Image Slider

#FAMILYTALK: PARENTS TAG!

on
Saturday, September 24, 2016
 
Holaaa!

Ya nggak udah panjang lebar intinya kalau jawabin question tag mah lagi nggak ada ide aja hahaha.

Baca punya Isti:

1. How many children do you have?
And how old are they?

Well. 1 son, 2y3m.

2. What are your proudest and most frustrating moments as a parent?

Last night when he was trying to wear his pants by himself. I'm so proud that he can do it yet so frustrated waiting because he's done that in 15 minutes.

Kalau jadi orangtua nggak sabaran, itu pasti udah direbut deh celananya terus pakein ajalah. 10 detik kelar. Tapi kalau gitu kapan belajarnya?

Jadinya serah deh, kebalik aja sampai 2x. Kebalik, gue bantu balikin, kebalik lagi T_______T Gue balikin lagi, baru deh bener. Berikutnya adalah dia bingung cara ngeluarin kaki dari bolongnya. 

Yah, sampai akhirnya bisa keluar, kemudian dia berdiri dan tarik ke atas. Proud! My frustration gone instantly. lol.

3. How do you discipline your child/children?


1. Tidak pernah kalah dengan tangisan
2. 2-5 minutes time out.

*nanti nulis detail ah soal time out*

4. Do you co-sleep?

YES. Karena ga punya kamar lagi hahahaha sad. Ada sih kamar tapi di atas. :(

5. What is your one MUST HAVE piece of baby equipment?

Baby bouncer, bisa anteng banget duduk di bouncer. DULUUU GENGS DULU. 

6. Name one thing you bought before you had your baby and you never ended up using?

Nursing apron. Nyoba dipake atau dibawa maja nggak. Hahahaha.

7. Have you always wanted kids? How many more do you plan on having?

I never wanted kids but i also had never not wanted kids. None.

8. Do you think your relationship with your spouse has changed since you had children? Better or worse?

Better. We changed from a romantic lovey dovey to annoying high-pitch-baby-song-singer HAHAHAHAHA

9. Date night? How many nights (or days) per month?

NEVER. 

10. How is your relationship with friends since having a child?

Udah pernah gue bilang di postingan sebelumnya, gue udah hampir nggak pernah nongkrong atau ketemu sama temen-temen. 

11. How many cars does your family have?

1 aja soalnya garasi cuma 1 #persoalan

12. Dream vacation with your kiddos AND one without the kiddos?

Japan and ... Japan. The Wizarding World of Harry Potter to be exact hahahaha.

13. Where do you shop for your kids?

Randomly. Biasanya kalau lagi di mall dan ada diskon, gue beli banyak sekaligus terus berbulan kemudian nggak beli lagi. Ada juga satu FO di BTC Bandung yang murah-murah dan ya gitu sama. Beli sekaligus banyak terus ga beli-beli lagi.

14. Favourite mommy makeup and skin care products?

WTF IS MOMMY MAKE UP?

15. Since becoming parents, do you notice you act more like your own mother (for mom) / father (for dad)?

Not really.

16. Piercing a baby’s ear: do or don’t?

Don't. (Meskipun gue ga punya anak perempuan nih ya). Kalau pun suatu hari dia mau tindik ya dia akan tindik dengan kemauan dia sendiri. Kenapa harus kita yang nindik? Untuk nunjukkin dia perempuan? Kenapa harus ditunjukkin emang? lol

17. Bath or shower? (for you and child/children)

Not even a prob.

18. Is mom back to her pre baby weight?

Yes. Kayanya sebulan gue udah balik ke berat normal deh. Nyusuin sejam sekali nurut ngana nggak bikin kurus?

19. College dreams: Do you expect your kids to go to college? Or would you let them decide for themselves?

Kuliahlahhh. Tapi kuliah lah di tempat yang sesuai passion. Kalau lulus SMA belum tau mau kuliah apa, ya jangan dipaksain. Tunggu aja setahun, community service dulu, magang-magang dulu, asal nggak nganggur aja di rumah. 

Karena kuliah itu mendewasakan. You're not a same person before and after college life.

