Image Slider

Ketika Bebe Tanya Kenapa

on
Monday, October 16, 2017
Finally, Bebe is in WHY phase!


Kenapa finally, karena saya udah sering banget liat anak yang nanya terus-terusan why why why terus ibu bapaknya pusing jawab. Jadi penasaran banget kapan ya Bebe akan nanya kenapa? Ternyata sebulan dua bulan belakangan sebenernya udah mulai tapi akhir-akhir ini makin intens karena suka nguping pembicaraan saya dan JG! LUCU BANGET!

Well, lucu bagi saya yang nganggap anak nanya itu lucu sih. Sering banget saya liat orang tua yang terang-terangan terganggu terus nyuruh diem. KASIAN. JANGAN GITU PLIS. JAWAB SEPENUH HATI PLIS. T_______T

Oke jadi awalnya dia hanya nanya “kenapa”:

👩 Ibu: “Be, nanti di kantor appa kamu main sepeda ya!”

👶 Bebe: “Kenapa ibu?”

👩 Ibu: “Ya biar nggak bosan”

👶 Bebe: “Kenapa ibu?”

👩 Ibu: “Soalnya nunggunya nanti lama”

👶 Bebe: “Kenapa ibu?”

👩 Ibu: “Kenapa coba?”

👶 Bebe: “Hehehe”

Kemudian dia kayanya ngerasa saya kurang maksimal jawabnya kalau cuma tanya kenapa jadi dia tanya satu kalimat utuh yang saya ucapkan terakhir! Dan nanyanya itu sepenuh hati dengan ekspresi ingin tahu!

👩 Ibu: “Bebe sama appa main ya, ini hari Sabtu tapi ibu kerja nih ada acara kantor

👶 Bebe: “Kenapa hari Sabtu tapi ibu kerja ada acara kantor?”

Spesifik banget kan itu pertanyaannya. Bebe kamu balita atau penyidik KPK? *apeu*

👩 Ibu: “Iya di sekolah kamu juga pernah kan hari Sabtu ada acara. Sekarang kantor ibu juga

👶 Bebe: “Kenapa sekarang kantor ibu juga?”

JAWAB APA YAAA ENAKNYAAAAA. Kalau udah gini saya sama JG biasanya udah ngikik aja.

👩 Ibu: “Ya ini nggak sering-sering kok, sekali-sekali aja

👶 Bebe: “Kenapa sekali-kali aja?”

*MELARIKAN DIRI KE NEW YORK MENYUSUL RANGGA UNTUK MEMBUAT KOPI AGAR TETAP TERJAGA*


❓ Kenapa sih anak 3 tahun nanya kenapa terus?

Karena anak 3 tahun itu sudah mulai mengerti lingkungan di sekitarnya itu sebagai sesuatu yang berbeda dari dirinya sendiri. Kalau dulu kan dunia itu ya dia aja, semua tentang dia. Kalau sekarang dia mulai ngerti bahwa ada hal-hal yang kok susah dimengerti ya? Maka dia bertanya:

... kenapa ibu?

Pertanyaan bagus sih karena jawabannya bisa berbagai macam. Dari alasan sampai penjelasan panjang lebar tentang kenapa matahari terbenam dan bukannya tenggelam. Padahal sama-sama menghilang. Kenapa matahari terbenam? Tenggelam kali?

👩 Ibu: “Kalau tenggelam itu ke dalam air

👶 Bebe: “Kenapa ke dalam air?”

Capek ya jawabnya? Kebayang deh duh apalagi buibu yang anaknya lebih dari satu, anak yang satu bayi, anak yang gede nanya kenapa-kenapa mulu. Pengen jambak sih nggak, cuma pengen nyisirin rambut ibu kan jadinya! #PengabdiSetanReference #padahalnontonajanggak

Tapi ya percayalah kalau ini kesempatan untuk meraih mimpimu setinggi langit kepercayaan diri anak. Bahwa jika anak bingung, maka tanya pada ibu. Berulang kali saya bilang pada Bebe "Be, pokoknya kalau kamu ingin tau sesuatu, tanya ibu aja ya!"

Yang dijawab dengan: "KENAPA TANYA IBU AJA?"

HAHAHAHA

Daripada di masa depan dia kalau punya pertanyaan terus tanya orang lain atau googling sendiri? Tanya ibu dululah, biarkan ibu yang googling. LOL

Karena ya anggap aja ini sebagai starting point dari curiosity-nya. Dan saya sama JG selalu jawab seserius mungkin! Makin serius jawabannya, makin pusing dia, biasanya dia mikir dulu terus berhenti nanya why selanjutnya.

Contoh percakapan dengan jawaban ekstrem yang akan membuat Bebe berhenti nanya kenapa:

👩 Ibu ke appa: “Wah, itu gedung apa sih kok diancurin gitu?”

👶 Bebe: “Kenapa gedung diancurin, ibu?”

👩 Ibu: “Mungkin karena sudah tua jadi mau dibuat gedung baru

👶 Bebe: “Kenapa mau dibuat gedung baru?”

👨 JG: “Karena kalau gedung tua dibiarkan, nanti konstruksinya makin lemah, Be. Kalau konstruksi lemah nanti gedungnya nggak tahan, nanti kalau ada gempa kan bisa-bisa malah runtuh. Jadi sebaiknya kalau gedung udah tua ya diruntuhin dulu terus bikin yang baru blablabla *panjang banget pokoknya* …”

👶 Bebe: *diam dengan muka mikir*

Hahahaha kasian tapi biarlah untuk melatih otaknya berpikir kritis dan BENAR. Karena kadang kita mikir kaya Bebe ngerti nggak ya kalau dijawab beneran? Tapi masa mau dijawab asal? Jadi ya udah sih mau dia ngerti atau nggak ngerti ya jawab beneran aja. Paling mentok dia nanya lagi kan.

