Anak yang Bisa Mengambil Keputusan

on
Monday, August 27, 2018

Salah satu bahan diskusi saya dan gurunya Bebe di sekolah saat pembagian rapor 3 bulanan kemarin adalah soal bagaimana para miss harus memutar otak untuk membujuk Bebe melakukan sesuatu.

Iya, kasarnya, Bebe nggak bisa disuruh-suruh. Nggak bisa tuh pake kalimat semacam:

“Xylo, tidur siang yuk”

“Xylo, makan ya”

Bebe akan tersinggung dan hampir PASTI menolak meskipun dia ngantuk atau lapar. Dari situ saya jawab, untuk ngasih background aja sih sama missnya.

Saya menduga (menduga lho, karena nggak ada bukti), Bebe seperti itu karena sejak bayi ia selalu diberi pilihan. Kami tidak pernah mengambilkan keputusan untuk Bebe.

Kalau pun keputusannya diambilkan kami berdua, kami mengubah konteks agar seolah dia yang pilih. Contoh, dia tidur jam 10 malem terus. Kalau kami bilang langsung “mulai sekarang kamu tidur jam 9 ya!” Dia PASTI akan tersinggung.

Jadi kami mengubah pertanyaannya menjadi:

“Kamu tidurnya mau jam 8 atau jam 9?”

YA OTOMATIS DIA PILIH JAM 9 KAN. HAHAHAHA. Dia memilih jawaban yang kita inginkan.

via GIPHY

Kecuali yang memang berbentuk peraturan. Itu pun tetap diberikan pilihan. Misalnya aturan baru soal gadget on weekend yang saya pernah singgung di postingan ini: Bebe Mogok Les Renang.

Saya beri pilihan “Kamu boleh tidak les renang, tapi kamu tidak boleh nonton lagi di hari Minggu. Kalau kamu mau tetap nonton di hari Minggu, kamu harus les renang”

Jadi pilihan yang harus dipilih Bebe:

a. Les renang jadi Minggu boleh nonton
b. Tidak les renang tidak apa-apa, tapi hari Minggu tidak boleh nonton.

SULIT YA HAHAHAHA. Nangis-nangis dia. Tapi akhirnya dia pilih opsi A. Kalau nggak mau pilih? NGGAK BOLEH. Pilihannya cuma itu. Pilih sendiri yang menurut kamu baik. Saya hanya jelaskan pros & consnya.

Seperti juga soal makanan sehat dan tidak sehat. Saya tidak pernah larang, tapi dia tahu semua konsekuensi seperti sakit gigi atau sakit perut jadi dia sering menolak kalau ditawari makanan/minuman kemasan.

(Tips agar anak bisa jadi pengambil keputusan yang baik pernah saya tulis di sini: Anak dan Pengambilan Keputusan.)

Seumur hidupnya dia begitu. Sekadar pilih makanan apa, atau kaos kaki beda kanan kiri, nyeker atau pake sepatu, dan segudang konflik hidup balita lainnya. Maka ketika dia langsung disuruh, dia tersinggung dan mikir kurang lebih:

“PERMISI, ANDA SIAPA SURUH-SURUH HIDUP SAYA?”

HAHAHA.

Untungnya sekolah montessori ya, anak-anak seperti Bebe ini diakomodir. Menurut Montessori, anak kecil adalah orang dewasa yang masih belajar dan “terperangkap” di tubuh anak kecil. Makanya ia ya harus diberi kepercayaan seperti orang dewasa, seperti menggunakan alat makan beling, diperbolehkan menuang air dari teko sendiri, atau menggunting menggunakan gunting logam. Hal-hal yang dianggap “bahaya”, boleh dilakukan asal dengan pengawasan.

Missnya kemudian bilang (dan bikin saya terharu huhu bikin nggak merasa gagal-gagal amat sebagai orangtua):

“Ibu dan bapak sudah benar, menjadikan anak sebagai subjek, BUKAN objek. Anak subjek, dia punya pilihan dan keputusannya harus dihargai”

NGEMBENG DI TEMPAT SIH.

