Image Slider

Parenting Tidak Butuh Teori?

on
Wednesday, September 20, 2017

Suatu hari JG cerita soal temennya yang marah-marah karena merasa diceramahi teman lain soal parenting. Padahal temen yang ini memang kuliah psikologi anak dan menurut saya sih dia ya layak lah kalau mau share soal teori parenting. Teori kan, bukan praktek hahaha.

Menurut si teman yang marah, parenting itu natural karena manusia sudah melakukannya sejak dulu. Nggak perlu lah itu teori-teori, jalani aja sesuai naluri masing-masing.

Wow.

Saya kaget. Saya loh ya. Saya yang nggak pernah dateng ke satu pun seminar parenting atas kesadaran sendiri. Saya yang well, dateng ke seminar parenting karena jadi endorser. Saya yang nggak niat sedikit pun montessori di rumah, main edukatif, blablabla. Sebagian besar mainan Bebe adalah mainan tidak edukatif, konsumtif, korban kapitalisme lah.*sigh*

Tapi saya percaya parenting bisa 100% natural tapi lebih baik TIDAK. Membesarkan anak BUTUH teori pendukung.

Yaiyalah, kalau nggak pake teori contoh realnya adalah orang tua ngeyel yang keukeuh ngasih anaknya bubur padahal anaknya baru umur 2 bulan. Bengkak lah perut si anak, buburnya nggak bisa kecerna semua. Operasi deh.

Dan heran aja sih sama orangtua zaman sekarang yang mengabaikan teori. Teori parenting zaman sekarang kan aksesnya gampang banget. Nggak kaya zaman orang tua atau nenek kakek kita dulu. Mereka mentok dapet teori parenting dari bidan atau posyandu kan.

Padahal teori parenting itu bikin hidup lebih gampang loh, beneran. Bikin hidup lebih damai karena teori tumbuh kembang anak itu sudah dipelajari bertahun-tahun. Tinggal pilih teori mana yang cocok untuk diterapkan dalam keluarga.

Contoh anak tantrum. Dulu anak tantrum akan dicap sebagai anak bandel, nggak tau aturan, ibunya nggak bisa ngajarin, dsb. Ibunya pun akan ikut mendidih ketika anak tantrum, akhirnya anak dibungkam, diancam atau dipaksa diam. Harga dirinya hancur karena mengekspresikan diri dilarang sejak kecil.

(Baca: Tips Menangani Anak Tantrum di Tempat Umum)

Nggak heran kan banyak di antara kalian yang terlalu takut bersuara? Terlalu takut punya pendapat, terlalu takut ngeblog, terlalu takut beropini. Tanyakan pada diri kalian sendiri, apakah waktu kecil sering disuruh diam? Terlalu sering dibentak agar tidak berekspresi? Mungkin jawabannya iya.

Karena tantrum adalah sarana berekspresi bagi balita, dia tidak tahu bagaimana caranya marah maka ia tantrum. Teorinya adalah, kita jaga dia, perlihatkan bahwa kita berempati dengan kemarahannya, peluk sampai ia kembali tenang. Sesederhana itu. Tidak perlu ada judge bahwa dia sulit diatur atau ibunya kurang disiplin, yang perlu kita lakukan hanya menunggu.

Tapi kalau kalian keukeuh, "ya nggak lah, anak gue ya anak gue. Kalau menurut gue dia nggak tau aturan, maka dia memang nggak tau aturan."

Sesungguhnya hal tersulit dari orangtua adalah menerima kekurangan diri sendiri. Menerima bahwa kita tidak selalu benar. Menerima bahwa anak belajar melalui dunianya, bukan dunia kita. Anak melihat sesuatu dengan pola pikirnya, bukan pola pikir kita. Kita pernah jadi anak, anak tidak pernah jadi kita.

Makanya saya senang kalau ada yang chat kemudian berdiskusi tentang anak. Tandanya kalian serius membesarkan anak, tandanya kalian tidak main-main dan ingin memberi yang terbaik untuk anaknya. Meskipun ya sebel sih kalau nanya-nanya padahal udah dikasih linknya dan nggak dibaca dulu. Baca dulu ya, punya anak itu kan intinya belajar hal baru setiap hari.

