-->

Image Slider

Belajar Bicara Data

on
Thursday, May 23, 2019

Kalian yang follow saya sejak lama pasti udah ngerti banget ya kalau saya apa-apa harus pakai data. Saya nggak suka orang ngomong pake “katanya” untuk sesuatu yang penting. Buat saya, “katanya” hanya sebatas obrolan ringan makan siang alias buat ghibah doang. Nggak layak masuk media sosial, nggak pantes dikutip apalagi disebarluaskan.

Soal "katanya" ini saya ekstra hati-hati, apalagi setelah baca dan mencoba memahami UU ITE. Satu “katanya” di WhatsApp atau email pribadi, bisa bikin kita masuk penjara lho. Dan ini bikin temen-temen saya gemes HAHAHAHA.

Misal ada berita selebgram atau artis rusuh, kebetulan temen kantor saya ada yang akrab nih sama si selebgram. Cerita saya jadi A1 dong ya, karena SAYA dengar langsung dari si teman. Nah tapi kalau saya cerita lagi ke orang jadinya kan “KATA TEMEN GUE” dong? Abis itu kalau temen saya cerita lagi ke orang jadinya “KATA TEMENNYA TEMEN GUE” ya kan? Cerita kaya gini suka saya hindari apalagi di group yang orangnya lebih dari 5 orang.

Kalau ketemu langsung masih okelah saya ceritain tapi kalau harus di chat, ada bukti screencapture, nggak deh. Kalau ada yang sc dan dikasih ke orangnya, maka itu bisa dituntut pakai UU ITE lho. Bahkan sekadar saya nulis “si A gendutan ya” lalu sc-nya nyampe ke si A, selamat, si A bisa nuntut saya pakai pasal karet UU ITE.

KOK JADI NGOMONGIN UU ITE.

Kembali ke data.

Throwback ke sekitar 20 tahun lalu saat saya SD kelas 4, ada kejadian yang saya ingat sampai sekarang karena perasaan yang campur aduk. Malu iya, tapi jadi pelajaran penting buat saya sampai kejadian ini terus teringat.

Waktu itu teman SD saya, sebut saja namanya Nana, tidak masuk beberapa hari. Kabar dari seorang teman (teman lho bukan guru) katanya ia kecelakaan mobil sekeluarga. Karena cukup akrab dengan Nana, saya ingat saya sedih dan sampai rumah saya cerita pada ayah. Apa komentar ayah?

“Kamu tau dari mana? Kalau cuma tau dari katanya teman dan nggak bisa dibuktikan, itu namanya gosip.” Ayah being ayah, beliau wartawan juga btw.

Saya mikir iya juga. Lha yang bilang aja bukan guru kok. Kalau guru yang bilang kan mungkin guru dapat kabar dari orangtuanya. Kalau teman yang bilang, mana buktinya? Si teman ini rumahnya berjauhan pula. Gimana bisa dia tahu soal kecelakaan?

Besoknya (harap maklum saya masih kecil), saya malah bilang ke teman lain kalau berita kecelakaan itu cuma gosip. Beritanya jadi semakin simpang siur sampai seminggu kemudian Nana masuk dengan perban di dahi dan pipi. Benar dia kecelakaan sekeluarga.

Saya malu dan sedih karena duhhh beneran kok kecelakaan kok saya malah bilang gosip sih!

Tahun demi tahun berlalu sampai tiba saya masuk jurusan Jurnalistik dan harus ikut orientasi jurusan. Ada beberapa buku yang harus dibaca. Satu buku pada bab 1 langsung to the point kalau seorang jurnalis itu harus skeptis. Saya beneran langsung inget kejadian Nana dan ya, ayah benar, ayah hanya skeptis, meragukan segalanya sampai ada bukti. Saya yang salah karena masih tidak punya bukti tapi malah ikut menyebarkan info.

Bertemu JG, dia orang yang 100% bicara data juga (saya 95% soalnya 5% nya itu pas PMS, maunya drama nggak mau data nyahahahahaha). Dulu, perkara daging kambing aja pernah bikin kami berantem karena saya keukeuh daging kambing bisa bikin darah tinggi.

Dia tantangin untuk cari research terus saya nangis karena ternyata emang bener daging kambing nggak bikin darah tinggi. Nangis karena banyak keluarga darah tinggi dan menghindari daging kambing, malah disuruh dokter, tapi kok kenyataannya nggak bikin darah tinggi sih. Sebel banget!

Tapi lama-lama terbiasa, kalau kami ngobrol serius ya bawa data bukan bawa perasaaan. Semua yang kami lakukan untuk Bebe juga pake backup science, tanya psikolog atau bawa research dari lembaga yang kami berdua yakin terpercaya.

(Baca: Memahami Anak)

Sekarang semakin Bebe besar, saya juga mengajari Bebe hal yang sama. Saya kejar dia untuk nggak gampang percaya sama orang. Kemarin di IG story saya kasih contoh dia bilang “kata si A bisa bakar kertas pakai kaca pembesar”. Karena saya tanya "Terus kamu percaya? Mau coba dulu nggak? Atau mau nonton YouTube?"

Itu dia langsung minta dibeliin kaca pembesar ke aki untuk coba. Setelah yakin benar kertas bisa terbakar, baru dia boleh percaya.

Sedikit tips buat yang mau belajar bicara data:

- Luangkan waktu untuk kroscek, tabayyun bahasa gaulnya, ukh.

- Pastikan data yang kita kroscek adalah data terpercaya. Kalau memang datanya fisik seperti si Nana temen saya, kan bisa dilihat langsung. Kalau datanya digital, pastikan kalian cari sumber yang BENAR. Kalau research biasanya lebih meyakinkan kalau dari universitas karena biasanya mereka meneliti demi keilmuan bukan dibayar brand, websitenya akan berakhiran .ac atau .edu.

- Kalau kalian nggak punya waktu untuk kroscek yang terbaik adalah DIAM. Nggak usah ikutan ngomong karena cuma bikin ribut aja. Berisik dan nggak penting.

Oiya, skeptical ini memang tipis banget sama negatif sih. Kadang nggak cocok sama orang yang positive vibes all the way. Karena kalaupun beritanya positif, respon pertama selalu? Iya ya? Bener gitu? Masa sih? Siapa bilang? Sebagus itukah? Faktanya gimana? Apa ada dampak lain? Begitu terus until proven otherwise.

Bahkan baca buku juga gitu. Kadang kalau baca buku sama Bebe terus ada fakta yang bikin saya ragu, saya pasti langsung cek bukunya terbitan tahun berapa dan kroscek ulang via Google. Beneran deh, saking cepetnya ilmu pengetahuan, banyak buku yang outdated karena ada research yang lebih baru.

Saya juga bisa sampai di sini karena selalu skeptis. Sebagai jurnalis, skeptis itu harus. Nggak gampang terbuai, nggak gampang percaya, nggak gampang sebar informasi apalagi kalau nggak jelas sumbernya dari mana.

(Berpikir kritis itu harus diajarkan! Mengajarkan Anak Berpikir Kritis)

Pelajarannya apa? 


Kalau bicara sama saya, bicara di social media, bicara di tempat umum, tolong pakai data. Apalagi kalau datanya fisik lho bukan data digital, itu data kasat mata, fisiknya aja bisa kita pegang. Kalau nggak percaya apa nggak pengen congkel aja itu mata karena membohongi kita?

Bicara data ini menakar logika kalian lho. Orang yang ngotot: “TAPI CURANG! TAPI DISUSUPI! TAPI DIBAYAR! TAPI TIDAK JUJUR!”

Mana buktinya, darling-darlingku? Sini deh kasih saya bukti yang bisa saya lihat dan saya pegang baru saya percaya.

Saya bisa lho bilang ke kalian “PAPA KALIAN SELINGKUH! PAPA KALIAN SUKA MAIN SAMA PSK!” dan kalian harus percaya karena ya levelnya sama. Nggak bisa dibuktikan toh keduanya?

Hukum di belahan dunia mana juga pakai Presumption of Innocence: Innocent until proven guilty. Ngerti nggak? Apa baru denger? Asas praduga tak bersalah, sampai terbukti sebaliknya. BUKTI, SAYANGKU. BUKTI DATA. Bukan katanya-katanya.

Kenapa saya yang jarang bereaksi sama hal-hal kaya gini sampai nulis? Karena jujur kaget banget sih kemarin di DM saya ternyata masih banyak yang nggak pakai logika. Ditanya datanya mana, SEMUA, SATU PUN nggak bales lagi karena ya memang nggak punya kan.

(Baca postingan tentang politik yang mana sudah 2 tahun lalu lol: Hal yang Berubah Sejak Pilkada DKI )

Saya juga bingung kenapa mereka follow saya ya? Nggak mau unfollow aja? HAHAHAHAHAHA. Saya kan kalau sharing selalu kasih backup riset resmi. Apa nggak bertabrakan tuh sama logika mereka? Saya nggak pernah ngomong atau sharing sesuatu kalau belum pernah mengalami apalagi nggak punya backup risetnya.

Btw saya sangsi tulisan ini bisa mengedukasi sih, karena biasanya orang yang nggak mau tau soal data dan logikanya dipertanyakan, NGGAK MAU BACA TULISAN SEPANJANG INI HAHAHAHA.

R.I.P. LOGIC.

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Review Avoskin Miraculous Refining Serum

on
Wednesday, May 22, 2019
[SPONSORED POST]

Waw annisast menulis beauty lagi sedang ada apa rupanya?

Nggak ada apa-apa sihhh cuma selama ini saya kan memang tetap rajin pakai skin care, hanya saja malas review dan sharing karena ya berbagi tugas lah sama para beauty blogger. Team work gitu ceritanya. *APAAAA*

Tapi excited banget pas ditawarin review Avoskin Miraculous Refining Serum ini karena udah baca review orang-orang yang bilang serum ini exfoliating serum terbaik! Ya tentu kepo karena selama ini saya pakenya selalu exfoliating toner, bukan serum.



Nah, tapi karena sebagian dari kalian bukanlah pembaca beauty blog jadi di sini saya akan jelasin dari basic banget. Soalnya pas kemarin share skin care routine di IG story aja, bukan 1-2 yang bertanya jadi exfo itu gimana kak maksudnya? Yah, kalau memang harus saya yang menjelaskan, maka akan saya jelaskan. *loh kok pasrah*

PLEASE NOTE INI AKAN AGAK PANJANG.

Kenapa, karena sejak dulu kan saya udah bilang kalau mau pakai chemical exfoliator itu BELAJAR dulu. Jangan cuma ikut-ikutan. Kalau males belajar, solusinya adalah baca blogpost ini dari awal sampai akhir ok! Di akhir ada review saya juga setelah pemakaian 1 bulan penuh.

Apa itu chemical exfoliation?

Kalau eksfoliasinya udah ngerti kan ya? Kulit kita itu setiap hari memproduksi sel kulit mati dan sel kulit mati ini butuh diangkat. Diangkatnya bisa pakai physical exfoliator seperti scrub atau chemical exfoliator seperti acid serum/toner.

Avoskin Miraculous Refining Serum Review

Yang paling dikenal kan eksfoliasi pakai scrub ya. Padahal banyak scrub yang mengandung microbeads dan microbeads itu terlalu harsh (untuk kulit bisa bikin tergores dan untuk ekosistem karena terus kebawa ke laut menyerap toxin, dimakan ikan, dan dimakan lagi sama kita).

Lalu seberapa sering harus pakai chemical exfoliator ini? Ini yang tricky karena bergantung kandungannya dan bergantung kondisi kulit kalian. Satu-satunya cara adalah baca review dan coba sendiri. Namanya kulit orang beda-beda dan bereaksi pada produk dengan beda-beda pula kan.

