Mengasuh Anak Sendiri vs Diasuh Kakek Nenek

on
Friday, February 6, 2015
Ada yang galau karena harus menitipkan anak ke neneknya? Galau karena tidak bisa mengasuh anak sendiri sehingga anak diasuh oleh nenek?

anak diasuh nenek kakek

First of all, semua pilihan masing-masing ya buibu. Nggak ada yang benar atau salah. Nggak ada yang lebih tepat, tepat, kurang tepat, atau tidak tepat. Tulisan di bawah ini murni apa yang saya jalani sendiri. Karena tak ada standar untuk jadi orang tua ideal. "Ideal" menurut sebagian orang kan ketika punya anak, "memaksa" ibu untuk berhenti bekerja dan diam di rumah. Tapi buat saya dan JG ya tidak ideal. Makanya, ideal menurut siapa? :)

***

Memutuskan berkeluarga itu artinya keluar dari rumah. Sejak kecil, ibu saya selalu bilang: setelah menikah, meskipun ngontrak, harus keluar dari rumah.

Tapi saya keluar dari rumah tiga tahun lebih cepat karena memutuskan kerja di Jakarta. Ternyata hidup tanpa intervensi orang tua itu seru banget!

(Baca: Repotnya Tinggal di Jakarta dan Kenapa Bertahan di Jakarta?)

Seru karena semua diputuskan sendiri. Sebelum punya anak, keputusannya remeh temeh macam belanja bulanan, makan apa hari ini, pulang jam berapa malam ini. Setelah punya anak? Wow, intervensinya luar biasa!

Sebagai orang tua baru, saya belajar banyak sekali soal bayi-bayian dan anak-anak. Yang saya pelajari tentu beda dengan common sense ibu dan nenek saya. Ya bayangin aja, saya punya anak tahun 2014. Ibu saya ngelahirin saya tahun 1988. Nenek saya ngelahirin ibu saya tahun 1963!

Range-nya aja udah 25-50 tahun!

Lima puluh tahun berlalu, manusia semakin modern dong yah. Berantem lah saya yang "modern" ini dengan ibu dan nenek saya yang sudah "berpengalaman" membesarkan anak sejak 50 dan 25 tahun lalu. Well, it was tough!

Pertama soal bedong dan gurita. Saya nggak mau Bebe dibedong dan digurita karena semua pendapat modern bilang nggak perlu. Ibu saya maksa ingin bedong dan gurita. Berantemlah setiap hari selama kurang lebih 3 minggu pertama. -______- Untuk gurita saya masih toleranlah asal nggak diiket kenceng. Tapi bedong?

Berantemnya dengan cara kalau ibu pegang Bebe, sebisa mungkin dibedong. Begitu saya liat, saya lepas. Ibu liat, Ibu bedong lagi. Saya lepas lagi. Terus aja sampai dan ibu nyerah sambil sedih-sedih bilang: "ya udah terserah mbak aja!" Dan saya yang ngambek juga: "ya emang terserah aku!" -______-

Gimana dong, kalau saya nurut-nurut aja, nggak maju-maju ini endonesiah! *naon*

Dan banyaaakkkk lagi common sense perbayian dari ibu dan nenek yang "dipaksakan" ke saya. Tentu ditolak mentah-mentah karena terbukti mitos. Di antaranya:

- Nggak boleh makan es nanti ASI nya dingin dan lidah bayi putih-putih (kagaaaa ada hubungaaannnn. Dikata ini toket macam kulkas keles, bisa dinginin ASI)

- Baru melahirkan nggak boleh tidur siang (gue make sure tidur siang sebanyak mungkin!)

- ASI awal harus dibuang dulu karena basi (what the?)

