Menjaga Perasaan (Siapa?)

on
Friday, October 7, 2016

Akhir-akhir ini beberapa orang di sekitar saya mengeluhkan kenapa kita hidup untuk menyenangkan orang lain. To please the society, to meet everyone's expectations.

Saya sendiri yang sebelumnya mengeluhkan hal yang sama, mulai capek dan akhirnya mempertanyakan sebaliknya. Memangnya tidak boleh kalau hidup untuk menyenangkan orang lain?

Contoh paling sederhana, dulu waktu awal pacaran sama JG untuk pertama kalinya saya dilarang pakai baju yang terbuka. Celana pendek, rok pendek, baju-baju kutung semua tidak boleh dipakai.

Aneh sih karena dia anaknya liberal banget, tapi melarang-larang saya seperti itu. Padahal ayah ibunya dia juga nggak masalah sama sekali. Jadi jelas melarang saya bukan karena takut orangtuanya marah, punya pacar kok bajunya seksi. Posesif sama liberal memang nggak akur kayanya.

Padahal saya dulu lagi seneng-senengnya pake rok pendek dan Dr Martens. Tapi apa kemudian saya merasa fake dan menjadi orang lain karena dilarang mengekspresikan diri dengan baju yang saya suka? Nggak juga sih.

Ya namanya juga menjaga perasaan orang yang kita sayang. Gitu kan?

Sekarang banyak orang yang kalau hidup dengan menjaga perasaan orang lain langsung merasa fake, langsung merasa hidup kok penuh kepalsuan. Seolah memang kita hidup hanya untuk diri kita sendiri, padahal sebenernya nggak sepenuhnya gitu juga.

Kita kan nggak hidup sendirian. Beli sayur di pasar aja ngomongnya sopan dan nggak nawar karena kasihan. Waitress di restoran nganterin makanan telat aja nggak kita marahin langsung padahal pengen banget, karena mikirin perasaan si waitress, gimana kalau dia dipecat? Gimana kalau dia ternyata single mom yang harus biayain anaknya?

Apa kita jadi fake karena menjaga perasaan si waitress?

(Baca: Masuk Akal itu Akalnya Siapa?)

Terus orang-orang yang suka mengumbar kata kasar, yang ngomong selalu to the point jadi mengagungkan "yang penting gue nggak fake". Ya lo nggak fake karena mungkin nggak ada perasaan orang terdekat lo yang perlu dijaga.

Saya baru menyadari ini, baru merasakan sendiri. Karena saya merasa kalau di blog saya selalu jujur. Saya hampir nggak pernah nulis karena nggak enak sama orang lain. Saya tulis apa yang mau saya tulis meskipun itu membuat saya dimaki-maki. Saya nggak peduli.

Tapi ternyata saya nggak peduli karena orang yang maki-maki adalah orang yang tidak penting buat hidup saya. Kenapa saya harus menjaga perasaan orang yang tidak penting buat hidup saya? Mbak sayur di pasar masih lebih penting karena kalau nggak beli sayur nanti nggak masak nanti nggak makan dong.

Beda lagi ketika urusannya keluarga. Saya selalu berusaha tidak melakukan sesuatu yang membuat ayah dan ibu saya kecewa. Apa saya fake? Mungkin iya, tapi tidak membuat orangtua khawatir dan kecewa JUGA membuat saya bahagia. Karena kalau saya melakukan hal yang saya suka tapi membuat orangtua kecewa, apa saya akan sebahagia ini? Belum tentu kan.

Kalau sekarang saya nggak pernah umbar berantem sama JG apa saya jadi fake gitu? Nggak kan? Sebaliknya, nggak pernah umbar foto mesra sama JG apa saya jadi fake juga gitu? Nggak kan?

Kalau nggak umbar berantem:

"Cih fake abis, mana ada pasangan nggak berantem"

Kalau nggak umbar foto bahagia:

"Cih fake abis, katanya bahagia tapi selfie sendiri terus nggak pernah ajak suaminya"

"Kita hanya memilih apa yang ingin kita bagikan pada orang lain dan mana yang ingin kita simpan sendiri."

Online dan offline. Maya dan nyata.

Karena ketika kita berhenti menjaga perasaan orang lain, kita harus siap hidup tanpa lagi melibatkan perasaan kita sendiri. Kalau masih ingin perasaannya dijaga orang lain, maka harus siap pula menjaga perasaan orang lain.

Mungkin sekarang yang harus dilakukan bukan lagi mengeluhkan kenapa kita berpura-pura, tetapi jalani hidup apa adanya. Karena justru keluhan-keluhan itu yang mungkin membuat kita tidak bahagia.

Jadi, buat kamu yang merasa tidak bahagia karena hidup penuh dengan kepalsuan, tidak ada yang menjamin hidup kamu lebih bahagia kok kalau kamu lepas dari kepalsuan itu. Apalagi kalau kepalsuannya melibatkan orang-orang yang kamu sayang.

-ast-

Ini postingan emosional dalam usaha membuat positif hal-hal yang sedang negatif. Lebih lelah negatif atau lelah berusaha positif?
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

10 comments on "Menjaga Perasaan (Siapa?)"
  1. Ya, bener deh... Kalau kita ingin perasaan kita dijaga oleh orang lain, kitapun harus siap menjaga perasaan orang lain.

    ReplyDelete
  2. Iya menjaga hubungan baik itu perlu, apalagi buat kebaikan. Nah, sering itu yang nyinyir orang di sekitar kita ya, suka kepo hehehr

    ReplyDelete
  3. Ah, jadi mau nulis juga.. Kemarin ngebatin apa yang baik2 itu selalu fake?

    ReplyDelete
  4. bukan fake sebetulnya, tapi lebih ke berhati-hati...karena memang ada alasannya dan tahu resikonya. itu adalah sifat manusia...fake itu kalau didepan ngomong A dibelakang lain lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama kan kaya contoh aku. di depan orangtua taat beragama, di belakang nggak. :)

      Delete
  5. Kalau aku suka ga jadi ngomong atau nulis karena keseringan mikir apa ya dampaknya kalau aku ngomong ini, atau ngomong itu apa dampaknya kalau begini kalau aku begitu. eh ujung-ujungnya malah ga enakan hehe.. Kalau aku keseringan diem aja untuk menjaga hal-hal yang membuat salah persepsi gitu deh, mba..

    ReplyDelete
  6. yg penting bisa bedain fake sama muka dua #eh
    ya emang capek kalo nurutin yg negatif2 kalo ada yg positif why not

    ReplyDelete
  7. Saya permah ada di titik itu. Apakah harus selalu menyenangkan orang dan ujungnya sutris sendiri. Hahahaha. Jadi yastralah. Kalo bisa bikin orang seneng ya saya lakukan. Kalau enggak yasudah. I don't and can't live to please everyone jugak. Sama kayak yang dirimu bilang mbak... yang penting orang-orang penting di hidup kita bahagia aja.

    ReplyDelete
  8. Lelah jadi negatif. Bersikap apa adanya kadang nyakitin. Tapi yang tersakiti itu biasanya yang ga begitu kenal sama kita.

    ReplyDelete
  9. "Kalau masih ingin perasaannya dijaga orang lain, maka harus siap pula menjaga perasaan orang lain" --> terkadang ketika saya merasa "tersakiti" oleh orang lain saya berpikir mungkin saya sebelumnya sudah berbuat yang sama kepada orang lain, what you give is what you get. Salam kenal mba :)

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)