-->

Image Slider

CRÈME SIMON Dermo-Hydrating Toner Mist Review

on
Tuesday, May 30, 2017
Halo semuanyaaa! Kembali di #SelasaCantik!

Kali ini saya mau review Dermo-Hydrating toner mist dari CRÈME SIMON pemberian dari Clozette Indonesia. Begitu liat kemasannya langsung suka gitu karena warnanya rose gold yang cantik banget!

Botolnya doff dan beludru-beludru gitu bagus banget. Kotaknya aja diembos dedaunan dan bunga waaa sebagai orang yang visual banget saya sukaaaa banget sama packagingnya.

Saya jujur sih baru pertama kali denger CRÈME SIMON tapi ternyata saya aja yang kurang wawasan hahaha. Karena CRÈME SIMON adalah salah satu brand beauty tertua di Prancis! Sejak tahun 1860 bayangin aja. Udah 157 tahun!

Waktu itu foundernya, Joseph Simon, ingin bantu para pekerja laundry yang tangannya kasar karena mencuci baju di sekitar Sungai Rhone. Inovasinya kemudian diberi nama CRÈME SIMON dan bertahan sampai sekarang wow!

Produk yang saya coba ini merupakan bagian dari Brightening Detox range yang fokus pada melembabkan kulit dan mencerahkan. Dari namanya udah keliatan kalau produk ini merupakan toner yang juga bisa digunakan sebagai facial mist.


CRÈME SIMON Dermo-Hydrating Toner Mist ini punya beberapa keunggulan, yaitu:

💛  Activ-Fleur Complex: An exclusive botanical elixir of 7 fresh flowers and plants, rich in active phenols and flavonoids, proven to gently brighten skin
💛  Rose, Iris, and Jasmine extracts: Oxygenate and improve toxin elimination and skin cell renewal for luminosity and clarity.

💛  Wheat Oligosaccharides Complex: Boosts brightening efficacy through reduction of skin pigmentation and melanogenesis inhibition.

Duh maaf ya tadinya mau translate tapi kok susah cari padanan katanya hahaha. Ya ngerti kan ya, masa nggak ngerti. 

Jadi produk CRÈME SIMON ini botanical-based alias natural. Tidak mengandung alkohol, parabens, silikon, sulfat, dan minyak. Juga nggak pake pewarna dan non-comedogenic. Ah lengkap! Plus karena dibuat dari 7 macam bunga itu wanginya jadi enak banget. Enak sampai saya cium-ciumin terus huhu. Terharu amat.


Yang tercanggih adalah, produk ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan berbagai musim! Jadi kalau kita liat bagian belakangnya, ada gambar-gambar yang menunjukkan produk itu cocok di musim/cuaca apa. Gambar matahari artinya cocok untuk cuaca panas, gambar tetes air artinya cocok untuk cuaca lembab, dan gambar salju artinya ... apa coba artinya? 😂😂😂

Lanjut ke kegunaan, CRÈME SIMON Dermo-Hydrating Toner Mist ini bisa digunakan sebagai toner, facial mist, hair mist, setting spray, dan blemish treatment!


Saya jelaskan satu-satu ya!

💛 Toner: Boleh dispray atau spray ke kapas sampai basah. Cocok buat yang suka numpahin toner kebanyakan, karena ini bentuknya spray jadi nggak bakal tumpah-tumpah. Kandungan aktifnya bisa jadi booster biar kerja moisturizer kalian jadi lebih efisien.

💛 Facial & hair mist: Semprot ke muka kapan pun biar mukanya seger. Dan wanginya itu loh luvvvv. Wangi banget! Bisa juga disemprot ke rambut. Kalau kalian abis makan di foodcourt, rambut suka bau makanan kan ya. Bawa ini di tas, siap siaga!

💛 Make up setting spray: bisa banget buat nge-set make up! Nggak bikin oily dan finishingnya matte!

💛 Blemish treatment: bisa menenangkan jerawat yang meradang. Tinggal semprot sedikit ke kapas terus kompres deh di jerawat.

Di kulit saya yang kering, CRÈME SIMON Dermo-Hydrating Toner Mist ini enak banget kalau dipake siang-siang karena kulit kering kena AC. Wanginya juga nempel banget suka deh, wangi bunga lembut gitu. Satu kubikel bisa jadi wangi ini semua kalau saya baru semprot.

All in one banget ya! CRÈME SIMON bisa kamu dapatkan di seluruh store Sephora Indonesia atau beli online di sephora.co.id. Mampir juga ke websitenya ya www.creme-simon.com dan follow Instagramnya di @cremesimonid!

Thank you!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Susahnya Jadi Ibu ...

on
Monday, May 29, 2017

Ih kok ngeluh?

Boleh dong ngeluh, boleh banget biar waras. Tapi jangan sering-sering yaaa. Jangan sampai mengeluh mendominasi hari. Karena yang boleh mendominasi hari dan menjajah pikiran hanyalah pemikiran upload foto apa di Instagram hari ini? BAHAHAHAHAH

Iya ih susah banget loh jadi ibu.

Dan sialnya kesusahan itu baru ketauan pas udah jadi ibu hahaha. Pas belum jadi ibu mah ya ngerasa mampu lah toh jadi ibu itu katanya kodrat. Toh jutaan perempuan lain sedunia juga bisa jadi ibu. Jadi kita juga pasti bisa! 💪

Meskipun pas hamil agak-agak mellow karena mampu nggak yaaa? Apakah aku bisa mengurus dan mendidik anakku? Ah aku pasti bisa! Kan bisa belajar!

Kemudian kita pun belajar. Melahap berbagai teori melahirkan sampai teori ASI, hafal semua! Teori parenting, teori MPASI, teori fase-fase balita. Teori ini teori itu. Seminar ini seminar itu. Talkshow ini talkshow itu. Follow banyak psikolog anak dan dokter di social media.

Males? SAMAAAAA. Saya juga nggak ikut kok seminar-seminar parenting itu bahahahaha saya nggak punya waktu sis. Saya ibu-ibu homeschooling alias belajar sendiri baeee. 😂

Rajin juga tanya-tanya ke temen yang tampak oke dan bisa ditanya. Dan yang terpenting, memilih teman tidak judgmental! Supaya nggak stres karena urusan ASI kalau temennya geng pengharam susu formula.

Waw jadi ibu seperti kuliah tak kunjung henti, penuh teori dan praktikum setiap hari. Mana nggak ada ujiannya pula jadi nggak ngerti deh apa kita udah layak jadi ibu?

(Baca: Hal-hal yang Hanya Bisa Dirasakan Ibu Menyusui)

Ah susah emang sih ya.

Anak kan bukan cuma harus dikasih makan, bukan cuma gampang dibeliin mainan biar tetap anteng. Belum ngajarin sopan santun. Belum ngajarin harus menghormati perbedaan. Belum ngajarin toilet training. Ah peer nya banyak banget!

Belum lagi anak harus dijaga emosinya!

Uhwaw, menjaga emosi anak sambil menjaga emosi diri sendiri itu lebih berat dari maraton 40KM. Mending maraton bisa latihan dulu, bisa alesan beli sepatu lari baru biar samaan sama Jennifer Bachdim, lah menjaga mood anak setiap hari?

Jungkir balik sis, nggak bisa pake alesan belanja pula *LHA*. Anaknya literally jungkir balik lari-lari sana-sini padahal disuruh pake baju doang abis mandi, ibunya jungkir balik dalam pikiran. Butuh yoga emang nih ya, yoga pikiran biar nggak jungkir balik terus. 😂

Yang harus dijaga emosi anak DAN emosi ibu kan sebenarnya. Karena anak tantrum leading ke ibu tantrum juga. Anak marah, ibunya ikut marah. Muter-muter. Padahal yang satu umur 3 tahun, yang satu umur 30 tahun. Ckckck. Emosi tidak mengenal usia.

Kalau udah tantrum, yang umur 3 tahun bisa happy seketika kaya nggak ada apa-apa. Lha yang umur 30 tahun? Abis tantrum guilty banget karena kok ya nyari lawan berantem harus banget anak umur 3 tahun? Anak sendiri pula. 😂

(Baca: Tips Menangani Anak Tantrum di Tempat Umum)

Susah lah emang.

Apalagi ngomongin guilty pleasure ibu-ibu sedunia: gadget. Wow wow. Bahkan yang ngasih screen time nggak lebih dari 3-4 jam sehari aja masih ngerasa guilty banget. Kok bisa orang lain anaknya nggak kena gadget sama sekali? KOK GUE NGGAK BISA?!

Ah saya nggak bisa karena saya takut nggak waras. Kalau nggak dikasih gadget maka nggak bisa makan. Anak kalian bisa baca buku atau mewarnai? BERSYUKURLAH. Oh bisa karena dibiasakan? Ah saya juga udah coba, nggak terbiasa-terbiasa tuh anaknya. Sayanya nggak bisa makan iya.

Padahal makan kan kebutuhan hidup paling hakiki ya nggak? HQQ kalau kata anak gawl zaman sekarang.

Nyesel nggak ya di masa depan karena ngasih anak gadget? Kayanya nggak ya. Kalau pun di masa depan dia jadi kecanduan, ya terima aja. I PLEAD GUILTY. 🙇🏻‍♀️ Salahku 100% karena mau hidup tenang dikit pas dia balita. Terima ajyaaahh. Nasib gengs.

Ckckck. Susah kan bener?

Pas anaknya bayi galau minta ampun urusan ASI. Apa ASI aku cukup? Kenapa ASI aku nggak ada? Atau malah kenapa ASI aku banyak banget sampai bayi dapetnya foremilk doang? Kenapa tetek bengkak mau meledak tapi dipompa cuma dapet 20 ml? Kenapa breastpump mahal? Kapan aku bisa pake bra biasa lagi dan bukannya bra nenek-nenek?

Anak umur 2 bulan mulai galau karena mau masuk kerja. Nangis-nangis ke suami pengen resign aja. Keputusan yang untungnya tidak diambil dan cukup ditertawakan sekarang. Karena kalau resign, ai nggak bakal waras gaes.

Kantor adalah sebenar-benarnya lari dari kenyataan ada anak bayi ngotot pengen beli Robocar Poli 250ribuan tapi 3 jam kemudian dibuang karena ingin Hot Wheels 30ribuan. #truestory 💆🏻

Apalagi kalau anaknya 2 atau 3 tahun yaaa. Duile urusan pake celana posenya gimana aja masalah banget. Terserah Bebe ajalah. Ibu ngikut Bebe aja, tapi masalahnya kalau Bebe pose nungging gitu pake celananya gimana, Be?

