Hal-hal yang Berubah Setelah Pilkada DKI

on
Thursday, October 19, 2017

Halo! Lama nggak nulis #SassyThursday dan sekalinya nulis topiknya langsung yaaa gitulah. Jarang-jarang gue nulis politik di blog kan, tapi kali ini pengen aja nulis. Mungkin bisa kasih pandangan lain, mungkin juga nggak. :)

Baca punya Nahla:

Oke jadi pasca urusan pilkada dan demo-demo itu, yang berubah bukan cuma gubernur Jakarta tapi juga BANYAK hal lainnya. Betapa efeknya besar banget dan membukakan mata

Apalagi pasca gubernur baru tiba-tiba bahas pribumi, sengaja atau tidak sengaja cuma makin menguatkan bahwa di posisi ini loh kita. Sementara banyak yang memperjuangkan kesetaraaan manusia, ini malah ras aja diungkit-ungkit terus. :(

Sedih sih tapi ya, sedih aja dibilang kafir kali deh gue, terserahlah. Ini dia hal-hal yang gue rasakan sendiri berubah setelah demo dan pilkada:

Orang jadi berani menunjukkan diri bahwa dia paling "beragama"

Tidak apa-apa share soal agama di media sosial, yang jadi masalah adalah ketika orang MEMAKSAKAN agama dan kepercayaan pada orang lain. Paksaan itu apapun bentuknya, adalah kondisi yang tidak nyaman.

Sementara yang terjadi adalah bikin status terus, komen sana-sini, copas terus di group WhatsApp mengajak ini itu karena merasa benar. Tandanya kalian memaksa orang lain untuk ikut ambil bagian. Kalau tidak ambil bagian maka orang itu kafir dan tidak membela agama. Wow, speechless.

Bertanya apa agama orang lain aja dianggap nggak sopan loh, ini mempertanyakan kepercayaan orang yang seagama. Sangat-sangat tidak sopan. Saking sebelnya, JG sampai nggak mau ngaku cuma biar orang-orang ini kesel doang dan merasa "menang".

Jadi (oke ini sebenernya agak cringey diceritain tapi biarlah biar contoh) JG dari kecil rajin solat, dari SD rajin ke pengajian-pengajian (maklum anak Gerlong). Tapi ada orang-orang annoying yang menganggap JG "keliatannya" nggak beragama dan suka iseng aja gitu nanya "tadi jumatan nggak?"

YA NURUT NGANA? Ya udah sama JG dijawab "nggak ah, udah pernah" -_______- Karena itu pertanyaan annoying dan kejauhan gitu loh. Kemudian mereka negur lalala harusnya gini harusnya gitu. Orang-orang judgmental dan merasa paling ngerti agama gini loh yang nyebelin dan bikin nggak nyaman.

:(

Sebaliknya orang-orang jadi berani nunjukkin kalau dia nggak beragama

Banyak temen-temen gue yang sebelumnya Islam tapi kemudian jadi "nggak ah, I'm done with religion". BANYAK. Karena mereka nggak kenal-kenal amat sama agama terus tiba-tiba dihadapkan pada Islam yang "begitu". Yang memaksa, yang rasis, yang sama sekali tidak damai. Ilfeel, malu sendiri kemudian bye beneran deh jadinya.

Jadi kalau kalian menganggap segala demo dan urusan Pilkada ini mengangkat nama Islam, ya mungkin di satu sisi benar. Tapi kalian juga harus tau kalau ada sisi lain yang menganggap sebaliknya. Ya sisi yang kalian bilang kafir sih. 

Dan orang-orang ini jadi tidak mengajarkan agama pada anak-anaknya, atau justru mengajarkan semua agama. Supaya anaknya bisa milih sendiri dan jadi nggak kaya mereka, harus berpuluh tahun hidup dengan agama turunan orangtua kemudian ilfeel sendiri gara-gara apa? Gara-gara Pilkada. Hiks. Sedih.

(Baca: Balita Ditanya Agamanya Apa: Agama dan Manusia)

Teman-teman minoritas jadi nggak nyaman


Kata Jessicha temen kantor gue "setelah urusan pribumi ini gue makin ngerasa gue Cina sih".

T______T

Ini jahat sih. Orang-orang ini juga dari zaman kakek neneknya udah di sini kali, sama kaya kalian, kenapa dibeda-bedakan sih? Bikin nggak nyaman banget.

Iri karena mereka kaya? Karena mereka berkuasa? Ya kalian ke mana aja sampai nggak bisa kaya dan berkuasa?