Jadi ya setiap hari, missnya juga memelintir kata agar seolah Bebe mengambil keputusan sendiri. Untuk tidur siang, diberi pilihan dengan “kalau kamu nggak tidur sekarang, ketemu appa dan ibu semakin lama. Mau ketemu lama atau ketemu cepet-cepet?” Ya cepet dong, makanya tidur. <3 br="">

Kenapa anak harus diberi pilihan?

 Karena jadi orang yang nggak bisa ambil keputusan itu RIBET. Meski banyak yang bilang pengambilan keputusan itu bisa diwariskan secara genetis, menurut saya decision making itu nurture lho!

Berhubungan erat dengan apakah seumur hidupnya, dengan berbagai pengalaman yang dihadapi, apakah anak dihargai di lingkungannya? Terutama ya oleh orangtuamya.

Apa minusnya anak yang bisa ambil keputusan sendiri?

Keras kepala hahahaha. Ya karena dia selalu diberi pilihan, dia benci dipilihkan. Bisa meltdown banget kalau dipilihkan karena dia tersinggung dan merasa tidak dihargai.

Apa plusnya anak yang bisa ambil keputusan sendiri?

Ia sangat mandiri. Lebih mandiri dari anak seusianya. Ia tahu apa yang ia mau dan tidak bergantung pada orangtuanya untuk memutuskan sesuatu.

Anak juga akan lebih percaya diri dan tidak mudah terbawa orang lain karena ia percaya pada keputusannya sendiri.

Selain itu, ia akan merasa dihargai dan lebih bisa diajak diskusi. Ia mau berdiskusi bukan karena takut, tapi karena ia tahu pilihannya akan dihargai seperti orang dewasa.

KEYWORD: SEPERTI ORANG DEWASA.

Ya, saya selalu menganggap perasaan Bebe seperti perasaan orang dewasa. Orang dewasa aja kalau bangun tidur pengen kedip-kedip dulu kan nggak mau langsung mandi, ya anak kecil juga sama.

Orang dewasa aja kadang pengen makan banyak kadang males makan, ya anak kecil juga sama.

Orang dewasa sebel banget kalau dipaksa melakukan sesuatu, ya anak kecil juga sama.

Hanya karena ia anak kecil, bukan berarti dia tidak punya perasaan. Hanya karena ia anak saya, bukan berarti pilihan dan perasaannya milik saya. Saya dan JG hanya membantu dan mengeksplorasi agar ia bisa memilih pilihan yang terbaik.

Again, bisa begini karena ya Bebe di daycare. Kalau di rumah sama saya 24 jam sih duh nggak bakal waras. Jadi ibu rumah tangga itu bakat-bakatan, kalau kaya saya nggak bakat sama sekali gini sih nyerah aja. Huhu.

Saya juga suka sedih kalau liat anak yang lagi main aja diatur. Kaya kemarin di CFD, Bebe main bola sendirian kemudian ada anak kecil cewek pengen ikutan main. Tapi ibunya ngatur banget, si anak baru pegang bola, ibunya teriak "throw! throw!" terus anaknya nurut. Berikutnya anak megang bola lagi ibunya teriak "kick! kick!" terus anaknya nurut. Berikutnya anaknya NUNGGU disuruh dulu dong baru dia mau lempar atau tendang. Kan kasian ya. Biar aja sih terserah anaknya itu bola mau diapain.

Atau lagi main Lego bareng di tempat mainan. Banyak orangtua yang ikut campur dan kritik hasil Lego buatan anaknya "ini kok merah sih dek, atasnya bagusan biru" atau "masa mobil rodanya tiga, tambah lagi dong". Ya ampun main aja anak susah bebas. Main lhooo. Bebas aja sih.

Semoga di masa depan Bebe bisa jadi pengambil keputusan yang baik dan selalu percaya diri ya!

