-->

Image Slider

Thank You for Marrying Me

on
Monday, March 18, 2019
Sebuah postingan curhat. Seperti 99% postingan lain di blog ini lol.


Weekend kemarin rasanya merdeka sekali. Hari Sabtu, Bebe dan JG ke pameran mainan. Saya malas ikut karena sudah lama sekali tidak menggambar. Hari Minggunya mereka beli bensin dan cuci mobil serta main game seharian.

Kedua hari itu saya tetap diam di rumah, menggambar souvenir ultah Bebe sambil nonton series Workin’ Moms di Netflix. Minggu selepas magrib, kami turun ke supermarket bawah apartemen dan memutuskan bikin siomay ayam.

IYA KAMI SUKA DADAKAN NGIDE GITU EMANG.

Sering yang “eh masak ini yuk!” terus buka Cookpad, pilih yang fotonya oke, turun ke supermarket, belanja bahan terus masak hahahahaha. Malam itu pilihan jatuh pada siomay ayam karena beberapa hari sebelumnya, ngide juga bikin siomay udang dan enak. Cuma udang males ngupas dan terlalu mahal, jadi kali ini ayam.

Btw pas bikin siomay yang pertama, JG becandanya terus-terusan seputar “duh ini tradisi keluarga harus kita lestarikan”. Sambil browsing cara melipat dumpling di YouTube. -______-

Heran deh bisa-bisanya adegan melipat dumpling di Crazy Rich Asian itu sungguh elegan, lha saya sama JG boro-boro elegan, yang ada pusing KOK SUSAH? Kok kayanya salah beli kulit pangsit? Kok pecah-pecah kulitnya? (bukan rorombeheun ya guys maksudnya).

Setelah belanja dan beberes belanjaan, saya duduk di meja makan. JG duduk di sebelah saya, kami berdua melipat siomay sambil streaming debat cawapres dan ngetawain omongan-omongan cawapres yang nggak kami dukung hahahaha. Bebe duduk di meja dia sendiri sambil main perang-perangan Ultraman, maklum sisa efek nonton cosplay di pamerah mainan.

Terus kok … bahagia. (DITULIS GINI KENAPA JADI CRINGEY YA MAAP)

Jadi dalam kondisi belum mandi 2 hari, tangan blecetan kena adonan ayam, struggling melipat siomay, kukusan nyala di kompor, saya noleh ke JG dan bilang: “Eh sayang, thank you for marrying me”.

JG: “Apaan tiba-tiba?”

Saya: “Iya kalau nggak nikah sama kamu mungkin aku nggak ngelipet siomay berdua suami, anak kita bisa kalem gitu main sendiri, terus bisa ngetawain cawapres bareng-bareng karena kita sepakat sama banyak hal”

JG: “Iya sih hehe”

Saya: “Hehe”

*HENING* *KEMBALI NONTON DEBAT SAMBIL MELANJUTKAN MELIPAT SIOMAY*

The thing is, seperti yang udah saya share di IG beberapa hari lalu, JG tuh lagi terus-terusan nanya “are we on the right track?”. Kaya ada kekhawatiran karena bener nggak sih hidup kita ini?

Tadi siang dia nanya lagi via WhatsApp dan saya jawab:

“Uang kita semua buat Bebe dan itu cukup. Selama weekend masih bisa leyeh-leyeh sama kamu dan Bebe, aku cukup.”

AKU CUKUP. Kaya bergema banget dua kata itu di kuping saya sampai mau nangis rasanya.

T______T

Karena udah beberapa tahun saya itu terus menerus ngerasa nggak cukup. Ngerasa nggak cukup bagus secara karier, ngerasa nggak oke-oke amat jadi ibu, ngerasa harusnya bisa jadi lebih baik, ngerasa kurang usaha, ngerasa kurang belajar banyak, ngerasa kurang terus sama diri sendiri.

Dan selama itu pula saya nulis banyak soal itu. Yang saya inget ini doang dan yakin sebenernya masih banyak tema serupa. Gila, dari 2017 loh, silakan yang mau baca:

2017 
Kepercayaan Diri dan Remah-remah Dunia 
Mencari Diri Sendiri 
On Being Too Hard on Myself
The Scary, Scary Adulthood 

Sekarang saya masih gini aja sebenernya. Belum ada perubahan berarti dalam hidup TAPI untuk pertama kalinya saya benar-benar merasa cukup. Kalau ditanya kenapa entahlah, mungkin karena banyak hal yang saya selesaikan pelan-pelan. Nggak terlalu ngotot lagi sama banyak hal dan ya udah cukup aja. Cukup tidur, makan enak terus, bisa ngelakuin hobi, berdoa banget biar bisa kaya gini terus.

Kalau ditanya caranya gimana keluar dari jeratan tidak merasa cukup itu saya beneran nggak tahu. Saya nggak bisa (atau nggak tahu caranya mungkin) ngobrol sama diri sendiri karena jadinya nggak tidur-tidur. Jadinya terus aja mikir dan malah sakit kepala. Saya cuma menjalani hari, hobi, banyakin ketawa, banyakin ngobrol sama JG.

Kemarin pas jalan ke supermarket itu juga Bebe mau pake helm, jadi kami jalan dengan anak yang ciat-ciat, lari-lari sambil pake helm full face. FYI kami nggak punya motor hahaha. JG geleng-geleng liat Bebe lari-lari di lorong apartemen, dan saya bilang. “Lucu ya? Without Bebe our life would be so boring. Jalan berdua aja gitu nggak ada yang bisa diketawain?”



Sekarang saya baru sadar kalau nasihat-nasihat semacam “you are enough” atau “count your blessing not your problem” itu nggak bakal ngaruh sama orang yang punya masalah sama kaya saya dulu. Nasihat-nasihat semacam itu justru kenanya sekarang, setelah semua lewat. Memang kurang berguna huhu.

Kalian-kalian yang masih merasa stuck, masih merasa gini-gini aja, hang in there. Jalan pelan-pelan, nggak perlu kok selalu ingin ada di depan. Dan jangan remehkan pelukan!

Sometimes a hug is all you need to make you feel better.

:)

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Semua yang Jadi (Sangat) Penting

on
Thursday, March 14, 2019
Beberapa minggu lalu, saya menghabiskan weekend yang sangat produktif. Hari Sabtu hadir di #SUSTAINEVENT VOL 1 New Period Indonesia yang berakhir mengubah habit pakai pembalut jadi menstrual cup dan hari Minggunya sharing jadi salah satu pembicara di event @safekidsindo sebagai ibu-ibu pengguna car seat.


Di event @safekidsindo itu hadir anggota komunitas mobil dan mbak Wiena dari Nusantara Menggendong. Pulang dari sana saya merenung. *halah*

Betapa sekarang, semua orang bisa “berkampanye” masing-masing tentang apa yang mereka percayai dan yakini. Bukan cuma politik atau agama ya, tapi hal-hal di keseharian yang kadang bikin merenung: KOK SEBELUMNYA NGGAK KEPIKIRAN YA?

Coba deh, ngomongin car seat aja bisa jadi satu event sendiri sampai kata MC-nya “kita mah car seat aja dighibahin” lol. Emang sih kalau dipikir sama kita-kita yang ilmu safetynya cetek, apa coba yang bisa dibahas soal car seat doang?

Ternyata banyak. Banyak banget sampai nggak selesai-selesai. Bener-bener ngerasa ih kok saya nggak punya ilmu apa-apa ya tentang keselamatan. Nggak ngerti first aid, nggak ngerti soal penanganan bencana, tau-tau doang tapi nggak paham banget.

Selain anak duduk di car seat dan pake helm saat naik sepeda dan motor, ilmu keselamatan saya hampir nol. Memang belum pernah belajar dan belum pernah terpikir HARUS belajar.

Perhatikan keyword: HARUS.

Menurut para praktisi safety dan komunitas tentang safety, yang HARUS kita tahu tentulah serba-serbi keselamatan. Tapi menurut para praktisi menggendong misalnya, mereka sangat detail soal menggendong sampai komunitasnya besar sekali di Indonesia. Mereka pasti punya keHARUSan sendiri dalam urusan menggendong.

Saya cuma taunya gendong harus M-shape thok, nggak ngerti lagi perintilan lain. Pun dulu nggak kebayang sama sekali ada yang namanya certified babywearing consultant. Kebayang pasti detail banget kan urusan gendong-menggendong ini sampai ada sertifikasinya. Car seat juga lho! Ada car seat expert yang bersertifikat.

Klasik tapi kampanye semacam ini memang terbantu sekali dengan adanya internet dan media sosial.

Saya yang sebelumnya tidak tahu apa-apa soal zero waste jadi tercerahkan karena mereka berkampanye, tak punya ilmu soal safety jadi sadar kalau keselamatan itu penting, tak mengerti sama sekali soal babywearing jadi menghargai kalau menggendong itu proses yang tidak bisa terulang (soalnya anak kan makin berat huhu).

Semua orang punya concern masing-masing, semua orang punya hal yang mereka anggap baik, semua berusaha menyampaikannya pada sebanyak mungkin orang. It’s a good thing actually. Senang sekali melihat orang berkampanye sesuatu yang positif seperti ini kan. For a better generation! :)

Tapi sebagai manusia yang senang belajar hal baru, jujur saya ngerasa overwhelmed. Wah kok ini penting itu penting, harus belajar yang mana dulu nih? Kok semua rasanya penting? Apakah saya HARUS ikuti semua gaya hidup mereka yang mereka yakini baik itu?

Of course no because it would be too perfect and people hates perfection hahahaha nggak deng becanda. Tapi ya saya ngerasa belum sanggup sih kalau harus semuanya sempurna. Pelan-pelan, belajar dulu satu-satu, diresapi dulu dan dilihat dulu prioritasnya.

Kalau merujuk materi kuliah saya dulu, ada yang namanya efek komunikasi massa (FYI aja sihhh hahaha). Ada 3 atau 4 macam tergantung siapa yang berteori. Bahwa komunikasi massa itu pasti akan berefek pada audience-nya, efeknya ada macem-macem tergantung levelnya.

1. Efek kognitif: di tahap ini, audience akan mendapat informasi yang baru dia ketahui. Mereka mendapat insight dan wawasan baru.

2. Efek afektif: di tahap ini, audience yang terpapar hal yang sama terus menerus mulai mengubah perasaannya. Mulau mengerti, mulai empati.

3. Efek konatif: di tahap ini, audience mulai bertindak. Misal lihat anak-anak korban bencana, terus memutuskan nyumbang lewat kitabisa.com.

4. Efek behavioral: tahap yang kadang digabung dengan konatif tapi intinya di tahap ini, perilaku audience mulai berubah sesuai yang diinginkan pemberi pesan. Seperti soal mengubah kebiasaan dari pembalut ke menstrual cup.

*SUMPAH KAGET MASIH INGET TEORI ZAMAN KULIAH I HONESTLY THOUGHT MY GPA IS USELESS IN FACT IT HELPS ME AT THE TIME LIKE THIS LOL*

Apa hubungannya dengan kampanye-kampanye tadi?

Selain urusan zero waste, car seat, dan babywearing sebetulnya banyak orang yang punya “kampanye” masing-masing. Dokter gigi mengkampanyekan orang tak perlu takut ke dokter gigi, pecinta olahraga mengajak orang untuk bergerak agar lebih sehat, para trainer finansial mengedukasi orang untuk melek keuangan, sampai pada pencegahan kanker, pentingnya sunscreen, ASI, keamanan di dunia digital, dan banyak lagi sesuai bidang masing-masing.

Yang pusing yang jadi audience ya? Hahahaha.

Biar nggak pusing, kita buat prioritas aja. Di tengah gempuran berbagai kampanye, kita pelan-pelan aja jalannya. Teorinya kita balik sebagai audience, minimal kita sampai tahap kognitif deh, sampai tahap tau dulu isu-isu itu.

Urusan akan jadi afektif, konatif, atau behavioral biar waktu yang menjawab hahahaha. Yang penting tentukan prioritas. Contoh prioritas kalau kalian ibu satu anak yang baru lahir misalnya. Apa dulu yang harus dipelajari? CONTOH LHO YA INI.

