Ini Tahap-tahap Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

on
Wednesday, March 9, 2016
mengapa-menyiapkan-dana-pendidikan-untuk-anak

WARNING: LONG POST.

Jadi postingan ini lahir karena kegelisahan melihat anak-anak magang dan fresh graduate di kantor KOK PINTER-PINTER BANGET? Aku resah banget bukan karena takut merasa tersaingi, nggak lah sis. Tapi resah mikirin nanti generasi Bebe gimana kompetisinya.

Anak-anak magang ini lahir di tahun 1995, ada bahkan yang lahir di 1998 (iya masih SMA) jadi mereka generasi Z. Kalau anak-anak fresh graduate lahir di 1993-1994, itungannya masih millennials tapi tipissss banget modelnya sama gen Z.

Terus curhat sama JG, dan yes JG pun setuju. Pola pikir generasi Z ini udah jauh di depan kita yang generasi Y/millennials (lahir 1981-1996). Gen Z ini levelnya beda, baru masuk kerja, diajarin bentar, langsung pinter. Bahasa Inggris udah bisa dari lahir, beberapa malah lancar juga Mandarin. Bisa problem solving, bisa kerja cepet, dan kreatif. Plus mereka tech savvy, nggak kenal istilah gaptek.



WAOW.

Dipikir saya dong yang resah. Kemarin kejebak macet sama temen kantor pulang meeting, dia punya anak baru lahir. Kegelisahannya sama. Kompetisi apa yang akan dihadapi anak-anak kita nanti? Apa yang bisa kita siapkan untuk mereka?

Pendidikan dong ya. Iya tau banget soal pendidikan blablabla berawal dari rumah blablabla dan tidak bisa di-subcon-kan pada sekolah, but still saya masih menganggap sekolah itu penting.

Karena sekolah bukan hanya masalah pendidikan, tapi juga masalah pergaulan dan networking masa depan. Baca dulu deh komik sedih ini.





Sedih ya, betapa start yang berbeda akan mengubah segalanya.

Selain fasilitas orangtua, pilihan sekolah juga akan membentuk karakter anak dan juga akan menentukan siapa networking anak-anak kita di masa depan. Dan yes, masalah "berteman dengan siapa" ini juga jadi salah satu faktor penentu "sukses" di masa depan.

Banyak lah dari kita yang ada di pekerjaan sekarang karena ditawari oleh teman. Saya dan JG bisa masuk ke kantor yang sekarang karena rekomendasi teman. Banyak lho kantor yang membuka lowongan internal bermodal rekomendasi karyawan. Jadi memang tidak membuka lowongan untuk umum.

Sialannya lagi, banyak perusahaan yang belum apa-apa udah screening calon karyawan berdasarkan kampusnya. Nggak sedikit perusahaan besar yang menulis: mengutamakan overseas graduate di lowongan kerjanya. Nggak heran banyak yang cinta mati sama almamater karena ya, sedikit banyak almamater membantu kita bertahan hidup di dunia ini.

(Baca: Kuliah itu Jangan Sampai Salah Jurusan)

Emang sekolah cuma buat kerja? Jadi pengusaha dong! Ya sami mawon, apalagi kalau jadi pengusaha, networking adalah segalanya kan kan kan? Apalagi kalau temen-temennya banyak buzzer, harga buzzing bisa diskon temen dong? Well ...

Nah, buat saya dan para orangtua lain yang nggak sanggup homeschooling, cari sekolah ini bebannya ya ampun pengen nangis deh mikirinnya. Harus sekolah di mana? Sekolah yang seperti apa? Kalau udah nemu sekolahnya, mampu nggak biayainnya?

Nah ini dia topik kita hari ini:

1. KENAPA HARUS MENYIAPKAN DANA PENDIDIKAN UNTUK ANAK?

Agar anak bisa sekolah di sekolah terbaik dan tidak terhalang biaya. Terbaik bukan berarti mahal. Tapi ketika biaya pendidikannya sudah siap, pilihan akan semakin banyak. Definisi terbaik pun akan berbeda bagi setiap orang bergantung jumlah dana yang mereka punya kan?

Karena banyak sekolah yang biaya masuknya bikin jantungan tapi sebenarnya untuk masuk SD aja kita punya 7 tahun loh untuk menyiapkannya. Delapan tahun kalau mulai menyiapkan sejak pertama tahu hamil. Untuk masuk SMP kita punya 13 tahun dan SMA punya 16 tahun. Masa sih nggak bisa nabung selama itu?

"Ah sekolah biasa aja, sekolah mah di mana-mana sama kan kurikulumnya nasional. Gimana anaknya aja."

Yakin ini bukan denial karena nggak bisa sekolahin anak di sekolah yang lebih bagus dari sekolahnya sekarang?

