-->

Image Slider

Showing posts with label tentang rumah. Show all posts
Showing posts with label tentang rumah. Show all posts

Pengalaman Tinggal di Apartemen

on
Monday, May 21, 2018
HALAAHHH BARU JUGA DUA BULAN LOL. Cuma rada drastis ini bedanya sama di kost dan di rumah jadi layak satu blogpost hahaha. Maksa bodo amat.


(Baca pengalaman lain selama tinggal di Jakarta: KOST DAN RUMAH)

Apartemen yang kami tempatin sekarang ini nggak asing sama sekali. Waktu pertama kali pindah ke Jakarta, saya sempet liat-liat beberapa unit studio tapi terus ya mahal dan nggak sedeket itu sama kantor.

Terus ada sodara ayah saya juga yang punya unit di sini terus bermasalah bayarnya dan akhirnya dibeli sama ayah. Jadi mayan sering bolak-balik ke sini dan kesannya ya biasa aja. Rame banget terus udah.

NGERASA KAYA GITU KARENA NGGAK ADA RENCANA PINDAH.

Waktu memutuskan pindah ke sini dan pertama liat unit yang akan kami tempati (punya temennya JG btw), saya baru sadar wah kok pintu satu sama lain deket banget ya? Lorongnya kok sempit ya? Ini temboknya kok tipis ya? Kok parkirannya becek dan aspalnya bolong-bolong ya? Kok di taman banyak yang ngerokok ya?

KOK INI GEDUNGNYA TINGGI DAN BANYAK BANGET ADA BERAPA RIBU MANUSIA TINGGAL DI SINI YA? APA NGGAK PADET BANGET! TERUS AGAK PANIK LOL.

Seketika langsung mikir “ini apa gue nggak akan serasa punya rumah di gang ya?”

Ternyata iya dan tidak.

Saya seumur hidup nggak pernah tinggal di gang sementara JG sih tinggal di gang banget waktu kecil. Di otak saya tinggal di gang itu berisik, sama tetangga (terlalu) sering papasan, harus banyak senyum sama tetangga kalau ketemu, endebrei, endebrei. Rada mengerikan untuk ukuran saya yang nggak bisa default senyum gini mukanya.

Kenyataannya orang nggak peduli satu sama lain HAHAHAHAHA I LIKE IT. Sebagai ekstrovert yang suka ngobrol sama strangers tapi malas memelihara hubungan pertemanan, saya suka banget tinggal di sini karena SEGITU banyak orang tapi nggak peduli satu sama lain.

Macam nungguin Bebe main di playground ya nunggu aja senyum sama sesama ibu-ibu yang nunggu juga terus main HP. Nggak ada urusan kenalan sama si ibu terus janjian playdate berikutnya hanya karena si Bebe tampak seru main sama anaknya. Nggak ada urusan merasa harus ramah berbasa-basi karena kita tetangga satu tower. HAHAHAHA.

Terus juga kusenang karena banyak expat jadi si Bebe terbiasa melihat berbagai ras dan main sama anak-anaknya. SUNGGUH KALAU LAGI HALU KUMERASA KAYA DI SINGAPUR LOL. Yang nongkrong di warung kopi itu berbagai kebangsaan banget dari kaukasian, orang Arab pake gamis, Cina mainland yang ngomongnya cuma bahasa Cina sampai para Wakanda jualan narkoba (YA TUHAN MAAFKAN KENAPA GUE STEREOTYPING DAN NEGATIVE THINKING AMAT JADI MANUSIA).

via GIPHY

Saking nggak pedulinya sesama manusia, NGGAK ADA CATCALL SAMA SEKALI! Atau ya at least saya nggak pernah denger. Padahal plek tumplek banyak abang-abang nggak jelas gitu dan juga banyak cewe-cewe yang bajunya kebuka banget. Kalian di rumah suka pake tank top dan hot pants rumah yang udah kumel dan melar kan? Atau daster tidur yang udah lusuh?

Nah ternyata model baju seperti itu dianggap sebagian manusia layak dipake ke teras rumah mereka. Nah kebetulan nih di apartemen nggak ada teras kan jadi ya dipake aja di sekitar HALAMAN TOWER DAN KE MALL APARTEMEN HAHAHA. Ingat ya kalau manusia itu beda-beda dan beda itu? TIDAK APA-APA. :)

Karena yang pake jilbab panjang juga banyak. Terus apa jadi negur gitu? Nggak juga. Cuma ada spanduk aja di luar tulisannya “dilarang mengenakan pakaian tidak senonoh”. Sumpah ngakak pas pertama kali baca. Mungkin spanduk itu dipasang karena kalau negur langsung kok ya bikin berantem, jadi diharapkan kesadaran masing-masing aja. Gitulah.

Apalagi ya.

Segalanya ada. Sebut aja mau jajan apa, ada semua. Ke apotek tinggal turun, atm depan pintu banget kebetulan, galon dan gas tinggal WhatsApp langsung nongol depan pintu rumah. Yang jualan tajil banyak, makanan melimpah, tukang cuci sneakers ada (PENTING), toko grosir buat beli beras dan telor ada, toko buah ada, APA AJA ADA LAH POKOKNYA.

Apa jadi boros? Kami jadi malah irit lho! Karena jadi jarang ke mall. Semua kebutuhan sekarang bisa dijangkau dengan jalan kaki. Sungguh love!

Negatifnya satu: berisik. Karena kanan kiri atas bawah kita ada keluarga yang tinggal juga, suara bisa dari mana aja. Kalau tinggal di rumah kan suara cuma dari tetangga kanan kiri kalau misal mereka lagi maku dinding gitu misalnya. Lha ini atas bawah kiri kanan serong kanan kiri manusia semua kan, ada yang geser kursi kepentok dinding aja kedengeran.

Sama satu lagi saya rada insecure karena dulu pintu kost kan selalu pake gembok tambahan ya. Pintu rumah apalagi. Pager digembok, pintu juga digembok. Iya sih dulu nggak punya security yang jaga 24 jam, tapi sekarang rasanya pintu rumah cuma dikunci aja tuh ….

Ya yang bisa naik dan punya akses ke lantai kami cuma sesama tetangga satu lantai sih, tapi apa tetangga satu lantai bisa dipercaya? Gini-gini banget nih orang yang punya trust issues huhu.

APALAGI YA.

Udah sih sementara itu aja. Gimana rasanya nggak menjejak bumi? Biasa ajaaaaa. Tapi sekali lagi tolong catat karena Bebe udah besar dan udah nggak eksplor amat ya. Kalau dia masih merangkak atau jalan tak tentu arah sih kasian kayanya. Dan kami juga di rumah kalau malem doang kan jadi ya so far so good.

SELAMAT SENIN SEMUANYA! DOAKAN KAMI BISA TINGGAL DI APARTEMEN PLAZA SENAYAN ATAU PAKUBUWONO RESIDENCE YA. THANK YOU.

-ast-




Pengalaman Ngontrak di Jakarta (2)

on
Monday, May 14, 2018
Yang belum baca bagian satu ayo dong dibaca dulu hahahaha: Pengalaman Ngontrak di Jakarta (1)


Di bagian kedua ini saya mau cerita ribetnya nyari kontrakan. Setelah pindah kost 4 kali, saya dan JG akhirnya mau nikah, dan kami memutuskan nggak mau tetap tinggal di kostan.

Alesannya kurang jelas juga hahahaha. Intinya pengen di rumah aja gitu. Kamar kost buat sendiri aja sempit apalagi buat berdua? Nanti kalau pengen sendirian, menyendiri ke mana? Kalau di rumah kan bisa terpisah ruangan gitu loh minimal. Sori, saya emang gitu anaknya. Nikahnya belum, mikirin me time-nya udah hahaha.

Kami juga ingin punya dapur sendiri. Dapur kost kan bersama gitu ya, nggak nyaman aja sharing kompor sama orang. Nggak bisa seenaknya lah.

Dua bulan menjelang nikah, kami mulai ngider nyari rumah kontrakan. Cari di daerah Rawabelong karena deket kantor saya. Radius kurang dari 5 km jadi bisa naik angkot (BELUM ADA OJOL!).

KOK SUSAH YA?

Rumah yang dikontrakin sih banyak. Cuma saya banyak maunya juga. Nggak mau ini dan itu, liat lingkungan dan tetangga kanan kiri juga. Nggak mau rumah lama, nggak mau ada bagian atap yang dari seng (karena panas). BANYAAKKK SEKALI KAMI SURVEY RUMAH. Sampai stres rasanya.

Nah sambil ngider ini udah nyiriin nih satu rumah. Ada 3 rumah kecil dengan bentuk sama persis, tapi pager sendiri-sendiri. Pinggir jalan gede, rumah baru, tetangga kanan kiri adalah rumah orkay yang gede banget banget banget. Jadi yakin nggak akan rese hahahaha.

Masalahnya satu, mahal. Kami telepon ke bu haji yang punya rumah, dan dia minta Rp2,5juta sebulan. Di tahun 2013 itu mahal loh rata-rata di daerah situ Rp1,7-2jutaan.

Tapi kebanyakan rumah yang cocok itu maunya dibayar sekarang juga. Lha gimana kan nikahnya masih dua bulan lagi. Bingung banget karena kalau nyari mepet takut nggak dapet, nyari dari jauh-jauh hari disuruh bayar langsung huhu.

Akhirnya kami pasrah. Kami berkunjung ke rumah bu haji yang Rp 2,5juta itu. Kondisinya saya belum pake jilbab ini dan ternyata ini bu haji jilbab panjang plus suaminya itu anak serta cucu kiai terpandang di daerah itu. Saya takut banget nggak dikasih itu kontrakan karena saya kafir, nggak pake jilbab hahahaha.

Berikut kutipan omongan bu haji selama kurang lebih 2 jam:

“Saya nggak akan pernah ngasih kontrakan ke orang non muslim”

dilanjutkan dengan

“Kalau pun orangnya muslim, tapi saya nggak suka, tetep nggak akan saya kasih juga”

via GIPHY

Tapi urusan berkomunikasi serta mengambil hati orang sih JG paling jago ya. Sepanjang ngobrol itu asli kaya wawancara kerja dan kami harus meyakinkan beliau serta suaminya biar mau ngasih kontrakan ke kami yang nikahnya masih 2 bulan lagi hahahaha.