Coba kalau kita pikir ulang. Sebelum lahiran, baca teori tentang melahirkan, tentang ASI, tentang perkembangan janin, dll. Anak lahir mulai baca teori soal pompa ASI, tentang leap atau growth spurt, tentang milestones. Anak mulai makan kita pun belajar lagi soal MPASI, soal gizi, tiba-tiba masak, tiba-tiba ke pasar, ya kan? Itu semua teori kan?

Terus emang diterapkan semua?

Ya nggak lah, banyak juga teori parenting yang memang nggak saya setuju atau saya lakukan. Tapi kan kalau nggak setuju ya gampang, tinggalin aja. Pilih lah teori yang memang sesuai kata hati. Tapi tetep, BELAJAR DULU, cari tau dulu pilihan-pilihannya.

Makanya saya ngerasa beruntung banget punya akses ke psikolog anak dari daycare Bebe. Kalau nggak begitu, kapan coba bisa curhat full tentang anak kita sendiri ke psikolog anak, nggak akan pernah sih pastinya. Makanya kalau abis dari psikolog, saya pasti share hasilnya di sini karena saya pengen kalian yang nggak punya akses ke psikolog bisa ikut tau juga. Semoga bermanfaat ya. :)

So that's pretty much it. Parenting, dan hal apapun dalam hidup, akan lebih mudah jika kita tahu ilmunya. Itu aja sih.

Selamat hari Rabu! :)

-ast-


Karena Rokok (Pasti) Bisa Menunggu

on
Monday, September 18, 2017

Hari Minggu lalu jam 6 pagi, kami bertiga plus ibu saya jalan-jalan ke Gasibu. Niatnya sih mau lari, tapi ternyata track lari di lapangannya sangat crowded. Jangankan lari, jalan pun susah. Kami pun akhirnya melipir, menyusuri Taman Lansia sampai bertemu Taman Cibeunying.

Itu loh taman yang ada robot Transformers angkot dan Bumblebee. Tamannya tidak terlalu besar tapi banyak tempat sewa mainan. Bebe mulai terdistraksi tukang pancing ikan mainan (Rp 5ribu boleh mancing ikan plastik sepuasnya btw), JG sudah nangkring di tukang lontong sayur, dan saya sendiri duduk di bawah patung. Mengamati sekeliling.

Pengunjung yang datang rata-rata keluarga muda. Suami istri dengan anak balita, paling besar anak TK. Datang hanya untuk duduk-duduk dan jajan. Yang menyebalkan, sebagian besar dari orangtua itu merokok. Baik ayah maupun ibunya.

Ada yang sengaja duduk terpisah dengan anaknya yang sedang makan sosis bakar, ada yang duduk sebelah anaknya dengan rokok disembunyikan di balik badan seolah punggung akan menyerap asap rokok itu, ada yang terang-terangan saja merokok sambil menggendong anaknya yang masih sangat kecil.

Apa yang ada di pikiran mereka? Apa rokok tidak bisa menunggu?

Kalian sengaja bangun pagi, berganti dengan baju yang lebih baik, para ibu bahkan sempat menggambar alis dan memulas lipstik. Demi bisa menghabiskan waktu bersama anak kan? Anak yang mungkin jarang kalian temani karena sehari-hari ditinggal bekerja.

Merokok mungkin kesenangan kalian, tapi ditemani bermain oleh ayah dan ibu yang atensinya full, orangtua yang kedua tangannya bisa digunakan tanpa terganggu memegang rokok berasap mungkin jadi kesenangan anak kalian.

Merokok adalah hak kalian. Tapi menghirup udara bebas asap rokok adalah hak ANAK kalian.

Suami saya bukan perokok, pun saya sendiri, tapi saya yakin rokok bisa menunggu. Pasti bisa menunggu.

Merokoklah saat sendirian, merokoklah di luar rumah, merokoklah saat nongkrong dengan teman-teman, merokoklah di tempat yang disediakan khusus untuk merokok, jangan merokok di dalam rumah, jangan merokok di dalam rumah orang lain saat bertamu. Mandi dan berganti pakaian lah sebelum masuk rumah dan memeluk anak serta istri atau suami.

