-->

Image Slider

Showing posts with label instagram. Show all posts
Showing posts with label instagram. Show all posts

Daftar Alasan Orang Bisa Jadi Selebgram

on
Friday, May 18, 2018
Kalian pernah nggak sih ada di momen lagi scroll Instagram terus nemu satu akun di explore yang entah siapa terus mempertanyakan sendiri "ini siapa sih kenapa followersnya 1juta?" 



Kalau di geng kami, yang paling sering nanya kaya gini itu siapa lagi kalau bukan bankir di Medan sana yang nanya mulu ginian padahal udah sering dijawab hahahahaha. Iya ih mba Windi sering banget tanya "xxx itu siapa sih kok followersnya banyak?" yang mana biasanya saya jawab dengan "ya nggak butuh alasan kan untuk punya banyak followers?"

PADAHAL SEBETULNYA SELALU ADA ALASAN. Yaiyalah, nggak mungkin orang follow orang di Instagram tanpa alasan kan?

Kepo juga alasan loh. Makanya banyak tuh selebgram yang followersnya di atas 100ribu, likes selalu banyak, tapi yang komen beneran cuma 1-2 orang. Ya itu terjadi karena orang follow dia demi rasa kepo aja, di-like biar postingan foto dia tetep muncul di feed aja, udah gitu ya males komen ngapain? Mentok kalau "menarik" banget sih ya di-share via DM ke para sahabat ghibah dunia maya. BUKAN BEGITU? 

Nah kembali ke alasan kenapa orang banyak followers, pertama kita bagi dua dulu berdasarkan visualisasi. Ada yang fotonya memang bagus dan harus bagus karena orang follow KARENA fotonya indah. Yang kedua, adalah orang-orang yang fotonya nggak perlu bagus tapi orang kepo banget sama kehidupannya seperti artis TV atau akun gosip untuk ngomongin artis TV.

Jadi apa alasan orang punya banyak followers di Instagram dan didapuk sebagai selebgram? Btw saya nulis ini dengan bayangan selebgram lokal ya bukan internesyenel.

*makin bawah makin males jelasin hahaha*

CANTIK. Ini ditaro pertama banget karena sesungguhnya kalian nggak perlu punya prestasi, nggak perlu punya skill make up luar biasa, nggak perlu berkarya atau bekerja. Asal kalian cantik dan bisa foto tidak blur, terang berkilau maka kans untuk jadi selebgram lebih tinggi daripada yang punya prestasi dan punya skill TAPI TIDAK CANTIK. Jadi kalau kalian bingung, "ini dia siapa sih kok difollow orang?" jawaban pertama yang paling mungkin adalah "cantik". Demikian. Dan ganteng, ok.

via GIPHY

KAYA. Ya sedikit lebih kaya dari sebagian besar rakyat Indonesia sehingga rumahnya rapi dan Insta-ready, sering traveling, bajunya mahal-mahal jadi desainernya bisa di-tag atau bahkan diundang ke fashion show-nya, punya mobil atau motor unik yang bikin iri, dapurnya rapi dan bersih serta perintilannya bagus jadi siap difoto, share makanan di tempat yang harganya taulah ya, dll. Kalian PASTI follow orang semacam ini. XD

SANGAT KAYA. Ini level berikutnya. Level yang perginya pake jet pribadi, nginep di tempat liburan entah di mana saking jarangnya orang liburan ke sana, makan makanan yang namanya aja baru denger, endebrei, endebrei. Bisa ditemukan dengan hashtag #richkidsofinstagram.

Artis TV, kalau artis TV followers-nya dikit di IG tandanya ya doi emang sekuter aja kali di TV-nya juga ya. Entahlah aku kan tak punya TV lol.

Keluarga artis, kakaknya, adiknya, neneknya, kakeknya, sodaranya you name it. Kalau keluarganya harmonis biasanya sering ngumpul terus di-tag jadi ikut di-follow juga.

Pengasuh anak artis, kaya si Koneng dan Lala lah ya serta siapa itu pengasuhnya anaknya Ashanty? *gak follow lol*

Pemain bola

Kontroversial atau sensasional, bisa karena pake baju terbuka atau kontroversi lain.

Feednya rapi. Terutama feed pastel atau BW sekalian. Plus point kalau cantik.

Foto makanan semua

Sering share resep

Foto MPASI dihias

Modif mobil

Toy photography

Edukatif

Traveler. Plus point kalau cantik. Ya kalau cantik emang jadi plus point di semua bidang sih lol. 

via GIPHY

Rumahnya rapi

Rajin kasih tutorial atau DIY
Anak lucu, ya semodel dengan alasan cantik.

Minimalism scene dan pernah di-feature Instagram lol

Komik/ilustrator

YouTubers. YouTubers hampir pasti punya banyak followers juga di Instagram tapi kalau selebtwit belum tentu. Keajaiban alam.

Agamis atau goals lain dari sisi agama.

Ustaz

Hafiz atau hafizah

Fitness/body shaping
. Plus point kalau cantik. *IYA IYA*

Inspiratif. Ya macam @grace.melia gitu lol

Dancer dan suka share video cover dance dengan lagu ngetop.

Profesi apapun yang berseragam. Ini harus ganteng atau cantik sehingga jadi polisi cantik atau satpam ganteng.

Binatang peliharaan lucu dengan foto artistik. Plus point kalau ownernya cantik DAN kaya.

Pacarnya mereka-mereka yang di atas ini.

DAN KALAU BELI FOLLOWERS LOL. Bisa dicek di socialblade.com untuk cek apakah doi terduga beli followers atau nggak lol.

Apa lagi coba ada yang mau nambahin? Jangan bingung lagi ya kenapa orang bisa jadi selebgram!
-ast-




Uang, Kontrol Diri, dan Instagram

on
Monday, October 30, 2017

Saya tuh kalau udah nulis satu topik pasti jadi gatel pengen nulis ituuu terus nyambung karena jadi kepikiran mau nulis dari angle lain. Kadang bisa juga karena baca komen terus langsung aha! moment gitu karena bisa jadi ide tulisan baru.

