Image Slider

Izin Cuti Lebaran

on
Thursday, June 22, 2017

Technically masih h-3 (apa h-4) sih ini hahaha. Tapi ya, mau izin tidak hadir dulu yaaa di blog lol.

Saya mau liburan santai dulu lah di rumah tanpa mikirin page views blog, tanpa mikirin mau posting apa di blog.

Meskipun saya suka banget nulis tapi saya udah nulis non stop seminggu 2-4 kali sejak 2015. Ini akan jadi kali pertama, terlama nggak nulis blog. Saya pengen diem dulu sebentaaarrr aja. Hehe. Saya lagi pengen leyeh-leyeh banget.

Akhir-akhir ini rasanya capek dan ngantuk banget. Gara-gara bulan puasa kali ya, tidur otomatis lebih dikit karena masuk kerja lebih pagi. Sore udah dikejar pengen sampai rumah pas buka puasa. Sungguh tidak produktif.

Tapi sejujurnya saya punya banyak banget yang mau ditulis! Draft banyak banget, tapi nanti aja deh kalau udah balik ke Jakarta ya. Kecuali tiba-tiba datang mood dan inspirasi, mungkin nulis lebih cepet.

Dan ya, saya masih akan aktif di IG sih jadi akan cerit via IG aja dulu ya seminggu ini. (yaelah seminggu doang ribetnyaahhh 😂)

Jadi karena masuk kerja baru tanggal 3, so see you on Tuesday! It's 4th of July ya! Happy independence day, America!

Dan selamat Lebaran! Mohon maaf lahir dan batin ya! Tau sendiri tulisan saya kadang suka nyentil, kadang memang bermaksud kadang becanda tapi kalian nggak nangkep lol.

See you when I see you!

-ast-


#SassyThursday: Tentang Passion dan Calling

Wow sungguh berfaedah sekali ya #GesiWindiTalk dan #SassyThursday kali ini. Diawali dengan posting Instagram aku beberapa bulan lalu soal passion, Gesi ingin nulis juga soal passion ini. Akhirnya ajak Nahla dan Mba Windi deh sekalian. Karena kami sungguh orang-orang yang passionate lolol.

Baca yang lain juga ya!
Grace Melia: Mencari Passion
Windi Teguh: Menemukan Passion
Mevlied Nahla: Atas Nama Passion

Saya sendiri ingin nulis dari sisi passion dan calling. Dua kata ini definisinya banyak banget dan memang blur gitu. Nggak jelas. Ada yang bilang passion dan calling sama, career yang beda. Ada yang bilang passion, calling, dan career itu beda. Blablabla. Suka-suka orang deh, saya juga mau bikin pendapat sendiri lol.

Kaya yang saya bilang di postingan Instagram, passion itu pencarian seumur hidup, begitu juga dengan calling. Saya beruntung tau sejak kecil kalau passion saya nulis, belum bosan, atau ingin ganti. Iya saya suka agak gimana gitu sama yang membatasi definisi passion dengan sesuatu yang tidak membuat kita bosan.

"Ah kalau bosan namanya bukan passion" ... Ih gitu amat. Padahal ya nggak apa-apa, namanya manusia kan punya titik jenuh yang beda-beda. Yang jelas, yang bikin bosannya paling lama itu bisalah dibilang passion hahaha. Ya kalau baru seminggu udah bosan kan jelas bukan passion ya. Tapi kalau udah 3 tahun? Udah 5 tahun? Terus kita bosan, masa dibilang bukan passion. Kan nggak begitu juga.

Nggak apa-apa banget bilang “aku dulu passionate banget sama A tapi sekarang nggak lagi”. BOLEH KOK. NGGAK MASALAH. Hahaha. Jangankan passion, cinta aja bisa luntur kan gengs. HEYAK.

Dan ingat, masih ada calling!


Ya, calling kalian apa sih? Saya sendiri belum nemu banget, untuk apa saya hidup? Apa panggilan (banyak yang bilang “panggilan Tuhan”) yang bikin saya ngerasa berguna? Tapi saya nggak pusing amat sih saya anaknya santaaaii hahahaha.

Contoh sederhananya gini, ada orang yang passionnya berkebun, tapi dengan berkebun dia jadi nggak bisa bantu orangtua yang sedang sakit dan bayar adiknya kuliah. Jadi dia sekarang tetap bekerja di korporasi, dengan demikian dia jadi bisa bantu keluarga karena gajinya lebih dari cukup.

