-->

Image Slider

Showing posts with label overthinking. Show all posts
Showing posts with label overthinking. Show all posts

Makanan, Manusia, dan Uangku

on
Friday, February 1, 2019
Kemarin waktu di ojek otw pulang kantor saya mikirin banget pengen makan malem apa. Terus kesel sendiri karena ihhh bosen sama makanan di apartemen!



Padahal apartemen kami itu apartemen rakyat yang APA JUGA ADA. “APA JUGA ADA” ini adalah nilai jual yang selalu dibanggakan semua orang yang tinggal di sini. Selalu “nggak ada yang nggak ada di sini, mau APA JUGA ADA”.

Apa juga ada ini rangenya dari berbagai jenis manusia hingga ya makanan yang membuat manusia-manusia ini hidup. *HALAH

Iya sebut aja satu makanan lokal top of mind kalian. Makanan Indonesia? Lengkap malah warung makan aja berbagai daerah ada. Makanan Korea? Ada. Makanan Jepang? Ada. Jajanan semacam cilok? Pempek? Siomay? Cincai!

Dari yang kaya gitu sampai semacam Shihlin, KFC, Hokben, d’Crepes, Pizza Hut, Dominos, apa juga adalah sebut aja. Yammie Hotplate yang sudah langka aja ada hahaha.

Mana dari bulan November tahun lalu itu ada Go-Food Festival di foodcourt. Semua makanan diskon 50%, dari cuanki, kebab, taichan sampai nasi liwet cumi asin nggak ada yang lebih dari 20ribu. Hidupku sebetulnya terberkati sekali. T_______T

TAPI TETAP SAJA AKU BOSAN. Triggernya adalah, abis operasi amandel, lanjut JG operasi amandel, kami jadi belum ke mall sama sekali. Akhirnya saya pun mencari-cari yang tidak ada di apartemen.

Katanya semua ada? Iya ada sih tapi … kurang. Ada sushi tapi kurang enak, ada ramen tapi bukan ramen yang saya mau, ada semua tapi tetep bukan yang saya pengenin. :)))))

Di jalan itu saya jadi ketawa sendiri karena “oh aku manusiawi sekali, manusia memang senangnya mencari-cari yang tidak ada padahal semua sebetulnya sudah ada”.

Mencari-cari … yang tidak ada … KOK JADI DEEP GINI PEMBAHASANNYA?

(Baca postingan lama tentang kami yang tidak terlalu mempermasalahkan uang

Coba pikir baik-baik. Perasaan mencari-cari yang tidak ada ini yang bikin kita semua punya idola. Punya seseorang yang sangat kita kagumi. Karena dia punya sesuatu yang kita nggak punya.

Mengagumi menteri perempuan karena wah pinter banget sih dia (nggak kaya diriku ini). Suka banget sama pemikiran Michelle Obama karena ya she’s perfect! (nggak kaya diriku ini). Mengidolakan artis ganteng karena ya gantengan dia daripada suami lol. Nangkep kan maksudnya?

*halah gifnya sok imut*

Secara natural, manusia memang mencari-cari hal yang tidak ada. Hal ini bisa jadi lekat dengan tidak merasa puas. Dekat sekali dengan tidak merasa cukup. BISA JADI LHO. Bisa juga nggak.

Dan sialnya, tidak merasa puas dan sulit merasa cukup itu GAMPANG. Merasa puas dan merasa cukup itu SUSAH. Inikah yang namanya cobaan hidup? Belum lagi gampang banget judge hidup orang lain cuma dari foto-foto bahagia nan aesthetic-nya.

Bener deh, sejak saya banyak share soal hidup dari pernikahan sampai keuangan di IG story, saya jadi terbukakan bahwa banyak sekali orang yang hidupnya nggak sesuai dengan apa yang ia tampilkan di Instagram.

Di Instagram sih fotonya liburan dengan tas-tas mahal, curhatnya cicilan KPR 80% gaji sampai makan aja susah. Di Instagram sih fotonya indah, berdua dengan suami dengan caption romantis “my love”, curhatnya tentang suami yang nggak pernah bisa diajak komunikasi dan nggak pernah mau dengar pendapat istri. Waw, cinta memang buta. Citra bisa semudah itu dibuat di dunia maya.

Namanya manusia, kalau pun kenyataan uangnya nggak ada, ya halu-halu dikit bisalah di Instagram. Fake it until you make it, kan katanya. Nyari apa sih sebenernya? Nyari yang nggak ada? Kaya saya yang nyarinya siomay Imam Bonjol sementara di apartemen adanya siomay Jakarta yang entahlah, nggak pernah seenak siomay Bandung. T______T

Tapi sejujurnya inti dari hidup saya itu adalah makanan. Kalau makan enak, mood jadi lebih baik. Dan karena bukan orang kaya, bertahan makan selalu enak ini mengorbankan lifestyle lain kaya mobil, baju, sepatu, tas, makeup. Biar semua dipake sampai butut dan beli pun yang murah, yang penting makannya enak lol.

Jadi inget kata ibu saya dulu:

“Kamu mah hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup!” SAKING GUE MAKAN MULU KERJAANNYA. Terus apa-apa suka pengen dihabisin hari itu juga hahahaha semacam nggak bisa besok lagi kalau urusan makanan.

Jadi inget juga twit tahun 2017 betapa uang cuma jadi tai doang lol maaf kasar tapi ini memang kenyataan lol.



Jadi intinya apa, seus? Nggak taulah, saya PMS nih, udah dapet notif mulu di aplikasi HP untuk ngingetin harinya sudah dekat. Kalau PMS gini selalu gini tulisannya kan. Ngalor ngidul mikirin hal-hal yang nggak jelas sih tapi kalau dipikirin kok jadi dalem.

Dari milih makanan aja susah ngerasa cukup, gimana soal pencapaian hidup? Kalau dari hal yang receh aja susah bersyukur, gimana bisa dipercaya untuk hal yang lebih besar lagi?

Oiya tadi nemu quote ini, rada bikin mikir sih. Mikir ngapain ya untuk mengubah hidup kalau lagi ngerasa hidup kok gini-gini aja?

“If you want something you’ve never had, you’ve got to do something you’ve never done.”

Kata JG, kalau gitu dia pengen nerbangin pesawat aja jadi pilot karena belum pernah. Baik.

See you! Doakan aku bisa makan enak dan bersyukur selalu ya!

-ast-




Sendirian Dalam Pikiran

on
Monday, October 1, 2018
Postingan ini dalam rangka melanjutkan series overthinking. Sebenernya blog ini penuh postingan overthinking karena ya emang anaknya kalau mikir suka sampai diresapi gitu sampai bingung sendiri HAHA. Tapi baru kepikiran ngasih label baru "overthinking" di blog akhir-akhir ini jadi ya udalah. Yang penting kan menatap masa depan ya bukan terpaku pada masa lalu. *naon


Semua gara-gara postingan pembahasan liburan. Karena setelah posting itu, saya dan JG jadi mikir "wah liburan ternyata bukan untuk kita ya, keluar uangnya banyak banget". Gitu.

Saya jadi sibuk sama pikiran-pikiran di otak yang bilang:

"Wah susah ya jadi aku, liburan aja mikir"
"Kalau jadi si A (seorang crazy rich asian) enak deh liburan nggak perlu mikir"
"Enak banget jadi si B ya bisa liburan terus-terusan padahal dia nggak kerja"

TERUS SAYA NGIKIK SEKETIKA. Beneran ketawa sendiri di ojek hahaha.

Karena ya saya mikir gitu kan di dalam pikiran saya SENDIRI kan. Keyword: sendiri. Orang lain nggak bisa denger pikiran itu. Orang lain nggak bisa tahu pikiran dan perasaan saya. Bahkan sekarang ketika saya ungkapin pake tulisan aja, pikiran saya saat itu tetep nggak bisa 100% tertuangkan dalam kata-kata.

Baru sadar banget dan meresapi kalau semua orang JUGA punya pemikiran dan perasaan yang SAMA SEKALI nggak bisa didengar orang lain. Dengan demikian, semua orang jadinya sama aja mau dia kaya atau miskin. Sama-sama sendirian dalam pikiran.

Jadi pikiran "enak ya jadi si A" itu nggak penting sama sekali. Karena ketika kita beneran jadi si A, kita nggak bisa lagi merasakan "enak" itu karena ya kita kan memang si A yang nggak pernah mikir "enak deh jadi aku bukan jadi dia". Orang yang bikin kita iri sama hidupnya itu juga nggak bisa dengerin pikiran kita yang bilang "hidupnya enak".

Pake contoh deh:

Misal. Saya beli rumah pake KPR di Bandung pinggiran. Saya membatin "coba saya jadi si A, saya bisa beli rumah cash, di Singapur pula" 


KEMUDIAN ANGGAP SAYA ADALAH SI A. Apakah saya akan jadi mikir: "YEAY LEBIH ENAK JADI A KAN BENER, BELI RUMAH DI SINGAPUR AJA BISA CASH NGGAK PERLU KPR DI PINGGIRAN BANDUNG"


Nggak gitu kan? Ketika saya sebetulnya adalah si A, saya udah nggak bisa lagi mikir "lebih enak jadi saya dibanding dia" karena ya kita sendirian dalam pikiran, nggak punya pembanding lagi. Kita nggak bisa merasakan juga perasaan "lebih enak" itu.

