-->

Image Slider

Showing posts with label tentang hobi. Show all posts
Showing posts with label tentang hobi. Show all posts

Agar Waktu Luang Nggak Lagi Terbuang

on
Monday, July 2, 2018
Rhymes tapi agak nggak ens ya judulnya ahahahahaha. Ini udah lama banget sih saya pengen nulis ini cuma kok nggak nulis-nulis juga? APA KARENA NGGAK PUNYA WAKTU LUANG?


Triggernya adalah souvenir ultah Xylo udah selesai di-print dan dijahit. Kalau kalian follow saya di IG (kalau belum plis follow atuhlah lol), pasti udah liat dong ya sneak peek-nya.

Kemudian DM saya penuh banget dan kebanyakan bilang “ya ampun niat banget” atau “kok sempet sih” dan pernyataan-pernyataan yang mengindikasikan bahwa menjahit dan menggambar itu mustahil dilakukan.

Kenyataannya nggak mustahil sih meski kalau kalian tau ya, saya harus menggambar A-Z dikali dua (karena kertasnya bolak-balik) jadi ada 52 gambar yang harus diselesaikan. Saya mulai di Maret dan selesai di Mei, TIGA BULAN AJA LOH. Lama banget kan.

Cerita lengkap soal souvenir ultah nanti saya ceritain terpisah ya. Belum difoto proper soalnya baru stories doang. Sekarang saya mau cerita gimana caranya meluangkan waktu?

Karena kita semua PASTI PUNYA sih waktu luang saya yakin banget. Yang nggak punya waktu luang nggak mungkin baca blogpost ini HAHAHAHA.

Waktu luang ini bisa digunakan untuk pekerjaan agar cepat selesai, bisa juga dipake buat belajar hal baru.

(Baca: Mencari Skill Baru)

1. Sadari saat-saat procrastinate

Kadang kita (OKE SAYA) buang banyak waktu banget scroll Twitter atau nongkrongin Instagram Stories. Wah tau-tau udah sejam! Nah kalau udah tau begitu ya langsunglah berhenti. Lakukan hal lain yang lebih berguna seperti lipetin baju mungkin atau nulis blogpost?

2. Hindari waktu procrastinate

INI NIH YANG PALING SUSAH. Kalau kita udah sadar banyak buang waktu untuk sesuatu, HARUSNYA saat kita mau melakukan itu kita ngeh banget kita akan membuang sekian jam sia-sia. Berhenti di situ dong darling, jangan diterusin. Banyak hal di dunia ini yang akan bikin waktu kalian lebih berwarna dibanding thread Twitter.

3. Tentukan waktu luang

Ini saya pikirin banget karena kan ya kerja yaaaa. Waktu luang saya sedikit banget. Dulu waktu di kantor lama, saya punya waktu sekitar 1-1,5 jam pas nunggu dijemput. Sebagian besar flash card saya gambar di waktu-waktu itu.

Pulang ke rumah, udah capek ya kadang butek juga dan pengen leyeh-leyeh. Ya nggak usah dipaksain. Itulah saat scroll socmed kalau nggak diprotes Bebe lol.

Weekend nih tiati. Weekend kemarin saya rasanya kosong banget bingung mau ngapain. Saya lupa setelah minggu sebelumnya sibuk jahit, minggu ini masih belum ngong banget nih kalau weekend adalah waktu luang yang harus dimanfaatkan. Terus sebel kenapa nggak gambar. Sebel karena sadarnya udah Minggu malem huhu.

Weekend tuh lama lhooo. Punya 48 jam masa sih dipake leyeh-leyeh doang? Saya ke mana-mana bawa iPad sampai kemarin bulan puasa ya, nunggu buka puasa aja saya duduk di restonya sambil gambar. Kalau ada waktu luang maka lakukan!

Kalau yang lagi dipelajarinya nggak bisa dilakukan di mana aja (misal jahit nih, nggak bawa mesin jahit ke mall juga dong ya) bisa disiasati dengan brainstorming. Itulah saatnya scroll Pinterest atau bikin notes mau ngapain aja.

4. NIAT

Gimana ya semua kan berawal dari sini, kalau emang nggak jalan-jalan mungkin emang kurang niat? Atau harus dijudesin nih nulisnya: KALAU EMANG NGGAK MULAI PADAHAL JELAS PUNYA WAKTU LUANG MUNGKIN EMANG KURANG NIAT KALIAN MELAKUKANNYA?

AHAHAHAHAHHAHA. Puas sekali ya berteriak-teriak apakah aku punya kelainan yaitu senang berteriak-teriak? -______-

via GIPHY

Dan sebenernya waktu luang saya nggak sebanyak itu juga kok. Saya suka tidur dan tidur nggak akan saya kompromikan dengan apapun. Jadi saya nggak mau waktu tidur terganggu daripada nanti cranky dan mengganggu ketertiban umum.

Jadi nggak pernah banget saya bela-belain begadang demi gambar.