Keluarga ini tentu dia sayang banget jadi sesuatu memanggil dia untuk terus bantu keluarga dan itu bikin dia bahagia. That’s your calling! Nangkep kan ya? Lagian passion berkebun kan masih bisa jadi hobi.

Contoh lain. Passion kamu traveling, terus ketika lagi masuk hutan Kalimantan kamu jatuh cinta sama orangutan. Dan mulai sekarang kamu mendedikasikan diri kamu sebagai aktivis penyelamatan orangutan. Kamu merasa kamu HARUS dan ada urgensi melakukan itu. That’s your calling! Passion traveling tetap bisa dilakukan saat kamu traveling mencari orangutan untuk diselamatkan atau kampanye ke mana-mana.

Jadi buat saya, passion dan calling itu bisa sama bisa beda. Ketika kamu passionate dan kamu merasa berguna bagi diri sendiri, keluarga, atau nusa bangsa ketika melakukannya, bisa jadi passion kamu dan calling kamu sama.

Begitu gengs. Semoga nangkep ya hahahaha.

Intinya apa?

🌟 Untuk kalian yang masih berusaha menemukan passion dan calling 💙

Pikirkan baik-baik apa ya calling kalian? Jangan-jangan selama ini kalian nggak tau passion kalian apa karena sibuk menjalani calling? Nggak apa-apa banget. Satu-satu aja kok santai ajaaa.

Karena kadang kita bukan nggak tau passion kita apa, tapi kita belum sadar aja. Maka dari itu memang harus dikerjakan berulang-ulang dan terus menerus. Dicoba lagi dicoba lagi!

Dan ya, passion itu memang harus dicari. Kalian nggak akan tau se-passionate apa kalian sama satu hal sebelum kalian coba. Jadi coba hal-hal baru deh. Sekarang banyak banget kan short course gitu buat belajar hal baru.

Dari yang standar kaya baking atau cooking class sampai yang agak “aneh” kaya leather stitching atau jewelry making gitu. Dicoba dulu aja yang kira-kira menarik, siapa tau jadi hobi baru dan bikin kita bahagia melakukannya. Itulah passion! JADI AYO COBA DULU!

🌟 Untuk kalian yang sudah tahu passion kalian apa 
💙

Good for you! Jangan pernah ngerasa puas, terus lakukan dan lakukan karena jam terbang itu nggak pernah berkhianat. Kalian boleh capek, kalian boleh bosan, tapi ingat passion itu adalah tentang sejauh mana kita bertahan dan seberapa kuat kita berusaha mempertahankan.

Kalau kalian cukup beruntung bisa ngerjain passion tanpa terganggu uang, maka kalian punya ruang untuk lebih berkembang. Hard work never lies.

Karena definisi sukses bagi orang juga beda-beda kan. Ada yang definisi suksesnya adalah gaji sekian sebulan, berkali lipat dari temen seangkatan/orang seumuran. Tapi ada juga yang definisi suksesnya kaya saya, gaji so-so lah, hidup nggak mewah, tapi saya punya kerjaan yang saya suka, saya punya waktu banyak buat keluarga. And that makes me happy! :)

🌟 Untuk kalian yang tahu passion kalian apa tapi mengeluh karena kerjaan tidak sesuai passion 💙

Ya pekerjaan akan lebih ringan kalau pakai passion, tapi telusuri lagi deh kenapa ambil kerjaan itu? Karena gajinya? Karena cari pengalaman? Karena apa?

Kalau karena gaji kan ya gimana, siap hidup tanpa gaji? Akan lebih susah mana, kerja nggak sesuai passion atau nggak punya gaji? Passion apa uang? Pusing kan?

Kalau kalian emang nggak tahan ya resign. Kalau kalian bertahan karena uang, maka ya, jalani lah. Passion-nya dijadikan sampingan dulu aja sementara. Siapa tau tabungan dari kerjaan yang menyebalkan itu bisa jadi modal untuk menguangkan passion kan? :)

Lagipula nggak semua passion bisa menghasilkan uang yang layak untuk hidup, sementara kebutuhan hidup terus berjalan dan gaya hidup susah diubah kan.

Gimana pun uang akan selalu jadi motivasi lebih. Kecuali kalian memang sanggup hidup lebih susah demi passion atau passionnya emang bisa menghasilkan uang banget yaaa. Beruntunglah kalian yang bisa hidup layak dan enak sambil kerjain passion. Yosh!

