-->

Image Slider

Ritual Cerita Bebe

on
Thursday, January 31, 2019
Keseringan sharing di IG story bikin saya bingung, yang mana udah ditulis di blog yang mana yang belum ya? Kadang rada pusing juga karena perasaan udah nulis kok di-search di blog nggak ada! EMOSY!

Ternyata nulisnya di story, atau bahkan di caption Instagram. Keduanya sangat sangat lemah dalam hal archiving karena ya nyarinya harus senggang banget macam pengangguran. Bisa banget dipakein hashtag atau taro highlight, tapi tetep aja lebih gampang di blog yang nyari apapun semudah search di Google dengan “keyword + annisast”.

Sekian pembukaannya karena sekarang sebetulnya mau bahas soal ritual saya tiap malem sama Bebe yaitu cerita sebelum tidur. Kemarin udah dibahas sekilas di story tapi ini rasanya harus ditulis juga di blog karena buat saya, ritual ini SEPENTING ITU. Hal yang paling saya dan Bebe tunggu-tunggu setelah seharian tidak bersama. *halah padahal disuruh bersama Bebe seharian juga ogah*



Dulu, kamu bertiga tidur sekamar karena kontrakan cuma ada 1 kamar. Apartemen yang sekarang ukurannya setengah rumah kontrakan lama tapi kamarnya dua, jadi Bebe otomatis punya kamar sendiri. Ketika Bebe punya kamar sendiri YA SAYA TIDUR SAMA BEBE DONG LOL.

Teorinya sih saya ngelonin Bebe, setelah Bebe tidur saya pindah kamar lalu bisa nonton Netflix dulu sama JG sebelum tidur. KENYATAANNYA LEBIH SERING IBU TIDUR DULUAN DARIPADA BEBE. Sampai pagi pula. Waw, privilege punya anak umur 4,5 tahun yang tidak kurasakan saat ia bayi.

Kenapa cerita kamar ini begitu penting, karena ritual bercerita yang intens banget dimulai saat kami hanya di kamar berdua. Mungkin usianya juga pas ya, waktu pindah ke sini itu Bebe umurnya 3 tahun 8 bulan.

Masalahnya si Bebe sama JG itu mau cerita sih, tapi nggak melibatkan emosi. Ceritanya ya lempeng aja, nggak pernah bilang perasaannya dia sedih, marah, atau kecewa. Cuma sama saya Bebe mau cerita kaya gitu. Makanya pas masih sekamar bertiga sih nggak ada ritual cerita khusus. Paling cerita-cerita di mobil aja sepulang sekolah, atau cerita sambil makan, tapi nggak sampai setengah jam atau sejam khusus ngobrol panjang lebar.

Dulu dia cerita, saya tanggepin, udah gitu doang. TAPI, dari dulu saya emang suka cerita sih, dari zaman dia belum bisa ngomong saya udah cerita. Bedanya, dulu itu dalam rangka nambah kosakata dan biar dia lebih lancar ngomong. Kalau sekarang karena … kepo sama hidup dia hahahahaha.

(Baca: 10 Tips Agar Balita Lebih Lancar Bicara)

Jadi rutinitas kami adalah, makan malem, mandi, terus matiin lampu dan tiduran di kamar sambil pelukan. Teorinya gitu, kenyataannya Bebe mah sambil guling-guling, timpa ibu, lompat-lompat, nggak mau diem lah. Nggak apa-apa yang penting sambil cerita.

Awalnya juga dia cuma jawab pendek-pendek. Lama-lama kalau ditanya “Xylo di sekolah ngapain tadi?” DIA BALIK TANYA DONG. “Ibu dululah yang cerita, ibu di kantor ngapain aja tadi?” Kalau kebetulan saya ada event gitu ceritanya bisa seru karena saya ceritain eventnya, kalau cuma di kantor seharian ya udah saya cuma cerita “ibu tadi kerja, ojeknya gini dan gini, nyampe kantor ibu kerja, terus makan siang sama ini dan ini, abis itu ibu kerja lagi, terus pulang deh”.

Dipancing gitu doang dia mau kok cerita di sekolah main apa, belajar apa. Abis itu pertanyaan wajibnya adalah “ada yang nangis nggak tadi di sekolah?”. Seringnya nggak ada, atau ada tapi dia nggak tau kenapa. Kalau dia tau sebabnya ya dia cerita.



KOK KAYA GAMPANG YA DICERITAIN GINI. Padahal kenyataannya panjang banget sih dialognya. Ya kalian coba ajalah sendiri. Pancing dengan banyak pertanyaan dan cerita kita dulu aja.


Oiya, jangan lupa definisikan sayang ya. Caranya bisa dibaca di sini: Because I Love You. KLIK DONG.

Jadi menurut aku membangun kebiasaan bercerita sejak kecil itu penting banget. Dengan kita menanggapi cerita dia 100% tanpa distraksi, anak akan merasa dihargai dan disayang. Anak akan lebih bahagia. Ini bukan aku yang ngomong lho, ini dari sharing psikolog Elizabeth Santosa di event EF minggu lalu. Bukan iklaaannnn. Pas aku lagi liputan dan pas temanya bagus. (HARUS DIJELASIN)

Tips saling cerita sama anak (untuk di 3 tahun ke atas):

👶Cerita sebelum tidur saat lampu mati, suasana sepi. Indera dia FOKUS sama kita doang. Ini paling efektif untuk cerita panjang.

👶Kalau anak mau cerita saat kita lagi ribet ngerjain hal lain, kalau bisa berhenti sih berhenti dulu dan dengerin anak cerita. Kalau kondisi gini KITA yang harus fokus dengerin dia biar bisa nanggepin 100%. Nggak usah maksain sih menurut aku. Kalau udah punya ritual, bisa ditunda dengan “eh nanti deh ceritanya sebelum tidur ya, sekarang kamu makannya cepet dong biar kita bisa cepet cerita” gitu.