-ast-

BONUS GIF PETER KAVINSKY BECAUSE WHY NOT!


via GIPHY

LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

13 comments on "Anak yang Bisa Mengambil Keputusan"
  1. Sejak anakku 1.5 tahun dan udah mayan bisa diajak komunikasi, aku juga nerapin sistem memilih ini. Beberapa kali aku atau suami perintah, dia malah agak berontak. Beberapa 'perintah' dia bisa nurut sih, kayak minta nonton Youtube lagi padahal waktunya bobo, kami biasa bilan "Terakhir ya, abis ini bobo." Dia manut. Sisanya, dia udah terbiasa untuk memilih sih. Kalau dia nolak, kita juga harus setengah mati nurut maunya dia, walau gemes banget sebenernya kita maunya dia begini hahahaha

    ReplyDelete
  2. Kurleb sama iniiih kasusnya. 2 anak, both are stubborn. Apalagi udah pada gede kayak sekarang, diskusi alot pisan. And yes, gw juga berpatokan pada statement "anak-anak adalah orang dewasa yang terperangkap pada tubuh yg kecil". Kalimat ini gw baca waktu hamil anak pertama which was 20 years ago! Kalimat yg gw Jadiin patokan saat bicara pada mereka. Kasih sebab-akibat saat memberikan penjelasan. Harapannya sbg stimulan pada mereka utk berpikir. Walau kadang kala keluar juga jurus-jurus "ultimatum" biasanya pada saat mamak-abah murka hahaha

    ReplyDelete
  3. Teh, aku merasa anakku bgt. Duh dia ga pernah mau disuruh. Disuruh pKe sandal krn tempat becek, disuruh tidur padahal dia ngantuk. Oke mau coba tips nya teh Icha dalam plintir memlintir kata 😁

    ReplyDelete
  4. Mba..sepertinya ideal banget ya dalam pengasuhan anak tunggalnya. Cocok sih kalo utk diteladani ibu-ibu yg masih anak 1 & berencana punya anak 1..but things are not the same when you have 3 children or more (for sure), seringnya pengasuhan dikondisikan..soal dipilihkan or membiarkan anak memilih. Bisa kebayang kali ya kalo kakaknya masih kepengen nonton daripada mandi sore , padahal adek2nya nunggu giliran dimandiin..bisa sih nunggu or having wordplay (nyusun kalimat as if kasih pilihan), tapi jadwal makan bisa molor banget. Dari seminar parenting yg pernah saya ikutin, anak jg perlu dilatih ketaatannya cuma perlu dikasih waktu utk anak mencerna instruksi/suruhan, misalnya bilang "5 menit lagi kakak mandi ya". Semoga mba ga hamil lg ya sesuai rencana, bisa buyar semua idealismenya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah aku setuju sih sama anonymous yg satu ini. Ibu annisa emang paling ideal ya ngebesarin anaknya sampe harus kasian sama anak org yg lagi main bola. Kalo boleh kasih saran, stop judging, hanya karena si ibu bilang 'kick' and 'throw' lantas menjudge ibu tersebut. Emang Bu Annisa tau keseharian si ibu dan anaknya? Bu Annisa gimana perasaannya kalo ada yg mengasiani Xylo hanya karena ditinggal di daycare? Masih ngelak biasa aja? Hahahaa..

      Delete
    2. wah iya memang aku selalu dari sudut pandang ibu satu anak sih. tapi dipikir-pikir kalau pun ternyata di luar rencana dan dikasih anak lagi, akan tetep ideal sih. soalnya jaraknya akan jadi 5 tahun sesuai jarak ideal anak menurut psikolog :))

      Delete
    3. Annisa gimana perasaannya kalo ada yg mengasiani Xylo hanya karena ditinggal di daycare? Masih ngelak biasa aja? Hahahaa..

      yah, dirimu ini pembaca baru sih ya pasti. aku sering bilang soalnya, bisa ideal gini karena xylo di daycare sejak bayi. kalau di rumah mana sanggup selalu ideal. plus aku realistis aja kalau ga sanggup ya outsource lahhh. dibaca dulu doongg postingan lama-lama yaaa.