Nah kali ini, trigger tulisannya dari komen Maya Rumi di postingan Mengatur Keuangan Keluarga:

"mbak nisa gimana caranya menahan diri untuk tak tergoda dengan liburan? mbak nisa sering banget nih blg di blog,, sharing juga dong mbak tips n trik-nyaa"

Sebenernya jawabannya sederhana banget: uang.

Saya pernah baca quotenya siapa gitu bahwa kontrol paling besar itu ada di uang. Bisa didefinisikan sebagai uang bisa dapetin segalanya termasuk kekuasaan, tapi bisa juga diartikan bahwa kontrol paling gampang itu sebenernya uang.

Kami punya prioritas yang kami anggap lebih penting daripada liburan. Kami memang nggak mengalokasikan uang buat liburan sama sekali. Kan banyak tuh yang alokasi liburannya dari bonus kantor, kami dapet bonus paling belanja dikit terus 80% pasti masuk dana pendidikan Bebe.

Bukan nggak tergoda sama sekali loh ya, mau bangeeett. Tapi realistis aja, punya uang nggak banyak, jadi mesti bulatkan tekad, uang segini mau buat apa?

Saya nggak mau pulang liburan terus malah nyesel, pulang liburan terus sedih lihat uang yang kepake, apalagi pulang liburan terus malah jadi punya utang. Makanya saya sih so far belum tertarik sama cicilan 0% buat liburan. Nggak masuk buat saya, liburannya seminggu bayar utangnya setahun? Kalau masuk buat kalian sih nggak apa-apa hahahaha.

Dan urusan uang zaman sekarang ini dipengaruhi Instagram banget loh! 💸

Emang kampret ya Instagram ini. Dulu liat orang liburan di Facebook biasa aja kayanya, nggak jadi iri atau apa. Coba sekarang, seberapa banyak dari kalian yang jadi mau beli lipstik Make Over gara-gara postingan saya kemarin?

ITU BARU LIPSTIK.

Belum liat foto orang-orang liburan dan pake quote bahwa jadilah traveler jangan jadi turis, keliling dunia biar lebih menikmati hidup lalala, hidup sederhana yang penting bisa backpacking keliling dunia, bucket list pengen ke sekian negara blablabla.

Pokoknya orang yang nggak pernah liburan dan nggak keliling dunia itu pengalamannya kurang. Instagram jadi salah satu motivasi orang untuk liburan biar nggak stres dan terjebak rutinitas.

YAK SEKALI LAGI: GUE REALISTIS AJA SIH. *GETOK*

Saya sama JG kerja, nggak bisa cuti lama-lama. Kalau punya uang ya masih punya prioritas yang lain. Kalau ada waktu luang, udah capek banget ngurus rumah jadi ya tidur seharian aja atau makan di luar udah bikin happy banget. Remeh. Plus kami berdua nggak stres di kerjaan dan tidak merasa terjebak rutinitas jadi ya kalem aja.

Tapi kan ada ya yang emang seneng banget jalan gitu. Seneng banget traveling jadi rela melakukan apa aja demi bisa keluar dari rutinitas. Ya nggak apa-apa, tandanya kalian udah tau prioritas kalian buat apa.

Intinya liburan aja KALAU DUITNYA ADA DAN TIDAK MENGGANGGU POS LAIN APALAGI KALAU PUNYA ANAK. Itu doang.

*Atau jadi wartawan travel atau tekno lah, jalan-jalan terus pasti hahaha*

Kalau kita pikirkan baik-baik, masalah uang ini arahnya ke masalah self control dan self acceptance.

Kalau kata Wikipedia, self control itu cara untuk mengatur emosi, pikiran, dan perbuatan. Ya udah kalau gitu aturlah gimana caranya biar uang yang ngontrol emosi, pikiran, dan perbuatan kita. Terdengar salah ya kok kita dikontrol uang. Tapi bener kok.

Oh kalau nggak punya uang maka jangan gampang panas liat orang beli tas branded, oh karena gaji emang nggak cukup buat keliling Eropa ya unfollow orang yang liburan terus.

Karena Instagram ini bikin nggak terkendali banget. Bikin orang gampang ngerasa inferior, bikin orang ngerasa hidupnya kurang UANG terus hanya karena membandingkan dengan hidup orang lain.

Urusan rumah aja. Wihhh banyak banget yang rumahnya bagus-bagus, jadi pengen ke Ikea, bela-belain jauh-jauh ke Ikea demi foto di lorongnya dan bisa foto-foto rumah untuk seterusnya.

Belum urusan baju, ih pengen baju itu soalnya dipake si A bagus banget. Urusan masak aja sekarang harus pake properti, MPASI harus dihias, dan liburan laahhh biar feed nggak dalem ruangan terus dan ada biru-birunya langit. Pokoknya itinerary harus ke tempat yang Insta-worthy!


Kontrol diri kalian. Kalau udah ngerasa gitu terus, unfollow orang-orang yang bikin kalian iri atau delete aja Instagramnya sekalian. Toxic.

Kalian tau lah, saya juga dulu pernah gitu kok tapi terus capek. Dan kalau saya “diperparah” sama blog kan. Jadi seolah karena blog banyak yang baca, saya ngerasa Instagram juga harus banyak yang follow dong! Kok bisa blog dibaca puluhan ribu orang tiap bulan tapi followers Instagram 2ribu terus!

Tips sana-sini juga bilang tentang niche blog lah, niche Instagram lah, seolah dari Instagram saya bisa kaya. Iya bisa kalau lo Karin Novilda, nggak semua orang bisa kan padahal. Naif banget sih kalau mikir semua orang bisa. Karena banyak yang foto Instagramnya bagus banget tapi followers cuma dikit. Jadi ada faktor luck banget.