1. Segala yang ada hubungannya dengan makanan bayi dong tentu seperti ASI dan MPASI
2. Kalau udah lulus soal makanan, baru pikirkan safety
3. Setelah itu baru pikirkan keuangan
4. Setelah itu baru olahraga

Terus-terus dirunut dari yang bisa dan HARUS dikerjakan saat ini juga. Karena kalau sekaligus udah pasti pusing sih. Overwhelmed tepatnya kaya yang saya bilang di atas.

Padahal nggak semuanya harus diikuti saat ini juga kok. Cari ilmu dulu aja santai, kalau udah tau ilmunya biasanya jalaninnya juga lebih gampang. Karena kita akan mengubah kebiasaan dan itu hal yang bisa saja berat.

Jadi sekarang kalau kalian liat orang yang dirasa begitu ideal kaya anak bisa selalu duduk di car seat, bisa disiplin screen time, bisa selalu mendengarkan anak, dan banyak lagi, itu mungkin karena mereka memprioritaskan itu dan bisa saja mengabaikan hal lain.

Ada yang peduli sekali pada green washing, science washing, cruelty free makeup dan skin care, animal abuse, zero waste sampai sampahnya nearly zero, yang bikin kita terwow-wow. Padahal mereka bisa karena memang peduli pada hal-hal itu. Bisa saja ada orang yang sangat peduli pada animal abuse tapi nggak melakukan kebiasaan zero waste sama sekali. Bisa banget dan itu nggak apa-apa. :)

Mereka meluangkan waktu untuk belajar, untuk mengubah kebiasaan, untuk mengajak orang melakukan hal yang dia anggap sebagai sesuatu yang baik itu. Mungkin aneh untuk kalian yang baru terpapar info yang sama terus menerus tapi sebetulnya tidak aneh bagi yang sudah menjalankan bertahun-tahun.

Sebaliknya kita jangan baper juga kalau orang tidak mau bertindak sesuai dengan persuasi kita. Jangan sakit kepala dulu karena menganggap concern kalian paling penting tapi kok orang susah sih dibilangin? Ya maklum namanya mengubah habit ya. Pasti ada kendala, mungkin pola komunikasi kita salah atau mungkin ada faktor lain (seperti faktor uang misalnya hahaha).

Yang begini banyak nih, masing-masing mengeluhkan "orang Indonesia itu kurang kesadaran untuk pergi ke dokter gigi!" atau "orang Indonesia itu kurang kesadaran finansial!". Yha coba kroscek dulu diri sendiri, udah kampanye berapa lama? Apa faktor orang jadi kurang sadar? Kaya ke dokter gigi, sebetulnya orang sadar kan dokter gigi itu penting, tapi karena mahal, jadi nggak pernah muncul sebagai prioritas utama.

Jadiii … belajar hal baru apa tahun ini? Punya kebiasaan baik baru apa yang akan dijalankan? :)

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Pengalaman Pertama Pakai Menstrual Cup

on
Saturday, March 9, 2019
Meski udah diceritain di IG Story cerita awalnya, biarlah kuulang di sini ok.



Jadi saya udah lama banget tau menstrual cup, cuma taunya merek Diva dan itu mahal. Dulu pas tau itu harganya kaya Rp 700ribuan gitu dan saya mikir “halah sudahlah buang pembalut aja”. :)))))

Karena dulu cari info menstrual cup belum segampang sekarang jadi rada serem. Plus nggak ada orang terdekat saya yang pake jadi ya combo serem.

Terus nontonin videonya Safiya Nygaard yang dia coba menstrual cup sampai head stand segala. Wih makin tergoda tapi tetep, butuh persuasi dari orang terdekat dulu huhu. Sampai akhirnya anak kantor Andien pake, tanya-tanya, dan OKE DEH BELI JUGA.


Tapi tetep ada satu keraguan yaitu “IUD nya nanti kenapa-napa nggak ya?” Browsing-browsing cuma ada satu research yang bilang kalau expulsion rate IUD nggak dipengaruhi sama menstrual cup. OH TENTU SATU RESEARCH TIDAK CUKUP!

Iyalah gimana kalau yang bikin researchnya disponsorin pembuat menstrual cup coba lol makhluk-makhluk suudzon memang.

Sampai akhirnya diundang Tyas dari Sustaination untuk dateng event mereka yang ada obgynnya! Obgynnya namanya dr. Riyana dan dia bawa gambar presentasi vagina plus rahim. Jauh ternyata sis dari vagina ke rahim itu hahahaha.

Tiap orang emang beda-beda tapi kata dokternya kalau suami nggak ngerasain apa-apa harusnya menstrual cup juga nggak kena IUD sama sekali. Ya udalah beli detik itu juga, mumpung diskon pun.

Besoknya saya coba saat nggak mens. Baik-baik aja. Masukin agak susah dan ngeluarinnya lebih susah lagi karena belum tau caranya. Tapi karena saya riset udah lama banget jadi hal-hal kaya gini expected lah.

Yang harus digarisbawahi: NGGAK BERASA APAPUN. Di dalem kaya nggak ada apa-apa. Level lupa pake menstrual cup lho! Nyoba sekali terus merasa udah bisa dong. Lalu nggak sabar pengen mens biar bisa review hahahahahaha.

Di bawah ini saya akan cerita detail ya. Nggak perlu jijik karena kalian juga punya vagina kan? Ngilu-ngilu dikit itu wajar karena kita obok-obok pake dua jari sih literally.

Hari pertama

SUSAH MASUKNYA. T_______T Padahal pas nyoba itu nggak susah amat lho. Apa mungkin karena lagi mens jadi kram gitu otot-otot sekitar vaginanya? *monolog*

Kalau Agni Pratistha katanya works kalau sambil nyanyi. Kalau saya bisa sambil tarik napas panjang. Jadi fold, terus tarik napas, masukin, tarik napas, masukin, kalau mentok ya cari-carilah pokoknya pasti ketemu lha vagina kan berlubang jadi nggak mungkin nggak bisa masuk. Yang mungkin itu kita kurang rileks

Hari pertama berlalu dengan aman, nggak bocor sama sekali. Saya cuma buka 2 kali sih, pas mandi pagi dan mandi malem. Keduanya cuma keisi darah sepertiga cup.

Hari kedua

Pagi masukinnya masih struggling juga dohhh. Lipetnya itu lho susah banget karena sejujurnya nggak nyangka menstrual cup sealot itu. Pas nonton-nonton emang katanya harus keras biar bisa ngebuka sempurna di dalem.

Tapi jadinya jari-jari lemahku ini lemah banget ngelipetnya, belum masuk udah kebuka duluan. DAN PLIS TUTUP KLOSET KALAU LAGI MAKE! Ngeri nyemplung aja sih soalnya saya kemarin sempet lompat ke lantai menstrual cupnya karena saya lipet jadi kecil (pake double 7 folds) terus dia mental.

Hari kedua ini malemnya saya nyerah pakai pembalut huhu. Abis ketemuan sama mba Windi dan Nahla, dari PIM jam 9 malem, nyampe rumah jam 10 kurang terus mandi.

Digedorin Bebe terus suruh cepet mandinya lha ibu belum jago masukin menstrual cup sambil digedor pintu kamar mandinya sama Bebe kan jadi ya udalah kukibarkan bendera putih. Cuci terus pakai pembalut.

Hari ketiga

Bangun tidur dengan perasaan selangkangan ganjel pake pembalut dan gatel. Dipikir-pikir saya emang selalu gatel sih di sekitaran vagina tiap mens dan kena pembalut. Cuma berusaha diabaikan karena merasa tidak punya pilihan lain ya se-Indonesia dagangnya pembalut doang. :(

Hari itu ke kantor dengan menstrual cup, tidak terlalu struggling masukinnya karena nyoba pake folding punchdown. Langsung ngerasa lega dan nggak gatel lagi. TERHARU.


Jam 3 an di kantor pipis ada noda merah sekitar 2 tetes di celana dalem. WAH PANIK. Dipikir kepenuhan tapi ternyata pas dibuka masih sepertiga cuma kayanya ada bagian yang ngelipet gitu jadi suctionnya nggak 100% soalnya nyabutnya juga terlalu gampang.

Malem dibuka dan buang sekitar jam 11-an dan pasang lagi.

Hari keempat

Ini pas libur Nyepi kemarin dan kami akan otw ke Bandung. Deg-degan karena setelah melahirkan mens saya paling banyak itu justru di hari keempat dan kelima, bukan hari pertama dan kedua kaya dulu.

Jadi ini akan ke Bandung, dengan jam perjalanan tidak terduga, dengan kemungkinan pipis di rest area, dan … nggak mandi dulu sebelum tidur jadi males buka mens cupnya duh kesalahan fatal HAHAHAHA.

Ya bayangin itu hari keempat, mens cup terakhir dibuka jam 11 malem kemarinnya. Di jalan sekitar jam 12 siang kerasa bocor lol. Kerasa banget karena ya area vagina tiba-tiba lembap. Untung pake celana longgar jadi lipet tisu, selipin di celana dalem. Tanpa diliat itu beneran darah apa nggak.

Berhenti di rest area, toilet umumnya mayan bersih sih di area mesjid gitu. Saya menduga akan full banget tapi pas dibuka ternyata masih 3/4 penuh. Dan bener di tisu tadi ada darahnya beberapa tetes. Buang, cuci pake air, lap tisu pake lagi buru-buru karena takut orang kelamaan antri di luar.

Sampai Bandung mampir Lomie Imam Bonjol … BOCOR LAGI T_______T Ini nyerah karena toiletnya hoek banget, saya double pakai pembalut deh. Masih bawa di tas karena jaga-jaga lah, belum jago banget.

Hari kelima

MASIH LEAKING JUGA DUH MULAI MONANGIS. Browsing lagi dan hampir semua bilang kalau mungkin salah ukuran jadi susah pop di dalem. Saya ngerasa gini banget, diteken segimana pun biar kebuka, dia nggak mau kebuka mungkin emang kesempitan alias ukurannya kegedean. Udah ditelusuri pake jari, dibuka manual, tetep nggak mau kebuka full.

Kalau flow lagi dikit sih jadi nggak bocor karena masih ngalir masuk meski ada bagian yang nekuk, tapi kalau lagi banyak 3/4 jadinya bocor karena sekali keluar suka banyak gitu kan, leaking deh.

Jujur dari awal nentuin ukuran itu bikin bingung. Saya ngerasa salah beli ukuran B, petunjuknya untuk yang sudah melahirkan vaginal. Padahal kalau dipikir-pikir ini brand dari Denmark, badan mereka gede-gede dong udah pasti lha saya tinggi badan cuma 155 cm, kok pede-pedenya beli ukuran gede.

Betul sudah lahiran vaginal, tapi si Bebe lahir cuma 2,5 kg, kepala dia sama payudara saya aja kegedean payudara sumpah. Tapi mau dipake dululah sampai 6 cycle kalau tetep bocor susah pop juga baru beli baru. Siapa tau emang saya aja belum jago masukinnya plus mungkin juga harus dimiringin ke kanan atau kiri karena baca di reddit katanya ada yang vaginanya emang nggak lurus gitu jadi ya harus berusaha!

WHAT TO EXPECT:

1. Jangan ngerasa langsung akan lancar untuk masukin dan ngeluarinnya. Ada orang yang langsung lancar tapi ingat, anatomi tubuh orang beda-beda.

2. Masukinnya butuh latihan dan butuh nyoba berbagai folding dulu sampai kita ketemu yang pas. Sampai hari ketiga SAYA BELUM NEMU. Masukinnya paling enak pake punchdown itu tapi emang risikonya di dalem dia nggak kebuka sempurna karena kelipetnya kegedean.

3. AWAL-AWAL NGELUARINNYA JUGA A REAL STRUGGLE IN LIFE LOL LEBAY MAKLUM NUBITOL JANGAN DIBATA PLIS (Kaskus reference, aku merasa tua HUHU)

Ngeluarinnya itu harus dua jari di dalem untuk nyubit mens cupnya dan ngeluarin udara di suctionnya. Padahal kuku saya pendek tapi ngilu tetep karena kecoel-coel dalam kondisi oon gitu kan. Langsung kebayang Khloe Kardashian kalau pake menstrual cup :(


5. Pasang dan pakenya lebih gampang setelah mandi karena mungkin otot-otot lebih rileks dan lembap. Saya nggak pake lubrikan karena ngerasa nggak butuh aja. Mikirin juga kalau beli lubrikan cuma nambah sampah baru kan dari kemasannya.