Karena mereka, orang-orang yang paling kita sayang kan? ATAU TIDAK?

Bukan cuma satu dua artikel kan yang membahas risiko anak sakit pneumonia tinggi jika berada di lingkungan yang merokok? Bukan satu dua penelitian kan yang membahas bahwa residu rokok masih tertinggal bahkan ketika asapnya sudah tidak ada?

Jadilah perokok yang bertanggungjawab. Asap rokokmu, tanggung jawabmu. Seperti juga kehidupan sehat anak-anakmu, tanggung jawabmu.

Rokok bisa menunggu. Ada puluhan jam yang kalian lewati tanpa anak-anak kalian. Gunakan sebaik mungkin untuk merokok sepuasnya. Tapi sisihkan waktu 2-3 jam di Minggu pagi untuk membawa anak-anak ke taman dan menghirup udara segar di bawah pepohonan. Udara segar yang tidak terganggu asap rokokmu lagi.

Untuk kalian yang punya pasangan merokok, tak perlu melarangnya berhenti. Hal sia-sia yang akan berujung pertengkaran saja. Ia akan berhenti ketika ia mau berhenti, bukan karena kalian menyuruhnya berhenti. Tapi mintalah waktunya saja sedikit, waktu-waktu berkualitas bersama anak-anak di mana ia menunda keinginannya merokok.

Demi kalian, demi anak-anak yang lebih sehat.

Terima kasih.

-ast, ibu satu anak yang selalu menyuruh anaknya berteriak serta kabur jika ada orang merokok. Bahkan ketika yang merokok adalah sekumpulan polisi di kantor polisi, "OM POLISI MELOKOK AKU HARUS KABULLL!!!"

GIVEAWAY HADIAH BALANCE BIKE MASIH DIBUKA LOH! KLIK!


Memutuskan Menetap

on
Friday, September 15, 2017

Jadi ceritanya, saya dan JG lagi galau pengen pindah rumah. Galau pertama karena insecure abis kemalingan, galau kedua adalah sekolah Bebe yang astaga jauhnyaaaa.

Sori ralat, macetnyaaaaa. Sampai rumah jam 8 mulu nih jadinya. Iya sih kami masih mengusung prinsip "biar macet asal sama-sama" tapi insecure banget beneran gara-gara rumah kecurian dua kali. Kaya ngerasa "oh mungkin ini udah saatnya kami pindah" gitu.

Karena kalau secara jarak sih sebenernya nggak ngaruh amat ya, sama-sama searah dari kantor JG mau pulang. Cuma macetnya jadi combo banget soalnya kalau daycare lama tuh bisa lewat jalan tikus gang-gang sempit yang jarang dilewati manusia. Kalau sekarang jalannya bener-bener jalan utama yang yaahhh, dilewati semua mobil hhhh.

Kenapa atuh pilih sekolah di situ bukannya cari yang deket aja?

Duh ya baru setelah urusan sekolah ini saya jadi ngerti bahwa jarak dan waktu bisa dikompromi tapi sekolah yang bagus tidak. Artinya (untuk sekarang) mending jauh tapi sekolahnya bagus, daripada deket tapi sayanya nggak sreg sama sekolahnya.

Kecuali memang nggak punya pilihan, misal kami nggak punya mobil, atau saya dan JG lembur terus gitu misalnya. Ini kan nggak, kami masih bisa anter jemput tanpa ganggu kerjaan, dan Bebe bisa tetep nyaman juga bobo atau main sama saya di mobil. Dan since dia udah ikut rutinitas kami kerja sejak umurnya 3 bulan, dia kayanya hepi-hepi aja nggak capek gimana.

Karena pilihan sekolah yang mending itu nggak ada. Bukannya ada, tapi kami nggak mau kompromi. Emang nggak ada aja. Sekolah yang sekarang ini yang terdekat. Beratnya hidup di Jakarta lol.

(Baca: Memaknai Pilihan)

Dan urusan pindah rumah ini bikin saya mikir, untung ya ngontrak jadi bisa pindah kapan aja. Kalau rumah sendiri gimana?

