Image Slider

#FAMILYTALK: Dekat dengan Anak

on
Saturday, July 23, 2016

I know the title is a lil bit weird tapi ya itulah intinya. Intinya adalah gimana cara kalian buibu mendekatkan diri dengan anak? Bagaimana dengan anak selalu terbuka sama kita?

Apalagi buat kalian yang nggak dekat sama orangtua ya, pasti bertekad untuk nggak mau gitu sama anak dong? Saya sendiri sih tengah-tengah sebenernya. Saya cukup dekat dengan ayah dan ibu, tapi tidak sedekat itu sampai level curhat saat saya punya masalah dengan pacar saya.

Baca punya Isti:

Pas ketemu JG saya kaget karena saya segitu mah nggak ada apa-apanya hahahahahha. JG tipe yang cerita SEMUANYA sama ibunya. Yang setiap hari telepon ibunya dan cerita segala macem. Agak jet lag dan culture shock sih karena ketauan kalau berantem, berantem kenapa lol. Pas pacaran, nggak sekali dua kali dia marah entah kenapa dan saya nanya ibunya. :|

Untung pas sekarang nikah mah nggak. We tend to hide bad news and only tell them the good ones. Karena takut mereka khawatir aja sih.

Karena liat JG begitu, saya mau Bebe juga gitu nanti di masa depan. Curhat sama saya soal apapun dan nelepon saya tiap hari muahahahahaha *posesip*. Caranya gimana ya?

Nggak tau-tau amat sih lol. Ya gimana, punya anak aja baru 2 tahun terakhir kan.

Saya cuma lakukan hal-hal ini.

1. Bertanya
Kalau udah sama saya, saya tanya Bebe banyak hal. Di daycare ngapain aja, siapa yang nangis, siapa yang udah pulang duluan, makan sama apa, dan apalah banyak banget pokoknya. Dan dia jawab.

Saya juga bercerita apa yang saya lakukan. Tadi ibu blablabla. Dia nggak ngerti-ngerti amat sih tapi ya tidak ada salahnya memulai sesuatu yang baik dari kecil. Dan bertanya ini bisa jadi quality time banget.

So far, Bebe belum pernah bohong. Kalau mbaknya bilang dia tadi nangis dan saya tanya, ia jawabnya sama. Kalau mbaknya bilang dia tadi di timeout, maka ia pun tidak berbohong. Karena apa?

2. Tidak mudah marah

Saya berusaha tidak memarahi Bebe untuk hal-hal kecil, apalagi yang sifatnya tidak sengaja. Waktu kecil, ibu saya selalu marah kalau saya misalnya menumpahkan sesuatu, karena peer beres-beresnya katanya. Padahal ya saya juga mana mau kan menumpahkan sesuatu.

Pada Bebe, saya berusaha sabar. Ya kalau menumpahkan minum, diberi lap aja diminta lap sendiri. Kalau Bebe mainannya berantakan, ya tinggal diminta aja baik-baik untuk bereskan mainan. Ini susah banget sih.

Tapi "takut dimarahi" ini efeknya besar. Dulu banyak hal yang tidak saya ceritakan pada ibu saya karena saya tau dia akan marah. Jadi ya banyak hal yang saya sembunyikan juga. Makanya saya nggak mau Bebe seperti itu.

3. Menjawab semua pertanyaan Bebe

Yang mana satu pertanyaan bisa ditanyakan lebih dari 10 kali kalau dia belum ingat. Misalnya di rumah mertua, ada kumang punya kakak sepupu Bebe.

Bebe: "ibu ini apa?"
Ibu: "ini namanya KU-MANG"
Bebe: "cumang ibu? ini apa ibu?"
Ibu: "ini KUMANG bukan cumang"
Bebe: "cumang ibu cumang?

Dan seterusnya sampai dia ingat kalau itu namanya kumang.

Saya nggak berani nggak jawab. T______T Banyak saya liat ibu-ibu yang nggak jawab anaknya. Dijawab dengan.

"Iya dek duh udah sih kok nanya-nanya terus!"

atau

"Iya udah ah ssttt berisik!"

T______T

Kasian. Belum pernah sekali pun saya suruh Bebe berhenti ngomong dan percayalah dia anaknya cerewet banget.

Jadi inget kemarin-kemarin di Kidz Station Sency ada anak kecil. Mungkin sekitar 3 tahunan karena badannya lebih gede dari Bebe. Dia ngomongnya belum lancar, payah banget, tapi dia blabbering sambil tunjuk ini itu. Dan ayah ibunya lempeng aja kaya anaknya itu bisu. Mereka sibuk sendiri cari-cari mainan. Nggak nanggepin sama sekali.