Pertanyaannya seputar:

“Orangtuanya haji nggak?” (ALHAMDULILLAH IYA BU)

“Kalian udah pernah umroh?” (ALHAMDULILLAH SAYA UDAH, BU)

“Asli mana? Saya pernah ada yang ngontrak orang Padang dan repot” (ASLI BANDUNG BU, DI JAKARTA NGGAK PUNYA SIAPA-SIAPA)

“Pake bank apa nanti transfer uangnya? Bank Syariah X ya kalau bisa” *ternyata si bapak pensiunan bank itu lol*

Plus kami harus dengerin juga beliau curhat soal menyesal naro title Haji di KTP karena jadinya susah kalau mau naik haji lagi, endebrei, endebrei, semua kami IYA kan dan didengarkan serta direspon dengan baik.

DAN DIKASIH!

Pak hajinya kaya seneng gitu ngobrol sama kami (OH PLEASE WHO DOESN’T?!) dan bilang “udah kasih ajalah sama mereka, kasian nggak punya siapa-siapa di Jakarta”

#win

Satu hal yang kalian perlu tau ya, itu ibu haji ajaibnya di pertanyaan wawancara doang! Lima tahun ke depan saya ngontrak di situ, ibu haji adalah ibu kontrakan terbaique!

Lima tahun ngontrak, harga nggak dinaikin sama sekali. Kami nggak pernah diresein soal apapun dan kalem-kalem aja. Sampai kami tau dari tukang yang benerin ke rumah, kalau bu haji itu baiknya pilih-pilih orang. :)))))

Iya jadi ibu haji ini kontrakannya banyak. Dari yang sejutaan sebulan sampai rumah gede banget 3 kamar yang 80jutaan setahun. Dengan demikian, beliau punya tukang khusus yang kerjanya ya mantau rumah kontrakan. Kali-kali ada bocor atau pager rusak atau apa.

Kami mulai sadar, dari 3 kontrakan (kami di tengah), rumah kanan dan kiri itu nggak dikasih mau bayar bulanan sementara kami dari awal nggak diminta bayar tahunan. Plus ternyata salah satu dari mereka, harganya lebih mahal/naik tiap tahun sampai akhirnya pindah. Wow, kenapa kira-kira?

Kata tukang itu kurang lebih “kalau yang ngontrak nyebelin, bu haji bisa jadi lebih nyebelin. Tapi kalau baik gini kaya ke kalian, tandanya kaliannya juga nggak nyebelin”

OH WOW.

via GIPHY

Kalau dipikir-pikir, kami nggak pernah repotin bu haji sama sekali loh. Pager rusak ya benerin sendiri, ada bocor apa yang urusin sendiri, ada apapun yang terjadi sama rumah, ya selesaikan sendiri. Meskipun sampai abis ratusan ribu ya. Tapi kami nggak sedikit-sedikit ngeluh atau lapor. Bayar selalu LEBIH CEPAT, bukan tepat waktu lagi. Jadi ya, dia mau ngeresein juga ngeresein apa?

Makanya sebelum nuduh ibu kontrakan kalian rese, coba bercermin dulu. Kali kitanya juga rese? Kalau kalian ngerasa nggak rese, ya mungkin kalian emang apes aja ya hahahahaha. Alhamdulillah banget sih saya dapet ibu kontrakan yang nggak rese jadinya betah banget. Hidup jadi tenang karena tempat tinggal nyaman.

Demikian cerita ngontrak rumah di Jakarta, berikutnya mungkin mau cerita hidup di apartemen kali ya.

PS: Saat Pilkada DKI, isu pemilik kontrakan hanya pilih pengontrak muslim jadi tenar. Padahal dari dulu emang gitu kok hahaha. Yaaa, hak yang punya rumah ya, rumah juga rumah dia kan. :)

-ast-





Pengalaman Ngontrak di Jakarta (1)

on
Monday, May 7, 2018
Waktu pindahan kemarin, saya supeeerrrr excited karena akan punya suasana baru. Se-excited itu sampai nggak ngeluh capek atau apa. Packing dengan senang dan unpacking dengan bahagia juga. Padahal ada kali 10 kali bolak-balik bawa barang pake Karimun dan cuma sekali pake Go-Box.
Baca bagian 2:




Pindahan kali ini juga bikin saya mikir, udah berapa kali pindah ya di Jakarta? Jadi sekarang mau iseng cerita aja kisah-kisah selama ngekost dan ngontrak di Jakarta. Ternyata panjang banget jadi mau saya bagi dua cerita ya. Pertama cerita ngekost, nanti kedua cerita kontrak rumah. Bodo amat kalau nggak penting dan nggak mau baca, biar close aja. *ngambek duluan lol*

Pertama kali kost di Jakarta tahun 2011, 3 bulan pertama dibayarin ayah tentunya karena ya fresh graduate ih nggak punya uang. Harga kost-nya Rp 900ribu sebulan sementara gaji saya Rp 2,8juta sebulan HAHAHAHA.

Rumah kostnya bagussss, dua lantai dan saya di lantai 2. Rumah baru, full furnished dengan furniture yang juga bagus, mevvah dan nyaman. Kamarnya kecil sih cuma sekitar 3x3 meter persegi, nggak pake AC cuma ada exhaust fan doang. Yang horor adalah suatu hari saya iseng ngelongok ke balik benteng rumah dan ternyata ada kuburan! Satu makam doang gitu satu nisan terus saya shock banget.

via GIPHY

Ibu kost lempeng aja bilang itu makam bapaknya. TERNYATAAAAA orang Betawi itu emang suka makamin keluarga di halaman ya hahahaha baru tau banget waktu itu. Selain di halaman belakang, banyak juga yang memang punya tanah keluarga khusus buat makam keluarga. Pas pindah ke Rawabelong sih udah nggak serem lagi liat makam karena yaaa, selang 3-4 rumah ada makam keluarga gitu kan.

Tiga bulan di sana, saya memutuskan pengen bayar kosan sendiri, dan mulailah cari kosan yang cocok dengan gaji fresh graduate. Dapet kost dengan kamar super gede 5x5 meter lebih kali pokoknya gede banget super dengan harga Rp 500ribu aja!

Wah beneran lah ini good deal banget sampai baru sadar kalau itu kamar KOSONG HAHAHAHA. Sementara kost sebelumnya full furnished kan JADI INI KASURNYA MANAAAA? Di umur 23 tahun, masih blur tentang dunia dan segala keribetannya, tak tahu apa itu tagihan dan cicilan, gue harus beli kasur. #firstworldproblem

Kemudian saya beranjak ke Blok M Square untuk nyari kasur. Kalian nggak usah tanya dapet ide dari mana nyari kasur kok ya ke Blok M? Waktu itu masih pendatang baru di blantika anak kost Jakarta plus belum badai e-commerce/marketplace/Instagram jadi ya mana tau beli spring bed di mana deh? Selain di mana, saya juga nggak ngerti harga dan apakah hal-hal yang perlu diperhatikan saat membeli kasur?

Beruntungnya saya dipertemukan dengan tukang kasur di Blok M. Saya pilih satu spring bed ukuran 160 harganya Rp 750ribuan. Saya tergetar ingin kasur yang itu secara spesifik karena ... gambarnya Hello Kitty HAHAHAHAHAHAHA. Iya jadi kasur anak-anak gitu, pink dan Hello Kitty. HEPI!

Waktu berlalu dan kamar kost gede serta kosong bikin pengen beli barang-barang terus. Saya akhirnya beli rak sepatu kayu, beli rak buku, beli kulkas hotel, beli banyak banget barang termasuk satu sofa tiup beli di Ace Hardware yang juga warna pink. Sofa ini enak banget dipake duduk buat main game gitu dan harus berakhir kempes karena ketusuk tusukan cilok sama adik saya ZZZZ. Tragis sekali nasib si sofa. SEDIH HUHU.

kaya gini tapi pink of course

Kata orang bijak, belum ngerasain kost di Jakarta kalau belum digusur alias disuruh pindah paksa.

EH KEJADIAN JUGAAA.

Jadi suatu hari, ibu kost bilang sambil minta maaf banget kalau kami cuma punya waktu 10 hari untuk pindah dari situ karena itu rumah UDAH DIJUAL SAMA KAKAKNYA. Ya Tuhan, ternyata itu tanah keluarga dan padahal ibu kost saya bagi-bagi uang kost sama kakaknya dan adiknya (adiknya yang ngurusin kalau ada apa-apa di kost) EH BLENGCEK DIJUAL SAMA KAKAKNYA. Mungkin kakaknya BU ya sis, karena nongol ngurus kost aja nggak pernah kok ya tau-tau ngejual sepihak.

Untung 10 hari sih kalau tiba-tiba besok harus mengosongkan kamar coba harus gimana. Temen-temen saya emang pada pernah juga sih digusur gini, JG juga pernah jadi waktu itu rasanya nggak sengsara amat. Asli deh nggak nyampe seminggu setelah kami pindah, itu kost langsung rata dengan tanah dan diubah jadi semacam gudang penyimpanan barang rongsokan. T______T

Akhirnya gerilya lagi cari kosan dan dapet lagi dengan kamar lebih kecil dan harganya Rp750ribu HUHUHUHUHU SEDIH PARAH.

Meski lebih mahal, kost yang baru ini benteng kostnya SEBELAHAN sama kantor jadi selompatan banget kalau mau ke kantor hahahaha. Sebelumnya jalan kaki 10 menit dan harus nyeberang naik jembatan penyeberangan, ini 2 menit juga nyampe. Nah karena sejak awal di Jakarta kost selalu deket inilah terpatri dalam benak, kalau tinggal itu deket kantor ajaaa. Apa-apa ketinggalan nggak stres, nggak kena macet pula.

Di kost ini nggak ada cerita berarti karena saya sebentar doang keburu ditawarin kerjaan baru di belahan Jakarta lain. PINDAH LAGIIIII. Dateng ke Jakarta cuma pake Kijang bawa kipas angin dan magiccom, pas pindahan pake mobil pick up gede hahahahaha *dikeplak konmari*

Kost berikutnya jadi kost terakhir saya. Apa-apaan banget ya, baru 2 tahun di Jakarta, pindah kost kok ya sampai 4 kali. Bukan karena saya nggak betah lho! Keadaan yang memaksaku! *halah*

Kost terakhir ini harganya udah (agak) mahal. Udah (agak) kaya, udah nggak fresh graduate amat gajinya. Kost ini rumah baru, full furnished cuma saya minta kasur dikeluarin karena punya kasur sendiri. Ada exhaust, AC, dan kembali mevvah seperti masa-masa dibayarin ayah. WUHUUU. Akhirnya bisa mampu bayar kost bagus sendiri dengan harga ... Rp 1,3juta.