Kalau Avoskin Miraculous Refining Serum ini sebetulnya bagian dari Miraculous Refining Series, jadi selain serum ada tonernya juga. Avoskin Miraculous Refining Serum mengandung 10% AHA (glycolic acid) dan 3% BHA (salicylic acid), 2% Niacinamide dan Ceramide.

Abis ini pasti bingung dong apa itu AHA, BHA, Niacinamide, Ceramide, dan kawan-kawannya itu?

Apa itu AHA?

AHA adalah alpha hydroxy acid (seperti glycolic dan lactic acid). AHA larut dalam air sehingga bekerja di permukaan kulit aja. AHA biasanya digunakan untuk kulit normal ke kering, kulit yang sudah ada keriput, dan kulit yang terlalu sering terpapar matahari karena punya efek melembapkan alami.

Avoskin Miraculous Refining Serum Review

Persentase kandungan AHA dalam Avoskin Miraculous Refining Serum ini sampai 10%. Ini mentok pada batas atas aturan BPOM, menurut BPOM, batas AHA yang aman itu di 10% dan BHA yang aman di 3%.

OKEEE, APA ITU BHA?

BHA adalah beta hydroxy/salicylic acid untuk membantu melepaskan sel kulit mati yang bikin kulit kusam. BHA bekerja di permukaan sampai jauh ke dalam pori-pori.

BHA larut dalam minyak sehingga cocok untuk kulit berminyak yang rentan pada bruntusan, komedo, jerawat, dan pori-pori besar. BHA juga secara natural bisa menenangkan kulit sehingga bisa cocok untuk kulit yang sedang breakout atau meradang karena jerawat. Tetep lho, cocok-cocokan dan dicoba dulu di area rahang.

Terus Niacinamide dan Ceramide itu apa lagi?

Vitamin B3 (niacin) punya 2 jenis, yang pertama adalah niacinamide dan satunya nicotinic acid. Niacinamide punya peran penting untuk kulit yang sehat, anti radang, cocok untuk kulit berjerawat.

Avoskin Miraculous Refining Serum Review

Selain Niacinamide, Avoskin Miraculous Refining Serum juga dilengkapi dengan kandungan Ceramide. Ceramide bagus untuk menjaga kulit tetap lembab, kenyal, dan menjaga kulit dari ancaman buruk bakteri.

Nah, sekarang bayangkan semua itu ada dalam satu produk. Saya sih langsung penasaran banget!

Jadi apa aja manfaat Avoskin Miraculous Refining Serum ini?


Cara pemakaian

Yang namanya chemical exfoliator (baik berupa serum atau toner), itu dipakai di awal skin care regime. Jadi setelah cuci muka, pakai ini dulu. Biarkan sampai meresap dan kering lalu lanjutkan dengan hydrating toner.

Saya sih sekalian juga pake Avoskin Perfect Hydrating Treatment Essence, baru hydrating toner, moisturizer, baru bisa tidur nyenyak lol. Paginya kulit kenyal dan cerah lafff.

Inget lho, nggak ada pakem khusus untuk berapa kali dalam seminggu kalian bisa pakai ini. Dicoba dulu dari seminggu sekali, lalu jadi seminggu dua kali, dst.

Saya awal coba seminggu sekali lalu baik-baik aja dan langsung nekat pakai selang sehari. Jadi hari ini pake besok nggak, besoknya lagi pake. Dan tetep baik-baik aja. Mungkin karena udah terbiasa sama acid juga ya. Ini produk acid kelima yang saya pake soalnya.

Yang harus dicatat: Jangan lupa pakai sunscreen! Karena kalau abis pakai acid, kulit kita lebih sensitif sama paparan sinar matahari. Ya meskipun malemnya nggak pake chemical juga siang harus tetep pake sunscreen sih.

Plus kalau kulit kalian sensitif, pas awal coba di bagian tertentu dulu ya. Pipi bawah gitu, kalau aman baru lanjutin ke seluruh muka.

Jadi gimana setelah sebulan pemakaian?

SUKAAAAA!

Udah yakin suka sih karena produk ini di-rave banget sama anak-anak kantor yang notabene lebih ngerti beauty daripada saya sendiri nyahahahaha.

Setelah pakai Avoskin Miraculous Refining Serum ini kulit saya kerasa lebih cerah, nggak kering sama sekali lagi padahal lagi puasa, licin banget dan make up lebih nempel serta awet.

Jujur pas awal pake bingung nih, emang ngaruh ya kalau serum gini? Soalnya kalau toner kan pakai kapas, jadi emang kerasa sesuatu terangkat dari kulit *halah*. Kalau ini dioles-oles doang emang bakal ngangkat?

Ternyata ya ngangkat aja hahahaha. Buktinya kulit jadi cerah dan noda hitam memudar. Ini baru sebulan sih, yakin deh kalau pake lebih lama harusnya hasilnya makin oke karena siapa juga yang mau hasil instan kan.

First impression juga agak kaget karena tingling sensation alias cenat-cenutnya nggak parah di saya. Padahal pas baca kandungan acidnya lumayan tinggi, saya agak takut hahahaha.

Ternyata nggak secenat-cenut itu mungkin karena teksturnya tidak cair ya. Tekstur Avoskin Miraculous Refining Serum agak cair tapi agak thick dengan bau yang nggak ganggu. Kalau toner kan cair jadi kaya meresap ke dalam pori-pori alias kaya abis ditabokin banget sisss.

Ini nggak, geli-geli dikit wajar karena saya suka kesel kalau nggak ada efek tingling karena dia seperti gabut. KERJA NGGAK SIH? GITU.

Avoskin Miraculous Refining Serum Review

Muka saya sebelum dan sesudah. Padahal udah usaha foto di jam yang sama dengan ISO dan f/ yang sama, di depan jendela yang sama. Tapi ternyata mataharinya yang beda ya susah amaaattt foto before after gini. Tadinya mau nyerah di minggu ketiga pake ringlight ajalah. Tapi takut malah tambah bingung karena 2 minggu awal udah pake matahari. Beginilah kalau bukan beauty blogger hahahaha.

Beforenya lagi merah-merah banget di sekitar alis kiri, aslinya merah banget entah kenapa dan langsung reda di minggu pertama. Flek hitam di bawah mata aslinya memudar tapi nggak jelas di kamera.

Avoskin Miraculous Refining Serum Review

Ini dari minggu ke minggu. Di minggu ketiga jerawat kecil muncul akibat mencoba sunscreen baru (sudah saya ceritakan di story). Tapi langsung hilang tanpa bekas!

Yang bikin kaget dan yakin bakal repurchase adalah harga Avoskin Miraculuous Refining Serum ini terjangkau banget! Rp 219ribu untuk 30 ml, belinya di www.avoskinbeauty.com. Untuk baca-baca info atau mau tanya-tanya bisa ke Instagram @avoskinbeauty.

Ini juga nanti saya bahas di IG ya biar kalian bisa tanya-tanya langsung! Semoga membantu!

-ast-







LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

2%

on
Friday, May 17, 2019
You know as a human we're not always 100%. Truth be told, this week is superb, in a bad way. I don’t think I want to spill it here.


Dipikir kalau bulan puasa, ada work from home sehari di rumah, saya akan bisa agak santai. Bisa menggambar untuk souvenir ultah Bebe yang tinggal 2 minggu, bisa nonton Endgame sekali lagi, bisa share di Story, bisa semangat untuk ngerjain KASAKOLA.

Ternyata nggak sama sekali. Semua gagal. What a week.

Jadi maaf banget yang DM di Instagram nagih pembahasan ini dan itu, nanya ini dan itu dan nggak saya balas. Saya lagi butuh waktu untuk diri saya sendiri dan belum punya cukup energi untuk berbagi sama orang lain.

Kemarin seharian saya nontonin video Bebe waktu kecil. Video waktu dia umur 1,5 tahun dengan bahasa bayi yang nggak bisa nggak bikin senyum. Membantu sekali ternyata.

This morning I woke up with only 2% left, I’m scattered all over the place. I need several days to unplug and recharge my mind.

Moral of the story: take tons of video of your baby. It helps you to find perfection in the world full of imperfection.

See you soon!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Bebe dan Uang

on
Wednesday, May 8, 2019

Nyambung topik kelas sosial di sekolah, saya jadi kepikiran banget gimana sih nanti akan ngajarin Bebe soal uang?

Sekarang Bebe dibebasin banget soalnya. Yes, dia hampir tidak pernah tidak dibelikan sesuatu kecuali sesuatunya sangat sangat mahal dan emang nggak mampu aja.

Patut dicatat kalau ini hanya terjadi setahun terakhir. Entahlah saya juga bingung mau merunut dari mana ya kenapa ini terjadi. Yang jelas setelah saya tidak lagi baby blues dan bisa menghadapi dia 100%

(Cerita baby blues sampai males beliin dia apa-apa bisa dibaca di sini: Ibu yang Belum Sayang Anak

Kedua, karena dia bukan lagi Bebe yang dulu. Yang goleran di lantai karena nggak boleh beli mainan. Yang ngamuk guling-guling di mana pun kalau dilarang melakukan sesuatu.

Mungkin ini karena kami nggak pernah kalah juga, jadi kondisinya sekarang adalah Bebe yang kalem dan bisa ke 3 toko mainan hanya lihat-lihat tanpa minta apapun. Kalau pun minta dan saya bilang nggak, dia udah nggak pernah ngambek lagi apalagi guling-guling.

Dari situ saya yang jadi kasian dan jadinya pengen beliin sesuatu terus. Bahkan dia tidak mau sesuatu pun saya sama JG sodor-sodorin terus karena … kasian.

Misal dia tidak butuh tas baru, tapi ada tas cookie monster lucu banget dan kami pengen beliin aja sih karena selama ini tas dia selalu kado dari orang lain. Itu tas udah disodorin, udah dicoba dan dia happy sekali keliatan kalau dia suka, terus ditanya “mau nggak tasnya?” jawabannya “nggak usahlah”.

T________T

Buku juga sama. Disuruh beli buku yang dia mau, dia cuma pilih satu lalu udah. Atau beli Lego, dia pilih Lego kecil lalu udah. Abis itu saya ngantri Sour Sally dan dia bilang “aku nggak usah beli, aku udah beli Lego nanti uang ibu abis”

NANGIS DI TEMPAT. T_______T

Tapi terus saya agak panik. Apakah dia akan kalem gini terus soal beli-beli? Atau apakah dia nggak mau beli-beli karena merasa cukup? Atau jangan-jangan dia nggak mau beli-beli karena merasa tidak ada peer pressure?

Kepanikan ditambah dengan bener nggak sih pola ini? Bener nggak sih cara saya tidak membatasi dia dengan sesuatu?

Ada poin saya merasa dia bisa zen gini karena dia tau dia selalu dikasih apapun. Semacam “udah ah ini aja toh nanti lagi juga akan dikasih lagi” jadi nggak aji mumpung gitu loh.

Plus kami juga nggak merayakan ulang tahun atau apapun kan jadi nggak pake momen “hadiah ulang tahun” gitu. Sampai sekarang dia nggak pernah dikasih hadiah ulang tahun khusus apalagi dibungkus kado hahahahaha.

(Baca: Merayakan Hari-hari)

Di sisi lain saya juga masih rada dheg tiap ada ibu yang bilang “anak harus belajar berjuang untuk sesuatu” atau “batasin anak buat beli-beli biar dia belajar konsep uang”.

