-->

Image Slider

Showing posts with label familytalk. Show all posts
Showing posts with label familytalk. Show all posts

#FAMILYTALK: FAREWELL

on
Saturday, November 5, 2016

SO YEAH NGGAK AKAN PANJANG-PANJANG: INI EPISODE TERAKHIR FAMILYTALK.

HUAAAA.

Been a long long journey.

Baca punya Isti:

Berawal dari keambisiusan saya setahun yang lalu, saya punya hari Sabtu sebagai hari kosong untuk blogging.

Senin Monday Techno, SelasaCantik, Rabu Ibu, Kamis-Jumat topik bebas (biasanya curhat bahahaha), Minggu Life Series, dan yah Sabtu saya nggak punya tema.

Akhirnya saya ajak Isti untuk kolaborasi dan bikin FamilyTalk di mana kami bicara tentang topik yang sama seputar keluarga dari sudut pandang masing-masing. Tujuannya supaya dapet pembaca baru, link back organik, dan yah lebih gampang aja nemu ide kalau diomongin berdua.

Nah ini juga sekalian ngasih tau buat yang shock kenapa blog saya 2 tahun bisa 2 juta views, setahun pertama saya blogging hampir TIAP HARI loh. Bolos paling Jumat doang. Plus semua di-schedule untuk ter-upload jam 7 pagi setiap harinya. Jadi saya menulis malam sebelumnya. No wonder kan?

Tapi hidup berjalan terus dan saya sampai di titik di mana sibuk banget di kantor huhuhuhu.

Tahun kedua jadwal blogging mulai berantakan, boro-boro tepat jam 7 pagi, seminggu nulis 3x aja itu udah paling top banget. SassyThursday dan FamilyTalk selalu bikin saya bangun jam 4 pagi dan nulis. Kebayang ga ngantuknya kaya apa?

Berbulan-bulan melakukan itu page views saya belum turun. Tapi 6 bulan terakhir akhirnya kerasa banget turun sekitar 50-60ribu views per bulan. Aku capek sissss, udah ngantuk-ngantuk nulis tapi yang baca dikit huft. Ini diduga karena ganti template juga tapi setelah saya pikir-pikir kenapa menyalahkan orang lain karena memang nulisnya juga berkurang sih.

Udah gitu masih tetep ambisius pengen ke YouTube seminggu sekali. Ya nggak kekejar lah, banyak bolongnya banget itu YouTube. Syuting aja nggak sempet apalagi edit video.

Jadi rencananya saya mau bebenah dulu. Ngecekin apa yang salah dengan template (sampai berencana ganti lagi ke template lama). Nyari flow yang enak untuk blogging dengan teratur lagi. Bikin jadwal dan menepati jadwalnya. Dan saya nggak akan blogging hari Sabtu atau Minggu karena effort luar biasa (aku mau bobo plis aku ngantuk) dan yang baca dikit banget dibanding hari-hari lain. Ini wajar terjadi kok untuk media-media online.

*btw semalem aja saya stand by demo sampai jam setengah 2 dan maunya bangun jam 10 gitu tapi harus bangun jam 6 untuk nulis ini zzzz*

Udah sih gitu aja. Cuma penjelasan sedikit kali ada yang nunggu.

Have a good day!

-ast-




#FAMILYTALK: Belajar Mandiri

on
Saturday, October 22, 2016

Bulan ini Bebe umurnya 2 tahun 4 bulan. Lagi masa-masanya ingin mengerjakan semua sendiri. Dari buka kait bra (buat nenen) sampai pake baju dan pake sepatu sendiri. Kalau saya nggak sengaja membukakan, bisa ngamuk dan harus diulangi lagi.

Iya ibu-ibu lain pasti mengalami juga lah, yang sepatu udah dipake harus dibuka lagi karena maunya pake sendiri. Level sabun udah kebilas harus sabunan ulang karena maunya bilas sendiri.

T_______T

Baca punya Isti di sini:

Apa yang saya lakukan dalam menghadapi Bebe yang mandiri banget ini?

Mengamankan rumah

Ini berat banget gengs. Karena rumah kontrakan kecil terus yang tersulit adalah mengamankan KOMPOR. Iya soalnya lemari piring ada kuncinya, kulkas aman, kompor yang sulit karena Bebe penasaran banget pengen nyalain kompor sendiri.

Ini dia lagi seneng bikin omelet tapi pengen pecahin telor sendiri, parut keju sendiri, dan masak sendiri. Pecahin telor dan parut keju sih okelah ga masalah kotor-kotor mah lah, tapi nyalain kompor dan menggendong di depan kompor dengan dia pengen aduk sendiri ITU GIMANA CARANYA? T______T

Yah, tolong ya yang punya ide memasak aman bersama balita 2 tahun, leave comments below!

Beri benda tajam mainan

Seperti gunting plastik dan pisau plastik. I know i know harusnya dikasih gunting dan pisau beneran. Tapi sejak Bebe tertarik pada gunting dan pisau saya selalu tunjukkan ini tajam, cus coel dikit ke kulitnya cuma biar merasakan itu tajam. Dia jadi berhati-hati. Kaya waktu Bebe pernah memecahkan gelas, saya colek sedikit beling ke kakinya biar dia tau kalau itu tajam. Sejak saat itu Bebe selalu memegang gelas dengan dua tangan dan jalan berhati-hati. Dan iya kalau di rumah dia hampir selalu pakai gelas kaca.

Selalu diulang sih "Be, hati-hati nanti pecah, kalau pecah kenapa?" Bebe bisa jawab dengan lancar "Kalau pecah tajam".

Untuk gunting pertimbangannya adalah biar yang kegunting kertas doang. Meminimalisir risiko baju atau sprei kegunting gitu hadoohh. Lagian gunting kertas juga kalau kena tangan mayan tajem kok, tapi ga bisa melukai. Nggak bisa melukai tangan dan sprei lol.

Tahan keinginan untuk ikut campur

Ketika anak mau mengerjakan sendiri, tugas kita hanya menyemangati. Kalau dibantu terus takut jadi nggak mandiri. Iya sih pake celana aja luamaaa banget, tapi ya udah sabar-sabarin aja. Atau pake celana taunya belum pake diapers. Jadi udah mah dia susah payah pake celana, terpaksa harus dibuka lagi karena harus pake diapers dulu.

Ya sudahlah tahan diri. Agak emosi kalau makan sendiri sih karena jatuh-jatuh makanannya hadeuhhh. Tapi aku harus jadi ibu yang sabar idola kita semua. -_____-

Beri tanggung jawab.

Semacam buang sampah atau beres-beres mainan. Atau sesimpel membawakan sesuatu dari ruang tamu ke dapur. Atau kalau andalan saya, tolong ambilkan minum.

Dengan demikian dia jadi nggak penasaran lagi sama dispenser dan nggak pernah random pencet-pencet biar air keluar. Anak yang penasaran sama dispenser kayanya yang suka dilarang main di dispenser deh. *ngarang lol

Jangan selalu nurut

Ini aku berasa banget nih karena Bebe lagk melakukan segala sendiri, rasanya ingin membiarkan aja. Tapi ternyata nggak gitu juga. Tetap orangtua yang beri batasan.

Seperti ingin nyalain kompor sendiri tetep nggak boleh. Tetep diberi penjelasan kalau ada hal-hal yang belum bisa dilakukan anak-anak dan harus ditemani ayah atau ibunya.

FULL ATTENTION DAN SABAR

Ini harus di capslock amat. Kenapa? Karena inti dari anak ingin ngerjain semua sendirian adalah ibu yang bengong nungguin anak bermenit-menit pakai celana hahahahaha.

Plus harus full attention karena takut bahaya lah.

Huah, capek banget ya hahahahha. Dulu waktu bayi capeknya karena nggak bobo-bobo, sekarang bobo sih tapi capek karena harus 100% terus nemenin Bebe sementara badan pulang kantor aja rasanya udah 20% pengen bobo lol.

Semangat buibuuu!

-ast-




#FAMILYTALK: Cita-cita Bebe

on
Saturday, October 8, 2016



Orangtua zaman dulu (apalagi generasi di atas saya) rata-rata punya cita-cita untuk anaknya. Anaknya harus jadi PNS! Anaknya harus jadi dokter! Anaknya harus kerja kantoran! Anaknya harus jadi insinyur! *macam si doel*

Beda dengan orangtua millennials yang biasanya slow "serah deh mau jadi apa yang penting nggak rugiin orang lain". :')))

Baca punya Isti di sini:

Mungkin karena sebagian di antara kita terlalu diatur hidupnya jadi ketika punya anak, nggak mau terlalu ngatur. Teori parenting paling hits kan justru "tidak melakukan apa yang orangtua lakukan pada saya".

Bebe gimana? Jadi apa ya Bebe di masa depan?

Karena saya sama JG anaknya nggak serius, kami suka ketawa-tawa kalau ngebayangin si Bebe remaja jadi anak serius. Tau-tau dia senang bersekolah dan senang belajar. Tau-tau senang pelajaran Matematika yang nggak kami sukai. Tau-tau anaknya serius banget belajar mulu nggak pernah main.

Hahahah pasti saya dan JG akan dorong-dorong dia untuk "main kek Be, kamu kok belajar terus sih!". Sekalinya main, main game sendirian di rumah, geek geek gitu padahal saya sama JG kan (dulu waktu belum nikah) social butterfly banget alias di mana ada waktu main maka mainlah!

Kalau Bebe pendiam dan lebih suka main game sendirian di rumah ya udah nggak apa-apalah asal tetep mau cium ibu lol. Asal dia nggak nyuruh kami diam karena bahkan sekarang aja Bebe mulai annoyed sama kelakuan kami yang kadang ajaib.

JG joget "appa jangan joget!". JG nyanyi "appa jangan nyanyi!". Saya dan JG ngobrol padahal dia lagi serius main "IBU DIAM. JANGAN NGOMONG IBU!"

-__________-

Tapi gimana juga kalau sebaliknya?

Ternyata Bebe remaja malas sekolah dan tidak suka belajar hahahahaha. Ya nggak apa-apalah,seharusnya saya udah nanya dia mau kuliah apa sejak kecil sih. Masuk SMA harusnya kami sudah tau apa yang Bebe suka jadi ya mau sekolah silakan, nggak mau sekolah dan mau melakukan hal yang disuka silakan. Asal positif aja, nggak narkoba dan nggak kriminal wtf.

Saya dulu pas SMA nggak malas sekolah sih, tapi saya malas belajar juga. Sekolah karena mau ketemu temen-temen dan pacar aja HAHAHAHA. Tapi karena saya udah tau apa yang saya suka, saya fokus di situ dan fokus untuk kuliah di bidang yang saya suka. Jadi nilai Fisika 4 di rapot itu no big deal karena demi apapun juga saya nggak akan kuliah teknik.

Kayanya Bebe akan saya gitukan juga. Itu kalau dia sekolah formal ya.

Kalau nggak mau kuliah gimana?

Jadi inget anaknya seseorang di mana ayah ibunya profesor dan kucluk-kucluk anaknya lulus SMP bilang "aku mau STM aja terus kerja, aku nggak mau kuliah".

Krik krik.

