Stop Menyuruh Anak untuk Diam

on
Wednesday, May 3, 2017

Kemarin sore sebelum masuk tol Pasteur, saya dan JG belok dulu ke Borma Gunung Batu untuk ... jajan hahaha. Di situ banyak jajanan dan enak-enak, karena kami belum makan dan takut menuju Jakarta macet, akhirnya beli mie kocok dulu.

Tempatnya model pujasera kecil gitu jadi kami duduk satu meja dengan satu pasangan lain. Si ayah gendong anaknya umur 9 bulanan pake carrier ngadep depan. Mereka makan dengan satu perempuan lain yang tampak seperti temannya si ayah atau si ibu.

Nah si bayi perempuan ini lucu, moodnya bagus, dia hepi dan ketawa-tawa sendiri. Tangannya gerak-gerak terus sambil blabbering. Tiba-tiba ...

"SSTTT! BERISIK!" kata si teman pada si bayi, nyuruh si bayi diam. Bayinya kemudian diam, kedip-kedip doang.

Saya dan JG langsung berpandangan dan berkomunikasi lewat pandangan mata *alah*. Kasian banget masa bayi disuruh diam.

Dan kalau itu Bebe yang disuruh diam, saya akan semprot balik itu orang "MENDING MBAKNYA AJA YANG DIEM!" sebel huhu. Karena nggak ada yang merasa terganggu juga kecuali si mbak nggak jelas itu. Lha kondisinya aja emang rame banget kok.

(Baca: Mendefinisikan Nakal)

Iya dan ini bukan pertama kali kan saya dan kalian liat yang begini. Saya sering banget denger ibu-ibu model begini, anaknya disuruh diam, disuruh jangan berisik, disuruh berhenti ngomong, atau yang paling parah bilang gini ke anaknya "kenapa nanya-nanya terus sih pusing!" HUHUHUHU

Buibu, kalau anak kalian nggak nanya ke kalian maka mereka harus nanya ke siapa?

T_________T

Dan konteks menyuruh anak untuk diam juga bukan hanya saat anaknya lagi ngobrol, tapi ketika anak lagi lari-larian atau lagi main.

Saya ngerasain sendiri karena Bebe itu cukup outgoing dibanding anak seumurannya. Dia persis banget saya dan JG yang sungguh ekstrovert. Dia tipe yang kalau banyak orang maka dia akan caper dan lari-lari tanpa capek.

Kemarin dua minggu berturut-turut ada lamaran keluarga, dan Bebe berjam-jam lari-lari. Skip tidur siang, overstimulate banget sampai malemnya masih energik dan jadi nggak bisa tidur.

Ciri orang ekstrovert banget kan, kalau abis ketemu orang banyak malah jadi makin semangat dan bukannya capek ingin menyendiri kaya orang introvert. Dan yah, semua orang komennya "ya ampun nggak ada capeknya!" atau "itu lari-lari terus kok nggak tidur siang?" ya gimana. Kita membicarakan anak umur 3 tahun loh.

Tidak ada yang salah dengan bayi dan balita terus-terusan ngomong atau lari-larian. Asal tau waktu dan tempat aja kan. Dan itu bisa banget dikondisikan, bilang sejak jauh-jauh hari kalau nanti saat ada acara A, harus begini ya, tidak boleh begini dan begini.

(Baca: Pesan Parenting yang Menohok Diri Sendiri)

Kalau tetep berisik dan lari-larian? Ya bawa keluar tempat acara, bukannya disuruh diam.

Lagian yang harus sadar lokasi itu orangtuanya lah jelas bukan anaknya. Anak-anak mana ngerti ini lagi acara serius maka dia harus diam? Atau dia sebenarnya mengerti tapi dia bosan dan solusinya bukan dibentak. Harus dibilangin terus-terusan, dibilangin baik-baik, jangan disuruh diam.

Sekali disuruh diam, takutnya dia jadi ragu-ragu untuk kembali bicara. Padahal mampu berbicara itu penting. Bisa bikin anak lebih percaya diri, tidak mudah dibully karena dia juga punya suara.

Dan bicara itu penting! Sekadar mendengarkan cerita dia tentang kucing di daycare yang bahkan sudah diulang 100x itu tidak apa-apa. Karena anak HARUS bicara. Dia HARUS bisa mengungkapkan apa yang sedang dirasakan. Jangan batasi suaranya sejak bayi. Apalah arti hidup kalau tidak bisa bersuara.

Jadi tolong, stop menyuruh anak untuk diam. :)

-ast-

💛 PS: Saya lagi bikin mini giveaway berhadiah buku stiker loh. Caranya gampang, cuma tinggal komen di blogpost ini doang: 5 Mainan Favorit Bebe. Ikutan yaaa! 💛
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

4 comments on "Stop Menyuruh Anak untuk Diam"
  1. Sebenernya mampir untuk komen karena mie kocok favorit yang di Gunung Batu itu disebut-sebut. Sekaligus untuk mengamini bahwa semua jajanan di Borma Gunung Batu itu enak-enak. Huhuhu jadi kangen :(

    Biar gak OOT, waktu kecil aku termasuk yang cerewet dan suka nanya-nanya gitu, terus diomongin "Udah anak kecil nggak usah banyak tanya", atau "Anak kecil nggak usah ikut campur urusan orang gede,". Akhirnya kalau ada apa-apa milih diem deh daripada dimarahin, dan sampai sekarang 'dendam', gak suka sama orang dewasa padahal sendirinya udah masuk usia dewasa haha

    ReplyDelete
  2. Anakku kemarin pas makan do warung padang lumayan rewel gara2 panas,biar nggak ngganggu biasanya aku bawa keluar...takut dijutekin mbak2 haha

    ReplyDelete
  3. Setujaaa..kalo anakku sekarang paling ngambek diinterupsi. Jadi kalo dia ngomong kita mesti fokus dl ampe ceritanya beres. Siiipp..

    ReplyDelete
  4. betulll sekali nih artikel, apalagi kalo anak malah makin murung setelah di hardik..makasi infonya bun

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)