Sendirian Dalam Pikiran

on
Monday, October 1, 2018
Postingan ini dalam rangka melanjutkan series overthinking. Sebenernya blog ini penuh postingan overthinking karena ya emang anaknya kalau mikir suka sampai diresapi gitu sampai bingung sendiri HAHA. Tapi baru kepikiran ngasih label baru "overthinking" di blog akhir-akhir ini jadi ya udalah. Yang penting kan menatap masa depan ya bukan terpaku pada masa lalu. *naon


Semua gara-gara postingan pembahasan liburan. Karena setelah posting itu, saya dan JG jadi mikir "wah liburan ternyata bukan untuk kita ya, keluar uangnya banyak banget". Gitu.

Saya jadi sibuk sama pikiran-pikiran di otak yang bilang:

"Wah susah ya jadi aku, liburan aja mikir"
"Kalau jadi si A (seorang crazy rich asian) enak deh liburan nggak perlu mikir"
"Enak banget jadi si B ya bisa liburan terus-terusan padahal dia nggak kerja"

TERUS SAYA NGIKIK SEKETIKA. Beneran ketawa sendiri di ojek hahaha.

Karena ya saya mikir gitu kan di dalam pikiran saya SENDIRI kan. Keyword: sendiri. Orang lain nggak bisa denger pikiran itu. Orang lain nggak bisa tahu pikiran dan perasaan saya. Bahkan sekarang ketika saya ungkapin pake tulisan aja, pikiran saya saat itu tetep nggak bisa 100% tertuangkan dalam kata-kata.

Baru sadar banget dan meresapi kalau semua orang JUGA punya pemikiran dan perasaan yang SAMA SEKALI nggak bisa didengar orang lain. Dengan demikian, semua orang jadinya sama aja mau dia kaya atau miskin. Sama-sama sendirian dalam pikiran.

Jadi pikiran "enak ya jadi si A" itu nggak penting sama sekali. Karena ketika kita beneran jadi si A, kita nggak bisa lagi merasakan "enak" itu karena ya kita kan memang si A yang nggak pernah mikir "enak deh jadi aku bukan jadi dia". Orang yang bikin kita iri sama hidupnya itu juga nggak bisa dengerin pikiran kita yang bilang "hidupnya enak".

Pake contoh deh:

Misal. Saya beli rumah pake KPR di Bandung pinggiran. Saya membatin "coba saya jadi si A, saya bisa beli rumah cash, di Singapur pula" 


KEMUDIAN ANGGAP SAYA ADALAH SI A. Apakah saya akan jadi mikir: "YEAY LEBIH ENAK JADI A KAN BENER, BELI RUMAH DI SINGAPUR AJA BISA CASH NGGAK PERLU KPR DI PINGGIRAN BANDUNG"


Nggak gitu kan? Ketika saya sebetulnya adalah si A, saya udah nggak bisa lagi mikir "lebih enak jadi saya dibanding dia" karena ya kita sendirian dalam pikiran, nggak punya pembanding lagi. Kita nggak bisa merasakan juga perasaan "lebih enak" itu.

Intinya "ingin jadi orang lain" itu sebuah pikiran yang sangat sia-sia. Karena ketika jadi orang lain pun kita TETEP NGGAK AKAN PERNAH BISA merasakan pikiran orang yang lebih atau kurang beruntung daripada kita.

Semua orang punya hal yang dipikirin dan nggak bisa diungkap saking susahnya mengungkapkan pikiran. Atau kalau mau generalisir, semua PASTI juga punya masalah yang lagi dia pikirin tanpa orang lain tahu persis masalah itu.

(WAH GILA INI NULISNYA KOK SUSAH YA SAMPAI NGULANG-NGULANG GINI. BENERAN SAYA NGGAK BISA JELASINNYA. SEMOGA OMONGAN SAYA MASUK AKAL. Kemarin saya jelasin ke JG dan dia ngerti sih tapi kalau nulis kok susah huhu)

via GIPHY

*


Ya saya yakin sih konsep “selalu sendirian dalam pikiran” ini pasti bukan hal baru. Terlalu banyak orang di dunia ini untuk menemukan sesuatu yang sama sekali baru.

Tapi buat saya. paham konsep ini sangat eye-opening. Sekarang saya senang bermain-main dengan pikiran dan setiap terbersit konsep ini, saya tersenyum sendiri.