Saya sapa dong karena nggak tahan. Ternyata dia cuma tunjuk mainan dan sebut namanya.

Dia: "mobil" *sambil tunjuk mobil*
Saya: "wahhh iya ini mobil ya, pintar!"
Dia: "kereta" *sambil tunjuk kereta*
Saya: "iya itu kereta namanya Thomas"

Dan taukah kalian pas mereka mau bayar ke kasir, anak ini nggak mau beranjak dan malah pegang tangan saya, masih sambil ngomong dan nunjuk ini itu.

PATAH HATI. T_______T Kasian banget itu anak nggak ditanggepin sama ayah ibunya sampai ia rela pegang tangan saya yang stranger karena saya nanggepin dia.

Ibunya malu: "Dek, itu tangan siapa, salah mama ya."

Saya: "If you're his mom, then act like one."

*tapi dalam hati*

-________-

Ya kebayang nggak sih anak-anak yang nggak ditanggepin dari kecil gini, pas gede ga ditanggepin juga dan malah jadi ngobrol sama orang lain. Malah jadi lebih nyaman cerita sama orang lain. Jangan sampai itu terjadi sama Bebe.

T_______T

Apalagi ya? So far itu aja sih. Ada yang mau menambahkan?

-ast-


#SassyThursday: The Socmed Idol

on
Thursday, July 21, 2016

Oke, jadi timeline beberapa hari heboh karena idola remaja masa kini berfollowers lebih dari 500ribu di Instagram PUTUS SAMA PACARNYA. She’s underage, her ex boyfriend is only 16 years old. Tapi putusnya si neng yang bahkan bukan artis TV ini dramanya udah jadi trending topic dan sampai dibahas di radio-radio katanya.

Paling ngakak pas diskusi (diskusi bener) sama temen-temen kantor terus muncullah keputusan bahwa KAYANYA si cowok disuruh putus sama mamahnya sih ya kan. Abisan si cewek ini tipe bad girl dengan cropped top dan sneakers mahal, ngerokok, tatoan, ngomongnya kasar. Kata mamah harus pacaran sama perempuan baik-baik. LOL

Baca punya Nahla di sini:

Tapi si cewek ini feed Instagramnya rapi jadi enak dilihat, wajar followersnya banyak. Followersnya sering berkomentar dengan #goals untuk foto OOTD dia, #relationshipgoals dan mention pacar masing-masing dengan “yang kita kapan gini?” di foto dia sama (mantan) pacarnya, dan #friendshipgoals serta #bffgoals di foto dia sama sahabat-sahabatnya. Kurang apa? Apa kurang banget?

Yang baru tau si neng minggu ini pasti bingung. Apa spesialnya? Kenapa sih dia heboh?

Ya iyalah kalau baru taunya sekarang mah nggak akan ngerti. Sama kaya gini, kalian baru pertama kali denger nama Kanye West hari ini. Terus bingung kenapa minggu ini sedunia tiba-tiba ngomongin dia.

Ya karena dia memang ngetop dari dulu, orang mah udah tau dia dari dulu, terus ada kejadian “penting” di hidup dia. Ya followersnya ngomongin lah. Yang nggak tau dia siapa mah ya gimana mau ngerti kan?

Si neng satu ini juga followersnya udah banyak dari dulu. Karena dia putus aja jadi pada gatel pengen ngomong juga di socmed.

Kalau yang udah tahu dia dari dulu komentarnya:

“WAAHHH PUTUS, TERUS FEED INSTAGRAMNYA GIMANA?”

*anak Instagram sejati* lolol

Abisan feed Instagramnya tematik 9 foto dengan color scheme berbeda yang artinya kalau dia hapus foto-foto sama mantannya yang random di antara 9 foto, feed tematik 9 foto itu akan kacau balau. Padahal dulu dia nggak pakai color scheme 9 foto, pake pink doang. Ehalah ganti gaya. Kacau kan pas putus lol.



Terus setelah mikirin feed yaaa, langsung kasihan aja sih. Ya lo diputusin cuma karena disuruh sering ngabarin.

“Kamu nggak perlu ngabar-ngabarin aku lagi kalau kamu mau pergi sama temen-temen kamu,” kata si neng di videonya.

Padahal yah, pacaran umur segitu kan template-nya begitu. Ceweknya manja posesif pengen dikabarin terus. Sementara cowoknya masih mau main sama temen-temennya dan emang beneran lupa ngabarin atau males ngabarin karena nggak suka cewek posesif. Tapi cewek posesif ini menyenangkan untuk ditaklukan so yeah. Lingkaran setan.