Dan ya, kembali ke calling. Mungkin memang kerjaan kalian nggak sesuai passion, tapi menjalani calling?

🌟 Untuk kalian yang tidak terlalu peduli dan yaaa hidup sih gini aja lol 💙

Nggak apa-apa banget! Iyalah nggak apa-apa banget beneran. Nggak semua orang punya target buat hidup dan hidup tanpa target pun tidak apa-apa hahaha. Kecuali kalau kalian punya anak ya, ya minimal siapin lah dana pendidikan anak karena anak kan tanggung jawab kita.

Karena kalau semua orang ambisius nanti pusing lohhh. Harus ada orang-orang kalem emang biar dunia seimbang hahaha. Kalau semua ambisius nanti pilpres siapa yang milih dong semua orang ingin jadi presiden lol.

*

Oke sebagai penutup, pesan saya (yang juga harus saya katakan berkali-kali pada diri sendiri): carilah kebahagiaan dalam hidup. Whether it’s passion, calling, or career!

Buat ibu-ibu yang ngerasa rendah diri karena jadi ibu rumah tangga, jadi ibu rumah tangga itu calling banget loh. Nggak semua orang punya calling untuk jadi ibu rumah tangga. Meski saya selalu bilang perempuan harus berdaya, saya juga nggak masalah sama ibu-ibu yang hidupnya memang hanya mendedikasikan diri sama keluarga. Selama bahagia kan nggak apa-apa banget. Kecuali memang melakukannya dengan terpaksa. :)

Tidak ada kata terlambat menemukan passion, tidak ada salahnya mengganti passion, dan tidak ada salahnya tidak punya atau belum nemu passion! Your call!

Minimal tau caranya bikin diri sendiri bahagia dulu lah biar nggak monoton hidupnya. Kalau hidup monoton nanti bosen loh. Bosen hidup kan serem ya hehe.

So be proud of what you are now! Be happy! Your happiness is your own responsibility! Your life is your own journey. :)

*

Demikian kuliah umum kali ini, sudah layak kah jadi motivator? :)))))

-ast-


Meng-undo Kehidupan

on
Tuesday, June 20, 2017

Coba pikirkan baik-baik dalam sehari kerja, berapa kali teken Ctrl + Z? Saya sering banget gengs. Apalagi nulis blog gini, baca hapus baca hapus hahaha demi kesempurnaan yang sempurna. *APAHHH* *APAH COBA JELASKAN MAKSUDNYAH*

Terus saya jadi mikir, betapa enaknya hidup di era digital gini. Semua bisa dicoba dulu dan dengan gampangnya bisa di-undo seketika.

Waktu saya ngerjain skripsi, saya stres setengah mati karena ngerasa salah terus dan jadi buang-buang kertas tiap kali revisi. Entah berapa kilo kertas kebuang. Ayah sampai beliin printer laser karena kalau pake printer biasa boros banget tintanya!

Tapi terus saya nanya ayah dan ibu, waktu ngerjain skripsi gimana? Ya gimana lagi, pake mesin tik lah omg. Katanya pas ngetik didobel, ada kertas belakang yang udah digaris-garisin pake spidol biar keliatan di titik mana harus mulai dan berhenti ngetik, juga untuk tau di mana tengahnya kertas untuk naro judul. Dengan kata lain, itulah align yang bisa kita set langsung dalam beberapa klik di Ms Word atau Google Docs.

OH WOW.

Nah terus saya jadi mikir (ya biasalah orang kebanyakan mikir), apakah kemudahan Ctrl + Z ini bikin hidup kita jadi kurang mikir? Jadi kurang perhitungan? Jadi menggampangkan banyak hal? Jadi kurang terencana?

(Saya pernah nulis ketika saya ingin kembali menghargai proses: Tentang Hidup Kembali


Mungkin nggak semua orang ya tapi saya sih cukup ngerasain itu. Mau posting apa, mikir bentar ah udalah upload aja dulu toh bisa dihapus. Nulis blog aja yang udah proof read beberapa kali suka tetep lolos typo. Apakah saya kurang serius proof read karena merasa toh bisa diedit juga?

Apakah jadi bikin kita kurang menghargai proses?

Mau beli baju cincai lah beli aja dulu toh bisa tuker atau refund (makanya beli baju di e-commerce gengs), mau beli barang mahal macam kamera ya udalah beli dulu aja toh kalau nggak suka tar tinggal jual di marketplace gampang paling harga turun dikit tapi kan udah coba punya dan pake.

