Image Slider

#SassyThursday: Ketakutan dalam Hidup

on
Thursday, May 25, 2017
 
HEYAK JUDULNYA SOK SERIUS. Padahal nggak serius-serius amat kok. Cuma pengen share hal-hal yang paling aku takutin hahaha.

Soalnya kalau ketakutan dalam hidup ya banyak ya kan. Takut Bebe sekolahnya nggak bagus, takut dipecat, takut kerjaan nggak selesai lol. Tapi ini mah ketakutan biasa aja kok.

KETAKUTAN KOK BIASA YAELAH.

Nggak ada ketakutan yang biasa dan jangan pernah menganggap remeh ketakutan orang lain. Di umur ini nakut-nakutin orang lain sama hal yang dia takuti itu nggak banget plis. Misal ada orang takut reptil terus sengaja kirim-kirim dia foto reptil. Nggak begitu. Mau nggak kalau dikirimi hal serupa yang kita takuti?

Baca punya Nahla yaaaa: Hal yang Paling Ditakuti

Oke ini list ketakutan saya.

🐈 KUCING 

Iya saya nggak suka kucing level takut banget mau nangis tiap ada kucing. Sebabnya nggak inget kenapa, yang jelas sejak kecil saya memang sudah takut kucing. Dan mengapa orang-orang takut kucing itu selalu diikuti kucing ya?

Dulu pas kost, pas ada kucing melahirkan, di mana? Di depan pintu kamar saya. WHY GOD dari semua kamar dia melahirkan di depan kamar saya? Akhirnya si anak-anak kucing itu keliaran di sekitar kostan dan saya mau pingsan tiap kali pulang dan harus buka gembok karena takut ada kucing tiba-tiba nongol dari bawah pager.

Kesialan berlanjut karena temen kamar sebelah pelihara kucing omg. Untung akhirnya kostannya digusur (belum hidup di Jakarta kalau belum digusur di kost HAHA) jadi pindah kost yang nggak banyak kucing.

Sampai sekarang kalau makan di pujasera gitu kucing-kucing pasti diemnya di bawah meja saya.

-__________-

🕷 KECOA (nggak ada emot kecoa lol)

Ini pas udah gede loh ya jadi takut kecoa. Pas kecil saya nggak takut malah berani ngambil gitu. Makin gede kok ya makin jijik huhu. Intinya parno banget sama kecoa sampai dulu pas zaman ngekost, kalau ada kecoa saya tutup pake bekas tempat salad Pizza Hut, terus atasnya saya kasih pemberat saking horor dia kabur.

Setelah itu diemin sampai ada orang yang bisa dimintain tolong untuk buang itu kecoa hih. Sebel banget liat kecoa NGGAK SUKAAAA. Tetep nggak suka liat kucing sih tapi sebel liat kecoa.

⏰ Telat

Duh ini bukan sombong ya tapi saya bisa mules banget kalau janjian meeting terus telat. Apalagi kalau alesannya macet. Mau nangis rasanya karena ya namanya Jakarta YA MACET LAH! MASA TELAT GARA-GARA MACET!

Jadi saya mending dateng kecepetan sejam daripada telat, nggak kuat sama gelisahnya. Nggak kuat menghadapi diri sendiri. Nggak kuat harus mikirin bikin alesan ke orang lain.

Meskipun kadang orang yang diajak meeting udah maklum banget kalau dateng meeting telat di Jakarta. Tapi kan nggak mau jadi bagian dari stereotype orang Indonesia suka telat. Hah sebal. Mikirinnya aja saya mules. T______T

Saya juga sebel soalnya kalau orang dateng meetingnya telat. Apalagi kalau seharian back to back meeting gitu, satu telat ya semua telat lah plis deh.

Saya maklum kalau yang telat orang bule gitu yang ke Jakarta cuma buat meeting. Kasihan lah itu mah. Mereka suka nggak nyangka traffic Jakarta 5 kilometer aja harus pergi 1,5 jam sebelum hehe. Pukpuk.

...

Takut apalagi ya?

...