👶Kalau anak nggak mau cerita, kita cerita duluan hari itu kita ngapain aja. Mau cerita receh “aku makan siang sama sate” aja anak dengerin kok. Nanti dia pasti ketrigger untuk cerita juga.

👶Kita harus SADAR 100% sama reaksi kita, PIKIR dulu sebelum bereaksi karena reaksi kita menentukan kelanjutan cerita anak. Misal anak pukul teman di sekolah terus kita shock gitu, bisa jadi dia jadi mikir kalau ceritanya bikin kita sedih. Besok-besoknya nggak mau cerita lagi. Usahakan selalu lempeng aja ekspresinya.

Yang harus diingat tentang cerita anak:

👻Cerita anak pada kita, adalah MILIK DIA. Jadi kalau misal mau cerita ke suami DI DEPAN DIA. Aku sih minta izin dulu “Aku boleh cerita ke appa nggak soal kamu yang xyz?” Kalau dia bilang boleh, aku cerita. Kalau dia bilang nggak boleh, aku cerita nggak di depan dia 🤣 Menghargai privasi aja sih.

👻Semua cerita anak, PENTING bagi dia. Jadi jangan pake level penting kita dong. Menurut kita nggak penting, bisa aja menurut dia penting banget. Jadi semua ceritanya HARUS dianggap penting.

👻Kalau dia ngelucu, plis ketawa lebay. Anak seneng bikin kita ketawa. Kalau dia nggak ngelucu tapi menurut kita lucu TAHAN KETAWA. Dia suka tersinggung “NGGAK LUCU!” gitu huhu. Ditertawakan = diremehkan. Perasaan diremehkan itu nggak enak kan.

Udah sih itu aja. Semoga bantu buat yang pengen mulai kebiasaan cerita sama anak ya!

-ast-





2019 Siap Liburan!

on
Monday, January 28, 2019
[SPONSORED POST]

Tahun ini, Bebe akan daftar SD. Dia akan tes di bulan Oktober-November dan udah akan dapat SD di bulan Desember. Yang kepikiran apa?

Yang kepikiran uang investasi untuk masuk SD yang udah ditabung sejak Bebe lahir akhirnya akan kepake. Uang yang kekumpul dalam 3 tahun dari target 6 tahun karena kami nggak liburan sama sekali.

Semua bonus kantor yang seharusnya bisa untuk dana liburan kan kemarin-kemarin dimasukin semua ke uang SD tuh. Akhirnya uangnya akan kepake untuk bayar SD dan kami bisa liburan lagi! SHOOO EXCITED!

Kami pun mulai bikin list liburan. Iyes, sebelumnya nggak punya lho saking nggak peduli. Setelah dipikirin ternyata … BANYAK JUGA YANG DIPENGEN AHAHAHAHA. Ada yang jangka pendek ada yang jangka panjang. Tapi yang jelas, pengen ke tempat-tempat ini bertiga.

Apa aja tempatnyaaa?

Bali


DIH RECEH YA HAHAHAHAHA. Saya sih baru beberapa bulan lalu juga ke Bali. Justru JG yang belum pernah sama sekali hahahaha.

Iya JG itu pernah kerja keliling Indonesia tapi ajaibnya belum pernah sekali pun dapet tugas ke Bali. Ya maklum, dia mah kerjanya masang sinyal di tempat terpencil kan. Bali terpencil sebelah mananya monmaap?

Sampai detik ini, JG masih memendam rasa penasaran pengen ke Bali sementara saya B ajah lol. Cuma penasaran sama satu sih dan yakin Bebe pasti suka banget yaitu … naik kapal selam.

Udah itu aja. Semoga bisa ke Bali dan mewujudkan impian JG dalam waktu dekat ya! Hahaha.

Pulau Komodo


Temennya Bebe di sekolah ke Pulau Komodo dan saya yang sebelumnya nggak pernah kepikiran sama sekali jadi mikir banget lho. Seru banget anak kecil ketemu komodo!

Iya dong pasti beda sensasi ketemu komodo saat masih belum dipenuhi masalah dunia hahahahaha. Mana komodo kan sodaraan sama dinosaurus gitu, Bebe suka banget baca buku dinosaurus jadi dijamin dia suka banget liat komodo.

Akan jadi perjalanan panjang yang butuh persiapan karena ini anak mall kaannn ahahaha butuh sounding agak lama sepertinya untuk menjelaskan kondisi di mana kita akan nginep beberapa hari di kapal. Waw menuliskannya pun aku sudah pusing sendiri.

Yang terakhir adalah … jeng jeng jeng …

Denmark



Ambisius memang tau persis banget TAPI WHY NOT SIH BEING AMBI! *mulai ngasal campur bahasa*

Pertama, bude saya tinggal di Kopenhagen udah 30 tahun jadi udah sering banget denger cerita soal Denmark dari kecil. Kami juga pencinta Lego! Ke Legoland Malaysia aja kemarin mau nangis banget se-excited itu apalagi bisa ke kota kelahiran Lego cobaaaa.

Kota kelahiran Lego ini namanya Billund. Kota kecil yang populasinya cuma 6ribuan orang. Di sana ada Lego theme park dan ada Lego house! Lego house yang kesemua-muanya Lego sampai di restonya beli makan aja dianter robot Lego. T______T

Gila ini nabung harus kenceng banget dan pasti galau antara mau ke Denmark atau mau beli mobil baru hahahaha.

*

Anywayyy, kalau liburan gitu namanya ibu-ibu tetep banyak pikiran ya. Dari pake baju apa sampai mikirin mau bawa baju banyak atau di sana nyuci aja?

Dulu saya suka nyuci. Pertama biar nggak terlalu banyak bawa baju, kedua biar pas pulang nggak terlalu banyak bawa baju kotor. Jemur di bawah AC juga kering kan yang dibawa baju-baju tipis.

