-->

Image Slider

Susahnya Jadi Ibu ... (2)

on
Friday, September 29, 2017
*Ini draft lama, dari 24 Mei 2017 yang belum dipublish. Entah dulu kenapa marah-marah gini, pasti ada triggernya. Kemudian karena isinya marah-marah jadi diendapkan ... dan kemudian lupa hahaha. Publish ajalah ya sayang juga diem di draft doang ;)*



Iya sih emang nggak ada yang bilang jadi ibu itu gampang. Tapi pasti baru tau SEGITU susahnya jadi ibu setelah anaknya lahir ya? Iyalaahhh.

Pas nikah pasti banyaaakk banget yang tujuannya punya anak. Padahal nggak tau juga punya anak itu kaya apa. Mungkin itu yang namanya maternal instinct.

Iya ada kan orang-orang yang memang nggak pengen punya anak. Nggak pernah punya perasaan ingin punya anak dan itu TIDAK APA-APA. Karena jadi ibu itu susah, jangan memaksakan diri jadi ibu hanya karena orang-orang bilang eh kok kamu nggak punya anak? Atau hanya karena orang bilang sekarang saatnya punya anak.

No, nikah aja persiapannya panjang kok, jadi wajar kalau memutuskan punya anak setelah berpikir panjang.

Dan ini bukan masalah rezeki ya jadi tolong tidak dijawab dengan anak lahir dengan rezekinya sendiri. Bukan itu, beda konteks. Namanya orang usaha, rezeki pasti mengikuti lah. Tapi punya anak kan nggak sepenuhnya masalah khawatir akan rezeki.

Anak lahir sebagai tanggung jawab kita. Bagaimana kita akan didik dia? Bagaimana akan mengajari dia sopan santun? Bagaimana mengajari dia menghormati perempuan? Bagaimana mengajari dia toleransi agar tidak jadi bigot?

Jadi ya, punya anak BUTUH persiapan ilmu akan hal-hal itu. Jadi ibu itu butuh persiapan mental meskipun nggak bisa gladi resik dulu! Nggak bisa tes skenario dulu. nggak bisa reading dulu. Punya anak itu langsung performance, langsung syuting dalam one take. Nggak bisa retake, yang ada hanya penyesalan. *sigh*

Di situ beratnya.

Apalagi untuk ibu-ibu tengah kaya saya gini ya. Tengah dalam artian, nggak kaya banget, nggak miskin banget. Nggak idealis banget sampai segala organik tapi nggak serampangan juga sampai MPASI umur 3 hari. Realistis tapi masih pengen ideal gitu lah.

Ada di tengah-tengah dan itu emang kampret sih. Dan bikin kepikiran.

Karena tentu ingin jadi ibu terbaik bagi anak kan, tapi mau ideal banget juga kok ... capek yaaa. Gagal konsisten jadinya, kemudian muncul pemikiran "ah ya udalah gini juga nggak apa-apa kok". Beberapa minggu kemudian sedih sendiri "gue jadi ibu kok nggak konsisten banget ya"

T_________T

Dan tekanan datang dari diri sendiri karena diri sendiri yang perfeksionis ini susah sekali tidak membandingkan dengan ibu lain. Ibu lain kok gitu, kok gue nggak bisa banget ya begitu. Si X hebat deh anaknya nggak kenal gadget sampai sekarang umur 5 tahun. Si Y hebat banget deh anaknya lima homeschooling semua, gue kok nggak bakal sanggup ya kayanya.

Kemudian nyerah di awal dan berbuah penyesalan-penyesalan kecil. Penyesalan ini bisa dihapus dengan "ya udalah" tapi masih kepikiran dikit HAHAHAHAHA.

Pertanyaan ini pasti pernah mampir di kepala: apa kita ibu yang baik?

Kata orang, seorang ibu pasti ibu terbaik buat anaknya. Tapi kok kayanya belum tentu ya. Soalnya banyak juga ibu yang jahat sama anaknya. Tapi kan kita nggak jahat. Tapi anak kok lebih mau makan sama mbak dibanding sama kita?

HHHHH.

Mau detoks gadget tapi kita sendiri nggak mampu detoks gadget. Mau lebih sering main di luar tapi kok ya kita sendirinya juga capek harus ngejar-ngejar dia outdoor. Ingin homeschooling, baca buku sebelum tidur aja ngantuk banget rasanya.

Jadi realistis rasanya lebih susah setelah jadi ibu. Karena segala jungkir-balik yang kita lalui tiap hari itu bukan lagi karena kita ingin lulus SPMB atau sidang skripsi, segala tujuan akhirnya bukan diri kita, tapi akan jadi apa anak kita.

Kemudian merasa gagal. Kemudian mulai datang penyesalan.

Padahal, sadarilah. Keputusan untuk anak sebaiknya diambil setelah pemikiran yang matang. Jadi kalau dulu ngasih gadget, ya mungkin karena ada kebutuhan itu. Lihat alasan di baliknya, apa dulu mampu kalau tanpa gadget?

Nggak mampu kan? Kalau dulu nggak mampu tanpa gadget, maka sekarang anak ketergantungan gadget adalah risiko yang kita hadapi atas waktu-waktu yang didapat dari masa lalu.

Jadi bisa mikir "ah tapi kalau dulu nggak ngasih gadget juga ga mungkin makan, masa laper terus, nanti stres. Kalau stres nanti malah nggak waras ngadepin anak" Jadi tidak perlu menyesal, karena dulu gadget itu membantu.

Saya sih jarang menyesal sama segala sesuatu karena jarang mengambil keputusan impulsif. Jadi dipikirkan dulu. Waktu pertama kali ngasih gadget ke anak ya pertimbangannya karena ... karena kenapa nggak? Hahaha.

Belum lagi kalau marahin anak bukan karena salah dia tapi karena kita yang capek. Duh anak nggak salah apa-apa jadi kena bentak. Padahal sendirinya paling bisa bilang ke anak "tidak perlu sambil marah dong mintanya!"

Huhu.

Karena ini saya nggak berani untuk punya anak lagi. Tanggung jawab yang terlalu besar. What if I screw them up? What if I screw OUR LIFE up?

Komentar paling nggak sopan dan jahat dari segala urusan nambah anak: "nanti kalau ada apa-apa (read: anaknya meninggal) nyesel loh" LIKE HELLO PEOPLE. JADI PUNYA DUA ANAK ITU BACK UP IN CASE YANG SATU MENINGGAL?

No. Jadi ibu adalah pengalaman batin, biarkan saya menikmatinya. Biarkan kalian menikmatinya. Jangan pernah bertanya kapan akan punya anak, jangan pernah bertanya kapan punya anak kedua, ketiga dan seterusnya. Kalau ada yang tetep nanya maka musuhin lol.

Selamat hari Jumat!

Btw ini part 1-nya: Susahnya Jadi Ibu ...

-ast-

PS: Karena ini tulisan lama, jadi banyak soal gadget sebagai pelarian. Sekarang Bebe udah nggak ketergantungan gadget lagi. Minggu depan saya cerita proses detoksnya ya!




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe yang Romantis

on
Wednesday, September 27, 2017

Udah lama yaaaa nggak bikin update Bebe, terakhir kayanya pas ultah doang deh sementara minggu depan aja Bebe pas 3 tahun 3 bulan. Kalau ditanya orang anaknya umur berapa saya jawab 3,5 tahun aja biar cepet lol.

Di 3,5 tahun kurang 3 bulan ini (RIBET) saya mau share betapa romantisnya Bebe! Hahaha. Enek enek deh kalian semua. Saya harus nulis ini mumpung dia lagi manis-manisnya dan saya kalau nggak nulis pasti lupa.

Triggernya adalah, kemarin-kemarin sempet baca di Twitter tentang tiger mom yang nggak peduli perasaan anak asal goalsnya dia tercapai. Goalsnya rata-rata ya attitude atau akademik gitu. Terus saya sendiri jadi share bahwa untuk sekarang, goals saya buat Bebe nggak banyak. Dua di antaranya adalah sekolah harus bagus dan Bebe HARUS merasa disayang!

Kenapa? Simpel aja kalau dia di rumah ngerasa disayang tandanya dia nggak akan cari kasih sayang lain di luar rumah. KAYANYA LOH YA. Entahlah hahahaha.

💖 "Aku sayang ibu" 💛

Di keluarga saya, sejak kecil kami tidak terbiasa bilang "aku sayang ibu" atau "aku sayang ayah". Sekarang pas udah gede pun mentok kasih emot cium atau love aja. Emang nggak affectionate dari kata-kata aja gitu loh.

Makanya saya pengen Bebe jadi anak yang bisa ngungkapin perasaan. Jadi sejak Bebe bisa ngomong, tiap inget saya pasti bilang "ibu sayang xylo lohhh". Entah dia nanggepin atau nggak. JG juga pasti nimpalin "appa juga sayang xylo lohhhh". Sampai baru di enam bulanan terakhir dia nimpalin "aku juga sayang ibu sama appa!"

HUAAAA MELELEH BANGET SUPER.

Dan sekarang dia ngomongnya nggak usah saya duluan yang ngomong. Abis pup nih kan saya cebokin sambil dia berdiri, dia suka meluk sambil bilang "sayang ibuuu". Meleleh sekali kaannn. Tandanya dia tau bahwa saya ngomong sayang sama dia itu random aja, dia pun melakukan hal yang sama.

(Baca: Anak dan Pengambilan Keputusan)

💖 Cium-cium 💛

Selain bilang sayang, dia juga hobi meluk dan cium-cium pipi saya! Ini parah sih lebih bikin meleleh dari apapun juga. Jadi suka tiba-tiba mendekat terus cium gitu. Ya ampun anak 3 tahun kenapa bisa lebih romantis dari pacar sihhhh.

Dan ya, urusan bilang sayang dan cium ini sih hanya berlaku untuk ibu dan kadang-kadang untuk appa. Kalau lagi nggak mood, dia pasti bilang "aku sayang ibu nggak sayang appa". Hahahaha.

Kalau abis dimarahin JG dia bilang "aku sayang ibu nggak sayang appa" TAPI kalau abis dimarahin saya pun dia tetep meluk saya dan bilang "aku sayang ibu nggak sayang appa" HAHAHAHAHA.

(Baca: 5 Hal yang Tidak Perlu Dikatakan pada Balita)

💖 "Kalau udah besar aku beli ..." 💛

Satu lagi dari keromantisan Bebe adalah, dia seneng ngomong "kalau udah besar aku beliin ibu ..."

Ini dimulai sejak kamera sama iPad ilang. Udah pernah saya ceritain sih di sini: Kehilangan dan Kuota Kepemilikan

Waktu itu dia ngomong berulang-ulang "Nanti kalau sudah besar aku beli kamera dan aiped buat ibu, ibu senang kan?"

Dan itu berlanjut!

Sampai sekarang kalau saya bilang ingin sesuatu dia pasti bilang "kalau sudah besar nanti aku beliin buat ibu".

Pernah gurunya di daycare muji "wah Xylo celananya baru ya!" dia jawab "iya, nanti kalau sudah besar aku beli celana baru buat kak Wina".

MANIS BANGET ANAKKU YA AMPUN AKU TERHARUUUU. Dan dia cuma melakukan ini ke orang-orang yang dia sayang loh. :')))

💖 "Ibu cantik!" 💛

Entah dari mana Bebe dapet konsep kalau saya udah pake alis dan lipstik itu artinya cantik. Perasaan saya sama JG nggak pernah bilang kalau make up = cantik. Atau emang saya jelek banget kali kalau nggak dandan hahaha.

Tapi kalau saya udah dandan dia suka bilang "ibu cantik, ibu mau ke mana?" Atau dia tiba-tiba suruh saya gerai rambut dan nggak diiket terus bilang "ibu rambutnya gini aja, cantik kaya Elsa". Iya Elsa Frozen lah siapa lagi lol.