Asli waktu itu saya ngerasa kaya banget deh. Karena kost baru, listrik belum stabil jadi AC belum bisa nyala terus-terusan. Dan untuk pertama kalinya saya ngerasain bayar listrik sendiri!!! BUTUH TIGA TANDA SERU UNTUK MENEKANKAN BAHWA BAYAR LISTRIK MENGUBAH HIDUP!!!

Serius deh, membayar tagihan-tagihan SENDIRIAN mendewasakan kalian. Untuk pertama kalinya harga kost di luar harga tagihan listrik, untuk pertama kalinya beli listrik pake token sendiri. Pada saat itu tagihan listrik nggak pernah nyampe Rp 50ribu sebulan hahahaha. Sungguh kurindukan masa-masa itu. Sekarang mustahil banget eym tagihan listrik Rp 50ribu sebulan mah.

Di kost ini juga nggak lama karena NIKAH WUHUUUU. Akhirnya dapet masalah yang lebih besar dibanding tagihan listrik yaitu ... nikah. HAHAHAHAHA.

via GIPHY

Apa persamaan dari semua kost itu?

SEMUA NGGAK ADA AC TAPI SAYA BERTAHAN HIDUP DENGAN SEHAT DAN BAIK-BAIK SAJA.

Muka malah lebih kinclong walaupun belum kenal urusan skin care yang menyita pikiran. Oh kalau itu masalah usia ya, sori deh abis suka ngenes gitu liat muka di umur 20-an awal yang sekinclong itu padahal nggak rajin skin care huhu.

Sekarang hidup tanpa AC rasanya cranky karena ada anak kecil ikutan cranky. Saya beneran nggak ngerti gimana bisa dulu hidup tanpa AC sampai hamil 7 bulan. Hidup bergantung sama kipas angin dan exhaust fan doang ya wooowww pasti urusannya sama usia lagi sih.

Demikian cerita kost saya yang entah berfaedah entah nggak. Yang jelas satu hal, merantau mendewasakan. Merantau menguji mental. Dari segala urusan ribetnya kost itu, seinget saya nggak pernah sekalipun saya ngeluh ke orangtua. I solved my own problems, ALL OF THEM. Tentu dengan bantuan pacar dan sahabat deket saya yang emang tinggal di Jakarta ya. Tapi poinnya, tinggal jauh dari orangtua, sebisa mungkin nggak perlu ngerepotin orangtua. Takut disuruh pulang soalnya ahahahahaha.

Di bagian kedua saya mau cerita ribetnya cari rumah kontrakan di Jakarta dan gimana caranya jadi pengontrak yang baik. DITUNGGU YA. Senin depan insya Allah. Dalam rangka mau rutin ngeblog lagi nih. Doakan aku! Have a nice day!

-ast-




Beres-beres Rumah, Setahun Kemudian

on
Monday, March 12, 2018

Masih inget postingan saya tentang KonMari?

Yang belum baca bisa baca di sini ya: Beres-beres Rumah dengan (Sedikit) Metode KonMari

UDAH SETAHUN LOH ITU TERNYATA. Dan beres-beres rumahnya belum juga selesai. Hahahaha.

Mungkin beres-beres ini memang proses seumur hidup ya. Saya sama JG udah jarang beli mainan dan sesuatu yang nggak penting atas nama lucu belaka. Baju juga udah mayan jarang beli, tapi tetep aja di rumah banyak tumpukan yang lama nggak kesentuh.

Lama nggak kesentuh artinya kan nggak dipake, tapi kok ya nggak buang! Ini pasti ketulah karena saya kalau beres-beres nggak ngajak ngobrol barangnya lol. Jadilah seminggu kemarin kami mulai beres-beres ekstrem lagi.

Beres-beres biasa: rapi-rapi, yang dirapikan lebih banyak daripada yang dibuang.

Beres-beres ekstrem: buang-buang, yang dibuang lebih banyak daripada yang dirapikan.

Karena nggak punya waktu, beres-beres ini dilakukan sesempatnya malem sebelum tidur. Yang dibuang banyaaaakkkk banget. Termasuk barang-barang yang selama ini saya simpan dalam rangka "properti foto". Apa coba maksudnya, foto juga gitu-gitu doang dan barang-barang itu banyakan nggak kepakenya. Akhirnya semua masuk dus besar dan buang.

Pun tas-tas yang sebenernya udah bosen pake tapi kok ya belum rusak juga sih kan jadi ada perasaan "ah tar mau dipake ah" gitu loh. Padahal entaahhh mau kapan dipake, selama ini juga pake tas itu-itu aja. Masuklah semua ke dalam karung, kemarin dibawa ke Bandung dan serahkan pada ibu saya untuk dihibahkan lagi pada yang lebih membutuhkan.

Terus yang paling bikin pusing sedunia: KERTAS. Apalagi sejak Bebe preschool ya, tiap hari ada laporan harian makan apa, belajar apa, dll. Setiap minggu, hasil karya si Bebe seminggu itu dibawa pulang ke rumah. Awalnya terharu huaaaa Bebe jagoan bikin ini itu terus saya simpan baik-baik. Lama-lama pusing sendiri kok ya apa perlu kumembeli satu unit apartemen Meikarta untuk dijadikan gudang demi menyimpan prakarya finger painting Bebe? KAN TIDAK YA.

Akhirnya yang lucu-lucu saya foto aja, terus ya udah nggak seniat itu untuk bikin album sendiri juga. Didiemin di Camera Roll hp aja, nanti sekalian back upnya sama foto Bebe yang lain.

(Baca: Beres-beres Kenangan dengan Google Photos)

Yang lumayan dramatis dari beres-beres kali ini adalah FINALLY ngasih-ngasihin baju Bebe waktu bayi. Saya sih nggak masalah ya dikasihin, tapi dulu ibu saya bilang gini "jangan lah kan nanti bisa dipake sama adik-adiknya". Itu semua karena Bebe cucu pertama jadi semua barang dia nggak ada yang boleh di-preloved sama ibu saya. Semua barang dia car seat, mainan, apapun itu, disimpen semua untuk adik-adik sepupu di masa depan yang entah kapan akan lahir.

Tapi kemarin di Bandung, kami iseng buka koper besar isi baju-baju Bebe waktu kecil dan ibu saya mellow. Katanya "kok kasian ya nanti kalau ada bayi lagi, bayinya baru lahir kok bajunya bekas".

LHA. HAHAHAHAHA.

Akhirnya bubar sudah itu baju pun dikasihin semua. Saya nyimpen satu selimut kesayangan Bebe dan beberapa baju yang masih gemes aja rasanya. Semua piyama, popok, gurita gitu dikasih ke tetangga untuk dibawa ke kampungnya. Ya karena kami nggak punya kampung halaman, Bandung itu kampung halaman hahahaha.

Terus nih ya yang nyita tempat, Tupperware dan berbagai kotak makan yang entah mengapa sering raib sebelah. Antara raib tutupnya atau raib kotaknya. Ya mending hilang tutupnya ya masih bisa dipake, lha hilang tempatnya mau diapain coba? Ya udah akhirnya diberi saja salam perpisahan. BUAANGGGG!

Apalagi ya. Oiya piring-piring hias kado nikahan. Nggak banyak sih cuma ya dari nikah sampai sekarang nggak kami buka pun dusnya. Jadi untuk apa? Akhirnya dikasih ke mama mertua. Dompet-dompet saya zaman dulu, yang juga disimpan dengan alasan yang sama dengan tas "belum rusak, nanti buat ganti-ganti" padahal kalau mau ganti juga saya beli lagi hhhh. CAPEK. BUANG SEMUA.

Apakah rumah sudah kosong? BELUM LOH. Masih lumayan penuh, masih banyak pasti yang masih bisa dibuang.

Pertanyaannya: ngapain buang-buang barang sebanyak itu? Jawabannyaaaa?

KITA TANYA, GALILEO!

*ketaker umur lol*

Ya karena satu dan lain hal yang nanti akan saya ceritakan kalau sudah selesai ya!

via GIPHY


Semoga Seninnya menyenangkan!

-ast-




Mengurus Rumah Tanpa Nanny dan ART

on
Thursday, December 14, 2017

Ini yang paling banyak di-request di Twitter dan Instagram, gayanya sih manajemen waktu tapi nggak manage amat juga sih. Jadi gimana sih ngatur waktunya biar rumah tetep keurus padahal nggak punya art buat beberes dan nggak punya nanny buat jaga anak?

JAWABANNYA: NGGAK BAKALAN KEURUS. HAHAHAHAHA.

Iya ayolah buibu, we cannot have it all. Udah kerja, digaji, nggak perlu stres menghadapi anak seharian, nggak pernah mau tau drama nanny dan art, TERUS MAU RUMAH BERES JUGA? Ingat darling, tidak ada yang sempurna di dunia ini okaayyy.

via GIPHY

Dulu saya pernah cerita di sini, gimana kami bisa survive hidup di Jakarta tanpa nanny tanpa ART sama sekali. Nomer 4 adalah manajemen waktu. Nah tapi nggak dibahas lebih lanjut kan gimana detailnya. Jadi sekarang saya mau ceritain detail ya.

Pertama, kita harus tau dulu prioritas kita apa. Kedua, bagi tugas sama suami siapa ngerjain apa. Karena ya taulah ya ibu-ibu ambisius maunya semua selesai terus stres sendiri, marah-marah jadinya. Jangan lah, karena untuk apa marah-marah tiada gunanya lol.

Nentuin prioritas sesimpel dengan jawab pertanyaan: apa yang bikin kalian ngerasa "cukup"? Gimana ya bahasanya, fulfilled and content gitu kerennya mah. Hayo apa pikirin baik-baik.

Bagi kami prioritas adalah utama adalah Bebe, tidur, makan, dan cuci baju. Itu dulu deh sisanya kalau sempet aja. Biasanya saya main sama Bebe, JG cuci baju. Tapi makin Bebe gede, Bebe jadi kadang mau mainnya sama appa aja karena ibu kurang seru hahaha. Ya udalah saya cuci baju toh gampang juga kan (sombong setelah beli mesin cuci baru). Selain itu kan masih harus masak, cuci piring, nyapu ngepel, lipet baju, apalagi ya? Sampai nggak kepikiran saking nggak rutin dilakukan hahahaha.