Siapapun saya, seberuntung apapun hidup saya, pikiran akan selalu sendirian. Tidak ada yang pernah benar-benar bisa menemani, memahami, atau menjelaskan apa yang ada di pikiran saya. Bahkan saya sendiri tidak akan pernah bisa memahaminya 100%.

Saya jadi sering mikir soal ini setelah pertama kalinya seumur hidup, dibius untuk ke dokter gigi (bisa dibaca liputannya di sini). Biusnya sedang, jadi otak saya jalan-jalan mikirin segala macem tapi saya nggak ngerasain badan saya.

Sebagai perbandingan, kalau bius (sedasi) lokal kaya cabut gigi itu biusnya ringan. Otak kalian sadar, kalian sadar kalian punya tangan dan kaki yang bisa digerakkan, cuma bagian tertentu nggak berasa kan meski digunting atau diapain pun. Kalau bius total, kalian nggak ngerasain SEMUANYA, nggak ngerasa punya tubuh, nggak ngerasa punya otak, nggak mikir apa-apa.

Nah kalau sedasi sedang itu, yang saya rasain adalah otak kita jalan, pikiran kita jalan, tapi nggak berasa punya anggota tubuh. Kebayang nggak? Kita sendirian (di dalam pikiran), bebas mau mikirin apa aja, tapi gelap karena nggak punya mata. Sibuk, sibuk berpikir tapi nggak bisa bergerak, bahkan nggak kepikiran untuk bergerak karena ya rasanya nggak punya badan itu sesuatu yang normal aja.

Beda sama mimpi. Kalau mimpi kan kita kaya kita dunia nyata aja karena kita tetap punya tubuh. Tapi ini nggak. Saat disedasi itu saya terjebak di pikiran saya sendiri, sendirian dengan sesuatu yang bentuknya tidak terdefinisikan. Atau saya terlalu malas untuk mendefinisikan saking abstraknya. And having a constant thought about something without feeling your body was truly hell. 


Saya memikirkan banyak hal sepanjang disedasi itu. Tentang hidup, tentang mati, tentang meninggalkan dan ditinggalkan, tentang sekolah Bebe, tentang JG, banyak sekali. Dan “uniknya” ya, setelah saya sadar, saya tahu persis yang saya pikirkan TAPI juga sadar kalau pemikiran saya ngablu. Ngaco gitu lho.

Mikir sih mikir tapi bukan mikir jernih. Lebih kaya gila. Saya sampai mikir waw ini lho hidup sebenarnya. Hidup yang kemarin-kemarin punya badan, punya suami, punya anak itu kayanya mimpi doang deh. Kalau kata orang, persis orang yang make magic mushroom dan dapet bad trip. Halusinasi tapi yang saya halusinasikan itu hal nyata (bukan horor atau zombie wtf) dan saya ingat sampai sekarang apa pikiran-pikiran saya saat itu.

Sekitar 2 jam disedasi dan sibuk dengan pikiran sendiri, malah bikin saya jadi semakin menghargai pemikiran saya sendiri. Bukannya malah jadi takut, sekarang saya menikmati setiap momen saya berpikir sendirian.

Karena ternyata badan membuat pikiran terdistraksi. Ketika kita fokus sama pikiran tanpa mikirin badan, rasanya damai sekali. I feel enough and content.

Soalnya saya nggak masuk banget malah di level muak saking diri sendiri aja sering nulis soal ini sama nasihat:

"Makanya banyak bersyukur"

"Jangan bandingin hidup sama hidup orang lain terus"

"Hidup tuh sekali-sekali jangan lihat ke atas terus"


via GIPHY

Enek lho disuruh bersyukur terus kaya kalian tau aja level bersyukur saya. Tapi begitu ngerti konsep manusia nggak bisa ngerasain pikiran orang lain baru saya merasa cukup. Dan nggak enek lagi.

KOK BISA YA. AUK AMAT BINGUNG.

Beruntung saya paham konsep ini sebelum ke Bali karena jadinya di sana saya bener-bener nggak peduli untuk foto demi Instagram. Saya perhatikan hal-hal kecil seperti berbagai bunga, noda di batu, bentuk tangga, berbagai ukiran, dan saya foto sekenanya saja. Nggak memperhatikan estetika, fotonya lurus apa nggak, apalagi pilih foto untuk diunggah. Saya memperhatikan hal-hal kecil dan memotretnya untuk mengingat apa saja hal kecil yang saya lihat waktu itu. Hal kecil yang bikin saya tergelitik.