Terus masih aja harus berdiskusi hal-hal kurang penting bagi ibu tapi mungkin penting bagi Bebe. Seperti ibu maunya mandi dulu, Bebe maunya minum susu dulu. Ya terserah Bebe aja, ngikut Bebe aja deh ibu mah.

Tapi kalau sudah jam 11 malam dan ibu maunya Bebe bobo sementara Bebe maunya nonton PJ Masks terus ya ibu marah. Bebe nangis. Biar aja Bebe nangis karena nggak semua yang Bebe mau bisa ibu kasih. Nangis sampai ketiduran ya plis, jadi nggak perlu ngelonin. 😂


Belum lagi urusan pup aja jadi urusan paling penting sedunia karena ada anak bayi yang ngintilin mulu. Alesan cuci tangan lah, cuci kaki lah, sampai nggak punya alesan. Pengen sama ibu aja.

Udah gitu ngeluh-ngeluh karena plis deh aku mau pup dengan tenang! Terus urusan mandi. Nyuruh-nyuruh anak mandi dengan alasan bau asem. Padahal bau asem itu dicari-cari dulu dan dicium-cium sampai puas. Hah! Konsisten dong!

Siapa yang di sini pernah pipis sambil nenenin? SAYAAAA! Kalian nggak sendirian gaes. Tenang aja.

Capek ya. HAHAHAHA. Capek-capek sebel pengen ngetawain diri sendiri. Woy kehidupan jadi ibu kok lawak banget. 😂😂😂

*

Tapi ya kok begini amat? Pas tidur malah dicium-ciumin terus. Pas lagi kalem malah dipeluk-pelukin terus sampai dia sebel. Pas lagi duduk anteng malah jawil-jawil pipi terus gangguin anak. Makin dia sebel makin seneng kita godain. Kita ibu macam apa!

Di kantor malah telepon suami bahasnya anak juga. Browsing Timehop cuma mau liat foto-foto Bebe waktu bayi. Foto-foto ditata rapi di Google Photos dengan album berdasarkan usia bulan karena saya nostalgia aja perfeksionis, maunya nostalgia berdasarkan dia usia berapa bulan.

Dan tiba-tiba anaknya gedean dan anteng sendiri malah jadi kangen, sebel, kenapa sih? Udah nggak butuh ibu ya? #drama

Belum lagi nafsu beli gadget berkurang drastis karena fokus menabung untuk sekolah.

DUH BUIBUUUU! KITA INI IBU MACAM APA!

Kita ini ibu-ibu normal! Ibu-ibu yang bebas mengeluh karena mengeluh itu hak segala bangsa! Hahahaha sini pelukan semua! Tenang aja bentar lagi THR-an jadi bisa belanja pelipur lara. 😂😂😂

Share ke temen kalian yang lagi jungkir balik juga ngurus bayi dan balita! LUV!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

#SassyThursday: Ketakutan dalam Hidup

on
Thursday, May 25, 2017
 
HEYAK JUDULNYA SOK SERIUS. Padahal nggak serius-serius amat kok. Cuma pengen share hal-hal yang paling aku takutin hahaha.

Soalnya kalau ketakutan dalam hidup ya banyak ya kan. Takut Bebe sekolahnya nggak bagus, takut dipecat, takut kerjaan nggak selesai lol. Tapi ini mah ketakutan biasa aja kok.

KETAKUTAN KOK BIASA YAELAH.

Nggak ada ketakutan yang biasa dan jangan pernah menganggap remeh ketakutan orang lain. Di umur ini nakut-nakutin orang lain sama hal yang dia takuti itu nggak banget plis. Misal ada orang takut reptil terus sengaja kirim-kirim dia foto reptil. Nggak begitu. Mau nggak kalau dikirimi hal serupa yang kita takuti?

Baca punya Nahla yaaaa: Hal yang Paling Ditakuti

Oke ini list ketakutan saya.

🐈 KUCING 

Iya saya nggak suka kucing level takut banget mau nangis tiap ada kucing. Sebabnya nggak inget kenapa, yang jelas sejak kecil saya memang sudah takut kucing. Dan mengapa orang-orang takut kucing itu selalu diikuti kucing ya?

Dulu pas kost, pas ada kucing melahirkan, di mana? Di depan pintu kamar saya. WHY GOD dari semua kamar dia melahirkan di depan kamar saya? Akhirnya si anak-anak kucing itu keliaran di sekitar kostan dan saya mau pingsan tiap kali pulang dan harus buka gembok karena takut ada kucing tiba-tiba nongol dari bawah pager.

Kesialan berlanjut karena temen kamar sebelah pelihara kucing omg. Untung akhirnya kostannya digusur (belum hidup di Jakarta kalau belum digusur di kost HAHA) jadi pindah kost yang nggak banyak kucing.

Sampai sekarang kalau makan di pujasera gitu kucing-kucing pasti diemnya di bawah meja saya.

-__________-

🕷 KECOA (nggak ada emot kecoa lol)

Ini pas udah gede loh ya jadi takut kecoa. Pas kecil saya nggak takut malah berani ngambil gitu. Makin gede kok ya makin jijik huhu. Intinya parno banget sama kecoa sampai dulu pas zaman ngekost, kalau ada kecoa saya tutup pake bekas tempat salad Pizza Hut, terus atasnya saya kasih pemberat saking horor dia kabur.

Setelah itu diemin sampai ada orang yang bisa dimintain tolong untuk buang itu kecoa hih. Sebel banget liat kecoa NGGAK SUKAAAA. Tetep nggak suka liat kucing sih tapi sebel liat kecoa.

⏰ Telat

Duh ini bukan sombong ya tapi saya bisa mules banget kalau janjian meeting terus telat. Apalagi kalau alesannya macet. Mau nangis rasanya karena ya namanya Jakarta YA MACET LAH! MASA TELAT GARA-GARA MACET!

Jadi saya mending dateng kecepetan sejam daripada telat, nggak kuat sama gelisahnya. Nggak kuat menghadapi diri sendiri. Nggak kuat harus mikirin bikin alesan ke orang lain.

Meskipun kadang orang yang diajak meeting udah maklum banget kalau dateng meeting telat di Jakarta. Tapi kan nggak mau jadi bagian dari stereotype orang Indonesia suka telat. Hah sebal. Mikirinnya aja saya mules. T______T

Saya juga sebel soalnya kalau orang dateng meetingnya telat. Apalagi kalau seharian back to back meeting gitu, satu telat ya semua telat lah plis deh.

Saya maklum kalau yang telat orang bule gitu yang ke Jakarta cuma buat meeting. Kasihan lah itu mah. Mereka suka nggak nyangka traffic Jakarta 5 kilometer aja harus pergi 1,5 jam sebelum hehe. Pukpuk.

...

Takut apalagi ya?

...

🎡 Kicir-kicir Dufan

Ya ampun aku anaknya nggak butuh tantangan banget. Kicir-kicir itu yang kita duduk terus diputer, bersama teman sebelah kita yang diputer ke arah lain, plus sama temen segrup kita yang diputer juga ke arah lain astaga.

Mending Tornado atau Hysteria aja saya mah. Pernah udah ngantri panjang-panjang di Kicir-kicir Dufan itu terus menjelang deket saya kabur HAHAHAHAHA

Nyelonong ke bawah pager dan kabur karena mau muntah mikirinnya juga.

Eh btw makin tua makin horor nggak sih naik-naikan gitu? Dulu pas kuliah saya sering ke Dufan sama temen-temen hari kerja gitu biar sepi. Itu naik Halilintar bolak-balik sambil lempeng aja nggak ada takut-takutnya. Naik Kora-kora sambil foto-foto.

Terakhir ke sana saya lemes lah nggak sanggup naik apa-apa HAHAHAHA. Ini kasusnya sama kaya film brutal. Dulu saya nonton film model Inglorious Bastard atau Blood Diamond itu lempeng aja loh meskipun darah muncrat-muncrat. Makin tua makin nggak sanggup.

Kemarin nonton Wolverine aja banyak tutup matanya. Kenapa makin nggak tega yah duh.

😭 JG dan Bebe ke toko mainan

DISASTER. ENOUGH SAID

❌ Diunfollow orang

HAHAHAHAHA MAKANYA FOLLOW DONG GENGS!

Saya blogging pendek lho di IG @annisast. Follow dong plis. Pusing kenapa blog ini pembacanya hampir 200ribu tiap bulan tapi yang follow IG cuma 2ribuan hih sedih.

Follow yaaa! Kalau emang nggak suka atau annoyed sama postingan saya juga nggak apa-apa sih unfollow. Tapi coba follow dulu laahhh 😂

Udah ah mau berenang dulu. Bye!

-ast-





LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Sudah Tidak Nenen, Tidurnya Gimana?

on
Wednesday, May 24, 2017

Ini pertanyaan banget nggak sih untuk kalian semua ibu-ibu dengan toddler yang masih nenen? Kan biasanya kalau mau tidur nenen dulu sih sampai ketiduran, nah kalau udah nggak nenen tidurnya gimana?

Problematika saya banget loh ini, saya punya ketakutan Bebe susah tidur kalau berhenti nenen. Kalau Bebe susah tidur nanti saya susah tidur juga, besok kerja gimanaaa? Jadi ya udah lah nggak usah berhenti nenen hahaha.

🍼 Intinya adalah proses, gengs ...

Proses itu ternyata penting! Proses menyapih itu bukan hanya anak yang berhenti menyusu tapi ibu juga berhenti menyusui. Jadi prosesnya sebenernya dua arah banget, ibu harus sudah siap, anak juga harus sudah siap.

Ketika saya merasa sudah siap, pertanyaan "tidurnya gimana?" itu jadi bukan masalah lagi. Tiba-tiba nggak peduli gitu malah nggak kepikiran sama sekali.

Jadi gimana cara tidur setelah anak berhenti menyusu?

Tiga hari pertama Bebe guling-guling nggak jelas, kaki nendang sana sini. Dia masih keukeuh pada pendirian "Salo nggak tahu caranya tidur". Akhirnya saya atau JG pelototin, suara tegas tapi tidak marah "ayo sekarang Xylo merem! Kaki diam, jangan tendang-tendang!"

Di hari pertama dia pundung digituin. Dia tutup muka terus nyungsep ke bantal, eh nggak nyampe 5 menit tangannya yang nutup muka merosot. Tidur deh.

