Image Slider

Mengajarkan Bahasa Inggris pada Balita, Perlukah?

on
Sunday, February 26, 2017
[SPONSORED POST]


Di blogpost saya minggu lalu, saya sudah sedikit bercerita tentang 2-3 minggu belakangan ini saya sedang mencoba mengajarkan bahasa Inggris pada Bebe.

Eh malah tiba-tiba diundang EF dan MommiesDaily ke talkshow "Multilingual at Early Age, Why Not?" dan saya terharu saking pas banget momennya hahahaha. Iya beneran, pas mulai bilingual sama Bebe kemarin itu saya nggak tau akan diundang ke event ini. :')

Talk show ini digelar di EF fx Sudirman 22 Februari lalu, dipandu oleh Donna Agnesia dan menghadirkan psikolog Roslina Verauli (panggil saja mbak Vera) dan Meta Fadjria, pengajar di EF Indonesia yang sudah berpengalaman menjadi guru bahasa Inggris anak selama 18 tahun.

Saya bagi jadi beberapa part ya! Baca sampai selesai karena membukakan mata dan banyak fakta-fakta yang saya baru tahu tentang pentingkah mengajarkan lebih dari satu bahasa pada balita.

Yuk!

Bilingual dan speech delay


Iya ini sering banget jadi topik kalau lagi ngomongin bilingual: bilingual sebabkan speech delay atau terlambat berbicara. Bahkan saya sendiri kemarin nulis gitu hahahaha deym. Maklum belum tau yaaa.

Nah, dari talk show ini saya jadi yakin kalau bilingual atau bahkan multilingual itu nggak ada hubungannya sama speech delay atau terlambat bicara.

"Tapi ada anak temen gue bilingual dan dia speech delay," sering dong denger kaya gitu?

Ya saya aja sering banget. Padahal menurut psikolog Roslina Verauli (panggil saja mbak Vera) itu nggak ada hubungannya. Anak yang memang ada bakat speech delay, monolingual (satu bahasa) aja dia pasti gagal. Apalagi dua atau lebih. Nangkep nggak?

Intinya gini, misal ada anak yang berpotensi speech delay. Diajarin satu bahasa aja udah nggak mampu sebenernya. Dengan satu bahasa aja udah pasti speech delay. Eh malah diajarin dua bahasa sekaligus. Begituloh gengs, jadi nggak ada hubungannya yaaa! Iyaaaa!

As concerns children, many worries and misconceptions are also widespread. The first is that bilingualism will delay language acquisition in young children. This was a popular myth in the first part of the last century, but there is no research evidence to that effect. Their rate of language acquisition is the same as that of their monolingual counterparts.-- Francois Grosjean, PhD

Dari umur berapa anak sebaiknya diajari beberapa bahasa?

Dari bayi!

Tau nggak sih kalau tangisan bayi di setiap negara itu berbeda? Tangisan adalah bahasa pre-verbal dan sudah menyesuaikan dengan suara dan bahasa orangtuanya. Jadi nangis anak Indonesia sama anak Amerika gitu beda! Canggih ya!

Peak time *halah* anak dalam belajar berbahasa adalah dari 0 sampai 6 tahun. Lewat 6 tahun, belajar bahasa baru tidak akan secepat ketika usia di bawah 6 tahun.

Baru sampai sini saya langsung jadi lebih semangat ngajarin Bebe bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Mumpung baru 2,5 tahun yakan. Eh langsung dikritik sama mbaknya di daycare.

"Ah bu, Salo sih bahasanya udah bisa dua, Indonesia sama Sunda. Kalau dibilang 'ibak yuk' (mandi yuk) ngerti dia," kata mbak daycare yang kebetulan orang Sunda juga.

😂😂😂

Dan kemudian aku bangga HAHAHAHAHAHAHA. Soalnya jadinya Bebe bisa tiga bahasa! Trilingual, how cool is that! Ya zaman sekarang gituloh, anak-anak kecil di mall ngomong bahasa Indonesia aja nggak bisa, saking Inggris terus. Akan super cool kalau Bebe bisa bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Sunda!

Yosh! 

Kenapa anak harus belajar lebih dari satu bahasa?

Kalau saya sih karena ngerasain sendiri orang yang bisa bahasa asing itu lebih punya banyak kesempatan dibanding orang yang hanya bisa satu bahasa. Minimal bisa jadi translator atau kerja di embassy negara yang bersangkutan lah.

Terus iyaaa, saya kompetitif. Dalam artian saya ngeri sendiri melihat anak-anak lain udah pada bisa bahasa Inggris dari bayi. Salut banget sama ibu-ibu yang udah konsisten pake bahasa Inggris dari anaknya lahir. Apalagi yang konsisten ibunya bahasa Inggris dan bapaknya bahasa Indonesia. Soalnya ribeeettt!

Dulu juga pas hamil saya niatnya gitu, tapi pas lahir haaa bubar semua. Duh ngurus anak aja udah ribet apalagi harus memikirkan berkomunikasi pake dua bahasa. Saya masih waras sampai sekarang aja udah bersyukur lol. 


Nah kalau menurut Mbak Vera, ini kelebihan anak yang bisa lebih dari satu bahasa:

- Kognitif: anak bilingual IQ-nya lebih tinggi. Lebih baik dalam tes atensi, penalaran analitikal, pembentukan konsep, kemampuan verbal, dan fleksibilitas berpikir.

- Sosiokultural: anak bilingual lebih handal dalam kesadaran metalinguistik (seperti mendeteksi kesalahan dalam grammar, memahami arti dan aturan dalam percakapan untuk berespon sopan/relevan/informatif). Memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.

