lompatan besar dibanding dia waktu kecil. Tapi dia udah terlalu lama hidup nyaman karena pas pertama kali kerja gajinya langsung gede dan bisa beli segala yang dia nggak bisa beli waktu kecil. Sekarang punya uang dikit beli sepatu, beli game, nggak usaha untuk bisa naikin lagi taraf hidup karena merasa sudah naik dibanding dulu. Tapi kalau gitu kapan kita liburan ke Afrika seperti Rachel dan Niko? HAHAHAHAHA.

(Baca: Suami yang Pernah Miskin)

Terus jadi mikirin, apa yang bisa bikin saya kerja lebih keras kalau memang merasa cukup?

Cita-citanya cuma satu sih, uang sekolah Bebe voila! kekumpul dalam beberapa bulan bukannya dalam 3-6 tahun. Tapi harus ngapain? Jualan males, pindah kerja takut pulang malem, double job takut nggak bisa ngerjain hobi. Hedeh. KURANG USAHAAAA. Masalah mental yang sebenarnya.

Iya sih ranking 1 terus pas SD tapi ternyata nggak ngaruh ke kehidupan selanjutnya juga hahahaha.

Akhirnya saya dan JG lagi memetakan ulang kehidupan nih. Lagi nulis lagi cita-cita apa yang paling diinginkan, lagi ngulik lagi bisa ngapain ya kita biar bisa lebih dari ini? Ngapain ya biar punya motivasi lebih karena masa mau hidup gini-gini aja. Ditulis di notes sama-sama gitu, ngapain lagi kita?

Mana Gesi lagi kuliah play therapy dan Nahla mau S2 pula. Makin kaya dikejar wehhh hahaha. Memang penting berada di lingkungan yang selalu mau maju. Biar merasa ketinggalan terus ikutan lari. :)

Ya udah gitu aja sih. Cuma mau nyeritain Rachel dan sedikit curhat saya. Doakan semoga dibukakan pintu hati biar muncul motivasi untuk keluar dari mediocrity ini. Yang punya waktu dan mau nonton bisa ke channelnya Raditya Dika. Saya kurang usaha untuk embed HAHA THE IRONY.

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Mengajarkan Anak Berpikir (Kritis)

on
Monday, April 1, 2019
Triggered sama postingan ibu-ibu di Instagramnya Mommies Daily terus saya panas deh pengen langsung nulis.

Jadi ceritanya Maudy Ayunda diwawancara Najwa Shihab. Sebuah wawancara yang bikin saya stres “YA AMPUN INI MEREKA MAKANNYA APAAAA?!” karena kok sulit relate bagi kaum seperti saya yang selalu panic attack saat mau ujian. :((((



Saya tuh sadar diri nggak pinter kalau nggak belajar sementara ambisius level menangis kalau dapet nilai B. Jadi ya BELAJAR lah satu-satunya solusi. Kalau lagi ujian, tidur saya nggak tenang, saya sering kebangun tengah malem karena dalam tidur tiba-tiba saya merasa lupa satu teori apa gitu misalnya. Saya akan BANGUN untuk cek catetan, baca, dan tidur lagi. Story of my whole college life. :(

Bahkan saya nggak mau nyetir (emang nggak jago sih), nggak nebeng temen saat ujian karena saya mau naik angkot. Saat angkot menembus macetnya Cibiru adalah kesempatan saya untuk belajar lagi. Nope, bukan karena saya suka belajar tapi terlalu takut untuk nggak bisa ngerjain ujian. :(

Jadi bukan excited deg-degan kaya Kak Nana dan Maudy. Nggak sama sekali. Kalau ujiannya dibatalkan atau take home test pun saya bahagia karena PASTI jadi bisa mengerjakan lebih baik dibanding harus ngerjain nervous di kelas. Bukan yang kecewa karena ih udah belajar kok nggak jadi ujian hahahaha.

Sementara saya sahabatan sama orang yang TIDAK belajar juga pintar. Kesel deh, sehari sebelum ujian saya mati-matian belajar dia main. Kelar ujian, nilai kami sama. Selalu kaya gitu. Tapi ya, emang sengaja temenan sama orang pinter biar termotivasi hahahaha.

Terus setelah nonton video Najwa dan Maudy, saya jadi semangat biar Bebe senang belajar! Karena inti dari video itu adalah keduanya senang belajar plus ada tips parenting dari orangtua Maudy Ayunda:

- Nggak punya TV dan mengandalkan buku untuk hiburan. Hanya saja tidak selalu buku tapi juga Lego karena Bebe sesuka itu sama Lego. (Baca: Hidup Tanpa TV)
- Tak pernah diberi reward untuk pencapaian. Sejauh ini belum menjadikan reward sebagai keharusan. (Sekilas tentang rewards ada di sini: Bebe Anak Pemberani)
- Diajarkan skill problem solving sejak kecil. NAHHHH INI NIH YANG MAU SAYA BAHAS. Karena ngaruh ke goals kami yaitu dia harus jadi anak yang bisa ambil keputusan sendiri (klik untuk baca). Keputusannya harus dipikirkan matang-matang dengan kritis dong?