Lagian stereotyping banget sih bilang "Cina = kaya". Karena kalau dia kaya dan dia keturunan Chinese maka kita bilang “ah pantes kaya, Cina sih”. Tapi kalau orang Jawa kaya keluarga Sutowo kaya raya kita nggak bilang apa-apa, nggak bilang "ah pantes kaya, Jawa sih". Padahal mereka KAYA RAYA BANGET LOH. Berkuasa dan berpengaruh juga.

Dan orang itu bisa jadi kaya karena kerja bukan karena rasnya apa! Pun demikian dengan Ahok bisa jadi pemimpin yang disukai banyak orang karena dia KERJA.

*fyuh gila nulisnya capek banget gue*


Banyak yang jadi pengen pindah negara

Pindah ke Eropa gitu yang lebih damai atau pindah ke mana pun yang orang rasisnya nggak sebanyak di sini dan di Amerika. T_______T Banyak yang jadi nyeletuk "duh rasanya pengen pindah negara aja" saking hopeless-nya sama negara ini.

Gue sama JG pengen banget sih dan hidup dari nol sebagai minoritas dan bukan pribumi. Terutama pengen Bebe sekolah di luar dari kecil aja biar nggak sekolah di sini. Ingin membesarkan Bebe di lingkungan yang lebih kondusif.

Pengen pindah tapi keinginan yang terbatas keinginan KARENA NGGAK USAHA APA-APA. Nggak usaha dan sebenernya takut nggak bisa survive karena pasti berat banget. Dasar pribumi! Kurang usaha!

Dan ya, yang paling kerasa dari hidup gue sendiri justru ini:

Batal sekolahkan Bebe di sekolah Islam

Sejak Bebe lahir, kami sudah punya incaran sekolah. Kebetulan sekolahnya sekolah Islam, SDIT lah. Sekolahnya bagus, inklusi, kami cocok sekali dengan metode belajarnya. Maka dana pendidikan pun dihitung berdasarkan sekolah ini.

(Baca: Tahap Menyiapkan Dana Pendidikan Anak)

Sampai tahun lalu pas urusan Pilkada ini lagi panas-panasnya, kami langsung diskusi dan memutuskan nggak jadi menyekolahkan Bebe ke sekolah Islam. Mulailah lagi pencarian SD Bebe. Kali ini goalsnya jelas, nggak homogen.

Karena sekolah Islam sudah pasti semua muridnya Islam. Pilkada ini menyadarkan kami bahwa selain agama, penting sekali mengajarkan Bebe kalau dia adalah bagian dari dunia yang heterogen. Karena tidak semua orang sama dengan kita, dan tidak sama bukan berarti salah.

Malah pas lagi pusing-pusingnya cari sekolah, sempet kepikiran apa sekolahin di sekolah Katolik aja gitu ya biar dia ngerasain jadi minoritas? Itu sebelum tau bahwa banyak juga ya SD yang nggak tanya agama anak apa. Ada dan itu cukup bikin lega sih.

Karena gue pernah tuh interview orang, dia SD di sekolah Islam terkenal di Jakarta tapi cuma sampai kelas 3, kelas 4 dia pindah dan sampai kuliah selalu di sekolah Katolik. Dia dipindahkan karena ibunya melihat kecenderungan dia jadi judge agama lain sebagai agama yang salah. Ibunya nggak mau dan akhirnya sekolahlah dia sebagai murid minoritas sampai dia kuliah. Sampai sekarang dia muslim, begitu pun dengan ibunya.

Mengingatkan diri untuk selalu mengajari anak tentang perbedaan

Ya, ngajarin Bebe menerima perbedaan dan menghargai pilihan hidup orang lain itu jadi peer paling berat sih.

Gue paling jelasin tentang ukuran manusia, warna kulit, disabilitas, dan tidak ngasih gender pada warna atau mainan. Jadi ya gue selalu bilang sama dia hal-hal yang dia tau aja misal "iya ada anak yang badannya kecil, ada yang badannya besar, tidak apa-apa. Kecil tidak apa-apa, besar juga tidak apa-apa".

Atau ketika dia mau beli buku mewarnai Princess ya gue beliin aja. Toh sampai sekarang juga warna favorit JG pink. Menyetarakan hal-hal dari yang paling sederhana dengan harapan dia bisa menerima bahwa semua orang tidak sama.

Dan ya, intinya gue nggak mau dia jadi rasis dan judgmental. Bahwa sesuatu yang kita yakini benar, tidak boleh sampai menyakiti orang lain.