🎡 Kicir-kicir Dufan

Ya ampun aku anaknya nggak butuh tantangan banget. Kicir-kicir itu yang kita duduk terus diputer, bersama teman sebelah kita yang diputer ke arah lain, plus sama temen segrup kita yang diputer juga ke arah lain astaga.

Mending Tornado atau Hysteria aja saya mah. Pernah udah ngantri panjang-panjang di Kicir-kicir Dufan itu terus menjelang deket saya kabur HAHAHAHAHA

Nyelonong ke bawah pager dan kabur karena mau muntah mikirinnya juga.

Eh btw makin tua makin horor nggak sih naik-naikan gitu? Dulu pas kuliah saya sering ke Dufan sama temen-temen hari kerja gitu biar sepi. Itu naik Halilintar bolak-balik sambil lempeng aja nggak ada takut-takutnya. Naik Kora-kora sambil foto-foto.

Terakhir ke sana saya lemes lah nggak sanggup naik apa-apa HAHAHAHA. Ini kasusnya sama kaya film brutal. Dulu saya nonton film model Inglorious Bastard atau Blood Diamond itu lempeng aja loh meskipun darah muncrat-muncrat. Makin tua makin nggak sanggup.

Kemarin nonton Wolverine aja banyak tutup matanya. Kenapa makin nggak tega yah duh.

😭 JG dan Bebe ke toko mainan

DISASTER. ENOUGH SAID

❌ Diunfollow orang

HAHAHAHAHA MAKANYA FOLLOW DONG GENGS!

Saya blogging pendek lho di IG @annisast. Follow dong plis. Pusing kenapa blog ini pembacanya hampir 200ribu tiap bulan tapi yang follow IG cuma 2ribuan hih sedih.

Follow yaaa! Kalau emang nggak suka atau annoyed sama postingan saya juga nggak apa-apa sih unfollow. Tapi coba follow dulu laahhh 😂

Udah ah mau berenang dulu. Bye!

-ast-



Sudah Tidak Nenen, Tidurnya Gimana?

on
Wednesday, May 24, 2017

Ini pertanyaan banget nggak sih untuk kalian semua ibu-ibu dengan toddler yang masih nenen? Kan biasanya kalau mau tidur nenen dulu sih sampai ketiduran, nah kalau udah nggak nenen tidurnya gimana?

Problematika saya banget loh ini, saya punya ketakutan Bebe susah tidur kalau berhenti nenen. Kalau Bebe susah tidur nanti saya susah tidur juga, besok kerja gimanaaa? Jadi ya udah lah nggak usah berhenti nenen hahaha.

🍼 Intinya adalah proses, gengs ...

Proses itu ternyata penting! Proses menyapih itu bukan hanya anak yang berhenti menyusu tapi ibu juga berhenti menyusui. Jadi prosesnya sebenernya dua arah banget, ibu harus sudah siap, anak juga harus sudah siap.

Ketika saya merasa sudah siap, pertanyaan "tidurnya gimana?" itu jadi bukan masalah lagi. Tiba-tiba nggak peduli gitu malah nggak kepikiran sama sekali.

Jadi gimana cara tidur setelah anak berhenti menyusu?

Tiga hari pertama Bebe guling-guling nggak jelas, kaki nendang sana sini. Dia masih keukeuh pada pendirian "Salo nggak tahu caranya tidur". Akhirnya saya atau JG pelototin, suara tegas tapi tidak marah "ayo sekarang Xylo merem! Kaki diam, jangan tendang-tendang!"

Di hari pertama dia pundung digituin. Dia tutup muka terus nyungsep ke bantal, eh nggak nyampe 5 menit tangannya yang nutup muka merosot. Tidur deh.

Sekarang juga masih begitu. Dan si Bebe nggak akan bisa tidur kalau saya atau JG masih bangun. Jadi emang tidur sama-sama banget. Kalau saya pura-pura tidur, pasti ketauan. Jadi ya udah tidur sama-samalah.

Ya banyak sih ya teori parenting soal tips agar anak gampang tidur. Tapi gimana, mandi air anget udah, kenyang udah, capek udah, lampu mati malah ngamuk. Seperti biasa, teori parenting itu cukup dibaca, penerapannya ya tanyakan hati nurani HAHAHAHA.