Kalau di kampung halaman (in our case, Bandung) sih pasti masih kebayang karena tau persis areanya, lah di Jakarta? Buat kami yang asli Bandung, gimana cara memutuskan untuk menetap?

Karena nggak mampu beli rumah di Jakarta, gimana cara kami memutuskan akan tinggal di Bekasi, Tangerang, Depok, Bogor, atau mana? Kenapa pilih itu? Kalau pindah ke Bogor misalnya, apa siap selamanya jadi orang Bogor?

AAKKK NGGAK SANGGUP MIKIRINNYA.

Kaya kalian dateng ke satu area yang nggak pernah kalian datengin sebelumnya, terus tiba-tiba harus tinggal di sana, dengan neighborhood yang sama sekali asing, nggak tau harus jajan pempek di mana, nggak tau harus ke supermarket yang mana.

DAN INGAT KOMITMEN KPR (MISAL) 15 TAHUN DI SANA. Yang artinya lo harus tinggal di sana terus-terusan sampai anak lo SMA. OMG SEREM NGGAK SIH. Kaya orang asing dipaksa adaptasi gitu.

Stres abis mikirinnya hahahahaha. Kalau nggak betah gimana? Kalau tetangganya rese gimana? Kalau ternyata nggak betah karena alesan apapun gimana? Dibetah-betahin aja kan rumah sendiri, kalau rumah sendiri kerasanya beda kok, kata orang gitu.

Tapi tetep euy, belum punya nyali. Bahkan untuk sekadar, survey yuk ke daerah A cari-cari tau harga rumah. Itu aja nggak berani. Nggak berani karena bingung A itu daerah YANG MANA? Apakah kita akan membangun rumah di sana dan jadi orang sana sehingga di masa depan Bebe akan pulang bawa istri dan anaknya ke rumah kami di kota itu?

Karena di otak itu kalau pulang kampung ya ke Bandung.

Makanya sampai sekarang, saya dan JG belum memutuskan akan menetap di mana persisnya. Well untungnya sih udah punya rumah di Bandung ya jadi nggak diresein orang dengan "beli rumah kali jangan main terus". Ya ini udah, cicilannya tinggal 7 tahun lagi, udah setengah lewat.

Untuk sekarang kami kaya go with the flow gitu. Apalagi setelah konmari-an ya, barang jadi sedikit banget jadi kalau pindah pun rasanya nggak akan stres-stres amat sama packing.

(Baca: Beres-beres Rumah ala Konmari)

Saya juga mikir apa karena kami tinggalnya di Jakarta ya jadi takut nggak betah dan bawaannya curigaan banget. Kalau misal tiba-tiba harus permanen tinggal di negara yang proper segala-galanya sih MUNGKIN bakal dibetah-betahin aja toh dapet "sesuatu" juga dengan ngebetah-betahin diri.

"Sesuatu" as in jalanan rapi, penduduk yang educated, jadi nggak serobot antrian atau buang sampah sembarangan, ya yang nggak bikin lo sakit kepala lah. Tapi kan ini Jakarta dan kota satelitnya, di mana semua jenis manusia ada. Dari yang nggak berpendidikan, ke yang pendidikannya tinggi banget sampai yang pendidikannya tinggi banget tapi kaya nggak ada otaknya gitu juga lengkap.

Don't get me wrong, saya happy kok tinggal di Jakarta. Karena nggak tau mau kerja apa di kota lain hahahahaha. Tapi ya itu, sebetah-betahnya tetep nggak berani bilang "oke karena gue seumur hidup akan kerja di Jakarta, maka gue akan beli rumah di Depok! Ayo kita survey rumah di Depok!" gitu misalnya. Nggak berani bangeeettt hahahaha.

Kenapa ya? Mungkin karena deep down inside kami cinta Bandung. Kalau pun harus meneguhkan hati selamanya akan tinggal di mana, ya di Bandung lah.

Dan mungkin juga karena Bandung lebih nyaman dibanding Jakarta ya. Maksudnya kalau kampung halaman kalian di kampung banget atau nggak nyaman ditinggali kan ya pasti lebih pilih Jakarta lah. Kalau Bandung kan kota besar juga, nggak jauh-jauh amat dari Jakarta, kerjaan juga pasti ada bagi kalian yang mau berusaha lol.