Sekarang juga masih begitu. Dan si Bebe nggak akan bisa tidur kalau saya atau JG masih bangun. Jadi emang tidur sama-sama banget. Kalau saya pura-pura tidur, pasti ketauan. Jadi ya udah tidur sama-samalah.

Ya banyak sih ya teori parenting soal tips agar anak gampang tidur. Tapi gimana, mandi air anget udah, kenyang udah, capek udah, lampu mati malah ngamuk. Seperti biasa, teori parenting itu cukup dibaca, penerapannya ya tanyakan hati nurani HAHAHAHA.

🍼 Kalau tidur siang ... 

Ini susah banget asliii. Tapi karena Bebe tidur siang di rumah cuma saat weekend jadi ya kadang ya udalah skip aja tidur siang. Karena nggak bisa banget, kecuali ya tidur sama-sama. Tapi kadang kan kita-kita yang orang dewasa ini nggak mau bobo siang ya.

Justru kalau main ke mall baru tidurnya gampang. Karena dia akan lari-lari sampai capek baru kemudian duduk di stroller dan bobo. Atau minimal di mobil dia akan ketiduran.

Ini kenapa saya juga bingung. Kalau di daycare itu jadwalnya pasti sih ya, jam sekian dia akan diseka, ganti baju, taro di tempat tidurnya, diselimutin, dan dia tidur sendiri. Di rumah mah bye aja, nggak bisa pake ritual gitu.

Terus yah, nggak ada juga romantisme pelukan atau baca buku sebelum tidur baahhh yang ada lari-lari dia. Lompat-lompat terus. Ibu pusing. T_________T Kadang terjadi sih dia sweet meluk-meluk sambil baca buku, tapi persentase dibanding lompat-lompat itu cuma 10% nya romantis lol.

Jadi kalau saya ditanya gimana tips nidurin anak, saya nggak tahu banget. Saya juga failed banget di bidang ini *alah*. Cuma ya, ketakutan anak susah tidur setelah berhenti nenen itu nggak terjadi-terjadi amat kok di Bebe.

Dia nggak susah tidur sampai jam 2 pagi banget gitu misalnya. Jam tidurnya nggak berubah sih thank God.

Nenen adalah salah satu cara yang bikin dia nyaman jadi KAYANYA loh ya, asal anak nyaman, anak akan cari tahu sendiri caranya tidur.

Ya tapi syaratnya mungkin harus anak yang memutuskan sendiri untuk berhenti nenen. Jadi dia sadar benar dia harus berusaha tidur sendiri dan berusaha console diri sendiri kalau lagi sedih. Dulu kan kalau sedih nyot aja langsung nenen.

INI NULIS APA SIH YAAAA. Muter-muter nggak jelas maunya apa, ini dalam rangka mendisiplinkan diri untuk nulis aja sih. NGGAK APA-APA YAAAA. HAHAHAHA.

Anyway selamat liburan besookkk! :*

-ast-





LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Kepercayaan Diri dan Remah-remah Dunia

on
Monday, May 22, 2017

Yang kenal baik sama saya pasti tau persis kalau saya orangnya pede banget sedunia. Jarang banget ngerasa rendah diri. JARANG loh ya catet, bukannya nggak pernah.

Kalau di circle blogger, dulu saya suka sebel sama yang bilang "da aku mah apa atuh cuma remah-remah blablabla" alias merendahkan diri dan nunjukkin ketidakpercayaan dirinya. Dulu saya sebel karena come on kalau terus menganggap diri remah, kapan mau majunya? Kapan bisa jadi main course-nya? -_____-

Atau ada tipe orang yang lebih baik sesat di jalan karena malu bertanya. WHY? Itu selalu saya pertanyakan. Kenapa mesti malu sih? Kenapa nggak punya kepercayaan diri untuk sekadar nanya sesuatu yang kita nggak tau jawabannya?

Tapi kemudian saya juga ternyata bisa ada di posisi mereka. Ada di posisi di mana saya "kok gue gini doang sih? Kok orang bisa kaya gitu sih?" Dan momen itu bukan momen penyemangat melainkan momen "ah sh*t lah gue nggak bakal mampu kaya dia".

Dan itu menyebalkan.

T_______T

Ini diperparah karena saya orangnya kompetitif banget. Misal saya bisa kesel kagum kalau liat orang seumuran saya yang kerja di New York Times. Ya padahal emang orang Amerika, lahir sampai kuliah di Amerika, ya wajar atuh kan kerja di New York Times masa mau kerja di media lokal Indonesia ya nggak?

Dan akhirnya saya sadar kalau masalah merasa remah ini adalah masalah inferiority. Di kasus saya, semakin sering bertemu atau berinteraksi dengan orang yang saya anggap hebat, maka saya merasa semakin inferior. Dan saya sadar ini tidak baik
Inferiority complex: an unrealistic feeling of general inadequacy caused by actual or supposed inferiority in one sphere, sometimes marked by aggressive behavior in compensation.

Inferiority seperti ini menimbulkan perasaan "if only" alias "coba kalau". Coba kalau ngotot dulu kuliah di Amerika, mungkin sekarang udah jadi editor di New York Times. "Coba kalau" semacam ini bikin stres dan nggak menyelesaikan masalah!

Karena pemikiran berikutnya adalah "ya nggak bisa kuliah di Amerika juga sih orang kurang pinter begini". Kemudian jadi merutuki diri kok kurang pinter sih, apa saya kurang belajar pas sekolah, perasaan udah belajar terus tapi kok nggak sanggup sih kuliah di Amerika. Blablabla. Padahal ngomel itu nggak mengubah hidup.

Sebenernya kalau lagi waras sih saya sadar benar kenapa harus "coba kalau" toh sekarang hidup saya juga nggak susah. Setelah itu saya mau tidak mau harus compare dengan orang lain yang kehidupannya di bawah saya. Dari situ biasanya saya merasa lebih baik karena masih banyak orang yang secara level pendidikan setara dengan saya, tapi kehidupannya nggak seperti kehidupan saya.

👉  Baca juga: Kecantikan dan Perempuan Kedua

Juga yang harus diingat dan saya pikirin banget: kalau terus menerus mengejar standar orang lain, kapan puasnya?

Si A keren banget sih kerja di Google --> apakah jika saya kerja di Google saya akan puas? Atau tetap merasa inferior dengan orang-orang yang kerja di Apple?

Si B kok bisa sih nulis di Huffington Post! --> apakah jika tulisan saya dimuat di Huffington Post, saya akan berhenti merasa inferior pada si B?

Belum tentu kan! Inferiority hanya membuat kita ingin jadi orang lain!

Which is fine sih ya di level tertentu, terutama di level bikin semangat melakukan segala sesuatu. Tapi kalau udah bikin sedih, bikin murung, bikin kepikiran, mungkin saatnya cari bantuan profesional atau minimal cari orang yang bisa diajak bicara dan mengembalikan kepercayaan diri.

Perlu diteliti juga apakah "if only" nya masuk akal? Yang udah gawat itu yang begini "coba kalau dulu nikahnya sama anaknya si A, pasti bisa maternity photoshoot tiap minggu pake fotografer profesional" atau "coba kalau tinggian dikit udah jadi model pasti ah elah". Itu "if only" yang nggak bisa diterima! Hentikan sekarang juga! Jangan terus dipikirin!

Caranya mungkin bisa dengan cari tahu kita jago di bidang apa terus pelajari hal itu sampai jago banget dan bikin kita bangga. Kalau udah bangga sama diri sendiri, pasti inferioritynya berkurang deh. Pasti lebih percaya diri dan nggak lagi menganggap diri sendiri sebagai remahan di dunia.

Tapi ini cuma berlaku untuk orang-orang ambisius ya. Kan banyak juga tuh orang yang lempeng-lempeng aja, nggak ngerasa inferior dan juga nggak ngerasa harus melakukan sesuatu yang lebih hahaha. Nggak apa-apa, santai, yang penting bahagia. Kalian tetap bukan remah kok. 😂

Dan kecuali kalau urusannya uang. Karena kalau udah urusan uang mah udah di luar kehendak banget lah. Masa mau inferior sama keluarga Trump karena mereka lebih kaya. Urusan uang dari turunan keluarga mah lekatnya sama syukur aja, bukan yang lain. :)

👉 Baca: Tentang Berpikir Positif)

Nah kalau saya kan suka ngerasa inferior sama orang pintar, kalau JG selalu merasa inferior dengan orang yang gajinya lebih gede. Inferior karena merasa kurang skill hahahaha. Nggak sekali dua kali nelepon saya siang-siang cuma mau bilang.

"Sayang si A gajinya xx puluh juta masa. Kok aku gini-gini aja ya?"

Jawabannya bisa dua:

1. Udah rezekinya 💅

2. Kita nggak tahu kerja keras dia kaya apa. Jujur apa nggak ya urusan dia, tapi intinya kita nggak tau effort apa yang dia keluarin demi kerjaan dengan gaji gede. Kalau ternyata zero effort? Kembali ke poin nomor satu lol. 🙌

Dan saya juga jadi terbiasa melihat "alasan" di balik sesuatu. Misal temen-temen yang liburan terus ternyata keluarganya kaya, yang nggak kaya ternyata hidupnya irit banget. Atau temen-temen yang gajinya gede ternyata kerjanya stand by 24 jam. Yang mana kalau kita lakukan mah nggak mungkin karena males banget astaga hahaha

Atau harus irit seirit apapun, tak mampu juga kan. Jadi ya, kuncinya (kayanya) jalani hidup dengan gembira. Lakukan hal-hal yang bikin bahagia. Sadari bahwa kebahagiaan tidak hanya diukur dari kapasitas otak atau jumlah uang di tabungan.

And one thing: stop the 'if only'! *ngomong sama diri sendiri*

Ngerasa inferior atau punya teman yang punya masalah inferior? Share dan tag temennya ya! XD

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Why I Love Jakarta | #SassyThurday ft #GesiWindiTalk

on
Wednesday, May 17, 2017
OH HOW WE LOVE JAKARTA! By we I mean me and JG, dunno about Bebe because well, he's a baby ah gimana sih elah ginian harus dibahas.



Oke jadi #SassyThursday minggu ini collab lagi sama #GesiWindiTalk because why not duh. Tema datang dari Nahla yang sungguh kreatif yaitu tentang mengapa kami begitu cinta kota masing-masing sampai nggak mau pindah satu sama lain! Bahkan saya nggak mau pindah ke Tangerang atau BSD meskipun tau persis di sana enak. Ya tapi enak kalau kerja dan segala-galanya di Tangerang/BSD juga yekaannn.