Been there. LOL

*kemudian semua ilfeel sama gue dan close tab dan blok blog gue* JANGAN DONG JANGAN AH.

Tapi intinya bukan itu. Intinya adalah kasihan sama anak remaja zaman sekarang karena masa remaja mereka dihantui social media. Kaya yang Justin Bieber pernah bilang (kurleb): “Pas pacaran sama Selena gue nggak tau mana yang real mana yang bukan. Mana yang private mana yang public. Karena semua orang ikut dalam setiap gerak-gerik kita. Sampai kita bingung sebenernya kita ini beneran pacaran atau cuma karena terbawa euforia fans aja.”

Dan sebagai Jelena shipper #1 aku patah hati sampai sekarang. *krai*

(Baca juga: Menjaga Ucapan di Social Media)

Terus banyak yang bilang: “duh anak jaman sekarang, hidupnya kok gitu amat”

Lhooo. Dari zaman gue sekolah dulu juga udah banyak kan cewek ngerokok. Banyak juga yang kalau lagi nggak sekolah pake cropped top dengan udel ke mana-mana dan pake piercing. Temen SMA ada juga yang udah tatoan dari SMA. Cewek ada cowok ada. Dan akuilah memang orang-orang kaya gini populer kan. Cuma dulu jadi bintang sekolah doang, sekarang jadi bintang Instagram.

Dan banyak juga yang bilang “Miris deh orang kaya gini diidolakan remaja”

Ya miris tapi gue ngerti-ngerti aja sih kenapa fansnya banyak. Because she’s living her fans' dream. Banyak remaja yang memimpikan hidup bebas tanpa serumah sama orangtua, punya sahabat yang juga housemate, punya penghasilan sendiri dari Instagram dan YouTube jadi nggak perlu bergantung sama orangtua. Punya kebebasan untuk menentukan itu tangan ditato atau nggak, rambut blonde atau nggak, endebrei endebrei …

… and party like there’s no tomorrow.

We’ve all been there, no?

Kita semua punya impian dan ketika ada orang yang hidup di mimpi-mimpi kita, orang itu langsung jadi idola kita.



Lanjut pernyataan berikutnya: “Orangtuanya pada ke mana sih?”

Ayah dan ibunya si neng? Ada tuh di Instagramnya, suka upload foto keluarga. Di ask.fm juga suka pap (post a picture, in case you're not familiar with ask.fm) foto keluarga.

“Kalau orangtua fansnya pada ke mana? Tau nggak sih anaknya mengidolakan perempuan yang bertato dan ngomongnya banyakan anjingnya daripada kata-kata lain?”

Well ya, nggak semua orangtua cukup dekat dengan anaknya sampai tahu persis apa keinginan anaknya yang paling terpendam. Seberapa banyak dari kalian semua yang pengen punya tato terus bilang sama orangtua?

Gue bilang. -______- Umur 14 tahun, pengen ditindik berjajar di telinga.

Nyokap gue: “Tindik tambahan dan tato itu nggak bisa jadi PNS loh, cari kerja juga susah karena banyak perusahaan yang nggak mau karyawannya ada tindik dan ada tato. Kalau kamu pulang sekolah tiba-tiba punya tindik atau punya tato, terserah. Ibu nggak akan marah tapi tanggung sendiri semua risikonya.”

Dulu gue percaya sepenuhnya karena industri kreatif belum kaya sekarang. Lah sekarang orang mau tato sebadan-badan juga bisa jadi CEO kok, nggak perlu jadi karyawan asal punya karya juga bisa kaya dan hidup bahagia. Dan dosen PNS dengan tindik berjajar-jajar di telinga juga ada, jadi ya nasihat ini sudah tidak relevan.

Tapi poinnya adalah, keterbukaan dalam keluarga bikin gue ngomong kalau gue pengen ditindik dan somehow sebenernya ada masanya pengen punya tato (kaya si neng). Meskipun ujung-ujungnya gue nggak jadi ditato karena takut nggak punya kerjaan. Dan takut sakit. Bok, nggak berani lah udah. Liat orang lagi ditato aja gue yang mau pingsan, apa kabar gue yang ditato. *lirik gesi dan adit* lol

(Baca juga: Cerita gue waktu SMA, berantem terus sama nyokap karena teman adalah segalanya)

Dan ketika si neng putus (sama pacarnya yang cuma 16 tahun dan baru 5 bulan pacaran) …

Gue ngikik aja. Neng, itu cuma fase kehidupan yang akan kamu lewati. Nanti 5 tahun lagi aja berasa tolol kok pasti nonton video itu nangis-nangis. Banyak kok orang yang nangis-nangis karena diputusin pacarnya, cuma yang lain nggak punya subscribers YouTube banyak jadi ngapain nangis depan kamera. Kalau neng kan banyak, lumayan lah nangis-nangis dapet penghasilan juga dari views ya kan.