Belum lagi di komunitas atau group blogger itu pasti pernah bahas tips optimasi Instagram. Saya seolah jadi merasa "wah iya kalau jadi blogger harus optimasi Instagram juga dong". PADAHAL MAH KAN KATA SIAPA HARUS YA NGGAAAKKK?

Citra diri saya bergabung antara cerita di blog dan foto Instagram. Sampai pada bilang weh annisast yang di blog judes itu ya (well maaf deh kalau yang ini emang di dunia nyata juga hahaha), annisast pasti kaya ya di stories kerjanya ngemall terus, annisast makan siang aja di Plaza Senayan, annisast posting make up terus pasti koleksi make upnya banyak banget deh, annisast bayar daycare mahal gitu pasti gajinya gede lalala.

Ini saya tau dari komen-komen dan temen-temen yang ngomong langsung. Padahal nggak ngerasa uang saya banyak sih kok bisa orang nganggep gitu? Setelah saya pikir-pikir oh itu karena saya cenderung posting KELEBIHAN dan tidak posting KEKURANGAN.

(Baca lengkap obsesi saya pada Instagram di sini: Dear Ibu-Ibu Instagram)

Kalau makan sushi di PS baru deh masuk Instagram, kalau makan di Pujasera belakang kantor ya nggak. Kalau kebetulan pake baju branded aja, difoto deh terus ditag brand-nya di Instagram, kalau nggak branded ya nggak foto.

Sampai beli lensa baru yang bokeh demi feed. Properti dan lighting juga lengkap segala rupa. Stok foto make up tiap weekend biar seminggu ke depan aman.

Who am I trying to impress?

NOBODY. Pengen keliatan keren aja di Instagram dan ngapain sih sebenernya ya? Seru sih stok dan susun foto, saya masih merasa itu seru TAPI CAPEK IH. Dulu saya nggak ikut CFD sama JG dan Bebe biar saya bisa foto-foto di rumah, tapi wahhh sekarang mending keluar ya nemenin Bebe main sepeda.

Prioritas uang bisa dirapikan, tapi prioritas waktu sih bullshit. Pernah saya tulis di sini: Karena Saya Tidak Percaya Prioritas.

Bodo amat Instagram nggak punya stok foto cantik. Bodo amat followers nggak nambah-nambah. Saya udah di titik itu hahahaha. Dulu sih terlalu semangat. Anaknya gitu, kalau lagi semangat semangat banget, begitu bosen ya udah bye.

Jadi ya sekarang saya kalem aja, kalau ada temen yang berpotensi bikin iri tapi nggak mau unfollow, jangan di-like biar nggak nongol lagi di timeline. Jadinya saya jarang scroll timeline, upload kalau lagi pengen aja, nggak lagi ngotot tiap hari. Foto-foto pake kamera sih tetep, cuma ya nggak sering diupload.

Ya sebagai blogger sih ngaruh ke personal branding ya. Karena jarang foto cantik ya jarang ditawarin produk make up. Kemarin masih ditawarin tapi sayanya udah males ngeluangin waktu. Ya udalah toh penghasilan utama kan masih gaji.

Karena ini udah menyangkut self acceptance.

Penerimaan diri ini bukan hanya soal fisik, tapi juga pencapaian hidup, dan kondisi keuangan! Instagram bikin self acceptance acak-acakan bagi pribadi yang kurang kuat keimanannya. Saya ternyata di antaranya. Buktinya gampang banget tergoda beli sesuatu cuma karena liat orang pake di Instagram. KESEL. -_______-

Instagram udah layak ditinggalkan banget kalau kita jadi malah sibuk mempertanyakan, kok dia di foto cantik sih pasti karena lighting bagus dan kamera mahal, kok dia udah bisa beli ini itu padahal mulai kerja di tahun yang sama, kok dia uangnya banyak sih tasnya mahal-mahal terus. Kok orang punya uang ya?

Padahal sebagian mungkin karena mereka adalah orang-orang kaya saya, yang posting lebih-lebihnya terus. Dulu saya pernah nulis sih, ini waktu belum terobsesi Instagram: Karena Hidup Tak Seindah Foto Instagram.

Sekarang saya berusaha realistis aja. Kalau nggak punya uang ya bilang nggak punya uang, kalau pusing nulis caption yang nggak usah jadi browsing quote orang hahaha, kalau nggak punya foto ya nggak usah upload. Di blog juga sama. Kalau nggak pengen nulis ya nggak usah. Kalau mau sedih ya nulis sedih, jangan kaya dulu kayanya sempurna banget sampai jarang sedih apalagi ngeluh nggak punya uang di blog hahahaha.

Kembali ke masalah tergoda liburan: waktu cuma punya segini, uang cuma punya segini, fokus pada tujuan yang REAL. Jangan kebanyakan liat orang liburan di Instagram!

Itu aja sih. Gimana menurut kalian?

-ast-




7 Hari Tanpa Instagram

on
Wednesday, July 26, 2017
[TL;DR] Saya terlalu banyak membuang waktu untuk Instagram. Kemudian saya tobat. Tulisan ini terlalu panjang jadi kalau kalian males baca, intinya itu hahahaha.


Yang kenal saya pasti tahu saya anaknya selalu berorientasi angka. Yang paling dipelototin sih page views blog ya, yang mengantarkan saya mendapat tambahan 1juta views hanya dalam 3 bulan, dengan total 3 juta views selama 3 tahun saja. Hanya angka, tapi bikin bahagia karena tulisan-tulisan saya ternyata banyak yang membaca. :)

Karena sejak dulu, social media adalah tempat main yang sangat menyenangkan. Tempat utama untuk mencari informasi. Saya tidak lepas social media sejak era Friendster. Bahkan sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa saja, saya tetap eksis di Friendster pakai Opera Mini di Blackberry. Dulu, hampir 10 tahun yang lalu.

Tahun-tahun berikutnya dilalui dengan keluhan-keluhan tentang kuliah di Facebook. Tak lama langsung pindah ke Twitter dan resmi jadi AnakTwitterTM yang selalu mengeluh lelah karena banyak alay di Facebook. Terus yang kurang penting bangsa Foursquare demi jadi mayor doang ya amponnn.