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
    5. Kalau menurutku di sini Icha cuma berbagi pengalaman dalam mendidik anaknya lho mba. Kalo mbanya merasa belum bisa seideal ini ya gpp. krn memang bener kondisi keluarga itu macem2 bgt ga bisa disamaratakan.

      Bukan soal punya anak berapanya, kalo aku pikir mestinya ya kita seneng dan mendukung ibu2 macam icha ini yg berbagi pengalaman. Kita jadi bisa belajar dr pengalaman mereka2. Kalo ga cocok ya udah, ga usah diikutin.

      Kalo soal Icha judgemental, mungkin krn baru baca tulisan icha atau gimana, krn justru di tulisan2 dia itu dia malah yg apa2 terserah org asal tau konsekuensinya.

      Mba tetep ibu hebat kok, Ica juga, aku juga. Ideal menurut icha memang blm tentu ideal menurut ibu lain, dan itu gpp banget.

      Delete
  5. Aku jadi salfok..... setelah bacain komen2 nya
    Hahahaha..... Namanya juga orang beda-beda ya, tentu sudut pandang yg diambil bergantung pengalaman yg dirasakan penulis sendiri. Gimana bisa menyamaratakan persepsi dgn org tua yg anaknya tiga. Sungguh perbandingan yg aneh.....

    Ikutan komen lah, berdasarkan opini pembaca yg juga ibu dari anak satu. Ketaatan buat anak itu pasti penting lah, hanya aja caranya setiap org beda. Kak Icha thd Salo ini kan intinya tetap ngajarin disiplin toh, bukan yg anaknya dikasih pilihan bebas sebebas-bebasnya tanpa diarahkan. Dan aku percaya Bebe yg 4 tahun gini meski punya adik kelak pasti tetap bisa mengambil keputusan karena udah terbiasa banget dari kecil.

    Meski aku sendiri anak baru satu tetap nggak bisa sabar dan telaten nungguin anak memutuskan pilihannya. Hahahaha
    Tapi no hard feelings aja sih, justru aku kalo baca tulisan2 Kak Icha dan idealisme nya itu bikin introspeksi. Kurang ku dimana yaa, kenapa dia anak satu bisa gitu, aku anak satu nggak bisa gitu kok ya hahahahaha

    Karena yaaa itu lah, orang beda-beda (tetep ngelesss)
    Btw jadi nonton in Lara Jean gara2 dirimuuuuu
    Hahahaha baguuuus euy ternyata
    Rekomen lagi dong romcom-romcom yg lain :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. nanti kalau ada romcom gemes lagi aku stories yaaaa hahahaha

      Delete
  6. Mana yang anonymous lainnya? komen dong. Gapapa curhat ajah di sini, kan ga ketahuan ih.

    Pelik ternyata kehidupan parenting ini LoL.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha
      Saya ikut memelikkan suasana ya
      Saya trmasuk slh satu silent reader mba ica.. saya yg dulu sampai hamil gak berpikir ttg daycare,sekarang anak saya sudah 2 tahun'an di daycare

      Menurut saya tulisan2 mbak ica sangat membuka banyak hal ttg parenting,dengan cara yg enak dicerna

      Saya mengapresiasi tulisan2 mbak ica krn keputusan2 yg dibuatnya itu brdasar dari update ilmu,saran pakar,dan pemikiran2 logis yg menurut saya sgt bermanfaat ketika disharingkan

      Kita setiap hari belajar mnjadi org tua yang lebih baik dari kemarin..dan belajar itu adl salah satu btk adaptasi kita terhadap dunia sehingga kita bisa hidup (lebih baik) setiap harinya..😊

      Delete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)