Saya dan JG mending jawab panjang lebar daripada jawab "ya karena ibu bilang gitu!" alias "because I said so" karena takut suatu hari dia balikin dengan "ya karena aku mau!" Ribet deh nanti ah. Tahan-tahan deh, jangan sampai itu keluar.

Meskipun kadang percakapannya jadi nggak masuk akal banget. Contoh:

👶 Bebe: “Ibu aku mau ini”

👩 Ibu: “Boleh

👶 Bebe: “Kenapa boleh?”

👩 Ibu: “Yaaa, boleh aja kalau kamu mau

👶 Bebe: “Kenapa aku mau?”

👩 Ibu: “Nggak tau tadi katanya tadi kamu mau?”

👶 Bebe: “Kenapa katanya tadi aku mau?”

LHAAAA. Mengapa aku harus terjebak di pembicaraan yang tak berujung dan entah di mana akan usai zzz.

Kalau udah capek banget jawab, tergampang adalah dengan tanya balik dengan pola pertanyaan dia dan pertanyaan kuntji "kenapa coba?", ini mancing anak mikir banget dan dia berhenti nanya karena mikir keras lol.

👶 Bebe: “Ibu, punggung aku gatel. Kenapa punggung aku gatel ibu?”

👩 Ibu: “Kenapa coba?”

👶 Bebe: “Karena digigit nyamuk

👩 Ibu: “Kenapa digigit nyamuk?”

👶 Bebe: “Kenapa aku digigit nyamuk?”

👩 Ibu: “Kenapa coba?”

👶 Bebe: “Karena belum mandi

👩 Ibu: “Kenapa belum mandi?”

Bebe bingung. Ibu win!

Ah ya! Baru inget kalau pertanyaan “kenapa” ini berbarengan dengan pertanyaan "kok?" Sama juga bertanya karena dia penasaran aja. Dan curiousity ini sudah masuk ke pertanyaan seputar seksualitas:

"Kok ibu nggak ada t*titnya?"

"Kok ibu perempuan tapi nggak hamil?"

JAWAB DENGAN BENAR YAAA. JANGAN JAWAB ASAL YAAA. Jawab sambil baca buku lebih enak karena ada gambarnya. Nanti soal menjawab pertanyaan semacam ini ditulis terpisah ya!

Atau pujian-pujian gombal yang tidak akan pernah bisa dilewati oleh JG karena kalau JG yang ngomong saya paling rolling eyes hahaha.

"Kok ibu cantik?" *ASIK*

“Kok gambar ibu bagus banget sih!” *alah padahal mah ya gitu aja lol*

“Kok ibu kuat, ibu hebat banget!” *IYA DONG BE!* *BANGGA*


Semoga Bebe cepet pintar ya! Jangan lelah bertanya kenapa! Dan buat ibu-ibu yang anaknya lagi di why phase juga tips dari saya cuma satu aja sih: DIJAWAB YAAA PERTANYAAN ANAKNYAAAA!

Kasian soalnya huhu.

Buat yang masih main Twitter, saya bikin thread celetukan Bebe. Belum banyak sih cuma ya iseng aja daripada lupa. Dibikin blogpost mah kapan-kapan kan. Cek di sini ya!


See you!


Dan ini bonus gif Cinta dengan Dian Sastro masih kurus karena ya pengen aja terserah gue sih elaahhh. Hahaha.

-ast-


Bebe dan Rasa Takut

on
Wednesday, October 11, 2017

Dulu waktu Bebe belum umur setahun, saya rasanya bangga banget punya anak nggak penakut. Naik kuda-kudaan yang goyang-goyang itu sambil BERDIRI, naik perosotan tinggi berani padahal belum bisa jalan, ngapain juga Bebe oke-oke aja deh, nggak ada takutnya sama sekali.

Baru beberapa lama kemudian kusadari, Bebe ternyata bukan anak pemberani tapi waktu umur setahun mah emang belum nyampe aja otaknya alias belum bisa mendefinisikan apa itu rasa takut. HAHAHA

Dan sebagai ibu-ibu, ketidaktahuan kadang ditutup kebanggaaan. Bangga sama halu beda tipis padahal huhu.

Karena kerasa banget makin gede makin jadi penakut kan anak-anak itu? Dan ini peer banget deh buat saya yang kompetitif.

Abisan saya maunya Bebe jadi anak yang benar-benar pemberani (bukan menurut kebanggaan saya aja). Tapi ternyata pemberani ini spektrumnya luas banget! BANGET! Dan sebagai ibu ambisius ya saya maunya Bebe pemberani di segala lini kehidupan lah! *REPOT*

Untuk kehidupan sosial, Bebe termasuk anak yang pemberani. Meski kadang malu ngomong, tapi dia nggak sungkan untuk ngajak anak lain yang baru ketemu main bareng. Apalagi kalau anaknya keliatan pendiam gitu, dia suka nyodorin mobil-mobilan terus mereka main bareng.

Makanya di daycare baru pun Bebe nggak punya kesulitan adaptasi. Kata missnya dari hari pertama dia udah cerewet aja dan mandiri banget kaya bank. Intinya saya bangga beneran sama kemampuan sosialnya karena terbukti! *apeu*

(Baca: Melarang Anak dengan Kata 'Jangan')

Nah tapi tentu saja Bebe takut sama hal lain.