Intinya "ingin jadi orang lain" itu sebuah pikiran yang sangat sia-sia. Karena ketika jadi orang lain pun kita TETEP NGGAK AKAN PERNAH BISA merasakan pikiran orang yang lebih atau kurang beruntung daripada kita.

Semua orang punya hal yang dipikirin dan nggak bisa diungkap saking susahnya mengungkapkan pikiran. Atau kalau mau generalisir, semua PASTI juga punya masalah yang lagi dia pikirin tanpa orang lain tahu persis masalah itu.

(WAH GILA INI NULISNYA KOK SUSAH YA SAMPAI NGULANG-NGULANG GINI. BENERAN SAYA NGGAK BISA JELASINNYA. SEMOGA OMONGAN SAYA MASUK AKAL. Kemarin saya jelasin ke JG dan dia ngerti sih tapi kalau nulis kok susah huhu)

via GIPHY

*


Ya saya yakin sih konsep “selalu sendirian dalam pikiran” ini pasti bukan hal baru. Terlalu banyak orang di dunia ini untuk menemukan sesuatu yang sama sekali baru.

Tapi buat saya. paham konsep ini sangat eye-opening. Sekarang saya senang bermain-main dengan pikiran dan setiap terbersit konsep ini, saya tersenyum sendiri.

Siapapun saya, seberuntung apapun hidup saya, pikiran akan selalu sendirian. Tidak ada yang pernah benar-benar bisa menemani, memahami, atau menjelaskan apa yang ada di pikiran saya. Bahkan saya sendiri tidak akan pernah bisa memahaminya 100%.

Saya jadi sering mikir soal ini setelah pertama kalinya seumur hidup, dibius untuk ke dokter gigi (bisa dibaca liputannya di sini). Biusnya sedang, jadi otak saya jalan-jalan mikirin segala macem tapi saya nggak ngerasain badan saya.

Sebagai perbandingan, kalau bius (sedasi) lokal kaya cabut gigi itu biusnya ringan. Otak kalian sadar, kalian sadar kalian punya tangan dan kaki yang bisa digerakkan, cuma bagian tertentu nggak berasa kan meski digunting atau diapain pun. Kalau bius total, kalian nggak ngerasain SEMUANYA, nggak ngerasa punya tubuh, nggak ngerasa punya otak, nggak mikir apa-apa.

Nah kalau sedasi sedang itu, yang saya rasain adalah otak kita jalan, pikiran kita jalan, tapi nggak berasa punya anggota tubuh. Kebayang nggak? Kita sendirian (di dalam pikiran), bebas mau mikirin apa aja, tapi gelap karena nggak punya mata. Sibuk, sibuk berpikir tapi nggak bisa bergerak, bahkan nggak kepikiran untuk bergerak karena ya rasanya nggak punya badan itu sesuatu yang normal aja.

Beda sama mimpi. Kalau mimpi kan kita kaya kita dunia nyata aja karena kita tetap punya tubuh. Tapi ini nggak. Saat disedasi itu saya terjebak di pikiran saya sendiri, sendirian dengan sesuatu yang bentuknya tidak terdefinisikan. Atau saya terlalu malas untuk mendefinisikan saking abstraknya. And having a constant thought about something without feeling your body was truly hell. 


Saya memikirkan banyak hal sepanjang disedasi itu. Tentang hidup, tentang mati, tentang meninggalkan dan ditinggalkan, tentang sekolah Bebe, tentang JG, banyak sekali. Dan “uniknya” ya, setelah saya sadar, saya tahu persis yang saya pikirkan TAPI juga sadar kalau pemikiran saya ngablu. Ngaco gitu lho.

Mikir sih mikir tapi bukan mikir jernih. Lebih kaya gila. Saya sampai mikir waw ini lho hidup sebenarnya. Hidup yang kemarin-kemarin punya badan, punya suami, punya anak itu kayanya mimpi doang deh. Kalau kata orang, persis orang yang make magic mushroom dan dapet bad trip. Halusinasi tapi yang saya halusinasikan itu hal nyata (bukan horor atau zombie wtf) dan saya ingat sampai sekarang apa pikiran-pikiran saya saat itu.

Sekitar 2 jam disedasi dan sibuk dengan pikiran sendiri, malah bikin saya jadi semakin menghargai pemikiran saya sendiri. Bukannya malah jadi takut, sekarang saya menikmati setiap momen saya berpikir sendirian.

Karena ternyata badan membuat pikiran terdistraksi. Ketika kita fokus sama pikiran tanpa mikirin badan, rasanya damai sekali. I feel enough and content.

Soalnya saya nggak masuk banget malah di level muak saking diri sendiri aja sering nulis soal ini sama nasihat:

"Makanya banyak bersyukur"

"Jangan bandingin hidup sama hidup orang lain terus"

"Hidup tuh sekali-sekali jangan lihat ke atas terus"


via GIPHY

Enek lho disuruh bersyukur terus kaya kalian tau aja level bersyukur saya. Tapi begitu ngerti konsep manusia nggak bisa ngerasain pikiran orang lain baru saya merasa cukup. Dan nggak enek lagi.

KOK BISA YA. AUK AMAT BINGUNG.

Beruntung saya paham konsep ini sebelum ke Bali karena jadinya di sana saya bener-bener nggak peduli untuk foto demi Instagram. Saya perhatikan hal-hal kecil seperti berbagai bunga, noda di batu, bentuk tangga, berbagai ukiran, dan saya foto sekenanya saja. Nggak memperhatikan estetika, fotonya lurus apa nggak, apalagi pilih foto untuk diunggah. Saya memperhatikan hal-hal kecil dan memotretnya untuk mengingat apa saja hal kecil yang saya lihat waktu itu. Hal kecil yang bikin saya tergelitik.

Dan ini nggak perlu me time sampai jauh ke Bali segala. Di ojek atau di taksi online, jangan buka HP, liat ke jendela dan mulailah berpikir. Mulailah menikmati pemandangan sampai detail terkecil, jangan lupa selipkan pikiran kalau hanya kita yang bisa berpikir seperti ini. Tidak akan ada orang lain lagi yang bisa. Punya pikiran dan bisa sendirian itu sebuah privilege.

Tak perlu pikirkan orang lain sepatunya lebih mahal, tak perlu pikirkan orang lain liburannya sering amat, tak perlu pikirkan orang lain kok mobilnya bagus-bagus. Fokus pada hal-hal kecil yang kita lihat. Kegiatan ini lebih akrab disebut dengan ngelamun lol.

*panjang-panjang berusaha mendefinisikan tapi ujungnya cuma pengen nyuruh ngelamun*

Tapi saya nggak suka dibilang ngelamun karena istilahnya itu underrated seolah sebuah pekerjaan yang amat sangat nggak penting. Jadinya daripada unfaedah ngelamun, selama ini kita jadi menyibukkan diri Insta Story atau scroll timeline Twitter. Padahal hidup udah sedemikian sibuk, ternyata yang saya butuhkan sekarang hanyalah tidak melakukan apapun. Doing nothing and let my mind wander.

Ini kayanya level selanjutnya dari "not giving a f*ck" atau mari kita bilang sebagai "absolutely not giving a f*ck". Karena sesungguhnya saya ini orangnya udah cukup nggak pedulian. Nggak baper sama komentar orang, nggak peduli sama banyak hal, jarang banget sakit hati sama omongan orang. Tapi ya masih ada sisi "kok dia bisa gitu ya kok aku nggak bisa" PASTI ADALAH. Manusiawi kan.

*

Bagaimana soal bertukar pikiran?

Selama ini saya pikir saya sering bertukar pikiran. Saya bertukar pikiran dengan JG tentang banyak sekali hal, saya menuangkan pikiran lewat blog. Tapi setelah beberapa saat menikmati kesendirian dalam pikiran, saya jadi ngeh kalau selama ini yang kita lakukan adalah BERUSAHA menuangkan pikiran lewat kata-kata.

Kadang tersampaikan. Sering juga tidak. Seharusnya selalu jujur tapi kadang tak sengaja sulit terungkap semua. Yang jelas tidak sama persis. Hal-hal yang kita pikirkan belum tentu 100% tertuang dalam kata atau tulisan.

Pun ketika kita bilang “dia yang paling ngerti aku banget” atau “nyambung banget ngobrolnya sama dia” itu artinya dia yang paling ngerti hasil pikiran ini bekerja lewat kata.

AH UDALAH. MAKIN DITULIS MAKIN PUSING. LAGIAN KEPANJANGAN.

Antara pusing nulisnya dan mulai masuk pemikiran: apa gue gila ya? Hahahaha.

-ast-






Money Can't Buy Happiness

on
Monday, June 12, 2017
Whoever said money can't buy happiness didn't know where to shop.

Sering banget dong ya denger quote itu? Apalagi lagi Jakarta Great Sale gini plus abis THR-an. Rasanya bahagiaaaa bisa belanja tanpa takut ganggu cashflow bulanan. Hahaha.


Tapi kemarin saya baca caption Instagram temen SMA JG dan jadi terenyuh. Dari mana jelasinnya ya.

*malah bingung sendiri lol*

Oke pertama, “Money Can’t Buy Happiness” biasanya diterjemahkan bebas dengan “orang kaya juga belum tentu bahagia kok”. At least saya dulu selalu menerjemahkannya seperti itu. Dulu sebelum saya overthinking sama segala hal hahaha.

Nah dengan definisi sesempit ini, lahirlah frasa bantahannya ya kan:

Whoever said money can't buy happiness didn't know where to shop.