*

Oke gitu aja sih. Kalian gimana? Ada efek apa Pilkada sama kehidupan? Nggak ada banget nih yakin? :)

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

27 comments on " Hal-hal yang Berubah Setelah Pilkada DKI"
  1. Setuju banget dengan postingan ini karena beberapa poinnya memang terjadi di lingkungan sekitarku juga. Ada beberapa yang jadi 'ahli agama' banget, ceramahin ini itu yang mana yaudah sih tanpa dijelasin panjang lebar juga kita bakal lakuin karena itu udah jadi kewajiban kita. Paling gemes sama orang orang begini haha. Di sisi lain, malah ada yang bersyukur dia memilih jadi agnostic di tengah keriuhan bela bela agama itu. Ya namanya juga politik. Keras kalo udah bawa bawa agama haha

    ReplyDelete
  2. Explore instagramku dari yang isinya SNSD jadi Anies Sandi mulu, haha.

    ReplyDelete
  3. gue makin yakin nyekolahin Kami di sekolah bukan Islam, atas dasar ini juga. gerah bok. gue mau tergelitik dengan bikin post gini juga wkwk thanks Cha!

    ReplyDelete
  4. Ada dong efek pilkada bagiku, efek yg sangat menyedihkan, yaitu nggak ngenalin teman2 sendiri, baik yg memusuhan atas nama fanatisme ataupun yg bela2 di medsos krn dibayar. Padahal ciri2 yg mereka musuhin itu ada di teman-teman kami juga, teman2 sewaktu sekolah & teman2 sewaktu kuliah. Nggak siap lihat teman2 sendiri membenci ciri2 yg melekat pada teman2 kami yg lain.

    ReplyDelete
  5. "Dan ya, intinya gue nggak mau dia jadi rasis dan judgemental."

    Ini banget yang pengen gw ajarin ke anak-anak gw... Makanya gw + suwami mutusin untuk nyekolahin anak gw ke sekolahan swasta yang isinya beragam. Saking beragamnya wali kelas anak gw perempuan, batak, dan kristen hahahahaha sebodo deh ama omongan keluarga besar yang nyinyirin kenapa ga disekolahin di SDIT deket rumah, atau SD Islam ngetop yang franchise itu lhooo.. tapi ya karena setelah pantau sana sini, emang iya pas kelas 4-5 gitu ada kecenderungan mereka memandang agama lain dengan sinis, yang pas wisata sekolah berkunjung ke Kelenteng trus mereka nyinyir abis.. (denger cerita ini aja gw udah marah banget, anak SD kok ya udah bisa nyinyirin mereka yang berbeda)

    Emang kudu ekstra usaha supaya anak gw mau belajar ngaji di rumah, shalat dsb krn kan ga kayak di SDIT yang sampe wajib dhuha bareng gitu.. tapi biarlah.. ibadah fisik kan buat anak gw sendiri, tapi empati, kasih sayang pada sesama, hidup rukun dengan yang berbeda dan non judgmental kan buat anak gw dan sekitarnya...

    So... gw termasuk juga yang berambisi supaya kelak anak gw bisa kuliah di luar aja.. apalah negara ini ITB pun ada yang kayak "gitu" orangnya :))))))

    ReplyDelete
  6. Yang tentang pendidikan anak jadi ngaruh bangett.. Gila itu pilkada, jadi ngeliatin banget rasisnya.. Kafir..
    Samaan, dulu sepakat dg suami kalau sd nya harus yang islami,, akhirnya setelah agama dijadikan maniver politik, dan pada ngeliatin bobroknua, fiuh jadi takut nanti kalau² yg diajarkanpun akan berbau² rasis gitu,, ya wes, sepertinya akan berpindah ke SD negri yang agamanya ada 5.. Kayak sekolah emak-bapaknya jamandulu.. 😘😘😘

    ReplyDelete
  7. Ini berasa banget karena gue minoritas sih. Jadi berasanya, gila gue ga bisa hidup nyaman tenteram apa di negara gue sendiri. Kayak emang gue punya pilihan tinggal di mana kalau bukan di Indonesia, sih? Trus manfaatnya gue jadi tau ada temen-temen gue yang rasis dan bigot, jadi gue bersihin sosmed gue dari mereka. Gue rasa gue ga perlu temenan lagi sama orang yang macam gitulah. Bbrp tmn gue jadi ga mau sekolahin anaknya di sekolah Islam karena ternyata dari TK aja udah diajarin untuk rasis. Parah bgt sih ini segelintir orang pengen berkuasa tapi i negara jadi korban.