🍼 Kalau tidur siang ... 

Ini susah banget asliii. Tapi karena Bebe tidur siang di rumah cuma saat weekend jadi ya kadang ya udalah skip aja tidur siang. Karena nggak bisa banget, kecuali ya tidur sama-sama. Tapi kadang kan kita-kita yang orang dewasa ini nggak mau bobo siang ya.

Justru kalau main ke mall baru tidurnya gampang. Karena dia akan lari-lari sampai capek baru kemudian duduk di stroller dan bobo. Atau minimal di mobil dia akan ketiduran.

Ini kenapa saya juga bingung. Kalau di daycare itu jadwalnya pasti sih ya, jam sekian dia akan diseka, ganti baju, taro di tempat tidurnya, diselimutin, dan dia tidur sendiri. Di rumah mah bye aja, nggak bisa pake ritual gitu.

Terus yah, nggak ada juga romantisme pelukan atau baca buku sebelum tidur baahhh yang ada lari-lari dia. Lompat-lompat terus. Ibu pusing. T_________T Kadang terjadi sih dia sweet meluk-meluk sambil baca buku, tapi persentase dibanding lompat-lompat itu cuma 10% nya romantis lol.

Jadi kalau saya ditanya gimana tips nidurin anak, saya nggak tahu banget. Saya juga failed banget di bidang ini *alah*. Cuma ya, ketakutan anak susah tidur setelah berhenti nenen itu nggak terjadi-terjadi amat kok di Bebe.

Dia nggak susah tidur sampai jam 2 pagi banget gitu misalnya. Jam tidurnya nggak berubah sih thank God.

Nenen adalah salah satu cara yang bikin dia nyaman jadi KAYANYA loh ya, asal anak nyaman, anak akan cari tahu sendiri caranya tidur.

Ya tapi syaratnya mungkin harus anak yang memutuskan sendiri untuk berhenti nenen. Jadi dia sadar benar dia harus berusaha tidur sendiri dan berusaha console diri sendiri kalau lagi sedih. Dulu kan kalau sedih nyot aja langsung nenen.

INI NULIS APA SIH YAAAA. Muter-muter nggak jelas maunya apa, ini dalam rangka mendisiplinkan diri untuk nulis aja sih. NGGAK APA-APA YAAAA. HAHAHAHA.

Anyway selamat liburan besookkk! :*

-ast-



Kepercayaan Diri dan Remah-remah Dunia

on
Monday, May 22, 2017

Yang kenal baik sama saya pasti tau persis kalau saya orangnya pede banget sedunia. Jarang banget ngerasa rendah diri. JARANG loh ya catet, bukannya nggak pernah.

Kalau di circle blogger, dulu saya suka sebel sama yang bilang "da aku mah apa atuh cuma remah-remah blablabla" alias merendahkan diri dan nunjukkin ketidakpercayaan dirinya. Dulu saya sebel karena come on kalau terus menganggap diri remah, kapan mau majunya? Kapan bisa jadi main course-nya? -_____-

Atau ada tipe orang yang lebih baik sesat di jalan karena malu bertanya. WHY? Itu selalu saya pertanyakan. Kenapa mesti malu sih? Kenapa nggak punya kepercayaan diri untuk sekadar nanya sesuatu yang kita nggak tau jawabannya?

Tapi kemudian saya juga ternyata bisa ada di posisi mereka. Ada di posisi di mana saya "kok gue gini doang sih? Kok orang bisa kaya gitu sih?" Dan momen itu bukan momen penyemangat melainkan momen "ah sh*t lah gue nggak bakal mampu kaya dia".

Dan itu menyebalkan.

T_______T

Ini diperparah karena saya orangnya kompetitif banget. Misal saya bisa kesel kagum kalau liat orang seumuran saya yang kerja di New York Times. Ya padahal emang orang Amerika, lahir sampai kuliah di Amerika, ya wajar atuh kan kerja di New York Times masa mau kerja di media lokal Indonesia ya nggak?