Terus saya sempat yang … iya juga ya hahahaha. Prinsipnya ya asal ada uang, bayarlah kebahagiaan itu. Cari escape lain yang bisa dibayar dengan uang.

Saya ngikutin beberapa anak orkay di Instagram, salah satu dari mereka pergi-perginya ke tempat yang saya nggak pernah tau sebelumnya hahaha. Karena traveling ke tempat mainstream itu lame untuk orang kebanyakan uang ya nggak?

Tapi semakin saya dewasa *sigh* saya merinding sendiri dengan anggapan semua bisa dibeli dengan uang karena ya, bener-bener nggak semua hal di dunia ini bisa diganti dengan uang! Oh how I was so naive karena menganggap semua bisa dibuat lebih bahagia dengan uang!

Suami selingkuh? Ya nggak apa-apa asal dibayarin belanja sepuasnya di Paris. Orangtua cerai? Ya nggak apa-apa asal rekening aman jaya nggak perlu kerja seumur hidup dan traveling ke tempat-tempat yang bahkan saya nggak tau ada di dunia ini. Zzz

Dulu saya beneran menganggap itu tidak apa-apa loh, kan uangnya banyak, kan bisa beli semua hal, kan cari suami baru juga gampang karena kaya, kan kalau nggak cantik jadi bisa operasi plastik. Dulu = pas belum nikah dan hidup sesimpel makan tidur kerja doang lol.

PADAHAL NGGAK BEGITU KAN. Ya ada yang bisa begitu tapi mostly nggak begitu kan?

T______T

Akan selalu ada luka yang tidak sembuh meski disiram uang hahahaha. Kesel amat bahasanya.

Makanya banyak orang yang kaya raya tapi ngerasa kosong. Ya gimana, mau ngerjain hobi juga demi apa. Kita kan passionate ngerjain sesuatu karena tau rasanya gimana kalau passion itu jadi uang. *tetep uang*

Lah kalau nggak butuh uang karena sejak lahir udah jelas punya properti berapa dan nggak pernah tahu jumlah spesifik uang di tabungan saking infinity-nya?

Ya everyone has their own battle, mau kaya atau nggak kaya pasti ada aja masalahnya. Jadilah saya cenderung mencari ketidaksempurnaan dari teman-teman saya yang uangnya tampak tidak berseri karena lahir dari keluarga kaya raya.

Tipe yang tiap weekend minimal ke Bali/Singapura, mobil ganti tiap 2 tahun, anaknya lahir udah langsung punya properti buat investasi, endebrei endebrei. Ketika saya menemukan cela, saya langsung lega. Oke dia kaya tapi dia punya masalah A yang untungnya saya tidak punya.

Salah? Ya nggak lah, namanya juga menghibur diri hahahaha.

BY THE WAAAYYY INI DIA INSTAGRAM TEMENNYA JG YANG DI AWAL TADI SAYA MENTION:

♥Tak perlu bertemu perdana menteri untk mencari inspirasi♥ Ini sahabat baru saya.Sy memanggilnya kak Nur,usianya hny berbeda 1 th dg sy.Sjk kecil didiagnosa sbg ABK,bbrp rekan mgkn familiar dg sindrom di wajahnya yg khas,tp itu tdk mnjdknnya hmbtn. Dia tetangga persis sblh rmh sy,bersama ibunya ia mengasuh 5 anak di daycare.Keterbatasan dan kesederhanaan berpikirnya justru membuatnya mudah masuk ke dunia anak2,ia jd tmn main yg seru& menyenangkan untk azzam dan alma. Sejak pertama kali berkenalan.Hmpr tiap sore ia dtg ke rmh untk 'nyamper'sy main..tdk jrg ia membawakan sy makanan lalu mengajak sy ngobrol.Ngobrol soal apa?soal kehidupan,rmh tangga,politik?tentunya tidak. Tema obrolannya sederhana,disampaikan dg verbal terbata&sering diulang.Tp hal itu justru mmbnt sy bljr bhs melayu dg lbh mudah(bbrp org melayu asli bcrnya cepat).Dengannya,sy lbh mudah memahami per arti kata dan tdk perlu malu bertanya&menanggapi krn ia pun memahami kalimat2 sy dg perlahan lahan. Dengannya sy bljr kebahagiaan dg sgt sederhana.Di usia yg sebaya dg sy,ia(krn keterbatasannya)begitu santai menjalani harinya,tnp beban hrs begini begitu atau sibuk mengejar ini dan itu.Spt dlm foto ini..ia tertawa lepas sekali krn puas menyusun pola dlm permainan geoforme.Ia begitu menikmati dan mengulang ulang reward untk dirinya sendiri.."tengok..hampir sls,tengok..sy pandai..esok sy pasti bs buat macam ni lagi " Sederhana,tp banyak memberi energi pd jiwa untk menghargai diri sendiri.Bkn sibuk&risau mengejar apa yg tdk kita miliki apalagi mengukur diri dg apa yg mnjd capaian org lain. Sudahkah kita bs melakukannya juga? Byk sekali hal kecil di sekeliling yg bs qt jadikan pelajaran&inspirasi.Tidak perlu perlu bertemu perdana menteri untk mrncari inspirasi..tdk perlu jg pergi ke tmpt baru. Karena kadang,bukan suasana yg harus diganti,tp hati&cara pandang kita yg perlu diperbaiki untk mlht segala sesuatunya dg penuh kesyukuran.. :) Ramadhan Kareem...mari mengisi ramadhan dg penuh rasa syukur ♥♥
A post shared by Sofiana Indraswari (@sofiana_indraswari) on
Dengannya sy bljr kebahagiaan dg sgt sederhana.Di usia yg sebaya dg sy,ia(krn keterbatasannya)begitu santai menjalani harinya,tnp beban hrs begini begitu atau sibuk mengejar ini dan itu.

CRY T__________T

Ini bikin saya mikir, orang makin banyak uang itu masalahnya makin banyak! Makin banyak yang harus dipikirin!

Digetok juga sama Kevin Kwan hahahahaha. Baru setengah nih baca buku Rich People Problems dan yah, meski ketawa-tawa karena lawak banget saya diam-diam mikirin lol.

Nih ya sebagai kelas menengah, kita nggak perlu mikirin maintenance satpam dan maid 30 orang. Bukan masalah uangnya loh ya, tapi dramanya. Lah mbak satu aja di rumah bikin sakit kepala kan kalau pacaran terus atau hidupnya jorok? XD

Belum lagi karyawan perusahaan. Lah kita abis melahirkan mau resign aja yang dipikir cuma anak bayi, kalau punya 10.000 karyawan? Yang dipikirin 10.000 karyawan dan keluarganya kan. Belum lagi maintenance pesawat jet, urusan minum aja harus impor dari Swiss kan nggak bisa minum air lokal. HAHAHAHAHA.

Ah kan ada orang lain yang mikirin. Yaiya, tapi tanggung jawab ada di siapa?

Belum lagi karena standarnya beda kan. Saya makan Genki Sushi aja bahagia, kalau orkay harus bawa chef sushi dari Jepang langsung biar bahagia. Saya belanja di Jakarta Great Sale aja bahagia karena irit, kalau orkay bajunya couture semua kan otomatis lebih ribet.

(SUNGGUH PERBANDINGAN TIDAK SEPADAN YHAA HAHAHAHA)

Karena tidak tahu apa-apa, hidup jadi lebih sederhana. Kalau tahu lebih banyak, maka lebih banyak pula yang mengisi antrian pikiran.

Jadi ya panjang lebar nulis ini cuma mau bilang: uang segini masalahnya segini, uang segunung masalahnya juga jadi segunung.

Jadi mau uang yang mana? Eh salah, mau masalah yang mana? ;)

-ast-





Tentang Drama Kehidupan

on
Tuesday, May 16, 2017
Kenapa ya saya anaknya suka overthinking sama segala sesuatu. Apalagi untuk urusan hierarki antara status sosial, jabatan di kantor, sama peran di rumah. Saya suka kepikiran banget!


Misal gini, ada cleaning service di kantor yang pendieeemmm banget. Pendiem terus sopan banget gitu, kalau jalan selalu nunduk. Ya saya maklum mungkin dia merasa bukan siapa-siapa, level terendah di kantor lah kasarnya. Jadi dia nunduk entah karena memang minder atau memang merasa harus sopan.

Suatu hari saya ajak ngobrol, dengan malu-malu dan tetap nunduk (mungkin menjaga pandangan yhaaa) dia jawab anaknya dua. Satu udah kelas 5 apa 6 SD gitu, satu lagi masih umur 2 tahun. Dan saya langsung tettoottt! kepikiran banget.

Kepikiran banget karena berarti meski di kantor dia nunduk dan minder gitu, dia di rumah adalah kepala keluarga dengan anak yang mau remaja. Apa dia di rumah tegas sama istrinya? Apa dia di rumah galak sama anaknya? Apa dia di rumah juga pendiem?

AKU ... KEPO.

T________T

Inget juga kemarin makan di Shaburi terus mbak waitressnya nyapa Bebe dan tiba-tiba cerita kalau anaknya dia juga umur 2 tahun dan suka Cars kaya sepatu Bebe. Dia cerita dengan sangat excited dan saya mendadak mellow karena dengan demikian dia adalah ibu bekerja. Mungkin di sela-sela kerjaan dulu dia harus pumping juga sama kaya saya. Mungkin juga dia sama sedang mikirin ulang tahun anaknya mau dibikin kaya apa. Ah. :((((

(Baca: Orang-orang yang Bertahan Hidup)

Jadi inget juga cerita JG yang masa kecilnya dilalui dengan tinggal di gang sempit. Tetangga-tetangganya itu semua orang susah lah kasarnya. Mereka suka sewenang-wenang sama istri, teorinya JG karena mereka kerjanya rendahan banget, mereka jadi nggak punya suara di tempat kerja. Satu-satunya "kuasa" mereka ya sama istri, jadilah istrinya diperlakukan seenaknya.