- Personal: kemampuan bersaing dan memperoleh pekerjaan yang lebih baik

Ya kan. Yang bagian personal mungkin spesifik kalau menguasai bahasa asing ya. Kalau bahasa daerah apa bisa disamakan juga?

Bukan merendahkan bahasa daerah tapi seberapa berpengaruh sih kemampuan berbahasa daerah dengan kemampuan bersaing untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik?

Kayanya nggak terlalu ngaruh ya. CMIIW. Tapi mungkin juga karena bahasa daerah itu kurang spesial kalau masih di negara aslinya. 

Tentang Language Mixing

"Ih tapi anak bilingual suka bingung bahasa tau, ngomongnya jadi campur-campur Inggris Indonesia digabung."

Sering juga dong denger kaya gitu? Jadi anak kecil bilang "ibu aku mau yang green!" atau "mommy i want eat nasi" itu namanya language mixing and it's a good thing! Karena itu berarti proses belajar berjalan lancar. Bukan malah berarti anak bingung bahasa.

Iya, menurut Mbak Vera, language mixing adalah salah satu tanda anak sudah menguasai kedua bahasa. Cuma aja dia masih bingung atau lupa kata itu dalam bahasa satunya apa, jadi dia sebut yang duluan keinget.

Here is also the fear that children raised bilingual will always mix their languages. In fact, they adapt to the situation they are in. When they interact in monolingual situations (e.g. with Grandma who doesn't speak their other language), they will respond monolingually; if they are with other bilinguals, then they may well code-switch. -- Francois Grosjean, PhD
Nah semakin dewasa, nanti juga semakin bisa memisahkan bahasa ini. Contohnya kita aja deh, kalau ada yang nanya "how are you?" pasti otomatis kita jawab pake bahasa Inggris. Atau ada yang nanya pakai bahasa Sunda gitu, kita otomatis jawab pake bahasa Sunda kan. Karena kita menguasai semua bahasa itu, jadi kita udah nggak kesulitan lagi switch ke bahasa lain, tergantung pada lawan bicara.

Bolehkah belajar bahasa asing lewat YouTube?

Atau ya lewat gadget/TV lah seperti film atau lainnya?

Buibu, jawaban dari pertanyaan itu akan membuat kita merasa gagal sebagai orangtua HAHAHAAHHAHAHA.

Menurut Mbak Vera, anak sebaiknya tidak dikasih gadget sampai usianya ... 30 bulan atau 2 tahun 6 bulan. Supaya anak tetap dekat dengan ibunya dan tidak kecanduan.

*ayo nangis dan pelukan sama-sama lol*

Intinya gadget bukannya tidak boleh, tapi sebisa mungkin ditunda dan dibatasi. Maksimal 2 jam sehari! Syukurlah, Bebe sehari kayanya nggak pernah sih lebih dari 3 jam. Aku nggak gagal-gagal amat lol.

Belajar bahasa dari gadget juga boleh tapi sebaiknya didampingi. Jadi tetap ada kedekatan anak dan orangtuanya. Lebih bagus lagi membaca buku bahasa Inggris dibanding nonton pakai gadget. YAIYALAAHHH.

Karena bahasa itu perilaku sosial. Dibutuhkan interaksi anak dengan manusia hidup lain di sekitarnya. 

"Ah anak saya bahasa Inggris nya oke kok padahal cuma nonton Disney Channel doang."

Iya iyaaa. Percaya kok hahahaha. Ya namanya juga pilihan kan buibu, mau ngajarin pake media apa. Nggak ada hang paling benar atau paling salah ok!


Tapi soal gadget ini ada omongan Mbak Vera yang nyangkut banget sama saya sampai kepikiran. Kurang lebih gini:

"Anak kecanduan gadget itu bukan inti masalah, tapi akibat dari suatu masalah. Orangtua pasti punya masalah, anaknya melarikan diri dengan gadget. Sama dengan selingkuh, ada masalah dulu yang mengakibatkan selingkuh, bukan selingkuh kemudian jadi masalah."

WOW. Bener juga. Masalahnya ada di orangtua yang males nemenin anak maka anak dikasih gadget dan kemudian dia kecanduan. Gitu kan? 

Apa cara paling efektif untuk mengajari anak bahasa asing?

Saya baca di mana gitu lupa, untuk bahasa kedua, anak bisa dipapar selama 30% sehari. Jadi dari seharian, 70% bahasa pertama yang sudah dia kuasai, 30% bahasa kedua.

Kalau menurut mbak Vera, ini tips mengajarkan bahasa asing pada balita:

- Bantu anak mendengar sebanyak banyaknya
- Belajar diksi lewat nyanyian. Jadi dikasihtahu, artinya apa.
- Kalau anak salah jangan dimarahi. Misal dia salah jawab, tapi udah bener bahasa kedua, itu bagus karena artinya dia mencoba.

Gimana kalau pengen banget belajar bahasa Inggris tapi orangtuanya nggak mampu mengajari? Ya itu tandanya butuh bantuan orang lain. EF ternyata punya lho program untuk balita. Saya baru tau banget karena dipikir untuk anak sekolah dan profesional aja.

EF punya program Small Stars untuk anak berusia 3 sampai 6 tahun. Programnya menggunakan metode EFEKTA System dengan tahapan Learn, Try, Apply, dan Certify.


Lengkapnya bisa dilihat di sini ya: Small Stars EF. Klik!

Tapi tetep lho, meski pendidikan bahasa Inggris di-outsource-kan pada EF, peran orangtua tetap yang utama. Karena menurut mbak Meta yang sudah jadi pengajar EF lama sekali, anak akan lebih berhasil belajar dengan dukungan penuh dari orangtua.