Saking seringnya dia bilang ibu kaya Elsa saya sampai pengen beli baju Elsa HAHAHAHAHA. Anaknya total emang kalau ngapa-ngapain, nggak suka setengah-setengah lol.

Atau kaya semalem, dia nunjuk buku cerita dia yang tokoh utamanya princess pake mahkota. Dia bilang "ibu kok nggak punya mahkota gini?" aku bilang "iya nih kok ibu nggak punya mahkota ya?" Dia jawab "iya ibu kan cantik, kok nggak pake mahkota".

KYAAAAA. SUAMI NGGAK ROMANTIS TERBAYAR DENGAN ANAK YANG SUNGGUH MANIS.

Dan apakah dia menganggap JG ganteng? OH TENTU TIDAK. Kalau Bebe abis bilang ibu cantik appa suka jealous dan tanya "appa ganteng nggak?" NGGAAAKKKK. Gitu kata Bebe hahahaha. #somuchwin.

💖 Pegangan tangan 💛

Kalau duduk di carseat, maka pegangan tangan. Kalau pelukan udah pegel, maka pegangan tangan. Kalau udah capek jalan sambil pegangan tangan, maka duduk di stroller sambil pegangan tangan.

Intinya di mana-mana pegangan tangan sama Bebe huhu gemes.

*

So far saya merasa berhasil sih untuk urusan disayang ini. Karena meskipun sayang sayangan gini, kami nggak manjain juga sih. Nggak boleh ya nggak boleh, nggak sopan ya nggak sopan, tidur ya tidur. I'm so proud of myself lol.

Jadi ya itu aja sih. Pesan untuk kalian yang mau punya anak romantis dan sweet kaya Bebe, dimulailah sejak dia bayi! Bilang sayang kapan pun, cium dan peluk kapan pun. Pastikan dia selalu merasa disayang bahkan ketika kita sedang mendisiplinkan dia.

Oke itu aja curhat hari ini. Buibu yang anaknya laki-laki, ayo tunjuk tangaaannn! Pasti pada romantis juga kan anaknya! 💖

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Pertemanan Orang Dewasa

on
Monday, September 25, 2017

Urusan teman ini pernah saya bahas singkat di Instagram sih. Betapa makin tua, makin sedikit punya temen. Saya sih sadar banget, I'm a bad friend, shitty one, worst ever lah. Makanya temen saya sedikit banget simply karena saya jarang sekali bisa meluangkan waktu untuk mereka.

Oke kalau temen mungkin banyak ya. Temen kantor, temen kuliah, temen deket yang masih suka pergi-pergi bareng gitu. Sahabat lah yang sedikit banget mah. Nggak punya malah hahaha. Sampai tahun lalu, saya nggak punya sahabat sama sekali. Sahabat saya ya JG uwuwuwuwu, bener-bener pertemanan orang dewasa lol.

Baca punya Gesi. Dia abis nyerocos curhat soal temen terus ngajakin nulis lol:

Sebelum ngobrol intens sama Nahla, Mba Windi, dan Gesi sih selama beberapa tahun saya beneran nggak punya sahabat cewek yang bisa saya curhatin segala hal yang literally EVERYTHING tanpa harus nyembunyiin apapun. They know my dark side as much as JG does. I can talk about the past, my family, kids, all without being judged.

Untungnya mereka bertiga punya latar belakang sama, punya point of views mirip-mirip soal kehidupan, level sosial ekonomi sama, jadi mau ngomongin apa juga nggak pernah ada yang tersinggung. Makanya betah-betah aja sahabatan sama mereka. Bisa begini juga karena mulai temenannya pas udah sama-sama dewasa kan.

Kenapa nggak punya sahabat sih?

Dulu mah punya lah. Selama sekolah sampai kuliah pasti punya lah BFF gitu. Cuma seiring berjalannya waktu, saya yang memberi jarak sama mereka padahal merekanya masih suka rajin ngajak ketemuan. Huhu. Maaf ya kalian kalau baca ini. T_______T

Iya saya memberi jarak karena saya ngerasa nggak sanggup untuk maintain begitu banyak orang untuk tetap dekat sama kehidupan saya. Waktu kosong saya sedikit sekali, cuma pulang kerja (yang selalu terburu-buru karena harus jemput Bebe) dan weekend.

Weekend harus dibagi sama beres-beres kerjaan rumah, main sama Bebe, kadang-kadang event juga, dan ... tidur. Iya capek banget lah sekarang tiap hari baru nyampe rumah jam setengah 8 malem, kalau juga harus janjian sama orang makan siang hari Sabtu itu rasanya kaya nggak tenang bangun siang.

Dan perlahan siapa yang lebih penting pun terbentuk dengan sendirinya kok. Temen-temen yang masih ketemuan sampai sekarang adalah temen-temen yang ngerti kalau malem saya cuma bisa ketemu di mall deket daycare Bebe. Mereka yang nggak pernah maksa ketemu dan kalau ketemu pun mau sambil direcokin anak whatsoever.

(Baca: Tips Survive di Jakarta Tanpa ART dan Nanny)

Apalagi kalau di Bandung.

Duh saya di Bandung seringnya cuma dua hari plis, nggak bisa ninggalin Bebe sama ibu saya pula karena Bebe maunya sama saya lah. Masa di Bandung udah mah cuma dua hari terus satu harinya saya harus pergi sama Bebe demi ketemu temen? Kasian ayah sama ibu ingin main sama Bebe.

Kalau pun di Bandung 3 hari karena long weekend, ya satu harinya di rumah mertua lah. Kan mertua juga mau ketemu Bebe. Kalau di Bandung lebih dari 3 hari baru biasanya saya mau diajak ketemuan. Tapi ya jarang-jarang juga sih di Bandung selama itu karena masa mau cuti? 

Sungguh complicated ya.

Karena saya udah ngelewatin cukup banyak hal soal urusan pertemanan ini. Ada yang saya nggak tau apa-apa tiba-tiba di unfriend di semua lini, saya confront langsung nggak pernah berbalas. Patah hati sih, tapi ya udah. Ada yang bilang saya katanya "pura-pura" teman. Padahal saya nggak ngerti juga masalahnya apa, nggak ngerti kenapa mereka jadi ngejauhin dan nggak nganggep temen lagi. 

Mungkin karena sayanya juga thinking banget ya. Jadi gampang bikin orang tersinggung karena semua diukur pake logika, bukan pake perasaan. 

Saya males harus basa-basi model Cinta di AADC gini:

Temen: "eh ketemuan dong"
Orang lain: "iya dong ayo kapan dong" (padahal males dan nggak niat sama sekali)
Temen: "iya lo bisanya kapan"
Orang lain: "iya kapan ya duhhh"
Temen: "lo deh yang nentuin"
Orang lain: "ya udah tar dikabarin deh sorean" (terus ngilang pergi ke Kwitang sama Rangga lol)

GUE NGGAK BISA GITU. Kalau mau ketemu pas bisa ya bilang bisa, kalau nggak mau yang bilang nggak mau detik itu juga. 

Temen: "eh ketemuan dong"
Saya: "yah nggak bisa nih lagi capek banget Bebe daycarenya jauh"

END. Nggak perlu ada basa-basi kapan dong kapan dong. Kadang kelamaan mikir pengen basa-basi tapi seringnya malah kelupaan bales chatnya. Hhhh. Nggak heran kan saya nggak punya temen.

Tapi ya saya move on dan sadar bahwa pertemanan itu sesuatu yang fragile banget. Ada yang memang hilang seiring waktu, ada yang mati-matian kita usaha untuk mempertahankan padahal sebetulnya tidak perlu. Ada yang bisa retak *krak* tanpa kita tau alasan jelasnya. 

Sekarang saya percaya bahwa teman yang benar-benar teman tidak perlu dipertahankan. Mereka akan terus ada di sekitar kita tanpa kita usahakan. Mau ketemuan nggak usah pake rencana ini itu tau-tau jadi, makan malem dadakan tau-tau bisa. Atau malah level Gesi yang nggak janjian ketemuan pun tau-tau lagi sama-sama di Sency hahahaha.

Dan memang ada teman-teman yang tidak perlu diperjuangkan. Apalagi kalau temen zaman ABG dulu, we're different person back then, things change. Nanti yang diomongin masa lalu lagi, kalau kita udah nggak begitu kemudian dipandang sebelah mata dan dibilang "wah lo berubah ya?"

Yaiya berubah lah. Kan tambah dewasa, tanggung jawab makin banyak. :)

Atau bisa juga karena dulu rasanya nyambungggg banget sama segala hal. Sekarang ketemu udah gede gini kok ya ngobrol apa-apa nggak nyambung. Udah nggak share value yang sama lagi, jadi bingung sendiri kok dulu bisa temenan ya?

Jadi kalau sekarang ngebayangin, ih kangen ya sama si A padahal dulu ke mana-mana sama-sama banget, kok sekarang dia jauh ya? Ya wajar. Karena itu kan DULU.

Dengan lingkungan dan pola pikir kita yang dulu, kita BFF sama dia. Dengan lingkungan dan pola pikir yang sekarang, ya nggak nyambung lagi ternyata temenan sama dia. Nggak bisa kita berteman setelah jadi dewasa sama dia.

Apalagi kalau sahabat-sahabat kitanya toxic. Udalah jauhin aja nggak perlu tetep jadi sahabat "demi masa lalu, dulu dia doang yang ngertiin gue". Demi masa lalu terus bela-belain bikin repot hidup yang sekarang. BIG NO. Makasih aja atas semua kenangan seru dan cerita masa lalu, sekarang kita hidup masing-masing yaaa.

Oke gitu aja. Kalian gimana? Masih punya sahabat? Atau menganggap suami dan anak serta teman kantor sebagai sahabat? Share yuk!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Survey Happy Tree House Daycare Jakarta

on
Friday, September 22, 2017
Lanjut lagi ke hasil survey daycare Jakarta Pusat yeaaayyy! Kali ini nama daycare-nya Happy Tree House Daycare di Setiabudi Jakarta.



Bagi saya dan JG, Setiabudi itu sempurna! Dari segi jarak enak, menjauh dikit sih dibanding daycare lama tapi dulu JG kost di Setiabudi dan itu bikin kenangan banget! Kami jajan di situ banget, nongkrong sama temen-temen di Circle K atau Lawson Setiabudi, nonton di Setiabudi One. Setiabudi is perfect.

Makanya begitu tau ada daycare di Setiabudi kami langsung cus untuk survey. Gimana hasil surveynya? Ini dia.

🏡 Lokasi

Happy Tree House Daycare ada di Jalan Setia Budi VIII No.18. Dia sejajar sama beberapa hotel gitu dan nggak pinggir jalan besar banget jadi cenderung sepi. Jalannya pun besar jadi nggak perlu heboh pagi-pagi gantian parkir sama orang tua lain yang juga anter anak ke daycare.

🏡 Kondisi bangunan

Ada satu yang bikin agak kurang sreg. Jadi satu bangunan ini dibagi dua, di atas kost-kostan dan di bawah daycare. Pintu pake akses khusus tapi di pintu daycare nggak ada akses sendiri. Jadi satu pintu dengan akses itu hanya bisa dibuka oleh orang daycare DAN penghuni kost.

Rada serem nggak sih soalnya kan kita nggak kenal siapa aja yang kost di situ. Saya kebetulan ngobrol banyak sama mbak Yuki (ownernya), dia bilang aman-aman aja sih karena seharian pun pintu tetap dikunci dan hanya orangtua yang boleh masuk.