20. Finish these sentences: “you know you’re a mom when you______?” “You know you’re a dad when______?”

Harus buru-buru jam 5 teng langsung pulang. T_____T Aku suka kerja tapi aku juga suka Bebe. -_______-

Oke itu aja ternyata. See you next week!

-ast-

source:
https://labellemama.com/tag/20-questions-for-parents-tag/


Cut the Carb, Cara Gampang Kendalikan Nafsu Makan

on
Thursday, September 22, 2016
[SPONSORED POST]


Kalau ngomongin berat badan, saya sering dianggap remeh. Sebabnya badan saya kecil. Hahaha. Padahal makan saya banyak. Yang sering dianggap jadi biang kerok cuma satu: menyusui.

Iya, saat hamil, berat badan saya hanya naik 10 kilogram. Melahirkan dan menyusui, turunnya 12 kilogram. Malah minus kan. Padahal saat itu makan saya banyak sekali, dua kali porsi sebelum saya hamil dan melahirkan. Tapi ya sepertinya wajar karena semua demi ASI yang melimpah.

Kini usia Bebe sudah 2 tahun 3 bulan, udah nggak nyusu-nyusu amat. Tau-tau saya timbang badan … jeng jeng … naik 3 kilo dari berat sebelum hamil! Ada apa ini?!

Setelah ditelusuri itu ternyata karena porsi makan saya masih porsi makan ibu menyusui yang harus pumping 3 kali di kantor. Padahal sekarang saya sudah berhenti pumping, menyusui pun hanya sebelum tidur. Sementara porsi makan saya hampir selalu seporsi penuh ukuran rumah makan padang, bukan rumah makan cepat saji yang sedikit sekali itu hahaha.

Tapi kan aku harus kuat karena Bebe masih suka digendong. *ALASAAANNN!* *plak*



Saya kemudian sadar kalau pola ini sama sekali nggak bener. Apalagi ada temen kantor yang memang sakit diabetes. Setiap hari makannya nasi coklat dan menjaga sekali asupan gulanya. Sampai-sampai dia kalau beli bubble tea itu bukan less ice less sugar kaya saya, tapi no ice no sugar. Itu bubble tea apa sayur sop? *cry*

Apalagi sejak Bebe mulai makan seperti orang dewasa alias nggak lagi makan makanan bayi. Saya selalu pilihkan makanan yang paling sehat untuk dia. Dan yang terpenting, jauhkan dari konsep warung dan jajanan karena nggak sehat semuaaa.

Kemudian aku bercermin pada diriku sendiri. Kok ya saya jaga makan Bebe sementara saya sendiri nggak jaga makan? Padahal harusnya saya dan JG menjaga makan biar bisa terus sehat dan main lama-lama sama Bebe kan.

(Baca: Bekal Makan Siang dan Problematika Takut Tidak Dimakan)

Mulailah heboh food combining yang mana nggak bertahan sampai sekarang hahahahaha. Udahlah nggak perlu tanya alasannya karena itu sia-sia. Alesan paling mantep sih karena susah kalau nggak bekel sendiri, jajanan di kantin lebih menggoda. lol

Akhirnya saya mencoba cara paling mudah yaitu diet karbo alias memotong karbo. Saya sampai pesen bolak-balik sama JG kalau bekelin makan siang itu nasinya dikurangin setengah karena saya nggak menyusui lagi, nggak butuh kalori sebanyak itu lagi.

Sebenernya buat yang nanya kenapa saya kurus, itu karena makan saya juga nggak jorok-jorok amat sih. Jajan gorengan nggak pernah, menggoreng sendiri di rumah pun jarang sekali. Snack berisi angin belaka atau biskuit gitu juga jaraaangg banget. Sarapan udah bertahun-tahun nggak pernah karbo, antara buah atau yogurt plus muesli. Makan siang dan makan malemnya itu loh yang suka nggak ketahan.

Ini bekal makan siang saya minggu lalu. NASINYA SEGITU HUHU padahal sebelum hamil mah nggak pernah habis nasi segitu. Plus tumis daging dan terong panggang ala-ala Tasty lol. Yang kecilnya itu yogurt tertutup muesli.



