-->

Kenapa Ortu Zaman Dulu Anaknya Banyak

on
Monday, August 5, 2019
Kemarin, di Instagramnya mba Windi ada yang komen kaya gini (ini saya copas):

Mb klo pertimbangan nya biaya okelah sudah banyak jg blogger atau selebgram yg bahas. Tapi kalau data pertimbangan apa aja slain keuangan knp nambah anak orgtua jaman kita dlu, belum ada datanya sih ini. Penasaran. Mgkn bs dikumpulkan datanya via story mba, knp orgtua jaman dlu anaknya lebih dari 1 (selain pertimbangan finansial). Terimakasih mb windi.

Waktu baca pertama kali sebenernya rolling eyes banget karena ya Tuhanku kenapakah kepo sama orang mau anaknya berapa? Nggak ada orang yang sekepo itu sampai mau riset kenapa orang zaman dulu punya anak banyak. Terus saya juga kesel karena KENAPA ATUH HARUS SAMA KAYA ORTU ZAMAN DULU?


Saya nggak suka lho disama-samain sama siapapun terutama hal yang udah terjadi di masa lalu. Kesel banget kalau ada yang bilang “halah dulu juga blablabla”. YA KAN DULU, BOS.

Nggak relevan sama sekali. Jangankan sama 25 atau 50 tahun lalu saat ibu saya dan nenek saya jadi ibu, sama 10 tahun lalu aja parenting itu udah bisa beda sekali pendekatannya. Jadi move on lah, jangan mau disama-samain.

Lagian kalau orangtua zaman dulu ditanya kenapa anaknya banyak, jawabannya akan seragam dan membosankan: Banyak anak banyak rezeki.

via GIPHY

Bisa-bisanya ya sepakat padahal nggak ada socmed atau influencer yang campaign “banyak anak banyak rezeki” kan zaman dulu itu lol.

Nah, tapi setelah mati listrik hampir 6 jam diikuti dengan internet juga hilang, saya jadi bisa merumuskan jawaban dari pertanyaan kenapa orangtua zaman dulu anaknya banyak dengan lebih jernih. Iya selama mati listrik saya malah mikir coba. Sampai ditanya JG “kok bengong?” saya jawab “iya lagi mikirin orangtua zaman dulu” HAHAHAHAHA.

Mati listrik 6 jam kami ngapain aja? Makan di MM Juice. :)))) Iya random banget, padahal maunya makan Ling Ling tapi mereka nggak punya genset jadi nggak bisa buka. Kasian yaahhh. Rugi berapa coba padahal rame banget. Ya udah melipir ke sebelahnya deh, nongkrong di MM Juice yang dingin.

Lalu kami pulang, tidur siang sampai jam 5an lalu keringetan banget astaga mati gaya. Bebe sama JG main Lego sampai di luar udah gelap banget dan akhirnya kami memutuskan untuk ke mall terdekat yaitu tempat di mana semua rakyat Jaktim, Bekasi, dan Jaksel mepet Jaktim bersatu … KOKAS.

Makan Nama Sushi sambil panas banget gilaaa. AC apa adanya dari genset dipadu dengan keramaian gitu ya lepeklah. Tapi kami bertahan makan sushi karena mikirin di rumah lebih sedih lagi sih hahahaha. Saya nggak relate sama yang bilang "bisa quality time sama keluarga karena gelap" karena kasian amaaattt mau quality time tanpa gadget aja harus nunggu listriknya dimatiin PLN dulu HAHAHAHA.

Sampai rumah yay listrik udah nyala! Kembali ke masa kini!

Jadi setelah merenungi nasib mati listrik sekian kali itu, ini hasil saya berpikir (yang padahal nothing new juga idenya lol) lebih jelas aja biar pada bersyukur hidup di zaman sekarang HAHA.

Nggak ada hiburan

Sex is an instinct, cenah. Kemarin di diskusi film Dua Garis Biru, Gina S. Noer ditanya apa seks pranikah ini juga terjadi di luar Jakarta?

Kalau Jakarta kan seks pranikah dianggap anak-anaknya terlalu gaul kebarat-baratan ya alias terlalu terpengaruh budaya barat. Nah, kalau di luar Jakarta kok pada seks pranikah juga? Kok angka kehamilannya tinggi juga?