Tapi selain proses buka tutup yang masih kuperjuangkan, ASLI SIH ENAK BANGET SUMPAH. Nggak berasa kaya mens karena nggak ada momen seerrrr darah keluar. Nggak perlu bawa pembalut, nggak perlu khawatir harus cuci pembalut di mana. Ngerti banget sekarang kenapa orang setelah pake mens cup tidak mau kembali pake pembalut.

Apalagi kaya saya yang punya history alergi pembalut. Jadi waktu nifas saya ala-ala pake pembalut nifas dan alergi aja seluruh kulit selangkangan ngebentuk pembalut dong. Gatel luar biasa. Akhirnya disuruh pake pembalut biasa.

Dan itu pun selalu gatel. SELALU. Jadi bagaimana pun akan kutaklukkan menstrual cup demi mens tidak seperti mens!

Saya terus mengingatkan diri bahwa ini semua terjadi karena belum jago aja sih. It’s all about breaking the habit! Maklum banget 17 tahun pakai pembalut dan sekarang harus pakai sesuatu yang baru, wajar gagap. Dulu juga pake pembalut nggak jago kan, udah pake wings tetep ada momen tembus karena belum tau cara pasang dan ganti yang bener.



FAQ:

1. Pipis/pup gimana? Nggak gimana-gimana, it stays inside. Nggak geser nggak ganggu sama sekali.

2. Ganjel nggak? Kemarin saya bilang nahan pipis kerasa ganjel tapi itu kayanya salah deh hahahaha soalnya sekarang mau pup atau nahan pup atau nahan pipis pun nggak berasa apa-apa sama sekali.

3. Kerasa geser nggak? Nggak sama sekali.

4. Disteril nggak? Direbus 5-10 menit sebulan sekali setelah mens selesai. Hari-hari nggak disteril sih sebelum lepas pasang cuci tangan pake sabun aja. Terus dibuang darahnya, bilas air, lap tisu. Atau kalau air di rumah dan yakin bersih sih saya nggak lap, kepret-kepret dikit biar kering terus masukin lagi.

5. Bisa dipake berenang? Dipake olahraga apapun juga bisa asal yakin suctionnya udah bener.

6. Kalau belum pernah intercourse bisa pake? Bisa dong kan bolongannya tetep ada. Nggak masalah sama sekali. Riset dan kembalikan pada value hidupmu ya.

7. Beli di mana? Beli di Sustaination.

Udah sih segitu aja. Lengkapnya ada di highlight story saya ya.

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Memahami Gaya Belajar Anak

on
Monday, March 4, 2019
Oke jadi sampai sekarang saya masih semangat untuk ngajarin Bebe baca. Udah lama banget? Iya memang karena dia juga masih semangat hahahaha.

Kalau mau baca perjalanannya dari sini:

Part 1: Gimana ngajarin calistung?
Part 2: Bebe Belajar Baca (2)

Ini dalam kondisi gemes-gemesnya karena dia udah bisa baca 2 suku kata. Masih dieja tapi BISA. Videonya pernah saya share di Instagram, liat di sini.



Itu semua pertama thanks to alphabet cubes dari @letthefunbegun. Saya liat mereka posting dan AHA! butuh ginian nih biar gampang nyusun huruf dan nggak ilang-ilangan. Akhirnya sekalian di-review di Mommies Daily juga. Ini videonya, silakan teracuni lol.


Tapi selain pake alphabet cubes itu saya juga baru tau tentang teori gaya belajar anak. HUAAAA. Padahal udah sering denger ibu-ibu komen “anakku kinestetik” atau “anakku tactile banget” TAPI NGGAK PERNAH CARI TAU ITU APA. Saya mikirnya oh nantilah udah SD dan udah belajar bener di dalam kelas baru cari tau.

Langsung ngerasa oon seketika banget sih.

via GIPHY

Itu pun taunya karena nggak sengaja, lagi baca-baca website parenting nyari ide buat artikel Mommies Daily, eh nyasar ke sebuah artikel dan langsung histeris ngechat JG karena LOH INI BEBE? KOK ANAK KINESTETIK INI BEBE SIH?

Kok selama ini kita nggak nyari tau hal kaya gini sih? T_______T

Artikel Mommies Daily-nya bisa dibaca di sini: Anak Sulit Diam? Ini 8 Tanda Anak Pembelajar Kinestetik

Oke buat yang anaknya masih kecil atau belum tau juga, intinya gaya belajar anak itu bisa dipetakan dalam 3 atau 4 bagian. Tidak saklek ah kenapa harus saklek juga.

1. Visual learners: ini anak-anak yang lebih gampang belajar melalui penglihatan. Lebih suka belajar lewat sesuatu yang digambar seperti diagram atau gambar-gambar lain. INI SAYA BANGET SIH. 


2. Auditory learner: ini anak-anak yang belajar dengan mendengar. Tipe-tipe yang denger guru sekali dengan konsentrasi penuh terus langsung inget aja gitu pelajarannya, 

Anak-anak seperti ini lebih suka belajar dengan membaca keras atau dibacakan sesuatu. Intinya lebih gampang menyerap pelajaran lewat audio (obviously).


3. Kinesthetic learners: ini anak-anak yang harus GERAK seluruh tubuhnya baru bisa belajar. Note, seluruh tubuh jadi harus ada adegan menyentuh, megang, jungkir balik. Jungkir balik karena anak kinestetik merasa butuh bergerak setelah beberapa waktu untuk kembali konsentrasi.



Terakhir ada yang gabungin kinestetik sama tactile tapi saya bedain aja deh soalnya emang beda sih. Cuma yang paling ngetop itu memang disebutnya VAK ini (visual, auditory, kinesthetic). 


4. Tactile learners: mirip kinestetik tapi poinnya itu sentuhan. Kalau kinestetik kan seluruh badan harus berkontribusi tuh, kalau tactile itu yang terpenting adalah MEGANG. Nyentuh aja cukup. CMIIW ya.


*

Si Bebe itu ternyata kinesthetic dan auditory. Bisa gabungan juga, nggak harus cuma satu kok. Bebe bisa mulai lancar baca setelah saya dan JG baca banyak hal tentang cara ngajarin baca anak kinestetik .

Ciri anak kinestetik kurang lebih nggak mau diem. Balita emang nggak mau diem, tapi anak kalian kalau dibacain buku diem nggak? Bebe nggak. Kakinya gerak-gerak, tangannya gerak-gerak. Dia nonton YouTube aja nggak bisa sambil duduk tenang, pasti sambil lompat-lompat, sambil kakinya main-mainin bola, pokoknya badannya harus tetap gerak.

Dan saya selama ini risih karena nggak ngerti kalau itu emang bawaannya dia. Saya anaknya visual dan rada highly sensitive sama suara, malah risih kalau lagi ngerjain sesuatu terus ada yang gerak-gerakin sesuatu, nggak bisa kerja sambil dengerin musik. Sebel banget. Karena maunya semua kalem gitu hahaha.

Makanya catetan kuliah saya serapi itu dan sampai difotokopi temen-temen seangkatan karena saya nanti ngapalinnya dari catetan itu. Saya bisa tau persis kalimat mana ada di bagian kertas yang mana.

Saya tau persis misal saya gambar sesuatu di pojokan kertas di bagian catetan apa. Makanya benci sama yang tidak indah (seperti feed Lambe Turah lol) karena ih jelek, berantakan. Rumah sih berantakan, tapi lebih karena saya accepting the fact saya akan capek kalau keseringan beres-beres.

Cara Belajar Baca Anak Kinestetik

Jadi malem itu kami ubah ulang semua cara belajar Bebe. Sebelumnya dia belajar baca sama saya, ya duduk manis dan harus DIAM SERTA KALEM karena saya menganggap saya kalau kalem konsen, si Bebe ternyata beda hahaha.


rusuh lol

Yang works kaya gini. Pertama JG coba nulis huruf di tiap lantai pakai marker yang nggak permanen. Misal nulis S A P I, abis itu dia harus lompatin semua hurufnya sambil bunyikan phoneticnya. Selesai dilompatin dia baca, BISA LHO.

Tapi yang nemeninnya lelah ternyata. Kami akhirnya ganti cara yaituuuu … suruh dia lompat-lompat atau jungkir balik dulu. Jadi baca 2-3 kata pake alphabets cube kemudian ketika mulai keliatan nggak konsen, suruh jungkir balik dulu. Jungkir balik 4 kali LANGSUNG LANCAR DONG BACANYA.

Abis itu bisa nggak konsen lagi, suruh lompat-lompat dulu. Baca lagi, LANCAR. Waw terkejut HAHAHAHAHA. Baru tau ada anak yang bisa kaya gini. Baru tau ada anak yang konsentrasi dengan bergerak terus. Pantes dulu pernah denger guru SD bilang “ada anak-anak yang harus disuruh lari-lari dulu keliling lapangan baru bisa duduk manis di kelas” TERNYATA MAKSUDNYA INI!

Cara Belajar Baca Anak Auditory

Yang ini saya dan JG nggak sadar sampai missnya di sekolah yang bilang. Kata miss, Xylo itu lebih gampang ngeja kalau disebutin hurufnya dibanding kalau liat hurufnya langsung jadi kemungkinan dia auditory. Lha langsung rada kaya ditoyor karena OH BENER JUGA.

Kaya di postingan yang Bebe Belajar Baca itu, dia udah lancar ngeja kan. Itu ternyata dia anaknya emang auditory gitu, lebih gampang ngeja kalau disebut hurufnya dibanding dilihat.

Sekarang dia udah ngeja level canggih misal saya bilang pakai phonetic “B O L A?” dia bisa jawab “BOLA”. Begitu pula dengan dibalik, BOLA hurufnya apa aja? Dia bisa jawab “B O L A”. Kalau diliatin hurufnya atau disuruh cari hurufnya belum tentu dia bisa.

Ajaib ya. Kata missnya nggak apa-apa terus aja dilatih pake metode yang emang cocok. Nanti lama-lama juga pasti bisa.

Jadi yakin sih harusnya tahun ini Bebe udah bakal bisa baca. Sekarang dia udah mau mulai belajar yang lebih dari 2 suku kata meski kadang lupa-lupaan gitu apalagi kalau ada NG dan NY.

Nggak apa-apa. Ibu sabar. Ibu sabar ngajarin Bebe meski lebih nggak sabar nunggu dia bisa baca biar nggak perlu bacain buku lagi hahahaha. Minimal sekarang kami udah tahu cara belajar dia dan jadinya maklum kalau dia nggak mau diem padahal lagi belajar.

Semoga berguna!

-ast-







LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Berpisah dengan Anak di Masa Depan

on
Thursday, February 28, 2019

Di satu hari yang sama, topik ini muncul dari beberapa medium berbeda. Pertama dari Nahla di group yang nanya:

“Itu yang Abah Ihsan anak kabur dibiarin itu nggak takut anaknya kenapa-napa ya?"

Buat yang belum tau, Abah Ihsan ini punya Program Sekolah Pengasuhan Anak. Diceritakan Isti di IG storynya (iya diceritain lah, orang saya nggak ikutan hahahaha). Ini IG storynya, lengkapnya bisa dilihat di sini.


Terus saya jawab (ke Nahla), memang membesarkan anak itu kan untuk hidup mandiri. Kalau pun dia tidak kabur dari rumah, kan bisa aja kuliah atau kerja di luar negeri/kota kaya saya gini.

Dulu awal kerja mana ada takutnya, jam 1-2 pagi masih keliaran di Gerbang Pantai Karnaval Ancol nungguin taksi. Yang lewat truk-truk semua, apa nggak takut kenapa-napa?

Takut lah udah pasti. Tapi bahkan kalau anak nggak boleh keluar rumah pun kan pasti banyak momen dia keluar sendiri. Apa nggak takut kenapa-napa? Lha di rumah aja kalau mau takut sih banyak juga bahayanya.

Bisa apa kita manusia? :)

Eh terus lanjut malamnya bahas adik saya yang kantornya jauh dari rumah ibu di Bandung sampai uangnya abis buat ongkos. JG nanya “Kalau itu Bebe, akan kita suruh keluar rumah aja nggak sih biar praktis? Apa akan tetep kita suruh diem di rumah?”

