-->

Image Slider

Mempertanyakan Kebahagiaan

on
Monday, July 15, 2019
Sudah beberapa bulan ini saya memikirkan sekali arti kata bahagia. Apa itu bahagia? Apa bahagia itu cuma sebuah momen? Atau sebuah keadaan yang seharusnya berkelanjutan?



Tulisan ini sudah teronggok tepat tiga minggu lamanya karena saya mulai menulis ini saat Eugene “The Try Guys” merilis video coming out serta dokumenter di balik layarnya. Di video berdurasi 27 menit itu Eugene yang kini berusia 33 tahun bercerita tentang hidupnya, ia mengaku sejak kecil tak pernah bahagia.

“You know the saddest thing is? I found this letter, people write letter when you’re in middle school, your teacher will make you write a letter to your future self, I found it like a few years ago the only thing i wrote to myself: Are you finally happy?” ujar Eugene.

Di saat yang sama saya seperti ditanya juga diri saya sendiri: Are you? Are you happy?”

“You know, I don’t, I don’t think I am. Am I ever finally be happy? Maybe the answer is that no one ever finally happy,” lanjutnya.

NO ONE EVER FINALLY HAPPY.

That’s dark. Itu komentar videografer Eugene yang saya amini. Sampai ia bertanya lanjut pada Eugene: “Are you happier now?”

Well, I do. I, myself, not Eugene.

Sejak saat itu saya jadi memikirkan banyak hal soal kebahagiaan, soal uang, soal tujuan hidup di dunia (bukan di akhirat, simpan untuk diri kalian sendiri ya soal itu). Kita cuma tahu kita bahagia setelah lebih atau kurang bahagia. HAPPIER is the keyword.

Bahagia yang “di tengah-tengah” bukan sebuah kondisi yang bisa dirasakan saat itu juga. Bahagia hanya bisa dirasakan setelah atau sebelum kejadian tertentu yang jadi patokan: Ini lebih bahagia atau lebih tidak bahagia?

If that makes any sense.

Bahagia adalah kondisi yang terasa saat kita susah ATAU justru senang. Bahagia bisa dirasakan karena kita punya pembanding “oh aku lebih bahagia dari 3 tahun lalu karena dulu hidup lebih sulit blablabla” atau justru “wah, aku lagi nggak bahagia padahal rasanya kemarin seneng banget kok hari ini down banget”. Padahal kemarin ya B aja nggak ngerasa sebahagia itu juga. Cuma seneng, titik.

GET IT?

Kalau ditanya lebih bahagia sekarang atau saat SMA? Saya jawab sekarang. Tapi kalau ditanya lebih bahagia sekarang atau waktu kuliah? Saya pilih waktu kuliah. Kalau hari ini bahagia nggak?

Ummm, baru akan ketahuan besok ahahahaha. Hari ini lebih tidak bahagia dari kemarin karena kemarin weekend, tapi siapa tahu hari ini sebetulnya lebih bahagia dari besok. Entahlah. Baru akan ketahuan besok. :)))

Meski kebahagiaan itu bahkan sulit diukur oleh diri sendiri, banyak orang yang merasa mampu mengukur kadar kebahagiaan orang lain.

“Kayanya kamu nggak happy deh”

“Kamu yakin kamu bahagia?”

Or worst.

“Kamu yakin dia bahagia?”


Well, I am. I feel that I am. Kenapa happiness diukur oleh orang lain atas apa yang mereka lihat oleh mata mereka sendiri? Dan bagaimana kalau ukuran orang lain itu jadi begitu penting untuk hidup kita?

Kita jadi merasa tidak bahagia karena dipertanyakan orang lain. Padahal sebelumnya merasa baik-baik saja.

Ini juga yang saya rasakan setelah kampanye kesehatan mental digaungkan dan jadi begitu penting. Love yourself. Self love is important.

Dari situ saya jadi lebih sadar pada kondisi kejiwaan diri, pada kondisi emosi sehari-hari dan jadinya sering merasa tidak baik-baik saja. Perasaan yang dulu bisa diabaikan karena tetap harus pergi kerja dan beraktivitas, jadi terasa lebih peka.