Pernah sih gambar malem-malem tapi itu biasanya karena Sabtu malem dan siangnya kelamaan tidur. Akhirnya saya ya menentukan pilihan. Saya nggak bisa lagi baca buku (SEDIH HUHU), baju yang udah dijemur jadi lebih lambat dilipetin (HAHA), lebih jarang nulis blogpost, dan bye banget sama bikin video makeup.

Ya gimana lagi ya, namanya hidup kan memang akan selalu memilih. Jadi pilih membuang waktu luang atau nggak nih? Kalau mau buang juga nggak apa-apa kok HAHAHAHA.

SIAPA TAUUUU. Nggak semua orang ambisius kaya saya kan. Nggak semua orang ngerasa stuck dan pengen memanfaatkan waktu luang juga. Banyak kan ya orang slow yang hidupnya kalem huhu sungguh bukan aku.

Udah sih gitu aja. Semoga berguna ya!

-ast-




Jadi, Gimana Ngajarin Calistung?

on
Tuesday, February 13, 2018
Ini sih pertanyaan terbesar setelah Bebe masuk usia preschool. Soalnya baca sana-sini denger si ini dan si itu katanya: jangan ngajarin calistung atau sekolah sebelum umur 7 tahun! Nanti anak kehilangan masa kecil! Ia akan bosan belajar! Motivasi belajarnya akan menurun! Mentalnya akan bermasalah di kemudian hari!


Ngobrol sama beberapa temen yang anaknya udah masuk SD, semua jawabannya sama: santai ajaaa tar juga bisa sendiri kok!

Tapi kok saya khawatir ya? HAHAHAHAHA. Takut Bebe nggak bisa baca zzzz. *parno*

Oke, sebagai background, selama ini saya selalu pasang flat face tiap ada orang bilang “anak nggak boleh belajar formal sebelum 7 tahun karena akan jadi malas belajar, cepat bosan, blablabla”.

Sebabnya saya sendiri masuk SD umur 4,5 tahun dan sudah bisa baca sebelum masuk TK. Saya tidak pernah malas sekolah sampai kuliah. Dan terpampang nyata dari minus mata yang udah nyampe 2,5 di kelas 6 SD, saya sangat suka membaca. Saya tidak bisa tidur sebelum membaca sesuatu. Jadi malas belajar dan cepat bosan hanya karena belajar formal sejak kecil itu nggak berlaku di saya. Juga di banyak orang lain, yang komen di sini.

(Baca deh tulisan mbak Nurisma Fira tentang pendidikan dini di Inggris. Umur 4-5 tahun udah pada bisa nulis kalimat loh di sana! Baca ya: Larangan Calistung Sebelum Umur 7 Tahun Adalah Pembodohan

Pas banget minggu lalu di daycare Bebe ada parents meeting dengan tema “Mengapa Tidak Perlu Buru-buru Mengajarkan Calistung”. Yang ngasih materi owner daycare yang juga praktisi montessori jadi semua penjelasannya pake filosofi montessori. Kemudian aku tercerahkan! Dan tentu saja akan berbagi pencerahan itu pada kalian semua lol.

Pencerahannya sederhana: anak bukan tidak boleh belajar calistung TAPI JANGAN DIPAKSA dan harus sesuai tahapan kemampuannya.

Udah segitu doang sih kalau kalian mau berhenti baca di sini juga boleh lol.

Calistung itu BUKAN kemampuan naluriah. Jadi kurang tepat kalau bilang “alah nanti juga bisa sendiri kok”. Nggak begitu. Membaca, menulis, dan menghitung bukan kemampuan naluriah. Beda sama merangkak, jalan, atau lompat. Nggak diajari pun bisa sendiri.

Karena bukan nature, maka harus di-nurture.
*dikeplak mas ganteng Ivan Lanin karena ngomong campur Inggris mulu*

Membaca, menulis, dan berhitung harus diajarkan dalam kondisi yang menyenangkan bukan karena ditakut-takutin nanti mental anak blablabla. Alasannya sederhana, supaya belajar jadi menyenangkan. Supaya anak senang membaca, supaya terbiasa menulis, supaya senang sama matematika. Supaya senang, bukan karena takut. :)

Ini lebih masuk buat saya dibanding ditakut-takutin anak akan bosan belajar blablabla. Hehehe.

Kapan kita tahu anak sudah siap belajar calistung?

Pertama, pendengaran anak harus dalam kondisi baik. Kedua, kosakata yang dikuasai harus sudah banyak dan tidak ada kesulitan dalam komunikasi sehari-hari. Karena membaca akan lebih mudah ketika anak bisa menghubungkan kata yang ia baca dengan benda yang ia tahu.

Dari segi fisik, akan lebih mudah kalau otot-otot jari anak sudah lentur. Menulis membutuhkan 3 jari yang lentur: jempol, telunjuk, dan jari tengah. Tiga jari ini dipakai untuk menulis, makan, menjumput, dan banyak lagi dan ketiga jari ini sebaiknya sering dilatih sejak usia toddler.

Kalau dari Bebe pendengaran kan nggak ada masalah. Kosakata banyak juga dan udah bisa kalimat utuh dan kalimat bertingkat. Jadi menurut dua faktor ini sih Bebe siap banget belajar calistung.