Hiks.

Mau sedih juga nggak perlu sedih ya ini, namanya juga hidup. Tapi gimana ya, saya kepikiran betapa satu manusia itu punya peran yang beda-beda banget di berbagai lini kehidupan. Saya baru ngerti lagunya Nike Ardilla kalau dunia ini panggung sandiwara.

Di kantor dia adalah cleaning service yang minder, di rumah dia ayah yang tegas tapi sayang keluarga, di lingkungan rumah ternyata dia Pak RW dan terbiasa mimpin rapat RT, dan seterusnya.

Nggak usah susah-susah deh, waktu masih sekolah aja kerasa kan bedanya. Kita di sekolah sebagai ketua kelas tentu beda dengan kita di rumah yang anak bungsu. Kita di kampus yang serampangan dianggap anak bodoh, ternyata di rumah adalah kakak sulung tulang punggung keluarga.

Kepikiran kalau manusia sebenarnya memang hidup dengan beberapa topeng, mau pakai yang mana, mau lepas yang mana. Mau jadi saya yang mana.

Dan social media juga panggung lain lagi.

Di socmed dia ibu-ibu berisik garda depan pembela kebenaran, di rumah ternyata boro-boro berisik, ditanya pendapat sama suaminya aja nggak pernah. Di socmed dia ibu-ibu inspiratif banyak kegiatan positif bersama keluarga, di rumah dia ternyata depresi karena masalah dengan mertua.

Makanya jangan bingung sama orang-orang yang di socmed ributnya ya ampuuunnn. Pas ketemu hening krik krik. Atau sebaliknya, di socmed tampaknya hidup seru dan bahagia, pas ketemu kok ya orangnya banyak ngeluh. Ya maklum, itu topeng satunya lagi kan, topeng social media.

Lalu apa harus jadi orang yang sama di semua panggung biar dibilang apa adanya?

(Baca: Menjaga Perasaan Siapa Agar Tidak Dibilang Fake?)

Ya nggak juga sih. Nggak apa-apa kok punya banyak peran, punya banyak topeng. Saya nyaman berisik di socmed dan JUGA di dunia nyata. Saya nyaman bercerita pada kalian di blog ini seperti saya bercerita pada JG. Kalau kalian merasa tidak nyaman ya tidak apa-apa. Tidak berarti kalian palsu, kalian hanya sedang pakai topeng yang lain.

Yang jelas, harus diingat bahwa ini adalah topeng peran, bukan topeng kebohongan. Kalian yang berisik di socmed tapi pendiam di dunia nyata, nggak berarti kalian bohong kan?

Cuma inget-inget aja kalau lagi pengen ngomong kasar sama orang. Waitress itu mungkin teraniaya di rumah, satpam itu juga mungkin ayah-ayah yang lagi bingung bayar sekolah anak, abang angkot yang nyebelin itu mungkin sebatang kara. Yah, entah ini harus dipikirin apa nggak sih ya.

Ya gitulah. Auk nulis apa sih ini. Bye!

-ast-




Karena Rezeki Tidak Selalu Uang

on
Friday, November 18, 2016
Orang mah nganggep rezeki = uang. Cuman ya rezeki bisa berupa doa, kesempatan, pelajaran hidup. Uang itu bagian kecil dari rezeki -- Mevlied Nahla, 21 tahun, tumben-tumbenan wise biasanya mah sinting.


Topik cemen gengs, topik cemen akibat brush Real Technique lagi diskon terus saya sama Nahla ingin beli tapi belum gajian. Kemudian kami meratapi hidup dan rezeki. Bokek memang membuat orang lebih bijaksana.

Ngepas banget sama momen saya kalah kuis beruang padahal udah niat banget sekreatif gila dan yang menang ... emmm, maap yah tapi nggak tau deh jurinya nilainya gimana soalnya yang dinilai katanya kreativitas kan. Saya nggak liat kreatifnya di mana sih lol. MAAP LOH YAAHHH. Bukan salah yang menang tapi salah yang pilih lol. Yang bagus banyak loh tapi yang itu aduh.

Btw respek banget sama yang menang. Dia bilang sedang minta kejelasan sama pihak brand karena banyak diprotes takutnya salah sistem. Duh kok ada orang baik sekali aku respect super.

*abis ini pada ngomongin saya baper lolol* *silakan lohhh* XD

(Baca: Tapi Masuk Akal Itu ... Akalnya Siapa?)

Iya, intinya saya kaya mayan tertohok gitu sama quote Nahla di atas. Abis ini brutal sih di waktu yang sama, Real Technique diskon tapi bokek, kalah kuis, kemudian Coldplay konser. Berakhir pada pertanyaan kok hidup gue gini amat? *HEAKK LEBAY*

Padahal mah ya mau kurang bersyukur apa, kemarin pas diskon 11.11 itu dapet pospak murah banget, terus sempet-sempetnya beli sponge Masami Shouko cuma 60ribu aja. Make up di rumah masih numpuk yang belum kebuka, belum lagi skin care yang masih antri. Ehm. Kenapa yah ujung-ujungnya skinker. 😑

Tapi masih aja berasa kurang uang. Kalau uang ada kan gue bisa beli Real Techniques meskipun nggak diskon! Bisa beli Macbook Gold sendiri nggak perlu heboh ikut kuis. Bisa ke Singapur sekeluarga besar jadi bisa bawa Bebe dititip ke ibu saya pas saya nonton konser. Jadi ninggalin Bebenya beberapa jam doang, nggak perlu dia ditinggal di Indonesia.

Padahal nggak perlu gitu-gitu amat juga kali ya. Seperti kata Nahla, rezeki bisa berupa doa. MMMM, permisi ini sih agak kurang paham ya, gimana ya rezeki doa itu? Ya udah harap maklum yang ngomong Nahla hahaha.

SKIP. NEXT.

(Baca: Mempertanyakan Rezeki)

Rezeki berupa kesempatan. Ini kok iya banget. Kami kemudian membicarakan bahwa kalau nggak ada Bebe, blog ini pasti nggak akan sehidup ini. Ya gimana, 80% isinya Bebe kan. Perjalanan hidup saya, JG, dan Bebe. Kalau berdua JG doang ini blog nanti jadi blog komedi ah elah. Kurang hits dong ya, blog parenting kan lebih edukatif gitu kesannya.

Coba berapa banyak kesempatan yang datang karena saya punya blog. Jadi pembicara, jadi juri, jadi ngetop karena postingan viral hahahaha. Semua karena cerita bersama Bebe. Hampir semua postingan viral saya seputar curhat orangtua baru.

Rezeki berupa pelajaran hidup. ADUH INI IYAAAA.

Bebe mengajarkan saya banyak hal. Bahwa hidup itu untuk bersenang-senang. Bahwa banyak hal yang tidak usah dibuat sedih. Kaya pas mobil mogok di depan daycare, Bebe malah happy luar biasa karena dia bisa lari-larian di trotoar. Kemudian main bubbles sambil teriak-teriak. Duduk di bagasi belakang mobil yang dibuka.

Dia super bahagia karena bisa full main sama saya dan JG sambil nunggu montir otak-atik aki mobil yang ternyata abis masa berlaku macam paket internet. Sementara kalau pulang di rumah juga mentok saya main hp, dia main sendiri. Hahaha. Gagal amat jadi orangtua sis.

Di pinggir jalan, dia bahagia karena bisa pegang daun. Bisa liat tikus lari ke got, bisa loncat-loncat. Sebelum aku di-judge aku jelaskan dulu kalau trotoarnya luas ya bukan trotoar sempit. Dan daycare ini area perumahan jadi bukan jalan raya yang super rame. Ada mobil motor lewat tapi nggak sering. Ya intinya Bebe bahagia ... karena mobil mogok.

Ajaib nggak sih anak kecil itu?

Rezeki banget nggak sih dibikin bahagia sama anak kecil padahal harusnya manyun karena mobil mogok?

Bebe juga mengajarkan kalau keluarga adalah segalanya. Dia selalu rela tunggu JG sampai malem di daycare daripada pulang berdua sama saya pake Grab. Tapi kadang sayanya ngantuk dan capek jadi ingin buru-buru pulang dan males tunggu JG. Kalau disuruh pilih pulang pake Grab atau sama appa pasti Bebe pilih sama appa, meskipun artinya kami menunggu di luar daycare kepanasan.

Jadi yah, kali ini Nahla bener banget. Rezeki tidak selalu dalam bentuk uang.

Tapi kalau kata Gesi (di kesempatan berbeda) "tapi kan kita masih pengen kalung unicorn sis? Pengen shopping biar nggak stres? Tetep butuh uang lah!"

IYA JUGA.

Jadi intinya berbahagia lah dengan apa yang kita punya. Bukan uang yang jadi ukuran karena toh kita tidak kekurangan?

Berbahagia lah karena meski nggak bisa beli brush Real Technique, bulan ini bisa beli sepeda dan boncengan jadi Bebe bahagia. Berbahagia lah karena masih bisa shopping dan makan enak tiap bulan. Berbahagia lah karena masih bisa katering enak buat makan malem jadi nggak perlu masak. Berbahagia lah karena punya teman-teman yang bisa sinting dan wise pada waktunya.