Dan akhirnya saya sadar kalau masalah merasa remah ini adalah masalah inferiority. Di kasus saya, semakin sering bertemu atau berinteraksi dengan orang yang saya anggap hebat, maka saya merasa semakin inferior. Dan saya sadar ini tidak baik
Inferiority complex: an unrealistic feeling of general inadequacy caused by actual or supposed inferiority in one sphere, sometimes marked by aggressive behavior in compensation.

Inferiority seperti ini menimbulkan perasaan "if only" alias "coba kalau". Coba kalau ngotot dulu kuliah di Amerika, mungkin sekarang udah jadi editor di New York Times. "Coba kalau" semacam ini bikin stres dan nggak menyelesaikan masalah!

Karena pemikiran berikutnya adalah "ya nggak bisa kuliah di Amerika juga sih orang kurang pinter begini". Kemudian jadi merutuki diri kok kurang pinter sih, apa saya kurang belajar pas sekolah, perasaan udah belajar terus tapi kok nggak sanggup sih kuliah di Amerika. Blablabla. Padahal ngomel itu nggak mengubah hidup.

Sebenernya kalau lagi waras sih saya sadar benar kenapa harus "coba kalau" toh sekarang hidup saya juga nggak susah. Setelah itu saya mau tidak mau harus compare dengan orang lain yang kehidupannya di bawah saya. Dari situ biasanya saya merasa lebih baik karena masih banyak orang yang secara level pendidikan setara dengan saya, tapi kehidupannya nggak seperti kehidupan saya.

👉  Baca juga: Kecantikan dan Perempuan Kedua

Juga yang harus diingat dan saya pikirin banget: kalau terus menerus mengejar standar orang lain, kapan puasnya?

Si A keren banget sih kerja di Google --> apakah jika saya kerja di Google saya akan puas? Atau tetap merasa inferior dengan orang-orang yang kerja di Apple?

Si B kok bisa sih nulis di Huffington Post! --> apakah jika tulisan saya dimuat di Huffington Post, saya akan berhenti merasa inferior pada si B?

Belum tentu kan! Inferiority hanya membuat kita ingin jadi orang lain!

Which is fine sih ya di level tertentu, terutama di level bikin semangat melakukan segala sesuatu. Tapi kalau udah bikin sedih, bikin murung, bikin kepikiran, mungkin saatnya cari bantuan profesional atau minimal cari orang yang bisa diajak bicara dan mengembalikan kepercayaan diri.

Perlu diteliti juga apakah "if only" nya masuk akal? Yang udah gawat itu yang begini "coba kalau dulu nikahnya sama anaknya si A, pasti bisa maternity photoshoot tiap minggu pake fotografer profesional" atau "coba kalau tinggian dikit udah jadi model pasti ah elah". Itu "if only" yang nggak bisa diterima! Hentikan sekarang juga! Jangan terus dipikirin!

Caranya mungkin bisa dengan cari tahu kita jago di bidang apa terus pelajari hal itu sampai jago banget dan bikin kita bangga. Kalau udah bangga sama diri sendiri, pasti inferioritynya berkurang deh. Pasti lebih percaya diri dan nggak lagi menganggap diri sendiri sebagai remahan di dunia.

Tapi ini cuma berlaku untuk orang-orang ambisius ya. Kan banyak juga tuh orang yang lempeng-lempeng aja, nggak ngerasa inferior dan juga nggak ngerasa harus melakukan sesuatu yang lebih hahaha. Nggak apa-apa, santai, yang penting bahagia. Kalian tetap bukan remah kok. 😂

Dan kecuali kalau urusannya uang. Karena kalau udah urusan uang mah udah di luar kehendak banget lah. Masa mau inferior sama keluarga Trump karena mereka lebih kaya. Urusan uang dari turunan keluarga mah lekatnya sama syukur aja, bukan yang lain. :)

👉 Baca: Tentang Berpikir Positif)

Nah kalau saya kan suka ngerasa inferior sama orang pintar, kalau JG selalu merasa inferior dengan orang yang gajinya lebih gede. Inferior karena merasa kurang skill hahahaha. Nggak sekali dua kali nelepon saya siang-siang cuma mau bilang.

