-->

Bercermin dari Anak

on
Monday, October 29, 2018
Kemarin saat acara Mommies Daily sama Biore, ibu Widi Mulia (iya Widi ‘B3’) share sesuatu yang kena banget dan ya seperti biasa kalau dapet sesuatu yang inspiring ya harus share juga dong biar bisa menginspirasi lebih banyak orang.


Jadi ceritanya pas sesi tanya jawab itu ada ibu yang curhat, gimana biar anak-anak nggak berantem terus? Karena dia udah pusing urus 2 anak, ketambah ini anak-anak berantem terus.

Saya merhatiin ibu ini dari awal acara. Ibu ini emang ambisius, malah pas sesi games aja dia kecewa banget karena nggak menang. Kecewa sampai misuh sama suaminya gitu lho. Padahal ya namanya games ya, it’s supposed to be fun.

Jadi pas dia nanya gini saya maklum banget karena mungkin sehari-hari dia emang sestres itu harus ngurus dua anak. Apa jawaban Widi?

Widi share tips gimana dia emang sengaja didik Dru sebaik mungkin biar adik-adiknya tinggal contoh Dru. Jadi sejak lahir, Dru dididik sebaik mungkin karena mereka yakin benar akan punya anak lebih dari satu, dan Dru harus punya pribadi yang baik karena mau nggak mau adik-adiknya akan mencontoh dia.

Mereka juga kebiasa nggak ikut campur masalah anak-anak. Jadi kalau anak-anak berantem ya suruh selesain sendiri. Jangan malah jadi saling ngadu ke ibu terus ibunya yang selesain. Bahkan sama Denden yang masih kecil aja, harus diselesaikan sendiri.

Tapi yang paling kena bukan itu. Ya mungkin karena anak saya cuma satu ya. Yang justru dapet banget dan kaya ketonjok adalah kalimat yang ini.

(kurang lebih ngomongnya gini ya ga plek ketiplek aku soalnya nggak nyatet juga)


“Sebagai orangtua kita bercermin dulu, berapa sih nilai kita dalam membesarkan anak-anak? Misal kita kasih nilai 7 sebagai orangtua, ya kita jangan berharap anak jadi bisa punya nilai lebih dari itu. Karena orangtua yang nilainya 7, anaknya juga akan punya nilai 7”

WAW. KEMUDIAN KUMERENUNG BANGET SIH.

via GIPHY

Kasarnya gini ya, kalian ngeluh anak kalian nggak bisa diatur, bikin ulah terus, nggak bisa diajak kerja sama. Pertanyaannya: apa yang sudah kalian usahakan biar anak bisa diajak kerja sama?

Kalau misal sudah berusaha, seberapa besar usaha kalian? SEBERAPA NIAT?

Mungkin terlalu sering bentak? Mungkin nggak pernah bilang baik-baik sambil natap matanya? Mungkin nggak pernah validasi perasaan anak?

Mungkin kurang quality time? Mungkin nggak pernah fokus dengerin anak? Mungkin nggak pernah bener-bener temenin anak main?

Mungkin nggak pernah nanya apa yang bikin senang atau sedih hari ini? Mungkin kurang pelukan? Mungkin kalian punya masalah pribadi yang jadi kebawa saat komunikasi sama anak?

Intinya: usaha kalianlah yang mencerminkan bagaimana anak kalian bersikap.

(Baca: Mencari Diri Sendiri)

Saya tentu langsung mikir juga. Iya sih, saya bersyukur karena hidup kayanya lagi kalem-kalem aja jadi bisa netral banget kalau menilai Bebe. Kalau ada sesuatu yang bikin saya kurang puas sama Bebe, saya bisa berpikir jernih dan refleksi diri dulu: apa nih yang harus diberesin? Salah di mana nih?

BAGIAN ITU SAYA MERASA SUDAH MELAKUKAN HAL YANG BENAR. Nah tapi ada hal lain yang lebih menohok.

Yaitu ekspektasi pada anak yang kadang nggak sesuai sama usaha kita. Saya mau Bebe tulisannya bagus tapi duh ngajarin nulis aja males. Saya mau dia suka baca tapi duh bacain buku aja nggak tiap hari sekarang karena ngantuk dan berjuta alasan lainnya.

Jadi kalau liat anak orang yang waw pinter banget, saya langsung mikir wah bisa nggak ya Bebe kaya gitu? Gimana Bebe mau kaya gitu sih weekend aja dikasih gadget terus karena capek kalau main dua hari full.

Untungnya sekarang Bebe lagi suka gambar, jadi kalau saya atau JG lagi gambar, Bebe jadi ikut gambar juga. Sisanya? Ya Bebe nonton bisa berjam-jam. Makanya saya kasih syarat banget boleh nonton kalau udah keluar rumah, udah makan.