Berbahagia lah karena punya suami yang selalu dukung istrinya untuk bahagia. Hahahaha.

Demikian dan terima pekerjaan tambahan untuk beli MacBook Rose Gold lol iyalah kalau beli sendiri mah maunya yang rose gold bukan yang gold hahaha.

LET'S WORK EVEN HARDEEERRRR!

-ast-




Menjaga Perasaan (Siapa?)

on
Friday, October 7, 2016

Akhir-akhir ini beberapa orang di sekitar saya mengeluhkan kenapa kita hidup untuk menyenangkan orang lain. To please the society, to meet everyone's expectations.

Saya sendiri yang sebelumnya mengeluhkan hal yang sama, mulai capek dan akhirnya mempertanyakan sebaliknya. Memangnya tidak boleh kalau hidup untuk menyenangkan orang lain?

Contoh paling sederhana, dulu waktu awal pacaran sama JG untuk pertama kalinya saya dilarang pakai baju yang terbuka. Celana pendek, rok pendek, baju-baju kutung semua tidak boleh dipakai.

Aneh sih karena dia anaknya liberal banget, tapi melarang-larang saya seperti itu. Padahal ayah ibunya dia juga nggak masalah sama sekali. Jadi jelas melarang saya bukan karena takut orangtuanya marah, punya pacar kok bajunya seksi. Posesif sama liberal memang nggak akur kayanya.

Padahal saya dulu lagi seneng-senengnya pake rok pendek dan Dr Martens. Tapi apa kemudian saya merasa fake dan menjadi orang lain karena dilarang mengekspresikan diri dengan baju yang saya suka? Nggak juga sih.

Ya namanya juga menjaga perasaan orang yang kita sayang. Gitu kan?

Sekarang banyak orang yang kalau hidup dengan menjaga perasaan orang lain langsung merasa fake, langsung merasa hidup kok penuh kepalsuan. Seolah memang kita hidup hanya untuk diri kita sendiri, padahal sebenernya nggak sepenuhnya gitu juga.

Kita kan nggak hidup sendirian. Beli sayur di pasar aja ngomongnya sopan dan nggak nawar karena kasihan. Waitress di restoran nganterin makanan telat aja nggak kita marahin langsung padahal pengen banget, karena mikirin perasaan si waitress, gimana kalau dia dipecat? Gimana kalau dia ternyata single mom yang harus biayain anaknya?

Apa kita jadi fake karena menjaga perasaan si waitress?

(Baca: Masuk Akal itu Akalnya Siapa?)

Terus orang-orang yang suka mengumbar kata kasar, yang ngomong selalu to the point jadi mengagungkan "yang penting gue nggak fake". Ya lo nggak fake karena mungkin nggak ada perasaan orang terdekat lo yang perlu dijaga.

Saya baru menyadari ini, baru merasakan sendiri. Karena saya merasa kalau di blog saya selalu jujur. Saya hampir nggak pernah nulis karena nggak enak sama orang lain. Saya tulis apa yang mau saya tulis meskipun itu membuat saya dimaki-maki. Saya nggak peduli.

Tapi ternyata saya nggak peduli karena orang yang maki-maki adalah orang yang tidak penting buat hidup saya. Kenapa saya harus menjaga perasaan orang yang tidak penting buat hidup saya? Mbak sayur di pasar masih lebih penting karena kalau nggak beli sayur nanti nggak masak nanti nggak makan dong.

Beda lagi ketika urusannya keluarga. Saya selalu berusaha tidak melakukan sesuatu yang membuat ayah dan ibu saya kecewa. Apa saya fake? Mungkin iya, tapi tidak membuat orangtua khawatir dan kecewa JUGA membuat saya bahagia. Karena kalau saya melakukan hal yang saya suka tapi membuat orangtua kecewa, apa saya akan sebahagia ini? Belum tentu kan.

Kalau sekarang saya nggak pernah umbar berantem sama JG apa saya jadi fake gitu? Nggak kan? Sebaliknya, nggak pernah umbar foto mesra sama JG apa saya jadi fake juga gitu? Nggak kan?

Kalau nggak umbar berantem:

"Cih fake abis, mana ada pasangan nggak berantem"

Kalau nggak umbar foto bahagia:

"Cih fake abis, katanya bahagia tapi selfie sendiri terus nggak pernah ajak suaminya"

"Kita hanya memilih apa yang ingin kita bagikan pada orang lain dan mana yang ingin kita simpan sendiri."

Online dan offline. Maya dan nyata.

Karena ketika kita berhenti menjaga perasaan orang lain, kita harus siap hidup tanpa lagi melibatkan perasaan kita sendiri. Kalau masih ingin perasaannya dijaga orang lain, maka harus siap pula menjaga perasaan orang lain.

Mungkin sekarang yang harus dilakukan bukan lagi mengeluhkan kenapa kita berpura-pura, tetapi jalani hidup apa adanya. Karena justru keluhan-keluhan itu yang mungkin membuat kita tidak bahagia.

Jadi, buat kamu yang merasa tidak bahagia karena hidup penuh dengan kepalsuan, tidak ada yang menjamin hidup kamu lebih bahagia kok kalau kamu lepas dari kepalsuan itu. Apalagi kalau kepalsuannya melibatkan orang-orang yang kamu sayang.

-ast-

Ini postingan emosional dalam usaha membuat positif hal-hal yang sedang negatif. Lebih lelah negatif atau lelah berusaha positif?




Orang-orang yang Bertahan Hidup

on
Monday, July 4, 2016



Di ujung jalan itu, jalan kecil dan pendek yang menyambungkan Jalan Palmerah Barat dan jalan satunya. Entah jalan apa namanya, jalan di samping rel kereta menuju Pejompongan. Jalan itu hanya sepanjang sekitar 100 meter, memberi nafas pada dua kemacetan. Kemacetan menuju Slipi dan kemacetan menuju Semanggi.

Kadang kedua jalan itu macet, kadang hanya salah satunya. Jalan kecil itu memberi pilihan, akankah nekat menembus macet menuju Slipi? Atau belok ke jalan kecil itu berharap jalan menuju Pejompongan lancar jaya dan tidak terhambat kereta?

Jalan itu saya lewati setiap hari. Di kedua ujungnya ada penjaga, di ujung Palmerah dikuasai satu geng (yang penampilannya seperti) "preman". Berempat atau berlima mereka "mengatur" lalu lintas orang yang keluar masuk jalan. Berharap koin-koin dari mobil yang merasa terbantu, yang merasa berutang budi karena belok di tengah macet itu memang sulit sekali.

Satu geng itu team work-nya patut diberi bonus tahunan, kalau saja mereka bekerja kantoran. Mereka memang membantu. Memberi rupiah pun rasanya tidak sia-sia. Sesekali mereka bergantian menjaga dan beristirahat dengan nongkrong di kios kecil di pinggir jalan. Mereka berkoordinasi agar semua mobil dan motor yang akan masuk gang bisa melaju tanpa membuat kemacetan baru. Saku celana mereka selalu terlihat penuh dan berat, berisi koin-koin ucapan terima kasih.

Sebaliknya dengan penjaga ujung jalan satunya.

Ia tak punya geng, ia bahkan sepertinya tidak punya teman. Seorang laki-laki yang wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Kurus kering, kulitnya hitam legam, bahunya agak bungkuk. Terlihat helai-helai rambut putih di sela-sela rambut hitamnya yang ikal berminyak. Tak seperti rekan satu profesi di sudut satunya, ia membawa peluit. Saku celana katunnya tidak pernah tampak penuh. Ada alasannya.

Peluit modalnya itu selalu ia tiup asal-asalan. Tidak jelas meniup pada siapa dan fungsinya untuk apa. Ia terus meniup dengan tangan membentuk dua kode: melaju atau berhenti. Ia sia-sia, ia sama sekali tidak membantu, malah kadang menghalangi. Seringnya ia lah yang membuat kemacetan baru karena ia terlalu bingung untuk memutuskan, siapa yang harus lebih dulu melaju. Atau ia berdiri terlalu di tengah jalan yang sudah sempit itu. Duh.

Suatu hari ia "bekerja" dengan kain jarik melingkari badannya. Membawa anak berusia 4 tahunan. Anak ini tidak tertidur seperti anak-anak pengemis yang katanya diberi obat tidur. Anak ini bangun, melirik ke kanan kiri melihat keramaian jalan.

Hari lainnya ada seorang perempuan yang menggendong anak laki-laki itu, dengan kain jarik yang sama. Duduk di teras sebuah bangunan ujung jalan itu yang ternyata posyandu. Ratusan kali melewati jalan itu saya akhirnya menduga satu hal: mereka satu keluarga dan mereka tidak punya tempat tinggal. Mereka sepertinya tinggal di bangunan posyandu itu.

Dan jelaslah sang kepala keluarga tidak punya pekerjaan yang jelas. Ya, menjadi Pak Ogah tentu bukanlah pekerjaan. Bahkan karakter Pak Ogah yang sebenarnya pun diceritakan sebagai pemalas dan tak punya pekerjaan kan?

Kemudian saya berusaha berpikir positif. Mungkin ia tidak bekerja karena ini, karena itu. Tapi gagal. Selalu yang muncul adalah pemikiran sebaliknya.

"Masih muda kok pemalas."