Tempatnya juga agak kecil, meskipun ada halaman samping dan kanan kiri kaca jadi sinar matahari masuk bagus banget. Ukuran kamar juga nggak terlalu luas, ruang makan sempit, ruang main sebenernya luas tapi ada sofa gede jadi kesannya tetep sempit.

Saya ingin ruangan yang luas soalnya Bebe kan nggak mau diem banget anaknya. Kalau ruangannya sempit dia nanti nyenggol-nyenggol anak lain gitu kan gimana.

Tapi tetep, better cek sendiri dateng langsung. Ini mah menurut saya aja loh ya, maklum sayanya emang banyak mau banget. Hahahaha.

🏡 Rasio caregiver dan anak

Lupa hahaha 1:3 deh kalau nggak salah buat toddler. Dan pas aku survey ke sana, salah satu mbaknya itu dulu mbaknya Bebe di daycare. Pindah karena apalah dulu lupa.

🏡 Jadwal harian

Seperti juga Kidee, Happy Tree House ini juga nggak ada preschool, Jadi jadwalnya standar daycare lah, cuma kegiatannya banyak banget dan bertema! Mulai jam 11-12 dan jam 2-4 sore.

Tiap bulan ada presentasi home project. Pas saya ke sana, home project yang baru dikumpulin itu tentang binatang. Jadi anak dikasih PR untuk bikin maket binatang dan tempat hidupnya gitu seru deh!

Untuk toddler class, setiap bulan ada goal khusus dengan tema yang berbeda dan di-break down jadi tema mingguan dan tema kecil harian. Yang ini kalian harus mampir banget deh ke Instagramnya @happytreehousedaycare. Mereka update kegiatannya dan seru-seru banget!

🏡 Mandi

Mandi sendiri-sendiri dan ada kebijakan tidak boleh telanjang satu sama lain. PLUS POINT BANGET! Suka banget!

🏡 Makan

Sudah termasuk sarapan, makan siang, makan sore, snack 1 kali. Susu bawa sendiri. Makanan dimasak di dapur daycare yang letaknya jauh dari kamar dan tertutup dari area main. Aman lah pokoknya.

🏡 Tidur

Tidur ada di kamarnya yang kasurnya baru dipasang kalau jam tidur. Tapi kamarnya kecil hiksss.

🏡 Program preschool

Nggak ada. Tapi menurut saya sih project hariannya mereka udah selevel preschool banget! NICE!

🏡 Mainan

Mainan nggak terlalu banyak sih. Mungkin karena kegiatannya banyak jadi nggak perlu mainan amat. Oiya mereka nggak punya halaman depan jadi main di halaman samping.

🏡 Jam buka - tutup - overtime

Buka jam 6.30 - 6 sore. Tapi 6.30 pagi kena overtime sampai jam 7 kecuali masih ditemani orangtua. Overtime Rp 15ribu 15 menit. Overtime sore baru dimulai jam 6.15 bukan jam 6. Baik banget yaaa. :)

🏡 CCTV

Ada CCTV dan online.

🏡 Toilet training

Lupa nanya. :|

🏡 Report harian

Report daycare harian.

🏡 Punishment

Sistem time out. Nggak masalah sih hahaha.

🏡 Anak sakit

Seinget saya sih, nggak ada kamar isolasi ya.

🏡 Lain-lain

Field trip rutin satu bulan sekali. Dokter anak 3 bulan sekali, observasi dan kontrol psikolog 4-6 sekali, dokter gigi 6-12 bulan sekali. Kerja sama dengan Posyandu Setiabudi jadi kalau ada program kaya vaksin MR gitu ya ada dokter dateng, vitamin A juga ada. Jadi aman. :)

🏡 Biaya

Biayanya reasonable banget sih menurut aku. Apalagi kalau kerjanya daerah Setiabudi situ. Perfect banget lah ini.

Admission fee: Rp 2juta
Annual development fee: Rp 750ribu

Tuition fee:
Full day (5 hari seminggu): Baby Rp 3,9juta, Toddler Rp 4juta
Half day (5 hari seminggu, 6 jam sehari) atau Half Week (3 hari seminggu): Baby Rp 3,5juta, Toddler Rp 3,6juta
Daily rate: Baby Rp 350ribu, Toddler Rp 360ribu
Weekly rate: Baby Rp 1,6juta, Toddler Rp 1,7juta

Diskon 10% kalau follow di Instagram loh!

*

Plus point lagi ownernya baik banget super super baik. Saya chat malem-malem juga dibales dan bisa diajak diskusi soal daycare lain. Malah yang yakinin saya untuk pilih daycare yang sekarang itu dia! Baik banget deh beneran sampai terharu. Enak kalau ownernya baik jadi bisa curhat kan. Anaknya dia dua dan dua-duanya juga ditaro di Happy Tree House sih jadi nggak khawatir banget.

Yes, I think that's all! Masih ada sih review daycare Jakarta Pusat saya yang lain tapi nanti nulis kalau sempet ya!

Baca review sebelumnya:

REVIEW LOVELY SUNSHINE DAYCARE BENHIL
REVIEW TWEEDE DAYCARE BENHIL (DAYCARE BEBE 3 TAHUN TERAKHIR)
REVIEW KIDEE CHILD CARE SENOPATI

dan cerita plus tips seputar daycare di tag:

TENTANG DAYCARE

Atau kalau mau tanya-tanya langsung soal daycare bisa dm ke Instagram saya @annisast.

See you daycare mommies!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Parenting Tidak Butuh Teori?

on
Wednesday, September 20, 2017

Suatu hari JG cerita soal temennya yang marah-marah karena merasa diceramahi teman lain soal parenting. Padahal temen yang ini memang kuliah psikologi anak dan menurut saya sih dia ya layak lah kalau mau share soal teori parenting. Teori kan, bukan praktek hahaha.

Menurut si teman yang marah, parenting itu natural karena manusia sudah melakukannya sejak dulu. Nggak perlu lah itu teori-teori, jalani aja sesuai naluri masing-masing.

Wow.

Saya kaget. Saya loh ya. Saya yang nggak pernah dateng ke satu pun seminar parenting atas kesadaran sendiri. Saya yang well, dateng ke seminar parenting karena jadi endorser. Saya yang nggak niat sedikit pun montessori di rumah, main edukatif, blablabla. Sebagian besar mainan Bebe adalah mainan tidak edukatif, konsumtif, korban kapitalisme lah.*sigh*

Tapi saya percaya parenting bisa 100% natural tapi lebih baik TIDAK. Membesarkan anak BUTUH teori pendukung.

Yaiyalah, kalau nggak pake teori contoh realnya adalah orang tua ngeyel yang keukeuh ngasih anaknya bubur padahal anaknya baru umur 2 bulan. Bengkak lah perut si anak, buburnya nggak bisa kecerna semua. Operasi deh.

Dan heran aja sih sama orangtua zaman sekarang yang mengabaikan teori. Teori parenting zaman sekarang kan aksesnya gampang banget. Nggak kaya zaman orang tua atau nenek kakek kita dulu. Mereka mentok dapet teori parenting dari bidan atau posyandu kan.

Padahal teori parenting itu bikin hidup lebih gampang loh, beneran. Bikin hidup lebih damai karena teori tumbuh kembang anak itu sudah dipelajari bertahun-tahun. Tinggal pilih teori mana yang cocok untuk diterapkan dalam keluarga.

Contoh anak tantrum. Dulu anak tantrum akan dicap sebagai anak bandel, nggak tau aturan, ibunya nggak bisa ngajarin, dsb. Ibunya pun akan ikut mendidih ketika anak tantrum, akhirnya anak dibungkam, diancam atau dipaksa diam. Harga dirinya hancur karena mengekspresikan diri dilarang sejak kecil.

(Baca: Tips Menangani Anak Tantrum di Tempat Umum)

Nggak heran kan banyak di antara kalian yang terlalu takut bersuara? Terlalu takut punya pendapat, terlalu takut ngeblog, terlalu takut beropini. Tanyakan pada diri kalian sendiri, apakah waktu kecil sering disuruh diam? Terlalu sering dibentak agar tidak berekspresi? Mungkin jawabannya iya.

Karena tantrum adalah sarana berekspresi bagi balita, dia tidak tahu bagaimana caranya marah maka ia tantrum. Teorinya adalah, kita jaga dia, perlihatkan bahwa kita berempati dengan kemarahannya, peluk sampai ia kembali tenang. Sesederhana itu. Tidak perlu ada judge bahwa dia sulit diatur atau ibunya kurang disiplin, yang perlu kita lakukan hanya menunggu.

Tapi kalau kalian keukeuh, "ya nggak lah, anak gue ya anak gue. Kalau menurut gue dia nggak tau aturan, maka dia memang nggak tau aturan."

Sesungguhnya hal tersulit dari orangtua adalah menerima kekurangan diri sendiri. Menerima bahwa kita tidak selalu benar. Menerima bahwa anak belajar melalui dunianya, bukan dunia kita. Anak melihat sesuatu dengan pola pikirnya, bukan pola pikir kita. Kita pernah jadi anak, anak tidak pernah jadi kita.

Makanya saya senang kalau ada yang chat kemudian berdiskusi tentang anak. Tandanya kalian serius membesarkan anak, tandanya kalian tidak main-main dan ingin memberi yang terbaik untuk anaknya. Meskipun ya sebel sih kalau nanya-nanya padahal udah dikasih linknya dan nggak dibaca dulu. Baca dulu ya, punya anak itu kan intinya belajar hal baru setiap hari.

Coba kalau kita pikir ulang. Sebelum lahiran, baca teori tentang melahirkan, tentang ASI, tentang perkembangan janin, dll. Anak lahir mulai baca teori soal pompa ASI, tentang leap atau growth spurt, tentang milestones. Anak mulai makan kita pun belajar lagi soal MPASI, soal gizi, tiba-tiba masak, tiba-tiba ke pasar, ya kan? Itu semua teori kan?

Terus emang diterapkan semua?

Ya nggak lah, banyak juga teori parenting yang memang nggak saya setuju atau saya lakukan. Tapi kan kalau nggak setuju ya gampang, tinggalin aja. Pilih lah teori yang memang sesuai kata hati. Tapi tetep, BELAJAR DULU, cari tau dulu pilihan-pilihannya.

Makanya saya ngerasa beruntung banget punya akses ke psikolog anak dari daycare Bebe. Kalau nggak begitu, kapan coba bisa curhat full tentang anak kita sendiri ke psikolog anak, nggak akan pernah sih pastinya. Makanya kalau abis dari psikolog, saya pasti share hasilnya di sini karena saya pengen kalian yang nggak punya akses ke psikolog bisa ikut tau juga. Semoga bermanfaat ya. :)

So that's pretty much it. Parenting, dan hal apapun dalam hidup, akan lebih mudah jika kita tahu ilmunya. Itu aja sih.

Selamat hari Rabu! :)

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Karena Rokok (Pasti) Bisa Menunggu

on
Monday, September 18, 2017

Hari Minggu lalu jam 6 pagi, kami bertiga plus ibu saya jalan-jalan ke Gasibu. Niatnya sih mau lari, tapi ternyata track lari di lapangannya sangat crowded. Jangankan lari, jalan pun susah. Kami pun akhirnya melipir, menyusuri Taman Lansia sampai bertemu Taman Cibeunying.

Itu loh taman yang ada robot Transformers angkot dan Bumblebee. Tamannya tidak terlalu besar tapi banyak tempat sewa mainan. Bebe mulai terdistraksi tukang pancing ikan mainan (Rp 5ribu boleh mancing ikan plastik sepuasnya btw), JG sudah nangkring di tukang lontong sayur, dan saya sendiri duduk di bawah patung. Mengamati sekeliling.

Pengunjung yang datang rata-rata keluarga muda. Suami istri dengan anak balita, paling besar anak TK. Datang hanya untuk duduk-duduk dan jajan. Yang menyebalkan, sebagian besar dari orangtua itu merokok. Baik ayah maupun ibunya.