Otot jari masih dilatih kan di sekolah. Latihannya bisa dengan transferring (mindahin pompom pake pinset dari KIRI ke KANAN ya), bisa dengan tracing (men-trace huruf pakai dua jari telunjuk dan jari tengah), memindahkan air dengan spons, dan banyak lagi. Itu semua buat latihan otot jari dan tangan biar nulisnya halus dan nggak gerigi-gerigi. *alah*

Katanya daripada tracing huruf (menyambung garis putus-putus berbentuk huruf) mending tracing garis dan gelombang (huruf S terus menerus sampai panjang). Nantinya nulis huruf akan bisa sendiri kalau udah lancar bikin garis dan gelombang.

Iya sih bener juga. Tapi karena saya nanggung punya beberapa buku dan flash card alphabets yang bisa dipake latihan jadi ya udah terusin aja hahahaha. Toh anaknya mau juga kan.

(Baca: Bebe's Favorite Books, Beli Buku Anak di Mana?)

Gimana ngajarinnya?

Metodenya dijelasin detail tapi akan sangat panjang kalau dibahas di sini. Kuncinya di sini: JANGAN DIPAKSA. Daya konsentrasi anak berbeda-beda dan kehilangan konsentrasi bukan berarti ia malas belajar. Caranya kurang lebih gini:

1. Kenalkan huruf dalam dua huruf konsonan dan satu vokal dulu baru kemudian bisa kata yang lebih panjang. Jadi kenalkan kata-kata seperti ban, cat, dot, pot, sol, alah apalagi ya ya pokoknya yang tiga huruf dulu. Bilang: b, a, n, ban.

2. Kalau sudah tertarik, berikutnya tes dia dengan nanya: huruf b yang mana? A yang mana? N yang mana?

3. Kalau sudah lancar, minta dia menyebut, ini huruf apa? Satu per satu sampai ketiganya bisa.

Nah tapi kalau di poin kedua dia udah bosan ya udah berhenti aja belajarnya. Anak beda-beda, ada yang mau belajar baca tulis sejam, ada juga yang 5 menit bosan. Nggak apa-apa kalau dia udah nggak mau ya berhenti aja. Syaratnya, kalau dia lagi mau dan minta belajar, JANGAN DITOLAK. Semua bisa menunggu, fokus aja dulu ke ajarin dia.

(Baca: Stop Menyuruh Anak untuk Diam)

Untuk baca, katanya lebih gampang pake metode phonic. Bisa search di YouTube “phonic bahasa Indonesia”. Sebulan terakhir, saya dan JG tiap kali inget selalu memasukan phonic ke dalam topik pembicaraan sehari-hari. Misal Bebe lagi minum yogurt merek Yo (bukan iklan), maka komentar kami adalah:

“Wah Xylo sedang minum Yo. Y, O, YO”

Atau Bebe lagi bahas ban mobil. Ibu nyeletuk aja “Iya ban itu B, A, N BAN”

Ingat ngomong hurufnya pake phonic ya bukan baca huruf biasa. So far Bebe seneng dan jadi suka nanya “kalau jendela gimana ibu hurufnya?”

Sejak sekolah Bebe udah bisa tulis nama sendiri. Dia juga tau-tau hafal A sampai Z huruf kecil dan huruf kapital padahal belajarnya cuma iseng aja pake tempelan kulkas atau pas kebetulan di mana pun ada huruf, suka saya tanya ini huruf apa. Tapi ya baru hafal DOANG. Konsep menggabungkan huruf belum ngerti dia. Makanya ini saya sendiri ngotot belajar phonic. lol

Misal Y dan O dia tau itu YO karena saya sering ngomong. Tapi ditanya "M O jadi apa?" Nggak tau dia HAHAHAHAHA.

Untuk nulis, masih latihan otot jari yang saya sebut di atas kalau di sekolah. Tapi kalau dia di rumah semangat ngajak nulis, ya kami belajar menulis juga di rumah. Menulis huruf apapun, menggambar juga boleh yang penting pegang pensil, kalau bosan ya berhenti.

Untuk berhitung, saya seringnya pake jari tangan doang. Kemarin-kemarin dia selalu skip six, jadi dari five langsung seven. Besokannya tiap saya turun mobil, dia harus kiss bye enam kali. Terus udah deh nggak lupa lagi. Hal-hal sederhana kaya gitu aja.

(Baca: Mengajarkan Bahasa Inggris pada Balita, Perlu?)

Untuk tambah-tambahan, paling gampang pakai mobil-mobilan dia. Satu mobil ditambah dua mobil jadi tiga mobil dan seterusnya.

Buat jadi menyenangkan dan jangan pake target. Slow.

Tapi please note kalau ini melelahkan sekali HAHAHAHAHAHA BOLD UNDERLINE. Main Lego atau baca buku lebih mudah, sungguh. Tapi ya udah daripada anaknya nggak belajar? Saya seneng Bebe belajar jadi capek-capek pulang kerja pun ya temenin lah kalau pas dia mau belajar baca atau tulis.

Satu hal lagi.

