Tentang Kanker Payudara, Let's #FinishTheFight!

on
Thursday, October 22, 2015

Dini hari itu, 24 Juni 2013 pukul 1 pagi. Dua bulan menuju pernikahan kami, saya dan JG berjalan menyusuri trotoar Kuningan yang sunyi senyap. Kami baru datang dari Bandung. Dari pool travel, berjalan kaki menuju kantor JG untuk mengambil motor yang akan mengantar kami berdua ke kost masing-masing.

Malam itu saya gelisah. Ponsel saya pegang erat. Berkali memeriksa layarnya karena seolah mendengar nada dering. Padahal tidak ada siapapun yang menelepon.

Pukul 4.30, telepon yang "ditunggu" akhirnya datang. Ibu saya menelepon. Tante saya meninggal dunia. Menangis, saya menelepon JG, minta dijemput kembali untuk kemudian kembali ke Bandung. Mengantar tante kesayangan saya kembali pada Sang Pemilik Segala-galanya.

Ya Allah. T_______T Bahkan menulis ini pun saya menangis lagi. T_______T

*

Ibu saya anak kedua dari 5 bersaudara, kelimanya perempuan. Anak pertama sudah puluhan tahun tinggal di Denmark bersama suaminya yang juga Danish. Bude saya pulang ke Indonesia setahun sekali.

Tante saya yang meninggal ini anak keempat, ia bekerja di sebuah bank swasta. Sebagai keponakan paling besar dan sesama perempuan bekerja, saya dekat sekali dengannya. Sayalah partner in crime-nya akan segala sesuatu yang berbau teknologi. Di keluarga, kami yang pertama kali mengantongi Blackberry di tahun 2009 dan dengan semangat mempengaruhi anggota keluarga lain agar pakai BB juga.

Tante saya ini juga satu-satunya yang selalu update dengan info tiket pesawat murah dan diskon-diskon di mall. Ia beberapa kali meminjam ransel saya untuk pergi berlibur dengan anak-anaknya. Kami selalu bertukar pesan bahkan menelepon di jam kerja hanya untuk memberitahu ada buy one get one di store apa di mall mana. That sweeet memories. :(

Setiap tahun, tante saya rajin full medical check up. Tak pernah sedikit pun ada tanda-tanda kanker atau penyakit lainnya. Sampai tahun 2012 ia "tiba-tiba" divonis kanker payudara sebelah kiri stadium 2B.

Sungguh, kalau sekarang itu terjadi, saya bisa bilang: "Angkat! Operasi! "

Tapi 2 tahun yang lalu, keluarga kami tak tahu banyak soal kanker. Dokternya bilang belum perlu diangkat, maka kami tak terus memaksa.

Ternyata salah besar.

Beberapa bulan kemudian kondisinya memburuk. Ia periksa ke dokter lain di rumah sakit lain, kankernya sudah jadi stadium 3. Kondisi tante saya terlalu lemah untuk operasi dan kemoterapi. Dan dalam kondisi payudara bengkak, ia tetap bekerja.

Pikirannya selalu positif bahwa ia pasti sembuh. Ia bercerita bahwa di sela jam kantor ia pasti harus duduk di lantai untuk bersandar ke tembok dan selonjoran karena tak sanggup lagi duduk di kursi dengan kaki tertekuk.

Tiga belas hari sebelum meninggal ia dirawat di rumah sakit. Teman-teman kantornya rutin datang setiap makan siang. Mereka menempelkan kertas A4 di tembok depan kasurnya dengan kata-kata semangat dan doa cepat sembuh. Sahabat-sahabatnya sejak SMA bergantian ikut menginap dengan keluarga.

Ia dirawat di kamar dengan sofa dan tempat tidur besar dan boleh dijenguk jam berapa pun. Kamar itu tak pernah sepi. Ia pun tak jadi orang lain. Caranya bercanda, caranya tertawa, caranya memarahi orang, tetap sama. Yang berbeda ia tak lagi bisa duduk. Bicaranya sudah tak jelas. Ia yang selalu kurus, cantik, berbaju kerja, bersepatu hak tinggi, kini tinggal kulit dan tulang.

Ia sudah tak bisa makan apa-apa. Mulutnya kering dan berdarah karena minum pun sudah tak bisa. Kankernya sudah menyebar sampai usus.