- Sekali nenen harus gantian kanan kiri karena kanan makanan kiri minuman (atulah teori macam apa ini?),

- Baju bayi jangan direndem kelamaan nanti anaknya masuk angin. (yaampooonnnnn)

Endebrei endebrei. Buanyak. Nggak masuk akal. Mau kabur aja dari rumah fix. *lebay*

Apalagi nenek saya. Yang ngasih makan anak-anaknya dengan bubur tepung beras di hari keempat. Bayi 4 hari cuuyyy, dikasih bubur. Mending ibu saya dulu nggak nurut, jadi saya baru makan bubur di umur 4 bulan. Dulu kan standar MPASI memang 4 bulan, bukan 6 bulan kaya sekarang.

Nenek saya pas lagi main ke rumah pas umur Bebe sebulanan, risih banget kayanya liat Bebe nenen sejam sekali.

Kata nenek: "Udah kasih makan bubur aja. Biar tidurnya bisa lama. Daripada repot seharian cuma nenenin aja."

Saya: *menjelaskan bahwa saya nggak ngerasa repot menyusui dan bahaya MPASI dini*

Nenek: "Ah nggak akan apa-apa, kan buburnya lembut. Atau kasih pisang aja!"

Saya: *anter nenek pulang*

-______-

Masalahnya ya, kalau udah urusan cucu, ibu saya yang paling gaul, berjiwa muda, dan rock n roll aja bisa mendadak dangdut jadi konservatif. Padahal udah dijelasin baik-baik lengkap dengan segala literatur ilmiahnya, teteeppp aja keukeuh saya harus nurut berbagai mitos ituuhhh. *jambak rambut sendiri*

Menang nggak semua sih, ada banyak juga yang ibu setuju. Kaya lepas sarung tangan di umur 2 bulan, Bebe nggak makan lagi setelah jam 6 sore, Bebe nggak boleh nonton TV, dll. Tapi yang beda pendapatnya juga banyak. Dan repotnya kami sama-sama keras kepala.

Jadilah saya menunggu-nunggu waktu cuti habis. Biar bisa di Jakarta dan ngasuh Bebe dengan cara yang saya dan JG sepakati. Dan jauuhhh lebih menenangkan dan menyenangkan. Saya bersyukur bisa tinggal jauh dari orangtua. Bersyukur bisa mengunjungi mereka sebulan sekali.

Meskipun ya ruepot luar biasa. Saya udah minus 1 kg dari berat badan sebelum hamil. JG udah minus 10 kg dari berat badan sebelum nikah. Bayangin aja kerja office hour plus ngurus anak dan rumah tanpa mbak dan tanpa baby sitter. :)))))

Beda sekali kalau lagi di Bandung, saya cuma leyeh-leyeh doang. Nggak perlu mikirin masak dan ngurus rumah. Tapi yaaa menikmati sekali mengurus anak tanpa intervensi di Jakarta.

Ini nih sekarang aja lagi liburan di Bandung seminggu. Entahlah kenapa ngepas banget sama Bebe nggak mau makan sama sekali. Padahal biasanya makan lahap selalu habis. Saya dan ibu maksa makan Bebe yang udah ah uh kesel karena dipaksa.

Ayah: "udahlah, nggak usah dipaksa, kasian!"

KASIAAANNN malahan masa dua hari cuma makan sesuap dua suap. T_____T

Dan ini rupanya terjadi sama hampir semua orang. Tiap hari di grup Facebook Sharing ASI/MPASI, pasti adaaaaa aja yang curhat sedih karena anaknya diem-diem dikasih MPASI dini sama mertua lah, anak kejang dikasih kopi sama neneknya lah, blablabla. Padahal segala kegalauan itu solusinya satu: keluar dari rumah, tinggal tanpa orang tua, urus anak dengan cara sendiri.

Lagipula saya ada contoh nyata. Anak pertama Teteh (kakak JG) diurus sama mertua (neneknya) karena waktu itu Teteh kerja. Manja luar biasa. Anak nenek. Sekarang umur 4 tahun kalau malem masih pake diapers, masih ngedot. Anak kedua diurus sendiri sama Teteh yang memutuskan berhenti kerja. Sejak umur setahun udah mandiri dan udah lepas diapers sama sekali. Minum udah pake sippy cup.