Beberapa tahun kemudian Instagram muncul exclusively di iOS dan saya langsung punya lah! Namanya juga anak socmed! Tapi baru 3 bulan belakangan saya jadi peduli pada followers Instagram, meniatkan diri posting setiap hari, memperbaiki kualitas foto, menulis caption panjang dan bercerita karena sebelumnya bahkan saya jarang memberi caption. Keseriusan yang ditandai dengan followers naik 1000 lebih hanya dalam 1 bulan. Padahal sebelumnya hanya punya 2000 followers dalam 5 tahun. (sad lol)

Kemudian kalau sedang ada sponsored post maka saya jadi peduli pada reach Facebook, impression Twitter, dan banyak lagi. Ditambah saya yang rutin nge-blog, praktis social media jadi perpanjangan blog.

Lama-lama lelah.


Dan meski banyak orang yang menolak bermain di social media karena takut di-judge, saya sendiri sebetulnya tidak. Saya selalu menganggap internet adalah tempat yang bebas bertanggungjawab. Saya punya argumen, kalian punya argumen.

Saya tidak pernah memaksakan pendapat saya pada siapapun, dan jangan pula memaksakan pendapat pada saya. Lagian masa semua orang harus sependapat sih, kan serem ya. Judge saya semau kalian dan saya tidak akan terganggu.

Yang kenal saya sejak dulu di Twitter mungkin tau saya pernah dapat banyak sekali ancaman pembunuhan dalam beberapa hari di Twitter dan disuruh bunuh diri hanya karena saya menulis video klip sebuah boyband "biasa saja". BIASA SAJA BUKAN JELEK HHH.

Dan saya tidak kapok. Ternyata yang bisa bikin saya berhenti main-main socmed adalah diri saya sendiri. Saya sendiri kaget.

Dan ya, biang keroknya adalah Instagram.

Saya bahagia melihat feed Instagram saya dan masih bahagia sampai sekarang. Saya senang menyusun foto agar nyambung satu dengan lainnya, dengan sebelahnya, dengan atas dan bawahnya, seperti main game saja. Saya senang mengedit foto agar terlihat “lebih Instagram”.

Iya karena foto Instagram itu punya karakteristik sendiri loh makanya muncul istilah Insta-worthy atau Instagram-able. Bukan semata karena dindingnya cantik atau makanannya lucu, tapi komposisinya yang membuat sebuah foto menjadi sesuai dengan karakter Instagram.

Contoh paling sederhana, foto dramatis yang jadi headline koran belum tentu sedramatis itu saat di-upload ke Instagram. Sebaliknya, foto flatlay dengan bunga mint dan aksesoris emas belum tentu cocok untuk halaman koran yang kebanyakan hitam putih. Di situ menyenangkannya Instagram.

Yang jadi masalah bukan obsesi saya pada feed, tapi obsesi saya pada foto-foto di timeline! Sungguh membuang-buang waktu.

Naturally setiap beberapa menit saya membuka ponsel dan otomatis mencet icon Instagram kemudian scroll dan cek stories. Itu jadi habit dan menurut saya bukan habit yang baik. Ya kecuali followers kalian 2juta orang dengan penghasilan dari Instagram ratusan juta rupiah dalam seminggu ya.

Scrolling Instagram menyita waktu sangat banyak dan saya tidak mau seperti itu. Saya tidak mau terobsesi. Saya tidak mau bangun tidur dan yang pertama kali dilakukan adalah cek notifikasi Instagram. Saya tidak mau lagi sedih karena jumlah followers berkurang.

Karena ya, Instagram adalah Instagram. Saya cerita sebaik dan semenarik apapun maka akan hilang di timeline orang dalam beberapa hari. Sebagus apapun kontennya, tetap akan sulit dicari setelah beberapa hari, archiving-nya tidak sebaik blog kan.

Sejak “serius” di Instagram saya juga jadi menyalakan notifikasi. Notifikasi komentar dan direct message. Awalnya saya senang karena wow banyak yang appreciate ya! Kesenangan yang hanya bertahan 3 bulan saja.

Lama-lama saya terganggu. Karena notifikasi membuat saya merasa ada urgensi membalas secepatnya dan sekali lagi, saya tidak mau seperti itu. Itu tidak baik, Instagram bukan prioritas. Berkali-kali saya sugestikan itu pada diri sendiri.

Saya juga terpaksa harus mengakui kalau saya (merasa jadi) oversharing, Padahal dulu saya adalah barisan orang yang menolak mengamini bahwa saya berlebihan menggunakan social media. Saya beberapa kali bilang bahwa yang saya tulis di blog itu hanya kulitnya saja.

Orang bahkan tidak pernah tahu nama daycare Bebe, lokasi, atau bahkan nama lengkapnya. Ya di saat orang membuat hashtag dengan nama lengkap bayi, saya bahkan sampai sekarang tidak pernah mempublikasikan nama lengkapnya. Dan waktu itu saya merasa berhak bilang saya tidak oversharing.

Tapi lama-lama toh saya berubah. Apalagi stories yang tidak menuntut foto bokeh dengan editing indah. Makan apa di-share, minum apa difoto dulu, sedang di mana juga difoto.

Mau apa sih sebenernya?

Saya mulai mempertanyakan diri saya sendiri. Saya jadi merasa lebih dekat pada hidup orang tapi makin asing pada hidup sendiri.



*

Di antara kalian pasti sekarang ada yang berpikir oh itu gejala FOMO alias Fear of Missing Out. Bisa ya bisa tidak tergantung definisi FOMO-nya.

Kalau kalian perhatikan, saya malah jarang ikut-ikutan komentar hal yang sedang ramai. Buat saya FOMO itu ketika ada sebuah topik ramai dibicarakan orang, maka kita ikut juga membicarakannya baik di status atau pun di komentar karena takut dianggap ketinggalan. Atau ketika ada sesuatu yang sedang hits, langsung ingin ikut juga punya atau membeli.