Padahal kalau sudah peka lalu apa lagi? Tak bisa juga kan liburan terus menerus? Tidak bisa juga kan dadakan cuti untuk mengerjakan hobi karena sedang merasa butuh pause?

Sekali lagi saya jadi merasa tidak baik-baik saja karena sering dipertanyakan orang lain. Padahal sebelumnya, saya merasa baik-baik saja.

Belum lagi kampanye-kampanye lain. Hiruk pikuk. Semakin banyak tahu semakin banyak yang harus dipikirkan. Pantas banyak orang yang lebih senang tidak tahu apa-apa. Ignorance is bliss. If you don’t know about something, you do not worry about it.

Di sisi lain saya juga merasa perlu terus level up. Naik kelas. Caranya gimana lagi kalau tidak dengan menambah wawasan. Gregetan sendiri jadinya. Mau tau banyak berakhir mikir banyak? Atau mau tau sedikit dan nggak punya pikiran?

via GIPHY

Kembali ke soal kebahagiaan, kalau kata Will Smith:

“We cracked the hell up. We started talking about [how] we came into this fake romantic concept that somehow when we got married that we would become one. And, what we realized is that we were two completely separate people on two completely separate individual journeys and that we were choosing to walk our separate journeys together. But her happiness was her responsibility and my happiness was my responsibility.”

Kita tidak perlu merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain meski orang itu adalah pasangan kita sendiri. Marriage is not a counseling room! Istri bukan terapis untuk suami, pun sebaliknya. Kita harus menemukan kebahagiaan masing-masing baru bisa hidup berdua dengan bahagia. Itu pun kalau definisi kebahagiaannya sudah sama-sama ketemu. :)))

Karena meski kita menikah, kita tetap sendirian di dalam pikiran. Konsep sendirian dalam pikiran ini mengerikan sekali buat saya. Bicara sendiri, menjawab sendiri, tidak akan ada yang pernah tahu rasanya berada di pikiran orang lain.

(Pernah saya tulis lebih lengkap di sini: Sendirian di Dalam Pikiran)

The actual question is, how to be constantly happy?

Kalau browsing ini jawabannya banyak. Seperti dengan bersyukur, dengan tak membandingkan hidup dengan orang lain, dengan merasa selalu dicintai, dengan lebih banyak tertawa, lebih banyak tersenyum pada orang asing, dan rentetan tips lainnya.

Ya, bisa dilakukan kalau sedang tidak ada masalah lain sementara hidup kan selalu ada masalah ya. Tinggal kadar masalahnya saja, berat banget sampai bikin nggak bahagia? Atau biasa-biasa saja sampai bisa diabaikan?

Seperti juga bahagia, uang pun bernasib sama.

Money can’t buy happiness hanya benar-benar bisa dirasakan oleh orang yang sudah pernah punya banyak sekali uang lalu merasa tidak bahagia. Untuk orang yang belum pernah merasakan punya uang berlebih, kebahagiaan paling sederhana memang bisa diukur dengan uang.

Catat, mengukur kebahagiaan dengan uang juga tidak apa-apa, lho. Merasa senang karena baru dapat rezeki berbentuk uang kan sah-sah saja.

Kita tak bisa merasa kaya sebelum merasakan miskin. Atau sebaliknya, banyak orang yang tak merasa miskin karena belum pernah kaya. Untuk uang yang terukur, kadarnya bisa diseimbangkan dengan “merasa cukup”.

Yang penting cukup saja. Tak perlu jadi kaya, jangan sampai jadi miskin.

(Baca: Makanan, Manusia, dan Uangku)

Menyambung soal uang, saya jadi ingat barang-barang mahal yang sering jadi tujuan hidup saya dan JG. Seringnya, atau mungkin cuma saya, baru merasa barang branded itu kurang penting setelah bisa mampu beli semuanya. Setelah beli, lalu muncul perasaan biasa-biasa aja. Oh hanya begini, tidak punya juga tidak apa-apa.

Tapi saat belum punya, rasanya ingin saya kejar terus. Jadi tujuan utama dalam hidup.

Nggak apa-apa. Jadikan benda-benda bernilai mahal yang tak terlalu berguna motivasi untuk naik kelas. Untuk berusaha lebih, untuk kerja terus. Biar saja meski pada saatnya kita mampu membeli semuanya, kita malah merasa biasa aja.