Meski nggak kepikiran untuk Bebe, saya ngerti banget sama orangtua yang masukin anaknya ke les calistung. Karena ngajarin sendiri itu capek banget ya Tuhan. Nggak perlu dijudge macem-macem lahhh, kalau emang di lingkungannya cuma ada SD yang wajib bisa calistung untuk masuk, masa orangtua nggak boleh panik dan ngasih anaknya les calistung sih?

Nanti anaknya nggak bisa masuk SD gimana? Nggak usah masuk SD dulu? T_____T Kadang nggak bisa menyamaratakan satu standar jadi nasional kalau sekolahnya sendiri belum punya standar yang jelas ya.

Jadi ayo semangat belajar calistung buibu! Kita pasti bisa melewati ini semua!

-ast-




Akhirnya Gambar Digital!

on
Monday, January 29, 2018

Ada yang lagi niat beli iPad buat menggambar pakai aplikasi Procreate? BELIIIIII. HAHAHAHAHAHA.

Iya tadinya kan saya niat pengen beli laptop nih, tapi setelah dipikir-pikir kok ya beberapa bulan ini nggak punya laptop pun nggak apa-apa ya? Malah ngerasa nggak butuh amat karena yaaa buat apa? Kerjaan cuma seputar Google Docs dan email, kalau di rumah pake HP aja masih bisa banget.

Setelah dipertimbangkan baik-baik, sampai JG pusing karena sebulanan saya bilang pengen tapi nggak beli-beli, akhirnya saya beli iPad Pro aja dan Apple Pencil buat gambar! Udah pengen iPad Pro dari pas zaman lettering itu karena kok ya liat orang bikin lettering pake aplikasi Procreate itu kayanya gampang banget. Eh terus sekarang makin banyak ilustrator di Instagram yang gambar di Procreate terus bikin timelapse gitu kan jadi ada step by step videonya.

AKU KAN JADI MAOOOOO! Ya udah nggak jadi beli laptop lah, beli iPad aja!

Saya belinya yang paling murah aja huhu soalnya mahal dan tujuannya buat gambar doang kan. Saya beli iPad Pro 9.7 dan cuma yang 32 GB ya ampun deg-degan takut cepet penuh karena iPhone aja mayan pegel kalau 32 GB ya. Cuma kan niatnya buat gambar doang dan semua akan ditaro di iCloud/Dropbox jadi semoga cukup yaaa. Nggak diinstall apapun lagi, cuma Procreate, Adobe Sketch, Instagram ... dan YouTube hahahaha. Nggak kaya iPad lama yang isinya game semua. Banyak ngets game di situ ah udalah sungguh tidak produktif.

Jadi gimana gambar pake Procreate?

BEGINIIII HAHAHA
Aplikasi Procreate ini harganya Rp149ribu di App Store. Awalnya saya ngeremehin banget karena dih apaan nih aplikasi mahal amat, emang sebagus apa sih. Jadi saya tetep download Adobe Sketch karena dulu kalau gambar di iPhone sama iPad lama itu pake Adobe Draw.

Tapi ternyata wow banget loh! Ini secanggih Adobe Photoshop/Illustrator!

Bener-bener bisa select, cut, copy, paste, fill dan banyak lagi. Kalau suka gambar di Photoshop pasti suka deh gambar di sini. Saya aja betah banget terus langsung ngerasa dih kok gambar di kertas jelek amat ya? Apa cat saya jelek? Apa kertas saya kurang mahal? Karena kok hasilnya butek lol. Sementara kalau gambar digital kan yaaa, kalau warna kurang sreg ya tinggal diganti aja atau diedit warnanya.

gemas yaaa (MEMUJI DIRI SENDIRI)
Dibilang rumit juga mayan rumit ya kalau nggak pernah pegang Photoshop/Illustrator sama sekali pasti gagap deh pake Procreate. Saya aja seharian cuma bengong dan ngerasa bego karena ya gimana nih kok susah? Kok nggak bisa makenya? Akhirnya nonton beberapa video tutorial dan hooo baru ngeh ternyata dia se-powerful itu dan beberapa term beda sama Photoshop dan Illustrator jadi ya mayan lah harus belajar dulu. Seharian belajar besoknya langsung lancar!



Dan ya, sebagai anak digital saya jadinya lebih suka gambar digital karena hasilnya langsung "mateng" gitu loh. Skill kaya meningkat langsung karena bener-bener bisa diulang kalau ada yang salah. Tapi kalau dalam hal stres, lebih rileks gambar pake kertas sih. Gambar pake kertas itu bantu untuk belajar terima kekurangan diri banget.

Jadi ya udah, sekarang anteeenggg banget gambar. Baru gambar segini doang sih. Saya bikin album di Facebook dan thread di Twitter untuk gambar. Di Instagram masih nerusin hashtag yang lama yaitu #astdraw. Mau bikin IG baru kok ya males takut nggak ada yang follow hahahaha.

Kalian udah belajar hal baru apa? YUK SEMANGAT YUK!