Kuliahlaahhh. Kuliah dan kampus itu mendewasakan. Beda kan makanya pola pikir orang kuliah dan nggak kuliah. Ketika nggak kuliah, kamu stuck di pola pikir anak SMA.

Mungkin ada pengecualian ya, tapi tetep sih se-millennials-millennials-nya saya. Saya maunya Bebe kuliah, kecuali dia bisa mengubah pikiran saya huahahaha.

Maksudnya kuliah kan bebas banget ya. Suka musik? Ya kuliah musik lah! Sukanya bikin video di YouTube, ya kuliah sinematografi lah. Suka olahraga? Ya kuliah olahraga lah!

*sok artistik banget jurusan kuliahnya padahal tau-tau si Bebe sukanya Fisika terus masuk Fisika Murni karena memang passionate pada rumus Fisika* *pingsan*

HAHAHAHAHHAHA

Terus kerjanya apa?

Apa aja asal nggak ngambil hak orang lain, Be. Apa aja asal Bebe senang melakukan itu. Apa aja asal Bebe nggak pulang ke rumah dengan muka capek dan bilang ingin resign aja.

Saya sama JG sih ngebayanginnya Bebe sama kaya kami sih (alias nggak akan suka eksak lol) since personalitynya udah mulai keliatan. Di luar ke-balita-an dia yang suka lari-lari nggak jelas sambil kepala liat ke atas sampai pusing dan jatuh, dia kemampuan interpersonalnya bagus, seneng ngobrol, sama kaya appa dan ibunya lah pokoknya. Monkey see monkey do.

Kami punya waktu 20 tahun untuk bantu menemukan passion Bebe dan pasti akan kami temukan! Hiduplah dengan passion supaya nggak banyak ngeluh soal kerjaan!

Udah sih itu aja.

-ast-




#FAMILYTALK: Homeschooling, Yay or Nah?

on
Saturday, October 1, 2016

Kalau 20 tahun lalu (alias pas saya SD) terus saya atau ada temen saya bilang ke orang tuanya. “Bu, aku nggak mau sekolah ah!”. Hampir pasti si ibu menghela nafas kecewa atau ngamuk. Si anak akan dijudge sebagai anak pemalas dan (mungkin) juga dianggap bodoh.

Kalau zaman sekarang nggak ya ternyata. Pernyataan tidak mau sekolah bisa ditanggapi dengan pertanyaan serta pencarian minat dan bakat, kemudian homeschooling deh!

Baca punya Isti:

Kalau yang sering baca blog saya pasti taulah ya saya sih pro homeschooling dan sekolah full day. Beberapa kali saya juga bilang kalau saya nggak sanggup homeschooling. Tapi ternyata setelah baca banyak sekali pengalaman orang-orang yang homeschooling, kayanya saya sanggup deh. Hahahaha. Pede aja ya kan.

Ini jaga-jaga aja sih kalau Bebe ternyata nggak mau sekolah atau dia nggak bahagia di sekolah. Saya takut dia sekolah di bawah tekanan kan kasihan. Opsi sekolah full day tetap jadi opsi utama, dana pendidikannya tetap diusahakan bisa tepat waktu tepat jumlah. Tapi saya juga mencari dan belajar banyak soal homeschooling ini.

Apa yang bikin percaya diri untuk homeschooling?

Belum sih belum, belum 100% percaya diri sih. Tapi yang menarik dari konsep homeschooling ini adalah anak bisa belajar sesuai minat dan bakat dia. Soalnya saya ngalamin ini banget.

Saya dari kecil suka menulis. Suka menggambar tapi rasanya kurang bakat. Jadi anggap minat dan bakat saya menulis dan menggambar hanya minat saja (tidak atau kurang berbakat).

Karena ibu saya baik sekali, saya diarahkan sejak kecil untuk kuliah yang mendukung minat dan bakat saya. Ibu saya tidak marah kalau nilai saya kecil. Ibu bahkan tidak marah waktu nilai Fisika saya di rapot 4. Saya hanya disuruh les karena ibu takut saya tidak naik kelas.

(Baca: Full Day School Idaman)

Coba kalau saya tidak harus melewati semua pelajaran eksak itu. Coba kalau saya dari kecil menulis dan terus menggambar. Mungkin saya sekarang sudah jadi senior editor di BuzzFeed (LHOH KOK CEMEN). Mungkin sudah jadi senior editor di Huffington Post lah katakan. Atau sudah kerja dari rumah aja jualan desain di Creative Market atau Etsy. 

Sekarang nulis juga nanggung di blog doang lol. Desain juga masih panjang perjalanan karena kurang pengalaman. Saya nggak mau Bebe seperti itu.

Ada temen kantor saya yang jago banget gambar, namanya Sarah. Sarah ini emang desainer di kantor saya. Ini contoh gambarnya. Instagramnya posting gambar semua bisa dilihat di sini.


Gambarnya halusss banget padahal ga pake alat mahal-mahal. Pake bolpen biasa gitu hikssss. Terus saya tanya, dia belajar gambar dari umur berapa? Dia jawab dari umur 4 tahun! EMPAT TAHUN. Dia seumuran sama saya jadi dia sudah menggambar selama 24 tahun! Tanpa putus! Kuliah desain!

Jadinya wajar kan gambarnya halus banget? Pengalamannya 24 tahun loh!

Orang-orang kaya gini yang bikin saya menyesal. Kalau kemampuan belajar saya sama kaya dia, dengan minat tanpa bakat menggambar, dan saya baru mulai sekarang, saya baru akan bisa sehalus itu 24 tahun lagi. WHY GOD WHY.

Atau Valentino Rossi, *jangan kira saya ngerti yah, ini diceritain JG* dia di sekolah dicap anak "nakal" karena nggak pernah mau belajar. Tapi dia fokus satu hal yaitu balap, dia udah balap dari umur 4 tahun juga!

Nah, jadi intinya tugas saya sekarang adalah mencari minat dan bakat Bebe. Untuk dikembangkan sejak dini. Untuk menentukan nantinya dia perlu sekolah apa nggak. Soalnya kan kali aja ternyata Bebe suka belajar, ada loh ya orang yang hobinya memang belajar, belajar apapun dia suka. Ya udah kalau gitu mah sekolah formal aja.

Kalau nggak tahu bakatnya apa?

Ya dicari pelan-pelan. Kalau sampai masuk usia sekolah belum tau bakatnya apa, saya sih kayanya mau sekolah dulu aja. Bisa ada orang ketiga juga (guru, sekolah) yang bantu saya untuk nemuin minat dan bakatnya. Kalau di tengah-tengah mau berhenti karena sudah ketemu juga ya boleh.

*ngomong kaya gampang yah karena belum terjadi aja sih*

Kalau minat dan bakat berubah di tengah jalan?

Nah ini nih yang jadi pertanyaan beberapa orang. Minat dan bakat waktu kecil kan nggak mencerminkan pilihan saat dewasa yah, kalau berubah atau menyesal gimana?

Sungguh aku pun tak tahu hahahaha. Mungkin ya diasah lagi pelan-pelan, lagipula seumur hidup kan pencarian dan pembelajaran, jadi nggak apa-apa ya harusnya kalau di tengah jalan mau belajar hal baru.

Ada yang bisa bantu jawab kah untuk poin ini?

Kalau bingung mau kuliah di mana?

Kalau sampai lulus SMA belum nemu juga minat dan bakat gimana dong, kuliah di mana dong? Nah, ambillah jeda waktu setahun. Kasih masa tenggang dulu *macam provider telco* Magang atau jadi volunteer, lihat dunia lebih luas.

Dulu saya judge orang yang nunda kuliah dengan "hih sayang banget waktunya! keburu tua loh!". Sekarang mah wah, lebih sayang lagi kuliah hal yang nggak kita suka sih. Mending tunda dulu.

(Baca: Salah Jurusan Kuliah)

Asal jangan menunda tapi terus bobo bobo aja di rumah ya. Tunda tapi terus cari sebenernya apa yang dicari dalam hidup.

Kalau nggak mau kuliah?

Tergantung alasannya apa hahahaha. Karena kuliah itu mengubah seseorang banget, bukan cuma urusan susah cari kerja nantinya. Kalau tiba-tiba nggak mau kuliah karena ngeband sih no ya, kecuali bandnya sejak SMA udah go international gitu. Kalau tiba-tiba nggak mau kuliah karena mau bisnis misalnya, ya kuliahlah, ambil manajemen, bisnis, atau finance.

Apalagi ya. Huh sampai ngos-ngosan banget nulis ini.

Kalau ada yang kurang kabar-kabariii. Kalau ada pertanyaan, tulis komen. Kalau pertanyaannya menarik nanti aku edit postingan dan aku tambahin di sini.

Happy weekend!

-ast-






#FAMILYTALK: PARENTS TAG!

on
Saturday, September 24, 2016
 
Holaaa!

Ya nggak udah panjang lebar intinya kalau jawabin question tag mah lagi nggak ada ide aja hahaha.

Baca punya Isti:

1. How many children do you have?
And how old are they?

Well. 1 son, 2y3m.

2. What are your proudest and most frustrating moments as a parent?

Last night when he was trying to wear his pants by himself. I'm so proud that he can do it yet so frustrated waiting because he's done that in 15 minutes.

Kalau jadi orangtua nggak sabaran, itu pasti udah direbut deh celananya terus pakein ajalah. 10 detik kelar. Tapi kalau gitu kapan belajarnya?

Jadinya serah deh, kebalik aja sampai 2x. Kebalik, gue bantu balikin, kebalik lagi T_______T Gue balikin lagi, baru deh bener. Berikutnya adalah dia bingung cara ngeluarin kaki dari bolongnya. 

Yah, sampai akhirnya bisa keluar, kemudian dia berdiri dan tarik ke atas. Proud! My frustration gone instantly. lol.

3. How do you discipline your child/children?


1. Tidak pernah kalah dengan tangisan
2. 2-5 minutes time out.

*nanti nulis detail ah soal time out*

4. Do you co-sleep?

YES. Karena ga punya kamar lagi hahahaha sad. Ada sih kamar tapi di atas. :(

5. What is your one MUST HAVE piece of baby equipment?

Baby bouncer, bisa anteng banget duduk di bouncer. DULUUU GENGS DULU. 

6. Name one thing you bought before you had your baby and you never ended up using?

Nursing apron. Nyoba dipake atau dibawa maja nggak. Hahahaha.

7. Have you always wanted kids? How many more do you plan on having?

I never wanted kids but i also had never not wanted kids. None.

8. Do you think your relationship with your spouse has changed since you had children? Better or worse?

Better. We changed from a romantic lovey dovey to annoying high-pitch-baby-song-singer HAHAHAHAHA

9. Date night? How many nights (or days) per month?

NEVER. 

10. How is your relationship with friends since having a child?

Udah pernah gue bilang di postingan sebelumnya, gue udah hampir nggak pernah nongkrong atau ketemu sama temen-temen. 

11. How many cars does your family have?

1 aja soalnya garasi cuma 1 #persoalan

12. Dream vacation with your kiddos AND one without the kiddos?

Japan and ... Japan. The Wizarding World of Harry Potter to be exact hahahaha.