Salut banget karena itu partynya sponsored ya. Kebayang sih harus ngejalanin sesuatu dengan nangis-nangis karena profesionalisme. Ya gimana lagi kan? Mau nggak mau dramanya jadi kebawa.

Gue juga kasian karena dia nggak pernah nyakitin orang tapi disakitin mantannya sampai dijepit kakinya. Meennn, cowok macam apa yang menjepit kaki ceweknya sampai nangis. Untung putus, daripada KDRT berlanjut kan kasian.

Dan yes setuju sama nasihat BFF nya si neng, bahwa bullying dan nyuruh orang bunuh diri itu nggak sepele loh. Banyak remaja korban bullying yang jadi beneran ingin bunuh diri. Di Instagram banyak. Bahkan banyak yang set bio akan bunuh diri kapan. Makanya kalau search hashtag “suicide” langsung dapet pop up message bantuan yang mungkin dibutuhkan. Di YouTube juga banyak cewek-cewek yang curhat karena korban bullying. Itu parah sih.

Dan si neng emang banyak yang bully bilang dia nyakitin cowoknya duluan lah blablabla. Karena si cowoknya juga banyak fans kan. Ya risiko pacaran di depan umum sih. Gimana lagi.

Udalah cuek aja, kibas rambut dan pake lipstik merah. Biarkan anjing menggonggong.


Dari gue sebagai orangtua pada perilaku anak-anak "zaman sekarang"

Intinya jangan jadi orangtua yang cuma bisa larang-larang anak. Besarkan anak dengan membiasakan diri terbuka dengan orangtua. Jangan jadi orangtua yang hanya bisa marah ketika anak berbuat salah tapi bukan jadi tempat dia berbagi masalah.

Bicarakan juga dengan suami apa yang akan kita lakukan kalau suatu hari dia bilang dia punya pacar, dia mau pergi sama pacarnya, dia coming out gay, dia narkoba, dia dipenjara, dia hamilin anak orang, atau dia mau pake piercing atau tato. Apa yang akan kita lakukan? Bukan mendoakan terjadi tapi mempersiapkan yang terburuk. Seperti kita mempersiapkan asuransi jiwa dan dana pensiun.

Begitulah.

(Baca: Perempuan harus mandiri, bukan takut suami poligami, tapi ...)

Udah ah aku lelaaahhh. Let’s move on to Tay and Kimye, shall we? LOL

-ast-


No Poo Movement: Ayo Hidup Tanpa Sampo

on
Tuesday, July 19, 2016

Adakah yang sudah pernah dengar No Poo Movement? No Poo ini bukan ~literally~ nggak pup ya hahahaha tapi kependekan dari No Shampoo alias gerakan nggak sampoan.


Hidup gue pemalesan amat ya, taun lalu bikin heboh gara-gara gerakan tanpa setrika, sekarang malah mau pengaruhin orang buat nggak sampoan LOL.

Jadi gini ...

...

tau kan teori "jangan sering cukur bulu kaki nanti rambut yang tumbuh makin tebal" atau "jangan cuci muka terlalu sering karena akan bikin kulit muka lebih berminyak"? Ternyata kedua teori itu belum ada bukti ilmiahnya TAPI kalian percaya kan? Kalau percaya, maka harusnya percaya dong sama teori "jangan sering sampoan nanti rambutnya makin berminyak".

NAH.

Jadi awal dari gerakan tanpa sampo ini adalah teori itu. Bahwa sampo memang membersihkan minyak dan kotoran dari rambut kita. Tapi semakin sering dipakaikan sampo, makin banyak juga produksi minyak di kulit kepala kita.

Sementara kalau kita nggak sampoan, maka tubuh kita akan kasih sinyal untuk nggak usah produksi minyak banyak-banyak karena minyaknya udah cukup dan nggak kebilas sampo.

Apa keuntungan dari No Poo Movement?

- Less shampoo, ramah lingkungan karena nggak bikin buih buat air, dan nggak buang-buang botol plastik.

- Mengurangi kadar "bahan kimia" yang mampir ke tubuh kita. Kebanyakan sampo masih pake paraben loh. Sampo juga biasanya mengandung sulfat yang bikin rambut kering terutama untuk rambut keriting yang cenderung lebih kering daripada rambut lurus.

- Mengurangi lama waktu mandi. Hahahahaha. Bok yaiyalah, sampoan, conditioner-an, maskeran, lama bener mandinya. Irit waktu, bisa buat bobo.