Ini bekal makan siang saya sekarang. Sarapan melon, nasi plus omelet tofu keju dan kembang kol kukus. Karbonya jadi setengah! Masih laper nggak tiba-tiba nasi berkurang setengah? Nggak dong karena plus makan SOYJOY dua jam sebelum makan. Dan SOYJOY dimasukin microwave itu enak banget gaes. ASLIIII.

Saya baru tau SOYJOY bisa dimasak dulu sebelum dimakan. Lah sebelumnya nggak ada yang pernah bilang atau ngasih tahu! Iseng pas buka bungkus kok di belakang ada keterangan cara penyajian. Dimasukin ke microwave katanya 10 detik. Dicoba masukin semenit terus aku lemes karena enaknya kebangetan, kaya brownies loh serius. Coklatnya leleh.

Dan tentu saja sebelumnya aku meremehkan, apaan nih cuma sepotong kecil gini gue mana kenyang? Kemudian masukin microwave 2 bar SOYJOY. Baru dimakan satu setengah aja ternyata udah kenyang banget. Jadi satu aja cukup sih kalau saya mah.


Terus pas kemarin dateng ke acara Lunch with SOYJOY, ahli gizinya mbak Seala Septiani M.Gizi menjelaskan kalau dalam satu hari sebenarnya manusia dengan body mass index ideal (tidak kegemukan) hanya butuh karbohidrat sekitar 1,5 mangkok nasi sehari. Lebih dari itu sudah bisa menyebabkan kegemukan dan diabetes loh. T_______T

Jadi ya pilihannya adalah makan siang dengan nasi setengah porsi plus makan malam dengan nasi satu porsi atau sebaliknya. Makan siang full satu porsi, makan malam setengah. Saya sih pilih makan siang setengah dan makan malam full karena nggak tahu, lebih lapar malam daripada siang sih.

Tapi kan laper kak, kalau makan nasinya sedikit?

Percayalah itu hanya sugestimu belaka, dek.

Iya faktor kebiasaan juga berpengaruh loh. JG buktinya, dulu kalau makan nasinya pasti dua porsi. Sekarang bisa banget satu porsi, berat badannya turun 13 kilogram dari pas nikah sampai sekarang.

Nikah kan harusnya bikin gemuk kalau buat cowok? No, kalau kamu gemuk setelah menikah itu bukan tanda bahagia, itu tandanya kamu dan istri nggak bisa menjaga pola makan dan kurang mengingatkan satu sama lain untuk hidup lebih sehat. :)

Dan yang dimakan sebelumnya juga berpengaruh loh sama porsi makan kita selanjutnya. Sarapan buah dan sarapan bubur misalnya, pas makan siang rasanya pasti lebih lapar kalau kita sarapan bubur. Ya karena buah dicernanya pelan-pelan, jadi energinya muncul pelan-pelan. Beda sama bubur yang kalorinya tinggi, cepat jadi gula dalam darah, jadinya cepet bikin laper lagi.

Masih ragu untuk diet karbo?

Coba dulu dong ah. Dibantu SOYJOY 2 jam sebelum makan. SOYJOY ini terbuat dari kedelai yang bisa menjaga gula darah tetap stabil dan nafsu makan pun jadi berkurang. Makan nasi setengah pun tetap kenyang. Kedelai juga kaya serat dan protein, makanan yang kaya serat dicerna lebih santai oleh tubuh jadi nafsu makan pun kembali lebih lama. Gluten free juga loh!

Dan ternyata bukan cuma saya yang niat berubah hidup lebih sehat setelah punya anak. Ringgo Agus Rahman dan Sabai Dieter juga demikian. Mereka jadi hidup lebih sehat setelah Bjorka lahir.

*Btw aku ngefans banget sama mereka hahaha. Selalu nggak sabar nonton YouTube Pesan untuk Bjorka plus follow banget Instagram mereka yang feed-nya bikin iri karena fotonya bagus-bagus.*

Jangan lupa follow juga Instagram @Soyjoyid untuk informasi mengenai healthy lifestyle.