    ReplyDelete
  8. Ah, I feel sooo related in this post. Gegara mantau pilkada dari reddit (yang kebanyakan isinya minoritas/liberal, aku jadi mempertanyakan agamaku sendiri, hahahah. Udah lelah juga jadi silent majority. If there are significant ways to support tolerance and respect in this country, please encourage us to join ya mba.

    Aku juga pengen pindah negara, tapi karena aku #misqin, minimal pindah kota lah, ke daerah yang lebih toleran. Jakarta is poisonous. Dulu ibu kosku sampe larang aku vaksin karena itu buatan yahudi. Dia juga bilang kalo ga mau beli sama cina, cina2 itu jahat. Urgh, racist bigot.

    Oiya, aku masih pengen sekolahin anakku di sekolah islam sih, walau basisnya lebih ke sekolah alam. I will learn their curriculum after this, amit2 ga mau anakku jadi racist bigot juga, ew.

    ReplyDelete
  9. Refreshing post. Agak relieved juga baca bahwa masih banyak temen muslim yang nggak ikut "that side".

    Tapi btw ya setau sy si sakti SetNov itu cina jg aslinya haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahahaha iya ternyata aku baru browsing, oke aku ganti pake sutowo deh 😂

      Delete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. Tentang pindah negara, oh ku sungguh ingin! T_T
    Biar lah ku lebih sayang negara ini dengan bisa merasakan survive di negara lain. Hahaha

    Banyak orang yang selalu merasa benar dan memaksa keinginan dan keputusan orang lain salah, oh muak aku ih T_T
    Ngetik komen sedikit aja panas. Palagi ka icha.

    ReplyDelete
  12. Tentang masukkan anak ke sekolah katolik, itu hal yang kulakukan sekarang. Sudah kelas 2 SD sekarang. Mungkin karena aku dulu ngerasain sekolah katolik (walopun cuma 3 tahun pas SMA doang). Setelah ngerasain sekolah negeri yang agak menganggap sebelah mata untuk non muslim, masuk sekolah katolik dan jadi minoritas sungguh membuka mata.

    ReplyDelete
  13. paling kerasa sih di WA grup keluarga besar ..
    ampe males klo udah ada share bahas2 soal agama,apalagi yg ga di kroscek lagi..
    pengen left grup tp kan keluarga yaa (takut di depak dari daftar hak waris 😝)

    ReplyDelete
  14. Bagian paling menyedihkannya adalah ibu saya pembenci BCP dan pemuja ustad2 yg klo ceramah 'nyeremin'. Ibu saya skrng gampang ngomong kafir. Denger nama Fernandez aja dia komen : kayak nama kafir. Padahal itu kami lg ngabsen nama temen2nya anak kami di sekolah.

    Saya: Bil, temen kamu siapa aja namanya coba, enin (nenek) pgn tau nih
    Abil anak saya: Dila, Tasya, Zain, Empa, Nathan, Fernandez, Arthur, karel... (enin tiba2 motong)
    Enin : jiga nama kafir (sambil ketawa)
    Saya : -___-

    Garis pertemanan juga berubah. Sedikit sih tapi terasa. Karena secara terang2an saya pernah bikin status di FB ttg 212 yg menurut saya berlebihan. Heuheu. Ya gitu deh.

    ReplyDelete
  15. Suka bgt sama postingan ini ya ampunnnn 💕

    ReplyDelete
  16. Harus kemana kita mengadu dengan uneg uneg kita sebagai rakyat jelata ini..wahai para pejabat elit yang duduk di kursi nyaman sana.. Apakah kalian mengerti dan merasakan apa yang kami rasakan? Bantu kami untuk bisa merasakan kehidupan yang nyaman dan damai dengan keberagaman agamas,ras,budaya,sifat,dsb di negara ini.. :(

    ReplyDelete
  17. Semua poinny aku setuju banget, karena aku merasakan hal yang hampir sama. Hiks, rindu Indonesia yang dulu.

    ReplyDelete
  18. Tapi ada orang-orang annoying yang menganggap JG "keliatannya" nggak beragama dan suka iseng aja gitu nanya "tadi jumatan nggak?"
    Ngingetin ibadah dan kebaikan apanya yang salah, justru bagus kan. Caranya yang ngeyel dan sok alim? Yah gak setiap orang juga pintar menyusun kata-kata, nilai dari niatnya aja

    Ingin membesarkan Bebe di lingkungan yang lebih kondusif.
    Emang kalo di negara mayoritas islam itu gak kondusif ya? Negara luar yang melarang muslimah pake jilbab menurut kakak lebih kondusif?