-ast-




Mencari Skill Baru

on
Tuesday, December 12, 2017

Setelah nulis Mengapa Menggambar kemarin itu saya jadi pengen menjelaskan lebih jauh KENAPA nya sih harus belajar sesuatu yang baru? Triggered sama komentar ini juga sih (saya copas):

Ngeliat kak Icha yang nyoba beberapa hal baru mulai dari youtube, instagram, lettering and now menggambar aku jadi punya pandangan bahwa kak Icha ini tipe pembelajar dan wow ketemu kak JG jadilah couple yang seru banget! Ini bikin aku semangat buat ngulik hobi lamaku dan bahkan nyoba nyoba hal baru dibalik kerjaanku yang membosankan karena seharian mendem di kubikel doang, hahaha malah jadi curhat! semangat kak Icha, aku yakin bukan cuma aku aja yang nunggu postingan gambar kak Icha! dan terima kasih selalu memberikan inspirasi buat kami :D

Aku tersipu-sipu baca komentarnya hahaha.

Sebenernya kalau ditanya, kami bukan niat belajar tapi niat mencari skill baru demi hidup yang lebih berwarna! Biar hidup gini-gini aja. Ada rasa super excited yang muncul ketika kita belajar hal baru dan itu menyenangkan banget. Ada sesuatu yang dikejar, ada sesuatu yang jadi target selain target kerjaan, kalau udah bisa satu step baru itu rasanya puassss banget.

Nah kalau saya kan udah pada tau ya, passion saya nulis, hobinya nulis. Tapi ya nulis udah bertahun-tahun terus sekarang ngerasa nulis itu natural aja gitu. Nulis serius, nulis nggak serius, asal ada bahan dan waktunya ya bisa-bisa aja cepet dikerjain. Sungguh congkak sekali aku ya khaann. *nada incess idolaku*

Tapi tetep saya ingin cari skill baru! Saya udah pernah coba lettering, make up, video make up dan non make up, apalagi ya lupa. Yang jelas saya juga nyari passion kedua biar hidup lebih bermakna. Alah.

(Baca: Passion dan Calling itu Apa Sih? WAJIB BACA!)

Nah masalahnya JG nih. Seumur hidup dia nggak tau passionnya apa, kasian ya. Satu pun dia belum nemu. Meskipun kami ya bersabar karena ya taulah ya banyak orang yang baru tau passionnya di umur 40 bahkan 50 tahun. Tapi kalau nggak usaha dicari kan mana ketemu. Jadilah tiap tahun kami berdua selalu dalam mode pencarian passion untuk JG.

Risikonya ya harus belajar skill baru. Skill baru ini kalau ternyata nggak bikin bosen dan pengen terus-terusan dilakuin ya kemungkinan emang passion kan. Kalau ternyata udah mayan jago terus berhenti, ya mungkin bukan passion, emang cuma penasaran pengen belajar aja. Kaya saya dan make up contohnya. Menang kompetisi sekali terus ah udah ah males hahaha. Masih suka make up banget, syutingnya juga suka, ngeditnya males euy.

(Kali mau liat hasil menang kompetisi ini yaaa: Princess Jasmine Inspired Make Up)

Sementara JG udah melalui banyak hal juga, lebih banyak dari saya. Dari fotografi, videografi, foto mainan, jadi MC, menggambar (sampai beli buku menggambar banyak banget dan sekarang saya yang pake deh lol), modif mobil-mobilan, nulis juga, dan apalagi ya banyak banget lah. Sebanyak sampah-sampahnya sekarang di rumah hahaha.

Tapi ya belum ketemu juga. Sebenernya sih dia sukanya motor tapi modif motor kan mahal huhu. Jadi cita-cita punya bengkel motor deh suatu hari nanti (tolong aamiin-kan ya!). Sampai pencarian yang terakhir itu pengen belajar main skateboard. Pas saya mulai menggambar, dia mulai belajar skateboard.

Kenapa skateboard? JG waktu kecil pengen bisa main skateboard tapi nggak pernah kesampean. Memang ketika kejar skill baru, kami selalu merunut: apa aja nih yang dipengenin waktu kecil tapi nggak dicoba dilakuin sampai sekarang?

Tiga bulan belajar skateboard kemajuan JG pesat banget loh! Dari yang kaku banget sampai sakit punggung sampai sekarang bisa Ollie (itu loh lompat terus mendarat lagi di atas skateboardnya).

Buat kalian yang udah biasa main mungkin nggak ada apa-apanya, tapi bagi JG yang seumur hidup nggak pernah pegang skateboard itu kemajuan banget! Apalagi bagi saya yang harus videoin slo-mo tiap dia lompat. Awal-awal banyakan gagalnya sampai saya stres videoinnya juga hahahaha. Antara stres banyak gagal, sama stres takut dia jatoh terus besok patah tulang nggak bisa kerja hhhh.