Yuk kurangi karbo dan hidup lebih sehat!

-ast-


#SassyThursday: Hijab dan Fashion Week


Jadi beberapa hari terakhir ini media diramaikan berita desainer Indonesia Anniesa Hasibuan sukses show di New York Fashion Week (NYFW). Anniesa disebut sebagai desainer Indonesia pertama yang tampil di main stage NYFW dan juga desainer pertama yang menampilkan karyanya dengan model yang semuanya mengenakan hijab.

Baca punya Nahla:

Jadi pro kontra pasti dong, karena seharusnya perempuan tidak memamerkan pakaian yang glamor. Hijab adalah kesederhanaan jadi show hijab di fashion week itu sesuatu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Itu yang kontra. Yang pro tentu karena bangga, ada desainer Indonesia yang karyanya bisa dinikmati oleh para pecinta fashion di ajang dunia.

Satu lagi yang kontra justru muncul dari kalangan fashion itu sendiri. Mereka mengkritik bahwa masuk NYFW kan bayar slot blablabla, nggak dikurasi amat jadi bukan berdasarkan karya. Kemudian banyak yang bilang desainnya nggak original dan biasa aja, pada ngebandingin sama desainer lain. Malah ada yang bilang dia bikin celana aja nggak bisa. Wah, people can be so mean.

Gue sih jujur bangga. Keren lah ada orang Indonesia yang satu panggung sama Vera Wang dan Jeremy Scott. Mau desainnya pake jilbab atau nggak, gue tetep seneng sih. Apapun yang bawa nama Indonesia di dunia internasional secara positif kan harusnya didukung dong. Apalagi Anniesa dapat standing applause dari penonton yang hadir.

Daripada selama ini Indonesia terkenal karena bom dan teror, kan nggak banget ya. Mendingan dong Anniesa bawa ke panggung bahwa hijab itu nggak menyeramkan. Hijab itu cara berpakaian yang seperti ini loh, bisa cantik dan enak dilihat.

Lagian menurut gue nih yaa, bajunya bisa dipakai untuk orang yang nggak berjilbab juga kok. Ya kalau headscarf-nya mau dipake silakan, nggak juga bajunya tetap wearable.

*tapi kan siapa elu, kaya ngerti fashion aja*

Ya biar ajaaa. Zaman sekarang kan orang bisa mix and match baju aja passionnya langsung fashion. Suka jahit dikit langsung bilang hobinya desain baju. Punya anak satu terus bikin brand baju anak.

AHAKAHAKAHAKAHAKA maap maap sarkasnya suka kebawa mulu.

Iya sih tapi kenapa deh pada negatif amat orang-orang? Lama-lama yang aku nggak tahan dari negeri ini adalah negativity. Apa-apa diliatnya negatif mulu. Aku capek.

*lo juga keles*

Ada orang sukses, langsung dicari-cari ih ternyata dia begini begitu. Dia tau apa soal fashion, baru juga setahun jadi desainer. Si X udah dari dulu tuh desainnya begitu, udah tahunan. YA TERUS KENAPA? Yang masuk fashion week dia ya yang jadi berita dia lah. 

Atau contoh sederhana, ada orang followersnya banyak, dinyinyirin dia kan cakep doang tapi nggak punya karya. Nurut ngana pose depan kamera itu bukan karya? Bukan skill? Coba deh gue tantang photoshoot 20 pose dalam satu jam. Bisa? Kepikiran posenya apa aja?

Belum lagi urusan atlet renang badannya di BLUR di tivi astagaaaa. Ada yang horny gara-gara liat atlet renang BERENANG di kolam renang?

I JUST CAN'T HANDLE IT ANYMORE.

:(

Yah jadi intinya, dukung karya anak bangsa dan stop the negativity!

-ast-


5 Alasan Anak Perlu Menangis

on
Wednesday, September 21, 2016

Saya dan JG adalah tipe orangtua yang selalu bilang pada Bebe kalau menangis itu tidak apa-apa. Kami selalu membiarkan Bebe menangis karena ya namanya anak kecil masa nggak boleh nangis kan. Jatuh terus sakit ya nangis, kecewa karena tidak boleh makan es krim ya silakan nangis, kecewa karena film harus dimatikan dan waktunya tidur, nangis deh boleh.