"Sayang si A gajinya xx puluh juta masa. Kok aku gini-gini aja ya?"

Jawabannya bisa dua:

1. Udah rezekinya 💅

2. Kita nggak tahu kerja keras dia kaya apa. Jujur apa nggak ya urusan dia, tapi intinya kita nggak tau effort apa yang dia keluarin demi kerjaan dengan gaji gede. Kalau ternyata zero effort? Kembali ke poin nomor satu lol. 🙌

Dan saya juga jadi terbiasa melihat "alasan" di balik sesuatu. Misal temen-temen yang liburan terus ternyata keluarganya kaya, yang nggak kaya ternyata hidupnya irit banget. Atau temen-temen yang gajinya gede ternyata kerjanya stand by 24 jam. Yang mana kalau kita lakukan mah nggak mungkin karena males banget astaga hahaha

Atau harus irit seirit apapun, tak mampu juga kan. Jadi ya, kuncinya (kayanya) jalani hidup dengan gembira. Lakukan hal-hal yang bikin bahagia. Sadari bahwa kebahagiaan tidak hanya diukur dari kapasitas otak atau jumlah uang di tabungan.

And one thing: stop the 'if only'! *ngomong sama diri sendiri*

Ngerasa inferior atau punya teman yang punya masalah inferior? Share dan tag temennya ya! XD

-ast-


Why I Love Jakarta | #SassyThurday ft #GesiWindiTalk

on
Wednesday, May 17, 2017
OH HOW WE LOVE JAKARTA! By we I mean me and JG, dunno about Bebe because well, he's a baby ah gimana sih elah ginian harus dibahas.



Oke jadi #SassyThursday minggu ini collab lagi sama #GesiWindiTalk because why not duh. Tema datang dari Nahla yang sungguh kreatif yaitu tentang mengapa kami begitu cinta kota masing-masing sampai nggak mau pindah satu sama lain! Bahkan saya nggak mau pindah ke Tangerang atau BSD meskipun tau persis di sana enak. Ya tapi enak kalau kerja dan segala-galanya di Tangerang/BSD juga yekaannn.

Baca punya mereka, siapa tau jadi pengen jalan-jalan ke sana!
Windi Teguh: Why I Love Medan
Grace Melia: Why I Love Jogja
Mevlied Nahla: BSD, Tangsel, dan Segepok Kenangan

(mba Windi belum selesai yaa maklum orang sibuk ahahahahahah)

Tadinya saya agak ragu gitu, mau Bandung apa Jakarta ya? Ya cinta sih sama Bandung tapi yaiyalah, Bandung kan hometown. Yang namanya kampung halaman mah selalu dirindukan ya nggak? Karena terlalu banyak kenangan dan keluarga besar di sana semua. Plus keluarga mertua juga, ya pasti sayang lah sama Bandung.

Tapi kan kadang harus ninggalin yang disayang demi sesuatu yang bisa lebih sayang sama diri kita sendiri kaaan. ASIK.

Jakarta kayanya sayang banget sama saya HUHUHUHUHU. Level mellownya udah setara sama waktu ninggalin Bandung ini kalau harus ninggalin Jakarta.

Karena di Jakarta, aku terperosok cinta.
Karena di Jakarta, cinta memilihku dengan nyata.
#eaaa jangan pada close tab ya lol 😂

(Itu juga kutipan dari puisi cinta masa lalu gengs, kolab kami sebelum ini. KLIK DAN BACA YAAAA)

Duh gue galau bikin list nggak ya hahaha. Bikin aja kali ya.

🏣 Jakarta Kota Mimpi 🚀

Itu benar. Itu tidak cheesy atau klasik, itu benar. Masih benar, minimal buat saya sendiri. Gimana nggak, saya pindah ke Jakarta karena satu twit!

Dari satu twit yang kemudian bawa saya ketemu banyak banget artis Korea, wawancara banyak sekali artis Korea, nonton konser gratis. Mimpi jadi nyata banget karena pada saat itu, saya lagi suka Korea banget!