- Kata orang-orang yang udah nyoba bertahun-tahun nggak pakai sampo, rambut jadi lebih sehat dan berkilau. Nggak kusut padahal nggak pake conditioner. Ya intinya tubuh akan punya jalan keluar sendiri.

*minum cuka apel*


Terus bersihin rambutnya pake apa?

- Ganti sampo dengan larutan baking soda dan air, pokoknya campur sampai jadi pasta aja. Kemudian pake di kulit kepala, nggak perlu sama rambutnya.

- Conditioner diganti dengan larutan cuka apel dan air 1:1. Caranya, pakai kaya conditioner biasa aja, usapkan di batang rambut dan diamkan sejenak terus bilas pakai air.

- Yang udah kebiasa sih mereka udah punya campuran ini di kamar mandinya, jadi nggak mendadak bikin lagi. Dibikin banyak sekaligus di botol aja. Dan ini dilakukan seminggu sekali.

- Yang lebih ekstrem lagi, ada yang sama sekali nggak pake baking soda atau apapun juga, cuma bilas pakai air aja setiap hari. Cuma sebulan sekali keramas pakai baking soda dan cuka apel. Talk about going back to nature like a real homo sapiens.


Gue baca success stories orang sih hasilnya pada oke ya. Mereka bilang 2 minggu sampai sebulan pertama emang rambut rasanya jadi jorok banget karena ya maklum kan masa penyesuaian. Tapi setelah sebulan, rambut jadi berkilau, gampang ditata, dan nggak berminyak lagi.

Malah yang ketombean jadi sembuh. Dan surprisingly rambutnya nggak bau. Ya nggak wangi juga, tapi nggak bau. Nggak bau cuka juga, nggak berbau aja. Disisir pun gampang, dan rambutnya harus disisir untuk meratakan minyak alami dari kulit kepala, ke batang rambut.

And I'm lazy hipster enough to try! *hipster kok ngaku lol*

Tapi karena malas bikin baking soda-baking sodaan ya akhirnya nyoba ngurangin sampo aja, nggak betul-betul 100% nggak sampoan. *GAGAL HAHAHAHA*

Jadi dulu sebelum berjilbab, biasanya saya keramas 2 hari sekali. Jadi selang sehari pasti keramas. Atau kalau kerasanya lagi lepek banget ya keramas lah tiap hari.

Sekarang saya keramas seminggu sekali dan rambut nggak lepek lagi padahal pake jilbab kan. Awal-awal sih iya, greasy dan lengket. Tapi ya udah tahan-tahanin aja seminggu penuh baru keramas.

Di minggu kedua udah kerasa lepeknya berkurang banget. Sekarang udah setahunan kali ya saya keramas seminggu sekali, nggak ada lepek-lepeknya ini rambut. Nggak ketombean, nggak rontok, dan nggak pernah nyisir pun tetep halus.

Tapi saya seminggu sekali itu tetep sampoan pake sampo dan pake conditioner juga. Nggak pake baking soda dan cuka apel. Intinya, kita bisa kok mengurangi sampo!

Untuk cuka apel sebagai conditioner sih sih udah ketauan banget ya manfaatnya. Nanti mau tulis sendiri ah soal manfaat cuka apel ini, Jadi suami akoohh, JG kulit kepalanya itu ketombean dan merah-merah. Itu karena rambutnya tebel banget jadi nggak kena udara sama sekali. Akhirnya saya botakinlah rambutnya, dicukur habis.

Terlihatlah blok-blok ketombe dan merah-merah yang banyak banget. SUPER GROSS. Saya sampai khawatir gitu temen-temen kantornya pada enek karena parah. Terus malem itu juga seluruh kepalanya saya pakein cuka apel dicampur air 1:1. Basahin kapas pake larutan itu kemudian cocol-cocol ke bagian yang ketombean dan merah.

Besok paginya semua jadi menghitam. Yang merahnya udah nggak ada sama sekali, yang ketombe jadi makin kering sampai rontok sendiri. Pagi malem rutin pake dan hari ketiga semua ketombe hilang, merah-merah nggak ada lagi. Sembuh sampai sekarang!

*

Tapi girls, berat banget emang ya nggak sampoan itu. Saya juga berani keramas seminggu sekali karena pake jilbab sih dan kalau pake ojek juga deket jarak 3 km doang. Jadi nggak pernah bad hair day. Saya juga sejak pakai jilbab berhenti cat rambut dan rambut rasanya jadi sehat banget, nggak bercabang kaya dulu zaman diwarnain terus. Ya kan go natural, masa cat rambut. Cat rambut pake daun suji kali ya biar ijo. dan pake beet root biar merah nyahahahaha.