Ini dia 5 alasan anak perlu menangis:

Menangis itu mengeluarkan emosi

Iya beberapa bulan lalu kami sempat ngobrol dengan psikolog, menangis itu cara anak untuk mengeluarkan emosi. Dia belum bisa curhat atau marah dengan kata-kata, cara tergampang mengeluarkan emosi adalah dengan menangis.

Bayangkan anak sedang mengeluarkan emosi terus disuruh diam. Kan malah tambah emosi. Atau kalau aku sih khawatir dia jadi memendam emosi. Tidak baik, takut meledak suatu hari nanti. Iya kalau meledaknya dengan tangisan lagi, kalau jadi depresi? :(

Menangis itu mengekspresikan diri

Iya, seperti juga mengeluarkan emosi, menangis itu mengekspresikan diri. Ya kita kalau seneng kan ketawa-ketawa, kalau lagi sedih ya belanja. Kalau anak kecil sedih kan belum tahu harus melarikan diri ke mana. Jadi lah menangis aja.

Orang dewasa kadang lupa nangis. Nangis kalau udah mentok sedih banget baru nangis. Padahal nangis itu nggak apa-apa loh baik untuk anak kecil atau orang dewasa. Kenapa? Karena dua alasan di bawah ini.

Menangis itu mengurangi stres

Yes, ini berlaku untuk orang dewasa dan anak kecil. Menangis bisa mengurangi stres. Aku baca-baca di mana sih lupa hahaha Yang jelas orang yang menangis, energi negatifnya jadi keluar semua. Jadi nggak stres deh.

Bayangkan anak kecil dilarang nangis, kan kasihan. Hidup dari mata anak kecil itu nggak gampang juga, mereka kadang bingung kenapa sih nggak boleh guling-guling di tanah yang bekas hujan ya kan. Jadi kalau anak mau nangis, biarkan nangis, jangan sampai mereka stres.

Menangis agar mood kembali baik

Bebe kalau habis nangis suka jadi manis banget. Dia puas ngeluarin semua emosi negatifnya dan akhirnya kembali peluk dan ngomong manis lagi sama saya. Beda kalau dia nahan nangis, mukanya stres banget.

Menangis itu belajar terbuka dan berkomunikasi


Ya, dengan dia menangis artinya dia menunjukkan rasa kecewanya dengan terbuka. Ia belajar mengkomunikasikan bahwa "aku kecewa, ibu harus tahu". Kalau dia udah mulai aneh-aneh seperti nonton film dengan posisi badan yang aneh (kaya lagi senam lantai), saya selalu bilang:

"Xylo boleh menangis, yang tidak boleh adalah nonton tidak sambil duduk"

Kemudian dia pasti nangis.

(Baca: Menangani Anak Tantrum di Tempat Umum dengan Tenang)



Tapi pusing sis anak nangis terus!

Kalau dibiasakan menangis, lama-lama frekuensi dan lama menangisnya berkurang kok. Misal hari ini nangis 15 menit, besoknya nggak akan nangis selama itu ASAL kitanya nggak cepat-cepat suruh dia diam. Apalagi disogok ini itu biar anak berhenti nangis.

Wah udah, Hari ini anak nangis disogok dengan jajan, ya besoknya dia minta lagi. Nggak dikasih? Ya ngamuk karena orangtua nggak konsisten. Jangan nyogok anak nangis dengan apapun. Kecuali dengan kegiatan bermain lain.

Terus jangan juga membiasakan diri menganggap anak nangis adalah gangguan. Anak nangis karena ngambek (bukan karena sakit) biarkan aja, lakukan aktivitas seperti biasa. Ngobrol, main hp, atau ngapain kek. Jangan jadi menghentikan aktivitas karena memang tujuannya dia kan nyari perhatian.