Saya jawab “ya ngekoslah daripada capek di jalan lagian kalau dia kuliah nggak di Jakarta juga dia udah pasti tinggal jauh dari kita kan?”

Ya sudah pasti gimana sih kaliaannnn lol.

Lanjut ke besoknya, seseorang nanya di IG story, baper nggak sih mikirin anak suatu hari lepas dari kita? Saya jawab nggak, saya nggak baperan anaknya. Eh terus ada yang DM ini:


Tidak dicium saya baper, tapi berpisah nggak baper kenapa coba? Karena sejak awal mindsetnya si Bebe akan sekolah di luar negeri hahahaha.

Saya dan JG kan anak rantau (ehm). Saya berpisah dengan orangtua di umur 23 dan saya baik-baik saja. Yailah dari Bandung doang gitu kali kalian mikirnya. Tapi coba aja deh, sebanyak itu orang Bandung yang menolak dan nggak betah kerja di Jakarta karena ya Bandung terlalu nyaman. Lah orang Jakarta yang kuliah di Bandung aja banyak yang nggak bisa move on kok.

Jakarta panas, macet, pengap, sesak, tapi saya ngerasa saya dan JG nggak bakal bisa kaya gini kalau kami tetap di Bandung. Nggak akan push ourselves this hard kalau kami tetap di Bandung. Karena apa motivasinya?

Di Jakarta, motivasinya adalah “duh kenapa kita nobody sih ayo lakukan sesuatu biar dikenal orang” gitu. Kalau di Bandung lha setengah populasi aja kami dan keluarga kenal kok HAHAHA.

Nah, itu sebabnya saat punya anak, kami berdua udah sepakat bahwa Bebe harus sekolah di luar negeri. Ya Bebe kan anak Jakarta, mau ke mana lagi dia biar bisa termotivasi. Kami yang anak Bandung sih receh, merantau ke Jakarta aja udah ngerasa sukses LOL.

Begitu tau Kaesang Pangarep pindah sekolah di Singapur waktu SMP kami lebih wow lagi. Langsung kepikiran “APA BEBE SMP DI SINGAPUR JUGA YA?” HAHAHAHAHAHA. Monmaap ortunya emang ambisius kalau soal pendidikan. Doakan uangnya nyampe aja dong!

Kalau SMP saya masih mikirin sih karena ih masih kecil. Apa saya ikut pindah Singapur juga? Hahahaha. Kalau SMA ya kasihlah, kaya Iqbaal gitu kan keren amaaattt. Malah excited kalau memang suatu hari Bebe SMA di Amerika kaya Iqbaal khawatir pasti iya, tapi bangga banget dong pasti. Makanya Bebe memang udah di-brainwash untuk kuliah di luar meski sekarang kalau ditanya dia maunya sekolah di Amerika biar ketemu Ryan. *tetep*

Dan soal perpisahan ini kan hal yang sangat umum. Oke saya dan JG mindsetnya sekolah di luar, tapi kan banyak juga orangtua yang emang cita-citanya pesantrenin anak. Berpisah juga kan tinggal di asrama. Kalau pun nggak, pasti ada masanya dia punya keinginan untuk keluar dari rumah sih, menikah atau tidak menikah.

IYA DONG?

Jadi bertanya-tanya sama diri sendiri, akan kesepian nggak ya saya di masa depan? Hayo jangan suruh tambah anak, mau anak 1 atau anak 5 juga bisa aja tinggal sendiri di masa depan.

Kaya almarhumah nenek saya, anaknya 5, tapi maunya tinggal sendiri. Justru saya liat nenek memang menikmati kesendiriannya, nggak dikhawatirin anak-anak terus, nggak diatur ini itu, dan yang terpenting: bisa akhirnya sendiri setelah berpuluh-puluh tahun urus keluarga. (Baca: Nenek)

Kalau kata mbak Nuniek, ada yang namanya prinsip 3 topi dalam parenting ini saya suka banget karena orangtua zaman dulu banyak yang failed banget nih di sini.

1. Controller hat: topi ini dipakai saat anak umur 1-10 tahun. Nurture deh intinya, apa yang boleh apa yang tidak boleh, beri contoh nyata.

2. Coaching hat: topi ini dipakai ketika anak berusia 11-19 tahun, karena pelatih jadi kita mantau aja nggak ikut main. Pelatih harus menginspirasi tapi tidak menginstruksi karena anak udah nggak butuh banyak informasi baru dari orangtua.

3. Consultant hat: topi ini dipakai ketika anak sudah 20 ke atas. Anak sudah dewasa jadi seperti layaknya konsultan di perusahaan-perusahaan, orangtua diharapkan memberi masukan HANYA KETIKA DIMINTA. Lha iya mana ada konsultan tiba-tiba datang terus nasehatin ini itu.

Orangtua zaman dulu biasanya nggak ngerti nih soal ini makanya seumur hidup mereka pake controller hat. Seumur hidup mengontrol anak padahal anak tumbuh, peran orangtua juga berubah. Makanya heboh deh urusan mertua menantu selalu jadi topik hot.

Jadi mungkin yang dibutuhkan adalah rencana masa depan mau ngapain. Karena pasti ada momen ih kok kemarin aku mendidik anak sekarang kok mati gaya karena udah di fase coaching hat? Kok mati gaya karena dia punya istri? :)))))

Hayo dipikirin dari sekarang. Hahahaha.

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Bebe Gondongan

on
Thursday, February 21, 2019

Waw kupikir penyakit gondongan pada anak ini udah punah loh beneran hhhh.

Bulan lalu, apa akhir Desember gitu (kok lupa) saya liat IG storynya Ita yang cerita kalau anaknya gondongan. Dia kemudian share info vaksin MMR di Penang dan Singapur. Saya sc beberapa dan bahas sama JG, kita ke Singapur apa Penang ya? Sekalian jalan-jalan sambil Bebe vaksin.

KEMUDIAN JADI WACANA.

Nggak lama dari situ, mama Eri posting juga kalau vaksin MMR udah ada di Jakarta. Saya sc lagi dan bahas lagi sama JG “eh kapan yuk kita ke RS biar Bebe vaksin MMR”.

KEMUDIAN JADI WACANA 2.0.

Day 1: 

Senin malem sebelum tidur Bebe ngeluh kupingnya sakit dan dia korek-korek terus. Saya ngantuk jadi nggak nanggepin amat. Usap-usap dikit terus tidur … SAYANYA YANG TIDUR BUKAN BEBE. Nggak lama dia bangunin dan bilang “ibu, yang sakit itu bukan kuping tapi ada jendul ini di pipi aku”.

Area pipi yang pas sebelah kuping saya pegang emang ada benjolan kecil agak keras kaya digigit serangga gitu. Karena dia bilang “sakitnya itu sakit banget loh” akhirnya saya bangun dan kasih dia Tempra biar sakitnya ilang dan saya dia bisa tidur.

Nggak lama dia langsung tidur. Saya nih yang malah jadi nggak bisa tidur dan mikir ah gondongan nih pasti. Mau browsing untuk memastikan juga males nyalain lampu lagi karena semua rumah udah gelap kan. Akhirnya saya tidur sambil mikirin “AH GONDONGAN AH BUKAN KAYANYA AH GONDONGAN SIH PASTI”.

via GIPHY

Day 2:

Subuh kebangun saya langsung bangunin JG “SAYANG SI BEBE GONDONGAN DEH”. JG kalem “halah masa sih, ke dokter deh jangan ngarang-ngarang gitu”. IH SAYA UDAH FEELING BENERAN DEH. Lalu kami berdua browsing sama-sama dan akhirnya sepakat pada diagnosa bersama-sama “OH IYA BENER DENG GONDONGAN” LOL

Pagi itu juga langsung izin dan cari RS yang ada dokter anak pagi-pagi. Dokternya Bebe dr. Tania Nilam Sari di RSB Asih kalau pagi itu praktiknya di RS Medika Permata Hijau. Agak nggak mungkin karena menambah pekerjaan rumah dong kalau kami yang di Jaksel mepet Jaktim ini harus ke Jakbar.

Akhirnya berdoa sambil browsing website Siloam dan yeay ada dokter anak pagi di MRCCC Siloam Semanggi. Auk namanya nggak kenal dr. Vonny siapa gitu tapi cus ajalah.

Pas nyampe eh ternyata yang praktik malah dr. Paulus Linardi. Bebe udah pernah sama dr. Paulus ini dan dia tipe dokter anak yang suka banget anak-anak, jadi Bebe juga seneng dan nggak pernah takut sama dia. Ada kan ya dokter anak yang ketemu anak itu flat aja nggak disapa dulu anaknya hahaha kurang passion mungkin hanya menuruti keinginan orangtua untuk jadi dokter anak. (semacam jadi PNS) -________-

Sama dokter Paulus diperiksa semuanya, sampai testisnya karena horor kalau gondongan ini sampai testis. Bisa sakit banget katanya. Si Bebe boro-boro kaya yang sakit sih, masih lompat-lompat dan dance tiap bertemu cermin. Beneran kaya nggak sakit sama sekali.

Tapi emang itu kondisi bengkaknya belum terlalu parah. Kalau diliat dari depan pipinya masih simetris, belum kaya gondongan heboh yang bengkak sampai leher. Kata dokter kalau nggak cepet diobatin bisa jadi kedua pipi bengkak sampai leher dan itu sakit banget.

Ini Bebe nggak ngeluh sakit dan nggak ada demam. Cuma dia tidur miring ke kanan terus karena katanya pipi itu sakit kalau keteken. Normalnya kalau emang gondongan parah, nggak diteken juga sakit pipinya. Kata dokter kalau masih kecil gini bengkaknya paling 5 hari sembuh. Nggak boleh sekolah dulu.

Sama dokternya juga langsung ditanya udah vaksin belum? UDAH DOK HEHE UDAHNYA DIRENCANAKAN DAN MENGAMBIL ANTRIAN SEJAK DIA LAHIR HUHU. Dokter Paulus bilang MMR stoknya aman, sampai akhir tahun masih akan aman jadi secepatnya aja vaksin abis ini sembuh. SIYAP.

(Btw itu urusan antrian MMR apa kabarnya ya? Dulu pas Bebe jadwal MMR itu saya udah naro antrian di Hermina sama di Asih tapi kok pas sekarang ada malah nggak dikabarin. Meski memang sudah 4 tahun berlalu sih hahahahaha.)

Sama dokter Paulus dikasih antivirus (bukan antibiotik tapi sama harus habis), vitamin, dan ibuprofen karena katanya sakitnya itu sakit banget. Yha agak deg-degan dan kemudian membujuk JG untuk nggak kerja juga hahahahahaha seharian lah kami di rumah bertiga.

Tadinya mau JG aja yang di rumah sama Bebe tapi saya di-banned untuk tidak datang ke kantor daripada bawa virus dan nularin orang. Virusnya gampang nular soalnya. Mana ada yang lagi hamil kan kutakmungkin mengambil risiko anak orang kenapa-napa. Sedih banget karena hari itu farewell Gyanda, akhirnya video call dong selama farewell hahahaha.

Oiya Bebe juga nggak susah makan dan bilang katanya nggak sakit. Kata dokter padahal hindari makan keras karena dipake ngunyah sakit tapi Bebe kalem aja makan segala rupa. Makan kaya biasa sehari 3 kali. Minum antivirus + ibuprofen biar bisa tidur dan vitamin PLUS minumnya bukan air putih tapi air + madu trigona sesendok + madu hutan biasa 2 sendok. Seharian dia minum air madu, abis 2-3 gelas lah.

Day 3:

PIPI KEMPES SEPERTI SEDIA KALA. Tapi kalau dipegang masih anget. Nggak ngeluh sakit dan diteken udah nggak sakit. Tidur udah bisa guling kanan kiri kaya biasa aja gitu. Sehat walafiat.

Mulai tergoda untuk sekolah nggak nih?

Makan masih kaya biasa tapi obat tinggal diminum antivirusnya doang. Ibuprofen udah nggak. Vitamin ganti Imboost aja. Air madu masih cuma hari ini cuma abis segelas karena dia bosen.

Iya ih si Bebe bosen banget level ngeluh-ngeluh “aku bosen” “aku bosen banget” “aku mau sekolah” SAMAAA BE IBU JUGA BOSEN DI RUMAH.