Saya juga nggak kebayang yang ikutan no poo movement ini tapi tiap hari naik motor di Jakarta. Atau naik ojek ke mana-mana. GATEL BOK. Atau abis nge-gym, keringetnyaaaa. Apakah baking soda akan sanggup? Dan yah, unicorn serta mermaid hair itu kan cantik bangeeeettt. Bay bay baking soda ya kan.

Ada yang mau coba?

-ast-

Success story lol:
https://thehairpin.com/what-ive-learned-from-three-years-without-shampoo-34bc2ed8a8d2#.z1exvzs8w

No Poo Forum:
https://nopoo.net/

Source:
http://www.wikihow.com/Wash-Your-Hair-Without-Shampoo
https://thehairpin.com/how-to-quit-shampoo-without-becoming-disgusting-59726e27bf78#.5p9rfwhl1
http://www.health.com/health/gallery/0,,20788089,00.html#baby-powder-or-dry-shampoo-can-help-tide-you-over-0
https://www.nopoomethod.com/



Beriklan dengan Facebook Ads untuk Blogger

on
Monday, July 18, 2016
beriklan lewat Facebook Ads untuk blogger

Perlukah blogger beriklan lewat Facebook Ads untuk menambah page views?


Saya juga bertanya-tanya banget dan akhirnya dicoba sendiri. Hasilnya? Saya tidak menyarankan blogger yang ingin menambah page views, beriklan dengan Facebook Ads.

Note: saya bukan expert, saya pernah belajar soal Facebook Ads dari Aldy Terren tahun lalu dan itu sampai kepala pusing kaya habis kuliah 3 SKS hahaha. Kebetulan di kantor saya juga pegang akun Facebook Ads dan saya terapkan sedikit untuk blog dan page saya sendiri.

Saya rangkum dalam beberapa pertanyaan ya dan hanya akan fokus ke hasilnya. Soalnya akan jadi panjang banget kalau dijelaskan satu-satu apalagi harus sama detail tipsnya. Nggak akan cukup satu postingan.

Apa itu Facebook Ads?

Facebook Ads adalah metode beriklan di Facebook. Jadi kita mengatur budget dan jadwal beriklan untuk postingan fanpage kita, kemudian Facebook akan mengatur di timeline siapa iklan tersebut akan muncul, sesuai target audience yang kita set. Gampangnya, postingan di timeline yang dilabeli "sponsored".

Apa fungsi Facebook Ads?

Sebenernya untuk para pelaku bisnis mengiklankan barang/jasa jualannya. Tapi kan postingan di fanpage kita jadi dibaca oleh lebih banyak orang, makanya banyak blogger/publisher berpendapat, Facebook Ads juga bisa meningkatkan page views.

Jadi ada yang menyarankan, ketika dapat job di blog, boost lah di Facebook Ads sehingga page views bisa bertambah dan laporan performance blog post bisa lebih bagus.

Ya dan tidak sih. Baca terus ya, nanti saya jelaskan alasannya di bawah.

Benarkah Facebook Ads bisa meningkatkan page views?

Ya, tapi kecil sekali dan tidak signifikan. Saya tetap lebih banyak dapat page views organik/tidak berbayar daripada dari Facebook Ads. Kecuali mau investasinya gede (baca jutaan rupiah) ya bisalah dapet page views tinggi. Tapi memangnya dibayar berapa sama klien sampai bisa investasi di Facebook Ads jutaan rupiah? ;)

Dan ini harus di-bold:

Ketika kita "Boost Post" atau pakai campaign "Website Clicks", laporan Facebook Ads tentang website clicks/link clicks dengan kenyataan di Google Analytic itu BEDA. Facebook mendefinisikan sendiri "website clicks" mereka dan itu BUKAN views sebenarnya.

Misal dengan budget Rp 100ribu, di laporan Facebook Ads kita dapat 500 website clicks. Cek di Google Analytic, hasilnya PASTI nggak segitu. Paling dapet 50 views. Dan laporan mana yang kita kasih ke klien? Laporan Google Analytic dong ya kan.

Jadi perhitungannya bukan 100ribu=500 clicks lagi (seperti yang Facebook laporkan pada kita). Tapi 100ribu=50 views (seperti laporan Google Analytic). Kalau menurut saya sih nggak worth it membayar 2ribu rupiah untuk satu views di blog. Kalau ada yang merasa worth it sih silakan dicoba. :)

Mengingat perbedaan hasil di laporan Facebook dan Google Analytic, ada 2 hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan Facebook Ads:

1. Para expert pasti menyarankan untuk pakai utm tags setiap bikin campaign di Facebook. Gunanya untuk memeriksa efektivitas campaignnya, seberapa banyak orang yang klik? Tapi buat blog saya terlalu malas hahahaha jadi kalau buat blog saya pakai cara nomor 2.