Kalau Bebe gimana?

Nah saya sendiri sengaja mengajarkan satu bahasa dulu (Bahasa Indonesia) ke Bebe sampai dia benar-benar lancar. Sekarang nyesel nggak nyesel sih.

Nyesel karena kaya dari nol lagi ngajarin Bebe ngomong bahasa Inggris. Nggak nyesel karena kalau sampai Bebe speech delay, saya juga pasti nyalahin diri sendiri kenapa bilingual segala. Iya meskipun nggak ada hubungannya, tapi kan paling gampang nyalahin diri sendiri huhu.

Awalnya dia marah lho, karena merasa saya bicara sesuatu yang nggak dia ngerti. Saya pakai metode dua bahasa, jadi saya sebut bahasa Indonesia kemudian bahasa Inggrisnya.

Jadi ngomong apapun, ngomongnya dua kali "Xylo, lapar? Xylo, are you hungry?" atau "Nggak boleh gitu ya! No you can't do that ok!"

Sama ya baca buku sih. Buku-buku bahasa Inggris yang dulu dibacakan pakai bahasa Indonesia mengarang bebas, sekarang dibacakan bahasa Inggrisnya. Nonton juga masih kok, tapi agak nggak yakin dia nangkep sih. Hahaha.

Minggu pertama dia marah-marah. Minggu kedua mulai memperhatikan. Minggu ketiga udah blabbering! Dia udah ngeh beberapa kata meskipun ngomongnya masih malu. Warna dan binatang sederhana juga udah mulai hafal huhu maaf ya muji anak sendiri terus. #shamelessmom

Kalau JG kuat banget ngomong Inggris doang meski Bebe hah hoh. Saya nggak tega jadi aja masih campur. Tapi mulai blabbering aja udah bahagia. Ya kaya bayi aja kan pertama kali belajar ngomong juga blabbering dulu.

Jadi misal kemarin, JG sama Bebe di ruang tamu terus JG bilang ke Bebe "kasih ibu dan bilang 'ibu this is for you'." Terus Bebe ke kamar dan dia mengucapkan kata-kata entah apa "dbhzjsjsbsjznsk" HAHAHAHAHAHA. Mungkin di otaknya bener "this is for you" lol.

*

Jadi ya begitulah. Semoga membantu ya. Ayo ajarkan anak bahasa kedua! Bahasa Korea juga boleh biar bisa bantu ngobrol sama oppa. 😂

See you!

-ast-

Source for the Francois Grosjean, PhD quotes: http://www.francoisgrosjean.ch/bilingualism_is_not_en.html
Kids images:Designed by Freepik


#SassyThursday: Pendidikan Seks untuk Anak

on
Thursday, February 23, 2017

Minggu ini timeline dan WhatsApp group diramaikan dengan sebuah foto buku yang dianggap "porno" dan membuat ibu-ibu marah. Buku itu menunjukkan anak kecil laki-laki sedang "masturbasi", dalam tanda kutip loh ya.

Yang jadi masalah adalah halaman buku yang tersebar hanya sepotong. Padahal ternyata di bukunya lengkap tertulis tips untuk orangtua dan kenapa anak-anak tidak boleh melakukan itu.

Tapi ibu-ibu keburu ngamuk! KPAI sampai ikut nimbrung dan bilang buku yang tidak pantas blablablabla. Sampai masuk TV dan portal berita nasional.

Baca punya Nahla:

Saya sendiri, apakah terganggu dengan buku itu? Surprisingly, tidak.

Anak saya laki-laki. Ada fase di mana anak memang senang memegang kemaluannya. Fase ini normal dan tidak apa-apa. Ini adalah fase berikutnya setelah fase oral.

"Tapi itu buku nggak cocok buat anak-anak!"

Duh buibu, buku yang nggak cocok buat anak-anak itu BANYAK. Ya filternya ada di kita lah. Masa beli buku buat anak kita nggak cek dulu isinya? Masa membiarkan anak baca sendirian? Dari pas beli aja udah difilter kali, itu buku apa, isinya bagaimana, layak baca atau nggak. Dan sebagainya.

Jadi ibu-ibu yang panik, marah-marah, dan bilang buku itu harus ditarik dari peredaran, I JUDGE YOU. I REALLY DO. Pasti nggak pernah nemenin anaknya baca buku ya? 😪

Yaiyalah, kita nggak bisa mengatur dunia biar tetep sempurna secara moral. Kita yang harus jadi benteng pertama pertahanan moral anak kita. Bukan orang lain! Apalagi buku!

Gimana kalau anak-anak baca di tempat lain? Di sekolah misalnya, di tempat yang tidak ada orangtua menemani.

Nah ini dia. Pendidikan seks untuk anak-anak seharusnya sudah diberikan jauh, jauh sebelum mereka bisa membaca. Karena memang ketertarikan mereka pada kemaluan, pada lawan jenis, kan sudah terlihat sejak balita kan. Sejak dari belum bisa baca.

Saya sendiri memperkenalkan gender dan lebih spesifik lagi kemaluan pada Bebe sudah lama. Mungkin sejak usianya belum dua tahun. Alasannya sederhana sebenarnya, saya ingin dia jadi laki-laki yang menghormati perempuan.

Soalnya balita itu kan asal seruduk aja, mau cowok atau cewek kalau lagi main ya timpa-timpaan aja. Saya nggak mau seperti itu. Main tabrak-tabrakan, main timpa-timpaan, hanya dengan anak laki-laki. Tidak dengan anak perempuan.

Ngerti nggak Bebe? Ya nggak lah! Hahaha.