*btw kayanya bakal panjang deh, biarlah ya*

Berpikir itu harus DIAJARKAN (dan agak dipaksa)

Masuk umur 4 tahun, saya sadar kalau Bebe itu suka males-malesan jawab pertanyaan karena dia males mikir. Wow banget ya anak 4 tahun males mikir.

Tanda males mikir ini sebetulnya udah keliatan dari umur 3 tahun, cuma dulu saya mikirnya “halah masih kecil kali” sebelum makin sini makin sadar dia males mikir dan menjauh dari Stanford lol.

Jadi dulu percakapan kami memang tak jauh dari soal perasaan. Misal weekend, pertanyaan saya malemnya:

👩: “Xylo senang nggak hari ini?”
👶: “Senang!”
👩: “Senangnya kenapa?”
👶: “Karena aku nonton YouTube”
👩: “Selain nonton kamu senang ngapain lagi hari ini?”
👶: “Ah ibu aja yang cerita”
👩: “Kamu dong”
👶: *NGAMBEK KARENA MALES MIKIR*
👩: *kemudian saya ganti topik karena males ngejar*

Sekarang saya nggak gitu. Saya kejar terus petrus jakandor seperti ibu Maudy Ayunda mengejar pros cons membeli rendang untuk acara keluarga hahaha. Nonton videonya ya kalau nggak ngerti.


Jadi setelah pertanyaan perasaan (buat saya ini tetep wajib), saya kejar dengan pertanyaan kritis dan memaksanya berusaha menjawab.

“Kalau hari ini aku senang karena 5 hal, (menyebut 5 hal yang bikin senang hari itu). Kalau kamu bisa juga nggak sebut 5 hal yang bikin kamu senang?”

Anak kompetitif biasanya tentu mau lebih, jadi kalau ibu udah sebut 5, dia sebut 10 lalu merasa menang. Memang agak lama dan nggak langsung jawab, tapi saya tunggu dan beri waktu untuk berpikir. Kadang jawabannya nggak terduga lho semacam “senang bisa ke tempat cuci mobil sama appa” atau “senang bisa masak sama ibu” luv banget nggak sih huhu.

Kalau pun dia ngambek, saya bujukin dengan “Ayo berusaha berpikir dulu, kamu kan punya otak untuk berpikir, ayo berusaha dulu”. Keyword: berusaha.

Dulu dia sering jawab males: “ibu aja yang cerita” tapi sekarang dia udah mau saya paksa dikit untuk berusaha berpikir dan langsung mau cerita.

Kaya kemarin abis nonton Dumbo, setelah nanya senang nggak hari ini blablabla, saya tanya:

“Xylo, tadi paling suka adegan apa?”
“Kenapa?”
“Paling nggak suka adegan apa?”
“Karakter yang paling kamu suka siapa?”
“Kenapa?”
“Paling suka waktu dia ngapain?”

Terus terus terus sampai ke ujung dan dia mau jawab semua huhu bangga.

Setelah seminggu kaya gini, Bebe komen lho! dia bilang “ibu, kita sekarang seru ya ceritanya” Huaaa, ibu terharu. Usahaku ada hasilnya ternyata. Kuliah di mana jadinya nanti, Be?

Tapi sejujurnya memang capek HAHAHAHA.

Jadi saya bilang ke dia kalau hari Jumat dan Sabtu malam, kita boleh mengobrol lebih lama karena besoknya Sabtu dan Minggu. Selain itu, ngobrol dan kejar secapeknya aja, pernah malah ketiduran karena dia mikir kelamaan hahaha. Nggak apa-apa yang penting berusaha yaaa.

Segininya banget lho efek nonton video Najwa Shihab dan Maudy Ayunda. Makanya saya rada kaget begitu posting tips ini di IG Mommies Daily dan komentarnya kebanyakan pada pesimis.

Dari nanya “nonton sinetronnya gimana kalau nggak ada TV” sampai sok bijak (sorry not sorry) tiap keluarga punya value beda dan nggak semua anak bisa diperlakukan sama. Errr, untuk bagian rewards mungkin iya sesuai kepribadian anak, tapi untuk mengasah skill menyelesaikan masalah dengan berpikir kritis menurut saya kan skill umum yang layak diajarkan pada semua anak sih.

Saya sih yakin pada semua keputusan parenting karena sudah dipikirkan matang-matang. Tapi bukan berarti saya jadi tertutup pada hal baru. Malah kalau ada pengetahuan baru yang kira-kira oke, ya saya cari tau lebih banyak dan terapkan deh.

Semua harusnya bisa asalkan orangtuanya niat. Semua harusnya bisa asalkan orangtuanya mau terus belajar. Karena kalau orangtuanya aja malas belajar dan menerima hal baru, yakin anak akan senang belajar hal baru juga?

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

IG