2. BAGAIMANA TAHAP-TAHAP MENYIAPKAN DANA PENDIDIKAN UNTUK ANAK?

- Samakan visi dengan suami. Ini penting! Akan seperti apa sekolahnya? Sekolah yang mengajarkan apa? Apakah yang berbasis agama atau justru TIDAK berbasis agama? Di mana sekolahnya? Boarding school apa bukan? Di deket rumah, dalam kota, luar kota apa luar negeri?

(Baca: Tips Memilih Sekolah untuk Anak)

- Survey dan survey! Cari tahu soal daycare aja udah sejak hamil agar bisa survey lebih banyak dan tidak terburu-buru. Browsing cari TK dan SD udah saya lakukan sejak Bebe baru lahir. Bebe belum masuk SD, saya dan JG sudah mikir akan SMP di mana. Agar kita punya lebih banyak waktu untuk belajar, sekolah seperti apa yang kita inginkan untuk anak kita?

- Setelah ketemu sekolah yang cocok dengan pola pengajaran, selanjutnya pertimbangkan uang masuk dan uang bulanan/semesterannya. Pertimbangkan, apakah mau menabung hanya untuk uang masuk apa dengan uang bulanan? Kalau hanya untuk uang masuk, note bahwa biaya bulanan nantinya akan mengambil pos harian.

- Pelajari soal reksadana. JANGAN PAKAI ASURANSI PENDIDIKAN. Karena pendidikan tidak butuh asuransi, pendidikan adalah sesuatu yang pasti, sementara asuransi itu hanya untuk proteksi. Kesehatan dan jiwa butuh proteksi, lah pendidikan apanya yang harus diproteksi? Kan jelas dalam sekian tahun harus punya uang berapa kan? Dan asuransi pendidikan tidak menghitung inflasi, katanya saat anak kita lulus SD kita akan dapat dana sekian untuk anak masuk SMP. Hitung dengan inflasi, angka dari asuransi itu biasanya hanya akan cukup untuk membantu sedikit dari total biaya yang dibutuhkan. Ujung-ujungnya tetep harus punya tabungan.

(Baca: Penjelasan Simpel Soal Reksadana)

- Berapa total biaya yang dibutuhkan dalam jangka waktu berapa tahun? Masukkan ke simulasi reksadana agar bisa tahu, seberapa banyak uang yang harus kita "tabungkan" di reksadana setiap bulannya. Browsing aja simulasi reksadana gitu, banyak kok. Ngerti banget RD sis? Nggak kok. Makanya saya pake financial planner. Begitu positif hamil, yang pertama dilakukan adalah lari ke financial planner lol. Percayalah, punya planner ini segalanya jadi lebih jelas dan terbantu. Produk apa yang harus diambil juga dikasih tahu semua. Worth the money!

- Disiplin memasukkan uang ke reksadana. Ini yang paling susah huahahahahahahah Saya juga bolong-bolong tapi langsung tambal banyak begitu dapet uang lebih seperti bonus. Bye bye liburan ke luar negeri, maklum ya kelas menengah ngehe. Kadang lebih pilih belanja dibanding nabung buat liburan lol.

- Selalu update dengan biaya sekolah karena tiap tahunnya naik banyak *krai* Setiap tahu update biaya sekolah ini mau nangis rasanya karena dalam 6 tahun, mungkin banget biaya masuknya udah 2 kali lipat dibanding sekarang. Sebagai insight, ini biaya masuk SD di Jakarta. Belum international school lohhh, international school kaya JIS mah menurut Wikipedia setahun tuition fee nya USD 30ribu (Rp 400an juta). International school mah buat orang kaya beneran plis bukan untuk kelas menengah ngehe. lol

- "Weee baru tau soal ini nih padahal anak udah SD." Tenang, jalan masih panjang. Siapkan untuk masuk SMP, SMA, dan kuliah. Kuliah di mana menentukan juga masa depan. Temen-temen kantor nggak ada yang nama kampusnya nggak saya kenal. Semua dari kampus ternama, jadi bayangkan yang lulusan kampus lain, pada kerja di mana ya? Dan yes, saya udah punya satu akun reksadana khusus untuk biaya kuliah Bebe. Meski belum teratur diisi, minimal sudah siap-siaplah karena biaya kuliah akan sangat mahal 16 tahun lagi.

*

Dan selalu ada ego "anak harus lebih baik dari orangtuanya" kan? Kemudian selalu ada alasan "anak datang dengan rezekinya", iya gimana orangtuanya mengatur rezeki itu sebaik mungkin.

Yah itu aja sih. Ini semua kan masalah persiapan ya. Misal masuk SD yang uang pangkalnya Rp 50juta. Kalau nabungnya 6 tahun sih sebulan nabung cuma Rp 700ribu. Kalau pakai reksadana cuma Rp 450ribuan untuk bisa dapat Rp 50juta dalam 6 tahun. Tapi kalau dadakan?