    Malah pas lagi pusing-pusingnya cari sekolah, sempet kepikiran apa sekolahin di sekolah Katolik aja gitu ya biar dia ngerasain jadi minoritas?
    Yah mgkin menurut kakak pergaulan anak lebih penting daripada pendidikan agama, akherat masih jauh banget ya

    Kak icha pinter dan berpikiran terbuka, semoga diberi hidayah oleh Allah SWT dan tulisannya lebih bermanfaat dan ladang amal, bukan jadi mudharat bagi sesama

    ReplyDelete
    Replies
    1. darling, kalau kamu nggak setuju sama aku nggak apa-apa. kalau kamu mau sekolahkan anak kamu di sekolah agama apapun terserah kamu, kalau kamu mau ngingetin orang sesuatu yang udah jadi kewajibannya juga boleh banget. aku kan cerita AKU dan ternyata orang relate. tapi kalau kamu tidak relate ya tidak apa-apa, tandanya kamu nggak perlu share atau baca sampai selesai.

      Delete
  19. Pelajaran yang aku bisa ambil dari sini adalah, menulis ginian capek. Dan bacanya juga capek wkwk..

    Daann... aku sempat berikir sama. 'Apa aku sekolahin calon anakku besok di sekolah katolik aja ya? Selain disiplinnya tinggi, nggak rasis dan menghargai perbedaan.'

    Tapi bukan berarti menjauhkan anak dari agama. Itu poin nya.

    ReplyDelete
  20. aku suka banget sama annisast kalau lagi begini.. kenapa? ya karena berani bersuara melalui tulisan tentunya ,. padahal belio adalah kaum mayoritas itu sendiri ...

    salut dengan tulisannya yg jujur,.
    dan tidak lupa bahwa negara kita itu bhineka tunggal ika..

    ReplyDelete
  21. Setuju banget sama tulisannya mbak.
    Mikirin keadaan Indonesia terutama masyarakatnya bikin pusing. Pusing nyari akar masalahnya dan pusing mikirin gimana cara nyelesain masalahnya. Kompleks. Dan aku juga ngalamin poin kedua dari tulisannya mbak, rasanya ingin tidak memeluk agama apapun.

    ReplyDelete
  22. Ih kok sama banget yaaa. Aku ada di titik yang bangga dan mau bela agama sendiri, tapi malu krn sebagian besar radikal :( btw kak icha aku mau sharing pengalaman aku sendiri. Aku SD dan SMP sekolah di sekolah swasta umum, dan semua agama tumplek disitu. Islam, kristen, katolik, hindu, buddha, smp murid yg kong hu cu ada (walopun gak kenal dan cuma seorang hehe). Dan disediain ruang ibadah masing2 sm sekolah. Aku nyadar itu ngebentuk toleransi aku banget sih dan aku ttp teguh sm agamaku kok.. yg aku kaget pas SMA masuk negri yg mayoritas Islam astagaaa temen2ku banyak bgt yg ga toleran dan mengkotak2an agama. Lg ngegosip aja bawa nya agama. Ex "si A pacarannya peluk2an gitu ya, wajar sih dia kan agamanya ****" aduh kesel bgttttt kalo ada yg bgitu. Jd menurut pengalamanku sendiri, emg toleransi gt harus dr kecil sih tp drmh ttp dikasih ilmu agama yg dianut (aku tiap sore dulu ngaji di TPA hehe) biar ttp meyakini agamanya sendiri tanpa harus ngerendahin keyakinan lain.

    ReplyDelete
  23. iya, aku jadi tahu dengan siapa aku bisa ngobrolin soal agama dan dengan siapa aku cuma perlu ngobrol soal remeh temeh. efek pilkada.

    ReplyDelete
  24. Bukan warga DKI, tapi ngerasain dampak besar Pilkada DKI.

    Jujur ya, Cha.. Melihat Ahok dibegitukan kemarin, membuatku jadi semakin beriman. Padahal sebelumnya, aku orang yang enggak religus2 amat. Beribadah juga bolong2. Tapi lihat beliau kemarin, ya Tuhan... kayak berasa ditampar2. Kotbah tiap minggu pun imbasnya enggak sebesar kejadian nyata di depan mata ini.

    Buatku, beliau ini martir bagi kami semua.

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)