13. Where do you shop for your kids?

Randomly. Biasanya kalau lagi di mall dan ada diskon, gue beli banyak sekaligus terus berbulan kemudian nggak beli lagi. Ada juga satu FO di BTC Bandung yang murah-murah dan ya gitu sama. Beli sekaligus banyak terus ga beli-beli lagi.

14. Favourite mommy makeup and skin care products?

WTF IS MOMMY MAKE UP?

15. Since becoming parents, do you notice you act more like your own mother (for mom) / father (for dad)?

Not really.

16. Piercing a baby’s ear: do or don’t?

Don't. (Meskipun gue ga punya anak perempuan nih ya). Kalau pun suatu hari dia mau tindik ya dia akan tindik dengan kemauan dia sendiri. Kenapa harus kita yang nindik? Untuk nunjukkin dia perempuan? Kenapa harus ditunjukkin emang? lol

17. Bath or shower? (for you and child/children)

Not even a prob.

18. Is mom back to her pre baby weight?

Yes. Kayanya sebulan gue udah balik ke berat normal deh. Nyusuin sejam sekali nurut ngana nggak bikin kurus?

19. College dreams: Do you expect your kids to go to college? Or would you let them decide for themselves?

Kuliahlahhh. Tapi kuliah lah di tempat yang sesuai passion. Kalau lulus SMA belum tau mau kuliah apa, ya jangan dipaksain. Tunggu aja setahun, community service dulu, magang-magang dulu, asal nggak nganggur aja di rumah. 

Karena kuliah itu mendewasakan. You're not a same person before and after college life.

20. Finish these sentences: “you know you’re a mom when you______?” “You know you’re a dad when______?”

Harus buru-buru jam 5 teng langsung pulang. T_____T Aku suka kerja tapi aku juga suka Bebe. -_______-

Oke itu aja ternyata. See you next week!

-ast-

source:
https://labellemama.com/tag/20-questions-for-parents-tag/




#FAMILYTALK: Life with Kids

on
Saturday, September 17, 2016

Sering liat kan ya foto-foto yang dishare orang di Facebook tentang kelakuan toddler aka balita yang ajaib? Ada yang coret-coret muka pake lipstik, ada yang ngawur-ngawur terigu sampai satu rumah jadi putih.

Baca punya Isti:


Meskipun (dulu) saya selalu mengeluhkan Bebe adalah anak yang energinya nggak habis-habis, dia adalah anak yang manis.

HAHAHAHAH MUJI ANAK SENDIRI.

Soalnya sampai sekarang, 2 tahun 4 bulan, Bebe belum pernah melakukan hal mengejutkan yang bikin speechless. Ok nggak fair sih ini karena toh kami cuma ketemu dan main malam-malam dan weekend tapi saat malam dan weekend ini Bebe full sama saya atau sama JG dan nggak pernah lepas dari pandangan sedikit pun.

We're that possesive.

Jadinya sampai sekarang belum pernah ada moment kaget karena Bebe mainin lipstik saya atau Bebe tiba-tiba ngeluar-ngeluarin baju atau piring dari lemari gitu. Atau tiba-tiba basah karena main air sendiri gitu. Belum pernah.

Di grup ibu-ibu temen kuliah, pernah ada pembicaraan semacam ini saat membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kalau kami playdate karena ada 6 anak kecil cowok. Percakapannya kurang lebih gini:

A: "anak gue bisa-bisa nendang-nendang meja sama siram-siram air minum"

B: "anak gue baru aja ngabisin bedak sebotol buat main salju-saljuan"

Gue: "pada ngapain sikkkk?"

B: "ya gitu aja, nggak perlu alasan, itu kegiatan tanpa tujuan tante icha."

Terus saya mikir. Bebe nggak pernah loh melakukan kegiatan tanpa tujuan. Terus saya jadi kasihan sendiri. T_______T

Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin karena dia selalu dapet full attention. I don't blame you ibu-ibu full time mom, ya kali kalau di rumah 24 jam mah mana bisa gue juga full atensi sama dia doang. Ini karena ketemunya cuma dari jam 5 sore sampai waktu bobo, perhatian saya dan JG itu full buat Bebe.

Jadinya ya dia melakukan kegiatan dengan tujuan dan pasti minta ditemenin karena seharian nggak ketemu.

"Main mobil yuk ibu"
"Sepak bola yuk ibu"
"Baca buku yuk ibu"
"Main beras dong ibu"

Ya main beras buat motorik ala-ala itu. Padahal dia bisa ambil sendiri berasnya karena ditaro di tempat beras Tupperware yang tinggal ditarik terus berasnya nongol di laci bawahnya. Tapi dia nggak pernah tuh ambil sendiri, selalu izin dulu sama saya atau JG.

Intinya semua kegiatan dia pasti ada tujuannya dan nggak pernah bikin kaget karena dia selalu bilang dulu.

Rumah jadi berantakan terus nggak setelah punya anak? Mmmm, sebelum punya anak juga rumah berantakan sih hahahaha. Selalu berantakan karena nggak punya waktu beres-beres. Pulang dari Bandung, segala barang yang dibawa itu minimal seminggu lah masih numpuk di ruang tamu.

Capek lah, nggak usah maksain beres-beres kemudian cranky. Mending rumah berantakan tapi bobo lebih lama daripada rumah rapi tapi bobo sebentar. #lifeguide

Kalau mainan sih nggak ya, Bebe anaknya rapi banget. Kalau habis main PASTI beres-beres karena dibiasakan kaya gitu di daycare. Main Hot Wheels sekoper di kasur, sebelum tidur pasti buru-buru dimasukin semua dan disingkirkan dari kasur. Main di rumah orang lain pun dia beresin sampai semua kembali ke tempat semula.

Pernah lagi belanja bulanan di Superindo, kami lapar sekali dan akhirnya duduk di dalam, ada booth yang jual ituloh, kue pukis, risol, dan carabikang. Kami duduk di kursi plastik, Bebe tanya bolehkah ambil kursi yang dekat tembok untuk didorong-dorong? Saya bilang boleh.

Dia kemudian dorong-dorong kursi ke sana kemari (ini ada tujuannya ga ya hahaha selama nggak ganggu orang nggak pernah dilarang sih). Lucunya pas mau pulang, dia kembalikan kursi itu ke posisi semula seperti waktu dia ambil. :))))) Konsep beres-beres melekat banget buat Bebe. Meskipun kadang dia beresinnya asal karena ngantuk atau nggak sabar ingin main yang lain tapi yah, 90% dia main selalu langsung dia beresin.

I guess I'm super lucky. :')

Tapi kalau yang ditanya adakah yang berubah dari kamu setelah punya anak?

Ya selain mendewasakan dan mengubah ukuran gentong sabar, yang jadi sangat jarang kami lakukan adalah nongkrong bareng temen-temen. Dulu hidup saya dan JG adalah main mulu sama temen-temen, nongkrong sampai pagi. Dari mall sampai sevel doang yang penting ngumpul dan ngobrol.

Sekarang nggak pernah sama sekali. Kami hampir tidak punya teman yang rutin ditemui karena yah, di rumah ajalah. Mentok ngemall bertiga aja biar santai, nggak diburu waktu dan bebas mau ngapain aja.

Dan karena ke mana-mana bertiga, jadinya kalau mau ada event atau acara apapun, harus disepakati dulu mau pergi nggak nih? Aku sama Bebe nunggu di mana? Gitu. Jadi maap-maap gengs kalau ada yang pengen main sama kita tapi kitanya nggak bisa mulu. Hidup udah cukup heboh nih huhu.

Udah sih itu aja.

-ast-









#FAMILYTALK: Mengajarkan Kebiasaan Baik pada Anak

on
Saturday, September 3, 2016

Mengajarkan kebiasaan baik pada anak itu gampang-gampang susah. Gampang karena ya tinggal dibiasakan. Susah karena siapa deh yang bilang punya anak itu gampang?

Baca punya Isti:
Kebiasaan Baik pada Anak

Ini beberapa kebiasaan baik yang saya tanamkan pada Bebe.

1. Cuci tangan dan kaki


Kami bukan keluarga yang hygiene freak banget sampai segala dilap dulu sebelum dipegang Bebe. Tapi kalau habis main di luar, ya harus cuci tangan dan kaki. Di daycare pun diajarkannya seperti itu.

So far so good, namanya anak dan air ya, nggak susah sama sekali nyuruh anak cuci-cuci mah hahaha.

2. Sikat gigi


Ini sempet drama banget. Pernah saya ceritakan di sini: Gosok Gigi Sama Bebe

Berikut-berikutnya meski pakai odol pun dia kuat pendirian, nggak mau ya nggak mau. Suatu hari ada jadwal dokter gigi di daycare, entah gimana si dokter mencontohkan kalau gigi nggak disikat itu nanti bisa keropos. Dan kebetulan ada anak daycare yang giginya keropos, hitam, dan hancur gitu loh.

Bebe seperti tersadar pentingnya gosok gigi lol. Dia shock kenapa temennya giginya bisa begitu. Sekarang gosok gigi tanpa drama lagi, tinggal bilang aja: nanti giginya kaya xxx loh? Hiiii.

*kemudian mangap* Dan sampai sekarang gigi Bebe utuh semua huhu terharu banget.

#win

3. Meminta maaf

Ini masih peer. Entah anak cowok doang apa anak cewek juga sih? Soalnya Bebe gengsinya udah gengsi cowok banget. Kalau salah gengsi kalau harus minta maaf duluan.

Beuh dibujukin sampai time out maksa dia untuk minta maaf. Tapi nggak selalu sih. Kadang dia sukarela ngasih tangan untuk salaman kalau habis berantem sama temennya.

Kaya kemarin sore, di dalem playpen Bebe lagi berdua main sama temennya, sebut saja Z, umurnya 3 tahun lebih. Dan tiba-tiba Z nangis kejer dan ngambek berdiri ngadep dinding.

Mbaknya nggak tau kenapa tapi jelas kalau Z marah sama Bebe. Akhirnya Bebe disuruh minta maaf dan mau. Z nya ga mau. Bebe suruh peluk, Bebe peluk, Z nya ngambek. Sampai di daycare saya tanya.

Ibu: "Xylo abang kenapa?"

Xylo: "nangis sama xylo"

Ibu: "kenapa sampai menangis?"

Xylo: "dipukul sama xylo"

T________T

Dia tau dia salah karena mukul duluan makanya dengan mudah mau minta maaf. But whyyy harus pukul segala? Gimana cara ngajarin anak biar nggak pukul-pukul? Karena kadang bukan mukul kan tapi nepok nggak sengaja keras banget karena belum tau kira-kira.

Nah kalau Bebe nganggapnya dia nggak mukul (cuma ketepok nggak sengaja), itu nyuruh minta maaf bisa sampai berantem-berantem lah.

T________T

4. Magic Words

The magic words yang selalu disebut orang kan tiga ya, "tolong, terima kasih, dan maaf". Tapi saya punya satu lagi yaitu "permisi". Soalnya kaya nggak sopan gitu kalau mau lewat Bebe bilangnya "awas ibu awas". Otomatis saya ralat "PERMISIIII".

Magic words work best kalau kita contohkan tentunya. Exaggerate tentu saja. Pembicaraan saya dan JG di depan Bebe emang 90% akting excited.