Oke saya nggak tergila-gila sih ya kaya orang-orang sampai nabung atau apa, tapi saya lagi suka Korea banget dan Jakarta mewujudkan mimpi itu. Siapa yang kepikiran sih bisa ngobrol face to face sama Lee Min Ho kalau nggak pindah ke Jakarta? Dirangkul Lee Seunggi? Ngobrol sama Siwon? Bigbang? Super Junior? Infinite? YOU NAME IT.

Hampir semua artis Korea yang ngetop pada zaman itu saya temui semua FOR FREE cuma karena satu keputusan pindah ke Jakarta. Dan mimpi itu berlanjut pada mimpi berikutnya yaitu bikin buku di GagasMedia.

Yes, mimpi gue pas SMA/kuliah se-spesifik itu "mau nulis buku diterbitin GagasMedia". Dan itu terjadi karena saya pindah ke Jakarta. Plis yang suka Korea dan mau beli bukunya masih ada di Tokopedia atau BukaLapak.

(Cerita lengkap bisa dibaca di sini: Keputusan yang Mengubah Hidup, Pindah ke Jakarta)

🏣 Jakarta Tidak Pernah Sepi 🚀

Bagi orang ekstrovert kaya saya, Jakarta itu menyenangkan sekali! Di Bandung jam 9 malem aja sepi banget, di Jakarta saya nggak takut berdiri di pinggir jalan jam 12 malem pulang liputan nunggu taksi. Oh wow aku sungguh pemberani.

Zaman belum nikah, bisa nongkrong lama-lama sampai pagi, banyak temen, banyak makanan, sinyal selalu bagus, ah aku cinta. Gimana ceritanya coba jam 11 malem Semanggi masih macet. 😂😂😂

Di Bandung jam 8 malem aja saya suka udah horor sendiri pulangnya hahahahaha. Tapi yah, untuk ukuran saya yang nggak punya kecerdasan naturalis alias nggak peduli nggak nginjek tanah atau liat sawah, Jakarta is heaven! 🌠

🏣 Jakarta Sumber Suara 🚀

"Kepada ibu Annisa ditunggu di sumber suara"

Lawas nggak sih, apa event zaman sekarang masih ada yang menyebut area pengaturan sound system itu sebagai "sumber suara"? 😂😂😂

Intinya Jakarta adalah sumber suara, pusat segalanya. Banyak event, banyak acara, banyak brand, banyak diskon. Jadinya banyak pilihan! Iya dari milih makanan, milih baju, sampai pilihan serius macam kerja di mana atau sekolah di mana.

Ya maklum ya ibukota. Sekolah dari yang bobrok sampai yang uang tahunannya setara harga satu rumah juga ada. Begitu pula dengan kerjaan, dari yang cuma malak di stasiun sampai gaji sebulan ratusan juta.

Dihadapkan dengan pilihan sebanyak itu kita jadi apa?

JADI SEMANGAT! 💪🏻

🏣 Jakarta Penyemangat Hidup 🚀

Ini adalah sumber kemellowan di posting-posting dengan tag Tentang Hidup. Ya gimana nggak mellow sih, liat ibu-ibu luntang-lantung di pinggir jalan bawa bayi sementara di jalan mobil-mobil yang lewat harganya miliaran.

Kesenjangan sosial itu nyata adanya dan terjadi di depan mata! Kadang sedih tapi semoga bisa jadi semangat dan sumber syukur ya.

Ya persis caption IG saya beberapa minggu lalu. Tentang gimana daerah rumah saya itu berdempetan banget rumah-rumah mewah yang garasinya seukuran kontrakan saya, sementara di belakangnya rumah-rumah petak yang bahkan nggak punya teras.

Tanpa hidup di Jakarta mungkin cita-cita saya nggak akan setinggi ini. Di Jakarta saya dan JG ketemu banyak sekali orang hebat, orang hebat yang kadang bikin minder tapi tanpa disadari bikin kami jadi menggantung mimpi lebih tinggi.

Juga ...

Kami senang di Jakarta karena jauh dari orangtua HAHAHAHAHAHAHAHA

Jauh tapi nggak jauh-jauh amat jadi bisa pulang kapan aja termasuk weekend. Cuma ya, kami enjoy tinggal nggak terlalu dekat dengan orangtua karena jadi bisa ambil semua keputusan sendiri. Apalagi urusan Bebe.