Jadi ya, apa alasan kalian memutuskan menetap di kota baru yang bukan Jakarta dan bukan kampung halaman? Share dong, siapa tau aku terinspirasi!

MAKASIHHHH!

-ast-


Bebe Sekolah!

on
Wednesday, September 13, 2017

Hari ini hari kedelapan Bebe sekolah dan ya, saya cukup terharu sih sama perkembangannya. Iya, baru 8 hari udah kerasa beda!

Oke jadi daycare dan preschool Bebe ini konsepnya montessori. Nah, meskipun montessori itu lagi hype banget dan kaya diagung-agungkan semua ibu sampai pada niat #montessoridirumah, saya sendiri nggak jadi yang gremetan pengen banget Bebe sekolah montessori.

Pertama karena ya ini kan cuma preschool, saya sendiri jadinya belum punya goal apa-apa untuk Bebe. Yang penting dia bisa bergaul aja sama anak seumurannya karena di daycare lama kan dia main bener-bener sama anak kecil.

Terus kenapa akhirnya saya pilih preschool montessori?

Mmmm, nggak begitu. Preschool ini saya pilih bukan karena metode montessorinya, tapi karena daycare-nya bagus! Karena kan sebenernya preschool-nya mah sebentar banget ya, sehari cuma 2 jam. Sisanya kan justru dia main di daycarenya, jadi saya pilih karena sesuai dengan daycare yang saya mau.

Rumahnya luas, kena sinar matahari, ada playground luaaassss, mainan, sepeda, buku banyak banget, dan anak tidak selalu di kamar. Anak bebas ke mana pun. Lokasinya di perumahan sepi pula, jadi bisa naik sepeda di jalan depan rumah atau jalan-jalan ke taman. Beda sama daycare yang pernah saya review ini (KLIK DONG). Jadi kebetulan aja kalau metodenya montessori.

(Review daycare lama Bebe, 3 tahun loh di sini: Tweede Daycare Benhil)

🍎 Sosialisasi

Sejak awal kami cari preschool (sekitar bulan Juni), saya udah sering bilang ke Bebe kalau nanti dia akan pindah sekolah.

Dua minggu sebelumnya hari H pindah, sosialisasi makin gencar. Bahwa nanti temannya akan anak besar semua, setiap hari saya kasih kalimat-kalimat yang menyiratkan sekolah itu seru sekali. Dan dia memang belum liat sekolahnya sampai hari pertama.

"Main sama anak kecil kan nggak seru ya, Be? Nanti di sekolah, temannya anak besar semua loh!"

"Be, nanti gurunya bukan Kak Wina lagi, gurunya pintar loh. Nggak apa-apa kan ganti guru?"

"Be, sekolah Bebe besaaarrr sekali. Seru loh mainannya banyak, ada tenda dua, ada perosotan, banyak lah pokoknya"

Dan masih banyak lagi versi kalimat kaya gitu.

🍎 Hari pertama

Hari pertama yang galau siapa? Ibu dan appa tentu saja. Bebe sih semangat banget karena dia udah membayangkan sekolahnya seru. DAN UNTUNGNYA SERU!

Dia dateng masih pake baju tidur, saya langsung kenalin ke teachernya. Saya kasih liat bahwa ini loh rak bukunya, ini loh rak mainannya, ini loh ruang mainnya. Kemudian dia main sepeda. Saya tanya, mau liat kamar sama kamar mandinya dulu nggak? DIA MENGGELENG, SODARA-SODARA.

"Ibu dan appa boleh kerja?"

DIA MENGANGGUK, PEMIRSA.

Kemudian saya dan JG dicium dan bye kami berangkat deh ke kantor HAHAHAHA. Sungguh mudah. Nggak drama sama sekali sampai sekarang. Hari ketiga saya udah nggak anter, turun di kantor aja. Dia nggak nangis, nggak canggung atau apa. Semangat banget sampai sorenya nggak mau pulang.