Menurut psikolog juga memang belum bisa membedakan laki dan perempuan sampai usia 5-6 tahun. Tapi saya nggak menyerah, saya tetap bilang terus menerus soal konsep "ibu perempuan, appa laki-laki, Bebe laki-laki".

(Penjelasan psikolog lebih lengkap ada di sini: Mengenalkan Gender pada Balita)

Dan itu berjalan baik, sekarang usianya 2 tahun 8 bulan, dia sudah mulai bisa membedakan laki-laki dan perempuan. Dia tahu si A laki atau perempuan, mbaknya laki atau perempuan, aki laki atau perempuan, dan seterusnya.

Lebih spesifik lagi soal pendidikan seks, terutama "masturbasi" seperti di buku itu. Ya Bebe sedang ada di masa dia senang pegang kemaluannya. Dipegang aja, meski tidak sering tapi ada saat-saat di mana tangannya masuk ke celana dan pegang.

Temen saya juga cerita, anaknya perempuan dan suka pegang vaginanya. Malah kadang dimainkan pakai mainan! Wah serem sih ya kalau perempuan. Tapi kan itu memang fasenya, jadi harus dilewati aja. Asal dengan komunikasi. Bukannya dibiarkan atau dimarahi.

Saya sih kasih tahu aja, "jangan dipegang dong Be, nanti lecet". Biasanya dia langsung nurut sih. Dan saya selalu cek, untuk menunjukkan bahwa saya peduli. "Wah ini tidak apa-apa sih, tidak perlu dipegang ya" gitu.

Kuncinya cuma satu, jangan awkward! Kalau anak pegang tit*t aja kita jelasinnya awkward, saya takutnya anak jadi merasa bersalah. Padahal kan nggak perlu begitu. Karena meski merasakan nyaman pegang kemaluan, it's not sexual!

Soal kemaluan dan soal seksual ini, saya mau saya jadi orang pertama yang Bebe tanya, makanya saya nggak boleh malu atau apa.

Lagi masa sama anak sendiri malu ah elah.

Dan jangan beri jawaban yang tidak masuk akal. Beri jawaban secara ilmiah meskipun anak mungkin butuh waktu untuk mencerna.

Mimpi basah, menstruasi, masturbasi, itu menurut saya harus dijelaskan jauh sebelum si anak mengalaminya. Dan jelaskan secara medis, agar dia tahu risiko-risiko yang dia hadapi.

Jawaban-jawaban semacam "jangan gitu nanti Allah marah" itu rawan sih menurut saya. Karena takutnya ada titik di mana anak ingin rebel, anak ingin melanggar aturan, dan jadilah dilakukan diam-diam. Nggak mau begitu dong?

Intinya saling terbuka lah sama anak, jangan sembunyikan sesuatu. Jangan buat anak penasaran dan mencari jawaban di luar.

Satu lagi, dampingi anak-anak baca buku! Mulai edukasi seks sejak balita! Jangan sampai terlambat. :)

See you!

-ast-


Drama Threenager

on
Wednesday, February 22, 2017
THREEENAGER COMES EARLY!

Bebe bulan ini 2 tahun 8 bulan tapi tiba-tiba perilakunya berubah. Kehebohan terrible two tiba-tiba hilang dan dia seperti menjadi anak lain. Browsing sana sini ternyata dia masuk ke dalam ciri-ciri threenager!

*ibunya pingsan*


Sungguh punya balita itu menguras energi sekali ya. Tapi yang lucu dari fase threenager ini adalah dia jadi sangat sangat bossy. Sampai speechless karena kalau nyuruh mirip banget ketiplek nadanya sama saya!

Kalau di terrible two kan bossy tapi sebenernya manja. Nggak dikasih apa ngamuk. Cuma memang permintaannya nggak masuk akal aja. Nah kalau threenager ini dia merasa dia adalah pusat dari universe jadi ibu, appa, dan semua orang sekitar harus nurut sama apa yang dia mau.

Ini hal-hal yang hanya bisa dirasakan ibu dengan anak tiga tahun. Anak tiga tahun yang udah sok iye banget kaya teenagers lol.

1. Ganti-ganti baju 

Beres mandi, ibu sebagai ibu siaga udah tau dong nggak pilihin baju karena pasti ingin pilih sendiri. Maka disuruh pilih baju sendiri, pilih celana sendiri. Matching atau nggak bukan soal! Yang penting bahagia! Untung baju Bebe warnanya netral semua, suka lucu kalau anak cewek yang pilih baju terus bajunya nggak matching tapi ibunya nggak punya kuasa apa-apa hahahaha

Tapi si Bebe nih ya, lima menit setelah baju terpasang rapi, Bebe kembali manyun. "Nggak mau baju ini, mau baju yang lain aja."

*ulang proses memilih baju dari awal lagi*


2. Bossy

Dulu saya memandang sebelah mata orangtua yang manggil 'bos' ke anaknya. Ternyata memang ada fase anak bossy parah. Level nyuruh-nyuruh mulu astaga "Appa jangan nyanyi!" atau "Ibu jangan duduk di situ!" padahal ibu duduk di kasur doang nggak dudukin mainan atau apa.

T______T

3. Marah lebih lama

Marahnya lebih lama dibanding saat terrible two. T______T Distraksi apapun tidak akan berpengaruh. Dulu lagi ngambek ditawarin beli es krim pasti mau. Sekarang gigih "NGGAK MAU ES KRIM!" dan sogokan apapun nggak ngaruh lagi.

Tapi ternyata kaya gitu cuma karena masih ingin marah. Ketika sudah nggak ingin marah bisa tiba-tiba ceria dan menyapa kaya nggak ada apa-apa. Sungguh!

