-->

Image Slider

Buatku yang Lebih Sedih dari Perceraian …

on
Wednesday, August 19, 2026
… adalah pernikahan yang tidak lagi diinginkan.



Lewat umur 35, teman yang cerai udah nggak terhitung lagi. Sana sini banyak sekali.

Udah mulai juga undangan datang atau info syukuran pernikahan kedua. Yang tetap bertahan sendirian karena trauma kapok pada pernikahan sebelumnya juga ada aja. Dan tentu semua tidak apa-apa. Tidak lebih salah ataupun lebih benar.

Good news, at least di lingkungan saya, banyak yang sebelum menikah tidak lagi terburu-buru seperti saat yang pertama.

Sudah lebih paham kalau menikah itu bukan hanya dilamar lalu merasa “sudah jodohnya”. Sudah bukan lagi merasa pernikahan adalah romantisme dua jiwa menjadi satu. Sudah mengerti bahwa pernikahan adalah perkara jiwaku dan jiwamu dengan berbagai pengalaman di masa lalu, bisa mengkompromikan banyak hal untuk jadi sakinah bukan hanya bikin lelah.

Sakinah itu tenang btw. Tentram. Damai. Bikin hati nyaman bukan bikin gelisah.

Tentu, perceraian ini datang dengan berbagai cerita. Paling umum (dan paling bikin mual kalau ceritanya terlalu graphic) tentu saja perselingkuhan. Duh orang selingkuh macem-macem amat yah, dan you know, cerita selingkuh di usia 30-40-an tentu beda dengan cerita selingkuh masa kuliah. Dahlah nggak usah terlalu detail tapi intinya, ya setelah diselingkuhi wajar menurut saya pasangan minta cerai. Untuk apa bertahan berkomitmen dengan orang yang tidak bisa berkomitmen??

Kadang ikut sedihnya sampai kepikiran. Apalagi kalau yang cerai lumayan dekat, dari dapat kabar sampai besoknya suka masih menghela nafas dan bilang sama suami “sedih ya” (maklum, empath ahahahah). Padahal ya logika ini sih bilang “GA USAH SEDIHHH ORANGNYA LEGA ITUUU BISA LEPAS DARI PASANGAN SELINGKUH!” ya benar tapi tetap sedih kaya “hahhh sedih banget kok bisa dipikir baik-baik aja” (ya bisa hahahahahahaha)

Namun! Namun tiap kali dengar kisah cerai, saya selalu juga kepikiran cerita di sisi lainnya: Banyak orang yang udah nggak pengen nikah tapi juga nggak cerai. Bertahan menikah di pernikahan yang sudah tidak diinginkan. Ini nggak banyak sih tapi ada, dan kalau kebetulan dengar, jadinya lebih sedih dibanding dengar berita cerai.

Karena trigger cerainya kurang kuat gitu. Suami nggak selingkuh tapi nggak tertarik sama sekali sama urusan anak. Gimana ya rasanya struggling dengan semua masalah anak sendirian.

Atau nggak selingkuh, urus anak ok banget, tapi support emosi nol, fungsi support system sebagai suaminya nggak ada. Ayah yang baik tapi bukan suami yang baik. Dipikir-pikir ngapain nikah kalau sedih puk-pukin diri sendiri.

Atau suami yang nggak bisa diajak diskusi, ya udah tinggal serumah tapi nggak pernah ngobrol. Diajak ngobrol bilangnya “capek”, dikirim reels lucu nggak komen dan nggak bales kirim. Nikah tapi istri tetap kesepian. IH SEDIH KANNN.

Tetapi kalau dari POV mereka, masa gini aja cerai? Kaya receh banget, shay. Tapi bertahan nikah juga udah nggak pengen. Diajak ke konselor nggak mau karena pasangan ngerasa nggak ada masalah. Setan katanya menggoda manusia dengan hal-hal begini. Mati rasa. Hilang harmonis. Habis rasa untuk terus berusaha.

Duh. Sedih. Sedih. Sedih.