Jadi saya udah sepakat sama JG, Bebe akan terus di daycare. Kami berdua menolak pola asuh kakek nenek. Lagian, anak-anak daycare itu biasanya sociable dan nggak takut ketemu orang. Kalau lagi nggak mood, mereka akan jutek, bukannya nangis saat ketemu orang baru.

Karena bagaimana pun, sekali lagi, pola asuh orang tua dan pola asuh nenek kakek itu pasti beda.

Di usia nenek kakek, cucu nangis itu hampir selalu dianggap mengganggu jadi gimana pun harus berhenti. Dibujuk dari gendong sampai jajan. Di usia orang tua, anak nangis itu ada berbagai kemungkinan. Apakah harus dibujuk? Atau harus didiamkan untuk belajar self soothing dan belajar kalau nangis bukan senjata?

Di usia kakek nenek, anak makan harus habis gimana pun caranya. Termasuk sambil nonton TV atau sambil jalan-jalan sambil digendong jarik. Ada pun yang malah nggak mau maksa cucu makan dengan alasan takut trauma kalau dipaksa. Kuruslah itu cucunya. Ada juga yang nggak mau maksa cucunya gosok gigi karena cucu selalu nangis tiap gosok gigi.

Kalau kata Ustaz Aam Amirudin, kekurangan mengasuh bersama kakek nenek adalah konsistensi. Misal orang tua melarang makan coklat. Kakek nenek membela dengan "bolehlah, sedikit aja". Anak jadi bingung harus menurut siapa? Kasus seperti ini menurut psikolog (waktu konsultasi di daycare) akan mendorong anak berbohong dan jadi kongkalikong dengan kakek nenek.

Tapi pasti ada sih kakek nenek yang strict dan disiplin. Bersyukurlah kalian yang punya orangtua/mertua yang disiplin dalam mengurus cucu. Bersyukur juga kalian yang anaknya kalem, santai broh di mana pun berada jadi kakek nenek nggak capek urusnya. Bukan yang butuh perhatian 100%, heboh melintir-lintir lihat pegang sana-sini kalau di mobil, nungging-nungging di atas bouncer, dan lempar-lempar barang dari high chair. *alias si Bebe -____-*

Eh tapi gini-gini saya juga galau loh waktu hamil. Ada khawatir karena akan taro Bebe di daycare. Tapi opsi lainnya hanyalah pakai baby sitter bersama ibu saya di Bandung. Kasihan ibu saya pasti capek karena Bebe super aktif. Kasihan juga Bebe cuma ketemu saya dan JG saat weekend aja. Kasihan juga sama saya dan JG capek tiap weekend harus mem-Bandung. Kasihan juga saya nggak bisa nenenin Bebe tiap saat. Nggak sehatlah intinya.

Juga demi kewarasan saya dan JG karena nggak perlu debat sama ortu masing-masing soal anak, tinggal jauh dari orang tua jadi solusi. Juga diskusi dengan daycare tentang pola pengasuhan. Diskusi dengan psikolog tentang tumbuh kembang anak.

(Baca: Tentang Menitipkan Anak di Daycare)

Karena menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup. Kami selalu butuh saran, tapi tidak dengan paksaan. :)

Jadi memilih mengasuh anak sendiri atau diasuh nenek dan kakek? Your choice. :)