*UTM tags itu tag pada URL yang biasanya digunakan untuk campaign. URL yang diberi utm tags, akan muncul medium campaign yang digunakan, source, dan nama campaignnya. Misal URL saya untuk Sociolla:

http://www.sociolla.com/?utm_source=community&utm_medium=cpc&utm_campaign=annisasteviani

Dengan URL itu, Sociolla bisa cek, seberapa banyak yang klik link saya. :)

2. Saat share ke fanpage, shorten dulu URL dengan bit.ly atau goo.gl. Shorten dulu lalu share jadi thumbnailnya benar-benar dari hasil shorten URL. Pastikan kita login ke akun bit.ly dan goo.gl nya supaya bisa balik lagi dan cek performance-nya.

URL yang sudah di-shorten ini jangan di-share ke mana pun! Khusus untuk menghitung clicks dari Facebook Ads aja. Kalau mau share ke medium lain, pake link utuh aja atau shorten pake akun bit.ly lain.

Sekarang lihat contoh di bawah ini. Ini salah satu campaign di fanpage saya yang pakai campaign Website Click. Ada juga yang pakai Boost Post tapi males screencapture hahahaha *failed*.

Ini report dari Facebook Ads, reachnya sampai 21ribu, likes 33 orang. Dan menurut laporan ini, ada 523 orang yang klik linknya. Kenyataannya?



Kenyataannya saya pengen duduk bareng sama Mark Zuckerberg dan nanya pengertian LINK ITU MAKSUDNYA APA DAN YANG MANA?

Karena ketika dicek di akun bit.ly kita. Hasilnya cuma 67 orang yang klik link bit.ly kita. Link ini nggak saya share di mana pun kecuali fanpage jadi saya yakin ini hasil real dari ads yang kita pasang.

*nangis*


Kalau pakai Boost Post, dengan budget yang sama biasanya memang lebih banyak yang like dan share. Tapi link clicks-nya yang begitu-begitu aja, nggak mencerminkan kenyataan di lapangan. Begitu kayanya emang kebiasaan orang di socmed, klik like, klik share, tapi postingannya nggak dibaca. *sigh*

*

Jadi yah, intinya Facebook Ads bukannya nggak penting. Penting banget tapi BUKAN untuk nyari page views secara langsung. Kalau punya budget untuk marketing, saya sih sarankan dipakai untuk menambah jumlah likes di fanpage atau menambah subscribers/followers blog. Jadi campaignnya bukan Website Clicks tapi Page Likes atau Conversion.

Kalau Page Likes mah wohhh cepet banget dan hasilnya real banget. Budget sekian, harga per satu likes sekian, dapetnya sekian. Kalau dimodalin, cepet banget itu fanpage nambah like-nya. Saya mah ogah. Hahahaha. Sayang uangnya, mending buat beli skin care LOL.

Boleh juga pasang ads untuk job review tapi bukan untuk nyari page views. Ya nyari reach ajalah, nanti postingan Facebook juga biasanya kita laporkan ke klien kan. Nah bagus kan kalau reachnya gede dan yang likes banyak. Peernya tetep di page views, cari cara lain untuk nyari page views. Hehehe.

Facebook Ads bisa juga digunakan untuk brand awareness dan menambah pembaca baru. Karena bisa diset kan audiencenya orang yang belum like page kita atau orang yang sudah sekian bulan nggak mengunjungi website kita.

Dan balik lagi, konten shareable juga penting. Kalau udah shareable dan potentially viral sih nggak usah dipasangin ads juga sharenya bisa puluhan ribu kok. Page views ya mengikuti. :)

Ini semua dari sudut pandang blogger/publisher ya plus tergantung niche blognya juga. Kalau blognya full tentang tips (apalagi tips bisnis/SEO/SEM/digital marketing) atau ngasih free course, sepertinya akan lebih efektif beriklan di Facebook Ads. Saya nggak tahu karena nggak punya blog dengan niche itu tapi baca-baca pengalaman orang lain sih sepertinya begitu.

*

Karena hasil dari Facebook Ads segitunya, saya jadi mikir apa sayanya ada yang salah hahahaha. Tapi saya udah A/B testing dengan berbagai image, berbagai audience, berbagai kalimat, dan ya views mah tetep nggak banyak. Sebelnya itu nggak sesuai antara laporan Facebook dan views yang sebenernya. Dan yes, saya pakai Audience Insight untuk targeting, yang di-cross check dengan demographic dan interest di Google Analytic. Jadi tidak asal-asalan juga menentukan audience-nya.