Tapi itu kan dulu ya waktu belum punya anak. Sekarang udah punya anak mikirin banget sih, nyuci baju Bebe nggak ya?

Ternyata nyuci baju anak waktu liburan bisa dibikin simpel banget dengan Sleek Baby Laundry Travel Wash! Sleek Baby Laundry Travel Wash adalah pencuci konsentrat pakaian bayi dengan formula bahan alami, efektif menghilangkan noda, mudah dibilas dan praktis dibawa ke mana aja.


Sleek juga mengandung natural plant extract, lime extract, anti fungus, dan paraben free (penting!). Dan bagi Bebe yang alergian, Sleek ini dermatologically tested, anti bacterial, tidak menyebabkan iritasi dan lembut di tangan.

Pakenya juga gampang banget. Tuang 1-2 sendok makan ke dalam 5 liter air. Nyuci di wastafel paling simpel lho kalau lagi liburan. Rendam baju selama 30 menit terus cuci kaya biasa. Nah kalau nodanya baru terjadi dan kebetulan punya akses untuk nyuci, bisa langsung tuang aja sedikit Sleek ke nodanya, kucek, ilang deh!

Harganya juga murah serta dikemas dalam botol tube yang jadinya simpel banget. Untuk ukuran 100 ml itu cuma Rp 12ribuan! Terjangkau banget kan!



Cek info lengkapnya di sini ya!

Instagram: @sleekbaby_id
Facebook: Sleek Baby

Liburan ke mana pun, anak terlindungi dengan Sleek!

-ast-




Bebe Anak Pemberani

on
Friday, January 25, 2019
Seperti yang mungkin sudah kalian tahu, Bebe adalah anak yang slow to warm up. Digabungkan dengan dia yang selalu diberi pilihan sejak kecil, dia cenderung “semau-maunya” sendiri.



Tentang berbagai tipe anak, bisa dibaca di sini ya! Anak Jago Kandang KLIK!

Iya, Bebe benci kalau disuruh-suruh karena dia maunya disuruh milih. Yaiya kalau di rumah sih oke aja disuruh milih, lha di sekolah? Di sekolah dia semau-maunya sendiri terus ibu mulai pusing lol.

Ibu pusing aja karena pilih material itu-itu mulu, nggak pernah mau ganti. Nggak pernah mau disuruh nyanyi ke depan, nggak pernah mau pimpin doa, nggak pernah mau acungin tangan untuk jawab pertanyaan.

(Baca di sini: Bebe bisa mengambil keputusan karena selalu diberi pilihan)

Karena pemalu? Yaaa, ada juga alasan itu, tapi alasan lainnya adalah, “dih apaan sih nyuruh-nyuruh” gitu atau “ngapain sih nanya-nanya”. Tau dari mana?

Suatu hari, miss jelasin soal bumi. Udah gitu di akhir kelas ada semacam pengulangan pelajaran lah gitu ya, miss nanya ke anak-anak soal apa yang dipelajari tadi. Ini ngomongnya nggak perlu ke depan lho, cuma ditanya di tempat duduk masing-masing. Bebe nggak mau jawab, di report akhirnya tertulis kalau dia nggak mau jawab.

Sampai rumah aku tanya, kenapa sih memangnya nggak mau jawab? DIA BILANG APA?

“Miss kan udah tau jawabannya, ibu. Kenapa sih miss tanya-tanya aku?”



HAHAHAHAHAHA. Rese si Bebe mah ih. Akhirnya di kantor saya sama JG sepakat untuk bikin dia lebih berani. Minimal berani bilang untuk beli-beli lah. Bebe tuh beraninya cuma mentok bilang “terima kasih” doang ke orang.

Kalau disuruh beli-beli sendiri itu nggak berani dia. Ditanya sama security apartemen aja nggak mau jawab. Wajar sih karena orang asing kan tapi tetep aja kadang kami suka risih karena duuhhh ayo berani sedikit dong, Be! Kan ada ibu dan appa juga!

Takut nggak punya anak yang semau-maunya? NGGAK SIH. Karena kalau sama peraturan mah Bebe nurut banget, jadi nggak khawatir soal dia akan seenaknya. Cuma khawatirnya, pas tes masuk SD, dia nggak mau jawab pertanyaan! Gila panik nggak sih. -______-

(Baca: Pentingnya Rutinitas dan Peraturan untuk Balita)

Nah waktu itu, kondisinya kami udah beli tiket Legoland, udah siap berangkat tapi belum ngasih tau Bebe. Nah akhirnya urusan Legoland ini dibikin challenge buat Bebe dalam misi “Bebe Anak Pemberani”.

Challenge-nya kaya gini:

1. Bebe harus melakukan hal “berani” seperti nyanyi di depan kelas atau jawab pertanyaan miss atau pimpin doa atau apapun yang biasanya dia nggak berani lakukan.

2. Bebe harus jawab pertanyaan security apartemen (yang ramah-ramah amat sihhhh lol).

3. Bebe harus berani pesen makanan sendiri, bilang terima kasih sendiri, dll.

4. Ya intinya hal-hal “pemberani” harus dilakukan dan setiap hal berani dilakukan, Bebe akan dapat satu poin. Kami catat poinnya.


Alasannya, nanti di Legoland, akan banyak orang tanya Bebe umurnya berapa, namanya siapa, dll kan mau bikin SIM? Kalau nggak bisa jawab umurnya berapa, nggak akan bisa naik rides. Dia setuju sama challenge ini yeay!

Total poin disepakati sama Bebe, saya tanya Bebe maunya total poin berapa? Bebe jawab 31 HAHAHAHA Saya pikir dia bakalan jawab 10 gitu. Ya udah deal, Bebe harus ngumpulin poin 31 biji atau kami nggak jadi ke Legoland. Wow, deg-degan!