Lha zaman dulu? Baju aja harus menjahitnya sendiri lol, susah undo-nya. Mau beli-beli barang mahal kalau nggak suka harus jual lagi di mana? Jual barang bekas di mana sih dulu? Di Babe ya? Sama di Old & New. Anak Bandung tahun 2000-an banget hahahahaha.

Intinya dulu ngapa-ngapain lebih susah di-undo, jadi pasti kita lebih menghargai prosesnya. Itu harus diakui. Lagian mau ngaku ginian aja masa susah hahaha.

Terus kemudahan komunikasi juga bikin males mikir banget. Janjian aja pake “liat nanti deh makan di mana” atau ala Cinta di AADC “nanti sorean deh dikabarin lagi ea”. Yang penting tempatnya udah pasti, maka tempat ketemu persisnya dipikirin nanti aja last minute. Weh kalau zaman dulu bisa-bisa nggak jadi ketemu ya?

Duh saya nggak sanggup ngebayanginnya. Ngabarin ke orang via surat bahwa akan sampai di bandara hari apa jam sekian dan minta jemput di titik mana. Kalau pesawatnya delay? Kalau tiba-tiba ada apa sampai nggak jadi berangkat? Aku butuh kepastian mas, tolong.

Jadinya dengan segala kemudahan digital ini kenapa kita jadi cenderung males mikir?

Paling gampang liat efeknya dari urusan hoax. Seberapa sering orang dengan gampang sebarin hoax terus dengan gampangnya juga sebarin permintaan maaf karena yang tadi hoax.

Padahal MIKIR dulu gitu ya ampun. Pikirin dulu apa ini bener nggak ya? Masuk akal nggak ya? Kroscek deh googling dulu.

Oh listrik naik ya? Emang kenapa sih naik? Oh ternyata bukan naik tapi subsidi untuk keluarga mampu dicabut. BACA, CARI TAU, BELAJAR. Nggak percaya sama media mainstream? Lebih percaya sama media entah di mana kantornya entah siapa pemimpin redaksinya? Ok silakan. Nggak temenan ya kita. ;)

Kemalasan mikir ini jadi bikin chaos banget. Semua teriak-teriak berisik padahal yang tau jelas kasus cuma dikit. Ditanya kronologi aja nggak ngerti, yang penting bikin status dulu, kalau ternyata salah yang tinggal dihapus atau diedit. Kenapa sih yaaa. Lelah juga ya lama-lama dengan orang-orang males mikir ini.

Dulu orang yang punya opini dan dibaca massa cuma itu penulis kolom opini di koran dan orang-orang yang diundang TV. Mereka jelas backgroundnya, lah sekarang? Orang nggak jelas background-nya apa aja bisa ikut ngomong soal politik, soal kesehatan, soal ekonomi. Ngana siapaaa?

Berani ngomong karena kalau salah tinggal hapus kan? Ini sebabnya banyak orang yang bacot di dunia maya tapi nggak mau ketemu di dunia nyata. Karena kalau ketemu langsung, omongan nggak bisa di-undo, jadi lebih baik diam.

ARGH.

(Baca: Tentang Kejujuran)

Hidup cuma sekali loh gengs. Yang kita lakukan sekarang ini mungkin bisa di-undo tapi waktu nggak akan pernah bisa diulang.

Ingatlah kalau komunikasi bersifat irreversible (tidak bisa dikembalikan seperti semula). Oke konten bisa kita ralat, status bisa kita edit, tapi secara teori komunikasi yang sudah berjalan tetap ada efeknya, baik positif maupun negatif.

Jadi kalau sekali kita share berita hoax, berita itu bisa kita hapus, bisa kita hilangkan dari muka bumi. Tapi untuk orang-orang yang sudah baca, kita akan tetap diingat sebagai orang yang pernah share hoax. Makanya hindari share sesuatu kalau kita nggak tau persis, hindari social media ketika marah karena kita nggak tau apa yang bisa kita tulis dan kemudian tidak bisa di-undo di benak orang lain.

Dan ya, ayo mulai menghargai proses. Iya semua lebih gampang di-undo tapi kadang ada hal-hal yang memang butuh kesempurnaan. Feed Instagram contohnya, sebel kan kalau harus ngehapus foto yang nggak sesuai di feed tapi yang like udah banyak? LOL Untung bisa archive sekarang yaa.