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

42 comments on "Mengasuh Anak Sendiri vs Diasuh Kakek Nenek"
  1. Wkwkwkwkwk Aku ngakak dulu mak yaaa..... aku banget soalnya. Alhamdullilah sejak memutuskan nikah udah mutusin untuk tinggal misah dari ortu. pas lahiran syaqilla juga gitu mak, saya cuma sehari tinggal di rumah mertua karena memang waktu itu yg paling deket sama tempat lahiran, tapi sehari selanjutnya bener2 ngerasain cuma ngasuh cimbul sama suami aja berdua. tanpa pembantu , mbak atau siapaun. paling tetangga sekali kali bantu saya gendong cimbul pas saya mau mandi. atau biasnya saya curi2 waktu mandi pas dia merem. *serruu* , ibu saya datang pas syaqilla hampir usia 40 hari karena memang beda kota, sempet di tungguin juga sama buyutnya seminggu. dan saya sama sekali ga percaya mitos2 yang jangan makan pedes, ga boleh minum es, dan bla bla blaaa sya makan apa yang bisa saya makan dan ada, sesuka saya. alhamdullilah syaqilla ga pernah sakit, rewel atau apapun, jadi memnag yg katanya ga boleh minum es dan lain lain itu hanya mitos belaka. dan sekarang di usianya 2th 1 bulan, saya cukup bangga karena saya benar2 mengasuhnya senidri berdua sama suami, jadi bener tau perkembangan dia. dan menjadi ibu adalah hal yg luar biasa....



    Oiya mak, skg si kecil usia berapa. kalo si bebe susah maem , ga perlu khawatir dan jangan di paksa. dari pengalaman saya sama qilla , anak tidak akan membiarkan dirinya lapar kok. kalo si bebe masih ASI, di usia dia satu tahun kebutuhan makannya masih 80% ASI dan 20% MPASI. kalo 1-2th itu 50:50 selagi asinya msih kuat ga usah khawatir, nanti hampir dua tahun pasti dia akan mulai lahap makan. syaqilla dulu gitu. pas mau 2th sampai skg ini makannya minta ampun, udah bisa minta makan bisa 3-4 kali sehari.

    maaf ya mak pajang..... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. 8 bulan maakkk.. kalau ada aku maunya nenen mulu, nanti kalau kurus gimana nggak lucu lagi. hahahahah XD

      Delete
  2. Hay bebe ganteeenggg, kamu koq gemesin sih *lost focua.
    Memang enak momong sendiri sih, atau di daycare jg boleh, aslkan daycare nya punya prinsip yg sm dg kita yak. Kalok ibuk bpk daku nih mak, gimana yaa, nggak berani ikut campur *takut dakunngambek kali..hehe. jd kalau aku begini ya beliau2 oke2 aja. Komen tetep tp nggak pernah ngasih diaam2 kopi atai bubur...ya gt deh. Tfs y mak, slm bwt bebe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kalau sama-sama keras kepala wihhhh, berantem teruussss -_____-

      Delete
  3. begitulah mak.. cara pandang dan zamannya udah beda si ya, jadi seringnya nggak sependapat deh sama nenek

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau mereka punya alasan logis atau medis sih nggak apa-apa, ini alesannya ngarang semua.. berlindung di balik "kata orang dulu sih blablabla" hiks..

      Delete
  4. Iyah mak, udah kejadian begitu skrg hiks, eyang holic anak saia.Kepikiran anak kedua ntar dititipin daycare ajah. tenkyu sharingnya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. huaaaaa, sabar ya mak.. namanya juga belajar kalau anak pertama mah..

      Delete
  5. Eh, anak saya beda lho. Selama saya kerja sama eyangnya, tapi, nempellll banget ma emaknya. Begitu si Emak pulang, "bye2 eyang, jangan harap bisa colek2 daku, sepenuhnya daku milik emak"

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha syukurlah kalau begitu mak. anakku juga nggak mau sama kakek neneknya kecuali disogok makanan -____-

      Delete
  6. Seninya jadi kakek nenek dan jadi org tua yg kejepit ditengah cucu....blogwalking salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal jugaaa.. makasih udah mampir.. :)