Ada yang sengaja duduk terpisah dengan anaknya yang sedang makan sosis bakar, ada yang duduk sebelah anaknya dengan rokok disembunyikan di balik badan seolah punggung akan menyerap asap rokok itu, ada yang terang-terangan saja merokok sambil menggendong anaknya yang masih sangat kecil.

Apa yang ada di pikiran mereka? Apa rokok tidak bisa menunggu?

Kalian sengaja bangun pagi, berganti dengan baju yang lebih baik, para ibu bahkan sempat menggambar alis dan memulas lipstik. Demi bisa menghabiskan waktu bersama anak kan? Anak yang mungkin jarang kalian temani karena sehari-hari ditinggal bekerja.

Merokok mungkin kesenangan kalian, tapi ditemani bermain oleh ayah dan ibu yang atensinya full, orangtua yang kedua tangannya bisa digunakan tanpa terganggu memegang rokok berasap mungkin jadi kesenangan anak kalian.

Merokok adalah hak kalian. Tapi menghirup udara bebas asap rokok adalah hak ANAK kalian.

Suami saya bukan perokok, pun saya sendiri, tapi saya yakin rokok bisa menunggu. Pasti bisa menunggu.

Merokoklah saat sendirian, merokoklah di luar rumah, merokoklah saat nongkrong dengan teman-teman, merokoklah di tempat yang disediakan khusus untuk merokok, jangan merokok di dalam rumah, jangan merokok di dalam rumah orang lain saat bertamu. Mandi dan berganti pakaian lah sebelum masuk rumah dan memeluk anak serta istri atau suami.

Karena mereka, orang-orang yang paling kita sayang kan? ATAU TIDAK?

Bukan cuma satu dua artikel kan yang membahas risiko anak sakit pneumonia tinggi jika berada di lingkungan yang merokok? Bukan satu dua penelitian kan yang membahas bahwa residu rokok masih tertinggal bahkan ketika asapnya sudah tidak ada?

Jadilah perokok yang bertanggungjawab. Asap rokokmu, tanggung jawabmu. Seperti juga kehidupan sehat anak-anakmu, tanggung jawabmu.

Rokok bisa menunggu. Ada puluhan jam yang kalian lewati tanpa anak-anak kalian. Gunakan sebaik mungkin untuk merokok sepuasnya. Tapi sisihkan waktu 2-3 jam di Minggu pagi untuk membawa anak-anak ke taman dan menghirup udara segar di bawah pepohonan. Udara segar yang tidak terganggu asap rokokmu lagi.

Untuk kalian yang punya pasangan merokok, tak perlu melarangnya berhenti. Hal sia-sia yang akan berujung pertengkaran saja. Ia akan berhenti ketika ia mau berhenti, bukan karena kalian menyuruhnya berhenti. Tapi mintalah waktunya saja sedikit, waktu-waktu berkualitas bersama anak-anak di mana ia menunda keinginannya merokok.

Demi kalian, demi anak-anak yang lebih sehat.

Terima kasih.

-ast, ibu satu anak yang selalu menyuruh anaknya berteriak serta kabur jika ada orang merokok. Bahkan ketika yang merokok adalah sekumpulan polisi di kantor polisi, "OM POLISI MELOKOK AKU HARUS KABULLL!!!"

GIVEAWAY HADIAH BALANCE BIKE MASIH DIBUKA LOH! KLIK!




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Memutuskan Menetap

on
Friday, September 15, 2017

Jadi ceritanya, saya dan JG lagi galau pengen pindah rumah. Galau pertama karena insecure abis kemalingan, galau kedua adalah sekolah Bebe yang astaga jauhnyaaaa.

Sori ralat, macetnyaaaaa. Sampai rumah jam 8 mulu nih jadinya. Iya sih kami masih mengusung prinsip "biar macet asal sama-sama" tapi insecure banget beneran gara-gara rumah kecurian dua kali. Kaya ngerasa "oh mungkin ini udah saatnya kami pindah" gitu.

Karena kalau secara jarak sih sebenernya nggak ngaruh amat ya, sama-sama searah dari kantor JG mau pulang. Cuma macetnya jadi combo banget soalnya kalau daycare lama tuh bisa lewat jalan tikus gang-gang sempit yang jarang dilewati manusia. Kalau sekarang jalannya bener-bener jalan utama yang yaahhh, dilewati semua mobil hhhh.

Kenapa atuh pilih sekolah di situ bukannya cari yang deket aja?

Duh ya baru setelah urusan sekolah ini saya jadi ngerti bahwa jarak dan waktu bisa dikompromi tapi sekolah yang bagus tidak. Artinya (untuk sekarang) mending jauh tapi sekolahnya bagus, daripada deket tapi sayanya nggak sreg sama sekolahnya.

Kecuali memang nggak punya pilihan, misal kami nggak punya mobil, atau saya dan JG lembur terus gitu misalnya. Ini kan nggak, kami masih bisa anter jemput tanpa ganggu kerjaan, dan Bebe bisa tetep nyaman juga bobo atau main sama saya di mobil. Dan since dia udah ikut rutinitas kami kerja sejak umurnya 3 bulan, dia kayanya hepi-hepi aja nggak capek gimana.

Karena pilihan sekolah yang mending itu nggak ada. Bukannya ada, tapi kami nggak mau kompromi. Emang nggak ada aja. Sekolah yang sekarang ini yang terdekat. Beratnya hidup di Jakarta lol.

(Baca: Memaknai Pilihan)

Dan urusan pindah rumah ini bikin saya mikir, untung ya ngontrak jadi bisa pindah kapan aja. Kalau rumah sendiri gimana?

Kalau di kampung halaman (in our case, Bandung) sih pasti masih kebayang karena tau persis areanya, lah di Jakarta? Buat kami yang asli Bandung, gimana cara memutuskan untuk menetap?

Karena nggak mampu beli rumah di Jakarta, gimana cara kami memutuskan akan tinggal di Bekasi, Tangerang, Depok, Bogor, atau mana? Kenapa pilih itu? Kalau pindah ke Bogor misalnya, apa siap selamanya jadi orang Bogor?

AAKKK NGGAK SANGGUP MIKIRINNYA.

Kaya kalian dateng ke satu area yang nggak pernah kalian datengin sebelumnya, terus tiba-tiba harus tinggal di sana, dengan neighborhood yang sama sekali asing, nggak tau harus jajan pempek di mana, nggak tau harus ke supermarket yang mana.

DAN INGAT KOMITMEN KPR (MISAL) 15 TAHUN DI SANA. Yang artinya lo harus tinggal di sana terus-terusan sampai anak lo SMA. OMG SEREM NGGAK SIH. Kaya orang asing dipaksa adaptasi gitu.

Stres abis mikirinnya hahahahaha. Kalau nggak betah gimana? Kalau tetangganya rese gimana? Kalau ternyata nggak betah karena alesan apapun gimana? Dibetah-betahin aja kan rumah sendiri, kalau rumah sendiri kerasanya beda kok, kata orang gitu.

Tapi tetep euy, belum punya nyali. Bahkan untuk sekadar, survey yuk ke daerah A cari-cari tau harga rumah. Itu aja nggak berani. Nggak berani karena bingung A itu daerah YANG MANA? Apakah kita akan membangun rumah di sana dan jadi orang sana sehingga di masa depan Bebe akan pulang bawa istri dan anaknya ke rumah kami di kota itu?

Karena di otak itu kalau pulang kampung ya ke Bandung.

Makanya sampai sekarang, saya dan JG belum memutuskan akan menetap di mana persisnya. Well untungnya sih udah punya rumah di Bandung ya jadi nggak diresein orang dengan "beli rumah kali jangan main terus". Ya ini udah, cicilannya tinggal 7 tahun lagi, udah setengah lewat.

Untuk sekarang kami kaya go with the flow gitu. Apalagi setelah konmari-an ya, barang jadi sedikit banget jadi kalau pindah pun rasanya nggak akan stres-stres amat sama packing.

(Baca: Beres-beres Rumah ala Konmari)

Saya juga mikir apa karena kami tinggalnya di Jakarta ya jadi takut nggak betah dan bawaannya curigaan banget. Kalau misal tiba-tiba harus permanen tinggal di negara yang proper segala-galanya sih MUNGKIN bakal dibetah-betahin aja toh dapet "sesuatu" juga dengan ngebetah-betahin diri.

"Sesuatu" as in jalanan rapi, penduduk yang educated, jadi nggak serobot antrian atau buang sampah sembarangan, ya yang nggak bikin lo sakit kepala lah. Tapi kan ini Jakarta dan kota satelitnya, di mana semua jenis manusia ada. Dari yang nggak berpendidikan, ke yang pendidikannya tinggi banget sampai yang pendidikannya tinggi banget tapi kaya nggak ada otaknya gitu juga lengkap.

Don't get me wrong, saya happy kok tinggal di Jakarta. Karena nggak tau mau kerja apa di kota lain hahahahaha. Tapi ya itu, sebetah-betahnya tetep nggak berani bilang "oke karena gue seumur hidup akan kerja di Jakarta, maka gue akan beli rumah di Depok! Ayo kita survey rumah di Depok!" gitu misalnya. Nggak berani bangeeettt hahahaha.

Kenapa ya? Mungkin karena deep down inside kami cinta Bandung. Kalau pun harus meneguhkan hati selamanya akan tinggal di mana, ya di Bandung lah.

Dan mungkin juga karena Bandung lebih nyaman dibanding Jakarta ya. Maksudnya kalau kampung halaman kalian di kampung banget atau nggak nyaman ditinggali kan ya pasti lebih pilih Jakarta lah. Kalau Bandung kan kota besar juga, nggak jauh-jauh amat dari Jakarta, kerjaan juga pasti ada bagi kalian yang mau berusaha lol.

Jadi ya, apa alasan kalian memutuskan menetap di kota baru yang bukan Jakarta dan bukan kampung halaman? Share dong, siapa tau aku terinspirasi!

MAKASIHHHH!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe Sekolah!

on
Wednesday, September 13, 2017

Hari ini hari kedelapan Bebe sekolah dan ya, saya cukup terharu sih sama perkembangannya. Iya, baru 8 hari udah kerasa beda!

Oke jadi daycare dan preschool Bebe ini konsepnya montessori. Nah, meskipun montessori itu lagi hype banget dan kaya diagung-agungkan semua ibu sampai pada niat #montessoridirumah, saya sendiri nggak jadi yang gremetan pengen banget Bebe sekolah montessori.

Pertama karena ya ini kan cuma preschool, saya sendiri jadinya belum punya goal apa-apa untuk Bebe. Yang penting dia bisa bergaul aja sama anak seumurannya karena di daycare lama kan dia main bener-bener sama anak kecil.

Terus kenapa akhirnya saya pilih preschool montessori?

Mmmm, nggak begitu. Preschool ini saya pilih bukan karena metode montessorinya, tapi karena daycare-nya bagus! Karena kan sebenernya preschool-nya mah sebentar banget ya, sehari cuma 2 jam. Sisanya kan justru dia main di daycarenya, jadi saya pilih karena sesuai dengan daycare yang saya mau.

Rumahnya luas, kena sinar matahari, ada playground luaaassss, mainan, sepeda, buku banyak banget, dan anak tidak selalu di kamar. Anak bebas ke mana pun. Lokasinya di perumahan sepi pula, jadi bisa naik sepeda di jalan depan rumah atau jalan-jalan ke taman. Beda sama daycare yang pernah saya review ini (KLIK DONG). Jadi kebetulan aja kalau metodenya montessori.