(Cerita Legoland di sini ya: Seharian di Legoland Malaysia)

Hadiah plusnya adalah, kalau Bebe pemberani, nanti Bebe boleh pinjem kamera GoPro appa buat main foto-fotoan. Gara-garanya Bebe minjem-minjemin terus mirrorless saya dan YA TAKUT RUSAK LAH.

Ternyata bisa dong ngumpulin poin. Tiap hari, tiap dijemput dia update ke appa, “appa hari ini aku jawab pertanyaan miss sama nyanyi di depan, aku dapet 2 poin ya appa!” Terus terus terus sampai akhirnya nyampelah 31!

Pas GoPro-nya dikasih, Bebenya nggak semangat huhu sedih. Sebabnya kan ini GoPro Hero 3+ ya, belum ada layarnya jadi foto-fotonya kurang seru. Ya udah abis itu dibeliin kamera deh. Kamera anak, yang tahan air dan tahan banting dari Nikon, serinya W100. Nanti saya review terpisah deh kamera ini soalnya luv!

Apakah abis itu Bebe jadi anak pemberani? LUMAYAN!

Iya lumayan karena tetep nggak sepemberani waktu lagi ngumpulin poin, cuma tetep lebih berani dari sebelumnya. Udah maulah jawab-jawab pertanyaan.

LALU KAMI NAIK KELAS.

Sebelumnya dia kalau beli-beli bilang sendiri TAPI DITEMENIN KAN. Kemarin dicoba nih, di foodcourt Bebe pengen french fries. Setelah bayar, saya dan JG beli yang lain, french friesnya belum mateng.

Nah, kami minta Bebe ambil sendiri ke boothnya, jaraknya cuma sekitar 5 meter dan tempat kami duduk. Alhamdulillah ya, 40 menit kali Bebe maju mundur nangis, maju mundur nangis karena nggak mau ambil sendiri.

Saya peluk, saya bilang “iya ibu tau kamu takut, tapi dicoba dong ambil sendiri. Tantenya nggak akan marah atau nanya-nanya kok”. Terus dia jalan lagi. Udah setengah jalan BALIK LAGI DONG. Terus jalan lagi, udah tinggal selangkah, BALIK LAGI JUGA. Setakut itu ngambil french fries hahaha.

Appa lelah, dan bilang “liat udah jam segini, kalau kamu nggak ambil nanti tempatnya tutup dan ya udah kamu nggak makan french friesnya”.

Terus dia minta anter zzz. Saya anter sampai depan booth tapi sembunyi di balik banner GoPay (HALAH). Setelah maju mundur berapa kali, akhirnya Bebe ambil, seneng banget diaaaa. Mukanya bangga.

Kalau anak kalian termasuk anak yang “easy” ini pasti bukan pencapaian apa-apa. Tapi bagi anak slow to warm up atau bahkan difficult, ini pencapaian banget jadi jangan lupa dipuji.

Begitulah! Mungkin bisa jadi ide rewards buat anaknya. Oiya, saya nggak sering-sering kasih rewards lho ya. Secukupnya aja. Pembahasan rewards ini udah ada di highlight Instagram dan mungkin nanti akan ditulis versi lengkapnya di blog.

Selamat weekend!


-ast-




Pengalaman Operasi Amandel Dewasa 2019

on
Tuesday, January 22, 2019
Yang belum baca background kenapa saya baru operasi amandel sekarang saat udah dewasa dan bukannya waktu anak-anak, baca di blogpost sebelumnya ya: Akhirnya Operasi Amandel.

Sebelum operasi, saya tentu udah browsing juga kemungkinan amandel sembuh tanpa operasi. Tapi hasilnya ya suram, banyak yang bilang pake cuka apel lah, minum ini itulah, UDAH SEMUA dan failed. Sementara amandel bukan organ tubuh yang penting banget untuk manusia di atas 12 tahun jadi kalau bikin sakit ya sebenernya diambil aja.

Selain itu, saya sebetulnya bukan cuma takut operasinya. Takut sama operasinya itu cuma 30%, 70% nya saya takut PASCA operasi nggak bisa makan. Ya Tuhan, kusukanya makan, bahagianya karena makan, mikirin nggak bisa makan 2 minggu kok ya stres duluan?

Akhirnya browsing tentang operasi amandel sembuh berapa hari, berapa lama luka operasi amandel sembuh, dan yang bikin blogpost itu cuma dikit. Horor-horor pula. Plusss saya nanya-nanya sama yang udah pernah operasi amandel, meski mereka bilang lega setelah operasi, mereka juga tetep bilang kalau sakit banget dan setersiksa itu.

Kata temen-temen saya penyembuhan pasca operasi amandel itu:

- Nggak bisa makan seminggu, nelen sakit banget. Minum aja susah.
- Kaya nelen darah terus
- Mual banget
- Ngeludah ada darah, buang ingus ada darah
- Liquid diet, alias cuma bisa makan puding dan es krim DOANG.

Terakhir, anak kantor saya yang baru operasi amandel pertengahan tahun 2018 kemarin. Dia mengiyakan kehororan itu, malah dia sampai nggak masuk kerja 2 minggu dan belum bisa makan enak sampai sebulan.

WOW. Jadi sebelum operasi, saya udah punya perkiraan. Akan sesakit apa, harus ngapain, harus belanja apa untuk persiapan makan lembek seminggu? Kejadian nggak?

Nah, karena ini adalah momen bersejarah, di mana saya memutuskan untuk operasi aja setelah ditunda 20-an tahun, jadi saya mau nulis detik-detik jelang operasi dan proses pemulihannya. Long post, very long, nggak dibaca juga nggak apa-apa, ini kan demi ingatan dan kenangan saja hahaha.

H-1. Jumat, 11 Januari

Ibu saya dateng dari Bandung pake travel jam 1 siang. Langsung jemput Bebe ke daycare. Saya di rumah, masih ke dokter gigi dan siap-siapin barang yang mau dibawa ke RS.