Plus ...

Kami nggak tau mau kerja apa di Bandung. 😭😭😭

Really, kemarin JG sempet mau pindah ke kantor Bandung tapi kok ya tampak jenjang karier jadi lebih sulit ah sudahlah. Apalagi saya, nggak bakal dapet gaji yang sama lah kalau kerja di Bandung mah. 😭

(Baca: Tips Survive di Jakarta No Nanny No ART untuk Ibu Bekerja)

Sementara cita-cita dan gaya hidup sudah begini. Karena hal tersulit bukan naikin gaya hidup, tapi nuruninnya. 😔

🚓🚕🚗 TAPI JAKARTA MACET! 🚙🚚🚓

Memang iya weee. Percaya nggak sih saya sama JG itu jarang sekali mengeluhkan macet Jakarta? Kami berdamai sekali dengan kemacetan ini.

Padahal radius kantor saya, kantor JG, dan rumah kalau dari daycare itu nggak sampai 10 km. 5 km lah, rata-rata ditempuh dengan 1,5 jam perjalanan kalau lagi waras.

Kalau lagi nggak waras, kantor JG - daycare aja yang hanya 2,5 km bisa ditempuh dalam waktu? EMPAT JAM. HAHAHAHAHAHAHA.

Tapi kan banyak solusi juga, ya nggak perlu bawa mobil kan bisa naik ojek. Jadi mobil taro di daycare, ke kantor JG pake ojek atau kadang pake sepeda. Aman terkendali kok, survive kok hahahaha.

Terus orang suka nanya: kenapa nggak motoran aja sih biar nggak macet? Kan deket juga.

Ah motoran juga macet di Jakarta mah lol. Malah lebih capek jatohnya karena naik motor, macet, keringetan. Beda setengah jam doang sih mending macet dan naik mobil, at least duduk nyaman. nggak keringetan, ngobrol enak, bisa sambil denger radio ketawa-tawa, Bebe bisa bobo dengan nyaman.

Kalau udah begitu masa mau ngeluhin macet lagi?

*

Tapi yah, harus diakui kadang bosan juga di Jakarta hahahahahaha. Bosan karena ya namanya manusia, pasti ingin lebih kan. Maunya sih JG kerja di Singapur gitu, saya di rumah aja blogging dan YouTube-an lol.

Juga urusan Pilkada DKI yang makin mengukuhkan kalau Indonesia nggak layak huni, ingin pindah ke luar negeri aja. Huhu. Ingin ingin doang tapi usaha nggak. Argh.

Jadi yah, itu alasan saya 6 tahun betah di Jakarta dan JG 9 tahun (apa 10 tahun ya). Kalau kalian? Senangkah di kota tempat tinggal sekarang? Kenapa?

-ast-


Tentang Drama Kehidupan

on
Tuesday, May 16, 2017
Kenapa ya saya anaknya suka overthinking sama segala sesuatu. Apalagi untuk urusan hierarki antara status sosial, jabatan di kantor, sama peran di rumah. Saya suka kepikiran banget!


Misal gini, ada cleaning service di kantor yang pendieeemmm banget. Pendiem terus sopan banget gitu, kalau jalan selalu nunduk. Ya saya maklum mungkin dia merasa bukan siapa-siapa, level terendah di kantor lah kasarnya. Jadi dia nunduk entah karena memang minder atau memang merasa harus sopan.

Suatu hari saya ajak ngobrol, dengan malu-malu dan tetap nunduk (mungkin menjaga pandangan yhaaa) dia jawab anaknya dua. Satu udah kelas 5 apa 6 SD gitu, satu lagi masih umur 2 tahun. Dan saya langsung tettoottt! kepikiran banget.

Kepikiran banget karena berarti meski di kantor dia nunduk dan minder gitu, dia di rumah adalah kepala keluarga dengan anak yang mau remaja. Apa dia di rumah tegas sama istrinya? Apa dia di rumah galak sama anaknya? Apa dia di rumah juga pendiem?