Makanya orang lebih suka traveling, katanya. Membeli pengalaman lebih menyenangkan daripada beli barang. Meski definisi senang masing-masing orang juga berbeda.

Senang. Bahagia. Diartikan sebagai satu kata dalam bahasa Inggris: Happy. Padahal senang adalah kondisi yang terasa saat itu dalam waktu singkat. Bahagia baru digunakan ketika senang terasa dalam jangka waktu yang lebih lama atau lebih banyak.

Sampai hilang. :)

People say the goal is not happiness, but peace and content. I guess, since I am still wondering (and wandering), about the true meaning of happiness, peace and content is still on the way.

Calm down, deep breath. :)

via GIPHY

-ast-







LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

Tips Sunat Anti Drama

on
Wednesday, July 3, 2019
Mau nulis ini nggak jadi-jadi karena bingung sih mau nulis dari mana. Rasanya udah lamaaaa banget soundingnya sampai akhirnya sunat dan alhamdulillah nggak drama ternyata.

Saya coba susun dari awal banget ya. Dari sounding, hari H, sampai pasca sunat. So far, nggak ada drama berarti sih. Jerit-jerit cuma 2 kali pipis pertama doang. Jadi nggak banyak adegan takut pipis atau histeris disalepin.

🎙 Sounding 🎙

Sounding ini menurut saya part terpenting. Gimana kalian mendefinisikan sunat pada anak? Kalau saya bilangnya mau tidak mau, cepat atau lambat, semua laki-laki akan sunat. Bisa waktu bayi, bisa nanti waktu sebesar appa. Semua pasti akan sunat karena sunat lebih sehat. Boleh aja nggak sunat tapi ada risiko sakit. Sounding semacam itu sudah dimulai sejak dia umur 4 tahun.

Hati-hati pada definisi berani dan takut karena ini penting sekali.

Kalimat yang saya hindari jelang sunat:

“Harus berani sunat lah kamu kan udah besar!” —> berpotensi anak mempertanyakan dirinya sendiri memang kenapa kalau aku takut? LHA PADAHAL EMANG NAKUTIN KAN.

“Nggak kok nggak takut, digunting dikit doang” —> INI JELAS BOHONG.

“Sakit sedikit aja pasti beranilahhh” —> Ini bohong dan meremehkan.

GET EFFING REAL.

Yang saya bilang kalimat netral empatik sambil berpelukan semacam:

“Iya sunat emang takut ya, masa penisnya digunting sih. Tapi tenang aja, sama dokter dibius kok, aku temenin kok. Mau menangis juga boleh aja”

“It’s ok to be scared, Xylo. It’s normal because if we think about it, sunat is a really scary thing. But if you’re scared and do it anyway, you’re actually really really brave”

“Xylo kamu ingat waktu kamu mau ketemu Buzz dan Woody di Meet & Greet Toy Story? Kamu merasa kamu takut, kamu takut sekali sampai pegang kakiku terus. Tapi kamu tetap naik panggung, tandanya kamu berani. Kalau kamu takut, kamu akan kabur dan tidak jadi naik panggung. Tapi kamu tetap naik, kamu anak pemberani sekali lho!” (Xylo takut badut-badutan dan karakter apapun btw)

“Takut itu normal, Xylo. Aku takut, appa takut, semua orang takut lah kalau harus digunting badannya hiii serem memang. Kita boleh takut tapi tetap harus dijalani juga. Ditemenin kok!”

GIMANA IBU NGGAK DIBILANG MARIO TEGUH SAMA APPA?

Dengan demikian dia tau kalau dia normal. Dia tahu kalau takut sunat itu nggak apa-apa dan semua orang merasakan hal yang sama.

Paginya bangun tidur begini aja ceria. Cuma masih ragu turun kasur sendiri. 

🌞 Hari H 🌞

Yang terberat dari H adalah saya masih khawatir dia tes alergi. *TETEP* Jadi saya udah siapin 3 layer sogokan dengan berbagai pertimbangan. Sogokan ini harus benar-benar sesuatu yang dia suka dan nggak mungkin ditolak.