(Review daycare lama Bebe, 3 tahun loh di sini: Tweede Daycare Benhil)

🍎 Sosialisasi

Sejak awal kami cari preschool (sekitar bulan Juni), saya udah sering bilang ke Bebe kalau nanti dia akan pindah sekolah.

Dua minggu sebelumnya hari H pindah, sosialisasi makin gencar. Bahwa nanti temannya akan anak besar semua, setiap hari saya kasih kalimat-kalimat yang menyiratkan sekolah itu seru sekali. Dan dia memang belum liat sekolahnya sampai hari pertama.

"Main sama anak kecil kan nggak seru ya, Be? Nanti di sekolah, temannya anak besar semua loh!"

"Be, nanti gurunya bukan Kak Wina lagi, gurunya pintar loh. Nggak apa-apa kan ganti guru?"

"Be, sekolah Bebe besaaarrr sekali. Seru loh mainannya banyak, ada tenda dua, ada perosotan, banyak lah pokoknya"

Dan masih banyak lagi versi kalimat kaya gitu.

🍎 Hari pertama

Hari pertama yang galau siapa? Ibu dan appa tentu saja. Bebe sih semangat banget karena dia udah membayangkan sekolahnya seru. DAN UNTUNGNYA SERU!

Dia dateng masih pake baju tidur, saya langsung kenalin ke teachernya. Saya kasih liat bahwa ini loh rak bukunya, ini loh rak mainannya, ini loh ruang mainnya. Kemudian dia main sepeda. Saya tanya, mau liat kamar sama kamar mandinya dulu nggak? DIA MENGGELENG, SODARA-SODARA.

"Ibu dan appa boleh kerja?"

DIA MENGANGGUK, PEMIRSA.

Kemudian saya dan JG dicium dan bye kami berangkat deh ke kantor HAHAHAHA. Sungguh mudah. Nggak drama sama sekali sampai sekarang. Hari ketiga saya udah nggak anter, turun di kantor aja. Dia nggak nangis, nggak canggung atau apa. Semangat banget sampai sorenya nggak mau pulang.

Nah terus tiap hari kan dikirimin foto tuh sama missnya, hari pertama siang-siang liat foto kegiatan Bebe kok kayanya kalem amat ya. Saya forward ke group keluarga, adik saya bilang "kayanya masih kalem deh mbak, kaya yang pendiem".

Sorenya saya ngintip dulu pas jemput, ohhh pendiem bangeeettt! Dia lagi colek-colek temennya sambil bilang "aku bisa nyanyi robocar poli loh!" Kemudian dia nyanyi lagu robocar poli teriak-teriak sambil main piano plastik. Sungguh anakku pendiam, seperti ibu dan appanya. -_______-

Missnya juga nanya "bu, ini biasanya emang di daycare ya, mandiri banget nggak kaya anak baru" UHHH I'M SO PROUD HAHAHA.

🍎 Perubahan setelah sekolah

Hari pertama sekolah dia makan 3 kali sendiri dan habis semua! Makan bubur kacang ijo sendiri juga habis semua! Duh emang di rumah dan di daycare lama dimanja banget sih makan selalu disuapin. Seminggu ini baru sekali dia makannya nggak habis. Mungkin nggak suka, nggak apa-apa saya mah nggak pernah maksa hehehe.

Siang udah nggak pake diapers dan cuma ngompol sekali. Ganti baju sendiri. Sekarang apa-apa maunya sendiri gitu. Pas baca-baca di website sekolahnya, goalsnya itu ternyata emang anak mandiri. Aku terharu banget deh sumpah.

Udah seminggu juga nggak nonton YouTube dan pegang HP cuma weekend doang itu pun pake alarm 1 jam doang. Ini sih emang niat sayanya juga ya, tapi menyenangkan juga ya punya anak yang nggak terdistraksi HP itu. LOVE!

🍎 Ngapain aja di sekolah?

Di sekolahnya kegiatannya banyak banget. Di hari pertama aja dia belajar siklus hidup kodok (lengkap dengan alat bantu dari karet, YES KECEBONG KARET), main badminton, meres jeruk, main-mainan montessori, dan menggunting serta menempel kodok kertas.

Jadi tiap bulan ada tema-temanya gitu. Tiap hari ada jadwal pelajarannya juga. Seru lah pokoknya, saya sendiri takjub gitu wow ternyata Bebe bisa ya!

Lucunya pas ke taman, Bebe harus jalan sambil ngegandeng dua toddler gitu jadi belajar tanggung jawab ahahahaaha gemash. Mana dikirimin foto terus, mantengin cctv terus, terharu lah pokoknya.

🍎 Kok serius amat belajarnya?

Iya banyak yang khawatir kalau anak terlalu dini mulai belajar nanti katanya bosen sekolah pas gede. Saya memilih nggak percaya hahaha. Kalau nanti misal pas SD Bebe nggak mau sekolah ya ditanya kenapa nggak mau? Kalau emang nggak mau banget ya udah nggak usah sekolah HAHAHAHA.

Rich Chigga aja nggak sekolah kan, dia homeschooling 2 tahun doang terus sisanya nonton YouTube tiap hari. Dan sori, saya nggak terima debat soal Chigga ya. *anaknya lemah sama rapper* XD

Saya nggak masalah sih, ASAL KULIAH. Jadi ya nggak perlu sekolah formal nggak apa-apa, tapi harus kuliah. Tandanya harus ambil ujian persamaan atau IB kan (kalau mau kuliah di luar negeri). Terserah nggak mau SD, SMP, SMA tapi HARUS KULIAH. :)

*

Kekurangan sekolah Bebe ini cuma satu. JAUH BANGET DARI KANTOR DAN RUMAH. Deketnya dari kantor JG dan ya itu cukup bikin stres sih. Capek banget bisa 1,5 jam di jalan, dua kali lipat lebih lama dibanding dari daycare lama. Cuma karena bertiga di mobil ya udah ketawain ajalah. Toh puas juga sama sekolahnya.

So yaaa, I think that's all! Sampai jumpa di cerita selanjutnya!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Pacaran Bertahun-tahun, Nikah atau Putus?

on
Monday, September 11, 2017
PUTUS! HAHAHAHA.

(ini typo harusnya kart bukan ksrt tapi kumalas edit lagi jadi anggap aja majalah, kalau udah terbit ga bisa diralat HAHAHA)

Iya jadi saya beberapa kali denger orang curhat atau bahkan komen di blog ini dengan pernyataan “aku udah pacaran x tahun, tapi masih nggak yakin mau nggak ya nikah sama dia?”

Ya putus lah kan udah jelas tuh nggak yakin. Ini menurut kakak ini loh ya, yang pernah pacaran “cuma” 5 tahun terus putus. Hahahaha. Saya kalau pacaran emang lama-lama banget deh dari dulu, sama JG malah paling sebentar.

Alkisah zaman kuliah, saya baru putus sama pacar waktu SMA padahal pacarannya udah 5 tahun. Sebagai anak yang disenggol aja curhat, ceritalah saya sama dosen. Dosen ini perempuan, umurnya 30 something lah waktu itu. Pinter, S2 (yaiya kan dosen ah), dan enak diajak ngobrol. Beliau bilang apa?

“Tenang aja cha, saya juga pacaran dari SMA 11 tahun putus kok. Nikah malah sama temen S2,” katanya kalem.

Wow wow sebuah pencerahan!

Kenapa pencerahan, karena dari dosen, dari cerita saya sendiri, dari cerita orang-orang, semua bisa ditarik benang merah yang sama. Apakah itu?

(Baca: Rumitnya Menikah)

Gini, pacaran lama itu ada dua macem:

🙋 Yang bertahan pacaran karena memang saling dukung dan berkembang sama-sama. Dari tahun ke tahun tetep punya selera yang sama, tetep bisa diskusi banyak hal, tetep ngerasa bahwa oiya she/he’s the one untuk cerita segalanya. Nggak terbebani dengan apapun.

🙆 Yang bertahan pacaran karena terbiasa. Ya maklum kan bertahun-tahun ketemu orang yang sama, semua keluarga udah kenal, sama temen udah diajak nongkrong bareng karena udah kenal lama juga, sampai tempat makan favorit aja udah ngerti kalau kita couple banget. Yang ini nih yang suka bikin blur, emang beneran cocok apa karena kebiasaan aja sih apa-apa sama dia?

Kalau kalian masuk tipe yang pertama dan nggak pernah punya masalah (misal salah satu pernah selingkuh), maka bolehlah dipertimbangkan untuk menikah. Tapi kalau pernah ada masalah yang bikin sakit hati banget sih jangan ya, nggak enak kalau pas akhirnya nikah kepikiran terus seumur hidup. Nanti malah jadi bahan diungkit kalau berantem.

Nah tapi kalau kalian masuk tipe yang kedua, putus ajalah udah. Karena ketika pacaran bertahun-tahun, ada pasangan yang tanpa sadar tetap orang yang sama saat pertama kali jadian.

JRENG!

Misal saya pacaran pas SMA putus pas kuliah, sampai udah kuliah pun berantemnya tetep berantem ala anak SMA gitu. Nggak jadi dewasa sama-sama. Mirip-mirip kaya kalau kita ketemu geng SMA, becandanya itu tetep becanda SMA banget kan, nggak jadi becanda orang umur 30 tahun? Iya nggak?

Itu pun yang terjadi pada dosen saya, pacaran 11 tahun dari SMA, masalah yang muncul dan diberantemin itu masih sama dengan masalah waktu SMA. Padahal ceweknya udah S2 kan. Akhirnya ya nikah sama temen S2 karena secara pola pikir mereka jadinya setara.

(Baca: Alasan Cerai: Beda Prinsip)

Iya urusan pola pikir juga jadi masalah buat yang pacaran lama. Dalam 5 tahun misal cowoknya ya kalem aja hidup nggak ambisius, sementara ceweknya udah dapet beasiswa kuliah ke luar, volunteer ini itu, akhirnya si cewek sampai pada titik “ih kok nggak nyambung lagi ya ngomong sama kamu” TAPI DALAM HATI NIH BIASANYA NGOMONGNYA.

Karena udah pacaran lama banget jadinya kaya nggak mungkin gitu putus cuma karena nggak nyambung doang. Lah kan bertahun-tahun nyambung aja? Jadinya dragging pacaran terus dan ketika masuk usia nikah muncul kebimbangan “nikah nggak ya sama dia?”

JANGAAANNNN. Hahahaha.

Atau ada juga masalah yang kayanya nggak kerasa besar pas pacaran tapi bisa jadi besar banget kalau nikah. Contoh: calon mertua. Pas pacaran mah kayanya baik-baik aja nih si tante meskipun ya kadang bawel dikit sih segala dikomen tapi cuek lah kan jarang ketemu juga. Atau keluarganya banyak yang gengges nih, suka nyindirin fisik, tapi nggak apa-apa lah kan ketemu paling setahun sekali pas lebaran doang.

Hei hei hei tidak seperti itu anak muda.

Si tante nanti akan jadi mama dan punya mama mertua tidak bawel itu adalah kunci kebahagiaan utama. Dan keluarga yang gengges itu akan nomer satu paling heboh bahkan di urusan nama anak lah, ASI kita kurang lah, anak kita kekurusan atau kegendutan lah, rese. Demi ketenangan hidup mending pikir ulang deh. Karena nikah itu nggak selamanya urusan pribadi, sebagian besar adalah urusan keluarga.

(Baca dulu ini makanya: Menikah untuk Siapa?)

Ini saya denger dari orang juga sih tapi kalau punya pacar, ingatlah selalu pada 3 masalah: orangtua, agama, LDR. Kalau kalian cuma ngalamin 1 masalah, maka bisa lah dijalani dan dicari solusinya. Tapi kalau udah kena dua, itu baru berat.

Jadi kalau hanya orangtua nggak setuju 🠞 bisa lah dibujukin sampai setuju asal kalian nggak LDR dan seagama.

