Belajar Berkomunikasi dengan Balita

on
Wednesday, October 28, 2015

Yaelah sis, anak lo satu doang masih kecil pula sok-sokan mau nulis tips begini. XD

NGGAK APA-APA YAAAAA?

*mengabaikan yang melarang kemudian lanjut nulis lol*

Jadi pernah di daycare ada anak namanya Z. Si Z ini laki-laki, umurnya dua tahun. Dan seperti layaknya anak laki-laki umur 2 tahun, nggak bisa diem. Lari-larian mulu. Saya sore itu jemput Bebe kan, dan lihat jempol kaki kanan si Z berdarah.

"Mbak, itu jempolnya kakinya Z berdarah tuh," saya lapor sama mbaknya sementara si Z ini seolah nggak berdarah atau apa. Tetep lari-larian dan main terus.

"Wah iyaaa, kenapa nih dek? Kamu kalau ada sakit tuh nggak pernah bilang," kata mbaknya sambil membersihkan lukanya. Luka kecil, kayanya kakinya kepentok atau nendang sesuatu.

Duh, ngilu. Saya sendiri sih bertekad kalau Bebe harus bisa mengkomunikasikan apa yang dia rasakan. Minimal kalau sakit harus bilang sakit. Tapi gimana caranya ya hmmm hmmm hmmm hmmm. *mikir keras*

Why focus on communicating with your baby? Because early speech and language skills are associated with success in developing reading, writing, and interpersonal skills, both later in childhood and later in life. -- source

Masalahnya balita seumuran Bebe (sekarang 16 bulan) itu belum bisa ngomong jelas kan. Sampai umur setahun Bebe belum bisa ngomong, dia cuma bisa bahasa alien babababtatatamamama. Bebe baru bisa bahasa cadel itu yaaa baru sekitar 2-3 bulan terakhir.

Akhirnya caranya gini. Kalau dia nangis atau jatuh, saya biarkan dulu biar dia tahu kalau tidak hati-hati nanti jatuh. Kemudian akan saya tanya: "Ada yang sakit? Mana yang sakit? Ini sakit? " Sambil menunjuk beberapa bagian tubuh yang mungkin sakit.

Waktu belum bisa ngomong, dia biasanya jawab random "tututuciciitututu" sambil menunjuk bagian tubuh yang (mungkin ya kayanya) sakit. Kalau yang saya tunjuk nggak sakit, dia nggak ikut tunjuk.

ENTAHLAAHHHH, bagian yang dia tunjuk sambil tututuciciitututu itu beneran sakit apa nggak. Yang jelas saya selalu mengulang-ulang pertanyaan mana yang sakit sambil menunjuk ini itu. Kemudian saya usap-usap. Sampai akhirnya kata "akit" (sakit) adalah one of Bebe's first words gitu deh. Hahahaha.

Sampai bulan lalu, lagi di Bandung.

Dia cranky bangeeettt. Dikit-dikit nangis. Sampai saya ngerasa ini nangisnya ada yang nggak beres. Terus saya tanya, ada yang sakit? Dia tunjuk lutut kanannya. Saya ulang di kesempatan berbeda, dia tetep tunjuk lutut kanannya sambil bilang "akit akit".

Pas balik ke Jakarta, ketemu mbak pijit di daycare, ternyata bener lutut kanannya keseleo. Di situ saya langsung merasa sukses. #proud -______- Sukses membuat Bebe bisa menunjukkan mana yang sakit.

Nah, sekarang dia udah bawel banget. Kalau lagi lari-lari terus jatuh, dia sudah otomatis bilang "ah! tatuh!" (ah! jatuh!) Dan biasanya langsung duduk sambil ngusap-ngusap sendiri bagian yang sakit dan bilang sambil manggil-manggil saya minta perhatian "akit! akit!". *GEMES IH GEMES* *anak sendiri dipuji-puji moloooo* *bodo amaaattt*



*

Kenapa sih harus mengajari anak balita untuk terbuka?


Ya untuk mengkomunikasikan yang dia rasakan. Kalau ada yang sakit, kita langsung tahu karena dia bilang.

Kalau lapar atau haus, dia juga bisa bilang. Bebe kalau mau mam akan bilang "mamamamamam" dan kalau mau minum bilang "nyum! nyum!"