Pas kemarin beli balance bike, dia nangis-nangis di mobil karena nggak sabar pengen nyampe rumah dan coba sepedanya. Di mobil, sepeda yang belum dirakit itu dia peluk. Nyampe rumah dia coba 5 detik terus bilang “nggak ah aku takut jatuh” terus ditinggalin aja gitu main yang lain. WHY!

Besoknya saya langsung beli peralatan safety lengkap dan saya liatin video-video anak lain yang udah jago balance bike. Saya jelasin juga kalau jatuh, tidak akan sakit karena kan sudah aman. Seminggu deh prosesnya sampai dia bener-bener mau nyoba balance bike-nya agak lama. Sebelumnya sih ya gitu aja, main 2 menit terus nggak mau dan main yang lain.

Sebelnya kalau dibilangin tuh ngejawab! Misal gini:

Ibu: “Kamu kan hebat Be, pasti bisalah naik sepeda”
Bebe: “Nggak ah aku nggak hebat. Aku takut jatuh terus sakit”

T________T


Karena jadi orangtua itu harus siap jadi motivator, maka ya saya sama JG terus-terusan kasih motivasi dan kalimat positif sama Bebe kalau Bebe pasti bisa naik sepeda. Sampai akhirnya ya bisa. Sebelnya lagi kalau udah bisa maka ia menuntut pujian.

“Aku udah bisa kebut loh ibu, aku hebat kan?”

IYA HEBAT IYAAA.

Tapi saya nulis ini karena momen kemarin. Gong dari segala urusan penakut ini yaitu Bebe ternyata takut banget naik monkey bar di sekolah! Bentuknya gini, nggak tinggi-tinggi amat lah setinggi saya doang. Dan ada pegangannya.

source

Awalnya saya liat temen-temennya Bebe pada bisa semua naik monkey bar ini. Manjat ke atas loh ya, manjat dari satu ujung ke ujung lainnya. Bahkan sampai anak umur 2 tahun aja udah pada bisa! Bebe penasaran pengen nyoba juga tapi terus baru dua tangga dia berhenti dan turun lagi. “Aku takut”

T________T

Saya rada nggak terima gitu karena kenapa takut deh? Anak lain buktinya bisa! Saya nggak mau dia jadi takut ketinggian kaya JG karena waktu kecil JG selalu dilarang main panjat-panjatan model gini.

Berhari-hari saya bawa monkey bar ini sebagai topik pembicaraan dan puji sebagai anak pemberani. Model “kamu kan anak pemberani, pasti bisa lah naik monkey bar” yang selalu dijawab dengan “aku nggak pemberani aku takut”.

T_______T

Sampai suatu hari saya nggak jemput, Bebe dijemput sama JG dan JG kirim foto Bebe lagi di atas monkey bar! KOK BISA!


JG bilang kalau Bebe mau selamatin robot harus naik monkey bar itu dulu. And it works! Jadi selama ini dia nggak mau naik itu kemungkinannya itu ada dua:

1. Bebe emang takut banget
2. Bebe nggak takut-takut amat tapi manja aja karena ada ibu

(Baca: Bebe yang Romantis)

Karena kalau ada ibu itu Bebe manja! Semua maunya sama ibu, semua maunya sambil dipeluk ibu, semua mendadak nggak bisa gitu hhhh.

Tapi ya saya jadi belajar juga. Bahwa rasa takut anak itu muncul sendiri tanpa ditakut-takuti, dan bisa dihilangkan dengan motivasi! #rhymes

Karena Bebe bener-bener nggak pernah ditakut-takuti siapapun tapi toh dia takut juga. Dan Bebe hanya butuh seminggu motivasi sampai akhirnya mampu melawan ketakutannya sendiri.

Ya tapi itu kan Bebe ya, nggak tau kalau anak lain hahaha. Kalau anak kalian takut apaaa?

-ast-


Bebe yang Jijikan dan Sensory Play

on
Monday, October 9, 2017
[LONG POST]


Kalau kalian udah lama baca blog saya pasti tau kalau saya nggak pernah main sensory sama Bebe. Pertama, males. Kedua, males beres-beresnya. LHA HAHAHA.

Yaaa, saya mikirnya ya mainan itu bentuk mainan edukatif biasa aja. Terserah dong mau main sensory apa nggak? Toh banyak juga orang yang kecilnya nggak sensory play tapi pinter-pinter aja. Jadi saya selalu menganggap main sensory itu opsional.

Sampai saya kena batunya karena daycare dan preschool Bebe yang sekarang montessori!

Padahal beneran deh, saya pilih daycare dan preschool sekarang bukan karena montessorinya. Karena Bebe masih 3 tahun, saya pokoknya pilih daycare yang sesuai kriteria daycare idaman aja. Rumah luas dan nyaman, ada halaman, mainan banyak, dan yang paling penting: kamar dan kelas DIPISAH.

Survey ke 7 daycare dengan preschool/program belajar, cuma ini yang masuk ke semua kriteria yang saya mau. KEBETULAN ternyata mereka montessori, oh ya udah anggap nilai plus aja dong ya.

Ternyata nggak! Karena montessori tandanya banyak main sensory! Dan Bebe nggak kenal apa itu sensory play! *NGGAK BISA SANTAI*

🍎 Foto yang hilang 🌼

Mistis yah sub-judulnya lol.

Tiap hari, miss dan teacher di daycare Bebe selalu kirim foto kegiatan seharian. Dan saya menyadari bahwa ada beberapa kegiatan di mana Bebe nggak ada fotonya. Awalnya saya mikir oh mungkin dia males kali. Soalnya karena kelasnya lumayan padat, dari awal masuk saya kasian sendiri sama Bebe.