Jadi mempertanyakan apakah yang saya ambil ini benar? Apakah ini another form of manjain anak? Tapi manjainnya soal beli-beli aja kok, di hal lain seperti peraturan, kepemilikan, tanggung jawab, kami sangat strict dan disiplin. *lagi-lagi pembelaan diri lol*

Saya juga kurang sreg sih sama konsep anak kecil disuruh kerja biar tau susahnya cari uang tapi disuruh kerjanya semacam beres-beres rumah atau cuci piring. Karena rumah bersama kan, kita urus bersamalah. Tapi katanya nanti anaknya bingung harus kerja apa?

Menurut saya kalau memang dia belum cukup umur untuk menghasilkan uang sendiri (dari part time atau jualan apapun), saya akan suruh tabung uang jajan aja. Dan di sinilah kepanikan saya tervalidasi karena aha! ternyata yang saya butuhkan adalah pencerahan soal uang jajan anak ahahahahahaha.

Ya udalah, akhirnya mengibarkan bendera putih dan ikutan kelas Teens & Money di QM Financial. Visioner bukan, anakku umur 5 tahun saja belum tapi ikut kelasnya Teens & Money lol.

Tapi mencerahkan karena ternyata menurut Teh Wina yang pertama dilakukan saat mengenalkan anak pada uang adalah BUKAN MENABUNG. Kaget nggak? Hahahaha.

Soalnya akrab banget nih dengan ortu-ortu “ngajarin anak nabung sejak kecil” padahal ternyata nabung adalah step terakhir dari mengenalkan keuangan.

Urutan yang harus dipelajari anak soal keuangan:

1. Menghasilkan uang: adakah anaknya yang masih beranggapan kalau ATM itu menghasilkan uang? Udah tau konsep bank, kerja, dan gimana uang bisa nyampe ke ATM? Udah tahu kenapa uang itu terbatas? Bebe ngerti sih nanti saya jelaskan detailnya di postingan lain/atau di story ya.


2. Berbelanja: iya berbelanja harus diajari lho! Kenapa harus belanja, kebutuhan vs keinginan, konsekuensi tidak punya uang, dan belajar membandingkan harga. Plus kenapa nggak semua hal bisa kita beli.

3. Berbagi: ajarkan anak untuk berbagi apa yang dia punya untuk mengasah empati. Kalau udah punya uang saku, ingatkan untuk berbagi uang sakunya di kotak amal.

4. Terakhir baru menabung! Ajari anak menentukan tujuan menabung dan pentingnya pengendalian diri. Kalau udah cukup umur, bisa diajak buka rekening untuk ia kelola sendiri.

Menarik ya! Sebelumnya materinya agak panjang sih, tentang gimana cara menentukan uang saku, buat apa aja uang sakunya, dll. Cuma karena saya belum ngalamin jadi tar aja sharenya kalau Bebe udah dikasih uang saku.

Setelah kelas saya jadi mikir mungkin Bebe memang udah ngerti konsep belanja jadi emang kalau menurut dia nggak butuh, dia nggak perlu beli. Dia tahu nggak semua orang punya uang plus dia tau kalau pun ngotot pengen beli, nggak bakalan dikasih juga karena tau saya dan JG nggak akan kalah sama tangisan dia.

Abis ini pasti pada nanya, ngajarin ginian bisa dari umur berapa kaakkk?

 Konsep menghasilkan uang udah saya ajarin ke Bebe dari umur 3 tahun saat dia mulai mempertanyakan DENGAN KRITIS kenapa ibu harus kerja. Di bawah umur itu, anak cuma ngamuk doang kan sebagai protes ibu kerja, nggak ada kritis-kritisnya. Lagian kalau ngamuk sih saya abaikan aja ahahahaha.

(Detailnya di sini: Menjelaskan Kerja pada Anak)

Setelah umur 3 tahun, pertanyaan soal kerja udah langsung dijawab pake konsep uang jadi dia udah ngerti sih kalau kerja itu menghasilkan uang. Gimana caranya uang bisa ada di ATM, kenapa bayar bisa pake kartu dan pake uang, dll.

Malah dia nanya bisnis itu apa, gimana kantor appa bisa dapet uang, dsb dsb. Dijawab ajaaa. Prinsip saya, anak itu bisa mengerti segalanya, kalau mereka nggak mengerti tandanya kita yang menjelaskan bukan dengan bahasa mereka. :)

Sekian curhat hari ini. Semoga mencerahkan juga.

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Review Purebaby Liquid Soap dan Laundry Liquid untuk Kulit Sensitif

on
Tuesday, May 7, 2019
[SPONSORED POST]

Ngomongin kulit sensitif ya … kami sekeluarga sensitif semua karena alergi huhuhuhu.

Saya dan JG alergi debu dan jadi dermatitis atopik, gatelnya luar biasa. Kalau Bebe alergi dingin dan alergi lain yang belum terdeteksi karena belum pernah periksa tapi jadinya kulitnya emang sensitif banget.

Salah makan seafood dikit bisa ruam merah banyak banget, ganti sabun salah brand megar lho dia sepunggung kaya ular ganti kulit, kelamaan nggak cuci sprei langsung kulitnya merah-merah.

Kalau udah alergi gini, satu-satunya jalan keluar emang cuma menghindari pemicunya. Nah kalau di Bebe dulu nih waktu kecil, pemicu utamanya itu sabun!

Wah, PR banget deh cari sabun buat Bebe. Plus harus wanti-wanti mbak di daycare juga karena pernah satu waktu sabun dia abis terus dipakein sabun temennya, selesai sudah kulitnya ngelupas-ngelupas.

Jadi saya udah khatam banget berbagai penyakit kulit pada anak yang disebabkan alergi. Ada yang mengalami hal serupa nggak?

Kalau anak kalian juga kaya Bebe, mungkin udah saatnya untuk mikirin ulang produk sabun dan deterjen yang digunakan. Saya aja nih ya udah segede gini kalau harus lipetin baju yang baru dicuci dengan deterjen yang nggak cocok, tangan bisa gatel-gatel. Masa iya lipetin baju doang harus pake sarung tangan? Zzz.

Nah jadi sekarang saya akan bahas 2 produk yang cocok untuk kulit sensitif seperti kulit kami-kami ini.

Purebaby Liquid Soap

Purebaby Liquid Soap menarik karena klaimnya no added SLS dan komposisinya mengandung triple moisturizer (Oat Kernel Extract, Chamomile, Pro Vit B5). Oat emang bagus banget lho buat kulit sensitif. Pernah kulit muka saya perih karena ganti skin care, selama seminggu saya cuci muka pakai rendaman oat doang tanpa sabun sama sekali dan hasilnya kulit saya kembali normal.



Jadi sabun bayi dengan kandungan oat itu beneran bikin penasaran sih. Yakali soalnya kalau harus tiap hari mandi pake oat ya. Peer banget hahahaha Purebaby ini memudahkan banget!

Aromanya khas sabun bayi yang lembut dan nggak terlalu berasa parfumnya. Saya nggak suka sabun bayi yang jelas-jelas wanginya fake perfume gitu lol. Kaya lebay aja gitu ngapain sih harus wangi banget dengan wangi yang nggak natural. Karena wangi yang menyengat itu berisiko menyebabkan iritasi, terlebih untuk kulit yang sensitif. Teksturnya cair dan nggak terlalu banyak bikin busa atau gelembung. Ini poin plus lain banget nih.


Sebelumnya Bebe pakai sabun batang natural dari susu kambing buatan … Australia (jauh yha). Pas nyoba pake Purebaby ini feelingnya mirip banget lho sama si sabun batang. Soalnya busanya sedikit dan nggak bikin kering sama sekali. Saya nggak suka sabun yang bikin kering kesat gitu karena di kulit kering biasanya masalah dimulai. Dengan mandi rutin pakai Pure Baby Liquid Soap, bisa merawat kulit sensitif dari iritasi dan masalah pada kulit seperti dermatitis, ruam, alergi, dan biang keringat.

Kok bisa nggak bikin kering? Karena produl Purebaby tidak mengandung sodium Lauryl Sulfat/Sodium Laureth Sulfat/Sodium Myrate Sulfat/Anionik Surfaktant. Hayoloh apa itu semua hahahahaha.

Singkatnya Purebaby nggak mengandung SLS atau deterjen sama sekali makanya busanya sedikit. SLS menyerap kelembapan kulit, itu sebabnya setelah mandi dengan sabun mandi yang mengandung SLS, kulit terasa keset. Sebenarnya hal ini menandakan kulit mulai kering. pH nya di 5.5 yang normal untuk bayi dan jangan khawatir sama kandungannya karena semua produk Purebaby dari bahan baku, proses produksi, kemasan, sampai produk jadinya disupervisi langsung oleh perusahaan farmasi dengan standar kualitas Good Manufacturing Practice farmasi.

Purebaby Laundry Liquid

Nah kalau yang ini sabun pencuci baju. Btw mau cerita dulu, untuk pertama kalinya saya punya jemuran di luar dan itu PR banget ya. Maklum tinggal di apartemen sempit, tempat jemur cuma segitu-gitunya dan saya shock begitu tau baju kalau dijemur itu kok jadi kotor. -______-


Bukan kotor kena tanah ya tapi debu dari luarnya itu lho. Soalnya dulu di rumah lama, tempat jemur itu ketutup banget, di rumah Bandung juga ketutup jadi bener-bener nggak pernah jemur outdoor. Begitu coba jemur outdoor wow baju jadi harus dikebut-kebut dulu dengan kekuatan ekstra sebelum dilipet.

Jadi pemilihan sabun cuci juga harus bener-bener yang cocok di kulit karena ya udah mah alergi debu, nggak cocok sama sabunnya pula, selesai sudah.

Jujur ini pertama kali coba cairan pembersih pakaian dari Purebaby dan kaget karena pas dituang itu bening! Nggak ada butiran apapun sama sekali. Kaya cairan bening kental aja.



Pada kemasan tertera, formulasinya juga bebas SLS (Sodium Lauryl Sulfat/Anionik Surfactant) alias deterjen yang tadi udah saya sebut di atas. Jadi busanya emang nggak banyak tapi tetep bersih lho! Purebaby laundry liquid ini mengandung alkylpoliglucoside yang berasal dari minyak kelapa dan gula jagung sebagai zat pembersih, jadi tentu lebih alami. Pantesan bening ya.

Emang busa ini masalah kebiasaan banget ya. Mindset kita selalu banyak busa = lebih bersih padahal nggak sengaruh ituuu. Bisa kok tetep bersih meski tanpa banyak busa.


Kandungannya juga lembut, hypoallergenic, anti bakter dan jamur plusss mengandung aloe vera. Noda juga hilang kok! Seperti noda bekas makanan. Kecuali emang noda rese kaya kecap ya, pasrah aja itu mah kalau nggak buru-buru dicuci.

Setelah dijemur, baju juga nggak jadi kaku dan nggak bikin tangan gatel pas lipetnya. Wanginya nggak keras dan nggak bikin pusing. Otomatis pas dipake juga nggak bikin iritasi dan gatal. Aman jaya. Dijemur di dalam ruangan juga nggak bikin bau apek lho.

Jadi … siapa yang penasaran mau coba?


Produk Purebaby bisa dibeli di Kimia Farma, Food Hall, Farmers, Kelapa Gading, Ranch Market, Aeon, Lulu, Grand Lucky, Diamond, dan Baby Shop. Untuk Purebaby Liquid soap juga bisa didapatkan di apotek. :)

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Welcome to KASAKOLA!

on
Saturday, May 4, 2019

Jadi suatu hari di tanggal 15 April, saya nanya sama geng kesayangan, kalau saya mau punya bisnis itu cocoknya apa sih? Maunya punya daycare, cocok nggak?