Stop sebarkan sesuatu yang dimulai dengan kata "Sebarkan!" apalagi dengan embel-embel "selamatkan orang yang anda cintai!" duh. STOP YA, PLEASE. Googling dulu lah minimal, Google pinter kok, keywordnya nggak usah persis juga ngerti dia. Jangan sampai kita jadi bagian manusia males mikir. Huhu.

Ayo mulai kroscek untuk segala sesuatu, selalu lah berpikir skeptis. Lihat dari semua sisi. Lihat dari sisi yang berseberangan dengan kita. Lihat ke sisi positif jangan selalu berpikir negatif. Lihat ke bawah jangan melulu lihat ke atas. (monolog)

*

Yaaa meskipun hidup dengan pemikiran matang, perhitungan sempurna, menyusahkan segala hal, dan well-planned nggak jamin kalian jadi sukses juga sih. HAHAHAHAHA. Tergantung definisi suksesnya juga yaaa.

Sukses dengan proses jujur atau nggak jujur hayo? Ah jadi panjang.

Udah ah gitu aja. Selamat kerja bagi yang masih kerja!

-ast-

*Terinspirasi nulis ini karena lagi bikin presentasi dan Ctrl + Z mulu ARGH KAPAN KELARNYA KALAU GUE UNDO-UNDO TERUS. KEBURU LEBARAN. BYE.


Tentang Karimun

on
Monday, June 19, 2017

Horeee akhirnya nulis ini juga hahahaha. JG pernah nulis sih di blognya dia tapi ya teknis banget laahhh. Saya sih mau nulis kenapa akhirnya pilih Karimun kotak sebagai mobil pertama.

Pertama …

KARENA NGGAK PUNYA UANG HAHAHAHAHAHAHA.

Ya maunya juga kaya orang lain, beli mobil yang nggak tua-tua amat gitu kan. Tapi uangnya manaaaa? Ya meskipun untuk ukuran mobil tua (Karimun kotak kami tahun 2000) harganya masih cukup mahal. Karena dianggap mobil koleksian gitu jadi harga cenderung stabil cmiiw.

Ayah saya sempet nawarin, mau minjem uang ayah dulu nggak biar bisa beli mobil yang lebih baru? Atau mau beli Brio aja biar mobil baru sekalian? Oh sungguh saya nggak mau karena gengsi hahahaha. Nggak deng, karena biar bebas aja pilih sendiri dan urus sendiri. Kalau uangnya pinjem uang ayah nanti ribet ayah ikut-ikut pilih.

Kedua, Karimun kotak punya sejarah panjang lol.

Saya dari SMP apa ya, seneng banget sama Karimun karena mobil Jepang banget! Mobil cute Jepang gitu yang tidak terdistraksi oleh desain-desain Eropa. *pret* Eh terus ketemu JG dan dia suka Karimun juga sejak dulu karena … mobil Jepang banget! HAHAHAHA Ya intinya alesannya sama. Saya dan JG sama-sama naksir Karimun sejak zaman sekolah banget.

Ya udah akhirnya diputuskan beli Karimun. PANJANG SEKALI PERJALANANNYA. Sampai beberapa kali ke Metro itu loh yang jual beli mobil tiap weekend di Bandung, terus liat di olx lah di mana lah banyak banget. Sampai liat iklan di koran dan didatengin ke rumahnya. Belum ada yang sreg.

Oiya, keluarga saya punya montir keluarga gitu karena dulu kakek saya punya bengkel. Jadi kalau beli-beli mobil bekas gini suka minta tolong cek sama montir keluarga. Dia belum ada yang sreg, saya juga. Dan kebetulan warnanya itu warna netral semua, biru tua lah, item lah. Saya maunya kuning hahahaha.

Terus nemu warna putih! Wah lucuuu. Mauuuu. Udah jatuh cinta banget ternyata pas dicek montir itu mobil bekas tabrakan. ERGH. Sumpah itu sampai putus asa banget loh nyari mobil. Sampai akhirnya nemu yang pink. PINK!

PINK IS LIKE OUR FAVORITE COLOR. OUR. JG SUKA PINK. DO JUDGE, FOR US COLOR HAS NO GENDER. LOL

Oke nggak pink PINK sih tapi lebih ke salem peach gitu dan biar aja lucuk! Terus deg-degan takut kenapa-napa dan ternyata nggak! Aman jaya!