Detik ini dia ngomong pake nada bicara judes, detik berikutnya dia ngomong pakai nada bicara ceria! Mood swing nya kaya ABG banget emang lol. Sabar ya buibuuu. *puk puk diri sendiri*

(Baca Drama Terrible Two Bebe di sini)

4. Nggak sabaran

Iya ibu dengan anak tiga tahun harus siaga kapan pun di mana pun. Soalnya motto hidup anak 3 tahun itu: I WANT IT AND I WANT IT RIGHT NOW. Selalu kaya gitu kalau minta sesuatu. Tapi kan semua butuh proses ya. Mau makan aja harus ngambil piring dulu, ngambil nasi dulu. Duh bisa berulang-ulang dia ngeluh "ibu lapel".

Ibu beranjak ngambil piring, keluhan kedua nadanya mulai tinggi. "IBU LAPEL!"

Ibu turut diaduk dong emosinya: "IYA IBU AMBIL NASI DULU"

Teriakan ketiga udah makin nggak sabar "IBU SALO LAPEEELLLL!" *jejelin nasi*


5. Slow slow slow

Meskipun nggak sabaran, dia juga lambat huhuhu. Mau pergi aja urusannya lama banget. Ganti baju dua sampai tiga kali. Packing mainan sendiri, isi minum sendiri. Di tengah proses itu ada yang bikin dia nggak happy, manyun dulu 15 menit. Ambil susu sendiri, pakai sepatu sendiri. Marah lagi karena ibu membawakan tas ke mobil, maunya bawa sendiri. Terus aja. Ibu mah nggak apa-apa, ibu sabar. :')

6. Nggak ah capek!

Kalimat andalan banget. Salo baca buku yuk! Nggak ah capek! Salo mandi yuk! Nggak ah capek! Salo makan yuk! Nggak ah capek!


7. Ingin segala sendiri

Ingatlah kalau threenager itu sudah dewasa! Jangan berani-berani bantu kalau tidak diminta atau genderang perang langsung berbunyi!

Kalau nggak minta tolong bukakan minum ya jangan dibukain lah. Kalau minta tolong bukakan, ya bukakan secepat mungkin. Gitu aja sih triknya. Gampang kan. KAN?


8. Sotoy

Ya seperti layaknya remaja lah, pada sotoy kan. Padahal mah tau apa HAHAHAHAHA. Bebe sotoy level ngejawabin mulu kalau dikasih tau.

Ibu: "Be mandi yuk!'

Bebe: "BOLEH!"

atau

Ibu: "Be, buang sampah dong!"

Bebe: "Nggak usah deh ibu!"

*bengong*

Ibu: "Be, jangan simpan situ dong!"

Bebe: "Oooohh!"

OOOHHHHH. Sambil lempeng kaya nggak ada apa-apa gitu loh. Kalau dibilangin apa-apa jawabannya 90% oooohhh, 10% tidak dilakukan.

T_______T

9. Jahil

Iseng banget astagaaa. Ini traits apa lagi iseng aja apa memang fasenya sih. Iseng banget level colek-colek ketek karena dia tau saya geli. Makin saya sebel makin dilakuin. Ini turunan JG sih kayanya. HUHUHUHU.

10. They don't give a fvck

Ini sebenernya kata kuncinya. THEY DON'T GIVE A FVCK! Ya mau marah marah, mau lempeng lempeng, mau nangis nangis. Suka-suka gue.

Mau saya marah atau gimana ya dia nggak peduli, dia kaya nggak ada apa-apa. Dulu kan kalau saya marah dia nunduk terus nggak berani pegang atau ajak ngobrol saya. Sekarang mah saya dalam kondisi nada bicara masih menegur, dia udah ngomong dan ketawa-tawa mengalihkan ke hal lain. Ya ampunnnn.

Ini juga yang menyulitkan toilet training karena dia ngotot pipis di celana aja dan nggak mau ganti. Ngomongnya lempeng aja "nggak apa-apa deh ibu, pipis di celana aja". Kemudian lanjut bermain. Kaya nggak ada apa-apa!

*

TAPI YA GIMANAAAA. Namanya juga fase huhu. Harus dilewati dengan sukacita dong ya. Katanya sabar aja, nanti sampai 6 tahun ada fase nyebelinnya terus kok lol.

HANG IN THERE BUIBU. STAY CALM!

*ngomong sama diri sendiri*

-ast-


Agama dan Manusia

on
Tuesday, February 21, 2017
Kapan terakhir kali kamu ditanya apa agamamu di dunia ini?

Saya seminggu yang lalu, saat anak saya ke rumah sakit karena demam. Mengisi form isian pasien, ada kolom agama tertera. Suami saya nyeletuk pada petugas rumah sakit "mas, anak saya belum tahu agama dia apa, saya harus isi apa?" Petugas itu terdiam setengah terkejut.

Suami saya tertawa dan petugas menarik napas lega, menganggap suami saya bercanda. Tapi bagaimana bisa bayi ditanya agamanya apa? Bagaimana dengan orang yang tidak beragama? Apa yang harus dia tulis di sana? Mengapa rumah sakit bertanya agama?

Di Indonesia saya tidak tahu jawaban tepatnya. Mungkin sesederhana kalau pasien meninggal, sudah jelas akan diperlakukan bagaimana. Itu satu. Tapi saya masih penasaran dan kembali browsing. Kali ini dengan bahasa Inggris. Ternyata alasannya beberapa, selain bisa minta request pemuka agama untuk menemani berdoa, yang terpenting adalah diet khusus karena agama tertentu tidak makan makanan tertentu.