Skateboard itu asli susah, maju biasa aja saya takut jatoh. -_______-


Tapi ya itu. Namanya belajar skill yang bener-bener baru, ada excitement yang nggak tergambarkan. Tiap hari dia cerita tentang skateboard, saya cerita soal gambar. Dia YouTube soal skateboard saya tentang gambar. Sampai kemarin skateboardnya patah kasian banget pacar aku. T______T Nanti aku beliin yang baru ya. T______T

Maklum beli yang murah di Ace Hardware. Karena kami selalu ada di posisi terus menerus coba hal baru, jadinya kalau beli pasti yang murah dulu. Dia beli skateboard 180ribu aja lagi diskon. Saya beli sketchbook aja 12ribuan 30 lembar, kuas 18ribu dapet 3 biji di AliExpress, dan cat air bekas belajar lettering dulu 120ribuan kalau nggak salah. Itu udah yang paling murah.

Sepanjang pencarian kami, yang termahal itu saya beli alat-alat buat syuting! Sampai beli ringlight segala kan! Tapi ya nggak nyesel sih karena kami masih suka foto jadi masih dipake banget buat foto. Dulu waktu belum punya ring light JG foto mainan pake lampu belajar dong hahaha.

Oiya kami berdua suka foto sih! Suka foto banget meskipun belum berani bilang photography enthusiast di bio Instagram lol. Belum berani bilang fotografi sebagai passion karena ya baru sebatas suka doang. Mau banget sebenernya seriusin belajar foto tapi modalnya gede euy.

(Baca: Serba-serbi Ring Light)

Selain fotografi, kami berdua juga sama-sama ngarep bisa nyanyi dan bisa main alat musik HAHAHAHAHA. Tapi sayang, JG nyanyi aja fals gitu. Padahal keinginan terpendam kami berdua adalah punya channel nyanyi di YouTube. Dia main gitar terus saya nyanyi gitu MAUNYA MAAHHHH. #couplegoals.

Saking putus asanya soal urusan nyanyi, kami berjanji suatu saat nanti ketika udah pensiun, kami berdua akan les nyanyi just for fun hahahaha. Lesnya akan private karena kalau bareng-bareng orang lain mah malu lol. Kemarin dites ketukan sama Nahla aja saya gagal lah di ketukan keempat boro-boro mau jadi musisi. :(

Sama satu lagi: INGIN BISA DANCE ATUH LAH. Sampai sekarang JG suka dance bebas di rumah nurutin Taeyang Bigbang hahahaha. Dulu dipandang sebelah mata sama Bebe sekarang Bebe juga malah suka ikutan joget. Ingin banget asli belajar dance tapi ah apa daya, berjalan saja aku keserimpet terus.

via GIPHY

Mengutip dari Instagram-nya mbak Verauli (dia mulu yang dikutip maafkan), pasangan itu harus berproses sama-sama biar nggak ada jurang pemisah. Maksudnya kalau suami suka belajar, ya istri juga kalau bisa suka belajar. Juga sebaliknya, kalau istri maju terus, suami juga jangan jalan di tempat. Ketika progress udah nggak sama, di situ biasanya jadi muncul ketidakcocokan karena ada ketimpangan. Ini berlaku untuk belajar apapun termasuk belajar agama loh!

Jadi ibu rumah tangga juga bukan alasan jadi nggak update sama dunia. Di rumah kan bisa juga belajar banyak hal. Yang jelas kalau suami kariernya di kantor naik terus, ya istri juga di rumah harus naik kelas terus dong. Kursus masak, bikin kue, jahit, atau belajar olah raga baru. Yang penting bisa terus berproses sama-sama. Masa anak dicari dan digali bakatnya tapi ibunya nggak tau punya bakat apa hahaha. Nanti ada timpang juga sama anak loh karena anak belajar terus sementara kitanya nggak. :)

Nah buat yang single dan berniat menikah, sebisa mungkin cari pasangan yang sama juga modelnya. Kalau kalian suka hal baru, enaknya cari pasangan yang juga suka hal baru. Biar bisa terus "sama-sama" secara psikis bukan secara fisik doang. Cari juga yang support kalian apapun yang terjadi. Begicu. Minimal yang support lah dan mau mendengarkan excitement kita. Biar hidup nggak monoton.

Kalau yang nggak berniat menikah juga ya nggak apa-apa, belajar skill baru itu tetep seru kok! Kan bisa ikut komunitas, malah ketemu orang-orang dengan passion yang sama dan itu bikin semangat banget.

Poinnya adalah (buat kalian yang mau aja sih kalau nggak mau juga nggak apa-apa) ayo belajar skill baru yok! Belajar skill baru itu nggak ada salahnya loh. Seru dan menambah khasanah kehidupan. Siapa tau selama ini ngerasa hidup monoton karena kelamaan nggak belajar hal baru.

Ayo telusuri, apa skill yang pengen banget dikuasai tapi nggak mulai-mulai? AYO MULAI SEKARANG! Jangan nunggu 2018 karena sekali menunda, nggak tau berapa kali lagi kita cari alesan untuk kembali menunda.

SEMANGAAATTTTT!

-ast-




Mengapa Menggambar

on
Friday, December 8, 2017
*menatap masa depan *

Udah 2 bulan lebih saya belajar menggambar gara-gara ngikutin twitnya @pinotski yang terus-terusan encourage orang untuk menggambar. Bahwa semua orang bisa menggambar karena buktinya semua anak kecil pede menggambar toh?