Abis itu turun ke bawah dan beli makan sambil nunggu JG, ibu, dan Bebe. Mereka dateng, makan, terus siap-siap pergi. Bebe lagi main Lego sama ibu dan agak berkaca-kaca tapi nggak nangis. (Setelah saya pulang tanya Bebe, Bebe kok nggak nangis pas ibu pergi? Dia jawab "aku mau nangis tapi inget di dalam hati kalau aki besok dateng, jadi aku nggak jadi nangis" WAW INGAT DALAM HATI LOLOL).

Sampai RS urus ini itu, masuk ruangan dan langsung dipasang infus. SAKIT. T______T Sakit sampai nggak bisa tidur. Yang sakit bekas tusukannya, wajar sih karena kan ada BOLONGAN baru di tubub ini ya. HUH. Mulai panik? Dikit. Lebih ke pengen buru-buruh pagi biar cepet selesai.

Story ke close friend bilang saya udah di RS dan siap operasi. Story ke bukan close friend sih masih on banget ngomongin tips bawa anak ke dokter gigi. Hahaha.

Hari H. Sabtu, 12 Januari

Kebangun jam setengah 5 subuh dan siwer dipikir udah setengah 6 KOK SUSTER NGGAK DATENG-DATENG? Udah suudzon apa dokternya ngaret apa gimana. Ketika diteliti lebih lanjut ternyata emang baru jam setengah 5 zzzz.

Setengah 6 pas suster dateng, ngasih baju operasi, dan tes alergi. SAKIT BANGET. Ya udah pernah sih tes alergi, tapi karena udah pernah lho makanya tau sakit banget. Nangis. T_______T

Rada kocak pas suster kasih baju operasi, saya ganti di kasur dong karena mager dorong infus ke toilet. JG bantuin saya ganti, terus apaan sik kok bingung ini cara pake bajunya. Kemudian suster datang dan bilang dua kata “TERBALIK BU”

HAHAHAHAHA. Jadi ya tau kan ya baju operasi itu diiket di belakang dan pamer pantat, YHA saya pakenya MACAM KIMONO. Gila otak udah nggak lurus banget. Antara ngantuk kurang tidur dan nervous.

via GIPHY

Balikin baju dulu baru pindah ke kursi roda, infus ditaro di paha, jalan menuju ruang operasi. JG cuma boleh nunggu sampai luar ruang operasi terus saya dipindah ke kasur yang kecil banget. Dokter anestesi memperkenalkan diri dan nanya “bisa tidur nggak?”

Saya jawab “nggak bisa dok duh ini semalem infusnya sakit banget” Pas itu udah nggak terlalu sakit sih sebenernya. Terus dokternya bilang “saya bikin ngantuk ya, tapi belum tidur nih, nanti pindah kasur lagi dulu”. Dokter kemudian nyuntikin pake suntikan kecil gitu ke infus saya terus nanya “udah ngantuk?” BELUUUMMM.

Akhirnya masuk ke ruang utama operasi (tadi masih halamannya lol), cuma ada alat apaan tau sama lighting 3 buletan. Sungguh aku tuh pengen lebih deskriptif dari ini tapi kan mataku minus enam, nggak keliatan apa-apa juga huhu.

Abis itu saya disuruh geser untuk pindah kasur di bawah lighting-lighting itu (iya lampu iyaaa). Dokternya SEMPET banget bilang gini “bu, jangan banyak gerak ya kasurnya sempit nanti jatuh”. Dok dikata saya mau roll depan roll belakang apa gimana sih. Siapa juga yang berminat uget-uget ya. :((((

Dokter ngomong beberapa hal:

“Ada maag, bu?” - “Ada”
“Rutin minum obat harian?” - “Nggak”
“Oke saya suntik obat mual ya” *SUNTIK*
“Nanti setelah operasi ibu nggak akan mual” - “oke dok*

Terus dia nyuntik lagi nih tanpa aba-aba dan penjelasan apapun. Saya sadar sih wah ini nih, tidur nih sekarang nih gitu.

“Ibu sudah pernah melahirkan?” - “Sudah dok”
“Anaknya berapa tahun sekarang?” - “4,5 taaaahunnnnn” … BYE NGGAK INGET APA-APA LAGI HAHAHAHAHA

…





Saya buka mata. Oh udah di halaman ruang operasi lagi ternyata. Ada dua suster jalan-jalan. Mikir wah udah selesai, tapi ngantuk, tidur lagi ajalah. TERUS MEREM LAGI DONG. :(

Kebangun lagi entah sekian menit atau jam kemudian yang jelas rasanya segeerrrr banget. Kaya abis olahraga terus tidur gitu. Secara naluriah, saya panggil “susteerrr” padahal nggak tau mau bilang apa. Cuma pengen kaya “sus, fyi saya udah bangun” gitu. Di sini tenggorokan belum kerasa apa-apa, cuma lidah sakit banget. Ujung lidah depan kerasa bengkak.

Suster mendekat dan nanya “Udah nggak ngantuk, bu? Mau coba minum?” Saya jawab mau. Suster ambil Aqua gelas dan tusuk sedotannya terus saya bilang “ih sus kenapa sih nggak pake gelas kaca aja, ini nggak ramah lingkungan, saya lagi coba zero waste ini resolusi tahun baru”.

...

YA BOHONG. Bohonglah mana kepikiran resolusi tahun baru sih yang kepikiran duh sakit nih tenggorokan dipake minum. Saya minum sedikit dan coba telen. SAKIT. Rasanya mulut saya pegel banget parah, lidah bengkak, bawah lidah kerasa sariawan banyak. bagian amandel kaya sariawan semua, dan tenggorokan berasa ada luka tersiram air, kerasa darahnya gitu. Tapi saya coba minum sebanyak mungkin terus susternya pergi lagi.

