#SassyThursday: Tentang Nama Belakang

on
Thursday, July 28, 2016

Semakin lama hidup di dunia, semakin saya sadar kalau nama belakang itu berpengaruh banget di kehidupan ini. Bayi yang baru lahir, nggak tau apa-apa, dikasih nama sama orangtuanya. Nama depan orangtuanya mikir sendiri dan nama belakang nama keluarga.

Nama belakang itu akan jadi awal mula. Akan jadi garis start.

Saya nggak akan membicarakan kemudahan dalam arti nepotisme ya. Tapi kemudahan karena anak-anak ini mendapat segala fasilitas sejak kecil. Passion dan bakat tersalurkan maksimal, jurusan kuliah diarahkan sesempurna mungkin, dipikirkan masak-masak

Baca punya Nahla di sini:

Oke banyak juga sih anak orang kaya yang f*cked up. Malah party ga jelas dan ujung-ujungnya jadi komisaris perusahaan keluarga karena ga bisa kerja. Nggak sanggup untuk ngerangkak dari bawah ngerasain susahnya kerja. Tapi ya anak yang punya? Mentok langsung ditaro jadi komisaris ajalah minimal operasional bukan cuma dia yang memutuskan.

TAPI YANG PINTAR JUGA BANYAK. BANYAK GAES BANYAK.

Yang pintar ini biasanya pintarnya bikin mangap. Di umur 15 tahun sudah tahu akan begini dan begini, akan ambil S1 journalism di universitas mana negara mana, kemudian S2 finance di mana negara mana. Gunanya supaya passion di jurnalistik tersalurkan, tapi tahu juga soal bisnis blablabla. Ya nggak perlu dipikirin cuma biayanya karena uang nggak pernah jadi masalah.

*emangnya gue, beli lipstik 300ribu aja nangis dulu sampai nggak beli-beli*

Karena seperti yang pernah saya ceritakan di sini tentang menyiapkan dana pendidikan anak, start yang berbeda akan menghasilkan hasil akhir yang berbeda.

Ini agak kontroversial hahaha. Karena banyak yang berpendapat:

"Tergantung kerja keras kali, orang 'biasa' pun bisa kok sukses kalau kerja keras, nggak perlu lahir dari keluarga kaya."

Bisaaa. Tapi sesukses apa? Karena dengan kerja keras yang sama, anak yang sejak lahir memang sudah keturunan ke sekian dinasti anu pasti akan dapat hasil yang lebih baik.

Kaya anak yang jadi profesor termuda dari keluarga biasa, dengan kerja keras yang sama mungkin bisa dapet nobel kalau lahir di keluarga berada.

Karena support systemnya beda.

*apa gue masukin lagi yah komiknya soalnya nyambung sih*

*oke deh masukin aja*

*monolog*

Okelah ini komiknya. Kalau udah pernah liat scroll aja yaaa.





Makanya kalau denger cerita orang sukses dan disebut inspiratif, saya suka cek background dulu. Dia anaknya siapa? Orangtuanya kerja apa? Kalau bapaknya pengusaha, kuliah di Amerika bukan beasiswa, sampai sini pinter banget terus sukses bikin sesuatu sih menurut saya nggak inspiratif-inspiratif amat hahaha.

Dan anak-anak yang begini suka tersinggung (persis di komik). "Saya bisa sampai sini karena kerja keras saya sendiri." Ya coba lo kerja keras yang sama tapi bapaknya bukan bokap lo, belum cencuuu.


*indikasi iri dengki lol*

Atau kaya saya. Keluarga saya bukan yang kaya raya tapi kami tidak kekurangan jadi sejak kecil passion saya dibantu dicarikan. Mau les ini itu boleh. Sejak kecil ditanya sukanya apa, apa yang bisa dilakukan untuk support hobi saya. Saya tidak pernah merasakan tidak jadi pergi ke sebuah acara karena "kurang ongkos". Meskipun ya perginya juga naik ojek dan nggak dikasih mobil apalagi supir sendiri. Tapi yah, support keluarga dalam bentuk materi itu menurut saya berpengaruh banget sama perkembangan anak.

Ini berlaku untuk orangtua yang emang peduli sama pendidikan anaknya ya. Miskin atau kaya, semua bisa punya jalan sukses masing-masing asal diberikan yang terbaik oleh orangtuanya. Cuma ya kadar "sukses" dan kadar "terbaik" nya beda aja sih.

Kalau kelas menengah, sukses adalah lulus kuliah dan punya kerjaan. Kalau kelas yang itu, sukses adalah lulus kuliah dan ambil alih perusahaan tempat para kelas menengah kerja. Dan yang kelas menengah ini jangan jadi pusing kepala liat yang atas karena gimana pun, startnya beda, hasil akhirnya beda.