Saya tidak. Saya belum pernah mengantri berjam-jam demi makanan, saya tidak pernah ikut komentar apapun yang sedang ramai di social media melalui status atau komentar, saya tidak pernah ikut menggunakan kata “kekinian” hanya karena kata itu sedang tren. Ya tau sendirilah anaknya suka sebel kalau mainstream, so does it count as FOMO?

Yang saya takutkan itu sebenarnya tidak ada! Saya hanya senang melihat-lihat foto orang, apalagi foto yang aesthetic dan dipikirin banget gitu bukan foto asal. Saya senang buka-buka profile orang dengan foto bagus dan mengira-ngira dia pakai filter apa dan editnya gimana.

Instagram jadi procrastinate yang sangat berlebihan.

Siang itu akhirnya saya kesal karena mendapat tangan saya sekali lagi membuka ponsel HP dengan tidak sadar dan scroll timeline Instagram. Saya tutup aplikasi itu dan saya delete. Tak pikir panjang saya juga delete Twitter dan Facebook.

Padahal saya jarang sekali buka Facebook. Dari urutan keseringan membuka dan memposting sesuatu, saya paling sering buka Instagram, kemudian Twitter, baru Facebook. Tapi ketiganya saya hapus karena saya takut kalau saya hanya menghapus Instagram, saya akan tetap terjebak di ponsel dan kembali scrolling. Membuka Facebook atau Twitter.

Saya menghapus Instagram tepat di posisi post saya 999 posts, nggak sengajalaahh ngapain sengaja. Saya tidak pasang target kapan akan kembali, pokoknya saya ingin mereka tidak ada di ponsel saya dulu untuk sementara waktu. Saya bilang JG bahwa saya capek ketergantungan social media dan dia cuma ketawa aja. Saya bilang saya ingin sendiri dulu.

Karena selain urusan terobsesi juga ada peer pressure. Tapi soal peer pressure ini kita ceritakan lain waktu ya. :’)

Jelas ada juga unsur peer pressure karena kalau nggak mah pasti kita semua hanya selfie sekali lalu langsung upload kan? Ini nggak. Selfie dulu yang banyaaakkkk baru kemudian dipilih yang menurut kita paling bagus. Yang idungnya keliatan agak mancung, yang pipi keliatan agak tirus, yang mata keliatan nggak sayu. Capek banget kaya gitu.

Dulu saya sama sekali nggak punya masalah self esteem dan pede-pede aja sama diri sendiri. Sekarang? Perasaan sih masih pede, tapi kok ya pilih foto diri sendiri aja lama, edit sana sini dulu biar nggak keliatan gendut blablabla. Yang kaya gitu masih ngaku percaya diri? Tsk.



*

Siang itu dilalui dengan santai karena toh sambil kerja. Mau share apa? Foto kubikel?

Malamnya kami ke UGD karena Bebe diduga cacar dan di sini cobaan sebenarnya dimulai. Saya ingin sekali share! Sampai deg-degan karena saya ingin share Bebe yang sungguh lucu pakai konstum Gecko PJ Masks sambil diperiksa dokter. Saya ingin ambil video dia berpose Super Gecko Muscle di depan apotek rumah sakit. Dan banyak lagi. Tapi saya bertahan.

(Baca cerita cacar air Bebe di sini)

Saya foto dia, saya videokan, tapi tidak saya share di mana-mana. Mau share di mana? Aplikasinya pun tak punya. :)))

Dan itu terjadi sampai dua hari berikutnya, tangan saya masih otomatis meng-unlock ponsel dan langsung memencet icon tempat sebelumnya Instagram berada. Icon itu bergeser menjadi Line yang sebelumnya ada di sebelah Instagram. Berulang kali dalam sehari saya melakukan itu, tidak sengaja memencet Line karena menyangka itu Instagram. I am THAT addicted.

Dalam dua hari itu banyak sekali yang ingin saya share, apalagi kami cuti dan di Bandung. Saya nonton Kick Andy dengan bintang tamu Doni ‘Animal Defenders’ dan Davina ‘Garda Satwa’. RASANYA INGIN SEKALI NGE-TWEET! Tapi saya bertahan. Otak saya otomatis meramu kalimat apa yang seharusnya saya tweet. saya akan tulis ini, kemudian reply dengan ini sambil mention si anu, dan seterusnya. Gila ya udah lebih dari 48 jam dan saya masih nggak inget kalau saya tidak perlu share

Saya akhirnya membuat dua jalan keluar:

📱 Pertama, bertahan tidak membuka ponsel sama sekali. Ketika otak saya otomatis meminta tangan membuka lock, ia langsung mengirim sinyal bahwa yang dicari tidak ada. Maka saya simpan HP dan melakukan hal lain, bermain dengan Bebe, menulis, nonton, apapun. Saya menjauhkan diri dari HP and it’s too damn hard. Saya sangat tergantung pada HP saya dan segala isinya sehingga memaksa berpisah menjadi sangat membingungkan.

📱 Kedua, ketika saya tidak tahan lagi maka saya buka HP dan membuka aplikasi lain. Saya punya satu folder khusus aplikasi news publisher yang biasanya saya pakai kalau sedang mengikuti satu kasus. Baca kronologi berita dari apps itu enak banget loh btw.

Cuma ya saya nggak pernah juga out of the blue buka cuma mau cek headline. DAN ITU SAYA COBA LAKUKAN KEMARIN. But no fun HAHAHA. Akhirnya back to basic, saya buka BuzzFeed dan BoredPanda, sampai saya sadar kalau saya tidak butuh Facebook karena 90% yang saya lakukan di Facebook adalah membaca BoredPanda dan BuzzFeed. LOL

Kondisi ini hanya tiga hari pertama, hari keempat saya mulai terbiasa tidak otomatis membuka HP tanpa sadar. Saya mulai melakukan hal lain, saya mulai sadar kalau tanpa Instagram setiap 5 menit, hidup saya akan baik-baik saja. Mengecek Instagram sehari hanya 2-3 kali sehari pun tidak akan tertinggal apapun karena Stories bertahan 24 jam kan.