Cocok katanya. Baikkkk. Mau sih saya punya daycare, udah tau banget seluk-beluknya karena udah 5 tahun jadi pengguna daycare. TAPI UANGNYA MANA, GENGS? HAHAHAHAHA.

Mba Windi ngitung-ngitung untuk Medan aja mau pingsanlah pokoknya. Tapi kami tetep ngayal, terus ngayal bersama, terus bahagia lol. Receh anaknya, mudah dibahagiakan hanya dengan berimajinasi.

Dan ternyata saya kepikiran. Sampai malemnya muncul ide “ah daripada bikin daycare kejauhan dan kelamaan, gimana kalau bikin directory dulu aja!” Minimal bisa bantu ibu-ibu lain untuk cari daycare yang cocok.

Flashback ke 3 tahun lalu, saya ngomong ide ini ke Isti. Lalu jadi wacana karena yakali 3 tahun lalu mana punya saya waktu luang sih? Hahahaha. Masih drained banget harus nyusuin, blablabla. Hidup tidak semudah sekarang.

Dulu juga nggak kepikiran cara cari data daycarenya gimana? Masa teleponin atau browsing satu-satu? Senggang banget kayanya, sosialita apa gimana? *EEHHH* Maka ide pun hanya jadi ide belaka.

Tapi hari ini, followers saya di Instagram kan udah lumayan banyak. Di antara mereka pasti dong ada yang anaknya di daycare. Minimal data dari mereka dulu aja yang bisa saya compile. Semaleman kepikiran sampai nggak bisa tidur hahahaha.

*

Selasa, 16 April, pagi sebelum ke kantor saya bikin Google Form dulu. Isinya data daycare. Saya langsung ke kasih ke JG dan dia kasih beberapa masukan. Selesai dari JG saya kasih ke geng lagi dan mereka pun kasih beberapa masukan data apa yang dibutuhkan.

Sampai dari mereka ok, baru saya share di Instagram. Target saya nggak muluk-muluk, mikirnya yaaa bisa lah dapet 30-an daycare dulu. Pokoknya dalam 3 bulan harus punya data minimal 100 daycare. Kalau di IG dapetnya dikit, saya akan japri satu-satu temen yang anaknya di daycare. *ini kalau dipikir sekarang kok ya pesimis sekali*

Lalu saya seharian kerja dan melupakan itu Google Form yang sudah di-share di story.

Malemnya otw ke Bandung untuk Pemilu dan mulai ngomongin teknis sama JG. Apa saya bisa bikin website? NGGAK BISA DAN NGGAK PERNAH SAMA SEKALI. Lha blog ini aja pake blogspot yang sungguh mudah dan tidak perlu dicustom apa-apa.

Lalu apa saya bisa bikin website directory? YA NGGAKLAH NURUT NGANA HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.

“Gampanglah nanti aku belajar” Pokoknya tekadnya cuma bikin kaya Zomato tapi isinya daycare. Kalau data daycare udah banyak, nanti akan mulai kumpulin data TK, SD, SMP, SMA. Lengkap deh!

Wow nggak tuh, bikin websitenya aja nggak kebayang, ngayalnya udah ke mana-mana.

*KEMUDIAN MEWEK*

Tanggal 17 April, Pemilu dan seharian di rumah mertua. Ngapain ya waktu itu kok rasanya nggak santai dan banyak kerjaan. Baru bisa mulai ngerjain lagi jam 10 malem deh. Yang pertama dilakukan adalah beli domain dan hosting. Pertama kali lho beli hosting dan beli template. Nekat senekat-nekatnya karena ya udah sih ini kan teknis dan pasti ada orang yang bisa ditanya kalaupun saya nyerah di tengah jalan.

Lalu jam-jam berikutnya dihabiskan dengan browsing tutorial. T_______T

Browsing tutorial tuh suka ada adegan gini “untuk bisa set A kamu harus melakukan B, baca tutorial untuk B di sini”. Klik. Eh muncul lagi “sebelum bisa set B kamu harus melakukan C”. Lalu saya nggak tahu C itu apa dan browsing dulu serta cari tutorialnya dulu. Begitu terus sampai menangissshhhhh. T________T

Long story short (ini udah panjang banget, malih), setelah itu selama 5 hari di Bandung dihabiskan untuk bikin website yang ternyata mayan ribet ya. Bikin halaman satu-satu, nggak pernah kebayang kalau halaman search aja harus dibuat, selama ini kupikir itu magic dan terbuat sendiri *halah*

Belum lagi perintilan kaya “oh iya nggak punya logo” kemudian dadakan gambar sendiri di iPad. Lalu “oh iya nggak punya foto” kemudian cari dulu pake yang gratisan dan nggak perlu credit nyahahaha. Bener-bener modal nekat.

Nyampe Jakarta ya keteteran lah mau ngerjain kapan coba. Jadinya dicicil tiap malem setelah Bebe tidur. Karena surprisingly dari followers Instagram aja ada 100 lebih daycare yang masuk! Terharu banget beneran karena nggak nyangka yang jawab beneran se-Indonesia. Dipikir akan Jakarta dan sekitarnya aja.

Masukin data 100 daycare sendiri-sendiri ini kan PR ya. Sekali duduk sebelum tidur paling cuma bisa masukin 10 karena ngantuk. Makanya tiap ada yang nagih saya rasanya mau nangis karena gimana dong ini kok rasanya nggak selesai-selesai hahahahahahaha. Bikin websitenya boleh 5 hari, masukin datanya kok ya 2 minggu sih herannnn.

Akhirnya hari ini selesai! Visit KASAKOLA here! Sakola itu artinya sekolah dalam bahasa Sunda. KASAKOLA artinya Ke Sekolah. Harapannya nanti siapapun yang mau Ke Sekolah di jenjang apapun, buka website ini dulu untuk cari sekolah yang tepat. Waaaa, terharu sendiri. LOL.



Setelah ini saya masih mau beresin login page, confirmation email, dll biar kalian bisa login dan ikut isi datanya juga. DITUNGGU YA! SOOO EXCITED!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Kenapa Sekolah Begitu Penting

on
Wednesday, May 1, 2019

Di blog, di Instagram Story, saya selalu menekankan pentingnya menabung demi pendidikan terbaik untuk anak. Dan selalu masih ada yang berkomentar “alah sekolah di mana sama aja”.

Nggak apa-apa, saya juga nggak maksa semua orang untuk cari sekolah terbaik untuk anaknya. Sekolah kan pilihan, sarana belajar, kalau menganggap anak bisa belajar di mana aja, ya boleh banget.

Atau justru nggak mau sekolah karena menganggap sekolah membatasi anak, ya bebas juga. Tandanya sekolah dianggap nggak mengakomodir kebutuhan belajar si anak.

Saya sebetulnya dari sekarang udah persiapan nih, misal suatu hari si Bebe nggak mau sekolah dengan alasan tertentu gitu. Kalau memang alasannya kuat dan sayanya mampu, ayolah kita di rumah aja nggak apa-apa.

Tapi itu opsi terakhirrr banget kalau misal dia dibully sampai depresi atau apa gitu. Soalnya kejadian di kenalan saya yang anaknya dibully sampai didorong ke kolam renang. Udah kelas 5 juga, mau pindah sekolah nanggung, ya udah di rumah ajalah homeschooling. Nanti tinggal kejar paket terus lanjut SMP.

Meski membebaskan anak SD, SMP, dan SMA, saya tetep mengharuskan kuliah. Kenapa? Karena kami tidak punya privilege lebih. :)

JG dari hidup di gang sempit dan bisa kaya sekarang itu semua karena kuliah. Bagi kelas menengah dengan orangtua kelas menengah juga, kuliah adalah jalan satu-satunya untuk bertahan hidup DAN mengubah taraf hidup.

(Baca: Suami Pernah Miskin)

Bertahan hidup karena mau nggak mau kami memang harus kerja, mengubah taraf hidup dengan pelan-pelan berkarier dan naik gaji. Bukan, bukan nggak mau jadi enterpreneur tapi memang belum punya privilege untuk itu.

Bisnis butuh modal, modal yang harus ditabung pelan-pelan sambil kerja dan lagi-lagi, bertahan hidup. Kami juga nggak bisa seenaknya resign demi membangun bisnis karena kalau resign tandanya harus siap tidak punya penghasilan.

Siapa yang mau back up keuangan keluarga kalau bisnisnya gagal? Juga bagaimana cara mengumpulkan dana darurat untuk persiapan resign DAN modal bisnis sekaligus? Plus kapan mengerjakan bisnisnya kalau kerja masih full time, kerja sampingan untuk uang tambahan agar anak bisa sekolah bagus, dan mengurus anak?

Terdengar seperti excuse ya, tapi kenyataannya emang begini. Lahir dari kelas menengah semacam lahir sebagai kaum pekerja. Jadi mau nggak mau ya harus kuliah biar bisa punya pekerjaan yang bagus. Yang gajinya berlebih biar bisa ditabung untuk suatu hari nanti bikin bisnis sendiri karena jelas orangtua tidak bisa memodali.

Betul anak bisa belajar dari mana aja, cuma ya tetep dari pengalaman kami kuliah lulusan mana jadi hal yang menentukan tempat kerja. Lagipula lebih mudah juga bagi saya dan JG untuk tetap kerja sementara Bebe sekolah. Bisa aja dia ambil beberapa course doang sesuai minat bakatnya, tapi siapa yang mau anter jemput? Bahkan untuk provide mobil dan supir tambahan kaya gini aja kami belum mampu. Ya masa anak 6 tahun disuruh pergi les sendiri, kan nggak mungkin ya. Sekolahlah opsi terbaik untuk kondisi kaya gini.

Makanya saya pilih-pilih banget untuk nyebut orang sebagai “inspiring”. Kuliahnya di mana dulu nih? Di Amerika beasiswa apa dibiayain orangtua?

Kalau sukses karena memang dari awal privileged sih jadinya nggak inspiring amat kan. Kecuali kaya Jack Ma yang dulu miskin banget gitu baru deh inspiring. Meski agak ngeri lho dulu dia nitipin anaknya di daycare untuk bangun Alibaba sama istrinya. Iyaaa, anaknya nginep di daycare dan cuma dibawa pulang seminggu sekali. Apa kabar bonding dan quality time ibu-ibu? :))))))

Jadi mungkin banget nih ya, orang-orang yang menyepelekan sekolah itu adalah orang yang nggak punya pengalaman taraf hidupnya naik karena sekolah. Orang yang sejak awal memang tak sadar kalau bisa sekolah adalah kemewahan.

Kalau kaum pekerja kaya kita mah ayolah cari sekolah terbaik dulu aja buat anak dan bikin anak jadi pekerja keras. Karena harus diakui orang-orang yang bisa jadi entrepreneur sukses di usia muda itu kebanyakan memang datang dari keluarga kaya. Jadi bisa lebih percaya diri karena kalau gagal juga masih bisa minta bantuan keluarga. Mari kita cc Mark Zuckerberg, Bill Gates, dan Nadiem Makarim lol.

Jadi yuk, semangat menabung untuk anak sekolah yuk!

-ast-







LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Alis dan Penerimaan Diri

on
Sunday, April 21, 2019
*ANNISAST MEMANG NGGAK PERNAH WRITER’S BLOCK KARENA ALIS AJA JADI SATU TULISAN HAHA*



Kalau kalian follow saya dari lama, harusnya tau dong saya sering ngeluhin alis? Sering banget bilang alisnya setipis itu jadi udah gambar alis sejak kuliah blablabla.

Beberapa bulan terakhir saya nggak gambar alis sesering dulu. Bahkan kalau dateng ke event dengan makeup simpel (bb cushion doang bukan event level harus pake foundation), saya tetep nggak pake alis. Kalau pake foundation harus tetep gambar alis soalnya yha alisnya suka memang bener-bener ilang ketutup foundation HAHA.