Rasanya kepala mulai pusing, pusingnya di bagian belakang. Baru sadar di situ kalau di leher kaya ada bantalan tapi sekeras kayu. Kayanya penyangga biar leher saya nggak gerak-gerak. Manggil suster lagi minta diambil si bantalan leher. Abis itu masih berasa pusing dan saya manggil suster lagi minta bantal yang empuk.

Duh diceritain gini kenapa riwil amat ya HAHAHAHA. Tapi susternya baik kok, nurutin aja saya bilang apa.

Tapi setelah diambilin bantal itu gue dicuekin loh gila. *LOH KOK EMOSY*

Jadi si suster menganggap saya belum sadar 100% terus doi duduk lagi di semacam meja resepsionis gitu (?). Saya juga ya diem aja kaya masih ngumpulin nyawa, tiba-tiba ada suara bayi nangis, disahuti orang bilang “perempuan ya xx kg jam xxxx” auk lupa berapa detailnya. Ternyata ada yang lahiran SC di dalem.

Saya panggil lagi “sus, ini saya nunggu apa ya?” WOW BARU SAJA SADAR SUDAH MULAI MEMBERI PRESSURE.

via GIPHY

Susternya nanya “ibu yakin mau ke ruangan sekarang?” Saya bilang iya karena mau apa dahhh di situ juga. Dingin banget mana kasurnya keras dan sempit jadi nggak bisa roll depan roll belakang. -______-

Suster akhirnya manggil suster ruangan untuk jemput saya. Suster ruangan datang pake kursi roda, terus saya coba bangun sendiri ternyata bisa. Ya udah bangun sendiri, turun, dan duduk di kursi roda.

Udah keluar ruang operasi ada yang manggil! “Bu bentar bu!” suara suster cowok. Dia kemudian menyerahkan satu botol kecil. Waaa amandelkuuuu. Gede banget parah, yang satu hampir seruas jempol tangan saya, satunya lebih kecil.

Akhirnya lewat tempat JG duduk terus kalimat pertama yang saya bilang adalah: “Sayang! Sayang! Ini amandel aku!” dan kasihin amandelnya ke JG hahahaha. Seseneng itu amandel sumber penyakitnya sudah tidak bersamaku lagi.

Kata JG, dari selesai operasi sampai saya sadar itu 2 jam woooo lama ya. Beres operasi (operasinya 2 jam juga) itu dokternya keluar ngabarin kalau operasinya lancar. Kupikir adegan gituan cuma di film aja, ternyata di dunia nyata juga.

no makeup no filter no edit *halah*
Nyampe kamar, bengong-bengong bentar, story lagi ngabarin close friend kalau operasinya udah selesai, dan bener ternyata udah hampir jam 11. Rada bingung karena wah ini tenggorokan nggak sesakit yang dikira, pasti masih ada sisa anestesi. Kalau gitu HARUS MINUM SEBANYAK MUNGKIN DONG! *biasa ambi*

Iya saya masih infus tapi karena rasanya mampu minum biasa, saya minum sebanyak mungkin. Takutnya itu beneran sisa anestesi dan pas anestesinya full ilang, minumnya jadi sakit. Pelan-pelan karena kalau satu teguknya kebanyakan itu jadinya keselek dan batuk. Kalau batuk ya sakit. Minum rasanya masih kaya tadi di ruang operasi.

Jam besuk tiba, BEBE DATENG YEAYYYY! Happy banget dia. Gimana nggak happy sih ada aki, nini, dan dua adik saya sengaja dateng untuk nemenin dia doang. Ibu saya bilang mau bawa Xylo les renang lah kasian kalau nggak les. Oh iya ya udah sih bawa aja. Yang les renang satu, yang nganternya 4 orang. Bhaiq.

Jam 1 mereka pulang, JG juga pulang untuk nyiapin les renang Bebe karena peralatan les renangnya di mobil semua.

Makanan dateng, saya makan sendirian.



Makannya bubur sumsum dan es krim Walls Populaire. Nggak ada rasanya dipikir karena lidah mati rasa. Lupa kalau abis reduksi konka juga jadi ya idung juga mati rasa. Padahal udah bawa YLEO buat bantu tidur enak. Kalau nyium bau Lavender aja nggak bisa gimanaaaa mau tidur enak?

Kepanikan kedua muncul saat suster dateng untuk kasih obat. Obatnya via infus semua, ada penghenti pendarahan, antibiotik, satu obat yang saya lupa, dan satu lagi penahan rasa sakit. Salah satu di antaranya pas disuntikin itu sakitttt banget rasanya, kerasa masuk ke nadi. Tapi yang tersakit adalah ketika infusnya diganti dengan tabung kecil, obat penahan rasa sakit.

Obatnya 5 ml doang, dicairkan dengan 50 ml cairan apaaa gitu. Itu aja rasanya masih sekentel darah masuk nadi. Saya pernah transfusi kan pas melahirkan dan itu pegel, ganggu, TAPI NGGAK SAKIT. Nah ini harus abis 50 ml sehari 2 kali, dan selama itu juga tangannya sakit.

T________T

Panik langsung chat JG suruh cepet-cepet balik ke rumah sakit untuk saya riwili hahahahaha. Jam 1 masih kalem, jam 4 nangis HAHAHAHA.



AJAIBNYA. Setelah obat itu abis, luka di tenggorokan nggak kerasa perih lagi. Saya jadi ngerasa sehat karena nggak kerasa ada luka. Sakit di tenggorokan cuma selevel sakit nelen biasa, minus rasa panas di amandel.

Susahnya itu ngeluarin dahak di tenggorokan karena uvula (lidah kecil, elak-elakan kalau kata orang Sunda) GEDE BANGET. Bengkak dan merah. Mau keluarin ingus lewat idung nggak bisa, lewat tenggorokan kehalang uvula. Sudahlah kupelihara saja dahak-dahak itu. EWWW.