Jadi saya udah bilang sama Bebe “Be, kalau kamu ngantuk atau nggak mau belajar, bilang sama miss aja ya. Tidur aja biar, bilang miss kamu nggak mau belajar”

Orangtua macam apa ya yang nyuruh anaknya skip school begini HAHAHA. Abisan kasian ih anak kecil kok ya penuh rencana gitu. Kali aja dia mau main ya boleh, gitu loh maksudnya. Karena anak lain semuanya udah mau 4 tahun gitu umurnya. Bebe paling kecil.

Padahal kegiatannya seru sih. Misal bulan ini temanya tumbuhan di sekitar kita, tema hari ini pepaya. Maka mereka jalan (NYEKER) ke taman liat pohon pepaya, pegang pohon pepaya, motong sendiri buah pepaya, makan sendiri. Kemudian menggambar dan menempel pepaya dan diakhiri dengan main dengan material montessori.

Nah foto Bebe suka ngilang di bagian montessori! Ke mana dia!

Saya tanya ke gurunya, katanya "Xylo maunya main lari-larian aja bu, nggak mau disuruh pilih material". OOOHHH. Saya bilang "oh gitu ya udah nggak usah dipaksa ya miss"

YAKALI MASA MAU DIPAKSA.

🍎 Bebe ngamuk 🌼

Bebe di daycare baru nggak nangis sama sekali. Saya udah pernah cerita di sini: Bebe Sekolah!

Anaknya emang ekstrovert sih, dari hari pertama dia langsung bisa mingle sama anak lain gitu. Jadi nggak ada tuh drama “ibu nggak boleh kerja” sama sekali. Sampai suatu hari setelah sebulan Bebe akhirnya nangis. Karena …



tangannya kena lem.

YES PEOPLE. TANGAN KENA LEM.

Jadi kegiatan di kelas hari itu adalah menempel. Bebe ogah-ogahan colek lem pake jari. Terus missnya iseng nyolekin lem ke punggung tangan Bebe. Kemudian dia sakit hati banget dan marah.

Dia lari keluar kelas dan keluar rumah. Nangis ngamuk di teras manggil-manggil ibu sampai ketiduran di kursi teras zzz. Kenapa dia begitu? Karena ...

🍎 Bebe yang jijikan dan taat aturan 🌼

Sejak kecil, Bebe tuh udah geli sama tekstur. Dia nggak suka jalan di karpet kasar atau rumput sintetis. Dia nggak suka saya pake jaket jins atau baju-baju yang ada teksturnya. Risihan lah padahal saya di rumah bukan yang hygiene freak gitu kenapa si Bebe demikian. Entahlah kupun kurang paham.

Jijikan ini combo sama taat aturan. Nggak tau deh antara anaknya memang manis atau karena kami tidak menegakkan aturan sambil marah-marah jadi dia malah nurut banget. Saya sama JG jarang (bukan nggak pernah lol) banget marah sama Bebe karena ya untuk apa? Kaya percuma gitu. Kalau ngomong baik bisa ya kenapa harus marah gitu loh.

Paling gampang mah sampai sekarang Bebe nggak pernah coret-coret dinding karena saya pernah kasih tahu kalau gambar ya di kertas. Kalau aturannya begitu ya dia nurut. Makanya sampai sekarang dia bisa main sepeda dengan gear lengkap itu karena ya menurut dia aturan naik sepeda emang gitu.

Terus kenapa saya bilang combo? Karena ada peraturan-peraturan yang jadi nyambung sama sumber kejijikan.

Contoh: “main ke luar HARUS pake sendal/sepatu ya Be!”

Maka si Bebe keluar rumah selalu pake sendal dan sepatu dan dia jadi jijik kalau nggak pake. Dari kecil banget kalau ada anak daycare lain yang lari keluar nggak pake sepatu, BEBE AMBILIN SEPATUNYA DAN DIPAKEIN KE ANAK ITU.

Contoh lain, sejak kecil saya nggak pernah marah kalau dia numpahin makanan atau minuman, dia langsung tau diri aja langsung ambil lap dan lap sendiri. Hasilnya? Dia selalu hati-hati dan berusaha nggak numpahin apapun.

Yang mana hal-hal kaya gini ternyata susah kalau sekolahnya montessori.

Saya liatin ke Bebe foto temen-temennya yang main sensory dan nanya kok Bebe nggak mau main ini?

Misal mindahin air pake sponge dia jawab "nggak ah tar tangan aku basah terus airnya tumpah-tumpah kena meja" (males dia nanti harus pel sendiri)

Main air di halaman sambil nyeker "nggak ah nanti kaki aku basah" (karena main di halaman seharusnya ya pake sendal dong ibu!)

Finger painting “nggak ah nanti tangan aku kotor” (tangan kalau kotor aja langsung dicuci, ini kok malah sengaja dikotor-kotorin? kan bisa pake kuas!)

Mindahin biji-bijian pake sendok, jawabnya "aku jijik sama biji itu"

GOD.

🍎 Terus aku sedih 😟

Saya ngerasa gagal banget karena kenapa sih Bebe kaya gitu? Saya beneran nggak apa-apa kalau Bebe skip kelas karena dia ngantuk atau capek, tapi masa skip karena jijik? Curhatlah sama geng kesayangan dan disuruh tes ini sama Gesi untuk nentuin ada yang ketinggalan nggak milestone-nya?

Saya coba dan nggak ada. Sampai 52 bulan juga Bebe masih oke. JG konsultasi sama temennya yang psikolog anak dan akhirnya ditarik kesimpulan bahwa:

Bebe cuma kurang main sensory di rumah hhhh.