Atau kalian LDR 🠞 bisa lah diusahakan asal seagama dan orangtua setuju.

Atau kalian beda agama 🠞 bisa lah diusahakan asal nggak LDR dan orangtua setuju, nggak masalah anaknya nikah beda agama.

Nangkep kan? Coba sekarang kalau dua.

Beda agama dan orangtua nggak setuju 🠞 duh berat banget kan. Gimana nih solusinya? Pasti panjang urusan.

Beda agama dan LDR 🠞 cuy beda agama aja udah berat, ketambahan LDR pula. LDR itu sedih banget beneran deh. #MantanPejuangLDR

LDR dan orangtua nggak setuju 🠞 ribet kan ini, emang salah satu mau ngalah dengan pindah kota? Udah pindah kota, mati-matian cari kerjaan baru dan tempat tinggal baru, terus tetep dilepeh calon mertua. Berat ya nggak?

Dan seterusnya. Combo antara beda agama, orangtua nggak setuju, dan LDR juga jadi faktor pemberat banget apakah sebaiknya hubungan kalian lanjut apa nggak. Kecuali kalian sangat kuat, gigih, dan rela memperjuangkan cinta. Ehem. Karena berat bukan berarti tidak mungkin.

Yak coba diteriakkan sekali lagi!

Karena berat bukan berarti tidak mungkin!
*noh di bold dan large*

Sebagai penutup, ai mau promo dulu lah postingan lain. Baca postingan ini “Menikah Bukan #lifegoals” dan postingan lain Tentang Nikah di sini. Buat kalian yang galau kok gue nggak nikah-nikah sih.

Mohon maaf jika pada akhirnya postingan ini bikin kalian putus sama pacar yang udah dipacarin bertahun-tahun dan sebenernya pengen putus tapi nggak punya alasan ya. Daripada nikah sama orang yang salah?

Tetap semangat! :)

PS: Seru ya nulis soal ginian, jadi valid karena berdasar pengalaman dan saya udah nikah. Abis kalau nulis topik nikah suka diketawain yang udah nikah 10 tahun lebih gitu, dibilang "alah baru nikah segitu doang banyak komentar". Padahal temen-temen saya yang baru nikah 3-5 tahun aja udah banyak yang cerai loh. Karena nikah, lama atau sebentar tetep nggak "doang". ;)

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

5 Things I Love about Nahla

on
Thursday, September 7, 2017

IHIYYYYY. Karena orang senang pujian maka kami bikin versi lain dari postingan #GesiWindiTalk minggu lalu nyahahahaha. Mereka berdua kan bikin '5 Things I Love about Me', nah gue sama Nahla mah inginnya saling memuji gitu jadi bikinnya what we love about each other!

*duh kok jadi deg-degan karena menyadari gue sering bitchy banget dan kasar sama mereka-mereka ini, apa ada yang bisa Nahla suka dari gue wtf*

By the way maaf banget ya #SassyThursday-nya bolong-bolong terus karena kami ... sibuk. Iya basi sih alesannya tapi ya sibuk aja. Dan males HAHAHAHA.

Baca punya Nahla (yang isinya 5 pujian buat gue) di sini yaaa:
annisast's forte 


Oke flashback sedikit dari kenal sama Nahla. Kenal sama Nahla pertama kali itu karena gue liat postingan dia memperkenalkan diri di group Facebook KEB. Terus karena gue menganggap nikah umur 17 dan punya anak umur 19 itu ajaib maka tentu saja gue langsung email dia ngajak kenalan lol. Iya maklum anaknya emang ekstrovert banget.

Terus akhirnya ketemuan dan ketemuan, chat dan chat sampai akhirnya sadar woooo iya ya sering mikir sama sampai sering ngomong sesuatu bareng gitu lol. Tapi makin lama kenal makin sadar sih kalau nggak sama-sama amat HAHAHA. Kalau lagi sama ya sama banget tapi kalau lagi nggak ya nggak sama sekali.

Tapi ya, 2 tahun kenal, Nahla, Mba Windi, dan Gesi adalah orang-orang yang bisa diajak ngomong apapun. Even the darkest secret, ehm. Udah ah apaan sih panjang-panjang amat intronya.

Ini dia 5 hal yang gue suka dari Nahla

🎻 Ngerti musik

Kalimat "ngerti musik" itu sungguh degrading sih sebenernya buat Nahla hahahaha. Iyalah, nahla main biola dari kecil gitu dan sering manggung di mana-mana. Sementara gue sama nada aja usaha banget biar bisa temenan dan nggak fals. Tapi kalau gue jadi Nahla ya, gue kayanya udah punya channel kaya juncurryahn gitu. KAYANYA LOH YAAAA HAHAHA.

🖌 Bisa gambar

INI LOH. Gue sebel sama orang yang bisa combo gitu main alat musik, bisa gambar, dan bisa dance. Untung Nahla nggak bisa dance sekalian ya kalau nggak gue lebih sebel lah udah (apa dia sebenernya bisa? O____O).

Dan gambarnya tuh makin sini makin bagusss! Makin halus banget! Gih sana kalian semua pesen stiker dong sama Nahla! Gue sendiri nggak pesen sih karena "aliran" gue nggak anime gitu hahaha. Gue lebih ke pencil/watercolor cute dreamy, aliran buku cerita anak-anak gitu lah pokoknya hahaha.

Tapi satu hal, semua pilihan warnanya Nahla selalu gue suka! Karena kami spesifik banget sama warna, warna itu harus pas nomernya sekian, geser sedikit aja nggak mau. Jadi bener-bener harus presisi. #perfeksionis

💔 Tidak mau menyakiti orang lain

Iya di balik Nahla yang terbaca kasar dan seenaknya kalau di blog, dia itu halus banget lohhh. Nahla paling bisa pilih kata-kata biar jadi lembut banget gitu dan nggak bikin sakit hati orang. Sungguh sebaliknya dengan akyuuu.

Kalau gue kan tipe yang "katakan walau perih" nah Nahla tipe yang "katakan dengan sehalus mungkin tapi usahakan dia tetap menyadari kesalahannya" NYAHAHAHAHAHA. Terus kalau ngerasa terlalu kasar, dia otomatis minta maaf. Beda dengan siapa? Dengan akyuuu. XD

Jadi Gesi nih ya kalau lagi butuh opini dengan bumbu kasih sayang, dia suka nggak peduli pendapat gue atau mba Windi apa. Pasti yang dicari Nahla. Nahla mana Nahla. Gitu. XD

👼 Empati

Ini samaan sama Gesi banget sih. Dua anak ini tipe yang gampang mewek gampang mellow terbawa perasaan. Tapi itu membangun empati mereka gitu, jadi lebih bisa lihat sisi positif dari segala sesuatu and it's a good thing of course.

Bener-bener bisa nyeimbangin gue yang apa-apa diliat semua sisi dulu dan ya, pasti ada negatifnya dong. Makanya sering dibilang kurang empati.

💅 Manner


Nahla adalah anak tersopan santun 2017 versi annisast.com. Kalau ada temen gue yang sopan santunnya nilainya 100 maka itu adalah Mevlied Nahla. Sopan banget tipe yang kalau di tempat umum ketawa itu maka ketawanya nggak ngakak dan mulutnya ditutup.

Kalau nggak sengaja ketawa ngakak? Maka dia minta maaf. Jalan anggun kaya princess, pake dress/rok ke mana-mana, behave banget lah pokoknya. Jauh banget sama di blog mah, Nahla irl is pemalu dan anak yang sangat manis.

Sementara Gesi dan gue? 180 derajat, mau ketawa sampai jongkok-jongkok juga nggak peduli. Hahaha.

*

Jadi ya, itu dia. I love you, Nahla. I really do. 💛

-ast-





LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Apakah Anak Perlu Preschool?

on
Wednesday, September 6, 2017
Ya, ini pertanyaan saya banget. Terutama karena saya nggak mau buru-buru pindah daycare. Makanya pas kebetulan kemarin jadwal psikolog anak, saya langsung tanya!


Daycare Bebe yang kemarin soalnya nyaman banget buat bayi sampai usia 3 tahunan. Karena memang nggak ada program preschool-nya. Ada kelas sih tiap hari 2 jam, cuma ya seputar baca buku, menggunting, menempel, mewarnai, dan kadang kegiatan motorik halus gitu. Nggak ada kurikulum atau goal khusus.

Kegalauan saya diperparah karena anak lain yang udah masuk usia 3 tahun juga, dipindahkan oleh orangtuanya ke daycare yang ada preschool-nya.

Emang harus ya anak sekolah di umur 3 tahun?

Kan masih kecil banget!

Menurut psikolog anak di daycare Bebe (namanya mbak Diana btw hehe), bukan preschool-nya yang penting tapi kegiatan sehari-hari anak. Apakah mendukung untuk perkembangan motorik, kognitif, dan sosial?

Kalau anak hanya di rumah, tapi ibunya rajin main stimulasi motorik, belajar yang mendukung stimulasi kognitif, dan main dengan teman sebaya seperti tetangga untuk kebutuhan sosial, maka sebetulnya tidak perlu preschool. Di rumah aja cukup.

Untuk anak seperti Bebe yang di daycare, insya Allah, dua kebutuhan pertama terpenuhi. Yang saya khawatirkan justru yang ketiga, apakah tidak apa-apa Bebe bermain dengan anak yang lebih muda terus? Perlu nggak sih dia main dengan teman sebaya?

Surprisingly, mbak Diana bilang PERLU. Teman seumuran perlu karena di usia 3 tahun, anak baru sadar kalau ia adalah bagian dari lingkungan sosial. Dia akan belajar interaksi yang berbeda dengan interaksi dia dengan anak yang lebih kecil.

Iya sih, dengan anak kecil itu Bebe cenderung meremehkan. "Dia kan masih kecil, ibu" atau "ah nggak mau, dia belum bisa ngomong" things like that. Nah kalau dengan teman sebaya mainnya memang lebih seru, bisa main role play atau main Lego sama-sama. Karena kemampuannya setara.

Kalau di rumah punya saudara kandung seperti adik gimana?

Sekali lagi, mbak Diana bilang berbeda. Apalagi hubungan dengan adik biasanya dibumbui cemburu jadi akan berbeda dengan teman sebaya. Dan di antara adik atau kakak itu salah satu pasti jadi leader atau yang berkuasa, jadi ya memang sebaiknya anak punya teman main yang benar-benar seumuran. Maka preschool jadi jawaban.

Nah tapi kan saya dan JG anaknya kritis banget ya lol. Jadi JG tanya ke temen kuliahnya yang juga psikolog anak. Apakah anak perlu preschool dan bermain dengan teman sebaya?

Jawaban temennya JG? NGGAK PERLU-PERLU AMAT.

Hahahaha.

Menurut temennya JG, pendidikan usia 0-6 tahun itu nggak ada target apa-apa jadi masih bisa freestyle banget, yang penting menyediakan sebanyak mungkin kesempatan untuk dia eksplor segala sesuatu. Yang penting di usia 6 tahun, anak bisa percaya diri, kreatif, aktif, mandiri, dan terangsang rasa ingin tahunya.

"Untuk sekarang, bisa membersamainya bermain menyenangkan itu udah keren banget"

Gitu katanya. Jadi belum butuh teman sebaya amat asal orangtuanya perhatian.

Hmmm. Mari mikir sama-sama hahahahahaha. Berarti intinya bisa perlu atau tidak perlu tergantung kebutuhan.

Kalau ibunya ibu rumah tangga dan bisa selalu membersamai anak bermain dengan menyenangkan sih berarti oke aja nggak perlu preschool. Tapi kalau kaya saya yang kerja dan nggak sanggup harus bikin ini itu kaya ibu-ibu hebat lain, ya mending preschool/PAUD aja.

