#FAMILYTALK: Dekat dengan Anak

on
Saturday, July 23, 2016

I know the title is a lil bit weird tapi ya itulah intinya. Intinya adalah gimana cara kalian buibu mendekatkan diri dengan anak? Bagaimana dengan anak selalu terbuka sama kita?

Apalagi buat kalian yang nggak dekat sama orangtua ya, pasti bertekad untuk nggak mau gitu sama anak dong? Saya sendiri sih tengah-tengah sebenernya. Saya cukup dekat dengan ayah dan ibu, tapi tidak sedekat itu sampai level curhat saat saya punya masalah dengan pacar saya.

Baca punya Isti:

Pas ketemu JG saya kaget karena saya segitu mah nggak ada apa-apanya hahahahahha. JG tipe yang cerita SEMUANYA sama ibunya. Yang setiap hari telepon ibunya dan cerita segala macem. Agak jet lag dan culture shock sih karena ketauan kalau berantem, berantem kenapa lol. Pas pacaran, nggak sekali dua kali dia marah entah kenapa dan saya nanya ibunya. :|

Untung pas sekarang nikah mah nggak. We tend to hide bad news and only tell them the good ones. Karena takut mereka khawatir aja sih.

Karena liat JG begitu, saya mau Bebe juga gitu nanti di masa depan. Curhat sama saya soal apapun dan nelepon saya tiap hari muahahahahaha *posesip*. Caranya gimana ya?

Nggak tau-tau amat sih lol. Ya gimana, punya anak aja baru 2 tahun terakhir kan.

Saya cuma lakukan hal-hal ini.

1. Bertanya
Kalau udah sama saya, saya tanya Bebe banyak hal. Di daycare ngapain aja, siapa yang nangis, siapa yang udah pulang duluan, makan sama apa, dan apalah banyak banget pokoknya. Dan dia jawab.

Saya juga bercerita apa yang saya lakukan. Tadi ibu blablabla. Dia nggak ngerti-ngerti amat sih tapi ya tidak ada salahnya memulai sesuatu yang baik dari kecil. Dan bertanya ini bisa jadi quality time banget.

So far, Bebe belum pernah bohong. Kalau mbaknya bilang dia tadi nangis dan saya tanya, ia jawabnya sama. Kalau mbaknya bilang dia tadi di timeout, maka ia pun tidak berbohong. Karena apa?

2. Tidak mudah marah

Saya berusaha tidak memarahi Bebe untuk hal-hal kecil, apalagi yang sifatnya tidak sengaja. Waktu kecil, ibu saya selalu marah kalau saya misalnya menumpahkan sesuatu, karena peer beres-beresnya katanya. Padahal ya saya juga mana mau kan menumpahkan sesuatu.

Pada Bebe, saya berusaha sabar. Ya kalau menumpahkan minum, diberi lap aja diminta lap sendiri. Kalau Bebe mainannya berantakan, ya tinggal diminta aja baik-baik untuk bereskan mainan. Ini susah banget sih.

Tapi "takut dimarahi" ini efeknya besar. Dulu banyak hal yang tidak saya ceritakan pada ibu saya karena saya tau dia akan marah. Jadi ya banyak hal yang saya sembunyikan juga. Makanya saya nggak mau Bebe seperti itu.

3. Menjawab semua pertanyaan Bebe

Yang mana satu pertanyaan bisa ditanyakan lebih dari 10 kali kalau dia belum ingat. Misalnya di rumah mertua, ada kumang punya kakak sepupu Bebe.

Bebe: "ibu ini apa?"
Ibu: "ini namanya KU-MANG"
Bebe: "cumang ibu? ini apa ibu?"
Ibu: "ini KUMANG bukan cumang"
Bebe: "cumang ibu cumang?

Dan seterusnya sampai dia ingat kalau itu namanya kumang.

Saya nggak berani nggak jawab. T______T Banyak saya liat ibu-ibu yang nggak jawab anaknya. Dijawab dengan.

"Iya dek duh udah sih kok nanya-nanya terus!"

atau

"Iya udah ah ssttt berisik!"

T______T

Kasian. Belum pernah sekali pun saya suruh Bebe berhenti ngomong dan percayalah dia anaknya cerewet banget.