Malem itu juga saya bertekad dan mulai coba colek-colek lem di rumah. Random aja saya sama Bebe colek-colek lem ke kardus bekas susu. Nggak bikin apapun. Bebe awalnya bingung gitu ngapain sih? Tapi saya cuekin aja dan saya colek-colek terus. Lama-lama dia ikut colek sampai beberapa menit kemudian dia mulai risih dan lari sendiri ke kamar mandi untuk cuci tangan. Saya diemin aja nggak paksa.

BESOKNYA DI SEKOLAH BEBE MAU COLEK LEM! Meskipun mukanya masih jijik dan beneran nyolek pake ujung telunjuk gitu. Hahaha. Nggak apa-apalah kemajuan.

Ternyata bener kata Gesi dan temennya JG, dia begitu karena nggak terbiasa aja. (ya masa aku biasain jijik-jijikan sih? HAHAHA IBUNYA EMANG RESE)

Terus kemarin nyoba main kacang ijo dan tadi pagi sih ditanya Bebe bilang mau main biji-bijian di sekolah. Nggak tau deh hari ini, belum dikirim foto dan belum ketemu Bebe. SEMOGA BENERAN MAU YA.

Jadi sesuai saran Gesi saya mau merencanakan mulai main sensory di rumah. Seminggu sekali mungkin (KALAU NGGAK MALES). Goalsnya belum akan sesuai teori kaya nyendokin dari kiri ke kanan blablabla, yang penting Bebe mau MEGANG dan NGINJEK dulu aja berbagai tekstur.

Soalnya sayang banget deh udah bayar sekolah terus Bebenya nggak mau ikut semua kegiatan cuma karena nggak terbiasa melakukannya sama saya di rumah. Jadi ibu peernya banyak banget ya. Banyak peer dan ogah rugi, ribet deh elah.

Tapi urusan aturan plus megang tekstur ini emang jadi bingungin sih. Misal dia makan jelly. Seharusnya makan jelly ya pake sendok dong ya supaya nggak lengket ke tangan. Tapi dalam rangka megang berbagai tekstur jadinya saya keluarin jelly dari cupnya dan taro aja di tangan dia terus Bebe bingung "kok boleh aku pegang jelly? Nggak pake sendok aja ibu?"

GIMANA DONG BEEE. Akhirnya ya saya jawab "boleh deh, tapi abis itu harus langsung cuci tangan ya!" Huhu. Padahal saya sendiri aja bisa risih banget tangan lengket apalagi mikirin harus nyeker di taman atau harus main pasir di pantai gitu oh no. No no no. T________T

*

Dan ya, untung aja Bebe preschool! Minimal saya jadi punya pembanding oh anak seumur ini harusnya sudah bisa apa. Kalau nggak mungkin saya akan tetep halu kalau Bebe anak paling hebat, padahal ternyata ya sama aja kaya anak lain hahaha.

“KOK MALAH BANDING-BANDINGIN ANAK SIH!”

Ya kalau milestone mah perlu dibandingin atuh. Kan udah jelas umur sekian harus bisa apa minimalnya. Yang nggak perlu dibandingin itu urusan value di keluarga kan. Urusan mau minum susu apa nggak, toilet training umur berapa, disiplin duduk di high chair apa di lantai aja, dsb. Value keluarga mah beda-beda, tapi milestone sih udah ada standarnya kan.

Jadi ya, itu aja! Next saya mau cerita juga soal Bebe yang mendadak penakut. Nanti yaaa!

See you!

-ast-


Bebe Bebas Gadget, Finally!

on
Wednesday, October 4, 2017
LONG POST. NGGAK MAU DIEDIT BIAR PENDEK. BIAR SAYA SENDIRI INGET DETAILNYA. BACA LAH PLIS. HAHAHA.


antri dokter gigi, bebe menggambar ibu main hp hahaa

Kalau kalian baca blog ini dari dulu, mungkin tau ya kalau saya tidak anti gadget tapi anti korupsi. Saya kasih Bebe nonton YouTube (tidak game sama sekali, hanya YouTube) dan awalnya tidak merasa bersalah. Pertama karena saya merasa masih bisa mengontrol Bebe, kedua saya merasa bahwa Bebe tidak berlebihan juga nontonnya ...

... padahal mungkin denial aja itu mah hahaha

🙅 Awal mula 📱

Bebe mulai nonton dari umurnya 2 tahun. Sebelumnya dari 20 bulanan gitu udah saya kasih lagu-lagu di YouTube tapi paling satu lagu bosen. Sebelumnya lagi dari pas bayi sih emang nggak saya kasih gadget sama sekali. Nggak tau ya kaya nggak kepikiran aja gitu dulu kalau anak sekecil gitu udah bisa nonton.

Plus nggak punya TV juga di rumah jadi dia nggak terbiasa liat layar. Dia anak yang norak kalau liat TV di mall, bisa dipelototin banget lama nggak mau jalan hahaha.

Setelah 2 tahun Bebe mulai bisa nonton satu film full dari awal sampai akhir. Itu pun nonton di laptop dan diulang-ulang film yang sama: Zootopia. Sampai saya hafal seluruh dialognya. Kemudian dia nonton Frozen juga terus-terusan sampai saya hafal semua scenenya. Akhirnya ya ke YouTube, ngefans sama Upin Ipin seperti anak-anak lainnya.