Jawabannya karena listrik di luar Jawa itu nggak stabil. Kalau listrik nggak stabil, internet apa adanya, APA LAGI COBA HIBURAN MEREKA?

Balik ke 50 tahun lalu, apalagi coba hiburan orangtua zaman dulu? Mati gaya banget nggak sih. Apalagi bagi kaum ekstrovert seperti kami-kami ini, dikasih 6 jam bengong tanpa listrik tanpa internet langsung melarikan diri ke mall. Daripada hamil? GAHAHAHAHAHAHHAHA.

Informasi sulit dicari

Ini penting banget sih. Dulu ya, keluarga saya mengalami langganan dua koran: Kompas dan Pikiran Rakyat plus langganan majalah Bobo, Gadis, dan tabloid Nova. Dan ibu saya sesekali masih beli majalah Kartini.

Yang namanya majalah atau koran, seberapa banyak sih share pengalaman orang yang bisa relate sama kita? Paling vox pop gitu kan di satu rubrik. Sisanya justru cerita public figure. Informasi harus dijemput dan susah sekali aksesnya. Informasi itu kemewahan.

Sekarang informasi bukan lagi barang mewah, malah kita yang terus menerus digempur informasi. Dari berbagi informasi inilah kita tahu bahwa anak banyak itu bukan untuk semua orang ahahahahahaha.

Zaman dulu mana tauuu. Lha ketemu ibu-ibu lain aja mentok pas posyandu atau imunisasi kan. Makanya KB harus dikampanyekan pemerintah karena kalau nggak begitu, orang cuek aja anaknya banyak padahal nggak mampu-mampu amat. (EH ADUH)

Keterbukaan informasi ini punya peran penting sih menurut saya dengan ortu-ortu millennials yang jadi mikir sekian kali untuk punya anak karena didiknya kok susah ya? Belajar parenting kok kaya nggak selesai-selesai ya? Dulu seberapa banyak sih orang belajar parenting?

Parenting by instinct juga aja kan segala-galanya padahal nggak semuanya nature loh, ada juga yang nurture and how we nurture our kids kan sebaiknya dipelajari karena memang ada teorinya, ada risetnya, ada alasan scientific di baliknya. *HALAH

(Baca: Parenting Memang Tidak Butuh Teori?)

Lanjut ke poin berikutnya.

Mental health belum jadi isu penting

Dari keterbukaan informasi kita jadi tahu cerita ibu-ibu yang stres karena anaknya banyak atau berdekatan. Lalu jadi sadar duh kayanya nggak mampu deh kaya gitu lol.

Ini bisa terjadi karena kita udah semakin sadar dengan pentingnya kesehatan mental. Baik kesehatan mental ibu maupun anaknya. Dulu mana ada yang peduli sih. Sibling rivalry yang padahal bisa jadi dendam seumur hidup aja cuma diremehkan dengan “alah namanya juga adik kakak”.

Almarhum nenek saya pernah cerita betapa capeknya punya anak banyak dengan usia yang berdekatan. Satu cerita yang saya inget, nenek harus nganter anak sekolah dengan gandeng anak kedua dan gendong anak ketiga. Capek katanya.

Bayangin nenek saya baru bisa “ngeluh” kaya gitu lebih dari 50 tahun kemudian! Dulu meski secapek apapun ya jalani aja karena nggak tau kalau itu nggak wajar, nggak tau kalau dia juga punya hak istirahat meski punya anak, nggak ngerti kalau punya anak itu artinya nggak mengabaikan diri kita sendiri sebagai individu.

Sekarang kan kita lebih baik anak sedikit tapi full quality time sama anak. Bisa kasih mereka sisi kita yang terbaik dan melakukan conscious parenting atau parenting dengan kondisi sadar 100%. Bukan sekadar “punya anak lagi aahhh” tapi “eh kalau punya anak mampu nggak ya kasih yang terbaik buat dia?”. Dan menurut aku ini kemajuan. Dunia udah sempit banget juga lagian. :))))

(Baca: Nenek)

Target hidup semakin tinggi

Dulu anak yang penting sekolah. Nggak penting di mana. Bukan apa-apa, pilihan sekolahnya juga sedikit banget kan. Sementara sekarang duh posisi menentukan prestasi banget ini alias sekolah di mana menentukan networking dan kompetisi di masa depan lho.