      Delete
  7. Hahahaha samaaa. Bahkan sampe yang anak Ga mau makan, tapi bapaknya ngebelain pake alesan kesian. Mangkanya kalo disuapin bapaknya kadang sering Ga abis. Nangis2 bombai lah emaknya yg Susah payah masak malem2. Ahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oohh tentu saja emaknya yang drama nomor satu. hahahaha. sedih banget kalau aku suapin nggak habis padahal sama nannynya di daycare selalu lahap.. *gagal* XD

      Delete
  8. baca postingan ini berasa ada di antara mb nisa, nenek dan ibu.. seneng mbacanya dan jadi ingin tahu emang iya ya kanan makanan kiri minuman vice versa.. kebayang aja tubuh ada penyaringnya untuk ke dada kiri dan dada kanan.. kereenn ilmunyaa.. jadi pingin segera bisa praktek juga.. salam kenal ^_^ www.tamasyaku.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal :) terima kasih sudah mampir.. :)

      Delete
  9. Aku malah takut di daycare ga terurus... lgan mamaku ga punya anak cowok, pengen nyoba dia... hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa asal sepaham sama ortu sih nggak masalah :) aku malah lebih sepaham sama daycare (daycare nurut akulah kan bayar hahahha)

      Delete
  10. Rata2 ortu emang gt y mak. Klo sm ortu sndiri msh enak ngomongnya,lah klo sm mertua kn sungkan.n aku klo beda pndapat gt sih lbh bnyak diam drpd mnyinggung prasaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya kaannn. tapi diem terus juga kadang sedih.. solusinya, hindari! hahahaha XD

      Delete
    2. Iya mbak rahmi.. Tp ujung2'y jd strees, nangis tiap hari.. Merasa anakku bukan anakku

      Delete
  11. Maaak, inspiratif banget buat orang yang belum merit macam sayah. Dududu, apalagi kalo belum punya rumah mbak, cara yang hemat ya numpang tempat tinggal di mertua. :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. harusnya kalau udah siap nikah siap keluar dari rumah sih, ngontrak pun tak masalah :)))))

      Delete
  12. Cha, emak gue dengan penuh judging menyebut anak sepupu gue yg umurnya 8 bulan belum bisa duduk gara-gara gak dipakein emaknya gurita. I felt like what?
    Mertua gue dengan semangat 45 bersedia merawat anak gue saat gue kerja, mendukung banget gue berkarier.

    Yg ada gue malah ketakutan, parnoan, anak gue ga akan tumbuh sesuai yg gue harapkan karena dirawat kakek-nenek yg tentu penuh dengan mitos. Fyi, jarak rumah gue dengan mertua hanya 30-45 menit saja.

    Apa ini salah satu alasan gue belum hamil juga karena takut anaknya salah urus? Yes, i think it is.

    ReplyDelete
    Replies
    1. gurita tuh ngeri banget win! masa katanya biar perut bayi nggak buncit. :O :O mertua gue mau ngurus juga cuma gue yang nggak ngasih.. kalau urusan orangtua sama mertua, intinya harus kompak aja sama suami, biar nggak ngotot sendirian.. semoga cepet hamil ya winaaaaa.. :* :* pasti dikasih jalan terbaik.. aamiin..

      Delete
  13. *abis blogwalking*
    icha ih, tulisan ini nyepet bangeut.. T___T
    dari lahiran sampe anak udah giginya banyak, aku nitipin sama nenek-kakek..
    banyak pertimbangan deh pokoknya..
    cuman ya gitu, bener kata kamu, jadi ga bisa jadi diri sendiri padahal buat ngurus anak sendiri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha ga nyepet teteh ini hanya bicara kenyataan. XD

      Delete
  14. BANGETTT WEHHHHHH hadoh i can relate to this so much, intervensi lah, kongkalikong lah..
    emang sih budaya timur tuh menghormati orang tua, tapi terkadang suka buram batasnya antara menghormati dan 'dicocok hidungnya' alias suruh nurut buta. Doh perlu gak sih aku print trus tempelin ke seluruh penjuru dunia