Jadi gini rutinitas kami dari pagi:

🕕 Jam 6, JG masak atau saya masak buat bekal makan siang. Kalau lagi sok kaya biasanya nggak masak terus makan siangnya beli. Tapi seringnya sih masak karena masak makan siang itu irit banyak banget deh beneran. Bebe masih tidur nih makanya agak santai. Cheat masak nanti saya publish besok sore ya! Kepanjangan kalau digabung ke sini. Udah 3/4 jadi sih tulisannya. Intinya nyiapin bekal makan siang super cepat kurang dari setengah jam. WOW NGGAK TUH LOL.

🕖 Jam 7 pergi semua. Anter saya ke kantor, anter Bebe ke daycare, JG cus ke kantor.

🕕 Jam 5-6 sore, JG jemput Bebe ke daycare. Saya nunggu di kantor kalau masih ada kerjaan ya kerja, kalau nggak ada yang nulis blog. Sebenernya bisa kalau mau pulang sendiri, deket juga. Tapi ah ngapain, di jalan kan seru bertiga jadi saya nunggu dijemput aja.

Kalau JG kebetulan pulang agak malem karena kerjaan banyak, saya yang jemput Bebe terus main deh di kantor JG abis itu pulang sama-sama. Hampir nggak pernah pulang duluan karena yaaaa, biar sama-sama aja lol. #obsesif

Dan sebenernya ngapa-ngapain pun tenang kalau makan malem udah aman. Nggak bakal ada drama berantem cuma karena salah satu lagi laper. Oiya kami makan malem katering btw.

🕖 Jam 7-7.30 (normalnya) nyampe rumah. JANGAN LEYEH-LEYEH! JANGAN TIDURAN! TIDURAN IS THE ROOT OF ALL EVIL! Kalau udah tiduran udalah kelar nggak akan kelar ngapa-ngapain.

Karena Bebe mau main di lantai maka sapu dulu lantai tempat Bebe main sama kamarlah karena kamar kami kecil banget seimprit. Nggak usah seluruh rumah, no no no itu terlalu ambisius. Sapu dan ngepel itu per section aja sesuai kebutuhan. Yang paling sering disapu ya tempat Bebe main dan yang paling sering dipel itu ya dapur karena ada bekas-bekas makanan kan. Yang paling jarang ya ruang tamu karena nggak pernah terima tamu hahaha.

Abis itu JG biasanya cuci baju ditinggal sambil cuci piring. Kalau JG capek ya saya cuci piring, kalau saya capek juga ya udah nggak usah cuci piring nggak apa-apa. Kalem aja kenapa harus pusing sama hal ginian doang.

Udah gitu Bebe main sama JG saya biasanya gambar. Nah dulu waktu gambar ini biasanya saya pake buat lipetin baju. Karena gambar, sekarang baju yang dilipet jadi nggak pernah selesai hahahaha. Ya udalah nggak apa-apa.

(Baca: Mencari Skill Baru)

Dan semua urusan di sini prioritasnya Bebe. Kalau JG lagi cuci piring terus Bebe mau main ya udah berhenti cucinya. Saya pun demikian kalau lagi gambar Bebe ngajak main ya udah main sama Bebe. Ya cuma ketemu Bebe malem dioptimalkanlah. Apalagi Bebe udah nggak nonton, nggak bisa deh dialihkan lagi jadi bener-bener harus ditemenin. Jadi salah satu di antara kami akan main sama Bebe sementara satunya ngerjain kerjaan rumah.

🕘 Jam 9-9.30 siap-siap tidur. Terus ya udah leyeh-leyeh, ngobrol sama Bebe, tidur deh. Gitu doang nggak ada tips berarti sih.

Tipsnya cuma satu: nggak usah ngotot rumah harus selalu disapu pel, nggak usah sedih liat tumpukan piring kotor, nggak usah stres liat baju belum dilipet. Kalem aja emang ada deadline-nya? Emang kalau rumah kinclong tiap hari sesuai KPI terus dapet bonus? Kan nggak. Yang penting main dan ngobrol sama Bebe dan JG, tidur aman, masak aman, baju bersih. Itu kan inti dari kehidupan ini? Hahaha.

Emang ya ada orang yang nggak tahan sama berantakannya rumah. Tapi kalau emang kalian nggak tahan MAKA JANGAN NGELUH KALAU HARUS BERES-BERES. Saya nggak tahan sama orang yang ngeluh capek beberes tapi pas dibilang ya udah nggak usah beberes dia jawab “tapi kesel liat rumah berantakan”.

Yaaa kenapa ngeluh capek atuh? Kan tadi kesel liat rumah berantakan, setelah beberes kok malah kesel karena capek beberes? Asa nggak masuk akal. Dan banyak lhoooo orang begini.

Lebih sebel lagi kalau keselnya bawa-bawa orang. “Kenapa aku terus yang beres-beres rumah sih?! Kamu malah leyeh-leyeh doang!” Lha kalau nggak mau atau capek beberes ya udah nggak usah atuh ceu. Kenapa harus menggeret orang lain ke dalam problem elu.

Kalau justru suami yang komplain rumah berantakan ya suruh dia beresin sendiri. Kenapa juga harus kita yang beresin. Kan siang sama-sama kerja. Dan ingat urusan rumah tangga adalah tanggung jawab suami loh ya.

via GIPHY

Tapi kalau emang nggak tahan banget liat rumah berantakan gitu ya bikin prioritas untuk beres-beres rumah yang pasti menyita waktu lain. Waktu tidur kan paling? OGAH YAAAA KALAU SAYA SIH. Lebih baik tidur nyenyak lama dengan tumpukan baju belum dilipat dibanding tidur sebentar dengan baju terlipat. Ngantuk dan laper sumber amarah banget loh, bisa bikin berantem.

(Baca: Nggak Usah Nyetrika kan Gerakan Tanpa Setrika)

Karena saya dan JG sih tipe yang kalem banget. Males masak ya udah beli, males cuci piring ya udah besok lagi, males cuci baju ya udah nanti lagi, males nyapu ngepel lipet baju ya udah nanti-nanti aja. Yang penting nggak berantem jadi happy. Daripada rumah rapi tapi jadinya capek banget dan berantem?

Emang nyaman tinggal di rumah berantakan? Ah udah biasa. Yang penting nggak kehujanan dan kepanasan kan? Makanya dari awal harus jelas prioritas kalian apa.

Demikianlah. Berguna nggak? HAHAHAHA. Tunggu tulisan soal cheat masak besok ya!

-ast-




Beres-beres Rumah dengan (Sedikit) Metode KonMari Yuk!

on
Friday, March 24, 2017
Iya sedikit aja menerapkan metode KonMari karena saya nggak menerapkan semua tipsnya. Kenapa? Karena ada beberapa metode dia yang bikin saya agak "eh? no way!" HAHAHAHAHAHA.


KonMari ini nama beken dari Marie Kondo, perempuan Jepang yang pekerjaannya adalah konsultan rapi-rapi rumah. Iya, dia konsultan untuk orang yang mau rumahnya rapi terus! Rapi selamanya bukan rapi sekarang besok berantakan lagi KAYA SAYA. Dan saya yakin 90% dari kalian semua yang tidak punya mbak dan tidak punya darah untuk selalu beres-beres hahaha.

BTW INI AKAN PANJANG. 

Marie Kondo ini nulis buku best-seller judulnya "The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing" dan masuk ke daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia tahun 2015 versi majalah TIME. Karena saya lagi beres-beres dan decluttering terus 2 tahun belakangan, saya baca deh buku ini.

Iya saya beres-beres 2 tahun belakangan karena anaknya susah move on. Tapi sungguh, dibanding 2 tahun lalu, barang-barang saya udah berkurang banyak sekali .

Tahun ini juga untuk pertama kalinya kami nggak bikin resolusi tahun baru karena resolusi tahun ini saya justru ingin decluttering sampai selesai dan kalau bisa nggak perlu beli barang nggak penting dan besar lagi. Tapi baru aja Januari udah beli mesin cuci hahaha.


Saya nggak menghitung jelas karena udah terlalu lama ini prosesnya, tapi kalau pakai karung, baju saya, JG, dan Bebe yang keluar aja udah lebih dari 10 karung. Tas entahlah udah berapa banyak banget. Sepatu juga. Dan lemari saya masih tetep penuh. Sudah kosong, sudah lega, tapi saya belum sreg karena masih ada baju yang saya simpan karena sayang aja.

Masalahnya barang-barang yang saya "sayang aja" itu udah saya simpen bertahun-tahun tanpa dipake atau dibuka sama sekali! Terdiam aja tanpa disentuh. Mending kalau rumah gede, ini kan nggak. Barang lama nggak keluar, barang baru makin banyak. Kan sebel rumahnya jadi makin sempit huhu.

Jadi postingan ini saya dedikasikan untuk para hoarder seperti saya yang susah move on dari TAG HARGA BAJU hanya karena baju itu kesayangan dan nyarinya susah HAHAHAHAHA.

Does it spark joy?

Tips utama dari metode KonMari ini adalah, kita harus pegang satu-satu barang dan rasakan apakah barang ini bisa memunculkan 'spark joy'. Iya itu kriteria seleksi nomor satu: does it spark joy?

Kalau nggak ya singkirkan aja alias BUANG. Kita nggak butuh banyak barang kok dalam hidup. Makin sedikit barang, makin lega ruangan tempat kita tinggal, makin damai karena nggak cluttered. Nggak susah cari sesuatu karena kita tahu persis apa aja barang kita. Nggak mudah berantakan.

Ah ya gitulah pokoknya. Nggak bisa banget saya bikin kalimat memotivasi kaya KonMari.

Keep only those things that speak to your heart. Then take the plunge and discard all the rest. -- Marie Kondo
Oke jadi urutan tidying with KonMari method itu begini:

1. Pakaian (termasuk tas, sepatu, kaos kaki, legging, apapun yang kain-kain di lemari)

2. Buku

3. Dokumen dan kertas-kertas

4. Pernak-pernik

5. Barang kenangan

Gimana mulai beres-beresnya?

Sort by Category

Iya jadi bukan by location. Kita kan biasanya kalau beres-beres hampir pasti berdasarkan lokasi dulu. Beresin kamar dulu, dapur dulu, ruang tengah dulu. Metode KonMari tidak menyarankan itu karena begitu selesainya lama dan nggak runtut. Lebih baik berdasarkan kategori dulu. Kategorinya yang 5 di atas itu tadi.