AKU ... KEPO.

T________T

Inget juga kemarin makan di Shaburi terus mbak waitressnya nyapa Bebe dan tiba-tiba cerita kalau anaknya dia juga umur 2 tahun dan suka Cars kaya sepatu Bebe. Dia cerita dengan sangat excited dan saya mendadak mellow karena dengan demikian dia adalah ibu bekerja. Mungkin di sela-sela kerjaan dulu dia harus pumping juga sama kaya saya. Mungkin juga dia sama sedang mikirin ulang tahun anaknya mau dibikin kaya apa. Ah. :((((

(Baca: Orang-orang yang Bertahan Hidup)

Jadi inget juga cerita JG yang masa kecilnya dilalui dengan tinggal di gang sempit. Tetangga-tetangganya itu semua orang susah lah kasarnya. Mereka suka sewenang-wenang sama istri, teorinya JG karena mereka kerjanya rendahan banget, mereka jadi nggak punya suara di tempat kerja. Satu-satunya "kuasa" mereka ya sama istri, jadilah istrinya diperlakukan seenaknya.

Hiks.

Mau sedih juga nggak perlu sedih ya ini, namanya juga hidup. Tapi gimana ya, saya kepikiran betapa satu manusia itu punya peran yang beda-beda banget di berbagai lini kehidupan. Saya baru ngerti lagunya Nike Ardilla kalau dunia ini panggung sandiwara.

Di kantor dia adalah cleaning service yang minder, di rumah dia ayah yang tegas tapi sayang keluarga, di lingkungan rumah ternyata dia Pak RW dan terbiasa mimpin rapat RT, dan seterusnya.

Nggak usah susah-susah deh, waktu masih sekolah aja kerasa kan bedanya. Kita di sekolah sebagai ketua kelas tentu beda dengan kita di rumah yang anak bungsu. Kita di kampus yang serampangan dianggap anak bodoh, ternyata di rumah adalah kakak sulung tulang punggung keluarga.

Kepikiran kalau manusia sebenarnya memang hidup dengan beberapa topeng, mau pakai yang mana, mau lepas yang mana. Mau jadi saya yang mana.

Dan social media juga panggung lain lagi.

Di socmed dia ibu-ibu berisik garda depan pembela kebenaran, di rumah ternyata boro-boro berisik, ditanya pendapat sama suaminya aja nggak pernah. Di socmed dia ibu-ibu inspiratif banyak kegiatan positif bersama keluarga, di rumah dia ternyata depresi karena masalah dengan mertua.

Makanya jangan bingung sama orang-orang yang di socmed ributnya ya ampuuunnn. Pas ketemu hening krik krik. Atau sebaliknya, di socmed tampaknya hidup seru dan bahagia, pas ketemu kok ya orangnya banyak ngeluh. Ya maklum, itu topeng satunya lagi kan, topeng social media.

Lalu apa harus jadi orang yang sama di semua panggung biar dibilang apa adanya?

(Baca: Menjaga Perasaan Siapa Agar Tidak Dibilang Fake?)

Ya nggak juga sih. Nggak apa-apa kok punya banyak peran, punya banyak topeng. Saya nyaman berisik di socmed dan JUGA di dunia nyata. Saya nyaman bercerita pada kalian di blog ini seperti saya bercerita pada JG. Kalau kalian merasa tidak nyaman ya tidak apa-apa. Tidak berarti kalian palsu, kalian hanya sedang pakai topeng yang lain.

Yang jelas, harus diingat bahwa ini adalah topeng peran, bukan topeng kebohongan. Kalian yang berisik di socmed tapi pendiam di dunia nyata, nggak berarti kalian bohong kan?

Cuma inget-inget aja kalau lagi pengen ngomong kasar sama orang. Waitress itu mungkin teraniaya di rumah, satpam itu juga mungkin ayah-ayah yang lagi bingung bayar sekolah anak, abang angkot yang nyebelin itu mungkin sebatang kara. Yah, entah ini harus dipikirin apa nggak sih ya.

Ya gitulah. Auk nulis apa sih ini. Bye!

-ast-