Day 4:

Hari ini hari keempat dan Bebe udah sehat walafiat sih. Cuma karena katanya biasanya virusnya masih nular dalam 5-7 hari jadi Bebe nggak sekolah dulu. Takutnya virusnya masih ada dan nularin temennya kan kurang lucu ya.

T_______T

Sayanya yang bosan karena kerja dari rumah sambil ada anak itu kan wihiii banget. Harus siapin sarapan dan makan siang, harus sambil suapin, kenapa kerjaan kok jadi nggak selesai-selesai sih?

Saya sampai bilang Bebe “be, di sekolahmu yang masak siapa?” Miss Ana. “Yang mandiin kamu siapa?” Miss Fika. “Yang ngajarin kamu siapa?” Miss Desi. “Jadi ada berapa orang?” 3 orang. Nah, di sekolah ada 3 orang yang ngurusin kamu dan di rumah cuma ada aku sendiri jadi kamu main sendiri dulu ya hahahahahuhuhuhuhu.

Terus dia mau huhu terharu. Ya masih nonton YouTube juga tapi nggak seharian banget nonton kok masih dalam batas wajar. Bebe juga sweet banget nggak mau cium ibu dan nolak dicium karena kata dokter takut nular. :'))))

Oiya gondongan ini yang zaman dulu mitosnya pake blao/bulao itu loh gengs. Kata ayah saya malah dulu kalau gondongan nggak boleh ke dokter karena pamali zzz. Saya ceritain ke Bebe soal blao itu kata Bebe “IH ANEH MASA BUAT CUCI DIOLES KE MUKA” HAHAHAHA. Gen Alpha refused!

Demikian, jangan lupa vaksin MMR ya. Karena gondongan itu sakit dan repot. Ibu-ibu yang ngotot “udah kok anakku vaksin MMR di posyandu/puskesmas” BELUUUMMM. Yang di posyandu atau puskesmas program pemerintah itu vaksin MR bukan MMR. MR itu Measles dan Rubella kalau MMR itu MUMPS (gondongan), Measles, dan Rubella. Sejak Bebe lahir, vaksinnya baru available lagi tahun ini.

JADI AYO VAKSIN!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Mengajarkan Kesetaraan Gender pada Anak

on
Monday, February 18, 2019
WEH BERAT BAHASANNYA. Pasti banyak yang nggak setuju dan itu nggak apa-apa banget.

Oiya seperti biasa harus pake disclaimer: nggak bakal bahas dari sisi agama dan kalau ada yang komen bawa-bawa agama silakaaannn ... di blog kalian sendiri ok.




Topiknya kesetaraan gender. Banyak yang takut banget sama istilah ini. Kayanya kalau keluarga menerapkan ini pasti ibunya kurang perhatian ke anak, suami nggak keurus, anak nanti jadi brutal. Apakah itu terjadi pada kami? Ya nggak lah apa hubungannya sih.

Menurut kami, topik ini adalah values penting yang memang harus diajarkan sejak kecil. Karena, JG juga adalah feminis yang nggak sadar dan nggak melabeli diri sampai saya bilang “kamu tuh feminis banget lho”.

Saya tidak punya batasan cowok harus begini dan begitu. Seperti pun JG tidak pernah membatasi karena saya perempuan saya harus melakukan ini dan itu. Bagi kami, batasan soal gender itu hanya sebuah konstruksi sosial. And remember, don't let society define you! Dia bebas berekspresi, saya juga bebas. Kami tetap punya batasan yang kami sepakati bersama. Tapi intinya kalau dia bisa, maka saya juga bisa. — dari postingan Pria Maskulin dan Seksualitas.


Iya kami tidak melihat tugas rumah tangga sebagai tugas istri, tidak melihat suami harus dilayani, bahkan kami sangat jarang pakai istilah “suami istri”. JG sampai detik ini refer ke saya sebagai “pacar” karena “suami istri” itu lekat dengan peran-peran tertentu dan kami tidak memerankan itu. We’re life partners, bestfriends. :)

Meski tampak bebas, kami sebetulnya clingy banget satu sama lain lebih karena ekstrovert tidak suka kesepian hahaha. Jadi ke mana-mana bertiga, saya mau pergi sama temen boleh aja tapi hampir pasti saya dijemput. JG main bola sama temen silakan tapi saya dan Bebe tungguin juga.

Btw kalian yang menikah biar punya istri yang melayani mungkin akan aneh dengan konsep ini. Wajar dan nggak apa-apa asal sepakat aja sama istrinya kan. Menikah itu bebas asal sepakat. Karena kalau tidak sepakat, artinya beda prinsip. Udah pernah dijembreng di postingan ini: BEDA PRINSIP

INTRONYA KEPANJANGAN.

Intinya kami mau Bebe gedenya kaya JG. Nggak mengkotak-kotakkan perempuan harus gini dan gitu, nggak beralasan nggak bisa melakukan sesuatu karena dia laki-laki, nggak depresi karena laki-laki nggak boleh nangis.

Apa aja yang kami ajarkan tentang kesetaraan gender pada balita?

“Anak laki-laki harus kuat! Anak cowok kok nangis!”

Lha kenapa harus kuat dan nggak boleh nangis coba. Pernah saya bahas lebih lengkap di postingan ini: Laki-laki itu manusia. Laki-laki ITU bukan JUGA. Bukan “laki-laki JUGA manusia” karena ya MEMANG MANUSIA kan? *loh kok marah*

Ini juga berkaitan dengan salah satu prinsip membesarkan anak yang sudah dijembreng panjang lebar di postingan Memahami Anak yaitu:

Kami memvalidasi emosi. Kamu boleh marah, boleh sedih, boleh kecewa. LAKI-LAKI BOLEH NANGIS. Boleh lemah. Boleh nggak merasa strong dan boleh minta bantuan. Boleh banget!

Boys will be boys

“Alah berantem mah biarin lah namanya juga anak cowok”

Bisa membela diri itu perlu tapi nggak perlu pembenaran “biarin lah namanya juga anak cowok” NO. Berantem apalagi bullying, sebagai pelaku atau korban apalagi di usia dini bisa jadi trauma di masa depan.

Jadi kami ajarkan ia membela diri dengan tidak boleh bertindak agresif lebih dulu. Kalau dipukul maka pukul balik, kalau didorong maka dorong balik, TAPI tidak pukul duluan dan tidak dorong duluan. Yang terpenting adalah tidak pakai pembelaan apalagi di depan anak dengan “biar aja namanya juga cowok”. Kalimat itu toxic. Hal buruk adalah hal buruk, tidak bergantung pada jenis kelamin pelakunya.

Toys, colors, house chores have no gender

Di rumah ini, kami sebisa mungkin tidak memberi gender pada mainan atau warna. Baru itu karena Bebe masih kecil aja sih. Semakin dia besar pasti semakin kompleks lagi pembahasan gender equality ini.

Rada kaget ketika dia mulai sekolah, dia tiba-tiba tau dan mempertanyakan “appa kok suka pink? Appa kan laki-laki?” Wow tapi memang lingkungan kan nggak bisa kita ubah sesuka hati ya.

Akhirnya ditanya, tau dari mana pink itu untuk perempuan? Dia nggak bisa jawab. Mungkin mengasosiasikan dengan anak-anak cewek di sekolah yang serba pink.

Abis itu dijelasin aja, laki-laki boleh kok suka warna pink, warna itu bukan punya siapa-siapa. Semua orang boleh pilih warna kesukaan dia. Jadi sekarang dia berubah pikiran dan nggak mikir pink itu hanya untuk perempuan.

Begitu pun dengan mainan. Pengen mainan masak-masakan ya saya beliin aja, masak beneran dia pengen bantu ya boleh. Dia tidak dibatasi ini dan itu hanya karena dia laki-laki.

Consent

Ini saya ajarin banget sih kalau tidak itu artinya tidak. SUSAHHHH. Karena namanya anak kecil kan belum dipikir amat ya.

Consent ini nggak selamanya berhubungan dengan kegiatan berbau seksual lho. Saya ajarin sesederhana anak lain nggak mau main, jangan dipaksa, anak kecil tangannya nggak mau dipegang, nggak boleh maksa megang, consent dari hal paling sederhana dan bisa dipahami anak balita.

Juga yang berhubungan dengan private parts, saya nggak cuma bilang "badan kamu yang nggak boleh dipegang itu ini, ini, dan ini karena itu milikmu" saya juga jelaskan kalau dia juga nggak boleh pegang private parts orang lain. No is no.

“Kamu kan laki-laki”

Kami nggak pernah pakai kata-kata “kamu kan laki-laki maka kamu …” Apa yaaa penjelasannya, tugas kita ya jadi manusia baik. Itu aja sih, nggak ada ceritanya perempuan harus begini dan laki-laki harus begini.

Yang harus itu cuma satu: kalau punya anak makan kita harus kerja untuk menghidupi dia. Yang lain nggak ada harus-harus.

*

Nah, terus saya juga sering dapet pertanyaan: "Xylo suka mainin makeup nggak? Harus gimana kalau anak cowok mainin makeup?"

Sampai sekarang hampir 5 tahun, Xylo belum pernah sekali pun berantakin atau rusakin makeup sih.

Kenapa? Karena kalau penasaran saya kasih tau dan nggak dimarahin. Misal dia liat lipstik terus kepo, ya udah saya liatin cara kerjanya gimana. Kepo liat bulu mata ya udah liatin aja bulu mata itu gimana. Iya harus sabar tapi kalau dilarang-larang dia jadinya penasaran dan pasti akan melakukan sembunyi-sembunyi.

Kalau ikutan main makeup? Mentok dia sok-sok gambar alis atau kepruk-keprukin brush ke pipinya. Boleh aja sih nggak pernah saya larang. Nggak sesering itu juga dia kepo pengen ikutan makeup jadinya yaaaa nggak liat itu sebagai masalah sih. Takut ini dan itu? Masa anak cowok main makeup?

Buat saya, masalah gender dan sexuality itu jauhhh lebih kompleks daripada sekadar anak laki-laki main makeup. Makeup itu dekorasi, sama seperti floral itu pilihan motif, nggak berhubungan langsung sama seksualitas. Ini bisa jadi panjang jadi sudahlah cukupkan sampai di sini.

*

Balik lagi ya ini value keluarga kami, bisa jadi berbeda dengan kalian dan itu nggak apa-apa juga. Tujuannya sih jelas, biar dia nggak jadi laki-laki yang memendam perasaan hanya karena dia laki-laki. Biar dia nggak jadi laki-laki yang pake fisik dan bukannya perasaan. Biar dia jadi laki-laki yang tahu batasan dan memanusiakan perempuan. Biar dia jadi laki-laki yang bisa menghadapi segala cobaan, dari masak sendiri sampai jagain anak.

Biar dia jadi laki-laki yang bisa menentukan dan menemukan kebahagiaannya sendiri bukannya bergantung pada bagaimana perempuan memperlakukannya. :)

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Pertanyaan Seputar Seks dari Anak dan Cara Menjawabnya

on
Wednesday, February 13, 2019
Beberapa hari lalu saya buka question box di IG. Tentang pertanyaan seputar seks yang ditanyakan anak dan kalian nggak bisa jawabnya.

Ini jawaban saya kalau saya ditanya pertanyaan yang sama. Inget lho, ini jawaban saya. Sesuaikan dengan value keluarga kalian masing-masing.

Sebelumnya boleh juga dibaca dulu postingan sebelumnya: Sex Education untuk Balita


Karena kadang kalau tanya psikolog kan jawabannya kelewat teoritis ya. Saya kadang cocok kadang nggak sama jawaban teori dari psikolog hahahaha.

Ya udah cus, apa aja pertanyaan soal seks dari anak dan gimana SAYA ngejawabnya?

Bagaimana ngejelasin menstruasi dan pembalut?

“Aku tidak hamil dan setiap perempuan yang tidak hamil akan keluar darah setiap bulan jadi aku butuh pembalut. Kalau laki-laki nggak, badannya memang beda kan. Yang hamil siapa?”

Kenapa penis suka jadi besar/keras?

“Iya karena penis itu elastis. Bisa jadi besar bisa jadi kecil. Apalagi kalau kedinginan. Normal kok, nggak apa-apa.”

