Beda Prinsip

on
Friday, June 16, 2017

Dulu ya waktu masih punya TV di rumah dan suka nonton infotainment, satu hal yang selalu bikin saya mengernyit adalah alasan perceraian para artis yang bisa dirangkum dalam dua kata: BEDA PRINSIP.

Dulu saya selalu menganggap alasan beda prinsip itu sebagai alasan yang mengada-ada dan kurang real. Lagian masa karena beda prinsip aja sampai harus cerai sih ih, yang beda agama aja banyak yang pernikahannya langgeng. Padahal apa yang lebih berprinsip dibanding agama coba?

Kemudian saya tumbuh dewasa dan ketika memutuskan menikah, prinsip yang dulu saya anggap sesuatu yang unreal itu ternyata penting banget!

Prinsip atau value lebih enak kalau sama memang, kecuali kalian orang yang sangat tenggang rasa, tepo seliro, mampu bertahan dan saling menghargai satu sama lain seumur hidup.

(Baca: 30+ Hal yang Harus Ditanyakan Sebelum Menikah)

Kalau kalian kaya saya yang sebisa mungkin menghindari konflik, nggak sabaran, ingin selalu punya teman untuk diskusi, maka ya mending dari awal nikahin orang yang menghargai values yang sama.

Apa aja values itu? Ya tentukan sendiri. Tentukan apa yang penting buat kalian dan diskusikan dengan pasangan kalian.

Contoh yang tampaknya sederhana padahal tidak sederhana sama sekali: istri boleh kerja nggak setelah nikah?

Itu kedengerannya kaya masalah simpel: “suami larang istri boleh aja dong karena itu hak suami”.

Alesannya bisa macem-macem ada yang beralasan “Karena sayang, jadi biar aja suami capek kerja keras cari uang (seolah istri di rumah nggak capek ngurus rumah)” ada yang bilang “istri urus anak aja biar rumah diurus pembantu”. Banyak.

Padahal nggak sesimpel itu. Urusan melarang bekerja ini ada di area gender equality dan ini cakupan yang sangat luas plus sensitif.

(Baca: Mengurangi Pertengkaran Rumah Tangga)

Jadi daripada tanya calon suami dengan “kamu bolehin aku kerja nggak setelah nikah?” tanya dulu soal “gimana menurut kamu soal gender equality?”

Karena jawaban dari pertanyaan kedua akan menunjukkan akan seperti apa dia memperlakukan kalian setelah nikah. Kalau ditanya pertanyaan pertama terus jawabannya “boleh kok” terus kalian percaya padahal setelah nikah akhirnya dia melarang karena “dulu aku bolehin karena gaji aku kecil, sekarang gaji aku cukup jadi ga usah kerja lagi”.

Coba kalau tanyanya soal gender equality. Bisa ketaker banget loh dia laki-laki seperti apa. Bisa langsung ketauan apakah dia menganggap perempuan bisa setara secara akademis dan karier atau dia menganggap perempuan sebagai pengurus rumah tangga.

Satu hal, kalau ternyata jawaban dia adalah perempuan harus diam di rumah dan kalian 100% oke dengan itu ya go ahead. Maka prinsip kalian udah sama.

Tapi kalau kalian percaya perempuan dan laki-laki harus setara ya jangan dilanjutin. Mending nggak usah jadi nikah percayalah padakuuu ~~~.

Kalau kalian menikah nanti kalian sedih. Nanti kalian nggak akan lagi hidup sepenuhnya karena selalu ada penyesalan “padahal sebenernya aku pengen xxx”. Hidup dalam penyesalan itu nggak enak gengs.

(Baca: How are We Gonna Raise Our Kids?)

Dan kalau udah nikah, masalah yang kayanya remeh juga bisa jadi besar karena ya namanya prinsip ya, susah diubah. Hal yang kayanya nggak mungkin bikin berantem aja bisa banget jadi bahan perpecahan.

Kalau saya sendiri memang baru sama JG yang ngerasa klik banget. Soulmate akuhhhh uwuwuwuw gemas. Hahaha.

Selama nikah, baru satu kali berantem karena beda prinsip. Masalahnya yaitu … Bebe masuk playgroup tahun ini apa tahun depan? HAHAHAHAHA. Tampak remeh tapi bikin mayan tegang juga sih karena sama-sama ngotot (saya lebih ngotot sih 😂).