    Haloterong.blogspot.com

    ReplyDelete
  15. Salam kenal dulu y mbaa..
    Serius tulisanny bkin ngakak.hahaha
    O ya,aku juga punya bayi nih cewek skrng umurnya 18 bln.sejak umur 10 hari aku ngurus sendiri karena kebetulan aku ftm.ngontrak sama si suami di jkt. Kelg suami ada juga di jkt yaitu adik dr nenek nya. Pernah diajak suami buat tgl sama nenek aja biar aku nya ga rempong ngurus anak n rumah sendirian. Lalu aku tolak donk ya dengan menjelaskan alasanku dr A-Z.
    Ya karena itu juga,pola asuh yg aku rencanakan sudah pasti berbeda dengan si nenek. Jadi aku kalo krumah nenek cuma seminggu sekali atw skali 2 minggu.
    Setiap berkunjung dlm waktu sehari ada ajaa bla bla kata si nenek.
    Waktu kikan baru mpasi,aku menerapkan mpasi no gula garam sampe setahun.ehhh...si nenek nyuapin kikan kolakk - ___-
    Trus sekarang kikan masih asi,,tiap ke rumah nenek,klo nenek liat aku menyusui kikan nenek selalu nyuruh brenti asi..udah gede katanya.
    Lha akunya mau sampe 2 tahun. Aku becanda2 sama kikan si nenek suka bilang "jangan" "ga usah" "nanti di begini, nanti begitu". Giliran nonton tipi malah si nenek yg naroh kikan duduk persis di depan tipi.akunya yg amsyong..dirumah aja klo udah berdiri di depan tipi,tipinya aku matiin. Dan masih banyak lagi deh ketidaksamaan antara aku dan nenek.
    Jadi drpada tinggal bareng tp ga nyaman, kita nya ga leluasa mau ngapain aja sama anak kita, mending aku rempong sendiri ngurus anak sendirian...maap curcoll yaa... ^^

    ReplyDelete
  16. Bener banget..kl kasus aku sih tinggal brg mertua yg emang kolot bgt pemikirannya..pgn pindah rumah tp suami berat bgt ninggalin mamanya..yg paling kesel kl mau makan siang dia ksh cemilan kue ato roti walhasil anak aku yg udh susah makan tmbh susah lg makannya hiks..sama dia orgnya panikan anak aku ga sakit di blg badannya anget suru cpt ksh obat atoudh mau sembuh diblg tmbh sakit..blm lagi wkt dl pas bayi rewel disangkanya anak aku di deketin yg halus2 hrs pk jimat penangkal rumah disirem air suci dll..alamaaaakkkkk

    ReplyDelete
  17. sepertinya semua ibu2 ngalamin ya berantem ama neneknya soal mitos2 yg bejibun ituh.. :D
    aku juga dulu sempat ga sabar nungguin waktu cuti abis biar bisa bebas ngurusin danish berdua aja ama suami dan ga pake acara berantem2 ama si mama.. :D

    ReplyDelete
  18. Salam kenal mbak, blogwalking stroller eh jadi baca ini. Ngakak sekaligus setuju abiss mbak ama tulisannya. Mending menghindar jauh daripada berantem gontok2an ama mertua. Untungnya ibu q biarpun beda zaman mau ikut dan nerima prinsip2 q utk didik anak gimana. Keep writing mbak :)