Liat adegan cewek berendam di bathtub terus bilang "ma, tititku besar lagi”. Harus gimana?

Aku nggak nanya ini anaknya umur berapa karena kalau yang dari aku baca, kalau masih balita sih nggak akan menghubungkan liat rangsangan -> jadi ereksi. Karena sampai 6 tahun itu masih fase falik, baru mengerti ada sensasi di kelamin tapi belum bisa mendefinisikan itu apa. CMIIW.

Sebaiknya kalau dia bilang gitu sih tetep kalem, jangan shock, jangan dimarahin, dan ajak melakukan aktivitas lain.

Gimana cara kasih tahu anak 5 tahun untuk batasan bermain dengan lawan jenis?

Menurut aku yang harus diperhatikan itu justru rasa malunya sih bukan batasan lawan jenisnya. Karena dulu sih iya, aku mikir serem kalau Bebe main sama lawan jenis karena takut anak cewek dikasarin, tapi makin gede dia mainnya makin nggak kasar kok.

Jadi aku nggak batesin mainnya tapi tetep rasa malunya. Dia ya nggak mau harus ganti baju di tempat kebuka, massage di sekolah aja dia nggak mau kalau di kamar yang rame.

Aturan mandi bareng ortu dan anak?

Di umur 3-4 tahun kalau anaknya cowok kaya Bebe harus udah dijelaskan kalau kamu nggak bisa lagi mandi sama ibu karena malu. Ibu perempuan dan kamu laki-laki.

Sampai sekarang Xylo masih mandi bareng sama JG sih, mungkin lewat fase falik atau di ultah keenam baru akan nggak boleh mandi bareng sama ayahnya.

Anakku boy liatin gajahnya ke anak lain. Harus gimana?

Ini termasuk fase falik tadi itu sih. Harus dikencengin lagi pemahaman rasa malunya. Dan JANGAN dimarahin. Lengkapnya plus soal masturbasi pada balita ada di artikel Mommies Daily ini ya. http://mommiesdaily.com/2016/01/13/anak-balita-masturbasi/

Kalau mama cinta aku, boleh nggak aku cinta si X?

“Cinta itu kaya gimana sih? Kalau cinta ke temen itu kamu … (jelasin aja proses berteman baik kaya berlaku baik satu sama lain, saling meminjamkan mainan, minta maaf kalau salah, dll).

Menikah itu apa? Kenapa anak kecil nggak boleh pacaran dan menikah?

“Karena ada hal-hal yang memang cuma boleh dan bisa dilakukan kalau kamu sudah besar. Urutannya itu sekolah, kuliah, bekerja, lalu menikah. Jadi kalau belum kerja ya belum boleh nikah sih.”

Lip kiss dengan orangtua?

We do it all the time. It’s another form of affection. As soon as he starts to feel uncomfortable about it, we’ll stop.

Nggak pernah ganti baju depan Xylo ya?

Setelah nggak mandi bareng ya otomatis nggak ganti baju depan dia juga karena itu nggak konsisten. Kalau dia nolak keluar kamar, saya suruh dia menghadap dinding sambil ngitung.

Awalnya cuma terbata-bata sampai 20, sekarang udah bisa ngebut banget sampai 50. Mayan sekalian ngapalin konsep angka hahahaha.

Cara mengontrol anak agar tidak menyebut nama kelamin di depan umum?

Aku bilang “kamu malu nggak penismu keliatan orang di mall?” Malu dong pasti jawabannya. Lanjut “kalau diliatin kan malu, disebutin juga malu. Kamu boleh bilang penis sesuka hati di rumah dan di depanku tapi tidak di tempat yang ada orang lain”. So far so good sih dia belum pernah teriak-teriak penis di depan umum.

Anak masih pegang nenen terus padahal udah sapih. Gimana ya?

YA TUHAN AKU STRUGGLING BANGET LHO SOAL INI. Tapi kata psikolog tetep karena anak 3-5 tahun itu masih ada di fase eksplorasi bagian tubuh dan memiliki keinginan yang besar untuk mencari tahu dan memperhatikan perbedaan pada tubuh laki-laki dan perempuan. Ya udah berantemin lah.

Aku bilang aku tidak suka, kalau orang tidak suka tidak boleh dipaksa. Ini pengenalan sama consent kan sebenernya. Tapi tetep ajaaa, kaya otomatis pegang nenen mulu kzl.

Apa itu perkosa?

Nah ini juga denger dari mana dia? Kayanya kalau balita dengan lingkungan yang "beres" nggak bakal deh denger kata perkosa. Kalau udah SD, lingkungan udah lebih luas mungkin iya bisa denger kata itu.

Kalau emang nanya di umur yang kira-kira udah ngerti soal intercourse sih akan jadi kesempatan untuk jelasin soal intercourse, consent, dan rape. Kalau masih balita gini coba yaaaa, disaring baik-baik tontonan anaknya. Kaya berita bencana alam aja sebaiknya nggak diliatin ke anak kan karena traumatis.

Gimana kalau anak yang secara tidak sengaja melihat adegan orang dewasa (orangtua) berciuman di film?

Mmmm, aku tidak lihat ini sebagai masalah sih. Pertama karena aku screening banget APA YANG DIA TONTON. Kalau di film keluarga gitu kan kissingnya nggak heboh jadi ya B aja sih. Pernah lagi nonton film apa ya lupa, terus ada yang ciuman terus ya aku biasa aja karena ya memang biasa aja bukan ciuman hot.

Gimana biar anak bercerita apabila mengalami/menyaksikan tindakan pelecehan seksual?

*knock on wood* ini sebisa mungkin terus diulang soal private parts dan siapa yang boleh pegang. Ini urusannya udah nggak melulu sex education tapi gimana dia merasa diterima dan diapresiasi oleh kita sebagai orangtuanya sih.

Kalau dikit-dikit dimarahin kan udah pasti nggak bakal cerita karena takut dimarahin. Kalau SETIAP dia datang dengan masalah tapi kita rangkul dan kasih solusi, harusnya ada masalah apapun dia datengnya ke kita sih. Hopefully.

Udah sih itu aja kayanya ya. Semangat ibu-ibu!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Sex Education untuk Balita

on
Friday, February 8, 2019
Kemarin saya buka question box di IG dan banyak yang request topik sex education untuk balita. Surprise karena mikir “oh iya ya emang nggak pernah nulis soal ini di blog”.



Padahal banyak banget sih yang bisa diceritain. Terakhir saya bahas soal edukasi seks untuk balita itu baru sekadar mengajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan. Dan itu udah tahun 2016 lho, Bebe umurnya masih 2 tahun!

Postingannya bisa dibaca di sini: Mengajarkan Gender pada Balita

Sekarang, 2 tahun kemudian, pembicaraan soal seks kami udah makin advance sih kecuali satu yang Bebe belum tanya dan saya masih deg-degan jawabnya: Gimana caranya sperma ketemu sel telur?

Belum nyampe otak Bebe ke situ dan tiap di buku ada kalimat itu saya skip dulu. Jadi sampai sekarang dia masih mikir kalau bayi itu puff! muncul begitu saja di perut. Saya BELUM ceritakan soal caranya karena anak seumuran Bebe masih cerita segala hal ke temen-temennya di sekolah tanpa filter kan.

BENER-BENER KARENA INI.

Triggernya karena sempet ketemu dan ngobrol santai sama psikolog di sebuah event. Dia cerita ada ibu-ibu di sekolah anaknya (udah kelas 6 SD) yang komplain karena anaknya diceritain soal proses pembuahan sama temennya di sekolah. Anak itu ceritain gimana caranya sperma ketemu sel telur dan bisa jadi bayi, which pasti dong ada kata-kata penis masuk ke vagina.

Si ibu merasa cerita itu too much buat anaknya, doi panik, dan KOMPLAIN KE SEKOLAH. Terus yang salah jadinya ibu yang jelasin soal proses pembuahan ke anaknya. Iya jadi dia yang salah, padahal anaknya udah kelas 6 SD juga. Emang wajar nggak sih kalau kelas 6 SD udah mempertanyakan gimana bisa sel telur ketemu sama sperma. Lha si Bebe aja baru 4 tahun udah penasaran banget soal bayi dalam perut. -______-

Saya sadar saya bener-bener sangat berpotensi jadi ibu si anak yang menceritakan proses pembuahan itu. Akhirnya saya rem dan hindari dulu bagian itu mungkin sampai Bebe SD. Atau mungkin sampai dia bisa “jaga rahasia”. Sampai dia bisa dibilangin “tapi jangan cerita ke temenmu ya, biar mereka diceritain ayah ibunya juga”. Sekarang jelas belum bisa. Sekarang mah apa juga dia ceritain ke temen sekolah kok.

Sekarang saya mau menjelaskan cara edukasi seks untuk Bebe di umur 4,5 tahun. Saya tahu cara ini mungkin terlalu ekstrem untuk sebagian dari kalian. Tapi saya nggak mau ambil risiko sih. Semakin gede, rencananya sih akan blak-blakan aja soal semuanya. Apapun yang dia mau tanya, dia boleh tanya dan saya akan jawab. Memang ini sungguh sebuah tekad.

Mungkin kalau udah remaja dia bisa jadi risih, mungkin malu, tapi harus kami duluan yang ngasih tahu dia sebelum dia tahu sendiri, tahu dari orang lain atau bahkan coba sendiri. Harus kami yang ngasih tahu dia soal proses seks, risiko, nilai yang dianut, dan segalanya. Nggak bisa guru, nggak bisa orang lain.

Sudah siap belum ibu-ibuuuu?

(Dulu pernah juga nulis sekilas: Pendidikan Seks untuk Anak)

Rasa malu level 2

Kalau secara teori kan usia balita itu cuma memperkenalkan nama kelamin dengan nama sebenarnya (penis dan vagina!) dan mengajarkan rasa malu aja. Itu tentu sudah.

Di level 1, rasa malu hanya diajarkan sekadar tidak boleh telanjang di luar kamar dan kamar mandi. Ini bisa diajarin dari sebelum 2 tahun banget sih.

Kalau sekarang di level 2 (HALAH NGARANG LHO INI LEVELNYA) dia udah otomatis malu sendiri. Bahkan ketika sepupu-sepupunya cuek aja buka baju sebelum mandi di luar kamar mandi, Bebe tetep teguh pendirian. Dia cuma buka baju di kamar mandi, pakai handuk keluar kamar, dan hanya mau pakai baju di kamar.

Rasa malu ini emang harus dibiasain dari kecil banget sih. Mengasah tentang privasi dan private parts juga jadi lebih gampang.

Tentang private parts

Speaking of privacy and private parts … ini yang paling bikin deg-degan sih karena banyak berita pedofil. T_______T Saya brainwash banget kalau yang boleh pegang penis dan pantat Bebe cuma ibu, appa, miss di sekolah, dan nini (kalau di Bandung mandi seringnya sama nini soalnya).

Ini diulang-ulang banget setiap kali inget. Saya juga tanamkan kalau private parts itu bukan cuma penis dan pantat. Kalau tidak suka pipinya dicolek orang nggak dikenal juga dia boleh marah.

Iyalah boleh marah. Aneh deh kenapa nyolek pipi anak kecil orang lain itu dianggap wajar ya?

Lha kita emang suka tiba-tiba pipinya dicolek strangers? Kan nggak! Kalau kita nggak suka ya jangan lakuin itu juga ke anak kecil karena ya LO SIAPA JUGA COLEK-COLEK. IH.

Mandi bareng

Saya mandi bareng banget sama Bebe dari dia bayi karena seru aja. Selain itu efektif juga kalau emang di rumah cuma berdua sama Bebe. Tapi masuk 3 tahun, saya stop mandi bareng.

Selama 3 tahun itu kami belajar banyak hal banget tentang anatomi tubuh. Tentang perempuan tidak punya penis dan punyanya vagina. Laki-laki tidak punya payudara dan perempuan punya.

Awalnya berhenti mandi bareng biar Bebe nggak liat nenen sih. Kasian kan abis weaning, masih harus liat nenen hahahaha. Lama-lama sekalian aja saya bilang karena sudah besar jadi tidak mandi bareng ibu lagi. Kebetulan momennya pas dengan “kedewasaan” Bebe: weaning, masuk sekolah, berhenti screen time di weekdays, stop mandi bareng.