Ah ya, masuk akal. Setidaknya untuk akal saya.

*


Isu agama ini sedang kencang berhembus maka kami pun jadi agak sensitif kalau ada pertanyaan seputar agama. Apalagi dari institusi kemanusiaan seperti rumah sakit, saya kan jadi membayangkan hal-hal aneh seputar orang dari agama lain tidak diterima masuk rumah sakit. Mungkin nggak?

Jujur, sebagai pemeluk agama mayoritas di negeri ini, saya akhir-akhir jadi sering merasa risih. Hanya karena digoyang isu Pilkada, kaum Muslim (khususnya di social media dan chat group) seperti kehilangan sopan santun.

Belum lagi banyak sekali yang share hoax dan kebencian. Berita nggak jelas awal mulanya di-share dengan kalimat yang sama menggebu-gebunya. Atau justru di-share dan istigfar, padahal isinya entah benar entah tidak.

Dan ini terjadi pada semua lapisan sosial, bukan hanya dari kalangan yang tidak berpendidikan. Tidak masuk dalam nalar saya ada orang yang kuliah master sampai luar negeri tapi share berita dari situs abal-abal yang penulisnya entah siapa, kantornya entah di mana. Bagaimana mungkin mampu lulus kuliah tapi tidak mampu menyaring mana berita yang masuk akal mana yang tidak? Mengapa seperti diliputi kebencian yang amat sangat?

Saya gerah, sungguh. Timeline saya sebetulnya cukup aman dari status-status bernada melecehkan agama lain tapi ada saja yang tidak sengaja terbaca. Biasanya dari kolom komentar orang dan saya bingung maksudnya apa? Mungkin tidak sadar karena terbuai topik "pemimpin kafir"?

Contohnya beberapa hari lalu. Ini mungkin contoh paling sederhana. Di status seorang teman, Muslim, ibu-ibu sedang mengobrol. Topiknya tentang pak mantan. Entah kenapa jadi ada pembicaraan soal babi. Ya, sungguh tidak nyambung bukan?

"Mereka mah babi aja dimakan ..."

???

Duh, memangnya kenapa kalau agama lain membolehkan orang makan babi? Jijik karena haram? Orang lain ada yang menganggap makan ceker ayam juga jijik lho. Makan jeroan juga jijik karena penyakit semua.

Lagian kan bukan cuma Islam yang melarang makan babi. Agama lain malah ada yang melarang makan binatang sama sekali, makanya banyak aliran agama yang mengharuskan atau menyarankan pemeluknya vegetarian. Yahudi aja nggak boleh lho makan babi. Iya, haram.

Atau logika yang lebih pusing lagi, kemarin ada yang komen begini di status teman saya (saya copas):

"Ada orang munafik yg berbuat baik kpd muslim, kemungkinan 1. Menginginkan massa pendukung yg kbtln mayoritas, 2. Mengejar kekuasaan 3. Untuk memecah belah umat (krn ada pihak yg dibikin enak, utang budi) Enggak mungkinlah ahok berbuat baik hanya mengharap pahala dari Alloh azza wa jalla yg jelas2 dia tidak mempercayainya??"

Orang yang tidak percaya Tuhan tidak mungkin berbuat baik?

Terbayang orang-orang yang satu agama dengan pak Ahok mungkin akan geleng-geleng kepala karena mau berbuat baik pun dianggap tidak mungkin? Hanya karena percaya Tuhan yang berbeda?

Apa dia nggak tau banyak sekali orang di dunia ini yang tidak percaya Tuhan itu ada dan mereka tetap berbuat baik demi kemanusiaaan? Berbuat baik dan tidak berharap pahala bisa banget lho. Jadi sukarelawan sana-sini, volunteer sampai ujung Afrika demi bantu orang kelaparan. Dan mereka tidak beragama, tidak terpikir soal pahala.

Saya juga jadi bertanya-tanya, apakah orang-orang ini tidak mengenal orang baik yang beragama lain? Orang baik yang atheist? Orang baik yang agnostic? Orang baik yang deist?

Sindiran "mainnya kurang jauh" itu jadi makin terasa bukan lelucon lagi. Mungkin memang mainnya kurang jauh jadi cuma tau agama sendiri dan agama yang lagi dibenci orang-orang aja. Agama lain itu kan tidak sesederhana Kristen Protestan, Katolik, Buddha, Hindu, dan Kong Hu Cu. Apalagi kalau lihat agama orang-orang sedunia, waduh terlalu sesak kalau agama dan kepercayaan hanya dibatasi oleh enam koridor seperti yang diakui negara kita.

Agama itu banyaaakkk sekali. Alirannya juga banyak. Para pengikutnya tentu merasa agama yang mereka peluk itu benar. Tidak usah saling membantah. :)

*

Sebetulnya, *tarik napas dulu* saya tidak peduli pilihan gubernur kalian siapa. Itu urusan pribadi kalian dengan bilik suara. Pilih gubernur melihat agamanya silakan, pilih gubernur lihat rekam jejak silakan, aliran pemercaya gubernur bukan pemimpin juga silakan.

Yang saya sedih adalah, banyak yang jadi terpancing untuk menghina pemeluk agama lain. Hanya karena satu orang "menghina agama Islam" kemudian jadi pembenaran bagi para pemeluk Islam untuk menghina agama lain. Kan tidak begitu sis dan bro.

Kalian tidak terima ada orang menghina agama yang kalian peluk tapi kalian sendiri JUGA menghina agama lain. Jadi menghina agama lain boleh tapi kalau agama kita dihina kita marah? Itu sama halnya dengan kalian memarahi anak yang merebut mainan dari anak kalian, tapi ketika anak kalian merebut mainan anak lain kalian tidak marahi. Double standard, at its worst!