Me: "Appa TOLONG DOONGGG ambilkan minum!"

JG: "Ini ya ibu"

Me: "WAAHHH TERIMA KASIH APPA SUDAH MENGAMBILKAN MINUM UNTUK IBU"

Every. Single. Time.

And it works!

Bebe naturally sudah pakai "tolong dong", "makasihhh", "permisiii", cuma "maaf" doang yang kadang-kadang hahahahah

5. Beres-beres

Anak nggak mau beresin mainan? Bebe mauuuu! Wuhuuu! Karena di daycare dibiasakan beres-beres mainan kan, dan sambil nyanyi! Liriknya gini, nyanyikan pake nada "are you sleeping"

"Beres beres, beres beres, sekarang, sekarang.
Ayo beres beres, ayo beres beres, sekarang! Sekarang!"

SETIAP BERES-BERES, NYANYI! Kalau lagu selesai beres-beres belum selesai, ULANG NYANYI LAGI!

Kalau awalnya dia nggak mau, nggak apa-apa. Ajak aja terus untuk beres-beres sambil kitanya nyanyi. Lama-lama kalau saya mulai nyanyi, Bebe otomatis langsung beres-beres. Yasss!

6. Potong kuku

Potong kuku karena kalau kuku panjang itu sakit banget kalau nggak sengaja kecakar. Dan Bebe tipe yang bangun kalau dipotong kukunya lagi tidur maka harus dicari strateginya.

Udah pernah saya ceritain sih, yaitu dengan bilang di kukunya ada cacing kalau ga dipotong hahahaha. Bebe taunya cacing itu cacing tanah jadi dia serem sendiri dan selalu kalem kalau dipotong kuku.

Malah sekarang jadi nyuruh saya potong kuku terus karena "hiii kuku ibu panjang ada cacing hiii"

Exactly what we always said, words by words.

LOL

7. Goodbye kiss

Saya sama JG tipe yang suka PDA hahaha silakan sebel sama kami berdua. :|

Ya nggak french kiss di kereta atau di eskalator juga sih kaya orang-orang Singapur lol. Tapi peck doang kalau di The Sims mah, muah gitu. Dan itu kami lakukan setiap hari sebelum saya turun dari mobil. Kalau pake motor, ya teteeeppp. Bonus diliatin satpam kantor lol.

Nah sekarang sama Bebe pun gitu. Harus cium sebelum saya masuk kantor. Bebe kadang ceria banget cium, kadang "jangan cium ibuuuu!"

Kenapa anak 2 tahun udah nggak mau dicium ibunya.

T_________T

Well ya, itu beberapa kebiasaan baik yang saya ajarkan pada anak saya. Ada ide lain?

-ast-




#FAMILYTALK: Anak dan Alam

on
Saturday, August 27, 2016

Lahir di Bandung dan tinggal di Jakarta sejak bayi, Bebe sedikit sekali terpapar alam. Dia tidak punya kesempatan main tanah atau manjat pohon seperti saat saya kecil dulu. Mentok di rumah ibu saya di Bandung, Bebe main di taman bermain dekat rumah yang sebelumnya adalah lapangan voli.

Baca punya Isti:

Taman itu tentu jauh dari definisi “alam”. Ya gimana, tanahnya sudah diganti paving block. Mendinglah ada taman bertanah sedikit di pojokannya untuk melihat cacing. Dan karena jarang bertemu pepohonan, Bebe takut melihat daun yang banyak. Kalau daun pohon kecil di pot sih nggak takut, tapi begitu pohonnya gede, Bebe takut. -_____-

Sebagai ibu-ibu millennials aku merasa gagal. Ibu-ibu millennials kan harusnya lebih dekat dengan alam dan membiarkan anak bereksplorasi dengan alam. Tapi gimana, selain saya juga sibuk, main dengan alamnya harus di mana coba? Di Taman Menteng atau Taman Surapati? Kalau dua itu sih sering.

(Baca: Pengalaman Naik Commuter Line sama Bebe)

Saya dan JG pun berwacana ingin kemping. Tapi kemudian rempong sendiri karena pengen kempingnya Instagram-able. Mau ke bumi perkemahan kok ya pengen tendanya dihias-hias garland warna pastel, pengen bawa kursi lipat warna-warni, pengen ada mobil VW Combi sebagai latar tenda ... KAPAN BIKINNYAAAAA. Nggak jadi-jadi deh pergi kemping karena ribet persiapannya dibanding kempingnya.

Terus pengen glamping, eh taunya tempat inceran udah penuh sampai November. Baca-baca reviewnya makanannya tempatnya doang yang bagus tapi makanannya nggak enak pula apalagi buat anak-anak. Bayar mahal cuma buat foto doang kok ya sayang. Ujung-ujungnya ngemol lagi ngemol lagi. Nggak bosan cuma tertekan karena beban Bebe nggak tau alam hahaha.

Bebe pernah sih diajak ke Floating Market Lembang, main kelinci sampai puas, sayanya jajan sampai kenyang. Meskipun saya kasian plus nggak tega karena kelinci-kelinci itu dibully sama anak-anak. Dicolok-colok mulu pake wortel, dijejelin terus ke mulutnya, ditarik kupingnya, digendong kasar. Huft. Galau abis, mending ngebelain kelinci apa ngebelain Bebe nggak tau apa itu kelinci?

Dan besok Bebe mau ke Kuntum Farm, Bogor. Baru kerasa berat banget nyari alam karena alamnya udah nggak ada. Sampai bela-belain ke Bogor deh biar mainnya nggak di mall terus. Uang yang keluar kayanya sama tapi pengalamannya beda.

(Baca: Traveling with Babies for Dummies)

Saya juga pengen ajak Bebe ke pantai tapi diduga dia akan risih dan nggak mau kena pasir sih kakinya. Bebe itu risihan banget anaknya. Nginjek karpet bulu aja jinjit. Apalagi nginjek pasir, nanti pasirnya nyelip-nyelip di jari, duh saya aja mikirinnya males. Maklum saya sendiri anaknya nggak suka pantai, soalnya panas, gerah dan lengket. HAH. Gimana masa depan Bebe kalau gini.

Apa pindah aja gitu ya ke pedesaan yang dingin dan sepi, punya ayam dan sapi, kemudian saya di rumah baking dan Bebe homeschooling. JG mencangkul tanah agar gembur dan siap ditanami. *WHAT* *brb cari rumah di Lembang* *deket* *anaknya cemen*

Kenapa gitu Bebe harus kenal alam?

Ya biar seger aja. Biar nggak liat mobil sama gedung mulu. Liat sapi kek sekali-kali.

Abis ini pasti pada nostalgia deh, waktu kecil mah liat sapi kerbau kambing gampang blablabla. Manjat pohon di halaman rumah blablabla. IYAAA ini bukannya nggak mau tapi di mana.

Ada ide jalan ke mana biar anak bisa lari-larian dan liat alam? Tapi jangan jauh-jauh dari Jakarta soalnya aku males traveling jauh-jauh apalagi sama Bebe. Capek duluan mikirinnya hahahaha.

-ast-




#FAMILYTALK: Full Day School Idaman Saya

on
Saturday, August 13, 2016

Masih heboh nggak sih ngomongin ini? Udah geser ya ke pak menteri bilang setuju pada sanksi fisik pada anak? Pak menteri ini ah, suka bikin galau ibu-ibu deh. T_____T

Tapi sebenernya pak menteri mau ngomong atau ga, saya sih udah niat biar Bebe sekolah full day hahahaha. Kayanya kalau ibu-ibu bekerja mah pada milih sekolah full day ya nggak sih? Lagian si Bebe dari 3 bulan keles sekolah full day alias daycare hahahahaha.

Baca punya Isti:

Meskipun gitu, saya juga kepikiran sama omongannya pak menteri. Kepikiran karena duh kok gini amat pendidikan di Indonesia? Bebe nggak usah sekolah formal aja kali ya?

Kemudian setelah baca berita itu saya langsung sibuk nyari tau tentang homeschooling. Padahal sebelumnya nggak pernah kepikiran. Cih, aku anaknya gampang panik.

Terus jadi tau soal banyak hal, kasih-kasih link ke JG, not bad yaaa. Nggak seperti yang saya bayangkan amat, salah satunya serem kalau saya harus ngajarin rumus fisika. Kan bisa panggil guru juga untuk pelajaran yang saya nggak mampu ajarkan, itu pun kalau mau ambil ijazah persamaan.

Kekurangan homeschooling ini adalah saya harus berhenti kerja. Yaiyalaahhh. Kuat nggak ya berhenti kerja? Saya suka kerjaaaaa. Tapi di satu sisi ngerasa meng-homeschooling-kan Bebe akan jadi tantangan tersendiri juga.

Tapi yah, itu opsi yang masih harus digoreng sampai matang *tempe keles*. So far opsi pertama masih sekolah dan itu pasti sekolah full day. Kenapa?

Ya biar ada yang dititipin aja. Jahat ya? Punya anak kok nggak mau ngurusnya malah di-subcon kan ke sekolah. Gagal lah saya mah jadi orangtua. Apalagi pake teori psikologi parenting masa kini, udalah rapotnya merah semua.

Maunya Bebe sekolah full day yang semacam daycare gitu malah. Ada jam bobo siang, dikasih makan, dikasih snack buah. Ya macam daycare untuk anak SD lah. Saya pulang kerja baru saya jemput. Ada ga sih SD kaya gitu? 

Kalau ada mau bangeettt. Kalau ga ada, berarti tetep harus mikirin opsi punya mbak dong di rumah untuk jagain Bebe sepulang sekolah. Karena tetep aja, meski namanya full day, pasti dia duluan pulang sekolah kan daripada saya pulang kerja. Hiks. Aku tak siap punya mbak.

Dan catatannya kalau mau sekolah full day, Bebe harus SUKA belajar. Tau kan ada anak suka belajar? Saya waktu kecil suka banget belajar. Tapi saya juga tau ada anak-anak yang nggak suka belajar. Anak-anak itu dulu saya labeli sebagai malas dan bodoh. Padahal sekarang setelah dipikir-pikir, kasihan mereka dipaksa belajar hal yang nggak mereka sukai.

Kalau Bebe suka belajar, jangankan mikirin sekolah full day MARI KITA NABUUNGGG DAN SET GOAL BIAR BISA MASUK INTERNATIONAL SCHOOL. Sekarang ngomong gini rasanya jauhhh sekali. Ya gimana, semurah-murahnya international school, sebulan SD aja bisa 8-9juta. Uang masuknya bisa 150juta. Tapi kan siapa tau ya nggak? Siapa tau dalam beberapa tahun ada keajaiban apa gitu? Nggak ada yang nggak mungkin, unicorn is real. :')

*ya meskipun tetep survey SD nasional plus sih lol*

Kalau Bebe ternyata lebih suka melukis? Menulis? Bermusik? Main gitar? Main game? Ya masa disuruh sekolah formal seharian kan kasihan. Maka kukuhkan tekad untuk homeschooling!

Kacaunya, kedua keputusan itu akan sama beratnya. Kalau mau sekolah bagus, we need to work our ass off biar bisa bayar sekolahnya. Kalau mau homeschooling, artinya saya keluar kerja. Whoaaa deg-degan sendiri mikirin keduanya lol.