Saya yang wow iya banget. Saya mengamini semua kalimat positif Mas Pinot karena saya baru sadar semua orang bisa menggambar karena gambar itu masalah selera. Nggak ada bagus atau jelek, yang ada nggak sesuai selera kita. Makanya ada gambar yang menurut saya meh banget tapi orangnya cuek aja dan tetep dapet pujian dari orang lain. Ya ternyata gambarnya bukan meh, tapi nggak sesuai selera saya aja.

Oiya ini colab sama Geci, Nahla, dan Mba Windi. Cek cerita mereka ya!
Gesi | Windi | Nahla
(yang dua terakhir masih mencari waktu dan wangsit untuk selesain tulisannya lol)

Flashback ke saya kecil dulu …

Saya suka gambar sejak TK. Ayah saya juga bisa menggambar meskipun nggak pernah serius, uwa saya malah pelukis, jadi ya memang ada darah gambarnya kalau gambar itu bener mengalir di darah ya hahaha.

Karena ngerasa saya suka gambar, ayah dan ibu saya jadi mengikutkan saya ke berbagai lomba. Waktu kecil lomba mewarnai, makin gede jadi lomba gambar. Dari situ rasa percaya diri mulai terkikis karena kok ya nggak pernah menang? Nggak pernah menang bener-bener nggak pernah. Pernah sih tapi cuma juara harapan dan pas peserta dikit. :(

Ayah sama ibu saya nggak pernah ngotot saya menang juga sih, yang penting ikutan aja seru-seruan. Tapi makin lama saya jadi makin nggak pede sama gambar sendiri. Iyalah, buktinya tiap lomba kok nggak menang sih! Ah udalah saya jadi ngerasa nggak bakat gambar, akhirnya berhenti gambar deh. Karena untuk apa, nggak bisa juga.

😞😞😞

Fast forward ke SMP saya jadi anak mading. Cerita lengkapnya ada di sini: Majalah Dinding, AADC, dan Dian Sastro

Dari situ saya nganggep ok bakat saya emang nulis. Buktinya kalau lomba menang. Sampai kuliah saya kuliah jurnalistik, beberapa kali kirim tulisan ke koran dan dimuat, tandanya bakat saya cuma nulis. Titik.

Padahal jauh di lubuk hati, saya masih memendam keinginan gambar. Saya tau saya suka banget tapi ya gimana, masih tetep ngerasa nggak punya bakat. Pokoknya ngerasa nggak mungkin aja bisa gambar. Padahal latihan aja nggak loh, nggak pede duluan aja. Gila ya, cuma karena perasaan inferior sejak kecil jadinya saya ngerasa bener-bener nggak bisa.

😣😣😣

Perasaan nggak bisa gambar saya alihkan dengan desain. Lebih gampang dong karena digital kan lebih terkontrol. Saya belajar Photoshop sejak Adobe Photoshop 7 kelas 3 SMA dan terus tekun banget sampai sekarang. Karena nggak bisa gambar saya akhirnya sering beli gambar orang di Design Cuts atau Creative Market. Beli gambar orang terus susun sendiri, ya itu yang selalu saya lakukan untuk desain blog ini.

Saya beli gambar-gambar perintilan terus disusun jadi header, jadi frame foto, jadi back to top button, dll untuk blog ini. Dan saya sukaaaa sekali mendesain. Yang ngikutin blog ini dari lama pasti tau saya udah entah berapa kali ganti desain. Sambil tetap merutuki diri kenapa nggak bisa gambar karena beli gambar orang itu mahal. Ratusan ribu banget loh satu bundle itu fyi aja hhh.

(Baca juga: Passion dan Calling)

🖌 LETTERING

Sekitar 2-3 tahun lalu juga saya coba lettering. Beli brush pen warna-warni dan cat air. Saya deg-degan banget loh karena wow bisa nggak ya pegang kuas kaya gambar gitu? Bisa sih ternyata hahaha

Cuma satu hal yang bikin saya berhenti lettering: saya koleksi font. Centil-centil gini saya sebenernya beli font dan package gambar lebih banyak dibanding saya beli baju, lipstik, atau sepatu. Font saya banyak banget karena saya suka aja ngeliatnya, artsy gitu, karya seni bangetlah huhu. Terus hubungannya sama berhenti lettering?

Di Design Cuts atau Creative Market itu banyak font maker profesional yang jualan font. Saya follow mereka di Instagram dan wow banget lah hasil tulisan mereka. Makanya ketika saya coba lettering saya bingung sendiri.

Pertama saya kan nggak bisa gambar jadi kalau lettering saya nggak bisa hias pinggirannya, sebel masa tulisan doang. Kedua, saya ngerasa karena nggak bisa bikin font yang saya mau. Handwriting itu khas kan, dan saya sebenernya tipe yang tulisannya bagus dan rapi banget sampai catetan kuliah difotokopi temen-temen hahahaha sombong bodo amat.