Itu mobil sempet di Bandung lama dulu sih sama ayah digantiin interiornya, terus ganti ban apalah segala rupa, intinya dipoles ulang. Dan sampai sekarang, 3 tahun kemudian itu mobil masih jadi mobil kesayangan. Emosional banget kalau ngomongin mobil, sayaaangg banget rasanya.

Dan thank God, nggak pernah mogok! Untuk ukuran mobil tua ya, bandel banget. Baru pernah mogok 2 kali, sekali akinya kenapa gitu. Cincai tinggal manggil Shop n Drive kan. Kedua kenapa ya lupa hahaha pokoknya akhirnya manggil montir juga deh.

Kesuraman hidup sebatang kara di Jakarta, nggak punya montir keluarga huhu. Akhirnya sekarang punya kenalan montir sih dapet nyari sendiri, tapi tetep, kalau nyampe Bandung ya dicek juga sama montir langganan sejak bayi lol.

Dan Karimun ini luas banget! Nget nget nget! Untung dulu nggak beli Brio karena bagasi Brio sempit banget. Nggak bakal muat sepeda deh kayanya. Karimun ini muat sepeda fixie JG, muat stroller Joie yang segede gabruk, muat MESIN CUCI, apalagi kalau pulang ke Bandung gitu ya, setengah barang di rumah kami bawa kecuali AC dan kulkas hahahaha.



Muat banyak banget karena sudutnya kotak semua. AC-nya juga dingin banget sampai kedinginan.

Sayang banget sama mobil ini huhu meski satu hal, kursinya tegak HAHAHAHAHA.

Ini salah satu penyesuaian hidup setelah menikah ya. Ya di Bandung mobilnya enak, nyaman banget, kursinya melesak memendam pantat HAHAHAHA tapi kan mobil siapa yeee. Kalau Karimun duduk tegak kaya di angkot. Tapi apa kemudian sebel? Nggak sih, ya maklum aja namanya mobil beli sendiriii. Kusungguhbangga!

Terus kalau di tol LAMBAT. Yaiyalah 1,000 cc doang. Jadi ya bagi kami, ke Bandung itu secepat-cepatnya 3,5 jam. Bukan karena macet tapi ya karena nggak bisa lebih cepet lagi majunya. Lagian mau ke mana sih buru-buruh amat ah, santai ajaaa.

Apalagi sih? Ini cuma jawab aja sih karena banyak yang nanya “Kok belinya Karimun sih?” Ya emang sih di Jakarta Karimun dikit banget! Ya gimana, orang lain mobilnya baru semua ya kan. Cuma ya, ada ikatan emosional *HALAH* antara kami dan Karimun.

Lengkapnya baca di blog JG deh: Alasan Memilih Karimun Kotak

See you!

-ast-


Beda Prinsip

on
Friday, June 16, 2017

Dulu ya waktu masih punya TV di rumah dan suka nonton infotainment, satu hal yang selalu bikin saya mengernyit adalah alasan perceraian para artis yang bisa dirangkum dalam dua kata: BEDA PRINSIP.

Dulu saya selalu menganggap alasan beda prinsip itu sebagai alasan yang mengada-ada dan kurang real. Lagian masa karena beda prinsip aja sampai harus cerai sih ih, yang beda agama aja banyak yang pernikahannya langgeng. Padahal apa yang lebih berprinsip dibanding agama coba?

Kemudian saya tumbuh dewasa dan ketika memutuskan menikah, prinsip yang dulu saya anggap sesuatu yang unreal itu ternyata penting banget!

Prinsip atau value lebih enak kalau sama memang, kecuali kalian orang yang sangat tenggang rasa, tepo seliro, mampu bertahan dan saling menghargai satu sama lain seumur hidup.

(Baca: 30+ Hal yang Harus Ditanyakan Sebelum Menikah)

Kalau kalian kaya saya yang sebisa mungkin menghindari konflik, nggak sabaran, ingin selalu punya teman untuk diskusi, maka ya mending dari awal nikahin orang yang menghargai values yang sama.

Apa aja values itu? Ya tentukan sendiri. Tentukan apa yang penting buat kalian dan diskusikan dengan pasangan kalian.

Contoh yang tampaknya sederhana padahal tidak sederhana sama sekali: istri boleh kerja nggak setelah nikah?

Itu kedengerannya kaya masalah simpel: “suami larang istri boleh aja dong karena itu hak suami”.