Karena kadang pakaian aja kita nggak semuanya taro di kamar. Ada yang nyasar ke lemari di ruang tengah atau mana gitu. Nggak satu tempat. Nah sebaiknya dibereskan sekaligus dulu semua, baru kemudian disimpan di satu tempat, jangan nyebar gitu.

INGAT: beres-beres berdasarkan kategori, dan mulai lokasikan barang per kategori di satu tempat.

Kata dia sih semua barang harus dijembrengin di lantai terus pegang satu-satu dengan lembut dan mikir apa mau dibuang apa mau disimpan. KALAU GUE LEMBUT MAH GUE SIMPEN SEMUA ATUH LOL.

(Baca: Suka Menumpuk Barang? Hidup Minimalis Yuk!)

Ini detailnya.

1. Pakaian

Lepas tag pada baju. Saya banyak banget baju masih ada tagnya dan kaos kaki yang masih dibungkus. Akhirnya direlakan lah sudah. Mereka bukan milik saya, akan lebih berguna kalau dikasih ke orang.

Yang paling bikin saya susah move on adalah baju-baju waktu muda. T_____T Beli pake uang ayah, belinya mahal, trendi banget pula. Saya kaya nggak rela gitu dan itu digetok sama Marie huh sebel. Dia bilang:

But when we really delve into the reasons for why we can’t let something go, there are only two: an attachment to the past or a fear for the future.

SEBEL. KARENA MEMANG IYA. Akhirnya saya let go, karena ngapain atuh lah nyimpen hot pants atau baju-baju yang nggak mungkin saya pake lagi? Kalau pun nggak pake jilbab juga malu sama umur hahahaha.

Yang beli udah berbulan-bulan dan nggak saya pake juga saya let go. Intinya kalau ada benda yang kalian selalu pikir sebagai "simpen aja nanti juga butuh" itu kemungkinan besar nggak bakalan dipake. Berlaku buat semuanya. *kemudian ngos-ngosan*


2. Buku-buku

Seperti juga baju, buku yang sudah bertahun-tahun "akan dibaca nanti" itu kemungkinan tidak akan dibaca selamanya. Jadi ya sumbangkan aja. Perlakukan buku seperti makanan, ada masa kadaluarsa nya jadi nggak stok makanan banyak-banyak toh?

Buku = makanan ini analogi saya bukan kata KonMari lol *proud*.

Iya jadi nggak beli buku kalau masih punya buku yang belum dibaca. Baca dulu yang ada. Godaannya berat, tapi kalau nggak gitu, kita numpuk buku yang belum tentu dibaca dan buang uang. Percayalah. Masa nggak percaya sama KonMari karena bagian buku ini saya relate banget hahahaha.

Kondo believes people keep books for far longer than necessary.

Jadi kalau buku udah dibaca setengah terus ditinggalin, ya udah berarti nasibnya itu buku emang cuma dibaca setengah. Buku itu harusnya dibeli sekarang dan dibaca sekarang. Kalau beli sekarang dibaca nanti, kemungkinan besar nggak akan dibaca. APALAGI kalau udah beli buku baru. Beli buku baru 3, dibaca 1, beli lagi 3, dibaca 1, terus aja begitu. ITU SAYA. KZL.

Saya sekarang cuma nyisain Harry Potter sama Dan Brown aja. Segala novel udah disumbangin semua karena cuma bikin debu aja. Nggak bakal dibaca ulang percayalah.

Kecuali buku Bebe ya. Buku anak sih dibaca berulang-ulang banget kan. Jadi rak buku di rumah isinya sekarang hanya buku Bebe dan beberapa buku JG. Saya pake Kindle dong. #TeamKindle



3. Dokumen

BUANG SEMUA KERTAS. Hampir semua kertas di rumah itu nggak berguna. Resep yang nempel di kulkas entah kapan mau dicoba masak. Sekalinya masak malah googling. Laporan harian Bebe, struk belanja, materi seminar apalah yang come on, nggak bakal dibaca lagi karena nggak peduli lah. Buang semuanya.

Saya juga punya satu laci yang harusnya isinya dokumen penting kaya Kartu Keluarga, paspor, akte kelahiran, dll. Laci itu pada akhirnya malah jadi tempat naro peta, boarding pass, segala struk belanja yang saya anggap barangnya penting. Saya sampai punya satu amplop isinya struk belanja barang-barang waktu lamaran. Pentingnya sebelah mana auk ah. Sampah.

Kalau di rumah Bandung mah ada satu pouch gede isinya tiket bioskop astaga. Tiket bioskop sejak remaja dengan pacar beda-beda hahahahaha. Sinting sama hoarder apakah saling berkaitan?

Tapi karena saya anaknya menyimpan kenangan banget, akhirnya yang bener-bener sulit dibuang padahal sampah, saya foto terus upload di album khusus di Google Photo HAHAHAHAHAHA. Sampahnya pindah jadi sampah elektronik lol.



4. Pernik-pernik (termasuk perkabelan)

Charger zaman dulu yang hpnya udah entah kemana, kabel charger rusak, dus hp, dan segala-gala dus yang entah kenapa disimpen segala. "Kali aja mau dijual" well kalau kalian tipe yang jual beli sih silakan. Saya hampir nggak pernah jual apapun jadi udahlah buang aja.

Pin, kalung, cincin yang numpuk doang padahal udah nggak suka lagi atau udah patah. Tetep aja disimpen duh kenapa sih gue huhu. Belum lagi masihhh aja beli karet rambut, pin, patch, numpuk.

Dan yang jadi sampah juga souvenir atau oleh-oleh itu. Berapa persen sih souvenir nikahan dari kelas menengah yang bener-bener dipake? Buang aja atau nggak usah terima. Nggak apa-apa kok nolak souvenir nikahan, mbak pagar ayu penjaga buku tamu nggak akan marah. Kecuali yang nikah orkay yang souvenirnya bisa batik mahal atau malah Hermes kaya kakaknya neng blogger sebelah lol.

Karena sampah banget gengs. Gantungan kunci lah, tempat tisu lah, kipas lah mana mah kurang indah kan ada nama pengantinnya. Sekiranya tidak akan dipakai maka tidak usah diterima atau buang aja, kasih ke orang. :)

Oleh-oleh atau hadiah yang nggak kita suka gimana? Marie ngomongnya judes tapi dia benar.

Menurut Marie, hadiah dan oleh-oleh itu takdirnya hanya untuk diterima. Setelah diterima maka "tugas" nya selesai. Buang aja udah lol. Tradisi oleh-oleh ini emang harus dihapuskan sih. Harusnya dibikin aturan sosial bahwa bawalah oleh-oleh dalam bentuk makanan lol.

5. Barang kenangan

INI NIH. Saya punya sekotak isinya ... Kekoreaan. HAHAHAHAHAHA. CD album yang ada tandatangannya (yang nggak ada ttd nya udah saya giveaway in 2 tahun lalu), segala lightstick (sebutkan semua artis Korea yang konser di sini dan di Singapur 2011-2012 dan saya punya semua lightsticknya karena saya lemah banget sama sesuatu yang nyala-nyala huhu), id pers, press release, tiket konser, semua ada di kotak itu.

Akhirnya beberapa bulan lalu kotak besar itu saya bawa ke Bandung dan saya sungguh bangga karena merasa bisa move on dari kotak itu.

KEMUDIAN DIOMELIN MARIE LOL

Marie judes banget sih hih, masa katanya jangan pindahkan barang dari rumah kita ke rumah orangtua. KENAPA DIA TAUUUU? 

*mewek*

Ternyata orang di seluruh dunia cenderung melakukan itu huhu. Rumah sendiri bersih, tumpukan pindah ke rumah orangtua hhhh. 

Saya sendiri udah beres-beres kamar di Bandung sampai lemari kosong. Kardus sepatu isi barang-barang mantan udah keluar semua nyahahahahha. Buku aman, lega lah udah.

Menurut metode KonMari, orang berat let go barang kalau yang ngasih itu orang yang disayang kaya orangtua atau keluarga. Padahal ketika kita tanya mereka boleh ga ini dikasih ke orang? Mereka kaget karena nyangkanya barang itu udah ilang atau apa hahaha.

Foto gitu segala macem udah lah foto ulang terus upload. Sebisa mungkin simpan dalam bentuk digital aja. INI SAYAAA.

Karena ternyata ada yang menerapkan metode KonMari ini untuk digital stuff juga, jadi decluttering juga. Waaaaa saya nggak mau. Mending taro cloud udahlah. Huhu anaknya mencintai kenangan banget, seneng dan bahagia liat barang kenangan. 

Sampai sini aja soal kategori. NEXT!

*

Inti dari beberes ini adalah set satu tempat untuk setiap barang dan pastikan kalau abis pake, simpen lagi di situ. Wow tips yang berguna sekali lol. Emang ada yang belum tau? Saya mah percaya bakat aja, bakat rapi sama bakat nggak rapi hahahahaha.

Terus beberes lah sendirian gengs, jangan ditontonin orang karena GANGGU. Baru mau buang apa malah disautin "kok itu dibuang?" atau "eh kamu dapet itu susah banget loh masa dibuang?" ERGH. Udah sendirian ajalah.

Satu lagi tips Marie, dia simpan semua barang vertikal dan tidak ditumpuk. Emang sih lebih gampang diambil tapi dia bilang sayuran di kulkas aja dia taro ya berdiri wow. Ain't nobody got time for that. 😂

Yang saya nggak setuju dari Marie adalah dia menganggap tidying ini adalah ritual. Make tidying a special event, katanya. Kalau bersih-bersih jangan pake daster, dia bersih-bersih itu dandan, pake dress, dan pake blazer. Biar rumahnya merasa dihormati. T_______T

Dia juga ngajak ngobrol rumahnya, ngajak ngobrol semua barangnya, bilang terima kasih sama kaos kaki karena udah kerja keras nemenin dia seharian. Dia juga kosongin tas ya tiap hari setelah pulang ke rumah duh ribet sis, nggak punya toddler ya lol. itu pun tas dan barang-barang di dalemnya diajak ngomong karena barang kalau diajak ngomong jadi lebih awet. OKAY? Saya males kali deh ah basa-basi sama barang hahahahaha

Dia juga percaya kalau beres-beres rumah itu bagian dari detoks. Banyak yang mencret-mencret dan jadi kurus setelah bersihin rumah masaaaa? Dia bilang dia nggak bisa buktikan ini secara medis. Yaiyalaaahhhh.