Plus, saya kan bukan tipe orangtua yang selalu kasih rewards ya. Berguna banget lho, karena jadinya sogokan saya yakin pasti berhasil. Gimana nggak berhasil sih orang hari-hari mau dia nangis berguling-guling gimana pun kalau saya bilang nggak ya maka nggak. Ini ditawarin langsung, ya pasti mau.

(Baca tentang rewards di sini: Bebe Anak Pemberani)

Tantangan:
- Tes alergi: Nggak terjadi.
- Pasang infus: Nggak terjadi karena dipasang setelah bius
- Puasa 6 jam: Tersogok satu Lego
- Cabut infus: Tersogok Nerf Spiderman yang dia pengenin banget

Bikin daftar tantangannya DAN pertimbangkan rewardsnya. Ini ngaruh banget untuk jaga mood anak. Soalnya bukan sekali dua kali dia minta pulang karena antara bosen nunggu dan takut aja sih, nervous gitu.

Yang juga harus dijaga adalah mood ibu dan semua yang nemenin. Saya ditemenin ibu saya kan, dan beliau sepaham banget soal definisi takut dan berani. Jadi nggak nakut-nakutin dan nggak ngeremehin juga. Murni nemenin, main, dan baca buku.

Saya juga bikin budget khusus dari dana darurat karena saya mau makan enak. SAYA HARUS MAKAN ENAK. Jadi dari sunat sampai seminggu setelahnya, saya make sure makan enak untuk jaga mood sama Bebe.

Pasca Sunat

“Sakit disunat dan berani itu beda, Xylo. Kamu boleh ngerasa sakit kok, sakit itu normal. Kamu tetap anak pemberani meskipun kamu sakit.”

Berulang-ulang saya bilang gitu untuk meyakinkan dia kalaupun dia merasakan sakit sekarang, dia nggak gagal kok jadi anak yang berani. Dia tetap berani karena sudah melewati proses sunat.

Kalimat yang saya hindari:


“Alah gini doang masa sakit”

“Udah dikit ajaaa sini ibu salepin”

“Pipis aja masa nangis sih!”

Goals di momen pasca sunat ini adalah:
- Pipis tanpa drama
- Salep tanpa drama
- Minum obat tanpa drama (Bebe bukan tipe yang susah minum obat jadi yang ini nggak akan dibahas)
- Meyakinkan dia kalau darah kering itu wajar


Ok flashback ke momen dia pulang dari rumah sakit.

Keluar dari ruang operasi itu Bebe nggak kesakitan sama sekali. Dia sangat kalem dan santai aja gitu. Nangis merengek sedikit waktu dibuka infus, tapi kalem karena udah pegang Nerf. Saat suster jelasin cara minum obat, cara pake salep, dia merhatiin dengan seksama.

Turun dari mobil dia pake stroller naik lift apartemen karena nggak ada yang kuatlah gendong dia sampai atas. Turun dari stroller dia berdiri tegak, gagah berani, dan bilang “Ibu aku mau pipis. Ibu tau kan tadi susternya bilang apa? Aku tau! Abis pipis itu penisnya harus dibersihin pake tisu dibasahin”.

100% PERCAYA DIRI. Sampai celananya dibuka, dia liat penis dan sekitarnya lalu jerit sekeras yang dia bisa. HISTERIS. HAHAHAHAHAHAHA. Asli sih ngakak.

Jadi ya namanya abis operasi bersihin seadanya kan, penis dan sekitarnya banyak darah kering. Plus penisnya bengkak, merah pula ya paniklah dia. Keberanian pun sirna. Langsung takut pipis.

Akhirnya saya kasih penutup mata yang buat tidur lalu pipis sambil jongkok. Abis pipis saya ambil tisu dibasahin dan mulailah nangis kejer berair mata sampai penutup mata basah semua.

“NOOO, SO SCARY SCARY!”

*tarik napas* *buang napas*

Mulai mikir wah jangan-jangan emang sakit banget nih. Wah gimana nih seminggu ke depan pipis sesakit ini kasian banget. Wah gimana dong nggak sanggup kayanya berdua Bebe kalau JG kerja. Langsung mohon-mohon ke JG boleh nggak besok dia kerjanya pulang cepet blablabla. Intinya saya panik sampai ngetweet panik banget.