Tapi saya sih jarang memang pake foundation. Kayanya terakhir kali pake pas event kantor Best of Beauty Awards akhir tahun lalu deh. Wiw lama amat ya. Hari-hari bedakan aja nggak, ada acara dikit ya pake bb cushion doang biar fresh.

Awalnya saya mikir karena ah udalah nggak usah digambar, alisnya juga makin tebel deh. Rada halu makin tebel kan dulu suka cukur bagian yang berantakan, dicukur = makin tebel = padahal halu. Sampai pada momen saya mikir “ini alis sebetulnya nggak makin tebel juga tapi kok pede ya?”

Keyword: percaya diri.

T_______T

Rasanya receh tapi ini momen lain dari proses penerimaan diri banget sih menurut saya. Self-love yang diagung-agungkan orang itu ternyata salah satu bentuknya ya begini. Baru bisa ngerti kalau udah dilewati.

Dulu rasanya gambar alis jadi wajib. Sampai selalu punya pensil cadangan meski yang lagi dipake belum abis. Saking khawatir yang ini abis terus nggak punya pensil alis sama sekali. Malah pernah lupa bawa terus lari dulu ke Indomaret untuk beli pensil alis Viva. Sepenting itu alis bagi hari-hariku dulu. Ke mana pun pake alis.

Lama-lama nggak peduli. Lama-lama cuma pake alis di momen yang dirasa penting dan formal aja. Ternyata sampai di momen nggak pake alis juga nggak apa-apa huhu kalian ngerti nggak sih terharunya kaya apa.

Biar aja dibilang lebay karena dari dulu saya selalu ada rasa iri dalam hati sama orang dengan alis yang emang tinggal dicukur udah ngebentuk bagus. Atau kaya Annetta dan Puchh yang emang alisnya jabrik tebel tapi bentuknya memang bagus. Bagus buat saya itu yang deket area hidung tebel, makin belakang makin tipis. Alis saya sebaliknya, di deket idung tipis kecil lha makin belakang makin jabrik, makanya area ujung belakang itu biasanya dicukur.

Padahal alis ya bentuknya memang bagus kalau kita pede-pede aja. Orang juga nggak peduli amat ternyata. Dulu kalau story memang banyak yang bilang “alisnya bagus kakkk” atau “tutorial gambar alis dong”. Tapi ternyata setelah nggak gambar alis, nggak ada SATU PUN yang protes atau komentar soal alis. Jadi mungkin memang nggak sepenting itu sebenernya hahahaha.

Kak Puchh dan Netta.
Dulu juga saya merasa kalau pengen muka fresh itu harus pake complexion yang oke, eyeshadow atau minimal eyeliner biar mata nggak sayu. Alis harus oke biar keliatan “dandan”. Sekarang cuma pake cushion, eyeshadow, dan lipstik cukup. Terlalu malas juga pakai eyeliner, pake blush on jarang-jarang apalagi kalau naik ojek karena takut dark spot makin banyak.

Dulu segala pokoknya dibikin nggak pede dan punya standar sendiri untuk tampil pede. Prosesnya memang panjang dan ini bagian dari percaya diri yang terjun bebas pasca punya anak. Lebih jelasnya udah ditulis di postingan ini tentang gimana selfie jadi selalu salah setelah melahirkan: The Scary Scary Adulthood

Dari berani selfie sampai berani tidak gambar alis, hal yang sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Saya percaya penerimaan diri juga sebuah perjalanan, jadi kalian yang masih di jalan dan masih merasa belum pede di sana-sini, tenang aja, nanti juga nyampe. :)

Baru ngerti sekarang kenapa Alicia Keys bodo amat nggak pake makeup padahal ke red carpet. Ngertiiii banget. Percaya diri sebenar-benarnya itu ketika kita nggak masalah untuk pake makeup dan oke aja kalaupun harus nggak pake. Karena ada juga kan orang yang justru malah insecure kalau harus pake makeup.

Dan iya, memang sayanya nggak into makeup jadi selama ini pake makeup cuma buat nutupin ketidakpercayaan diri aja. Beda lho ya sama kalian yang memang suka makeup karena suka aja, yang menganggap makeup itu art dengan poin plus bikin keliatan cantik dan percaya diri. Yang memang passionate banget sama urusan beauty.

Saya nggak gitu, jadi bisa lepas dari alis aja rasanya pencapaian banget sampai harus ditulis ahhahahahahaha.

Jadi, sudah sampai mana proses penerimaan diri kalian teman-teman?

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Cita-cita Anak

on
Monday, April 15, 2019
Kemarin saya buka question box di IG tentang cita-cita anak dan jawabannya seru-seru amat!


Awalnya dari Bebe yang (sekarang) pengen jadi entomologist. Sebabnya hari Jumat lalu kami akhirnya menamatkan salah satu buku favorit dia judulnya Seranggapedia dari Natgeo Kids. Nah, di halaman terakhir ada wawancara dengan entomologist.

Wawancaranya untuk anak-anak gitu jadi ada pertanyaan gimana caranya untuk bisa jadi entomologist, gimana meneliti serangga kalau kita masih anak-anak, dsb. Bebe excited banget dan seketika mengubah cita-cita. Sebelum tidur, kami sepakat untuk nonton bareng tentang serangga besok.

Hari Sabtu pagi itu JG ada acara jadi saya sama Bebe berdua di rumah. Tiga jam kami nonton BBC Earth dan orang-orang yang melihara serangga dan laba-laba ya ampun. Tak pernah kubayangkan akan menghabiskan Sabtu yang cerah dengan nonton tarantula berbulu disuapin kecoa dan belalang pake pinset. T______T

Merinding dan nggak suka sejujurnya tapi sebagai ibu supportif saya tentu sok excited dan nemenin dia. Ingat, jadi ibu adalah 90% akting, 10% real parenting LOL.

Di umur 4 tahun ini entomologist adalah cita-cita Bebe yang kesekian. Awalnya dia pengen jadi polisi dan dari hati terdalam ibu deg-degan karena harus diakui lembaga militer itu patriarkal banget huhu. Lama banget dia pengen jadi polisi sampai nonton upacara 17 Agustus dan berubah pengen jadi … pilot pesawat tempur. YA TETEP MILITER DONG.

Iya sih masih kecil dan bisa banget berubah, Tapi pas mau jadi polisi itu dia keukeuh banget sampai ada titik di mana saya mikir wah dengan anak sekeras kepala ini bisa-bisa dia akan terus bertahan pengen jadi polisi. Ibu rada halu sih karena nggak sampai sekian bulan udah ganti lagi hahahahha.

Pas suka Upin Ipin langsung ingin jadi astronot, baru beli Nintendo Switch langsung ingin jadi pembuat game, dan terakhir namatin buku Seranggapedia langsung pengen jadi entomologist.

Anak lain juga ternyata sama ya. Ada yang pengen jadi yang punya Superindo, penjual HP (karena screen time dibatasi), ada yang pengen jadi Kinderjoy dan penjual es krim (diduga karena keduanya juga dibatasi lol), sampai ada yang pengen jadi supir angkot biar bisa makan rendang padang tiap hari HAHAHAHA.

Lalu ada yang bercita-cita jadi superhero dan ... HEWAN. Bebe nggak ngalamin sih cita-cita pengen jadi binatang tapi ternyata banyak anak yang ingin jadi GAJAH. Alasannya karena gajah itu besar hahahaha GEMES. Ada juga yang mau jadi JERAPAH LOH dan sekarang menganggap dirinya kucing. Lucu banget!

Anak-anak itu ajaib sekali ya. Langsung merasa kita orang dewasa (dan kedewasaan) yang menghilangkan sisi anak-anak itu huhu mellow.

(Baca: Hidup yang Kita Pilih)

Yang jelas, jangan diremehkan dan ditertawakan ya. :( Boleh ditertawakan asal jangan di depan dia. Sama suami aja pas lagi nggak sama anak hahahaha.

Jangan di “halah emang bisaaa?” gitu karena itulah hal pertama yang menghancurkan perasaan berharga anak alias self-esteem. Orang terdekat yang seharusnya jadi support system paling utama kok ya jadi penghancur mimpi pertama.

Padahal mimpi kan bebas dan tidak pernah terikat apapun, imajinasi itu luas dan tak perlu terbatasi sedikitpun. Apapun mimpi dan imajinasinya, sudahlah IYA kan saja.

Kalau ingin dan sempat sebetulnya bisa jadi bahan diskusi panjang. “Kenapa kamu ingin jadi jerapah?” “Apa bagian jerapah yang menurutmu paling keren?” “Kenapa kamu suka jerapah?” dan banyak lagi. 


Satu lagi, banyak yang bilang “ingin jadi pemadam kebakaran/polisi/(profesi yang dianggap maskulin lain) padahal anakku cewek”. Padahal nggak apa-apa banget anak cewek mau jadi apa juga. We can be anything we want to be!

Kerasa lho udah dewasa gini aja ketika mimpi kita diremehkan apalagi sama orang terdekat, seringnya jadi down kan bukannya semangat. Kalau kita aja begitu apalagi anak-anak ya kan.

Jadi, untuk kita dan untuk anak-anak kita: jangan takut dan jangan pernah berhenti bermimpi.

Never stop believing in dreaming, and never stop dreaming of believing. That is what gives us hope, and what keeps us alive.

(bukan quote saya itu hasil googling)

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Kelas Menengah yang Kurang Usaha

on
Friday, April 12, 2019
Wah draft ini udah ada sejak Januari 2017. Ngapain aja sih nganggurin ide sampai 2 tahun? Hahahaha.



Kepikiran lagi mau nulis ini setelah nonton PORD (Podcast Raditya Dika) dengan Rachel Vennya. Podcast-nya 1,5 jam dan SAYA NONTON bukan hanya dengar. Karena bagi kaum visual seperti saya, ekspresi dan gesture itu penting makanya belum bisa dengerin podcast doang karena emosinya nggak dapet.

(ANYWAY BANYAK WAKTU BANGET SIS NONTON PODCAST 1,5 JAM? Ya speednya di 1,75 sih jadi nggak selama itu juga lol)

Podcastnya seputar kehidupan Rachel, bisnisnya, dan terutama tentang membesarkan anak terkenal. Di sini saya mau fokus di bisnisnya aja karena inspiring sih bagian itu.

Jadi Rachel itu udah jualan dari SD, jualan TTS berisi pertanyaan seputar info sekolah (kreatif!) tapi karena jualan TTS itu dia pernah ranking 2 terbawah di kelas hahahaha. Kemudian dia terus jualan macem-macem sampai pas SMA dia jualan Kitkat dengan rasa aneh-aneh dari Jepang itu.

Menurut Rachel, itu titik di mana dia baru tau apa itu target market, apa pentingnya market research karena dia baru sadar kalau jualan sesuatu yang memang dicari orang itu, pasti laku. Nextnya dia cerita dia jualan crop top untuk temen-temennya ke DWP padahal dia sendiri nggak nonton, sampai akhirnya bisa pertama kali liburan ke Hong Kong pake uang sendiri dari hasil jualan produk kecantikan!

Yang menarik, apa yang bikin Rachel pengen jualan terus pas SMA? Karena uang sakunya cuma cukup buat dia naik angkot ke sekolah sementara sekali jalan dia harus naik angkot 3 kali. Jadi dia jualan biar bisa ke sekolah naik ojek yang ongkosnya Rp 40ribu sekali jalan. WAH!