Malemnya suster ngabarin kalau saya nggak boleh pulang besok pagi zzzz soalnya dokter Mirta baru bisa visit sore. IH NGGAK MAU. Nggak bisa karena ayah ibu saya harus pulang ke Bandung kan. Akhirnya maksa pulang Minggu pagi. Pas saya browsing juga kalau di luar negeri ternyata pasien tonsillektomi ini nggak perlu nginep loh. Luar biasa.

Amandel akoohhh

H+1. Minggu, 13 Januari

ALHAMDULILLAH DIBOLEHIN PULANG TANPA KETEMU DOKTER.

Saya seseger itu loh. Rasanya cuma sariawan di beberapa titik dan sakit nelen, nggak demam atau apapun. Dan btw setelah nanya suster ternyata di idung itu dikasih tampon gel. Karena saya reduksi konka kan, jadi dikasih tampon berbentuk gel untuk nahan lukanya. Ya wajar jadi nggak bisa nyium bau apapun sama sekali. Napas sih lancar.

Nyampe rumah kerasa lemes karena udah nggak infus kan. Bertekad minum banyak biar nggak lemes lagi. Untung udah request ke ibu minta dibikinin bubur sumsum jadi aman jaya lah.

Oiya btw saya berniat bed rest cuma seminggu terus masuk kerja. Nggak mau 2 minggu kaya orang-orang. Bisa bosen banget dan duh males lah mikirin makan sendirian di rumah.

Update abis ini kebanyakan hanya akan seputar makanan ya. Karena makanan akan memperlihatkan kemampuan saya mengunyah dan menelan.

H+2. Senin, 14 Januari

Jam 3 pagi kebangun karena dahak keluar semua, nongkrong di kamar mandi. Oles YLEO RC baru bisa tidur lagi.

Siangnya omg so hungry tapi gimana yaaa. Saya makan bubur sumsum, apel kukus, kabocha keju aja bolak-balik sampai enek. Mulai mikir apa turun apartemen dan beli siomay ya? Soalnya lebih sakit radang tenggorokan biasa sih dibanding ini. Ini badan rasanya fit, cuma nelen sakit. Udah.

Beneran deh, radang tenggorokan setahun 3-4 kali sejak 2016 bikin sakitnya jadi gila banget. Jadinya lebih sakit radang tenggorokan biasa. Terakhir saya radang pas Natal itu nelen sakit, tenggorokan kaya kebakar, badan panas dingin sampai nggak bisa bangun. :(

Oiya, malemnya saya selalu mandi air anget untuk bantu ngeluarin ingus. Senin malem ingus keluar nggak selesai-selesai. Lamaan ngeluarin ingus daripada mandinya. Tapi ingusnya bening, sisaan tampol gel kayanya.

H+3. Selasa, 15 Januari

Semaleman tidur agak kurang enak karena batuk tapi terlalu males ngambil RC. Paginya bangun tidur buang ingus berdarah terus. Worst day untuk hidung karena seharian nyium bau darah 😭

Terus laper banget sih sumpah. Akhirnya masak nasi, blender air + brokoli + ayam, jadiin bubur + butter. BODO AMAT. LAPAR. Ternyata bisa aja, nelen udah nggak sesakit itu. Tapi belum berani dibumbuin karena mikirin makanan berbumbu masuk ke tenggorokan itu … TAKUT. Iya masih ada takutnya.

Kondisi tenggorokan udah ketutup white scab gitu, selaput putih kaya sariawan zaman dulu abis dipakein Albothyl (HALAH MASIH MUSIM AMAT ALBOTHYL). Katanya nanti white scabnya akan copot, perih dikit, baru sembuh.

H+4. Rabu, 16 Januari

LAPER BANGET SUMPAH. Terus ya udah bikin mie rebus dengan bumbu ala Bebe, totole dan bawang putih bubuk doang. Mie rebus telor bakso.

Pegel ternyata, 4 hari makan lembek, plus mulut abis didongkrak buat operasi, butuh latihan lagi untuk ngunyah makanan. Tapi not bad. Minimal nggak laper.

HIDUNG MASIH BAU DARAH. Tapi untuk pertama kalinya seumur hidup, bisa ngerasain hidung plong, napas lega banget. Biasanya selalu ada yang mampet dikit.

H+5. Kamis, 17 Januari

Mulai mikir duh apa masuk kerja aja ya besok? Kayanya sanggup sih? Terus browsing artikel lagi dan banyak yang bilang meski ngerasa sanggup dan kuat, sebaiknya take a week break from school or office biar fit banget karena sebetulnya badan kita sakit, cuma LEGA aja karena amandel ilang. Iya sih.

Siangnya bikin bubur lagi tapi pake … ayam panggang butter hahahaha. Malemnya udah makan Sei Sapi di Go-Food Fest!

Sekarang yang kerasa paling sakit adalah gigi geraham belakang yang emang lagi perawatan saluran akar. Karena dibikin mangap pake besi gitu kan wah udalah shock sendiri pas liat alat dan prosesnya di YouTube. *NGAPAIN DILIAT MALIH*

Jadi udah bikin janji sama dokter gigi minggu depan, karena ya kalau minggu ini belum bisa mangap. Sakit banget parah sih kaya giginya mau copot wtf.

H+6. Jumat, 18 Januari

MAU MUNTAH DI RUMAH TERUS. Sumpah jenuh banget sampai muak saking nggak keluar rumah seminggu lebih. Ngerjain satu artikel aja nggak selesai-selesai. Akhirnya turun, ke TaWan bawa laptop. Makan kakap asam manis, makan selesai, artikel selesai, terus kembali selimutan.

OHIYA LUPA BILANG YA. Seminggu itu cuti sakit tapi tiap hari tetep bikin satu artikel. #startuplyfe

Padahal tiap abis minum obat itu ngantukkkk banget. Jadi abis minum obat pagi, kebut ngerjain artikel, terus harus tidur dulu soalnya pusing kalau nggak tidur.