Tapi itu kan sayaaaa. Kalau se-Indonesia harus full day school? Kenapa diharus-harusin sih? Satu opsi kan belum tentu cocok untuk semua orangtua dan anak. Ya bebasin ajalah, mau full day atau mau ga full day, yang penting anak sekolah dan belajar.

Ya kaannn. Lagian kalau semua anak sekolah full day, kasihan deh pasti akan tetap ada ibu-ibu ambisius yang akan tetep masukin anaknya les ini itu bahkan setelah sekolah full day. T_______T

Udah sih gitu aja. Anaknya suka baca buku? Nonton dong video buku favorit Bebe, ada di bawah postingan ini.

See you next week!

-ast-




#FAMILYTALK: Menitipkan Anak pada Orangtua

on
Saturday, August 6, 2016

HOLAAAAA!

Topiknya cemen sih dan kaya udah pernah ya. Udah pernah ga sih? *lupa* Abisan Bebe nggak pernah dititipin di orangtua saya atau pun JG jadi parno dia akan MANJA. Manja seperti yang saya keluh kesah-kan di postingan ini.

Baca punya Isti di sini:

Dan yah, karena Bebe nggak pernah dititipkan pada siapapun kecuali daycare. Artinya ketika daycare sudah tutup atau libur, ya otomatis Bebe dibawa-bawa terus.

Sekali-kalinya kami meninggalkan Bebe dalam jangka waktu yang lama itu waktu nonton AADC dan Civil War huahahahaha. Bebe penting, tapi AADC dan Civil War juga penting. Prioritas itu bullshit lolol.

(Baca juga: Karena Saya Tidak Percaya Prioritas)

Itu kali terlama kami meninggalkan Bebe berdua dan Bebe dititipkan pada ibu saya. Bebe diajak ke arisan, diajak main bola bersama anak-anak tetangga, sampai malam kami pulang, ia masih asyik main dan sepertinya nggak sadar juga saya nggak ada seharian. :|

DAN TERNYATA SERU YAAA PERGI BERDUA. HAHAHAHAHAHA.

Kangen banget pergi berdua JG kaya zaman pacaran dulu. Kangen banget ngemall itu jalan santai pelukan bukannya sibuk lari-lari. 

Hehehehehe -________-

Tapi yah, kalau pergi berdua gitu tetep topik pembicaraan adalah Bebe. Bebe begini Bebe begitu. 

Sempet kepikiran sih ingin Bebe SD di Bandung aja karena Bandung lebih kids friendly daripada Jakarta. Tapi terus artinya Bebe sama orangtua saya terus gitu? Gimana kalau ada prinsip yang nggak sesuai dan Bebe jadinya lebih nurut sama ibu saya dibandingkan saya yang orangtuanya sendiri? Plus gimana caranya jauh-jauh dari Bebe nanti saya kangen. Sementara saya di Bandung mau kerja di mana nggak tau.

:(

JADI AKU GALAU. :(

Eh eh baru inget. Kalian yang sering menitipkan anak sama orangtua, pernah nanya nggak sih apa orangtua kalian keberatan dititipin cucunya?

Kalau ayah ibu saya kan memang sibuk ya, mereka sejak awal menyatakan tidak sanggup kalau harus mengurus Bebe sehari-hari. Lagian capek katanya. Iya sih. Saya sendiri juga tidak mah Bebe diurus aki nininya karena banyak pola pengasuhan yang berbeda lah.


Soalnya ada tetangga mamah mertua yang dititipin cucunya setiap hari. Ibu si anak kerja. Neneknya ngurus cucunya nggak happy.

T_______T

Katanya capek, anaknya rewel nggak mau makan, jadinya dikasih susu terus. Sehari bisa minum Ultra Mimi 7 kotak dan makan sekali doang. 

T________T

Tapi si nenek mau ngeluh ke anaknya juga nggak tega karena dia nggak mau anaknya berhenti kerja. Dan dia iri ketika saya cerita Bebe di daycare. Dia mengeluh kenapa anaknya nggak kepikiran daycare daripada diurus sama dia setengah hati.

Karena mengurus cucu seharian bukan untuk setiap nenek seperti juga jadi ibu rumah tangga bukan untuk semua orang. Dan yah, kuncinya komunikasi sih.

Itu ajaaaa.

Yang belum nonton video nonton di bawah postingan ini yaaa *tetep*. Senin besok udah ada video baru jadi yang ini akan dilepas. Videonya masih lanjutan dari yang ini dan sesuai request yaitu Bebe's Favorit Book.

See you!

-ast-




#FAMILYTALK: Masuk SD Umur Berapa?

on
Saturday, July 30, 2016

Ibu-ibu zaman sekarang memang luar biasa ya. Ibu-ibu zaman dulu masukin anaknya SD kayanya pake feeling aja. “Oh 5 tahun udah mau SD anaknya, masukin deh” atau “ah tahun depan aja deh pas 7 tahun, anaknya belum mau SD soalnya”.

Zaman sekarang benar-benar diperhitungkan sisi psikologisnya, kemandiriannya, dan lain sebagainya maka 7 tahun dianggap waktu yang pas untuk masuk SD. Plus ada sekolah yang harus bisa calistung dulu pas masuk SD. Whoa whoa, panik abis.

Baca punya Isti di sini:

Saya sendiri masuk SD di umur 4 tahun 10 bulan. Belum 5 tahun pun. Nggak ada SD yang mau terima karena rata-rata minimal umurnya 6 tahun. Akhirnya ada satu SD yang mau terima karena saya dites baca tulis bisa, dites hitung bisa. Ya udah deh diterima.

Alasan ibu saya memasukkan saya ke SD di usia semuda itu karena beliau menganggap saya mampu. Saya juga bosan di TK. Plus range umur saya dan adik saya beda 3 tahun, kalau saya masuk SD tahun depannya, maka kami akan masuk sekolah bersama-sama terus. Saya ke SMA dia ke SMP, saya kuliah, dia ke SMA. Pusing bayarnya hahaha.

Dan dari kelas 1 sampai kelas 6 saya ranking satu terus. Saya sering jadi perwakilan sekolah untuk ikut lomba cerdas cermat. Setelah saya pikir-pikir sekarang, itu bukan sayanya yang pinter-pinter amat sih, tapi sekolahnya emang di sekolah kampung lol. Jadi kayanya kalau saya sekolah agak di kota dikit, nggak bakal ranking 1 hahahaha.

Tapi intinya saya bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Masuk SMP dan SMA negeri dan lulus SPMB. Semuanya smooth.

(Baca: Melarang Anak dengan Kata 'Jangan')

Satu hal, saya tidak bisa mengingat masa SD saya. Karena pas SD itu saya masih kecil. Saya hanya ingat nama beberapa teman. Saya tidak ingat kejadian apa-apa. Saya ingat kami pernah PERSAMI (perkemahan Sabtu-Minggu) di sekolah tapi saya tidak ingat saat PERSAMI itu kami melakukan apa. LUPA SEMUANYA.

Tapi saya ingat nama guru saya dari kelas 1 sampai kelas 6, saya ingat guru saya di kelas 5 punya anak laki-laki yang suka dibawa ke sekolah. Saya ingat guru saya itu kakak beradik dengan guru saya di kelas 6. Saya ingat guru agama dan guru olahraga saya. Saya ingat semua yang berhubungan dengan masa belajar saya. Saya baru sadar bahwa saya hanya mampu mengingat hal-hal yang saya anggap penting.

Apa karena saya masih kecil saat masuk SD jadi saya tidak bisa mengingat semuanya? Teori ibu saya sih gitu hahaha. Saya sendiri nggak tahu.

Nah tapi kalau dibilang gitu, para pakar ini bilang kita tidak bisa menyamakan anak-anak kita sekarang dengan kita zaman dulu. Saya dulu mampu masuk SD umur 4,5 tahun tapi anak saya belum tentu. Karena kurikulumnya beda, bebannya beda.Iya sih saya setuju. Saya sanggup menjalani SD usia segitu nggak berarti saya ketok palu bilang “ah Bebe pasti bisa juga kok”. Nggak lah, tiap anak kan beda-beda.

(Baca: Memilih Sekolah Anak)

Ada juga ibu-ibu yang nggak mau masukin anaknya ke SD umur 7 tahun karena ketuaan katanya. Hahahaha. Saya sih nggak apa-apa. Kasian sih emang kalau paling tua di kelas tapi kan gimana kalau anaknya belum sanggup masuk SD kenapa dipaksa sih ya kan.

Jadi saya nggak masalah Bebe masuk SD umur 6 atau 7 tahun. Tergantung kemampuan dianya aja nanti dan tergantung sekolah yang diincer, nerima nggak anak 6 tahun?

Anyway kalau lagi ngomongin ginian saya jadi takut banget masukin Bebe sekolah, pas UN pasti saya yang panik deh. :|

Kalian gimana? Nunggu anak 7 tahun atau semampunya anak aja?

Share yuukkk!

-ast-




#FAMILYTALK: Dekat dengan Anak

on
Saturday, July 23, 2016

I know the title is a lil bit weird tapi ya itulah intinya. Intinya adalah gimana cara kalian buibu mendekatkan diri dengan anak? Bagaimana dengan anak selalu terbuka sama kita?

Apalagi buat kalian yang nggak dekat sama orangtua ya, pasti bertekad untuk nggak mau gitu sama anak dong? Saya sendiri sih tengah-tengah sebenernya. Saya cukup dekat dengan ayah dan ibu, tapi tidak sedekat itu sampai level curhat saat saya punya masalah dengan pacar saya.

Baca punya Isti:

Pas ketemu JG saya kaget karena saya segitu mah nggak ada apa-apanya hahahahahha. JG tipe yang cerita SEMUANYA sama ibunya. Yang setiap hari telepon ibunya dan cerita segala macem. Agak jet lag dan culture shock sih karena ketauan kalau berantem, berantem kenapa lol. Pas pacaran, nggak sekali dua kali dia marah entah kenapa dan saya nanya ibunya. :|

Untung pas sekarang nikah mah nggak. We tend to hide bad news and only tell them the good ones. Karena takut mereka khawatir aja sih.

Karena liat JG begitu, saya mau Bebe juga gitu nanti di masa depan. Curhat sama saya soal apapun dan nelepon saya tiap hari muahahahahaha *posesip*. Caranya gimana ya?

Nggak tau-tau amat sih lol. Ya gimana, punya anak aja baru 2 tahun terakhir kan.

Saya cuma lakukan hal-hal ini.

1. Bertanya
Kalau udah sama saya, saya tanya Bebe banyak hal. Di daycare ngapain aja, siapa yang nangis, siapa yang udah pulang duluan, makan sama apa, dan apalah banyak banget pokoknya. Dan dia jawab.

Saya juga bercerita apa yang saya lakukan. Tadi ibu blablabla. Dia nggak ngerti-ngerti amat sih tapi ya tidak ada salahnya memulai sesuatu yang baik dari kecil. Dan bertanya ini bisa jadi quality time banget.

So far, Bebe belum pernah bohong. Kalau mbaknya bilang dia tadi nangis dan saya tanya, ia jawabnya sama. Kalau mbaknya bilang dia tadi di timeout, maka ia pun tidak berbohong. Karena apa?