🙅 Mulai ketergantungan 📱

Kondisinya Bebe punya hp sendiri tapi nggak saya kasih simcard. Untuk nonton maka dia tethering ke HP saya. Saya punya full control karena kalau saya mau, ya saya matikan wifinya. Jadi tidak ada yang berlebihan, MENURUT SAYA, DAN ITU DULU.

Intinya, kemarin-kemarin itu Bebe seneng banget nonton Upin Ipin dan saya JUGA jadi bergantung pada YouTube untuk bikin Bebe tenang dan kalem. Lagi macet dan Bebe cranky ya tanya mau nonton apa, lagi nongkrong sama temen-temen ya Bebe kasih YouTube biar diem, lagi capek di rumah pengen leyeh-leyeh ya kasih Bebe nonton biar saya bisa chat di group, lagi makan di luar ya kasih Bebe nonton lah, kalau nggak gimana saya makan? *pake sendok sis*

(Baca: Memilih Tayangan Edukatif untuk Anak)

Makin lama ternyata saya mulai khawatir. Awalnya khawatir takut mata rusak aja sih. Karena ada temen yang anaknya sering nonton, pas TK udah pake kacamata. Ada juga sepupu yang baru kelas 5 SD matanya udah plus, BUKAN MINUS! Kata dokter karena kebanyakan fokus pada satu titik di gadget. Mana turunan appa ibunya pake kacamata gini kan.

Oh waw olrait aku khawatir, TAPI NGGAK USAHA DETOKS JUGA.

Iya, mulai khawatir tapi belum yang “ok aku siap untuk membuang hp Bebe dan kehilangan waktu leyeh-leyeh” gitu. T_____T

🙅 Tentang detoks gadget 📱

Saya mulai tertarik dengan detoks gadget setelah sempet ngobrol di komen IG dengan Sazki dan baca blogpostnya: Detoks Gadget. Dia udah detoks gadget ke Menik, anak perempuannya sejak 15 bulan wow! Umur 15 bulan Bebe bahkan belum mau nonton hahahaha.

Cuma karena tau ceritanya Sazki, saya jadi sadar bahwa detoks gadget itu PASTI bisa, cuma ya kapannya itu tergantung kesiapan orangtua. Dan sejak saat itu saya selalu sounding ke Bebe tiap kali dia mau nonton bahwa nonton itu bikin mata rusak loh, nonton itu nanti matanya perih, nanti Bebe liatnya jadi susah, dll

Sampai beberapa bulan, tiap mau nonton saya kasih wanti-wanti itu dulu, tapi saya belum larang apapun. Masih dikasih, dengan wejangan panjang lebar. Sampai akhirnya Bebe beneran terdoktrin dan bilang gini sendiri “ibu, kalau aku nonton terus nanti mata aku pecah”

WOW. SEREM. HAHAHA. Saya bilang “nggak pecah sih, cuma rusak”. Dia nggak nangkep gitu, dia soalnya bandinginnya sama mainan, kalau rusak ya pecah atau copot gitu kan.

Terus pelan-pelan saya kasih tau kalau di mobil udah nonton maka ketika mobil masuk garasi, hp harus langsung dimatikan. Karena waktu itu pulang daycare pasti di mobil minta nonton. Ngamuk lah awal-awal. Tapi cuma 3 harian gitu terus dia ngerti, masuk garasi, matikan HP. 

Nyampe rumah main-main dulu terus sebelum tidur biasanya nonton lagi, tapi paling setengah jam karena saya matikan wifinya (tanpa dia tau) terus saya pura-pura tidur. Nanti dia ketiduran sendiri.



🙅 Kenapa akhirnya detoks? 📱

Kalau Sazki kan khawatir sama perkembangan anak, saya justru nggak sih. Mungkin karena Bebe lebih besar dari Menik ya. Saya juga cek di checklist tumbuh kembang dan rutin konsul psikolog (jadi bukan halu lol), Bebe nggak ada masalah sama sekali dengan perkembangannya. Motorik bagus, bicara bagus, konsentrasi bagus, lempar tangkap bola aman, menggunting bisa. Sesiang di daycare nggak kena TV.

Masalahnya satu, YouTube jadi pelarian! Benci!

Bebe bengong sedikit minta YouTube, bosen sedikit pengen nonton, kapan pun dia ngerasa bingung mau ngapain pasti minta nonton. Sebel banget padahal saya kalau di mobil kadang pengen ngobrol banyak gitu sama Bebe, seharian ngapain di daycare. Eh dia jawab seadanya terus maksa minta nonton. Kalau udah nonton mana bisa diajak ngobrol!

JG main hp terus aja saya sebel apalagi Bebe. Diri sendiri ketergantungan Instagram aja saya delete Instagramnya 7 hari, apalagi Bebe nyuekin saya karena nonton hhhh. Nyebelin.

(Baca: 7 Hari Tanpa Instagram)

Padahal ya salah saya juga. Sebelumnya saya yang selalu kontrol kapan Bebe boleh nonton (pas saya pengen istirahat atau pas makan di luar), lama-lama karena aturannya nggak jelas ya Bebe atur sendiri lah kapan dia pengen nonton. Jawabnya gini “aku senang kalau nonton, aku mau nonton biar senang”. Sebel banget nggak sih.

Akhirnya saya bilang JG, ini nggak beres. Dia apa-apa maunya nonton, kita jangan pegang hp depan dia ya! JG oke. Project pelepasan gadget dari Bebe, dimulai!

🙅 Bebe bebas gadget 📱

Pas banget dengan hari pertama Bebe sekolah. Nggak tau kenapa sih nggak direncanain juga. Cuma karena daycare sekarang jarak tempuhnya 1,5 jam ke rumah, tandanya kalau naik mobil dia langsung nonton dia akan nonton terus selama 1,5 jam. Daycare yang dulu sih paling lama 1 jam, rata-rata 30-40 menit lah kalau lancar.