TERJAWAB YA BUIBUUUU!

Kalau belum mau preschool mah banyak-banyakin aktivitas di rumah aja. Modal ngeprint doang juga kayanya banyak ya di Pinterest mainan edukatif buat anak. Jangan lupa sore-sore keluar rumah dan main sama anak tetangga.

Bebe sih di rumah nggak punya temen main sama sekali makanya daycare yang ada preschool-nya jadi jawaban atas semua pertanyaan banget. Malem-malem tinggal quality time sama saya, baca buku atau mewarnai. Ah punya anak ternyata nggak ribet. *PLAK* *ANDA JANGAN BERBOHONG* *LOL*

Ya mau dipikirin ribetnya juga ribet banget lah bikin istigfar ahahaha. Mau dianggap simpel juga kok ya udah dibantu banget nih sama segala jasa daycare dan preschool. Tinggal GoJek doang nih harusnya bikin GoBaby, jasa langganan anter jemput bayi dan anak sekolah gitu hahaha. Aman jaya deh saya tinggal nunggu di kantor doang lol.

*di-judge ibu-ibu se-nusantara disuruh kembali ke rumah*

Oiya tambahan sedikit tentang milestone anak 3 tahun selain urusan sosial. Harus udah bisa lompat maju, lompat mundur, dan berdiri satu kaki! Bebe mah udah bisa banget ya, anaknya nggak bisa kayanya jalan dengan kalem tanpa dibumbui lari sambil lompat-lompat. Berdiri satu kaki juga bisa.

Kata mbak Diana, ini akan berpengaruh sama perkembangan otaknya di masa depan. Anak yang gagal melompat saat balita, akan punya kesulitan berpikir atau kemampuan intelektual yang berbeda dibanding anak yang mampu melompat saat balita.

HMMM APAKAH AKU KURANG MELOMPAT YA SAAT KECIL SEHINGGA TIDAK BISA KULIAH DI AMERIKA?

Oke deh, demikian laporan psikolog kali ini. Konsul psikolog terakhir nih di daycare huhu. Tiga bulan ke depan semoga bisa share dengan psikolog di daycare baru ya!

Selamat hari Rabu!

-ast-

JANGAN LUPA IKUTAN GIVEAWAY AKU YA! HADIAHNYA BALANCE BIKE! INFO KLIK DI SINI!




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Cuti Melahirkan 6 Bulan? Bisa!

on
Tuesday, September 5, 2017
[SPONSORED POST]

Bebe dititipkan di daycare sejak usia 3 bulan. Karena daycare saya bisa kerja dengan tenang.

Seberapa banyak di antara kalian yang berhenti kerja dengan alasan punya anak? Banyak sih yang alasannya karena waktu sama anak yang terlalu sedikit. Tapi makin lama makin banyak juga saya lihat perempuan yang berhenti kerja karena lingkungan yang nggak mendukung untuk tetap bekerja.

Beda cerita kalau orangnya emang nggak betah kerja ya. Ini orangnya seneng kerja, betah, tapi ternyata pas punya anak baru sadar kalau kantornya hanya menyenangkan untuk orang yang single. Suka kasian deh jadinya. :(

Saya jadi bercermin sama diri sendiri. Iya sih saya dan JG nggak punya siapa-siapa di Jakarta, orangtua dan mertua di Bandung, kalau dipikir rasanya susah banget punya anak. Capeekk banget. Tapi kalau dipikir-pikir, capek itu nggak seberapa karena lingkungan kami berdua itu supportif banget!

Saya kerja office hour, bisa pulang jam 5 teng. Pagi boleh izin kalau emang ada keperluan mendadak. Fleksibel lah jadinya. Makanya sayang banget sama bos dan kantor yang sekarang karena saya bisa dengan mudah anter jemput Bebe ke daycare.

Selain masalah waktu, masih ada juga urusan menyusui. Di kantor saya dan JG udah ada ruang laktasi, ruang khusus untuk pumping. Disediakan juga kulkas dan nggak dipersulit sama sekali kalau mau pumping di jam kerja. Makanya ya betah aja, lancar-lancar aja kerja meski punya anak tanpa punya mbak atau supir.

Ternyata nggak semua orang punya kemewahan itu ya. T_____T

Padahal buat ibu-ibu, hal sesederhana ruang kecil untuk pumping itu bisa bikin betah di kantor loh! Kalau udah betah, kerja juga jadi maksimal karena nggak galau lagi mikirin anak. Tapi bahkan cuti hamil aja katanya banyak yang dipersulit!

Waktu saya lempar topik ini di Twitter karena lagi di event “Tumbuh Kembang Anak dan Dukungan Kebijakan Perusahaan” dari Danone Indonesia minggu lalu, banyak ibu-ibu yang jadi curhat karena katanya cuti hamil aja nggak boleh 3 bulan. Mau nangis banget dengernya.

Padahal semua karyawan perempuan diberi hak 3 bulan cuti hamil dan melahirkan, sementara karyawan laki-laki diberi 3 hari penuh. Kenyataannya ada temen saya yang bilang kalau dia hanya diberi cuti melahirkan 2 bulan. Sisa cuti 1 bulan untuk jaga-jaga kalau nanti harus cuti demi anak. Cuti tahunannya apa kabar? Susah dikasih katanya. Kenapa kantornya gitu banget yaaa. T_______T


Nah tapi ternyata nggak semua kantor kaya gitu loh! Masih ada kantor yang peduli pada karyawan perempuan dan keluarga, salah satunya adalah Danone Indonesia.

Kalau kalian kerja di Danone Indonesia, cuti untuk ibu melahirkannya 6 bulan loh. Jadi bisa ninggalin anak kerja setelah anaknya mulai MPASI dan nggak tergantung 100% pada ASI kan.

Dan untuk para suami, diberi jatah cuti 10 hari! Penting banget karena ibu yang baru melahirkan biasanya bingung gitu kan, jadi ada suami siaga yang bisa nemenin dua minggu pertama. Bayi pun bisa bonding lebih lama dengan kedua orangtuanya.

Danone Indonesia sudah setahun menerapkan sistem cuti 6 bulan ini. Salah satu alasannya adalah, jumlah karyawan yang seimbang antara laki-laki & perempuan. Artinya perempuan punya peran sangat penting untuk kelangsungan perusahaan. Tapi sebelum cuti 6 bulan diberlakukan, banyak karyawan perempuan yang malah resign setelah melahirkan.

Untuk mendukung para karyawan perempuan ini, kantor Danone Indonesia pun ramah anak, ada ruang laktasi dan kulkas untuk menyimpan ASIP. Kemudian ibu hamil pun punya satu grup khusus untuk berbagi informasi soal nutrisi dan konsultasi tentang makan sehat dengan tenaga kesehatan.



Udah? Belum! Danone Indonesia juga memberlakukan namanya flexwork. Artinya jam masuk kantor bebas dan boleh work from home bila memang dibutuhkan.

Hasilnya ternyata oke banget! Jumlah karyawan yang resign setelah melahirkan menurun tajam, karyawan pun jadi semakin loyal dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas.

Menurut Direktur HR Danone ELN Indonesia, Evan Indrawijaya kebijakan parental ini pun tidak mengurangi hak karyawan. Gaji tetap diberikan full, tunjangan, serta bonus juga full, tidak prorata. Ya ampun impian banget ya!

Sekarang muncul pertanyaan, kalau gitu yang ngerjain kerjaan karyawan yang cuti siapa?

Beban pekerjaan karyawan yang cuti dibebankan pada timnya. Kalau masih kurang orang, maka dicarikan pengganti sementara. Kerennya, karyawan yang dibebani pekerjaan karena timnya cuti itu juga mendapat gaji tambahan di luar gaji biasanya. Iya dong kan kerjaannya nambah.

Dan kebijakan parental ini berlaku di semua group Danone Indonesia termasuk pabrik! Iri nggak? Apa malah udah buka LinkedIn dan cari lowongan di sana? Hahahaha.

Ayo kita berdoa sama-sama semoga perusahaan lain juga dibukakan pintu hatinya supaya bisa ramah anak dan ramah ibu bekerja ya!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Hidup yang Kita Pilih


Minggu lalu saya nonton konser lagi setelah 5 tahun lamanya. Lama juga ya 5 tahun nggak nonton konser hahaha. Sebenernya artisnya sempet ke sini sih 2 tahun lalu, tapi waktu itu kan saya punya bayi. Boro-boro nonton konser, nonton bioskop aja nggak kepikiran sama sekali. Jadi waktu itu skip.

Sekarang karena Bebe udah gede, udah bisa ditinggal dengan manis (meski ibu ngakunya kerja lol), dan nggak nangis sama sekali. Akhirnya saya nonton. Sepanjang nonton rasanya campur aduk. Terakhir saya nonton 5 tahun yang lalu itu juga saya udah nggak liputan sih, udah beli tiket sendiri. Tapi kemarin rasanya kaya “goyang” gitu sama pilihan hidup hahahaha.

Karena lagi nonton konser terus kepikiran Bebe besoknya sekolah hari pertama.

Sebebnya saya ada di tengah-tengah. Di satu sisi, saya punya teman-teman seumuran saya yang masih concert goers banget. Salah satu temen orang Singapur, udah nonton konser kemarin itu 6-7 kali. KONSER YANG SAMA LOH. Set listnya sama. Dari Singapur ia masih kejar sampai Bangkok, Hong Kong, beberapa kota di Australia, Indonesia, dan nanti Malaysia.

Ada juga satu orang lagi yang bahkan ngejarnya sampai ke Amerika! Orang-orang ini belinya juga selalu VIP, sewa bis kecil buat ikut ke bandara, dan nginep di hotel sekitar venue konser.

Saya juga pernah begitu. Meskipun ya nggak ke 6 negara juga ya. Dan kalau kalian mengira itu semua karena kami kaya raya, nggak juga sih. NABUNG LAH! Pernah saya ceritain di sini: Mengubah Mimpi.

Poinnya adalah, ternyata setelah puluhan konser dalam dua tahun, saya sampai pada titik yang dibilang orang “mau gini-gini aja nih hidup?” Kemudian saya merasa harus move on, menikah, punya anak, dan hidup saya berubah hanya dalam hitungan bulan.

Sekarang saya masih mampu nonton konser, jauh lebih mampu dan beberapa tahun lalu. Tapi kan mikirin Bebe masa ditinggal terus. Atau masa bela-belain Bebe di rumah aja sama mbak yang lebih murah biar uang daycare bisa ditabung untuk nonton konser. Kan nggak begitu.

Padahal kalau dipikir lagi, apa coba definisi “gini-gini aja hidup”? Gimana sih hidup yang “gini-gini aja” itu?

Apakah hidup kaya temen saya? Usia hampir 30, nggak menikah apalagi punya anak, nabung ya buat nonton konser di mana-mana. Atau temen saya yang lain, seumuran juga, nggak menikah apalagi punya anak, nabung ya buat traveling aja.

Apa lantas hidup mereka “gini-gini aja” hanya karena mereka memutuskan untuk tidak menikah dan punya anak?

Kenapa mereka suka direcokin orang dengan “mau sampai kapan main terus!”

Ya sampai nanti-nanti lah. Artisnya juga manggung sampai nanti-nanti kan. Tempat liburan yang dituju juga masih banyak yang belum kesampaian. Nggak apa-apa banget kan kaya gitu. Ya yang penting kan kerja dan menghasilkan uang untuk hidup dan bahagia. Apalagi coba.

Kalau saya, saya ternyata dengan sadar memilih untuk menikah di usia ideal masyarakat Indonesia untuk perempuan perkotaan, 25 tahun. Saya memilih untuk punya anak, saya memilih untuk cari uang dan tiba-tiba prioritas segalanya untuk anak.