Atau malah kadang saya cuekin aja. Dia lagi nangis terus ya cuek aja saya ajak ngobrol yang lain, pura-pura nggak tahu kalau dia nangis. Lama-lama dia juga ikut ngobrol, lupa sama nangisnya.

Kecuali kalau anak nangis karena jatuh atau sakit. Biasanya saya diamkan dulu biar lebih hati-hati, baru kemudian peluk dan tanya mana yang sakit? Dan jangan lupa diberitahu supaya hati-hati. Karena jatuh itu sakit.

Susah? Ya, nanti lama-lama juga terbiasa kok membiarkan anak menangis.

(Baca: Memanjakan Anak? Seperti Apa?)

*

Tapi kadang saya juga masih keceplosan apalagi kalau menurut saya tidak perlu nangis. Misal "ibu gendong ibu huhuhu" sambil nangis. Saya suka keceplosan bilang "iya digendong, tidak perlu nangis dong". Sampai suatu hari Bebe malam-malam rewel sekali tanpa sebab, manja luar biasa. Itu baru sembuh sakit, biasalah pas sakit dimanja banget. Sakitnya udah sembuh manjanya nggak ikut sembuh. Biasanya mandiri ini merengek-rengek tapi nggak jelas maunya apa. Akhirnya saya bilang "Bebe silakan marah, ibu tidur ya".

Saya tinggal tidur kemudian saya dengar suara isakan. Dia hiks hiks gitu seperti ingin nangis tapi ditahan. Sekitar setengah jam kemudian saya bangun dan Bebe masih terisak, saya tanya "Bebe sebetulnya kenapa?" Dia tetap telungkup sambil terisak. Saya gendong dan saya bilang "Bebe mau nangis? Ayo nangis aja dulu biar bisa tidur".

Kemudian blar aja teriak nangis, saya gendong dan saya peluk. Kasihan mungkin dari tadi ingin sekali menangis tapi dia tidak menemukan alasan untuk nangis. Sementara saya sering bilang "sudah dong tidak perlu nangis" kalau dia nangis tanpa alasan. T______T Dia menangis lama, saya gendong terus. Sampai akhirnya dia tenang.

Yah. Itulah jadi orangtua. Nangis aja perlu ilmu hahaha.

Ada yang anaknya suka nangis juga?

Tos kitaaaa!

-ast-


Tantangan Makan 7 Bungkus Indomie

on
Tuesday, September 20, 2016
[BUKAN SPONSORED POST]


Oke oke segala sesuatu memang butuh pengalaman sampai bisa lancar. Contohnya saya ini, video udah selesai dari hari Sabtu, tunda-tunda upload sampai Senin pagi sebelum kerja. Videonya error. Nggak sempet benerin sampai malem terus ngantuk. Akhirnya baru upload tadi pagi jam 5.

Really, commitment is an act, not a word.

*tampar diri sendiri*

BTW VIDEONYA ADALAH JENG JENG MAKAN 7 BUNGKUS INDOMIE!

JG sih yang makan hahahaha. Terinspirasi videonya Stella Lee karena yah, makan Indomie satu aja enak apalagi 7? TUJUH, GENGS!

Video ini harusnya di-upload minggu lalu. Tapi minggu lalu Bebe sakit demam plus diare sampai 4 hari clingy parah. Boro-boro saya pegang laptop, mandi aja nggak saking ditinggal bentar kejernya udah kaya apaan.

Jadi ini, tantangan makan 7 bungkus Indomie dan 3 telor. Apakah JG berhasil?


Dan akhirul kata; HAPPY BIRTHDAY INDOMIE!

Love and hate relationship memang kita karena sebagai ibu aku tentu ingin makan sehat yang tidak instan serta homemade. Tapi tidak bisa dimungkiri bahwa Indomie adalah ramen paling enak di dunia dan selalu punya tempat di hati kita semua. Sejauh apapun kita melangkah di dunia #selaluadaindomie menyertai malam-malam hujan kita. :')

PS: Yang mau ikutan tantangan ini BOLEH! Tag aku (kasih link ke postingan ini) di blogpost/video kalian nanti aku list di sini. OKAAYYYY!

-ast-