Di sini sih kelemahan saya yang sudah saya sadari sejak bertahun-tahun lalu hahahahahaha.

via GIPHY

Yes, saya ada di posisi kelas menengah dengan daya juang yang kurang. Kelas menengah yang kurang usaha. :)))))

Sekarang gini deh, kalau kalian follow dari lama, taulah ya masa lalu Rachel gimana. Di PORD dia mendeskripsikannya sebagai “keluarga aku bisa makan sih, tapi dari satu nenek cuma punya satu mobil Kijang”.

Jadi kalau dikira-kira, dia kelas menengah tapi posisi udah di bawah. Kelas menengah ke bawah. Berjuang banget biar bisa naik kelas. Hanya demi privilege nggak kurang ongkos buat naik ojek. Motivasi banget sih emang. 


Nah yang kurang berjuang emang kelas menengah kaya saya gini nih. Kelas menengah yang bener-bener ada di tengah. Bukan kelas menengah ke atas juga.

Bisa makan? Bisa. Kurang ongkos untuk pergi ke sekolah? Mmm, nggak pernah. Satu nenek punya berapa mobil? Semua tante punya mobil sendiri. Liburan ke luar negeri tiap tahun? Nggak sih. Tapi yang saya mau bisa dibeli semua? Bisa.

Dikasih mobil sama ayah nggak? Nggak sih tapi selalu ada mobil cadangan di rumah buat siapa aja boleh pake. Gadget ganti tiap tahun? Nggak mampu tapi bisalah 3 tahun sekali. Kuliah pake tas branded? Belum cukup uangnya tapi cukuplah untuk belanja di distro pada masanya.

Kalau yang kelas menengah ke atas biasanya tiap anak udah dikasih mobil masing-masing tuh. Nabung dikit udah bisa beli tas branded. Liburan bisalah tiap tahun. Tapi tetap kenal konsep nabung, kenal konsep kerja untuk cari uang. Beda sama kaum kelas atas yang udah nggak tau jumlah uang di tabungan ada berapa ahahahaha.

Kelas menengah yang ada di tengah-tengah seperti saya-saya ini, kurang usaha banget jadinya karena sudah merasa cukup. HUHU. GIMANA YA.

Bener loh saya lagi nyari motivasi banget untuk bisa kerja lebih keras dan lebih giat lagi. Nyari kesempatan untuk bisa ngasih lebih lagi sama masyarakat. Nyari trigger untuk bisa lebih dari ini. Tapi gimana sih kok tetep gini-gini aja. Di satu sisi nggak suka jadi mediocre tapi di sisi lain nggak punya motivasi lebih untuk bisa keluar dari mediocrity.

JG juga sama aja. Buat dia, sampai sini memang lompatan besar dibanding dia waktu kecil. Tapi dia udah terlalu lama hidup nyaman karena pas pertama kali kerja gajinya langsung gede dan bisa beli segala yang dia nggak bisa beli waktu kecil. Sekarang punya uang dikit beli sepatu, beli game, nggak usaha untuk bisa naikin lagi taraf hidup karena merasa sudah naik dibanding dulu. Tapi kalau gitu kapan kita liburan ke Afrika seperti Rachel dan Niko? HAHAHAHAHA.

(Baca: Suami yang Pernah Miskin)

Terus jadi mikirin, apa yang bisa bikin saya kerja lebih keras kalau memang merasa cukup?

Cita-citanya cuma satu sih, uang sekolah Bebe voila! kekumpul dalam beberapa bulan bukannya dalam 3-6 tahun. Tapi harus ngapain? Jualan males, pindah kerja takut pulang malem, double job takut nggak bisa ngerjain hobi. Hedeh. KURANG USAHAAAA. Masalah mental yang sebenarnya.

Iya sih ranking 1 terus pas SD tapi ternyata nggak ngaruh ke kehidupan selanjutnya juga hahahaha.

Akhirnya saya dan JG lagi memetakan ulang kehidupan nih. Lagi nulis lagi cita-cita apa yang paling diinginkan, lagi ngulik lagi bisa ngapain ya kita biar bisa lebih dari ini? Ngapain ya biar punya motivasi lebih karena masa mau hidup gini-gini aja. Ditulis di notes sama-sama gitu, ngapain lagi kita?

Mana Gesi lagi kuliah play therapy dan Nahla mau S2 pula. Makin kaya dikejar wehhh hahaha. Memang penting berada di lingkungan yang selalu mau maju. Biar merasa ketinggalan terus ikutan lari. :)

Ya udah gitu aja sih. Cuma mau nyeritain Rachel dan sedikit curhat saya. Doakan semoga dibukakan pintu hati biar muncul motivasi untuk keluar dari mediocrity ini. Yang punya waktu dan mau nonton bisa ke channelnya Raditya Dika. Saya kurang usaha untuk embed HAHA THE IRONY.

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Mengajarkan Anak Berpikir (Kritis)

on
Monday, April 1, 2019
Triggered sama postingan ibu-ibu di Instagramnya Mommies Daily terus saya panas deh pengen langsung nulis.

Jadi ceritanya Maudy Ayunda diwawancara Najwa Shihab. Sebuah wawancara yang bikin saya stres “YA AMPUN INI MEREKA MAKANNYA APAAAA?!” karena kok sulit relate bagi kaum seperti saya yang selalu panic attack saat mau ujian. :((((



Saya tuh sadar diri nggak pinter kalau nggak belajar sementara ambisius level menangis kalau dapet nilai B. Jadi ya BELAJAR lah satu-satunya solusi. Kalau lagi ujian, tidur saya nggak tenang, saya sering kebangun tengah malem karena dalam tidur tiba-tiba saya merasa lupa satu teori apa gitu misalnya. Saya akan BANGUN untuk cek catetan, baca, dan tidur lagi. Story of my whole college life. :(

Bahkan saya nggak mau nyetir (emang nggak jago sih), nggak nebeng temen saat ujian karena saya mau naik angkot. Saat angkot menembus macetnya Cibiru adalah kesempatan saya untuk belajar lagi. Nope, bukan karena saya suka belajar tapi terlalu takut untuk nggak bisa ngerjain ujian. :(

Jadi bukan excited deg-degan kaya Kak Nana dan Maudy. Nggak sama sekali. Kalau ujiannya dibatalkan atau take home test pun saya bahagia karena PASTI jadi bisa mengerjakan lebih baik dibanding harus ngerjain nervous di kelas. Bukan yang kecewa karena ih udah belajar kok nggak jadi ujian hahahaha.

Sementara saya sahabatan sama orang yang TIDAK belajar juga pintar. Kesel deh, sehari sebelum ujian saya mati-matian belajar dia main. Kelar ujian, nilai kami sama. Selalu kaya gitu. Tapi ya, emang sengaja temenan sama orang pinter biar termotivasi hahahaha.

Terus setelah nonton video Najwa dan Maudy, saya jadi semangat biar Bebe senang belajar! Karena inti dari video itu adalah keduanya senang belajar plus ada tips parenting dari orangtua Maudy Ayunda:

- Nggak punya TV dan mengandalkan buku untuk hiburan. Hanya saja tidak selalu buku tapi juga Lego karena Bebe sesuka itu sama Lego. (Baca: Hidup Tanpa TV)
- Tak pernah diberi reward untuk pencapaian. Sejauh ini belum menjadikan reward sebagai keharusan. (Sekilas tentang rewards ada di sini: Bebe Anak Pemberani)
- Diajarkan skill problem solving sejak kecil. NAHHHH INI NIH YANG MAU SAYA BAHAS. Karena ngaruh ke goals kami yaitu dia harus jadi anak yang bisa ambil keputusan sendiri (klik untuk baca). Keputusannya harus dipikirkan matang-matang dengan kritis dong?

*btw kayanya bakal panjang deh, biarlah ya*

Berpikir itu harus DIAJARKAN (dan agak dipaksa)

Masuk umur 4 tahun, saya sadar kalau Bebe itu suka males-malesan jawab pertanyaan karena dia males mikir. Wow banget ya anak 4 tahun males mikir.

Tanda males mikir ini sebetulnya udah keliatan dari umur 3 tahun, cuma dulu saya mikirnya “halah masih kecil kali” sebelum makin sini makin sadar dia males mikir dan menjauh dari Stanford lol.

Jadi dulu percakapan kami memang tak jauh dari soal perasaan. Misal weekend, pertanyaan saya malemnya:

👩: “Xylo senang nggak hari ini?”
👶: “Senang!”
👩: “Senangnya kenapa?”
👶: “Karena aku nonton YouTube”
👩: “Selain nonton kamu senang ngapain lagi hari ini?”
👶: “Ah ibu aja yang cerita”
👩: “Kamu dong”
👶: *NGAMBEK KARENA MALES MIKIR*
👩: *kemudian saya ganti topik karena males ngejar*

Sekarang saya nggak gitu. Saya kejar terus petrus jakandor seperti ibu Maudy Ayunda mengejar pros cons membeli rendang untuk acara keluarga hahaha. Nonton videonya ya kalau nggak ngerti.


Jadi setelah pertanyaan perasaan (buat saya ini tetep wajib), saya kejar dengan pertanyaan kritis dan memaksanya berusaha menjawab.

“Kalau hari ini aku senang karena 5 hal, (menyebut 5 hal yang bikin senang hari itu). Kalau kamu bisa juga nggak sebut 5 hal yang bikin kamu senang?”

Anak kompetitif biasanya tentu mau lebih, jadi kalau ibu udah sebut 5, dia sebut 10 lalu merasa menang. Memang agak lama dan nggak langsung jawab, tapi saya tunggu dan beri waktu untuk berpikir. Kadang jawabannya nggak terduga lho semacam “senang bisa ke tempat cuci mobil sama appa” atau “senang bisa masak sama ibu” luv banget nggak sih huhu.

Kalau pun dia ngambek, saya bujukin dengan “Ayo berusaha berpikir dulu, kamu kan punya otak untuk berpikir, ayo berusaha dulu”. Keyword: berusaha.

Dulu dia sering jawab males: “ibu aja yang cerita” tapi sekarang dia udah mau saya paksa dikit untuk berusaha berpikir dan langsung mau cerita.

Kaya kemarin abis nonton Dumbo, setelah nanya senang nggak hari ini blablabla, saya tanya:

“Xylo, tadi paling suka adegan apa?”
“Kenapa?”
“Paling nggak suka adegan apa?”
“Karakter yang paling kamu suka siapa?”
“Kenapa?”
“Paling suka waktu dia ngapain?”

Terus terus terus sampai ke ujung dan dia mau jawab semua huhu bangga.

Setelah seminggu kaya gini, Bebe komen lho! dia bilang “ibu, kita sekarang seru ya ceritanya” Huaaa, ibu terharu. Usahaku ada hasilnya ternyata. Kuliah di mana jadinya nanti, Be?

Tapi sejujurnya memang capek HAHAHAHA.

Jadi saya bilang ke dia kalau hari Jumat dan Sabtu malam, kita boleh mengobrol lebih lama karena besoknya Sabtu dan Minggu. Selain itu, ngobrol dan kejar secapeknya aja, pernah malah ketiduran karena dia mikir kelamaan hahaha. Nggak apa-apa yang penting berusaha yaaa.

Segininya banget lho efek nonton video Najwa Shihab dan Maudy Ayunda. Makanya saya rada kaget begitu posting tips ini di IG Mommies Daily dan komentarnya kebanyakan pada pesimis.

Dari nanya “nonton sinetronnya gimana kalau nggak ada TV” sampai sok bijak (sorry not sorry) tiap keluarga punya value beda dan nggak semua anak bisa diperlakukan sama. Errr, untuk bagian rewards mungkin iya sesuai kepribadian anak, tapi untuk mengasah skill menyelesaikan masalah dengan berpikir kritis menurut saya kan skill umum yang layak diajarkan pada semua anak sih.