(Baca: Salah Jurusan Kuliah?)

Intinya apa? Ya intinya ini saya kebanyakan mikir aja sih gara-gara kemarin dirilis daftar orang terkaya di Indonesia hahahaha. Dan saya tau cucu-cucu mereka itu sekolah di sekolah yang bayaran tahunannya lebih mahal dari harga rumah kita. (((kita))) Anak-anaknya bisa liburan ke negara ini ono karena PUNYA RUMAH DI SANA.

Orang-orang yang seumur hidup nggak pernah tau gimana caranya beli tiket pesawat karena selalu ada asisten atau sekretaris yang bantu belikan. Atau bahkan sudah keliling dunia pakai jet pribadi di umur 20an. Bukan yang liburan karena kejar tiket murah bela-belain begadang jam 12 malem. LOL.

Ya, dunia dengan ruang-ruang kelasnya yang tidak sepenuhnya bisa kita pilih sendiri. Kita belajar di ruangan yang mana?

Kemudian kelas menengah selalu punya pembelaan untuk menghibur diri:

"Dih orang kaya gitu belum tentu bahagia tau. Mending kita aja lah, biasa-biasa tapi happy."

HAHAHAHAHA. Atau.

"Rezeki mah udah ada yang ngatur. Jangan lupa bersyukur."

YOI. Siapa lahir di keluarga mana juga salah satu aturan rezeki. Dan bersyukur kan untuk semua orang mau super kaya atau biasa aja. :)

Jadi buat yang belum nikah, cari anaknya siapa mungkin buat dinikahin? LOL *lirik Dian Sastro*

"You must be born super rich or super smart, or you'll end up crying working super hard for your entire life."

-ast-
PS: Tulisan ini jangan dipikirin amat ya nanti sakit kepala hahahaha
LIKE THIS POST? STAY UPDATED!


LATEST VIDEO

PLEASE SUBSCRIBE!
11 comments on "#SassyThursday: Tentang Nama Belakang"
  1. Nah itu, karena start dari keluarga buruh tani, ya kadang udah sampai sini aja ngerasa bersyukur sih. Setidaknya start-nya Diana harus lebih baik dari start emak bapaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbaaakkk! ya ampun kangennyaaaa. betul, start anak harus lebihhh dari emak bapaknya. :D

      Delete
  2. Aku mbaca ini nangis, Cha. Inget jaman kecilku pahit. BANGETT. Makan aja susah, hampir putus sekolah. Jadi kaya yg dibilang Mba Isnuansa. Berada di titik sekarang udah bersyukur banget nget nget.

    Makasih tulisannya, Cha :')

    ReplyDelete
  3. Suka banget mbak sama post yang ini. Setelah baca jadi mikir lamaaaa dan manggut2, bener juga yaaa. Jadi mikir jugak, anakku gimana ya, termasuk yang mana ya.. x))

    ReplyDelete
  4. Aku suka mikir begini juga. Si ini dibilang inspiratif si itu multitalent blablabla, lah duit sama koneksinya juga kenceng :(. Tapi nggak pernah berani nulis karena....takut dibuli dikatai iri dengki sirik dkk. Hahah..

    berharap anakku besok (seandainya dikasih) bisa punya start yg bagus.

    ReplyDelete
  5. Sebelum baca komik itu sempet kepikiran kayak gini juga. Baca komik itu makin memperkuat. Jadi yah semoga keturunan kita startnya selalu lebih baik dari sebelumnya :)

    ReplyDelete
  6. ngomong2 start yg bgs, kdg hdp gk selalu mulus startnya bgs tp di tengah jln bnyk rintangan segala macem akhirnya finish di tempat yg buruk. Selalu ada kemungkinan, hehe. #pesimisamatjdorang

    ReplyDelete
  7. Ini kok sama banget sama yang selama ini saya pikirkan ya, sampe kebagian background check juga, terutama kalau temanya "young entrepreneur" dan sejenisnya yang konon sukses karena usaha sendiri dan blablabla padahal teteup aja yang ngasih modal orang tuanya haha. *kemudian sirik dan jadi kufur nikmat**aeh bahasanya*
    Tapi mau seperti apapun juga latar belakangnya doa orang tua biasanya sama ya, ingin anak-anaknya punya hidup yg lebih baik daripada mereka :))

    Jadi terinspirasi buat bikin postingan yang temanya mirip-mirip, bolehkah? :)

    ReplyDelete
  8. Aku pernah nemu quote ala-ala, ngejar dunia itu ibarat makan kuaci 1 ember. Lelah iya, kenyang kagak. :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh aku jadi salah fokus sama komen kak Ika :))

      Delete

Hallo! Terima kasih sudah membaca. :) Silakan tinggalkan komentar di bawah ini. Mohon maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya. :)