Terus juga saya ajari untuk bilang enak setiap dia makan atau minum sesuatu (selain air putih yah). Pokoknya setiap dia makan, hap! selalu saya bilang "nyami! nyami! nyami!" dengan nada tertentu. Dia akan menirukan. Terus saya ajari juga untuk bilang "enaakkk!" sambil acung jempol dan dia akan menirukan "nyaaakkk!" sambil (berusaha) acung jempol.

Kemudian saya lagi berusaha agar dia mengkomunikasikan rasa senang. Misal kalau dia seneng, saya berulang-ulang bilang "horeeee, seneng ya?! Bebe seneng kan? Bilang hore, horeeee aku senaaangg!" ngomongnya harus dengan ceria dong. Dia biasanya menanggapi lebay dengan jalan muter-muter atau menghentak-hentakkan kaki ke lantai.

Ini yang senang ini masih susaahhh sekali. Peernya banyak-banyak sabar aja. Karena mungkin si Bebe tidak melihat urgensi, kenapa sih kalau seneng harus bilang? Kalau sakit sih oke ya harus bilang karena butuh comfort gitu, sakit kaann. Tapi kalau seneng?

Ya tapi namanya juga usaha. Pokoknya semua ini usaha agar dia terbiasa mengkomunikasikan semuanya, semua jenis perasaan dari sakit sampai senang. Harapannyaaaaa, dia sampai dewasa juga akan terbiasa mengkomunikasikan perasaannya.

Harapannya, sampai dia menikah nanti *JAUH BROOO* dia masih akan telepon saya setiap hari untuk cerita ngapain aja hari ini seperti yang JG lakukan pada ibunya sampai sekarang.

Ada amin? Atau punya cerita serupa? Share juga dong cerita komunikasi sama bayi! :D

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!
11 comments on "Belajar Berkomunikasi dengan Balita"
  1. "Bebe senang gak?? Senang kaann?? BEBE SENANG KAAANN???!!! HAH??!"

    ReplyDelete
    Replies
    1. suatu hari ketika Bebe bisa ngomong lebih banyak dia jawab: ENGGA T_____T

      Delete
  2. bebe akankah dipanggil bebe sampai besar nak? *ayo bebe coba dijawab* hiihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah sebenernya sekarang udah nggak dipanggil bebe sih. cuma di blog aja. XD udah kagok banget soalnya anaknya udah sama sekali bukan bayi XD

      Delete
  3. tara juga gitu mba, kalau kenapa2 saya pasti tanya, mana yang sakit, trus dia nunjukin bagian yang sakit.a bis itu minta dielus2. Beberapa hari ke depan ituuu aja topik dia, dikit2 nunjuk bagian yang sakit sambil minta dielus, caper bgt hahahaha. Tapi alhamdulillah ya, dulu Tara kena invaginasi dan ga sampai operasi gara2 Tara bilang sakitnya dimana, jd langsung cepat tindakannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya caper banget tapi yaaa semoga berlanjut ketika dia patah hati, yang dicari emaknya *HALAH*

      Delete
  4. Anakku berkomunikasi. Hmm.... lupaaa! Secara gitu anak anak udah bangkotan. -____-

    Beklah, hanya satu yang berkesan banget, Derry. First come to this f**f****** world dia menatap mataku dan seolah bilang "Ma.. maa.. " dan aku dokter ma bidan sampe takjub.

    Tapi kurasa it's just because the baby (all babies) kan memang bubbling. Tapi tetep ge er lah saat itu.

    Nah, kata kedua terjadi di usia 9 bulan. "BOWAAA" (bola) . Bukan ma pa atau mbok.

    ReplyDelete
  5. Soal sakit ini emang jadi ajang caper ya hahahaha.. anakku klo ada yang sakit pasti langsung merengek dan bilang "ibu, ini sakit..tisu bu, usapin bu, obat bu" padahal lukanya udah kering dari jaman kapan LOL

    ReplyDelete
  6. Anakku masih bayi banget Mak, tapi memang udah distimulus utk berkomunikasi, kadang daku capek sendiri karena semangat kali ngebawel wekekekek, baby Khalil respon dg tatapan mata tanpa ekspresi apapun :-P yg penting usaha ya kan Mak

    ReplyDelete
  7. Naia udah dibiasain juga kayak ginii dari dulu, sekarang Alhamdulillah bisa lancar mengkomunikasikan apaaa aja yang dia rasain. Malah bisa ngeliat kita lagi kenapa juga. Kalo kenapa2, dia bilang "mama kok gak senyum?".. semoga sampe gedeee... Bebe juga yaaa.. ampe gede bisa kayak JG juga ama emaknyaaa :D

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)