Seperti pak haji yang teriak akan memberi uang satu miliar untuk yang bisa membunuh Ahok. Kalau an eye for an eye and a tooth for a tooth diambil literal begitu mah banyak orang buta dan ompong di dunia ini, serem dong. Satu orang bunuh orang lain. Keluarga yang dibunuh balas membunuh, balas-balasan membunuh terus sampai manusia punah.

Sungguh agama tidak mendefinisikan manusia.

"Kita bela agama, kalau tidak begini Kristenisasi semakin merajalela!" Oh, bela agama sejak Pilkada kemarin ini bagian dari Islamisasi? Membuat orang ingin masuk Islam kah?

Malah teman-teman non-muslim bertanya:

"Kalau mau jadi ustaz di Islam itu syaratnya apa ya? Kok banyak ustaz share kebencian dan hoax."

...

krik krik

...

NGGAK ADA.

Semua orang bisa jadi ustaz. Self-proclaimed juga bisa, belajar agama dan hafalin ayat biar bisa kutip sana sini maka anda bisa melayakkan diri jadi ustaz. Coba jadi pastor atau pendeta, level yang harus dilalui banyak sekali. Dari sekolah seminari sampai wawancara ini itu. Nggak gampang.

Jadi tolonglah jangan mudah percaya dan mengutip ustaz A ustaz B, pilih ustaz kalian baik-baik karena semua orang juga bisa jadi ustaz.

Eh setelah jadi ustaz malah share hoax. Ceramah di mesjid bawa-bawa partai, bawa-bawa "jangan pilih pemimpin kafir". Suami saya menghitung benar, sejak urusan pilkada ini salat Jumat selalu disisipi unsur politik. Tapi ketika turun ke jalan teriaknya "kami bela agama, ini bukan masalah politik!" Ya gimana, sejak awal urusan agamanya dicampur sama politik kok.

Ibu saya malah terang-terangan diminta memilih satu partai tertentu saat Pilpres lalu! Di pengajian! Saya nggak habis pikir gimana caranya lagi mengkaji Al-Quran terus tiba-tiba pak ustaz bridging ke nama partai.

T______T

Saya tidak bilang semua ustaz seperti itu makanya pilih guru agama kalian baik-baik. Lihat latar belakangnya, belajar agama di mana, sudah belajar berapa lama. Banyak kok ustaz-ustaz yang tidak menyebut diri sendiri dengan sebutan agamis (seperti ustaz, habib, dan lain-lain) tapi justru teduh, damai, dan tentu tidak share hoax apalagi kebencian. :)

*

Kalau sudah begini "pemakluman" saya cuma satu. Umat Islam di negeri ini merasa superior karena agama mayoritas. Jadinya lupa lah pada Pancasila, lupa kalau negara ini bukan negara yang berbasis agama. Bhinneka Tunggal Ika mah lupa, auk ke mana.

Saya jadi khawatir sekali lama-kelamaan isu agama ini melebar dan jadi mengkotak-kotakkan kehidupan sosial lebih parah lagi. Mau belanja ke pasar, nanya dulu agama penjualnya apa? Atau terparah malah dipisahkan pasar muslim dan non-muslim. Install ojek online ditanya agama apa biar sesuai diantarnya sama yang se-agama. Lebay? Kecenderungannya ke sana loh. :(

Padahal hubungan vertikal adalah hubungan yang paling pribadi. Hubungan vertikal itu penting tapi horizontal juga tak kalah pentingnya.

Nggak bisa kita men-judge seseorang taat beragama hanya dari bajunya yang tertutup dan longgar. Nggak bisa juga kita men-judge seseorang kafir hanya karena baju dan celananya ketat. Yang berhak menilai kadar keimanan seorang manusia bukan manusia lain. Ya? Ya.

Apa gunanya pakai atribut agama tapi hati dipenuhi kebencian? Dipenuhi kecurigaan? Merasa paling benar, merasa paling hebat sampai berani menyindir orang yang berbeda kepercayaan.

Ayolah kita hidup damai. Tanpa mengecilkan orang apalagi agama lain. Saling menghargai apapun agamanya, sukunya, rasnya, warna kulitnya. Pisahkan urusan memilih gubernur dengan urusan lain. Karena sungguh, urusan Pilkada ini urusan remeh dibanding perpecahan negara hanya karena kita tak bisa menjaga emosi di dunia maya.

Hidup bersosialiasasi pasti lebih indah kalau saling bahu membahu, saling membantu, saling melihat kebaikan masing-masing dan bukannya terus menerus mencari kejelekan orang lain. Ayo berpegangan tangan kaya di buku PPKN zaman dulu, baju daerah boleh berbeda-beda tapi tangan saling bertaut dan tersenyum mengelilingi bola dunia. :))))

*

Kapan terakhir kali kamu ditanya apa agamamu di dunia ini? Siapa yang bertanya?

-ast-


#SassyThursday: Random

on
Thursday, February 16, 2017

Halo halooo,

Gimana libur satu hari di tengah minggu? Semangat kerja lagi atau rasa-rasa ingin cepet weekend? 😂

Saya mah capek hahahaha. Soalnya seharian sama Bebe, nemenin Bebe main sambil jagain quick count (kantor saya live quick count di Twitter dan Facebook fyi), dan JG sakit. Rontok sis.

Ya udah jadi #SassyThursday nya temanya random ajalah. Males mikir huhu. Saya mau life updates aja ala-ala YouTubers ya. Ada hal apa di hidup saya seminggu terakhir ini?