Abis JG keukeuh amat tahun ini sementara saya ngerasa Bebe masih kecil laahh, belum butuh sekolah. Tapi JG ingin Bebe sekolah biar cepet bisa bahasa Inggris. Ambisius banget! Jadi akhirnya setelah merenung lama bersama-sama, diambil jalan tengah yaitu Bebe belajar bahasa Inggris di rumah lol.

Tapi ya so far so good lah, we share the same values to live by. Dari urusan agama, politik, gender, komitmen, kejujuran, dan banyak lah. Tapi saya mikirnya kami bisa seperti ini karena kami banyak berdiskusi sih sebelum nikah. Ya maklum orangnya nggak bisa nggak ngomong ya hahahaha.

(Baca: Suami yang Nyebelin)

Satu hal, setelah saya nikah gini baru saya sadar bahwa cerai itu tidak apa-apa! Dalam artian saya tidak akan judge orang bercerai karena saya nggak ada di posisi mereka.

Karena manusia bisa berubah, manusia bisa TIDAK berubah, manusia bisa jadi sangat menyebalkan sekaligus menyenangkan, dan sebagainya. Jadi cerai karena beda prinsip itu sangat bisa terjadi, bukan cuma mengada-ada. Jangan suka judge orang cerai karena kita nggak tau ada masalah sebesar apa di baliknya.

Jadi buat kalian yang belum nikah, ayo samakan visi misi, prinsip, value, apapun itu namanya dengan calon suami/istri. Buat kalian yang udah nikah dan ngerasa beda prinsip, banyak-banyak sabar ya. Huhu. Abis gimana dong.

Udah ah kepanjangan, kupusing.

Selamat weekend!

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

10 comments on "Beda Prinsip"
  1. Selama beda prinsip bisa ditolerir dan dicari solusi sama2, saling menghargai dengan pasangan, kurasa beda prinsip tak apalah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maka itu tadi. Kalau sangat tenggang rasa, tepo seliro, mampu bertahan dan saling menghargai satu sama lain seumur hidup, ya gak masalah, silakan lah menikah, hehehe

      Delete
  2. Beda prinsip itu kan mendasar banget kan yak,,jadi bener kata annisa, ketika kalian akan menikah dan merasa kok belum ampe ke hati dan kurang klop,,pleas di pastiin lagi, karena ini bukan pacaran yang bisa putus-nyambung kapan aja.. ^_^

    ReplyDelete
  3. beda prinsip itu biasa, tinggal bagaimana kita memahaminya :D

    ReplyDelete
  4. Kalau beda prinsipnya menyangkut keyakinan mending ga usah aja kali ya? Heuu

    ReplyDelete
  5. Ahhh.... Ternyata beda prinsip itu memang sangat mendasar. Tapi karena di sekelilingku juga banyak perceraian, aku makin merasa sepertinya cerai itu memang tak masalah, yang penting bahagia.

    ReplyDelete
  6. Ahhh.... Ternyata beda prinsip itu memang sangat mendasar. Tapi karena di sekelilingku juga banyak perceraian, aku makin merasa sepertinya cerai itu memang tak masalah, yang penting bahagia.

    ReplyDelete
  7. Mak, aku barusan komen. Tapi trus malah engga sengaja kepencet delete. Hedehh... Iya, cerai itu tak mengapa daripada memaksakan bertahan dalam ketidakbahagiaan. Apapun alasan yang dijadikan alasan...

    ReplyDelete
  8. Kalo bagi kami cerai itu sih gak boleh.
    Makanya ada proses sebelum nikah utk sama sama sepakat dan bahas ttg prinsip masing masing.
    Jangan sampai setelah nikah baru membahas ttg perbedaan prinsip.
    Intinya perjalanan sblm nikah harus dipersiapkan matang.

    Kalau bisa jangan cerailah apalagi kalau sudah punya anak.
    Aku seorang guru SMA.
    90% anak bermasalah adlh dr keluarga yg broken (bercerai/tdk harmonis)
    Jadi tolong kalau bercerai jgn hanya pikirkan kebahagiaan diri sendiri saja. Lihatlah masa depan anak anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau secara agama sih aku nggak bisa komentar. cuma kalau untuk masalah anak, yang masih jadi pertanyaan buat aku, apa lebih baik anak dibesarkan oleh orangtua tidak bercerai tapi stres? kalau bisa jangan cerai lah semua orang juga pasti maunya begitu, tapi aku yakin ada kondisi-kondisi di mana pernikahan emang udah nggak bisa diselamatkan. dan kalau kondisi itu terjadi pada orang di sekitar kita, poin aku adalah jangan jadi judge karena kita nggak tau apa yang terjadi pada mereka. :)

      Delete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)