"Pasti malas cari kerja."

atau

"Pasti kalau pun diberi pekerjaan, ia tak mau."

Dan pasti-pasti lainnya yang seluruhnya murni dugaan negatif belaka. Padahal satu hal yang pasti, ia adalah sebagian sangat kecil dari orang-orang yang bertahan hidup di Jakarta.

Seperti tukang tambal ban di sudut Palmerah yang lain. Kiosnya sangat kecil. Satu kali saat pergi agak siang, saya melihat ia mencuci muka dengan baskom besar di pinggir jalan. Di sisi selokan. Saya bertanya-tanya, tak punya rumah kah?

Kali lainnya pertanyaan itu terjawab karena setiap kami pergi agak pagi atau pulang larut malam, ia sudah tidur. Tidur di halte bis persis di sebelah kios tambal bannya.

Ada pula kios lainnya. Di dekat tempat makan Lapo paling terkenal se-Jakarta. Sebuah kios sempit ditempati satu keluarga dengan anak balita. Anaknya makan apa? Makan nasi atau makan bubur? Tahukah dia kalau ibu-ibu lain di kota yang sama bisa bertengkar hanya karena gula dan garam?

Kemudian ada satu ibu. Pakaiannya dinasnya adalah kebaya batik kutubaru lusuh dengan kain bawahan yang tak kalah lusuhnya. Ia hanya muncul di malam hari, bersama anaknya yang berusia sekitar 10 tahunan. Keduanya tidur di trotoar gelap, di jalan sempit kemandoran.

Saya menduga ia memang bersembunyi dan tak mau terlalu terlihat orang banyak. Mengapa tak tidur di emperan toko seperti para tunawisma lainnya? Tak bisakah ia menemukan posyandu untuk ditempati? Tak bisakah ia membuka kios agar minimal ada tempat bernaung saat hujan?

Yang jelas hanya satu hal, mereka punya kesamaan, sebagai orang-orang yang bertahan hidup di Jakarta.

Seperti juga para kuli bangunan yang bekerja sangat cepat membangun gedung-gedung bertingkat. Berkutat dengan pasir dan semen dan diingatkan artinya hidup dengan spanduk keamanan kerja terbentang di rangka gedung yang sudah setengah jadi. Spanduk putih yang berbunyi "Ingat keluarga menunggu di rumah". Kepala tertutup helm proyek, rompi orange menyala, dan sepatu bot yang penuh kotoran. Tidur di halaman proyek, di bangunan seng yang mereka dirikan sendiri.

Juga seperti kaum pekerja yang berdesakkan di commuter line dan TransJakarta. Seperti para motoris yang berbalut jaket tebal, menembus panas dan jalan luas yang tetap saja pengap. Seperti kaum yang lebih mampu yang mengeluhkan macet pada supir mobil pribadinya, pada supir mobil pribadi anaknya yang bahkan baru masuk TK. Seperti kaum yang lebih lebih mampu yang rela merogoh kocek untuk bepergian dengan helikopter di Jakarta. Mendarat dari satu helipad mall ke helipad lainnya.

Mereka yang berlimpahan harta dan mereka yang hanya bermodal peluk keluarga. Semua berlari berdampingan di kota ini, demi mengisi perut yang lapar dan cita-cita yang bahkan tak semuanya nyata. Cita-cita yang jadi seperti semu, dibaurkan lelah penat keringat. Uang-uang yang menguap entah jadi apa.

Jadi asap dan abu rokok tukang bajaj. Jadi makan di restoran setiap minggu. Jadi berkoper-koper belanja saat pesta diskon di mall, meski itu bisa menghabiskan hampir seluruh penghasilan. Dihabiskan sia-sia dan menguapkan cita-cita karena itu yang membuat lelah penat sedikit terusap. Jadi modal tenaga baru untuk berlari kembali memacu diri.

Demi bertahan hidup di Jakarta.

"After of all of the darkness and sadness. Soon comes happiness," -- Destiny's Child

We are survivor. We keep on surviving.

-ast-




Tentang Mempertanyakan Rezeki

on
Tuesday, April 19, 2016

Pagi ini saya mengobrol dengan makpon, mbak Mira Sahid kesayangan. Tentang hidup yang hiruk pikuk. Tentang beberapa hal yang saya masih harus banyak belajar. Tentang hal-hal yang harusnya lebih saya hargai.

Bahwa hidup itu banyak penyesalan mba. Hahahahaha.

Topiknya soal rezeki. Bahwa ada hal-hal yang membuat saya jadi mempertanyakan rezeki. Padahal seharusnya tidak boleh seperti itu kan?





Karena Saya Tidak Percaya Prioritas

on
Wednesday, March 30, 2016

Uang dan waktu, dua hal yang harus pakai prioritas. Untuk uang saya setuju, untuk waktu saya sama sekali tidak percaya pada prioritas.

Iya, saya mulai percaya bahwa prioritas waktu itu sebenarnya tidak bisa dibuat saat punya pacar pertama. Si anu yang sekarang jadi mantan saya itu selalu bilang saya adalah prioritas pertama dia.

Somehow that's true karena kapanpun saya minta bantuan, dia pasti datang membantu. Tapi tidak di hari-hari tertentu yang datang beberapa bulan sekali. Hari-hari di mana sepupunya yang akmil di Magelang pulang ke Bandung. Hari-hari bersama sang sepupu, saya jadi entah nomor berapa. Dia menghilang. Jadi saya sebenarnya prioritas nomor berapa?





Tentang Akal

on
Wednesday, March 16, 2016

"Masuk akal itu akalnya siapa"
-- Ariel 'NOAH' di buku "Kisah Lainnya".

Jadi aku galau mau nulis Rabu Ibu apa ahahahahahha postingan tentang Bebe a udah di-posting hari Senin jadinya aku bingung. Cerita ajalah ya.

Jadi pas di Bandung beberapa minggu lalu itu saya sama JG lihat segerombolan anak punk di lampu merah. Sepertinya mereka ngamen, entahlah karena pada nongkrong aja di trotoar. Ada 4 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Usianya mungkin 20an tahun. Bajunya dekil dengan tempelan emblem dijahit di sana-sini. Rambutnya sebagian tajam ke atas, sebagian hanya diwarnai merah dan orange menyala.





Calm Down, Deep Breaths

on
Friday, December 18, 2015

Beberapa hari ini saya lagi kebanyakan bengong. Gara-gara JG udah 2 mingguan lembur akhir tahun, pulang jam 10an terus, jadi rasanya kok kurang ngomong ya? Soalnya biasanya ngobrol banyak di mobil, ini udah semingguan naik taksi terus sama Bebe yang tidur nyenyak. Jadi nggak bisa diajak ngobrol ... soal hidup. -_____-

Dan seperti biasa saya kalau kurang ngomong jadinya kebanyakan mikir euy, bahaya. :/





Karena Dunia Tak Selebar Daun Kelor

on
Wednesday, December 2, 2015

Masa yah udah jam 4 sore aja terus belum mikirin bahan untuk posting Rabu Ibu. Ya udahlah nulis soal ini aja. Nggak nyambung, bukan soal parenting, tapi gatel pengen nulis lol.

Yes karena dunia tak selebar daun kelor. Makanya saya suka pusing sama yang ribut-ribut berlebihan. Yang sepertinya nggak pernah lihat dunia di luar dunia yang biasa dia lihat. Sempit.

Nggak usah dulu ngomong level "dunia" lah ya. Contoh di dunia yang lebih kecil aja, Instagram. Orang-orang sempit ini di Instagram adalah orang yang menasihati sambil nyinyir sama Princess syantiek yang belanja dan pergi-pergi pake pesawat jet. Katanya kekayaan nggak usah dipamerkan.

Dia kaya? Itu kan menurut elo.

Karena banyak sekali akun Instagram lain yang membuat akunnya Princess jadi biasa aja. Orang-orang yang bahkan di usia 18 tahun udah punya pesawat jet pribadi sendiri untuk makan siang di Paris. Yang punya Bentley tiga beda warna semua padahal doi cuma mahasiswa. Entah anak siapa. Followersnya banyak tapi nama belakangnya nggak pernah dia ekspos.

Dan yang kita anggap sebagai "pamer kekayaan" itu sebenarnya kehidupan sehari-hari mereka. Sama dengan ketika kita posting cangkir kopi hari itu. Sama dengan ketika kita posting hadiah tas baru dari suami. Tujuannya sama, berbagi cerita. Cuma kebetulan aja yang itu "harga" ceritanya miliaran kali lebih mahal.

Orang-orang sempit ini menyebalkan.

Karena mereka biasanya juga tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Mereka pun senang menggeneralisasi semua hal dan judgmental. Dan paling menyebalkannya, mereka biasanya tidak bisa menerima pendapat orang lain. Pokoknya dia paling benar dan paling tahu semuanya, titik. Plus orang lain harus ikut setuju dengan pendapatnya.

Duh helow?!

Saya sih tipe yang "ini pendapat gue, itu pendapat lo, kita hidup masing-masing". Karena nggak semua hal harus disepakati toh? Tapi orang-orang yang merasa paling pintar ini seringkali "memaksa" saya (dan orang lain) untuk menerima pendapat dia. WHY?

Dan orang-orang ini biasanya heboh di dunia maya doang. Begitu diajak ngobrol di dunia nyata malah banyak diemnya. Boro-boro debat atau menasihati kaya di status-status socmednya, ditanya aja jawabnya pelan dan malu-malu. Apa namanya kalau bukan ngeselin?