Tapi karena saya melakukan ini, nggak berarti kalian semua juga harus melakukan ini. Karena kadang saya nyesel juga kenapa sih saya buru-buru settle down dengan nikah dan punya anak secepat itu hahahaha. Makanya kemarin pas seru-seruan nonton konser rada mikir, ini gitu hidup yang saya mau? Kan mending kerja buat diri sendiri seneng-seneng aja!

Kalau udah gitu kan balik lagi, ini pilihan saya dulu, tanggung jawab dong dengan pilihan itu. Satu hal, kalau pun dulu saya nggak memilih menikah, mungkin saya menyesal juga dengan pilihan tidak menikah. Kita nggak pernah tau dan kemungkinan penyesalan selalu ada, apapun jalan yang kita pilih.

It's not that I'm not happy, I AM. Cuma kan maklum kalau kadang mikir "eh kalau dulu gini gimana ya?" Biasalaahh. Wajar terjadi. HAHAHA.

(Baca: Memaknai Pilihan)

Kalian yang nggak mau menikah dan memilih untuk menyenangkan diri sendiri seumur hidup tanpa harus membaginya dengan dana pendidikan juga jadinya nggak apa-apa banget! Nggak usah dengerin kata orang karena orang yang ngomong itu nggak bayarin tiket senang-senang kalian.

Dan jangan mau dibilang "gitu-gitu aja". Buktikan dengan kalian sendirian, kalian punya pengalaman yang jauh lebih banyak dan menyenangkan dibanding orang yang judge kalian dengan "gitu-gitu aja". Bikin bucket list dan selesaikan satu-satu.

Jangan takut dibilang “anak tuh bisa bikin hidup lebih semangat”. Iya bener banget kok statement itu. Tapi nggak berarti yang nggak punya anak hidupnya jadi nggak semangat kan. Semangat kan bisa dateng dari mana aja. Lagian apa kabar atuh orang yang udah bertahun-tahun usaha punya anak tapi nggak bisa? Apa hidupnya jadi kurang semangat?

Bos di kantornya JG ada yang masih muda udah jadi GM. Jadi general manager di korporasi sebesar itu, perempuan, udah pernah tinggal di sekian negara. Nggak nikah dan nggak punya anak. Tapi dengan pencapaiannya, nggak mungkin dong dia hidup tanpa semangat?

“Anak ngasih arti lain sama kehidupan”. Iya bener juga kok. Cuma ya jangan jadi judge orang-orang yang tidak mau menikah dan punya anak sebagai egois dan hidupnya tidak berarti. Semua orang mengartikan sendiri hidupnya. Nggak butuh orang lain untuk mengartikan hidup kita.

Cuma kadang berat di orangtua ya. Orangtua meski udah nggak bayarin apa-apa tapi suka teteeppp pengen anak-anaknya nikah. Karena seolah tugas mereka tunai sudah ketika anak-anak menikah. Sabar-sabarin aja hahaha.

(Baca: Menjaga Perasaan (Siapa?))

Asal satu hal, kalau nyesel jangan ngerugiin orang lain!

Saya pernah denger cerita suami yang tergila-gila main game lagi dan akhirnya nelantarin anak istri. Padahal sebelum nikah udah nggak main game. Suatu hari beli komputer baru yang harganya puluhan juta dan mulai lah dia main game lagi. Nggak perlu kerja memang karena anak orang kaya. Tapi anak dan istri nggak diperhatikan lagi.

Nah kalau gitu tandanya udah merugikan orang lain dong. Jangan gitu-gitu amat lah gengs.

Hidup seimbang aja bisa kok. Misalnya saya, saya berencana nonton konser setahun sekali (kalau konsernya ada lol). Ada juga temen saya yang anaknya dua, punya “jatah” liburan sendirian (tanpa anak dan suami) sekali setahun. Fair lah. Menyeimbangkan kehidupan jadi ibu dan jadi diri sendiri itu penting dong. Masa kerja capek-capek semua full demi anak? Hahaha.

Judge saja aku silakan.

Jadi ya, apa pilihan hidup kalian? Pernah nyesel nggak?

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Bebe dan Daycare, 3 Tahun Kemudian

on
Friday, September 1, 2017
berenang di daycare. captured by @tazalyphoto

Saya masih ingat benar hari itu, Senin, 8 September 2014. Saya masih cuti, sengaja baru akan masuk kerja besoknya. Itu hari pertama saya membawa Bebe ke daycare dan meninggalkannya di sana. Itu juga hari pertama saya pakai jilbab, jilbab pink dengan sweater rajutan coklat. Semuanya masih saya ingat jelas.

Meski sekarang ingat, waktu itu rasanya blur. Saya menggendong Bebe yang masih sangat kecil dengan kain gendongan, naik motor bersama JG. Saya membawa 10 botol ASI dengan harapan akan lebih dari cukup sampai sore. Bukan karena stok ASI saya kurang, tapi karena membaca pengalaman ibu-ibu lain rata-rata anaknya hanya minum maksimal 500 ml ASI alias 5 botol kaca.

Ternyata kurang. Hari itu Bebe minum lebih dari 1 liter ASI karena ia merasa asing di daycare baru. Saya? Oh nangis dong tentu saja, saya nggak sekuat itu hahaha.

Seharian saya nangis-nangis, ngerengek ke JG ingin resign karena nggak tega sama Bebe. Siang-siang galau sampai beliin boneka buat Bebe biar nanti pas pulang Bebe punya boneka baru. Padahal mah anaknya nggak ngerti hahahaha. Waktu itu umur Bebe 3 bulan 2 hari

Dan apakah saya jadi resign? Tentu tidak karena besoknya di kantor langsung ralat ke JG “aku nggak jadi resign hehe aku kerja aja aku suka kerja hehe.”

Ternyata di kantor senang yaaaa! Bebe di daycare aja! Hahaha.

(Baca: Review Daycare Bebe, Tweede Daycare)

Dari situlah perjalanan daycare Bebe dimulai. Bebe belajar banyak sekali, dan yang paling utama adalah belajar punya teman. Di umur 2 tahun dia udah tahu bahwa ada anak yang lebih besar dan lebih kecil, ada anak laki-laki dan anak perempuan.

Dia belajar banyak sekali. Belajar duduk, merangkak, jalan semua di daycare. Naik perosotan pertama kali bahkan sebelum bisa jalan, naik sepeda, berenang, belajar buka dan pake celana sendiri, makan sendiri, doa-doa, dan banyak lagi. Saya sampai ngerasa Bebe mungkin menganggap daycare ini rumahnya, lah di rumah sendiri cuma bobo doang tiap malem lol.

Teman-teman pun datang dan pergi, karena sudah punya mbak atau kembali diurus nenek. Hanya beberapa dari mereka yang bertahan sejak usia 3 bulan hingga 3 tahun seperti Bebe. Dan tahun ini, angkatan 2014 “lulus” semua, pindah ke daycare yang punya program pra-sekolah.

T______T

Meski super betah, urusan daycare ini juga nggak selalu mulus. Ada waktu-waktu di mana dia cranky banget nggak mau di daycare maunya sama ibu aja. Tapi ya kaya yang pernah saya bilang, anak kan emang ada masa-masanya rewel ya.

Mau anak yang di daycare, yang sama nenek di rumah, yang sama ibunya. Pasti ada hari-hari di mana dia nggak mood dan maunya nangis kan. Jadi ya udah. Kalau kalian ngerasa anak rewel lebih baik sama ibunya, belum cencuuu. Kalau ibunya malah stres kan justru mending berpisah dulu ya kaannn. Daripada kenapa-napa.

(Baca: Drama Daycare)


Dan Bebe memang anaknya cenderung ekstrovert. Dia gampang approach anak lain untuk ngajak main meskipun sebelumnya nggak kenal sama sekali. Kecuali kalau lagi nggak mood banget ya. Jadi dia di daycare bahagia karena selalu punya teman!

Makanya saya mellow banget kemarin Kamis tiba-tiba udah hari terakhir aja dia di daycare. Hiks. Sedihnya sedih banget.

Ya gimana nggak sedih, 3 tahun bolak-balik rumah yang sama setiap hari. Bobo siang di situ, mandi di situ, makan 3 kali sehari di situ.

T_______T

Apakah Bebe udah ngerti dia akan pindah?

Saya udah jelaskan setiap hari sejak 2 minggu lalu dan dia excited banget! Kayanya karena dia nggak ngerti apa itu perpisahan. Selama ini bagi Bebe, perpisahan hanyalah merelakan ibu pergi kerja, nggak lebih.

Sekarang misal lagi baca buku dia bilang “ibu nanti aku baca buku sama guru bukan kak wina (guru daycare) ya?” atau “nanti di sekolah salo mandi sama guru ya ibu?” things like that. Dia emang udah bosen banget di daycare yang sekarang karena dia paling tua, anak laki-laki gede sendiri pula. Ya yang lain udah duluan masuk preschool dari 1-2 bulan lalu. Saya aja nggak mau buru-buru karena nyempetin survey ke banyak tempat dulu.

(Baca survey dan review daycare di sini)

Berkali-kali dia bilang “aku ingin main sama Z tapi dia bayi”. Z ini anak cowok di daycare tapi masih setaunan gitu. Belum seru diajak main. Padahal hasil konsultasi sama psikolog kemarin, anak 3 tahun memang baru menyadari kebutuhan bersosialisasi. Berarti emang udah saatnya Bebe pindah, demi teman baru yang sebaya!

Beberapa anak daycare yang pindah, pindah gitu aja nggak ada farewell atau apa. Saya nggak mau ngilang gitu aja, nggak tega huhuhu Akhirnya bikin farewell kecil-kecilan. Bikin hampers isi handuk, kaos kaki, taplak meja, dan nyetak foto kemudian di-frame. Fotonya foto yang ada Bebe dan ada mbaknya gitu.

Sorenya saya bawa nasi kotak terus makan sama-sama. SEDIH BANGETTTT BANGET BANGET. Pas jalan ke mobil tuh yang kepikiran, wow nggak akan parkir di sini lagi, nggak akan ketemu bapak parkir ini lagi, nggak akan jajan cilor, beli nasi padang, dan mie aceh di sini lagi.

T________T

Tapi yah, ini kan proses natural. Bebe pindah karena memang sudah umurnya. Saya juga harus tegar dan mempersiapkan mental untuk beberapa hari ke depan karena Bebe harus lewat proses adaptasi lagi.

Lebih gampang sih harusnya karena dia udah ngerti, tapi ya, tetep nervous karena saya sendiri belum kenal mbak-mbak di daycare baru kan. Sama-sama adaptasi ya, Be!

*

Tiga tahun pake jasa daycare, saya baru sadar kalau selama ini saya bisa tenang ninggalin Bebe kerja karena dia di daycare. Saya nggak perlu cek dia udah nyampe rumah atau belum (pulang sekolah), nggak perlu cek makan apa, nggak perlu masak, nggak perlu mandiin. Hidup saya dipermudah banget sama daycare.

Kebayang kalau pake mbak di rumah kayanya saya akan sering-sering cek ya. Belum lagi harus masak sendiri. Belum lagi mbaknya di rumah nggak ngajak main yang "edukatif". Daycare ini bener-bener demi peace of mind buat ibu bekerja kaya saya.

Saya bisa tenang ajak dia baca buku atau main malem-malem karena saya nggak perlu stres lagi suapin dia makan. Saya bisa happy main sama dia full Sabtu dan Minggu tanpa gangguan mbak. Karena banyak kan tuh yang anaknya malah pilih mbak dibanding ibunya. Bebe nggak, ya karena nggak punya mbak di rumah hahaha. Quality over quantity, yes?

Jadi ya, begitulah. Doakan Bebe betah di daycare baru ya!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!