Beres-beres Rumah, Setahun Kemudian

on
Monday, March 12, 2018

Masih inget postingan saya tentang KonMari?

Yang belum baca bisa baca di sini ya: Beres-beres Rumah dengan (Sedikit) Metode KonMari

UDAH SETAHUN LOH ITU TERNYATA. Dan beres-beres rumahnya belum juga selesai. Hahahaha.

Mungkin beres-beres ini memang proses seumur hidup ya. Saya sama JG udah jarang beli mainan dan sesuatu yang nggak penting atas nama lucu belaka. Baju juga udah mayan jarang beli, tapi tetep aja di rumah banyak tumpukan yang lama nggak kesentuh.

Lama nggak kesentuh artinya kan nggak dipake, tapi kok ya nggak buang! Ini pasti ketulah karena saya kalau beres-beres nggak ngajak ngobrol barangnya lol. Jadilah seminggu kemarin kami mulai beres-beres ekstrem lagi.

Beres-beres biasa: rapi-rapi, yang dirapikan lebih banyak daripada yang dibuang.

Beres-beres ekstrem: buang-buang, yang dibuang lebih banyak daripada yang dirapikan.

Karena nggak punya waktu, beres-beres ini dilakukan sesempatnya malem sebelum tidur. Yang dibuang banyaaaakkkk banget. Termasuk barang-barang yang selama ini saya simpan dalam rangka "properti foto". Apa coba maksudnya, foto juga gitu-gitu doang dan barang-barang itu banyakan nggak kepakenya. Akhirnya semua masuk dus besar dan buang.

Pun tas-tas yang sebenernya udah bosen pake tapi kok ya belum rusak juga sih kan jadi ada perasaan "ah tar mau dipake ah" gitu loh. Padahal entaahhh mau kapan dipake, selama ini juga pake tas itu-itu aja. Masuklah semua ke dalam karung, kemarin dibawa ke Bandung dan serahkan pada ibu saya untuk dihibahkan lagi pada yang lebih membutuhkan.

Terus yang paling bikin pusing sedunia: KERTAS. Apalagi sejak Bebe preschool ya, tiap hari ada laporan harian makan apa, belajar apa, dll. Setiap minggu, hasil karya si Bebe seminggu itu dibawa pulang ke rumah. Awalnya terharu huaaaa Bebe jagoan bikin ini itu terus saya simpan baik-baik. Lama-lama pusing sendiri kok ya apa perlu kumembeli satu unit apartemen Meikarta untuk dijadikan gudang demi menyimpan prakarya finger painting Bebe? KAN TIDAK YA.

Akhirnya yang lucu-lucu saya foto aja, terus ya udah nggak seniat itu untuk bikin album sendiri juga. Didiemin di Camera Roll hp aja, nanti sekalian back upnya sama foto Bebe yang lain.

(Baca: Beres-beres Kenangan dengan Google Photos)

Yang lumayan dramatis dari beres-beres kali ini adalah FINALLY ngasih-ngasihin baju Bebe waktu bayi. Saya sih nggak masalah ya dikasihin, tapi dulu ibu saya bilang gini "jangan lah kan nanti bisa dipake sama adik-adiknya". Itu semua karena Bebe cucu pertama jadi semua barang dia nggak ada yang boleh di-preloved sama ibu saya. Semua barang dia car seat, mainan, apapun itu, disimpen semua untuk adik-adik sepupu di masa depan yang entah kapan akan lahir.

Tapi kemarin di Bandung, kami iseng buka koper besar isi baju-baju Bebe waktu kecil dan ibu saya mellow. Katanya "kok kasian ya nanti kalau ada bayi lagi, bayinya baru lahir kok bajunya bekas".

LHA. HAHAHAHAHA.

Akhirnya bubar sudah itu baju pun dikasihin semua. Saya nyimpen satu selimut kesayangan Bebe dan beberapa baju yang masih gemes aja rasanya. Semua piyama, popok, gurita gitu dikasih ke tetangga untuk dibawa ke kampungnya. Ya karena kami nggak punya kampung halaman, Bandung itu kampung halaman hahahaha.

Terus nih ya yang nyita tempat, Tupperware dan berbagai kotak makan yang entah mengapa sering raib sebelah. Antara raib tutupnya atau raib kotaknya. Ya mending hilang tutupnya ya masih bisa dipake, lha hilang tempatnya mau diapain coba? Ya udah akhirnya diberi saja salam perpisahan. BUAANGGGG!

Apalagi ya. Oiya piring-piring hias kado nikahan. Nggak banyak sih cuma ya dari nikah sampai sekarang nggak kami buka pun dusnya. Jadi untuk apa? Akhirnya dikasih ke mama mertua. Dompet-dompet saya zaman dulu, yang juga disimpan dengan alasan yang sama dengan tas "belum rusak, nanti buat ganti-ganti" padahal kalau mau ganti juga saya beli lagi hhhh. CAPEK. BUANG SEMUA.

Apakah rumah sudah kosong? BELUM LOH. Masih lumayan penuh, masih banyak pasti yang masih bisa dibuang.

Pertanyaannya: ngapain buang-buang barang sebanyak itu? Jawabannyaaaa?

KITA TANYA, GALILEO!

*ketaker umur lol*

Ya karena satu dan lain hal yang nanti akan saya ceritakan kalau sudah selesai ya!

via GIPHY


Semoga Seninnya menyenangkan!

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

7 comments on "Beres-beres Rumah, Setahun Kemudian"
  1. Ish..cliff hanger cha. Cepet beres yaa buang-buangnya. Aku mah masi ngumpulin niat ��

    ReplyDelete
  2. Hehehehe, ternyata saya nggak sendiri. Saya pun awalnya suka nyimpen2 atas nama kenangan. Wih (((KENANGAN))) trus skrg jadi puyeng karena kebanyakan, hehehe. Ditunggu cerita selanjutnya.

    ReplyDelete
  3. Kalau kataku beres-beres emang seumur hidup wkwk. Karena pas udah diberesin besoknya udah dicak-acak sama yang lain kan.

    ReplyDelete
  4. Beres-beres rapi aja aku kadang suka males, wkwk. Apalagi beres-beres ekstrem, haha.

    ReplyDelete
  5. Saya juga suka bersih-bersihin baju atau barang yang udah gak kepakai. Biar gak tambah numpuk di lemari, haha.

    ReplyDelete
  6. beres-beres ekstrim akan efektif kalau pindah rumah/kost kalau aku, kalau cuman beberes biasa mah kebanyakan bapernya, haha

    ReplyDelete
  7. Aku juga beberes ekstrem karena lelah liat rumah berantakan bianget. Udah gak pake spark of joy spark of joy lagi, tapi "yakin ini bakal loe pake? Kapan?" Hahah. Acuannya sekarang ke Fumio Sasaki, hidup dg barang seminimal mungkin, yg kita pede dan nyaman pakainya.

    Kata Fumio, membuang barang kenangan bukan berarti kita melupakan kenangannya. Bhaik!

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)