Dan kenapa ya fenomena ini terjadi? Apakah kurang eksis sejak bayi jadi pas udah dewasa haus popularitas? Apakah kurang dipuji suami? Apakah kurang apresiasi di semua aspek kehidupan? Atau justru sebaliknya, apakah terlalu dikelilingi orang yang selalu memuji sehingga kekurangan diri sudah tidak terlihat lagi?

Karena orang hebat, tak pernah mengklaim dirinya hebat. :)

-ast-




Jadi Hidup Itu ...

on
Friday, October 30, 2015

Masih jam 7 pagi, hari Jumat. Iya hari ini, persis tadi pagi. Saya duduk di kubikel saya, dengan laptop dan monitor yang masih mati. Ruangan juga masih sepi, lampu dan AC malah baru saja menyala. Dinyalakan karena saya datang.

Setiap hari saya selalu jadi yang pertama datang. Bersamaan dengan satpam yang membuka pintu dan menyalakan lampu. Bersamaan dengan office boy yang harus mencuci gelas dan menyiapkan minum. Bersamaan dengan cleaning service yang selalu meminta saya untuk berhati-hati karena saya selalu berjinjit sambil permisi, berjalan di atas lantai basah yang baru dipel.




Tentang Hidup Kembali

on
Wednesday, July 8, 2015

Beberapa hari yang lalu, JG memperlihatkan sebuah posting Linimasa berjudul "Lumpuh". Kami berdua pembaca setia Linimasa, tapi kali ini saya tidak sepenuhnya setuju dengan apa yang Glenn Mars tulis.

*Terus kenapa kalau nggak setuju? Ya saya bikin tulisan alasannya dong. Emang presiden doang yang boleh dikasih surat terbuka. LOL.*

"Lumpuh" bercerita tentang konsumtivisme. Betapa apa-apa bisa dibayar dengan uang. Menghasilkan generasi yang menjahit kancing sendiri tidak bisa. Menyalakan kompor tidak bisa. Sehingga hidupnya lama-lama jadi membosankan. Jadi putus asa. Lumpuh.




Tentang Nasib Manusia

on
Friday, June 19, 2015



Saya orangnya emang nggak boleh kebanyakan bengong. Nanti jadi kebanyakan mikir. Kebanyakan khawatir. Kebanyakan pertanyaan. Heboh deh, harus minta jawaban sama siapa?

Saya selalu senang mengobrol dengan orang baru, apalagi orang asing. Supir taksi, supir Go-Jek, abang tukang jualan, orang di antrian depan, orang di antrian belakang. Siapapun. Selalu ada hal baru, selalu ada hal-hal yang tidak terduga. Nasib orang memang beda-beda.

Orang pertama sejak lahir tidak pernah susah. Laki-laki 50 tahun ini sejak bayi sudah jadi sosialita. Hidup mewah, kuliah di Amerika, pulang ke Indonesia diwarisi puluhan restoran. Jadi CEO di sana-sini tanpa pernah tahu rasanya jadi karyawan biasa dengan gaji 3juta. Uang sebanyak itu hanya seharga setengah atau bahkan seperempat pasang sepatunya. Sepatu yang ia koleksi sebanyak satu ruangan 3x3 meter persegi. Semua hanya bermodal nama belakang saja. Sungguh modal yang sulit dimiliki. Pantas artis cantik itu mengubah namanya menjadi ikut nama belakang suami. Padahal nama belakang suaminya berlumur lumpur.

Orang kedua nama belakangnya bukan siapa-siapa. Nama keluarga mereka hanya dikenal di RT rumahnya. Paling banter di RW karena ibunya rajin pengajian dan kondangan. Di usianya yang ke-48, perempuan yang selalu berhak tinggi ini sukses jadi CEO juga. Harga sepatunya sama seperti orang pertama. Tidak ada yang sadar, puluhan tahun dia putar otak banting tulang menjaga perasaan demi jadi CEO. Posisi yang sama dengan orang pertama. Sama posisi, beda proses. Jauh berbeda.

Orang ketiga lebih bukan siapa-siapa. Sehari-hari ia tukang ojek. Ia harus menghidupi anaknya yang akan masuk SMA sebagai single parent. Berjuang menembus panas dan debu ibukota dari rumah sempitnya di Depok. Dimaki penumpang karena tak hapal jalan sudah biasa. Bermodal motor bebek yang cicilannya masih setia hingga 2 tahun lagi. Pulang ke rumah jam 10 malam. Ia masih harus membersihkan rumah, mencuci baju. Tak lupa memasak nasi untuk sarapan esok hari. Iya, orang ketiga ini perempuan.

Orang keempat karyawati sebuah televisi swasta. Masuk kantor jam 12 siang, ia bisa pulang jam 4 ... pagi esok harinya. Kamar kostnya sempit dan pengap tanpa AC. Seukuran lemari sepatu orang pertama. Gajinya juga setengah atau bahkan seperempat harga sepatu orang pertama. Meski jarang pulang kampung bertemu orang tua, ia bekerja sesuai passion yang jadi cita-citanya sejak dulu. Ia pelanggan setia orang ketiga.

Orang kelima selalu berpakaian rapi, ia sales manager di perusahaan milik keluarga orang pertama. Kemeja favoritnya adalah keluaran brand Jepang yang super kering. Bikin kering gajinya mungkin. Sepatunya selalu sneakers berwarna-warni limited edition. Satu model pasti ia beli beberapa warna. Sarapan pagi di coffee shop, makan siang di resto, makan malam di cafe. Weekend getaway ke Bali atau Singapura. Tiga bulan sekali ke Jepang. Enam bulan sekali ke Eropa. Berbelanja.

Orang keenam tak akan dilirik orang pertama, kedua, dan kelima. Keluarganya hidup dari sebuah lapak sayuran ilegal di trotoar jalan. Trotoar di mana mereka berbagi tempat dengan sesama pedagang sayuran. Mencuri listrik, kucing-kucingan dengan satpol PP, entah melanggar berapa aturan hukum. Berdua dengan istrinya ia melayani pelanggan dari lepas magrib hingga subuh. Anak balitanya ia bawa, berbekal makan mie instan goreng. Dari lapak ilegal itu ia sudah bisa membeli sebuah mobil Avanza modal pulang kampung ke Jawa.

Orang ketujuh seorang istri solehah, pembantu rumah tangga di rumah orang kedua, pelanggan setia orang keenam. Rajin mengaji. Jilbabnya syar'i. Gaji yang ia terima lebih dari cukup karena majikannya terlampau baik budi. Ia bekerja rajin tanpa cela. Sering dibawa bepergian sampai luar kota. Ia juga yang bertanggung jawab pada anak majikannya yang kini jadi pandai ilmu agama. Jadi pandai mengaji juga. Ia menganggap anak majikannya seperti anaknya sendiri. Yang ia tidak punya.

Orang kedelapan pegawai rendahan di departemen agama. Gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Kadang terpaksa meminjam ke koperasi. Dua puluh kilometer setiap hari ia tempuh dengan motornya yang selalu bersih mengilap. Tak lupa jaket kulit butut yang sudah menemaninya selama 15 tahun terakhir. Ia dikenal sebagai pekerja keras. Di usianya yang hampir 50 tahun, ia masih harus menghidupi anak bungsunya yang baru akan masuk TK.

Orang kesembilan ini laki-laki, karyawan biasa yang bekerja jam 8 hingga jam 5. Merantau di Jakarta, tahun ini adalah tahun kedelapannya. Kerja berjam-jam menembus macet Jakarta, gajinya tiap bulan selalu habis seketika untuk mencicil rumah, mencicil mobil, membayar kontrakan, membayar segala kebutuhan anak istrinya. Satu motor tua dan satu mobil yang lebih tua menemani hari-harinya mengantar anak dan istrinya. Ia juga pelanggan setia orang keenam.

Orang kesepuluh perempuan. Bekerja dengan gaji lumayan jauh dari UMR Jakarta. Jumlah yang persis sama ia dapatkan juga dari suaminya. Meski begitu ia harus tetap bekerja karena gaji suaminya pasti habis dalam satu hari untuk membayar ini itu. Hidupnya enak, seminggu sekali atau dua, pergi ke mall seperti layaknya kaum urban Jakarta. Melepas stres katanya. Suaminya pasti setuju. Mall memang jalan keluar dari stres yang paling mudah. Makan di resto Jepang favorit atau sekadar cuci mata membeli sepatu atau tas. Senang barang branded yang diskon. Tipikal kelas menengah ngehe. Ngehe sekali.

Orang pertama gay. Orang kedua ditinggal mati suaminya saat hamil anak pertama, sekarang berjuang dengan kanker. Orang ketiga, keempat, dan keenam bahagia. Orang kelima terlilit hutang kartu kredit dan tak akur dengan orangtua yang memaksanya cepat menikah.

Orang ketujuh suaminya menikah lagi karena ia tak bisa memberi keturunan. Orang kedelapan istrinya lima. Istri pertamanya adalah orang ketujuh.

Orang kesembilan JG, orang kesepuluh saya. Kami bahagia. :)

Hidup kami mungkin tidak sempurna. Masih senang berbelanja barang branded meskipun diskon. Meski kadang iri kapan bisa membeli tas semahal tas orang kedua, kapan bisa punya sepatu sebanyak orang pertama. Tapi perasaan itu selalu terbayar jika teringat kesepuluh cerita itu punya sisi negatif sebagai pengingat syukur, dan sisi positif sebagai penyemangat hidup.