Kalau ditotal dalam seharian itu mungkin bisa sampai 6 jam dia nonton. Ya 2 kali saya dan JG nonton film lah. Mentok kami nggakb bisa nonton lebih dari 2 film karena dengan demikian Bebe juga akan nonton terlalu lama. Segitu juga nggak nonstop sih, berhenti untuk makan, untuk mandi, untuk les renang, dll.

Jadi sering banget terjadi percakapan ini dengan JG.

JG: “Eh si Bebe kalau weekend kelamaan nggak sih nonton doang? Apa kita kurangin lagi nontonnya cuma boleh sehari doang?”

Jawaban saya selalu: “KAMU sanggup nggak nemenin dia seharian full tanpa YouTube sama sekali? Aku sih nggak sanggup”

JG juga ya nggak sanggup karena ya kami berdua juga kalau weekend pengen nonton film, pengen leyeh-leyeh, baca buku, YANG HANYA BISA DILAKUKAN KALAU BEBE NONTON.

Gimana anaknya mau berubah kalau kita nggak berubah? Nggak bisa kan?

Begitu pula dengan hal lain. Gimana anaknya nggak emosian sih kalau kitanya emosian?

(Baca: Mengajarkan Emosi pada Anak)

Banyak DM yang saya terima bilang mereka nggak pernah divalidasi emosinya sama orangtua zaman dulu. Sekarang jadi susah sekali memvalidasi emosi anak. Dulu sering dibentak, maka sekarang dengan tidak sengaja jadi juga sering membentak. AYO KITA UBAH! Itu mata rantai yang harus kita putus sekarang juga.

Kaya yang sering aku bilang: MARI KOREKSI GAYA PARENTING ORANGTUA KITA. Apa yang tidak kita sukai dari gaya parenting orangtua, JANGAN dilakukan lagi pada anak. Karena nanti anak kita akan melakukan itu lagi ke anaknya dan seterusnya. Seperti juga orangtua kita melakukan itu karena dia meneruskan nenek kakek kita, buyut kita, dan seterusnya. STOP DI KITA. We can do it!

Suka tidak suka, sikap KITA tercermin pada anak KITA. Mungkin tidak selalu, tidak semuanya, tapi tidak ada salahnya memperbaiki diri sendiri dulu sebelum menuntut apapun dari anak.

Apakah dengan demikian saya jadi percaya kalau anak adalah kertas kosong yang bisa diisi sesuka hati orangtuanya? DUH COME ON. Males amat ngomentarin ini.

Percaya atau tidak percaya, tidak akan mengubah apapun. Ini hanya sebuah renungan, untuk refleksi diri bahwa kadang ekspektasi kita pada anak kadang terlalu tinggi. Kadang tidak seimbang dengan usaha yang kita lakukan.

Demikian semoga bisa jadi inspirasi juga yaaa!

-ast-


LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

6 comments on "Bercermin dari Anak"
  1. Ah bener, anakku dua, dan ya mereka kadang berantem, gk sering bgt sih. Gak smp ya bikin aku stres. Cuma klo mereka berantem aku sering ikut campur. Melerai, spy gk parah. Kalau satu ditegur, satunya jg. Biar smw tau kalau bertengkar itu gk baik, gk ada yg dibela. Tp pgn coba mereka nyelesain sendiri cm kok blm tau gmn caranya:D. Karena satunya masih bayi piyik, blm sepenuhnya paham omongan.

    ReplyDelete
  2. Ini JLEB BANGET
    Makasih, Cha. Makasih banget

    ReplyDelete
  3. Kemarin ngikutin ini di story, cuma karena bakal dibahas di blog jadinya komen di sini aja sekalian.

    Topik ini juga bikin aku merenung banget lho. Masuk usia 2 tahun ini, anakku jadi labil banget *dapet salam dari tantrum*. Belakangan aku juga baru sadar, ini anak kalo lagi nggak sabaran kok persis gue, ya. Tanpa sadar apa yang biasa aku lakukan atau emosi apa yang aku keluarkan, ternyata semua direkam oleh bocah kecil ini. Nampar banget, sih. Soal gadget/screentime juga gitu. Gimana anak nggak main hape terus kalau emaknya masih suka megangin hape sambil nemenin anak main? Dimulai dari kita, orangtua dulu itu bener banget.

    Thank you wejangannya, Kak Icha. Yukslah mari sama-sama belajar yak kita semua (:

    ReplyDelete
  4. sangat menginspirasi.. bener banget kita punya ekspaktasi ini itu ke anak, tapi tanpa lihat lagi seberapa besar usaha kita jadi orang tua.

    ReplyDelete
  5. Akuuuu, masih kebawa gaya parenting ortuku jadi masih suka kelepasan bentak, ngomong ketus, huhu :’) Mumpung masih ada waktu sampe lulus, harus usaha lebih buat berubah. Thanks for reminding ❤️❤️

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)