Ada yang punya pengalaman dengan Facebook Ads untuk blogger/publisher? Share yuk! Mau banget diskusi soal ini! :D

-ast-


#FAMILYTALK: Angpau Lebaran aka Uang Lebaran

on
Saturday, July 16, 2016

Aduh jangan pake istilah “angpau”. Menyerupai suatu kaum loh dan mengikuti perilaku mereka. Ih ganti istilah kali. Nanti kafir loh.

*nggak bisa amat nggak sarkas sis?*

Well anyway.

SELAMAT LEBARAN SEMUANYAAAA!

#FAMILYTALK pertama setelah lebaran yang mana minggu lalu nggak nulis karena … lupa. Terlalu heboh dengan liburan yang terlalu panjang. Lelah. Jadi topik minggu ini adalah uang lebaran untuk anak.

Baca punya Isti di sini:

Dapet berapa anak-anak dari angpau lebaran? Bebe nggak terlalu gede sih, 300ribuan gitu kayanya. Karena memang nggak kemana-mana juga pas lebaran. Beda sama saya waktu kecil yang bisa sampai sejuta lebih gitu karena memang mengunjungi dan dikunjungi banyak orang.

Lagian perasaan saya aja apa gimana ya karena makin ke sini juga makin sedikit orang yang ngasih uang lebaran. Ekonomi lagi sulit kali sedunia ya kan, jadi jatah uang lebaran pun berkurang.

Uang Bebe diapain?

Udah nggak tau kemana alias saya pake HAHAHAHAHAHAHA Diniatkannya sih untuk beli sepatu tapi ya belum nemu juga sepatunya, jadi ya nanti kalau nemu saya beliin lah. Sama aja kan.

Tahun lalu juga sama, lupa deh dibeliin apa. *fail* Ya pokoknya saya pake dulu uangnya karena ribet punya uang cash banyak, terus pas Bebe mau apa ya dibeliin.

(Baca: Penting nggak sih beli mainan untuk anak?)


Bebe belum ngerti uang,belum ngerti jajan, belum ngerti beli-beli. Jadi dia cuek aja meskipun ibu saya dan tante-tantenya yang udah kerja melambai-lambaikan uang buat dia, dia lempeng aja main bola sibuk sendiri. Ya udah mereka jadi ngasihnya sama saya. Ibunya balik modal nih LOL.

Karena belum ngerti, saya juga belum berencana ngasih dia pengertian soal uang. Nanti deh kalau dia udah ngerti konsep memberi uang untuk mendapat barang, baru akan diajarkan untuk menabung dan membeli sesuatu.

Sekarang dia ngertinya cuma sebatas kalau lagi di supermarket dan beli minuman atau makanan, minuman dan makanan itu tidak boleh dibuka dulu sebelum dibayar di kasir. Dia tahu bahwa tante kasir akan meminjam minuman/makanan dia untuk kemudian dikembalikan lagi pada dia sehingga boleh dibuka. Tapi nggak ngerti kalau saya harus menukarnya dengan uang.

Dan saya pun tidak berencana memberitahu dia secepatnya sih. Sepertinya akan lebih mudah bicara uang dengan anak TK atau SD dibanding dengan toddler. Karena saya lihat banyak banget balita umur setahun dua tahun udah ngerti jajan. Udah ngerti manggil tukang jualan atau malah udah ngerti artinya ke warung.

Nggak lah Bebe mah nanti-nanti aja.

Uangnya nggak ditabung? Nggak sih karena ditabung buat apa ya? Menabung itu apa? HAHAHAHA Nggak deng. Meskipun masih 5 tahun lagi, uang masuk SD Bebe 50% nya udah aman sih. Uang kuliah lagi dicicil. Uang masuk TK yang belum hahaha. Sombong? EMANG IYAAAA. Karena duh ngerasain banget ribetnya ngumpulin uang buat dana pendidikan karena yah, banyak godaannya. Terutama godaan beli rumah di Jakarta dan sekitarnya. T_____T

(Baca: Tips Beli Buku untuk Balita)

Dan ya, buat beli mainan? Jarang banget Bebe beli mainan karena banyak yang beliin. Beli buku? Buku Bebe banyak. Duh niat dari dulu mau nulis soal buku favorit Bebe tapi lupa terus.

Jadi ya udah, ini tulisan nggak ada intinya sih. Intinya uang angpao Bebe udah habis saya pake dan kalau Bebe mau beli sesuatu ya saya beliin. Gitu aja. Hahahaha.

Kthxbai.

-ast-