Karena Bebe excited banget sekolah akhirnya saya ajak ngobrol terus sampai dia ngamuk karena dia maunya nonton. Saya bilang Bebe tidak boleh nonton lagi karena sekarang sudah sekolah, nanti matanya rusak blablabla. Saya biarkan dia marah ngamuk nangis di car seat.

Hari kedua dia minta lagi, saya tolak tapi udah nggak marah. Ngelamun doang bentar tapi terus ngobrol lagi. Hari ketiga udah nggak minta sama sekali!

Seminggu lah sampai akhirnya dia nggak peduli kalau pun saya atau JG buka HP depan dia. Udah nggak minta aja, sibuk sendiri main atau liat ke jalan. Cobaan datang saat weekend hahahahaha.

Karena weekend kami cuma bertiga di rumah dan capek laahh kalau harus full 2x24 jam nemenin Bebe. Akhirnya pas weekend dicoba nonton tapi pakai alarm 1 jam, alarm berhenti dia harus matikan HP nya dan ternyata berhasil. Nggak nangis sama sekali. Alarm bunyi, dia matikan, terus ambil mainan lain.

FINALLY. SETELAH SETAHUN!

Hari ini tepat sebulan setelah Bebe lepas gadget. Kadang masih minta, kadang saya kasih kadang nggak. Yang penting bukan lagi memperlakukan YouTube sebagai pelarian dan kalau nggak dikasih nggak marah apalagi ngamuk. Nggak lagi yang bener-bener HARUS tiap naik mobil langsung nonton. Weekend juga kadang 2 kali nonton YouTube pake alarm satu jam. Nggak apa-apa, nggak apa-apa banget. Yang penting udah nggak ketergantungan.

(Baca: Anak Kecanduan Gadget, Salah Siapa?)

🙅 Paling kerasa repot pas apa? 📱

Di mobil nggak repot sama sekali karena saya tinggal nemenin dia ngobrol aja selama 1,5 jam. Bener-bener quality time deh. Ngobrol sambil pegangan tangan gitu huhu romantis. Yang repot itu kalau lagi makan hhhh.

Sebulan kemarin saya cuma makan keluar 3 kali. Sekali sama temen saya yang bawa anak jadi dia main sama anak itu. Kedua makan Shaburi dan Bebe minta dibacain buku! Repotnya ampun saya bingung sendiri gimana sih makan sambil bawa toddler saking setahun terakhir kalau saya makan ya Bebe nonton. Nggak konsen banget makannya. Akhirnya saya kasih dia buah dan dia makan buah sendiri deh.

Ketiga kemarin pas perpanjang SIM itu, saya beliin Lego kecil deh akhirnya. Dia main Lego, saya makan sambil suapin dia. 

Saya bener-bener belum nemu cara biar dia anteng di tempat umum tanpa nonton. Soalnya Bebe nggak terlalu suka menggambar, baca buku repot juga, mentok ya so far bawa mainan aja sih yang dia suka. 

Apalagi ya! Udah sih itu aja. Nggak tips untuk lepasin gadget karena sebenernya gampang banget ASAL TEGA BILANG NGGAK. Udah itu aja.

Semoga menginspirasi yaaaa! 

-ast-


Gara-gara Susu Racun

on
Monday, October 2, 2017
Iya gara-gara susu racun jadi pengen nulis hahaha.


Duh ini kenapa Seninnya tau-tau udah jam setengah 6 aja. Saya lagi bengong doang ini nunggu dijemput karena nggak bikin blogpost apa-apa hahaha. Harus banget nih Senin nulis? Cerita random aja biar ya?

*BIARLAH BLOG JUGA BLOG GUE LOL*

Pengen cerita Sabtu kemarin waktu dateng ke parents meeting di sekolah Bebe. Pembicaranya kuliah montessori di Kanada. Lulus kuliah beneran jadi guru TK montessori juga di Kanada. Dia bicara soal dasar montessori selama 2 jam lebih, plus ada praktiknya juga.

Satu hal, orangnya negatif. T_____T

Oke mungkin bukan orangnya, tapi pemilihan kata-katanya. Saya yang tadinya semangat mau share hasilnya di sini jadi drop gitu karena yaaa, ngerasa nggak satu frekuensi aja sama beliau. Jadi mau share juga nanggung hahaha.

Salah satu topiknya itu tentang gimana makanan juga bisa ngaruh sama kualitas anak (iyalah ya anak kurang gizi gimana bisa konsen di sekolah kan). Dia minta satu contoh susu yang biasa diminum anak. Standar anak-anak minumnya si susu kotak kecil dong ya, dikasih lah satu kotak susu itu ke dia. Terus dia ngitung gulanya ada 9 gram dalam satu kemasan rasa coklat.

(Baca: Selepas ASI, Apa Anak Harus Minum Susu?)

Dia bilang 9 gram itu sekian sendok teh, dikali berapa kotak yang diminum anak maka anak makan gula sekian sendok teh sehari. Quote-nya kurang lebih gini:

"Kita nggak tahu gula jenis apa yang dikasih. Anaknya jadi aktif banget kan? Kalian cuma kasih racun ke anak kalian."

TITIK. ASLI NGGAK ADA PENJELASAN APA-APA LAGI SOAL SUSU.

AND WOW GIRL, RACUN IS A STRONG WORD.