*

Hidup tanpa Instagram, saya jadi teringat salah satu ekspat Australia di kantor yang tujuan hidupnya adalah traveling. Dia kerja di kantor saya setahun, jajan di kantin karyawan yang murah meriah, ke mana-mana naik ojek, kost di belakang kantor yang kurang layak demi menabung untuk keliling Indonesia di tahun berikutnya. Surprise-nya bagi saya adalah, dia tidak punya akun social media dan tidak menulis blog tentang perjalanannya. Padahal usianya lebih muda dari saya.

Belum lama ini juga saya nyeletuk ke temen kantor yang juga terobsesi feed Instagram “eh temen gue keliling Eropa tapi foto Instagram-nya sedikit, sayang banget ya!”

Dia spontan bilang “iya ya”. Terus merenung berdua lol.

THEY’RE MAKING MEMORIES, NOT CREATING INSTAGRAM FEED.

Kenapa kami yang bingung coba?

Contoh real yang nggak pernah saya lakukan tapi selalu saya maklumi: nggak apa-apa banget dateng ke suatu tempat demi Instagram, nggak apa-apa banget ngantri makanan hits juga demi Stories, tidak masalah jalan-jalan hunting foto untuk Instagram sampai bawa properti ke manamana. Nggak apa-apalah masa dilarang atau dinyinyirin, ya tujuan orang kan beda-beda.

Saya merasa salah karena ketika ada orang (well, orangnya millennials) yang ternyata TIDAK pernah melakukan itu maka saya menganggap dia “wow kok bisa!”.

Kenapa saya maklum ketika orang mau ribet demi Instagram tapi saya tidak maklum ketika sebaliknya? Kenapa saya tidak mempertanyakan orang mengantri cheesecake dari subuh tapi saya mempertanyakan orang asing yang keliling Indonesia tanpa meng-upload foto?

Saya tidak boleh seperti itu.



Di hari keempat saya sempat upload satu foto karena ada hal yang tidak bisa saya ceritakan di sini (YAELAH), intinya saya kasih a quick update dan ternyata ada juga yang dm saya nanya saya ke mana. Saya hanya upload kemudian saya hapus lagi Instagramnya. Dalam kondisi terharu banget sih huhu masih dicariin orang sementara sayanya kabur tiba-tiba. T_____T (maap kadang emang halu)

Hari ketujuh saya sudah tidak otomatis membuka lock dan mencari icon Instagram. Dan tanpa sadar, pikiran saya lebih tenang karena saya tidak terlalu banyak berpikir untuk orang lain. Saya jadi punya waktu jauh lebih banyak untuk diri sendiri.

*

Sebelumnya saya tidak pernah berhenti berpikir. Pikiran saya berjalan terus dan mencatatnya. Misal saya punya ide apa, biasanya langsung diolah jadi draft kasar blog, caption instagram atau minimal tweet. Jika panjang maka ditulis dulu di notes, jika pendek maka langsung di-tweet.

Tapi sekarang karena pilihannya notes saja, pikiran selintas tetap jadi selintas, bukan lagi langsung diolah untuk dikonsumsi publik. Dan itu bikin saya lebih damai. Bikin pikiran saya beristirahat.

Mbak Mira Sahid pernah bilang intinya "kamu kok kaya kebanyakan mikir?" Iya. Saya mikir terus. Saya nggak pernah berhenti mikir, makanya saya nggak pernah habis ide untuk blogpost, dan itu capek, capek sekali.

Sekarang saya sedikit mengerti apa yang terjadi dengan Michelle Phan, apa yang terjadi dengan Jesse dan Jeanna ‘BFvsGF’. Iya padahal masih jauhhhh, padahal saya masih sebutir kecil debu dibanding Michelle yang sebesar bulan (naon). Maka sebelum saya separah mereka dan benar-benar kabur dari kehidupan maya, saya lebih baik menguranginya dari sekarang.

Internet terlalu luas, jauh lebih luas dari yang bisa kita genggam, jauh lebih dalam dari yang bisa kita lihat. Itu yang membuat saya jadi bingung sebanyak apa yang sebenarnya sanggup saya pikirkan. Saya berpikir terlalu banyak.

*if that makes any sense*

Saya juga nggak akan sok nasihatin, “makanyaaa jangan gitu-gitu amat lah di socmed”. Ya mau gimana-gimana juga terserah orangnya lah. Ini yang bermasalah diri saya, nggak berarti orang akan punya masalah yang sama juga. Saya punya masalah dengan membagi waktu, nggak berarti orang lain akan punya merasakannya juga.

Begitulah.

Jadi ambisius itu capek ya. Hahaha. Mana ambisiusnya di segala lini kehidupan pula. Udalah istirahat dulu ya. Saya jelas tidak akan lagi tiap hari upload foto di Instagram, kalau blog sih sebisa mungkin masih tetap akan di-update ya meski tidak sesering dulu. Saya senang kok sharing di sini, dengan segala suka dukanya hahaha.

Jadi itulah ceritanya kenapa saya menghilang seminggu hahaha. Pada kangen dong biar saya semangat lagi HAHAHAHA. Have a nice day!



-ast-





Dear Ibu-ibu Instagram

on
Wednesday, April 26, 2017

Dear ibu-ibu masa kini, rekan-rekan sejawatku di jagat Instagram,

Berat ya jadi ibu zaman sekarang. Malam-malam sepi, bosan sendirian pumping atau menyusui, hiburan satu-satunya adalah social media. Apalagi yang bisa dilakukan dengan sebelah tangan?

Scroll, scroll, scroll Instagram.

Ah lucu juga kalau foto pake ini, beli ah! Klik bookmark, pindah ke aplikasi marketplace. Search barang yang tadi, ada!