Tetapi sebagai pasangan yang komit bertumbuh bersama, cerita-cerita kaya gini tentu jadi pelajaran berharga. Tiap kali dengar orang dekat bercerai atau ada artis/selebgram cerai, ya kami review, apa ya yang bisa kita lakukan biar nggak kaya mereka? Cerai harus jadi topik sehari-hari. Dibahas kemungkinan penyebab, dibahas hal-hal apa yang tidak bisa ditoleransi lagi.

Ya tentu tidak ada jaminan kami juga akan menikah selamanya ya. We realize that things can change, people can change, and life can shift in a single second, but now we should do our best for this marriage.

Makanya ke konselor rutin, kalau ada big fight mending diem dulu dan langsung book konselor. Terus misal baru dapat slot minggu depan atau 2 minggu lagi pas kondisi udah baikan, TETEP DATENG. Jangan ngerasa karena masalah udah selesai terus jadi nggak butuh bantuan lagi.

Sering nih orang begini. Pas lagi berantem gede, booking psikolog pernikahan, eh terus baikan, ngerasa nggak butuh psikolog lagi. Di-cancel reservasinya. Padahal kalau menurut SAYA, kalau masing-masing udah nggak gampang ketrigger, berantemnya nggak akan jadi besar.

Berantem besar menandakan kamu masih ada masalah yang belum selesai. Yakin nggak masalahnya selesai dan nggak akan keulang lagi? Apa jangan-jangan ketimbun doang itu. Kedistraksi sama kesibukan. Psikolog bantu untuk memetakan masalah dan bantu cari solusi biar nggak keulang lagi.

This marriage is sooo expensive, yet it’s worth the counselor's price per hour hahahahahah

Dan iya sadar banget bisa “kapan aja” ke psikolog ini privilege ya. Punya akses ke psikolog aja privilege, bisa bayar juga privilege. Meski yakin sih, ada juga yang akses ada, uang ada, tapi nggak mau gerak juga.

Kalau belum bisa ke psikolog, menurut saya sih minimal NGOBROL ya. Gigih gitu coba berbagai cara, kalau, kalau memang masih mau mempertahankan pernikahannya sih. Karena ya udah sering bilang dari dulu, menikah itu pilihan, berhenti menikah itu pilihan, bertahan menikah padahal sudah tidak ingin juga pilihan.

Karena kami pun baru bisa rutin ke psikolog ya 5 tahun belakangan lah. Dimulai pasca pandemi kok. Sebelumnya ya kalau ada masalah besar, solusinya adalah NGOBROL. Sama-sama open-minded, tadi aku salah di mana, tadi kamu salah di mana. Salah-salahan pernah, teriak-teriakan pernah, tapi tetep ujungnya kan sama: Komitmen untuk nggak ngulang lagi karena lelah juga lho berantem karena hal yang itu-itu aja.

Berantem karena hal itu-itu aja juga ada tanda yang “belum selesai” di diri kamu sih. Biasanya ketrigger sama trauma. Makanya punya self-awareness, mengenali pattern, dan MAU sama-sama work on it sama pasangan jadi penting banget.

Kalau ngobrol aja udah nggak bisa, gimana ya, jujur bingung karena nggak kuliah psikologi, nggak punya ilmunya euy. Karena “tips” selanjutnya adalah punya mimpi bersama.

Apa sih goal bersama kalian? Saya dan suami sedang suka olahraga, kami gym dan lari bareng. Pengen umroh. Pengen haji lagi HAHA. Pengen punya duit sekian M. Mimpi-mimpi yang jalan sebagai SUAMI ISTRI bukan sebagai orang tua itu penting banget untuk bisa tetap sadar kalau kita tuh pasangan lho, bukan cuma bareng-bareng serumah urus anak doang.

Jadi begitulah. Tulisan ini hadir karena baru dengar lagi satu kawan yang memutuskan bercerai. We wish them the best for their new chapter.

"The bad news is nothing lasts forever, the good news is nothing lasts forever." — J. Cole

:)))

-ast-






LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!