2. Tidak mudah marah

Saya berusaha tidak memarahi Bebe untuk hal-hal kecil, apalagi yang sifatnya tidak sengaja. Waktu kecil, ibu saya selalu marah kalau saya misalnya menumpahkan sesuatu, karena peer beres-beresnya katanya. Padahal ya saya juga mana mau kan menumpahkan sesuatu.

Pada Bebe, saya berusaha sabar. Ya kalau menumpahkan minum, diberi lap aja diminta lap sendiri. Kalau Bebe mainannya berantakan, ya tinggal diminta aja baik-baik untuk bereskan mainan. Ini susah banget sih.

Tapi "takut dimarahi" ini efeknya besar. Dulu banyak hal yang tidak saya ceritakan pada ibu saya karena saya tau dia akan marah. Jadi ya banyak hal yang saya sembunyikan juga. Makanya saya nggak mau Bebe seperti itu.

3. Menjawab semua pertanyaan Bebe

Yang mana satu pertanyaan bisa ditanyakan lebih dari 10 kali kalau dia belum ingat. Misalnya di rumah mertua, ada kumang punya kakak sepupu Bebe.

Bebe: "ibu ini apa?"
Ibu: "ini namanya KU-MANG"
Bebe: "cumang ibu? ini apa ibu?"
Ibu: "ini KUMANG bukan cumang"
Bebe: "cumang ibu cumang?

Dan seterusnya sampai dia ingat kalau itu namanya kumang.

Saya nggak berani nggak jawab. T______T Banyak saya liat ibu-ibu yang nggak jawab anaknya. Dijawab dengan.

"Iya dek duh udah sih kok nanya-nanya terus!"

atau

"Iya udah ah ssttt berisik!"

T______T

Kasian. Belum pernah sekali pun saya suruh Bebe berhenti ngomong dan percayalah dia anaknya cerewet banget.

Jadi inget kemarin-kemarin di Kidz Station Sency ada anak kecil. Mungkin sekitar 3 tahunan karena badannya lebih gede dari Bebe. Dia ngomongnya belum lancar, payah banget, tapi dia blabbering sambil tunjuk ini itu. Dan ayah ibunya lempeng aja kaya anaknya itu bisu. Mereka sibuk sendiri cari-cari mainan. Nggak nanggepin sama sekali.

Saya sapa dong karena nggak tahan. Ternyata dia cuma tunjuk mainan dan sebut namanya.

Dia: "mobil" *sambil tunjuk mobil*
Saya: "wahhh iya ini mobil ya, pintar!"
Dia: "kereta" *sambil tunjuk kereta*
Saya: "iya itu kereta namanya Thomas"

Dan taukah kalian pas mereka mau bayar ke kasir, anak ini nggak mau beranjak dan malah pegang tangan saya, masih sambil ngomong dan nunjuk ini itu.

PATAH HATI. T_______T Kasian banget itu anak nggak ditanggepin sama ayah ibunya sampai ia rela pegang tangan saya yang stranger karena saya nanggepin dia.

Ibunya malu: "Dek, itu tangan siapa, salah mama ya."

Saya: "If you're his mom, then act like one."

*tapi dalam hati*

-________-

Ya kebayang nggak sih anak-anak yang nggak ditanggepin dari kecil gini, pas gede ga ditanggepin juga dan malah jadi ngobrol sama orang lain. Malah jadi lebih nyaman cerita sama orang lain. Jangan sampai itu terjadi sama Bebe.

T_______T

Apalagi ya? So far itu aja sih. Ada yang mau menambahkan?

-ast-




#FAMILYTALK: Angpau Lebaran aka Uang Lebaran

on
Saturday, July 16, 2016

Aduh jangan pake istilah “angpau”. Menyerupai suatu kaum loh dan mengikuti perilaku mereka. Ih ganti istilah kali. Nanti kafir loh.

*nggak bisa amat nggak sarkas sis?*

Well anyway.

SELAMAT LEBARAN SEMUANYAAAA!

#FAMILYTALK pertama setelah lebaran yang mana minggu lalu nggak nulis karena … lupa. Terlalu heboh dengan liburan yang terlalu panjang. Lelah. Jadi topik minggu ini adalah uang lebaran untuk anak.

Baca punya Isti di sini:

Dapet berapa anak-anak dari angpau lebaran? Bebe nggak terlalu gede sih, 300ribuan gitu kayanya. Karena memang nggak kemana-mana juga pas lebaran. Beda sama saya waktu kecil yang bisa sampai sejuta lebih gitu karena memang mengunjungi dan dikunjungi banyak orang.

Lagian perasaan saya aja apa gimana ya karena makin ke sini juga makin sedikit orang yang ngasih uang lebaran. Ekonomi lagi sulit kali sedunia ya kan, jadi jatah uang lebaran pun berkurang.

Uang Bebe diapain?

Udah nggak tau kemana alias saya pake HAHAHAHAHAHAHA Diniatkannya sih untuk beli sepatu tapi ya belum nemu juga sepatunya, jadi ya nanti kalau nemu saya beliin lah. Sama aja kan.

Tahun lalu juga sama, lupa deh dibeliin apa. *fail* Ya pokoknya saya pake dulu uangnya karena ribet punya uang cash banyak, terus pas Bebe mau apa ya dibeliin.

(Baca: Penting nggak sih beli mainan untuk anak?)


Bebe belum ngerti uang,belum ngerti jajan, belum ngerti beli-beli. Jadi dia cuek aja meskipun ibu saya dan tante-tantenya yang udah kerja melambai-lambaikan uang buat dia, dia lempeng aja main bola sibuk sendiri. Ya udah mereka jadi ngasihnya sama saya. Ibunya balik modal nih LOL.

Karena belum ngerti, saya juga belum berencana ngasih dia pengertian soal uang. Nanti deh kalau dia udah ngerti konsep memberi uang untuk mendapat barang, baru akan diajarkan untuk menabung dan membeli sesuatu.

Sekarang dia ngertinya cuma sebatas kalau lagi di supermarket dan beli minuman atau makanan, minuman dan makanan itu tidak boleh dibuka dulu sebelum dibayar di kasir. Dia tahu bahwa tante kasir akan meminjam minuman/makanan dia untuk kemudian dikembalikan lagi pada dia sehingga boleh dibuka. Tapi nggak ngerti kalau saya harus menukarnya dengan uang.

Dan saya pun tidak berencana memberitahu dia secepatnya sih. Sepertinya akan lebih mudah bicara uang dengan anak TK atau SD dibanding dengan toddler. Karena saya lihat banyak banget balita umur setahun dua tahun udah ngerti jajan. Udah ngerti manggil tukang jualan atau malah udah ngerti artinya ke warung.

Nggak lah Bebe mah nanti-nanti aja.

Uangnya nggak ditabung? Nggak sih karena ditabung buat apa ya? Menabung itu apa? HAHAHAHA Nggak deng. Meskipun masih 5 tahun lagi, uang masuk SD Bebe 50% nya udah aman sih. Uang kuliah lagi dicicil. Uang masuk TK yang belum hahaha. Sombong? EMANG IYAAAA. Karena duh ngerasain banget ribetnya ngumpulin uang buat dana pendidikan karena yah, banyak godaannya. Terutama godaan beli rumah di Jakarta dan sekitarnya. T_____T

(Baca: Tips Beli Buku untuk Balita)

Dan ya, buat beli mainan? Jarang banget Bebe beli mainan karena banyak yang beliin. Beli buku? Buku Bebe banyak. Duh niat dari dulu mau nulis soal buku favorit Bebe tapi lupa terus.

Jadi ya udah, ini tulisan nggak ada intinya sih. Intinya uang angpao Bebe udah habis saya pake dan kalau Bebe mau beli sesuatu ya saya beliin. Gitu aja. Hahahaha.

Kthxbai.

-ast-




#FAMILYTALK: Baju Lebaran

on
Saturday, July 2, 2016

EHM. Udah mau lebaran lagi yaaa. Saya nulis ini lagi deg-degan siap-siap jalan ke Bandung. Selalu nervous tiap mau mudik soalnya pernah 11 jam Jakarta-Bandung jadi yah. Jangan kira nggak capek juga ke Bandung. Mana bawa bayi kan.

Tapi topiknya nggak mudik kok hari ini. Topiknya baju lebaran. Seperti layaknya trend masa kini, ya saya nggak beli baju lebaran lah. Karena … nggak lebaran pun kan beli baju yah, malesss pas lebaran bajunya tema-tema lebaran gitu. Belum tentu dipake lagi.

Baca punya Isti di sini:

Eh lupa.

...

Beli sih kaftan seragam sekeluarga sama ibu dan adek-adek saya. HAHAHAHAHA.

Untuk pertama kalinya seumur hidup, kami punya kaftan seragam untuk lebaran. Seumur-umur nggak pernah punya seragam keluarga. Apalagi yang model batik samaan gitu karena nggak suka aja. Punyanya kebaya seragaman itu pun modelnya beda-beda, kainnya aja sama. Kalau kebaya banyak karena tiap ada yang wisuda bikin kebaya baru. -_____-

Kaftannya beli di Centro dan ternyata kaftan itu mahal yah hih. Kalau nggak bela-belain seragam aku tak rela beli baju harga segitu. Kaftan itu memang mahal atau karena mau lebaran aja mahal?

Soalnya ke Plaza Semanggi bawah, sama aja juga harganya 500ribuan. APA KABAR SIHHH? Di Plaza Semanggi bawah kan adalah tempat andalan untuk beli baju dan celana 50ribuan. Kenapa kalau kaftan mahal. -______-

Dulu sih aku beli baju lebaran banget. Apalagi kalau anak-anak ya, baju lebaran kan pressure banget. Temen-temen beli baju lebaran, YA MAU JUGALAAHHH. Ini perbincangan masa kecil banget ya kan: “udah beli baju lebaran berapa?”

Yaelah ngapain diitung juga ya kan. Hahahaha. Tapi iya sih, dari kecil saya selalu punya baju lebaran beberapa stel. Plus sepatu juga. Di luar itu jarang-jarang sih beli baju karena kan sekolah doang. Kalau kebetulan nemu aja.

(Baca: Pengalaman Midnight Sale)


Kalau sekarang udah kerja mah, beli baju terus karena bosan bajunya ke kantor itu-itu aja. Pas udah kerja tapi belum nikah, beuh uang THR semua seketika dipake belanja. Mumpung ya kan. Cuma disisihkan dikit buat ngasih ke ibu dan adek-adek serta sepupu.

Setelah nikah dan punya anak, masih sih belanja. Tapi tidak melabelinya dengan baju lebaran juga. Karena nggak dipake-pake amat saat lebaran, malah dipake kerja.

Tapi yes, alasan nggak pengen-pengen amat beli baju lebaran setelah nikah itu ada dua sih. Yang pertama uang THR dialokasikan untuk hal lain dan habis dalam kurun waktu 3 hari HAHAHAHAHAHA. Iya, uang THR itu untuk dihabiskan. Ini tips alokasi THR. Yang kedua, mending beli baju buat kerja karena baju rapi kaya baju lebaran itu dipakenya jarang-jarang.