Besok paginya masih ada ibu saya, harus diceritain karena kalau ada ibu kan Bebe manja ya. Kalau ada nini, Bebe triple manja. Pagi-pagi dia pipis sama dramanya kaya semalem. Kata ibu, “harusnya pas nangis langsung salepin”. WOW TIDAK TEGA SUNGGUH. Jadi dia nangis saya cuma peluk aja.

Jam 12 ibu pulang ke Bandung. Jam 5 dia mau pipis lagi, masih drama nangis jejeritan lagi lalu … saya ikut nangis HAHAHAHAHAHA. Saya bilang sambil nangis “Xylo, aku tau kamu sakit, tapi ibu sedih sekali kalau seperti ini. Pipismu tetap harus dibersihkan dan dikasih salep biar cepat sembuh. Ibu sedih banget kalau Xylo tidak mau”. Lalu kami menangis berdua berpelukan di kamar mandi.

DRAMA MEMANG SEHARUSNYA DILAWAN DENGAN DRAMA. Setelah itu, saya bilang, “aku punya satu Lego lagi buat kamu, Lego helikopter (favoritnya Xylo), tapi kamu harus mau aku angkat ke kasur, aku waslap penisnya dan aku salepin”.

Dia pikir-pikir lalu setuju. Dengan mata tetap ditutup penutup mata, saya angkat ke kasur, saya suruh tiduran sambil bawa waslap yang udah dibasahin air + dettol. Lalu saya bersihin dan dia … diam. Ternyata nggak sakit dong! Ya udah sekalian saya bersihin sekeliling penisnya sampai semua darah bersih.

JADI DIA JEJERITAN KARENA KEPIKIRAN AJA TAKUT SAKIT PADAHAL NGGAK.



Setelah itu main Lego berdua sambil sounding bahwa semua obat sunat itu untuk melawan bakteri jahat. Kalau bakteri jahat ada di bekas luka, nanti jadinya infeksi dan lama sembuh. Salep melawan bakteri, antibiotik melawan bakteri, salep melawan bakteri, semua melawan bakteri jadi kamu juga harus ikut melawan bakteri jahat.

Plus malemnya dikompori JG sepulang dia dari kantor “ibu itu sayang banget lho sama kamu, ibu nggak mungkin bikin kamu sakit. Itu dilap dan disalepin biar cepet sembuh”.

YA POKOKNYA AKTING LAH. Untuk punya energi untuk berakting seperti itu monmaap ibu dan appa sampai beli Gulu-gulu 4 hari berturut-turut. -________-

Setelah itu less drama. Meringis doang tiap abis pipis tapi MAU cebok dan disalepin. Cuma ya gitu, sampai detik ini (hari ketujuh) tetep belum mau liat penisnya sendiri hahaha. Masih pake penutup mata tiap pipis. Udah mandi di hari kelima setelah darahnya udah keliatan kering semua (semua warnanya kehitaman, udah nggak ada yang merah lagi).

Karena udah nggak drama jadinya saya ambisius lah. Salep itu harusnya minimal dua kali sehari, saya salepin tiap dia pipis. Jadinya hari ketiga udah tidur tengkurep, udah lompat-lompat naik turun tangga seperti tidak habis sunat. Hari kelima udah kering semua, udah mandi, dan besok akan kembali ke daycare.

Pup juga pusing karena kalau pake potty seat dia biasa (dudukan toilet anak yang ditaro di atas kloset), penisnya akan kena potty seatnya. Akhirnya saya dudukin terbalik aja kaya kalau pipis di mall. Lalu saya pakaikan ikat pinggang, selipkan kertas tebel di ikat pinggang itu biar dia nggak bisa liat penisnya. Jadi kaya shield gitu. Karena masa pup sambil pake penutup mata sih.



Gitu aja sih. Melelahkan emang. Capek di dua hari pertama aja. Hari-hari berikutnya nggak capek cuma abis waktu karena dia pipis tutup mata, angkat ke kasur, lap, salepin gitu bisa 5-6 kali sehari.

Tapi thank God sudah berlalu. Makasih doanya ya semuanya!

Cerita dari Bebe sendiri aku rekam di Podcast. Bisa dengerin di Spotify di sini ya!

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!

IG