Jadi inget kemarin-kemarin di Kidz Station Sency ada anak kecil. Mungkin sekitar 3 tahunan karena badannya lebih gede dari Bebe. Dia ngomongnya belum lancar, payah banget, tapi dia blabbering sambil tunjuk ini itu. Dan ayah ibunya lempeng aja kaya anaknya itu bisu. Mereka sibuk sendiri cari-cari mainan. Nggak nanggepin sama sekali.

Saya sapa dong karena nggak tahan. Ternyata dia cuma tunjuk mainan dan sebut namanya.

Dia: "mobil" *sambil tunjuk mobil*
Saya: "wahhh iya ini mobil ya, pintar!"
Dia: "kereta" *sambil tunjuk kereta*
Saya: "iya itu kereta namanya Thomas"

Dan taukah kalian pas mereka mau bayar ke kasir, anak ini nggak mau beranjak dan malah pegang tangan saya, masih sambil ngomong dan nunjuk ini itu.

PATAH HATI. T_______T Kasian banget itu anak nggak ditanggepin sama ayah ibunya sampai ia rela pegang tangan saya yang stranger karena saya nanggepin dia.

Ibunya malu: "Dek, itu tangan siapa, salah mama ya."

Saya: "If you're his mom, then act like one."

*tapi dalam hati*

-________-

Ya kebayang nggak sih anak-anak yang nggak ditanggepin dari kecil gini, pas gede ga ditanggepin juga dan malah jadi ngobrol sama orang lain. Malah jadi lebih nyaman cerita sama orang lain. Jangan sampai itu terjadi sama Bebe.

T_______T

Apalagi ya? So far itu aja sih. Ada yang mau menambahkan?

-ast-
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


FOLLOW @annisast ON INSTAGRAM!

9 comments on "#FAMILYTALK: Dekat dengan Anak"
  1. Huaaa kasian tuh anak yang dicuekin emak bapaknya. T_T

    ReplyDelete
  2. Saya lg nyoba yg pertama dan terutama ketiga buat adik saya (karena blm nikah dan blm punya anak hahaha) berusaha sabar dan selalu nanya2 walaupun akhirnya dia kesel sendiri nanggepin pertanyaan saya. tp yg penting make conversation sebanyak mungkin barangkali dia ada masalah apa nggak ketahuan gara2 gak cerita hehe

    ReplyDelete
  3. Request bahas dekat dengan mertua doong hehe

    ReplyDelete
  4. Ahiya, saya juga punya prinsip yang sama buat anak Mbak Icha. Sedihnya baca soal anak di toko mainan itu. Hiks. Kadang saya sampe ngantuk dan bosen sendiri jawabin pertanyaan anak pas nyetir pulang setelah dia seharian di daycare. Hiks.

    ReplyDelete
  5. Sama sih kayak gitu. Tapi yang berusaha nggak marah masih belajar. Susah banget, huhuhu.

    ReplyDelete
  6. bener kak banyak-banyakin nanya ke anak yang masih kecil sebelum dia kenal istilah kepo -_____-

    ReplyDelete
  7. Mba icaaaa, Sekarang saya sedang mencoba menerapkan ke adik saya (remaja), untuk selalu menemani kalau dia ada masalah, agar tidak curhat kepada orang lain, yang bukan keluarga. Dan alasan kenapa dia tidak mau bercerita kepada orang tua yaa, "malas, mau curhat ujungnya malah dimarahi".

    selain itu juga menghargai setiap prestasi anak, meskipun hal kecil. Jangan langsung marah ketika anak sedang dapat nilai jelek, atau tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Sama aja seperti kita sih, anak pun mengalami sedih saat dapat nilai jelek, kalau usahanya tidak dihargai, jadinya malas. :(

    ReplyDelete
  8. alhamdulillah sya selalu berusaha menerapkan itu ke anak-anak aku (udah punya dua krucil 4 th dan 3 th) :D,., alhamdulillah walaupun kadang suka geregetan sama tingkah mereka yang susah disesuaikan, tapi asal berusaha dan ketika kesel cepet-cepet tarik napas panjang dan everything is fine ga jadi deh marah2nya.

    ReplyDelete
  9. hmm apa ya? selain yg diatas berusaha saja sih ketika kapanpun dia ingin cerita, ibunya hadir, dan semua hal lain yg lagi dikerjakan dilempar dulu, supaya fokus, kemudian ada timing & seninya, berusaha nggak langsung menyimpulkan atau menilai, kemudian...ah kepanjangan nanti ceritanya, maaf...:))

    ReplyDelete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)