Nah terus tiap hari kan dikirimin foto tuh sama missnya, hari pertama siang-siang liat foto kegiatan Bebe kok kayanya kalem amat ya. Saya forward ke group keluarga, adik saya bilang "kayanya masih kalem deh mbak, kaya yang pendiem".

Sorenya saya ngintip dulu pas jemput, ohhh pendiem bangeeettt! Dia lagi colek-colek temennya sambil bilang "aku bisa nyanyi robocar poli loh!" Kemudian dia nyanyi lagu robocar poli teriak-teriak sambil main piano plastik. Sungguh anakku pendiam, seperti ibu dan appanya. -_______-

Missnya juga nanya "bu, ini biasanya emang di daycare ya, mandiri banget nggak kaya anak baru" UHHH I'M SO PROUD HAHAHA.

🍎 Perubahan setelah sekolah

Hari pertama sekolah dia makan 3 kali sendiri dan habis semua! Makan bubur kacang ijo sendiri juga habis semua! Duh emang di rumah dan di daycare lama dimanja banget sih makan selalu disuapin. Seminggu ini baru sekali dia makannya nggak habis. Mungkin nggak suka, nggak apa-apa saya mah nggak pernah maksa hehehe.

Siang udah nggak pake diapers dan cuma ngompol sekali. Ganti baju sendiri. Sekarang apa-apa maunya sendiri gitu. Pas baca-baca di website sekolahnya, goalsnya itu ternyata emang anak mandiri. Aku terharu banget deh sumpah.

Udah seminggu juga nggak nonton YouTube dan pegang HP cuma weekend doang itu pun pake alarm 1 jam doang. Ini sih emang niat sayanya juga ya, tapi menyenangkan juga ya punya anak yang nggak terdistraksi HP itu. LOVE!

🍎 Ngapain aja di sekolah?

Di sekolahnya kegiatannya banyak banget. Di hari pertama aja dia belajar siklus hidup kodok (lengkap dengan alat bantu dari karet, YES KECEBONG KARET), main badminton, meres jeruk, main-mainan montessori, dan menggunting serta menempel kodok kertas.

Jadi tiap bulan ada tema-temanya gitu. Tiap hari ada jadwal pelajarannya juga. Seru lah pokoknya, saya sendiri takjub gitu wow ternyata Bebe bisa ya!

Lucunya pas ke taman, Bebe harus jalan sambil ngegandeng dua toddler gitu jadi belajar tanggung jawab ahahahaaha gemash. Mana dikirimin foto terus, mantengin cctv terus, terharu lah pokoknya.

🍎 Kok serius amat belajarnya?

Iya banyak yang khawatir kalau anak terlalu dini mulai belajar nanti katanya bosen sekolah pas gede. Saya memilih nggak percaya hahaha. Kalau nanti misal pas SD Bebe nggak mau sekolah ya ditanya kenapa nggak mau? Kalau emang nggak mau banget ya udah nggak usah sekolah HAHAHAHA.

Rich Chigga aja nggak sekolah kan, dia homeschooling 2 tahun doang terus sisanya nonton YouTube tiap hari. Dan sori, saya nggak terima debat soal Chigga ya. *anaknya lemah sama rapper* XD

Saya nggak masalah sih, ASAL KULIAH. Jadi ya nggak perlu sekolah formal nggak apa-apa, tapi harus kuliah. Tandanya harus ambil ujian persamaan atau IB kan (kalau mau kuliah di luar negeri). Terserah nggak mau SD, SMP, SMA tapi HARUS KULIAH. :)

*

Kekurangan sekolah Bebe ini cuma satu. JAUH BANGET DARI KANTOR DAN RUMAH. Deketnya dari kantor JG dan ya itu cukup bikin stres sih. Capek banget bisa 1,5 jam di jalan, dua kali lipat lebih lama dibanding dari daycare lama. Cuma karena bertiga di mobil ya udah ketawain ajalah. Toh puas juga sama sekolahnya.

So yaaa, I think that's all! Sampai jumpa di cerita selanjutnya!

-ast-


Pacaran Bertahun-tahun, Nikah atau Putus?

on
Monday, September 11, 2017
PUTUS! HAHAHAHA.