Saya sih yakin pada semua keputusan parenting karena sudah dipikirkan matang-matang. Tapi bukan berarti saya jadi tertutup pada hal baru. Malah kalau ada pengetahuan baru yang kira-kira oke, ya saya cari tau lebih banyak dan terapkan deh.

Semua harusnya bisa asalkan orangtuanya niat. Semua harusnya bisa asalkan orangtuanya mau terus belajar. Karena kalau orangtuanya aja malas belajar dan menerima hal baru, yakin anak akan senang belajar hal baru juga?

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Mengevaluasi Pernikahan

on
Thursday, March 28, 2019
Pernah denger vow renewal?

Vow renewal adalah salah satu cara untuk mengingatkan kita tentang janji pernikahan (LITERALLY LOL). Iya bukan budaya Timur, meski entah Timur mana yang kalian maksud karena Jepang, Korea, China, Hong Kong, dkk kan yang Asia Timur, kita mah Asia Tenggara HAHAHA.

Vow renewal biasanya dilakukan dengan ceremony lagi, semacam nikah lagi gitu. Tujuannya untuk mengingatkan kembali komitmen, merayakan jatuh bangun keluarga yang sudah dilalui bersama, dan yaaa bebas aja sih mau merayakan apa. Yang jelas merayakan kebersamaan.


Apa amanat yang bisa diambil dari cerita vow renewal itu? *macam pertanyaan soal esai saat SD*

Yes, tentang mengevaluasi pernikahan. Dirayakan atau tidak dirayakan sih bebas aja tergantung masing-masing ya.

Pernahkah kalian mengevaluasi pernikahan?

Ada teman saya yang melakukannya setiap tahun, jadi setiap anniversary pernikahan, mereka membuat list apa yang sudah terjadi tahun ini, sebelah mana harus diperbaiki, juga bikin janji baru untuk jadi manusia dan pasangan yang lebih baik.

Tapi karena saya dan JG payah banget dalam hal ritual, tidak peduli pada ulang tahun dan anniversary, kami tidak mungkin melakukan itu karena ditanya nikah tanggal berapa aja suka lupa-lupa terus hahahaha. Boro-boro merayakan deh.

Akhirnya kami melakukannya kapan saja. Tidak pakai janjian “ayo kita evaluasi” gitu karena duh jadinya serius banget dan malah jadi males biasanya. Bingung sendiri gitu bahas apa ya?

TAPI kami selalu menyempatkan diri untuk membahas hal-hal tersebut KETIKA INGAT.

Misal nih, ada orang nanya JG kenapa tulisan saya selalu penuh kemarahan? Apa punya dendam masa lalu yang belum termaafkan? (inner child cenah bahasa masa kininya mah)

Abis itu JG jadi bilang “Iya kamu kok suka marah-marah sih, aku sedih banget loh kalau kamu marah”.

TINGTONG. Ini dia waktunya evaluasi.

Apa iya saya sering marah ke JG? Gimana marahnya? Apa penyebabnya? Kapan terakhir kali marah?

Setelah dirunut satu-satu, dingat-ingat detail kapan terakhir kali marah, apa penyebabnya, ternyata saya nggak sesering itu marah hahahaha. Bahkan bisa berbulan-bulan tidak marah atau berantem sama sekali.

Jadinya kalau berantem atau marah, sedihnya lebay. Jadi terpatri dalam hati *HALAH*

via GIPHY


Mungkin perasaan orang itu aja karena real life saya jarang marah-marah. Atau justru memang karena di dunia nyata jarang marah, saya jadi marah lewat tulisan. Yang mana biar aja yang penting kehidupan nyata saya tidak terganggu kan.

Atau minggu lalu, saya lagi annoying banget dan jadinya nggak mau dengerin JG sama sekali. Semua yang dia omongin saya patahin aja biar cepet dan nggak usah diskusi. Capek gitu.

Ya udah besoknya JG langsung cecer evaluasi lagi. Apa penyebabnya? Kenapa bisa gitu? Harus gimana? Apa yang salah? Dan seterusnya dan seterusnya.

Kuncinya satu: jangan baper-baper amat. Dikit boleh tapi jangan berlanjut lol.

Karena namanya orang terdekat kritik itu, baru 2 kata aja udah mau mewek rasanya hahahaha . Kaya “kamu kok nggak terima aku apa adanya” T______T Plis nggak saya doang kan yang begini.

Padahal emang sayanya lagi annoying parah dan emang itu harus diakui. HAHAHAHA. Diakui dan minta maaf aja. Nggak susah. Refleksi diri juga bisa bikin perasaan jadi lebih baik sih kalau saya. Sadar saya salah di mana, terus tiba-tiba hal-hal yang menyebalkan itu jadi menguap juga karena sadar itu salah.

Lalu teknisnya gimana? Ada yang pillow talk, ada yang bertukar surat atau email, tapi bagi kami, yang terbaik adalah lewat chat. Karena kalau lewat chat, responnya seketika tapi ekspresi nggak keliatan.

Ekspresi bisa bikin bubar soalnya. Misal dia ngomong satu kata terus ekspresi saya nggak terima, bisa jadi “tuh kan kamunya emang yang nggak mau denger”. Padahal ya mau banget denger, cuma kaget aja. Atau nggak, sayanya malah berkaca-kaca, selesai lah karena dia suka jadi nggak tega dan males duluan mau lanjutin.

Oiya, saya juga sempet nanya ke JG, kamu kok kalau ke orang lain pake caranya Dale Carnegie terus (from JG’s all time fav book “How to Win Friends and Influence People”) biar komunikasi lancar, ke aku kok nggak? Jawabannya:

“Kalau sama orang harus gitu karena ya masalahnya harus cepet selesai dan baik-baik, kalau sama kamu kan aku tau mau berantem gimana pun pasti kita akan baikan dan pelukan lagi”

CRYYYYY. Manis-manis pengen nampol karena kalau bisa diselesain baik-baik kenapa harus tidak baik-baik, malihhh.

Tapi tetep manis karena namanya juga comfort zone ya. Ini justru yang dibilang sebagai terima apa adanya dan jadi diri sendiri, karena kita tau apapun kondisi kita, dia akan tetep ada buat kita. NANGIS.

Kadang kita taking things for granted emang. Rasa-rasanya berhak marah, bentak, nyakitin orang terdekat karena kita tau dia nggak akan ke mana-mana. Padahal harusnya nggak begitu dong, orang terdekat juga harus kita jaga perasaannya karena kalau dia sedih kita juga ikutan mellow kan.

(AH BACA DULU INILAH. Keresahanku karena banyak yang bilang fake kalau menjaga perasaan orang lain: Menjaga Perasaan Siapa?)

Kami memang bukan panutan untuk perayaan anniversary pake liburan atau dinner berdua. Jarang banget nyempetin pergi berdua sampai saya pernah ngerasa gagal karena sering baca artikel yang bilang "sempatkan waktu ngedate berdua" karena kami nggak pernah sama sekaliiii. Pernah sih dulu beberapa kali cuti untuk nonton bioskop siang-siang, lunch berdua, tapi ... nothing's special lol.

Yang terpenting komunikasi lancar maka kami merasa baik-baik saja. Kalau kami merasa baik-baik saja kenapa juga harus nurut tips di artikel-artikel semacam itu ya kan. Yang jelas selalu evaluasi, review bersama apa yang kurang dan apa yang harus diperbaiki. Mungkin bisa jadi penting juga buat kalian.

Gimanapun, yang namanya pasangan menikah pasti punya harapan untuk terus berpuluh tahun lagi hidup bersama. Akan lebih baik kalau bisa bertumbuh berdua, jadi orang yang lebih baik lagi, biar bisa menjalani hidup tanpa beban dan penyesalan.

Yang sedang punya masalah sama pasangannya, ayo diingat-ingat lagi kenapa dulu mau nikah sama dia. Apa hal itu udah nggak valid lagi? Apa yang kalian perjuangkan?

Sekadar mengingatkan. LOL Dua kata paling nyebelin.

Bye!

-ast-

PS: Nulis tentang hidup mulu ya akhir-akhir ini karena Bebe makin gede kubingung mau nulis apa soal parenting hahahaha. Nggak apa-apalah ya yang penting nulis. Makasih udah baca sampai sini. :*






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Thank You for Marrying Me

on
Monday, March 18, 2019
Sebuah postingan curhat. Seperti 99% postingan lain di blog ini lol.


Weekend kemarin rasanya merdeka sekali. Hari Sabtu, Bebe dan JG ke pameran mainan. Saya malas ikut karena sudah lama sekali tidak menggambar. Hari Minggunya mereka beli bensin dan cuci mobil serta main game seharian.

Kedua hari itu saya tetap diam di rumah, menggambar souvenir ultah Bebe sambil nonton series Workin’ Moms di Netflix. Minggu selepas magrib, kami turun ke supermarket bawah apartemen dan memutuskan bikin siomay ayam.

IYA KAMI SUKA DADAKAN NGIDE GITU EMANG.

Sering yang “eh masak ini yuk!” terus buka Cookpad, pilih yang fotonya oke, turun ke supermarket, belanja bahan terus masak hahahahaha. Malam itu pilihan jatuh pada siomay ayam karena beberapa hari sebelumnya, ngide juga bikin siomay udang dan enak. Cuma udang males ngupas dan terlalu mahal, jadi kali ini ayam.

Btw pas bikin siomay yang pertama, JG becandanya terus-terusan seputar “duh ini tradisi keluarga harus kita lestarikan”. Sambil browsing cara melipat dumpling di YouTube. -______-

Heran deh bisa-bisanya adegan melipat dumpling di Crazy Rich Asian itu sungguh elegan, lha saya sama JG boro-boro elegan, yang ada pusing KOK SUSAH? Kok kayanya salah beli kulit pangsit? Kok pecah-pecah kulitnya? (bukan rorombeheun ya guys maksudnya).

Setelah belanja dan beberes belanjaan, saya duduk di meja makan. JG duduk di sebelah saya, kami berdua melipat siomay sambil streaming debat cawapres dan ngetawain omongan-omongan cawapres yang nggak kami dukung hahahaha. Bebe duduk di meja dia sendiri sambil main perang-perangan Ultraman, maklum sisa efek nonton cosplay di pamerah mainan.

Terus kok … bahagia. (DITULIS GINI KENAPA JADI CRINGEY YA MAAP)

Jadi dalam kondisi belum mandi 2 hari, tangan blecetan kena adonan ayam, struggling melipat siomay, kukusan nyala di kompor, saya noleh ke JG dan bilang: “Eh sayang, thank you for marrying me”.

JG: “Apaan tiba-tiba?”

Saya: “Iya kalau nggak nikah sama kamu mungkin aku nggak ngelipet siomay berdua suami, anak kita bisa kalem gitu main sendiri, terus bisa ngetawain cawapres bareng-bareng karena kita sepakat sama banyak hal”

JG: “Iya sih hehe”

Saya: “Hehe”

*HENING* *KEMBALI NONTON DEBAT SAMBIL MELANJUTKAN MELIPAT SIOMAY*

The thing is, seperti yang udah saya share di IG beberapa hari lalu, JG tuh lagi terus-terusan nanya “are we on the right track?”. Kaya ada kekhawatiran karena bener nggak sih hidup kita ini?

Tadi siang dia nanya lagi via WhatsApp dan saya jawab:

“Uang kita semua buat Bebe dan itu cukup. Selama weekend masih bisa leyeh-leyeh sama kamu dan Bebe, aku cukup.”