(Baca proses weaning Bebe: Menyapih Diri Sendiri)

Tapi sama JG sih masih banget sampai sekarang dia mandi bareng. Lama-lama kebentuk sendiri juga soal ini. Di mall udah jarang mau ikut ibu ke toilet perempuan kalau nggak terpaksa. Dia protes “aku laki-laki, aku nggak mau ke tempat perempuan”. Fine! *loh kok ngegas*

Jelaskan semuanya dengan JELAS dan BENAR

Dimulai dari awal banget yaitu penis dan vagina diakhiri dengan ... JANGAN NGELES!

Sama saya sih Bebe bahas apapun karena saya nggak pernah awkward. JG tuh masih suka awkward hahahaha. Kalau dia nanya ke JG dan JG jawabnya bingung, ya saya yang jawab aja sih. Bukannya TIDAK dijawab.

Intinya kami nggak mau bikin pembahasan soal kelamin adalah sesuatu yang tabu. Jelasin bayi lahir karena baca buku soal bayi. Ya tunjukkin aja.

“Ini vagina aku kan ya (tunjuk vagina di luar celana). Rahimku di sini (tunjuk posisi rahim), kepala kamu ada di bawah sini ya udah terus kamu keluar deh dari vaginanya.”

Sesuai ekspektasi dia nanya “tapi kepala bayi kan besar, vagina kan kecil?”

Saya kasih lihat aja video gentle birth atau water birth sambil dijelasin kalau rahim dan vagina itu elastis dan kepala bayi belum keras kaya kepala kamu, bisa-bisa aja keluar dari vagina. Jelasin juga ada yang anaknya lahir lewat operasi juga, nggak semua anak keluar dari vagina.

Kenapa videonya harus water birth atau gentle birth, karena ibu-ibu yang gentle birth kan kalem-kalem amat ya. Nggak jerit-jerit, jadi nggak mengerikan sama sekali.

Manusia itu mamalia

Ini proses menormalkan proses kelahiran sih. Child birth sering dianggap mengerikan karena melibatkan darah kan. Bebe kebetulan udah tau mamalia dan jenis-jenis hewan, saya tinggal bilang aja manusia itu mamalia. Manusia melahirkan dan menyusui seperti mamalia lainnya.

Kemudian weekend itu kami binge watching semua mamalia melahirkan. Sebut aja binatang apa, kami udah lihat hampir semua binatang mamalia melahirkan. Demi menormalkan proses kelahiran!

Sampai sekarang Bebe menganggap melahirkan itu hal normal aja. Nggak tabu, nggak malu-malu, nggak aneh. Tetep pake embel-embel yang bisa melahirkan itu orang besar ya!

Beri batasan

Batasan ini baru saya kenalkan setelah pembicaraan dengan psikolog itu. Langsung “dheg” gimana kalau di sekolah Bebe cerita soal bayi keluar dari vagina ke temennya dan ibu temennya freak out. HUAAA PANIK.

Sekarang Bebe diwanti-wanti hanya boleh bicara soal penis dan vagina di rumah dan di sekolah. Jangan teriak di mall gitu. Alasannya adalah, ngeliatin penis kan malu maka diteriakin juga malu. Ngeliatin penis ke ibu kan nggak malu, diomongin ke ibu juga nggak malu.

FYUH.

Kalau kalian yang justru panik atau risih liat vagina orang lain sih gimana yaaaa. Bingung juga. Balik lagi saya nggak liat itu secara seksual sih, murni edukasi aja. Saya sama sekali nggak terganggu liat ibu-ibu telanjang, topless, water birth dengan vagina divideoin.

Sama seperti saya nggak terganggu liat lumba-lumba atau panda melahirkan. Terserah lah kalau abis ini malah salah fokus dan bilang: manusia kok disamakan dengan binatang. TERSERAH. Bodo amat.

Saya sendiri ya nggak bakalan lah bikin video water birth fokus ke vagina kemudian di-upload gitu. Tapi saya nggak pernah memaksakan standar saya untuk orang lain. Malu dan tabu kan menurut kita. Kalau menurut orang lain nggak malu, nggak apa-apa banget. Malah banyak yang menganggap video semacam itu empowering woman. Woman can do anything!

Kalau kalian ngerasa ini terlalu ekstrem dan tetep nggak mau liatin proses lahiran karena memperlihatkan kelamin orang lain, kayanya kalian harus tanya pemuka agama deh sebaiknya gimana jelasinnya. Kalau saya sih nggak mau pake kata-kata “nanti kalau udah gede juga kamu tau” karena wow terlalu berisiko.

Prinsipnya kalau dia udah nggak penasaran, dia nggak akan cari tahu sendiri diam-diam. Kalau soal seks yang dianggap tabu dari yang tertabu aja udah terbuka, semoga hal lain juga dia mau selalu cerita.

Dan kami, orangtuanya harus jadi orang pertama yang dia tanya untuk apapun. APAPUN. Bahwa ia akan selalu diterima di rumah, apapun kondisinya. Bahwa ia akan selalu anak kami, apapun alasannya. *mulai mellow* T_______T

Gitu sih. Kalian gimana ngajarin soal seks ke anak?

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

40 Pertanyaan Saat Survey Sekolah Dasar

on
Wednesday, February 6, 2019
Jadi kemarin di Mommies Daily, saya nulis tentang hal-hal yang harus diperhatikan saat memilih SD. Nah, sekarang saya mau nulis hal-hal apa yang biasa saya tanyakan saat survey ke sekolahnya langsung.

Jadi ini versi lebih lengkap dan lebih PRIBADI sih lol. Iya, kalau yang di MD kemarin lebih umum. Kaya jarak dari rumah, gedung dan keamanannya gimana, uang sekolahnya berapa, dll. BACA SENDIRI YA DI LINK DI ATAS.

Nah, kalau di bawah ini banyak pertanyaan yang sifatnya memang yaaa berkaitan dengan prinsip pribadi dan keluarga. Makanya ini yang SAYA tanyakan lho ya. Jadi saya nggak bilang kalian HARUS tanyakan ini juga.



Tapi siapa tau jadi ide pertanyaan juga buat kalian kan? Kalau soal kriteria secara umum pernah saya tulis di sini, klik dulu: Bebe Mencari SD

Sebelum masuk ke pertanyaan, biasanya saya lihat dulu gedungnya. Ini nggak perlu ditanya sih tapi observasi sendiri aja. Biasanya yang diperhatikan:

1. Apakah sinar matahari masuk ke kelas?
2. Apakah kelasnya ber-AC? Apakah kelasnya pengap?
3. Apakah toiletnya kids friendly? (kalau kloset dewasa, minimal tinggi wastafel sesuai dengan tinggi anak)
4. Bagaimana mushola dan tempat wudhunya?
5. Di sekolah ada tamannya nggak? Ada area terbuka untuk lari-larian?
6. Ada kolam renangnya? Bersih apa nggak?
7. Kantin gimana? Jual apa aja? Sehat apa nggak?

Setelah observasi, ini pertanyaan yang saya ajukan saat survey SD. Maklum, masuk SD itu mahal, jangan sampai salah pilih.

Tes Masuk dan Uang Pangkal

8. Tes kompetensinya berupa apa? Apakah anak harus bisa baca tulis? Tanya sedetail mungkin di sini. Nggak bisa saya detailin sih karena tergantung jawabannya.
9. Sistem penerimaannya gimana?
10. Berapa kuota setiap tahun? Berapa kuota untuk anak “luar” yang nggak TK di situ?
11. Pendaftarannya dibuka sejak kapan? Akan dikabari kapan kalau diterima/tidak diterima?
12. Berapa uang pangkalnya? (biasanya langsung disodori kertas biaya sih) Tapi tetep baca baik-baik dan tanya apakah bayarannya bulanan atau per 3 bulan atau malah per tahun.
13. Tanya biaya ekskul, katering, antar jemput, dan tetek bengek lain.

Kurikulum dan Mata Pelajaran

14. Kurikulumnya apa? Certified apa nggak? Berapa pelajaran/guru yang certified? Kalau kurikulumnya nggak kita kenal, minta dijelaskan sebaik mungkin.
15. (Kalau Montessori), mixed age group nggak dalam satu kelas? Kalau iya, apakah dalam semua pelajaran atau hanya pelajaran tertentu?
16. Satu kelas berapa anak berapa teacher?
17. Mata pelajarannya apa aja di kelas 1-6? Ada kelas tambahan untuk anak yang nggak bisa mengikuti pelajaran?
18. Bahasa pengantarnya apa? 100% full Inggris atau masih bilingual? (banyak sekolah yang ngakunya full tapi kenyataannya bilingual)

Jam sekolah

19. Masuk jam berapa keluar jam berapa?
20. Ekskul kira-kira berapa jam?
21. Gimana proses antar jemput? Berapa lama toleransi jemput? Anak yang belum dijemput akan menunggu di mana? Siapa yang boleh jemput anak? (apa pake kartu apa gimana)

Kelas

22. Ada berapa kelas dalam satu angkatan?
23. Sistemnya moving class atau diam terus di kelas yang sama?
24. Di kelas anak boleh makan minum bebas atau harus izin dulu guru? Minum harus izin guru kaya kita waktu sekolah dulu rada sedih sih. Masa haus aja harus minum diem-diem.
25. Ada toilet di dalam kelas? Ada wastafel untuk cuci tangan?

Kenaikan kelas dan kelulusan

26. Gimana sistem penilaian untuk naik kelas?
27. Kebanyakan lulusannya ke SMP mana? Gimana hasil UN tahun lalu? (Ini bergantung kurikulum ya)
28. Boleh bolos berapa hari? Apakah kalau bolos ada pengurangan nilai?
29. Apakah pakai sistem ranking? Apa pakai sistem rewards untuk “anak berprestasi”? (Saya sih kesel denger sekolah anak temen yang ngasih reward ke anak yang datengnya paling pagi. POINNYA APA SIH ANAK KECIL HARUS DATENG PAGI KE SEKOLAH? Kan yang penting nggak telat!)

Bullying dan Masalah Lain

30. Bagaimana sekolah menghadapi bullying? Bagaimana menanggapi laporan anak yang mengaku dibully atau punya masalah dengan anak lain?

Agama dan Politik

31. Islamic valuenya gimana? Goalsnya apa?
32. Sekolahnya eksklusif muslim apa nggak?
33. Gimana sekolah ngajarin toleransi dan perbedaan?
34. Gimana posisi sekolah pada kondisi politik? (AKU NANYA BANGET SIH INI. Trauma liat sekolah swasta yang di spanduk ACARA SEKOLAH bawa-bawa politik waktu Pilkada DKI. BYE AJA.)

Lain-lain:

35. Ada upacara bendera nggak?
36. Ada ekskul apa aja?
37. Perpustakaannya gimana? Ada challenge baca buku nggak?
38. Menu katering siapa yang nentuin? Pake ahli gizi nggak?
39. Kalau ada kolam renang, kedalamannya berapa? Dipake kapan aja? Keamanannya gimana? Dibersihkan tiap berapa lama? (kalau cuma jadi sarang nyamuk kan rada kurang lucu)

Tanya testimoni

40. INI WAJIB SIH SEBISA MUNGKIN. Tanya testimoni orangtua siswa yang anaknya udah sekolah di sana. Pernah ada masalah nggak, ada yang nggak sreg nggak, koordinasi dengan pihak sekolah lancar apa nggak, dll.

WAW BANYAK. Maklum ya, akan 6 tahun banget lho di sana. Akan jadi first impression juga bagi anak, sekolah itu seru nggak sih? Salah satu janji saya ke Bebe banget soalnya “ibu akan carikan sekolah yang seru buat Xylo” HUHU KOK JADI EMOSYENEL. T_____T

Lagian kalau asal-asalan pilih SD dan menyesal ya, mau pindah juga nanti heboh lagi dong survey dan keluar uang pangkal lagi. Jadi pikirkan baik-baik!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

#AyoNabung2019, Mulai Catat Cash Flow Yuk!

on
Saturday, February 2, 2019


Kalau ngomongin uang, orang emang langsung cepet banget nyambernya. Apalagi kalau digetok dengan kenyataan, uang cuma segini, kalau nggak diatur apa bisa kita bertahan hidup tanpa dikejar-kejar utang?