(ini typo harusnya kart bukan ksrt tapi kumalas edit lagi jadi anggap aja majalah, kalau udah terbit ga bisa diralat HAHAHA)

Iya jadi saya beberapa kali denger orang curhat atau bahkan komen di blog ini dengan pernyataan “aku udah pacaran x tahun, tapi masih nggak yakin mau nggak ya nikah sama dia?”

Ya putus lah kan udah jelas tuh nggak yakin. Ini menurut kakak ini loh ya, yang pernah pacaran “cuma” 5 tahun terus putus. Hahahaha. Saya kalau pacaran emang lama-lama banget deh dari dulu, sama JG malah paling sebentar.

Alkisah zaman kuliah, saya baru putus sama pacar waktu SMA padahal pacarannya udah 5 tahun. Sebagai anak yang disenggol aja curhat, ceritalah saya sama dosen. Dosen ini perempuan, umurnya 30 something lah waktu itu. Pinter, S2 (yaiya kan dosen ah), dan enak diajak ngobrol. Beliau bilang apa?

“Tenang aja cha, saya juga pacaran dari SMA 11 tahun putus kok. Nikah malah sama temen S2,” katanya kalem.

Wow wow sebuah pencerahan!

Kenapa pencerahan, karena dari dosen, dari cerita saya sendiri, dari cerita orang-orang, semua bisa ditarik benang merah yang sama. Apakah itu?

(Baca: Rumitnya Menikah)

Gini, pacaran lama itu ada dua macem:

🙋 Yang bertahan pacaran karena memang saling dukung dan berkembang sama-sama. Dari tahun ke tahun tetep punya selera yang sama, tetep bisa diskusi banyak hal, tetep ngerasa bahwa oiya she/he’s the one untuk cerita segalanya. Nggak terbebani dengan apapun.

🙆 Yang bertahan pacaran karena terbiasa. Ya maklum kan bertahun-tahun ketemu orang yang sama, semua keluarga udah kenal, sama temen udah diajak nongkrong bareng karena udah kenal lama juga, sampai tempat makan favorit aja udah ngerti kalau kita couple banget. Yang ini nih yang suka bikin blur, emang beneran cocok apa karena kebiasaan aja sih apa-apa sama dia?

Kalau kalian masuk tipe yang pertama dan nggak pernah punya masalah (misal salah satu pernah selingkuh), maka bolehlah dipertimbangkan untuk menikah. Tapi kalau pernah ada masalah yang bikin sakit hati banget sih jangan ya, nggak enak kalau pas akhirnya nikah kepikiran terus seumur hidup. Nanti malah jadi bahan diungkit kalau berantem.

Nah tapi kalau kalian masuk tipe yang kedua, putus ajalah udah. Karena ketika pacaran bertahun-tahun, ada pasangan yang tanpa sadar tetap orang yang sama saat pertama kali jadian.

JRENG!

Misal saya pacaran pas SMA putus pas kuliah, sampai udah kuliah pun berantemnya tetep berantem ala anak SMA gitu. Nggak jadi dewasa sama-sama. Mirip-mirip kaya kalau kita ketemu geng SMA, becandanya itu tetep becanda SMA banget kan, nggak jadi becanda orang umur 30 tahun? Iya nggak?

Itu pun yang terjadi pada dosen saya, pacaran 11 tahun dari SMA, masalah yang muncul dan diberantemin itu masih sama dengan masalah waktu SMA. Padahal ceweknya udah S2 kan. Akhirnya ya nikah sama temen S2 karena secara pola pikir mereka jadinya setara.

(Baca: Alasan Cerai: Beda Prinsip)

Iya urusan pola pikir juga jadi masalah buat yang pacaran lama. Dalam 5 tahun misal cowoknya ya kalem aja hidup nggak ambisius, sementara ceweknya udah dapet beasiswa kuliah ke luar, volunteer ini itu, akhirnya si cewek sampai pada titik “ih kok nggak nyambung lagi ya ngomong sama kamu” TAPI DALAM HATI NIH BIASANYA NGOMONGNYA.