Dan ini nggak perlu me time sampai jauh ke Bali segala. Di ojek atau di taksi online, jangan buka HP, liat ke jendela dan mulailah berpikir. Mulailah menikmati pemandangan sampai detail terkecil, jangan lupa selipkan pikiran kalau hanya kita yang bisa berpikir seperti ini. Tidak akan ada orang lain lagi yang bisa. Punya pikiran dan bisa sendirian itu sebuah privilege.

Tak perlu pikirkan orang lain sepatunya lebih mahal, tak perlu pikirkan orang lain liburannya sering amat, tak perlu pikirkan orang lain kok mobilnya bagus-bagus. Fokus pada hal-hal kecil yang kita lihat. Kegiatan ini lebih akrab disebut dengan ngelamun lol.

*panjang-panjang berusaha mendefinisikan tapi ujungnya cuma pengen nyuruh ngelamun*

Tapi saya nggak suka dibilang ngelamun karena istilahnya itu underrated seolah sebuah pekerjaan yang amat sangat nggak penting. Jadinya daripada unfaedah ngelamun, selama ini kita jadi menyibukkan diri Insta Story atau scroll timeline Twitter. Padahal hidup udah sedemikian sibuk, ternyata yang saya butuhkan sekarang hanyalah tidak melakukan apapun. Doing nothing and let my mind wander.

Ini kayanya level selanjutnya dari "not giving a f*ck" atau mari kita bilang sebagai "absolutely not giving a f*ck". Karena sesungguhnya saya ini orangnya udah cukup nggak pedulian. Nggak baper sama komentar orang, nggak peduli sama banyak hal, jarang banget sakit hati sama omongan orang. Tapi ya masih ada sisi "kok dia bisa gitu ya kok aku nggak bisa" PASTI ADALAH. Manusiawi kan.

*

Bagaimana soal bertukar pikiran?

Selama ini saya pikir saya sering bertukar pikiran. Saya bertukar pikiran dengan JG tentang banyak sekali hal, saya menuangkan pikiran lewat blog. Tapi setelah beberapa saat menikmati kesendirian dalam pikiran, saya jadi ngeh kalau selama ini yang kita lakukan adalah BERUSAHA menuangkan pikiran lewat kata-kata.

Kadang tersampaikan. Sering juga tidak. Seharusnya selalu jujur tapi kadang tak sengaja sulit terungkap semua. Yang jelas tidak sama persis. Hal-hal yang kita pikirkan belum tentu 100% tertuang dalam kata atau tulisan.

Pun ketika kita bilang “dia yang paling ngerti aku banget” atau “nyambung banget ngobrolnya sama dia” itu artinya dia yang paling ngerti hasil pikiran ini bekerja lewat kata.

AH UDALAH. MAKIN DITULIS MAKIN PUSING. LAGIAN KEPANJANGAN.

Antara pusing nulisnya dan mulai masuk pemikiran: apa gue gila ya? Hahahaha.

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

3 comments on "Sendirian Dalam Pikiran"
  1. Sama kayak aku, suka mikir kejauhan, setiap pergi atau pulang kerja, diboncengin suami atau ojek online, pikiran suka melanglang buana, mikirin apa aja.

    Rasanya waktu-waktu itu jadi me time yang cukup menyenangkan dan menenangkan bagi buibu pekerja kayak aku.

    Emang kita butuh waktu sendiri tanpa ngelakuin apapun, cuma nikmatin moment, atau mikirin apa aja yang menyenangkan, entah sedang mengamati sesuatu di jalan kemudian jadi buah pikiran, atau merencanakan sesuatu yang membuat semangat. Se-menyenangkan itu sih menurutku "sendirian dalam pikiran".

    Jadi bagi aku, isi blog kamu ini menyampaikan isi pikiran dari kebanyakan orang yang nggak sadar terhadap buah pikirannya ketika sedang sendirian. Nggak gila sama sekali.

    :)

    ReplyDelete
  2. Kalau kata kerennya mindfullness kali ya mbak. Aku suka tulisan mbak yang model begini. Model begini tuh apa toh ya. Pokoknya lucu dan buat aku ketawa di akhirnya. Mungkin bener juga sama comment sebelumnya. Mewakilkan kita semua yang sebenernya sama sebagai manusia

    ReplyDelete
  3. Ngelamun ini emang jadi jarang banget semenjak ada smartphone dan internet jadi ada aja yang diliat atau dikerjain. Aku juga pernah bahas soal "belajar bosan" karena ya jaman sekarang susah untuk bosan X)))

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)