Cek beberapa toko untuk perbandingan harga. Klik wishlist, gambar hati pun jadi merah, masuk ke dalam daftar keinginan yang entah kapan bisa selesai dibeli semua. Pas gajian aja deh dibayarnya!

Ingat! Cek dulu harga di marketplace sebelum beli di online shop Instagram karena biasanya lebih murah! Kecuali kalau emang cuma jual di Instagram ya.

Betapa Instagram membuat standar punya bayi dan balita jadi berubah ya.

Kok anaknya si A bajunya lucu-lucu banget, kok anaknya si B udah berenang di spa bayi sih, kok anaknya si C kursi makannya gemes! Mau!

Kalau dipikir-pikir mau untuk apa ya. Mau karena butuh atau mau karena ingin foto juga di Instagram?

Ah kalau ini saya juga nggak bisa ngeles, iya ngaku salaahhh. :)

(Baca: Alas Foto untuk Instagram | Serba-serbi Ring Light Demi Instagram!)

Seberapa sering kita bela-belain beli barang yang sebetulnya tidak perlu kalau saja Instagram tidak ada?

Iya sih sejak dulu juga ibu-ibu sudah mendandani anaknya. Tapi seberapa besar pressure Instagram terhadap kelangsungan uang belanja kita?

Baju lucu dengan print limited edition, milestone card yang sebetulnya bisa dibuat sendiri, berbagai baju dan kostum yang hanya bisa dipakai sekali kemudian masuk lemari, selimut motif yang mahal padahal anaknya nggak terlalu suka, bibs gemes yang malah sayang kalau kena kotor makanan, endebrei endebrei.

Kemudian handphone jadi tidak cukup lagi untuk foto. Mulai browsing kamera mirrorless, mulai browsing lensa. beli properti foto yang mana emang dikeluarinnya buat properti doang nggak bisa dipake apa-apaan lagi maakkk. Sekotak tuh ngejugruk di rumah.

Iyaaa, di rumah saya. Hahaha. Mana nih yang samaan juga, tos dulu sini gandengan sama-sama biar kaya pager betis demo. :')

*Btw mending kalau buat foto anak, lha saya banyakan buat foto diri sendiri. :))))))*

Belum lagi kepanikan ulang tahun. Bikin apa yaaa? Custom dan pake tema dong ya biar lucu. Biar lucu kalau apa? Kalau difoto hahahaha. Browsing Pinterest, DIY atau bayar orang. Sama aja. Yang puas bikin sendiri hebaatt, yang mending bayar juga nggak apa-apa lah. Yang penting jadi ya nggak?

Yang lebih penting apaaaa? Yang penting bagus difoto hahahaha.

Belum lagi masa-masa MPASI yang sungguh menyiksa bagi ibu-ibu bekerja dan tidak suka ke dapur kaya saya. Boro-boro dibentuk dan dihias pernak-pernik Daiso, masakan saya dimakan aja udah untung banget. Kebanyakan malah weekend makan buah doang, biarkan gizi seimbang dijaga oleh daycare lol.

Tertekan karena ibu-ibu lain begitu banyak waktu dengan hias MPASI? Unfollow aja kelaarrr. Sekarang sih karena udah lewat masa-masanya, saya santai aja sama yang suka upload MPASI dihias. Malah ngerasa ih lucu-lucu banget sih. Dulu mah sebal hahahaha. Merasa gagal, merasa nggak mampu, padahal nggak berusaha juga. Ya maklum ya, beralasan lebih gampang dibanding bertanding. Apeu lol.

Tapi katanya segala sesuatu akan lebih ringan kalau kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Tidak semua orang perlu punya hal yang sama bukan? :)

IYAAAAA. Kalau mulai merasa terganggu, iri, atau malah menimbulkan lubang dalam hati maka unfollow.

...

Ujar saya yang nyinyirin artis Instagram aja jadi blogpost nyahahaha. Becanda doang kok itu gengs, serius, tapi nggak serius saya iri atau apa. Nulisnya aja sambil ketawa-tawa. Lucu-lucuan aja menyuarakan hati ibu-ibu yang mungkin ingin cari temen, oke yaaa? YAAAA.

(Baca: Tentang Hidup Sempurna Artis Instagram)

Jadi sekali lagi, rekan sejawatku di Instagram, tidak apa-apa kok beli barang lucu-lucu demi foto bagus. Tidak apa-apa juga terobsesi dengan feed Instagram demi kebahagiaan hakiki. Tertawalah dan anggap menata feed adalah komedi. Lucu-lucuan aja, jangan dibikin stres apalagi dibikin utang. Olrait?

Jangan lupa, kita bisa iri pada feed orang, tapi bayi kita tidak. Ia tidak akan protes kenapa bibs bayi sebelah motif geometrisnya lebih bagus dibanding bibs dia yang gambar kartun biasa.

Ya, akan ada masanya dia membandingkan barang dengan barang temannya tapi nanti. Nanti sekali beberapa tahun lalu. Dan ketika masa itu datang, ia mungkin sudah tidak mau difoto sambil ditata dengan properti.

Saya ngaku salah. Bukan untuk Bebe tapi untuk saya sendiri. Entah seberapa banyak barang yang saya beli hanya karena Insta-worthy. Entah kapan saya akan berhenti. Yang jelas untuk saat ini, feed Instagramku adalah kebahagiaanku. :))))

Sampai jumpa di Instagram! Foto noise jangan di-upload ya!

Follow saya juga dong @annisast. HAHAHAHA MODUS KAPANPUN DI MANA PUN!

With love,
-ast-
yang baru beli lensa Cina murah meriah demi feed Instagram yang lebih baik 😂😂😂




5 Akun Resep Masakan Wajib Follow di Instagram

on
Wednesday, April 19, 2017
[SPONSORED POST]

Siapa yang hobi follow akun makanan di Instagram? Sayaaa. Selain follow food blogger, saya juga suka mantengin akun-akun resep masakan. :)


Instagram itu menyenangkan sekali ya! Meski banyak yang masih suka-suka gue (which ya terserah juga sih lol), saya sendiri sih nikmatin banget liat foto-foto bagus di Instagram.