Baca punya mereka, siapa tau jadi pengen jalan-jalan ke sana!
Windi Teguh: Why I Love Medan
Grace Melia: Why I Love Jogja
Mevlied Nahla: BSD, Tangsel, dan Segepok Kenangan


Tadinya saya agak ragu gitu, mau Bandung apa Jakarta ya? Ya cinta sih sama Bandung tapi yaiyalah, Bandung kan hometown. Yang namanya kampung halaman mah selalu dirindukan ya nggak? Karena terlalu banyak kenangan dan keluarga besar di sana semua. Plus keluarga mertua juga, ya pasti sayang lah sama Bandung.

Tapi kan kadang harus ninggalin yang disayang demi sesuatu yang bisa lebih sayang sama diri kita sendiri kaaan. ASIK.

Jakarta kayanya sayang banget sama saya HUHUHUHUHU. Level mellownya udah setara sama waktu ninggalin Bandung ini kalau harus ninggalin Jakarta.

Karena di Jakarta, aku terperosok cinta.
Karena di Jakarta, cinta memilihku dengan nyata.
#eaaa jangan pada close tab ya lol 😂

(Itu juga kutipan dari puisi cinta masa lalu gengs, kolab kami sebelum ini. KLIK DAN BACA YAAAA)

Duh gue galau bikin list nggak ya hahaha. Bikin aja kali ya.

🏣 Jakarta Kota Mimpi 🚀

Itu benar. Itu tidak cheesy atau klasik, itu benar. Masih benar, minimal buat saya sendiri. Gimana nggak, saya pindah ke Jakarta karena satu twit!

Dari satu twit yang kemudian bawa saya ketemu banyak banget artis Korea, wawancara banyak sekali artis Korea, nonton konser gratis. Mimpi jadi nyata banget karena pada saat itu, saya lagi suka Korea banget!

Oke saya nggak tergila-gila sih ya kaya orang-orang sampai nabung atau apa, tapi saya lagi suka Korea banget dan Jakarta mewujudkan mimpi itu. Siapa yang kepikiran sih bisa ngobrol face to face sama Lee Min Ho kalau nggak pindah ke Jakarta? Dirangkul Lee Seunggi? Ngobrol sama Siwon? Bigbang? Super Junior? Infinite? YOU NAME IT.

Hampir semua artis Korea yang ngetop pada zaman itu saya temui semua FOR FREE cuma karena satu keputusan pindah ke Jakarta. Dan mimpi itu berlanjut pada mimpi berikutnya yaitu bikin buku di GagasMedia.

Yes, mimpi gue pas SMA/kuliah se-spesifik itu "mau nulis buku diterbitin GagasMedia". Dan itu terjadi karena saya pindah ke Jakarta. Plis yang suka Korea dan mau beli bukunya masih ada di Tokopedia atau BukaLapak.

(Cerita lengkap bisa dibaca di sini: Keputusan yang Mengubah Hidup, Pindah ke Jakarta)

🏣 Jakarta Tidak Pernah Sepi 🚀

Bagi orang ekstrovert kaya saya, Jakarta itu menyenangkan sekali! Di Bandung jam 9 malem aja sepi banget, di Jakarta saya nggak takut berdiri di pinggir jalan jam 12 malem pulang liputan nunggu taksi. Oh wow aku sungguh pemberani.

Zaman belum nikah, bisa nongkrong lama-lama sampai pagi, banyak temen, banyak makanan, sinyal selalu bagus, ah aku cinta. Gimana ceritanya coba jam 11 malem Semanggi masih macet. 😂😂😂

Di Bandung jam 8 malem aja saya suka udah horor sendiri pulangnya hahahahaha. Tapi yah, untuk ukuran saya yang nggak punya kecerdasan naturalis alias nggak peduli nggak nginjek tanah atau liat sawah, Jakarta is heaven! 🌠

🏣 Jakarta Sumber Suara 🚀

"Kepada ibu Annisa ditunggu di sumber suara"

Lawas nggak sih, apa event zaman sekarang masih ada yang menyebut area pengaturan sound system itu sebagai "sumber suara"? 😂😂😂

Intinya Jakarta adalah sumber suara, pusat segalanya. Banyak event, banyak acara, banyak brand, banyak diskon. Jadinya banyak pilihan! Iya dari milih makanan, milih baju, sampai pilihan serius macam kerja di mana atau sekolah di mana.

Ya maklum ya ibukota. Sekolah dari yang bobrok sampai yang uang tahunannya setara harga satu rumah juga ada. Begitu pula dengan kerjaan, dari yang cuma malak di stasiun sampai gaji sebulan ratusan juta.

Dihadapkan dengan pilihan sebanyak itu kita jadi apa?

JADI SEMANGAT! 💪🏻

🏣 Jakarta Penyemangat Hidup 🚀

Ini adalah sumber kemellowan di posting-posting dengan tag Tentang Hidup. Ya gimana nggak mellow sih, liat ibu-ibu luntang-lantung di pinggir jalan bawa bayi sementara di jalan mobil-mobil yang lewat harganya miliaran.

Kesenjangan sosial itu nyata adanya dan terjadi di depan mata! Kadang sedih tapi semoga bisa jadi semangat dan sumber syukur ya.

Ya persis caption IG saya beberapa minggu lalu. Tentang gimana daerah rumah saya itu berdempetan banget rumah-rumah mewah yang garasinya seukuran kontrakan saya, sementara di belakangnya rumah-rumah petak yang bahkan nggak punya teras.

Tanpa hidup di Jakarta mungkin cita-cita saya nggak akan setinggi ini. Di Jakarta saya dan JG ketemu banyak sekali orang hebat, orang hebat yang kadang bikin minder tapi tanpa disadari bikin kami jadi menggantung mimpi lebih tinggi.

Juga ...

Kami senang di Jakarta karena jauh dari orangtua HAHAHAHAHAHAHAHA

Jauh tapi nggak jauh-jauh amat jadi bisa pulang kapan aja termasuk weekend. Cuma ya, kami enjoy tinggal nggak terlalu dekat dengan orangtua karena jadi bisa ambil semua keputusan sendiri. Apalagi urusan Bebe.

Plus ...

Kami nggak tau mau kerja apa di Bandung. 😭😭😭

Really, kemarin JG sempet mau pindah ke kantor Bandung tapi kok ya tampak jenjang karier jadi lebih sulit ah sudahlah. Apalagi saya, nggak bakal dapet gaji yang sama lah kalau kerja di Bandung mah. 😭

(Baca: Tips Survive di Jakarta No Nanny No ART untuk Ibu Bekerja)

Sementara cita-cita dan gaya hidup sudah begini. Karena hal tersulit bukan naikin gaya hidup, tapi nuruninnya. 😔

🚓🚕🚗 TAPI JAKARTA MACET! 🚙🚚🚓

Memang iya weee. Percaya nggak sih saya sama JG itu jarang sekali mengeluhkan macet Jakarta? Kami berdamai sekali dengan kemacetan ini.

Padahal radius kantor saya, kantor JG, dan rumah kalau dari daycare itu nggak sampai 10 km. 5 km lah, rata-rata ditempuh dengan 1,5 jam perjalanan kalau lagi waras.

Kalau lagi nggak waras, kantor JG - daycare aja yang hanya 2,5 km bisa ditempuh dalam waktu? EMPAT JAM. HAHAHAHAHAHAHA.

Tapi kan banyak solusi juga, ya nggak perlu bawa mobil kan bisa naik ojek. Jadi mobil taro di daycare, ke kantor JG pake ojek atau kadang pake sepeda. Aman terkendali kok, survive kok hahahaha.

Terus orang suka nanya: kenapa nggak motoran aja sih biar nggak macet? Kan deket juga.

Ah motoran juga macet di Jakarta mah lol. Malah lebih capek jatohnya karena naik motor, macet, keringetan. Beda setengah jam doang sih mending macet dan naik mobil, at least duduk nyaman. nggak keringetan, ngobrol enak, bisa sambil denger radio ketawa-tawa, Bebe bisa bobo dengan nyaman.

Kalau udah begitu masa mau ngeluhin macet lagi?

*

Tapi yah, harus diakui kadang bosan juga di Jakarta hahahahahaha. Bosan karena ya namanya manusia, pasti ingin lebih kan. Maunya sih JG kerja di Singapur gitu, saya di rumah aja blogging dan YouTube-an lol.

Juga urusan Pilkada DKI yang makin mengukuhkan kalau Indonesia nggak layak huni, ingin pindah ke luar negeri aja. Huhu. Ingin ingin doang tapi usaha nggak. Argh.

Jadi yah, itu alasan saya 6 tahun betah di Jakarta dan JG 9 tahun (apa 10 tahun ya). Kalau kalian? Senangkah di kota tempat tinggal sekarang? Kenapa?

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Tentang Drama Kehidupan

on
Tuesday, May 16, 2017
Kenapa ya saya anaknya suka overthinking sama segala sesuatu. Apalagi untuk urusan hierarki antara status sosial, jabatan di kantor, sama peran di rumah. Saya suka kepikiran banget!


Misal gini, ada cleaning service di kantor yang pendieeemmm banget. Pendiem terus sopan banget gitu, kalau jalan selalu nunduk. Ya saya maklum mungkin dia merasa bukan siapa-siapa, level terendah di kantor lah kasarnya. Jadi dia nunduk entah karena memang minder atau memang merasa harus sopan.

Suatu hari saya ajak ngobrol, dengan malu-malu dan tetap nunduk (mungkin menjaga pandangan yhaaa) dia jawab anaknya dua. Satu udah kelas 5 apa 6 SD gitu, satu lagi masih umur 2 tahun. Dan saya langsung tettoottt! kepikiran banget.

Kepikiran banget karena berarti meski di kantor dia nunduk dan minder gitu, dia di rumah adalah kepala keluarga dengan anak yang mau remaja. Apa dia di rumah tegas sama istrinya? Apa dia di rumah galak sama anaknya? Apa dia di rumah juga pendiem?

AKU ... KEPO.

