Selfie ini ... adalah selfie pertama setelah nikah.
Setelah dipikir-pikir sebelum nikah saya dan JG punya selfie buanyak sekali. Maklumlah ABG pacaran kan tiap pergi bareng selfie. Hahaha.
Yang ini pun keliatannya selfie biasa aja kan ya. Tapi sebenernya di balik selfie ini tersimpan satu cerita. Cerita menikah sesuai impian.
Saya pribadi awalnya takut menikah. Maklumlah alpha woman yang
Memang kalau tepat mah ya, cita-cita pun sama. Bukan, pesta pernikahan impiannya bukan garden party. Bukan juga pool party. Bukan juga pesta dengan tema ini itu dan ngundang seluruh rakyat kerajaan ala princess Disney. Impian saya dan JG cuma satu, menikah sederhana.
Kata yang digunakan memang "sederhana" tapi prosesnya jauh sekali dari sederhana. It's complicated kalau kata status Friendster mah. Karena menikah sederhana artinya pasti tak bisa mengundang banyak orang. Padahal kami berdua punya banyak teman, belum lagi kolega orang tua yang super buanyak.
Saya pun anak perempuan pertama. Plus sejuta alasan yang bikin menikah sederhana jadi seperti mustahil. Dari hasil hitung kasar, kalau semua kenalan ayah dan ibu harus diundang, paling tidak 1.800 undangan. And I won't do that. Menyapa dan bersalaman dengan tiga ribu enam ratus orang dalam sehari? Not in my wedding day. :D
Belum lagi memikirkan harus mempersiapkan acara resepsi berbulan-bulan. Uang yang keluar bisa di angka puluh bahkan ratus juta. Nggak deh. Persiapan heboh yang bikin stres dan uang keluar banyak hanya untuk 3-4 jam resepsi? Bukan kami.
Setelah perdebatan alot dengan ayah ibu selama satu tahun. SATU TAHUN, YES RIGHT. Akhirnya diizinkan untuk menikah di rumah saja. Sesederhana mungkin, seperti yang kami cita-citakan.
Saya hanya mengundang 10 teman. Sepuluh sahabat saya yang paling akrab. JG hanya mengundang ... errr ... nobody. HAHAHAHA. Pusing dia kebanyakan temen jadi udalah nggak usah undang siapa-siapa. Meskipun pada akhirnya satu teman kuliahnya memaksa datang.
Kok iso sih nikah diem-diem? Yaiya dong, kan diem-diem aja dari awal. Dari lamaran diem-diem aja. Persiapan pun diem-diem aja. Cuma nulis di blog ini, dan blognya diproteksi. Nggak update status di socmed mana pun. Maklum followers sini di socmed banyak sis, takut menimbulkan huru-hara. Hahaha.
Sampai hari H, hanya segelintir teman yang tahu. Tepat setelah akad, saya baru mengabarkan di Twitter, meng-upload foto selfie di Instagram, dan mengabari grup chat angkatan kuliah. Saya beri mereka semua URL blog ini. HURU HARA. Semua kaget, tapi mereka tentu memberi selamat dan kami meminta doa. Itu yang penting, kan?
Nah, karena nggak pakai resepsi, ibu saya punya ide brilian. Gimana kalau habis akad kita pergi ke Panti Jompo?
Nggak pikir panjang, saya dan JG langsung setuju. Jadi setelah akad, kami sekeluarga pergi ke Panti Jompo (yang sudah disurvey dulu tentu saja sebelumnya, dan dikasih undangan, dan di-briefing, dll). Di sana sudah siap satu meja prasmanan dan satu rombongan kesenian Sunda untuk hiburan. Juga para nenek yang sumringah menunggu kami datang sejak pagi.
Melihat semua nenek-nenek itu, saya sadar ini keputusan tepat. Menikah di gedung, jadi ratu
Usai makan dan acara hiburan, saya menyalami dan memeluk para nenek itu satu per satu. Semua mendoakan. Sebagian bilang teringat pada cucunya yang seumuran saya. Sebagian tak bisa berkata-kata, hanya memeluk dan menepuk bahu saya. Tapi satu hal: saya bahagia, mereka bahagia. :)
Masih penasaran soal pernikahan saya? Ini videonya. Tonton deh, dijamin nggak nyesel. Hahaha. Nyesel sih karena sampai sekarang nggak suka makeupnya. Tapi sudahlah toh foto nikah aja nggak dipajang HAHAHAHA. Nggak peduli banget astaga sama hari pernikahan sendiri.
Pada akhirnya itu pula alasan awal blog ini dibuat. Untuk jadi saksi semua rekam jejak perjuangan pernikahan impian kami. :)