Iri banget jadinya kalau liat sesama ibu-ibu yang fotonya bagus-bagus banget. Apalagi akun resep masakan. Pertama saya nggak bisa dan terlalu males untuk masak jadi iri lah tentu, yang kedua kenapa fotonya profesional banget! Sebel! Aku iri! Aku butuh kamera baru! *modus* lol

Ibu-ibu yang share resep di Instagram kan sebenernya banyak banget ya. Tapi ya gitu, rata-rata cuma foto tampak atas dengan alas foto. Ini saya kurasi akun-akun yang sama-sama share resep masakan tapi fotonya profesional banget. Memang pake kamera yang nggak main-main juga sih, editingnya juga kece. Hiks.

Kalau udah gini pasti jadinya meratapi Instagram sendiri lah yang nggak tahu mau dibawa ke mana hahaha. Btw karena saya lagi nggak mood amat nulis blog, saya jadi cerita di Instagram. Cerita pendek 5 paragraf yang semoga bisa menginspirasi. Hahaha. Boleh loh follow Instagram saya @annisast. *modus kedua* lol

Ya, jadi ini dia 5 akun Instagram yang share resep masakan dengan foto yang indah banget secara visual:

@justtryandtaste



Siapa yang nggak tau JTT cobaaaa! Yang pernah browsing resep masakan Indonesia pasti pernah mampir di blognya. Instagramnya juga bagus banget, meskipun beliau nggak share resep langsung di caption tapi tetep share di blog. Tapi dibantu keyword-nya banget lho!

*

@pujihamzah



Mbak Puji ini bagus banget fotonya dan aliran apa ya namanya yang gelap-gelap itu. Kan ada tuh aliran white table, ini sebaliknya pokoknya hahaha. Apa sih saya nggak jelas ah. Pokoknya follow dulu lah, dijamin mata termanjakan. Resepnya juga ditulis sederhana jadi gampang dimengerti.

*

@bundnina_kitchen



Bunda Ninaaaaa, kenapa bagus-bagus amat fotonya. Mouth-watering dan artsy sekali sungguh. Propsnya nggak main-main. Foto anggur aja bisa jadi bagus banget! Follow deh!

*

@hanhanny



Aku suka mbaknya karena sering share resep kue basah macem-macem banget. Beberapa foto beliau saya bookmark tapi ya dibookmark doang nggak dieksekusi hahahaha. Ngiler banget liat foto bolu kukus gula merah huhu.

*

@ayudiahrespatih



Ini saya suka feednya karena terang banget dan bukan yang gelap gloomy hahaha. Mbaknya juga suka bikin bento dan yang sebegitu lucunya aja dibilang abal. Apakah kalian gemaasss? *menoyor diri sendiri*

*

Jadi ya itulah 5 akun Instagram resep masakan yang akan bikin feed kalian indah dan informatif. Mau masak juga tapi nggak punya alat masak yang mumpuni? Kumpulin stamp Alfamart yuukkk!

Hubungannya apa sis? Ih kalian masa belum tau kalau tahun ini Alfamart punya Kejutan Awal Tahun 2017 Royal VKB Cookware. Cukup belanja Rp 30.000 (berlaku kelipatan) kalian akan dapet satu stamp Alfamart. Plus extra stamp kalau di daftar belanja ada produk sponsor

Nah stamp yang udah terkumpul bisa ditukar dengan alat masak berbahan teflon dengan standar uji Eropa Royal VKB Cookware dengan harga diskon hingga 85%! Liat nih punya aku, bagus bangeeett. Aku nggak pake dulu karena sayang-sayang, masih punya yang lain hahaha. Sungguh emak-emak sejati.


Nggak suka stamp fisik karena ilang-ilangan dan nyelip di dompet? Duh canggihan dikit dong. Download aplikasi Alfastamp, aktifkan dengan nomer ID kartu Ponta Alfamart, udah deh bisa mulai kumpulin stamp digital. Ada bonus stamp juga waktu pengaktifan pertama kali.

Dan ibu-ibu ini memang pejuang diskonan sejati yaaa. Cookware-nya laku banget sampai banyak stok kosong di mana-mana. HHHHH.

Nah untung Alfamartnya sigap. Biar nggak kehabisan lagi, sekarang bisa pesan dulu mau order yang mana. Periode pemesanan barang 1 April 2017 – 21 May 2017. Untuk pemesanan ini bisa via kasir untuk stamp fisik dan via aplikasi untuk stamp digital. Gampang kaannn.

Barang bisa diambil setelah minimal 4 minggu setelah memasukkan pemesanan dan maksimal hinggal 30 Juni 2017. Barang harus diambil di toko tempat melakukan pemesanan. Untuk stamps digital, pastikan kode toko yang dimasukkan sama dengan toko pengambilan.

Info lengkap klik di sini ya http://alfamartku.com/program #PilihanBundaAlfamart. Selamat hunting stamp! Jangan lupa foto-foto biar Instagramnya kece!

-ast-




4 Tips Branding di Instagram

on
Monday, May 18, 2015

Wih judulnya sotoy banget HAHAHAHAHA

Jadi hari ini saya belum siap sama sekali untuk Monday Techno. Eh tetiba aja kepikiran pengen nulis tentang Instagram. Sebabnya ternyata setelah saya rajin update Instagram, followers nambahnya cepet banget. *YAIYA*

Kemarin-kemarin saya ogah-ogahan update karena males foto-foto. Terus jadi rajin update setelah seneng gegambaran pakai Adobe Draw. Eh terus sekarang keterusan main lettering alias sok-sokan bikin tulisan atau quote tapi tulisan tangan sendiri. Jelek pun tak apa yang penting aku berusaha. Hahaha.