Jadi udah organizing ala KonMari banget nih sekarang?

Oh tentu saya belum sepeduli itu lol. Nyobain cara lipat baju metode KonMari sih ya tapi belum disusun vertikal. Saya cuma mengambil faedah KonMari bahwa barang yang udah lama nggak disentuh itu bisa DIBUANG loh. LOL

Kalau nanti rebound dan rumahnya berantakan lagi ya nggak apa-apa diberesin lagi aja. Yang penting minimal barangnya lebih sedikit dari sebelumnya ya kaaann.

Lagian masa semua orang ngatur rumahnya harus sama ah! Aku kan anaknya nggak suka sama-sama sama orang lolol.

Apakah jadi berhenti beli barang? YA NGGAK JUGA LOL. Tapi intinya adalah let go barang lama. Banyak yang lebih butuh 10 karung baju saya dibanding ngejugruk di lemari doang. Buku kan lebih berguna kalau disumbangin. Bahkan kardus bekas aja bisa jadi uang buat tukang sampah kan. Gila sih kardus HP aja nggak pernah buang sama sekali, baru dibuang sekarang huhu. Dari Blackberry Javelin loh bayangin aja.

*

Segala urusan KonMari ini bikin saya jadi dikit-dikit beres-beres terus. Kemudian dipatahkan JG.

JG: "Ah gara-gara konmari nih kamu jadi beres-beres terus"

Saya: "Ya biar rumahnya rapi aja, ini buktinya banyak 'sampah' banget kan rumah kita. Banyak yang nggak kepake dan aku keluarin"

JG: "Emang kenapa kalau rumah kita banyak 'sampah'? Buktinya dulu aja kita bahagia meski rumah kita banyak sampah."

HMMMM IYA JUGA.

*berhenti beres-beres* lol

-ast-




Kami dan Mimpi Rumah di Jakarta

on
Friday, August 12, 2016
 [SPONSORED POST]


Hai!

Lima tahun tinggal di Jakarta, saya dan JG (suami) masih stres memikirkan harus beli rumah di mana. Maunya di Jakarta sih, tapi harus jadi apa ya biar uangnya unlimited dan beli rumah tinggal pilih kaya beli sepatu?

Karena sebagai orang Bandung yang ke mana-mana deket, kami nggak sanggup kalau harus beli rumah di daerah pinggiran Jakarta. Kelamaan di jalan nanti terlalu sebentar ketemu Bebe. :|

Tapi makin lama makin kepikiran juga hahahaha hati agak bergeser dikit dan mulai mikir-mikir, mau nggak ya beli rumah meski di pinggiran? Karena rumah ini sebenernya udah bukan prioritas lagi, kami nggak masalah selama di Jakarta ngontrak karena someday pindah ke Bandung, udah ada rumah di Bandung. Tapi kan sekarang kerjanya di Jakarta.

Sungguh kegalauan yang tak kunjung henti. :(

Apalagi kalau liat hashtag orang-orang di Instagram yang pamer interior rumah mereka sendiri. Kok saya jadi pengen juga punya rumah dan pamer interior rumah di socmed? *salah fokus

Karena yah, di Indonesia punya rumah sendiri itu rasanya seperti #lifegoals banget ya. Beda sama orang-orang di Eropa sana yang banyak tidak berniat untuk punya rumah sendiri. Lah kita mikirin masa depan kan, masa mau ngontrak terus?

Eh terus saya dikasih tau ada pameran property ‘Indonesia Property Expo’ di Jakarta Convention Center Senayan, 13-21 Agustus 2016. Langsung deh kasih linknya ke JG dan ngajakin ke sana. Siapa tau ada pencerahan hahahaha.

Acaranya sendiri ternyata digagas oleh BTN. Bank BTN ini ada kedekatan emosional sama saya karena selain banknya dulu tepat di seberang SD saya, ibu saya juga ambil KPR di Bank BTN. Jadi dulu sebulan sekali saya ikut ibu ke bank untuk bayar cicilan rumah. Saya ingat benar, cicilan rumahnya hanya Rp 55ribu sebulan! Murah banget ya kalau dipikirin pakai uang sekarang. Saya beli rumah sebulan sekali kayanya kalau harga rumah seharga 30 tahun lalu.

Ibu saya harus jalan ke bank karena dulu mana bisa bayar cicilan dengan autodebet. Isi form warna orange kemudian uangnya akan disetor tunai melalui teller. Sebulan sekali sambil menjemput saya sekolah, kami menyeberang dulu dan antri di bank.

Rumah yang dibeli adalah rumah yang masih orangtua saya tempati sekarang. Rumah pertama mereka. Ibu saya yang orangtuanya tinggal di pinggir jalan raya Pasteur (sekarang jadi Hotel Ibis), harus bermotor dengan ayah saya ke pinggiran Bandung untuk mencari rumah sesuai ukuran kantong mereka saat itu.

Dulu, jalan menuju rumah itu masih jelek luar biasa, berbatu besar-besar dan belum beraspal. Belum ada jalur angkot yang lewat, hanya ada becak dan itu mengerikan. Bayangkan naik becak di jalan berbatu, takut terguling!

(Baca juga: Definisi Rumah yang Sebenar-benarnya)

Tapi toh orangtua saya survive. Iya sih Bandung kecil, sepinggir apapun juga tidak akan sampai 4 jam ke tengah kota seperti Jakarta. Tetap saja bagi ibu saya yang orang kota, rumah itu kampung sekali. Dikelilingi sawah lengkap dengan kerbaunya. Maklum kan kalau harga cicilannya bisa hanya Rp 55ribu sebulan.

Itu 20 tahun lalu. Ternyata oh ternyata, bukan harga yang bisa berubah, teknologi urusan KPR juga sekarang canggih loh! Tidak perlu lagi bermotor-motor dengan jalan jelek survey sana-sini, BTN sudah punya website khusus untuk mencari properti namanya BTNProperti.co.id.

Ini bikin tambah galau asli. Sebelum nulis ini saya coba cari-cari rumah di sana dan seru banget! Bisa cari berdasarkan kota seluruh Indonesia, area, jumlah kamar dan kamar mandi, garasi, dan range harga.

Kalau udah nemu? Bisa langsung mengajukan KPR online di website itu. Prosesnya jadi mudah, cepat, dan murah. Tinggal masukkan data yang lengkap, nggak perlu lagi datang dan antri di bank. Talk about efficiency!

BTNProperti.co.id juga bisa memberi kita simulasi KPR, punya uang muka berapa dengan harga rumah berapa, gaji berapa, kira-kira harus bayar cicilan berapa satu bulan. Ini helpful banget sih buat saya yang galau cari-cari rumah terus. Ada customer service juga yang live di jam kerja untuk bantu menjawab pertanyaan kalian seputar KPR.

Seru kaaan. Jadi siapa yang lagi mikir-mikir mau beli rumah juga kaya saya? Atau mungkin rumah kedua? Mampir yuk lihat-lihat di BTNProperti.co.id, siapa tahu ada yang nyantol di hati.



-ast-







Tips Survive Tanpa ART dan Nanny untuk Ibu Bekerja

on
Wednesday, March 2, 2016

*kali ini serius* Sebelumnya aku pernah nulis ini juga di sini dalam kondisi stres banget huhu Tapi sekarang aku sudah berdamai dengan pekerjaan yang tak kunjung henti. Obatnya apa sis? Shopping. MUAHAHAHAHAHA.

Oke jadi lo ibu bekerja, nggak mau punya nanny dan pembantu karena males ajah banyak drama. Gimana cara survive-nya?

Ini tips survive untuk ibu bekerja dengan satu anak (di bawah usia SD) tanpa punya asisten rumah tangga dan nanny:





#FAMILYTALK: 5 Alasan Hidup Tanpa TV

on
Saturday, October 3, 2015

Welcome to our very first series: #FAMILYTALK with Istiana Sutanti. Yeah yeah yeah! Intinya sih di series ini kami berdua mau bahas hal-hal yang mungkin nggak dilakukan orang lain tapi surprisingly dilakukan oleh kami berdua.

Seperti contohnya ya ini. Di rumah saya dan Isti sama-sama nggak punya TV. Buat yang seneng nonton TV pasti ngerasa aneh, nggak punya TV terus gimana? YA NGGAK GIMANA-GIMANA SIH LOL

Ini 5 alasan saya kenapa bisa bertahan hidup tanpa TV. Alasan Isti gimana? Baca di sini ya!

(klik link di atas untuk versi Isti)

Baca juga versi Lia di bawah ini wuhuuuu!






Tentang Definisi Rumah

on
Friday, October 2, 2015

Duh anaknya gampang banget terpengaruh lingkungan nih. Gara-gara baca posting ini aku jadi mellow dan pengen ikutan juga kangen-kangenan. *halah*

Mellow karena yes, baru aja empat tahun di Jakarta. "Rumah" sudah tidak lagi terdefinisikan dengan sempurna. Rumah yang mana? Pulang ke mana?

Kalau ke Bandung bilangnya "pulang ke Bandung". Pas balik ke Jakarta lagi bilangnya juga "pulang ke Jakarta". Perginya kapaaannn?

Soalnya rumah Bandung yaaaa udah kaya bukan rumah sendiri lagi. Mana pun kasur yang dulu dipakai sendiri sekarang dipakai berdua Bebe, JG tidur di kamar adik saya karena SEMPIT, SIS. Belum anaknya suka tendang-tendang dalam tidur kan sini sakit badan jadinya.

Terus yaaa, kalau udah nikah dan punya anak mah memang lebih enak keluar dari rumah orangtua kan ya. Di mana kebanyakan masalah solusinya hanya didiskusikan berdua dengan suami. Nggak terlalu banyak suara. Karena bikin bingung dan bikin drama.

Nah tapi terus rumah Jakarta juga nggak bisa disebut "rumah" karena dih ngaku-ngaku banget! Ada juga rumah kontrakan punya bu haji. Meskipun iyes belum berencana pindah karena betah banget dan bu hajinya baik. Tapi tetep aja, rumah kontrakan. Mau hias-hias juga males karena tahu suatu hari pasti akan keluar dari situ. :(

Bebe sih nggak tahu ya itu rumah kontrakan, yang jelas dia justru menganggap si rumah kontrakan ini sebagai "rumah"-nya dia. Bebe suka tampak stres kalau kelamaan di Bandung karena yah, rumah asing.