Kami bahagia. Ada alhamdulillah?

:)

*kecuali cerita sembilan dan sepuluh, sebagian cerita fiktif sebagian lagi nyata, dengan efek dramatis tentunya*

-ast-




Tentang Menjalani Hidup

on
Tuesday, May 6, 2014
Bebe akhirnya beratnya naik jadi 2,119 gram dari yang seharusnya 2,000 gram. Berarti Bebe naik 500 gram dalam 2 minggu. HAPPY! TAPI SAYANYA SENDIRI NAIK 2,5 KILO SELAMA 2 MINGGU ITU WTF. Pesan moral yah pemirsa, jangan, jangan kebanyakan makan gula. Apalagi makan es krim dan cokelat tiap hari. Hiii. Nggak lagi lagi. 2,5 kg dua minggu itu mengerikan. T____T Nggak sehat itu. Nggak ada aturan "nggak apa-apa gemuk yang penting sehat". Gemuk dan sehat itu buat saya selamanya kontradiktif. Titik.

Skip tentang Bebe dan gendut. Mau ngomongin hidup aja. *sigh*

Gara-gara aplikasi ipon namanya Timehop. Udah pake dari lama sih tapi dua bulan terakhir ini kejadiannya bikin emosional. -____- Jadi aplikasi Timehop ini membantu melihat status social media kita di tanggal yang sama, setahun lalu, dua tahun lalu, tiga, empat, bahkan lima tahun lalu! Yang tergantung situ mulai pake social medianya berapa tahun lalu.

Nah empat tahun lalu, di bulan-bulan ini saya lagi galau-galaunya. Lagi persiapan sidang kompre dan skripsi. Lagi nangis darah nyelesain skripsi dan belajar keras biar lulus maksimal *anaknya ambisius sejak muda lol*
Bayangkan. Empat tahun yang lalu, apa saya tahu saya akan duduk di sini dengan laptop punya kantor di Jakarta, punya suami yang rewel nelepon 15 kali sehari selama di kantor, dan duduk di kursi kantor dengan posisi sila punggung tegak sepanjang hari karena hamil besar?

TIME REALLY FLIES.

Nggak usah jauh-jauh ke empat atau lima tahun lalu yah. Beberapa bulan lalu aja saya masih panik gara-gara hamil. Panik cari dokter. Panik baca banyak sekali artikel tentang awal hamil. Tau-tau berapa bulan kemudian udah panik lagi cari daycare, panik lagi cari rumah sakit di Bandung buat lahiran. Terus tau-tau udah belanja barang-barang bayi. Tau-tau sekarang tiap minggu udah senam hamil, udah minta surat keterangan dokter buat cuti. Sekarang baca-bacanya udah bukan tentang hamil atau melahirkan atau menyusui karena udah hatam, sekarang bacanya tentang parenting. WHAATTTT?! Kemana perginya hidupku?

Jadi mikir hidup ini pendek banget. Semua jalannya keburu-buru. Udah ngapain aja selama hidup ini? Cita-cita banyak yang udah terkabul? Atau udah berhenti punya cita-cita? *kasian*

Apa udah menjalani hidup dengan sebaik mungkin? Atau mau leyeh-leyeh aja nunggu mati? T____T

Emosional jadinya sekarang setiap baca Timehop *nyalahin aplikasi* Jadi pengen lebih produktif, bisa nulis lebih banyak, bisa belajar lebih banyak, berbuat baik lebih banyak, dan lain-lain. Tapi ... nanti aja ah abis lahiran. -_____-

-ast-




Manusia Bukan Makhluk Sederhana

on
Thursday, December 12, 2013
Jadi hari ini rencanannya mau nulis soal QM Financial, tapi tergerak untuk nulis hal remeh ini setelah beli bubur di kantin belakang kantor.

Di belakang kantor ada tukang bubur yang setiap pagi antriannya lumayan panjang. Sampai bisa kebagian dilayani kalau sedang beruntung paling menunggu dua orang, tapi kalau panjang, bisa menunggu 5-6 orang. Padahal tukang buburnya cuma satu orang, pakai gerobak kecil biasa, tapi buburnya enak dan bersih *info penting*.

Tadi antriannya lumayan, saya menunggu tukang buburnya meracik empat mangkuk sekaligus. Keempat mangkuk itu diawasi langsung oleh mata-mata calon pemiliknya yang berdiri berjajar di belakang sang tukang bubur.

Tukang bubur: *menuangkan bubur, merica, kaldu, kecap asin, tangan siap mengangkat kecap manis*

Pembeli 1: "Saya jangan pake kecap manis!"

Tukang bubur: *menuangkan kecap manis ke tiga mangkuk lain, kasih ayam, kasih cakue, tangan siap menaburkan seledri, bawang goreng, dan kacang kedelai*

Pembeli 2: "Jangan pake kacang!"

Pembeli 3 dan 4 seperti tidak mau kalah: "Saya jangan pake seledri sama bawang goreng!"

Pembeli 1: "Saya jangan pakai sambal!"

Pembeli 3: "Saya pakai sambal tapi disebar!"

Pembeli 4: "Saya sambalnya sedikit banget aja!"

Pembeli 1: " Saya nggak usah pake emping"

Pembeli 2: "Saya emping aja nggak usah pakai kerupuk!"

YASSALAM.

Untung tukang buburnya sigap dan sabar yah. Semua dilayani dengan sempurna. Saya yang stres denger mereka semua teriak setiap tukang buburnya mau ambil sesuatu. Sampai pada giliran saya, cuma ada satu mbak-mbak mau beli juga. Tapi dia pendiam alias cuma ngomong "pak, satu dibungkus". Entah dia memang suka semua elemen di bubur itu atau memang pendiam sampai malu ngomong sama tukang bubur kalau misalnya dia nggak suka seledri gitu. -_____-

Saya menyodorkan tupperware yang saya bawa dari rumah (ogah beli bubur pake tempat styrofoam).

Saya: "Jangan pake kacang sama emping ya pak"

YASSALAM LAGI. Dan kemudian jadi nggak enak hati sendiri karena saya sama aja sama orang-orang tadi yang mau beli bubur aja repot.

Iya sih emang hak saya juga mau pake kacang atau nggak. Sayang juga kalau saya nggak bilang terus nanti ujung-ujungnya kacang sama empingnya saya buang. Tapi satu hal yang bener-bener saya sadari adalah, manusia sama sekali bukan makhluk yang sederhana. Atau bisa dengan mudah menyederhanakan diri.

Karena beli bubur ini, perang karena perbedaan jadi kerasa wajar. Beli bubur aja segitu beda-bedanya ya kan, apalagi hal lain yang lebih penting buat kehidupan kaya agama atau negara gitu. Saya kebanyakan mikir dan orang-orang yang ribut itu kurang mikir kayanya. Kalau perang mempertahankan ideologi, makan bubur nggak pake kacang juga buat saya idelogi. *sigh* Kompleks banget ya manusia. -______-

Terus tentang manusia bukan makhluk sederhana dan kompleks ini juga terasa dari kalangan yang suka ngeluh pamer.

Mengeluhkan sesuatu sambil pamer. Sebelum beli bubur itu JG cerita, temennya ada yang mengeluhkan anaknya di group whatsapp. Kurang lebih ngeluh gini:

"Aduh gimana ya anakku lebih bisa bahasa Inggris, bahasa Indonesia-nya nggak lancar"

Dibalas teman-teman dengan pujian seperti yang diharapkan sang pengeluh pamer:

"Ih pinter banget anaknya" atau "ya nggak apa-apa dong kan bagus jagoan bahasa Inggris"

Dijawab lagi dengan ngeluh pamer lain: "tapi maunya bisa dong bahasa Indonesia, masa lebih lancar bahasa Inggris"

BAHAHAHAHAHAHA. Ketawa ajah. Lah itu anak yang ngajarin bahasa juga siapa ya kan. Emak bapaknya ya kan.

Versi lain dari ngeluh pamer:

Ngetweet: "Harus beli koper baru dan packing buat keliling Eropa dua minggu tapi males banget ya ampuunnnn" --> padahal kita tau persis doi super excited dan udah merencanakan perjalanan dari jauh-jauh hari.

Kenapa manusia segitu kompleksnya sampai harus dibikin kalimat pamer tapi ngeluh. Kenapa nggak dibagi dua aja? Ngeluh ya ngeluh, pamer ya pamer. Biar auranya jelas, ngeluh ya negatif, pamer ya positif. Misal mau pamer keliling Eropa, akan lebih menyenangkan membaca Tweet:

"Horeeee, siap pergi keliling Eropa. See you in 2 weeks, Jakarta" -- auranya positif ya kan. Yang baca juga seneng. Bahagia. Aman. Sentosa. \O/

Atau yang mau pamer anaknya jago bahasa Inggris:

"Anakku dong, baru tiga tahun bahasa Inggrisnya lancar banget! Bahasa Indonesia dia malah kurang bisa. Hahahaha," -- pamer, sombong ya kesannya? Tapi itu kan tujuannya?

Ribet ya jadi manusia? Beli bubur aja ribet apalagi ingin membanggakan anaknya yang jago bahasa Inggris. Sampai dipilih kalimat muter-muter biar tidak terkesan sombong. Sampai sebuah kalimat dibuat sedemikian rupa agar kesan "bangga" nya lebih tertangkap tipis dibandingkan keluhannya. Repot.

Udah ah kebanyakan mikir.

-ast-