AKU CUKUP. Kaya bergema banget dua kata itu di kuping saya sampai mau nangis rasanya.

T______T

Karena udah beberapa tahun saya itu terus menerus ngerasa nggak cukup. Ngerasa nggak cukup bagus secara karier, ngerasa nggak oke-oke amat jadi ibu, ngerasa harusnya bisa jadi lebih baik, ngerasa kurang usaha, ngerasa kurang belajar banyak, ngerasa kurang terus sama diri sendiri.

Dan selama itu pula saya nulis banyak soal itu. Yang saya inget ini doang dan yakin sebenernya masih banyak tema serupa. Gila, dari 2017 loh, silakan yang mau baca:

2017 
Kepercayaan Diri dan Remah-remah Dunia 
Mencari Diri Sendiri 
On Being Too Hard on Myself
The Scary, Scary Adulthood 

Sekarang saya masih gini aja sebenernya. Belum ada perubahan berarti dalam hidup TAPI untuk pertama kalinya saya benar-benar merasa cukup. Kalau ditanya kenapa entahlah, mungkin karena banyak hal yang saya selesaikan pelan-pelan. Nggak terlalu ngotot lagi sama banyak hal dan ya udah cukup aja. Cukup tidur, makan enak terus, bisa ngelakuin hobi, berdoa banget biar bisa kaya gini terus.

Kalau ditanya caranya gimana keluar dari jeratan tidak merasa cukup itu saya beneran nggak tahu. Saya nggak bisa (atau nggak tahu caranya mungkin) ngobrol sama diri sendiri karena jadinya nggak tidur-tidur. Jadinya terus aja mikir dan malah sakit kepala. Saya cuma menjalani hari, hobi, banyakin ketawa, banyakin ngobrol sama JG.

Kemarin pas jalan ke supermarket itu juga Bebe mau pake helm, jadi kami jalan dengan anak yang ciat-ciat, lari-lari sambil pake helm full face. FYI kami nggak punya motor hahaha. JG geleng-geleng liat Bebe lari-lari di lorong apartemen, dan saya bilang. “Lucu ya? Without Bebe our life would be so boring. Jalan berdua aja gitu nggak ada yang bisa diketawain?”



Sekarang saya baru sadar kalau nasihat-nasihat semacam “you are enough” atau “count your blessing not your problem” itu nggak bakal ngaruh sama orang yang punya masalah sama kaya saya dulu. Nasihat-nasihat semacam itu justru kenanya sekarang, setelah semua lewat. Memang kurang berguna huhu.

Kalian-kalian yang masih merasa stuck, masih merasa gini-gini aja, hang in there. Jalan pelan-pelan, nggak perlu kok selalu ingin ada di depan. Dan jangan remehkan pelukan!

Sometimes a hug is all you need to make you feel better.

:)

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Semua yang Jadi (Sangat) Penting

on
Thursday, March 14, 2019
Beberapa minggu lalu, saya menghabiskan weekend yang sangat produktif. Hari Sabtu hadir di #SUSTAINEVENT VOL 1 New Period Indonesia yang berakhir mengubah habit pakai pembalut jadi menstrual cup dan hari Minggunya sharing jadi salah satu pembicara di event @safekidsindo sebagai ibu-ibu pengguna car seat.


Di event @safekidsindo itu hadir anggota komunitas mobil dan mbak Wiena dari Nusantara Menggendong. Pulang dari sana saya merenung. *halah*

Betapa sekarang, semua orang bisa “berkampanye” masing-masing tentang apa yang mereka percayai dan yakini. Bukan cuma politik atau agama ya, tapi hal-hal di keseharian yang kadang bikin merenung: KOK SEBELUMNYA NGGAK KEPIKIRAN YA?

Coba deh, ngomongin car seat aja bisa jadi satu event sendiri sampai kata MC-nya “kita mah car seat aja dighibahin” lol. Emang sih kalau dipikir sama kita-kita yang ilmu safetynya cetek, apa coba yang bisa dibahas soal car seat doang?

Ternyata banyak. Banyak banget sampai nggak selesai-selesai. Bener-bener ngerasa ih kok saya nggak punya ilmu apa-apa ya tentang keselamatan. Nggak ngerti first aid, nggak ngerti soal penanganan bencana, tau-tau doang tapi nggak paham banget.

Selain anak duduk di car seat dan pake helm saat naik sepeda dan motor, ilmu keselamatan saya hampir nol. Memang belum pernah belajar dan belum pernah terpikir HARUS belajar.

Perhatikan keyword: HARUS.

Menurut para praktisi safety dan komunitas tentang safety, yang HARUS kita tahu tentulah serba-serbi keselamatan. Tapi menurut para praktisi menggendong misalnya, mereka sangat detail soal menggendong sampai komunitasnya besar sekali di Indonesia. Mereka pasti punya keHARUSan sendiri dalam urusan menggendong.

Saya cuma taunya gendong harus M-shape thok, nggak ngerti lagi perintilan lain. Pun dulu nggak kebayang sama sekali ada yang namanya certified babywearing consultant. Kebayang pasti detail banget kan urusan gendong-menggendong ini sampai ada sertifikasinya. Car seat juga lho! Ada car seat expert yang bersertifikat.

Klasik tapi kampanye semacam ini memang terbantu sekali dengan adanya internet dan media sosial.

Saya yang sebelumnya tidak tahu apa-apa soal zero waste jadi tercerahkan karena mereka berkampanye, tak punya ilmu soal safety jadi sadar kalau keselamatan itu penting, tak mengerti sama sekali soal babywearing jadi menghargai kalau menggendong itu proses yang tidak bisa terulang (soalnya anak kan makin berat huhu).

Semua orang punya concern masing-masing, semua orang punya hal yang mereka anggap baik, semua berusaha menyampaikannya pada sebanyak mungkin orang. It’s a good thing actually. Senang sekali melihat orang berkampanye sesuatu yang positif seperti ini kan. For a better generation! :)

Tapi sebagai manusia yang senang belajar hal baru, jujur saya ngerasa overwhelmed. Wah kok ini penting itu penting, harus belajar yang mana dulu nih? Kok semua rasanya penting? Apakah saya HARUS ikuti semua gaya hidup mereka yang mereka yakini baik itu?

Of course no because it would be too perfect and people hates perfection hahahaha nggak deng becanda. Tapi ya saya ngerasa belum sanggup sih kalau harus semuanya sempurna. Pelan-pelan, belajar dulu satu-satu, diresapi dulu dan dilihat dulu prioritasnya.

Kalau merujuk materi kuliah saya dulu, ada yang namanya efek komunikasi massa (FYI aja sihhh hahaha). Ada 3 atau 4 macam tergantung siapa yang berteori. Bahwa komunikasi massa itu pasti akan berefek pada audience-nya, efeknya ada macem-macem tergantung levelnya.

1. Efek kognitif: di tahap ini, audience akan mendapat informasi yang baru dia ketahui. Mereka mendapat insight dan wawasan baru.

2. Efek afektif: di tahap ini, audience yang terpapar hal yang sama terus menerus mulai mengubah perasaannya. Mulau mengerti, mulai empati.

3. Efek konatif: di tahap ini, audience mulai bertindak. Misal lihat anak-anak korban bencana, terus memutuskan nyumbang lewat kitabisa.com.

4. Efek behavioral: tahap yang kadang digabung dengan konatif tapi intinya di tahap ini, perilaku audience mulai berubah sesuai yang diinginkan pemberi pesan. Seperti soal mengubah kebiasaan dari pembalut ke menstrual cup.

*SUMPAH KAGET MASIH INGET TEORI ZAMAN KULIAH I HONESTLY THOUGHT MY GPA IS USELESS IN FACT IT HELPS ME AT THE TIME LIKE THIS LOL*

Apa hubungannya dengan kampanye-kampanye tadi?

Selain urusan zero waste, car seat, dan babywearing sebetulnya banyak orang yang punya “kampanye” masing-masing. Dokter gigi mengkampanyekan orang tak perlu takut ke dokter gigi, pecinta olahraga mengajak orang untuk bergerak agar lebih sehat, para trainer finansial mengedukasi orang untuk melek keuangan, sampai pada pencegahan kanker, pentingnya sunscreen, ASI, keamanan di dunia digital, dan banyak lagi sesuai bidang masing-masing.

Yang pusing yang jadi audience ya? Hahahaha.

Biar nggak pusing, kita buat prioritas aja. Di tengah gempuran berbagai kampanye, kita pelan-pelan aja jalannya. Teorinya kita balik sebagai audience, minimal kita sampai tahap kognitif deh, sampai tahap tau dulu isu-isu itu.

Urusan akan jadi afektif, konatif, atau behavioral biar waktu yang menjawab hahahaha. Yang penting tentukan prioritas. Contoh prioritas kalau kalian ibu satu anak yang baru lahir misalnya. Apa dulu yang harus dipelajari? CONTOH LHO YA INI.

1. Segala yang ada hubungannya dengan makanan bayi dong tentu seperti ASI dan MPASI
2. Kalau udah lulus soal makanan, baru pikirkan safety
3. Setelah itu baru pikirkan keuangan
4. Setelah itu baru olahraga

Terus-terus dirunut dari yang bisa dan HARUS dikerjakan saat ini juga. Karena kalau sekaligus udah pasti pusing sih. Overwhelmed tepatnya kaya yang saya bilang di atas.

Padahal nggak semuanya harus diikuti saat ini juga kok. Cari ilmu dulu aja santai, kalau udah tau ilmunya biasanya jalaninnya juga lebih gampang. Karena kita akan mengubah kebiasaan dan itu hal yang bisa saja berat.

Jadi sekarang kalau kalian liat orang yang dirasa begitu ideal kaya anak bisa selalu duduk di car seat, bisa disiplin screen time, bisa selalu mendengarkan anak, dan banyak lagi, itu mungkin karena mereka memprioritaskan itu dan bisa saja mengabaikan hal lain.

Ada yang peduli sekali pada green washing, science washing, cruelty free makeup dan skin care, animal abuse, zero waste sampai sampahnya nearly zero, yang bikin kita terwow-wow. Padahal mereka bisa karena memang peduli pada hal-hal itu. Bisa saja ada orang yang sangat peduli pada animal abuse tapi nggak melakukan kebiasaan zero waste sama sekali. Bisa banget dan itu nggak apa-apa. :)

Mereka meluangkan waktu untuk belajar, untuk mengubah kebiasaan, untuk mengajak orang melakukan hal yang dia anggap sebagai sesuatu yang baik itu. Mungkin aneh untuk kalian yang baru terpapar info yang sama terus menerus tapi sebetulnya tidak aneh bagi yang sudah menjalankan bertahun-tahun.

Sebaliknya kita jangan baper juga kalau orang tidak mau bertindak sesuai dengan persuasi kita. Jangan sakit kepala dulu karena menganggap concern kalian paling penting tapi kok orang susah sih dibilangin? Ya maklum namanya mengubah habit ya. Pasti ada kendala, mungkin pola komunikasi kita salah atau mungkin ada faktor lain (seperti faktor uang misalnya hahaha).

Yang begini banyak nih, masing-masing mengeluhkan "orang Indonesia itu kurang kesadaran untuk pergi ke dokter gigi!" atau "orang Indonesia itu kurang kesadaran finansial!". Yha coba kroscek dulu diri sendiri, udah kampanye berapa lama? Apa faktor orang jadi kurang sadar? Kaya ke dokter gigi, sebetulnya orang sadar kan dokter gigi itu penting, tapi karena mahal, jadi nggak pernah muncul sebagai prioritas utama.

Jadiii … belajar hal baru apa tahun ini? Punya kebiasaan baik baru apa yang akan dijalankan? :)

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

IG