Malemnya udah makan NASI PADANG SEDERHANA HAHAHAHA. Makan cumi tapi nggak pake kuah. Jadi nasinya kering. Wow, pegel sih ngunyah dengan rahang masih kaku dan sedikit sariawan, tapi aku baik-baik saja. Tenggorokan juga baik-baik aja.

H+7. Sabtu, 19 Januari

Jadwal ke dokter. Dokter shock kalau saya udah bisa makan nasi (tapi nggak berani bilang nasi padang takut dijudge HAHA) dan bilang berulang-ulang “ibu kayanya ambang batas rasa sakitnya emang tinggi deh”.

Mungkin iya tapi di sekitar tenggorokan doang karena biasanya sakit tenggorokannya lebih parah sih. Soalnya saya tipe yang cemen banget lhaaa diinfus aja nangis kok, tes alergi nangis, nangis mulu heran.

Terus jajan siomay. Makan siang kwetiau seafood, makan malem bakso samrat. NGGAK SEHAT AMAT DAH HIDUP.

Sariawan tinggal sisa satu, di lidah sisi kiri. Lidah yang bengkak udah sembuh. Tenggorokan cuma kerasa kaya ada selaput gitu doang yang ganggu nelen. Masih kerasa pegel juga kalau nelen.

H+8. Minggu, 20 Januari

Pagi sarapan Nestum, terus nemenin Bebe berenang sama sepupu-sepupunya di Waterbom karena ada kakak ipar dan mamah mertua. Jajan bakpao ayam, siangnya makan Burger King dan ayamnya.

WELL. Sekarang nulis ini sambil makan Indomie goreng telor plus tomat ceri pake kewpie karena aku merasa bersalah makan Indomie HAHAHA. -______-

H+9. Senin, 21 Januari

Hari pertama kerja. Tenggorokan udah nggak sakit, agak gatel dikit kaya kalau lagi batuk mau sembuh. Makan siang udah normal nasi cumi item dan tumis daun pepaya serta ... kerupuk lol. Ukuran uvula udah normal banget, udah nggak bengkak lagi. Udah bisa bilang sehat 98% sih kecuali idung masih rada gatel dikit dan masih kadang keluar dahak.

White scab udah hampir ilang semua, tapi ada semacam benang item gitu di tempat amandel. Pas browsing-browsing ternyata itu sisa darah, sisa potongan operasi gitu wow.

*

JADI YAH BEGITULAH. Di saya, operasi amandel dewasa ini not that bad. Sakit tenggorokannya tolerable, mungkin karena saya minum obatnya tepat waktu juga sih. FYI operasinya sama Dr. dr. Mirta Hediyati Reksodiputro, Sp.THT-KL(K) di RS Asri Siloam Duren Tiga. Biaya operasi amandel dan reduksi konka Rp 33juta, kelas 1, semua dicover asuransi kantor JG alhamdulillah ya.

Persiapan operasi amandel itu tinggal ke dokter THT dan set jadwal operasi. Abis itu cek darah dan rontgen paru, konsultasikan hasilnya ke dokter anestesi dan dokter spesialis penyakit dalam. Udah gitu, tinggal dateng pas hari H operasi deh.

Kalian ada yang amandelnya bermasalah juga? OPERASI SANAAAA.

-ast-




Review Buku National Geographic Anak

on
Wednesday, January 16, 2019
Kalau ngomongin buku, saya sejarang itu beliin buku buat Bebe. Karena dulu waktu kecil udah beliin banyak banget buku yang “awet”, sekarang ya masih dibaca itu lagi itu lagi hahaha. Jadi kalau kalian udah liat YouTube saya tahun 2016, salah satu buku favorit Bebe judulnya Faunapedia. MASIH DIBACA SAMPAI SEKARANG LHO.

Nah, kemarin saya story di deket rak buku terus pada salfok ngeliatin buku-bukunya Bebe. Passs banget di bagian buku National Geographic, jadi ayolah kita bahas.


Salah satu alasan saya dan JG beliin dia series National Geographic adalah … waktu kecil kami pengen punya tapi nggak dibeliin karena terlalu mahal hahahahaha. Bahkan sekarang aja kami masih menganggap ini buku mahal lho.

Tapi ternyata worth it! Bedtime story jadi belajar sesuatu gitu. Kusenang karena kalau bacain buku cerita biasa itu saya yang bosan. Ngantukkkk banget karena ya bacain buat Bebe doang.

Kalau baca ensiklopedia gini kaya baca fun fact jadi saya juga dapet sesuatu. TAPIIII … karena kita hidup di zaman internet gini ya, baca buku semacam ini bikin pengen kroscek fakta lho!

Iya soalnya kan bukunya nggak terbitan tahun ini banget kan. Saya suka jadi kepo apa bener masih begini? Apa bener belum ada riset lain lagi? Dan beberapa hal saya googling ulang ternyata bener, ada riset barunya.

Emang deh, baca buku semacam ini kalau emang niat, apalagi pengan sharing ulang, HARUS di-google lagi fakta-faktanya karena ya, teknologi berkembang, riset terus-terusan, pasti ditemukan terus hal baru yang belum tertulis dalam buku.

Worth it nggak beli buku ini? Anak 4 tahun emang ngerti buku ginian? MAKANYA tonton juga videonya ok!


Belinya di mana? So far paling lengkap itu Gramedia Plaza Semanggi. Tapi di e-commerce juga ada sih. Ini judul-judul yang Bebe punya ya:

Faunapedia
125 Cute Animals
Tubuhpedia
Dinopedia
Antariksapedia
Reptilpedia
Seranggapedia
Mengapa? 1.111 Pertanyaan dan Jawaban
1001 Penemuan & Fakta Mempesona Peradaban Muslim

-ast-