Tapi tulisan tangan saya sendiri aja ternyata bukan font yang saya suka. Gimana coba itu. Ruwet banget kehidupan kalau terus menuruti seleraku. LOL.

seneng sih nulis ini, tapi nggak suka fontnya hahahaha gimanaaaaa coba
Maybe at that time I was being too hard to myself. Tapi ya saya nyerah. Saya ngerasa nggak passion nulis indah. Kenapa deh saya harus tulis sendiri sementara saya bisa bikin di Photoshop dengan font yang udah pasti keren bikinan desainer profesional? (kaya header blog ini maksudnya). Bisa proporsional dan pasti di tengah gitu nggak perlu bikin margin manual. Kalau mau dilukis ulang manual ya tinggal print aja outline pake warna abu tipis terus warnai pake kuas. Gampang kan. Anaknya emang digital banget hahaha

Mungkin nanti kalau gambarnya udah jago mau coba lagi lettering karena ya saya suka sih meskipun bukan yang suka banget. Mungkin nanti tangannya udah nggak kaku jadi bisa nulis font yang lain. Tapi sementara sekarang mau gambar dulu! Ngelemesin jari dulu!

(Baca: Salah Jurusan Kuliah?)


🖌 MENGGAMBAR

Ketika saya mulai menggambar, gambar saya parah banget ancur HAHAHAHA. Saya masih mikir yaelah emang nggak bakat ini mah kan udah ketauan dari dulu. Ancur banget sampai saya nggak mau upload di mana-mana. Saya malu. Kembali teringat masa lalu yang selalu kalah lomba. Dulu pasti kalah karena gambar dianggap jelek sama dewan juri dong. :(

Tapi kali ini saya nggak nyerah dan saya berusaha gambar SETIAP HARI. Walau sebentar yang penting gambar. Sabtu Minggu saya bisa terus-terusan gambar dan jadi nggak bisa ngapa-ngapain. Nggak bisa photoshoot buat Instagram (alah), nggak bisa bikin video make up, sampai nggak bisa baca buku karena waktu luang saya cuma sedikit. Padahal udah punya Origin Dan Brown tapi nggak punya waktu. :(

Cuma sebulan saya langsung ngerasa ada progress banyak banget dan gambar saya membaik! Dan yang terpenting, hasil gambar saya sesuai dengan yang saya mau! Sesuai seleraku seperti Indomie! Saya juga terus belajar berbagai teknik cat air. YouTube yang biasanya nonton beauty atau vlog orang jadi nontonin orang gambar.

Baru kali ini saya seniat ini. Pas lettering mah boro-boro tiap hari atau ngeluangin waktu. Nggak sama sekali. Karena dengan menggambar, saya ngerasa kaya anak-anak lagi. Gambar aja dulu nggak tau hasilnya gimana. Tapi kali ini tekadnya cuma satu, saya harus bisa menggambar seperti style yang saya mau. 

Makanya kemarin ketika memberanikan diri upload ke Instagram, saya nggak nyangka responnya baik banget! Sampai terharu! T______T 400 likes dan yang komen banyak banget ya ampun. Link gambarnya bisa diklik di sini ya, jangan lupa follow! (tetep usaha)


Posting gambar itu jadi posting dengan likes terbanyak setahun ini. Semua orang bilang bagus, makasihhhh banget. Saya jadi terpacu untuk terus latihan dan mewujudkan cita-cita masa kecil. Kebayang nggak sih seumur hidup yakin nggak bisa, terus suatu hari dicoba dan ternyata bisa. Ke mana aja saya selama ini, kenapa baru sekarang berani keluar dari penjara ketidakpercayaan diri. *alah*

Belum lagi ini anak manis banget aku sampai berkaca-kaca bacanya hahahahaah I love you geng Cintaku. Yang paling supportive dan percaya sama kemampuan aku. Juga buat JG yang selalu jujur kalau jelek ya jelek, bagus ya bagus hahaha 


Saya nggak tau juga akan gambar apa nantinya. Yang jelas mau gambar terus sampai gambarnya “mateng” aja. Sekarang masih mentah banget. Masih punya peer nemuin style dan ciri khas. Masih panjang perjalanan. :)

*

Oke jadi udah berapa kali saya bilang mau niat melakukan sesuatu? YouTube pernah dan gagal duh ternyata nggak passion amat ngedit video. Syutingnya seneng ngeditnya males. Nanti kalau udah punya video editor baru mau deh YouTube lagi hahaha. Instagram juga pernah niat banget terus udalah nyerah. MALESSSS.

Nggak apa-apa ya kan proses cari passion kedua. Belajar sesuatu yang baru itu seru lho! Selama saya belajar gambar, JG juga belajar main skateboard. Bener-bener belajar dari nol karena seumur hidup nggak pernah punya skateboard.

Seru banget karena tiap hari kami meng-update udah bisa apa, abis nonton apa. Biar punya skill baru kan. Urusan ternyata nanti berhenti ya nggak apa-apa, tandanya memang bukan passion. Namanya juga nyari kan, perjalanan.

Kalau kalian apa? Ada cita-cita masa kecil yang terkubur sehingga sampai sekarang cuma jadi impian? Ayo dimulai! Siapa tau ternyata bisa! Semangat!

-ast-