Alesannya bisa macem-macem ada yang beralasan “Karena sayang, jadi biar aja suami capek kerja keras cari uang (seolah istri di rumah nggak capek ngurus rumah)” ada yang bilang “istri urus anak aja biar rumah diurus pembantu”. Banyak.

Padahal nggak sesimpel itu. Urusan melarang bekerja ini ada di area gender equality dan ini cakupan yang sangat luas plus sensitif.

(Baca: Mengurangi Pertengkaran Rumah Tangga)

Jadi daripada tanya calon suami dengan “kamu bolehin aku kerja nggak setelah nikah?” tanya dulu soal “gimana menurut kamu soal gender equality?”

Karena jawaban dari pertanyaan kedua akan menunjukkan akan seperti apa dia memperlakukan kalian setelah nikah. Kalau ditanya pertanyaan pertama terus jawabannya “boleh kok” terus kalian percaya padahal setelah nikah akhirnya dia melarang karena “dulu aku bolehin karena gaji aku kecil, sekarang gaji aku cukup jadi ga usah kerja lagi”.

Coba kalau tanyanya soal gender equality. Bisa ketaker banget loh dia laki-laki seperti apa. Bisa langsung ketauan apakah dia menganggap perempuan bisa setara secara akademis dan karier atau dia menganggap perempuan sebagai pengurus rumah tangga.

Satu hal, kalau ternyata jawaban dia adalah perempuan harus diam di rumah dan kalian 100% oke dengan itu ya go ahead. Maka prinsip kalian udah sama.

Tapi kalau kalian percaya perempuan dan laki-laki harus setara ya jangan dilanjutin. Mending nggak usah jadi nikah percayalah padakuuu ~~~.

Kalau kalian menikah nanti kalian sedih. Nanti kalian nggak akan lagi hidup sepenuhnya karena selalu ada penyesalan “padahal sebenernya aku pengen xxx”. Hidup dalam penyesalan itu nggak enak gengs.

(Baca: How are We Gonna Raise Our Kids?)

Dan kalau udah nikah, masalah yang kayanya remeh juga bisa jadi besar karena ya namanya prinsip ya, susah diubah. Hal yang kayanya nggak mungkin bikin berantem aja bisa banget jadi bahan perpecahan.

Kalau saya sendiri memang baru sama JG yang ngerasa klik banget. Soulmate akuhhhh uwuwuwuw gemas. Hahaha.

Selama nikah, baru satu kali berantem karena beda prinsip. Masalahnya yaitu … Bebe masuk playgroup tahun ini apa tahun depan? HAHAHAHAHA. Tampak remeh tapi bikin mayan tegang juga sih karena sama-sama ngotot (saya lebih ngotot sih 😂).

Abis JG keukeuh amat tahun ini sementara saya ngerasa Bebe masih kecil laahh, belum butuh sekolah. Tapi JG ingin Bebe sekolah biar cepet bisa bahasa Inggris. Ambisius banget! Jadi akhirnya setelah merenung lama bersama-sama, diambil jalan tengah yaitu Bebe belajar bahasa Inggris di rumah lol.

Tapi ya so far so good lah, we share the same values to live by. Dari urusan agama, politik, gender, komitmen, kejujuran, dan banyak lah. Tapi saya mikirnya kami bisa seperti ini karena kami banyak berdiskusi sih sebelum nikah. Ya maklum orangnya nggak bisa nggak ngomong ya hahahaha.

(Baca: Suami yang Nyebelin)

Satu hal, setelah saya nikah gini baru saya sadar bahwa cerai itu tidak apa-apa! Dalam artian saya tidak akan judge orang bercerai karena saya nggak ada di posisi mereka.

Karena manusia bisa berubah, manusia bisa TIDAK berubah, manusia bisa jadi sangat menyebalkan sekaligus menyenangkan, dan sebagainya. Jadi cerai karena beda prinsip itu sangat bisa terjadi, bukan cuma mengada-ada. Jangan suka judge orang cerai karena kita nggak tau ada masalah sebesar apa di baliknya.

Jadi buat kalian yang belum nikah, ayo samakan visi misi, prinsip, value, apapun itu namanya dengan calon suami/istri. Buat kalian yang udah nikah dan ngerasa beda prinsip, banyak-banyak sabar ya. Huhu. Abis gimana dong.

Udah ah kepanjangan, kupusing.

Selamat weekend!

-ast-