    ReplyDelete
  19. hi mbak, tentang perbedaan pola asuh antara ortu dengan kakek-nenek kurasakan jelas sekali. Jangankan yang mertua-menantu sesama orang Indo sudah pasti beda, mertuaku orang Taiwan dan sudah berumur pula, notabene rada kolot meskipun ngakunya ikut kemajuan jaman. Aku melahirkan dan sampe skrg masih di Taiwan, berasa sekali perbedaan kultur dan pola pikir terutama dalam mengurus bayi, yang ada cara-caraku malah dianggap aneh dan gak sesuai sm mereka.. sudah berkali-kali aku debat, tapi tetap aja ujung2nya ngalah, untungnya aku tinggal terpisah dengan mertua jadinya bisa urus bayi sendiri, meskipun repot abis n gak ada yang bisa dimintain saran. Dan tiap kali bayi ada masalah kecil yang aku tanyakan, selalu aku yg disalahin duluan, sebel bgt mbak.. kasusnya skrg, si kecil Meihan sptnya kena campak (baru umur 1.5 bulan) cm gak demam, udh bawa ke dokter bilangnya alergi, udh minum obatnya tapi gak ngefek, aku pun coba tanya2 ke mama n temen, pd bilang itu campak, feelingku jg gitu.. cuma pas aku kasih tau mertua n dia tanya dokter, di taiwan udah gak ada yang namany campak, itu mah alergi doang, pokoknya kamu jgn kasih minyak telon, bedak, mandinya gak ush shampoan terus, sabun jgn bnyk2, cuci botol susu gk blh pake cairan pembersih, ampun dahhh.. seabrek semua yg aku lakuin dibilangnya gak boleh, terlalu protektif lah, gak back to nature lah..

    Sampe kesel sendiri.. suami pun jg gitu, mgkin krn beda kultur n adat jadinya beda pemikiran n cara, cuma yah gak sampe segitunya kaleeee..seakan2 aku yg dari Indonesia ini dengan cara sendiri mengurus bayi dianggap alien, org aneh..
    tentang campaknya, udh 2hari ini, masih kupantau sih, kalo dlm bbrp hari gk da perubahan, mau kubawa ke dokter lagi..

    Jadi curhat nih mbak, hehehe... jadi menantu orang diluar negeri it's not easy, apalagi terkendala bahasa dan adat istiadat, pengen cepet2 berharap pulang ke Indo

    ReplyDelete
    Replies
    1. semangaaattt! aku pun dulu pengen cepet2 kabur dari rumah padahal di rumah adanya ibu kandung bukan mertua, kebayang kalau harus beda pendapatnya sama mertua sih. :))))))

      Delete
  20. semoga para ibu kalian tidak membaca tulisan ini..

    ReplyDelete
  21. Mau coment sambio numpang curhat.. Wkt lahiran diem di mertua tp suami saya kerja d luar kota, syg jarang bgt meluk anak saya, anak saya di pegang terus sama mertua N adik ipar.. Seneng sihbd bantuin tp berlebihan merasa hak saya jg di ambil..
    Anak saya kurus.. Gmn g kurus nyusuin jg 4 ampe 5 jam sekali.. D pegang mulu m mereka, atau lg tidur jgn di bangunin kasihan.. G bisa nolak karna takut d kira pembangkang.. Saat jln k mall mereka asik gendong anakku.. Sdang aq repot dengan barang2 bayi yg byk, k mall berasa bawa barang buat nginep 1 minggu..
    Skrg alhamdulilah udah bisa dr rmh mertua ikut suami kluar kota, dan anakku udah mulai mpasi.. Tp klo lg liburan d mertua makan dikit, jgn byk2 makan'y kata mamah mertua, anak saya g mau makan g pernah d paksa.. Biasa makan'y habis asalkan kita sabar ngebujuk'y.. Gliran anak saya kurus seakan nyalahin ke saya pdhl BB'y turun klo plng dr rmh mertua..
    Ada penyesalan kenapa g lahiran di ibu kandung saya.. Ibu kandung sedikit skali di beri waktu dgn cucu'y.

    ReplyDelete
  22. Aku harus apa ya mba Icha? . Udah pisah rumah sama mertua tapiiii cuma jarak 500m aja dong rumah sendiri sama rumah mertua. Hampir setiap pagi dan sore ke rumah.