Anaknya udah umur 5 baru ribet survey sekolah. Terus stres karena ternyata biaya masuknya puluhan juta. Ya iyalah stres kalau harus ngumpulin puluhan/ratusan juta dalam setahun mah. Cek nama belakang dulu sis, keturunan ningrat mana sampai berani-berani baru survey sekolah setahun sebelum anaknya masuk sekolah?

Dan balik lagi, kompetisi. Bisa memodali apa kita untuk anak-anak berkompetisi dengan anak-anak lain di generasi mereka?

(Baca: Mau Punya Anak Berapa?)

Karena anak adalah tanggung jawab terbesar yang pernah dilimpahkan pada sepasang orangtua.

*kecuali lo punya perusahaan dengan ribuan karyawan, maka ribuan karyawan dan keluarganya itu juga tanggung jawab terbesar lo*

See you!

(comic source)
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

12 comments on "Ini Tahap-tahap Menyiapkan Dana Pendidikan Anak"
  1. Allhamdulillah udh pny akun reksadana juga cha utk nyiapin kuliah anak2... baru narik tabungan buat biaya SMP sean yg puluhan jt itu. Anak tanggung jwb kita sbgi org tua jd ya dipersiapkan sebaik mngkn. Insyaalloh...

    ReplyDelete
  2. Dan ini emang artikel untuk kelas menengah ngehe deh kayaknya.. :p aku mah apa atuh masih level kelas preschool, reksadana? Genteng bocor aja belum dibenerin.. haha, tp ya emang balik ke definisi sekolah ideal menurut masing2.. dananya juga menyesuaikan, heheh,

    ReplyDelete
  3. Aih... belom nikah dan punya anak. Tapi jadi kepikiran *hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru lebih enak loh perencanaannya hehehehee

      Sayanvnya dulu sebelom nikah n punya anak aq ga kepikiran nabung untuk "anak" akhirnya skrg lmyn ketar-ketir liat biaya masuk sekolah yg aduhai..wlw udah persiapan dari 3th sblmnya hehehehe

      Delete
  4. Tiap sekolah beda meski sering ya kita dengernya, sekolah dmn aja sama... Tapi ini mah ngga sih mnurut aku juga. Emak dan babeh harus selektif.. Pernah ngitung2 tabungan, haa tapi bbrp puluh thn lagi, biaya kuliah, makjleb kayanya:))

    ReplyDelete
  5. langsung kejet-kejet baca ini.. mengingat target Dana Darurat minimal udah siap 30% pun belum terpenuhi.. hikssss....

    ReplyDelete
  6. Bener banget mba anissa, almamater sampai sekarang punya 'tempat' khusus, apalagi yang bekerja seperti saya di Industri Telekomunikasi. Jaringan almamater ini sangat mengikat kuat, kadang ngerasa jadi beban juga jadi bagian dari almamater ini. :))

    Alhamdulillah, sebelum menikah saya dan suami, bertekad investasi emas utk dana pendidikan, belom berani untuk main reksadana apalagi trading XD
    Ngeliat keponakan SD boarding school impian (7 to 4) sekarang aja biaya pertama udah bikin menghela napas, maaak~ :(

    pengennya idealis, anak sekolah disini.. disitu... tapi, emak bapaknya harus kerja apa yaa, yang duitnya banyak :))

    ReplyDelete
  7. "Semua dari kampus ternama, jadi bayangkan yang lulusan kampus lain, pada kerja di mana ya?"

    ReplyDelete
  8. cuma mau bilang, SETUJU BANGET SAMA YANG DIBILANG TEH ICHA!.
    kudu share ini tulisan ke suami XD

    ReplyDelete
  9. mbak, komiknya itu dalem banget. aku ngerasain bgt :( well, i just have to work hard for the rest of my life *sigh*

    ReplyDelete
  10. Ok. 1 lagi tentang RD. Kayaknya semakin pengen punya RD. Btw financial planner bayarnya berapa ya? Di kudus ada gak ya :D

    ReplyDelete
  11. Aq masih ga berani reksadana..*hix*

    Mgkn emang harus pake financial planner ya... Krn dulu pas kerja di bank pernah ada nasabah yg naro uang di reksa..begitu butuh banget ternyata nilainya lagi jatoh.. Alhasil dia rugi 50% dari dana yg dia simpen sebelomnya..sebagai masyarakat kelas menengah kecil *halah* masih belom berani macan gini... Hahahaha

    Jd sementara ini masih berusaha invest LM bareng temen2..bisa bikin arisan atau ikutan cicil emas di bank..

    Yg penting apapun tabungan dan investasinya anak tetep nomor 1 yakaaaan.... Hihihi

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)