Dulu, nggak sedikit yang punya keluarga di mana anak pertama nggak bisa kuliah, baru anak kedua atau ketiga bisa kuliah karena kondisi keuangan keluarga yang membaik. Sebaliknya, banyak juga keluarga yang abis-abisan untuk anak pertama (atau anak laki-laki) eh pas anak bungsu, tulang punggung keluarga udah pensiun, si anak jadi nggak bisa kuliah.

Familiar dong dengan cerita semacam itu?

Ketidakmerataan pendidikan antar anak aja udah nunjukkin ketidakmampuan mengukur diri sendiri dari segi finansial. Wajar juga karena pengetahuan tentang finansial nggak sebaik sekarang.

(Baca: Kenapa Sekolah Begitu Penting)

Karena target hidup juga semakin tinggi. Dulu seberapa banyak sih orang yang cita-citanya keliling dunia bawa anak biar dia punya pengalaman di belahan dunia lain. Sekarang kan banyak yang begitu. Daripada nambah anak mending uangnya untuk beli pengalaman, katanya. :)

Sekarang wow anaknya lahir biaya kuliah udah mulai ditabung, lahir anak kedua, mulai juga nabung untuk dana pendidikan anak kedua. Ini bikin mikir banget karena ...

Dulu katanya: Banyak anak banyak rezeki

Iya rezeki udah ada yang mengatur tapi realistis juga coba . Kalau rezeki cuma bergantung kerja keras, nggak bakal ada itu orang yang rumahnya kumuh di pinggir kali atau rel kereta. Padahal kalau diukur dari kerja keras, mungkin mereka kerja lebih keras dibanding pekerja kantoran kaya kita-kita ini.

Orangtua zaman sekarang sudah lebih bisa mengukur diri. Gimana pun, nambah anak artinya nambah satu tanggung jawab perut dan pendidikan. Tanggung jawab itu ada pada orangtuanya dong. Daripada nggak yakin bisa tanggung jawab kan mending nggak nambah anak. Hahahaha.

Kurang-kurangin deh bilang banyak anak banyak rezeki karena nggak bisa masuk di semua orang. Ada yang betul rezeki lancar, jabatan naik, semua baik-baik aja setelah punya anak lagi. Tapi masih banyak juga tuh yang anaknya jadi harus pindah daycare yang lebih murah karena punya anak kedua, masih banyak yang mengeluhkan "duh mana mampu sekolah di situ, anak gue tiga", dsb dsb.

And don't start with "sehat juga rezeki" karena kasian banget anak jalanan dan anak-anak dari keluarga kurang mampu berarti rezekinya memang cuma sehat aja? :((((((

Ini nggak ada hubungannya sama bersyukur loh ya. Kita bisa kok bersyukur atas rezeki PLUS realistis soal kondisi keuangan keluarga. Malah kalau kata mba Windi, mengatur keuangan keluarga adalah bentuk tanggung jawab atas rezeki yang dilimpahkan ke kita. Couldn't agree more!

Perempuan belum berdaya

Zaman dulu banyak sekali pernikahan yang bertahan hanya karena para perempuan tidak berdaya dan tak mau jadi janda. Banyak sekali saya mendengar cerita orang-orang yang memilih bertahan di pernikahan yang tidak sehat dibanding takut hidup melarat.

Tapi di zaman sekarang, sila googling sendiri datanya, perempuan lebih berani untuk bilang cerai karena perempuan sudah berdaya. Perempuan punya suara dalam pernikahan dan kalau mereka diabaikan, ya sudah maka untuk apa pernikahan itu dipertahankan.

Ini berkaitan sekali dengan kesehatan mental. Untuk apa bertahan di pernikahan yang tidak sehat, dengan kondisi mental yang acak-acakan. Orang-orang di zaman sekarang sudah sadar benar kalau semua orang berhak bahagia, laki-laki atau perempuan.

Hasilnya, perempuan jadi semangat berkarya. Sementara kalau punya anak (atau punya anak lagi), karya itu jadi tertunda. Suka tidak suka, mau tidak mau, kita kerja lebih lama tanpa anak dong? Kalau udah ada anak kita berusaha kerja seefektif mungkin karena ada waktu yang harus dibagi. Meski emang bener sih, anak itu penyemangat terbesar!