Nahla randomnya mau cerita Macbook baru, ya bolehlah masa nggak boleh hahaha. Soalnya Nahla yang ilustrator dan YouTube seminggu sekali laptopnya lemot banget huhu kasian. Jadi pas dia dibeliin Macbook kami senang sekali!

Baca punya Nahla:

The Knock-off

Saya lagi baca novel ini. Temanya sih seru ya tentang editor in chief majalah fashion level Anna Wintour yang cuti 6 bulan karena kanker. Pas balik kerja majalahnya udah jadi website dan app. Kantornya yang kaku berubah jadi kantor start up dengan bean bag dan makanan berlimpah. 😂😂😂

Bukunya menceritakan perbedaan generasi, dunia start up masa kini, dan gimana para baby boomers menyesuaikan diri satu lingkungan kerja dengan millennials dan gen Z. Cuma lama-lama agak bosen soalnya ceritanya lambaaaattt. Well, tapi akan saya selesaikan lah penasaran soalnya relate banget sama hidup sehari-hari hehehe.

Gagal ketemu Gesi

Iya minggu ini Gesi lagi di Jakarta cuma sampai Jumat. Rencananya mau ke Sea World hari Rabu tapi sayanya sakit mata. 😩

Mata saya nggak belekan atau merah atau bengkak tapi udah 3 hari berair terus. Daripada nularin orang lain kan mending diem ajalah di rumah.

Eh ketambahan JG demam, udalah nyerah nggak bisa ke mana-mana. Kerja aja dari rumah sambil temenin Bebe main.

Speaking of Bebe ...

Threenager comes early!

Bebe baru akan 3 tahun di bulan Juni nanti tapi dia sudah meninggalkan masa Terrible Two dan terlihat sekali sudah menjadi threenager. Sok tau nya nggak ada dua.

Dari artikel-artikel yang saya baca, terrible two itu kan sensitif, gampang tantrum/ngambek sama hal-hal kurang makna (jadi inget ada yang cerita anaknya tantrum gara-gara pupnya disiram ibunya. 😂😂😂). Nah kalau threenager ini kata kuncinya adalah IDGAF alias I don't give a fvck.

Ya jadi dia lempeng aja. Melakukan hal absurd kemudian saya marahin ya dia nggak peduli. Seperti tetap bermain dengan celana basah kena ompol dia tetep cool aja kaya nggak ada apa-apa.

(Baca: Bebe Toilet Training)

Atau misalnya dia ngapain terus saya marah, biasanya dia tertunduk merasa bersalah. Ini lempeng aja seolah saya nggak ngomong apa-apa. Kondisi saya masih marah, dia udah mengalihkan pembicaraan ke hal lain dan ketawa-tawa kaya nggak ada apa-apa.

Wow. 😂

Tapi akhirnya saya berhasil botakin Bebe!

Dulu pas punya cukuran baru itu, sebulan sekali saya potongin rambut Bebe dan JG. Jadi dua-duanya rambutnya selalu pendek 1-3 mm lah. JG masih begitu sampai sekarang tapi Bebe udah sekitar 5-6 bulan nggak mau. Sebabnya didoktrin mbak-mbak daycare kalau rambut panjang = ganteng. 😂

Saya nggak tahan soalnya anaknya pecicilan banget, rambut panjang bisa lepek nempel semua ke kulit kepala saking basah keringet dan bau. Tiap mandi keramas lah udah, ribet. Kalau botak kan nggak bau, keramas pun bilasnya nggak susah. Lagi artis Korea juga bukan ngapain sih panjang-panjang 😂

Kemarin tiba-tiba Bebe bilang mau potong rambut tapi ingin pake gunting aja. Ya pake gunting bisa aja sih, tapi hasilnya jadi kaya tahanan penjara gitu kan nggak rata. Tapi bodo amat saya gunting dulu sampai pendek banget sambil terus dibujukin. Tiap saya liatin alat potong rambut dia jerit keras ngamuk sampai akhirnya saya sadar satu hal: dia ngamuk pas alatnya dinyalain, pas mati mah dia kalem. OH MUNGKIN KARENA SUARANYA!

Ibu: "Be, Bebe tidak suka suaranya ya?"

Bebe: "IYA HUHUHUHU"

Suaranya kan mendengung keras gitu. Akhirnya karena saya jenius saya kasih dia headset, berhasil deh botak. Terima kasih Frozen hahahaha. Iya pake headset nonton Frozen sambil potong rambut. 😂

(Baca: Cukuran Philips Mengubah Hidup)

Belajar Bahasa Inggris

Ya ini minggu kedua saya, JG, dan Bebe jadi bilingual. Psikolognya Bebe udah oke Bebe belajar bahasa lain jadi kami berencana dia mau pre school bahasa Inggris nanti pas 3 tahun. Cuma karena berbagai pertimbangan akhirnya di rumah dulu deh bilingual.

Kami nggak mau sejak bayi dua bahasa soalnya banyak yang kejadian speech delay kan, sementara saya suka anak kecil cerewet hahaha. Jadi bahasa kedua diajarkan setelah bahasa pertama dikuasai dengan baik.

Ini akan saya tulis terpisah karena butuh banyak masukan, apa metode paling efektif untuk mengajarkan bahasa kedua?

Udah sih itu aja?

Btw, neng Karin apa kabar naik kuda pake beha doang? Saya nggak nonton sampai selesai karena nggak mood mengumpat hahahaha. Makin lama jadi males sama Karin hedeh. Seiring prinsip dia sih, nggak peduli banyak haters yang penting banyak duit. Oke oke.

Gitu aja #SassyThursday random pertama kami. See you next week!

-ast-