Terus di Bandung biasanya too much attention sementara dia sukanya main-main sendiri gitu. Beberapa kali libur seminggu di Bandung pasti dia rewel banget, dan ajaibnya pas nyampe Jakarta, di rumah kontrakan sempit yang nggak luas kaya di rumah Bandung, dia nggak rewel lagi.

Pas kembali ke Jakarta, dia akan happy. Akan lari-larian sendiri dari ruang tamu ke kamar ke dapur tanpa ada yang berusaha gendong terus atau larang ini itu. Mau naro sendal di kulkas mau naro kemiri di kasur, nggak pernah dilarang. Jatoh berdiri sendiri, nggak langsung ditolong. :')

Kan ada rumah yang dicicil itu? Itu rumahnya sekarang ditempati mertua karena rumah mertua letaknya pinggir jalan raya persis, nggak cocok buat nenek-nenek bercucu. Jadi rumah mertua dikontrakkan deh jadinya. Karena nggak ditempati sendiri dan nggak ditata sendiri, jadinya rumah itu juga bukan kaya rumah sendiri, rasanya yaaa rumah mertua aja yang kita bayari cicilannya tiap bulan. Hahahaha.

Dan kalau lagi di Bandung juga mood-nya liburan banget. Serasa pengen puas-puasin ngapain kek gitu mumpung di Bandung. Karena apa? Karena tahu akan pulang ke Jakarta. Sementara di Jakarta mood-nya kerja banget. Meski macet dan heboh selalu, saya dan JG betah di Jakarta. Tapi gimana dong, nggak punya rumah beneran juga di Jakarta dan pulang kampung itu selalu berarti Bandung.

Mungkin .....

.... ini tanda-tanda kayanya harus beli rumah lagi di Jakarta. Nggak perlu Selatan atau Pusat lah ya kemahalan, JAKARTA BARAT AJA BOLEH? BAHAHAHAHAHAHAHA. Solusi yang sulit. -_____-

#nuhunkangemil

-ast-




Tentang Hidup tanpa TV

on
Tuesday, November 4, 2014

Saya dan JG di rumah memang nggak punya TV. Selama di Jakarta, saya 3 tahun kost, nggak pernah kepikiran untuk punya TV. JG 6 tahun (apa 7 tahun ya?) kost juga, nggak punya TV juga. Sekarang sudah setahun lebih nikah, teteeppp belum kepikiran untuk punya TV. Dulu waktu kost pernah dititipin TV temen yang pindahan rumah. Sukses cuma diotak-atik doang. Terus hari-hari berikutnya dibiarkan berdebu, nggak disetel sama sekali. XD

Tapi kalau yang memang seneng nonton TV mah pasti kaget dong yah. Rata-rata komentarnya: "kok bisa sih rumah nggak ada TV nya? Terus hiburannya dari mana?" Saya paling suka bingung jawabnya, apalagi kalau komentarnya: "kasian ih nggak punya TV."

HAH? KENAPA HARUS DIKASIHANI COBA? HAHAHAHAHA.

Nggak tahu ya kalau JG (belum nanya euy soalnya wtf). Saya dari kecil nggak boleh nonton TV sering-sering sama ibu saya. Soalnya, saya sama adik-adik kalau udah nonton TV, lupalah pada dunia. -____- Alias lupa mandi, lupa makan, lupa ini itu. Nah, generasi 90-an kan selalu membanggakan maraton film kartun minggu pagi ya, saya mah nggak bisa. T____T

Soalnya waktu kecil kalau mau nonton TV syaratnya harus udah mandi dan udah sarapan. Nggak boleh nonton TV sambil makan. Sampai sekarang, semua yang makan HARUS di meja makan. Manalah sanggup mandi dan makan sejak jam 5 subuh demi nonton kartun yang jam 6? Mentok saya selesai semuanya itu jam 8, jadi baru mulai nonton dari Doraemon ajah. Lagian waktu kecil, saya suka sekali baca buku. Sekarang juga suka baca sih cuma waktunya susah. Jadi lebih suka baca segala rupa deh daripada nonton TV.

Selain soal kartun, di rumah saya memang TV jarang banget nyala sih. Nggak pernah tahu soal acara pagi karena nggak ada yang nonton TV pagi-pagi. Nggak terbiasa aja kali yah. TV mulai nyala itu biasanya sore sampai malem. Zaman dulu sore ke malem itu si ayah nonton berita. Nggak pernah punya konsol game jadi ya TV di rumah saya 3/4 hidupnya hadir sebagai hiasan aja di ruang keluarga. 

Kemudian waktu berlalu dengan kondisi seperti itu. Sampai saya hamil. Kemudian melahirkan. DAN JADI PENGANGGURAN. HAHAHAHA.

Nggak pengangguran deng aduh amit-amit. Cuti 3 bulan maksudnya. Mati gaya total dong yah di rumah. Nggak harus ngerjain kerjaan rumah apapun. Kerjaan saya cuma makan, tidur, dan nyusuin Bebe. Itu pertama kalinya dalam hidup saya bisa di depan TV seharian karena sepi kalau siang di rumah nggak ada orang, cuma berdua sama Bebe. :( Entertainment News di NET aja bisa saya tonton semuanya yang pagi, siang, dan sore. Diseling sama tidur siang sih, tapi tetep aja, masa-masa itu adalah masa-masa terlama saya quality time dengan TV. lol

Tiga bulan berlalu begitu saja. Kembali ke Jakarta. Ke rumah kontrakan yang tanpa TV. Kangen yah ternyata. Kangen sama Sule wtf. -_____- Lucu banget soalnya program-programnya Sule di NET. Nggak cheesy. 

Menghibur diri dong dengan: "ah gampang acara NET mah nonton di YouTube aja". YANG MANA NGGAK DILAKUKAN SEKALI PUN. HAHAHAHA. Sampai sekarang alhamdulillah kalau ke YouTube yang nonton yang lain. Nggak nonton acara TV juga.

Pertanyaan standar: kondisi rumah tanpa TV apa nggak sepi?

Nggak sih. Abis sibuk! Pagi bangun, JG sama Bebe pergi. Bebe ke daycare, JG ke kantor, saya leyeh-leyeh bentar terus ke kantor. Pulang kantor magrib. JG masak, saya main sama Bebe. Terus makan malem. Terus gelutukan di kasur sambil Twitteran atau Instagraman. Sambil ngobrol. Sambil main dan nyanyi-nyanyi sama Bebe. Terus tidur.

Ketinggalan berita? Wah, buat saya berita paling cepet itu di Twitter! Di detikcom sih sebenernya, tapi tetep liatnya di Twitter dulu kan. Buat info yang lebih dalam, saya sama JG baca majalahdetik biar gratis karena Tempo harus bayar. *nggak modal* lol

Kalau weekend? Tidurlah! HAHAHAHA. Bahwasanya, rumah tanpa mbak pembantu itu kemewahan yang utama adalah tidur saat weekend. Kalau bosen tinggal hop! Senayan City cuma 15 menit dari rumah. Sebulan sekali weekend di Bandung sekalian si Bebe imunisasi. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan? XD 

Jadi ya nggak pengen TV. JG sempet rewel sih pas Piala Dunia pengen TV. Tapi begitu Piala Dunianya lewat, ya udah nggak pengen lagi. Hehehe.

Daripada beli TV, kalau ada uangnya mah lagi pengen beli airfryer euy. Ituloh alat yang buat goreng-goreng tapi tanpa minyak. Tapi listriknya nggak kuat, huh. Nggak kuat dayanya sama nggak kuat bayarnya. Hiks.

-ast-  




Tentang Ibu-ibu Kompleks

on
Wednesday, March 12, 2014

Waktu kapan yah gitu, beberapa waktu lalu temen saya @mswynnz posting path. Postingnya tentang baru pindah rumah ke kompleks perumahan dan langsung dapet undangan acara ibu-ibu kompleks gitu macam arisan, dll. Di akhir kalimat (kalau nggak salah) dia nambahin: not so fast. *lupa postingan detailnya gimana wtf* pokonya intinya not so fast jadi ibu-ibu kompleks gitu. (gitu nggak win? :p)

Nah, memang ya seperti yang pernah saya bilang di postingan ini, bahwasanya ibu-ibu adalah jenis manusia yang kompleks walaupun nggak semua tinggal di kompleks (perumahan). *anjir kenapa jokesnya jadi garing ala-ala JG gini -_____-* Tapi emang salah gitu jadi ibu-ibu ala kompleks perumahan yang kerjaannya arisan, gosipan di warung, belanja bareng di pasar baru, dan segala kegiatannya itu?

Ada loh tipikal ibu-ibu yang memang senang bersosialisasi dengan para tetangga. Kebanyakan dari mereka ibu rumah tangga atau guru yang memang ngabisin waktu lama di area sekitar rumah. Mereka memang seneng aja ngajak ibu-ibu lain arisan, botram (orang Jakarta pada botram nggak sih? makan siang bareng dan bawa makanan masing-masing?), atau sekadar ngebakso bareng.

Saya juga pernah jadi ibu-ibu kompleks waktu ibu sama ayah saya naik haji. Naik haji 40 hari yah, bayangkan di wilayah rumah saya ada berapa kegiatan yang terjadi selama 40 hari itu. Di daerah rumah saya, kalau ada yang naik haji, ibu-ibunya membuatkan acara pengajian dengan tujuan mendoakan yang pergi haji dan digelar seminggu sekali DI RUMAH YANG NAIK HAJI . Which is pengajiannya di rumah saya tanpa ada ibu dan ayah saya. Cuma saya sama dua adek saya.

Jadi seminggu sekali saya yang waktu itu kerja full time jam 8 sampai jam 5 harus arrange pengajian juga. Koordinasi sama seorang ibu tetangga dan supir keluarga yang pegang kunci rumah. Karena saya baru dari kantor jam 5, pengajian abis magrib, jadi jam 5 itu di rumah harus udah siap-siap, gelar karpet, siapin suguhan, dll. Pak supir gelar karpet, ibu-ibu siapin makanan.