T________T

Inget juga kemarin makan di Shaburi terus mbak waitressnya nyapa Bebe dan tiba-tiba cerita kalau anaknya dia juga umur 2 tahun dan suka Cars kaya sepatu Bebe. Dia cerita dengan sangat excited dan saya mendadak mellow karena dengan demikian dia adalah ibu bekerja. Mungkin di sela-sela kerjaan dulu dia harus pumping juga sama kaya saya. Mungkin juga dia sama sedang mikirin ulang tahun anaknya mau dibikin kaya apa. Ah. :((((

(Baca: Orang-orang yang Bertahan Hidup)

Jadi inget juga cerita JG yang masa kecilnya dilalui dengan tinggal di gang sempit. Tetangga-tetangganya itu semua orang susah lah kasarnya. Mereka suka sewenang-wenang sama istri, teorinya JG karena mereka kerjanya rendahan banget, mereka jadi nggak punya suara di tempat kerja. Satu-satunya "kuasa" mereka ya sama istri, jadilah istrinya diperlakukan seenaknya.

Hiks.

Mau sedih juga nggak perlu sedih ya ini, namanya juga hidup. Tapi gimana ya, saya kepikiran betapa satu manusia itu punya peran yang beda-beda banget di berbagai lini kehidupan. Saya baru ngerti lagunya Nike Ardilla kalau dunia ini panggung sandiwara.

Di kantor dia adalah cleaning service yang minder, di rumah dia ayah yang tegas tapi sayang keluarga, di lingkungan rumah ternyata dia Pak RW dan terbiasa mimpin rapat RT, dan seterusnya.

Nggak usah susah-susah deh, waktu masih sekolah aja kerasa kan bedanya. Kita di sekolah sebagai ketua kelas tentu beda dengan kita di rumah yang anak bungsu. Kita di kampus yang serampangan dianggap anak bodoh, ternyata di rumah adalah kakak sulung tulang punggung keluarga.

Kepikiran kalau manusia sebenarnya memang hidup dengan beberapa topeng, mau pakai yang mana, mau lepas yang mana. Mau jadi saya yang mana.

Dan social media juga panggung lain lagi.

Di socmed dia ibu-ibu berisik garda depan pembela kebenaran, di rumah ternyata boro-boro berisik, ditanya pendapat sama suaminya aja nggak pernah. Di socmed dia ibu-ibu inspiratif banyak kegiatan positif bersama keluarga, di rumah dia ternyata depresi karena masalah dengan mertua.

Makanya jangan bingung sama orang-orang yang di socmed ributnya ya ampuuunnn. Pas ketemu hening krik krik. Atau sebaliknya, di socmed tampaknya hidup seru dan bahagia, pas ketemu kok ya orangnya banyak ngeluh. Ya maklum, itu topeng satunya lagi kan, topeng social media.

Lalu apa harus jadi orang yang sama di semua panggung biar dibilang apa adanya?

(Baca: Menjaga Perasaan Siapa Agar Tidak Dibilang Fake?)

Ya nggak juga sih. Nggak apa-apa kok punya banyak peran, punya banyak topeng. Saya nyaman berisik di socmed dan JUGA di dunia nyata. Saya nyaman bercerita pada kalian di blog ini seperti saya bercerita pada JG. Kalau kalian merasa tidak nyaman ya tidak apa-apa. Tidak berarti kalian palsu, kalian hanya sedang pakai topeng yang lain.

Yang jelas, harus diingat bahwa ini adalah topeng peran, bukan topeng kebohongan. Kalian yang berisik di socmed tapi pendiam di dunia nyata, nggak berarti kalian bohong kan?

Cuma inget-inget aja kalau lagi pengen ngomong kasar sama orang. Waitress itu mungkin teraniaya di rumah, satpam itu juga mungkin ayah-ayah yang lagi bingung bayar sekolah anak, abang angkot yang nyebelin itu mungkin sebatang kara. Yah, entah ini harus dipikirin apa nggak sih ya.

Ya gitulah. Auk nulis apa sih ini. Bye!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Weaning with Love: 2 Tahun 10 Bulan

on
Friday, May 12, 2017
Aih judulnya weaning with love, ala ibu-ibu masa kini banget ya lol. Padahal cara weaning with love benerannya aja nggak tau hahaha. Cuma tau kalau nyapihnya nggak dipaksa, nggak dibohongi, dan nunggu anak dan ibu siap.

Tadi jadinya baca-baca ternyata ada tahapannya ya. Dari tahap mengurangi nenen sampai dialihkan ke hal lain. Saya nggak melakukan itu HAHAHAHAHA. Tapi since saya juga nggak memaksa nyapih, nggak membohongi, dan nunggu Bebe benar-benar siap, ya masih masuk lah ya weaning with love. Hehehe.


Ya jadi saya emang nggak pake metode apa-apa untuk proses menyapih. Tapi justru itu, saya pengen share bahwa nggak perlu banyak tahapan juga bisa! Yang penting itu afirmasi aja dan kerelaan ibu, karena ya, saya cuma melakukan itu aja lol.

Sebenernya saya juga kaya ibu-ibu lain, mulai afirmasi harus berhenti nenen di umur 2 tahun itu sejak Bebe 18 bulan. Dulu bilangnya gini "nanti kalau sudah 20 bulan, Bebe nenen hanya di mobil dan di kamar ya". Maksudnya kalau di mall atau di tempat umum gitu nggak boleh. Apakah berhasil?

Tentu tidak. Hahaha. Awalnya iya, tapi lama-lama karena Bebe tentu tetep minta selain di kamar dan di mobil saya males nolak 💤💤💤.

Terus jelas nggak pake cara "habis tiup lilin berhenti nenen ya" karena waktu itu saya males rayain ulang tahun Bebe yang kedua hahahahaha. Sesat abis ibu yang satu ini, karena banyakan malesnya ya ampun.


Peer dari psikolog pas masuk 2 tahun tentu saja weaning. Saya iya-iya aja tapi nggak usaha. Sampai suatu hari ketemu sesama ibu-ibu di mall apa di mana gitu. Dia tanya umur Bebe dan saya jawab 2,5 tahun. Terus saya deg! sendiri gitu karena wow gila udah mau tiga tahun ini weaning sama toilet training apa kabar!

(Baca: Bebe dan Toilet Training)

Dari situ barulah dimulai afirmasi hampir setiap dia minta nenen saya bilang kalimat-kalimat begini. Hampir ya karena nggak selalu, tapi ya sering:

1. "Xylo sudah besar sekali badannya, wow kakinya panjang seperti kereta, tangannya sudah panjang dan kuat, jadi nanti berhenti nenen ya!"

2. "Menurut Xylo, J (nama temen daycare yang masih bayi) itu baby atau bukan? Baby kan, nah kalau seperti J itu baru masih nenen, Xylo seharusnya sudah tidak"

3. "Xylo nenen itu mau apa? Haus? Kalau anak besar haus itu minum air putih atau susu coklat"

4. "Xylo nenen biar dipeluk ya? Kalau berhenti nenen juga ibu tetap peluk Xylo kok"

Dan seterusnya. Ini juga dilakukan mbak-mbak daycare. Intinya mereka juga selalu bilang kalau Xylo bukan bayi jadi harusnya sudah tidak nenen.

Saya juga konsisten memanggil dia "baby, my baby" karena dia sebel dipanggil "baby" dan pasti membantah "SALO BUKAN BABY!" nah ketika dia bantah tinggal bilang "kalau bukan baby kok masih nenen". HAHAHAHAH. Nyebelin amat ya saya dipikir-pikir lol.

Itu saya lakukan 3-4 bulan terakhir lah. Sisanya blas nggak ngapa-ngapain. For some reason saya yakin Bebe nggak bisa pake cara kaya anak-anak lain karena anaknya keras kepala banget. Makin dipaksa makin nggak mau dia. Jadi memang bener-bener harus nunggu dia siap dan bersedia nggak nenen.

(Baca: Kronologi Hari Bebe Berhenti Nenen)

Misal saya atau mbak daycare bilang nenen itu malu tau kalau sudah besar. Jawabnya:

"Salo nenen di kamar aja ibu" kemudian dia nenen sambil tutup muka karena malu. -________-

Atau teori orang yang ngasih kopi di payudara biar anak jijik karena kotor. Saya pernah tuh, kebetulan saya pake baju item terus nempel kaya serbuk-serbuk kain gitu di dada.

"Ibu cuci dulu itu kotor" kemudian dia nunggu saya bersiin dengan sabar dan nenen lagi. -________-

Terus dibilang nenennya habis karena sudah besar.

"Sekarang habis nanti ada lagi" BENER KAN? Nenen emang sekarang kosong nanti ada lagi. -_______-

Terus dia suka coba sedot dulu, pas keluar dia bilang "Tuh, ada kan ibu? Masih ada ibu, belum habis" Yaelaaahhh.

Nggak dibukain baju? Ya buka sendiri. Nggak dikasih? Ya ngamuk. Sekalinya nggak dikasih dan nggak ngamuk itu ya itu kemarin pas hari terakhir dia nenen. Mungkin udah nggak mau ah hahahaha.

Paling sebel kalau alasannya "Salo belum tahu caranya tidur". 🙅🙅🙅

DIA TAU. DIA TAU BANGET CARANYA TIDUR TANPA NENEN. Kan di daycare tiap siang aja tidur sendiri tanpa nenen ahelaaahhh 💤💤💤.

Dan ya buktinya setelah hari dia berhenti nenen, dia cuma susah tidur 2-3 hari lah. Berikutnya tidur aja biasa. Ini harus ada yang bikin tips nidurin toddler nggak sih soalnya astaga metode saya adalah melototin dia sampai dia ketiduran. -________-

Ya intinya weaning akan lebih gampang kalau ibunya siap dan anaknya siap. Nggak perlu dipaksa tapi tetap harus diniatkan. Meski kaya saya niat tanpa punya deadline. Yang penting kan niat. Hahaha.

Soalnya saya nggak sanggup banget kaya orang-orang mengurangi frekuensi nenen. Malah bikin berantem dan dia rewel. Capek, nggak kuat, tolong aku tidak perlu cobaan lain, aku tidak suka tantangan lol.