Maka wajar kalau orang zaman dulu anaknya banyak. Nggak ada urgensi pengen berkarya gitu lho. Nggak gampang ngerasa panas sama karya-karya ibu lain di social media. Hahahaha.

(Baca tulisan tahun 2013: Perempuan Juga Punya Pilihan!)

*

Kalau dirumuskan dalam satu kalimat (yang juga membosankan karena sudah sering sekali dibahas): Tantangannya udah beda dan itu sangat wajar terjadi. Orangtua menghadapi tantangan yang beda di tiap zaman dan harus terus belajar menghadapi tantangan baru.

Ingat juga, nanti ketika kita punya cucu, nggak usah sotoy dengan merasa kita lebih pengalaman ngurus anak hanya karena kita punya anak lebih dulu. Anak kita jelas akan punya tantangan yang beda. Kalau kita udah yakin 100% dengan cara kita mendidik anak, kita juga harusnya yakin juga dong dia akan bisa mendidik cucu kita.

JAUH BENER NGOMONGINNYA CUCU LOL.

Enak juga ya kalau udah dijembrengin kaya gini. Tiap ada yang nanya kenapa nggak mau nambah anak, kasih aja link blogpost ini hahahaha. Tiap ada yang bandingin sama ortu zaman dulu, kasih juga link ini ok!

Selamat hari Senin!

-ast-




LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!
7 comments on "Kenapa Ortu Zaman Dulu Anaknya Banyak"
  1. Dari sekian alasan yang ditulis kak icha, hampir semuanya masuk di aku, dan ini yang paling masuk: Dunia udah sempit banget juga lagian.
    Aku sedih lihat zaman sekarang banyak sawah berubah jadi bangunan karena populasi manusia cepet nambahnya.

    ReplyDelete
  2. Iya nih bener juga ya. Terkadang saya juga pensaran kok kenapa kok orangtua zaman dahulu itu anaknya banyak hihi

    ReplyDelete
  3. Nenek punya 13 anak, ibu mertua punya 6 anak, ya karena jaman dulu program KB belum masuk sampai ke desa-desa.

    ReplyDelete

  4. Setuju banget kak! Tantangan yang dihadapi setiap Ibu disetiap masa berbeda, kalo dibandingin sama gimana orang tua kita membesarkan kita ya gak relate, setuju! Jangankan gitu, nge-gedein si Kakak sama si Adek yang beda 5 tahun aja bisa beda tho.. :)

    Suka sama semua postingan nya!! Luvvv

    -amy-

    ReplyDelete
  5. #teamsatuanakcukup setelah itung dana pendidikan. go go go mba annisa! jadi kepo apakah sertifikasi dalam waktu dekat yg dimaksud ada hubungannya dengan ini. :)

    ReplyDelete
  6. gw pernah baca some where, "banyak anak banyak rezeki" itu semboyan yang pas buat negara agraris kita jaman dulu. Nah jaman dulu kan rakyat Indonesia rata-rata profesinya petani. Kalo banyak anak yang berarti banyak yang bisa diberdayakan buat bekerja di sawah, bisa menghasilkan lebih dari sawah yah artinya banyak rejeki ya kan?

    Belum lagi jaman perang, tingkat kematian balita tinggi dan usia harapan hidup rendah. Trus jaman dulu tuh anak tuh dijadiin jaminan pensiun, dibesarin dengan harapan nanti kalau uda tua ada yang ngurusin. Yah wajar aja klo orang jaman dulu perlu punya anak banyak buat mengantisipasi hal2 tersebut.

    Jaman sekarang sih uda ga relevan, lah wong kita uda terjadi pergeseran profesi.
    Begara juga uda lebih makmur, usia harapan hidup meningkat yang berarti persaingan kerja makin keras. Kalau punya banyak anak tapi ga sanggup ngebiayain yah kasian. Bagaimanapun juga kita harus mempersiapan anak2 kita untuk siap bersaing dengan generasi mereka.

    Buktinya aja jaman ibu kita sudah mulai berbubah. Nenekku punya 11 anak, mamaku 3, rata2 tante ku max punya anak tuh 5. yang ga heran donk klo di jaman kita makin nyusut jadi 1 atao 2, malah sebagian pasangan memilih tidak punya anak di jaman sekarang :D

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)

IG