Saya colek JG terus JG bisik "kalemmm, terserah dia lah mau ngomong apa"

Iya sih tapi saya beneran heran deh. Maksudnya dia ngomong di forum terbuka, nggak bisa gitu ngomongnya positif? Ngomong gini kan bisa.

"Kita nggak tahu gula jenis apa yang dikasih. Anaknya jadi aktif banget kan? Tandanya terlalu banyak mengkonsumsi gula. Efek sampingnya lalalalala"

MENGAPA RACUN? Apakah benar ada anak yang keracunan setelah minum susu kotak?

HHHH. Mungkin sayanya lagi mens jadi kesel, tapi beneran deh, dia pikir dia bisa ngasih semangat ke ibu-ibu setelah DIA JUDGE NGASIH RACUN ke anak?

Kenapa ya ada orang-orang yang kalau ngomong soal parenting itu seolah dia paling bener sedunia dan ibu lain hanya meracuni anaknya? Dan emang kenapa kalau anak saya aktif toh saya nggak ngeluh juga. Toh saya hepi punya anak aktif karena saya nggak mau punya anak pendiam.

OH TERUS SEBELUM ITU DIA BILANG GINI *tiba-tiba inget*

"Makanya ASI itu penting banget karena itu bonding ibu dan anak. Kalau ibunya nggak kasih ASI, jangan salahin kalau di masa depan anak nggak sayang sama ibunya"

O________O

Gila di dunia nyata mata saya udah super melotot sampai mangap banget. Itu jahat banget banget banget. Kenapa dia begitu, apa dia nggak tau kalau banyak anak adopsi yang sayang banget juga sama orangtua angkatnya padahal YA JELAS NGGAK DIKASIH ASI. Judgemental banget sih nggak ngerti deh ijk.

(Baca: Untuk Kalian Ibu-ibu yang Baru Melahirkan Anak Pertama)

Tapi saya sama JG nggak mau memicu keributan kan jadi ya udah kami diam. Saya BERUSAHA diam sih sebenernya karena JG mah nggak kesel-kesel amat kayanya hahaha. Biasalah suami-suami kan suka menanggapi segala sesuatu dengan lebih tenang ya padahal mah istrinya udah nangis bombay. Hormon itu mah gengs. #kalem

Terus ada beberapa lagi lah kalimat dia yang negatif cuma kepanjangan kalau diceritain semua.

Abis acara, saya diskusi sama JG dan sepakat kalau pembicara kaya gini sih emang harus 100% ideal dong ya, kan tugasnya dia emang ngasih tau mana yang "benar" menurut ilmu yang dia punya. Urusan diterapkan atau nggak kan keputusan kita sendiri. Tapi tetep aja saya rolling eyes sama pemilihan kata-kata dia huhuhu.

*

Intinya *narik nafas* tolonglah hormati keputusan ibu-ibu lain. Kalian tim susu atau tim kibulan susu, ya jangan jadi nyalahin keputusan satu sama lain. Oh anak lo nggak minum susu, OK! Oh anak lo minum susu 10 kotak sehari, OK JUGA!

Ya okelah, kenapa nggak sihhhh. Karena faktor penentu kan banyak ya, yang nggak minum susu ya belum tentu jadi lebih pinter dibanding anak yang minum susu. Nggak bisa lah lo tarik kesimpulan gitu aja. Yang narik kesimpulan kaya gitu pasti belum baca blogpost saya soal si neng A deh. *KEMBALI KE DIA LOL*

Kalau lo berhasil ASI 2 tahun ya udah hebat, kalau lo nggak ngasih ASI sama sekali karena udah usaha tetep nggak keluar YA UDAH HEBAT JUGA. Kalau anak lo kalem nggak pernah tantrum, ya udah hebat. Kalau anak lo tantrum di mall terus lo sabar nungguin dia selesai marah, YA UDAH HEBAT JUGA.

Kalau lo berhasil pake popok kain selamanya dan sanggup cuci sendiri tanpa punya mbak ya udah hebat. Tapi kalau lo nyerah di hari kedua dan langsung pake pospak YA MASA NGGAK HEBAT? Kenapa ukuran hebat apa nggak diukur dari hal-hal kaya gitu sih? Ibu yang ngasih yang terbaik itu ibu yang hebat!

Iya intinya semua ibu yang berusaha itu hebat! Jangan dengerin apa kata ibu-ibu lain yang sok paling sempurna ya! Biar aja kita nggak sempurna, yang penting kita bahagia dan anak kita sehat sentosa!

Dan ya kalau pun Bebe nggak bisa jadi astronot kerja di NASA karena saya kasih gula di susu 5 kotak sehari YA NGGAK APA-APA LAH. Kita selalu ingin anak kita jadi yang terbaik, tapi yang paling penting itu jadi orang baik. Dan minum susu tidak akan mengubah dia jadi orang jahat kan?

And speaking of racun, duile zaman sekarang kalau gula di susu anak yang jelas diawasi BPOM aja dibilang racun gimana makanan lain ya nggak? Hahaha. Apa coba zaman sekarang yang nggak racun dan nggak mengakibatkan kanker? Sayur aja harus organik kalau mau beneran bebas pestisida mah. Mahal ya buibu.

Ok I'm sorry for the rant.

Anggap aja reminder untuk senantiasa tidak kritik keputusan ibu-ibu waras lain. Semoga Seninnya tidak jadi lebih buruk ya!

Thank you!

-ast-

PS: I googled her and found nothing. Kayanya doi emang cuma praktisi aja dan jadi konsultan deh nggak pernah jadi pembicara di mana-mana. Ilmunya sih lancar banget ngelotok cuma yaaa, semoga ada yang kasih beasiswa untuk public speaking ya. Aamiin.