Jadi buat ibu-ibu yang anaknya udah lewat 2 tahun dan belum ada tanda-tanda akan berhenti nenen, sabarlah! Waktu Bebe 2 tahun juga saya nggak kebayang sama sekali weaning bisa semudah ini. *SOMBONG* HAHAHAHA

Ingatlah bahwa nenen atau tidak nenen adalah urusan kita dan anak kita. Bukan urusan orang jadi tutup kuping aja sama orang yang bilang "KOK MASIH NENEN?" atau "NANTI MANJA LOH" yeee bodo amat. Anak yang berhenti nenen pas 2 tahun emang dijamin nggak manja? Yang nggak nenen sejak bayi? Kan nggak juga. Seneng amat ngehubung-hubungin, kamu bukan biro jodoh apalagi menteri perhubungan. *MULAAAIII*

Udah ah! Sampai jumpa bra menyusui! Sampai jumpa ruang menyusui Kokas yang terbaik se-mall Jakarta!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Akhirnya Bebe Menyapih Dirinya Sendiri

on
Wednesday, May 10, 2017
Iya gengs, finally. :')


Kalau yang ngikutin cerita menyusui Bebe, pasti tau ya kalau saya nggak rela nyapih Bebe. Saya yang nggak rela berujung pada ya Bebe nenen terus nggak berhenti. Tapi bener kan yang saya bilang dulu kalau hidup akan menemukan jalannya sendiri karena Bebe tiba-tiba berhenti nenen minggu lalu. Tanpa niat apapun dari saya. YASSSS! So much win! I'm so proud of myself! XD

Di postingan ini To Wean or Not to Wean ini saya cerita kan gimana Bebe sudah mengurangi nenen. Itu sebentar doang HAHAHAHA. Beberapa bulan terakhir malah minta nenen terus duh. Apalagi kemarin-kemarin banyak long weekend, manja luar biasa dan berakhir kalau mati gaya ya nenen.

Oke karena ini akan panjang, saya akan bagi beberapa subjudul *ah elah udah kaya skripsi* Maaf ya panjang, ini penting soalnya kalau nggak ditulis saya akan lupa nanti nggak ada kenangannya HAHAHA.

👶 Capek nenenin Bebe 🍼

Jadi sejujurnya beberapa bulan terakhir emang saya beneran lelah nenenin Bebe. Pertama karena dia berat banget, tangan saya bisa kaku parah kalau nenenin sambil duduk. Nenenin sambil tiduran juga nggak mau diem, bisa bolak-balik di kanan terus ke kiri, dengan puting sebagai poros. Ya ampun capeknyaaa.

Kedua karena dia makin nggak tau waktu, kapan pun dia mau dia minta nenen, bukan lagi cuma mau tidur kaya pas umur 2 tahun. Kalau di mall gitu masih nenen sambil digendong Ergo kan berat ya. Juga saya makin panik karena gawat, makin jauh ke weaning hahahaha.

Akhirnya selama beberapa bulan itu juga saya selalu sounding sama dia, "Xylo sudah besar, harusnya sudah tidak nenen loh" atau "wah memangnya Xylo baby ya masih nenen?" dan "kalau Xylo sudah tidak nenen ibu masih mau peluk-peluk Xylo kok" terus-terusan kaya gitu. Tapi tetep saya kasih juga, nggak saya larang sama sekali. Dan pada saat itu, saya juga masih nggak tau kapan urusan pernenenan ini akan berakhir. Huhu.

Karena saya nggak pasang target atau apa, cuma ya hati ini udah teguh pendirian bahwa sudah merasa cukup menyusui Bebe. Saya siap kalau udah harus weaning. Tapi caranya gimana itu masih belum tau. Ya udah masih santai.

Kalau ada orang nanya "kok masih nenen sih?" saya masih jawab dengan "ya nggak apa-apalah, emang pernah liat anak SD nenen?" lol

(Baca: Menyusui Seperti Orang Mongolia, Orang Dewasa Masih Nenen Lho!)

👶 Bra menyusui 🍼

Di sisi lain, bra menyusui saya udah lecek dekil banget semua. Saya mulai pake bra biasa dan tring! langsung merasa muda HAHAHAHA. Abis selama ini menatap tetek sendiri kok ya begini amat, ternyata bra menyusui nenek-nenek itu pengaruh banget ya sama bentuknya lol tmi sorry not sorry. XD

Ini sedikit banyak ngaruh sama kenyamanan Bebe nenen karena biasanya dia nenen sambil pegang strap bra penutupnya itu. Ketika pake bra biasa, dia bingung dan agak sedih gitu karena kehilangan “pegangan”, literally. Akhirnya saya bilangin baik-baik.

Saya: “Xylo, beha ibu yang itu udah jelek semua, jadi biar ya pake yang ini?”
Dia: “Beli lagi dong ibu”
Saya: “Iya nanti kita coba cari ya”

Kebohongan terbesar abad ini karena ya saya nggak niat beli apalagi nyoba nyari HAHAHAHA

👶 Ulang tahun 🍼

Bulan depan Bebe akan pas 3 tahun, kebetulan ada temen daycare-nya yang baru ulang tahun juga dan baru ngerti konsep ulang tahun. Ada kue, bawa kado, bawa balon, dll. Saya tanya apa dia mau ulang tahun dan tiup lilin? Tapi berhenti nenen ya?

Jawabnya “Salo nggak mau ulang tahun, Salo mau nenen aja”

Ok saya nggak maksa. Tapi pas weekend lalu di Bandung itu, tiba-tiba dia bilang gini “ibu, kue ulang tahun mcqueen ada?”

Jadilah sambil nenen kami browsing Pinterest dan YouTube liat anak-anak yang ulang tahun dengan tema Cars. Saya masih tanya sekali lagi, jadi mau ulang tahun atau mau nenen? Jawabnya masih nenen dong. Nenen is lyfe.

(Baca: Drama Berikutnya adalah Toilet Training)

👶 Penolakan pertama 🍼

... dan terakhir. HUAAAAA.

Intinya long weekend itu saya capek banget! Bebe juga capek kali kan karena dua minggu berturut-turut ke Bandung terus karena ada lamaran keluarga. Mana manja luar biasa, capek lah, mending kerja saya mah daripada harus long weekend terus-terusan. Bokek iya, capek iya. T________T

Di mobil on the way ke Jakarta, masih di Bandung belum masuk tol pun, Bebe minta nenen dan saya tolak. Nolaknya nggak becanda, beneran saya tepis tangan dia yang mau buka baju saya. Dia nangis sedih sesenggukan. Saya diemin aja cuek seolah nggak ada apa-apa. Saya bilangin singkat "sudah ya tidak perlu nenen karena sudah besar".

Nggak sampai 5 menit kemudian dia meluk dan ketiduran, tanpa nenen wow sungguh prestasi. Waktu itu saya nggak nyangka sama sekali kalau dia udah nggak akan minta nenen lagi. :')

Dan ya, sampai sekarang dia nggak minta nenen lagi. Sama sekali. Udah hampir 2 minggu lah. Kaya tiba-tiba berhenti aja gitu dia nggak mau lagi. Aku happy sekaligus mellow banget meluk-melukin Bebe terus. HUHUHUHUHU.

*

(Baca: Manajemen ASI Perah untuk Ibu Bekerja, Nggak Kejar Tayang!)

Besoknya di daycare dia sombong ke mbak-mbak daycare kalau udah nggak nenen sekarang. Karena sudah besar, sudah bukan baby. Sotoy ya gemes HAHAHAHA.

Begitulah cerita Bebe yang akhirnya menyapih dirinya sendiri. Nggak bisa tidur masih lah tapi so far so good, nggak minta sama sekali! Cuma kemarin sekali dia lupa kali mau angkat baju saya terus kaya keinget gitu terus minta susu. Anakku besaarrr aku nervous harus bayar sekolah nyahahahaha.

Satu hal yang saya syukuri, saya tidak mengganti nenen dengan hal lain jadi tidak akan menimbulkan masalah ketergantungan baru. Kan suka ada ya yang berhenti nenen tapi boleh pegang beha ibu, jadinya nggak ada beha tetep cranky. Saya juga bersyukur karena tidak perlu pait-pait atau apalah yang bikin dia terpaksa berhenti.

Karena sejak awal saya percaya, dia akan berhenti ketika saya dan dia siap untuk berhenti. :'))))

Btw pas ditanya "Xylo kok berhenti nenen sih?"

Dia: "Salo sudah besar, Salo mau happy birthday to you (nyanyi)"

JADILAH! Saya nyiapin pesta ulang tahun di daycare hahaha. Nggak pesta amat sih cuma potong kue doang sama hampers. Basa-basi aja karena nanggung ngasih pilihan mau ulang tahun apa mau nenen hahahaha.

*

Minggu depan mau cerita ah kenapa saya nggak tergoda weaning di umur 2 tahun pas kaya orang-orang dan gimana perjalanannya. Ditunggu yaaaa! LUV! :*

-ast-

Baca awal-awal perjuangan ngasi di sini:
Tentang 6 Bulan Ng-ASI 
Tentang Menyusui Bebe 




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Untuk Kalian, Ibu-ibu yang Baru Saja Melahirkan Anak Pertama

on
Tuesday, May 9, 2017

Ini untuk kalian yang saat ini mungkin masih berada di bidan atau rumah sakit. Dengan luka di vagina yang membuat khawatir untuk ke kamar kecil apalagi untuk buang air besar. Atau dengan luka di perut yang berdenyut. Sama saja. Tidak apa. :)

Lihat ke sebelah kalian, ada manusia kecil tidak berdaya. Tubuhnya ringkih, jari-jarinya tak lebih panjang dari satu ruas jari kita. Ia memakai baju yang kita belikan berlusin-lusin. Setumpuk baju kecil yang dicuci dan disetrika dengan senang hati.

Si bayi kemudian terbangun. Matanya belum bisa membuka sepenuhnya. Pandangannya masih blur, mencoba memahami dunia.

Pelan-pelan saja, anakku sayang. Dunia akan menunggu. Menunggu kamu cukup waktu untuk mengerti kejamnya sindiran teman-teman ibu dan teman-teman nenekmu tentang segala tetek bengek pengasuhanmu.

*

(Baca: Dear, Working Mom)

Cobaan pertama sebagai ibu dimulai. Air susu yang diharapkan banjir mengalir usai melahirkan belum juga keluar. Baru hari pertama dan perawat yang tidak bersahabat malah memaksa memberi susu formula. Ibu dan mertua juga menawarkan membelikannya. Orang-orang ini, nenek bagi si bayi malah ikut panik karena omongan perawat yang tidak masuk akal.

Ya tidak masuk akal, kalian sudah tahu benar bahwa lambung bayi hanya seukuran kelereng dan ia mampu bertahan hidup tiga hari tanpa makan apapun. Tapi tolong, bisakah seseorang menjelaskan ini pada suster? Pada ibu? Pada mertua?

Stres, air mata mulai menetes. Kepercayaan diri yang sudah susah payah dibangun bahwa kalian pasti bisa menyusui mulai runtuh. Kalian mulai menangis dan marah pada suami. Marah pada ibu dan mertua yang terlalu mudah dipengaruhi dan tak percaya anak sendiri.