Dan lebaran kan nggak kaya imlek ya. Kalau imlek sih emang harus pakai baju baru, lebaran kan nggak.

Bebe beli baju lebaran nggak? NGGAK. Hahahahaha. Bebe udah ngerti pilih baju sih tapi nggak ngerti lebaran juga jadi ngapain lah. Lagian kemarin abis beli baju sekaligus banyak gitu.

(Baca: Di sini biasanya saya beli baju untuk Bebe)

Tapi kekurangannya nggak punya baju lebaran adalah … pusing mikir mau pake baju apa. HAHAHAHAHA. Udah mikirin banget, pake baju apa ya, jilbabnya yang mana ya. Sepatunya yang mana ya. Mana saya 90% baju di Jakarta jadi takut ketinggalan ya kan.

Ini ngomong apa sih ya perasaan kok cerita-cerita doang. Ya gitulah intinya.

Selamat lebaran!

-ast-




#FAMILYTALK: THR, Buat Apa? Habiskan!

on
Saturday, June 18, 2016

Huahahahahahah Iya serius. Udah pada cair kan THR nya? Saya sama JG sih udah kemarin banget. Dan yes langsung hampir habis karena THR itu memang untuk dihabiskan.

Tapi dihabiskan ke mana dulu. Jangan baru baca satu paragraf suruh dihabiskan langsung beli tiket pesawat buat liburan hahahaha.

Oke jadi THR itu biasanya satu kali gaji ya kan. Satu kali gaji full (kalau JG) dan satu kali gaji pokok (saya). Seneng dong karena dalam satu bulan gajian dua kali. Tapi inget, THR masuk ke dalam penghasilan tahunan BUKAN BULANAN.

Karena kan dapetnya setahun sekali. Setahun dua kali sih kalau di kantor saya karena natal juga dapet THR #win. Ya intinya, THR adalah penghasilan tahunan yang digunakan untuk membayar pengeluaran tahunan.

Apa saja pengeluaran tahunan ini? Saya biasanya menggunakan THR untuk membayar hal-hal tahunan. Ini tips untuk mengalokasikan dana THR:

1. Utang (kalau ada)

Iya ini kalau ada aja. Begitu terima uang, inget untuk bayar utang dulu. Ya kecuali utang gede kaya rumah atau cicilan mobil gitu ya.

Pokoknya dalam kondisi dapet uang selain gaji, selalu bayar utang-utang dulu sebelum bayar lainnya! Apalagi utang kartu kredit, lunasi!

2. Zakat

Ya tergantung agamanya sih ya. Tapi kalau THR Lebaran dan muslim, setelah bayar utang sisihkan dulu untuk bayar zakat.

3. Pajak kendaraan bermotor


Suka kaget ga sih tiba-tiba harus keluar sekian juta untuk bayar pajak mobil? Saya sih suka kaget dan suka berasa sedih hahahaha. Maka, bayarlah pajak kendaraan bermotor dari THR.

Kalau bulannya nggak pas sama lebaran? Ya disimpan dulu. Atau pakai dulu dana darurat untuk bayar pajak, kemudian pas dapet THR, langsung diganti.

4. Kurban


"Nonton konser bisa, kurban ga bisa" --> sindiran umum untuk para fangirl yang sanggup nonton konser 2-3juta tapi buat kurban selalu nggak punya uang.

Kami sekeluarga selalu menyisihkan uang THR juga untuk kurban. Dengan demikian, satu uang hari raya bisa untuk dua hari raya. :)

Kalau nggak sanggup full, tabung aja dulu setengah atau tiga perempatnya. Dari Idul Fitri ke Idul Adha itu nggak lama loh. Masa ngopi di Starbucks terus tapi nyisihin setahun 2juta ga bisa?

5. Asuransi Tahunan

Harusnya asuransi jiwa yang dibayar tahunan mengambil pos THR. Tapi sampai sekarang saya belum kesampaian juga mau ambil asji. :|

Asuransi jiwa ini penting untuk pencari nafkah utama keluarga. Kalau sampai pencari nafkah utama meninggal dunia, minimal uang dari asji bisa untuk bayar sekolah anak-anak dan bayar cicilan sampai lunas. Idealnya seperti itu, tapi kenyataannya males amaaattt bikin asji. *jangan ditiru*

6. Mudik


Saya nggak mudik karena mudiknya ke Bandung doang. Yang mudiknya jauh, nabung setahun atau pakai THR?

*nggak ngerti sebenernya mah karena mudik ke Bandung udah sama jajan segala macem nggak bakal abis sejuta*

7. Memberi untuk orangtua dan keluarga

Yes, kalau semua kewajiban udah selesai baru deh sisa uangnya untuk dibagi-bagikan pada orangtua dan keluarga.

Untuk memberi uang pada anak-anak kecil, pakai budget dengan sistem tukar uang aja. Misal tuker uang sejuta 10ribuan. Kalau uang itu habis, artinya tidak boleh ngasih-ngasih lagi.

7. Masih sisa?

Baru buat belanja deh. Saya bukan tipe yang beli baju lebaran jadi biasanya lebaran pake baju yang ada aja. Bebe juga sama, kayanya nggak akan saya biasain soal baju lebaran.

Kecuali kalau udah sekolah ya, biasanya baju lebaran itu peer pressure banget kan buat anak sekolah

8. Masih sisa?

BANYAK BENER THR-NYA, KERJA DI MANA SIH?

T______T

Kalau masih sisa, masukan ke tabungan liburan.

Kami udah lama nggak liburan. Terakhir yang ke Singapur waktu Bebe umur 10 bulan. Sekarang mentok ke Bandung doang. Ke Bandung jajan cilok dan mie kocok aja aku hepi. XD

Karena masih ngejar uang Bebe masuk SD. Masih 5 tahun lagi Bebe masuk SD tapi tampaknya akan kekejar dalam 1-2 tahun karena tiap punya uang lebih/dapet bonus dari kantor langsung masuk ke dana pendidikan Bebe. Pokoknya dapen Bebe nyampe dulu baru mau liburan!

Meskipun kalau uang SD lunas, nextnya adalah kuliah karena aduh nggak kebayang pas Bebe kuliah uang masuk kuliah udah berapa mahalnya. Mending investasi dari sekarang.

*kencangkan ikat kepala*

(Baca: Tahap-tahap Menyiapkan Dana Pendidikan Anak)

*

Udah sih itu aja. Catatannya, tips ini akan lancar kalau penghasilan bulanan untuk pengeluaran bulanan tentunya. Karena kalau ga, ya kacau. Bisa-bisa THR jadi buat bayar listrik. Nggak gitu dong ya.

Dan ini tentu saja nggak saklek. Setiap keluarga kan punya prioritas masing-masing. Buat keluarga kami, ini yang paling ideal. Jatah bulanan aman, jatah tahunan teralokasikan dengan baik.

Kok nggak ditabung atau diinvestasikan sih? Menabung tujuannya apa? Investasi tujuannya apa? Menabung dan investasi seharusnya sudah bisa di-cover penghasilan bulanan karena menabung dan investasinya dibreakdown bulanan untuk mencapai tujuan dalam sekian tahun. Jadi THR mah memang khusus untuk bayar hal-hal yang sifatnya tahunan aja.

Selamat menghabiskan THR!

-ast-

 Jangan lupa ikuti series #FamilyTalk di sini ya!




#FAMILYTALK: Baju Anak

on
Saturday, June 11, 2016

Iya ini topiknya memang random karena saya dan Isti LUPA ga bahas topik apa sampai tadi subuh. Jadi mendadak nulis ini deh subuh-subuh hahahaha.

Baca punya Isti di sini:

Kenapa tiba-tiba kepikiran? Karena bulan lalu baru nemu satu tempat beli baju buat Bebe dan itu murah-murah banget. Pas tadi chat sama Isti, keranjang baju Bebe di sebelah saya jadi langsung inget pengen share lol.

Hamil Bebe


Saya selalu mikir saya akan punya anak perempuan. Soalnya saya kakak beradik bertiga perempuan semua, ibu saya kakak beradik berlima perempuan semua. Kakak dan adik JG perempuan. Jadilah pas hamil di 3 bulan pertama, saya browsing baju-baju bayi cewek di Instagram dan ol shop.

Pas di USG dan Bebe cowok, saya shock sampai bengong. XD Tapi ya udah ga jadi cari-cari baju. Kebayang kalau anak saya perempuan pasti boros banget, lah merintil segala jepit rambut, bando, sepatu lucu-lucu semua.

Kalau di mall itu aja kan biasanya sepatu anak perempuan 10 rak, sepatu anak laki-laki 1 rak ajah. Diskriminasi abis. Tapi enak, jadi ga boros.

Bebe < 1 tahun

Waktu Bebe bayi, dia termasuk bayi yang tumbuh cepat sekali. Mungkin karena lahir cuma 2,5 kg, dalam sebulan dia ngejar jadi 5 kg. Baru 3 bulan baju bayi udah sempit. Saya 2-3 bulan sekali beli baju.

Belinya di ITC Kuningan kalau di Jakarta, di Bandung belinya di Yen's atau di Lavie lah ya di mana lagi. Beli yang lusinan, satu model berbagai warna. Warnanya yang sama juga bodo amat.

Fact: Yen's dan Lavie itu nggak jual baju yang sama loh. Piyama-piyama aja modelnya beda.

Sampai umur Bebe setahun, dia ke mana-mana pakai piyama. Karena ngapain deh bayi belum bisa jalan dipakein baju rapi? Kasian nggak nyaman.

Baju pergi semua dikasih orang. Dan sebenernya saya nggak peduli gitu Bebe piyamaan di antara lautan bayi laki-laki berkemeja dan celana jins. Bebe baru punya sepatu pas belajar jalan, sebelumnya kaos kakian doang ke mana-mana.

Bebe > 1 tahun

Di satu tahun lebih saya mulai memperkenalkan baju lain selain piyama. Mulai dicoba pakai celana jins itu pun karena ada yang ngasih. Beli baju mulai beragam karena badannya udah nggak tumbuh secepet waktu di bawah satu tahun.

Bebe hampir selalu pake kaos kutung karena anaknya keringetan terus. Ya gimana orang kerjaannya lari-lari doang. Baju dan celana nggak pernah beli yang mahal. Cuma sepatu saya selalu beli yang "beneran" karena kasian baju sama celananya udah murah, sepatunya lah yang bagusan dikit lol.

Itu prinsip saya dan JG banget: baju dan celana biarlah cari diskonan atau beli di lantai bawah Plaza Semanggi (favorit saya), biarlah baju dan tas murah asal sepatu mahal hahahaha #sikap.

Karena mahal jadi beli sepatu jarang-jarang banget. Lima tahun terakhir JG cuma beli sepatu 3 kali kayanya, tas cuma punya satu, asli satu itu doang. Saya sih beli beberapa ya, tapi nggak banyak beneran. Makanya yang follow Instagram saya mah suka komen: "itu sendal favorit ya?" Ya favorit sih, tapi itu lagi itu lagi lebih karena nggak punya lagi. Hahahahahaha.

Bebe juga cuma punya satu sendal dan satu sepatu dalam satu kali periode ukuran kaki. Jadi beli sepatu, PAKE ITU TERUS SAMPAI KEKECILAN. Kalau udah kekecilan baru beli sepatu lagi.