    ReplyDelete
  23. intinya...setelah nikah pisah rumah aja sm orang tua dan mertua. Beres. hehehe.... mau ngontrak pun gpp, rumah petakan pun gpp, that's life.
    Jadi pelajaran juga buat kita, kalau jadi orang tua percayalah sm anak. Jangan intervensi kecuali diminta saran. Kalau ga dimintai saran jangan tersinggung, itu artinya kita berhasil membesarkan anak jadi orang yang mandiri.
    Sekarang lagi mulai dengan belajar nahan tangan kalau anak(2th 1 bulan) sedang lepas baju atau pakai sendiri. geeemeeees pingin bantuin supaya cepet, hehe.. tp kapan bisanya kalau dibantuin terus, ya kan.anw, saya juga nitipin di daycare :)

    ReplyDelete
  24. Lagi blogwalking Nemu ini.... saya ngerasain banget.. tp perbedaan nya Dr ayah saya, kakeknya... sampe skrg anak Deket bgt sama kakeknya..kl dimarahin atau di disiplinin jadinya anak lari ke Kakek... kadang Krn mikir org tua jadinya gak bisa ngomong, ditahan semua sendiri.. ujung2nya kalau udah ga kuat ya nangis 😃😃😂😂😂😂

    ReplyDelete
  25. Saya ngerasain anak saya dirawat mertua. Serasa anak saya bukan milik saya. Saya ga diberi kesempatan buat ngerawatnya. Apalagi saya baru melahirkan anak pertama jadi belum tau apa apa. Dan mertua saya orangnya masi kuno dan kolot. Bayi cegukan dikasi benang jidatnya, m udah saya larang buat kasi gurita ttp dikasi katanya biar gak kembung. Sya bahkan ga tidur sama anak saya. Anak saya tidur sama mertua. saya cuma bisa melihatnya dirawat oleh mertua. Gak jarang bayi saya dideketin sm mertua ke sodara yg batuk, bukannya dijauhkan malah suruh cium bayi saya. Sedih bgt liatnya :( .. Yang paling takut waktu anak saya stelah satu bulan mau dikasi makan pisang. Saya udah jelasin seakan omongan saya ga didengerin. Ahirnya saya ikut suami saya keluar kota buat ngurus anak saya sendiri. Awalnya ditentang karena masi 1bln, mertua ga tega ngelepasin nya. Tp dengan debat yang heboh ahirnya bayi saya bisa saya bawa bersama saya

    ReplyDelete
  26. habis baca ini saya jadi stress sendiri. calon sih anak bungsu dan mau nggak mau nanti kudu tinggal sama mertua. saya bayanginnya aja udah repot. apalagi tiap denger mertua ngomongin mbak ipar ttg perbedaan ngurus keponakan, padahal mereka nggak serumah cuman emang sering dibawa nginep. yang bikin saya paling hamsyong itu pas keponakan dipotong rmbutnya sama nenek. hadooh itu mleketot mleketot. bisa panjang lagi sihh, tapi kaaan -___-
    awalnya saya pikir calon juga ngerasain kekhawatiran yang kayak saya rasain soalnya dia pernah bilang yang tentang pola pengasuhan dua orang tadi, kayak yang mbak tulis. tapi makin kesini kok kayaknya dia santai aja tiap ibuknya 'ngelangkahi' mbaknya, malah terkesan bela ibuknya tiap mbak iparnya keliatan rada protes gitu.
    duh jadi galau.

    ReplyDelete
  27. akhir nya nemu blog yang senasib jga karena aku tinggal sama mertua. yang paling aku takutin anak kita jadi ga nurut sama kita dan lebih ke kakek n nenek nya,, kadang suka kesel sendiri kalo kakek nya suka manjain dia walapun masih umur 3 bulan tapI tetep aja kalo kebiasaan di manjain takut aja,, pengen pindah rumah rasanya .. tapi masih kerja,, rumah mertua lebih deket sama kantor.. huaaaa.. serba salah jadinya..

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)