Sabar ya, kalian. Sungguh tidak ada lagi kata yang tepat selain sabar. Sabar, ini hanya akan jadi satu dari jutaan cobaan kesabaran. Dari berbagai perselisihan hanya karena kalian mempertahankan pendapat tentang anak kalian

Saya bisa bilang begitu karena saya pernah ada di sana. Jadi kalian tenang saja, jika butuh teman, ada saya di sini.

Saya yang menyusui anak saya di hari kedua karena hari pertama saya terlalu lelah melahirkan dan transfusi darah. Juga karena di hari pertama gula darah anak saya terlalu rendah sehingga ia butuh supply 2 ml susu formula. Diteteskan ke mulutnya dengan pipet. Tidak apa-apa.

Tidak apa karena mungkin tanpa itu anak saya entah bagaimana karena ia lahir dalam kondisi lemas. Tapi 2 ml yang menyelamatkan anak saya itu jadi 2 ml susu formula pertama dan terakhir dalam hidupnya.

Berikutnya saya terus menyusui. Saya menyusui dengan puting pecah. Setiap ia menangis saya akan katupkan mulut rapat-rapat, menyiapkan diri untuk rasa sakit. Rasa sakit yang kemudian menjadi terbiasa, menjadi kebal, karena toh tak kunjung sembuh.

Sampai mulut kecil itu menempel pada puting, dan rasa perih itu mulai menjalar. Tak peduli seberapa kuat areola dijejalkan, hanya puting yang berusaha ia isap, maklum si bayi masih belajar. Pun dengan saya yang sebetulnya sudah khatam teori perlekatan. Tetap saja, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mengepalkan tangan kuat-kuat, berdoa agar saya diberi kekuatan untuk tetap bisa keras kepala.

(Baca: Catatan 6 Bulan Ng-ASI)

Saya juga menyusui dengan kondisi bayi kolik, perutnya sakit karena kembung. Sialnya, ia kolik karena terlalu lama menyusu, menyusu karena menangis, menangis karena kolik, mbulet, pusing. Dan saya hanya bisa menangis. Menangis bersama bayi saya yang menangis.

Saya tidak lagi tahu hari apalagi tanggal. Yang saya tahu saya harus terbangun satu jam sekali. Tanpa tahu lagi mana siang mana malam. Saya hanya menyusui satu jam dan tidur satu jam. Makan pun disuapi. Mandi pun jika sempat, itu pun terburu-buru.

Karena di antara kecipak air mandi selalu terbayang suara tangis bayi, tangis bayi yang hampir selalu hanya bayangan. Jadi mandi pun tak pernah tenang. Ah, masa-masa itu. Masa-masa di mana ASI bisa menyembur hanya karena saya bahagia bisa mandi. :')

Lelah sekali. Tapi saya yang beruntung punya support system yang luar biasa sehingga saya bisa menyusui sambil bekerja dengan lancar. Sampai tiga tahun kemudian. Iya, saya menyusui anak saya sampai minggu lalu, sampai usianya 2 tahun 10 bulan.

Jadi untuk kalian ibu-ibu yang baru melahirkan anak pertama, saya ingin bilang bahwa menyusui itu tidak mudah. Sama sekali tidak mudah. Jangan bayangkan iklan televisi dengan ibu dandan cantik rambut rapi, menyusui bayi yang tidur dengan damai. Tidak seindah foto-foto aesthetic di Instagram. :)

Tidak. Menyusui itu sulit dan harus melewati proses belajar. Menyusui itu proses perkenalan antara bayi dan ibu. Ya meski ia sudah menemani kita 9 bulan, bukan berarti kalian saling mengenal. Kenali ia lewat sentuhan, lewat pelukan, lewat obrolan yang mungkin akan terus ia kenang.

(Baca: 13 Hal yang Hanya Bisa Dimengerti Ibu Menyusui)

Untuk kalian yang menyusui dengan puting yang datar atau malah masuk ke dalam, percayalah kalian pasti bisa! Ayo ke konselor laktasi, ayo ke coba dengan masukan seluruh areola ke dalam mulut bayi, ayo kalian pasti bisa!

Kalian tidak sendirian, banyak sekali ibu-ibu lain yang juga berputing datar namun akhirnya sukses menyusui. Bahkan banyak ibu yang tidak pernah hamil, mengadopsi anak dan juga sukses menyusui. Usahakan sebaik mungkin, sekeras kepala mungkin, sekeras motivasi kalian akan bayangan susu formula yang uangnya bisa dibelikan lipstik atau skin care. :)))))

Tetap tidak bisa atau ASI tetap entah ke mana? Sudah tidak apa-apa. Manusia hanya bisa berusaha mencari jalan, akhirnya tetap Tuhan yang menentukan. Seperti yang sudah saya pernah bilang, ASI itu rezeki. Yang mudah maka bersyukurlah, yang kesulitan maka percayalah Tuhan akan beri rezeki dalam bentuk lain.

Sekali lagi, jika kalian butuh teman, saya di sini. Juga teman-teman saya. Kami akan jadi pemandu sorak bagi kalian semua! SEMANGAT SEMUANYAAAA! *kibas pompom*

Share ke teman kalian yang baru melahirkan! :)

(Baca postingan Tentang ASI/Manajemen ASIP untuk ibu bekerja ya! KLIK!)

Jangan lupa follow saya di Instagram ya @annisast!




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

#SassyThursday: Cak Budi dan Urusan Sumbangan

on
Thursday, May 4, 2017
Apa kabar kawan-kawan semua? Sudah sedekah hari ini? Atau malah sedekahnya dibelikan jadi Fortuner dan iPhone 7?


Buat yang ketinggalan atau nggak baca berita, alkisah ada pria namanya Cak Budi, dia menggalang dana dari banyak orang sampai 1,2 miliar. Katanya digunakan untuk membantu orangtua yang kesusahan. Dia upload video dan foto orang-orang yang dia bantu itu di akun Instagram dengan 220k followersnya.

Baca punya Nahla:

Uang-uang itu disalurkan ke rekening pribadi dan melalui kitabisa.com. Nah akun Lambe Turah tuh katanya sering promoin Cak Budi ini biar followersnya ikut nyumbang. Katanya loh ya, saya nggak follow Lambe.

Nah tau-tau dia ketauan beli Fortuner sama iPhone 7 dengan alasan untuk operasional. Ya dibully dong ya karena operasional kenapa belinya mobil mahal, operasional mah Avanza aja cukup, gitu kasarnya. Dia juga ketauan pake kacamata mahal dan fotonya dia hapus.

Pertama kali dikasihtau Ikka soal berita ini saya yang 🙄🙄🙄 rolling eyes, literally. Karena wow ini orang kan bukan siapa-siapa mengapa orang mempercayakan uang mereka pada dia?

Apalagi dia dipromoinnya sama Lambe Turah like really, people? 🙄🙄🙄 Netijen ini sungguh tak terduga tingkah lakunya ya. 🙄🙄🙄

(Baca: Kenapa Tidak Lambe Turah?)

Belakangan saya tau dia sempat masuk Kick Andy dan Hitam Putih. Ok jadi mungkin ada juga yang nyumbang setelah nonton Kick Andy dan Hitam Putih.

Still ... apakah mempercayakan begitu saja uang kita pada orang yang mengupload video sumbangan di Instagram? Pada akun Lambe Turah yang bahkan nggak tau apa itu arti verifikasi?

Ayolah kalau masih hepi nonton gosip, nonton di TV aja atau baca website berita entertainment. Minimal para infotainment itu tetep USAHA untuk verifikasi atau mereka akan kasih label "rumor". Bukan dapet DM dari siapalah atau chat siapalah terus ngajak orang buat judge rame-rame.

HHHH. Bisa capek kalau ngomongin Lambe Turah. Toxic. Skip.

Ok saya nggak punya masalah apa-apa dengan Cak Budi. Mungkin memang dia mau bantu orang. Tapi harus diakui caranya salah. Menggalang dana itu ada aturannya loh, nggak semua orang boleh menggalang dana. Ada peraturan pemerintahnya, harus ada lembaganya, harus dilaporkan ke dinas sosial, harus dilaporkan transparan pada para donatur.

Mau berbuat baik aja kok diatur-atur?

Ya biar nggak begini jadinya.

Dan buat kalian yang nyumbang.

...

Iya memang kewajiban kita ngasih selama kita mampu, kalau disalahgunakan sama yang terima, itu udah urusan dia sama Tuhan, bukan lagi urusan kita. Kalimat itu terdengar benar tapi kan sebenernya nggak begitu. Lihat dari sisi manfaat, uang (atau apapun itu) akan lebih bermanfaat kalau diterima orang yang tepat. Jadi menurut saya akan lebih bermanfaat jika PASTIKAN siapa penerima sedekah/sumbangan kalian.

Sumbang ke yang pasti-pasti ajalah. Sodara, tetangga, atau teman dekat yang lagi jatuh sakit dan kebetulan nggak mampu. Atau ke lembaga yang beneran udah terdaftar. Nggak susah loh, coba top of mind kalian kalau ditanya menyumbang ke lembaga apa

Dompet Dhuafa atau Rumah Zakat kan? Iya nggak? 

Saya sih iya. Kedua lembaga itu bersertifikasi Departemen Agama dan sudah bertahun-tahun jadi penyalur dana, jadi jelas uang-uang disalurkan ke mana dan ada laporannya. Bukan sekadar foto atau video di Instagram dari orang yang latar belakang dan segala-galanya cuma kita tau dari internet.

Dia bilang mau upload rekening koran aja nggak dilakukan kan. Sekarang dia sumbang semuanya ke Aksi Cepat Tanggap setelah apa? Setelah dibully massa, setelah masuk portal berita nasional, dipanggil menteri sosial pula.

Duh. Orang nggak amanah itu satu hal, tapi jangan "beri makan" orang tidak amanah ini hanya karena kita MALAS mencari tahu. Apalagi ini donasi, sedekah, sumbangan, yang beragama pasti berharap pahala lah selain urusan kemanusiaan. Agama emang komoditi utama banget, gampang dijual. Jadi jangan gampang beli! Teliti sebelum membeli!

Ah elah masa gini aja harus dibilangin ya.


Tapi kan nggak tau dia bakal beli mobil dan iPhone dari uang itu! 