Masalahnya di RT saya waktu itu yang naik haji dua keluarga. Artinya ada pengajian juga di rumah tetangga yang naik haji. Seminggu dua kali broh pengajian. Kalau giliran di rumah tetangga, ya saya yang dateng kan, masa nggak dateng? Di situlah kerasa sekali jadi ibu-ibunya. Karena sambil nunggu pengajian itu biasanya ibu-ibu nyemil sambil ngobrol a.k.a gosipan segala rupa ya kaaannn. Ya sudah jalani aja. Banyak-banyak mendengarkan daripada bicara, kalau topiknya seru ya nggak apa-apa ikut ngobrol juga. XD

Kebanyakan topiknya soal anaknya, pacar anaknya (oh yes, your mom talk A LOT about your boyfriend with the entire neighbours!), soal suami-suami, banyaklah. Seru deh jadi yang paling muda. Mentok-mentok waktu itu mah ditanya-tanya soal pacar dan disuruh cepet-cepet nikah kan. XD

Nah selain waktu ibu saya ke haji. Saya juga suka dimintain tolong kalau ada tetangga nikah. Di daerah rumah saya, kalau ada anak tetangga nikah, ibu-ibu RT nya jadi among tamu alias penerima tamu dengan kebaya dan kerudung seragam tentunya. Tugas saya yaitu menyulap kerudung ibu-ibu menjadi bunga-bunga cantik nan indah di samping kepala. Jadi biasanya pagi sebelum ada yang nikah, ibu-ibu itu ngumpul di satu rumah dan sayalah yang membuat bunga-bunga itu. Soalnya kalau harus ke salon kelamaan. Ibu-ibu sekitar 20 orang itu akan selesai sekitar 2 jam, soalnya yang bisa hias kerudung cuma saya, ibu saya, sama satu orang ibu tetangga.

Acara hias menghias kerudung ini pernah membawa saya jadi juara satu lomba kreasi kerudung ibu-ibu PKK antar RT se-RW! XD Hadiahnya tempat sayur Tupperware. :')))) Aku anak yang membanggakan sekali wtf.

Nah kan jadi panjang kan ceritanya. Intinya jadi ibu-ibu kompleks itu nggak selamanya garing kok! Lagian biasanya RT yang banyak kegiatan itu solid banget! Kalau ada yang kesusahan pasti tetangga yang bantu duluan. Saling ngasih makanan juga jadi kebiasaan. Kalau di lingkungan rumah JG di Bandung, karena banyak ibu-ibu muda, ibu-ibunya suka masak bareng atau nyoba resep-resep baru di rumah salah satu dari mereka.

Tapi ya memang sisi negatif dan ganggunya pasti ada, selalu ada yang bisik-bisik sana-sini. Ada yang di depan baik, manis, senyum selalu tersungging, tapi di belakang ngomongin yang jelek-jelek. Ya sewajarnya sebuah social circle lah. Bedanya social circle di kampus isinya setara, mahasiswa semua. Social circle di kantor setara, minimal sarjana semua. Kalau di kompleks, social circle nya beragam dari yang berpendidikan sampai yang datang dari kampung dan kelakuannya kampungan banget. Bisa-bisanya kita membawa diri aja. Pilih-pilih kegiatannya, arisan oke, pengajian oke, nongkrong di warung jelas no, ngobrol nggak jelas di depan rumah no juga, ngebakso bareng no karena sini kan makan baksonya pilih-pilih. *BOHONG*

Ya sudah gitu aja. Intinya jadi ibu-ibu kompleks nggak segaring dan se-tidak menyenangkan itu kok, gimana kita menghadapinya aja.

-ast-

PS: maaf ya fotonya random itu lagi coba getty images yang baru buka gratisan buat blogger. MUAHAHAHAHAHHA.




H-10: Tips Nyari Rumah Kontrakan Baru!

on
Tuesday, August 20, 2013

Sepuluh hari lagi pemirsaaahhhhh. *throw confetti* Nggak sabar ih! HAHAHAHAHA.

Sori kalau judulnya bangke, ngetes doang ada yang search di google nggak sih dengan keyword itu. X'))))) Tapi dikasih lah tipsnya dikit spesial buat para pengantin baru. *anjir istilahnya pengantin baru dong*

Updatenya adalah semalem akhirnya bayar kontrakan. Ke bu haji dan pak haji berdikari. Nama mereka bukan berdikari, tapi baca deh postingan saya yang ini. Bayar lunas Rp 2,5 juta buat sebulan. Kalau mau, Rp 29 juta setahun.

Agak mahal ya untuk ukuran rumah dengan satu kamar. Tapi rumah baru bener-bener baru dan dibangun nggak asal-asalan. Dua lantai, lantai duanya ada satu ruangan tanpa sekat, beton juga dan ada balkon ke luar, enak. Bandingannya, rumah sahabat saya si Bayu sama Vani aja di Mampang yang lebih selatan Rp 27juta setahun, 2 kamar tidur, satu kamar pembantu. Tapi kelebihannya, ini bisa bulanan. Jadi kalau saya nggak betah atau nemu kontrakan yang lebih enak, bisa pindah.

Ini penting banget. Gimana kalau ternyata lingkungannya nggak cocok? Gimana kalau ternyata (meskipun udah dicek) rumahnya airnya jelek? Gimana kalau ternyata susah sinyal? Ya kaannn. Bulanan jadi opsi paling mending buat saya.

Hasil survey, harga kontrakan rumah tahunan 1-2 kamar emang beragam banget. Kalau rumahnya jelek, bangunan lama, bikinnya asal (keramik nggak sama, tembok nggak rata, dsb), bisa dapet 15jutaan. Kalau di gang bisa cuma 13jutaan. Kalau rumah bagus, bangunan lama rata-rata 19-20jutaan. Kalau rumah bagus, bangunan baru, rapi banget, rata-rata 25-30jutaan. Dan jarang banget yang mau bulanan, 6 bulanan aja biasanya nggak boleh. Kemarin nemu rumah baru bagus banget, dua kamar, garasi besar, udah pake AC dan kipas, ada halaman belakang LIMA PULUH JUTA aja setahun. HAHAHAHA.

Padahal pak haji yang punyanya orang Buah Batu, Bandung. Segala jurus bahasa Sunda sampai wajah memelas minta dikasihani dengan mata berbinar dikerahkan, tetep nggak dikasih sampai 35juta. *NAWAR EDAN* HAKAHAKAHAKAHAKAHAK Doi keukeuh turunnya sampai 40juta aja. Nggak deh, 40juta berarti 3,3juta sebulan, kemahalan. :p

Tips nyari kontrakan (akhirnya tipsnya nongol) adalah:
1. Jangan nyari dari jauh-jauh hari, kecuali mau bayar langsung. Cari 2-3 minggu sebelum aja, bayar buat masuk bulan depannya. Soalnya kalau nyari 2-3 bulan sebelum nikah, biasanya minta dibayar langsung, rugi 2-3 bulan dong? Kecuali mau langsung ditempatin sih. Tapi ceki-ceki dulu, banyak yang punya kontrakan cuma ngizinin rumahnya diisi oleh pasangan menikah, nggak boleh sendiri meskipun nggak bakal ada yang inep-inep.
2. Sesuaikan budget dan luas rumah. Ngertilah ya. Jangan memaksakan kehendak karena rumahnya bagus banget padahal kegedean.
3. Sesuaikan jarak ke kantor dengan harga. Saya kemarin dapet yang 19juta setahun, malah 1juta sebulan, tapi di kebon jeruk, 10 km lah dari kantor. Jauh dan macetnya nggak kira-kira, bisa stres di jalan saya. Mending yang lebih mahal tapi jauh lebih deket. Hemat ongkos dan waktu. Nggak stres.

Udah gitu aja tipsnya. HAHAHAHAHAHA. YUK!

*kembali menghitung hari*

-ast-




Cariin Kontrakan dong!

on
Sunday, August 18, 2013
Bahwa nyari kontrakan itu susah luar biasa pemirsa. *angkat bendera putih*

Jadi saya sama JG udah nyari kontrakan dari bulan Juni yang mana sekarang saya sesalkan sebagai kesalahan besar. Jangan, JANGAN nyari kontrakan dari jauh-jauh hari. Nyesel!

Soalnya waktu bulan Juni itu dapet cuma 19juta setahun, deket kantor banget, ada dua rumah (petak) dengan kondisi bagus banget dan kosong. Tapi yang punya maunya kita langsung pindah. :| Tengah Juli ke sana, udah keisi dua-duanya.

Saya sama JG rajiinnnn banget pulang kerja puter-puter daerah deket kantor saya (daerah Palmerah sampai binus) dan nyari-nyari terus. Nggak dapet-dapet yang cocok. Pilihan lokasi emang terbatas sih, deket kantor saya atau kantor JG, nggak mau yang jauh ke mana-mana. Tapi pasti dapet! *optimis*

Nah hari ini H-11, niat mulia hari Minggu ini adalah lari ke senayan lanjut cari kontrakan. Dengan setelan sporty banget (yaiya abis lari), kita berdua muter-muter lagi.

Ada sih bagus, tapi di gang. Bagus sih tapi lantai atasnya dari kayu. Ih ini bagus banget, harga cocok, bapak yang punya baik banget, tapi kejauhan. Ada yang bagus banget, harga cocok, deket kantor, tapi nggak ada garasi. Ada yang mayan bagus, harga murah, deket kantor, tapi di jalan depan rumahnya banyak LALAT ih. Ada yang bagus banget, deket kantor, ada garasi, tapi setahun 50juta. HARUS GIMANA!

Itu yang nyari rumah dari sambil nyanyi-nyanyi dan bagi tugas (JG liat kiri saya liat kanan). Sampai meleleh di motor dan beberapa detik sekali ubah posisi duduk. Mau nangis.

Sebenernya bisa-bisa aja sih ngekost dulu.Tapi udah senep banget sama yang punya kostan sekarang. Nyebelin banget dan cerewet sama hal-hal kecil.

Akhirnya diputuskan ambil yang bagus banget, harga cocok, deket kantor, pinggir jalan besar, tapi nggak ada garasi. Itu udah dapet dari minggu lalu. Kelebihannya dia bisa bulanan. Sebulan 2,5juta ajah. BODO AMAT. Kekurangannya lagi, ibu haji yang punya kontrakannya belum angkat telepon sampai sekarang. T____T

Terus yah, fakta unik soal kontrakan. HAMPIR SEMUA yang punya kontrakan itu menyebut dirinya pak haji dan bu haji. Puyeng. Jadi di phonebook namanya "Pak Haji Kebon Jeruk", "Bu Haji Berdikari" iyak itu yang di belakang nama jalan di mana kontrakannya berada. Puyeng.

Udah ah gitu aja. Iya emang posting ini nggak makna. Curhat doang. Cuma pengen misah-misuh pegel banget abis puter-puter Jakarta. Jadi kemana ini Bu Haji Berdikari? :|