Karena udah pacaran lama banget jadinya kaya nggak mungkin gitu putus cuma karena nggak nyambung doang. Lah kan bertahun-tahun nyambung aja? Jadinya dragging pacaran terus dan ketika masuk usia nikah muncul kebimbangan “nikah nggak ya sama dia?”

JANGAAANNNN. Hahahaha.

Atau ada juga masalah yang kayanya nggak kerasa besar pas pacaran tapi bisa jadi besar banget kalau nikah. Contoh: calon mertua. Pas pacaran mah kayanya baik-baik aja nih si tante meskipun ya kadang bawel dikit sih segala dikomen tapi cuek lah kan jarang ketemu juga. Atau keluarganya banyak yang gengges nih, suka nyindirin fisik, tapi nggak apa-apa lah kan ketemu paling setahun sekali pas lebaran doang.

Hei hei hei tidak seperti itu anak muda.

Si tante nanti akan jadi mama dan punya mama mertua tidak bawel itu adalah kunci kebahagiaan utama. Dan keluarga yang gengges itu akan nomer satu paling heboh bahkan di urusan nama anak lah, ASI kita kurang lah, anak kita kekurusan atau kegendutan lah, rese. Demi ketenangan hidup mending pikir ulang deh. Karena nikah itu nggak selamanya urusan pribadi, sebagian besar adalah urusan keluarga.

(Baca dulu ini makanya: Menikah untuk Siapa?)

Ini saya denger dari orang juga sih tapi kalau punya pacar, ingatlah selalu pada 3 masalah: orangtua, agama, LDR. Kalau kalian cuma ngalamin 1 masalah, maka bisa lah dijalani dan dicari solusinya. Tapi kalau udah kena dua, itu baru berat.

Jadi kalau hanya orangtua nggak setuju 🠞 bisa lah dibujukin sampai setuju asal kalian nggak LDR dan seagama.

Atau kalian LDR 🠞 bisa lah diusahakan asal seagama dan orangtua setuju.

Atau kalian beda agama 🠞 bisa lah diusahakan asal nggak LDR dan orangtua setuju, nggak masalah anaknya nikah beda agama.

Nangkep kan? Coba sekarang kalau dua.

Beda agama dan orangtua nggak setuju 🠞 duh berat banget kan. Gimana nih solusinya? Pasti panjang urusan.

Beda agama dan LDR 🠞 cuy beda agama aja udah berat, ketambahan LDR pula. LDR itu sedih banget beneran deh. #MantanPejuangLDR

LDR dan orangtua nggak setuju 🠞 ribet kan ini, emang salah satu mau ngalah dengan pindah kota? Udah pindah kota, mati-matian cari kerjaan baru dan tempat tinggal baru, terus tetep dilepeh calon mertua. Berat ya nggak?

Dan seterusnya. Combo antara beda agama, orangtua nggak setuju, dan LDR juga jadi faktor pemberat banget apakah sebaiknya hubungan kalian lanjut apa nggak. Kecuali kalian sangat kuat, gigih, dan rela memperjuangkan cinta. Ehem. Karena berat bukan berarti tidak mungkin.

Yak coba diteriakkan sekali lagi!

Karena berat bukan berarti tidak mungkin!
*noh di bold dan large*

Sebagai penutup, ai mau promo dulu lah postingan lain. Baca postingan ini “Menikah Bukan #lifegoals” dan postingan lain Tentang Nikah di sini. Buat kalian yang galau kok gue nggak nikah-nikah sih.

Mohon maaf jika pada akhirnya postingan ini bikin kalian putus sama pacar yang udah dipacarin bertahun-tahun dan sebenernya pengen putus tapi nggak punya alasan ya. Daripada nikah sama orang yang salah?

Tetap semangat! :)

PS: Seru ya nulis soal ginian, jadi valid karena berdasar pengalaman dan saya udah nikah. Abis kalau nulis topik nikah suka diketawain yang udah nikah 10 tahun lebih gitu, dibilang "alah baru nikah segitu doang banyak komentar". Padahal temen-temen saya yang baru nikah 3-5 tahun aja udah banyak yang cerai loh. Karena nikah, lama atau sebentar tetep nggak "doang". ;)

-ast-