Kalau utangnya produktif sih masih nggak apa-apa. Lha kalau utangnya buat liburan atau beli gadget yang sebetulnya kebutuhan tersier? Nah loh.

Atau justru cicilan KPR yang sampai menggerus banyak sekali gaji sampai menabung saja rasanya sulit. Anak sekolah gimana, bos? Kalau dana darurat nggak punya sepeser pun, mobil harus ganti ban empat-empatnya, uangnya mana?

Inget lho, beli rumah itu tidak selalu untung. Rumah pertama, kalau ditempati itu termasuk ke dalam aset tetap BUKAN tabungan atau investasi. Kecuali kalau beli rumah kedua dan rumah itu dikontrakkan, atau rumah pertama dikontrakkan sementara kita masih tinggal bersama orangtua, itu baru namanya investasi.

Kenapa begitu? Ya sekarang memperlakukan rumah yang ditinggali sebagai tabungan kuliah anak misalnya. Terus pas anaknya kuliah kalian mau tinggal di mana?

Udah beli rumah kedua? Nah itu sebabnya rumah kedua baru namanya investasi. Kalau nggak setuju juga nggak apa-apa hahahaha. Lha uang juga uang kalian kok. Saya sih FYI aja.

Belum urusan jastip HAHAHA. Alhamdulillah so far saya nggak pernah jastip apalagi ikutan group. Follow akun IG jastip aja nggak. Live shopping gitu belum pernah sama sekali. Dipikir-pikir jangankan jastip, nitip ke temen yang ke luar negeri aja baru sekali hahahahaha. Beli sheet mask karena pas abis banget pas ada temen lagi di Korea lol.

Karena jastip itu racun yang tidak kita butuhkan. Kecuali ya kalau timingnya pas, pas lagi abis sesuatu pas bisa jastip. Kalau timingnya nggak pas ya maaf-maaf cuma boros doang kan yaaa.

LALU BUKU. Buku tuh diromantisasi banget seakan ibu-ibu yang beliin buku buat anaknya itu lebih baik dari ibu-ibu yang beliin anaknya mainan. Buat saya sama aja sih ASAL DIPAKE. Beli mainan ya boros kalau yang dimainin tetep itu lagi itu lagi. Beli buku ya boros kalau dibacanya cuma sesekali.

Realistis aja gengs. Orang-orang yang tampak kaya raya di Instagram itu ada 4 macem:

1. Memang penghasilannya gede karena industri pekerjaannya memang gaji tinggi atau pengusaha
2. Orangtua atau mertuanya kaya
3. Rajin menabung
4. Banyak utang (ini beneran karena banyak yang curhat punya utang ini itu tapi feeds nya wow selayak orkay)

Ya udah intinya yuk catet cash flow dan budgetin semuanya. Cara ngaturnya bisa dibaca di postingan aku sebelumnya:

Klik di sini: Tips Mengatur Keuangan Keluarga

File cash flownya bisa di-download di link di bawah. TAPI BACA DULU SAMPAI SELESAI BIAR NGGAK BINGUNG DAN TANYA-TANYA.

Jadi kalau udah didownload kalian akan lihat 4 sheet (sheet bisa dilihat di tab bawah file excel):

1. Cashflow bulanan: ini budgeting bulanan. Penghasilan dan pengeluaran bulanan masuk sini. Di sebelahnya ada persentase ideal pengeluaran bulanan. Kalian isi aja dulu, nanti persentasenya otomatis ngitungin buat kalian.

2. Cashflow tahunan: ini budgeting tahunan. APAPUN yang dibayar per tahun, bisa dibayar pakai penghasilan tahunan biar nggak ganggu cash flow bulanan. Kalau mau nabung dari cash flow bulanan juga bisa aja sih.

3. Summary: ini summary iseng aja biar kalian bisa liat apakah udah aman cash flow tahunan dan bulanannya?

4. Gaji suami-istri: ini opsional. Saya pakai ini biar nggak pusing gaji siapa dipake buat bayar apa. Jadi tiap abis gajian, udah jelas gaji JG posnya ke mana dan gaji saya posnya ke mana. Ini biar catatannya rapi aja sih. Kalau kalian ngerasa nggak perlu, ini nggak butuh-butuh amat juga.

Kalian bisa isi SEMUA yang warna cell-nya biru ya! Yang abu/selain biru nggak perlu diisi. Angkanya juga masih ngarang, poin-poin dan nominalnya juga ngarang karena kami bahkan nggak pernah ngopi, jastip di BBW, motor juga nggak punya lol. Kalian isi sama punya kalian sendiri ngerti kan ya plis. *PANIK TAKUT PADA NGGAK NGERTI*

*

OKE SEKARANG FILENYA. Klik banner di bawah atau klik link ini. Kalian MUNGKIN akan dapet message "Whoops, there was a problem with the view". Abaikan aja dan langsung klik download. Kalau nggak ada tulisan Whoops itu, klik aja tombol download di kanan atas layar.

Kalau dari HP nggak bisa, kemungkinan karena ini file-nya .zip. Sengaja biar nggak auto download ke Google Sheet. Jadi coba download dari laptop ya.


Sesungguhnya punya saya nggak se-fancy ini hahahaha. Nggak dihias apapun, tapi karena ini JG yang ngerjain jadinya lebih rapi. Dia hari-hari emang kerjaannya ngurusin excel kan.

Terus tadinya mau share Google Sheet tapi ternyata Google Sheet berantakan formulanya kalau ada baris yang ditambah. Excel lebih ntap jadi ya udah nggak jadi Google Sheet deh. Kecuali kalian pelajari formulanya di sini dan pindahin sendiri ke Google Sheet ya!

Yang udah pake bisa share dan tag aku di Instagram ya. Filenya juga silakan di-share sebanyak mungkin. Kalau sopan ya mention aku lol. Kalau mau nggak sopan dan nggak mention aku juga nggak apa-apa sih, cukup tau aja hahahahaha. Ini filenya nggak diproteksi sama sekali jadi bisa diedit sesuka hati.

Yuk nabung yuk, demi masa hidup yang lebih indah!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Makanan, Manusia, dan Uangku

on
Friday, February 1, 2019
Kemarin waktu di ojek otw pulang kantor saya mikirin banget pengen makan malem apa. Terus kesel sendiri karena ihhh bosen sama makanan di apartemen!



Padahal apartemen kami itu apartemen rakyat yang APA JUGA ADA. “APA JUGA ADA” ini adalah nilai jual yang selalu dibanggakan semua orang yang tinggal di sini. Selalu “nggak ada yang nggak ada di sini, mau APA JUGA ADA”.

Apa juga ada ini rangenya dari berbagai jenis manusia hingga ya makanan yang membuat manusia-manusia ini hidup. *HALAH

Iya sebut aja satu makanan lokal top of mind kalian. Makanan Indonesia? Lengkap malah warung makan aja berbagai daerah ada. Makanan Korea? Ada. Makanan Jepang? Ada. Jajanan semacam cilok? Pempek? Siomay? Cincai!

Dari yang kaya gitu sampai semacam Shihlin, KFC, Hokben, d’Crepes, Pizza Hut, Dominos, apa juga adalah sebut aja. Yammie Hotplate yang sudah langka aja ada hahaha.

Mana dari bulan November tahun lalu itu ada Go-Food Festival di foodcourt. Semua makanan diskon 50%, dari cuanki, kebab, taichan sampai nasi liwet cumi asin nggak ada yang lebih dari 20ribu. Hidupku sebetulnya terberkati sekali. T_______T

TAPI TETAP SAJA AKU BOSAN. Triggernya adalah, abis operasi amandel, lanjut JG operasi amandel, kami jadi belum ke mall sama sekali. Akhirnya saya pun mencari-cari yang tidak ada di apartemen.

Katanya semua ada? Iya ada sih tapi … kurang. Ada sushi tapi kurang enak, ada ramen tapi bukan ramen yang saya mau, ada semua tapi tetep bukan yang saya pengenin. :)))))

Di jalan itu saya jadi ketawa sendiri karena “oh aku manusiawi sekali, manusia memang senangnya mencari-cari yang tidak ada padahal semua sebetulnya sudah ada”.

Mencari-cari … yang tidak ada … KOK JADI DEEP GINI PEMBAHASANNYA?

(Baca postingan lama tentang kami yang tidak terlalu mempermasalahkan uang

Coba pikir baik-baik. Perasaan mencari-cari yang tidak ada ini yang bikin kita semua punya idola. Punya seseorang yang sangat kita kagumi. Karena dia punya sesuatu yang kita nggak punya.

Mengagumi menteri perempuan karena wah pinter banget sih dia (nggak kaya diriku ini). Suka banget sama pemikiran Michelle Obama karena ya she’s perfect! (nggak kaya diriku ini). Mengidolakan artis ganteng karena ya gantengan dia daripada suami lol. Nangkep kan maksudnya?

*halah gifnya sok imut*

Secara natural, manusia memang mencari-cari hal yang tidak ada. Hal ini bisa jadi lekat dengan tidak merasa puas. Dekat sekali dengan tidak merasa cukup. BISA JADI LHO. Bisa juga nggak.

Dan sialnya, tidak merasa puas dan sulit merasa cukup itu GAMPANG. Merasa puas dan merasa cukup itu SUSAH. Inikah yang namanya cobaan hidup? Belum lagi gampang banget judge hidup orang lain cuma dari foto-foto bahagia nan aesthetic-nya.

Bener deh, sejak saya banyak share soal hidup dari pernikahan sampai keuangan di IG story, saya jadi terbukakan bahwa banyak sekali orang yang hidupnya nggak sesuai dengan apa yang ia tampilkan di Instagram.

Di Instagram sih fotonya liburan dengan tas-tas mahal, curhatnya cicilan KPR 80% gaji sampai makan aja susah. Di Instagram sih fotonya indah, berdua dengan suami dengan caption romantis “my love”, curhatnya tentang suami yang nggak pernah bisa diajak komunikasi dan nggak pernah mau dengar pendapat istri. Waw, cinta memang buta. Citra bisa semudah itu dibuat di dunia maya.

Namanya manusia, kalau pun kenyataan uangnya nggak ada, ya halu-halu dikit bisalah di Instagram. Fake it until you make it, kan katanya. Nyari apa sih sebenernya? Nyari yang nggak ada? Kaya saya yang nyarinya siomay Imam Bonjol sementara di apartemen adanya siomay Jakarta yang entahlah, nggak pernah seenak siomay Bandung. T______T

Tapi sejujurnya inti dari hidup saya itu adalah makanan. Kalau makan enak, mood jadi lebih baik. Dan karena bukan orang kaya, bertahan makan selalu enak ini mengorbankan lifestyle lain kaya mobil, baju, sepatu, tas, makeup. Biar semua dipake sampai butut dan beli pun yang murah, yang penting makannya enak lol.

Jadi inget kata ibu saya dulu:

“Kamu mah hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup!” SAKING GUE MAKAN MULU KERJAANNYA. Terus apa-apa suka pengen dihabisin hari itu juga hahahaha semacam nggak bisa besok lagi kalau urusan makanan.

Jadi inget juga twit tahun 2017 betapa uang cuma jadi tai doang lol maaf kasar tapi ini memang kenyataan lol.



Jadi intinya apa, seus? Nggak taulah, saya PMS nih, udah dapet notif mulu di aplikasi HP untuk ngingetin harinya sudah dekat. Kalau PMS gini selalu gini tulisannya kan. Ngalor ngidul mikirin hal-hal yang nggak jelas sih tapi kalau dipikirin kok jadi dalem.

Dari milih makanan aja susah ngerasa cukup, gimana soal pencapaian hidup? Kalau dari hal yang receh aja susah bersyukur, gimana bisa dipercaya untuk hal yang lebih besar lagi?

Oiya tadi nemu quote ini, rada bikin mikir sih. Mikir ngapain ya untuk mengubah hidup kalau lagi ngerasa hidup kok gini-gini aja?

“If you want something you’ve never had, you’ve got to do something you’ve never done.”

Kata JG, kalau gitu dia pengen nerbangin pesawat aja jadi pilot karena belum pernah. Baik.

See you! Doakan aku bisa makan enak dan bersyukur selalu ya!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

IG