Di saat yang sama, anak sulung perempuannya Kakak, disibukkan dengan perpisahan SD dan persiapan masuk SMP. Anak keduanya Ade baru kelas 3 SD, laki-laki. Setiap hari keduanya ikut menemani di rumah sakit.

Dua hari sebelum tante meninggal, Kakak tampil di sekolah diantar ayah dan tante saya yang nomor 3. Kami bergantian menjaga di rumah sakit. Saat itu ia sudah berbeda. Bicara sudah ngalor-ngidul dengan bahasa Inggris kadang bahasa Sunda. Saya sudah tak enak hati.

Hari Minggu sebelum kembali ke Jakarta, saya masih menemaninya seharian di rumah sakit. Malam kembali ke Jakarta, subuhnya saya mendapati ia sudah tidak ada. T______T

Patah hati luar biasa. Saat pemakaman tak ada yang bisa kami lakukan selain berpelukan dengan kedua anaknya yang masih sangat kecil. Kedua sepupu saya.

Tak pernah terbayang sedikitpun, harus ditinggal ibu mereka di usia semuda itu. Saya takut punya anak. Takut sekali. Saat strip dua muncul di test pack, saya menangis lama sekali. Seperti ada trauma. Saya terbayang dua sepupu saya yang tak lagi punya ibu. Saya takut tidak bisa menemani anak saya sampai dewasa karena umur itu benar di luar kuasa manusia. Ya Allah. T______T

Kini kami sekeluarga teredukasi dengan baik tentang kanker payudara. Tugas kami berikutnya hanyalah menyebarkan ke sebanyak mungkin orang. Jangan lagi ada korban. Lawan dengan pengetahuan! Periksa payudara secara rutin satu bulan sekali. Ada yang janggal dengan payudara, cepat periksa ke dokter. Cari second opinion, cari third opinion.

Dan kalau sayang keluarga, makan sehat, olah raga, jangan merokok dan minum beralkohol untuk meminimalisir risiko kanker.

*

Jadi ya, kanker payudara memang mengintai kita semua. Bukan paranoid tapi bahkan orang yang rajin medical check up pun bisa kecolongan. Sebalnya, penyebab kanker payudara sampai saat ini tidak diketahui pasti. Lengkapnya lihat infografis di bawah ini ya. Infografis ini saya buat sendiri. Sebarkan pada sebanyak mungkin orang ya.




Lebih lengkap tentang kanker payudara bisa diunduh di sini.

#finishthefight #gopink #breastcancerawareness.

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

10 comments on "Tentang Kanker Payudara, Let's #FinishTheFight!"
  1. ngeri denger ceritanya, apa lagi kanker payudara itu penyakit nomer 1 yang paling bahaya dan menyerang wanita, turut berduka cita ya atas meninggalnya tante nya anisa

    ReplyDelete
  2. Turut duka cita, Mbak. Semoga arwahnya tenang dalam damai. Kanker tuh emang nyeremin, kadang malah nggak keliatan kalau lagi menjalar, tau-tau udah parah aja. Kudu kita sendiri yg rutin check up dan sadari sih.

    ReplyDelete
  3. Duh, ikut perih baca ceritanya mbak :(

    ReplyDelete
  4. Hiks..hiks..ikut sedih bacanya mak.. :( Semoga anak-anak beliau diberi kesabaran ya..

    ReplyDelete
  5. Terharu bacanya, pastinya sangat kehilangan mbak. Beberapa tahun yg lalu, saya ada tumor payudara sebelah kiri. Tumornya masih kecil dan sdh diangkat. Alhamd so far tdk ada keluhan tp saya masih berniat utk mammografi / at least sadar untuk SADARI. Thanks for sharing , kita jadi lebih aware. :-)

    ReplyDelete
  6. Rest in peace untuk tantemu Mak Anissa.. Jahatnya kanker.. Seperti yang saya bilang, kanker suka menipu.. Kita sakit tapi tidak merasa 'sakit' .. Sampai kankernya menyebar dan menjadi lebih serius. Thanks for joining #finishthefight #gopink #brastcancerawarenessmonth. Big hugs! Let's fight it.. Jangan takut.. Dan selalu semangat ;).. Cheers ..

    ReplyDelete
  7. Saya share infografisnya ke temen2 ya mak icha, terimakasih :)

    ReplyDelete
  8. Saya share infografisnya ke temen2 ya mak icha, terimakasih :)

    ReplyDelete
  9. Saya share infografisnya ke temen2 ya mak icha, terimakasih :)

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)