Ya itu sebabnya maka sumbang ke yang pasti-pasti aja. Kecuali kalau kita kenal akrab dengan si penggalang dana. Temen atau keluarga gitu, baru oke. Lah orang lain? 😴

Ya udah intinya begicu gengs. Lain kali lebih hati-hati ya!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

Stop Menyuruh Anak untuk Diam

on
Wednesday, May 3, 2017

Kemarin sore sebelum masuk tol Pasteur, saya dan JG belok dulu ke Borma Gunung Batu untuk ... jajan hahaha. Di situ banyak jajanan dan enak-enak, karena kami belum makan dan takut menuju Jakarta macet, akhirnya beli mie kocok dulu.

Tempatnya model pujasera kecil gitu jadi kami duduk satu meja dengan satu pasangan lain. Si ayah gendong anaknya umur 9 bulanan pake carrier ngadep depan. Mereka makan dengan satu perempuan lain yang tampak seperti temannya si ayah atau si ibu.

Nah si bayi perempuan ini lucu, moodnya bagus, dia hepi dan ketawa-tawa sendiri. Tangannya gerak-gerak terus sambil blabbering. Tiba-tiba ...

"SSTTT! BERISIK!" kata si teman pada si bayi, nyuruh si bayi diam. Bayinya kemudian diam, kedip-kedip doang.

Saya dan JG langsung berpandangan dan berkomunikasi lewat pandangan mata *alah*. Kasian banget masa bayi disuruh diam.

Dan kalau itu Bebe yang disuruh diam, saya akan semprot balik itu orang "MENDING MBAKNYA AJA YANG DIEM!" sebel huhu. Karena nggak ada yang merasa terganggu juga kecuali si mbak nggak jelas itu. Lha kondisinya aja emang rame banget kok.

(Baca: Mendefinisikan Nakal)

Iya dan ini bukan pertama kali kan saya dan kalian liat yang begini. Saya sering banget denger ibu-ibu model begini, anaknya disuruh diam, disuruh jangan berisik, disuruh berhenti ngomong, atau yang paling parah bilang gini ke anaknya "kenapa nanya-nanya terus sih pusing!" HUHUHUHU

Buibu, kalau anak kalian nggak nanya ke kalian maka mereka harus nanya ke siapa?

T_________T

Dan konteks menyuruh anak untuk diam juga bukan hanya saat anaknya lagi ngobrol, tapi ketika anak lagi lari-larian atau lagi main.

Saya ngerasain sendiri karena Bebe itu cukup outgoing dibanding anak seumurannya. Dia persis banget saya dan JG yang sungguh ekstrovert. Dia tipe yang kalau banyak orang maka dia akan caper dan lari-lari tanpa capek.

Kemarin dua minggu berturut-turut ada lamaran keluarga, dan Bebe berjam-jam lari-lari. Skip tidur siang, overstimulate banget sampai malemnya masih energik dan jadi nggak bisa tidur.

Ciri orang ekstrovert banget kan, kalau abis ketemu orang banyak malah jadi makin semangat dan bukannya capek ingin menyendiri kaya orang introvert. Dan yah, semua orang komennya "ya ampun nggak ada capeknya!" atau "itu lari-lari terus kok nggak tidur siang?" ya gimana. Kita membicarakan anak umur 3 tahun loh.

Tidak ada yang salah dengan bayi dan balita terus-terusan ngomong atau lari-larian. Asal tau waktu dan tempat aja kan. Dan itu bisa banget dikondisikan, bilang sejak jauh-jauh hari kalau nanti saat ada acara A, harus begini ya, tidak boleh begini dan begini.

(Baca: Pesan Parenting yang Menohok Diri Sendiri)

Kalau tetep berisik dan lari-larian? Ya bawa keluar tempat acara, bukannya disuruh diam.

Lagian yang harus sadar lokasi itu orangtuanya lah jelas bukan anaknya. Anak-anak mana ngerti ini lagi acara serius maka dia harus diam? Atau dia sebenarnya mengerti tapi dia bosan dan solusinya bukan dibentak. Harus dibilangin terus-terusan, dibilangin baik-baik, jangan disuruh diam.

Sekali disuruh diam, takutnya dia jadi ragu-ragu untuk kembali bicara. Padahal mampu berbicara itu penting. Bisa bikin anak lebih percaya diri, tidak mudah dibully karena dia juga punya suara.

Dan bicara itu penting! Sekadar mendengarkan cerita dia tentang kucing di daycare yang bahkan sudah diulang 100x itu tidak apa-apa. Karena anak HARUS bicara. Dia HARUS bisa mengungkapkan apa yang sedang dirasakan. Jangan batasi suaranya sejak bayi. Apalah arti hidup kalau tidak bisa bersuara.

Jadi tolong, stop menyuruh anak untuk diam. :)

-ast-

💛 PS: Saya lagi bikin mini giveaway berhadiah buku stiker loh. Caranya gampang, cuma tinggal komen di blogpost ini doang: 5 Mainan Favorit Bebe. Ikutan yaaa! 💛




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

5 Mainan Favorit Bebe (MINI GIVEAWAY!)

on
Tuesday, May 2, 2017


Apa kabar ibu-ibu dengan threenager?

Masih rusuh-rusuh gemes pengen gigit pipi anaknyaaa?

Saya alhamdulillah udah nggak hahahahaha. Iya saya udah cerita kan ya kalau si Bebe udah mulai fase threenager beberapa bulan lalu. Nah tapi akhir-akhir ini dia kalem banget.

Semoga aja kalemnya bukan fase semata ya, tau-tau muncul lagi fase yang ngetes iman dan kesabaran saya kan zzz banget jadinya.

(Baca: Threenager Comes Early. Apa itu fase threenager?)

Dua bulan lagi Bebe 3 tahun dan finally dia udah bisa main sendiri! Sebelumnya Bebe nggak bisa main sendiri. Dia harus selalu ditemenin, maka mainnya pun ya sekadar mobil-mobilan (berdua sama saya) atau main bola (YA DI DALAM RUMAH) dengan JG.

Sekarang dia udah bisa main sendiri huhu. Sebelumnya ya fisik doang mainnya namanya anak kecil ya kan. Sekarang dia main Lego logikanya jalan banget sampai saya wow!

Dia udah tau keseimbangan, kalau miring maka harus ditambah blocks yang bentuk apa di mana, sebelah mana yang harus dipegang biar nggak roboh, nggak memaksa memasang blocks yang 4 ke space yang cuma 3, bikin rumah, mobil, pemadam kebakaran, ultraman, dsb, dsb. Wah so proud!

*memuji anak sendiri* 😂

Apa aja yang bisa bikin Bebe main sendiri sampai 2 jam?

1. Duplo/Lego


Di rumah saya beliin Bebe Duplo dan itu bisa lama banget mainnya! Lama dan nggak mau tidur. Terus saya nggak boleh ikutan main mungkin karena imajinasinya terganggu.

Karena dia main Duplo itu PAKE CERITA hahaha. Jadi orang-orangannya ceritanya jadi polisi lah, masuk rumah sakit, diperiksa dokter, endebrei endebrei. Dia benci saya ikut ngomong. 😂

Nah emosional kalau lagi di Bandung karena Bebe mainnya Lego bekas saya kecil dulu. 😭😭😭 Ibu saya simpen sekotak besar dan itu sebagian adalah Lego tahun 90an yang warnanya cuma sebatas merah, kuning, biru, hijau. Nggak ada item apalagi pink dan pastel.

Yang baru-baru ada sih warna-warna pastel. Tapi tetep emosional liat Bebe pegang ban Lego yang saya mainin dulu dan bikin mobil sendiri lol. Ngakunya nggak melankolis tapi begini. 😂

(Baca: Nggak Suka Alam dan Lebih Suka Mall? Ini Sebabnya!)

2. Robot-robotan



Ini sama juga bermain peran. Dia punya beberapa robot yang dijadikan monster terus dilawan sama Ultraman.

Bebe tau Ultraman yang dia punya namanya Ultraman Ginga, gengs. Saya aja nulis 'ginga' itu browsing dulu tadi hahahaha

Dan yah, akibat nonton Upin Ipin jadi mengkhayalnya ada adegan "Ultraman Ribut! Ciat ciat ciat!" gitu. Kata JG, 'ribut' itu 'thunder' dalam bahasa Melayu? Dunno, males cari tau ah hahahahahaha.

3. Cat air

Bebe nggak pernah coret-coret di dinding karena saya sediain satu karton manila besar yang ditempel di dinding ruang makan. Jadi dia coret-coret di situ aja.

Tapi katanya ada juga ya buibu yang meski udah disediain kertas, anaknya tetep gambar di dinding hahaha pukpuk.

Nah terus dia gambar deh pake cat air. HARUS cat air biar menantang. Spidol atau krayon kurang seru, nggak ada sensasi celup ke air dan catnya.

Cat air is lyfe!

4. Joni

penampakan Joni, lupa foto jadi ini dari tokopedia lol

Masih inget Joni nggak sih kalian? Yang belum tau ceritanya bisa dibaca di sini. Kalau kata Bebe nama panjangnya Joni adalah Joni Joni Yes Papa. HAHAHAHAHA.

Dan ya dia bisa main sama Joni lamaaaa. Ditendang dan dipukul-pukul sampai guling-guling padahal Joninya ya kalem aja. Jatoh ya berdiri lagi sendiri.

Joni anak pintar, Joni tidak drama. :')

5. BUKU STIKER!

YASSSS! Buku stiker adalah sumber kebahagian bagi diriku sendiri yang memang suka beli stiker random hahahahaha.

Buku stiker juga menyenangkan karena main cocok-cocokan kan. Stiker yang mana cocok ke gambar yang mana.

Bebe bisa anteng banget sampai saya sembunyiin dulu sebagian stikernya. Jangan dikasih semua nanti mau ditempel semua sekaligus di satu waktu.

*

🌙 MINI GIVEAWAY! 🌙

Nah saya mau bikin mini giveaway berhadiah buku stiker! Karena kadang suka sebel kan masa buku stiker aja bisa hampir 150ribu harganya. Jadi ini saya kasih gratis buat kalian semuaaaa. Dua orang doang deng hahahaha





Caranya cukup komen di bawah postingan ini, pertanyaannya: mainan apa yang paling bikin anak/ponakan/sepupu kalian anteng main sampai berjam-jam? Sertakan aku Instagram ya!

Syaratnya cuma follow saya di Instagram @annisast. Dua pemenang akan diumumkannya di Instagram juga!

Periode mini giveaway ini 2-9 Mei 2017. Ikutan yuk! Gampang banget kan!

Ini penampakan buku stikernya yang lebih detail:

See you!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!