Suka iri sih liat anak-anak orang yang sepatunya banyak (dan NB semua kaya anak Dian Sastro) jadi bisa ganti-ganti. Tapi sudahlah, sayang uangnya, mending buat beli sepatu saya atau JG, jelas bisa dipake bertahun-tahun, nggak akan kekecilan dalam beberapa bulan.

Oke enough.

Di mana aja Bebe beli baju?

- H&M

*sok kaya* LOL Nggak kok, ke H&M itu harus tau timingnya. Kaya Jakarta Great Sale atau mau lebaran itu diskonnya gede banget. Celana pendek (bahan kaos sih tapi enak banget asli) bisa cuma 70ribuan dan beli dua gratis 1! Jadi itungannya 140ribu dapet 3 celana.

Celana jinsnya juga bahannya enak banget, tipis dan nggak kaku sama sekali, nggak pake sleting pula jadi nggak ribet. Sepatu juga sama bisa 70-100ribuan. Sepatu bahan kanvas gitu, awet (awet untuk ukuran bayi ya yang 3-4 bulan sekali nomor sepatunya nambah) dan bisa dicuci.

Note kalau belanja pas diskon gini ga bisa dituker, jadi make sure ukurannya pas!

H&M boleh loh kalau mau sponsorin baju Bebe dan saya setahun hahahahaha Suka banget soalnya sama model-modelnya. Saya sendiri juga kalau beli baju seneng di H&M karena modelnya aku banget T______T Terharu amat nemu toko yang mengerti aku. XD

- BTC (Bandung Trade Center)

Ini baru ditemukan sebulan lalu dan langsung borong. Di BTC ada semacam factory outlet namanya D'Sale. Jadi suatu sore kami jalan-jalan random ke Pasteur untuk beli batagor, mampir BTC, pulang-pulang bawa baju Bebe segambreng hahahahaha.

Section anak-anaknya kecil sih tapi modelnya lucu-lucu banget dan karena sisa ekspor, jadi semuanya dari merek-merek ternama. Kaos dan celana Baby GAP dan Crocs bertebaran dengan harga ... jeng jeng ... 29ribu-49ribuan aja.

Segala baju renang, baju sport, jaket, ga ada yang lebih dari 100ribu. Heaven lah. Nggak KW kok tenang aja, saya juga benci barang KW.

Dan dia ngasih harga jualnya nggak semuanya murah. Kalau jaket Pull & Bear gitu ya tetep 500ribuan juga hahahaha.

Ih kan mahal! Masa baju anak sama dewasa sama-sama 140ribu? Tipsnya adalah, pesan baju di Tees saat diskon hahahaha

Karena bajunya bisa custom kan, kapan lagi bikin baju custom murah. Langganan newsletternya, suka ada beli 1 gratis 1 soalnya.

Dan bahannya enak banget! Nyerep keringet, bahan standar internesyenel gitu deh.

Apalagi ya?

Oiya baju rumah! Itu semua yang dibahas baju pergi semua. Baju sehari-hari mah Bebe pake baju lusinan di ITC. Bebe punya model yang sama, warna yang sama tapi banyak. Atau beli yang satu stel kaos dan celana 30ribuan gitu. Celananya bahan kaos, beli lusinan juga.

Piyama beli di Yen's dan itu urusan mamah mertua. Asli dari Bebe bayi dibeliin piyama terus laff! Sampai sekarang masih punya stok piyama yang kegedean dan belum bisa dipake.

Udah sih kayanya itu aja. Saya belum pernah belanja baju bayi di Instagram karena nggak mau coba-coba. Soalnya Bebe anaknya punya prinsip banget, dia mending jalan-jalan nggak pake baju (minta dibuka) daripada pake baju tapi nggak nyaman.

Dan kadang tanpa direncanakan juga suka beli baju kalau nemu yang murah dan lucu aja sih. Nggak dibudgetin atau diniatin belanja. Saya juga suka Cotton On, tapi Cotton On baby belum ada lagi di Jakarta. Harus ke Living World masa *lirik Nahla*. Pernah beli baju Cotton On di Singapur dan itu best buy banget, bahannya enak, awet, nggak cepet belel.

Dan baju bayi yang nyaman menurut saya adalah, baju yang labelnya nggak dijahit. Ini selalu saya cek pertama, kalau nggak pake label, artinya dia ngerti bikin baju bayi nyaman. Merek-merek kaga H&M atau Cotton On gitu nggak pernah pake label. Sablon ajalah, sia-sia kalau dijahit juga digunting soalnya gatel kena leher.

Bebe punya baju @littlesachi lucu bangeeett, dikasih. Tapi somehow nggak terlalu fit sama badan Bebe. Dipake banget sih, cuma agak gimana gitu liatnya.

Buibu, pada suka belanja baju anak di mana?

-ast-




#FAMILYTALK: Mengenalkan Gender pada Balita

on
Saturday, June 4, 2016

Oke, ini kayanya agak kurang tepat disebut gender sih, tapi nggak sepenuhnya tentang jenis kelamin juga. Tapi dapet kan maksudnya?

Di dunia yang setiap hari penuh pelecehan ini (seperti kasus pramugari Garuda itu atau lebih parahnya lagi tentang sexual harassment di kampus), saya ingin mengajarkan sejak dini pada Bebe bahwa ada laki-laki dan ada perempuan. Bahwa ada hal-hal yang tidak boleh Bebe lakukan pada perempuan karena perempuan harus dihargai.

Bebe should never harass or abuse woman in any way possible. Physically or verbally. NO, and that's me and JG's responsibility.

Baca punya Isti:

Ketika saya curhat ini pada psikolog, psikolognya agak bingung karena memang terlalu dini untuk Bebe mengerti ada bedanya laki-laki dan perempuan. Bebe baru akan berusia 2 tahun akhir minggu ini, FYI.

Kata psikolognya: "Ibu, ketika anak melakukan sesuatu yang salah, ia tidak boleh melakukannya, baik pada laki-laki ataupun perempuan. Misal ia mendorong anak lain sampai jatuh, ia tidak boleh seperti itu, baik pada anak laki-laki atau perempuan."




#FAMILYTALK: Keuangan Keluarga

on
Saturday, May 28, 2016

Tadinya #FAMILYTALK nggak akan bahas ini, tapi karena momennya abis gajian, jadi ya udalah ini dulu. Gajian? Gajian yang mana ya? Gajian sebulan lagi ya? LOL

Jadi topiknya adalah, bagaimana cara mengatur keuangan dengan suami? Apa jujur semuanya? Apa ada yang disembunyikan?

Baca punya Isti di sini:

Catet ya, keuangan adalah bagian dari komunikasi. Karena saya bilang segalanya, (sampai udah pup belum hari ini, tmi lol) jadi ya urusan uang juga termasuk.

JG kalau beli mainan nggak bilang sih *yearite*. Tapi dia punya jatah sekian sebulan untuk beli mainan dan ya saya nggak pernah ngecek juga sih. Because I trust him (DEAR JG, I KNOW YOU READ THIS SO PLEASE KEEP IT THAT WAY).


Saya sendiri? Sering sih beli-beli nggak bilang dulu. Ya beli dulu aja gitu karena belinya juga pake uang sendiri kan. Itu karena pas beli, saya lagi nggak sama JG. Entah beli online atau lagi perginya sama temen-temen. Tapi ya pas ketemu bilang.

Karena kenapa harus disembunyikan?

Di keluarga kami, gaji semua saya yang atur. JG tau selesai aja. Semua cicilan, tagihan, bayar ini itu, semua saya yang urus. JG nggak pernah tau dan nggak pernah mau tau karena dia suka stres sendiri liat angka yang keluar tiap bulan lol.

(Baca: Mempertanyakan Rezeki)

Semua rencana keuangan didiskusikan bareng-bareng juga karena ya itu, semua didiskusikan. Uang cuma salah satu bagiannya. Saya tahu persis berapa jumlah gaji dia, begitu juga sebaliknya. Tiap ada job dari blog pun selalu didiskusikan, diambil apa nggak.

JG sendiri tiap hari ke kantor hampir nggak pernah pegang uang. Semua ATM saya yang pegang, dia pegang receh-receh buat pak ogah sama kartu kredit aja just in case. Karena buat apa? Bisa kok cashless, parkir di kantor gratis, sarapan sama makan siang bawa dari rumah.

JG pegang ATM kalau saya lagi ada event dan JG harus berdua sama Bebe. Ya masa nggak pegang uang ya kan.

"Dih, suami kok mau-maunya kaya gitu, dijajah istri. Nyimpen uang sendiri dong, jangan bilang istri."

Nggak sedikit yang bilang gitu ke JG dan dia so far lempeng aja. Lagian kenapa harus nyimpen sendiri coba? Mau sepatu bola, tinggal bilang juga saya beliin, beli mainan aman tiap bulan, mau traktir temennya juga ya boleh-boleh aja. Jarang banget saya nggak kasih izin beli sesuatu. *pencitraan istri baik hati lmao*

(Baca: Ini Tahap-tahap Menyiapkan Dana Pendidikan Anak)

Anyway, ada yang sengaja menyembunyikan dari suami, ada yang emang suaminya nggak mau nyaho ya urusan uang istrinya. Daripada stres tau harga tas istrinya HAHAHAHAHAHAHA. Jadi ya intinya mah saling percaya aja.

Ya kan? Ya kan? Kalian gimana?

-ast-




#FAMILYTALK: Tentang Gaya Hidup

on
Saturday, May 21, 2016

Kehidupan social media itu memang kampret banget ya. Betapa kita bisa dengan mudah men-judge gaya hidup orang hanya dengan status dan foto yang dia share.

Pertama, gaya hidup itu memang bergantung pada uang, tapi tidak selamanya dikendalikan oleh uang. Yang kedua, gaya hidup itu bergantung juga dari cara yang bersangkutan menyampaikannya pada dunia. Yang kedua ini yang jadi judge dari socmed.

Baca punya Isti di sini:

Kita bahas satu-satu.

Gaya hidup bergantung pada uang. Yaiyalah, gimana mau makan di tempat yang kata orang mahal dan Instagram-able kalau nggak punya uang ya nggak. Gimana mau beli tas Nila Anthony padahal nggak semahal designer's bag lain? Gimana pengen borong Melissa pas lagi diskon di Lotte Shopping Avenue coba? *yang terakhir ini info penting*





#FAMILYTALK: Merayakan Ulang Tahun Anak

on
Saturday, May 14, 2016

Jadi yah, sudah bulan Mei. Kurang dari satu bulan lagi Bebe akan berulang tahun yang kedua. Dan saya belum menyiapkan apa-apa. Iya, entah belum entah tidak akan. Tidak seperti tahun lalu.

Baca punya Isti di sini:


Tahun lalu saya sangat niat ingin merayakan ulang tahun Bebe karena ulang tahun pertama itu yaaa, spesial aja kan. Yang pertama selalu spesial. Hahahaha. Dari dua bulan sebelumnya udah pesan pouch ini untuk dikasih ke keluarga, temen-temen kantor saya dan JG, temen-temen daycare Bebe, ya pokoknya orang yang ditemui sehari-hari. Sampai sekarang masih kepake laff banget. <3